eclairedelange

i write.

cw // morally ambiguous .


Taehyung duduk di halaman Merajan bersama ibu dan kakaknya serta Wisnu dan Jeongguk.

Di depan mereka sekarang ada pemangku yang sedang memimpin upacara ngelinggihang jiwa ayah Taehyung yang sudah disucikan. Upacara sudah selesai kemarin selepas petang dan mereka memutuskan untuk beristirat lalu menyelesaikan semuanya besok pagi. Lakshmi datang pukul tujuh pagi, membawa sesaji sederhana yang akan digunakan untuk melinggihang hari itu.

Taehyung melirik kekasihnya yang duduk di sudut Merajan bersama Wisnu, menjauh dari keluarga inti dan mengobrol dengan suara rendah. Semalam setelah menyelesaikan semua upacara yang syukurnya bisa dipersingkat, Taehyung memutuskan dia akan membicarakan semuanya malam ini dengan ibunya. Segala urusannya di Puri sudah selesai, dia juga sudah tidak lagi menyandang kasta Ksatria yang dibencinya dan sudah saatnya mereka kabur.

Taehyung tidak mau lagi mengambil risiko karena dia bertemu bapak yang dimaksud Jeongguk petang tadi ketika mengunci mobilnya dan memasang cover mobilnya. Lelaki itu tidak bicara, dia hanya melewati gerbang Puri dan menoleh. Dia mengenakan kaus lusuh, dengan kain yang digunakan asal-asalan—simpulnya terikat di bagian depan perutnya yang cekung. Bahunya agak bungkuk, tulang belikatnya menonjol dan berbogol-bogol, geliginya kuning karena mengunyah pinang dan sirih—hal yang membuat Taehyung langsung mengenalinya adalah matanya. Mata kanannya putih, ada selaput yang menutupi bola matanya.

Terlepas dari penampilannya, dia tersenyum—mengangguk ramah ketika mata mereka bertemu namun lelaki paruh baya itu tidak membalas senyumannya. Alih-alih, dia memandang dalam pada Taehyung tepat di mata, tidak mengatakan apa pun dan berlalu. Meninggalkan Taehyung berdiri di sana dengan alis berkerut, gelisah dan tegang. Tahu bahwa waktu mereka menipis, mereka tidak bisa bertahan di tempat ini lagi.

“Kita harus segera pergi.” Katanya ketika tiba di kamar, nyaris panik. “Sesegera mungkin.” Tambahnya tegas, bergidik ketika teringat tatapan pria paruh baya itu dan tidak mau membicarakannya dengan Jeongguk sama sekali.

Maka malam itu, alih-alih beristirahat, keduanya mengepak pakaian. Taehyung tidak akan membawa semua pakaiannya. Dia meninggalkan semua pakaian adatnya di rumah—tidak lagi membutuhkannya di tempat baru nanti. Benda-benda setimental ditinggalkan, mereka hanya membawa pakaian praktis yang biasa mereka gunakan termasuk seragam chef cadangan mereka. Tengah malam, ketika semua orang lelap, mereka memasukkan semua tas dan koper mereka ke bagasi belakang mobil—mengikatnya kencang agar tidak terguling dalam perjalanan dan menyisakan hanya beberapa lembar pakaian untuk di rumah serta pakaian untuk perjalanan.

Mereka siap kabur kapan saja, sekarang.

“Malam ini aku akan bicara dengan Ibuk mengenai kondisinya di sini.” Kata Taehyung setelah mereka bersembahyang bersama dan Taehyung meletakkan 'ayahnya' di sanggah rong tiga sebagai simbol melinggihang—mengembalikannya kepada leluhur dalam bentuk paling suci.

Jeongguk menatapnya, sedang memilah wija yang berbentuk utuh di telapak tangannya untuk ditelan. Hal kekanakan Jeongguk yang disadari Taehyung belakangan ini, dia suka memilah wija—mencari beras yang berbentuk utuh untuk digunakan di kening, di antara tulang selangka, dan belakang kedua telinganya. Dia meletakkan tiga biji beras di lidahnya lalu menelannya sebelum menatap Taehyung.

“Kita akan meninggalkannya di Puri?” Tanyanya dengan suara rendah sementara ibu Taehyung sedang mengobrol dengan pemangku dan Lakshmi membereskan sisa sesaji yang akan mereka makan.

Taehyung menggertakkan giginya. Teringat kata-kata Lakshmi, jika tidak ada yang bisa dilakukan selama ibu mereka bersikeras bertahan di Puri. Taehyung bisa berusaha, tapi jika dia tidak berkenan maka Taehyung sebaiknya menyerah saja.

“Aku akan mencoba sekali lagi malam ini, memintanya untuk pulang ke rumah adiknya sebelum kita berangkat.” Dia menatap Jeongguk persis di matanya dan ingin menangis—dia begitu mendambakan kebebasan mereka. “Jika kali ini jawabannya tetap sama, maka malam ini kita berangkat tanpanya.”

Jeongguk tertegun. Dia menatap Taehyung lekat, matanya mencari di wajah Taehyung—entah apa yang dicarinya di mata Taehyung. Mungkin keraguan? Mungkin kebingungan? Maka sebaiknya Jeongguk menyukai kekecewaan karena Taehyung sudah tidak sanggup lagi dijepit diantara kebahagiaannya dan kebahagiaan orang tuanya. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya Taehyung mengorbankan kebahagiaannya untuk kepentingan orang tuanya, sekarang semuanya cukup.

Taehyung muak.

“Kau yakin?” Tanyanya, lebih terdengar seolah menanyakan akal sehat Taehyung.

Maka dia mengangguk tegas. “Yakin.” Lalu menambahkan dengan senyuman tipis di bibirnya. “Kita akan menginap semalam di hotel, mampir ke Ubud sehari untuk melakukan sesuatu.”

Alis Jeongguk naik sebelah. “Sesuatu....?”

Taehyung nyengir. “Kita lihat saja besok.” Dia menepuk lengan atas Jeongguk sebelum berbalik dan meluncur ke ibunya untuk mengantar pemangku pulang.

Upacara Ngaben hingga Ngeroras ayahnya ternyata tidak terlalu lama, sangat terbantu dengan kakek Wisnu yang bersedia menyederhanakan dan menyingkat semua prosesinya untuk Taehyung. Mungkin itulah upacara Ngaben Penglingsir Puri paling hening, sepi, dan murah dalam sejarah Puri mereka karena ketidakpedulian semua keluarga Puri yang nampaknya sudah menganggap Taehyung sebagai orang asing sama sekali.

Masyarakat yang bertanya kini mulai bosan, tidak ada yang tahu upacara itu. Taehyung memastikan semuanya tetutup dan pribadi. Dia bersyukur dengan ketidakpedulian semua orang pada keluarganya, membuat langkahnya mudah dan ringan. Tidak ada yang ikut campur, tidak ada yang mengatur atau mendesaknya lagi. Taehyung puas, selangkah lagi maka dia akan berbahagia.

Nggih, nggih. Suksma banget niki.” Taehyung menakupkan tangannya di depan dada, tersenyum hangat pada pemangku yang pamit pulang menaiki sepeda motornya.

Nggih, mewali, Atu Agung. Ngiring, ngiring, pamit dumun tiang.” Dia mengangguk lalu mengoper gigi motor bebeknya sebelum meluncur pergi. Mari, saya pamit pulang dulu.

Taehyung menatap jalanan yang mulai ramai menjelang makan siang. Matahari tidak terik, namun tidak juga mendung. Cuaca yang nyaman untuk beraktivitas. Dia menghela napas dan memijat pelipisnya—tanggung jawab terakhirnya selesai sudah. Dia masih merasa tidak percaya bahwa dia sudah terbebas dari beban terbesarnya selama ini, dia bisa saja kabur sekarang kapan saja itu. Namun dia masih memiliki ibunya—perempuan yang disayanginya.

Dia berbalik, memasuki Puri dan tersenyum kecil mendengar suara kakaknya di dapur bersama Jeongguk. Dia merindukan suara Lakshmi di rumah; memberi tahunya apa yang harus dilakukan, memintanya sembahyang, menunggunya pulang jika Taehyung harus lembur...

Taehyung tersenyum. Sekarang dia memiliki Jeongguk yang akan melakukan segala hal yang dilakukan Lakshmi untuknya. Dia menoleh, menemukan ibunya sedang duduk di kursi teras kamarnya—menatap kosong. Taehyung berhenti sejenak, menoleh ke dapur lalu kembali ke ibunya; berpikir haruskah dia menghampiri ibunya atau kakaknya? Merasakan bahagianya menyusut ketika dia memikirkan dia harus menghadapi ibunya alih-alih menyaksikan kakaknya dan kekasihnya berkutat di dapur.

Maka dia menghela napas.

Taehyung akan bersikap egois. Dia membelok ke dapur, memunggungi ibunya yang sedang melamun di kursi—berharap dia sedang memikirkan potensi untuk pindah ke rumah adiknya karena Puri tidak lagi menerima mereka sekarang setelah urusan Ngaben ayahnya selesai.

Menaiki undakan ke dapur, Taehyung langsung disambut aroma ayam yang digoreng ulang dan serai yang diranjang halus oleh tangan Jeongguk yang ahli. Dia memegang blakas dengan sangat ahli, merajang bumbu dengan cepat tanpa benar-benar memerhatikan tangannya. Lakshmi sedang tertawa sambil menyendok potongan ayam di dalam penggorengan—aromanya lezat sekali, Taehyung senang.

Kanggeang, Bli Tugus.” Taehyung menatap kakak iparnya yang sedang menyiapkan piring makan. “Malah dijadikan pembantu.”

Wisnu tergelak. “Tidak masalah, kami sudah terlalu moderen untuk memikirkan itu.” Dia meletakkan piring di teras dapur dekat dengan rice cooker. “Ibuk di mana?”

Taehyung mengedikkan dagunya sejenak ke kamar ibu dan ayahnya. “Sedang di teras.” Katanya lalu menangkap tatapan mata Jeongguk.

Dia tahu dia harus segera bicara dengan ibunya namun dia tidak ingin melakukannya. Hatinya berat sekali melakukan hal yang tidak diinginkannya sekarang setelah bahagianya terasa begitu dekat; Taehyung ingin mengabaikan ibunya, membiarkannya melakukan apa saja yang diinginkannya sementara Taehyung juga melakukan apa yang diinginkannya. Sudah tidak terlalu ingin memikirkan ibunya, meladeni keinginannya yang keras kepala dan kenaifannya tentang anggota Puri.

Taehyung menarik napas dan malah membantu Lakshmi mensuwir-suwir daging ayam sebelum diaduk bersama sambel matah yang dibuat Jeongguk. Dia memfokuskan isi kepalanya ke gerakan tangannya ketika Jeongguk menuang rajangan cabai, bawang merah, serai, dan sedikit jahe ke dalam suwiran ayam dan Taehyung mengaduknya sebelum mengangkat tangannya, memberi ruang bagi Lakshmi menuang minyak panas ke dalamnya. Menggunakan sendok, dia mengaduknya lalu mengajak semuanya makan.

“Bagaimana persiapan kalian?” Tanya Lakshmi berbisik ketika mereka makan bersama.

Taehyung menatap makanannya sebelum mengangguk. “Semua barang sudah di bagasi mobil, kami siap berangkat kapan saja. Berkas-berkas penting juga sudah di tas Jeongguk: KTP dan SIM sudah ada di dompetku.” Dia mengambil sepotong ayam dan sambel, menyuapnya dengan nasi menggunakan tangan.

Lakshmi duduk di sisinya, menumpukan piring di lututnya seraya mengunyah perlahan. Jeongguk dan Wisnu duduk dekat ibu mereka, sedang mengobrol namun ibu Taehyung menatap Jeongguk—ekspresinya tidak terjelaskan. Dia makan bersama mereka, berubah sangat pendiam hari ini. Taehyung pikir mungkin karena duka kehilangan suaminya yang tidak terlalu disukai banyak orang.

“Bagaimana dengan Ibuk?” Tanya Lakshmi perlahan.

Taehyung menghela napas berat, membenci ini. “Aku akan membicarakannya dengan Ibuk malam ini. Memaksanya pulang ke rumah adiknya. Aku sudah menelepon Bik Ani, katanya dia akan menerima Ibuk. Aku akan mengirimkan uang untuk mereka tiap bulan.”

Lakshmi menatapnya, Taehyung menghindari tatapannya—memindahkan isi piring ke mulutnya dengan seksama. Makanannya mulai terasa getir sekarang ketika dia memikirkan keharusannya berbicara dengan ibunya ketika seluruh dirinya menjerit menginginkannya pergi saja; meninggalkan ibunya sesuai keinginannya. Lelah bertanggung jawab atas emosi orang lain.

“Kau akan mengganti nomormu?” Tanya Lakshmi.

Taehyung mengangguk. “Detik aku keluar dari rumah ini, aku akan memusnahkan nomor lamaku.” Katanya, mengikuti saran Jimin untuk memutus ikatannya dengan rumah—mengganti nomornya, mengisi ponselnya dengan nomor-nomor baru.

“Kau akan menghubungi Mbok Gek?”

Taehyung menghela napas, senyuman kecil terbit di bibirnya dan dia menoleh ke Lakshmi. Dia meletakkan piringnya di pangkuan lalu menggunakan tangannya yang bersih untuk mengetuk kening Lakshmi lembut. “Tentu saja.” Katanya parau, merasakan kesedihan bercokol di pangkal tenggorokkannya.

“Hanya jika Mbok Gek berjanji tidak akan memberikan nomorku pada siapa-siapa apa pun yang terjadi.” Katanya dan Lakshmi mengangguk.

Taehyung bisa memercayai kakaknya. Satu dari sekian orang yang akan dipertahankan dalam kehidupannya. Dia memeluk kakaknya erat dan hangat ketika dia berpamitan pulang selepas sore, keduanya tahu mungkin itulah kali terakhir mereka bisa berpelukan sebelum dunia mereka jungkir balik—mengejar kebahagiaan masing-masing.

“Kami akan berkunjung.” Bisik Wisnu pasti ketika menyalami Taehyung dan memeluknya setengah badan, menepuk punggungnya hangat. Dia tahu rencana Taehyung dan sejauh ini, tidak tahu orientasi seksual Taehyung tapi dari tatapannya sepertinya dia mendapatkan satu-dua klu mengenai itu.

Dan Taehyung menghargai sikapnya yang berpura-pura bodoh.

“Terima kasih, Bli.” Sahut Taehyung sebelum melepaskannya.

Lakshmi tidak melepaskan tatapannya dari adiknya ketika mobil perlahan meluncur keluar dari Puri, bergabung dengan jalanan. Dia melambai, menahan air mata sebelum menarik dirinya masuk ke dalam mobil. Taehyung masih berdiri di sana, tangannya setengah terangkat setelah melambai ke kakaknya.

Setelah ini, dia tidak akan terlalu sering bertemu kakaknya. Dia menghabiskan sepanjang hidupnya bersama Lakshmi, menempel padanya seperti lintah. Sekarang dia tidak akan bertemu Lakshmi, tidak bisa memeluk kakaknya, menangis di pelukannya ketika dia patah hati karena Jeongguk....

Dia sendirian.

“Ayo, masuk. Kita bersiap.”

Atau mungkin tidak.

Taehyung tersenyum ketika telapak tangan Jeongguk yang panas menyentuh bagian punggung bawahnya. Dia tidak sendirian. Dia bersama Jeongguk yang akan berusaha membahagiakannya apa pun yang terjadi. Dia menoleh, menemukan Jeongguk tersenyum padanya.

“Aku punya satu hal lagi untuk diselesaikan.” Katanya, mendadak merasa yakin ibunya akan menuruti kemauannya kali ini. Akan menjelaskan bahwa dia dipindahkan bekerja ke pulau lain dan berharap ibunya mau bekerja sama agar Taehyung tetap bisa menjaganya.

Jeongguk mengangguk. “Aku menunggu di kamar, akan membereskan semuanya.” Dia melangkah di sisi Taehyung menuju Puri. “Jika Ibuk setuju untuk pulang ke rumah adiknya, kita akan berangkat pagi-pagi dan menurunkannya di rumah.

“Jika tidak,” Jeongguk berhenti di undakan teratas dan menatap Taehyung. “Maka kita berangkat malam ini.”

Taehyung menarik napas dan mengangguk. Mereka membutuhkan ultimantum ini; lingkungan mereka sudah tidak lagi ramah pada mereka sekarang. Mereka harus segera pergi selama tidak ada yang belum melakukan apa pun pada mereka, sebelum Puri menggeliat karena Taehyung yakin mereka akan mengusir Taehyung detik ayah Taehyung selesai diupacarai.

Mereka berpisah. Jeongguk beranjak ke kamar Taehyung untuk mandi dan bersiap sementara Taehyung melangkah ke kamar ibunya yang pintunya masih terbuka dengan lampu menyala. Dia belum tidur, kebetulan. Taehyung menaiki undakan, melepas sandalnya di undakan terakhir lalu melangkah di lantai yang dingin ke pintu masuk.

“Ibuk?” Panggilnya lembut, melongok ke dalam kamar yang beraroma khas orang tua dengan minyak angin dan bedak.

Ibunya menoleh, sedang melipat pakaian kotornya di atas ranjang yang digunakannya dengan ayahnya. “Tugung.” Sahutnya tersenyum lembut, matanya berkilat namun dengan emosi yang tidak dipahami Taehyung.

“Tugung masuk, nggih?” Ujar Taehyung lalu melangkah ke dalam kamar, teringat bagaimana jika dia dipanggil ke kamar orang tuanya itu hanya berarti dia melakukan kesalahan.

Kamar itu seperti yang selalu Taehyung ingat. Ayahnya menyimpan semua alat upacara dari perak di sana, di ruang belakang. Ada ranjang dan televisi di sana; sempat membuat dia dan kakaknya iri karena kamar mereka tidak memiliki televisi. Namun bahkan ketika mereka sudah memiliki penghasilan sendiri, ayah mereka tidak mengizinkan mereka memiliki televisi di kamar mereka.

“Tidak boleh begadang.” Begitu alasannya—konyol untuk anak mereka yang sudah berusia nyaris empat puluh.

“Ibuk lelah?” Tanyanya ketika duduk di ranjang yang berderit, di sisi ibunya. Taehyung meraih tangannya dan memijatnya lembut—tidak yakin bagaimana harus memulai pembicaraan itu.

“Tidak terlalu.” Sahut ibunya parau, tersenyum lemah dan menatap tangannya yang sedang dipijat ibunya. “Tugung?” Panggilnya.

Nggih, Ibuk?”

“Tugung apa tidak berniat menikah?” Tanyanya dan Taehyung seketika membeku, jantungnya mencelos. Napasnya berhenti. Dia tahu pertanyaan semacam ini akan selalu datang, namun tidak sekarang. “Agar ada yang mengurus keperluan Tugung di rumah, menemani Ibuk juga di Puri.” Lanjut ibunya perlahan dengan nada mendamba yang mengirimkan tikaman rasa bersalah di dadanya.

“Tugung sudah akan empat puluh,” ibunya mendongak menatap Taehyung yang bungkam, tidak yakin bagaimana menanggapi permintaan ibunya yang ini. “Jangan terlalu lama menunda lagi.”

Taehyung menghela napas, meremas tangan ibunya. “Ibuk,” katanya. “Bagaimana jika Ibuk tinggal bersama Bik Ani mulai sekarang? Tugung akan berangkat ke Sumatra, bekerja.” Mulainya perlahan dan tidak menatap ibunya saat mengatakannya.

“Sumatra?” Ulang ibunya, terdengar sakit hati—seolah baru saja dikhianati dengan begitu keji oleh Taehyung. “Tugung kemarin bilang akan bekerja di Bali? Berangkat dari Puri?”

Taehyung menggertakkan giginya, menahan diri mendengar tuduhan keras dalam nada suara ibunya. Kenapa mereka selalu menyalahkan Taehyung ketika dia melakukan apa yang diinginkannya? Selalu membuatnya merasa bersalah karena melakukan apa yang dirasanya benar untuk dirinya sendiri?

“Ada perubahan, Ibuk. Jadi Tugung akan bekerja di Sumatra,” dan dia bergegas menambahkan ketika ibunya membuka mulut untuk mendebatnya. “Dan Tugung tidak bisa menolaknya. Ini dari pusat, Ibuk.”

Ibunya terenyak, nampak sangat menderita dan tidak terima atas informasi baru itu. Mereka sejenak bersidiam, tidak ada yang bicara sementara suara binatang malam mulai terbit dan sengol beberapa meter dari Puri mereka mulai bangun—suara-suara obrolan, penggorengan yang dikeluarkan, aroma makanan. Lakshmi sering membeli lauk makan di sana jika malas memasak.

Taehyung menunduk, menatap tangan ibunya dan memijatnya lembut. “Ibuk tidak bisa memercayai orang Puri sekarang setelah Ajung meninggal. Mereka tidak menyukai kita.” Gumamnya, kehilangan semua kepercayaan dirinya tadi setelah satu serangan kekecewaan dari ibunya. “Mereka akan mengusir kita sebentar lagi, setelah semua urusan Ajung selesai. Tugung yakin. Mereka tidak pernah menyu—”

“Tugung?”

Taehyung berhenti meracau, dia mendongak menatap ibunya dan menyadari perubahan emosinya. Wajahnya berkerut, dipelintir emosi yang Taehyung sama sekali tidak kenali; kecewa, sedih, kaget, kebingungan, resah....

Sesuatu bergerak di dalam dirinya. Mendengungkan alarm keras yang membuat Taehyung sejenak kebingungan. Dia merasakan kegelisahan dan ketakutan yang merayap dari tulang ekornya ke permukaan punggungnya; seperti ribuan laba-laba kecil yang ditumpahkan ke punggungnya. Dia merasa dingin, ketakutan dan kebingungan oleh perasaan takut itu.

“Ya, Ibuk?” Bisiknya.

Ekspresi ibunya berat oleh kekecewaan dan rasa takut, begitu kental dan pekat hingga Taehyung bisa merasakan perasaan itu pahit di pangkal lidahnya ketika dia menarik napas dan mengatakan, “Tugung gay?”


Glosarium:

  • Pemangku: pemimpin upacara adat skala kecil.

  • Sanggah rong tiga: salah satu bentuk pura/pelinggih.


    Polls Reveal:

Bell: Ibuk tahu mereka pacaran. (Winner) Muted bell: Ibuk gak tau.

tw // male insecurity , morally ambiguous .


Jeongguk memijat pelipisnya.

Mereka bangun pagi-pagi buta hari ini, bersiap-siap untuk pergi ke Griya untuk melaksanakan pemakaman ayah Taehyung. Sejak hari di mana dia bertemu dengan lelaki paruh baya itu, Jeongguk mulai merasa tidak nyaman di Puri. Mendesak Taehyung untuk mengizinkannya menyewa kamar di dekat Puri namun Taehyung dengan tegas menolaknya.

“Aku memiliki tempat ini sekarang,” Taehyung tidak menoleh saat mengatakannya. “Jadi, itu hakku untuk menerima siapa saja di bawah atap rumahku. Kita tidak perlu menghamburkan uang untuk menyewa kamar.”

Jeongguk menghela napas, tidak menemukan hasil jika bertengkar dengan Taehyung. Maka dia bertahan dan mengurangi waktunya keluar. Taehyung memahami keinginannya dan meminta kekasihnya tetap di Puri menemani ibunya, dia yang keluar membeli keperluan mereka. Uang mereka, walaupun mendapatkan suntikan dari Arsa dan Felix, tetap berkurang secara perlahan. Belum lagi betapa berat hati mereka ketika melakukan membayaran uang muka semua sesaji pemakaman ayah Taehyung.

“Pejamkan saja matamu.” Kata Jeongguk ketika Taehyung harus menekan perintah 'Transfer' dari M-Banking-nya sendiri.

Uang yang berkurang terasa membuat usia Taehyung berkurang walaupun Bintan sudah 60% akan menerimanya. HR Manager mereka harus bertemu Taehyung, memastikan bahwa dia paham posisi yang akan didudukinya sekarang jauh di bawah level pekerjaan terakhirnya dan gaji yang mereka tawarkan tentunya berbeda dengan Bali. Meskipun Taehyung berkali-kali meyakinkan mereka bahwa dia tidak masalah, Bintan nampak masih mempertimbangkannya.

Jeongguk tidak menyalahkan siapa pun. Posisi mereka tinggi dan berasal dari resor yang lumayan terkenal—belum lagi Jeongguk, resor-resor sekelas tempat bekerja terakhir mereka di Lagoi tentu saja sudah memiliki executive head chef. Hal ini membuat Jeongguk pening, tidak ingin membebankan semua kebutuhan hidup mereka nanti pada Taehyung.

Sejenak berpikir apakah mereka melakukan hal yang keliru dengan membuang pekerjaan mereka?

Dia menatap wajahnya sendiri di cermin Taehyung sementara kekasihnya mandi di dalam kamar mandi. Jeongguk meraih kain mereka hari itu dan mulai melipatnya sedikit agar tidak terlalu panjang dan menutupi kakinya—membentuk simpul di depan dan mengikat ujungnya agar kuat. Dia menambahkan saput gelap di atasnya, mengikatnya kencang untuk menjaga kainnya. Jeongguk sedang menghamparkan udeng lembarannya di atas kasur untuk melipatnya ketika Taehyung keluar dengan handuk melingkar di pinggangnya.

“Kau baik?” Tanya Taehyung seraya menyugar rambutnya yang mulai panjang.

Jeongguk mengangguk walaupun kepalanya berdentam-dentam. Rasa cemas dan takut kembali merayap di belakang kepalanya; takut Taehyung memutuskan bahwa dia menyesal telah membuang segalanya demi Jeongguk. Rasa tidak percaya dirinya membuat Jeongguk mengerat giginya, menahan rasa sakit.

“Sayang?” Taehyung menyentuh bahunya, mendesaknya menoleh.

Jeongguk menghela napas dan menegakkan tubuhnya, menatap Taehyung yang lembab serta beraroma lembut sabun mandi. Dia menatap Taehyung yang mengerutkan alisnya, menatapnya cemas. Tangan Jeongguk terangkat, membelai wajah Taehyung dan mendesah. Binar berkilau di mata Taehyung; dia begitu menakjubkan hingga Jeongguk harus menahan napas ketika menatapnya.

Bagaimana caranya menjelaskan isi hati Jeongguk sekarang tanpa membuat Taehyung meragukan kemampuannya? Dia takut, cemas, dan tidak percaya diri mengenai masa depan mereka dengan kondisi dirinya tidak memiliki pekerjaan. Bisakah mereka bertahan?

Jimin, Arsa, dan Felix memang menawarkan bantuan tetapi apakah mereka akan selamanya bergantung pada bantuan mereka? Jeongguk ingin hidup yang mandiri bersama Taehyung; hanya mereka berdua, di tempat di mana semua orang tidak mengenal mereka. Jeongguk ingin menjadi tulang punggung Taehyung, ingin menjaganya dan menopangnya dalam hidup ini.

Namun sekarang dia tidak memiliki pekerjaan dan uang selain tabungannya yang mulai menipis sementara Taehyung tiap bulannya masih menerima royalti dari resepnya. Memiliki setidaknya sedikit uang reguler untuk hidup mereka. Jeongguk juga menumpang di rumah Taehyung dan merasa sama sekali tidak berguna sekarang.

Dia yang mendesak Taehyung kabur bersamanya namun dia juga yang tidak bisa bertanggung jawab atas kehidupan Taehyung.

“Aku sungguh mencintaimu.” Bisiknya pecah dan menumpukan keningnya di bahu Taehyung yang langsung memeluknya. “Aku sungguh sangat mencintaimu.” Bisiknya, mengecupi kulit telanjang Taehyung.

“Ada apa ini?” Gelak Taehyung lembut, mendengkur seperti kucing seraya membelai rambut Jeongguk—menyisiri helaiannya dengan jemari. “Kenapa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?”

Jeongguk menggeleng, melingkarkan lengannya di pinggang Taehyung dan menghirup aroma tubuhnya. Merasa amat nyaman dan aman, merasa terlindungi. Taehyung sejak dulu selalu membuat Jeongguk merasa kagum dan aman. Sekarang ketika dia bisa memeluknya, menyandarkan diri pada Taehyung, perasaan aman itu berlipat ganda. Jeongguk senang, bahagia, namun juga cemas pada masa depan mereka.

“Bisakah aku membahagiakanmu?” Bisiknya lembut, menarik Taehyung mendekat dan seniornya tergelak—memeluknya dan mengecup pelipisnya sayang.

“Kau sudah membuatku bahagia.” Sahutnya lirih, mengusap bahu Jeongguk dengan sayang. “Kau tidak perlu berusaha terlalu keras, kau selalu membuatku bahagia.”

Jeongguk membuka mulutnya, hendak mengingatkan Taehyung mengenai kemampuan finansialnya dan bagaimana dia tidak layak membahagiakan Taehyung secara materi namun dia menutup mulutnya kembali. Tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya, keberanian untuk mengaku bahwa dia lemah dan butuh bantuan. Harga dirinya mencegahnya.

Dia mengaitkan jemarinya di punggung bawah Taehyung dan mengecup bahunya. Merasakan sayang yang membuncah di dadanya; menjalari tubuhnya dengan arus hangat lembut yang menenangkan.

“Kau luar biasa.” Bisiknya lembut, mengecup bahunya yang lembab. “Kau sangat luar biasa.”

Taehyung tergelak parau, mengusap kepala Jeongguk. “Ada apa ini? Kenapa kau jadi manja sekali?”

Jeongguk tersenyum, mengecup bahunya dan lehernya dengan intim sebelum mengecup keningnya. “Entahlah.” Dia tersenyum dan menakupkan wajah Taehyung di kedua tangannya. “Karena aku mencintaimu? Dan tidak sabar hidup bersamamu?”

Taehyung terkekeh dalam genggamannya dan Jeongguk sengaja mengencangkan genggamannya di pipi Taehyung hingga Taehyung mengerang menggemaskan. “Ahu huha!” Katanya. Aku juga.

Jeongguk mengecup bibirnya sebelum melepaskannya. “Ganti bajumu, ayo bersiap. Kita selesaikan semuanya hari ini.”

Mereka kemudian bersiap, mengenakan kain dan kemeja putih untuk upacara hari ini. Ibu Taehyung sudah menunggu di halaman dengan kebaya brokat putih, rumah dikunci erat dan setahu Jeongguk tidak ada keluarga Puri yang datang untuk mengikuti upacara itu—menunjukkan seberapa bencinya semua orang pada almarhum. Menilik dari cerita Lakshmi, ayah mereka mengancam semua orang juga dan menggunakan kekuasaannya sebagai Penglingsir. Mengancamnya jika mereka tidak melakukan apa yang ayah Taehyung lakukan maka dia akan mengusir mereka dari natah Puri—yang mana sangat bisa dilakukannya sebagai Penglingsir.

Jeongguk tidak lagi heran. Satu-satunya orang yang mencintai ayah Taehyung adalah istrinya—hingga akhir hayatnya, terlepas dari selicik apa caranya memanipulasi semua orang menjadi bidak dalam permainannya. Anak-anaknya bahkan tidak pernah merasa menyayangi ayah mereka. Namun hari ini Lakshmi dan Wisnu akan bergabung dengan mereka, formalitas. Lakshmi melakukannya untuk Taehyung, sama sekali bukan untuk ayahnya.

Mereka berkendara ke Griya, pukul lima pagi. Memulai upacara sepagi mungkin agar bisa diselesaikan dalam satu hari. Griya sudah hiruk-pikuk ketika mereka datang; sesaji untuk ayah Taehyung sudah dipersiapkan di balai besar, dilabeli untuk 'Segara', 'Gunung', 'Ngaben', dan 'Ngeroras'.

Lakshmi juga sudah menunggu mereka, memeluk Taehyung dan Jeongguk dengan erat. Jeongguk menyadari perubahan warna di wajah Lakshmi; dia nampak cerah dan bersinar. Dia memang selalu cantik, memiliki kecantikan purba yang mendebarkan—namun sekarang setelah menikah dan hidup di keluarga yang menghargainya sebagai manusia, dia nampak luar biasa. Wajahnya yang sebulat bulan purnama, berkilauan dan memancarkan kecantikannya sendiri. Rambutnya dipotong hingga sepunggung, digelung cantik dengan bunga anggrek bulan disematkan di sana. Dia mengenakan perhiasan, jauh lebih banyak dari yang diberikan ibunya.

Lakshmi hidup dalam kebahagiaan dan Jeongguk tidak sabar memberikan bahagia yang sama untuk adiknya.

Mbok Jro terlihat luar biasa.” Puji Jeongguk tulus dan tersenyum.

Lakshmi balas tersenyum—senyumannya jauh lebih rileks dan bahagia dari ketika sebelum dia menikah. Jeongguk senang sekali melihatnya. “Begitulah, Turah. Tiang bahagia.” Katanya.

“Bukan Turah lagi,” bisik Jeongguk dan mengedipkan sebelah matanya—Lakshmi tergelak, tawanya lepas dan ringan.

“Baiklah.” Dia merendahkan suaranya. “Bli Raka.” Koreksinya dan Jeongguk terkekeh.

Mereka kemudian berangkat ke laut untuk memanggil atma ayah Taehyung yang dilebur ke laut beberapa bulan lalu. Taehyung yang mengemudi di dampingi Jeongguk dan jok belakang mobilnya terisi sesaji yang akan digunakan di pantai. Sisa sesaji mengikuti mereka di atas mobil bak terbuka—semuanya akan digunakan hari ini dan Taehyung memutuskan untuk memakamkan ayahnya dengan cara sepraktis mungkin mumpung keluarga Puri tidak ikut campur. Ibu Taehyung ada di mobil Wisnu, karena lebih rendah dan merindukan anak sulung perempuannya. Mereka menuju Pantai Goa Lawah yang masih sepi.

Sesaji tiba beberapa saat kemudian dan Jeongguk langsung membantu mereka menurunkannya. Menjajarkannya di balai sesaji sementara kakek Wisnu mulai bersiap memimpin upacara di balai kecil yang diperuntukan untuk Pedanda. Taehyung tidak banyak bicara, dia hanya duduk di sisi tempat pemujaan dengan ibunya yang memeluk orang-orangan yang terbuat dari kayu dan tempurung kelapa yang mengenakan pakaian ayah Taehyung.

Jeongguk duduk agak jauh, bersama Wisnu. Memberikan ruang untuk Taehyung, Lakshmi, dan ibunya untuk secara khusyuk mengikuti upacara itu. Mungkin itulah upacara Ngaben paling hening yang pernah Jeongguk ikuti; hanya ada segelintir orang di sana dan itu pun sebagian besar adalah orang Griya yang membantu membawa sesaji. Hanya ada lima orang yang menghadirinya. Namun Taehyung tidak nampak keberatan, dia ingin semuanya cepat selesai.

Jumlah orang yang hadir membuat Jeongguk menyadari bahwa sikap individu selama hidupnya akan menunjukkan hasil di hari kematiannya; seberapa banyak orang yang berduka atas kehilangannya.

Dia menatap lautan, memainkan setangkai dupa yang mati di tangannya—memikirkan keluarganya sendiri. Mereka belum menghubungi Jeongguk dan dia hanya bertukar pesan dengan Yugyeom, memberi tahu Jeongguk situasi rumah tenang dan damai. Dia memejamkan mata, menghirup aroma asin laut dan udaranya yang lembab.

“Anggap saja Tuhan memperingan langkahmu.” Taehyung menghiburnya ketika Jeongguk mengeluhkan ketidakpedulian keluarganya seraya memeluknya. “Wak Nom benar dengan memintamu pergi.”

Meski begitu, Jeongguk tetap merasa berat—dia berusaha meyakinkan dirinya selama bertahun-tahun bahwa perasaan diabaikan itu hanya ada di dalam kepalanya. Dan sekarang, keluarganya tidak repot-repot lagi meyakinkannya bahkan setelah Jeongguk mengonfrontasi mereka tentang itu.

Jeongguk mengusap dagunya, merasakan jenggotnya yang mulai tumbuh—pendek dan tajam. Genta berbunyi diselingi suara berat kakek Wisnu yang menggumamkan mantra untuk menyelesaikan upacara hari itu. Kemudian, orang-orangan dengan pakaian ayah Taehyung dibakar sebagai simbolis Ngaben sebelum sisanya ditumbuk hingga menjadi abu.

Taehyung menatap api yang membakar simbolis tubuh ayahnya dengan tatapan yang sama ketika mereka melakukan mekingsan di geni—kosong dan sama sekali tidak menunjukkan emosi apa pun. Dia terlihat keras dan lelah, Jeongguk merasakan nyeri di hatinya. Ingin segera menghapus beban yang membuat wajah Taehyung berkerut dan menua.

If I had my life to do over,” bisik Taehyung malam itu setelah mereka bercinta merayakan lepasnya kasta mereka, berbaring di dada Jeongguk yang lengket dengan suara serak. “I would find you sooner, so I could love you longer.”

Jeongguk tergelak tanpa suara, mengecup puncak kepalanya. “Tidak ada drama silent treatment selama dua tahun lagi?” Godanya.

Taehyung menggeleng, menggigiti bibir bawahnya. “Tidak.” Katanya tegas dan Jeongguk menciumnya.

Taehyung di masa sekarang sedang menggenggam batu dan mulai menumbuk sisa-sisa pembakaran tubuh ayahnya di atas sebuah piring diiringi suara genta dan mantra. Lakshmi diberikan kesempatan untuk melakukannya, juga ibunya sebelum Taehyung menyelesaikannya. Sisa bubuk itu kemudian dimasukkan ke dalam kelapa berwarna gading.

Mereka memulai begitu pagi, namun tetap saja mereka berangkat untuk upacara selanjutnya menjelang siang. Bersyukur mereka memangkas waktu dengan melaksanakan Ngulapin dan Ngaben langsung di Pantai Goa Lawah.

Mereka beristirahat sejenak di Griya untuk melakukan upacara Atma Wedana sambil menunggu kakek Wisnu memimpin upacara. Makan siang diberikan dalam kotak dengan menu yang cukup mengenyangkan. Jeongguk duduk di sisi Taehyung yang makan dalam diam—tidak terlalu banyak bicara sepanjang hari entah karena apa.

“Kau baik?” Tanyanya lembut seraya menyuap makanannya. Lauk mereka sepotong ayam, sedikit sayur, dua potong tempe dan nasi dilengkapi dengan kerupuk serta buah jeruk.

“Baik.” Kata Taehyung menatap makanannya. “Aku hanya... tidak yakin bagaimana caraku bersikap mengenai ini. Karena aku sungguh tidak bersedih.” Dia memelototi makanannya yang separuh termakan seolah benda itu melakukan hal yang sangat jahat padanya.

Jeongguk berhenti makan, menahan kunyahannya di mulut dan menatap Taehyung yang masih memelototi makanannya. Jeongguk menelannya dan berujar, “Jika kau tidak bersedih, maka tidak usah.” Katanya ringan. “Tidak ada yang memaksamu bersedih, tidak ada yang berhak mengatur apa yang harus kaurasakan. Kau yang hidup dengannya selama bertahun-tahun, tidak ada yang berhak memberi tahumu apa yang harus kaurasakan ketika mereka tidak tahu apa yang kau alami selama ini.

“Perasaanmu adalah urusanmu. Orang lain tidak berhak mengaturnya.”

Taehyung menghela napas dalam dan menyugar rambutnya. Dia melepas udeng-nya tadi sebelum makan, membebaskan rambutnya yang lembab karena keringat. “Aku dilema,” katanya. “Tidak merasa bersedih karena memang aku tidak bersedih namun juga merasa berdosa karena tidak bersedih.”

Jeongguk mengangguk. “Aku tidak paham persis apa yang kaurasakan,” hiburnya meremas bahu Taehyung. “Tetapi jangan bersikap keras pada dirimu sendiri, oke?”

Taehyung menoleh padanya dan tersenyum. “We're so close to our happy ending.”

“Yap.” Jeongguk mengangguk dan membalas senyumannya. “We are.” Dia mengangguk. “Habiskan makananmu, kita masih punya seharian.”


Glosarium:

  • Saput: bagian terluar dari jarik lelaki, digunakan untuk menutup kain.

  • Segara: laut.

  • Ngulapin: prosesi memanggil arwah yang sudah dileburkan ke laut.


“Wigung! WIGUNG!”

Taehyung sedang mengetik balasan untuk Arsa ketika Jeongguk berlari ke arah mobil dan membantingnya terbuka seraya menyodorkan ponselnya ke Taehyung.

Wajahnya pucat pasi, nampak panik dengan rambut mencuat-cuat dari udeng-nya yang berantakan dan Taehyung untuk beberapa detik merasa jantungnya mencelos karena cemas; otaknya berjengit memikirkan apa yang mungkin terjadi pada Jeongguk yang tadi pamit membeli minuman dingin. Namun itu sebelum matanya fokus pada ponsel dalam genggaman Jeongguk yang membuat matanya juling. Di layar ada laman M-Banking milik Jeongguk dengan informasi mutasi saldo dari rekening lain.

Taehyung membuka mulut, hendak menjelaskan bahwa itu Arsa ketika menyadari nominalnya. Dia menarik napas tajam, “Sialan.” Gumamnya saat menyadari angka tujuh puluh lima juta yang menyala di ponsel Jeongguk—dicetak tebal dan besar.

“Tujuh puluh lima,” bisik Jeongguk perlahan mendudukkan diri di kursi pengemudi mobil Taehyung. “Dari Chef Arsa.” Lalu dia mengguncangkan ponselnya, nampak ngeri. “Ini uang apa?? Wigung??”

Taehyung menghela napas, pening melihat jumlah uang yang diberikan Arsa. Dia tidak masalah mengenai uang dari Jimin karena mereka bersahabat, dia juga sempat membantu Jimin di masa-masa awalnya kabur. Tapi Arsa dan Kinan. Mereka bahkan bukan teman langsung Taehyung, dia mengenal mereka melalui Felix. Jeongguk pun tidak. Mereka praktis orang asing dan memberikan bantuan sebesar itu untuk Taehyung serta Jeongguk.

“Kata mereka itu hadiah,” bisik Taehyung memijat keningnya—merasa tidak nyaman karena betapa baiknya Arsa-Kinan untuk hidupnya dan Jeongguk hanya karena mereka sama-sama anggota komunitas.

“We're minority here, let's keep supporting each other.”

“Hadiah apa terserah yang jelas mereka ingin membantu.” Lanjut Taehyung, menatap Jeongguk yang sekarang terenyak di kursinya masih menatap ponselnya dengan kosong.

Mereka berada di halaman parkir Pura Besakih yang lumayan ramai. Baru saja sembahyang di Pura Pedarman mereka masing-masing, berpamitan untuk melepaskan kasta mereka sore ini di Griya Wisnu melalui upacara Patiwangi. Sebenarnya upacara ini dikhususkan untuk perempuan yang nyerod atau menikah dengan kasta di bawahnya sebagai upacara 'melepas' kasta mereka. Tidak wajib dilakukan namun beberapa keluarga masih meyakini jika tidak dilakukan, akan membuat pernikahan menjadi tidak harmonis karena pihak perempuan belum melepaskan kastanya.

Tapi dia dan Jeongguk memutuskan untuk melakukannya, melepaskan kasta mereka dan hidup sebagai Jaba/Sudra—hal yang sangat mereka idam-idamkan selama ini. Kakek Wisnu tidak terlalu menyukai ide mereka ini. Alasan Taehyung dan Jeongguk mengenai masalah keluarga, dibantu oleh Lakshmi dan bagaimana beliau sendiri menjadi saksi hidup tentang keluarga Taehyung kemudian membuatnya akhirnya setuju memberikan pengecualian.

Mereka akan melakukannya di Pura Puseh atau Pura Desa Griya Wisnu karena tidak berani membawa upacara itu ke Pura Desa mereka—takut seseorang melihat mereka dan menyebarkan isu ke seluruh masyarakat. Mereka akan melakukannya diam-diam, menyelesaikan urusan pemakaman ayah Taehyung lalu pergi selamanya dari Bali.

“Apa?” Ulang Jeongguk dengan alis berkerut, sama sekali tidak memahami maksud Arsa dan Kinan melakukannya. Sejujurnya, Taehyung pun tidak. “Uang apa?”

“Hadiah.” Ulang Taehyung kering menatap kekasihnya. Dia nampak luar biasa, Taehyung tidak tahu lelaki Hindu yang baru selesai bersembahyang nampak sesegar ini. Dua kancing teratas kemeja Jeongguk terbuka, ada wija di bawah lehernya—titik di tengah tulang selangka dan belikatnya, dia beraroma lembut dupa dan bunga. Aroma yang Taehyung yakin bisa membuatnya lelap sekarang juga.

Jeongguk mengerutkan alisnya semakin dalam. Tidak bisa memprosesnya sama sekali. Namun Taehyung mengedikkan bahunya. “Jika kita mengirimnya kembali, mereka akan memusuhi kita.” Ujarnya, tidak memiliki pilihan lain karena Arsa mendesak.

Jeongguk semakin kebingungan.

“Maka untuk saat ini, kita terima saja.” Katanya menutup obrolan itu karena merasa sedikit mual mengingat jumlah uang yang Arsa kirimkan begitu saja untuk seseorang yang bahkan tidak dia kenal secara pribadi atau dekat. Ini membuat Taehyung sedikit merasa bersalah karena tidak menjalin pertemanan lebih akrab dengan keduanya—lebih karena merasa segan pada Arsa yang lebih muda namun jauh lebih senior darinya dalam hal memasak.

Mereka baru saja tenang, melaju di jalanan menjauh dari Besakih dalam diam—masih memproses uang yang mereka terima. Mereka akhirnya menerima uang yang dikirimkan Arsa dengan baik setelah satu jam, berpikir bahwa itu adalah rezeki mereka dari Tuhan untuk memulai kehidupan melalui Arsa ketika M-Banking Jeongguk kembali berbunyi; notifikasi transfer dana sebesar 25 juta.

“Felix.” Kata Taehyung, bergegas menjelaskan segalanya sebelum kekasihnya sempat berteriak kaget di tengah jalan menuju Griya Wisnu—Taehyung memijat kepalanya, baru saja mengirimi pesan sahabatnya itu mengenai informasi yang diberikannya ke Arsa ketika dia memberi tahu Taehyung bahwa dia juga menyumbangkan dana.

“Mereka tahu mengenai rencana kita untuk memulai kehidupan baru di Bintan, berpikir hadiah apa yang mungkin akan berguna lalu memutuskan untuk memberikan kita uang saja—jauh lebih berguna.” Tambah Taehyung menatap kekasihnya yang pias.

Jeongguk berhenti di lampu merah, menatap ponselnya dengan pucat dan Taehyung tidak bisa tidak tersenyum. Jeongguk menyikapi sumbangan dana itu dengan dramatis, terkejut seperti seekor anak anjing. Taehyung terkadang lupa, Jeongguk berusia lebih muda darinya saat dia bersikap tenang dan mengayomi. Namun sekarang, dia nampak menggemaskan—menatap ponselnya ngeri seolah benda itu bisa memancarkan nuklir yang akan membuatnya menjadi mutan.

“Mari berpikir bahwa kita dikelilingi orang-orang baik saja saat ini.” Katanya, memutuskan di kepalanya dia akan menggunakan uang Arsa untuk memasang kap di halaman rumahnya. Mobilnya butuh atap untuk bernaung jika Taehyung ingin mempertahankan warnanya.

Jeongguk menarik napas, menatap kekasihnya dengan wajah yang tidak dapat dijelaskan. “Hidup sering kali bercanda, ya?” Katanya parau, meraih tangan Taehyung dan meremasnya. “Sekarang, semuanya terasa surealis. Bagaimana bahagia terasa begitu dekat dan banyak sekali orang yang membantu kita. Aku merasa seolah berada di dalam mimpi dan takut jika aku terbangun, ternyata kau masih memberiku sikap diam yang sama—seolah kita tidak pernah ada.”

Taehyung tersenyum lalu menyambar pinggangnya dan mencubitnya keras. Jeongguk berseru keras, membuat beberapa pengendara di depan mereka menoleh kaget ke mobil mereka dan Taehyung tergelak ketika kekasihnya menoleh, mendelik kaget.

“Kenapa, sih!?” Serunya mengusap pinggangnya yang berdenyut.

“Membuktikan padamu bahwa semuanya bukan mimpi.” Sahut Taehyung kalem, menyerigai lebar dan Jeongguk menghembuskan napas—tatapannya berubah hangat dan sendu, tatapan yang selalu diberikannya ke Taehyung sejak dahulu kala.

Taehyung pikir itu karena dia menghormati Taehyung sebagai seniornya. Ternyata, itu karena dia jatuh cinta pada Taehyung seperti pungguk merindukan bulan. Dan sekarang, Jeongguk miliknya seutuhnya. Tidak ada yang bisa membuat Taehyung lebih bahagia dari itu.

“Aku tidak akan ke mana-mana.” Katanya menatap Jeongguk yang tersenyum seraya menginjak gas—matanya menatap ke depan, setelah memasukkan persneling dia melepaskannya untuk menggenggam tangan Taehyung.

“Bagus.” Bisik Jeongguk lirih. “Karena aku akan mengejarmu bahkan ke ujung dunia sekali pun.” Dia mengecup tangan Taehyung dan mengusapnya. “Aku tidak akan berhenti sebelum menemukanmu.”

Taehyung tersenyum lebar, senang.


Mereka tiba di Griya Wisnu tepat waktu, tidak terlalu sore dan mendapati semuanya sudah siap berangkat.

Dengan dua mobil, mereka berangkat ke Pura Desa. Kebetulan kosong karena tidak ada hari raya, Wisnu meminjam kunci gerbangnya dari penjaga Pura dan membuka gemboknya untuk mereka. Jeongguk membantu Wisnu menurunkan keperluan kakeknya untuk muput upacara itu dan Taehyung membantu Lakshmi membawa sesaji yang kemudian ditata di Bale Agung Pura Desa tempat Jeongguk dan Taehyung akan melakukan upacara mereka.

Kakek Wisnu duduk di Bale Agung, bersiap-siap mengenakan pakaian untuk memimpin upacaranya dibantu Wisnu seraya mengobrol dengan Taehyung yang duduk di dekat kakinya. Kakek Wisnu, tidak seperti kebanyakan Pedanda yang serius dan pendiam, adalah pribadi yang jenaka dan santai, membuatnya digemari oleh umat untuk muput upacara. Belum lagi perhitungan dewasa ayu-nya untuk pasangan pengantin selalu tepat dan akurat. Itulah mengapa dia mengizinkan cucu pertamanya menikahi gadis yang diinginkannya.

“Tidak ada jalan kembali, ya?” Godanya saat melilitkan sabuk di tubuhnya seraya tersenyum di bawah kumisnya yang keperakan. “Dilepas, ya dilepas selamanya.”

Taehyung mengangguk, merasa jantungnya berdebar namun dengan alasan yang sama sekali berbeda. Dia merasa bersemangat, tidak sabar untuk 'terlahir kembali' dengan kasta baru yang jauh lebih ringan dari apa yang dipikulnya selama puluhan tahun ini.

“Tidak, Ratu Pedanda.” Sahutnya serius, merasakan kekuatan tekad di dalam hatinya. Lakshmi berdiri di sisinya, merangkul bahunya dan mengusapnya hangat—merindukan adiknya sementara Jeongguk di ujung dekat dengan sesaji terjauh, siap membantu jika dibutuhkan.

“Ya, jika memang merasa wangsa-nya tidak cocok, tidak apa-apa.” Kakek Wisnu mengenakan mahkotanya yang dihiasi kristal-kristal, membiaskan cahaya matahari membentuknya menjadi pelangi dengan perlahan—memastikan cepolan rambutnya masuk ke dalam sana dan Wisnu membantunya. “Yang penting bahagianya. Di hati agar ringan.” Dia menyentuh dadanya sendiri, tersenyum.

Kemudian beliau membenahi tempat duduknya dan mengeluarkan genta dari dalam tasnya. Wisnu menyalakan api di dalam lentera kecil yang digunakan kakeknya untuk menyalakan dupa, menuang bunga ke nampan di sisinya agar mudah diraih. Suasana berubah hening dan khusyuk ketika kakek Wisnu menggoyangkan genta sekali—mengetes suaranya. Denting genta menggema, menjangkau ruang terjauh di Pura Desa yang hening itu.

Taehyung menghela napas dan Lakshmi merasakannya. “Tidak apa-apa, 'kan?” Tanyanya lembut dan Taehyung menggeleng lembut, mengusap tangan kakaknya di bahunya. “Tidak.” Sahutnya.

Sejenak merasa bersalah karena Jeongguk tidak ditemani adiknya hari ini. Namun setelah pembicaraan mereka kemarin, hubungan keduanya belum membaik. Jeongguk masih lumayan kikuk di sekitar adiknya dan Yugyeom masih kebingungan—memproses informasi itu dengan lambat. Keluarga Jeongguk masih tetap tidak mencarinya. Bahkan tidak ibunya.

Maka Jeongguk memutuskan bahwa itu berarti Tuhan mempermudah perjalanannya pergi dari Bali.

Kakek Wisnu melantunkan mantra seraya menggoyangkan gentanya sesuai nada—menciptakan atmosfer nyaman dan akrab. Suara genta yang tinggi dan menenangkan, suara berat beliau melantunkan mantra, aroma dupa dan wewangian. Namun bedanya, Taehyung sekarang akan melepaskan identitas yang tidak dikehendakinya.

Ibunya tidak tahu. Tidak ada yang tahu kecuali Lakshmi dan keluarga Wisnu. Dalam upacara ini dibutuhkan tiga saksi; Tuhan, bhuta kala, dan manusia. Sesaji yang digunakan sudah cukup untuk memberikan pesembahan kepada bhuta kala, memohon kesediaan mereka menjadi saksi dan Lakshmi di sana sebagai saksi manusia dari pihak keluarga.

Setelah selesai melantunkan mantra, kakek Wisnu meminta Taehyung dan Jeongguk mengitari Bale Agung sebanyak tiga kali dari kanan ke kiri. Taehyung dan Jeongguk bergegas melakukannya—mengitari Bale Agung yang lumayan besar perlahan sementara kakek Wisnu kembali melantunkan mantra dan membunyikan gentanya.

“Kemari,” kata kakek Wisnu setelah keduanya selesai dan menoleh ke Wisnu. “Tolong diisi air.” Katanya menyerahkan tembikar ke Wisnu yang bergegas menerimanya. “Air suci lalu masukkan bunga ke dalamnya.” Tambahnya.

Lakshmi melangkah ke arah Wisnu, membantu suaminya pergi ke sumber air suci Pura Desa dan mengisi kedua tembikar itu penuh-penuh sebelum kembali ke Bale Agung. Lakshmi membuka daun pisang yang terisi bunga tujuh dan sembilan rupa, sesuai angka lahir Jeongguk dan Taehyung ke masing-masing tembikar lalu mengaduknya dengan tangan.

“Duduk di sini, mendekat.” Pinta kakek Wisnu, menunjuk sisi Bale tempatnya menaiki balai tadi dan Wisnu menyingkir dari sana.

Jeongguk dan Taehyung berlutut di sana, menunduk menunggu prosesi selanjutnya. Taehyung tidak tahan untuk tidak melirik kekasihnya yang memejamkan mata—menjalani prosesi itu dengan tenang dan damai. Seolah benar-benar tidak sabar untuk melepaskan kastanya, beban berat tak kasat mata di bahunya. Dia tersenyum, mengulurkan tangan dan menepuk tangan Jeongguk. Di atas mereka, kakek Wisnu masih melantunkan mantra dengan lembut—suaranya serak, parau, dan empuk ditemani genta yang magis.

See you?” Bisik Taehyung.

Jeongguk tersenyum lebar. “See you.” Dia mengangguk lalu memejamkan mata.

Kakek Wisnu mengatakan sesuatu saat mengangkat tembikar pertama dengan sembilan rupa bunga milik Taehyung lalu menurunkan kakinya, meletakkannya di dekat kepala Taehyung dan menuang airnya. Wisnu membantunya, mencuci kaki kakeknya di atas kepala Taehyung sebagai simbolis bahwa kastanya dilepaskan seraya tetap menggumamkan kalimat dalam bahasa Bali halus tentang Taehyung yang dilahirkan kembali.

Dia menuang hingga airnya habis, memastikan bebungaan itu jatuh di kepala dan bahu Taehyung yang menahan napasnya ketika air meluruh di wajahnya. Tidak ada yang berubah, Taehyung tidak merasa tubuhnya kemudian bersinar atau apa. Namun dia merasakan jelas sesuatu diangkat dari bahunya, mengubah tarikan napasnya menjadi lebih ringan dan rileks—paru-parunya mengembang lebih besar dari sebelumnya. Senyum kecil terbit di bibirnya. Dia bahagia.

Di sisinya, Jeongguk juga memejamkan mata sementara kakek Wisnu menyebutkan namanya dan meletakkan kakinya di kepala Jeongguk. Lalu perlahan menuang air bunga ke atas kakinya, dibantu Lakshmi mencucinya dengan lembut. Jeongguk memejamkan mata dengan serius, alisnya berkerut sementara air gemericik meleleh dari wajahnya dan dagunya jatuh ke lantai Bale Agung.

Ada banyak sekali pengecualian khusus di upacara ini untuk Taehyung dan Jeongguk. Mereka senang kakek Wisnu bersedia melakukannya karena jika tidak mereka harus pergi ke Pedanda lain dan berisiko ketahuan oleh Puri mereka masing-masing. Kakek Wisnu setuju merahasiakan ini, begitu pula Wisnu dan Lakshmi.

“Nah, sudah.” Kata kakek Wisnu parau, mengangkat kakinya dari Jeongguk.

Taehyung tidak pernah mendengarkan kalimat yang terasa membuat jiwanya ringan selain kata cinta Jeongguk selama ini. Bahunya terangkat, seolah beban langit baru saja diangkat dari sana dan dia membuka matanya—mengusap kelopak bunga dari wajahnya dan rambut dari keningnya lalu menoleh ke Jeongguk yang juga tersenyum.

Pura Desa tetap hening, dengan aroma dupa yang pekat dan bunga yang baru saja disiramkan ke kepala mereka. Kelopak-kelopaknya berceceran di sekitar Taehyung dan Jeongguk yang kuyup—lelah dari pergi bersembahyang ke tempat yang lumayan jauh, namun bahagia.

Karena sekarang mereka berdua tidak lagi berhak menyandang kasta mereka. Diperkenankan untuk mengganti atau tetap menggunakan nama itu namun tidak lagi berada dalam leluhur yang sama dengan kedua orang tua mereka. Tidak ada restu dari keluarga masing-masing atas upacara ini selain restu Lakshmi, namun menurut kakek Wisnu itu cukup untuk pengecualian.

“Kalian sudah bukan lagi Ksatria.”

Taehyung tersenyum lebar dan Jeongguk meraih tangannya—meremasnya hangat. Taehyung bisa saja menciumnya sekarang, namun tidak ingin mengagetkan Wisnu dan kakeknya. Mereka bisa merayakannya nanti malam.

“Kalian sudah bukan lagi Ksatria.”

Dia bahagia, untuk pertama kalinya dalam hidupnya—bahagia sepenuhnya dengan tangan Jeongguk dalam genggamannya.


Glosarium:

  • Patiwangi: pati = mati, wangi = harum. Wangsa/kasta diartikan sebagai 'kewangian'. Aku gak yakin apa di tempat lain sama atau beda, tapi yang aku baca di buku Oka Rusmini (sayangnya aku belum sempat liat sendiri upacara ini), ada prosesi membasuh kaki di atas kepala itu. Jadi aku pakai karena kelihatan sakral. Kalo ada yg lebih tahu, silakan QRT nanti aku RT dan aku koreksi narasiku <3 timakaciii <33

  • Pedarman: pura leluhur. Jadi setiap leluhur/keturunan memiliki puranya sendiri, seperti rumah. Keturunannya pun tidak terbatas hanya satu-dua keluarga, banyak sekali. Dan dalam satu garis darah ini, diperbolehkan untuk menikah. Ada keturunan Pasek, Tangkas, Pande, Kepakisan, dan seterusnya.

  • Bhuta kala: sebenarnya makhluk-makhluk tidak kasat mata yang membantu Siwa 'meleburkan', ada yang baik dan ada yang jahat. Dalam Hindu, untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta, manusia selain memberikan persembahan pada Tuhan juga memberikan persembahan untuk bhuta kala agar tidak mengganggu manusia. Dalam setiap upacara, biasanya dibutuhkan juga saksi dari para bhuta kala, penghormatan agar tidak mengganggu jalannya upacara. Cmiiw <3

Seperti biasa, mohon bantuan teman-teman Hindu Bali untuk menjelaskan jika ada yang dirasa kurang atau keliru yaa <3 kalo bisa tolong QRT aja, jadi mudah aku RT ato masukkan ke thread. timakaciiii <3

ps. unedited again, sorry :(


Ini kali pertama bagi Taehyung untuk bersembahyang di Pura Lempuyang Luhur.

Jeongguk mengemudikan mobilnya melewati jalan kecil yang sedikit rusak menanjak naik. Mereka memilih jalur mendaki dari Gamongan, pura pertama yang akan mereka datangi adalah Pura Ayu yang belakangan ini terkenal di jagat maya karena candi masuknya yang megah. Taehyung yang sangat konservatif mengenai hal ini, senang dengan peraturan baru bahwa hanya pemedek yang akan berdoa yang diizinkan naik karena wisatawan yang berfoto di candi masuk Pura hanya akan menghambat jalur keluar-masuk pemedek. Lagi pula, pura adalah tempat berdoa bukan berwisata. Taehyung selalu risih melihat wisatawan datang khususnya ke pura-pura sakral semacam Lempuyang untuk sekadar berfoto-foto. Mengapa tidak pergi ke pantai saja? Kenapa menginvasi pura sakral?

Tapi tidak ada yang menanyakan pendapat Taehyung, maka dia diam. Dia membawa sokasi yang terisi dua pejati yang akan dihaturkan di Pura Ayu dan Luhur nantinya. Sudah mengenakan pakaian ternyaman dengan celana pendek di balik kain mereka, sandal gunung—Jeongguk meminjam sandal Taehyung karena sepatu-sandalnya tidak akan kuat jika diajak mendaki di jalur yang ekstrim. Selama perjalanan, mereka akan berhenti untuk bersembahyang di enam pura termasuk Luhur di ketinggian 1,000 MDPL.

Hari itu relatif sepi karena tidak ada hari raya. Jeongguk memarkir mobilnya di tempat parkir sebelum menurunkan dua sokasi mereka. Ibu Taehyung yang membuatkannya kemarin, menatanya dengan cantik di dalam wadah anyaman dan membekali mereka dengan tiga lusin canang cantik yang membuatnya dibantu Jeongguk.

Taehyung sering kali geli melihat kekasihnya duduk di teras bersama ibunya, dengan telaten mengerjakan canang—menata tiap jenis bunga di atas wadah janur yang berbentuk seperti teratai dan mengobrol dengan ibunya sementara Taehyung mengerjakan tugas lainnya. Mereka masih beradaptasi dengan ketiadaan Lakshmi. Ibu Taehyung sudah bertanya mengenai pekerjaan Taehyung dan dia menjelaskan bahwa dirinya serta Jeongguk akan dipindah kerjakan ke properti baru. Sekarang sedang mendapat benefit libur—alasan aneh, tapi ibunya percaya begitu saja.

“Memangnya Turah tidak pulang ke Puri?” Ibunya berbisik ketika dia menggoreng ikan untuk makan malam mereka sementara Taehyung mengaduk nasi yang baru matang di dalam penanak beras agar bagian dasarnya tidak mudah basi dan berwarna kekuningan.

Taehyung melirik kekasihnya yang sedang menyapu halaman. “Tidak, Ibuk.” Katanya sejenak terdiam sebelum menambahkan. “Keluarganya tidak menerimanya kembali.”

Ibu Taehyung terkesirap kecil dan menyentuh dadanya, nampak sangat terkejut karena mendengarnya. “Maksudnya, dia diusir?” Bisiknya, merendahkan suaranya dengan mata terbelalak.

Taehyung menggeleng, menutup penanak beras di teras dapur dan mencuci sendok kayu yang digunakannya sementara aroma gurih ikan menguar memenuhi dapur mereka. Dia berpindah ke bak cuci piring dan mulai menyabuni piring bekas sarapan mereka.

“Dia sendiri yang keluar. Jadi sementara dia tinggal bersama kita sampai mendapatkan kepastian mengenai properti yang akan ditempatinya.” Taehyung menunduk, menatap tangannya yang bekerja dengan perabotan dan menolak menatap ibunya.

Bagaimana caranya menjelaskan jika dia akan pergi dari rumah bersama Jeongguk?

“Oh, begitu.” Ibunya mengangguk dan perlahan membalik ikan di dalam penggorengan yang mendesis marah karena sisa air di dalam daging ikan. “Lalu Tugung sendiri, apakah tempat bekerja nanti bisa ditempuh dari rumah? Tidak menyewa kamar, 'kan?” Tanyanya tanpa melepaskan tatapan dari minyak di hadapannya.

Taehyung menarik napas. “Tidak, Ibuk.” Sahutnya, merasakan sengatan rasa nyeri di dadanya karena berbohong. “Tugung berangkat dari rumah.” Dia menyalakan air, membilas piring yang dicucinya dengan cekatan—berusaha membiarkan topik obrolan itu melarut bersama air.

Ibunya nampak lega—bahkan tidak berusaha menyembunyikannya sama sekali. “Astungkara,” sahutnya tenang saat mematikan kompor dan mengangkat ikan dari minyak panas. “Ibuk sudah takut akan ditinggalkan sendiri di rumah.”

Taehyung diam sejenak sebelum melanjutkan. “Ibuk, bagaimana jika Tugung membeli rumah dan kita keluar dari Puri?” Tanyanya dalam satu tarikan napas, tidak mengizinkan dirinya sendiri untuk berhenti dan berpikir.

Ibunya berhenti bekerja dan menoleh ke anak sulungnya, nampak kebingungan. “Kenapa? Ini, 'kan, rumah Tugung?”

Taehyung mengernyit, tidak menyukai konsep itu. Dia tidak pernah menganggap tempat ini rumah—baik dia maupun Lakshmi karena ini adalah neraka. Di mana mereka dicambuki, dikatai, dan dihukum hanya karena bernapas terlalu keras. Agak bingung dengan pola pikir ibunya yang masih menganggap tempat penyiksaan ini sebagai rumahnya dan bagaimana dia bisa sangat mencintai ayah mereka yang sakit itu.

“Tugung tidak mau berada di sini lagi.” Katanya meletakkan piring di rak. “Semua orang membenci kita, Ibuk, tidakkah Ibuk bisa melihatnya? Hanya tinggal menunggu waktu hingga mereka mengusir kita. Tugung rasa mereka bertahan mengizinkan kita di sini karena tidak sudi membiayai Ngaben Ajung.”

Namun ibunya menggeleng tegas dan mengatakan, “Hush, tidak boleh begitu. Mereka saudara Tugung, tidak boleh saling bermusuhan.”

Dan Taehyung tidak yakin apakah kenaifan ibunya adalah anugerah atau kutukan. Tapi dia diam, tidak ingin berdebat dengan ibunya dan merasa mulai putus asa mengenai nasib ibunya ketika dia berangkat ke Bintan untuk mencapai bahagianya. Ibunya tidak ingin meninggalkan Puri, menganggap tempat ini rumahnya tidak peduli seberapa kasar mereka yang dianggapnya 'keluarga' memperlakukannya.

“Kita akan menemukan cara.” Jeongguk memeluknya dan mengecup puncak kepalanya ketika mereka hendak tidur.

Jimin nyatanya tidak bisa tinggal terlalu lama karena cuti yang diberikan termasuk penerbangan kembali ke Qatar, bandara basis bagi perusahaan penerbangan tempatnya bekerja. Maka dia berangkat dua hari setelah kedatangannya dengan jengkel. Mengomel sepanjang perjalanan menuju bandara karena belum ingin meninggalkan sahabatnya.

“Kau harus mengabariku begitu tiba di Bintan, oke?!” Ancamnya saat mengecup pipi Taehyung lalu mengernyit jengkel. “Dan cukur jenggotmu, demi Tuhan!” Dia mendelik pada Taehyung yang terkekeh sebelum melakukan hal yang sama pada Jeongguk dan Yugyeom.

“Jaga sahabatku atau kukeluarkan isi ball sack-mu dengan tangan kosong.” Katanya ceria, mengecup kedua pipi Jeongguk lalu melangkah ke gerbang Keberangkatan Internasional seraya melambai ceria.

Yugyeom jadi sedikit lebih pendiam setelah pembicaraannya dengan Jeongguk, secara ajaib menjadi dua kali lebih lengket pada kakaknya. Dia menempel di sisi Jeongguk, menolak bicara dengan semua orang dan Taehyung sejenak cemas pada keadaannya. Namun menurut Jeongguk, dia hanya sedang memproses pengetahuan barunya.

“Aku memberi tahunya bahwa tidak peduli seberapa seringnya dia berpikir tentang betapa tidak layaknya dia menjadi Penglingsir, dia harus ingat bahwa dia reinkarnasi calon Penglingsir yang sebenarnya.” Jeongguk tersenyum lemah dan memijat pelipisnya. “Itu membuat percaya dirinya naik.”

Yugyeom menangis malam itu ketika mereka membeberkan rencana mereka berempat di kamar Taehyung. Tidak ingin dipisahkan dari kakaknya dan mulai menyadari bahwa rencana kakaknya nyata saat semuanya mendekat. Jeongguk memeluknya ketika Taehyung menjelaskan mereka akan berangkat sehari setelah acara Ngeroras ayahnya selesai. Mereka diam setelahnya, menunggu Yugyeom mengatur emosinya sendiri dan memilih untuk menunda pembicaraan hingga Yugyeom pulang agar tidak menyakitinya.

“Toh, kakaknya memang akan pergi.” Jimin mendesah setelah anak itu tertidur di pelukan kakaknya.

Jeongguk menghela napas, mengusap rambut dari kening adiknya. “Dia akan baik-baik saja.” Gumamnya. “Semua orang akan membantunya.”

“Banyak yang terjadi.” Kata Jeongguk di masa sekarang saat mereka duduk berdampingan di halaman Pura Ayu untuk bersembahyang setelah Taehyung menghaturkan pejati pertama mereka.

Taehyung mengangguk, membungkuk untuk bersila di sisi Jeongguk yang memberikannya canang dan dupa untuk berdoa bersama. Suasana pura menenangkan, hanya ada satu keluarga yang berdoa bersama mereka. Ada anjing-anjing jinak yang berkeliaran, berbaring di dekat balai dengan lidah dijulurkan—menyundul pemedek dengan manja kapan saja mereka berdiri terlalu dekat, berharap diberikan sedikit makanan.

“Kau siap?” Tanya Jeongguk dan Taehyung mengangguk. Mereka berdua membenahi posisi duduk mereka sebelum Taehyung dengan suara beratnya yang tenang memimpin persembahyangan mereka.

Asana.”

Ada sesuatu yang magis yang dirasakan Taehyung hari itu tiap kali mereka berhenti untuk bersembahyang. Mendaki bersama Jeongguk, mengobrol di dalam jalan sempit licin yang dipayungi rerimbunan pepohonan membuatnya merasa senang dan damai. Hanya terdengar kicauan burung, suara binatang hutan, dan cuitan serangga sepanjang perjalanan mereka. Karena kondisi pura yang berada di atas bukit Lempuyang, suasana menjadi dingin dan berkabut. Pepohonan di sekitar mereka basah oleh kabut yang mencair.

Bebungaan tropis mengedip pada mereka dari sela-sela pepohonan yang berat oleh tanaman rambat yang menumpang di setiap rantingnya. Taehyung menarik napas, merasakan udara segar yang bersih berdesing menuju paru-parunya yang ceria. Seraya berjalan, mereka mengobrol hal ringan; tentang anjing yang akan mereka adopsi, furnitur yang akan mereka beli, serta posisi yang baru saja dilamar Jeongguk di ANMON Resort. Posisinya CDP dan Jeongguk cemas mereka akan langsung menolaknya tanpa mempertimbangkan berkasnya karena posisi Jeongguk sebelumnya adalah excutive di resor kelas dunia seperti Aman Group.

“Jangan berkecil hati.” Taehyung memetik sekuntum marigold liar yang tumbuh di dekatnya lalu memberikannya pada Jeongguk yang tersenyum, menyelipkan bunga itu di saku kemeja safari katun putihnya. “Kita bisa berharap dan mencoba. Siapa tahu mereka mengontakmu, bertanya apakah kau benar-benar seputus asa itu menginginkan posisi yang berada jauh dari posisi terakhirmu. Seperti yang dilakukan Banyan padaku.”

Jeongguk tertawa lirih. “Semoga saja.” Dia mendesah dan Taehyung tersenyum. Dia menepuk bahu Jeongguk hangat seraya menyusuri jalan setapak menuju Luhur yang semakin dingin dan berkabut.

Taehyung meraih tangan Jeongguk, menyelipkan jemarinya ke sana dan meremasnya lembut. Menyemangati kekasihnya. Dia sudah memperlihatkan rumah baru mereka dan Jeongguk menyukainya—nampak terpana karena desainnya yang meskipun mungil namun sangat menarik dan manis.

“Kata Chef Verdio rumah ini hanya memadai untuk akomodasi secukupnya satu kamar, kamar mandi dan dapur kecil. Jadi masih banyak pekerjaan yang kita harus lakukan agar rumah ini nyaman.” Katanya saat mereka bersila di halaman Pura Puncak Bisbis setelah bersembahyang—beristirahat sejenak.

Jeongguk mengangguk, menatap video rumah mereka yang diberikan Verdio. Menyadari betapa sempit ruang mereka di dalam rumah itu dengan kerut tidak suka di wajahnya. “Kamarmu di Puri lebih luas dari ini.” Gerutunya dan Taehyung tergelak.

“Di mana pun akan terasa nyaman jika bersamamu, tenang saja. Lagi pula, pikirkan positifnya. Kita memiliki rumah.” Taehyung menerima kembali ponselnya dari Jeongguk. “Tidakkah itu terdengar keren untukmu? Kita memiliki rumah di usia tiga puluh.”

Jeongguk tersenyum. “Yah,” dia membenahi udeng-nya, membuat beberapa wija di keningnya jatuh. “Jika kau mengatakannya dengan cara itu, terdengar keren.” Dia kemudian menarik napas. “Mari menabung lebih giat lagi untuk menyelesaikan rumahnya sehingga kita bisa membeli lebih banyak anjing.”

Taehyung terkekeh. “Itu dia, Jagoanku.” Dia meremas bahu Jeongguk lalu mengajaknya berdiri—melanjutkan perjalanan sedikit lagi menuju Luhur. Mereka hanya tinggal bersembahyang di Pura Pasar Agung lalu melanjutkan perjalanan landai ke Puncak Luhur.

“Anjing jenis apa yang akan kita adopsi?” Tanya Jeongguk saat mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju Pura Pasar Agung—mereka hanya berdua sepanjang perjalanan, hanya ditemani pepohonan karena tidak banyak pemedek hari itu dan Taehyung senang. Berarti mereka bisa berdoa dengan lebih khusyuk.

“Bernesse.” Taehyung mendesah panjang. “Mereka besar, lembut, dan menggemaskan. Kurasa juga kuat di cuaca kering Lagoi.” Dia menoleh ke Jeongguk yang terkekeh. “Atau Golden? Bisa diajak lari di pantai jika kita bosan?”

Jeongguk menatapnya seraya melangkah. “Bisakah kaubayangkan sekarang bahagia kita berada begitu dekat? Sedikit lagi teraih?” Dia meremas tangan Taehyung dalam genggamannya dengan hangat.

Taehyung tersenyum. “Sedikit lagi, kita selesaikan Ngaben Ajung lalu pergi dari sini.” Dia balas meremas tangan Jeongguk.

“Masalah Ibuk bagaimana?” Tanya Jeongguk dan walaupun lelah, Taehyung menggeleng. “Entahlah.” Sahutnya, putus asa.

“Aku tidak yakin jika harus meninggalkannya sendiri tapi juga tidak ingin membawanya ke rumah kita. Ibuk tidak mau meninggalkan Puri. Haruskah kubiarkan saja?” Taehyung menatap pepohonan di depan mereka, kabut turun mulai membuat jalanan putih dan dingin menggigit.

Jeongguk mengerjap, sejenak berpikir. “Apakah aman jika kita biarkan Ibuk sendiri di sana? Apakah anggota Puri berkenan tinggal kembali di sana?”

Taehyung menghela napas. Mulai merasa jengkel karena ganjalan-ganjalan kecil dalam prosesnya menuju bahagia. Kenapa ibunya menolak untuk pergi? Apa yang membuatnya begitu lengket dengan tempat di mana dia diinjak-injak dan tidak memiliki harga diri?

“Aku akan mencoba membujuk Ibuk lagi.” Katanya kemudian dengan nada lelah dan Jeongguk menangkapnya—dia membiarkan topik itu lenyap.

“Sebentar.” Katanya lalu melepaskan tangan Taehyung dan berlari ke pinggir jalan, mendeka ke jurang bukit yang membuat Taehyung terkesirap.

“Kau gila, ya?!” Serunya, bergegas menyusul Jeongguk yang menyingkap kainnya, memamerkan betisnya sebelum mengetes ranting di sekitarnya—mencoba mencari yang terkuat untuk digenggam. “Apa yang kaulakukan!?” Seru Taehyung, mendekat ke kekasihnya.

“Diam di sana,” kekasihnya terkekeh—nampak ceria dan segar, senyuman tulus pertamanya setelah berminggu-minggu mereka didera stres berkepanjangan mengenai kepindahan mereka.

Taehyung terkadang merasa begitu putus asa dia berharap ketika dia membuka mata keesokan paginya, mereka sudah berada di rumah baru mereka di Lagoi dan melupakan semua kerepotan di Bali. Karena semua ganjalan, sekecil apa pun itu terasa begitu berat dan menjengkelkan—dua kali lebih menjengkelkan karena mereka begitu dekat dengan kebahagiaan sekarang.

“Aku akan memetikkanmu stroberi liar.” Jeongguk menggenggam ranting besar di sisinya dengan kuat, membelitkan ujungnya di lengan bawahnya yang kencang sebelum menjulurkan tubuh atasnya turun.

“Jeongguk!” Seru Taehyung tertahan ketika ranting berkeretak keras merespons beban tubuh Jeongguk—pohon malang itu melengkung, menahan Jeongguk yang menjulurkan lengannya ke bawah, entah mencoba meraih apa. “Lupakan benda bodoh itu, kau bisa jatuh!”

Taehyung menggenggam sokasi di tangannya, tidak yakin apakah dia harus melempar benda itu ke tanah dan menyambar pinggang Jeongguk agar dia tidak jatuh. Persis sebelum dia memutuskan, terdengar suara patah keras yang membuat jantungnya mencelos. Ranting yang digenggam Jeongguk terbukti tidak sanggup menahan beban tubuhnya dan memutuskan untuk mengalah—patah menjadi dua dan Jeongguk oleng.

“JEONGGUK!” Teriaknya di tengah hutan, melempar sokasi-nya yang terisi banten lungsuran sehabis berdoa di Pura Ayu tadi dan mengulurkan tangan secara instingtif ke arah Jeongguk.

Kekasihnya terkesirap keras dan dengan lincah melompat menjauhi tebing, nyaris terlepeset di tanah sebelum terhuyung mundur bersamaan dengan ranting yang berkeresak keras mendarat di jurang, meluncur turun. Taehyung berhasil menyambar bagian belakang kausnya dan menyentakkannya mundur dari sana. Keduanya menatap horor ranting yang mendarat di jurang, jauh di bawah mereka. Jika Jeongguk terlambat beberapa detik saja, mungkin tubuhnya juga di sana bersama ranting malang itu.

Jantung Taehyung terasa berhenti berdetak. Untuk sedetik penuh, dia berpikir dia mungkin akan kehilangan Jeongguk untuk selamanya dan tidak lagi memiliki alasan untuk hidup. Dia tidak akan bisa bertahan hidup tanpa kedua lengan Jeongguk di sekitarnya. Dia menatap kekasihnya, murka. Ingin mematahkan semua tulangnya, mengulitinya, dan merebusnya menjadi sup karena telah begitu menyebalkan.

“Kau!” Raung Taehyung, ingin menonjok wajah Jeongguk yang sedang nyengir padanya. “Apa, sih, masalahmu?!” Dia membuka mulutnya, hendak meneriakinya saat Jeongguk mengulurkan tangan—di atas telapak tangannya ada dua buah beri liar yang berwarna merah menyala lengkap dengan bunga putihnya yang tercabut.

“Stroberi liar.” Jeongguk tersenyum ceria, napasnya terengah. “Aku dan Yugyeom selalu berebut ini jika kami ke Lempuyang. Kupetikkan semua untukmu.”

Taehyung menatapnya tidak percaya sebelum melayangkan tangannya dan memukul kepala Jeongguk hingga kekasihnya berteriak kaget tertahan.

“Wigung!” Keluhnya namun berhenti ketika menatap wajah kekasihnya yang murka di hadapannya.

Taehyung ingin memakan kepala Jeongguk. “Kau mempertaruhkan hidupmu, hanya untuk stroberi bodoh!?” Raungnya, suaranya memantul di tengan hutan dan membuat beberapa burung berterbangan dengan panik. “Kau sudah gila, ya?!”

“Tapi...,” Jeongguk mengerjap, masih cukup beradab untuk nampak malu dan mengusap sisi kepalanya yang dipukul Taehyung. “Ini manis sekali, percayalah.” Gumamnya.

“TIDAK PEDULI!”


Lempuyang Luhur adalah Pura yang indah dan menyejukkan. Perjalanan panjang mereka terbayarkan dengan pemandangan yang indah walaupun kabut mengaburkan segalanya.

Ada banyak pohon pudak wangi yang berbunga cantik di pinggir pembatasnya. Di pintu masuk, mereka disambut patung Ganesha yang diberi banyak sekali canang dan garland, dupa-dupa baru mengeluarkan asap—menunjukkan bahwa sejak tadi sudah banyak pemedek yang tangkil. Puranya relatif tua, atapnya dipenuhi tanaman rambat yang tumbuh bersama lumut tebal akibat dinginnya di sekitar mereka. Beberapa orang yang bertugas menjaga pura mengenakan hoodie tebal, meringkuk di sudut sambil merokok dan mengobrol dengan seekor anjing hitam yang terkantuk-kantuk di kakinya.

Cuaca begitu dingin hingga Taehyung bergidik dalam pakaiannya. Jeongguk membantunya menyiapkan pejati mereka, menyalakan dupa, dan menghaturkannya ke pura. Ada empat orang anak muda yang bersama mereka, rombongan yang terkekeh-kekeh ceria sambil mengobrol. Suasana pura menenangkan dan beraroma lembut dupa. Persembahyangan dilakukan secara mandiri sebelum pemangku yang bertugas di Luhur kemudian membantu mereka untuk memberi tirta. Taehyung lagi yang memimpin persembahyangan mereka sebagai yang tertua.

Dia akhirnya memakan beri liar yang dipetik Jeongguk untuknya. Rasanya manis dan segar, mengejutkan untuk ukuran buah sekecil itu namun tentu saja tidak layak untuk semua pengorbanan Jeongguk memetiknya. Dia mencubit perut Jeongguk hingga kekasihnya memohonnya berhenti karena dia begitu jengkel. Tidak terbayangkan bagaimana jika Jeongguk sungguh terjatuh ke jurang.

Setelah bersembahyang, mereka memutuskan untuk berhenti di jabaan pura untuk makan. Di dalam pejati yang dibuatkan ibu Taehyung, ada enam buah ketupat, ayam bakar, dan sambal yang sengaja dibekalinya untuk mereka makan. Maka mereka menatanya di sana, ditemani dua anjing yang datang untuk meminta makan.

Jeongguk mencuci tangannya dengan air mineral kemasan, mulai menyuwir ayam dari tulangnya dan mengaduknya dengan sambal yang mereka bawa sebagai lauk makan sementara Taehyung membelah ketupat dengan pisau lipat yang dibawanya.

“Aku selalu suka makan seperti ini,” Jeongguk berkata di sela makan mereka.

Taehyung melempar potong demi potong tulang ke para anjing yang bersemangat menerimanya, menyalak ceria sambil berlarian gembira mendapatkan makanan. Menilik dari tubuh mereka yang lumayan berisi, Taehyung pastilah bukan satu-satunya orang yang melakukan ini. “Kenapa?” Tanyanya.

“Rasanya lebih nikmat setelah kita lelah mendaki dan bersembahyang.” Katanya, menyuap potongan ketupat dengan daging ayam dingin yang mulai keras karena terpapar udara.

Taehyung tersenyum, melempar tulang dada ayam ke arah anjing yang menyalak melompat menangkapnya. Dia terhibur, tidak sabar memiliki anjingnya sendiri. “Memang begitu.” Sahutnya setuju.

Ada banyak hal yang ingin Taehyung lakukan bersama Jeongguk sekarang setelah bahagia sedikit lagi milik mereka. Membayangkan makan bersama Jeongguk, tidur bersamanya—menghabiskan sepanjang waktu sepanjang hari dengannya, tidak ada yang bisa mengganggu mereka lagi terasa begitu mendebarkan.

Taehyung tidak sabar lagi—berharap tiada sandungan apa pun lagi setelah ini. Bahagia mereka sudah terlalu mahal hingga nyaris tidak lagi masuk akal.


Glosarium:

  • Pemedek: umat yang bersembahyang ke pura.

  • Tangkil: datang untuk berdoa/bersembahyang.

  • Pejati: sesaji lengkap.

  • Astungkara: puji syukur Hindu.

  • Sokasi: semacam besek untuk membawa sesaji, terbuat dari anyaman.

  • Banten lungsuran: sesaji yg sudah dihaturkan.

tw // mention of homophobia and name-calling .

ps. unedited, maaf sksks :(


Jeongguk duduk di teras kamar Taehyung dengan Yugyeom di sisinya, dengan sekotak cheese cake yang dibelikan Jimin untuknya.

Yugyeom sedang menikmati waktu paling menyenangkan di hidupnya hari ini dengan Jimin yang membelikan apa saja yang ditunjuknya. Setelah kekenyangan dengan 6 course meal di Le Gourmet, Jimin mengajaknya ke pusat perbelanjaan untuk membeli daging dan bahan-bahan barbecue karena besok mereka akan makan enak lagi. Dia menggunakan kartu kreditnya tanpa berpikir dan Jeongguk mendesah, merasakan tikaman rasa iri karena kondisi keuangannya saat ini menyedihkan—mengerikan.

Dia belum terlalu terbiasa dengan Yugyeom sekarang, masih merasa berjarak dan takut. Asing pada Yugyeom di cara pandang barunya. Dia menatap adiknya yang sedang makan dengan tenang. Ibu Taehyung sudah tidur, tadi kaget ketika Jimin datang dan mereka berpelukan. Dia repot meminta semuanya tidur di kamar tamu yang luas namun Jimin mendebatnya, mereka akhirnya menggelar kasur di lantai kamar Taehyung untuk berempat.

Sekarang Jimin sedang bersama Taehyung di dalam, memberikan ruang untuk Jeongguk dan Yugyeom di teras. Sudah lama Jeongguk berpikir tentang haruskah dia memberi tahu Yugyeom segalanya? Dan informasi dari Yugyeom tentang bagaimana orang tuanya tidak mencari Jeongguk setelah dia pergi dari Puri membulatkan tekadnya.

Dia akan pergi dari Puri, melepaskan kastanya dan hidup jauh seolah dia dilahirkan oleh batu. Dia dan Taehyung sudah bertanya pada Wisnu mengenai upcara Patiwangi, pemuda itu setuju untuk memberikan tempat bagi keduanya dan akan membicarakannya dengan kakeknya. Mereka akan melepaskan kasta mereka secepatnya, tidak perlu ada yang tahu.

“Jadi, apa yang akan Wiktu bicarakan?” Tanya Yugyeom, mendongak menatap kakaknya yang menghela napas—berusaha mencari cara untuk membicarakan segalanya.

Dia menatap Yugyeom yang balas menatapnya. Menyadari seberapa dewasanya dia sekarang; jauh berbeda dengan hari ketika dia pertama kali menatap Jeongguk, tersenyum memamerkan gusinya. Yugyeom sudah dewasa, dia sudah memikirkan masa depannya. Stres karena belum mendapat pekerjaan, kebingungan akan hari esok, hubungannya dengan kekasihnya. Dia sudah nyaris tidak lagi membutuhkan Jeongguk pada titik ini.

Itu membuat Jeongguk lega. Setidaknya dia meninggalkan Yugyeom dalam keadaan mandiri dan dewasa, jadi dia tidak akan kelimpungan dengan tanggung jawab barunya walaupun ayah mereka masih sangat sehat. Semua orang Puri akan dengan senang hati membantunya menjadi Pewaris—karena itu memang hak Yugyeom sebagai reinkarnasi Wak Anom. Puri pasti akan lebih senang jika Yugyeom yang naik menjadi Penglingsir alih-alih Jeongguk.

Memikirkannya, walaupun senang karena dia akhirnya melepaskan posisi berat itu, tetap membuat hatinya nyeri. Nyeri oleh perasaan tidak diinginkan, tidak dihargai yang begitu kuatnya hingga dia menghela napas dalam-dalam.

“Wiktu akan memberi tahumu beberapa hal yang Wiktu juga baru ketahui belakangan ini.” Dia menatap Yugyeom yang melipat kotak pembungkus cake-nya lalu menyingkirkannya, siap mendengarkan kakaknya.

Jeongguk menatap halaman Puri yang sepi, ditemani suara binatang malam yang mulai menggeliat bangun ketika manusia terlelap. Jimin dan Taehyung juga sedang berdiskusi, mengenai rencana kepindahan mereka serta jalur tercepat darat Bali-Lagoi yang membuat Jeongguk menghela napas kelelahan sebelum mereka bahkan berangkat.

“Yugyeom.” Kata Jeongguk perlahan, menatap sepetak cahaya di halaman Puri yang diciptakan oleh bias cahaya lampu teras amar Taehyung dan dia menyadari kekuatan panggilan itu untuk Yugyeom yang langsung menegakkan tubuhnya.

“Setelah Wiktu berangkat,” lanjutnya perlahan seolah sedang menjelaskan sesuatu kepada balita. Jeongguk ingin adiknya paham apa yang akan dihadapinya kedepannya, berharap Yugyeom dan juga Wak Anom, bisa melepaskannya untuk merengkuh kehidupan yang diinginkannya. “Kau akan menjadi Penglingsir menggantikan Ajung.”

Dia menatap Yugyeom yang mengerjap, masih berusaha mencari tahu arah pembicaraan Jeongguk. Dia diam, mendengarkan Jeongguk dengan tenang—menunggu walaupun mungkin dia tidak paham sama sekali. Jika dia tidak menyukai prospek menjadi Penglingsir menggantikan kakaknya, dia tidak menunjukkannya.

“Kau tahu,” mulai Jeongguk perlahan. “Ajung seharusnya bukan Penglingsir Puri. Ajung punya kakak, paman kita. Namanya Wak Anom. Tapi sudah meninggal jauh sebelum kau lahir.” Dia menyusun katanya perlahan; sepatah demi patah, mencoba menyusun isi kepalanya sendiri.

Yugyeom menunggu, menatap kakaknya dan tidak bertanya sama sekali. Memberikan ruang untuk Jeongguk menjelaskan segalanya sebelum bertanya, seperti anak baik. Jeongguk menatapnya, merasa sangat asing dengan adiknya sendiri dan tidak bisa melupakan suara Wak Anom yang ditirukan dengan sempurna oleh ahli tenung mereka beberapa pekan lalu. Masih kerap memberikannya mimpi buruk.

“Dia meninggal karena HIV/AIDS dan tidak menikah karena tidak ingin menularkan penyakitnya kepada siapa pun.” Jeongguk menelan dengan sulit, memejamkan mata ketika teringat aroma kamar Wak Anom dan tubuh kurusnya yang terbaring di ranjang—berjuang melawan penyakit yang tidak memiliki obatnya sama sekali.

Jeongguk bernapas dari mulutnya, merasa mencium aroma pesing dan obat di kamar pamannya lagi sekarang. Dia memjamkan mata, berusaha mengenyahkan ingatan masa kecilnya dan bagaimana ayahnya menyentakkan tangan kecilnya dengan keras—mencengkeramnya karena menjerit, menolak memasuki kamar Wak Anom. Sekelebat wajah bergerak di pikirannya; ingatan yang menggeliat bangun.

Jeongguk merasa dia melihat wajah Wak Anom-nya yang tersenyum letih di balik kulitnya yang hitam dan keriput. Bagaimana wajahnya ketika dia sehat? Apakah dia setampan ayah mereka? Memiliki ketampanan khas pria paruh baya yang memesona seperti ayah mereka? Atau jauh lebih tampan? Jeongguk pertama kali melihatnya sudah sebagai seonggok tulang dan kulit yang menyedihkan—dimakan penyakitnya sendiri.

Tidak benar-benar memiliki ingatan tentang pamannya dalam kondisi sehat.

Jeongguk membuka matanya, tersentak oleh ingatan itu. Teringat kata-kata ayahnya 'dia selalu menyayangimu' dan bergidik. Menatap Yugyeom yang balas menatapnya, Jeongguk menghela napas.

Jiwa di dalam tubuh Yugyeom lahir kembali hanya untuk menyayangi Jeongguk; melewati dua kali kehidupan untuk menyayangi Jeongguk. Untuk dekat dengannya, untuk menjadi bagian hidupnya. Jika ingin memikirkannya, tidak ada yang mencintai Jeongguk sebesar pamannya. Bahkan tidak orang tuanya.

Tidak bisa ditahan, ketika kepalanya bergulir. Memikirkan bagaimana hidupnya jika pamannya tidak memiliki penyakit ganas yang menyerang sistem kekebalan tubuhnya. Bagaimana jika dia secara ajaib, sembuh dan kembali sehat. Berisi dan tampan. Dalam bayangannya, Jeongguk melihat dirinya sendiri tumbuh bersama pamannya. Disayangi, dilindungi. Diterima semua orang. Ayahnya pasti akan menyayanginya, kehidupannya akan mudah seperti Yugyeom. Jeongguk pasti memiliki kehidupan sempurna karena tidak ada yang mengabaikannya.

Dia memiliki keluarga yang sempurna. Memiliki sosok ayah yang bisa dijadikannya panutan, tidak akan kesulitan mendefinisikan dirinya sendiri dan tidak dianggap tiada.

Mungkin tidak akan pernah ada Yugyeom di hidupnya.

“Wiktu tidak tahu bagaimana wajahnya sebelum sakit, Biang juga tidak. Dia sudah sakit begitu lama hingga ingatan tentangnya di kepala semua orang adalah ketika dia sakit.” Dia menatap Yugyeom, mencoba melihat diri pamannya di sana—mencoba memisahkan dua kehidupan yang dijalani jiwa di dalamnya.

Karena Jeongguk diam, Yugyeom berbisik. “Lalu hubungannya dengan Ogik?” Tanyanya perlahan.

Jeongguk menghela napas. “Wiktu tidak tahu bahwa ternyata Wak Anom sangat menyayangi Wiktu sepanjang hidupnya. Selalu ingin mengenal Wiktu dan berteman dengan Wiktu.” Dia menatap adiknya, sejenak merasa bersalah karena telah menepis usaha pria paruh baya yang sakit parah untuk sekadar berteman dengannya.

“Tapi Wiktu tidak memberikannya kesempatan karena Wiktu takut.” Jeongguk menatap petak cahaya itu lagi, mencoba mencari kata-kata untuk menjelaskan perasaannya sendiri. “Seharusnya Wiktu memberikannya kesempatan.” Dia menerawang, berharap bisa memberi tahu dirinya di masa lalu bahwa mereka bisa menghadapi bau kamar itu—memberikan setidaknya setitik kebahagiaan untuk paman mereka sebelum meninggal.

Namun nasi telah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa Jeongguk lakukan lagi sekarang selain menyayangi Yugyeom, memastikan dia memberi adiknya masa kecil yang akan selalu diingatnya. Memastikannya tumbuh menjadi lelaki yang baik dan terhormat. Dan tekadnya itu malah adalah sebuah penebusan segala kesalahannya ketika kecil; kesempatan kedua yang tidak dia sadari sama sekali. Kesempatan kedua untuknya dan untuk pamannya, membangun ikatan yang tidak Jeongguk dapatkan dari ayahnya.

“Dan tahukah kau,” Jeongguk menatap Yugyeom yang mengerutkan alisnya. Tidak memahami arah pembicaraan Jeongguk sama sekali. “Wak Anom sangat menyayangi Wiktu hingga dia kembali bereinkarnasi, ingin mengulang kehidupannya dan menyelesaikan urusannya di dunia ini.”

Yugyeom menatap kakaknya, alisnya berkerut semakin dalam namun dia tidak mengatakan apa pun. Dia duduk bersila dengan kaus tipis dan celana pendek, sudah siap tidur namun Jeongguk menahannya untuk bicara. Menjauhkannya dari Jimin yang bersikeras mengaplikasikan begitu banyak produk perawatan wajah di wajah adiknya yang pucat dan halus. Sejauh ini dia sudah membentuk alis tebal Yugyeom dan mengajaknya menggunakan face mask. Tuhan tahu apa yang akan dilakukan Jimin nantinya.

Dia dan Yugyeom akan tidur di dipan Taehyung malam ini. Jeongguk dan Taehyung di kasur yang digelar di bawah bukan hanya karena Taehyung belakangan ini tidak bisa tidur tanpa Jeongguk—mulai terbiasa dengan dengkur lembut Jeongguk, namun juga karena mereka menyayangi keduanya dan secara instingtif memberikan tempat ternyaman untuk keduanya.

“Dan?” Bisik Yugyeom, menunggu kakaknya melanjutkan dengan kebingungan nyata di wajahnya dan Jeongguk menghela napas.

“Dan,” dia menenangkan dirinya sendiri; berpikir apakah Yugyeom layak mengetahui ini? Bahwa dia layak menjadi Penglingsir karena itu merupakan haknya sejak di kehidupan lalunya. Dia menatap adiknya.

Jeongguk sudah melakukan segala yang terbaik. Dia sudah mengajari Yugyeom segala yang diketahuinya, membesarkan adiknya menjadi pria lembut yang bertanggung jawab serta tidak berpikiran picik. Dia terbuka pada perbedaan, tidak menilai kehidupan orang dan bersikap sopan. Yugyeom akan menjadi Penglingsir yang sempurna, ditambah lagi bahwa jiwa di dalamnya memang adalah Penglingsir Puri.

“Kau adalah reinkarnasinya.” Dia tersenyum pada adiknya. “Wak Anom, calon Penglingsir Puri yang sebenarnya.”


“Kau yakin mereka baik-baik saja?”

Taehyung mengangguk, berbaring di kasur yang akan digunakannya dengan Jeongguk malam ini seraya menatap pintu kamarnya yang terkuak kecil, memberikannya akses melihat sisi tubuh Jeongguk yang duduk di teras bersama adiknya.

Jimin sedang berbaring di kasurnya, menggunakan masker di wajahnya dengan bandeu sutera di keningnya. Dia selalu beraroma harum feminim, aroma yang membuat Taehyung tenang karena begitu lembut. Dia mengenakan jubah tidurnya yang lembut, sedang menikmati waktu berkualitasnya. Itulah mengapa ayah Taehyung membenci kehadiran Jimin di Puri.

“Lelaki tidak seharusnya bersikap seperti perempuan. Seperti banci saja.” Begitu kecamnya dan Jimin, terlalu sakit hati untuk datang kembali ke rumahnya akibat itu.

Sekarang, dia bebas melakukannya. Membubuhkan wewangian di setiap sudut kamar Taehyung dengan ceria dan Taehyung senang melihatnya. Jimin selalu lembut dan menenangkan, hanya karena standar normalnya tidak sama dengan orang lain, dia selalu mendapat kecaman karenanya. Namun Taehyung tidak akan melakukannya, dia suka Jimin sebagaimana dia sekarang. Lembut, manis, penyayang, dan cerewet.

“Apa yang mereka bicarakan?” Tanyanya, menyuap sepotong Pocky ke dalam mulutnya—lapisan masker di wajahnya mulai mengeras dan pecah di beberapa tempat karena dia tertawa.

“Sesuatu tentang paman mereka.” Taehyung berbaring terlentang, menatap langit-langit kamarnya; berharap kekasihnya baik-baik saja setelah pembicaraan itu.

Taehyung mendengar cerita tentang bagaimana ayah Jeongguk tidak berusaha menghubunginya setelah dia kabur dari rumah dan memeluk Jeongguk ketika dia menangis tersedu-sedu—menyadari bahwa dia memang tidak diinginkan di rumah itu setelah mereka tahu bahwa Yugyeom adalah reinkarnasi dari anggota Puri kesayangan mereka. Taehyung memeluknya malam itu, mengusap bahunya dan memastikan dia baik-baik saja.

Wak Anom benar, Jeongguk memang sebaiknya pergi dari sana dan berbahagia. Bahkan di saat terakhir sebelum dia melepas kastanya dan pergi, setelah dia mengkonfrontasi ayahnya mengenai ketidakadilannya, mereka tidak juga menyikapi Jeongguk secara serius. Bukti bahwa sebenarnya mereka tidak merasa bersalah telah memperlakukan Jeongguk secara tidak adil dan terang-terangan.

Taehyung mengingatkan Jeongguk agar tidak membalaskan sakit hatinya pada Yugyeom karena itu sangat tidak adil untuk Yugyeom. Dia mungkin adalah reinkarnasi Wak Anom, namun sekarang dia adalah Yugyeom—jiwa itu memiliki raga baru, identitas baru, ingatan baru, dan kehidupan baru. Segala ingatannya tentang kehidupan lamanya sudah dihapuskan sebelum dia lahir.

“Aku sangat menyayangi Yugyeom.” Isak Jeongguk dalam pelukannya dan Taehyung mendesah—berpikir bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Jeongguk.

Ketika semua orang memunggunginya, Taehyung memiliki Lakshmi yang selalu berada di sisinya. Menemaninya bertumbuh, menyayanginya, persis sebagaimana posisi Jeongguk di hidup Yugyeom. Dan Taehyung tidak dapat membayangkan bagaimana jika Lakshmi ternyata adalah alasan mengapa semua orang membencinya. Memberikan jarak di antara keduanya, perasaan terkhianati dan jengkel pada saudaranya sendiri.

Taehyung senang, setidaknya dia masih cukup stabil untuk menghibur Jeongguk. Mendesah, dia mendadak merindukan Mirah. Teringat bantuan luar biasanya untuk hubungan mereka selama ini; satu pukulan yang sempat Taehyung anggap sebagai serangan, ternyata adalah sebuah bantuan jangka panjang.

Dia menghela napas, menutup matanya dengan lengan dan merasa bersalah karena sempat membenci Mirah—bertanya-tanya apakah gadis itu baik-baik saja di Australia? Tahukah dia bahwa sekarang Taehyung dan Jeongguk sedang jungkir balik memperjuangkan bahagia yang sedikit remahnya diberikan oleh Mirah?

“Kenapa?”

Taehyung membuka matanya, menemukan Jimin menumpukan dagunya di tepian dipan dan menatapnya sambil menarik masker peel-off-nya dengan jemari. Taehyung menghela napas dan menggeleng perlahan, menatap langit-langit.

Devy tidak lagi mengganggunya; keluarganya sudah dipukul mundur oleh Puri dan diganjar hukuman sosial dengan dikucilkan. Bobroknya sudah dibicarakan oleh semua orang sekarang termasuk bagaimana dia memeras ayah Taehyung dan memanipulasi kehidupannya. Taehyung sejenak merasa cemas pada Devy; dia masih terlalu muda, sanggupkah dia menanggung semua rasa malu itu?

Namun teringat kembali bahwa Taehyung sudah memiliki hidup yang menyedihkan, tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana orang lain menjalani kehidupannya. Kabar terakhir yang didengarnya, mereka akan pindah provinsi. Menjauh dari semua orang yang mengenal mereka. Taehyung berharap tidak ada lagi keluarga mana pun yang terjerat oleh mereka.

“Aku teringat Mirah.” Kata Taehyung kemudian perlahan. “Bagaimana keadaannya sekarang, ya? Dia memberikan banyak bantuan untukku dan Jeongguk.”

Jimin mengerjap, menerawang sambil melepaskan maskernya. “Kenapa kalian tidak menghubunginya saja?”

Taehyung menggeleng. “Dia sedang menyembuhkan diri, sebaiknya aku dan Jeongguk tidak mengganggu prosesnya. Dia berhak mengambil waktu sebanyak mungkin untuk menyembuhkan diri sebelum menerima kami kembali sebagai teman.”

Jimin masih menerawang, sekarang mengusap-usap wajahnya yang lembut dan memijit jerawat kering di pipinya. “Benar juga.” Katanya lalu melempar bekas maskernya ke tong sampah di sudut—meleset dan jatuh ke lantai.

Taehyung mendelik padanya dan Jimin nyengir sebelum berguling ke kasur yang berderit. “Patah hati memang penyakit paling mengerikan.” Gumam Jimin setuju dan Taehyung tersenyum kecil—teringat patah hati pertama dan terakhir Jimin, berakhir membuatnya ketakutan pada komitmen sepanjang hidupnya.

Pun jika Jeongguk meninggalkannya saat ini, Taehyung akan berakhir seperti Jimin. Karena Jeongguk meremukkan hatinya hanya karena dia menangis. Taehyung takkan bisa membayangkan sehancur apa hatinya jika kekasihnya memutuskan untuk melangkah pergi darinya.

Dia menatap pintu, menatap punggung Jeongguk yang bicara dengan Yugyeom. Merasakan perasaan hangat, familiar dan aman yang diberikan Jeongguk padanya. Dia pernah ketakutan, merasa terjebak, tersesat, dan kebingungan. Namun saat dia melihat Jeongguk, menggenggam tangan kekasihnya—Taehyung tahu dia berada di rumah.

Jeongguk akan memastikan semuanya baik-baik saja untuk Taehyung. Menatapnya, memeluknya, dan menyebut namanya—melihatnya tersenyum pada Taehyung, menyuntikkan semangat ke dalam dirinya. Ketika hidup terasa melelahkan, Jeongguk adalah alasannya untuk bertahan hidup.

Jeongguk selalu menjaganya tetap waras dan dia berharap, dia memiliki peran sama besarnya di kehidupan Jeongguk. Berharap dia bisa memberikan Jeongguk perasaan aman luar biasa yang sama, berharap dia bisa meyakinkan Jeongguk bahwa dia bisa diandalkan.

*

ps. alur maju-mundur, pelan2 ya bacanya <3


“Oh. Halo, anak siapa ini?”

Taehyung tergelak, merangkul Jimin yang selalu beraroma lembut dan feminim—dia menyadari dia menyukai aroma sahabatnya. Aroma keringatnya yang begitu familiar: sekarang dia beraroma seperti stroberi lembut, sepercik vanila, dan pinus. Dia sedang mengerutkan alis, menaikkan kacamatanya menatap Yugyeom yang mengerjap di sisi kakaknya.

“Ini Ogik, kenalkan.” Taehyung melambaikan tangan. “Pewaris Puri Agung Karangasem.” Dia mengedip menggoda pada Yugyeom yang mengerang.

Mereka berdiri di Kedatangan Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, setelah tadi menunggu pesawat Jimin yang tertunda di Starbucks yang berada beberapa meter dari Kedatangan. Mereka menunggu lumayan lama, mungkin satu-dua jam. Namun mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol santai mengenai keadaan Puri setelah Jeongguk pergi sambil minum dan menikmati penyejuk ruangan store yang mereka datangi. Jimin tiba dengan ceria, tersenyum lebar dan nampak sangat menarik dalam balutan pakaian kasual rapinya.

“Kau adik Jeongguk?” Tanyanya saat mengulurkan tangan dan Yugyeom menjabatnya, menempel ke kakaknya seperti satelit yang berotasi di sekitar planet. “Semoga kau tidak sama menyebalkannya dengan kakakmu, ya!” Dia tersenyum lebar lalu mendelik pada Jeongguk yang memutar bola matanya.

“Silakan, Yang Mulia.” Dia mengulurkan segelas tinggi green tea latte dengan sedikit saus kecokelatan di dalamnya.

Jimin menerimanya dengan senang, langsung menyurukkan tasnya ke Taehyung yang nyaris menjatuhkannya untuk meraih sedotan stainless miliknya dan menusukkannya ke cup. Dia menyesapnya panjang sebelum bisa diajak bicara dengan beradab.

Puri terasa sepi pagi tadi. Ketika Taehyung terbangun dengan Jeongguk mendengkur lembut di sisinya, suasana hening sekali. Dia terbiasa mendengar suara Lakshmi bekerja di dapur dan ketika tidak mendengarnya, sejenak dia merasa sedih—ada sesuatu yang dicabut dari dadanya dan dia bersyukur ada Jeongguk di sisinya. Dia teringat kakaknya sedang berbahagia sekarang, maka dia menghela napas.

Dia beranjak ke luar dan sekali lagi, tertegun. Puri sepi sekali, tidak ada kehidupan. Ibunya masih lelap, begitu juga Jeongguk. Dan ketika dia beranjak ke dapur, melewati kamar kakaknya yang kosong hatinya berdenyut nyeri. Merindukan kakaknya, bahkan belum sehari sejak kakaknya resmi tinggal bersama Wisnu. Mereka akan segera keluar dari Griya karena Wisnu bukan pewaris lagi, membeli rumah di Batubulan yang lebih dekat dengan tempat bekerja Wisnu. Lakshmi juga sudah memohon pemindahannya ke cabang kantor Denpasar dan mendapatkan persetujuan.

Mau tidak mau, Taehyung senang. Kakaknya sudah bebas dari Puri, memiliki kehidupannya sendiri bersama lelaki yang dengan tulus menanti dan mencintainya selama ini. Dia juga hidup di luar lingkungan Griya, memberikannya otoritas sendiri di rumah dan hidupnya bersama Wisnu. Taehyung berbahagia untuk kakaknya walaupun sedikit pusing memikirkan nasib ibunya jika dia pergi mengejar bahagianya.

Taehyung memulai hari pertamanya tanpa kakak perempuannya dengan mencuci beras; memasak lauk untuk seharian. Jeongguk bangun beberapa menit kemudian, bergabung dengannya di dapur. Ibunya juga turut ke dapur, mengambil alih tugas memasak dan meminta Taehyung untuk bersembahyang saja. Dia merasa kesepian, walaupun ada Jeongguk di sisinya. Beginikah rasanya nanti ketika dia pergi dari Bali?

Dia menatap nampan di tangannya yang terisi canang. Lakshmi praktis adalah penggerak Puri—dia mengerjakan isi dapur, menyapu halaman, membuat canang, bersembahyang, memastikan semua pakaian tercuci-setrika. Dan sekarang setelah dia hilang, Taehyung sejenak timpang. Mau tidak mau memikirkan bagaimana jika dia juga meninggalkan ibunya?

Sambil berdoa di Merajan, Taehyung berpikir dia akan merayu ibunya untuk pulang ke rumah adiknya lagi. Dia tidak bisa meninggalkannya sendirian di tempat ini.

“Bagaimana hari pertama tanpa Lakshmi?” Tanya Jimin ketika mereka semua duduk di dalam Yaris Jeongguk dengan Yugyeom di balik kemudi dan Jeongguk di sisinya. “Kacau?”

Jeongguk mengerling Taehyung lewat spion dan tergelak. “Aku menemukannya pagi ini, mencuci beras dengan raut wajah sedih seperti anak tiri yang ditinggalkan.” Dan Taehyung mengerang, menyandarkan diri di kursinya.

“Kasihan sekali.” Jimin mengusap pipi Taehyung yang kasar, belum bercukur karena sedikit panik mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa dilakukan Lakshmi. “Mungkin itulah mengapa ayahmu memintamu menikah duluan. Sehingga ketika Lakshmi menikah, ada perempuan baru yang mengisi tempatnya.”

Taehyung mendelik padanya, namun tak ayal setuju pada logika itu setelah menjalani satu hari tanpa kakaknya. “Benar juga.” Katanya kemudian dan Jeongguk tergelak.

Jimin menjentikkan jarinya. “Aku memang selalu yang paling pintar di antara kita berdua.” Dia kembali menyesap minumannya. “Ayo, makan sesuatu yang lezat.” Dia mencondongkan tubuhnya ke kursi Yugyeom. “Ogik ingin makan sesuatu yang lezat? Aku yang traktir.”

Yugyeom melirik kakaknya dan Jimin berdecak keras, memutar bola matanya. Taehyung menatap Yugyeom, menyadari bagaimana kikuknya dia bertemu pertama kali dengan Jimin. “Tidak perlu minta izin kakakmu! Dia itu tunduk padaku.” Dia menepuk kepala Yugyeom sayang. “Jadi, kau mau makan apa?”

Yugyeom nyengir, memasang sein dan berbelok keluar dari kawasan Bandara. “Makanan mahal?”

Jimin memutar bola matanya. “Try me, Kid.” Dia menaikkan sebelah alisnya. “Gajiku dalam dolar.” Dia mengedikkan gelas minumannya seolah itu gelas sampanye sambil bersandar di kursinya dengang angkuh.

“Tapi tetap tidak mampu membeli green tea latte-nya sendiri.” Gerutu Jeongguk, bersidekap di tempatnya memandang jalanan di depannya.

Jimin menarik napas tajam, dramatis dan Taehyung tertawa. “Pantas saja minumanku pahit!” Katanya lalu dengan sengaja menggoyangkan gelasnya yang penuh kondensasi ke atas pangkuan Jeongguk—membuat air-airnya berjatuhan. “Kau tidak ikhlas!”

Jeongguk berseru, berusaha menjauhkan Jimin yang tergelak darinya dan Taehyung mendesah. “Hei, hei. Nanti minumannya tumpah.” Tegurnya dengan nada sedikit keras dan kedua lelaki itu menurutinya.

Jimin kembali duduk, mencibir pada Jeongguk yang mendelik padanya. Mobil meluncur, membelah lalu lintas Denpasar yang ramai dan terik. Yugyeom handal di balik kemudi, Taehyung pikir dia akan bersikap grasa-grusu di jalan tapi dia mewarisi bakat kakaknya mengemudi. Dia mengerem dengan sangat lembut, memutar kemudi dengan handal—mobil mendengkur di bawahnya seperti kucing jinak.

“Jadi, Ogik ingin makan apa?” Tanya Jimin sekali lagi, setelah berdamai dengan Jeongguk yang mengelap tetesan air di pakaiannya menggunakan tisu.

“Pilihlah,” Taehyung menatap Yugyeom yang membalas tatapannya dari spion tengah. “Dia tidak akan diam sebelum kau mengiyakan. Habiskan saja uangnya.”

Jimin menepuk tasnya. “Tentu, tentu.” Dia tersenyum. Taehyung mengusap bahu sahabatnya—Jimin tidak selalu kaya. Pada masa awal kaburnya, dia tidak memiliki uang sama sekali dan Taehyung yang memberikannya uang untuk bertahan.

Taehyung mengirimkannya setengah gaji Taehyung mungkin selama satu tahun hingga akhirnya dia diterima menjadi FA Garuda Indonesia, melalui proses seleksi yang mengerikan dan begitu ketat. Dari sanalah, Jimin kemudian bertekad membalas segala kebaikan Taehyung dan karirnya melejit. Dia menembus airlines internasional setelah menjadi FA Senior di penerbangan internasional Garuda Indonesia selama 5 tahun dan tidak bisa dihentikan sejak gajinya ditransfer dalam dolar.

Dia ringan sekali tentang uang. Nyaris dermawan pada Taehyung; membelikan hal-hal yang tidak diperlukan Taehyung, membawakan Lakshmi tas-tas mahal, termasuk penata rias termahal di Bali untuk pernikahannya kemarin. Jimin juga sudah membayar penuh untuk dua riasan di hari resepsi kakaknya, lengkap dengan fotografer dan videografer untuk mengabadikannya. Dia melakukannya untuk membalas bantuan kedua saudara itu di masa sulitnya.

Dan Taehyung bersyukur. Kebaikannya berbuah manis. Termasuk bagaimana Jimin tanpa segan memberikannya uang untuk membantunya memulai hidup di Lagoi. Uang itu sudah dirincinya dengan Jeongguk, mengalokasikannya dengan baik karena tabungan mereka sudah terperas habis untuk rumah mereka yang walaupun hanya terisi satu kamar utama, dapur kecil, dan kamar mandi, harganya tidak murah. Mereka membeli properti di Kepulauan Riau.

Setibanya di Lagoi nanti, Jeongguk harus bertemu notaris bersama Verdio untuk menandatangani surat perjanjian bahwa Verdio yang namanya tercantum di sertifikat tanah dan rumah mereka, tidak bisa menjual properti tersebut tanpa surat kuasa bermaterai dari Jeongguk sebagai pemilik sah. Mereka membutuhkan nama Verdio karena mereka tidak bisa membeli properti di provinsi lain di Indonesia jika tidak memiliki KTP setempat. Verdio juga nanti yang akan membantu mereka membalikkan nama STNK dan BPKB Hard Top Taehyung agar memudahkan mereka membayar pajak.

“Tidak membawa kendaraan pun tidak masalah.” Kata Verdio saat mereka tersambung di telepon. “Semua resor di tempat ini memiliki mess karyawan dan dilengkapi dengan shuttle antar-jemput.”

Namun Taehyung bersikeras. Mobil itu tabungannya, juga motornya yang terpaksa dijualnya untuk menambahi pembelian rumah mereka. Dia terlalu sentimentil pada barang-barangnya sehingga Jeongguk akhirnya setuju membawanya.

Rumah mereka cantik sekali, setidaknya begitu pikir Taehyung. Berada di salah satu perumahan dekat dengan staff housing salah satu resor di Lagoi. Menggabungkan tabungan mereka hingga ke tetes-tetes terakhir, mereka berhasil membelinya. Tidak terlalu dekat dengan pantai, setidaknya 1km dari bibir pantai namun menurut Verdio suara gemuruhnya masih terdengar. Pantai Lagoi tidak seperti pantai di Bali, berkarang dan memiliki banyak pemecah gelombang, memberikan tepi pantai yang damai dengan ombak-ombak kecil.

Tidak persis seperti apa yang dibayangkan Taehyung, namun dia puas. Setidaknya dia memiliki Jeongguk di sisinya dan pantai bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dia tidak sabar mengadopsi anjing dan menghabiskan sedikit lagi waktu liburnya untuk menikmati hidup.

“Le Gourmet?” Tanya Yugyeom perlahan dan Taehyung tergelak. “Nah, dia memilih yang termahal.” Katanya.

“Wiktu berjanji membawaku ke sana, tapi belum terlaksana.” Yugyeom melirik spion sebelum membelokkan mobil ke jalur kanan dengan mulus dan Jeongguk meringis bersamaan dengan Taehyung.

Keuangan mereka terjun bebas belakangan ini, tentu saja mereka tidak bisa membawa Yugyeom ke tempat-tempat yang diinginkannya. Mereka tidak membicarakan itu pada siapa pun, hanya Jimin—itu pun karena mereka membutuhkan bantuan, Taehyung membutuhkan bantuan. Jika tidak, mereka tidak akan memberi tahu siapa pun.

“Tidak masalah,” sela Jimin seketika sebelum suasana menjadi kaku karena mereka bertiga tahu alasan Jeongguk berhenti memanjakan adiknya. “Kakakmu punya banyak yang harus diperhatikan. Aku yang akan membawamu ke sana.” Dia mengusap rambut Yugyeom.

Le Gourmet, tidak seperti Le Paradis, menerima walk-in guest selama meja tersedia. Dan memiliki jam istirahat karyawan pada pukul 10-11 pagi sebelum kembali buka untuk makan siang dan makan malam. Konsep baru yang dibawa Arsa ke Bali di mana semua restoran rata-rata buka penuh selama 12 jam. Mereka membelok ke Seminyak dan terjebak kemacetan. Mobil melaju perlahan, mengikuti arus lalu lintas. Mereka mengisi kemacetan dengan mengobrol sebelum mobil membelok ke gerbang masuk Le Gourmet.

Yugyeom membelok ke jalan masuknya dan diberhentikan oleh Security yang mengecek mobil mereka dengan metal detector serta cermin lantai. Bagasi mereka dicek dan jumlah penumpang juga dilihat sebelum mereka menawarkan Valet Parking. Yugyeom akhirnya berkendara ke lobi restoran yang megah. Jika saja batu pualam di tepi jalan tidak diberi identitas 'Fine Dining' maka siapa saja mungkin salah mengira tempat ini sebagai hotel mewah.

Mereka berempat turun dari mobil, Yugyeom mempersilakan Valet Parking memasuki mobilnya dan berkendara menuju turunan ke arah basement parking mereka karena lalu lintas Seminyak tidak mengizinkan parkir di tepi jalan. Jimin nampak sebal karena dia hanya mengenakan pakaian kasual rapi untuk pergi ke restoran semewah ini.

“Kenapa kalian tidak bilang kita makan di restoran mewah?” Gerutunya, sengaja meninggalkan sisa minumannya di mobil. “Pakaianku jelek sekali.”

Lobi restoran itu megah dengan lantai pualam, langit-langit tinggi dan lampu kristal. Pintu ganda kacanya tertutup namun kacanya memberikan akses untuk tamu melihat set up mejanya yang rapi. Di dominasi warna emas, hijau zaitun gelap, dan cokelat kayu, chandelier utama menyala dengan cahaya temaram dibantu jendela-jendela raksasa yang menggantikan 60% dindingnya. Ada rak tinggi terisi botol-botol wine di belakang, menyembunyikan pintu ke arah dapur yang tertutup. Dinding mereka sengaja dibuat dengan motif batu bata kusam yang membuatnya nampak tua namun juga indah.

Jeongguk memutar bola matanya. “Kau sendiri yang minta makanan mahal.” Katanya lalu mengangguk pada sepasang anak servis yang berdiri di depan pintu ganda kacanya, mereka dilengkapi meja berdiri terisi menu Le Gourmet yang di-engraving di atas plakat keemasan dengan alas kulit mahal.

“Halo, apakah ada meja untuk empat orang?” Tanyanya ramah.

Sebelum anak servis sempat menjawab, suara terkesirap keras terdengar dari dalam diikuti suara ketukan heels sepatu pantofel dan keempatnya menoleh. Menemukan boneka porselen rapi melangkah ke arah mereka dengan senyuman lebar di bibirnya. Taehyung lupa betapa putih dan bersihnya Kinan hingga dia melihatnya sekali lagi. Dia mengenakan kacamata bergagang tipis, pipinya merona dan senyuman lebarnya menular.

“Gung. Tjok.” Sapa Kinan, nampak luar biasa cerdas dan licin dalam setelan jasnya. Name tag keemasan di dada kirinya mengilap dengan tulisan mungil “KINAN – Executive Manager”. “Halo, apa kabar?!”

Dia bergegas menyalami Jeongguk dan Taehyung lalu menegur mereka. “Kenapa kalian tidak menghubungiku jika ingin datang?” Tanyanya lalu mengangguk pada anak servis di depan. “Tamu saya, biar saya yang handle.” Katanya tersenyum sebelum kembali fokus pada Taehyung.

“Mendadak. Kami dari bandara, menjemput teman kami dan memutuskan membawanya ke restoran terbaik yang kami tahu.” Jeongguk menjabat tangannya hangat sambil tergelak. “Apakah ada meja untuk empat orang?”

Kinan sejenak berpikir sambil menjabat tangan Taehyung, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran dan Taehyung menyadari plakat keemasan di atas nyaris setiap meja dengan huruf R perak—tanda dipesan. “Kami agak penuh,” gumamnya. “Tapi ada dua meja untuk dua orang yang bisa kami set up untuk kalian. Bagaimana?”

Taehyung mengangguk. “Tidak masalah. Kami juga datang mendadak.” Katanya lalu menyentuh bahu Jimin. “Kenalkan, sahabatku, Jimin.” Katanya. “Senior FA Qatar Airways. Jimin, ini Kinan. Pemilik restoran ini.”

Jimin memberikannya kombinasi ringisan dan senyuman, tidak terlalu suka maskapai tempatnya bekerja disebutkan namun Taehyung sengaja menggodanya. Dia kemudian menatap Kinan yang menatapnya dengan kekaguman sopan. “Abaikan dia.” Jimin mengibaskan tangannya dan menjabat tangan Kinan. “Jimin. Restoranmu luar biasa!”

Kinan tertawa. “Terima kasih banyak. Saya Kinan.” Katanya ramah sebelum menoleh ke Yugyeom. “Dan ini pasti adikmu karena kalian mirip sekali.” Dia mengulurkan tangan dan Yugyeom bergegas menjabatnya.

Jeongguk tergelak. “Ya,” katanya mengusap rambut adiknya. “Yugyeom.” Dia menatap adiknya yang menjabat tangan Kinan kikuk. “Dia yang meminta kami makan di sini hari ini.”

“Baiklah, untuk Yugyeom akan kami siapkan mejanya.” Kinan tersenyum. “Jika kalian bisa menunggu sebentar di lounge sementara meja kalian disiapkan?” Dia memberi tanda ke sudut ruangan di mana lounge kecil disiapkan dengan seperangkat sofa.

“Tentu, tidak masalah.” Jeongguk mengangguk. Dan Kinan mengangguk sebelum memanggil FB Captain mereka, menyebutkan serangkaian intruksi untuk menyiapkan meja mereka. Dia kembali tersenyum pada Jeongguk sementara FB Captain bergegas melaksanakannya.

Kinan bergegas memimpin mereka ke sana dengan senyuman di bibirnya. Aroma tubuh Kinan begitu manis dan pekat hingga sejenak Jeongguk mengerjap, sedikit pening. “Saya mohon maaf kebetulan hari ini Chef Arsa sedang berada di Le Paradis, tapi jika berkenan Sous Chef kami yang akan menyajikan makanannya.” Katanya ketika semua orang duduk di sofa.

“Tidak masalah,” tolak Taehyung sopan. “Jika Sous Chef kalian sibuk, tidak masalah siapa pun yang menyajikannya. Tidak perlu repot-repot dan tolong, jangan mengganggu Arsa untuk hal sesepele ini.” Dia tersenyum dan Kinan mengangguk. “Kami hanya datang untuk makan, santai saja.”

“Dia pemilik restorannya?” Bisik Jimin ketika Kinan menjauh untuk mengecek meja mereka. Dia mengedarkan pandangan ke restoran, mengagumi interiornya yang mewah. “Wow.”

“Kau mau tahu sesuatu yang bahkan lebih 'wow'?” Sahut Taehyung dan tersenyum pada anak servis yang menyajikan sampanye dalam gelas tinggi untuk mereka seraya menunggu.

Jimin menerima gelasnya dengan ceria. Nampak menyukai konsep restoran yang dipilih Yugyeom sementara anak itu menatap sekitar dengan kagum di sisi kakaknya—menempel terus sejak tiba di Puri. Terlihat nyata sangat merindukan kakaknya dan merasa bersalah.

Try me,” Jimin menyesap sampanyenya dan Jeongguk terkekeh parau, menyesap sampanyenya sendiri.

Taehyung menarik napas. “Restoran ini hadiah ulang tahun untuk Kinan dari suaminya, Chef Arsa Mahardika.” Dia mengerling plakat di atas meja mereka dengan tulisan dalam tiga bahasa 'Terima kasih telah menunggu' dengan tulisan kecil 'Le Gourmet by Chef Arsa Mahardika'.

Bibir tipis Jimin membentuk O menggemaskan di atas tepian gelasnya lalu melirik sekitarnya. Bibirnya berkerut tertarik ketika sekali lagi mengamati restoran megah itu. Matanya terbelalak tertarik ketika menatap Taehyung dan Jeongguk yang tertawa atas reaksinya. Mereka pun pertama kali mendengarnya dari Felix bereaksi sama dan membayangkan dengan geli bagaimana reaksi Jimin yang membenci komitmen ketika mendengar alasan Arsa ketika memberikan restoran ini untuk Kinan: “He deserves all the greatest life can offer.”

This Arsa Mahardika is richie-rich dom, isn't he?” Gumamnya di bawah napasnya seraya menyesap sampanyenya ketika Kinan mendekat ke arah mereka. “Restoran ini tidak mungkin menghabiskan uang di bawah 1 miliyar.”

“Dia punya restoran berbintang Michelin di Ubud, Le Paradis. Reservasinya penuh setidaknya tiga bulan sebelumnya.” Jeongguk terkekeh ketika Jimin kembali memberikan ekspresi kaget sopan itu dan menyesap minumannya. “Restoran makanan Bali dikombinasikan dengan teknik memasak Prancis. Konsepnya mirip Mozaic, hanya saja Le Paradis memiliki sentuhan Bali yang lebih kuat karena Arsa juru masak berkebangsaan Indonesia. Tidak seperti Chris Salans.”

“Kau bukan sugar daddy terkaya di dunia ini, terima saja.” Gurau Taehyung dan Jimin tergelak.

Mereka kemudian didudukkan di meja mereka yang walaupun adalah set up dadakan namun tetap terasa nyaman. Kinan sendiri yang melayani mereka untuk makan siang itu walaupun Taehyung bersikeras meminta anak servis saja karena takut Kinan memiliki kesibukan lain dan pemuda itu balas mendelik, bertahan di posisinya sebagai maître d'hotel mereka hari ini.

“Berapa course meal tertinggi kalian?” Tanya Jimin ketika Kinan menyerahkan menu ke tangannya, membukanya hanya untuk sopan santun karena dia sama sekali tidak melirik menu atau pun harga yang tertera di sana.

“Sesuai standar Michelin, dua belas.” Sahutnya tersenyum seraya mengeluarkan tablet untuk mencatat pesanan mereka. Dia menjulurkan tangan sambil menggumamkan permisi, membantu Jimin menemukan halaman di mana semua course meal mereka berada. “Anda ingin mencoba course meal tertinggi kami?”

Yugyeom pucat dengan buku menu di tangannya, duduk di sisi kakaknya. Taehyung tertawa, mengusap kepalanya sayang. “Dua belas...?” Dia mengerjap dan Jimin tersenyum lebar mendengarnya.

“Sepertinya bayi kami ketakutan,” dia menutup menunya, tidak meliriknya sama sekali. “Maka akan kuambil pertengahannya saja. Tolong 6 course meal untuk kami.” Dan menambahkan dengan ceria. “Surprise me with the menu, give me creativity!” Dia menumpukan tangan di atas meja dengan manis.

Kinan tersenyum ketika memasukkan pesanan mereka ke tablet di tangannya yang tersambung langsung ke dapur dan meja reservasi di sudut depan sebelum pamit untuk memberikan ruang pribadi untuk mereka setelah menginformasikan sommelier mereka akan menemani mereka dalam sepuluh menit.

Jimin menatap Yugyeom serius. “Kau harus menghabiskan makanannya. Oke?” Dia mengacungkan telunjuknya, mendelik berpura-pura galak.

Yugyeom tersenyum lebar, mulai nampak nyaman berada di sekitar Jimin. “Oke!”


ps. besok narasi beratnya, ya, keasikan qiqiqiqi

ps. kurang-lebihnya mohon dimaafkan, saya belum menikah soalnya :(


Jeongguk bersandar di dinding Merajan Griya Wisnu yang sekarang terasa semarak.

Di tengah halamannya yang luas, persis di depan patung Siwa Nataraja* setinggi 1x manusia, Wisnu dan Lakshmi sedang tertawa melaksanakan prosesi pernikahan mereka; Medagang-dagangan. Lakshmi sedang duduk di atas sabut kelapa, menawarkan hasil tani di hadapannya pada Wisnu. Mereka tidak berhenti tertawa sehingga para ibu-ibu yang membantu mereka melaksanakan semua prosesi pernikahan mereka mengomel jenaka dan memukul bahu Wisnu memintanya untuk serius. Namun kembali tertawa beberapa detik kemudian.

Jeongguk mengamati dari jauh, Taehyung berada di dekat kakaknya. Nampak sangat penuh oleh bahagia. Lakshmi mengenakan payas agung yang indah dengan bunga emas tinggi di kepalanya, bahunya terbuka—memamerkan betapa indah tubuh langsingnya. Binar bahagia tidak meninggalkan matanya sejak pagi walaupun dia dan Taehyung bertukar tangis di kamarnya sebelum penata rias datang.

Taehyung membantunya berkemas, memasukkan pakaiannya ke dalam koper untuk beberapa hari sebelum Lakshmi kembali mengambil sisanya. Jeongguk menemani keduanya di kamar, membantu mengemas pakaian Lakshmi dan memeluk keduanya ketika mereka menangis. Menghabiskan waktu bersama selama tiga puluh tahun lebih dan sekarang harus berpisah, pastilah sangat menguras air mata mereka. Taehyung nampak sangat sedih namun juga bahagia—terbelah dalam emosi yang tidak dipahaminya.

“Dia akan bahagia sekarang, ingat saja itu.” Jeongguk mengecup puncak kepala Taehyung dan tergelak tanpa suara ketika kedua saudara itu menangis dalam pelukannya. “Cup, cup.” Godanya geli.

Lakshmi luar biasa ketika riasan wajah menyentuh kulitnya. Tidak tebal, namun cukup untuk membuatnya nampak bersinar. Wisnu juga nampak sama bahagianya, senyuman lebar tidak meninggalkan bibirnya—mereka akhirnya menikah setelah sekian lama dipisahkan dan dijauhkan, berusaha dimanipulasi agar retak. Namun mereka berhasil.

Upacara dimulai dengan Ngekeb, yakni mempelai perempuan diluluri dengan lulur khusus sebelum memasuki kamar pengantin dan tidak diizinkan bertemu dengan pengantin pria. Prosesi ini bermakna mempelai perempuan telah mengubur masa lalunya dan siap menyambut masa depan bersama mempelai pria yang menjemputnya. Saat Wisnu tiba, Lakshmi dibantu keluar setelah sebelumnya ditutupi dengan selembar kain tipis kuning (Ngungkeb Lawang/Membuka Pintu) dan mereka kemudian menjalani sembilan rangkaian upacara di Merajan Wisnu, dipimpin oleh kakeknya setelah menyanyikan sloka Weda dan melemparkan daun sirih.

“Wah, Tugus ahlinya menusuk, ya?!” Goda seorang ibu dan semua orang beriak tertawa ketika Wisnu merobek tikar dadakan di pangkuan Lakshmi dengan keris sebagai tanda mereka sepakat. yang mengakhiri prosesi Medagang-dagangan atau bermain penjual-pembeli.

“Harus itu!” Dengus Wisnu bangga dan semua orang tertawa, ibu Wisnu memukul bahunya ringan namun tak ayal tertawa.

Lakshmi merona, namun tersenyum lebar ketika Wisnu menyimpan kembali kerisnya ke dalam sarung di bagian belakang pakaian menikahnya sebelum mereka mengambil tiga sarana kesuburan: talas, andong, dan kunyit untuk ditanam di belakang Kemulan (pura tempat beristananya Tiga Dewa Utama Hindu: Brahma, Wisnu, Siwa). Mereka kemudian berpindah ke prosesi selanjutnya ditemani para ibu yang tertawa dan sesekali melemparkan gurauan tidak senonoh.

“Kakakku menunggu lama sekali untuk ini,” kata adik Wisnu di sisi Jeongguk, menggendong anaknya yang lelap—kepalanya terkulai di bahunya.

Jeongguk mengangguk, tersenyum. “Mereka layak mendapatkan upacara yang lebih megah.”

Adik Wisnu tergelak. “Kakakku tidak terlalu memikirkan hal itu, dia hanya ingin secepatnya menikah. Mereka sudah dipisahkan begitu lama.” Dia juga tidak bisa melepaskan pandangan dari kedua mempelai di kejauhan, nampak bahagia dan terharu.

“Mereka sudah berhubungan berapa tahun?” Tanya Jeongguk karena pertama kali dia mengenal Taehyung, sepertinya Lakshmi sudah menjadi kekasih Wisnu.

Adiknya mengerutkan alis sejenak. “Mungkin sepuluh tahun? Dua belas?” Dia mengerjap. “Sudah lama sekali. Kami sempat melamar Mbok Gek dua kali sebelum ini dan keduanya ditolak mentah-mentah, syarat Tugung harus menikah lebih dulu dan semacamnya.” Adik Wisnu menghelap napas.

“Dua belas tahun.” Ulang Jeongguk sopan dan mendesah panjang. Bagaimana bisa ayah Taehyung bersikap sangat kejam dengan menahan pernikahan anaknya selama itu?

Dan yang lebih mengesankan adalah bagaimana Wisnu bersabar selama bertahun-tahun untuk Lakshmi yang bahkan seorang Astra. Jeongguk menghembuskan napas; Taehyung melepaskan kakaknya pada keluarga yang tepat. Jika mereka bisa bertahan 12 tahun, membiarkan anak sulung lelaki mereka menikahi seorang Astra, maka mereka pasti akan memperlakukan Lakshmi jauh lebih terhormat dari ayah kandungnya sendiri.

Jeongguk bisa melihat bagaimana ibu Wisnu mengemit lengan ibu Taehyung, menempel dengan kebaya sama dan riasan yang nyaris identik—tertawa-tawa kecil dan nampak bahagia.

Salahkah jika Jeongguk berpikir, ayah Taehyung-lah yang menahan semua orang dari bahagia mereka hanya karena dia sedang tidak bahagia? Mengerikan sekali bagaimana manusia bisa memproyeksikan ketidak bahagiaannya pada orang lain. Bagaimana jika seseorang tidak bahagia, dia berpikir orang lain juga tidak berhak bahagia.

“Akhirnya semua bahagia.” Adik Wisnu mendesah, mengusap punggung anak perempuannya yang lelap.

Jeongguk tersenyum menatapnya, menyaksikan pernikahan secara adat mereka yang hanya dihadiri keluarga Wisnu dan Lakshmi. Jeongguk merupakan satu-satunya tamu di luar kedua keluarga itu hari ini, didaulat menjadi supir mobil pernikahan mereka dari Puri ke Griya Wisnu dengan Taehyung di sisinya. Melihat Yaris-nya dihiasi setangkai tebu, selendang, dan bunga membuat Jeongguk menghela napas.

“Akhirnya.” Desah Jeongguk setuju.

Pernikahan Lakshmi memberikannya kebahagiaan, karena dia bisa merasakan betapa bahagianya Taehyung dan kakaknya hari ini. Mereka akhirnya mendapatkan apa yang selama ini mereka dambakan. Melepaskan diri dari satu-satunya neraka mereka di dunia ini, bergabung ke pasangan mereka masing-masing.

Taehyung berdiri dekat kakaknya, menemaninya berkeliling nyaris seperti terobsesi—antara ingin dan tidak ingin melepas kakaknya, satu-satunya saudaranya. Dia berdiri dekat kerumunan ketika Wisnu dan Lakshmi memutari api dengan Lakshmi menyangga keranjang anyaman di kedua tangannya, melangkah di belakang Wisnu yang memikul tegen-tegenan. Keduanya diikat dengan sabuk, mengelilingi api seraya tergelak sebanyak tujuh kali sebagai simbol memulai perjalanan pernikahan mereka.

Jeongguk masih menyaksikan dari jauh ketika akhirnya kedua mempelai naik untuk natab sesaji pernikahan mereka dan Taehyung untuk pertama kalinya sejak dimulainya rangkaian pernikahan, mendongak mencarinya. Jeongguk tersenyum, bersidekap dan menatap Taehyung—menunggu kekasihnya menyadari pandangannya.

Dia nampak indah sekali dalam balutan kemeja safari berwarna putih dengan kain bermotif yang sama dengan Jeongguk—mereka memberanikan diri menggunakannya karena ibu Taehyung juga menggunakan kain yang sama. Taehyung mengenakan kain ayahnya dan Jeongguk mengenakan kain Taehyung. Ada bulu merak di udeng-nya dan wajahnya merah padam—karena adrenalin, bahagia, dan matahari yang mulai terik.

Taehyung menyadari tatapan Jeongguk dan menoleh, mata mereka bertemu dan Taehyung tersenyum lebar. Jeongguk tidak akan pernah terbiasa melihat betapa berkilauannya Taehyung sekarang; setelah terbebas dari ayah kandungnya, memberikan bahagia yang dijanjikannya untuk kakaknya dan siap menyambut bahagianya sendiri.

Dia seperti matahari; memancarkan sinar menyilaukan dan menghangatkan Jeongguk setiap kali dia tersenyum. Jeongguk akan selalu berotasi di sekitar Taehyung, tidak sudi melepaskan diri setelah segala naik-turun terjal yang mereka lewati selama ini.

Dia menyeka keringat di hidung dan bagian atas bibirnya sebelum melompat turun dari bale pawedaan dan menghampiri Jeongguk yang tersenyum. Adik Wisnu berpamitan, hendak membaringkan anaknya di kamar karena kakinya lelah. Jeongguk mengangguk, mempersilakannya sebelum mendongak dan Taehyung sejenak berhenti di beberapa titik, menyapa keluarga Wisnu dan tertawa-tawa. Menepuk bahu mereka sebelum berpamitan hendak menghampiri Jeongguk.

Dia melangkah ke arah Jeongguk, kainnya berdesir di sisi kedua kakinya. Tersibak ketika dia melangkah dengan kaki terbalut sandal selop kulit. Dia nampak luar biasa hari ini, wajahnya diberikan sentuhan sedikit riasan wajah untuk membuatnya terlihat segar sepanjang upacara.

Aroma dupa, bunga, dan perayaan terasa menyesakkan. Semua orang mengobrol dan tertawa, ikut berbahagia dengan kedua mempelai dan keluarga. Ibu Taehyung duduk di dekat bale pawedaan, menemani anak perempuannya—menatapnya dengan sendu, mungkin juga tidak menyangka anaknya akhirnya menikah. Di pangkuannya ada kotak beledu merah, terisi perhiasan yang akan diberikannya ke Lakshmi di akhir prosesi sebagai 'bekal' untuk anak gadisnya.

“Hai.” Sapa Jeongguk lembut, menatap Taehyung yang akhirnya tiba di hadapannya—membawa aroma pekat dupa harum dan kenanga. “Kau mau duduk?” Tanyanya, mengerling tempat kosong di sisinya yang tadi diisi oleh adik Wisnu.

Taehyung mengangguk, bergegas duduk di sana dan mendesah memijat kakinya. “Melelahkan sekali,” gerutunya.

“Tapi kau nampak sangat bahagia.” Jeongguk terkekeh, melirik kekasihnya yang sedang memejamkan mata—menyandarkan tubuhnya ke saka di belakang Jeongguk.

“Tentu saja!” Taehyung tersenyum lebar. “Kakakku menikah.” Katanya pada Jeongguk yang tergelak.

Mereka menyaksikan prosesi sisanya berdampingan. Melihat bagaimana Lakshmi dan Wisnu bertukar pandangan penuh sayang setelah sekarang sah menjadi suami-istri secara agama. Mereka akan mengurus akta pernikahan mereka nantinya. Sekarang tengah menikmati hingar-bingar bahagia adrenalin saat akhirnya mendapatkan sesuatu yang mereka idam-idamkan selama bertahun-tahun. Wisnu tidak berhenti menggenggam tangan Lakshmi, meremasnya dan menciuminya lembut—nampak nyaris meledak karena perasaan bahagia.

“Akhirnya.” Jeongguk mendesah dan Taehyung mengangguk. “Akhirnya.” Sahutnya setuju.

Mereka tidak membahas fakta bahwa kematian ayah mereka membuka begitu banyak gerbang kebahagiaan mereka—bahwa ayah merekalah yang menahan segalanya untuk mereka. Taehyung lebih dari puas menjalankan posisi barunya sebagai kepala keluarga menggantikan ayahnya sebagai wali Lakshmi. Walaupun Puri tidak ikut campur, hanya menyaksikan ketika Lakshmi dijemput di Puri tadi namun tidak ikut ke Griya, Taehyung tidak membiarkan perasaannya hari itu dirusak.

Dia memutuskan untuk berbahagia. Dia tersenyum sepanjang waktu, membantu kakaknya membenahi riasan kepalanya, menemaninya, dan bersikap jauh lebih hebat dari ayahnya. Dan Jeongguk bangga karenanya.

“Kau sudah makan?” Tanya Taehyung dan Jeongguk menggeleng—dia sejak tadi duduk di sana bersama adik Wisnu, belum lapar.

Dia memikirkan keluarganya sendiri. Sudah lama sekali sejak dia terakhir menghubungi ayahnya dan Yugyeom, sempat berpikir inilah rasanya nanti jika dia akhirnya keluar dari Puri-nya dan hidup bersama Taehyung? Mungkin dia harus menghubungi Yugyeom nanti malam; adiknya tidak tahu apa-apa mengenai Wak Anom dan Jeongguk sedang menghukumnya sekarang.

Tapi masalah ayahnya, Jeongguk belum bisa memaafkannya. Hatinya masih sangat terluka, perasaan tidak berharga yang diciptakan 'kelalaian' ayahnya tidak akan sembuh dalam satu-dua bulan. Butuh bertahun-tahun, bahkan mungkin seumur hidup sebelum Jeongguk benar-benar memaafkan ayahnya. Namun Yugyeom; adiknya yang manis, satu-satunya saudaranya.

Dan bagaimana pamannya menangis ketika mengatakan dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Jeongguk melalui reinkarnasi menjadi adiknya membuat Jeongguk terjaga semalaman. Dia menyayangi Jeongguk dan walaupun dia tidak tahu kenapa, dia merasa sedikit bersalah karena takut padanya—mengabaikan usahanya semasa hidup. Jeongguk ingin meminta maaf; hanya pada Yugyeom dan Wak Anom.

Dua orang yang menyayanginya di Puri itu—atau mungkin... satu jiwa.

Satu-satunya jiwa yang menyayanginya dalam dua kali kehidupannya dan Jeongguk terharu karenanya. Memikirkannya, sedikit-banyak mengobati rasa ketidak berhargaannya selama ini; mengingat ada satu jiwa yang menyayanginya dan dia memiliki Taehyung.

Wak Anom tahu tentang hubungannya dengan Taehyung namun tidak menasihati mereka apa pun ketika dipeluasang—tidak marah atau memberikan kata-kata menyakitkan. Dan itu... membuktikan betapa terlepas dari apa pun pilihan Jeongguk, dia mendukungnya. Bahkan merahasiakannya dari ayah Jeongguk ketika dia memiliki akses untuk memberi tahunya.

Karena jika Wak Anom memberi tahu ayahnya, Jeongguk yakin ayahnya tidak akan diam sekarang. Pasti sudah mengamuk dan mengusirnya dari Puri.

“Menurutmu,” katanya pada Taehyung yang meneguk air mineral 330ml dalam satu tegukan panjang hingga habis. “Menurutmu haruskah aku menghubungi Ogik?”

Taehyung berhenti meneguk, menurunkan botolnya dan menatap Jeongguk. Dia menatap wajahnya, menyapukan pandangan menilai di ekspresi Jeongguk. “Kau sudah siap memaafkan?” Tanyanya.

Mereka sering berkonsultasi berdua sekarang, terbuka tentang keluhan masing-masing di depan Thia. Berdiskusi bertiga dan itu memperkuat hubungan mereka, tidak ada rahasia lagi di antara mereka. Keduanya selalu mencoba membicarakan setiap kali ada gejolak emosional di antara mereka—yang sekarang jarang terjadi karena mereka sudah memiliki satu sama lain.

Jeongguk juga sudah tahu mengenai uang yang dipinjamkan Jimin untuk mereka, menggunakannya dengan sangat cermat. Mencatat pengeluaran mereka dalam sebuah buku, mengalokasikan sekian persen untuk hal-hal penting. Mereka merencanakan masa depan mereka dengan baik. Jeongguk juga memasukkan lamaran posisi Junior Sous Chef di salah satu resor besar di Lagoi minggu lalu—kelasnya di bawah Amankila, tentu saja tapi tidak masalah. Jeongguk hanya berharap mereka, atau setidaknya salah satu dari mereka sudah memiliki pekerjaan di hari mereka mendarat di Lagoi.

Dia merasakan betapa hubungannya dengan Taehyung sekarang berdenyut begitu kuat—ikatannya erat. Tidak tergoyahkan. Dan Jeongguk senang; setelah semua pertengkaran kekanakan, sikap diam Taehyung, dan segalanya, mereka akhirnya cukup dewasa untuk terbuka pada diskusi dalam menyelesaikan masalah mereka. Mendiskusikan perasaan mereka, bagaimana mereka ingin diperlakukan, dan merencanakan masa depan.

Dia bangga pada diri mereka sendiri.

“Kurasa.” Jeongguk mengedikkan bahunya, menatap ke depan. “Tidak adil jika aku memberikan silent treatment pada Yugyeom ketika itu bukan salahnya.”

Taehyung menepuk pahanya. “Bukan,” koreksinya tersenyum. “Kau sedang memberikan ruang dan waktu untuk dirimu sendiri memikirkan segalanya. Kau memberi tahu Yugyeom bahwa kau membutuhkan waktu untuk sendiri dan Yugyeom setuju. Maka untukku, itu bukan silent treatment sama sekali. Kau mengkomunikasikan kebutuhanmu dan Yugyeom mengiyakannya.”

Jeongguk tersenyum, menatap Taehyung dengan bahagia. Jika saja Mirah tidak memaksa mereka berdua berkonsultasi, akankah hubungan mereka sekuat, sedewasa, dan seerat ini? Sanggupkah mereka bertahan melewati cobaan bertubi-tubi ini atau menyerah pada kehidupan?

Jeongguk tidak akan pernah tahu dan tidak keberatan; dia puas dengan apa yang dimilikinya dengan Taehyung sekarang. Dia menepuk bahu Taehyung, tidak sabar untuk memeluknya lagi malam ini sebelum tidur. Menyadari bahwa Jeongguk tidak terlalu ingin kembali pulang jika itu berarti tanpa Taehyung di ranjangnya.

“Baiklah.” Jeongguk menghela napas. “Aku akan menghubungi Yugyeom malam ini.”

Taehyung tersenyum. “I'm so proud of you.” Katanya dan dada Jeongguk mengembang senang—merasa utuh hanya karena kalimat sederhana itu.

Mereka hanya tinggal menyelesaikan Ngaben ayah Taehyung dan bisa meninggalkan segalanya—seutuhnya. Melupakan kepahitan yang mereka jalani selama ini, merengkuh masa depan yang akan mereka putuskan sendiri. Tidak ada lagi yang bisa mengganggu mereka, sepanjang sisa usia mereka.


Glosarium:

  • Siwa Nataraja: Dewa Siwa yang digambarkan dalam pose sedang menari.

  • Payas Agung: paes ageng Hindu, bisa di search di Google yaa <3

  • Tegen-tegenan: tegen itu berarti pikul, jadi lelaki memikul sesuatu sebagai tanda dia 'bertani' atau mencari nafkah untuk istri sementara perempuan membawa bakul terisi hasil tani sebagai tanda dia 'memasak' dan bertanggung jawab atas keluarga. Tradisional sekali ya qiqiqi

  • Natab: aku kurang yakin indonesia nya apa tapi ini semacam cara 'menerima' sesaji dan rahmat Tuhan melalui sesaji/banten upacara itu. Caranya tangan diayun-ayunkan di depan dada ke arah diri sendiri. Mungkin ada Hindu Bali yang bisa bantu jelasin? Hehehe <3

  • Bale pawedaan: tempat pedanda/pemimpin agama melakukan ritual memimpin upacara.


    PS. TOLONG BANTUANNYA PARA HINDU BALI, BANTU SAYA MENJAWAB PERTANYAAN YA TERIMA KASIH (??) WKWKWKW

ps. sbenernya aku agak lelah. niatnya hari ini narasi nikah mbgek tp krna otakku macet jadi aku kasih uwu aja sbg gantinya yaa <3 semoga besok udah enakan <3 pss. unedited, gila aku capek bgt sksksks excuse the typo <3


Jeongguk akhirnya terbiasa terbangun di Puri dengan suara kedua saudara berkegiatan di luar.

Nyaris seperti rutinitas yang mereka hafalkan di luar kepala. Lakshmi yang selalu terbangun pertama untuk mengerjakan pekerjaan di dapur; menanak beras, menyiapkan lauk sarapan, sebelum menyiapkan canang di atas nampan untuk Taehyung. Taehyung akan bangun 5-10 menit setelahnya, menyapu halaman dan mandi sebelum bersembahyang di Merajan Puri sambil ngejot. Setelahnya, Lakshmi bersiap berangkat bekerja menaiki motornya sendiri. Jika dia harus ke Denpasar setiap hari Jumat, Wisnu akan menjemputnya sekaligus dia berangkat ke tempat kerjanya sendiri atau diantar Taehyung jika tidak sibuk.

Jeongguk sudah hafal kegiatan mereka, bahkan beberapa kali bergabung memberikan kontribusi dengan membantu mereka menyapu halaman dan berakhir ibu Taehyung mengomel, berteriak-teriak melarang Jeongguk menyapu. Dia berlari dari kamarnya, seperti seekor ayam betina galak dan menyambar sapu lidi dari tangan Jeongguk seraya berseru “Jangan, Turah, jangan!” dengan heboh.

Tapi Jeongguk tetap melakukannya. Dan ibu Taehyung akhirnya mengalah, membiarkan Jeongguk menyapu halaman rumah mereka sebelum bergabung dengan Lakshmi di dapur untuk sekadar membantunya menggoreng lauk.

Entah bagaimana Puri Taehyung terasa jauh lebih nyaman dari rumahnya sendiri. Dia memiliki Taehyung, Lakshmi, dan ibunya yang menyambut Jeongguk dengan tangan terbuka—seperti memiliki keluarga baru yang menganggapnya ada. Meminta bantuannya, menanyakan keinginannya, mengobrol dengannya. Mungkin bagi Taehyung, mendapati Lakshmi datang menawarkan apakah mereka ingin kopi adalah hal yang biasa. Namun untuk Jeongguk itu adalah sebuah kemewahan.

Dia belum pernah mendapatkan perhatian semacam itu. Pertanyaan sesederhana “Turah ingin makan malam apa?” dari Lakshmi membuatnya tersanjung dan berharga. Persis perasaan nyaman yang didapatkannya dari Mirah ketika dulu mereka bersama—perasaan yang sejenak membuatnya memalingkan wajah dari Taehyung jika saja hatinya yang egois tidak terus menerus memanggil Taehyung kembali.

Dia mendudukkan diri di ranjang Taehyung, mengerang panjang dan mengusap rambut dari keningnya yang menghalangi matanya. Jeongguk memejamkan matanya yang pedih akibat sinar lampu kamar Taehyung sejenak, menyadari bahwa biasanya dia akan terbangun detik Taehyung menyalakan lampu—semacam alarm alami mereka yang tidur dengan lampu mati. Namun dia tidak terbangun, menakjubkan.

Jeongguk menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Dia sudah berada di Puri cukup lama sekarang dan ayahnya tidak menghubunginya—entah menghormati waktunya sendirian atau memang tidak lagi peduli. Jeongguk tidak lagi memusingkannya. Terlalu menyakitkan untuk diingat bagaimana mereka mengabaikan Jeongguk semudah menjentikkan jari, tidak mampu membagi perhatian mereka untuk anak kandung mereka. Dan menurut Jeongguk, sejuta kata maaf pun tidak akan bisa mengobati perasaannya.

Pernikahan Lakshmi akan dilaksanakan minggu depan. Tidak megah atau mewah, hanya akan dilaksanakan di Griya Wisnu dan Jimin bersikeras menyewakan make up artist mahal untuk Lakshmi berikut membelikannya kebaya cantik yang menonjolkan bentuk leher dan bahu Lakshmi, serta kulit zaitunnya. Semuanya akan dilaksanakan sekaligus hingga Mepamit. Setelahnya Lakshmi akan menjadi seorang Jro, kastanya akan lebih tinggi dari Taehyung dan semua keluarganya.

Dan Puri akan semakin sepi, menyisakan Taehyung dan ibunya. Taehyung sedikit cemas karena Lakshmi yang biasanya mengurus rumah tangga, memastikan semua berjalan dengan baik dan jika dia tidak lagi tinggal bersama mereka, Taehyung membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Mereka masih sering melakukan kamuflasi dengan pergi keluar Puri pukul enam pagi dan kembali pukul lima sore seolah mereka bekerja, mendapati ibu Taehyung duduk di teras termangu sendirian di teras.

Sejak ayah Taehyung meninggal, ibu Taehyung otomatis tidak memiliki teman mengobrol. Dia terkadang hanya duduk di teras, menatap kejauhan menunggu anak-anaknya pulang dan membuat rumah kembali ramai. Atau membuat kulit canang dari janur segar sendirian di rumahnya yang besar.

Taehyung sudah mendesak ibunya untuk pulang saja ke rumah adiknya yang bersedia menerimanya pulang namun ibunya bersikeras tetap di Puri. Jeongguk menggeleng, tidak yakin bagaimana meyakinkan ibunya. Anggota Puri lain tidak pernah menjenguk mereka sama sekali dan Taehyung mencemaskan keamanan ibunya ketika mereka semua pergi 'bekerja'. Taehyung sungguh tidak habis pikir bagaimana bisa keluarganya tidak tersentuh untuk menemani perempuan paruh baya di rumahnya.

Sejujurnya, Jeongguk pun tidak. Sedingin itukah hati mereka? Sebanyak apa benci yang sudah meradang di hati mereka hingga tidak ada lagi nurani di sana untuk bersikap baik pada sesama manusia—saudaranya? Tapi bukankah Jeongguk dan Taehyung sudah sangat akrab dengan para manusia yang sama sekali tidak mencerminkan kemanusiaan?

Nyatanya, mereka masih terkejut.

“Bagaimana menurutmu? Atau perlukah kita membawa Ibuk ke Lagoi?” Tanya Jeongguk pada Taehyung yang mengerutkan wajahnya.

Jeongguk tahu Taehyung tidak ingin membawa ibunya dan merasa sangat bersalah atas itu. Jimin memberi tahunya bahwa jika ibunya tidak berkenan maka itu bukan urusan Taehyung lagi—dia sudah berusaha. Jimin memang sangat praktis tentang segala hal termasuk orang tuanya, namun bukan berarti semua orang bisa melakukannya.

“Panti Wreda?” Bisik Taehyung dan Jeongguk menatapnya. “Setidaknya di sana mereka memperlakukan ibuku jauh lebih sopan daripada semua orang di tempat ini, 'kan?”

Jeongguk menatap Taehyung, lama dan dalam. Tahu kekasihnya sedang dalam kondisi perang batin mengenai tempat ibunya nanti ketika mereka kabur. Orang Puri jelas tidak mau menerimanya karena dia bukan bagian dari Puri dan Taehyung tidak terlalu ingin membawa sepotong kehidupan lamanya ke kehidupan barunya, Jeongguk tidak memiliki kapasitas untuk membicarakan ini karena perasaan Taehyung mengenai keluarganya murni urusan Taehyung.

Menikahi lelaki yang berkasta dalam sistem patriarki Bali yang luar biasa kuat sangat merugikan seorang perempuan. Dalam Hindu, leluhur merupakan identitas diri mereka. Maka ketika seorang perempuan melepaskan leluhur Sudra-nya untuk menikahi lelaki yang berasal dari kasta di atasnya, dia berada di posisi yang tidak stabil. Posisinya lebih tinggi dari leluhur lamanya namun tidak 'diterima' sepenuhnya oleh leluhur barunya karena dia tidak 'terlahir' dengan kasta itu. Ibu kandungnya tidak boleh bicara padanya dengan bahasa sehari-hari karena anaknya sekarang lebih tinggi darinya. Dia bahkan lebih tinggi dari leluhurnya.

Dan ketika suaminya meninggal, itu memberikan kuasa bagi keluarga lelaki untuk menyingkirkannya. Meninggalkan perempuan itu sendirian tanpa 'rumah' untuk pulang karena keluarganya ketika gadis berkasta lebih rendah darinya dan harus menghormatinya sementara dia tidak benar-benar berada di kasta suaminya.

Itulah yang Taehyung takutkan terjadi pada ibunya.

Jeongguk juga sempat bertanya pada ibu Taehyung, tentang prospek tinggal di luar Puri dan jawabannya membuat Jeongguk paham mengapa Taehyung tidak membawanya:

“Hidup Ibuk di sini Turah, Ibuk akan bertahan di sini. Ibuk sayang sekali pada Ajung, tidak ingin berada di tempat lain selain di sini. Dekat dengan Ajung.”

Maka dia mengangguk; jika memang ibu Taehyung ingin tinggal maka mereka sebaiknya tidak memaksanya. Tidak ingin membuat keduanya tidak nyaman. “Boleh, kita percayakan saja mereka menjemput Ibuk jika dibutuhkan dan membayarnya dari jauh.” Dan Taehyung nampak lega ketika Jeongguk mengiyakan idenya.

Jeongguk menguap tertahan lalu mengikat rambutnya dengan karet yang selalu berada di pergelangan tangan kirinya sebelum menurunkan kakinya ke lantai lalu meraih pakaiannya yang teronggok di lantai. Dia membentangkannya, mendengus geli ketika menyadari itu kaus Taehyung. Kekasihnya salah mengambil baju lagi. Namun dia tetap menggunakannya sebelum bangkit dan melangkah ke luar.

Dia langsung berhadapan dengan Taehyung yang sedang membungkuk menyapu halaman. “Pagi?” Sapanya parau dan Taehyung menoleh, tersenyum.

Taehyung mengenakan kaus Jeongguk di atas tubuhnya dan Jeongguk tersenyum lebar. Entah mengapa itu memberikannya bayangan nyaman bagaimana kehidupan mereka di masa depan nantinya; kaus tertukar, seseorang bangun lebih awal dan membereskan rumah. Hanya ada mereka di sana, berdua—memiliki satu sama lain. Tidak akan ada yang mengganggu mereka. Dia nampak segar dengan rambut dicepol rendah di tengkuknya, beberapa anak rambut meluruh di pelipisnya—tidak sempat diseka.

Langit belum terang, masih kebiruan dan bulan masih mengintip dari kejauhan namun Jeongguk sudah mencium aroma nasi yang baru matang serta kopi yang segar. Dan hal yang sangat diinginkan Jeongguk saat ini adalah kembali berbaring. Kepalanya berdentam-dentam belakangan ini, tidak bisa berhenti memimpikan Yugyeom yang mendadak berubah menjadi Wak Anom dan terbangun dengan perasaan kacau setelahnya. Syukurlah Taehyung selalu di sisinya, memeluknya untuk menenangkannya.

“Hai,” sapanya menegakkan tubuhnya, memandang Jeongguk cemas. “Aku berusaha membangunkanmu tapi kau tidur begitu lelap jadi kubiarkan saja.” Dia mengetukkan pangkal sapu ke teras kamarnya sebelum kembali membungkuk. “Kau mau kopi?”

Jeongguk menuruni undakan, duduk di undakan terbawah dan menguap tertahan. Bangun pagi di Puri Taehyung berbeda sekali dengan rumahnya. Di rumahnya, semua orang bersiap dengan individualis dan bertemu untuk pertama kalinya di meja makan. Tidak ada kopi atau makanan kecil sebelum sarapan, persis militer. Atau apakah Puri Taehyung terasa nyaman sekarang setelah ayahnya meninggal?

“Tidak,” sahut Jeongguk menghela napas lalu memukul pantat Taehyung lalu meremasnya sekilas; menggodanya. “Aku mengantuk sekali.”

Taehyung menyapu halaman, sama sekali tidak terganggu pada sentuhan Jeongguk. “Hari ini kita akan pergi ke mana?” Tanyanya seraya meraih serokan sampah dan mulai menyerok semuanya.

Jeongguk meregangkan tubuh. “Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke mana pun hari ini, bisakah kita mengarang alasan saja tentang libur atau apa?” Tanyanya dan Taehyung tergelak lembut.

“Baiklah.” Sahutnya membereskan halaman. “Jika begitu aku akan membeli sesuatu di pasar, kita masak makan siang yang enak.” Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Jeongguk—mengulurkan tangan, dia mengusap kepala Jeongguk yang langsung memejamkan mata dan tersenyum. Seperti anak kucing menggemaskan.

“Kau kelelahan sekali belakangan ini.” Katanya berdiri di depan Jeongguk yang menumpukan keningnya di perut Taehyung—masih ingin bermanja-manja dengannya di ranjang. “Tidurmu nyenyak sekali dan lama, aku jadi khawatir. Kau kelelahan? Haruskah kita ke dokter?”

“Aku hanya memikirkan banyak hal.” Gumam Jeongguk di perutnya, ingin memeluknya namun takut ibu Taehyung keluar dari kamar dan mendapati mereka berpelukan di halaman rumahnya.

Ibu Taehyung menawari Jeongguk tidur di kamar tamu. Tempatnya terletak dekat dengan bekas kamar nenek Taehyung yang sekarang kosong, dekat Merajan. Kamar Taehyung nampak dari jendelanya. Jeongguk menyetujuinya hanya untuk mengendap ke kamar Taehyung pada tengah malam dan selalu bangun sebelum ibu Taehyung sehingga dia tidak tahu Jeongguk menghabiskan malam di kamar anaknya.

Lakshmi juga selalu bekerja sama dengan mereka sehingga rasanya Puri hanya milik mereka bertiga. Namun tidak bisa dipungkiri, Jeongguk merindukan adiknya. Merindukan waktu berkualitas mereka berdua di dapur seraya makan mie instan. Sudah beberapa hari dia tidak menghubungi siapa pun keluarganya dan Taehyung juga tidak berkomentar mengenai itu.

Jeongguk belum siap menghadapi adiknya jika dia belum bisa memisahkan Yugyeom dan pamannya dari satu badan walaupun sebenarnya reinkarnasi tidak berlangsung dengan cara itu. Yugyeom hanya mewarisi sedikit sifat pamannya, sedikit kebiasaannya, dan sedikit kesukaan atau ketidak sukaannya tentang sesuatu. Dia bahkan tidak mengingat apa pun dari kehidupan sebelumnya, hanya mereka yang mengenal paman merekalah yang mengetahuinya. Selebihnya, dia adalah manusia baru.

Rasanya memang sangat tidak adil jika Jeongguk melimpahkan kesalahan yang bahkan tidak dilakukan Yugyeom padanya tetapi dia tidak bisa menolong dirinya sendiri. Maka Jeongguk mengambil langkah mundur, menata isi kepalanya.

“Kita kembali tidur setelah mandi, oke?” Bisik Taehyung, membelai kepalanya lembut sebelum dengan lembut mendorong Jeongguk yang merengek menjauh persis ketika Lakshmi keluar dari dapur.

“Oh, Turah sudah bangun? Mbok Gek buatkan kopi?” Tawarnya, rambutnya digelung rapi di atas kepalanya nampak sedang sibuk menyiapkan makanan untukdi rumah.

Jeongguk menggeleng, menyeka rambutnya dan merasa kepalanya begitu berat—sulit untuk memikirkan jawaban untuk pertanyaan sederhana sekali pun. Dia benar-benar dikuras habis oleh informasi yang baru didapatkannya itu. “Nanti tiang buat sendiri saja, Mbok Gek.” Tolaknya lembut.

Taehyung menatapnya dan tersenyum. “Mandilah jika begitu atau kau ingin kembali berbaring? Aku akan maturan sebentar lalu bergabung denganmu lagi.”

Jeongguk menatapnya, ingin mengatakan sesuatu namun otaknya menolak untuk berpikir maka dia mengangguk. Dia beranjak bangkit dan menyeret dirinya ke kamar, berbaring kembali di ranjang Taehyung dengan posisi menelungkup—terlelap detik kepalanya menyentuh bantal.

Sisanya samar-samar. Dia merasa melihat Taehyung memasuki kamar lagi, mencium keningnya sebelum mandi. Jeongguk terombang-ambing dalam kantuk, merasa mencium aroma dupa dan bunga ketika Taehyung memasuki kamar untuk menghaturkan canang di pelangkiran kamarnya dan berhenti untuk mengusap kepalanya sayang. Jeongguk merasa sedang menonton Taehyung dari kejauhan, di balik selubung tebal yang membuat semuanya nampak kabur. Selubung kantuk yang sulit dilawan.

Dia masih merasa kebingungan ketika melihat Taehyung memasuki kamar, masih mengenakan kain setelah berdoa dan menyusup ke pelukannya. Taehyung mengecupi pipinya sayang—beraroma bunga dan dupa.

“Hm...” Erang Jeongguk, merasa kepalanya sakit.

“Kau tidur lama sekali, ini sudah hampir pukul sembilan pagi.” Bisik Taehyung mengusap wajahnya. “Kau yakin tidak ingin ke dokter?”

Jeongguk menggeleng, merengkuh kekasihnya ke dalam kedua lengannya dan berguling di ranjang. “Aku hanya butuh tidur.” Gumamnya parau dan sebelum Taehyung sempat menjawab, dia kembali lelap.

*

tw // trust issue , betrayal , mention of death , moral ambiguity .


Jeongguk mengeringkan rambutnya dengan perasaan resah yang masih menggenang di hatinya—dia menatap refleksi dirinya sendiri di cermin, memikirkan segalanya secara perlahan khususnya pesan Taehyung tadi di ponselnya.

Dia senang sekarang kekasihnya yang sudah mulai tenang dan bahagia sejak kematian ayahnya bisa bersikap seperti dia yang dulu—mengayomi, lembut, dan membuat Jeongguk merasa aman. Dia selalu memiliki kemampuan itu. Dan sejujurnya pesona itulah yang membuat Jeongguk sejak awal mengaguminya. Taehyung tegas, keras, dan sulit ditundukkan. Jeongguk terinspirasi pada betapa kuat karakternya, ingin menjadi versi dirinya yang sama kuatnya dengan Taehyung sehingga menghadapi ketidakadilan ayahnya akan terasa mudah.

Dia senang sekarang dia memiliki Taehyung sebagai kakak, sahabat, kekasih, dan keluarganya.

Ayahnya sudah pulang, beberapa menit lalu ketika Jeongguk baru saja melepas kausnya untuk mandi. Dia mengetuk pintu Jeongguk mengatakan dia akan menunggu Jeongguk di rumah utama untuk mengobrol.

Sesungguhnya, bahkan Jeongguk sendiri tidak yakin apa yang ingin ditanyakannya. Kenapa Wak Anom menyayanginya? Kenapa dia sangat ingin bertemu Jeongguk? Kenapa tidak ada yang memberi tahu Jeongguk bahwa Yugyeom adalah reinkarnasi Wak Anom? Cukupkah pertanyaan itu?

Jeongguk menyelipkan kepalanya melalui leher bajunya dan kedua lengannya. Melicinkannya sebelum menyisir rambutnya yang setengah basah, dia menjemur handuknya di jemuran kecil yang ada di teras kamarnya sebelum menghela napas. Melirik kamar Yugyeom dengan perasaan campur aduk; persis sebelum dia pergi dari sini, dia dihadapkan pada kenyataan ini. Butuh berapa lama hingga Jeongguk akhirnya terbiasa lagi menatap adiknya?

Atau mungkinkah dia akan bisa melakukannya lagi—suatu hari nanti? Memercayai Yugyeom seperti sebelumnya?

Jeongguk melangkah ke rumah utama, menyeberangi halaman rumahnya yang luas dan dihiasi pohon kamboja raksasa serta pot-pot bonsai ayahnya. Angin berdesir keras, membuat beberapa kuntum bunga rontok dari tangkainya—melayang jatuh ke rumput yang dicukur rapi. Jeongguk menendang bunga di tengah jalan dengan kakinya, menyingkirkannya dari jalan setapak ke arah rumah utama. Rumah mereka luas sekali dan memberikan jarak yang disadari Jeongguk ketika mereka beranjak dewasa. Membuat Jeongguk dan Yugyeom berjarak dengan orang tua mereka, persis seperti kamar mereka yang berjauhan.

Kamar Jeongguk dekat dengan garasi dan pintu samping tempat para tamu mereka memasuki Puri sementara kamar Yugyeom berada di garis diagonal kamar Jeongguk—dekat dengan pintu masuk utama Puri yang tidak digunakan karena berbatasan dengan wilayah wisatawan. Gerbangnya digembok berkarat dengan lapisan di teralis gerbangnya agar wisatawan tidak bisa mengintip ke dalam rumah utama.

Puri mereka terdiri atas tiga halaman. Halaman paling depan dengan gapura utama Puri mereka yang menghadap ke Selatan, lalu halaman kedua sebelum rumah utama yang berada di belakang. Dua halaman itu merupakan wilayah wisatawan dan di belakang rumah Jeongguk masih ada halaman lain untuk anggota Puri lainnya. Di seberang jalan, juga ada bagian dari Puri mereka di mana saudara ayahnya tinggal, sama luasnya. Baru dipugar dua tahun lalu. Wisatawan lebih banyak pergi ke Puri Kangin (Timur) karena di sanalah semua peninggalan Kerajaan Karangasem selain Taman Soekasada, Ujung dan Istana Air Tirta Gangga, Abang.

Namun rumah yang luas tidak membuat perasaan Jeongguk lapang sama sekali. Lebih terasa mencekik apalagi jika dia mendengar suara kerumunan wisatawan di halaman depan mendengarkan penjelasan tentang masa kejayaan Kerajaan Karangasem dan mendadak terserang perasaan ketakutan aneh pada keramaian. Merasa seperti seekor binatang yang terkurung di kebun binatang, menjadi pusat tontonan. Belum lagi jika ada tamu tidak sopan yang berusaha mengintip dari gerbang yang sudah diberi lapisan.

Atau ketika seseorang menyewa Puri untuk melakukan sesi foto pra-pernikahan di rumah utama. Jeongguk dan Yugyeom sangat tidak nyaman dengan banyaknya orang menginvasi rumah mereka, memaksa mereka bersembunyi di kamar. Orang tua mereka harus pergi ke Puri Kangin agar tidak mengganggu proses pengambilan gambar. Namun uang sewanya dibutuhkan Puri untuk perawatan jadi Jeongguk harus menghela napas dan mengalah ketika mendengar keriuhan para fotografer dan calon pengantin.

Jeongguk tidak menyukainya, tapi jika dihadapkan pada kepentingannya atau Puri maka jawabannya sudah jelas.

Dia menaiki undakan rumah utama yang pintunya terbuka, mencari ayahnya yang berada di dalam. “Ajung?” Panggilnya saat melepas sandal di undakan terakhir dan menjejakkan kakinya di atas lantai yang dingin.

Sejenak hening, hanya terdengar suara televisi yang menyala. Sayup-sayup hingga ke teras depan. Jeongguk duduk di salah satu kursi rotan di teras dengan meja marmer, memandangi isi rumah utama Puri—guci-guci lama, kayu-kayu, foto-foto kakek buyutnya yang pernah menjadi raja pada masanya, lampu kristal di atas kepalanya....

“Oh, Gung.”

Jeongguk mengerjap, menoleh ke ayahnya yang keluar dari pintu gebyok khas Bali rumah utama yang selalu dijadikan latar belakang foto pra-pernikahan. “Nggih, Ajung.” Katanya membenahi posisi duduknya dan ayahnya menarik kursi di hadapannya.

Dari rumah utama, dengan posisinya yang sedikit lebih tinggi dari kamar Jeongguk dan Yugyeom, dia bisa mengamati seluruh halaman dan mengintip sedikit ke jalanan di depan Puri. Sejenak mereka berdua kikuk, tidak pernah duduk berdua tanpa siapa pun di antara mereka untuk mencairkan suasana. Jeongguk tidak ingat sejak kapan, namun hubungannya dengan ayahnya tidak pernah baik dan dia selalu menganggapnya sebagai hubungan biasa ayah dan anak sulung lelaki yang pasti tidak pernah akur.

“Apa yang Gung ingin tanyakan tentang Uwak?” Tanya ayahnya kemudian, menatap Jeongguk yang menarik napas dalam-dalam.

Dia menyadari dari mana dia mendapatkan gennya sekarang. Ayahnya sudah berusia enam puluh tahun, namun rambutnya masih lumayan gelap dan wajahnya tegas. Tubuhnya masih sehat, tinggi dan bidang. Wajahnya pun masih tampan, lelaki dengan karisma seorang pemimpin dan seorang ayah yang hangat. Sayangnya, bukan untuk Jeongguk setidaknya hingga seminggu lalu.

Jeongguk memilah pertanyaan di kepalanya dengan perlahan, tidak yakin mana yang sebaiknya ditanyakan duluan ketika ayahnya kembali bersuara, kali ini dengan nada sedikit penasaran.

“Kenapa kau mendadak menanyakan tentang Uwak setelah sekian lama?” Tanyanya lagi, menatap Jeongguk seraya menumpukan tangannya di meja marmer yang dingin. “Ajung pikir kau membenci Uwak?”

Jeongguk menatap turun, memilah perasaannya sendiri tentang kakak ayahnya. Apakah dia membenci Uwak-nya atau membenci atmosfer kamarnya yang membuat anak kecil berusia 10 tahun mana pun ketakutan? Atau membenci ayahnya yang selalu memaksanya ke sana?

“Kenapa Ajung tidak memberi tahuku bahwa Ogik adalah reinkarnasi Uwak?” Tanya Jeongguk mendadak—pertanyaan itu melepaskan diri begitu saja dari bibirnya, tanpa dia sempat mengendalikannya.

Ayahnya mengerjap, kaget oleh serangan pertanyaan itu sebelum menghela napas dan menatap Jeongguk. “Uwak sendiri yang melarangnya.” Katanya dan Jeongguk berjengit. “Kau ingat ketika kami pergi untuk meluasang kehamilan ibumu? Mencari tahu apakah Uwak mantuk ngeraganin?”

Jeongguk menggeleng, karena sungguh tidak menemukan sedikit pun ingatan tentang itu di kepalanya. Dan ayah Jeongguk menghela napas, mendongak menatap lampu kristal di atas kepalanya dan Jeongguk menyadari uban di bawah rambut gelapnya—mengintip seperti kerlip bintang.

“Uwak yang meminta kami merahasiakan darimu tentang reinkarnasinya, ingin menjadi adikmu.” Ayahnya bicara dengan nada melamun, seolah berada di tempat lain. “Uwak ingin memperbaiki hubungannya denganmu.” Dia menutup matanya lalu menatap Jeongguk yang duduk mendengarkan.

“Kau cucu pertama di Puri ini, kau tahu, 'kan?” Tanya ayahnya.

Jeongguk mengangguk. Itulah yang selalu dikatakan ayahnya ketika dia mengoreksi sikap Jeongguk yang nakal—mengingatkannya tentang tanggung jawab di bahunya, bagaimana dia harus merepresentasikan Puri di masyarakat. Menjadi perwakilan dari Puri di setiap upacara adat penting wilayah mereka.

“Kami semua menantikan kelahiranmu.”

Jeongguk mengerutkan alis. Tidak masuk akal karena semua orang praktis mengabaikan Jeongguk selama ini, tidak pernah ada yang menyayangi Jeongguk seperti mereka menyayangi Yugyeom—itulah mengapa Jeongguk selalu ingin pergi dari rumahnya sendiri.

“Termasuk Uwak yang tidak bisa menikah karena memiliki HIV/AIDS, tidak ingin menularkannya pada siapa pun; khususnya ke keturunannya yang tidak tahu apa-apa. Namun persis saat kau berusia satu bulan tujuh hari, penyakit Uwak semakin parah. Kami berduka, memfokuskan seluruh perhatian kami padanya dan...,” ayah Jeongguk menghela napas, memijat pelipisnya.

“Kami melupakanmu.”

Jeongguk menarik napas, menggertakkan rahangnya. Mudah sekali melupakan bayi berusia satu bulan ketika penyakit anak sulung Penglingsir Puri mendadak menjadi begitu parah hingga dia invalid sepanjang hidupnya. Bayi 40 hari yang sama sekali tidak paham apa pun, tumbuh diabaikan oleh semua orang yang sibuk memfokuskan perhatian mereka ke orang lain dan kemudian meminta maaf seolah segala ketidak berhargaan diri Jeongguk yang tumbuh karena sikap lalai mereka mendadak sembuh hanya dengan satu kata.

“Uwak berusaha mengingatkan kami tentangmu. Selalu bertanya, 'di mana Gung Wah? Gung Wah tidak mau bertemu Uwak?' dan dia sendiri yang memberikan namamu. Dia yang memotong rambutmu ketika harus digundul—”

“Tapi kalian tetap tidak memedulikan keinginan Uwak.” Sela Jeongguk dingin. Ada setangkai es dingin yang menancap di hatinya sekarang, membuat rasa beku menjalar di atas hatinya; rasa perih yang mustahil diabaikan.

Ayahnya menatap Jeongguk, nampak tidak kuasa dan menyesal. Dia sejenak tidak bisa bicara, menghindari tatapan Jeongguk dengan malu karena menyadari bahwa Jeongguk benar: mereka mengabaikan permintaan Wak Anom untuk memerhatikan Jeongguk alih-alih dirinya yang sakit. Sepanjang waktu, bertahun-tahun. Dan mereka tetap mengabaikan Jeongguk bahkan setelah Wak Anom meninggal.

“Lalu apakah Ajung juga menyalahkanku karena aku tidak mau bertemu Uwak hingga dia meninggal? Itukah mengapa aku selalu diperlakukan tidak adil di rumah ini? Dan Ogik mendapatkan segalanya; kasih sayang, perhatian... Semua karena dia adalah reinkarnasi Uwak?”

Jeongguk tidak tahu dari mana dia mendapatkan keberanian itu namun setelah mengucapkannya, dia merasa lega. Lega karena akhirnya mengucapkan keras-keras apa yang dirasakannya, apa yang ditahannya selama ini. Keluhan yang ditelannya bulat-bulat dengan getir karena takut. Sekarang dia mendadak dipenuhi energi, merasa kuat dan nyaris pening karena ledakan adrenalin mendadak.

“Gung.” Bisik ayahnya tidak kuasa, nampak menyesal dan sejenak, ekspresi ayah Jeongguk itu menyengat hatinya dengan rasa bersalah; bersalah karena telah menyakitinya sebelum Jeongguk menggertakkan giginya.

Ayahnya tidak merasa bersalah selama bertahun-tahun mengabaikannya, mengarahkan segala kesedihan dan rasa frustrasinya kehilangan kakak ke anak kecil yang bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan.

“Tahukah Ajung apa harga dari semua kelalaian kalian?” Tanya Jeongguk dengan tenggorokan panas tersengat tangis. Dia menelan ludah, berusaha menelan tangisan itu kembali ke dalam dirinya. “Hanya Uwak yang menyayangiku di rumah ini? Hanya dia yang ingat bahwa aku hidup di sini? Bahkan tidak ayahku sendiri?”

“Uwak meminta untuk didekatkan denganmu ketika kami meluasang Ogik di dalam kandungan.” Sela ayahnya. “Uwak meminta kami merahasiakan itu darimu agar dia bisa memiliki ikatan denganmu tanpa kau merasa takut. Itu permintaan Uwak ketika kami meluasang.”

“Bahkan tidak ayahku sendiri.” Jeongguk memejamkan mata, menghela napas berat dan merasa ada bunga es di paru-parunya; menyengat tiap tarikan napasnya dan membuatnya berat serta menyiksa.

“Gung,” bisik ayahnya. Nampak jauh lebih tua dan dihantui perasaan bersalah—yang disadari Jeongguk muncul setelah Wak Anom mendatangi mimpinya, menegurnya dengan keras. “Ajung minta maaf.”

Jika tidak, akankah dia menyesalinya?

Jeongguk mendengus pelan, berusaha mengabaikan rasa panas di ulu hatinya—suatu tempat di balik paru-paru dan jantungnya. Rasa panas yang menjalar, mencengkeram setiap organnya. Bukankah dia selalu menginginkan permintaan maaf ayahnya? Lalu mengapa sekarang permintaan maaf ini terdengar menyedihkan dan tidak bermakna sama sekali?

“Tahukah Ajung, Ajung baru saja merusak satu-satunya ikatan keluarga yang kumiliki di kehidupan ini? Di rumah ini?” Jeongguk mengerjap, berusaha mengenyahkan air mata dari sudut matanya yang panas dan mengaburkan pandangannya. “Tahukah Ajung sekarang aku merasa benar-benar sendirian?

“Tahukah Ajung sekarang aku tidak tahu bagaimana caraku memandang Yugyeom tanpa teringat bahwa dia adalah Wak Anom?”

“Gung, kau tahu itu tidak adil bagi—”

“Tahu apa Ajung tentang keadilan?” Sela Jeongguk dingin, napasnya memburu bersama dengan kemarahan yang mulai mendidih di perutnya—naik ke kepalanya, membuatnya pening. “Jangan membicarakan keadilan ketika kau sendiri gagal melakukannya untukku dan Yugyeom selama ini.

“Bahkan dalam dua kali kehidupan Uwak pun, Ajung gagal melakukan apa yang diinginkan Uwak. Ajung selalu memprioritaskan dia, sama seperti anggota Puri lainnya. Dan dua kali juga dalam satu kehidupan, mengkhianati dan mengabaikanku.

“Dan bagaimana perasaan Yugyeom jika dia tahu bahwa kalian semua tidak pernah menyayanginya sebagai Yugyeom? Karena kalian masih dibayangi oleh Uwak? Kalian menyayangi Uwak, kalian menganggap Yugyeom adalah Uwak dan mencoba mencari pengampunan atas sikap kalian selama ini kepada Uwak dengan menyayangi Yugyeom. Mengabaikan identitas barunya, tubuh barunya, dan pikiran barunya sebagai Yugyeom.

“Dan, Ajung,”

Jeongguk menatap ayahnya, merasa jijik dan muak di rumah ini. Uwak-nya benar, dia harus pergi dari sini dan berbahagia. Mereka sudah mendapatkan kesempatan kedua untuk memperlakukan Jeongguk dengan benar namun sekali lagi mereka tidak melakukannya.

Dan menurut mereka, bagaimana caranya Jeongguk mempercayai mereka sekarang setelah mendengar bagaimana mereka 'melupakan' Jeongguk seolah dia hanyalah boneka perca tidak penting yang akan tetap diam di sudut ruangan ketika mereka bosan memainkannya untuk diambil kembali nantinya?

Hanya Yugyeom alasannya bertahan di rumah ini dan sekarang, Jeongguk tidak yakin lagi apakah dia bisa memandang Yugyeom dengan cara yang sama tanpa terbayang aroma kamar pamannya yang membuat Jeongguk Kecil di kepalanya menggigil. Dan dihadapkan pada kenyataan bahwa Uwak-nya adalah alasan mengapa dia diabaikan.

Dua kali.

Dia gemetar ketika mendorong kursi dengan kakinya dan berdiri, ayahnya mendongak—menatapnya dengan ekspresi menyesal yang membuat hatinya tersengat rasa bersalah namun tidak lagi. Ayahnya lelaki dewasa yang menyadari benar bahwa dia salah namun tetap melakukannya—selama tiga puluh tahun lebih. Menganugerahi Jeongguk kondisi mental yang tidak stabil dan kesulitan untuk menghargai dirinya sendiri.

“Haruskah Gung mati dan ber-reinkarnasi sebelum Ajung akhirnya memberikan perhatian yang kubutuhkan?” Tanyanya dingin, tercekat tangisnya sendiri.

“Persis seperti Uwak?”


Taehyung tersenyum lebar, memandang bunga yang diterimanya dari Lakshmi ketika dia pulang bekerja.

“Nih!” Lakshmi memukul pelan kepala Taehyung dengan buket bunga itu sebelum menyerahkannya, dia tersenyum lebar ketika adiknya menerimanya lalu memandanginya. “Kau senang?”

Taehyung menahan senyumannya dan berdeham. Berusaha memasang wajah biasa saja di depan kakaknya. “Biasa saja. Hanya bunga.”

Lakshmi mencibir mendengarnya sebelum menyeka rambutnya yang diikat rendah dan beranjak dari sana. “Sebentar lagi kau pasti akan nyengir seperti orang bodoh karena bunga yang 'biasa saja' itu,” dia melambaikan tangannya, berbalik untuk pergi ke kamarnya lalu mendadak tergelak keras dan menjerit karena Taehyung menyambar pinggangnya lalu menggelitikinya.

“Tugung!” Serunya ceria dan Taehyung melepaskannya setelah mencium keningnya keras.

Mereka belum pernah bercanda selepas itu di rumah karena ayah mereka membencinya. Semua komunikasi mereka praktis dilakukan dengan cara berbisik; tidak boleh menjerit, tidak boleh tergelak keras, tidak boleh berteriak. Ayah mereka membencinya. Taehyung menatap halaman Puri-nya. Apakah dia berdosa karena merasa lega setelah ayahnya meninggal? Merasa himpitan di dadanya melonggar seketika itu juga dan dia akhirnya menikmati hidup setelah tiga puluh tahun digencet ayahnya sendiri?

Mbok Gek ingin makan apa hari ini?” Tanyanya saat Lakshmi melepas sepatunya di teras kamarnya yang berada di dekat dapur.

“Kita beli saja makanan, ya? Mbok Gek lelah sekali.” Katanya meletakkan sepatunya di rak dan menatap Taehyung. “Turah menginap di sini lagi?”

Taehyung mengerutkan wajahnya, menatap bunga di tangannya lalu mengedikkan bahu. “Entahlah. Tapi belikan saja makanan, jika dia tidak datang, Tugung yang makan.” Katanya sebelum berpisah dengan kakaknya yang akan mandi.

Dia sudah memotong bagian bawah kertas pembungkus bunga itu untuk dimasukkan ke botol kaca terisi air. Dia juga sudah memendekkan tangkai-tangkai bunga untuk menjaganya tetap segar. Sekarang bunga Jeongguk berdiri di sudut mejanya, terdekat dengan jendela yang memberikan sinar untuknya. Kelopak mawarnya masih kuncup, sebentar lagi merekah ditemani bunga matahari mungil yang semarak. Taehyung tersenyum, mengulurkan tangan dan menyentuh kelopaknya.

Dia tidak terlalu suka bunga, menurutnya terlalu feminim dan dia dibesarkan dengan toxic masculinity tentang bagaimana lelaki tidak sepantasnya menyukai sesuatu yang berbau feminim seperti bunga. Namun menerima buket itu membuat perasaannya senang—seseorang memikirkannya, memikirkan Taehyung ketika memilih mawar putih dan bunga mataharinya.

Jeongguk.

Taehyung nyengir lebar hingga pipinya sakit sebelum meraih ponselnya dan mengecek pemberitahuannya, berharap Jeongguk mengirimkannya pesan memberi tahu tentang hasil obrolannya dengan ayahnya. Namun ponselnya hening maka dia kembali meletakkannya di meja sebelum beranjak ke ranjang dan berbaring di sana—meregangkan tubuhnya.

Menjadi pengangguran ternyata memiliki pro dan kontranya sendiri. Dia punya banyak waktu luang untuk melakukan hal-hal yang diinginkannya dengan Jeongguk; pergi berkencan, menjelajahi Bali bersama saat pamit bekerja, makan siang bersama, pergi berkendara jauh, melakukan banyak hal. Namun Taehyung mulai merasakan efeknya pada saldo rekening mereka.

Uang mereka harusnya difokuskan untuk menata kehidupan baru mereka, maka setiap kali mereka makan dengan harga lebih mahal, Taehyung merasakan sentakan rasa tidak nyaman di hatinya—kecemasan dan ketakutan. Mereka harus berhemat sekarang sementara upacara Ngaben ayahnya masih di depan mata.

Syukurlah mereka masih mendapat gaji terakhir mereka dan Taehyung mendapatkan royalti dari menu yang diciptakannya untuk Alila. Dia juga sudah melamar pekerjaan di beberapa resor di Lagoi—termasuk Banyan Tree Bintan yang kebetulan membutuhkan posisi Senior Sous Chef. Verdio, Executive Head Chef Banyan Tree yang menghubunginya langsung tertarik pada loyalitasnya pada Alila dan meyakinkan Taehyung dia akan mengisi posisi di bawah posisi terakhirnya dan Taehyung tidak keberatan.

“Tidak masalah,” Jeongguk mengerjap saat Taehyung memberi tahunya mengenai pekerjaan barunya—calon pekerjaan barunya. “Wigung memang jauh lebih senior dariku, tentu saja Wigung yang mendapatkan pekerjaan duluan. Aku tidak masalah siapa pun itu yang terpenting adalah satu orang yang bekerja untuk rumah kita.”

Taehyung tidak bisa menahan senyuman lebarnya ketika mendengar 'rumah kita' dari bibir Jeongguk. Teringat percakapan mereka di awal berpacaran dengan Taehyung yang sangat awam tentang homoseksualitas.

“Siapa... perempuannya?” Tanyanya saat itu, masih belum memahami hubungan barunya atau orientasi barunya.

Jeongguk mengerutkan alisnya, terlihat jijik oleh pertanyaan Taehyung. “Tidak ada perempuan.” Tegasnya menggeleng. “Itulah mengapa aku mengencani lelaki. Jangan membawa dinamis heteroseksual ke hubungan kita; tidak ada peran perempuan dan lelaki di sini. Kita berdua lelaki.”

Dan itu membuat perasaan Taehyung jauh lebih baik.

Dia tersenyum, memandang langit-langit kamarnya memikirkan Jeongguk dan merindukannya padahal lelaki itu belum setengah hari meninggalkan Puri-nya untuk membereskan urusannya di rumah. Taehyung mengerang, berguling menelungkup di kasur dan memeluk bantalnya—tidak sabar untuk bergegas kabur dari Bali dan memulai hidupnya dengan Jeongguk.

Hanya mereka berdua dan anjing.

Dia tersenyum lebar.

Kemudian terdengar suara gedebuk keras dan Taehyung bangkit, langsung menghambur dari ranjangnya—takut terjadi sesuatu pada kakak atau ibunya karena dia satu-satunya lelaki di rumah ini untuk melindungi mereka. Dia melangkah cepat ke pintu kamarnya dan keluar ke teras untuk mendapati Jeongguk melangkah masuk ke halaman Puri dengan wajah merah padam. Menggenggam tali tas bepergian di tangannya yang bebas dan satu ransel di bahunya.

Jantungnya mencelos melihat ekspresi Jeongguk; jejak air matanya, rambutnya yang setengah basah, pakaiannya yang tidak diganti—dia mengenakan celana pendek, kaus lusuh, dan sandal jepit. Pakaian rumah dan membuat Taehyung menyadari bahwa dia pastilah berangkat begitu saja tanpa memikirkan apa pun lagi.

“Gung?” Tanyanya kaget. Kekasihnya kacau; wajahnya merah padam, dadanya naik turun dan dari penampilannya, Taehyung tahu hasil diskusinya dengan ayahnya tidak berjalan baik.

“Hei, hei.” Dia bergegas menuruni undakan dan meraih Jeongguk, dia memindahkan tas dari tangan Jeongguk dan merengkuhnya dalam pelukannya. Pemuda itu gemetar dan langsung menyandarkan keningnya di bahu Taehyung—menangis.

“Siapa itu, Tugung?” Suara Lakshmi terdengar dari kamarnya dan dia membuka pintu, mengenakan terusan rumah dan handuk melilit kepalanya dan wajahnya berubah ketika melihat Jeongguk dalam pelukan adiknya. Dia menatap Taehyung yang menggeleng lembut, melarangnya bertanya sebelum membimbing kekasihnya ke kamarnya.

“Kau aman, kau bersamaku.” Bisiknya lembut, membantu Jeongguk menaiki undakan dan meninggalkan tasnya di halaman. Lakshmi bergegas keluar, menyambar tas itu dan membawanya naik sementara adiknya memeluk Jeongguk.

“Trims, Mbok Gek.” Bibir Taehyung berbisik saat Lakshmi meletakkan tas Jeongguk di sisi kamarnya dan menutup pintu kamar adiknya setelah melemparkan tatapan cemas sekali lagi ke Jeongguk.

Taehyung mengusap punggung Jeongguk lembut dan hangat, mendengarkan isakannya dengan seksama berusaha untuk menekan pertanyaan yang berada di ujung lidahnya. Apa yang terjadi? Kenapa Jeongguk membawa pakaiannya? Apakah mereka bertengkar? Bagaimana Yugyeom?

Namun dia menelannya, memeluk Jeongguk semakin erat ke dadanya—mengecup puncak kepalanya sebelum mengayunkan tubuhnya lembut. “Ssshh,” bisiknya lirih di telinga Jeongguk yang terisak. “Menangislah, habiskan semuanya.”

Dia mengulang kalimat favoritnya dari Jeongguk tiap kali dia menangis dan melakukan semua yang selalu dilakukan Jeongguk untuknya—berharap Jeongguk merasakan kenyamanan yang sama dengan yang dia rasakan tiap kali Jeongguk melakukannya. Dia memeluk Jeongguk, erat dan hangat—mendengarkan kekasihnya yang selalu tenang dan meneduhkan kini retak dan runtuh dihantam gelombangnya sendiri.

Mampukah Taehyung menjadi sandaran untuk Jeongguk seperti apa yang selalu dilakukannya untuk Taehyung?

Dia memejamkan mata pedih mendengarkan isakan Jeongguk, membenamkan wajahnya di helai rambut Jeongguk dan bernapas di sana—menangis bersamanya.

*

cw // horror , supranatural , moral ambiguity , trust issue .


Taehyung yang sudah menenangkan dirinya setelah terpaksa mengucapkan maaf untuk ayahnya walaupun sama sekali tidak terlalu meniatkannya. Dia duduk di tempat Jeongguk tadi, minum segelas teh hangat yang dibuatkan seseorang sambil menunggu ahli tenung mereka beristirahat sebentar karena kelelahan oleh tangisan ayah Taehyung.

Jeongguk duduk di sisinya, nampak gelisah setelah bersikap lembut pada Taehyung untuk menenangkannya. Taehyung dan Lakshmi sama-sama terguncang karena dipaksa memaafkan seseorang yang telah begitu jahat pada mereka di bawah paksaan, Taehyung meminta maaf pada kakaknya karena bicara mewakili Lakshmi tanpa izin darinya mengenai hal yang luar biasa penting.

Lakshmi menggeleng. “Tidak masalah, malah Mbok Gek berterima kasih karena Tugung menyelamatkan Mbok Gek dari keharusan mengatakan hal yang Mbok Gek tidak inginkan.”

Kesimpulannya mereka berdua tidak memaafkan ayah mereka. Hanya mengatakannya sekadar formalitas agar mereka terlepas dari belenggu kekikukan itu. Taehyung yakin mereka berdua layak mendapatkan waktu untuk memaafkan orang tua mereka dan tentu saja bukan di bawah tekanan semacam tadi—itu sama saja seperti menodongkan pisau ke leher mereka, mendorong mereka ke tiang pancung dan memberi syarat mustahil untuk bertahan hidup.

Dia tidak merasa bersalah karena melakukannya sama seperti ayahnya selama bertahun-tahun tidak merasa bersalah karena telah memperlakukan anaknya dengan sekejam itu.

Sekarang, Lakshmi dan ibu mereka beristirahat di teras luar sementara mereka bersiap untuk sesi Jeongguk. Taehyung menatap kekasihnya yang tegang dan membersit parau setelah menangis. Semua berpikir Taehyung menangis karena memaafkan ayahnya padahal dia menangis karena tidak mau memaafkan ayahnya—setidaknya tidak sekarang. Dia mengulurkan tangan, meremas bahu Jeongguk hangat; memintanya bersiap karena ahli tenung mereka sudah kembali menaiki tempatnya bekerja.

“Wiktu?” Bisiknya lembut, sedikit cemas pada kondisi Jeongguk yang mengkhawatirkan. “Kau siap?”

Haruskah mereka menunda ini?

Jeongguk menghela napas dalam-dalam, nampak lebih pucat lagi saat mengangguk perlahan. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut karena tegang dan cemas, tangannya berkeringat dan lengket ketika menyentuh tangan Taehyung. Taehyung mengamatinya lekat-lekat, mencoba memastikan apakah Jeongguk cukup sehat untuk melanjutkan prosesi meluasang hari ini.

“Kau yakin kau sanggup?” Tanyanya lembut dan Jeongguk menyugar rambutnya dengan jemari—menyisirnya perlahan sebelum kembali mengenakan udeng-nya yang agak berantakan. “Kita bisa kembali besok jika kau mau? Atau kapan saja kau siap.”

“Yakin.” Sahut Jeongguk parau dan menggeleng, menolak saran Taehyung. “Mari selesaikan agar kita bisa pulang lalu aku bisa berbaring di ranjangmu karena aku mual sekali.” Gumamnya, berdeguk kecil dan Taehyung membantunya berdiri.

“Baiklah jika itu maumu.” Gumam Taehyung, membimbingnya mendekat kembali ke tempat mereka tadi dan mendudukkannya di kursi plastik yang tadi digunakan Taehyung.

Jeongguk menarik napas panjang dan berat saat meletakkan pantatnya di kursi plastik. Taehyung menarik kursi di sisinya dan duduk di dekatnya, menatap Jeongguk cemas sementara di sekaa pat ahli tenung sedang mempersiapkan diri dengan selapis keringat di keningnya. Kegiatan ini pasti melelahkan untuknya.

“Sudah siap, nggih?” Tanya ahli tenung mereka yang sudah nampak lebih baik dari sebelumnya—dia pastilah memiliki tubuh yang sangat kuat untuk menampung semua jiwa yang singgah karena dia terlihat baik setelah sekian banyak klien yang dilayaninya.

Jeongguk mengangguk, duduk di sisi Taehyung yang menatapnya—memastikan kekasihnya baik-baik saja. “Beliau paman saya, Anak Agung Anglurah Gde Dalem Anom Karang.” Katanya, suaranya gemetar saat mengucapkan nama lengkap pamannya dan Taehyung menepuk pahanya sekali. “Beliau meninggal sudah lama, mungkin dua puluh tahun lalu dan sudah dilinggihang. Saya ingin... menanyakan beberapa hal.”

Ahli tenung mereka mengangguk, merapikan bebungaan baru di nampannya. “Anak Agung Anglurah Gde Dalem Anom Karang, nggih?” Ulangnya dan Jeongguk mengangguk. Ahli tenung itu kemudian memejamkan mata dan melakukan ritual yang sama dengan yang dilakukannya untuk memanggil ayah Taehyung tadi,

Dupa-dupa baru dinyalakan, bebungaan ditambah di nampan di sisinya sebagai sarana. Dupa baru itu menusuk hidung Taehyung dan sejenak membuatnya pening sementara Jeongguk di sisinya tegak serta gelisah—matanya menatap ahli tenung yang merapalkan mantra dengan mata yang sedikit merah.

Suasana hening sejenak, hanya terdengar obrolan sayup-sayup dari klien yang menunggu giliran di teras luar. Taehyung mendongak, menatap langit biru berusaha meredakan perasaan gelisah di hatinya. Dia ingin pulang, mandi dan berbaring sekarang—berat setelah mendengar tangisan ayahnya dan tidak nyaman karena mengucapkan 'kami memaafkanmu' yang sama sekali tidak diimaninya. Dia memejamkan mata dengan kakinya bertemu dengan kaki Jeongguk; bahasa rahasia bahwa dia berada di dekat Jeongguk, menemaninya karena mereka tidak bisa bergandengan tangan.

Mungkin Taehyung jatuh terlelap sebentar ketika suara ahli tenung terdengar lagi kemudian, dia tersentak dan bergegas membuka matanya, menoleh ke ahli tenung yang mengerutkan alis.

Niki Anak Agung Anglurah Gde Dalem Anom Karang bersama tiang, nggih?” Dia sejenak diam lalu mengerutkan alisnya semakin dalam.

“Oh,” gumamnya. “Paman Atu Ngurah sudah mantuk ngeraganin,” katanya dengan mata terpejam dan Jeongguk yang mengerutkan alis. “Beliau di sini bersama kita namun menolak bicara. Tidak ada yang harus dibicarakan menurut beliau.”

Mantuk ngeraganin?” Ulang Jeongguk perlahan dan ahli tenung itu mengangguk.

“Sudah lama, langsung lahir kembali setelah dilinggihang. Ada urusan yang belum diselesaikan di dunia sehingga beliau dilahirkan kembali saat itu juga.” Sahutnya dengan nada setengah menerawang. “Sekarang nama beliau...,” dia berhenti sejenak, memejamkan mata seolah sedang mendengarkan seseorang bicara di sisinya.

“Anak Agung Agung Anglurah Made Yugyeom Dj.”


Terdengar suara terkesiap keras yang tidak Jeongguk kenali lalu sedetik kemudian dia menyadari bahwa itu suaranya sendiri.

Dia merasakan Taehyung menoleh, menatap Jeongguk yang terbelalak di tempat duduknya—sejenak duduk tegak di kursinya sebelum perlahan meluruh ke kursinya, merosot karena keterkejutannya yang hebat. Namun dia tidak menoleh pada Taehyung—tidak siap menatap simpati yang mungkin terbit di matanya sekarang untuk Jeongguk.

Kepalanya berdenging nyaring sekarang mendengar bahwa adiknya adalah reinkarnasi paman yang selama ini ditakutinya. Dan itu menjelaskan segalanya; sungguh segalanya.

Mengapa semua orang Puri sangat menyayangi Yugyeom, ayahnya yang mengistimewakan Yugyeom, bagaimana kehidupan seolah menghamparkan karpet merah di hadapan Yugyeom—semuanya berkilauan untuknya, dihujani kelopak mawar dan disambut dengan agung. Yugyeom yang manis, Yugyeom yang adalah favorit semua orang di Puri; kesayangan kakek-neneknya.

Menjelaskan mengapa kehidupan Yugyeom bertolak 180 derajat dengan hidup Jeongguk.

Jeongguk pusing dan mual. Dia selalu iri pada Yugyeom karena bagaimana saat dia lahir, semua orang mendadak bergembira—melepaskan kesedihan karena kematian Wak Anom, menyambut Yugyeom seolah dia adalah matahari baru di Puri mereka. Sementara Jeongguk tidak pernah merasakan itu.

Namun dia menyayangi adiknya, menatap matanya yang bulat dan senyumannya yang cerah dari balik jeruji tempat tidurnya dan jatuh cinta—persis seperti semua anggota Puri. Dipikirnya, itu tentulah karena Yugyeom adalah si Paling Bungsu di Puri. Maka semua orang otomatis menyayanginya, memanjakannya. Jeongguk memutuskan untuk menemani adiknya—memberikannya figur kakak yang akan membuatnya bahagia.

Ini menjelaskan semuanya.

Jeongguk berdeguk, memijat pelipisnya dan Taehyung mengulurkan tangannya—meletakkannya di bahunya dan meremasnya lembut. Jeongguk sudah come out ke Yugyeom, memberi tahunya segala rahasia tergelap Jeongguk berpikir adiknya sama sekali tidak berbahaya. Berpikir dia bisa mempercayai adiknya.

Namun sekarang....

“Beliau memilih lahir jadi anak adiknya,” kata ahli tenung itu lagi—tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Jeongguk menggertakkan giginya. “Lahir kembali menjadi adik Atu Ngurah sekarang. Menyelesaikan urusannya yang tertunda karena sakit...” Dia mengerutkan alisnya, mendengarkan seseorang di sisinya.

Jika Wak Anom terlahir kembali menjadi adiknya, maka itu menjelaskan mengapa dialah yang mendatangi ayah Jeongguk mengoreksi sikapnya. Jeongguk menceritakan segalanya ke Yugyeom dan secara tidak sadar sedang menceritakannya pada paman yang selama ini ditakutinya.

Jeongguk begitu dekat dengan Yugyeom, Jeongguk memastikan Yugyeom tidak mengalami apa yang Jeongguk alami di masa kecilnya—kurangnya perhatian, kurangnya cinta. Dia menemani Yugyeom bertumbuh, menjaga adiknya lebih dari bagaimana dia menjaga dirinya sendiri. Jeongguk mencintai adiknya seperti orang sinting dan Yugyeom melakukan hal yang sama—ikatan mereka begitu erat.

Dan sekarang, Yugyeom ternyata adalah manifestasi kelahiran kembali kakak ayahnya—calon Penglingsir Puri Karangasem yang sebenarnya.

“Beliau sendiri yang memilih lahir menjadi adik Atu Ngurah.” Ulang ahli tenung mereka perlahan seolah Jeongguk belum mual karena mendengarnya. “Dan beliau bahagia hidup sebagai... Ogik.”

Jeongguk bergidik mendengar nama itu; nama panggilan yang dia berikan untuk Yugyeom dan sekarang digunakan oleh seluruh anggota Puri. Jeongguk yang memberikan nama itu dan sekarang jiwa yang dilahirkan kembali menjadi adiknya menuyukainya. Jeongguk tidak yakin apakah dia harus tersanjung atau tidak...

Ahli tenung di hadapan mereka mengerutkan alisnya. “Beliau mendapatkan kehidupan yang diinginkannya; aktif dan penuh kasih sayang. Memiliki kakak yang.... penyayang. Walaupun sedih karena akan ditinggalkan...”

Jeongguk menelan ludah dengan sedikit ngeri, Wak Anom mendengar apa yang Jeongguk bicarakan pada adiknya—dia mendengar apa yang Yugyeom dengar, melihat apa yang Yugyeom lihat, merasakan apa yang Yugyeom rasakan.

Dia tahu Jeongguk dan Taehyung adalah sepasang kekasih. Tahu bahwa dia dan Taehyung akan kabur bersama, melepaskan kasta mereka dan memulai kehidupan baru jauh dari Bali. Dia bermain game bersama Taehyung, tahu malam-malam yang mereka habiskan bercinta di kamar Jeongguk.

Dia tahu...

“Itulah....,” bisik Jeongguk perlahan, menyatukan kepingan-kepingan janggal yang didapatinya sejak adiknya lahir. Jarak usia yang sangat jauh dari Yugyeom hingga dia sempat yakin dia tidak akan memiliki saudara dan menyiapkan diri untuk kehidupan yang membosankan.

Namun kemudian ibunya mendadak hamil dan kehamilan itu secara magis mengangkat segala tudung kedukaan Puri. Membuat Puri cerah dan semua orang bahagia. Ibu Jeongguk mengatakan dia bermimpi didatangi jalak Bali putih yang cantik sebelum kehamilannya. Jeongguk bergidik.

“Itulah mengapa Biang tiba-tiba hamil beberapa bulan setelah Wak Anom dilinggihang...?” Lanjutnya tercekat, menyadari keanehan yang sekarang menjadi masuk akal.

Segalanya.

Dan parahnya, Wak Anom mengingatnya.

Ahli tenung itu mengangguk perlahan. “Beliau memang harus lahir kembali, harus menyelesaikan urusannya di dunia ini. Banyak hal yang belum dicobanya, belum dinikmati karena sakit parah di kehidupan sebelumnya.”

Jeongguk melirik Taehyung yang balas meliriknya; tanpa suara pun dia tahu kekasihnya sedang memikirkan hal yang sama dengannya. Rahasia mereka semua ada pada kakak ayah Jeongguk dan jika dia mau, dia bisa mewujud ke mimpi ayah Jeongguk dan mengatakan segalanya. Perut Jeongguk mulas memikirkan potensi itu dan tangannya otomatis bergerak ke sakunya, ingin menelepon adiknya—memastikan Yugyeom masih berada di pihaknya.

“Oh!” Ahli tenung itu mendadak berseru dan alisnya berkerut. “Kata beliau....,” dia mengerutkan wajahnya, nampak mencerna sesuatu—seolah seseorang sedang meneriakinya di telinga. Kepalanya bergerak sedikit, ditelengkan ke arah kiri menjauhi sisi kanannya. “Beliau bilang bahwa.... Rahasi—”

Suaranya mendadak terputus dan dia terkesiap keras. Jeongguk tersentak kecil, secara naluriah mundur dari kursinya bersamaan dengan Taehyung yang terkesiap keras ketika ahli tenung mereka mengerang keras. Kepalanya mendongak ke atas dengan mata terbuka namun hanya menampakkan bagian putih matanya. Anak sulung ahli tenung itu bergegas menghampiri ayahnya, menyangganya agar tidak berguling ke belakang dan jatuh sementara tubuhnya gemetar.

Kenapi nika??” Tanya Taehyung panik. Kenapa??

Anaknya menggeleng. “Tidak apa-apa, ini biasa terjadi jika roh yang dipanggil mendadak masuk tanpa persiapan Ajik.” Katanya namun toh tetap menatap ayahnya yang gemetar hebat di pelukannya dengan cemas. “Sebentar lagi seharusnya—”

Wiktu?”

Jeongguk tersentak, nyaris terjungkal dari kursinya mendengar suara itu. Dia tidak mengenalinya, suara asing yang berat dan parau. Suara yang tidak pernah didengarnya namun nada itu—nada itu. Dia menggunakan nada Yugyeom. Jeongguk menatap ahli tenung yang sekarang membuka matanya dengan tangan gemetar mencengkeram kain di pangkuannya.

Wiktu, rahasia kita tidak akan Uwak katakan pada Ajung.” Lanjutnya, matanya nanar dan menatap Jeongguk yang ketakutan. “Uwak tidak akan mengkhianati Wiktu, Uwak menjaga rahasia...”

Jangan takut.... Jangan. Jangan takut...”

Jeongguk menahan napasnya. Ingatan kacau masa kecilnya berkelebat di kepalanya—begitu cepat seperti flash yang membutakan. Jeongguk menggertakkan rahangnya, berusaha mengenyahkan ingatan tentang kamar gelap yang pengap. Tubuh yang terbaring di ranjang, invalid dan suara napasnya yang terengah-engah. Rumah Wak Anom berada di belakang Puri, disembunyikan, diasingkan. Jeongguk benci suasana rumah itu, benci jika dia harus pergi ke sana menjenguk kakak ayahnya. Dia masih ingat aroma pesing tercampur obat yang menyambutnya tiap menaiki undakan ke teras kamar Wak Anom lalu menangis—merengek pada ayahnya agar dia kembali ke kamarnya saja.

Lalu membayangkan Yugyeom. Anak manis yang selalu menemaninya, mengekor Jeongguk ke mana pun dia pergi. Meniru semua kegiatan Jeongguk, merengek pada Jeongguk, meminta ini-itu, memeluk Jeongguk ketika dia menangis—mendengarkan bagaimana Jeongguk merasa kehidupan Puri tidak membuatnya bahagia.

“Wiktu tidak bahagia di rumah ini?”

“Tidak.”

Jeongguk menatap mata ahli tenung itu, menatap ke mata kakak ayahnya. Dia tahu Jeongguk tidak bahagia lalu memutuskan untuk mampir ke mimpi ayahnya; meminta adiknya untuk bersikap adil pada anak sulungnya, mengubah sikap ayah Jeongguk menjadi lebih manusiawi lalu 'mengusir' Jeongguk dari Puri. Membuat keputusan Jeongguk untuk kabur semakin ringan karena Yugyeom siap menjadi Penglingsir dan ayahnya terdengar 'terbuka' tentang kepergian Jeongguk dari rumah untuk 'bekerja'.

Itu menjelaskan segalanya. Termasuk kesedihan Yugyeom berpisah darinya.

Uwak selalu ingin berkenalan dengan Gung Wah,” suara itu kembali terdengar—suara yang Jeongguk tidak kenal karena dia tidak pernah bicara dengan pamannya itu. “Tapi Gung Wah takut pada Uwak, nggih? Uwak sakit, Uwak tidak bisa menemani Gung.”

Jeongguk mengernyit, itukah mengapa ayahnya selalu memaksa Jeongguk datang menjenguk pamannya dan selalu marah ketika Jeongguk menangis? Dia menatap ahli tenung di depannya dengan perasaan campur aduk; bagaimana dia harus menyikapi banjir bah informasi ini sekarang?

Maka Uwak memutuskan untuk lahir menjadi adik Gung Wah. Uwak ingin mengenal Gung, ingin dekat dengan Gung...”

Rasa nyeri menyengat hati Jeongguk sekarang, merasa bersalah karena selalu ketakutan pada pamannya padahal lelaki tua dan sakit itu hanya ingin mengenal Jeongguk. Dia menggigit bagian dalam pipinya, menahan isak melepaskan diri dari bibirnya. Membayangkan perasaan pamannya ketika Jeongguk menjerit, menolak tiap kali ayahnya mengajaknya masuk untuk menjenguk pamannya.

Ajung selalu minta maaf jika Gung menolak masuk kamar Uwak, lalu Uwak marahi balik karena memarahi Gung yang menangis.” Ahli tenung itu tersenyum pada Jeongguk, ada air mata di sudut matanya yang merah. “Uwak selalu marahi Ajung jika dia galak pada Gung. Ajung patuh pada Uwak.”

Jeongguk membuka mulutnya, sejenak diam lalu kembali menutupnya. Jika memang dia selalu memarahi ayah Jeongguk, mengapa dia membiarkan Jeongguk menderita dengan sikap tidak adil terang-terangan ayah Jeongguk selama ini? Dia diam ketika Jeongguk menangis, tergencet oleh standar hidup patriarki ayahnya dan Jeongguk bersumpah dia tidak mau mendengar siapa pun mencekokinya dengan omong kosong 'ayahmu sayang padamu'.

Uwak berusaha,” sela suara pamannya seolah mendengar isi kepala Jeongguk yang merasa panas menjalar di ulu hatinya—menandai tangisan yang akan terbit sebentar lagi. “Uwak bicara sebagai Ogik, meminta Ajung berhenti tapi Ajung tidak berhenti. Maaf Uwak salah, maaf Uwak...”

Dan untuk membuat Jeongguk semakin kaget, ahli tenung mereka menangis—tersedu-sedu, berat dan parau. Hingga suara napasnya terdengar tercekik dan anak sulung beliau bergegas membantunya. Ahli tenung itu menangis, tersengal dalam pelukan anaknya memproses emosi dari jiwa yang menggunakan tubuhnya sebagai media.

Sementara Jeongguk duduk di sana, tidak memahami apa pun termasuk mengapa pamannya melakukan semua ini demi Jeongguk? Mengapa dia repot-repot....?

“Uwak,” bisik Jeongguk kemudian dan Taehyung meremas bahunya—menyemangatinya. “Uwak jangan menangis.” Bibir bawah Jeongguk gemetar; tidak yakin apakah dia menyayangi pamannya atau ketakutan atau... entahlah. “Uwak tidak bersalah, Uwak tidak... berhutang apa pun pada Gung.”

Mengapa...? Mengapa Jeongguk selalu harus bertanggung jawab atas perasaan orang lain yang bahkan sama sekali bukan karenanya? Pamannya sendiri yang memutuskan melakukannya lalu kenapa Jeongguk yang harus memaafkan dan menghiburnya seolah Jeongguk yang merengek padanya untuk melakukannya?

“Uwak merahasiakan segalanya saja,” Jeongguk mulai perlahan—mendadak gelisah dan tidak nyaman dengan adiknya, terserang keraguan yang melumpuhkan pada adiknya. “Merahasiakan segala yang Gung ceritakan pada Ogik dari Ajung saja sudah cukup. Lebih dari cukup.” Jeongguk nyaris menggigit lidahnya saat mengatakannya.

Ketakutan menyengat otaknya seperti sekawanan lebah; takut pamannya mendadak memberi tahu ayahnya mengenai orientasi seksual Jeongguk, rencana kaburnya dengan Taehyung, segala obrolannya dengan Yugyeom. Merasa terkhianati karena selama ini mempercayai seseorang yang tidak dikenalnya. Jeongguk mendadak merasa begitu asing dengan Yugyeom.

Benarkah Yugyeom adiknya?

Dia pulang ke Puri Taehyung dengan pandangan menerawang, kehilangan nyaris 60% rasa percayanya pada Yugyeom. Walaupun tadi pamannya menangis, meyakinkan Jeongguk bahwa dia tidak akan mengatakan apa pun pada ayah mereka namun Jeongguk terlanjur merasa terkhianati. Rasa percayanya kini retak, menipis dan merapuh. Jeongguk merasa tidak mengenal adiknya sama sekali lagi sekarang, merasa dia seolah orang asing yang tidak dikenalnya.

“Gung? Kemarilah,” bisik Taehyung saat mereka berada di kamar Taehyung dan Jeongguk langsung membenamkan diri ke dalam kedua lengan Taehyung.

Jeongguk suka ketika Taehyung memanggilnya 'Gung', bersikap seperti seorang kakak lelaki yang selalu diinginkan Jeongguk—seseorang yang bisa disandarinya ketika dia membutuhkan, seseorang yang bisa memberi tahu Jeongguk apa yang tidak dipahami Jeongguk. Sosok yang selama ini lenyap dari hidup Jeongguk, sosok yang seharusnya diisi oleh ayahnya sendiri.

Dia bersandar sepenuhnya pada Taehyung sekarang, memeluk pinggangnya dengan erat dan menghirup aromanya dalam-dalam. Dia menyandarkan fisik, jiwa, dan pikirannya di bahu Taehyung; menggenggamnya seperti pelampung yang akan menyelamatkannya di tengah lautan yang bergelombang. Jeongguk meremas pakaian Taehyung, tersengal oleh tangisannya sendiri.

Mengerikan bagaimana jiwa pamannya begitu kuat melalui proses reinkarnasi untuk bisa mengingat masa lalu dan masa kininya.

“Jiwanya masih sangat kuat,” ahli tenung tadi menjelaskan. “Beliau belum lama di Surga sehingga ingatan kehidupan lalunya masih menempel sempurna. Dia belum melepaskan keduniawian lalunya sebelum menyambut kehidupan barunya sehingga dia bisa mengingat segalanya dengan jelas.

“Tapi menurut tiang, beliau sama sekali tidak berbahaya. Beliau sayang pada Atu Ngurah, walaupun mungkin Atu tidak memahaminya sama sekali. Beliau memilih terlahir menjadi adik Atu, dekat dengan Atu.”

Jeongguk menarik napas, mengerang dan Taehyung membisikkan kalimat hiburan di telinganya. Membelai punggungnya lembut dan mengecup puncak kepalanya—menenangkan tangis liar Jeongguk karena perasaan campur aduk di dalam dirinya.

Yugyeom.

Adiknya yang selama ini dipercayainya adalah reinkarnasi dari paman yang ditakutinya sepanjang masa kecilnya. Paman yang mungkin mewujud di mimpi ayahnya dan memberi tahunya segala hal yang Jeongguk bagikan pada Yugyeom.

Hanya Yugyeom.

Bagaimana cara Jeongguk menatap adiknya sekarang? Bisakah dia memisahkan Yugyeom dan pamannya; bahwa adiknya sekarang sama sekali tidak tahu kehidupan lalunya seperti apa? Yugyeom adalah Yugyeom, identitas dan kehidupan baru—tidak mengingat kehidupan lalunya. Jiwa pamannyalah yang mengingatnya.

Jeongguk kebingungan, berusaha memproses perasaan terkhianati pekat yang melumpuhkan di hatinya.

Bagaimana...? Bagaimana sekarang?


Glosarium:

  • Mantuk ngeraganin: ber-reinkarnasi. Hindu sangat percaya reinkarnasi, jadi setelah proses penyucian jiwa (Ngeroras), jiwa itu kemudian dilinggihang atau dikembalikan ke Tuhan agar bisa dilahirkan kembali. Dan biasanya, jika ada anak yang lahir ditanyakan kepada ahli tenung siapa yang kira-kira datang kembali.

ps. ngl nama lokal yugyeom tuh berat bgt tapi aneh pas digabungin sama nama korea nya hahahahahaha maap kalo cringe :(