eclairedelange

i write.

tw // insecurity , anxiety . cw // miscommunication (a bit kok hehe)


Un Le Tartare de Thon et Les Escargots pour la tableu trois! How long?!”

Fifteen minutes, Chef!”

Make it eleven!”

Yes, Chef! Heard!”

Argha kembali menunduk ke layar tablet di hadapannya setelah meneriakkan pesanan kepada semua anak buahnya. Abhimanyu sedang berkeliling untuk mengecek pekerjaan semua orang setelah sebelum servis tadi Sebastien membelikan mereka kopi disertai pesan genit yang membuat Abhimanyu tertawa. Mereka berteman, secara ajaib meskipun Sebastien dan Abhimanyu bukanlah duo yang dibayangkan Argha tapi ternyata mereka bisa melakukannya.

Menggelikan sekali membayangkannya, tapi semenjak Argha memberi tahu Sebastien mengenai niat seriusnya pada Abhimanyu, lelaki itu menepati janjinya dengan berhenti menghubungi Argha. Adalah Abhimanyu yang kemudian meminta Argha untuk tetap berteman dengan Sebastien walaupun Argha biasanya tidak melakukannya.

“Tidak ada yang salah dengan berteman, 'kan?” Abhimanyu menatapnya dan Argha akhirnya mengedikkan bahu, setuju untuk tetap berteman dengan Sebastien.

Tersenyum karena mengingat Abhimanyu, dia kembali mengecek pesanan yang masuk. Membuka pop up message yang muncul di sistem dan menaikan satu alisnya ketika akhirnya dia membaca isinya.

Table : 14 (Non-Smoking Area)

Starter : Le Foie Gras Poele (1) Main Course : L'Agneau (1) Dessert : Pista Choc (1) (note: served after main course) Drink : (self service, BAR — attach receipt!) Note : served by chef s'il vous plait – H

TEN MINUTES INTO STARTER

“Kenapa?” Tanya Abhimanyu yang berada di sisinya, menerima protein yang diserahkan oleh salah satu commis dan mengecek pesanan di layar tab-nya sendiri untuk memastikan dia mengerjakan pesanan yang benar.

Argha mengedikkan bahu. “Akhirnya seseorang meminta chef serving setelah sekian lama,” dia tersenyum lalu menarik napas dan menolehkan kepalanya: “For table 14!” Serunya keras lalu menyuarakan pesanannya.

Abhimanyu terkekeh, “Ingin aku saja yang menyajikannya?” Tanyanya seraya meraih piring, mengelap permukaannya sedikit lalu meletakkannya di mejanya. Dia meraih daging hati angsa di atas piring stainless yang diletakkan commis di sisinya dan meletakkannya di atas piring dengan perlahan.

“Tidak, aku saja.” Argha mengangguk pada commis yang membawa piring terisi beef tartare segar. “Garnish for tartare!” Raungnya dan mendapat anak magang yang berlari kecil ke arahnya dengan sepiring garnish dari Commissary sebagai jawaban.

Don't run, Little Girl.” Tegur Argha, tegas tanpa mendongak saat menerima makanannya—tidak suka ketika anggota timnya berlarian di dapur. Mereka seharusnya berjalan dengan cepat. “Do fast walking instead, watch your step, alright.”

Anak itu langsung mengangguk, sedikit takut dan kaget karena ditegur. “Yes, Chef!” Sahutnya lalu berbalik dan bergegas kembali ke Commissary, kali ini berjalan cepat.

“Baiklah,” sahut Abhimanyu kemudian menahan napas ketika menggunakan pinset meletakkan edible flower di atas makanan yang dikerjakannya sebelum menegakkan tubuh dan mengelap sisi piring yang sedikit kotor.

Service, please!” Dia memukul bel dengan tangannya dan seorang anak servis bergegas berlari menghampirinya. “Starter for table 11.” Dia mengangguk dan anak servis itu membawanya ke ruang restoran.

Abhimanyu menekan tanda selesai pada pesanan meja sebelas di bagian Starter dan pesan lain muncul sebagai perhitungan mundur untuk Main Course. “Main course for table eleven! How long?!”

Ten, Chef!” Seru commis di kejauhan dan Abhimanyu mengangguk. “Heard!” Balasnya.

Argha berdeham, mengangkat piringnya dan menekan bel. “Service, please!: Serunya dan seorang anak servis bergegas menghampirinya.

Flow berjalan sangat lancar malam ini, semua orang nampaknya sedang bersemangat setelah keberhasilan mereka mengeksekusi makan malam pemprov Bali beberapa hari lalu. Dan Argha senang, berpikir dia sepertinya harus membelikan mereka sesuatu sesekali sebagai apresiasi atas pekerjaan mereka karena nampaknya begitulah budaya bekerja di perusahaan ini.

Dia akan bertanya pada Abhimanyu nanti, apa yang biasanya Kinan atau Arsa berikan pada mereka ketika melakukan kerja bagus sebagai hadiah. Tidak sabar untuk pulang dan berkendara bersama Abhimanyu; lima belas menit yang berharga bersama anak itu dalam mobilnya, bergandengan tangan sambil mendengarkan lagu Indonesia dari radio yang tidak terlalu dipahaminya.

Argha menghela napas, melanjutkan pekerjaannya ketika pesanan baru masuk dan dia bergegas membukanya; berpikir bahwa hari ini mereka cukup ramai karena pesanan masuk dalam waktu yang berdekatan. Pesanan itu terbuka dan isinya membuatnya mendenguskan tawa kecil.

Table : 08 (Non-Smoking Area)

Starter : Le Corpacio (1) Main Course : La Barramundi (1) Dessert : Maxi Marnier (1) (note: served after main course) Drink : (attended by sommelier — attach receipt!) Note : served by chef pls – H

ELEVEN MINUTES INTO STARTER

“Kenapa lagi?” Abhimanyu menoleh dari pekerjaannya menyeimbangkan setangkai asparagus di atas steak yang hangat di atas piring.

Argha menggeleng, menerima pesanan itu dengan senyuman di bibirnya. “Malam ini banyak yang ingin melihatku ternyata.” Katanya lalu menarik napas. “For table eight!”

“Oh, ya?” Abhimanyu menyerigai, mata cokelatnya berkilau menggemaskan. “Kuharap mereka semua bapak-bapak buncit tidak menarik.” Tambahnya lalu kembali menunduk ke makanan yang sedang dikerjakannya.

Jealousy, jealousy,” dendang Argha lembut terkekeh dan meraih piring baru ketika makanan diserahkan padanya. “Bagaimana jika pengunjungnya ternyata lelaki di usia vital yang indah dan menarik?”

Senyuman Abhimanyu surut dan Argha mengulum senyuman lebarnya. Abhimanyu mudah digoda belakangan ini, cepat sekali sebal jika Argha membicarakan orang lain di depannya. Mungkin karena Argha sederhananya bisa mendapatkan siapa saja yang diinginkannya, Abhimanyu merasa posisinya selalu terancam.

“Aku yang sajikan.” Dia memicingkan mata dan Argha menyemburkan tawa kecil sebelum terkekeh-kekeh. “Aku serius!”

Argha tersenyum lebar. “Tidak, tenang saja.” Dia mengedip genit pada Abhimanyu yang langsung merona. “Aku tidak akan tergoda pada siapa pun; jika itu yang kautakutkan.” Klaimnya lalu mendadak merasakan tikaman rasa cemas yang begitu kuat hingga dia menarik napas tajam.

Apa itu tadi?

Dia berhenti, menyentuh dadanya dengan punggung tangan karena telapak tangannya sedang mengerjakan makanan dan mendongak. Rasa cemas itu tajam, kuat, dan begitu cepat hingga tubuhnya sejenak merasa disorientasi pada rasa itu.

“Hei? Ada apa??” Tanya Abhimanyu, mendesak ketika melihat gerakan Argha—berhenti bekerja dan mendadak seluruh commis ikut berhenti bekerja untuk menoleh pada Argha. “Chef?”

Argha menggeleng, melambaikan tangan pada anak buahnya dan menggeleng. “Kembali bekerja.” Katanya tegang dan menoleh pada Abhimanyu. “Tidak apa-apa, hanya perasaanku saja.” Dia mengulaskan senyuman dan berpikir jika hal ini berlanjut dia akan mengambil cuti sehari untuk pergi menjauh sebentar; merasa tidak akan bisa bekerja dengan baik.

Abhimanyu menatapnya, mengerutkan alis dalam masih nampak khawatir namun perlahan kembali bekerja diikuti semua anak buah mereka dan Argha berdeham, kembali ke makanannya dengan perasaan resah pada apa yang sebenarnya terjadi. Merasakan tatapan Abhimanyu padanya selama beberapa menit sebelum dia kembali ke makanannya, setengah hati.

For table 14, Chef, L'Agneau.” Seorang commis meletakkan piring terisi makanan di sisi Argha dan dia mengangguk bergegas menyelesaikan piring di hadapannya lalu memberikannya pada anak servis.

“Saya akan menyajikan ini sebentar.” Katanya pada Abhimanyu seraya melepas penutup mulut di bibirnya untuk pergi keluar. “Tolong awasi sebentar.” Tambahnya dan mengangguk pada anak servis. “Chef serving, please.”

Anak servis bergegas meraih nampan dan meletakkan makanan itu di atasnya sementara Argha melangkah keluar dari balik konter dapur dan merapikan pakaiannya. Sudah lama sejak seseorang meminta head chef menyajikan makanan dan Argha sedikit merindukan sensasi berinteraksi dengan pengunjung mereka. Dia menegakkan topinya sebelum melangkah ke lorong menuju area restoran diikuti anak servis yang membawa nampan untuknya.

“Meja empat belas, ya?” Gumamnya dan anak servis itu mengangguk.

Argha mendorong pintu di hadapannya.


Yukio meraih gelas anggur putihnya, tersenyum seraya menyandarkan tubuhnya di kursi yang empuk.

Suasana Le Gourmet semakin lama, semakin menyenangkan. Cuaca Indonesia sedikit terlalu lembab dan berat untuknya, membuat Yukio sedikit kesulitan untuk bernapas. Namun setelah beberapa jam, dia berhasil membuat dirinya sendiri terbiasa pada udara itu. Tidak seperti udara Jepang yang cenderung kering, udara Indonesia begitu... menyesakkan. Tapi tidak masalah, penyejuk ruangan membuat segalanya lebih baik.

Sommelier yang membantunya memilih anggurnya ternyata lulusan luar negeri dan sangat ramah. Dia dengan sabar memilihkan Yukio anggur yang akan cocok dengan menu yang dipesannya, membukakan sebotol untuk Yukio dan menuangkannya—meminta Yukio mencicipinya sebelum menerimanya.

Dia harus menandatangani receipt ketika menerima rekomendasi Sommelier. Mungkin agar tamu tidak mengelak ketika ditagihkan dan memberikan bonus untuk Sommelier yang bertanggung jawab. Yukio kemudian mengecek dompetnya, menemukan beberapa pecahan dolar di sana dan mengingatkan diri untuk memberi tip pada Sommelier-nya malam itu.

Yukio menatap gelasnya, menikmati Matua Valley Sauvignon Blanc 2016-nya yang dingin sambil menunggu main course-nya disajikan. Botol anggur sisanya berada di tengah mejanya, dalam wadah terisi es yang menjaga suhu minuman itu untuk mengunci rasanya. Makanan Le Gourmet pun lezat, dia suka pada ledakan rasa menyenangkan di mulutnya dan bagaimana semua protein itu terasa meleleh seperti mentega yang dipanaskan dalam mulutnya. Beberapa kali mendesah, menatap piringnya dengan takjub bagaimana mereka bisa menciptakan makanan selezat itu.

Tempat duduknya strategis, dia bisa melihat seluruh restoran dari sini dan jendela berada di sebelahnya. Jika dia bosan melihat isi restoran karena dia sendirian (walaupun dia tidak masalah karena sebelum dia memiliki Argha dan setelah hubungan mereka berakhir pun, Yukio selalu sendirian melakukan kegiatannya), dia bisa melihat ke luar jendela.

Dia belum melihat head chef itu sejak tadi. Berpikir Argha pasti sudah berubah sekarang setelah sembilan tahun mereka tidak berkabar. Keahlian memasaknya pasti lebih mengesankan lagi karena makanan yang dicicipi Yukio tadi terasa luar biasa dan hatinya disengat rasa bangga yang hangat.

Argha melanjutkan hidupnya. Dia berbahagia sekarang. Dan Yukio senang memikirkannya. Tidak sabar untuk melihat Argha lagi, sudah membayangkan seperti apa reaksi Argha ketika Yukio berseru “surprise!” padanya. Dia pasti akan sangat terkejut. Yukio juga tidak sabar melihat kekasih baru Argha; seperti apa orangnya? Apakah dia baik pada Argha? Apakah dia mencintai Argha dengan tulus? Merawat Argha dan OCD-nya dengan telaten?

Dia tidak sabar lagi!

Yukio mendekatkan gelas ke bibirnya, mengangkatnya sehingga cairan meluruh ke mulutnya yang terkuak. Persis ketika anggur putih itu menyentuh permukaan bibirnya, dia melihat seseorang melangkah keluar dari pintu yang mengarah ke dapur. Dan dia menahan napasnya, jantungnya berdetak kencang ketika seluruh dirinya mengingat lelaki itu dengan sempurna. Langsung mengenalinya meskipun Argha sudah berubah dalam rentang waktu sembilan tahun.

Argha masih tetap setinggi dan seindah mimpi. Mengenakan seragam putih tanpa noda, melangkah keluar dari lorong dalam langkah panjangnya yang terasa familiar. Rambutnya ditahan oleh penutup kepala dan topinya yang tinggi, dia mengenakan chef jacket berlengan pendek yang memamerkan tubuh langsingnya dan apron panjang semata kaki.

Mata gelapnya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan tidak menyadari kehadiran Yukio di sudut ruangan. Dia menoleh ke anak servis di belakangnya, membawa nampan yang terisi makanan. Bertanya sesuatu dengan suara rendah dan anak servis itu mengangguk.

Yukio mengeluarkan suara tercekik tertahan, ingin segera menemui Argha dan nyaris melompat dari kursinya untuk menyapa lelaki itu. Argha pasti mengantarkan pesanannya!

Dia nampak luar biasa, menua dengan sangat indah seperti anggur. Tidak seperti ketika Yukio terakhir melihatnya sebelum melangkah pergi dari apartemennya, namun jauh lebih indah dan dewasa. Dia mendebarkan, menyihir semua orang yang melihatnya seperti biasa hingga hidung Yukio mengembang bangga. Semua tamu menoleh, berbisik-bisik melihat head chef Le Gourmet melangkah di sekitar mereka menuju meja yang memesan makanan di tangan anak servis di belakangnya.

Tubuhnya lebih berisi sekarang, sehat dan kencang. Tidak lagi kurus seperti ketika bersama Yukio, bekerja seperti orang sinting. Binar matanya berbeda, nampaknya kehidupan mulai berbaik hati pada Argha sekarang setelah melepaskan Yukio.

Dan Yukio bersyukur atas itu.

Argha kemudian mengangguk, mengatakan sesuatu dan anak servis menunjuk dengan dagunya. Argha kembali mengangguk, senyuman kecil bermain di bibirnya ketika bertemu mata dengan beberapa tamu yang mendesah karena keindahannya. Yukio bisa bersimpati, karena Argha memang sangat indah.

Lelaki itu kemudian memalingkan wajah dari anak servis dan melangkah ke arah Yukio...


Abhimanyu mendongak ketika pintu terbuka dan menemukan atasannya memasuki dapur dengan wajah ceria.

Dan merasa sebal tanpa alasan. “Tamumu menyenangkan?” Gerutunya, kembali menunduk ke balik konter untuk mengerjakan pesanan.

Argha tergelak lembut, memasuki konter dari pintu kecil di ujung dapur dan menyempatkan diri memukul pantat Abhimanyu. “Tidak, hanya seorang pria paruh baya ramah yang sangat mengapresiasi bantuanku. Dia minum red wine dengan dagingnya.”

Abhimanyu mencibir. “Memang kau tidak tertarik pada pria paruh baya?” Gerutunya lagi, masih dongkol karena Argha tersenyum ceria memasuki dapur.

Aku paruh baya.” Sahutnya, mengedikkan bahunya kalem. Usahanya bergurau payah sekali karena Abhimanyu sedang sebal. Dan Argha menyadarinya dengan tersenyum lembut, “Sungguh, dia hanya memuji makanan kita, berjanji akan mengajak keluarganya datang ke restoran lain kali karena makanan yang dipesannya begitu lezat.”

Perasaannya membaik, namun mendadak merasa bersalah karena bersikap berlebihan pada Argha. Memangnya kenapa jika dia ceria setelah menyajikan makanan untuk tamu? Dia menerima pujian atas makanannya, tentu saja dia senang. Kenapa juga Abhimanyu harus merasa dongkol dan sebal atas itu?

“Maaf,” gumamnya sedikit malu dan kikuk.

Argha menoleh dengan alis terangkat. “Untuk?” Tanyanya bingung.

Abhimanyu mengedikkan bahunya, merona tipis. “Bersikap berlebihan.” Gerutunya, sebal pada dirinya sendiri. “Maksudku, kau hanya bersikap baik pada tamu dan melayani mereka seperti seharusnya tapi aku malah...,” dia berhenti sejenak, kesulitan untuk mengakui kesalahannya.

Maka Argha menunggu. Selalu melakukannya tiap kali Abhimanyu akan meminta maaf, tidak pernah memotongnya dan mengatakan 'tidak apa-apa, aku paham' seperti yang dilakukan semua orang. Dia akan menunggu, selama apa pun yang dibutuhkan Abhimanyu hingga dia mengakui kesalahannya. Menunggu hingga Abhimanyu mengucapkannya.

Awalnya hal ini menjengkelkan sekali, egoisme Abhimanyu tidak menyukainya. Membuatnya sering kali memberontak dan malah balas membentak Argha yang ajaibnya, tidak bereaksi sama sekali atas ledakan emosi itu; tidak bergegas menenangkannya, tidak bergegas meminta maaf, dia hanya tersenyum dan menatap Abhimanyu.

“Jika kau ingin dimaafkan, maka kau harus mengakui kesalahanmu dulu, Abhimanyu.” Katanya, setenang Buddha dan Abhimanyu semakin marah dibuatnya. “Beri tahu aku apa yang salah dari sikapmu tadi?”

Sering kali meninggalkan Argha begitu saja, berharap akhirnya Argha yang akan mencarinya lebih dulu seraya meminta maaf karena bersikap berlebihan hanya karena hal-hal kecil. Tapi, coba tebak apa yang dilakukan Argha? Mengabaikan Abhimanyu sepenuhnya. Dan ketika dia murka atas ini, Argha hanya menghela napas dan menatapnya dengan senyuman tipis di bibirnya.

“Aku tidak akan minta maaf karena dalam hal ini, kau yang berhutang maaf padaku, Abhimanyu.”

Karena dia lelah, akhirnya Abhimanyu berhasil melakukannya. Sedikit kesulitan karena ada sesuatu dalam dirinya yang membenci itu; tidak mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf, alih-alih berpikir bahwa orang lain-lah yang seharusnya meminta maaf pada Abhimanyu. Berpikir bahwa semua orang yang salah, bukan dirinya.

Argha begitu sabar meladeni tingkah kekanakan Abhimanyu, berbeda sekali dengan Cedrik yang pasti sudah menghampirinya dan meminta maaf—membelai ego Abhimanyu dengan fakta bahwa bukan dirinya yang salah. Itulah hal yang membuat Abhimanyu senang pada Argha.

“Malah bersikap menyebalkan. Jadi, aku minta maaf.” Bisiknya lirih, mengerucutkan bibirnya jengkel.

Argha menghela napas di sisinya. “I can't hear that, Abhimanyu.” Katanya tegas dan Abhimanyu mengerang dalam hati; dia akan terus melakukan ini hingga Abhimanyu menurutinya.

Maka dia menghela napas. “Aku minta maaf, Argha. Karena bersikap menyebalkan padahal kau sudah menjelaskan semuanya tapi aku memilih bersikap curiga.” Katanya dengan sedikit lebih keras dan Argha langsung tersenyum lebar, bangga. Ekspresinya membuat perasaan Abhimanyu lebih baik.

“Terima kasih sudah mengakui kesalahanmu. Dan kau tidak menyebalkan kok.” Dia menepuk bahu Abhimanyu lalu kembali ke pekerjaannya. Mengecek tab di hadapannya dan menyadari dia harus menyajikan makanan meja selanjutnya.

For table ten!” Serunya.

Abhimanyu menatap Argha yang bekerja sejenak. Dia mengulurkan tangan, meraih piring dan mulai menjajarkannya karena meja sepuluh terisi empat orang yang memesan menu berbeda. Semua harus keluar bersamaan sesuai standar tempat kerja mereka. Alisnya berkerut, nampak fokus pada pekerjaannya dan begitu menakjubkan hingga Abhimanyu harus menghela napas dalam-dalam.

Kata-kata afirmasi Argha selalu membuatnya merasa nyaman dan karenanya, dia juga selalu berusaha menggunakan kalimat yang sama untuk Argha. Ingin membuat Argha merasakan apa yang dirasakan Abhimanyu karena kalimatnya yang menyejukkan itu. Canggung pada awalnya, tapi lama-lama Abhimanyu terbiasa; dia juga sering mencari contoh-contoh afirmasi di internet dan mempraktikannya pada Argha. Terus belajar dan berkembang, ingin menyamai kedewasaan Argha hingga dia paham bahwa dia memiliki Abhimanyu untuk bersandar.

Sejak dia menyela perdebatan Abhimanyu dan Khrisna, kakaknya belum menghubunginya lagi. Hadrian yang mengiriminya pesan, meminta Abhimanyu untuk memberikan ruang dan pengertian pada Khrisna mengenai ini. Dia tidak keberatan, bahkan sudah tidak terlalu memikirkan posisi Khrisna di hidupnya; dampak kepergian Khrisna selama dua tahun menyisakan luka yang sangat dalam. Memberikan jarak yang lebar di antara mereka dan Abhimanyu tidak keberatan atas itu.

Bersyukur Argha menyela perdebatan itu sebelum dia benar-benar menonjok kakaknya.

Abhimanyu menghela napas, kembali ke pekerjaannya dan menyingkirkan itu semua. Tidak sabar untuk memeluk Argha nanti sebelum dia masuk ke vilanya atau mengajaknya menginap saja karena Abhimanyu ingin memastikan dia tidur lelap, belum ingin berpisah dengan Argha. Ingin berbaring di pangkuannya, rambutnya disisir dengan jemari, dan mendengarkannya mengomel dalam bahasa Prancis.

Dia tersenyum, bersemangat menyelesaikan servisnya.

For table eight! Chef serving!” Seru Argha kemudian dan Abhimanyu mendongak, melihat atasannya bergegas keluar dari konter untuk menyajikan makanan untuk tamu mereka.

Anak servis berjalan di belakang Argha dengan nampan terisi makanan. Argha akan menyajikan makanan itu, biasanya mengobrol sebentar dengan tamu sekadar basa-basi. Lebih banyak memberikan pujian untuk makanan mereka, penasaran pada siapa yang memastikan makanan itu lezat tiba di tamu mereka. Abhimanyu dulu yang melakukannya, menyenangkan melihat tamu-tamu mendongak dari makanan mereka untuk mengagumi Abhimanyu yang melangkah mengenakan seragamnya menuju meja tamu.

Argha juga pasti sangat menikmatinya.

Dia menatap Abhimanyu sebelum melangkah keluar, mengedip genit hingga Abhimanyu tergelak dan memberikannya air kiss cepat. Abhimanyu bergegas berpura menangkapnya dan mengantonginya, menepuk kantongnya sambil mengangguk serius.

“Untuk nanti.” Katanya serius. Dan Argha tertawa tanpa suara sebelum berbalik dan meluncur keluar.

Dia suka sekali pada Argha Mahawira dan berharap mereka bisa bertukar tubuh sehari saja, agar Argha paham apa yang dirasakan Abhimanyu untuknya.

Malam ini Abhimanyu akan memeluk Argha, begitu erat hingga dia sesak. Abhimanyu menyerigai, senang.


Argha mendorong pintu terbuka, menghela napas dan memasang senyuman tipis ramahnya sebelum melangkah ke bawah cahaya restoran yang terang.

Beberapa tamu yang terdekat, menoleh ketika Argha keluar. Menarik perhatian karena seragamnya berwarna putih, berbeda jelas dengan semua anak servis yang mengenakan seragam sewarna burgundi yang diberi aksen batik di bagian hemnya. Argha mengangguk pada beberapa yang bertemu mata dengannya seraya melangkah melewati meja-meja.

“Meja delapan, di sudut, Chef.” Bisik anak servis di belakangnya dan Argha mengangguk—senang dia membantu Argha karena dia tidak terlalu hafal nomor meja restoran.

Makanan di atas nampan masih hangat, Argha harus bergegas agar makanan itu tiba di hadapan tamu dalam keadaan terbaiknya. Dia membelok sedikit, mengangguk pada tamu yang menatapnya untuk menghampiri sudut restoran.

“Itu, Chef. Tamu dengan kemeja abu-abu.” Bisik anak servis di belakangnya lagi dan Argha kembali mengangguk.

Tamu itu menikmati segelas Matua Valley Sauvignon Blanc di atas meja, botolnya berada di tengah meja. Argha tersenyum dalam hati, mengapresiasi kombinasi makanan dan anggurnya; hal kecil yang membuatnya senang. Jika itu pekerjaan Sommelier mereka, maka dia melakukan hal yang hebat. Memberikan pengalaman makan terbaik untuk tamu.

Di meja, tamu mereka sedang memandang ke luar jendela sambil bertopang dgau. Rambutnya sedikit panjang, menyentuh dagunya dan postur tubuhnya kecil serta langsing—seperti postur tubuh penari. Satu tangannya bergerak di dekat gelas, mengusap tepiannya dengan ibu jari—nampak sangat menikmati kesendiriannya.

Argha menghampirinya, tersenyum ramah dan membuka mulut hendak menyapa tamu itu ketika dia menyadari kedatangan Argha lalu menoleh.

Langit terasa runtuh ketika mata mereka bertemu, jantung Argha mencelos—begitu kuatnya hingga dia berhenti mendadak dalam perjalanannya menghampiri meja nomor delapan. Anak servis di belakangnya mengeluarkan suara kaget tertahan, namun berhasil mempertahankan keseimbangan nampan di tangannya.

Tubuh Argha bereaksi, namun tidak seperti yang diharapkannya. Kekagetan dan kecemasan merayap di tubuhnya, perlahan seperti binatang melata dari ujung kaki melewati garis tulang punggungnya hingga napasnya terasa dingin—menyakiti pangkal hidungnya.

Karena yang sekarang tersenyum padanya adalah Yukio Hirano.

Lelaki mungil itu bergegas berdiri dari kursinya untuk menghadap Argha, tersenyum ramah padanya seraya mengaitkan sebelah rambutnya ke telinga. “Halo, Argha.” Sapanya parau dalam bahasa Jepang yang menghantam Argha dengan begitu kuatnya, disertai banjir bah kenangan ketika mereka bersama.

“Apa kabar?”

Yukio nampak luar biasa, masih seindah bulan purnama yang berpendar keperakan. Selalu membuat Argha menahan napas karena pesonanya. Seperti keping salju yang rumit, namun indah dan mendebarkan. Rambutnya menyentuh dagu sekarang, diberi highlight keperakan manis. Dia semakin kurus hingga Argha sejenak panik: apakah dia makan dengan baik?

Argha selalu berpikir bagaimana jika dia bertemu Yukio lagi setelah sekian lama dan sekarang ketika lelaki itu berdiri di depannya, Argha tidak tahu apa yang dirasakannya—sama sekali.

Abhimanyu terlupakan begitu saja ketika dia menatap cinta pertamanya, bernapas dan bernyawa di hadapannya. Setelah nyaris sepuluh tahun merindukannya. Argha ingin duduk, ingin menyandarkan dirinya karena tidak yakin apakah dia sedang berhalusinasi sekarang.

Dia pastilah membeku di sana begitu lama hingga Yukio merona, nampak kikuk.

Surprise? Kau terkejut, 'kan?” Ujarnya setengah meringis dan satu-satunya hal yang ingin Argha lakukan adalah merengkuhnya ke dalam kedua tangannya; memastikan Yukio baik-baik saja.

Namun dia hanya mengatakan, “Yukio?” Dengan menyedihkan.

Yukio tersenyum, mencuri napasnya kembali. “Hai. Iya, ini aku.” Katanya, suaranya masih lembut dan menenangkan, persis seperti yang Argha ingat.

Sembilan tahun tidak mengubah Yukio sama sekali, kecuali membuatnya semakin kurus dan pucat. Argha tidak yakin apakah kekasih baru Yukio benar-benar memerhatikannya atau pekerjaan Yukio yang semakin menyusahkan. Ada begitu banyak hal yang ingin Argha katakan padanya; kenapa dia datang? Kenapa sekarang? Ke mana dia selama sembilan tahun Argha menunggunya? Dengan siapa dia datang?

Namun dia berdeham, menghela napas untuk menenangkan diri dan melangkah mendekat ke meja Yukio. Menoleh ke anak servis dan meraih piring makanan Yukio.

Good evening,” sapanya, tidak mengenali suaranya sendiri ketika berbicara—merasa dia sedang menonton dirinya sendiri dari luar tubuhnya. “Welcome to Le Gourmet Bali. I'm your Executive Head Chef, Argha Mahawira. Pleasure to meet you.” Dia meletakkan piring makanan itu di atas tatakannya.

Yukio tersenyum, kembali duduk dan mengenakan serbet di atas pangkuannya. Menarik kursi mendekat ke makanannya. Menatap menu di piring sejenak lalu mendongak pada Argha, mengulaskan senyuman.

Argha menggertakkan giginya. “You've ordered La Barramundi,” dia mengangguk pada makanan di meja dan mempertahankan pandangannya di makanan itu. “It's our special main course, the perfect fit for your Sauvignon Blanc.” Dia melambaikan tangannya ringan pada botol anggur di meja Yukio.

Tangannya dingin.

Seluruh tubuhnya dingin sekarang.

It's a caramelized barramundi, with black pepper sauce and spinach.” Argha menggertakkan rahangnya dan memaksa dirinya mendongak dari ikan di piring ke wajah Yukio yang masih menatapnya dengan senyuman di bibirnya. “We wish you a great evening, please do not hestitate to tell us about anything you find inconvenient.”

Yukio mengangguk, nampak puas. “Thank you,” katanya lembut dan Argha menghela napas. “Your food is excellent, I've never had anything like this before. You did a great job, Chef.”

My pleasure.” Sahutnya kaku, tidak yakin pada apa yang harus dilakukannya sekarang. “Please enjoy the rest of your night.” Tambahnya kemudian lalu berbalik, dia harus bergegas menjauh sebelum mengatakan hal-hal yang tidak diinginkannya.

Namun persis sebelum dia melangkah kembali ke dapur, dia berhenti. Mendadak hingga anak servis nyaris menabrak punggungnya lagi. Tapi Argha tidak peduli, dia menatap Yukio yang balas menatapnya—mengerjap sedikit kebingungan.

“Ya?” Tanyanya.

“Yukio,” katanya dalam bahasa Jepang—merendahkannya hingga tidak ada yang mendengarnya selain Yukio. “Tolong temui aku, setelah pekerjaanku selesai.”

Dan tanpa menunggu jawabannya, Argha berbalik dan melangkah ke dapur. Tidak memberikan Yukio kesempatan untuk menolak karena Yukio tidak bisa dan tidak boleh menolaknya.

Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya.


“Apa...?”

Abhimanyu menatap Argha yang sedang bergegas mengganti pakaiannya selepas servis. Sekembalinya dari mengantar makanan kedua, Argha menjadi lebih tegang dari biasanya. Abhimanyu berusaha mengajaknya mengobrol, menghiburnya namun Argha sama sekali tidak menanggapinya. Perasaan gelisah menyeruak di dasar perut Abhimanyu; apakah ada yang terjadi?

Dan pertanyaannya terjawab. Argha menolak pulang bersamanya. Padahal dia membawa mobil Argha hari ini dan meminta Abhimanyu untuk pulang bersama Hadrian saja. Abhimanyu tidak masalah pulang berjalan kaki, dekat dan cukup ramai. Hal yang dipermasalahkannya hanyalah kenapa Argha tidak mau menatapnya?

“Aku akan pulang sendiri. Aku harus menemui seseorang.” Tukasnya, nyaris terganggu dan nada itu membuat Abhimanyu sejenak terdiam; dingin, tajam, dan tidak sabaran.

Argha belum pernah menggunakan nada itu padanya. Membuat Abhimanyu mundur selangkah darinya, kaget dan takut. Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah Argha marah padanya? Itukah mengapa dia tidak mau pulang bersama Abhimanyu?

Argha menoleh padanya, sejenak nampak resah dan jengkel namun kemudian dia mengerjap—nampak kaget lalu memejamkan mata, menggeleng kuat dan menggertakkan rahangnya.

“Abhimanyu,” bisiknya lembut. “Doudou,” tambahnya mengulurkan tangan hendak meraih Abhimanyu namun urung, menikam Abhimanyu sekali lagi dengan rasa bingung. “Aku harus menemui temanku dari Jepang,”

Alarm di kepala Abhimanyu berdering keras sekali, hingga dia sejenak limbung. Firasatnya kuat mengatakan bahwa ini Yukio. Nama yang disebut Sebastien di hari mereka makan malam bersama seperti tiga orang beradab dengan Argha yang bersikap manja padanya; Abhimanyu ingin Argha yang itu dikembalikan padanya sekarang.

Dia ingin meneriakkan banyak hal sekarang, termasuk mencengkeram tangan Argha dan memaksanya memberi tahu Abhimanyu siapa teman yang akan ditemuinya. Namun satu-satunya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah:

“Tidak bisakah aku ikut bersamamu...?” Bisiknya, sedikit tersengat rasa bersalah karena ingin tahu urusan Argha—seperti anak kecil menyebalkan padahal dia menghabiskan begitu banyak waktu berusaha agar nampak dewasa.

Argha menghela napas. “Tidak, maaf.” Katanya lalu memalingkan wajah dari Abhimanyu dan bergegas membereskan barang-barangnya. “Dia sudah menungguku di luar sejak tadi.”

Abhimanyu berdiri di sana, patah hati entah karena apa ketika Argha meraih tas Dior kesayangannya dari loker dan bergegas mengunci lokernya. Bahkan tidak repot menoleh lagi pada Abhimanyu yang berdiri di sisinya dengan seragam belum dilepaskan. Mereka biasanya mengobrol santai sambil berganti baju, saling menggoda dan tertawa sebelum bersama mengembalikan seragam lalu turun ke parkiran untuk pulang.

Proses lambat yang biasanya membuat lelah Abhimanyu menguap, membuatnya cukup tenang untuk langsung terlelap setibanya di kos. Satu-dua pesan dengan Argha atau sleep call sebelum benar-benar tidur; rutinitas yang dia sukai.

Namun sekarang Argha tidak menoleh, bahkan tidak berpamitan. Wajahnya serius dan fokus, sedikit terganggu dan dibayangi kesedihan yang Abhimanyu tidak kenali.

Apakah memang benar Yukio yang ditemuinya? Kenapa sekarang? Dan untuk apa Argha menemui mantannya? Tidakkah dia ingin menjelaskan sesuatu pada Abhimanyu? Atau menurutnya Abhimanyu tidak cukup penting untuk tahu segalanya?

Argha bebas memasuki kamar Abhimanyu, sudah membuat dirinya betah di sana dan menyimpan beberapa barang pribadinya di ruang Abhimanyu. Namun Abhimanyu bahkan belum pernah memasuki vilanya. Dia menyadari itu, tapi tidak ingin membebani Argha dengan bertanya. Jika dia merasa nyaman, dia pasti akan mengundang Abhimanyu.

Sekarang hal sederhana itu mendadak terasa seperti bentangan jarak yang hebat. Apakah Argha tidak pernah menganggap Abhimanyu seperti Abhimanyu menganggapnya? Apakah selama ini hanya Abhimanyu yang menyukainya dan Argha tidak pernah?

Abhimanyu berdiri di sana, hatinya mendadak mati rasa—tidak lagi berdenyut, tidak lagi pedih. Hanya rasa kebas yang menyiksanya, membuatnya merasa ada lubang raksasa kosong di dadanya. Seseorang menikamnya di sana, membuat lubang menembus hingga ke punggungnya.

Dia ditinggalkan.

Oleh seseorang yang amat dipercayainya.

Lagi.

Argha mencabut kunci lokernya dan terburu-buru keluar dari loker yang sepi, tidak mengatakan apa pun saat mengulurkan tangan untuk membuka pintu. Meninggalkan Abhimanyu koyak di belakangnya, bahkan tidak memiliki energi untuk berkata-kata.

Persis ketika Abhimanyu pikir dia akhirnya remuk, hancur lebur oleh sakit hati, Argha berhenti dan menoleh. Wajahnya berkerut oleh ekspresi yang tidak dipahami Abhimanyu; sakit, bingung, gelisah, resah, dan bersalah. Mata mereka bertemu.

“Aku berjanji,” bisiknya dan Abhimanyu menatapnya kosong; tidak lagi ingin memercayai janji siapa pun pada titik ini. Jika Argha ingin pergi, maka Abhimanyu akan membukakan pintu selebar-lebarnya untuk Argha dan mengantarnya keluar.

“Aku akan menghubungimu nanti, ya? Aku akan... menjelaskan segalanya. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak, ya?” Mohonnya, pilu dan lirih namun hati Abhimanyu mati.

Abhimanyu tidak mau mendengarkan penjelasan. Tidak ingin apa pun dari Argha saat ini. Dia hanya ingin Argha melangkah keluar, menyelesaikan penderitaannya dan menggerus Abhimanyu seperti kedelai di kedua tangannya. Argha bisa membunuhnya, tidak masalah.

Tapi mulutnya terbuka, letih dan terluka. “Ya.” Katanya dingin dan hampa.

Argha tidak lagi berhenti, dia bergegas keluar dari loker dan Abhimanyu mendengarnya berlari di lorong menuju lift untuk turun ke basemen. Meninggalkan Abhimanyu sendirian di sana, terluka lagi oleh hal yang sama.

Dia merogoh sakunya, rasa hampa di dadanya menjadi-jadi dan dia takut dia akan mati di sana karena rasa itu. Maka dia menekan nomor terakhir dalam catatan panggilannya hari ini. Tidak terlalu dekat dengannya, namun Abhimanyu membutuhkan seseorang untuk menemaninya.

Yes, Abhimanyu? Is there something wrong?”

Abhimanyu membuka mulutnya, sejenak diam dengan bibir bawah gemetar sebelum melanjutkan. “Pak Ricci, can you please pick me up at Gourmet?”


ps. ehe besok part 3 :D

ps. alur maju-mundur, pelan2 yaa bacanya biar gak bingung sksks also THIS IS THE TIME SKIP WE'RE ALL WAITING FOR YEAAAAH (?) pss. carefuuuuuuullll wittttthhh youuuur heaaartttt :P


Argha tidak ingat sejak kapan, tetapi sekarang Abhimanyu sudah nyaris terasa seperti kekasihnya.

Anak itu suka menceritakan hal-hal remeh, melemparkan gurauan yang terkadang sulit ditangkap kemampuan bahasa Indonesia Argha, juga menggenggam tangannya—yang terakhir, nyaris seperti obsesi. Di sekitar Argha, Abhimanyu selalu bersikap manis dan menyenangkan. Menatapnya dengan mata sewarna karamel yang berkilauan oleh emosi dan tersenyum lebar, memamerkan geliginya yang rapi setelah melakukan upacara Metatah setahun lalu.

“Mereka menggunakan kikir untuk meratakan gigiku,” dia mengangguk, bercerita tentang prosesi Metatah-nya pada Argha yang duduk di seberangnya di EDR pada jam makan siang. “Harus dilakukan sebelum matahari terbit. Konon agar tidak sakit.”

Argha menontonnya bicara, selalu begitu tiap Abhimanyu mulai berkicau seperti anak kecil. Khususnya ketika membicarakan molekular gastronominya, dia sangat menyukai pekerjaannya sekarang hingga Argha semakin paham mengapa Arsa menyayanginya. Dia sigap, senang menolong, dan tidak neko-neko dalam mengambil pekerjaan. Second layer yang mungkin semua supervisor butuhkan dalam bekerja.

“Tidakkah itu sakit?” Tanya Argha, mengelap sendok makannya sebelum menggunakannya untuk makan. Dia membawa piring sendiri, sudah meminta maaf pada teman-teman kerjanya mengenai ini karena dia tidak mau menggunakan piring yang sudah digunakan orang lain dan dicuci bersama sisa makanan menjijikkan.

Abhimanyu yang di sisi lain, sudah mulai menjejalkan makanan ke mulutnya dengan sangat kelaparan, menggeleng. “Tidak,” katanya dan Argha tersenyum karena pipinya bergerak-gerak ketika mengunyah. “Hanya sedikit ngilu saja, kok!”

Argha mengangguk, mulai menyendok makanannya dengan sedikit perasaan resah yang tidak bisa dikendalikannya tiap makan di tempat lain selain rumahnya sendiri. Takut piring atau sendoknya terkontaminasi kuman yang akan membuatnya sakit parah lalu dia akan—

Stop, Argha. Pikirnya menghela napas melalui mulutnya, menenangkan diri. Berharap Abhimanyu tidak menyadarinya, dia tersenyum dengan mata tertutup tapi Abhimanyu mendadak diam.

“Hei, kenapa?” Tanyanya lembut lalu mengulurkan tangan dan menepuk tangan Argha lembut. “Tanganmu gemetar. Kau mau aku mengganti makanannya? Mencuci ulang piringmu? Aku akan menggunakan air hangat.”

Argha menghela napas, tersenyum. “Tidak, seharusnya tidak masalah.” Dia menatap makanannya dan menelan ludah—kenapa belakangan ini dia jadi mudah anxious mengenai segala hal? Padahal biasanya dia mudah menenangkan OCD-nya dengan antiseptik.

Perasaannya juga sering gelisah, insomnia ringan sehingga Abhimanyu sering menemaninya hingga lelap dengan telepon—walaupun anak itu yang lebih sering tertidur duluan, tapi Argha menghargai ketulusannya. Dia pasti lelah setelah bekerja, namun masih mau menemani Argha. Kadang, dia tidur di kos Abhimanyu; satu-satunya tempat di mana dia bisa tidur lelap tanpa terbangun.

Pekerjaan mereka gemilang belakangan ini. Bahkan menyelesaikan servis untuk rombongan penting Gubernur Bali dengan sangat baik hingga Kinan sendiri membukakan satu botol wine tua untuk mereka nikmati selepas servis bersama dengan canape. Itu pertama kalinya Argha menikmati pesta bersama teman-temannya di dapur Le Gourmet dan semakin kagum pada kepemimpinan Kinan; dia sendiri yang menuang wine untuk semuanya, mengajak mereka bersulang dengan ceria dan membacakan GCC yang isinya gemilang.

Pemerintah Provinsi Bali bahkan menjanjikan Kinan lebih banyak bisnis kedepannya, menjamu tamu-tamu penting Provinsi walaupun Arsa tidak terlalu suka berurusan dengan pemerintah. Karena mereka cenderung suka menawar harga serendah-rendahnya lalu mencantumkan harga mahal di proposal agar bisa mengantongi selisih dananya. Dia dengan tegas meminta DOSM untuk memastikan harga pemerintah yang masuk tetap sesuai harga normal Gourmet.

Jadi dengan hal-hal baik semacam itu, Argha tidak paham mengapa perasaan gelisahnya semakin menjadi-jadi.

“Tidak,” Abhimanyu menggeleng tegas dan meraih piring Argha untuk menggantinya. Dia menuang makanan Argha ke piringnya tanpa sedikit pun berjengit jijik lalu bangkit menuju ke konter makanan.

Argha menghela napas, menatap makanan di nampan Abhimanyu yang penuh. Hari ini mereka makan chicken katsu dengan sambal matah dan sauteed vegetable—tidak terlalu masuk akal tapi Argha berkenan mengabaikannya. Abhimanyu sudah memiliki porsi makannya sendiri, banyak seperti biasa. Syukurlah Argha tidak makan banyak sehingga menyusahkannya.

Dia menoleh, menemukan Abhimanyu sedang mencuci piring Argha sendiri di diswasher milik EDR dengan air hangat dan tidak menggunakan sarung tangan kuning yang selalu Argha tidak sukai karena dipakai beberapa kali sebelum diganti.

Abhimanyu secara menakjubkan beradaptasi pada OCD Argha dengan sangat baik; dia punya satu liter antiseptik di kamarnya sekarang, membeli tiga set seprai baru untuk diganti tiap Argha berkunjung, dan memberinya selop kamar lembut berbentuk unicorn.

“Lucu, 'kan!?” Serunya ketika menunjukkan slipper itu maka Argha menerimanya dengan tawa rendah di bibirnya.

Dia juga rajin membereskan kamarnya, mengepel lantai, memastikan alat mandi cadangan Argha di kamarnya selalu bersih dan kering agar Argha nyaman. Dan itu membuat hatinya hangat; tidak bisa tidak membandingkan ketulusan Abhimanyu dan Yukio.

Mungkin karena hubungannya dan Yukio sudah di ujung tanduk saat itu sehingga mereka berdua hanya bersama karena sama-sama tidak yakin untuk melepaskan. Yukio tidak nampak benar-benar membantu Argha melewati masa-masa awal OCD-nya yang mengerikan dan sekarang, ada Abhimanyu.

There you go!”

Argha mengerjap dan melihat piringnya diletakkan di hadapannya, digenggam Abhimanyu dengan dua helai tisu agar tangannya tidak langsung mengontaminasi permukaannya. Argha mendadak ingin menangis; tidak terbiasa menerima perhatian yang begitu banyak seperti ini. Dia berdeham, berusaha menelan gumpalan tidak nyaman di tenggorokannya dan tersenyum—jika Abhimanyu mengatakan sesuatu yang lembut sekali lagi, Argha mungkin akan benar-benar menitikkan air mata.

“Sudah cukup nyaman untukmu?” Tanyanya, berdiri di sisi Argha dan mengerjap—aroma parfumnya tercampur dengan sedikit rempah.

“Sudah, trims.” Sahut Argha parau, bergegas menerimanya agar tidak menyusahkan Abhimanyu lagi dan hendak meraih piring itu untuk mengisinya dengan makanan namun Abhimanyu dengan sigap meraihnya.

“A-a,” katanya, tersenyum lebar hingga kerutan muncul di pangkal hidung dan sudut matanya. Argha menghela napas, berusaha untuk tidak menangis karena itu akan sangat memalukan. “Akan kuambilkan makanan untukmu.” Dia mengedipkan sebelah matanya lalu melenggang ke konter makanan.

Dan untuk semakin membuat Argha terharu, dia tidak menyendokkan nasi untuk Argha. Alih-alih, dia menambah sayuran di piring Argha dan tidak membubuhkan sambal di atas katsu-nya. Abhimanyu masih menggenggam piring dengan tisu ketika meletakkannya di depan Argha.

“Porsinya pas?” Tanyanya lagi. Begitu tulus memastikan Argha nyaman.

Argha menatap makanannya dan tersenyum, sebenarnya terlalu banyak tapi tidak masalah. Dia bisa menghabiskannya agar Abhimanyu senang dan tidak lagi repot mengurusnya. “Cukup.” Katanya, mendongak. “Trims, Doudou.”

My pleasure,” Abhimanyu akhirnya kembali duduk di kursinya dan memulai makannya sendiri.

Situasi belakangan ini tenang dan normal. Arsa beberapa kali datang berkunjung untuk mengecek dapur, nampak puas pada bagaimana Argha mengatur isi dapur dan menjaga flow makanan keluar dari dapur. Dia juga mengecek kebutuhan Abhimanyu di little lab-nya di sudut dapur, mencatat beberapa barang yang sudah habis dan usang untuk dibelikan yang baru. Karena tidak ada Cedrik, maka Arsa sendiri yang mengontrol Pastry.

Mereka memulai trial untuk buka pada jam Breakfast and Brunch (B&B) dengan mengusung tema Grab&Go ramah lingkungan sesuai dengan program pemerintah provinsi mengenai pengurangan sampah plastik. Semua makanan hanya akan dibungkus dalam satu kantung kertas daur ulang yang steril, mengajak pembeli untuk membawa tempat makan mereka sendiri atau membeli kemasan reusable dari mereka.

Argha sudah melihat sampel produk reusable mereka dan merasa harga serta kualitasnya bersaing. Nampak ringkas dan mudah dibawa, memberikan potensi untuk menjaring pelanggan tetap yang datang membawa tempat mereka sendiri.

“Ini strategi marketing yang sederhana, Bapak.” Kata Lisna, DOSM mereka ketika menjelaskan konsep penjualan B&B mereka di rapat Executive yang dihadiri Argha, dibantu dengan PPT yang menarik dan komunikatif.

“Jika begitu,” kata Teo di seberang Argha dengan mata memicing ke layar yang digunakan Lisna. “Kita bisa memberikan diskon untuk pembelian menggunakan kemasan dari kita, 'kan? Seperti Starbucks dan yang lainnya.”

Diskon di tanggal tertentu juga bisa.” Tambah Cedrik berkeresak dari layar laptop yang menyala di depan Arsa, mengenakan earphone di telinganya. Dia sedang berada di vila atas laut yang indah dengan suara debur angin dan ombak yang konstan. Membuat Argha merindukan masa-masanya bekerja di Maladewa. “Meningkatkan penjualan di akhir bulan, berikan harga bottom saja.”

Kinan mengangguk di kepala meja, di sisi kanannya ada PA-nya yang cekatan sedang mengetik notulen rapat dan di sisi kirinya, Arsa bersidekap dalam balutan seragam chef-nya—nampak sedikit mengantuk.

“Diskon jika mereka membawa tempat sendiri juga bisa,” tambah Kinan, melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya; nampak letih dan Arsa mengulurkan tangan di bawah meja, memijat tangannya yang bebas. “Saya masih ingin meninjau ulang ide ini. Jadi saya tampung semua masukannya.”

The menu has been prepared, we can have the sample now if you don't mind?” Tanya Argha ketika itu dan membawakan senampan makanan ke dalam ruang rapat terdiri atas pastry renyah yang lezat, pastry sandwhich, dan beberapa parfait yang menurut Argha akan memberikan sentuhan baru pada produk mereka.

We will also serve chocolat chaud and latte,” Argha menambahkan ketika nampan kedua dibawa masuk. “Infused water is hit lately, so I decided to add them into the menu. Also flavored kombucha.”

Dan bisa melihat wajah Kinan yang puas karena gebrakan Argha. Dia tidak bisa mencicipi kombucha karena masalah kesehatan tapi dia menyukai kombinasi infused water buatan Argha. Rapat hari itu ditutup karena Kinan harus mengerjakan laporan dan mereka harus kembali mengecek dapur, akan dilanjutkan beberapa hari lagi.

Hasilnya memuaskan. Semua berjalan baik dalam hidup Argha belakangan ini dan dia juga akan bertemu Hikaru lagi dalam waktu dekat. Sebenarnya, hatinya sedikit berharap Yukio mungkin akan ikut bersama Hikaru sehingga dia bisa bertemu dan menyelesaikan hubungan mereka dengan baik. Namun dia juga tidak yakin bagaimana dia akan bersikap jika bertemu Yukio lagi, di hadapannya, setelah sembilan tahun lamanya.

Argha menatap makanannya. Mungkin prospek bertemu Hikaru kembali, seseorang yang dulu adalah bagian penting dalam hidupnya di Jepang membuatnya gelisah.

Cukup kuatkah perasaannya pada Abhimanyu untuk menahannya tidak goyah ketika masa lalu dilemparkan ke wajahnya?

Dia mendongak, menatap Abhimanyu yang sedang makan sambil bermain ponsel—selalu melakukannya padahal Argha sudah menegurnya. Dia suka makan sambil menonton video TikTok yang remeh dan kekanakan, kadang sambil menonton streamer bermain video games atau vlog misteri. Perbedaan generasi mereka membuat Argha sedikit geli karena Abhimanyu menikmati hidup dengan cara yang sangat berbeda dengan Argha.

Abhimanyu tertawa, menatap video di ponselnya dengan sendok di atas piring. Makanan baru dimakan sedikit dan dia sudah mengunyah makanannya, suara tawanya rendah dan geli. Argha tersenyum, mengamatinya melakukan sesuatu selalu membuatnya tenang dan bahagia.

Anak itu tenang dan cuek, tidak terlalu peduli urusan orang lain jika tidak diminta. Sedikit judes jika menurut anak-anak lain ketika Argha mengobrol dengan mereka. Mengklaim bahwa sebelum Argha masuk, Abhimanyu adalah head yang galak.

“Selalu marah-marah, Chef.” Bisik salah satu commis, melirik Abhimanyu yang sedang mengecek Commissary. “Jika benar-benar marah, dia akan membanting barang-barang. Dramatis sekali. Padahal sudah ditegur Bapak dan dipotong gajinya untuk mengganti rugi, tapi dilakukan lagi.”

“Mirip Chef Arsa,” tambah teman commis itu. Menatap Argha lalu melirik Abhimanyu sembunyi-sembunyi. “Kami sering memanggilnya Rangda* jika sedang kesal padanya. Jangan disampaikan, ya, Chef!” Tambahnya mendesis, sedikit takut karena keceplosan.

Argha tertawa parau mendengar panggilan itu. Abhimanyu-nya? Galak dan membanting barang-barang? Dia pasti berubah karena sesuatu belakangan ini. Dan dia tidak melakukannya, tidak menyampaikannya pada Abhimanyu bahkan ketika Abhimanyu menghujaninya dengan ciuman kecil-kecil yang memabukkan di ranjangnya.

Ada hal-hal yang perlu disampaikan pada supervisor untuk perbaikan diri, ada yang sebaiknya Argha simpan sendiri untuk penilaian pribadi atas seseorang sebagai atasan mereka.

Dia sudah beberapa kali ingin mengundang Abhimanyu ke vilanya, akhirnya memberi lelaki itu akses masuk dan bahkan sudah meletakkan sandal kamar di depan pintu untuknya. Memilih warna hijau tentara yang menurutnya cocok untuk Abhimanyu, menyiapkan sikat gigi baru di kamar mandi dan juga handuk baru digantungannya.

Tapi tiap kali Abhimanyu mengantarnya pulang, Argha tidak berani melakukannya. Tidak tahu mengapa, selalu tidak berhasil membuat dirinya sendiri mengatakan ajakan itu. Lalu menyesal setelah melihat Abhimanyu berlalu dari depan vilanya; kadang dalam motor besarnya atau kadang dengan mobil Argha yang dititipkan di kosnya jika Argha malas membawa kendaraan sendiri.

”... Tidak makan? Sayang? Halooo?”

Argha mengerjap, kembali ke masa kini dan tersenyum. “Maaf, memikirkan pekerjaan.” Katanya, menyugar rambutnya. Tidak sepenuhnya bohong karena dia memang harus memikirkan launching B&B mereka.

“Oh, aku pikir kau tidak nyaman dengan alat makanmu lagi,” Abhimanyu menghela napas.

“Tidak, ini oke.” Argha tersenyum, “Terima kasih, ya?”

Anak itu mengangguk, “Rileks sebentar, oke? Ini jam makan siang.” Abhimanyu menyerigai, menepuk bahunya hangat. “Jangan memikirkan pekerjaan. LIhat ini, kerutan ini. Bisa jadi permanen!” Dia berdecak penuh gurau, mengulurkan tangan dan mengusap kerutan di antara kedua alis Argha dengan ibu jarinya.

Argha tertawa parau oleh sentuhan itu. “Baiklah.” Katanya, menatap Abhimanyu lalu senyumannya pudar ketika mendengar suara musik TikTok dari ponsel Abhimanyu.

This kiddie,” gerutunya sebal. “Habiskan makananmu dan berhenti menonton TikTok!” Bentaknya main-main sambil mendelik dan Abhimanyu tergelak.


Tempat itu megah, sangat di luar dugaan.

Suasananya menyenangkan, membuat siapa saja paham bahwa restoran itu diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar makan untuk kualitas, bukan porsi. Mobil-mobil yang masuk menurunkan tamu di lobi depan, beberapa bahkan berjalan kaki namun dia tidak melihat seorang pun diperlakukan berbeda; semua tamu disambut sama, bermobil atau berjalan kaki.

Atmosfer mewahnya menyeruak hingga ke jalan raya, membuat semua orang menoleh dengan tertarik. Lampu kristalnya menyala keperakan; berpendar bersama lampu-lampu kuning yang disusun dengan komposisi tertentu untuk membentuk cahaya yang diinginkan.

Aroma pengharum ruangannya lembut, tidak menyengat. Mengundang perhatian dan membuat perasaan nyaman. Ada standing bouquet di depan pintu masuk, diisi peony gendut yang merekah cantik dan mawar lokal yang beraroma manis legit. Malam seolah bergerak begitu lambat dan magis di sini, bersama orang-orang yang tertawa bersama rekan makan mereka.

Anggur yang dibuka dan dituang, makanan hangat yang disajikan, suara tawa, obrolan rendah yang akrab, denting alat makan dan gelas. Semuanya bergerak dalam dinamis yang menyihir, membuat siapa saja merasa betah di dalamnya. Menikmati interiornya yang sedikit kuno dalam dominasi warna cokelat gelap yang hangat.

Sebuah mobil meluncur memasuki halaman restoran itu, jendela penumpangnya terbuka dan seseorang sedang mengamati tempat itu dengan takjub. Mobil berhenti di lobi dan seorang valet membantunya membuka pintu dengan sopan dan tenang.

Welcome to Le Gourmet, Bali.” Sapanya tersenyum, membungkuk sedikit dengan sopan khas salam Asia.

Seragamnya rapi, tidak ada noda atau kusut di permukaannya. Mengenakan pin di dada kiri dan kanannya, termasuk name tag yang berwarna keemasan dengan tulisan yang tegas. Dia mengantarnya masuk, melewati pintu ganda yang terbuka untuk menemui seseorang dalam balutan seragam gelap yang sangat menarik hingga sejenak membuatnya mendesah karena ragawinya sangat mendebarkan.

Restoran itu jauh lebih megah dari kelihatannya. Tidak terlalu besar, namun berhasil menata interiornya sedemikian rupa hingga membuatnya nampak lega. Langit-langitnya tinggi, didominasi oleh jendela dan bata yang sengaja diberi kesan kasar. Penyejuk ruangan diatur di suhu yang nyaman, musik lembut mengalun namun tidak mengganggu pembicaraan pengunjung.

Orang menghela napas, senang pada tempat ini dan segala hal di dalamnya. Matanya bergerak mengelilingi ruangan, menemukan rak-rak anggur yang ditata rapi di belakang dekat dengan bar kecil yang terbuka. Pintu ke arah dapur tertutup, namun sesekali ketika anak servis mendorongnya untuk keluar, sekelebat pemandangan isi dapur nampak dari celahnya.

Meja-meja berbentuk bulat ditata di tengah ruangan, ada smoking area kecil di sayap barat dengan payung-payung kanvas hijau gelap dan lampu yang terang untuk mempernyaman makan mereka. Anak-anak servis berseragam gelap bergerak seanggun penari, tersenyum kecil dan tulus dalam melayani tamu yang nampak sangat menghargai mereka atas itu.

Restoran berbintang ini serius dalam melayani tamu dan dia tidak menyesal untuk memutuskan datang, memesan meja untuk dirinya sendiri.

Hello, welcome to Le Gourmet, Bali.” Sapa lelaki di sisinya, tag namanya berkilat keemasan dengan nama 'Hadrian' di atasnya. Senyumannya berbentuk hati yang menggemaskan. “I'm Hadrian, the Restaurant Manager. Have you made a reservation before?”

Tamu itu mengangguk, melepas blazernya yang terasa panas dan mengaitkannya di lekukan lengannya. “Yes, I had.” Sahutnya lembut, kembali menatap ke restoran yang berkilauan.

Can I have the chef served for me?” Tanyanya pada manajer di sisinya dan lelaki itu mengangguk ramah.

Certainly. I'd inform the chef about your request.”

Dia tersenyum, “Excellent.” Gumamnya.

Memikirkan dia akan memesan anggur putih malam ini bersama makanannya. Anggur kesukaannya, minuman kesukaannya dengan alasan sentimentil. Tapi anggur putih tidak pernah salah jika dipadukan dengan makanan Prancis di restoran ini.

May I have a name the reservation made under, please?” Tanya Hadrian lagi, lembut seraya mengangkat tab-nya untuk mengecek nama di sistem restoran mereka.

Tamu itu menghela napas, bergidik karena suhu penyejuk lebih dingin dari udara di luar. “Yes,” katanya dan menatap Hadrian dengan senyuman cerah di bibirnya.

It's Yukio. Hirano Yukio.”


ps. ehe :p


  • Rangda: setan Bali berbentuk raksasa dengan rambut panjang dan lidah panjang, mirip wewe gombel. local jokes, kalo marah dibilang “calingne renggah care rangde” (taringnya panjang/tajem, kayak rangda= omongannya pedes). jangan search kalo takut. tengs.

tw // atheism (anthropocentic) , manipulation , family issue . cw // OCD (R-OCD and W&C-OCD).

ps. jangan self-diagnosed, yaa! hubungi profesional jika kalian merasa butuh bantuan <3


Argha gugup.

Tidak sering, terakhir kali dia merasa gugup adalah ketika dia mengganti pakaiannya ke seragam chef cadangannya untuk memasak di depan Arsa Mahardika. Lelaki kurus yang ternyata memiliki ambisi dan talenta lebih besar dari kepalanya. Memasak untuk juru masak berbintang Michelin bukanlah hal yang mudah baginya, dia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar performanya tidak buruk. Akhirnya berhasil menyajikan five course fine dining untuk Arsa dan Cedrik hari itu.

Dia ingat rasanya. Perutnya mulas, keringatnya dan napasnya terasa dingin. Persis yang dirasakannya ketika menempuh perjalanan dari Charles de Gaulle menuju Soekarno Hatta bertahun-tahun lalu, gelisah berusaha menahan tangisnya ketika dikabari tentang orang tuanya. Penerbangan panjang yang sangat menyiksa melintasi bumi hanya untuk melihat peti keduanya dimasukkan ke wadah kremasi.

Argha mendesah. Sejak di Indonesia, ingatan itu kembali menajam. Dia sering bermimpi berada di pesawat itu lagi, berdoa agar penerbangan bisa dipercepat. Lucu bagaimana dia sempat sangat percaya Tuhan akan menyelamatkannya. Dia bisa berada di sini semua karena usahanya sendiri, Tuhan tidak pernah memberikannya apa-apa kecuali mengambil segala yang penting dalam hidupnya.

Bahkan di saat paling rendah dalam hidupnya, dia berdoa memohon pertolongan pada Tuhan dan tidak mendapatkan apa pun. Maka Argha berhenti percaya, berhenti mencari Tuhan ketika dia membutuhkan apa pun. Dia lebih baik berjuang sendiri, mengurus dirinya sendiri karena berdoa saja pada Tuhan tidak akan membuatnya makan dan hidup.

Dia mengecek penampilannya sendiri di cermin. Dia akan menjemput Abhimanyu sebentar lagi, tadi lelaki itu bilang dia sedang bersiap-siap dan meminta Argha berangkat saja daripada menunggunya selesai. Abhimanyu ketiduran ketika menelepon Argha tadi, menemani Argha membereskan vilanya—membicarakan hal-hal random yang menghibur Argha.

Sekarang karena dia percaya pada Abhimanyu, nyaman berada di sekitarnya, Argha mulai merasa 'ketergantungan' padanya. Perasaan lemah yang mengekspos luka dan traumanya. Dia ingin Abhimanyu selalu mengabarinya, selalu didekatnya, selalu memastikan lelaki itu tidak akan... kehabisan rasa tertarik padanya.

Argha tidak terlalu menyukai sifatnya yang ini, tapi dia juga kesulitan mengontrolnya sekarang. Terlanjur mengendurkan pertahanan dirinya bersama Abhimanyu. Sekarang dia hanya bisa berharap Abhimanyu tidak akan melangkah pergi seperti... orang tuanya dan Yukio.

Karena Argha sungguh tidak ingin mengalami sakit itu lagi.

Dia berpikir sambil mengemudi menuju kos Abhimanyu, memikirkan perbedaan vital apa yang mungkin mereka miliki yang bisa memunculkan konflik. Abhimanyu juga hypersexual, sama seperti Argha—gairahnya meledak-ledak, bahkan lebih kuat dari Argha. Mungkin karena usianya baru dua puluh delapan dan seorang perjaka, masih penasaran setengah mati pada seks tidak peduli seberapa pun Argha berusaha menjelaskan bahwa seks hanyalah kegiatan biasa saja.

Jadi seks bukanlah masalah.

Agama juga sepertinya tidak karena Argha sudah sering memberikan jawaban yang menjurus, menunjukkan pada Abhimanyu bahwa dia tidak percaya Tuhan dan agama. Abhimanyu juga sepertinya tidak terlalu religius menjalani agamanya, santai dan kalem.

Argha menyentuh bibirnya, mengusapnya pelan dan merasakan pelembab bibir yang dibubuhkannya di sana seraya memutar kemudi untuk membelok ke jalan masuk kos Abhimanyu. Mungkin Argha harus mengajaknya bicara dengan serius, mencocokkan prinsip-prinsip mereka sebelum melangkah ke hubungan lebih lanjut; langkah pencegahan dari sakit hati berkepanjangan.

Dia membelok masuk ke gerbang yang terbuka, mengklakson sekali berharap Abhimanyu mendengarnya lalu merogoh clutch-nya untuk mencari ponsel. Dia menekan tombolnya, menyalakan layarnya dan melihat Abhimanyu belum menjawab pesannya maka Argha mengetik kembali.

Aku di depan. Sudah tiba. ketiknya lalu menekan kirim, menatap layarnya menunggu Abhimanyu daring dan membacanya.

Namun pesannya bergeming selama satu menit penuh dan alis Argha berkerut. Dia mendongak, menatap halaman kos Abhimanyu. Tempat itu besar, namun hanya ada tujuh kamar di sana dan terisi semua. Rata-rata pekerja Seminyak dan pasangan suami-istri yang membutuhkan akses fleksibel tanpa jam malam. Halamannya luas, cukup untuk parkir mobil kecil dan garasi bagi anak-anak kosan. Lorong kamarnya ditanami palem-palem pendek meneduh juga bebungaan tropis, membingkai jalan dari batu gosok berwarna putih-hitam. Di sela-selanya ditanami rumput yang rapi, dijaga dengan apik oleh pemilik yang juga tinggal di sana.

Argha melihat motor Abhimanyu terparkir di garasi depan, hafal plat nomornya dan ada stiker merek pakaian di sayap belakangnya. Berarti Abhimanyu di kos. Argha menekan tombol panggil, namun tidak diangkat. Perasaan cemas merangkak naik, dia memutuskan untuk mematikan mesin mobilnya. Menarik rem tangan, dia kemudian mencabut kunci setelah menekan Start Engine/Off dan bergegas keluar. Argha membawa clutch-nya, meninggalkan blazernya di dalam, disangkutkan di kepala tempat duduk dan bergegas melangkah ke kamar Abhimanyu di ujung lorong.

Ketika dia tiba, pintu kamar Abhimanyu terbuka setengah dan ada sepatu yang tidak dikenali Argha di undakannya. Dia melepas sepatunya, melangkah menaiki dua anak tangga ke teras kamar Abhimanyu dan mendengar percakapan antara dua orang.

Dia berhenti, persis sebelum tangannya membuka pintu. Sejenak, Argha mengintip dari celah pintu dan melihat postur tubuh lelaki yang lebih tinggi dari Abhimanyu. Menyadari bahwa itu Khrisna dari gagang kacamata dan gaya rambutnya. Maka Argha menghela napas, mundur dari pintu hendak memberi keduanya privasi membicarakan masalah personal mereka. Namun itu sebelum dia mendengar topik argumentasi kedua saudara itu.

“Tidak.” Abhimanyu menggeram dari dalam sana. Dia lalu melanjutkan dalam bahasa yang tidak dikenali Argha—mungkin bahasa Bali dan dari nadanya, dia benar-benar terganggu dan risih.

Argha kembali berbalik, berdiri di dekat pintu dengan khawatir. Toh dia tidak paham apa yang mereka bicarakan, siap menyela jika mereka kemudian memutuskan untuk saling tonjok. Percakapan mereka dalam bahasa Bali, sialnya sehingga Argha benar-benar tidak paham apa yang mereka ributkan. Dia berdiri di sana, dengan punggung menghadap pintu menunggu Abhimanyu dan Khrisna membereskan urusan mereka.

“Kataku tidak.” Abhimanyu meninggikan suaranya, sekarang terdengar sangat marah dan tersinggung. Suaranya bukan lagi suara Abhimanyu yang biasa, terdengar lebih berat dan parau oleh emosi. “Aku tidak mau bertemu Ibuk. Harus berapa kali kujelaskan pada Kakak aku tidak mau bertemu Ibuk, apa pun alasannya.”

Argha menahan napasnya. Ini urusan keluarga, pikirnya dan sedikit menjauh. Tidak enak jika menguping obrolan mereka. Argha tahu masalah istri pertama ayah Abhimanyu, mendengar cerita tentang bagaimana perempuan itu melampiaskan sakit hatinya pada ayah Abhimanyu ke anak kecil yang tidak paham apa pun.

Abhimanyu terdengar marah, sedikit gemetar ketika menolak permintaan kakaknya. Argha tidak terlalu bisa memahami bahasa Indonesia mereka karena menggunakan logat Bali yang kental dan pengucapan yang berbeda dari yang Argha pelajari, namun dia bisa mendengar betapa jengkelnya Abhimanyu.

“Kita coba,” Khrisna bersuara, sedikit memohon. “Sebentar saja. Kita selesaikan bersama Ibuk sebelum Kakak kembali ke Singapura.”

Abhimanyu menarik napas marah. “Jadi semua diburu-buru karena jadwal Kakak sibuk, ya?” Tanyanya dan Argha bisa mendengarnya mencibir saat mengatakan itu. “Memang, ya? Semua hal di keluarga ini harus memikirkan kesibukan Kakak, kebutuhan Kakak, semuanya harus disesuaikan dengan Kakak.”

“Utu,” bisik Khrisna, namun masih cukup keras untuk didengar Argha. Dia terdengar letih dan bingung. “Maksud Kakak...,” katanya lemah dan Argha tahu Khrisna tidak memiliki pembelaan apa pun; dia memang memprioritaskan dirinya sendiri.

Maka Argha memutuskan untuk melerai mereka, tidak mau merusak suasana hati Abhimanyu. Memangnya hanya Khrisna yang bisa egois mengenai kebutuhannya? Argha berdeham keras, mendorong pintu terbuka persis saat kedua saudara itu menoleh. Khrisna menatapnya, terbelalak—mungkin tidak menduga Argha akan muncul di kos adiknya.

Hello, Khrisna.” Sapanya ramah dan lembut. “I apologize for eavesdropping your conversation but I can't help since you were shouting at each other.” Dia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.

But from what I've heard,” Argha tersenyum memesona pada Khrisna yang balas menatapnya. “I believe Abhimanyu has already been very clear about what he wants?”

Rahang Khrisna sejenak mengencang lalu menghela napas. “It's something personal.” Sahutnya parau, menggambar garis antara dirinya dan Argha—terdengar seolah dia lebih paham tentang adiknya dibanding Argha.

Yes, I agree.” Argha tersenyum tenang, menghela napas dan meletakkan clutch-nya di depan tubuh. “But I also believe that 'no' means 'no'. It doesn't mean 'convice me', Khrisna.”

Khrisna menatapnya dan sejenak Argha takut dia akan menyerang Argha. Dia bisa jadi lebih tua—jauh lebih tua, tapi tubuh Khrisna lebih tinggi dan bidang darinya. Tapi apakah lelaki seperti Khrisna adalah tipe yang menyerang dengan kekerasan? Argha pikir tidak, dia lebih ke arah diplomatis. Menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, salah satu karyawan gemilang jika mengutip pendapat Sebastien.

Tapi menjadi sangat pintar, memiliki risikonya sendiri. Ketidak mampuan merasakan emosi, tidak mampu menyesuaikan diri dengan rekan kerja, menganggap semua orang bisa diatur dan lebih rendah darinya—dalam beberapa kasus ekstrim.

Learn to respect your younger brother's decision.” Tambah Argha, perlahan namun tegas. Menggunakan nada yang selalu dia pakai jika harus menegur bawahan yang 'sok pintar'. “He's old enough to make his own without being told what to do.”

Khrisna masih menatapnya dan Argha bisa melihat pergulatan batin di matanya—dia ingin menjawab, Argha bisa melihatnya. Ingin menguliahi Argha mengenai betapa dia paham tentang kebutuhan adiknya, paham apa yang adiknya inginkan, dan bahwa keputusannyalah yang terbaik untuk Abhimanyu.

Argha membalas tatapannya tenang, menantangnya untuk mengatakan isi kepalanya. Dia sudah siap bersilat lidah di sana, membela Abhimanyu yang berdiri di depan Khrisna dengan wajah merah padam oleh amarah. Argha tidak tahu seberapa parah kerusakan yang disebabkan oleh pelepasan emosi salah sasaran ibu tiri Abhimanyu pada anak itu, tapi dari keengganannya bertemu dengan perempuan itu bahkan setelah dibujuk, Argha yakin cukup parah.

Namun akhirnya kakak Abhimanyu menghela napas dalam dan membuang wajah dari Argha, menatap adiknya dengan kekecewaan pekat di wajahnya. Argha menggertakkan gigi; tidak menyukai serangan emosi itu pada Abhimanyu dan bisa melihat efeknya saat itu juga. Kilatan rasa bersalah menyeruak di mata sewarna karamel Abhimanyu menyambut kekecewaan Khrisna yang sebenarnya sama sekali tidak beralasan.

“Dia tidak perlu bertanggung jawab atas kekecewaanmu.” Tegur Argha sekali lagi, mengepalkan tangannya. Jika dia menonjok Khrisna, apakah Khrisna akan membalasnya? “Dia memilih untuk tidak melakukannya, maka kau harus menghormati keputusannya alih-alih membuatnya merasa bersalah karena telah memprioritaskan dirinya sendiri.”

Khrisna mengerjap, menoleh pada Argha dengan terganggu. Argha memicingkan matanya, Khrisna memang anak ayah Abhimanyu jika begitu. Atau Khrisna tidak paham pada konsep 'menghormati' keputusan orang lain?

Dan sebelum mereka sempat berargumen, Abhimanyu membuka suaranya. Parau dan lelah. “Pulanglah, Kak. Aku tidak ingin bertemu denganmu.” Desahnya berat dan Argha bergegas menghampirinya, ingin menyokongnya jika terjatuh.

Khrisna menangkap gerakan itu dan jelas sekali takut. Argha tidak paham ketakutan apa yang berkilat di matanya dan bahkan kenapa dia merasa seperti itu, namun semuanya terjawab detik itu juga. Ketika Khrisna menyerah, berbalik dan hendak pergi dari sana; dia menyempatkan diri berhenti di depan pintu dan mengatakan:

“Dia berbahaya. Aku sudah memintamu menjaga jarak darinya.”

Argha menyunggingkan senyuman, memahami usaha Khrisna melakukannya karena dia menggunakan bahasa Inggris. Jelas ingin Argha tahu apa yang dipikirkannya tentang Argha. Tidak perlu Einstein untuk tahu siapa dia yang dimaksud Khrisna.

“Diam.” Bentak Abhimanyu pada kakaknya, mengepalkan tangannya di sisi tubuh dan siap menyerang kapan saja Khrisna memutuskan untuk mengetes keberuntungannya lagi.

Khrisna menatapnya, mengerutkan alisnya sebelum berbalik. “You've been warned.” Tambahnya dingin lalu melangkah pergi dari sana.

Setelahnya, hening. Abhimanyu gemetar di sisi Argha, menahan amarahnya. Argha mengulurkan lengannya, memeluk Abhimanyu erat walaupun pemuda itu tidak membalasnya karena marah. Argha mengusap punggungnya lembut, menenangkannya dengan perlahan dan menunggu amarahnya mereda perlahan.

“Maaf,” bisik Abhimanyu kemudian dan Argha menatapnya.

“Untuk?” Balasnya lembut, tersenyum.

“Kata-kata kakakku.” Abhimanyu menatapnya dari balik bulu matanya. Wajahnya merah padam oleh amarah, namun juga bersalah pada Argha karena kata-kata Khrisna yang sebenarnya sama sekali tidak membuat Argha tersinggung.

Doudou,” bisik Argha, mengusap pipi Abhimanyu dengan tangannya lalu menepuknya sayang. “It takes more than that to hurt me,” dia mengedipkan sebelah matanya dan Abhimanyu mengerjap sebelum perlahan tersenyum. “It's pretty normal, by the way, to have someone thinks I'm not good for them. So, it's nothing.”

I know,” dia kemudian menumpukan keningnya pada kening Argha, memeluk pinggangnya dan mengeratkan pelukannya; menarik Argha mendekat padanya. “I know, but still.” Bisiknya.

Argha terkekeh. “Kita akan makan malam, oke? Tidak boleh sedih.” Dia menepuk punggung Abhimanyu sayang lalu menyisiri rambut ikalnya. “Kita lupakan tentang kakakmu.”

Abhimanyu memeluknya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Argha dan menarik napas dalam-dalam. Argha terkekeh, membalas pelukannya dan berharap dia bisa menenangkan Abhimanyu setelah serangan emosi Khrisna tadi. Mereka bersidiam dengan Abhimanyu mendekap Argha begitu erat selama beberapa menit di sana dan Argha tidak keberatan. Dia mengusap punggung Abhimanyu sayang, menyisir ikal rambutnya perlahan dan merasakan betapa dia sangat... terikat pada anak ini.

Argha memejamkan mata, menumpukan kepalanya di atas kepala Abhimanyu. Menghirup aroma samponya yang mulai terasa familiar. Merasakan hangat menjalar di tubuhnya, membuat ujung-ujung jemarinya berdenyar lembut. Argha menyukai Abhimanyu. Sangat menyukainya.

Mungkin memang sudah menyukainya di hari pertama lelaki itu mencuri perhatian Argha di Starbucks, mungkin sudah juga di hari kedua mereka bertemu di dapur Le Gourmet yang berantakan. Mungkin juga sudah di hari ketiga Argha menatapnya, berdiri di sisinya untuk melaksanakan servis—tidak ramah, namun tetap manis dan mengundang.

Mungkin juga sudah ketika Argha memojokkannya di dekat ruangan Arsa, melawan keinginan impulsifnya untuk mencondongkan tubuh dan mengecup Abhimanyu; mencuri satu ciuman saja dari sana untuk memuaskan rasa penasaran Argha pada rasa Abhimanyu.

Mungkin sudah, namun Argha tidak menyadarinya.

Dia tersenyum, mengecup kepala Abhimanyu dalam dan lama. Dia menghabiskan sembilan tahun untuk menangisi Yukio, berharap dia akan berubah pikiran dan kembali pada Argha. Siapa sangka sakit hati dan perjuangannya ternyata membuahkan hasil; bukan Yukio, namun semesta menggantinya dengan Abhimanyu.

Je t'aime bien.” Bisik Argha lembut, selirih angin dengan helaian rambut Abhimanyu di wajahnya. I like you.

“Apa?” Tanya Abhimanyu, ternyata mendengarnya dan Argha tergelak.

Dia pengecut, karena sejauh ini hanya berani mengatakan perasaannya dalam bahasa Prancis—bahasa yang tidak dipahami Abhimanyu. Namun dia perlu memastikan bahwa Abhimanyu cukup serius padanya sebelum membuka diri karena sejak awal, anak itu terang-terangan menunjukkan bahwa dia menginginkan seks dari Argha.

Komitmen adalah hal yang menakutkan, dia dan Sebastien sepakat mengenai itu. Mendedikasikan seluruh hidup pada satu orang, menyesuaikan prinsip dan bahkan mewujudkan harapan bersama bukanlah hal yang mudah. Berlaku seumur hidup. Dia tidak mau melompat ke dalam sana sebelum memastikan bahwa pasangannya adalah orang yang tepat.

“Tidak apa-apa,” sahutnya lalu mengeratkan pelukannya sekali sebelum melepaskannya. “Kita pergi makan?”

Abhimanyu tersenyum, sudah nampak lebih baik. “Ayo,” katanya parau lalu melepas pelukannya pada Argha lalu meraih ponsel dan dompetnya—dia menyelipkan dompet ke saku belakang celananya dan ponsel ke saku sampingnya. “Biarkan aku yang mengemudi.” Dia mengulurkan tangan.

Argha mengangguk, memberikan Abhimanyu kunci mobilnya. “Kau baik-baik saja?” Tanyanya.

Anak itu menghela napas lalu mengangguk. “Baik.” Dia menoleh pada Argha lalu tanpa peringatan, merunduk untuk mencuri ciuman dari bibir Argha—melumatnya lembut dan lambat, meletakkan satu tangannya atas tulang ekor Argha.

“Sangat baik.” Bisiknya parau setelah mencium Argha.

Argha tersenyum, mengulurkan tangan dan mengusap bibir Abhimanyu dengan ibu jarinya. “Great then,” bisiknya lalu mengecup bibir itu sekali lagi; mendesah pada rasanya.

Abhimanyu merengkuh tubuhnya, mengecupi bibirnya perlahan. Merasakan Argha dalam tiap kecupannya, mengusap bibir Argha lembut dengan bibirnya, bahkan tersenyum dalam ciumannya. Argha mabuk, tidak pernah merasa begitu hanya karena ciuman. Kepalanya berputar, dia tertawa kecil ketika Abhimanyu mengecupi garis rahangnya main-main.

We eat?” Tanyanya sekali lagi ketika Abhimanyu mengecup lehernya pelan dan sehalus sayap kupu-kupu.

Can I eat you instead?” Tanya Abhimanyu, setengah merajuk dan Argha tergelak, menepuk pantatnya dengan gemas lalu meremasnya.

Nope.” Sahutnya lalu mendorong Abhimanyu lembut dari atas tubuhnya, menolaknya dengan cukup tegas tanpa membuatnya tersinggung.

Abhimanyu mendesah, mengedikkan bahu lalu mendekatkan wajahnya ke Argha. “Can I have a kiss on my cheeks then?” Tanyanya manja dan Argha tergelak.

This kiddie,” desah Argha lalu mengecup pipinya, lama lalu berpindah ke sisi satunya. “There. You happy?” Dia menepuk pipi Abhimanyu sayang.

Here?” Abhimanyu menyeka rambutnya naik dari keningnya, menunjuk tempat itu. “One here, please?” Dia menunjukkan telunjuknya pada Argha, menatapnya dengan mata berbinar seperti seekor anak anjing menggemaskan.

Argha tergelak, mengecup keningnya sayang. “Happy now?” Tanyanya lagi.

Abhimanyu memajukan dagunya dan mengerucutkan bibirnya usil. “Here??” Tanyanya, menunjuk bibirnya dan Argha terkekeh.

“Kau rewel juga, ya?” Keluhnya bermain-main lalu mengecup bibir Abhimanyu, sengaja membuat suara decak keras ketika melakukannya dan Abhimanyu tertawa ceria; seperti bayi yang diberi permainan baru. “Sudah? Senang?”

“Senang.” Sahut Abhimanyu, meraih tangan Argha lalu mengecup buku jemarinya sayang dan mengusapnya—menggenggam telapak tangan Argha di kedua tangannya hingga hangat dan mengecupnya. “Aku suka sekali padamu.” Bisiknya.

Argha menahan napas. Itu pertama kalinya Abhimanyu mengungkapkan perasaannya. Bukannya Argha tidak tahu, dia selalu melihatnya dalam sorot mata Abhimanyu, dalam tindakannya, perhatiannya; namun mengucapkannya adalah hal yang berbeda sama sekali. Mengucapkan berarti mengakuinya, menerima perasaan itu.

Dia menatap Abhimanyu, tersenyum kecil. Jantungnya berkepak di dalam dadanya; kuat, namun dalam dan lambat. Sedikit menyakiti rusuknya, namun membuatnya merasa hangat.

You do?” Tanyanya.

Abhimanyu mengangguk. “Very much.”

Argha merasa wajahnya menghangat dan senyuman di bibirnya terbit, hingga menyakiti otot pipinya. “Good.” Bisiknya tercekat, gugup. “Great.”


Abhimanyu berjalan di sisi Argha, memutuskan untuk memarkir mobil mereka di Le Gourmet dan berjalan kaki ke restoran ramen kesukaan Argha—walaupun dia tidak mengakuinya.

Sunset Road ramai, seperti biasa. Ada banyak wisatawan yang tumpah ruah ke jalanan menikmati suasana malam Kuta yang melegenda ke mancanegara walaupun Abhimanyu secara pribadi tidak yakin apa yang sebenarnya mereka nikmati di Kuta selain kemacetan dan lautan manusia.

Jika itu Abhimanyu, dia lebih suka pergi ke wilayah Bali yang lain. Singaraja misalnya dengan banyak air terjun eksotis yang tidak terjamah wisatawan, atau Tabanan. Kintamani. Ada banyak sekali wilayah Bali lain yang bisa dikunjungi namun wisatawan memilih untuk bedesakan di Kuta dan Ubud.

Abhimanyu menggenggam tangan Argha, mengayunkannya ceria sambil bersiul ketika melangkah di atas trotoar yang ramai. Sesekali harus maju ketika berpapasan dengan tamu lain, bersikap sopan dengan berdiri di depan Argha untuk menjaganya. Lelaki itu nampak santai namun tetap menarik, Abhimanyu melihat beberapa orang melirik Argha dan berhenti ketika bertemu mata dengan Abhimanyu.

Enak saja, mereka pikir mereka siapa bisa memandangi Argha seperti itu? Maka Abhimanyu menatap mereka, menunggu mereka menyadari tatapan Abhimanyu lalu memberikannya tatapan sinis; melirik mereka dari atas ke bawah, melirik kakinya lalu membuang wajah. Teknik yang selalu sukses mengusir pandangan tidak diinginkan.

Sementara Argha di sisinya, tidak terganggu sama sekali. Dia mengenakan kemeja lembut dengan dua kancing teratasnya terbuka. Memutuskan untuk tidak menggunakan blazernya. Kemeja itu berlengan panjang, longgar dan nyaman dalam cuaca Kuta yang sedikit gerah. Dia menyugar rambutnya yang sudah lumayan panjang, menyentuh telinganya beberapa kali dengan tangan kirinya yang juga menggenggam clutch, sementara tangan kanannya dalam genggaman Abhimanyu.

Restoran ramen kesukaan mereka tidak terlalu ramai, itu membuat Abhimanyu senang. Tidak ingin berdesakan dengan siapa-siapa malam ini, ingin memiliki malam yang lambat bersama Argha sebelum besok mereka kembali bekerja. Abhimanyu menyingkap penutup pintu di atas pintu masuk restoran, mempersilakan Argha mendahuluinya sementara dari dalam seseorang meneriakkan sambutan.

いらっしゃいませ!” Welcome!

“Kau ingin duduk di sana lagi seperti kemarin?” Tanya Argha, berdiri di depannya dengan tangan mereka masih bertaut—Abhimanyu tidak lagi peduli pada pandangan orang-orang padanya, lagi pula mereka tidak menggaji Abhimanyu.

Abhimanyu melirik bar di depan open kitchen, membayangkan hawa panas yang bertiup ke wajahnya saat juru masak merebus mie membuatnya menggeleng. “Bisakah kita duduk di tempat yang lebih sepi?” Sahutnya.

Argha mengedarkan pandangannya dan menoleh, “Di sana?” Tanyanya, menunjuk kursi di sudut.

Kursi itu jauh dari pusat restoran dan nampaknya memberi mereka lebih banyak privasi, maka Abhimanyu mengangguk. Argha memintanya menunggu di sana sementara dia memesan makanan; sedikit bernostalgia menggunakan bahasa Jepang-nya pada pemilik restoran yang adalah orang Jepang asli.

Dia bahkan nampak sangat bersemangat menghampiri open kitchen di mana semua juru masak sedang mengurus pesanan. “こんばんは、おじいさん!” Good evening, Uncle! Sapanya dengan nada ramah.

Abhimanyu tersenyum, sejenak mengamati interaksi Argha dengan pemilik restoran yang menyambutnya dengan senang. Mengangguk-angguk sambil mengulurkan tangannya. Argha menyambut jabatan tangannya dengan sedikit gurat jijik di wajahnya yang Abhimanyu tahu, tidak bisa dikontrolnya. Namun dia berhasil untuk tidak bergegas mengelap tangannya, alih-alih dia meraih sehelai tisu di meja—dengan pelan-pelan dan lembut, mengelap tangannya seraya mengalihkan perhatian pemilik dari tangannya.

Mereka mengoceh dalam bahasa Jepang, sehingga Abhimanyu akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi mereka dan menunggu. Argha masih tertawa di sana, mengangguk-angguk ceria ketika pemilik mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang yang panjang dan memusingkan—mungkin menceritakan masa mudanya.

Dia duduk di sana, bertopang dagu mengamati Argha yang masih mengobrol. Namun dengan mulus di bawah meja menyemprotkan antiseptik ke tangannya dan mengusapnya—membuat gerakan itu terlihat sangat natural. Abhimanyu jadi penasaran apa penyebab dari OCD Argha. Dia membaca tentang itu, menemukan ada beberapa sub-type OCD dan menyadari bahwa pengetahuannya tentang OCD selama ini masih sangat terbatas.

OCD secara sederhana adalah reaksi yang kompulsif akibat obsesi dari penderitanya. Obsesi pun ada bermacam-macam tipe; kebersihan, keteraturan, mengecek sesuatu, dan bahkan seks. Ada pula yang tipe obsessional di mana mereka memiliki pikiran-pikiran tidak nyaman mengenai sesuatu seperti tidak mau berada di urutan 13 karena angka itu berarti sial atau harus melangkah keluar dengan kaki kanan pertama agar tidak ada yang mati, melompati garis sebanyak tujuh kali jika tidak mau celaka—secara berlebihan hingga obsesif. Di beberapa kasus, ada pula obsesi terhadap penampilan, hubungan, bahkan kehidupan.

Abhimanyu selama ini berpikir OCD hanyalah sekadar suka keteraturan dan tidak suka kotor. Namun membaca beberapa jurnal tentang itu membuatnya menyadari bahwa hal itu jauh lebih kompleks. Lebih karena penderita tidak bisa menolong diri mereka sendiri untuk merasa seperti itu.

Seperti Argha, dia mungkin berusaha untuk menenangkan dirinya bahwa tidak ada bakteri atau kuman jika bersentuhan dengan seseorang. Tetapi otaknya sudah terlanjur menakut-takutinya dengan membayangkan bahwa dia akan sakit parah jika tidak mencuci tangannya, bahkan kematian. Membuatnya merasa jijik berlebihan hingga ke tahap sulit dikontrol dan menyulitkan kegiatan sehari-harinya.

Mempelajari itu membuat Abhimanyu bisa memposisikan dirinya di sekitar Argha. Dia membantu lelaki itu, berharap bisa memperingan rasa anxious di kepalanya. Abhimanyu memberikan Argha sandal rumah di kosnya, selalu membersihkan ruangan sebelum Argha menyentuh apa pun, menggosok kamar mandinya, juga menyediakan alat mandi baru untuk Argha—khusus diletakkan di kotak obat terbersih di kamar mandinya.

Dan dia senang ternyata usahanya berhasil membuat Argha nyaman.

“Maaf, lama.” Argha tiba di depannya, wajahnya memerah karena ceria dan langsung meraih botol antiseptik—menyemprotkan banyak-banyak ke tangannya dan mengusap keduanya, nampak lebih nyaman sekarang.

“Ini,” Abhimanyu mengulurkan tas kecil Argha yang terisi alat makan miliknya sendiri, sejak tadi dibawakannya untuk Argha.

“Trims, Doudou.” Sahutnya tulus, menerima kantung kecil itu. Isinya berdenting berisik ketika bergoyang; isinya adalah sendok, garpu, sepasang sumpit, dan sedotan stainless.

Semuanya, menurut Argha, selalu dicuci bersih dan dikeringkan sebelum digunakan. Sebastien juga memberikannya alat untuk mensterilisasi alat makannya yang membuat Argha semakin nyaman. Abhimanyu semakin penasaran pada isi vila Argha, pasti begitu bersih dan teratur.

“Aku memesankanmu sesame ramen dengan ekstra chicken chashu.” Dia mengeluarkan kotak tempatnya menyimpan alat makan dan menatanya di meja dan Abhimanyu mengamatinya dengan senyuman kecil di bibirnya. “Aku juga menambahkan nasi untukmu, karena kau suka makan.”

Abhimanyu tergelak pada kalimat terakhir. “Trims, Sayang.” Katanya, meraih botol antiseptik Argha dan membasuh tangannya sendiri sebelum menyentuh tangan Argha.

“Aku cepat hafal, 'kan?” Argha menyerigai, senang dan Abhimanyu mengangguk—hatinya hangat. Senang melihat betapa rileks Argha di sekitarnya hingga dia tidak lagi perlu repot-repot menggunakan topeng sensualitasnya.

Tapi dari yang diamati Abhimanyu sejauh ini, Argha memang secara natural menggoda. Pembawaannya begitu mengundang rasa penasaran, dia indah dan menakjubkan. Mencuri napas siapa saja yang berpapasan dengannya. Gerak-geriknya tanpa disengaja begitu sensual dan penuh misteri; membuat siapa saja merasa penasaran, Abhimanyu yakin dia tidak ingin menggoda siapa pun.

Dan dia senang—sedikit bangga bahwa Argha Mahawira yang mungkin bisa mengencani siapa pun yang diinginkannya di dunia ini, memilih dirinya. Dia bisa saja menunjuk seseorang dan orang itu akan langsung menuruti dirinya atau berbahagia dengan Sebastien yang kaya raya dengan dua ratus juta per bulannya.

Tapi tidak.

Dia memilih Abhimanyu.

“Argha?”

“Hm?”

“Terima kasih.” Karena memilihku.

“Untuk?”

Abhimanyu tersenyum. “Tidak tahu,” katanya menyugar rambutnya. “Aku hanya ingin berterima kasih padamu.”

Argha mengerjap, menatapnya sejenak dengan mata gelapnya yang serupa onyx yang mengilap setelah diasah sebelum senyuman terbit di bibirnya. “Kembali kasih, jika begitu.”

Argha begitu indah—sangat indah.


ps. ehe :3


French:

“Je t'aime bien” berarti “I like you”, berbeda dengan “Je t'aime” yang berarti “I love you”.

ps. carefuuuuuuul with youuuuuur heaaaaartt :p


Argha membuka matanya, menghela napas dan menguap tertahan. Terbangun di tengah malam karena haus dan menyadari seseorang memeluk pinggangnya erat, bernapas di dadanya.

Dia mengangkat wajahnya sedikit, menunduk dan melihat rambut ikal Abhimanyu di bawah dagunya. Abhimanyu meringkuk dalam pelukannya, menempelkan wajahnya di dada Argha dan mendengkur lembut seperti bola gendut yang hangat. Argha tersenyum, mendesah panjang lalu mengangkat tangannya—mengusap kepala Abhimanyu sayang. Dia pikir setelah semua pertunjukan kedewasaan Abhimanyu belakangan ini, dia akan berhenti menjadi little spoon ketika tidur.

Ternyata sama saja, selalu ingin menjadi little tiap kali Argha menemaninya tidur seperti saat Argha pertama bersamanya melalui kesedihannya tempo waktu. Tapi Argha tidak keberatan.

Dia merasakan Abhimanyu menggumam samar, mengeratkan pelukannya dan menyamankan dirinya dalam pelukan Argha. Juru masak senior itu terkekeh tanpa suara, memeluknya semakin erat dengan tubuhnya. Mengecup puncak kepalanya lalu menghela napas panjang—merasa nyaman untuk pertama kalinya.

Argha merasa hangat setelah sekian tahun. Akhirnya dia merasa diterima, merasa diinginkan, dan dibutuhkan secara tulus—bukan lagi karena hubungan seksual. Emosinya dihargai, kebutuhannya didengarkan. Seseorang benar-benar membuka kedua tangannya, menyambut Argha dan segala kekurangannya. Abhimanyu menyadarkan Argha bahwa dia masih bisa mencintai, bisa merelakan hubungannya yang sudah karam bersama Yukio dulu, dan bahwa dia layak untuk dicintai.

Bahkan ketika bersama Yukio, Argha tidak pernah menunjukkan sisinya yang manja. Selalu merasa dia harus dewasa agar Yukio bisa bersandar padanya. Namun Abhimanyu mengajarinya untuk melepaskan emosi itu, tidak memandangnya aneh atau menilainya buruk karena dia bersikap seperti itu di usianya yang sebentar lagi genap empat puluh. Secara naluriah bersikap lebih dewasa di beberapa kesempatan sehingga Argha merasa dia bisa bergantung pada Abhimanyu.

Clingy jalur diabaikan orang tua atau terlalu dimanjakan orang tua?” Tanyanya tadi sebelum terlelap ketika Argha memeluknya, memejamkan mata tenggelam dalam aroma tubuhnya yang terasa sangat familiar.

“Terlalu dimanjakan orang tua,” sahut Argha terkekeh. Teringat bagaimana hidupnya sebelum semuanya jungkir balik; dia anak tunggal dari keluarga kaya dan memiliki orang tua langka yang selalu menyisihkan waktu mereka untuk mendengarkan Argha.

Mereka bahkan tidak memaksa Argha melanjutkan bisnis keluarga seperti kebanyakan orang. Ayahnya mempersilakan Argha memilih masa depannya sendiri dan memastikan Argha mendapatkan yang terbaik untuk meraihnya. Dia menyadari sekali hak khusus yang didapatkannya sejak lahir karena menjadi anak tunggal di keluarga hangat yang kaya.

Setelah orang tuanya meninggal, Argha kehilangan kendali atas hidupnya. Tidak bisa merasakan kehangatan itu lagi, kebingungan seperti anak burung yang baru menetas dan tidak menemukan ibunya di sarang. Lalu merasa bahwa dia harus bersikap tegar, harus kuat agar bisa tetap hidup dan bertahan. Dan kasih Yukio saat dia bersikap dewasa dan tenang, membuatnya yakin bahwa itulah yang seharusnya dilakukannya.

Dewasa dan tenang.

Namun Abhimanyu, anak manja menggemaskan yang bisa mendadak menjadi begitu pengertian dan dewasa, telah menyadarkan Argha. Dia tertawa ketika Argha bersikap manja dan menyebalkan. Mengecup tangannya, mengusap kepalanya sayang, memastikan Argha tidak terluka oleh tingkahnya sendiri.

Belum pernah ada seorang pun yang memperlakukannya begitu. Selalu menganggap karena Argha berusia tiga puluh sembilan tahun, maka dia harus diperlakukan seperti orang dewasa. Menjadi tempat bersandar dan tidak memberi Argha kesempatan untuk bersandar pada mereka ketika membutuhkan.

Ini mendesak Argha untuk mengambil posisi dewasa dan dominan dalam hubungan. Membuatnya takut untuk menunjukkan sisinya yang menginginkan perhatian. Akhirnya menyembunyikan sisi itu—yang kemudian dibangkitkan Abhimanyu dengan tindakan sesederhana mengusap kepalanya dan mengaitkan helm untuknya.

“Aku ingin memperbaiki diri,” katanya lagi tadi sebelum terlelap—setengah mengantuk. “Aku sudah terlalu menyakiti Cedrik selama dua tahun, aku ingin menjadi lebih baik. Aku tidak ingin siapa pun merasakan sakit yang dirasakan Cedrik. Kuharap... kau tidak keberatan?”

Jatuh cinta memang sederhana.

Argha tersenyum, menggeleng. Siapa pun alasannya, tidak masalah. Hal terpenting adalah Abhimanyu mau berubah dan belajar. Bersyukur dia memutuskan untuk belajar bersama Argha alih-alih kembali ke Cedrik. Abhimanyu paham bahwa kesempatannya untuk memperbaiki diri bersama Cedrik sudah habis.

“Kau juga... Dewasa.” Gumamnya, mulai terlelap dan Argha menimangnya sayang agar lekas tertidur. Menatap Abhimanyu yang menggumam setengah mengantuk dalam pelukannya dengan senyuman lebar di bibir. “Kau mengoreksiku dengan tegas, tidak pandang bulu. Tidak pernah... mewajarkan apa pun tingkahku? Memarahiku... Mengoreksi...” Dan dia akhirnya terlelap.

Menggemaskan sekali hingga Argha memeluknya erat, mengecup keningnya sayang. Memeluknya terasa seperti memeluk doudoubaby comforter. Membuat Argha merasa aman, nyaman, dan hangat. Aromanya manis dan lembut, pembawaannya hangat, mata serupa karamel yang sedang dilelehkan...

Teringat ketika dia melihat Cedrik di sisi Abhimanyu di Starbucks Reserve beberapa bulan lalu dan memutuskan untuk menyerah saja. Lalu dikejutkan pada fakta bahwa lelaki itu adalah second layer-nya yang sepat dan penuh dendam karena Argha dianggap merebut posisi yang diincarnya. Keadaan dapur ketika dia pertama kali berkunjung, kilatan rasa benci yang pekat dan mengejutkan di mata serupa karamel Abhimanyu.

Dan bagaimana Argha mendapati dirinya ikut campur terlalu dalam pada urusan pribadi Abhimanyu, mendesakkan dirinya ke ruang personal Abhimanyu hingga mendapatkan teguran keras, sebelum dia mundur. Sekuat tenaga menarik dirinya menjauh. Berharap dirinya benar-benar menyerah.

Hanya untuk mendapati dirinya tertarik semakin dalam pada pesona Abhimanyu; seperti laron mendekati cahaya dan kini berbaring di sisinya, di atas ranjang Abhimanyu; persis seperti apa yang selalu diimpikannya.

Je t'adore.” Bisiknya, membenamkan wajahnya di rambut ikal Abhimanyu yang sedikit kusut—beraroma keringatnya dan secercah bau jalanan setelah makan malam tadi. “Tu es mignon.” Dia tersenyum, mengecup kepalanya lalu mendesah—memeluk Abhimanyu yang terasa seperti boneka Teddy raksasa dalam pelukannya.

Je ne sais pas pourquoi je tombe profondément en toi...” Bisiknya, merasa lebih nyaman membisikannya dalam bahasa Prancis. Bahasa pertama yang digunakannya untuk melupakan bahasa Indonesia, selalu merasa lebih nyaman mengekspresikan diri dalam bahasa itu.

Tu es juste là, et je te veux. Ça a l'air fou,” Argha tersenyum, memejamkan mata dengan pipi bersandar di rambut Abhimanyu yang terasa empuk seperti permen kapas. “Mais, ça ne me dérange pas d'être un peu fou de toi.”

Dia mendesah, memejamkan mata sebelum kemudian sedikit melepaskan Abhimanyu dari tubuhnya. Argha bangkit, menjulurkan tubuhnya ke meja di sisi ranjang untuk meraih ponsel mereka yang diletakkan bersebelahan—sedang diisi daya. Argha mencabutnya, mengusap kepala Abhimanyu sayang dengan tangannya yang bebas lalu membuka kunci layar ponselnya.

Dia membuka Whatsapp dan mencari ruang obrolan monolognya pada Yukio. Menyadari bahwa pesannya sudah terkirim dari tanda centang ganda di status pesan dan mendesah, Yukio tidak akan membalasnya lagi. Argha tahu. Argha paham. Dia seharusnya sudah melakukan ini sejak lama, melepaskan hubungan ini. Melepaskan Yukio. Berbahagia.

Tapi jika dia melakukannya dulu, apakah dia akan bertemu Abhimanyu? Mungkinkah jalan hidup membawanya kembali ke Indonesia untuk bekerja bersama chef berbintang Michelin dan bertemu Abhimanyu sebagai bonusnya?

Atau Argha mungkin memilih negara lain? Tidak bertemu Christian, tidak mendapatkan informasi bahwa Arsa Mahardika yang profilnya sempat Argha baca dengan kekaguman tulus, mencari kepala juru masak untuk restoran Prancis-nya yang baru. Memberikan alasan Argha untuk kembali ke Indonesia.

Dia teringat keraguannya, berbulan-bulan memikirkan penawaran itu. Memikirkan potensi kembali ke Indonesia dan mungkin bertemu salah satu saudaranya yang tamak. Tapi mungkin paman-pamannya sudah mati bertahun-tahun lalu, sepupu-sepupu Argha tidak akan mengenalinya, 'kan?

Argha terus mempertimbangkannya. Maju-mundur, tidak yakin sebelum akhirnya membulatkan tekad dan menerimanya. Syukurlah Arsa tidak muak menunggunya memutuskan karena ternyata dia juga sangat membutuhkan Argha, tergiur oleh referensi yang dicantumkan Argha pada curriculum vitae-nya.

C'est probablement le moment. Le bon moment.” Gumamnya, menyisiri rambut Abhimanyu yang terlelap seperti bayi—sepertinya kelelahan. Mungkin inilah waktunya; waktu yang tepat untuk melepas Yukio, setelah Abhimanyu menyadarkannya.

Semesta menanti Argha bertemu Abhimanyu, membiarkannya berharap pada Yukio selama bertahun-tahun lalu meletakkan boneka lucu itu di pangkuan Argha dan mengambil Yukio darinya. Memberi tahu Argha, bahwa inilah saatnya dia berhenti.

Maka Argha menekan layar tempatnya mengetik pesan, menunggu hingga keyboard muncul dan menggantinya menjadi keyboard Jepang. Dia kemudian mulai mengetik:

Yukio, aku rasa inilah saatnya untuk aku berhenti...


Abhimanyu selalu tahu bahwa Argha Mahawira adalah lelaki paling indah yang pernah ditemuinya.

Namun tidak ada yang memperingati Abhimanyu tentang betapa indahnya wajah lelaki itu ketika baru bangun. Dia terlelap, satu tangannya memeluk Abhimanyu dan tangannya yang lain berada di atas perutnya—terlentang di kasur Abhimanyu dengan tubuh Abhimanyu meringkuk di pelukannya. Ternyata tetap berbaring dalam posisi yang sama sepanjang malam.

Abhimanyu bangkit dari posisinya, menelungkup dengan siku bertumpu di kasur menguap tertahan hanya untuk mengamati wajah Argha yang lelap. Matanya tertutup, bulu matanya yang panjang sedikit bergetar dalam tidurnya. Dia mendengkur, halus sekali seperti seekor kucing yang terlelap. Napasnya teratur dan aroma tubuhnya membuat Abhimanyu ingin membenamkan wajahnya di ceruk leher Argha—menghirupnya penuh-penuh.

Di luar, dia mendengar ibu kosnya mulai menyapu halaman. Kegiatan yang biasa dilakukannya sebelum mulai berdoa—membawa aroma dupa dan bebungaan, yang berarti ini sudah pukul enam pagi. Abhimanyu menguap sekali lagi, mengusap rambutnya yang mekar ke belakang dan menatap jam dinding. Benar, pukul enam lewat lima belas menit. Ibu kosnya selalu tepat waktu.

Biasanya, Abhimanyu akan bangun untuk membereskan kamar dan membeli sarapan. Atau mampir ke warung sayur beberapa meter dari kosnya untuk melihat apakah dia ingin memasak sesuatu. Tapi sekarang, dengan Argha di sisinya, beraroma lembut seperti ranjang, Abhimanyu tidak ingin bergeser sedikit pun.

Dia memeluk Argha kembali, mendesah senang dan menyusupkan kepalanya ke dada Argha; senang hingga kepalanya pening. Di luar dugaan, itu ternyata membangunkan Argha yang menghela napas berat dan parau sebelum berguling—memeluknya dan tergelak kecil.

Morning, Sayang?” Bisiknya dengan suara baru bangunnya yang mendebarkan.

Abhimanyu nyaris mendesah dengan menyedihkan mendengar suara parau Argha itu. “Morning, Babe,” sahut Abhimanyu senang, memeluknya. “Tidur nyenyak?”

“Hmm,” gumam Argha lalu menguap tertahan, membenamkan wajahnya di rambut Abhimanyu—bermalas-malasan. Dia menyelipkan jemarinya di rambut di atas tengkuk Abhimanyu, menyisirnya lembut. “Ya. Terima kasih. Kau?” Tanyanya, mengecup puncak kepala Abhimanyu.

“Nyenyak juga, trims.” Abhimanyu tersenyum, membelitkan kakinya ke kaki Argha yang kembali tertawa; parau dan setengah mengantuk. Tidak mau melepaskan diri dari Argha sama sekali. “Maaf membangunkanmu.”

“Tidak masalah,” Argha mengangkat tangannya, menyugar rambutnya dan kembali menguap. “Ini jam berapa?” Tanyanya, kembali memeluk Abhimanyu seperti memeluk bantal.

“Jam enam lewat,” Abhimanyu mendongak, melihat Argha memejamkan mata dengan wajah mengantuk—ada tanda garis seprai di sisi pipinya. “Kau mau sarapan? Mandi?”

Argha menggeleng, berdecak jengkel. “Kamu diam saja, berisik.” Gerutunya, mengeratkan pelukannya dan Abhimanyu terkekeh.

Dia menikmati ini. Pagi malas di hari Senin libur mereka bersama Argha yang memeluknya. Aroma dan hangatnya tubuh Argha, suara parau baru bangunnya, kecupan di kepalanya; tidak pernah merasa sesenang ini. Hatinya terasa penuh sekarang, hingga dia yakin dia bisa melakukan apa saja selama Argha memeluknya dan mengecup kepalanya sayang.

Sebastien benar. Argha sudah jatuh sedikit terlalu dalam pada Abhimanyu; dia bisa merasakan perubahan sikap Argha padanya. Mungkin memang sejak awal Argha sudah menaruh perhatian padanya; namun Abhimanyu bersikap terlalu agresif pada perhatian Argha. Pesan-pesan bernada personal, perhatian kecil, godaan terang-terangan saat bekerja dan Abhimanyu yang mungkin saja takut, malah balik menyerangnya. Mendorong Argha menjauh darinya.

Tapi memang apa yang ditakdirkan menjadi milik Abhimanyu, akan mendekat pada Abhimanyu—tidak peduli bagaimana pun caranya dia mendorong Argha menjauh.

“Sayang,” panggilnya, mengusapkan wajahnya di dada Argha—senang.

“Hm?” Sahut Argha setengah menggumam dan mengantuk. “Kamu berisik. Mau minta apa?”

Abhimanyu terkekeh. “My grumpy darling,” dia mengangkat wajahnya sedikit, mengecup leher Argha. “Kau memang selalu marah-marah, ya? Menurutmu itu memang sifatmu atau bawaan usia?” Tanyanya iseng lalu mengaduh ketika Argha mencubit keras pantatnya.

“Bisa tidak kau sehari saja tidak membahas usiaku?” Ancamnya, mengatakan itu dengan gigi terkatup sambil mengeraskan cubitannya.

Sayaaang!” Rengek Abhimanyu, mendesis sakit berusaha melepaskan capitan Argha di pantatnya. “Itu sakit, sungguh!” Abhimanyu menaikkan suaranya dan Argha melepaskan cubitannya yang sekuat capit kepiting.

“Jangan menyebalkan.” Tandas Argha, kemudian menepuk pantatnya dan mengusapnya; meremasnya sensual hingga Abhimanyu mendesis.

“Jangan menggodaku.” Keluhnya dan mendesah ketika tubuhnya bereaksi dengan sehat pada pagi hari serta sentuhan Argha. “Tuh, 'kan.” Dia menurunkan tangannya, membenahi posisi tubuhnya di dalam pakaiannya.

Mata Argha terbuka, tersenyum jahil ketika dia menurunkan tangan dan mengusap selangkangan Abhimanyu. “Wakey, wakey?” Bisiknya parau dan Abhimanyu berdecak jengkel.

“Jangan!” Bentaknya setengah hati, berusaha menjauhkan tangan Argha dari tubuhnya. “Argha!” Dia mendelik namun Argha tergelak tertahan. “Jika kau tidak akan membereskannya, maka jangan menggodanya.”

Argha mendesah, “Kata siapa?” Gumamnya, menyentakkan celana Abhimanyu terbuka lalu membungkus tubuhnya di bawah selimut dengan tangannya—tidak memberi Abhimanyu kesempatan untuk membela diri.

Dan Abhimanyu tidak keberatan.

Abhimanyu mendesis oleh sentuhan Argha, kepalanya mendongak ketika jemari Argha mulai membelainya. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Abhimanyu, membisikkan kata-kata kotor dengan begitu ahli seraya memijat tubuh Abhimanyu dengan perlahan—menyiksanya.

Abhimanyu tersengal, menumpukan keningnya di bahu Argha yang mengecupi sisi wajahnya dan menjilat telinganya. Terus membisikkan hal-hal kotor yang akan dilakukannya pada Abhimanyu sambil memberinya handjob dari surga. Tangan Argha yang lain terjepit di bawah lehernya, mengusap kepalanya dengan hangat.

Ooh, fuck!” Geram Abhimanyu, membuka mulutnya dengan mata terpejam. Merasakan sentuhan Argha dengan seluruh indranya yang siaga.

Argha di telinganya mendenguskan senyuman lembut, mengusap ujung tubuh Abhimanyu dengan ibu jarinya. “I know, Doudou. I know.” Bisiknya dengan sedikit superior—paham bahwa dia baru saja melakukan sesuatu yang disukai Abhimanyu lalu menjilat telinganya.

Jadi mungkin, Abhimanyu tidak terlalu membutuhkan sarapan pagi ini karena beberapa menit kemudian, dia mendorong Argha berbaring di ranjangnya dan menyelipkan wajahnya di antara selangkangan Argha. Mendapat sarapan yang jauh lebih baik lagi. Sempat berjengit kaget ketika Argha membentaknya jengkel, memintanya menggunakan kondom.

Dia menurutinya, apa saja demi membuat Argha nyaman.

Argha memang tidak mau melakukan seks dengan seorang perjaka, tapi ternyata dia tidak menolak blowjob Abhimanyu. Malah sangat menikmatinya dari caranya memeluk kepala Abhimanyu dengan kedua tungkai langsingnya.

Dan Abhimanyu sama sekali tidak keberatan.

I know, Babe. I know.” Sahutnya parau, meniru Argha seraya menyerigai ketika Argha mendesah panjang oleh kenikmatan karena mulutnya.


ps. ehe :p tidak semudah itu kisanak heuheuheu


French (jgn blg2 abhim y)

Je t'adore: I adore you

Tu es mignon: you're cute

Je ne sais pas pourquoi je tombe profondément en toi: I don't know why I fall deep into you

Tu es juste là, et je te veux. Ça a l'air fou mais, ça ne me dérange pas d'être un peu fou de toi: you are there and I want you. It sounds crazy, but I don't mind being a little crazy for you.

ps. carefuuuuuuul with youuuuuuur heaaaaaaart :p


Abhimanyu menyisir rambut ikalnya, mencoba membuatnya nampak sedikit rapi karena malam ini dia akan makan bersama Sebastien.

Dia belum pernah berada di dekat Sebastien, namun melihatnya dari jauh saja sudah cukup membuat Abhimanyu merasa terintimidasi. Dia tinggi, berisi, berwajah dingin dengan sorot mata yang nampak selalu meremehkan tanpa disengaja. Ekspresinya selalu merupakan topeng keramahan yang palsu dan berjarak, semua orang bisa melihat itu. Dan dia juga sangat kaya.

Kaya raya.

Menurut Khrisna, pendapatannya setiap bulannya mencapai dua ratus juta hanya dari permainan sahamnya; itu pendapatan rata-rata. Jika profitnya tinggi, dia bisa mendapat hingga satu-dua milyar. Belum lagi gaji dari pekerjaannya yang sudah berada di level direktur di perusahaan asing besar di Bali.

Tidak heran jika dia membelanjakan uangnya seperti uang recehan remeh. Pajak tahunan Mercedes-nya mungkin sama sekali bukan beban baginya. Dia punya vila pribadi dan juga bungalows di Ubud—memberikan Abhimanyu gambaran seberapa banyak uang yang mengalir ke rekeningnya. Dia punya properti di Ubud.

'Memelihara' Argha Mahawira jelas bukan masalah untuk Sebastien Ricci.

Memikirkannya membuat Abhimanyu pusing karena minder. Sebastien begitu kaya dan mapan; Argha bisa saja menunjuk pulau dan Sebastien membelikannya detik itu juga. Lalu jika dibandingkan dengan dirinya...

Abhimanyu memicingkan mata. Gajinya selama ini lebih dari cukup, dia selalu mensyukurinya. Abhimanyu bisa tinggal di kos yang nyaman, menyicil motor sendiri, dan menabung. Tapi jika dibandingkan dua ratus juta per bulan, dia hanyalah remah sisa rempeyek di sudut toples.

Dan bisa-bisanya dia mendekati Argha Mahawira yang mungkin harga satu botol skin care saja cukup untuk membeli harga diri Abhimanyu.

Satu-satunya hal yang bisa ditawarkannya hanya kasih sayang pula. Abhimanyu mencibir dirinya sendiri, menggaruk kepalanya dengan sedikit resah. Apakah dia sedang mendekati seseorang yang sama sekali tidak berasal dari levelnya? Haruskah dia menyerah sekarang?

Tapi kepalang basah, dia sudah terlanjur berbesar mulut pada Argha mengenai 'cinta dan ketulusan' beberapa hari lalu dan sekarang atasannya itu nampak lebih nyaman di sekitarnya.

“Mampus, deh.” Gumamnya setengah nelangsa, berusaha menidurkan ikal rambutnya dengan sisir dan gel rambut.

Sebastien meminta Abhimanyu untuk mengenakan pakaian kasual saja, tidak perlu terlalu formal. Maka Abhimanyu mengenakan kemeja tipis yang dipadukan dengan jas luaran berwarna abu-abu. Dia juga mengenakan jins gelap berpipa longgar dan berencana menggunakan sepatu-sandalnya yang semi-formal.

Masalahnya malam ini hanyalah rambut ikal sialannya yang tidak pernah mau diam. Selalu mencuat-cuat, mengembang seperti surai singa. Dia pernah mencatok rambutnya, berharap itu akan mengendalikan ikalnya namun dia malah terlihat seperti seekor tikus yang terjatuh ke dalam minyak. Itulah alasan mengapa Abhimanyu kemudian menyatakan selama tinggal pada catokan selama-lamanya.

Dia akhirnya menyerah berusaha menjinakkan rambutnya ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Sebastien akan menjemputnya pukul tujuh tepat dan Abhimanyu sedikit gugup pada ke mana dia akan dibawa. Dia bisa fine dining, tentu saja. Tapi apa yang harus diobrolkannya bersama Sebastien?

Abhimanyu tidak paham pekerjaan kakaknya, tidak juga bermain saham. Lalu apa yang bisa diobrolkannya dengan Sebastien selama mereka makan? Dia menggaruk pelipisnya, apakah dia melakukan hal yang salah?

Saat dia sedang terserang demam panggung karena akan makan malam dengan lelaki Italia kaya raya, pintu kamarnya diketuk. Abhimanyu berjengit kaget; apakah itu Sebastien? Kenapa dia tidak menunggu di depan saja?

Abhimanyu bergegas meraih tas selempang kecilnya yang terisi parfum cadangan, ponsel, dan dompet—berjaga-jaga jika Sebastien mengajaknya split bill lalu mengecek ponselnya. Berharap menemukan pesan Sebastien yang mengatakan dia akan menjemput sampai ke depan pintu. Ponselnya hening, tidak ada pemberitahuan apa pun dari Sebastien—tidak juga Argha yang nampaknya jengkel karena tidak diundang ikut makan malam.

Ketukan lagi, kali ini lebih menuntut dan Abhimanyu bergegas membuka mulutnya. “Ya! Sebentar!” Serunya lalu menyemprotkan parfum ke tubuhnya, menyugar rambutnya dan mendesah sebal—tidak bisa melakukan apa pun lagi atas rambutnya sebelum menghampiri pintu.

Dia membuka selotnya lalu menarik pintu terbuka hanya untuk menemukan Argha Mahawira berdiri di depan pintu dengan wajah jengkel bukan main.

“Oh.” Katanya, mengerjap. Kekagetan karena Argha muncul di kosnya tidak ada apa-apanya dibanding pakaian yang digunakan Argha hari ini.

Dia mengenakan kemeja sutera halus putih, tiga kancing teratasnya terbuka—terlalu terbuka tapi Abhimanyu tidak masalah. Melapisinya dengan jas berwarna toska lembut yang membuatnya nampak lebih langsing, memasangkannya dengan celana kain longgar berwarna biru muda dan sepatu kulit putih pointed. Di leher Argha tergantung kalung mutiara berwarna pucat, begitu pula di pergelangan tangannya; dia sedang memainkan bulirnya dengan jemari sambil menunggu Abhimanyu membuka pintunya.

“Wow.” Gumam Abhimanyu, mengerjap. “Kau nampak...” Dia berdeham, merona karena Argha sangat indah—membuatnya semakin minder mendekatinya karena Abhimanyu tidak punya dua ratus juta per bulan untuk membahagiakannya.

Alis Argha naik sebelah. “Apa?” Tanyanya.

Abhimanyu berdeham kikuk, memalingkan pandangannya seraya menyugar rambutnya lagi. Berharap dia tidak nampak berantakan berhadapan dengan Argha yang sangat rapi dan harum. “Memesona? Luar biasa? Indah?”

Argha mengerjap, sejenak diam memproses kalimat Abhimanyu sebelum tersenyum simpul. Dia mengangkat tangannya, aroma parfum kuat menghambur dari pergelangan tangannya ketika dia mengusap kepala Abhimanyu sayang—menyisiri ikalnya yang menyusahkan sejak tadi.

“Anak manis,” Argha tersenyum. “Kau pikir kau bisa pergi dengan Sebastien tanpa aku, ya?” Lanjutnya dengan nada dingin mengancam yang mengundang tawa rendah dari Abhimanyu.

“Kami akan bercinta setelah makan malam,” keluh Abhimanyu lalu mengaduh ketika Argha menjambak rambutnya sedikit. “Jika kau ikut itu berarti kita akan melakukan threesome dan—aduh!” Abhimanyu mengaduh keras sambil tertawa ketika Argha menguatkan cengkeramannya di kepala Abhimanyu.

“Sayang, sakit.” Rengeknya dan Argha melepaskan genggaman tangannya, merogoh saku dalam jasnya untuk mengeluarkan antiseptik kecil yang langsung disemprotkan ke telapak tangannya.

“Tapi kau tertarik?” Tanya Abhimanyu kemudian, ingin mengisengi Argha yang nampak sedang jengkel karena reaksinya menggemaskan sekali.

“Apa?” Balas Argha terganggu.

Threesome?”

You wanna die so bad, eh?”

Abhimanyu ingin berterima kasih pada Cedrik, walaupun rasanya tidak etis. Namun lelaki itu, ketika memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, memberikan banyak sekali sudut pandang baru untuk Abhimanyu. Memberikan banyak pelajaran yang bisa Abhimanyu gunakan dalam hubungan barunya saat ini, bersama Argha—meskipun mereka tidak satu kasta.

Dia mencontoh beberapa hal yang dilakukan Cedrik padanya, beberapa hal yang membuatnya nyaman ketika bersama lelaki itu. Bersikap lembut, perhatian, penyabar, dan hangat. Mungkin terkesan jahat karena dia menggunakan pendekatan Cedrik untuk mendekati orang lain. Tapi hanya dialah orang yang pernah mendekati Abhimanyu, memerhatikannya dan membuatnya nyaman sehingga Abhimanyu tidak memiliki pilihan lain.

Dan senang karena ternyata sikap Cedrik juga membuat Argha nyaman.

Mereka keluar dari kos Abhimanyu, mobil Argha diparkir di halaman kos dan berjalan hingga ke depan gang karena Sebastien tidak mau mengambil risiko memasukkan mobilnya ke gang sempit kos Abhimanyu. Argha melangkah di sisinya, nampak sangat indah sambil mengemit leather clutch-nya.

Mobil Sebastien mengilap sekali, membuat Abhimanyu rikuh karena teringat kekayaannya. Dia menurunkan jendela sisi penumpang, tersenyum memesona untuk menyambut Abhimanyu sebelum kemudian senyumannya luntur ketika melihat Argha bersidekap di sisi Abhimanyu. Ekspresinya ketika senyuman itu luntur sangat menggelikan sementara di sisinya Argha mendelik.

“Oh, boy.” Keluhnya dan Abhimanyu menahan tawanya sendiri. “Why did you bring your father tonight, Abhimanyu?” Tanyanya pada Abhimanyu yang tergelak.

Apologize, Sir. My father said this trip has to be supervised by parents.” Balasnya membuka pintu penumpang dan mempersilakan Argha memasukinya.

You will always ruin my fun, right?” Sebastien memicingkan mata pada Argha yang memasuki mobilnya.

Only when I can,” balas Argha, membalas tatapannya dengan sengit. “Which means, always. Memangnya apa urusanmu dengan Abhimanyu yang tidak boleh kuketahui?” Dia mendelik jengkel pada Sebastien yang memutar bola matanya di balik kemudi.

Abhimanyu memasuki mobil seraya tertawa, mau tidak mau sedikit merasa insecure ketika melihat betapa cocoknya Argha dan Sebastien bersanding; mereka berdua sama-sama indah, nampak agung dan menawan. Jika dibandingkan dengan Abhimanyu, dia sama sekali bukan apa-apa.

Sebastien menggunakan kemeja satin gelap dan celana kain yang membungkus kaki panjangnya dengan apik. Rambutnya disisir naik dengan rapi, tidak seperti rambut Abhimanyu yang pasti sekarang mencuat-cuat menyedihkan. Aroma mobilnya seperti pinus lembut, pengharumnya pasti bukan Stella. Joknya juga lembut, bersih, dan nyaman.

Abhimanyu menelan ludah, merasa gelisah sekarang. Kenapa dia setuju untuk pergi makan malam dengan Sebastien ketika dia tahu jelas dirinya akan dibanting ke tanah oleh kesenjangan sosial mereka?

“Abhimanyu,” panggilnya ramah dengan nada semanis madu dan Abhimanyu mendongak—membalas tatapannya dari spion tengah mobil. “Kita akan makan malam di Metis hari ini. Kau sudah pernah makan di sana?”

Abhimanyu mengangguk. “Sekali, Pak. Hanya untuk competitor survey bersama Chef Arsa.” Katanya, mencoba menggali ingatannya tentang rasa makanan di tempat itu.

Argha menoleh. “Competitor?” Ulangnya tertarik. “Dan kenapa saya tidak tahu?” Tuntutnya dan Abhimanyu meringis.

Metis menyajikan makanan Prancis juga, sama seperti mereka. Hanya saja setelah kunjungannya ke sana, Arsa merasa Metis tidak bisa disandingkan dengan Gourmet. Mereka memiliki banyak perbedaan besar, khususnya dalam segi seni plating dan penyajian. Gourmet juga memiliki wine ceiling terlengkap di Bali sebagai kekuatan utama dan konsistensi rasa makanan. Jadi mungkin itulah mengapa Arsa tidak memberi tahu Argha mengenai restoran itu.

“Mereka menyajikan menu Prancis juga, Chef. Tapi menurut Chef Arsa, makanan mereka tidak bisa disamakan dengan Gourmet. Jadi mungkin itulah mengapa Chef tidak memberi tahu Anda.” Jelas Abhimanyu saat mobil mulai meluncur mulus di jalanan menuju Petitenget.

Argha mencibir seraya mengangguk, nampak memikirkan itu. “Kebetulan sekali jika begitu. Saya juga harus merasakan makanan mereka.” Katanya, bersidekap dan bersandar di kursi mobil.

Sebastien melirik Abhimanyu dari spion tengah, menaikkan sebelah alisnya dengan usil dan Abhimanyu tersenyum lebar. Ternyata di balik pembawaannya yang dingin dan serius, Sebastien tetaplah lelaki biasa dengan selera humor dan rasa usil—mungkin hanya terbit untuk orang-orang tertentu. Dan Abhimanyu tidak tahu apakah dia harus merasa beruntung karena dia adalah salah satunya atau tidak.

So, Abhimanyu,” mulai Sebastien ringan ketika membelok di jalanan, sesekali melirik spionnya sebelum mendahului dengan mulus. “How old is your father?”

Abhimanyu mengerjap, sejenak kebingungan mengapa tiba-tiba Sebastien menanyakan usia ayahnya. Dia diam sejenak, tidak terlalu ingat usia ayahnya. “Around sixty, Sir.” Balas Abhimanyu sopan. “I think he was born in 1960-something?”

“Ah, twenty years.” Gumam Sebastien mengangguk-angguk kalem sambil lalu, namun masih cukup keras untuk didengar semua orang.

Argha langsung merasa diserang secara personal, menoleh dengan raut wajah sangat jengkel hingga Abhimanyu takut pembuluh darah di pelipisnya meledak karena menahan amarah. “What do you mean by twenty years, you motherfucker?!”

Sebastien menoleh, memasang wajah kaget yang dibuat-buat dan Abhimanyu harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa. “Apa?” Balasnya, berpura-pura bodoh. “Aku tidak mengatakan dua puluh, kataku 'ah, enam puluh, ya?'”

Argha memicingkan matanya. “Kau jelas-jelas mengatakan dua puluh tadi!” Sahutnya sengit. “Apa maksudmu dengan dua puluh?!”

“Kau tahu,” Sebastien mengangguk serius. “Terkadang ketika usiamu melewati tiga puluh lima, kau suka berhalusinasi mendengarkan sesuatu yang tidak diucapkan.” Dia menyentuh telinganya sendiri. “Kau harus ke THT, Argha.”

“Kurang ajar!” Geram Argha, semakin mengamyk karena jawaban Sebastien. “Aku dengar jelas kau bilang dua puluh! Dan kenapa dua puluh!?”

Sebastien menatap Argha seolah sepasang tangan tumbuh dari lehernya. “Aku tidak bilang dua puluh! Malah aku pikir setidaknya sepuluh tahun!” Tambahnya lalu mengaduh keras ketika Argha memukul rusuknya—keras, jika dinilai dari suara terkesiap Sebastien.

“Apa yang sepuluh?” Tanya Abhimanyu, sejenak kebingungan mengikuti obrolan mereka. Dua puluh berarti perbedaan usia ayahnya dan Argha, 'kan? Lalu kenapa sepuluh...?

“AH!” Serunya lalu tertawa dan Sebastien menimpalinya. Argha mengerang tinggi.

“Sayang sekali, Pak, Anda melupakan kakak saya?” Tambahnya lalu menyingkir ketika Argha mengulurkan tangannya, cepat seperti seekor ular hendak memukulnya. “Ayah saya tidak mungkin berusia lima puluh tahun!” Dia menangkap tangan Argha yang nyaris menyambar ujung rambutnya lalu mengecupnya sayang, tergelak ketika Argha memutar tangannya lalu mencubit bibirnya.

“Ah, iya, benar. Kris!” Seru Sebastien lalu tergelak lagi.

“Puas?!” Argha berseru marah, nampak benar-benar tersinggung namun Sebastien tidak menanggapinya sama sekali; jadi Abhimanyu pikir mereka pasti sering melakukan ini. “Kenapa kalian selalu saja membawa umur? Memangnya tidak ada hal lain yang kalian bisa bicarakan!?”

Sebastien mengedipkan sebelah matanya ke Abhimanyu yang tergelak, mengecupi tangan Argha agar tidak marah.


This is awkward.” Komentar Sebastien ketika mereka duduk di meja untuk tiga orang yang disiapkan mendadak karena awalnya sekretaris Sebastien hanya memesankan meja untuk dua orang.

Argha duduk di antara mereka, dagu dinaikkan. Tidak memberi kesempatan Sebastien untuk sendirian bersama Abhimanyu malam itu. Nampak sangat agung dan Abhimanyu rasanya ingin berbaring di pangkuannya, mengeong sambil membenamkan wajahnya di perut Argha agar dia berhenti memasang ekspresi wajah itu. Menggodanya, membuat Argha tertawa lalu menciumnya.

Selama ini Abhimanyu belum berani menciumnya, hanya sesekali mencium buku jarinya ketika mereka berdua. Argha sering mampir ke kosnya sepulang bekerja, sebelum pulang ke rumahnya sendiri belakangan ini. Abhimanyu mulai merasa mungkin inilah sifat Argha sebenarnya, dibalik sensualitas dan sikap tidak pedulinya. Dia hangat, seperti seekor kucing manis yang mendongak menatap Abhimanyu dengan mata berbinar—minta dielus.

Mereka melakukan pendekatan dengan perlahan setelah Abhimanyu menyatakannya tempo hari. Argha bersikap lebih lembut padanya, lebih hangat, dan semakin membuat Abhimanyu berdebar karena sikapnya. Dia bisa begitu perhatian, begitu hangat dan kebapakan di satu sisi namun juga manja, menggemaskan dan meledak-ledak di sisi lainnya.

Dan Abhimanyu menyadari bahwa dia menyukai kedua sisi itu.

Abhimanyu juga berusaha memperlihatkan pada Argha bahwa dia tidak hanya tertarik pada seks. Bahwa dia sudah melampaui ketertarikan fisik itu pada Argha, emosinya yang stabil jauh lebih menarik minat Abhimanyu sekarang. Ingin bersandar sepenuhnya pada Argha.

I see nothing wrong.” Sahut Argha kalem dan Abhimanyu mengulurkan tangannya, meremas tangan Argha di atas pangkuannya.

Argha mendongak, menatapnya sejenak sebelum menunduk ke tangan mereka di pangkuannya. Tersenyum, dia membalik telapak tangannya dan menggenggam balik tangan Abhimanyu. Rasa hangat langsung merambat di tangan Abhimanyu, membuatnya berdenyar lembut.

Sebastien memutar bola matanya. “Jadi jika aku mengajak Abhimanyu makan, kau akan selalu mengikutinya?” Tanyanya, membuka menu untuk mulai memesan sementara pelayan di sisinya nampak memasang wajah steril.

“Yep.” Argha mengangguk, meletakkan menu di meja karena dia hanya menggunakan satu tangan. Mengamatinya sejenak lalu mengedikkan bahunya. “Bring me the Chef's Recommendation. I have no allergy.” Dia menutup menu dan mengembalikannya pada pelayan.

Execellent choice, Sir.” Sahut pelayan itu tersenyum ramah seraya menerima kembali menu yang diserahkan Argha.

Abhimanyu memutuskan untuk meniru jejak Argha karena tidak terlalu yakin pada apa yang ingin dimakannya. Sebastien yang memesan menu berbeda sendiri, tidak memilih makanan yang mengandung protein hewani seraya tersenyum memesona pada pelayan itu.

“Apakah Anda vegetarian, Pak?” Tanya Abhimanyu, melirik sejenak Argha yang sedang memainkan jemari Abhimanyu dalam genggamannya sambil melamun.

Sebastien menggeleng, “Tidak. Hanya sedang tidak ingin makan.” Katanya tersenyum lalu mengeluarkan tablet-nya. “Maaf, benda ini harus menyala selama kita makan malam.” Pintanya sopan, membuka kunci layarnya dan Abhimanyu menangkap sekilas tampilan grafik saham di layarnya.

Hal yang Abhimanyu takutkan bahwa mereka tidak memiliki topik obrolan ternyata salah karena sepanjang malam, Sebastien membicarakan hal-hal ringan tentang pariwisata Bali. Dia juga mendengarkan dengan sopan ketika Abhimanyu bicara, memberikan pertanyaan tentang pekerjaan yang membuat Abhimanyu nyaman walaupun sesekali matanya melirik tablet di meja.

Argha juga mengobrol dengan santai malam itu, rileks di kursinya seraya mendengarkan Abhimanyu dan Sebastien bertukar pikiran di antara makanan mereka. Suasana restoran tenang dan damai, Sebastien memilih kursi yang dekat dengan taman mereka sehingga suara tamu lain tidak mengganggu mereka.

Hujan baru saja reda sehingga suhu sedikit menggigit dan tanah basah membuat suasana semakin sendu. Lilin yang menyala di meja mereka bergoyang tertiup angin, memberi pendar keemasan di sekitar mereka dan menghalau serangga dari meja mereka.

Persis sebelum makanan penutup, Argha bangkit untuk ke kamar mandi. Momen itu dimanfaatkan Sebastien untuk mengobrol lebih akrab dengan Abhimanyu.

“Jadi,” katanya sedikit menyingkirkan tablet-nya. “Sudahkah dia menceritakan padamu mengenai Yukio?”

Abhimanyu mengerjap. “Yukio?” Ulangnya, merasa nama itu asing di telinganya. Apakah dia pernah mendengar Argha mengucapkan nama itu? “Memangnya dia siapa?”

Sebastien menatapnya, alisnya naik sebelah lalu tersenyum ramah. Begitu menyihir hingga sejenak Abhimanyu mengerjap dan mengerutkan alisnya. “Ah, begitu.” Katanya seolah jawaban Abhimanyu sudah cukup menggambarkan segalanya. “Jika begitu, kau harus menunggu dia menjelaskannya sendiri padamu.”

Abhimanyu menelan ludah, mendadak merasa mulas. Apakah ada sesuatu yang dirahasiakan Argha darinya? Lelaki seperti Argha, Abhimanyu sadari, pastilah terdiri atas begitu banyak rahasia. Dia tidak lagi terkejut. Mungkin sedikit terluka karena sejauh ini dia sudah menceritakan begitu banyak rahasia dan traumanya pada Argha, tapi lelaki itu belum cukup memercayainya untuk menceritakan rahasianya.

Sebastien tersenyum melihat ekspresi Abhimanyu. “Dia...,” Sebastien sejenak berpikir sebelum menambahkan perlahan. “Mungkin satu-satunya saingan terberatmu dalam mendapatkan Argha.”

Have you... ever been in that kind of relationship? I had. Once.

Aku pernah jatuh cinta. Sekali.

Sekali.

Sekali.

Abhimanyu mengerjap. “Mantan kekasih Argha...?” Bisiknya, teringat kisah hidup Argha yang dibaginya di kamar Abhimanyu hari ketika dia menangisi hubungannya dengan Cedrik.

Tentang hidup di Jepang. Kartu tanda penduduk Jepang, foto Argha yang masih muda. Tentang temannya yang membantu Argha melalui tes kewarganegaraan untuk mendapatkan tanda penduduk itu. Mengapa dia tidak ingin kembali ke Jepang dan selalu mengurus dokumennya di Konsulat Jepang di setiap negara yang ditinggalinya....

Yukio.

Sebastien menyesap anggurnya perlahan. “Itu hak Argha sepenuhnya untuk menjelaskan padamu. Aku hanya berpikir kau sudah tahu.” Dia mengedikkan bahunya ringan. “Bisa dipertimbangkan sebagai apakah dia sudah memercayaimu atau belum.”

Dia memikirkannya, tidak yakin bagaimana perasaannya sekarang. Dia tahu tentang mantan kekasih Argha, selalu menganggapnya hanyalah seseorang tanpa wajah yang bisa disingkirkan ke sudut pikirannya. Namun setelah Sebastien memberikannya nama, Abhimanyu mulai bisa membayangkan wajahnya.

Yukio tidak terdengar seperti nama yang mengkhusus pada satu gender atau bahkan dia bisa jadi seorang transpuan atau transpria atau malah non-binary karena Argha sejauh yang dia ketahui adalah seorang panseksual—saingan Abhimanyu tidak terbatas gender. Abhimanyu mulai merasakan sosok itu bangkit, membentuk diri semakin nyata di kepala Abhimanyu. Membuatnya sedikit merasa cemas dan tidak percaya diri.

Apa pun yang dilakukan Yukio, itu pasti begitu besar dampaknya pada Argha karena dia kemudian berhenti jatuh cinta detik Yukio meninggalkannya. Dan Abhimanyu mulai menyadari seberapa berat saingannya mendapatkan hati Argha serta mengapa Argha nampak enggan ketika kali pertama Abhimanyu mengutarakan ketertarikannya pada Argha.

“Tapi,” tambah Sebastien seraya memotong makanan penutupnya dengan sendok mungil. “Dia nampak sangat tertarik padamu. Percayalah.” Dia menyunggingkan senyuman separuh yang menarik. “Argha tidak terlalu pintar menyembunyikan emosinya ketika berada di sekitarmu; menjadi bola emosi yang menggemaskan.”

Abhimanyu tersenyum, setuju ketika menatap Argha di hadapannya beberapa jam kemudian setelah Sebastien mengantar mereka pulang. Argha diturunkan di kos Abhimanyu karena mobilnya di sana, namun alih-alih pulang ternyata dia membawa tas terisi pakaian ganti dan perlengkapan mandinya.

“Aku menginap.” Katanya tegas, mengunci mobilnya dan Abhimanyu tergelak, merangkulnya saat melangkah ke kamarnya.

“Baiklah.” Sahut Abhimanyu, mempersilakan Argha masuk dan membersihkan diri terlebih dahulu.

Sementara Argha mandi, Abhimanyu membereskan kamarnya. Menyapu karpet lembut di tengah kamarnya dengan sapu lidi agar debunya hilang, menyemprotkan antiseptik ke atasnya agar Argha nyaman. Dia juga mengganti seprai dan sarung bantalnya dengan yang baru, berpikir Argha pasti lebih senang jika kasur Abhimanyu diberi seprai baru. Dia juga menyapu lantai, membereskan semuanya agar Argha tidak gelisah di kamarnya.

Sekarang, dia duduk di sisi Abhimanyu dengan piyama sutera yang menggantung di tubuhnya, membawa sebotol air putih di pangkuannya; menenggaknya sejak tadi seperti bir. Abhimanyu juga sudah berberes, membersihkan dirinya sebelum duduk di sisi Argha.

“Kenapa?” Tanya Abhimanyu perlahan; terlepas dari seberapa inginnya dia membaringkan diri di pangkuan Argha, dia menahannya. Berpikir pasti ada sesuatu yang mengganggu Argha hingga dia ingin menginap.

“Tidak.” Argha menggeleng, menatapnya. “Aku tidak apa-apa, hanya ingin bermalam di sini.” Dia kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. “Terakhir kali aku di sini, kau sedang menangis.”

Abhimanyu meringis, menggaruk pelipisnya dan menemukan jerawat kecil di sana—wajahnya yang sensitif cepat sekali berjewarat. Dia memijitnya sambil memandang cermin di depannya. “Aku sebenarnya ingin pindah dari kos ini.” Katanya perlahan.

Dia sempat memikirkannya dengan serius karena tidak sanggup memikirkan kenangan yang dibaginya bersama Cedrik di kamar ini. Terbangun dan terlelap bersama Cedrik di ranjangnya nyaris selama dua tahun. Makan bersama, bermain game, beristirahat sebelum kembali bekerja; begitu banyak kenangan dan barang-barang kecil dari Cedrik.

Namun kemudian Argha berkunjung, membereskan kamar itu dan semuanya terasa... berbeda. Dia menyentuh semua barang Abhimanyu, merapikannya, menyemprotkan antiseptik seperti seorang freak. Argha memberikan kenangan baru di kamarnya, memeluknya ketika menangis. Menemaninya hingga tertidur, menenangkannya ketika merasa anixous....

“Lalu?” Tanya Argha di masa sekarang, menoleh padanya.

Abhimanyu tersenyum. “Kau memberikan kenangan baru di kamar ini, jadi aku tidak terlalu ingin melepasnya lagi.” Dia kemudian mengulurkan tangan, telapak tangannya terbuka dan Argha seketika meletakkan tangannya di sana untuk Abhimanyu genggam. Dia menunduk, menatap jemarinya yang bertautan dengan jemari Argha—memainkannya.

“Abhimanyu?” Panggil Argha dan Abhimanyu mendongak, alisnya naik.

“Ya?” Sahutnya, mengerjap.

Argha menggeser duduknya, mengulurkan tangan dan mengusap sisi wajahnya dengan lembut lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak dipahami Abhimanyu. Mungkin Prancis? Karena tidak terdengar seperti bahasa Jepang. Nadanya lirih, mendayu-dayu dan Abhimanyu nyaris tidak bisa mengenali bahasa itu.

Dia memejamkan mata, menyandarkan wajahnya dalam genggaman Argha yang hangat. Mengangkat tangan mereka yang bertautan dan meremasnya, merasa hatinya penuh oleh rasa sayang. Argha membantunya bangkit dari kesedihannya, membimbing Abhimanyu, perhatian padanya, bersikap hangat; melebihi apa yang ayah dan kakak Abhimanyu bisa berikan.

Lalu Argha menciumnya, di bibir.

Berbeda sekali dengan ciuman mereka selama ini, Argha melakukannya dengan lembut. Abhimanyu terkesiap kecil sebelum menyambut bibir Argha yang melumatnya dengan perlahan—tangannya membelai wajah Abhimanyu, mengusapnya seperti menenangkan seekor anak kucing.

Tu es ma joie de vivre...” Bisik Argha dalam ciumannya, bibirnya mengusap bibir Abhimanyu dengan lembut dan napasnya terasa hangat di wajah Abhimanyu.

Kening mereka bertemu, bibir mereka bersentuhan lembut, namun Abhimanyu tidak ingin membuka matanya. Dia ingin merasakan Argha dengan seluruh indranya selain matanya karena dia sudah cukup sering melihat Argha. Dia ingin merasakan sentuhan Argha, mencium aroma tubuhnya, menyecap rasanya di lidah Abhimanyu. Ciuman mendayu-dayu lembut yang memabukkan.

Argha menarik ciumannya, menarik napas sejenak lalu kembali menciumnya; terus seperti menyecap candu. Abhimanyu mengulurkan tangannya yang bebas, memeluk pinggangnya dan menariknya mendekat. Membalas setiap ciuman-ciuman lembut kecilnya. Bukan ciuman panas yang membakar gairah, namun cukup untuk membuat Abhimanyu pening.

Argha terasa menakjubkan.

Dia menarik ciumannya, terengah kecil dan Abhimanyu nyaris mendesah mendengar suaranya. “Tes yeux, Doudou,” bisiknya dalam dan bibirnya mengusap bibir Abhimanyu lembut saat mengatakannya. “J’en rêve jour et nuit.”

Argha kembali menciumnya, melumat bibirnya lembut. Menyelipkan lidahnya yang hangat ke mulut Abhimanyu dan membelainya sebelum kembali menariknya. Membuat Abhimanyu mabuk, mencondongkan tubuhnya secara naluriah ke Argha untuk meminta lebih banyak. Argha menyelipkan jemarinya ke rambut ikal Abhimanyu, meremasnya lembut.

Tu me rends heureuse...” Argha berbisik rendah dan Abhimanyu nyaris orgasme hanya dengan mendengarkannya berbisik dalam bahasa Prancis yang tidak dipahaminya. Namun entah bagaimana kekuatan ucapan Argha membuatnya bergidik. “Je pense toujours à toi.”

Abhimanyu menciumnya. Mengecup lembut, meraih bibir bawah Argha dan melumatnya lembut. Mendengarkan dengan seksama suara dengkur Argha ketika dia menciumnya. Tangannya menyentuh tubuh Argha, mendekapnya hangat dan menempelkan telapak tangannya di kulit telanjang Argha yang hangat.

“Bisakah kau menerjemahkan semuanya?” Tanyanya ketika menarik ciuman mereka lepas dan Argha tertawa parau.

“Tidak sekarang.” Sahut Argha perlahan, merona di bawah lampu temaram yang digunakan Abhimanyu sebelum berbaring.

Abhimanyu tersenyum. “Alright.” Bisiknya lalu kembali mencium Argha yang mendesah kecil. “Soon you'd tell me what those line mean.” Dia tersenyum dalam ciuman mereka, memejamkan matanya—merasa sangat bahagia hingga hatinya terasa akan meledak.

Argha tergelak, memeluk kepalanya dan memijat kulit kepalanya dengan jemari. “Sure, Doudou.” Gumamnya di bibir Abhimanyu, membukanya dan mengizinkan Abhimanyu kembali menciumnya.

Now just kiss me.” Bisiknya, tersenyum. Jemarinya mengusap kepala Abhimanyu dengan sangat sensual hingga Abhimanyu nyaris mendorongnya berbaring di karpet dan mencumbunya.

Namun dia sudah berjanji pada Argha. Jika dia hanya ingin ciuman kecil, maka Abhimanyu akan memberikannya. Tidak ingin memburu-buru hubungan mereka. Dia ingin Argha nyaman dan percaya padanya sepenuhnya. Membangun hubungan yang diberi fondasi yang kuat oleh rasa aman, nyaman, dan percaya.

Abhimanyu tergelak di atas bibirnya. Mengecupnya lembut sekali, mengusap punggungnya dengan tangan. “Sure, I'll kiss you.” Bisiknya parau, setengah mendengkur karena rasa Argha di bibirnya.

Argha menggumam, tidak yakin dalam bahasa apa namun terdengar mengantuk dan senang. “I'll keep on doing so until you tell me to stop.” Abhimanyu kembali mencium Argha yang tergelak lembut, terus menciumnya hingga Argha memintanya berhenti.

How's that?” Gumamnya, mencium Argha yang mendesah—tidak menjawabnya, maka Abhimanyu menganggapnya sebagai persetujuan.


ps. ehe :*


French (jgn blg2 abhim yh)

1) Tu es ma joie de vivre: you're the joy in my life 2) Tes yeux, Doudou, j’en rêve jour et nuit: your eyes, doudou, I dream of it day and night. 3) Tu me rends heureuse: you make me happy (male) 4) Je pense toujours à toi: I always think about you


Argha menatap bayangan wajahnya sendiri di cermin dengan mata memicing, jengkel.

What's wrong with you?” Tanyanya di loker yang sudah sepi karena sekali lagi, dia menjadi yang terakhir pulang sekaligus menunggu Abhimanyu yang berangkat dari Ubud untuk menjemputnya.

Argha menyadari sekali perubahan emosinya belakangan ini. Bagaimana dia ingin selalu menempel dengan Abhimanyu, ingin lelaki itu hanya memerhatikannya, ingin selalu melihatnya. Tidak ingin berjauhan atau melihatnya—bahkan memikirkannya memerhatikan orang lain. Sejak malam ketika dia akhirnya mengakui pada Yukio bahwa dia mungkin telah tertarik lebih dari yang direncakanannya pada Abhimanyu, dia merasakan perubahan emosinya.

Berada di sekitar Abhimanyu sekarang membuatnya nyaman, sedikit candu. Aroma parfumnya, aroma tubuhnya, caranya bersikap baik dan lembut pada Argha membuatnya sedikit kebingungan. Kehangatan yang belum pernah dirasakannya, namun tidak membuatnya keberatan. Tapi tadi, dia menyadari bahwa dia baru saja bersikap clingy dan menggelikan dengan meminta Abhimanyu menjemputnya terlepas dari fakta bahwa mobilnya sudah bisa digunakan dengan baik.

Why did you do that?” Tanyanya sekali lagi pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah seperti itu, bahkan tidak kepada Yukio. Dia selalu memposisikan dirinya sebagai yang dewasa dalam suatu hubungan, bertanggung jawab atas Yukio dan eating disorder-nya.

Apakah kehangatan Abhimanyu mencairkan Argha yang selama ini secara tidak sadar selalu bersikap tegar dan kuat? Apakah dia baru saja memberi tahu Argha bahwa Argha sebenarnya mendambakan perhatian, kasih sayang, sosok melindungi; jumlah yang sama seperti yang diberikannya kepada semua orang?

Apakah Abhimanyu baru saja menyentuh tempat di hati Argha yang bahkan dirinya sendiri tidak sadari keberadaannya?

Siapa sangka pemuda berusia 28 tahun bisa membuat Argha merasakan itu semua. Sebelas tahun lebih muda dari Argha.

Argha menghela napas, mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya. Melirik jam dinding, dia menyadari Abhimanyu akan tiba dalam sepuluh menit. Jadi dia bergegas membereskan bawaannya, mengancingkan kemejanya dan keluar dari pintu belakang. Restoran sudah sepi, Hadrian pulang lebih dulu tadi katanya akan menemani Khrisna. Kinan juga sempat datang ke restoran, menemani servis hingga pukul delapan sebelum Arsa meneleponnya agar pulang.

Suasana sedang tidak terlalu baik sekarang. Argha bisa merasakan bahwa tim sedang kerepotan untuk tetap berada di pace yang sama dengan ketidakhadiran Arsa. Tim kebingungan, khususnya Gourmet yang seketika timpang tanpa kehadiran Abhimanyu di sisi gastronomi. Argha tadi menyempatkan diri bicara dengan Stefan, mencari tahu kira-kira seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan junior sous chef gastronomi untuk Paradis.

“Sebenarnya,” Stefan menjawab perlahan. Dia lelaki menarik di usia tiga puluh lima tahun, rambutnya disisir naik dengan rapi. Pembawaannya menenangkan dan begitu agung, kantornya harum lembut ketika Argha masuk.

Argha tidak suka memasuki ruangan PT karena semuanya beraroma seperti kertas, tinta mesin pencetak, pengharum ruangan sintetis dan stres. Semua orang sedang bekerja ketika dia masuk, harus melewati ruangan Akunting jika harus menemui HRD. Teo di ruangannya, nampak tenggelam di balik dokumen yang harus diceknya karena tidak ada Kinan.

Stefan di ruangannya, sedang mengecek payroll sebelum diserahkan ke Teo lalu disetujui Kinan. Mempersilakannya masuk dengan ramah.

“Chef Arsa ingin Abhimanyu ditarik kembali ke Paradis dan sous chef baru akan diposisikan di Gourmet karena beliau sudah nyaman dengan Abhimanyu.”

Jantung Argha mencelos, secara insting tidak ingin Abhimanyu diambil darinya.

Mereka memang masih di perusahaan yang sama, selalu ada staff outing untuk bertemu dan Ubud tidak terdengar terlalu jauh. Tapi Argha entah bagaimana, tidak suka memikirkan Abhimanyu akan berada di tempat bekerja yang sama dengan Cedrik lagi. Dia merasa... cemburu? Tidak ingin memberi kesempatan mereka untuk terhanyut kenangan masa lalu dan kembali berusaha mencoba hubungan mereka.

Namun di depan Stefan, dia berhasil menjaga ekspresinya. “Ah, I see.” Katanya kering, berdeham. “Lalu bagaimana keputusan akhirnya? Abhimanyu akan ditarik ke Paradis lagi?”

Stefan, ajaibnya, menggeleng. “Abhimanyu akan tetap di Gourmet, Chef. Bapak tidak mau semua juru masak terbaik diposisikan di Paradis sementara pekerjaan rumah perusahaan untuk Le Gourmet masih besar sekali.”

Argha menghela napas, lega. “Setuju.” Katanya. “Saya juga membutuhkan Abhimanyu sebagai tangan kanan saya karena saya belum lama bergabung dengan perusahaan.”

“Bapak juga mempertimbangkan hal yang sama, Chef.” Stefan mengangguk, menumpukan tangannya di meja kerjanya. “Abhimanyu diharapkan bisa membantu Chef untuk mengejar ketertinggalan dalam perusahaan. Jika memposisikan dua orang baru dalam satu dapur sebagai supervisor akan terlalu riskan.”

Setelahnya, Argha keluar dari ruangan perusahaan dengan perasaan mengambang. Apakah dia bisa tenang sekarang? Kinan dengan tegas meminta Abhimanyu untuk tetap di Gourmet—membagi tenaga mereka di dapur karena Paradis sudah memiliki Arsa. Tapi jika suatu saat nanti sous chef baru sudah bisa menyamai ritme bekerja Arsa, akankah Abhimanyu tetap ditarik ke Paradis dan diganti oleh sous chef baru itu?

Memikirkannya membuat Argha jengkel. Tidak mau timnya diganti setelah sejauh ini. Dia sudah memahami kekuatan dan kelemahan timnya, sudah bisa membaca strategi apa yang harus digunakannya ketika sepi dan ramai sesuai dengan analisis itu. Argha sudah mengusai timnya, mengganti salah satunya sekarang membuat Argha harus menganalisis semuanya ulang. Memikirkan di mana dia harus diletakkan ketika ramai dan di mana ketika sepi.

Dan juga tidak mau Abhimanyu dijauhkan darinya.

Argha menggertakkan gigi. Tidak menyukai ketika dia mulai bersikap overprotektif dan menjengkelkan. Sesuatu yang muncul ketika dia tertarik secara tulus pada seseorang, tertarik di level emosional dan bukan hanya secara fisik. Dia menyadari sifatnya ini dan tidak ingin mengganggu siapa pun dengan itu.

Orang tuanya yang meninggal, anak tunggal dengan kekayaan warisan ayahnya, dimusuhi semua keluarganya yang lain karena ingin mendapatkan kekayaannya membuat Argha sulit memercayai seseorang. Selalu berpikir semua orang yang baik padanya, memiliki tujuan tidak baik. Dan ketika menemukan satu orang saya yang bersikap baik padanya, tulus, dan memberinya perhatian tanpa pamrih, Argha akan luluh.

Persis seperti bagaimana Yukio membuatnya jatuh cinta. Selain senyumannya, dia juga membawa Argha makan malam hari itu. Membayarinya makan dengan ceria, bahkan tidak meminta nomor Argha. Sehingga setelahnya, Argha menghabiskan nyaris satu bulan menunggu di depan toko okonomiyaki itu di jam yang sama; berharap bertemu Yukio kembali dengan menyedihkan.

Dia cukup mudah jatuh cinta pada ketulusan. Itulah mengapa dia selalu membatasi dan menamengi hatinya.

Sekarang, dengan sikapnya yang mulai bergantung, manja, dan overprotektif pada Abhimanyu; Argha menyadari bahwa dia mulai seperti kucing yang baru saja dipungut dari jalanan. Diberi perhatian, makan, dan kasih sayang. Dan Argha mulai menyundul pemiliknya, mengeong kecil, menempel padanya; berharap tidak akan disakiti atau ditinggalkan.

Menyadari trauma Abhimanyu yang juga adalah ditinggalkan dan terasing, Argha sedikit khawatir pada bagaimana hubungan mereka kedepannya. Dia keluar dari lift, melangkah menuju mobilnya dengan pikiran melayang. Dia memang memiliki prinsip tidak akan bercinta dengan perjaka atau perawan Apakah prinsip itu masih berlaku pada Abhimanyu?

Anak itu bahkan tidak terlalu memikirkan dengan siapa dia melakukan untuk pertama kali hanya agar Argha mau bercinta dengannya. Apakah itu berarti Abhimanyu hanya menginginkan seks darinya? Kenapa rasanya menyakitkan padahal Argha selama ini bertemu puluhan orang yang juga hanya menginginkan seks darinya.

Argha menghela napas, memijat pangkal hidungnya seraya menyelipkan kunci ke pintu mobilnya untuk membukanya. Mungkin dia harus melihat lagi sejauh apa Abhimanyu mau berusaha dan berharap dia mungkin... akhirnya memperlihatkan pada Argha bahwa dia tidak hanya mendekatinya untuk seks.

Mobilnya sudah diperbaiki. Sebastien yang meneleponkan montir untuk membereskannya saat itu juga. Hanya masalah aki, mereka langsung menyetrumnya di sana ditemani Security karena Argha sedang bekerja. Setelahnya mobil menyala kembali dengan catatan Argha harus menyalakannya setiap pagi sebelum menggunakannya.

Argha menyelipkan kunci ke lubang Starter, lalu memutarnya. Untuk menenangkan dirinya, Argha menekan tombol Start Engine dan menghembuskan napas lega ketika mesin menyala dengan lembut. Dia akan memanaskan mobilnya sekarang sebelum mandi.

Dari kejauhan, terdengar suara derum mesin meluncur memasuki lorong ke arah basemen dan Argha menoleh. Persis ketika kepala NMAX Abhimanyu muncul di pintu masuk. Anak itu menaikkan kaca helmnya dan tersenyum lebar pada Argha yang seketika membalas senyumannya.

“Hai, Sayang!” Serunya ceria, menggema di ruang parkir yang sunyi. Mengundang senyuman di bibir Argha. “Kau sudah menunggu lama, ya?” Dia berhenti persis di depan Argha, tersenyum lebar dengan ban depan motornya hanya sepuluh senti di depan Argha.

“Hai.” Balas Argha, langsung merasa senang tanpa alasan hanya dengan melihat senyuman Abhimanyu—anak manis yang sekarang selalu tersenyum pada Argha setelah menghabiskan empat-lima bulan memberengut permanen seperti penderita wasir.

“Tidak. Baru juga turun. Tadi di loker, cuci wajah.” Argha mengangguk, mematikan mesin mobilnya dan mencabut kunci. “Kita akan makan apa?” Tanyanya, mengunci mobil lalu menyimpan kuncinya kemarin.

Abhimanyu mengerutkan alisnya pada mobil Argha. “Kau sungguh akan meninggalkan mobilmu di sini lagi?” Tanyanya lalu menatap Argha yang balas menatapnya lalu dia bergegas menambahkan dengan sedikit panik. “Maksudnya, tidak masalah. Hanya jika kau memang ingin aku menjemputmu terus, besok kita pulangkan saja mobilnya. Dia lebih aman di rumah.”

Argha menggigit bagian dalam pipinya sambil berpikir. Tidak terlalu keberatan meninggalkannya di sini, toh ada Security yang menjaga mobilnya. Di vilanya, benda ini diparkir di halaman dan ditutupi dengan jas hujan mobil saja. Rasanya malah lebih aman di sini.

“Tidak masalah.” Tutup Argha lalu mengulurkan tangan, meminta helmnya.

Abhimanyu menatapnya lalu menghela napas, dengan senyuman kecil di bibirnya. Dia memarkir motornya, membuka bagasi dan mengeluarkan helm cadangan untuk Argha dari sana. Abhimanyu membuka kait pengamannya dan mengulurkannya pada Argha.

“Kemari.” Gumamnya lembut, memasangkan helm dan Argha tersenyum—senang pada gestur itu. Abhimanyu mengaitkannya agar aman, menarik talinya agar lebih erat sebelum menyisihkan anak rambut di kening Argha dan nyengir. “Nah.”

“Biasanya,” kata Abhimanyu saat Argha menaiki motornya. “Aku hanya makan nasi jinggo untuk makan malam jika pulang terlalu larut. Kau mau sesuatu yang lain?”

Argha mengerutkan hidungnya. Tidak menyukai fakta bahwa dia harus makan karbohidrat seperti nasi sebelum berbaring. Tubuh Abhimanyu mungkin mencerna semuanya dengan cepat, membakarnya menjadi energi. Namun tubuh Argha akan menyimpannya sebagai lemak di tempat-tempat yang dibencinya.

“Ya.” Katanya seketika, dia tidak cukup tertarik pada Abhimanyu untuk berkenan makan nasi pada pukul dua belas malam. “Tidak ada makan lain?”

Abhimanyu melirik jam tangan G-Shock di pergelangan tangan kirinya, belum berangkat hingga mereka memutuskan ke mana mereka akan makan. “Kurasa tidak ada karena sudah lewat pukul dua belas. Kecuali makanan yang tidak akan kausukai.”

“Makanan tidak aku suka?” Ulang Argha dengan alis berkerut lalu mengernyit. “Maksudnya something fried, with oil dripping from them while eating with rice?” Tanyanya, berusaha tidak terdengar terlalu jijik pada prospek makanan itu.

Namun Abhimanyu tergelak, suaranya menyenangkan. Menggema di basemen yang sepi, memantul hingga kembali ke telinga Argha. Seolah ada beberapa Abhimanyu yang tertawa bersamaan.

That,” Abhimanyu mengangguk, nampak geli. “Or junk food.”

Ew. Nope.” Sahut Argha seketika, benar-benar tidak ingin makan makanan dengan komposisi pengawet dan bahan kimia serupa makanan lebih besar dari bahan segar di dalamnya. “No, no, no. No.” Dia bergidik.

That's what I thought!” Abhimanyu memutar tubuhnya sedikit agar bisa menatap Argha di belakang.

“Kamu makan itu setiap malam?” Tanya Argha, wajahnya mengerut jijik dan Abhimanyu kembali tergelak. “That's deadass gross!”

“Tidak ada pilihan lain.” Abhimanyu mengedikkan bahunya lalu mengulurkan tangan; menepuk kepala Argha dari luar helmnya. “Aku terlalu lelah untuk memasak makanan setelah bekerja, apalagi sekarang aku harus bolak-balik ke Ubud.”

Argha membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Tidak yakin apakah dia harus mengatakan ini. Dia baru saja hendak mengundang Abhimanyu ke vilanya, ke kamarnya, untuk makan malam. Dia memang sudah sinting. Dia menggeleng lalu berdeham.

“Ya sudah. Kita pulang. Nanti berhenti di rumahku. Aku beri makan. Tinggal hangatkan.” Katanya pada Abhimanyu, matanya berkilat dan Argha mengumpat dalam hati. Abhimanyu tidak bodoh, dia pasti tahu apa yang awalnya hendak ditawarkan Argha padanya.

Alisnya naik sebelah sebelum dia mengangguk. “Baiklah. Aku akan mengambil makanannya.” Katanya, berdeham dan tersenyum menggoda. “Lalu pulang. Begitu, 'kan?”

Argha mengangguk. Mengikuti permainan Abhimanyu. “Yap. Begitu. Benar.” Katanya tegas dan Abhimanyu tergelak, memutar tubuhnya ke depan dan menyalakan mesin motornya.

“Argha?” Tanyanya ketika motor meluncur ke arah pintu keluar basemen.

“Yaaa?” Balas Argha dari belakang, berusaha mengalahkan suara deru mesin motor Abhimanyu dan suara dengung angin yang mereka tembus.

“Kira-kira seberapa lama kau bisa bertahan untuk tidak menyentuhku?” Abhimanyu meliriknya dari spion.

“Maksudnya?” Tanya Argha, polos dan memeluk pinggang Abhimanyu erat—merasakan pemuda itu sejenak nyaris kehilangan kendali atas motornya. “Aku sedang menyentuhmu sekarang.” Dengan sengaja, menyelipkan jemarinya ke bawah jaket berkendara Abhimanyu.

Fuck, don't!” Desis Abhimanyu dan Argha tersenyum senang—memangnya hanya Abhimanyu yang bisa memainkan permainan ini? “Argha!”

“Yaaa?” Tanya Argha manis, menyelipkan jemarinya ke balik kaus Abhimanyu yang menggeram kecil—telunjuknya menemukan pusar Abhimanyu, menyentuhnya dan memainkannya.

“Jangan!” Gerutu Abhimanyu saat mereka keluar dari basemen, ke arah pintu keluar Gourmet yang dijaga oleh pos Security.

Argha tidak berhenti. Sengaja membelai perut Abhimanyu dengan jemarinya, lembut dan menggoda saat mereka berpamitan pada Security. Membuat Abhimanyu bersuara seperti menahan buang air besar dan bergegas pergi dari sana setelah Argha memberi tahu mereka bahwa dia menitipkan mobilnya lagi di sana.

Stop that!” Geram Abhimanyu dan Argha tergelak lembut, menyelipkan jemarinya ke balik pinggang celana Abhimanyu. “No, Babe!” Seru Abhimanyu, setengah merengek dan Argha tertawa. “Have mercy on me!”

“Baiklah,” Argha menarik tangannya dan tersenyum lebar pada Abhimanyu yang menatapnya di spion motor.

You won't make it easy for me, eh?” Gerutu Abhimanyu, namun tetap tersenyum kecil dan Argha mendesah.

Who says it was easy for me too? Pikirnya nelangsa. Dia akhirnya menjawab. “Two can play the game, Abhimanyu.” Lalu mengedip dan Abhimanyu mendesah panjang.

But you won't have sex with me?” Tanya Abhimanyu lagi dan Argha menghela napas dalam hati; mulai merasa bahwa semua sikap Abhimanyu ini hanya demi membawanya ke ranjang.

Jika ya, Abhimanyu melakukannya dengan sangat baik. Paling baik dari semua lelaki dan perempuan yang pernah dikencani Argha untuk seks.

No.” Sahutnya, entah mengapa merasa suasana hatinya menjadi sedikit buruk. “Can we stop talking about sex?” Selanya sebelum Abhimanyu sempat bicara dan memalingkan wajah ketika menyadari tatapan Abhimanyu dari spion.

Mereka bersidiam sejenak sebelum Abhimanyu menurunkan tangan kirinya dari stang motor lalu mengusap tangan Argha di atas perutnya. Meremasnya hangat dan menepuk-nepuknya sayang.

I didn't do everything I did only for sex.” Katanya, perlahan tapi karena mereka memelan untuk membelok, Argha bisa mendengarnya dan dia mengerjap. “Percayalah padaku.”

The truth is that,” Abhimanyu berbisik ketika mereka akhirnya tiba di vila Argha, menunggu di depan pintu sementara Argha berdiri di hadapannya dengan barang bawaannya—hendak mengambilkan prep meal-nya untuk dimakan Abhimanyu.

Yes?” Tanya Argha, berhenti untuk mendengarkan.

Mereka berdiri di halaman luar Argha, beberapa meter dari pintu masuk dalam suasana malam yang mulai hening. Angin cukup dingin, menyelip dari sela-sela pakaian Argha dan dia ingin bergegas masuk untuk makan. Namun juga tidak ingin melepaskan pandangan dari wajah Abhimanyu dan bola mata cokelatnya yang cantik.

Anak itu menunduk, nampak tidak yakin bagaimana menyuarakan isi kepalanya. Maka Argha menunggu di undakan terakhir vilanya, dengan tas di tangannya. Menatapnya lekat. Jantungnya berdebar, mereka begitu dekat dengan rumah Argha. Dia bisa saja mengundang Abhimanyu, tidur bersamanya. Menenggelamkan diri pada aroma tubuh Abhimanyu agar tidurnya lelap.

Namun Argha belum sepenuhnya yakin pada tujuan Abhimanyu. Bahkan jika dia sudah mengatakan sendiri bahwa tujuannya bukan seks. Manusia bisa mengatakan apa saja yang dibutuhkan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya; memanipulasi. Dan Argha sudah tidak lagi ingin terjebak di sana.

Jika Abhimanyu memang tidak melakukan ini hanya untuk seks, maka dia harus membuktikannya pada Argha.

The truth is that,” Abhimanyu menjilat bibirnya perlahan, nampak ragu sebelum menyugar rambutnya dan mendongak. Matanya bertemu dengan mata Argha; pandangan itu membuat Argha bergidik.

I want you to be my first.”

Dan tidak perlu ahli untuk menjelaskan 'pertama' apa yang dimaksud Abhimanyu dalam kalimatnya.

Is that too much to ask?” Tambahnya dan Argha tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Abhimanyu sebagai jawaban.


ps. ehe :p


Cuaca mulai semakin dingin hingga dia tidak bisa lagi menahan suhu hanya dengan pakaian.

Apartemennya gelap ketika dia melangkah masuk, kelelahan setelah bekerja dan melepas sepatu boots hangatnya. Dengan tangan bertumpu di dinding pintu masuk, dia melepaskan kaus kakinya dan meletakkan sepatu itu di rak. Kemudian menyelipkan kakinya ke sandal rumah hangat dan menekan saklar. Lampu utama apartemennya mendengung lembut, berkedip sekali sebelum menyala; menerangi ruang tengah apartemennya.

Dia menghela napas, melepas long coat hangatnya, syal, serta penutup kepalanya. Bulan September hingga Februari setiap tahunnya selalu tidak berbaik hati padanya; cuaca dingin membuatnya melemah dan mudah terserang flu yang menyulitkan kegiatan sehari-harinya.

Berhenti sejenak di dekat rak sepatu, dia menyalakan penghangat ruangan dan bergidik. Menyesal mematikannya sebelum berangkat tadi lalu bergegas ke kamarnya; ingin mandi dan membereskan diri. Lalu mungkin menghangatkan diri dengan secangkir chai tea latte yang kental dan berempah sebelum tidur.

Dia menguap tertahan, melangkah masuk ke kamarnya dan menyalakan lampu. Kamarnya menyala terang, kasurnya belum dibereskan karena dia terlambat bangun tadi. Mendesah, dia melangkah ke dalam ruangan dan melepas pakaiannya seraya mengulurkan tangan ke laci nakas di sisi ranjang; di mana dia menyimpan ponsel lamanya.

Menarik laci terbuka, dia menatap ponsel itu. Tergeletak di dalam laci yang penuh dengan surat-surat tagihan, sedikit lecet dan sudutnya rusak karena jatuh terbentur. Dia sudah tidak menggunakan ponsel itu sejak lama; mungkin enam tahun lalu sejak software-nya sudah tidak bisa lagi diperbaharui. Namun dia tetap menyimpannya, dengan alasan sentimentil.

Tangannya terulur, meraih benda itu dan menatap refleksi samar wajahnya sendiri di permukaan layarnya yang mati. Nomor lamanya masih berada di sini, nomor yang sudah tidak lagi dihubungi siapa pun kecuali satu orang—yang juga merupakan alasan mengapa dia mengganti nomornya. Tidak sanggup jika harus melihat pesan darinya datang begitu saja, tiba-tiba ketika dia sedang beraktivitas.

Sembilan tahun, dia pikir dia akhirnya akan terbiasa. Sembilan tahun, dia pikir dia akhirnya akan bisa melakukannya. Sembilan tahun, dia masih juga berdebar ketika melihat namanya muncul di ponselnya. Menghela napas, dia mengusap layarnya lalu menekan tombol power-nya; menunggu benda itu menyala dan memproses programnya.

Dia meletakkannya di nakas, beranjak ke kamar mandi dan membiarkan benda itu menyala sendiri. Air hangat membantunya meredakan rasa dingin dan lelah, dia berdiri di bawah kucuran air hangat dan menikmati bagaimana air memijat kulitnya sambil memejamkan mata. Menggosok kulitnya dengan puff lembut, menyeka anak rambut yang meluruh ke wajahnya, memikirkan hal-hal menyenangkan hari itu.

Pekerjaannya selesai tepat waktu, dia pulang dan mampir membeli makan malam, juga sedikit camilan. Hal paling menyebalkan hanyalah suhu yang semakin turun, salju bisa turun kapan saja dalam minggu ini maka dia sudah membeli kantung-kantung penghangat untuk digunakan. Cuti musim dingin sudah diberikan, dia memutuskan untuk pulang ke Kyoto bertemu keluarganya.

Lantai sudah mulai hangat ketika dia melangkah keluar dari kamar mandi dalam balutan jubah mandi yang tebal. Rambutnya diikat naik setengah agar tidak terkena air ketika dia mandi, namun tetap saja ujung-ujungnya sedikit basah karena terciprat air dari shower mandinya. Melangkah ke arah cermin, dia mulai menggunakan produk perawatan wajahnya.

Setengah melamun ketika mengusapkan pelembab ke wajahnya yang sedikit hangat karena mandinya tadi. Dia melirik ke nakas, dengan resah ingin segera mengintip pemberitahuan yang mungkin muncul di sana namun juga tidak ingin melakukannya. Dia menyisiri rambutnya, perlahan dan memastikannya cukup lembut seraya mengeringkannya agar dia bisa langsung berbaring.

Bangkit, dia akhirnya menghela napas dan menghampiri nakas untuk meraih ponselnya. Benda itu bergeming, layarnya mati tapi dia tahu ponselnya sudah menyala, sudah terkoneksi pada layanan internet apartemen dan mungkin juga sudah menerima semua pemberitahuan yang tidak bisa masuk ketika dimatikan.

Hening memeluknya, haruskah dia melihatnya? Sudah seminggu lebih dia tidak menerima pemberitahuan pesan dari ponsel ini. Tidak yakin apakah dia senang atas itu atau tidak; sedikit bagian dirinya senang, itu berarti dia sudah terbebaskan dari tanggung jawab. Tidak lagi harus melihat seseorang memohonnya kembali pada hubungan yang mereka berdua tahu tidak bisa dilanjutkan.

Namun sebelas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Hidupnya sudah sangat terbiasa dengan kehadirannya, bahkan hal-hal kecil seperti membawa sendok makan sendiri atau antiseptik jika pasangannya melupakan miliknya sendiri. Dia sering tertawa kecil, menatap botol antiseptik yang berada di dalam tasnya, teringat untuk siapa dia membawanya.

Dia menekan tombol utama ponselnya, menyalakan layarnya dan menghembuskan napas ketika tidak ada pemberitahuan yang masuk. Mungkin akhirnya mereka memang harus menyelesaikan ikatan ini. Fokus pada kehidupan mereka masing-masing, melangkah sendiri walaupun berat. Tangannya bergerak, hendak meletakannya kembali dan pergi ke dapur untuk makan ketika layarnya kembali menyala. Berdenting tanda pesan masuk.

Napasnya terhenti. Sejenak takut untuk melihatnya, namun dia akhirnya membawa benda itu ke depan wajahnya. Hanya satu pesan dari nomor yang selalu ditunggunya.

Yukio.

Yukio tersenyum, nyaris bisa mendengar suara Argha memanggilnya ketika membaca pesan itu. Dia menghela napas, merasa harinya lengkap kembali setelah membaca pesan rutin Argha yang walaupun membuatnya semakin sedih, juga memberikan Yukio rasa aman. Seseorang memerhatikannya, menyayanginya, ingin Yukio tahu apa saja yang dilakukannya seharian. Hal-hal remeh, tapi Yukio selalu mendapati dirinya tertawa membacanya.

Dia sudah akan kembali meletakkan ponselnya ketika pemberitahuan baru masuk ke ponselnya. Sedikit panjang, maka dia mengerjap dan memfokuskan pandangannya pada pemberitahuan itu. Membacanya melalui pemberitahuan perlahan dan merasakan jantungnya mencelos; lembut, tidak lagi sepedih sembilan tahun lalu ketika dia memutuskan melangkah pergi.

Namun ada

Kurasa aku menemukan seseorang sekarang. Berbahagia seperti dirimu. Bagaimana...

Jika Yukio ingin membaca sisa pesannya, dia harus membuka pemberitahuan itu. Namun dia sedang tidak ingin melakukannya, Argha pasti masih memandangi ponselnya sekarang dan tidak ingin mengambil risiko seperti kali terakhir. Dia ingin Argha melupakannya, melanjutkan kehidupannya. Tidak peduli bagaimana pun Yukio.

Dia telah mengambil sebelas tahun waktu Argha untuk merindukan Yukio, Argha berhak untuk berbahagia sekarang. Dia harus berbahagia, Yukio bersikeras tentang itu. Yakin bahwa bahagia Argha bukanlah dengannya. Meskipun mereka berhasil membina hubungan selama lima tahun tanpa pertengkaran yang berarti, Yukio masih sering melihat Argha melamun. Sering mendadak menarik napas dalam-dalam, seolah mengatur emosinya sendiri sebelum kembali bicara dengan Yukio.

Argha benar-benar mengorbankan segalanya untuk Yukio dan itu terlalu mahal. Yukio tidak bisa membalas pengorbanan itu, bahkan cintanya pun tidak akan pernah cukup. Setiap hari, perasaan bersalah itu menggelayuti Yukio dan semakin berat setiap harinya.

Puncaknya ketika Argha pulang ke apartemen mereka, kali pertama dia setuju untuk mencari one night stand atas desakan Yukio. Dia mendengar Argha mandi, begitu lama berdiri di bawah air hangat. Akhirnya memutuskan untuk mengeceknya ke kamar mandi setelah dua puluh menit dan menemukan Argha tengah menangis seraya menggosok tubuhnya kuat-kuat.

Ingatan itu tidak pernah meninggalkan kepala Yukio setelah bertahun-tahun.

Hatinya patah, remuk, dan hancur ketika melihat rasa bersalah hebat di wajah Argha. Menyadari bahwa apa pun yang mereka lakukan, tidak ada jalan solusi lagi dari hubungan mereka. Yukio sudah membebani Argha dengan pengorbanan yang begitu besarnya dan tidak bisa membalasnya karena itu hanya menguntungkan Yukio seorang. Padahal ada dua kepala dalam hubungan mereka.

Maka dia mengambil langkah terakhir.

Yukio menghela napas, menyentuh dadanya sendiri. Menarik laci tadi, meletakkan kembali ponselnya di sana dan menutupnya. Tidak ingin membaca pesan apa pun lagi dari Argha.

Dia melangkah keluar, menekan dadanya sendiri berusaha mencegah rasa sakit lembut aneh yang membuat jantungnya ngilu. Yukio melangkah ke ruang tengah apartemennya yang terang, jendelanya tidak tertutup tirai. Mengizinkan Yukio melihat ke halaman depan gedung apartemennya yang nampak kecil dari lantai atas.

Yukio berdiri di depan bak cuci piring, menatap ke luar jendela dan memikirkan pesan Argha tadi. Dia senang karena Argha akhirnya melakukan apa yang selama ini harus dilakukannya. Berbahagia, memilih kekasih yang pasti bisa mengimbanginya secara seksual.

Namun mau tidak mau, dia juga sedih. Berduka karena akhirnya, setelah sebelas tahun, hubungan mereka benar-benar berakhir. Yukio harus menutup buku itu, menyimpannya agar tidak membebani Argha lagi. Membebani dirinya sendiri.

Mereka berdua layak berbahagia, meskipun tidak bersama satu sama lain.

Salju pertama turun di luar sana dan Yukio menghela napas, mengulurkan tangan ke jendela mati yang tidak bisa dibuka untuk keamanan dan menempelkan telapak tangannya di sana. Mengamati ketika suhu hangat tubuhnya membuat embun tipis berbentuk tangan mengikuti telapaknya.

“柏餅みたいね?” Doesn't it look like kashiwa mochi?

Yukio tersenyum, menatap tangannya sendiri. Teringat ketika Argha meletakkannya di atas tangannya sendiri; seperti daun kashiwa yang membungkus mochi. Argha meremasnya, tersenyum senang ketika melakukannya. Matanya berkilauan, penuh cinta yang hingga saat ini sangat disyukuri Yukio. Bagaimana dia bisa bertemu seseorang yang amat mencintainya, mengapresiasi keberadaannya, memastikan kebutuhannya terpenuhi. Berjuang bersamanya, berusaha membahagiakannya....

Hari itu, turunnya salju pertama ketika Yukio melihatnya. Jangkung, sedikit kurus dengan wajah yang asing dengan sekitarnya. Dia berdiri di depan toko okonomiyaki langganan Yukio, mendongak menatap langit dan menyaksikan hujan salju pertama. Dia mengenakan pakaian yang terlalu tipis untuk musim dingin tapi dia tidak nampak terganggu atas itu.

Yukio menghampirinya, penasaran saja. Selalu bersikap terlalu ramah pada semua orang yang ditemuinya di jalanan. Dan ketika lelaki itu mendongak, pandangan mereka bertemu... Yukio jatuh cinta. Begitu saja.

Hello!” Sapanya, tersenyum dengan jantung berdebar—tidak pernah bertemu lelaki dengan garis wajah setegas lelaki itu.

Argha nampak begitu tampan, nyaris bersinar karena ketampanannya. Pandangannya bisa melelehkan salju sekali pun, dan dia balas tersenyum pada Yukio. Tidak menyangka itulah awal dari kisah cinta mereka yang meskipun terdengar mustahil, namun mampu bertahan lima tahun lamanya.

Dan Yukio tidak menyesal sama sekali; baik mencintai Argha dengan sepenuh hati, juga melepaskannya untuk berbahagia dengan orang yang kini akan memenuhi segala kebutuhannya.

Seseorang yang tidak akan memaksa Argha mengorbankan begitu banyak hal.

Seseorang yang tidak seperti Yukio.

あなたが誰であっても、” bisiknya, menatap kepingan salju yang turun dengan sendu dan senyuman kecil bermain di bibirnya. Berusaha mengabaikan pedih di dadanya karena kini, dia dan Argha sepenuhnya berakhir.

Memikirkan kira-kira seperti apa orang yang dipilih Argha sekarang, orang yang akhirnya menggeser posisi Yukio di hati Argha setelah sebelas tahun lamanya. Dia pastilah melakukan sesuatu yang begitu hebatnya hingga bisa membuat Argha akhirnya memutuskan bahwa dia layak berbahagia setelah sembilan tahun memohon Yukio kembali.

あなたはとても幸運だ。” Bisiknya.

Yukio tersenyum lembut; tahu Argha akan mencintai begitu hebatnya hingga dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Berharap siapa pun dia yang dicintai Argha, ingat untuk mengeremnya. Mengingatkan Argha bahwa dirinya sendiri juga berharga.

Berharap, mereka bahagia.

Whoever you are, you're very lucky.

Dia meraih ponsel barunya, menekan tombol dua sedikit lebih lama dan langsung memanggil nomor seseorang yang diatur sebagai speed dial di angka itu. Yukio merapatkan sweter rajutan yang dikenakannya, masih menonton salju, menempelkan ponsel di telinganya seraya menunggu teleponnya diangkat.

ええ、 もしもし?” Yees, hello?

Yukio tersenyum. “Hikaru?” Bisiknya, entah mengapa merendahkan suaranya padahal dia hanya sendirian di apartemennya.

“Aku akan berangkat ke Bali.”


Abhimanyu tidak yakin apakah menunggu di depan vila pribadi seseorang pukul setengah enam pagi termasuk sopan namun dia mengabaikannya.

Dia memarkir motornya di depan pintu masuk ke vila Argha, menyandarkan kedua sikunya di kepala motor dan menatap ke pintu yang tertutup—sengaja tidak memberi tahu Argha bahwa dia akan menjemputnya sebagai kejutan. Lelaki itu pasti bingung bagaimana caranya berangkat bekerja karena mobilnya rusak.

Abhimanyu juga sudah memasang alarm di ponselnya untuk menelepon bengkel yang akan mengecek mobil Argha nanti. Jika dilihat dari masalahnya, mungkin akinya hanya butuh disetrum sedikit agar responsif tapi karena kemarin mereka mendapatkan masalah itu tengah malam, tidak ada yang bisa dilakukan.

Dia juga bangun pagi hari ini, memasak sesuatu untuk Argha dan membawa helm cadangan di bagasi motornya. Tidak rumit karena dari selera makanan Argha yang serba elegan ala ekspatriat, Abhimanyu memutuskan untuk membuatkannya roti panggang dengan alpukat dan telur rebus, menaburkan sedikit lada di atas telurnya. Menambahkan kentang dan brokoli rebus juga sebagai tambahan. Rela bangun begitu pagi, pergi ke pasar tradisional bersama ibu kosnya untuk membeli brokoli.

Cedrik menyadarkan Abhimanyu bahwa selama mereka bersama, Abhimanyu terlalu banyak menerima. Maka dia berusaha untuk memberi pada kesempatan ini; melakukan apa yang seharusnya dilakukannya pada Cedrik jika dia bisa membalas perasaan lelaki itu. Karena sekarang dia berada di posisi Cedrik, dia akan berusaha membuat Argha memberikannya kesempatan. Berharap karma belum menghampirinya dalam waktu dekat karena telah bersikap tidak adil pada Cedrik.

Abhimanyu menumpukan dagunya di atas kepala motor, tangannya terjulur ke depan dan menguap kecil; berpikir apakah dia seharusnya menelepon Argha? Mengabarinya bahwa dia akan menjemput sehingga dia tidak perlu repot mencari kendaraan? Bibir Abhimanyu membentuk garis tipis sebal, tapi dia ingin memberi kejutan.

Dia membalik wajahnya, menumpukan pipi kirinya sekarang sehingga pandangannya bisa langsung ke pintu kayu vila Argha. Dia meniup anak rambut yang menutupi matanya, menyingkirkannya dengan jengkel ketika kekuatan tiupannya gagal melakukan itu.

Semalam ketika dia mengantarnya pulang, Abhimanyu tidak bisa mengamati tempat itu. Sekarang dia melihat betapa personalnya vila itu. Dindingnya tinggi dengan pecahan kaca ditancapkan di atasnya untuk mencegah seseorang memanjatnya. Pintu utamanya hanya pintu kayu sederhana yang cukup untuk dilalui satu orang dengan empat anak tangga kecil. Abhimanyu bisa melihat beberapa palem ditanam di halamannya, juga bunga bougenvil yang sedang semarak karena ini musim panas. Dari sini, dia hanya bisa melihat atap vila Argha—sedikit penasaran pada bagian dalamnya.

Abhimanyu menguap tertahan seraya menggaruk pipi kanannya—menemukan jerawat di atasnya dan memijitnya, berpikir apakah jangan-jangan Argha sudah berangkat bekerja dan tidak bertemu Abhimanyu? Alisnya berkerut, tapi mereka selalu tiba nyaris bersamaan di restoran jadi seharusnya Argha belum berangkat.

Mendadak, dia panik. Bergegas menegakkan tubuh dan merogoh bagasi depan motornya di mana dia meletakkan ponselnya. Abhimanyu sudah akan menelepon Argha ketika terdengar derit engsel kayu terbuka dengan nyaring.

Abhimanyu menoleh, menemukan Argha yang terkejut berdiri di depan pintu. Dia mengenakan celana panjang kain longgar, kemeja bercorak serta luaran berupa cardigan rajut yang menggantung di bahunya. Rambutnya disisir rapi, memamerkan seluruh keningnya yang tinggi. Wajahnya segar, sedikit merona karena perbedaan suhu. Tas tangan Christian Dior-nya dikaitkan di lekukan lengan kirinya dan dia juga membawa termos 500ml di tangan itu sementara tangannya yang bebas sedang memegang gagang pintu.

Senyuman langsung terbit di bibir Abhimanyu, rasa senang membuncah di hatinya ketika melihat Argha. “Hai, selamat pagi!” Sapanya.

Argha mengerjap. “Sudah kapan di sana?” Tanyanya, nampak kebingungan namun kemudian menutup pintu vilanya dan menuruni tangga. “Lama?”

Abhimanyu menggeleng, “Tidak. Baru saja tiba kok.” Ujarnya, menegakkan tubuh dan meraih helm yang diletakkannya di bagasi depan motornya. “Aku sengaja tidak mengatakan padamu aku akan datang.”

Lelaki itu menghampirinya, membawa aroma parfum lembut yang menyegarkan serta secercah sabun mandinya yang beraroma seperti mawar manis. Abhimanyu seketika menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma Argha meracuni otaknya.

“Aku baru saja akan meminta Sebastien menjemputku,” Argha meringis dan Abhimanyu senang dia tiba lebih dulu dari Mercedes Benz S300 milik Sebastien.

Hidungnya mengembang bangga.

“Selamat pagi, Abhimanyu.” Sapa Argha ketika berdiri di depannya, tersenyum ceria dan Abhimanyu nyaris mengulurkan tangan—mendekapnya erat karena gemas. “Terima kasih karena telah perhatian.”

Abhimanyu akan memperbaiki semua hal yang keliru dilakukannya pada Cedrik. Tidak akan membiarkan siapa pun mengalami apa yang dialami Cedrik; tercekik oleh rasa cintanya sendiri, terjerat harapan yang diberikan Abhimanyu padahal tidak pernah ada balasan atas rasa itu dari sisi Abhimanyu.

Dia ingin memperbaiki diri. Ingin mencintai Argha dengan benar, ingin membuatnya percaya pada Abhimanyu, ingin membuatnya jatuh cinta pada Abhimanyu karena dia tidak akan menyia-nyiakan Argha seperti yang dilakukan mantan kekasihnya dulu.

Do you want some hot tea?” Tanya Argha ketika Abhimanyu memakaikannya helm, menatap Abhimanyu dengan mata gelapnya yang berkilauan. “I made some with spices,”

No, thank you.” Abhimanyu menyingkirkan rambut Argha dari keningnya agar tidak menusuk mata lalu mengaitkan pengaman helm. “I bought you breakfast tho.” Tambahnya.

Argha tersenyum, nampak senang. “Excellent.” Ujarnya senang dan Abhimanyu balas tersenyum. Argha nampak lebih rileks setelah mengenalnya lebih akrab—koreksi, setelah memberi Abhimanyu handjob yang luar biasa di loker kemarin.

Abhimanyu tidak akan melupakan sensasi orgasme yang diberikan tangan Argha untuknya, bagaimana kepalanya menjadi pening karena intensitasnya dan bisikan kotor Argha yang rendah di telinganya—memanjakannya hingga kepalanya nyaris terasa lepas dari lehernya. Iri pada semua bedebah yang merasakan ini dari Argha sebelum mereka bertemu. Abhimanyu terlambat lahir sebelas tahun.

Jika saja dia yang pertama bertemu Argha, hari itu ketika dia kembali ke Paris dari Indonesia dalam keadaan hancur, Abhimanyu takkan pernah melepaskannya.

Mungkin handjob itu jugalah yang menghapus sisa garis dalam hubungan mereka, membuat Argha rileks dan menunjukkan sisinya yang manis dan menggemaskan ini.

We can eat breakfast together before preping.” Ujar Argha lagi, mengembalikan Abhimanyu ke masa sekarang. “How does that sound to you?”

Dia mengangguk, menaiki motornya dan menurunkan kedua sandaran kaki untuk Argha. “Just right.” Sahutnya, memosisikan spion agar dia bisa melihat wajah Argha dari pantulannya selama perjalanan.

Argha menaiki motornya, bergerak sebelum akhirnya menemukan posisi nyaman di atas joknya. “Bagaimana dengan Arsa? Dia sudah bisa bekerja hari ini?” Tanyanya.

“Belum, Chef.” Abhimanyu menggeleng. Kinan sudah menghubunginya tadi pagi agar berangkat ke Ubud setelah menyelesaikan prep di Gourmet karena Arsa masih terbangun karena mimpi buruk dan berhalusinasi ringan. “Pak Kinan hari ini juga datang terlambat karena harus menemani Chef Arsa ke psikiaternya.”

“Oh,” bisik Argha, terdengar simpati. “It sounds bad.” Gumamnya, nyaris tidak terdengar oleh Abhimanyu yang menyalakan mesin motornya.

Yes, it does.” Pikirnya, berharap Cedrik kembali sekarang untuk membantu menyelamatkan restoran karena kedua atasan mereka nampak tidak cukup memiliki energi untuk melakukannya.

“Baiklah,” Argha mengangguk. “Kau selesaikan prep secepat mungkin, makan lalu berangkatlah ke Ubud. Saya akan meminta Diadari mengisi posisimu lagi dan juga membantu Kinan mengecek restoran.”

Abhimanyu mengangguk. Perjalanan bolak-balik Seminyak-Ubud sebenarnya sangat melelahkan, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Dia ingin membantu Arsa dan Kinan, sebisa mungkin. Menekan dirinya melampaui zona nyamannya sendiri. Tempat kerja pertamanya, atasan pertamanya, dan dia sangat beruntung karena mendapatkan pekerjaan yang luar biasa nyaman di kali pertama mencoba.

“Tapi kau juga harus menjaga kondisimu.” Tambah Argha kemudian ketika motor meluncur keluar dari jalan masuk vilanya ke jalan raya menuju Seminyak. “Saya tidak ingin mengambil risiko kau juga jatuh sakit.”

Abhimanyu kembali mengangguk. “Sure thing, Chef.” Katanya.

Argha mengulurkan tangannya yang bebas, memeluk pinggangnya dan Abhimanyu tergelak. Menurunkan tangan kirinya dari stang motor untuk menepuk tangan Argha di atas perutnya—merasa hangat oleh rasa sayang. Abhimanyu meremasnya hangat sebelum kembali memegang stang.

Good boy.” Puji Argha, menumpukan dagunya di bahu Abhimanyu yang tertawa. “I miss you so bad, the kitchen feels lonely without you.” Protesnya, nyaris merengek seperti bayi.

“Ya?” Balas Abhimanyu, terkekeh. Jantungnya berdebar; apakah Argha melakukan ini pada semua pasangan satu malam dan FWB-nya? Karena jika iya, Abhimanyu akan merencanakan pembunuhan berantai. Mereka yang pernah merasakan ini dari Argha harus enyah, karena semuanya harus menjadi milik Abhimanyu.

“Karena tidak ada yang bisa dikerjai, 'kan, maksudnya?” Dia melirik Argha dari spion, berharap lelaki itu tidak mendengar debaran jantungnya yang kuat.

“Tentu saja.” Argha memutar bola matanya, Abhimanyu menangkap gerakan itu dari spionnya yang diarahkan ke Argha—menatap ketika dia bicara, Argha melihat sekitarnya dengan ekspresi serius. Nampak menikmati perjalanan dengan sepeda motor membelah jalan yang masih sepi.

“Memangnya apa lagi?” Tambahnya. “Kau terlalu muda sebelas tahun dariku.”

“Bisakah kau tidak membawa umurmu dalam setiap pembicaraan? Kau memancingku mengatakan sesuatu yang hanya akan membuatmu jengkel.”

“Tidak.”

“Adil sekali.”

“Tentu saja. Aku lebih tua darimu.”

Abhimanyu tersenyum, membalas tatapan Argha di spion. Dia akan membuat Argha jatuh cinta dan dia cukup keras kepala untuk itu.

careful with your heart :p


Thank you for tonight, Team! Have a good rest, see you tomorrow.”

Argha melambaikan tangannya pada tim yang membubarkan dirinya setelah membeokan ucapan selamat tinggal. Argha tersenyum hangat seraya melepas toque di kepalanya dan menghela napas panjang. Tidak tertarik untuk bertemu Sebastien hari ini, tidak tertarik pada seks. Dia lelah, ingin berbaring saja. Mungkin dia harus meminta Sebastien mula mencari FWB baru karena belakangan ini perhatian Argha sudah tidak lagi pada seks dengan Sebastien.

Dia mengusap kepalanya, menyisiri rambutnya yang sedikit lembab setelah sekian jam terjebak di dalam penutup kepala dan memijat kulit kepalanya; memikirkan alasan apa yang harus digunakannya pada Sebastien untuk membatalkan hari ini.

Argha sedang menginginkan waktu sendiri. Memanjakan dirinya, menenangkan kepalanya, terlelap setelah segelas wine dan makanan yang sudah disiapkannya sebelum berangkat tadi; tinggal dihangatkan. Kepalanya berpikir ketika dia mengecek dapur yang mulai kosong sekali lagi; membayangkan tidur yang nyaman dalam dekapan seseorang.

Dan jelas bukan Sebastien.

Dia menghela napas, mematikan lampu di Steward sebelum melangkah keluar dari dapur sambil menarik lepas simpul apron di punggungnya. Dia orang terakhir yang keluar, biasanya melakukan last check dengan Abhimanyu. Argha merogoh saku celananya, sebaiknya membatalkan janjinya dengan segera daripada menyebabkan kekacauan. Walaupun dia paham Sebastien tidak akan marah karena hal semacam ini; dia lelaki paling santai yang pernah ditemui Argha.

Menekan nomor Sebastien, Argha melepas apronnya dan menyampirkannya di lekukan lengannya. Dia harus bertemu Hadrian sebelum pulang, mengecek reservasi dan closing hari ini; membantu Kinan yang sejak pagi nampak seperti macan sakit gigi. Dia tidak pernah marah; butuh lebih banyak cobaan untuk membuatnya menaikkan suara, tapi pagi ini dia membentak PA-nya karena hal sepele.

Bentakannya membuat seluruh restoran bersiaga dan bersikap hati-hati di depannya. Argha bersimpati pada Personal Assistant Kinan. Dia baru bekerja, setegang kawat, kaku, dan canggung. Mungkin Kinan memang benar-benar sudah pada batas maksimalnya: suaminya kembali harus mengonsumsi antidepresan dan Cedrik tidak ada di sini untuk membantunya. Dia juga pulang lebih awal tadi, sekitar pukul tujuh petang padahal biasanya dia akan ikut closing sebelum pulang.

“Biasanya jika tidak ada Chef Arsa, Cedrik yang bertanggung jawab sebagai Executive Head Chef untuk membantu Pak Kinan.” Jelas Abhimanyu tadi, ketika Argha iseng bertanya apa yang terjadi jika kondisi restoran timpang seperti sekarang.

“Jadi Pak Kinan mungkin sedang tertekan sekarang,” Abhimanyu menghela napas dan Argha mengamatinya. “Karena dia harus mengurus semuanya sendirian.”

Ada secercah nada sayang di kalimat Abhimanyu ketika membicarakan Arsa dan Kinan, nada yang sama yang dirasakan Argha pada semua karyawan saat membicarakan atasan mereka. Beberapa kali mengikuti outing sudah memberikan Argha pengetahuan seberapa dekatnya Arsa dan Kinan dengan karyawannya; mereka bukan bos, mereka pemimpin yang sangat mengayomi.

Argha juga sempat melihat Kinan duduk bersama salah satu Steward senior, mendengarkan permasalahan keluarganya. Juga mengirimkan bingkisan pribadi untuk semua karyawannya yang sudah berkeluarga ketika hari raya. Tidak mahal, tapi dia dan Arsa menulis tangan kartunya sendiri. Itu menunjukkan betapa dia menghargai semua karyawannya.

Argha sedang berusaha menemukan posisi nyamannya di perusahaan ini setelah berhasil menyamai ritme bekerja Arsa, berusaha menempatkan dirinya dengan benar serta bergabung dengan karyawan perusahaan.

Sejauh ini berhasil melakukannya dengan mulus walaupun bahasa Indonesia-nya masih kaku dan menyedihkan. Ajaib sekali bagaimana di hari Argha memutuskan dia akan berhenti menjadi seorang Indonesia, semua identitas aslinya lenyap begitu saja kecuali namanya. Argha sama sekali lupa caranya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setelah nyaris belasan tahun tidak menggunakan bahasa itu.

Halo, Sayang?”

Argha mengerjap. “Oh, hai, Seb.” Katanya, mendorong pintu ke arah restoran dan melihat Hadrian di balik komputer sedang mengecek pesanan dan nota pembayaran agar balance ketika diserahkan ke Akunting pagi besok.

“Aku sepertinya tidak bisa datang hari ini,” desahnya dan memijat tengkuknya. “Aku lelah sekali.” Gerutunya dan bisa mendengar Sebastien merengek—bercanda. “Dan sepertinya kau bisa mulai mencari FWB baru mulai sekarang.”

Ah, akhirnya kita tiba di pembicaraan ini,” erang Sebastien dari seberang sana namun Argha bisa mendengar senyuman di bibirnya. “Sejak kau menemani Abhimanyu menangis selama dua hari penuh tanpa mengirimiku pesan, aku sudah tahu aku harus mencari orang baru. Jadi, tidak masalah sama sekali.”

Argha menghela napas, senang sekali. Senang bahwa Sebastien orang yang sama persis dengannya dan tidak meributkan hal-hal sepele semacam ini. Tidak membuang-buang waktu Argha dan jaminan tetap berteman bahkan setelah ini.

“Baiklah,” Argha tersenyum, menyeberangi restoran yang sudah sepi dan remang menuju Hadrian. “Aku akan menghubungimu lagi nanti jika ada yang kubutuhkan.”

Sebastien tergelak serak. “Tentu saja, Sayang. Kontak aku kapan pun kau menyesal melepaskanku demi Abhimanyu.” Dia mendecakkan lidahnya genit dan Argha tergelak.

Dia menutup sambungan, menghampiri Hadrian yang keningnya berkerut. “Ada yang bisa kubantu?” Tanyanya, berdiri di sisi meja reservasi.

Pintu restoran sudah ditutup dan dikunci, tangga menuju ruang perusahaan pun sudah mati. Satu-satunya lampu yang menyala hanyalah lampu di atas kepala Hadrian dan Argha masih kagum bagaimana dia berani menghabiskan tengah malamnya sendirian di restoran yang gelap.

“Halo, Chef.” Hadrian mendongak, tersenyum ceria. “Laporan sudah saya kirim, hanya tinggal memastikan semua bukti debit disatukan dengan notanya untuk dicek Akunting lalu ditagihkan besok ke bank.” Dia menepuk tumpukan kertas di sisi meja yang diikat dengan karet gelang.

Argha mengangguk. “Kau tidak takut di sini sendirian?” Tanyanya, Argha biasanya membantu Hadrian karena dia membereskan dapur. Selalu bertemu Hadrian di loker, sudah menyelesaikan pekerjaannya.

Namun hari ini lumayan ramai sehingga Hadrian memulai closing-nya lebih lambat dari biasanya dan harus tinggal lebih lama. Argha memutuskan untuk menemaninya, sekalian mengobrol dengan Hadrian. Juga menunggu Abhimanyu mengabarinya.

Pesan terakhir yang dikirimkan Abhimanyu hanya sebelum servis, sepertinya dia sibuk sekali dan Argha juga tidak merasakan ponselnya bergetar tanda pesan masuk selama bekerja. Sedikit kesepian karena harus melakukan plating sendirian tanpa rekan mengobrol di sisinya.

“Tidak,” Hadrian tersenyum lebar. “Sudah terbiasa, Chef. Tidak ada yang aneh, kok. Saya sudah lama di Bali, hal-hal semacam itu sudah tidak lagi menakuti saya.” Dia kembali menghitung nota dan merapikannya, memasukannya ke kotak besi dengan kombinasi angka sebagai pengamannya.

“Anda sendiri, Chef?” Tanya Hadrian, mendongak setelah menyimpan bukti pembayaran itu di brangkas kecil di bawah meja reservasi. “Anda takut di sini sendirian?”

Argha mengangkat wajahnya, menatap restoran yang kosong. Semua kursi dinaikkan ke atas meja dalam posisi terbalik, lantai sudah dipel dan dibersihkan, vas-vas dijejerkan di sudut untuk besok kembali diisi air dan bunga segar, dan lampu utama mati. Hanya ada cahaya dari luar yang menyusup dari jendela, ditemani suara riuh jalanan Seminyak serta sayup obrolan dua Security yang berjaga di pos depan.

“Saya bahkan tidak percaya Tuhan.” Argha tersenyum dan Hadrian tergelak pelan—suaranya menggema dalam restoran yang hening.

“Ah, wine Anda, Chef.” Hadrian menoleh ke meja kecil di sisi komputer yang biasanya digunakan untuk meletakkan pesanan tamu yang akan diambil sebelum pulang.

Dia meraih hadiah Argha dan mengulurkan sebotol wine lokal Bali yang Argha dan Sebastien sukai itu, dikemas dengan cantik dan diikatkan pita bertuliskan 'LE GOURMET' megah di lehernya, ada tag kecil di pita itu berisi detail Le Gourmet. Simpel dan elegan.

“Terima kasih.” Argha menerima botol itu, merasakan beratnya dan mengecek tahunnya. “Wah, 2005.” Dia tersenyum, membayangkan betapa senangnya Sebastien atas hubungannya dengan Abhimanyu hingga dia mengeluarkan uang sebanyak itu untuknya.

“Pak Ricci memiliki selera yang bagus sekali tentang wine.” Komentar Hadrian sopan, tersenyum ketika mereka mulai meninggalkan ruang restoran menuju bagian karyawan.

Mereka kemudian berdampingan melangkah ke loker, berganti baju dan keluar dari restoran ke lift yang membawa mereka ke basemen. Argha tahu usia hubungan Hadrian dengan Khrisna, bagaimana dia dekat dengan Abhimanyu, juga hubungan anak itu dengan kakaknya.

“Tidak terlalu baik,” Hadrian mengeluarkan jaket dari tasnya, meringis. “Mereka berdua kikuk jika dihadapkan dengan ungkapan kasih sayang, belum lagi karena Kris kabur dari rumah dua tahun lalu dan tidak menjelaskan apa pun ke Abhimanyu.”

“Saya sendiri,” tambahnya ketika memasuki lift dan menekan tombol Basement. “Tidak yakin siapa yang harus disalahkan. Kris meninggalkan rumah karena masalahnya sendiri, perasaannya valid. Dia berhak untuk pergi dari tempat itu. Namun ternyata kepergiannya menimbulkan luka yang terlalu dalam untuk Abhimanyu. Membuat anak itu merasa diabaikan, ditinggalkan.”

Ingatan Argha melayang ke hari ketika dia menemukan Abhimanyu meringkuk di lantai kosannya, menangis hingga tersengal menggumamkan 'bagaimana denganku?' berulang-ulang di sela tangisnya. Argha pikir, dia pastilah tergantung begitu kuat pada Cedrik secara emosional hingga kepergian Cedrik membuatnya terluka begitu dalam.

Namun sekarang setelah mendengar cerita masa lalu Abhimanyu dari pihak selain pelaku, Argha memahami luka itu. Dan setuju pada Hadrian karena perasaan kedua kakak-beradik itu sama validnya. Abhimanyu merasa ditinggalkan karena Khrisna tidak menjelaskan apa pun, persis di hari kepulangan Abhimanyu ke Indonesia. Membuatnya terlihat seolah kehadiran Abhimanyu-lah yang mendorongnya pergi.

“Saya rasa,” Hadrian menghela napas. “Mereka perlu bicara dan saling memaafkan. Karena dalam kejadian itu tidak ada yang salah sama sekali. Mereka hanya salah paham.”

Argha mengangguk, meraih kunci mobilnya. “Saya setuju.” Gumamnya, memikirkan Abhimanyu dan Cedrik; lelaki itu berada di sisi Abhimanyu persis ketika dia membutuhkan sokongan.

Apakah jika Cedrik bukan aseksual dan Abhimanyu bukan hypersexual mereka akan menjadi pasangan serasi yang tidak mungkin dipisahkan? Dan Argha tidak akan memiliki kesempatan sama sekali ketika dia tiba, sangat terlambat, dua tahun kemudian?

“Keras kepala, mereka itu.” Hadrian terkekeh lembut, Argha bisa mendengar kasih sayang disuaranya ketika membicarakan Khrisna dan Abhimanyu. “Dalam Hindu, Khrisna adalah awatara atau wujud yang dipilih Dewa Wisnu untuk turun ke Bumi, menemani Arjuna dalam perang Bhratayuda, semacam penasihat dan ayah Arjuna selama perang. Dan Abhimanyu adalah anak Arjuna.”

Argha tertawa. “Kakek dan anak pertama lelaki memang tidak pernah akur.” Komentarnya dan Hadrian tertawa, berhenti di motornya lalu bersiap untuk pulang.

Argha membuka pintu mobilnya, memasukkan tasnya ke kursi penumpang lalu menyelipkan dirinya masuk. “Sampai bertemu besok, Hadrian.” Katanya tersenyum dan melambai kecil. “Selamat beristirahat.”

Hadrian mengangguk, sudah mengenakan jaket dan helmnya. “Anda juga, Chef.” Dia kemudian mendirikan motornya dan menyalakan mesinnya. “Saya duluan, Chef!” Pamitnya lalu memutar dan meluncur pergi.

Argha melambai, menutup pintunya dan menyelipkan kunci mobilnya. Mendesah ketika memutarnya lalu menekan tombol Start Engine hanya untuk mendapati mobilnya tidak bereaksi. Perutnya mencelos, sejenak panik dan berusaha menekan tombol itu lagi; mesin menggeram kecil sebelum kembali mati.

Putain!” Geramnya, berpikir pastilah ada sesuatu yang salah dengan kelistrikan mobilnya—mungkin akinya butuh distrum sedikit agar responsif.

Dia memukul kemudi sekali dengan jengkel, berpikir bahwa pagi tadi mobilnya baik-baik saja lalu memutuskan untuk bertingkah persis setelah Argha sendirian. Dia merogoh tas tangannya, mencari ponsel untuk menghubungi Sebastien—memintanya menjemput Argha dan mengurus mobilnya besok. Dia lelah, hanya ingin mandi lalu berbaring dengan wine hadiah dari Sebastien tadi. Tapi sebelum dia sempat membuka kontak mencari nama Sebastien, motor menderum lembut memasuki ruang parkir dan Argha menoleh.

Motor itu meluncur ke dekat mobilnya, menggeram sebentar lalu mati. Argha mengamati motor itu hingga tiba ke sisi mobilnya dan menyadari Abhimanyu berada di atasnya, menaikkan kaca helmnya dengan wajah khawatir.

Rasa lega membanjiri tubuh Argha ketika melihat wajah familiar di sekitarnya. Dia menurunkan ponselnya, membatalkan panggilannya pada Sebastien dan menurunkan jendelanya.

What's wrong?” Tanya Abhimanyu dengan suara sarat rasa cemas yang membuat dasar perut Argha berdesir; dia melepas helmnya, membebaskan rambut ikal menggemaskannya. “Kenapa belum pulang?”

Argha menghela napas. “Mobil rusak,” gerutunya. “Lihat, tidak nyala. Sudah dicoba tadi. Tapi juga tidak mau.” Dia mengulurkan tangan, membuka pintu pengemudi sehingga lampu kabin menyala; memberi ruang untuk Abhimanyu mengecek mobilnya.

Abhimanyu menuruni motornya, melepas helm untuk menghampiri Argha dan berdiri di sisinya—aroma tubuhnya seperti udara dingin, jalanan, dan secercah parfumnya. Dia merunduk, dekat dengan wajah Argha untuk melihat kemudi.

“Lihat.” Argha menekan tombol Start Engine sekali lagi, mobil menggeram meresponsnya sebelum kembali mati. “Tidak nyala. Tidak bisa pulang.” Dia mendesah, mendongak ke Abhimanyu di sisinya—setengah rambutnya, diselipkan ke belakang telinganya sementara dia mengerutkan alis.

Dia nampak begitu tampan hingga Argha ingin mendesah; alisnya berkerut, bibirnya membentuk garis tipis karena sedang serius dan ekspresinya tegas. Beraroma keringat yang anehnya membuat Argha ingin membenamkan diri ke dalam aroma itu. Membuatnya nyaman, melenturkan sarafnya yang tegang sejak tadi bekerja.

Abhimanyu menegakkan dirinya. “Tinggalkan saja di sini,” katanya kemudian menoleh ke Argha yang mengerutkan alis. “Kita telepon bengkel besok, sekarang sudah malam. Kau pasti lelah. Aku antar pulang saja.”

Argha sejenak diam. Jika dia mengizinkan Abhimanyu mengantarnya pulang, maka dia akan menjadi orang pertama di Bali yang mengetahui kediamanya. Apakah dia siap untuk itu? Kemungkinan Abhimanyu akan muncul begitu saja di depan vilanya karena dia punya akses? Apakah Argha nyaman atas itu?

Dia menghela napas. “Oke.” Katanya, meraih tasnya dan botol wine-nya—dia akan minum segelas malam ini, bayaran atas segala kesialan ini. Dia mematikan mesin mobil, menarik kuncinya dan keluar. “Tapi tidak punya helm. Tidak apa-apa?” Tanyanya ketika berdiri di sisi motor Abhimanyu.

“Tidak masalah, dekat kok.” Abhimanyu mengangguk. “Kita lewat jalan pintas saja. Aku tahu.”

Argha menatapnya sejenak, skeptis. Tidak yakin apakah berkendara dengan motor cukup aman untuk kepalanya jika tidak menggunakan helm. Tapi dibanding dia menunggu di sana atau pulang dengan orang yang tidak dikenal dalam taksi, motor Abhimanyu terdengar lebih aman.

“Percayalah padaku.” Abhimanyu tersenyum dan mengulurkan tangan, mengusap kepala Argha lembut. “Aku bisa mengendarai motorku dengan baik.” Senyumannya melebar, hingga matanya membentuk bulan sabit menggemaskan dengan kerut kipas di kedua ujungnya.

Jantungnya berdebar, memukul rusuknya kuat hingga Argha menghela napas tajam. Anak itu begitu menggemaskan, hangat, lembut; tidak seperti apa pun atau siapa pun yang Argha temui sepanjang hidupnya yang dingin dan asing. Abhimanyu nampak seperti rumah, dibesarkan oleh kedua orang tuanya dan juga dimanjakan semua orang di sekitarnya.

Sangat berlawanan dengan Argha yang menghabiskan sisa masa dewasanya sendirian, berusaha menghidupi dirinya sendiri sebagai yatim piatu. Tidak pernah mendapat belas kasih kehidupan atau dimanjakan siapa pun. Mungkin hidup mereka yang bertolak belakang itulah yang menarik mereka pada satu sama lain; Argha yang mendambakan kehangatan Abhimanyu dan Abhimanyu yang membutuhkan ketegasan serta dinginnya sikap Argha.

Argha tersenyum. “Oke kalau begitu.” Katanya lalu mengunci mobilnya, memasukan kuncinya ke dalam tas.

Abhimanyu membuka jaketnya, mengulurkannya ke Argha. “Pakaianmu terlalu tipis untuk berkendara dengan motor.” Katanya.

Argha menunduk, menatap kemeja suteranya lalu meringis. “Oke.” Katanya.

Abhimanyu mengambil alih tas dan botol anggur Argha; menggantungkan tasnya di atas tangki motor dan memegang botol anggur Argha. Mengamatinya mengenakan jaket berkendara Abhimanyu yang beraroma pekat seperti Abhimanyu, memeluknya dalam kehangatan yang familiar. Argha mendekap dirinya sendiri, senang menerima benda hangat itu.

Here,” Abhimanyu tersenyum, mengulurkan botol anggur kembali ke Argha lalu mengambil helmnya. Dia membukanya, memasangkannya lembut ke kepala Argha, mengaitkannya hingga terdengar suara klik! nyaring lalu dengan jemari menyingkirkan sisa anak rambut di kening Argha.

“Nah. Kau siap untuk menundukkan jalanan sekarang.” Guraunya, menepuk kepala Argha dari luar helmnya.

Argha menatapnya, tidak bisa menahan senyuman lebarnya. Sejak kapan dia merasa sangat nyaman bersama Abhimanyu? Perasaan hangat yang pertama kali terbit di hatinya, memeluk benda itu dan membuat seluruh tubuh Argha berdenyar penuh kehangatan ketika Abhimanyu berada di sekitarnya.

Dia tidak lagi ingin menghubungi Yukio, tidak ingin mengingat kesedihan dan kehampaan selama Yukio tidak membalas pesannya. Refleks mencari Abhimanyu untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak perlu kembali mengasihani dirinya sendiri. Karena sekarang ada Abhimanyu; anak kecil naif yang ternyata begitu lembut dan hangat—di luar dugaan Argha.

Percayalah padaku.

Usia mereka terpaut sangat jauh, Argha pikir dia mungkin akan berakhir menjadi babysitter untuk emosi Abhimanyu. Mengurus bayi yang akan merepotkannya. Namun dia sama sekali tidak siap ketika Abhimanyu berdiri, bertanggung jawab untuk Argha seperti sekarang.

Tua dan dewasa adalah hal yang berbeda,” pikirnya ketika Abhimanyu menaiki motornya dan mendirikannya.

Hop in, Babe.” Katanya, menoleh ke Argha—nampak sangat manis dengan rambut ikal membingkai wajahnya, mata serupa citrine yang berkilauan, dan senyuman lebar di bibirnya.

Dia mengulurkan tangan, membantu menurunkan kedua pijakan kaki untuk Argha sebelum mengembalikan tangannya ke stang motor. Argha menjulurkan kakinya, menumpukan satu tangannya di bahu Abhimanyu dan menarik dirinya duduk di jok belakang NMax Abhimanyu yang ternyata lebih besar dari yang dipikirkannya.

“Motormu besar. Sekali.” Gerutunya dan Abhimanyu tergelak.

“Tinggiku seratus delapan puluh lima, membawa motor selain motor besar akan membuatku nampak seperti gajah sirkus.” Abhimanyu memosisikan spion hingga mereka bisa bertatapan melalui refleksinya. “Siap?”

Argha mencengkeram bahunya karena tangan satunya memegang botol anggur tahun 2005 yang lebih mahal dari kepala Abhimanyu. “Tidak.” Katanya, setengah mencicit—secara tulus takut pada perjalanan ini.

“Tenanglah.” Abhimanyu memundurkan motornya dan Argha berjengit, sedikit takut. “Pegangan.” Katanya lalu terkekeh ketika Argha mencengkeram bahunya semakin kuat. “Di sini,” tambahnya meraih tangan Argha dan meletakkannya di pinggangnya.

Argha mendengus. “Sengaja, ya?” Tanyanya, setengah menuduh dan menatap ke spion yang memantulkan pandangan Abhimanyu. Tersenyum lebar hingga pipinya nyeri.

“Ketahuan, deh.” Abhimanyu nyengir lalu menyalakan mesinnya. “Kita meluncur mengantarkan Yang Mulia pulang ke kediamannya.” Gurau Abhimanyu ketika motor meluncur ke pintu keluar basemen restoran.

Mereka mengklakson Security yang berjaga malam itu, menitipkan mobil Argha di basemen dengan keadaan terkunci sebelum Abhimanyu mengendarai motornya bergabung ke jalanan Seminyak yang masih ramai. Argha di belakangnya, setengah terlindungi tubuh bidang Abhimanyu dari angin malam yang bahkan di balik jaket pun masih terasa sedikit menggigit.

“Abhim?” Tanya Argha kemudian, meninggikan suaranya agar Abhimanyu mendengarnya.

“Yaaa?” Balas Abhimanyu, melirik ke spion yang diarahkannya ke Argha. “Kenapa?”

“Siapa kasih tahu aku masih di parkir tadi?” Tanyanya, membalas tatapan Abhimanyu di spion motor.

Abhimanyu sejenak diam lalu mengedikkan bahunya, membelok ke jalanan kecil yang anehnya ramai. Pasti jalan pintas yang dikatakannya tadi. Dia nampak rileks berkendara dengan kecepatan 50km/jam tanpa helm dan jaket, sudah terbiasa melakukannya selama ini. Berbeda dengan Argha yang tidak pernah berkendara dengan motor selepas masa SMA-nya.

“Entahlah.” Katanya, menembus jalanan. “Aku hanya berpikir aku harus mampir ke Gourmet sebentar dan ketika aku bertanya, Security bilang kau belum keluar. Jadi aku memutuskan untuk mengecekmu.”

Argha diam sejenak lalu menghela napas. Senang Abhimanyu memutuskan untuk mampir dan mengeceknya, menemukan Argha persis sebelum dia meledak dalam emosi impulsif akibat kesialan tiba-tiba tadi

“Terima kasih, Abhimanyu.”

Abhimanyu menatapnya dari spion, mata mereka bertemu. “Kembali kasih, Argha.”

Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Abhimanyu. “Awas menabrak. Aku masih ingin hidup.” Katanya, menyamarkan keinginannya memeluk Abhimanyu dengan kecemasan menaiki sepeda motor.

Lelaki itu tergelak. “Tenang saja!”

Dan Argha percaya. Begitu saja.


ps. eheheh


Thank you for tonight, Team! Have a good rest, see you tomorrow.”

Argha melambaikan tangannya pada tim yang membubarkan dirinya setelah membeokan ucapan selamat tinggal. Argha tersenyum hangat seraya melepas toque di kepalanya dan menghela napas panjang. Tidak tertarik untuk bertemu Sebastien hari ini, tidak tertarik pada seks. Dia lelah, ingin berbaring saja. Mungkin dia harus meminta Sebastien mula mencari FWB baru karena belakangan ini perhatian Argha sudah tidak lagi pada seks dengan Sebastien.

Dia mengusap kepalanya, menyisiri rambutnya yang sedikit lembab setelah sekian jam terjebak di dalam penutup kepala dan memijat kulit kepalanya; memikirkan alasan apa yang harus digunakannya pada Sebastien untuk membatalkan hari ini.

Argha sedang menginginkan waktu sendiri. Memanjakan dirinya, menenangkan kepalanya, terlelap setelah segelas wine dan makanan yang sudah disiapkannya sebelum berangkat tadi; tinggal dihangatkan. Kepalanya berpikir ketika dia mengecek dapur yang mulai kosong sekali lagi; membayangkan tidur yang nyaman dalam dekapan seseorang.

Dan jelas bukan Sebastien.

Dia menghela napas, mematikan lampu di Steward sebelum melangkah keluar dari dapur sambil menarik lepas simpul apron di punggungnya. Dia orang terakhir yang keluar, biasanya melakukan last check dengan Abhimanyu. Argha merogoh saku celananya, sebaiknya membatalkan janjinya dengan segera daripada menyebabkan kekacauan. Walaupun dia paham Sebastien tidak akan marah karena hal semacam ini; dia lelaki paling santai yang pernah ditemui Argha.

Menekan nomor Sebastien, Argha melepas apronnya dan menyampirkannya di lekukan lengannya. Dia harus bertemu Hadrian sebelum pulang, mengecek reservasi dan closing hari ini; membantu Kinan yang sejak pagi nampak seperti macan sakit gigi. Dia tidak pernah marah; butuh lebih banyak cobaan untuk membuatnya menaikkan suara, tapi pagi ini dia membentak PA-nya karena hal sepele.

Bentakannya membuat seluruh restoran bersiaga dan bersikap hati-hati di depannya. Argha bersimpati pada Personal Assistant Kinan. Dia baru bekerja, setegang kawat, kaku, dan canggung. Mungkin Kinan memang benar-benar sudah pada batas maksimalnya: suaminya kembali harus mengonsumsi antidepresan dan Cedrik tidak ada di sini untuk membantunya. Dia juga pulang lebih awal tadi, sekitar pukul tujuh petang padahal biasanya dia akan ikut closing sebelum pulang.

“Biasanya jika tidak ada Chef Arsa, Cedrik yang bertanggung jawab sebagai Executive Head Chef untuk membantu Pak Kinan.” Jelas Abhimanyu tadi, ketika Argha iseng bertanya apa yang terjadi jika kondisi restoran timpang seperti sekarang.

“Jadi Pak Kinan mungkin sedang tertekan sekarang,” Abhimanyu menghela napas dan Argha mengamatinya. “Karena dia harus mengurus semuanya sendirian.”

Ada secercah nada sayang di kalimat Abhimanyu ketika membicarakan Arsa dan Kinan, nada yang sama yang dirasakan Argha pada semua karyawan saat membicarakan atasan mereka. Beberapa kali mengikuti outing sudah memberikan Argha pengetahuan seberapa dekatnya Arsa dan Kinan dengan karyawannya; mereka bukan bos, mereka pemimpin yang sangat mengayomi.

Argha juga sempat melihat Kinan duduk bersama salah satu Steward senior, mendengarkan permasalahan keluarganya. Juga mengirimkan bingkisan pribadi untuk semua karyawannya yang sudah berkeluarga ketika hari raya. Tidak mahal, tapi dia dan Arsa menulis tangan kartunya sendiri. Itu menunjukkan betapa dia menghargai semua karyawannya.

Argha sedang berusaha menemukan posisi nyamannya di perusahaan ini setelah berhasil menyamai ritme bekerja Arsa, berusaha menempatkan dirinya dengan benar serta bergabung dengan karyawan perusahaan.

Sejauh ini berhasil melakukannya dengan mulus walaupun bahasa Indonesia-nya masih kaku dan menyedihkan. Ajaib sekali bagaimana di hari Argha memutuskan dia akan berhenti menjadi seorang Indonesia, semua identitas aslinya lenyap begitu saja kecuali namanya. Argha sama sekali lupa caranya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setelah nyaris belasan tahun tidak menggunakan bahasa itu.

Halo, Sayang?”

Argha mengerjap. “Oh, hai, Seb.” Katanya, mendorong pintu ke arah restoran dan melihat Hadrian di balik komputer sedang mengecek pesanan dan nota pembayaran agar balance ketika diserahkan ke Akunting pagi besok.

“Aku sepertinya tidak bisa datang hari ini,” desahnya dan memijat tengkuknya. “Aku lelah sekali.” Gerutunya dan bisa mendengar Sebastien merengek—bercanda. “Dan sepertinya kau bisa mulai mencari FWB baru mulai sekarang.”

Ah, akhirnya kita tiba di pembicaraan ini,” erang Sebastien dari seberang sana namun Argha bisa mendengar senyuman di bibirnya. “Sejak kau menemani Abhimanyu menangis selama dua hari penuh tanpa mengirimiku pesan, aku sudah tahu aku harus mencari orang baru. Jadi, tidak masalah sama sekali.”

Argha menghela napas, senang sekali. Senang bahwa Sebastien orang yang sama persis dengannya dan tidak meributkan hal-hal sepele semacam ini. Tidak membuang-buang waktu Argha dan jaminan tetap berteman bahkan setelah ini.

“Baiklah,” Argha tersenyum, menyeberangi restoran yang sudah sepi dan remang menuju Hadrian. “Aku akan menghubungimu lagi nanti jika ada yang kubutuhkan.”

Sebastien tergelak serak. “Tentu saja, Sayang. Kontak aku kapan pun kau menyesal melepaskanku demi Abhimanyu.” Dia mendecakkan lidahnya genit dan Argha tergelak.

Dia menutup sambungan, menghampiri Hadrian yang keningnya berkerut. “Ada yang bisa kubantu?” Tanyanya, berdiri di sisi meja reservasi.

Pintu restoran sudah ditutup dan dikunci, tangga menuju ruang perusahaan pun sudah mati. Satu-satunya lampu yang menyala hanyalah lampu di atas kepala Hadrian dan Argha masih kagum bagaimana dia berani menghabiskan tengah malamnya sendirian di restoran yang gelap.

“Halo, Chef.” Hadrian mendongak, tersenyum ceria. “Laporan sudah saya kirim, hanya tinggal memastikan semua bukti debit disatukan dengan notanya untuk dicek Akunting lalu ditagihkan besok ke bank.” Dia menepuk tumpukan kertas di sisi meja yang diikat dengan karet gelang.

Argha mengangguk. “Kau tidak takut di sini sendirian?” Tanyanya, Argha biasanya membantu Hadrian karena dia membereskan dapur. Selalu bertemu Hadrian di loker, sudah menyelesaikan pekerjaannya.

Namun hari ini lumayan ramai sehingga Hadrian memulai closing-nya lebih lambat dari biasanya dan harus tinggal lebih lama. Argha memutuskan untuk menemaninya, sekalian mengobrol dengan Hadrian. Juga menunggu Abhimanyu mengabarinya.

Pesan terakhir yang dikirimkan Abhimanyu hanya sebelum servis, sepertinya dia sibuk sekali dan Argha juga tidak merasakan ponselnya bergetar tanda pesan masuk selama bekerja. Sedikit kesepian karena harus melakukan plating sendirian tanpa rekan mengobrol di sisinya.

“Tidak,” Hadrian tersenyum lebar. “Sudah terbiasa, Chef. Tidak ada yang aneh, kok. Saya sudah lama di Bali, hal-hal semacam itu sudah tidak lagi menakuti saya.” Dia kembali menghitung nota dan merapikannya, memasukannya ke kotak besi dengan kombinasi angka sebagai pengamannya.

“Anda sendiri, Chef?” Tanya Hadrian, mendongak setelah menyimpan bukti pembayaran itu di brangkas kecil di bawah meja reservasi. “Anda takut di sini sendirian?”

Argha mengangkat wajahnya, menatap restoran yang kosong. Semua kursi dinaikkan ke atas meja dalam posisi terbalik, lantai sudah dipel dan dibersihkan, vas-vas dijejerkan di sudut untuk besok kembali diisi air dan bunga segar, dan lampu utama mati. Hanya ada cahaya dari luar yang menyusup dari jendela, ditemani suara riuh jalanan Seminyak serta sayup obrolan dua Security yang berjaga di pos depan.

“Saya bahkan tidak percaya Tuhan.” Argha tersenyum dan Hadrian tergelak pelan—suaranya menggema dalam restoran yang hening.

“Ah, wine Anda, Chef.” Hadrian menoleh ke meja kecil di sisi komputer yang biasanya digunakan untuk meletakkan pesanan tamu yang akan diambil sebelum pulang.

Dia meraih hadiah Argha dan mengulurkan sebotol wine lokal Bali yang Argha dan Sebastien sukai itu, dikemas dengan cantik dan diikatkan pita bertuliskan 'LE GOURMET' megah di lehernya, ada tag kecil di pita itu berisi detail Le Gourmet. Simpel dan elegan.

“Terima kasih.” Argha menerima botol itu, merasakan beratnya dan mengecek tahunnya. “Wah, 2005.” Dia tersenyum, membayangkan betapa senangnya Sebastien atas hubungannya dengan Abhimanyu hingga dia mengeluarkan uang sebanyak itu untuknya.

“Pak Ricci memiliki selera yang bagus sekali tentang wine.” Komentar Hadrian sopan, tersenyum ketika mereka mulai meninggalkan ruang restoran menuju bagian karyawan.

Mereka kemudian berdampingan melangkah ke loker, berganti baju dan keluar dari restoran ke lift yang membawa mereka ke basemen. Argha tahu usia hubungan Hadrian dengan Khrisna, bagaimana dia dekat dengan Abhimanyu, juga hubungan anak itu dengan kakaknya.

“Tidak terlalu baik,” Hadrian mengeluarkan jaket dari tasnya, meringis. “Mereka berdua kikuk jika dihadapkan dengan ungkapan kasih sayang, belum lagi karena Kris kabur dari rumah dua tahun lalu dan tidak menjelaskan apa pun ke Abhimanyu.”

“Saya sendiri,” tambahnya ketika memasuki lift dan menekan tombol Basement. “Tidak yakin siapa yang harus disalahkan. Kris meninggalkan rumah karena masalahnya sendiri, perasaannya valid. Dia berhak untuk pergi dari tempat itu. Namun ternyata kepergiannya menimbulkan luka yang terlalu dalam untuk Abhimanyu. Membuat anak itu merasa diabaikan, ditinggalkan.”

Ingatan Argha melayang ke hari ketika dia menemukan Abhimanyu meringkuk di lantai kosannya, menangis hingga tersengal menggumamkan 'bagaimana denganku?' berulang-ulang di sela tangisnya. Argha pikir, dia pastilah tergantung begitu kuat pada Cedrik secara emosional hingga kepergian Cedrik membuatnya terluka begitu dalam.

Namun sekarang setelah mendengar cerita masa lalu Abhimanyu dari pihak selain pelaku, Argha memahami luka itu. Dan setuju pada Hadrian karena perasaan kedua kakak-beradik itu sama validnya. Abhimanyu merasa ditinggalkan karena Khrisna tidak menjelaskan apa pun, persis di hari kepulangan Abhimanyu ke Indonesia. Membuatnya terlihat seolah kehadiran Abhimanyu-lah yang mendorongnya pergi.

“Saya rasa,” Hadrian menghela napas. “Mereka perlu bicara dan saling memaafkan. Karena dalam kejadian itu tidak ada yang salah sama sekali. Mereka hanya salah paham.”

Argha mengangguk, meraih kunci mobilnya. “Saya setuju.” Gumamnya, memikirkan Abhimanyu dan Cedrik; lelaki itu berada di sisi Abhimanyu persis ketika dia membutuhkan sokongan.

Apakah jika Cedrik bukan aseksual dan Abhimanyu bukan hypersexual mereka akan menjadi pasangan serasi yang tidak mungkin dipisahkan? Dan Argha tidak akan memiliki kesempatan sama sekali ketika dia tiba, sangat terlambat, dua tahun kemudian?

“Keras kepala, mereka itu.” Hadrian terkekeh lembut, Argha bisa mendengar kasih sayang disuaranya ketika membicarakan Khrisna dan Abhimanyu. “Dalam Hindu, Khrisna adalah awatara atau wujud yang dipilih Dewa Wisnu untuk turun ke Bumi, menemani Arjuna dalam perang Bhratayuda, semacam penasihat dan ayah Arjuna selama perang. Dan Abhimanyu adalah anak Arjuna.”

Argha tertawa. “Kakek dan anak pertama lelaki memang tidak pernah akur.” Komentarnya dan Hadrian tertawa, berhenti di motornya lalu bersiap untuk pulang.

Argha membuka pintu mobilnya, memasukkan tasnya ke kursi penumpang lalu menyelipkan dirinya masuk. “Sampai bertemu besok, Hadrian.” Katanya tersenyum dan melambai kecil. “Selamat beristirahat.”

Hadrian mengangguk, sudah mengenakan jaket dan helmnya. “Anda juga, Chef.” Dia kemudian mendirikan motornya dan menyalakan mesinnya. “Saya duluan, Chef!” Pamitnya lalu memutar dan meluncur pergi.

Argha melambai, menutup pintunya dan menyelipkan kunci mobilnya. Mendesah ketika memutarnya lalu menekan tombol Start Engine hanya untuk mendapati mobilnya tidak bereaksi. Perutnya mencelos, sejenak panik dan berusaha menekan tombol itu lagi; mesin menggeram kecil sebelum kembali mati.

Putain!” Geramnya, berpikir pastilah ada sesuatu yang salah dengan kelistrikan mobilnya—mungkin akinya butuh distrum sedikit agar responsif.

Dia memukul kemudi sekali dengan jengkel, berpikir bahwa pagi tadi mobilnya baik-baik saja lalu memutuskan untuk bertingkah persis setelah Argha sendirian. Dia merogoh tas tangannya, mencari ponsel untuk menghubungi Sebastien—memintanya menjemput Argha dan mengurus mobilnya besok. Dia lelah, hanya ingin mandi lalu berbaring dengan wine hadiah dari Sebastien tadi. Tapi sebelum dia sempat membuka kontak mencari nama Sebastien, motor menderum lembut memasuki ruang parkir dan Argha menoleh.

Motor itu meluncur ke dekat mobilnya, menggeram sebentar lalu mati. Argha mengamati motor itu hingga tiba ke sisi mobilnya dan menyadari Abhimanyu berada di atasnya, menaikkan kaca helmnya dengan wajah khawatir.

Rasa lega membanjiri tubuh Argha ketika melihat wajah familiar di sekitarnya. Dia menurunkan ponselnya, membatalkan panggilannya pada Sebastien dan menurunkan jendelanya.

What's wrong?” Tanya Abhimanyu dengan suara sarat rasa cemas yang membuat dasar perut Argha berdesir; dia melepas helmnya, membebaskan rambut ikal menggemaskannya. “Kenapa belum pulang?”

Argha menghela napas. “Mobil rusak,” gerutunya. “Lihat, tidak nyala. Sudah dicoba tadi. Tapi juga tidak mau.” Dia mengulurkan tangan, membuka pintu pengemudi sehingga lampu kabin menyala; memberi ruang untuk Abhimanyu mengecek mobilnya.

Abhimanyu menuruni motornya, melepas helm untuk menghampiri Argha dan berdiri di sisinya—aroma tubuhnya seperti udara dingin, jalanan, dan secercah parfumnya. Dia merunduk, dekat dengan wajah Argha untuk melihat kemudi.

“Lihat.” Argha menekan tombol Start Engine sekali lagi, mobil menggeram meresponsnya sebelum kembali mati. “Tidak nyala. Tidak bisa pulang.” Dia mendesah, mendongak ke Abhimanyu di sisinya—setengah rambutnya, diselipkan ke belakang telinganya sementara dia mengerutkan alis.

Dia nampak begitu tampan hingga Argha ingin mendesah; alisnya berkerut, bibirnya membentuk garis tipis karena sedang serius dan ekspresinya tegas. Beraroma keringat yang anehnya membuat Argha ingin membenamkan diri ke dalam aroma itu. Membuatnya nyaman, melenturkan sarafnya yang tegang sejak tadi bekerja.

Abhimanyu menegakkan dirinya. “Tinggalkan saja di sini,” katanya kemudian menoleh ke Argha yang mengerutkan alis. “Kita telepon bengkel besok, sekarang sudah malam. Kau pasti lelah. Aku antar pulang saja.”

Argha sejenak diam. Jika dia mengizinkan Abhimanyu mengantarnya pulang, maka dia akan menjadi orang pertama di Bali yang mengetahui kediamanya. Apakah dia siap untuk itu? Kemungkinan Abhimanyu akan muncul begitu saja di depan vilanya karena dia punya akses? Apakah Argha nyaman atas itu?

Dia menghela napas. “Oke.” Katanya, meraih tasnya dan botol wine-nya—dia akan minum segelas malam ini, bayaran atas segala kesialan ini. Dia mematikan mesin mobil, menarik kuncinya dan keluar. “Tapi tidak punya helm. Tidak apa-apa?” Tanyanya ketika berdiri di sisi motor Abhimanyu.

“Tidak masalah, dekat kok.” Abhimanyu mengangguk. “Kita lewat jalan pintas saja. Aku tahu.”

Argha menatapnya sejenak, skeptis. Tidak yakin apakah berkendara dengan motor cukup aman untuk kepalanya jika tidak menggunakan helm. Tapi dibanding dia menunggu di sana atau pulang dengan orang yang tidak dikenal dalam taksi, motor Abhimanyu terdengar lebih aman.

“Percayalah padaku.” Abhimanyu tersenyum dan mengulurkan tangan, mengusap kepala Argha lembut. “Aku bisa mengendarai motorku dengan baik.” Senyumannya melebar, hingga matanya membentuk bulan sabit menggemaskan dengan kerut kipas di kedua ujungnya.

Jantungnya berdebar, memukul rusuknya kuat hingga Argha menghela napas tajam. Anak itu begitu menggemaskan, hangat, lembut; tidak seperti apa pun atau siapa pun yang Argha temui sepanjang hidupnya yang dingin dan asing. Abhimanyu nampak seperti rumah, dibesarkan oleh kedua orang tuanya dan juga dimanjakan semua orang di sekitarnya.

Sangat berlawanan dengan Argha yang menghabiskan sisa masa dewasanya sendirian, berusaha menghidupi dirinya sendiri sebagai yatim piatu. Tidak pernah mendapat belas kasih kehidupan atau dimanjakan siapa pun. Mungkin hidup mereka yang bertolak belakang itulah yang menarik mereka pada satu sama lain; Argha yang mendambakan kehangatan Abhimanyu dan Abhimanyu yang membutuhkan ketegasan serta dinginnya sikap Argha.

Argha tersenyum. “Oke kalau begitu.” Katanya lalu mengunci mobilnya, memasukan kuncinya ke dalam tas.

Abhimanyu membuka jaketnya, mengulurkannya ke Argha. “Pakaianmu terlalu tipis untuk berkendara dengan motor.” Katanya.

Argha menunduk, menatap kemeja suteranya lalu meringis. “Oke.” Katanya.

Abhimanyu mengambil alih tas dan botol anggur Argha; menggantungkan tasnya di atas tangki motor dan memegang botol anggur Argha. Mengamatinya mengenakan jaket berkendara Abhimanyu yang beraroma pekat seperti Abhimanyu, memeluknya dalam kehangatan yang familiar. Argha mendekap dirinya sendiri, senang menerima benda hangat itu.

Here,” Abhimanyu tersenyum, mengulurkan botol anggur kembali ke Argha lalu mengambil helmnya. Dia membukanya, memasangkannya lembut ke kepala Argha, mengaitkannya hingga terdengar suara klik! nyaring lalu dengan jemari menyingkirkan sisa anak rambut di kening Argha.

“Nah. Kau siap untuk menundukkan jalanan sekarang.” Guraunya, menepuk kepala Argha dari luar helmnya.

Argha menatapnya, tidak bisa menahan senyuman lebarnya. Sejak kapan dia merasa sangat nyaman bersama Abhimanyu? Perasaan hangat yang pertama kali terbit di hatinya, memeluk benda itu dan membuat seluruh tubuh Argha berdenyar penuh kehangatan ketika Abhimanyu berada di sekitarnya.

Dia tidak lagi ingin menghubungi Yukio, tidak ingin mengingat kesedihan dan kehampaan selama Yukio tidak membalas pesannya. Refleks mencari Abhimanyu untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak perlu kembali mengasihani dirinya sendiri. Karena sekarang ada Abhimanyu; anak kecil naif yang ternyata begitu lembut dan hangat—di luar dugaan Argha.

Percayalah padaku.

Usia mereka terpaut sangat jauh, Argha pikir dia mungkin akan berakhir menjadi babysitter untuk emosi Abhimanyu. Mengurus bayi yang akan merepotkannya. Namun dia sama sekali tidak siap ketika Abhimanyu berdiri, bertanggung jawab untuk Argha seperti sekarang.

Tua dan dewasa adalah hal yang berbeda,” pikirnya ketika Abhimanyu menaiki motornya dan mendirikannya.

Hop in, Babe.” Katanya, menoleh ke Argha—nampak sangat manis dengan rambut ikal membingkai wajahnya, mata serupa citrine yang berkilauan, dan senyuman lebar di bibirnya.

Dia mengulurkan tangan, membantu menurunkan kedua pijakan kaki untuk Argha sebelum mengembalikan tangannya ke stang motor. Argha menjulurkan kakinya, menumpukan satu tangannya di bahu Abhimanyu dan menarik dirinya duduk di jok belakang NMax Abhimanyu yang ternyata lebih besar dari yang dipikirkannya.

“Motormu besar. Sekali.” Gerutunya dan Abhimanyu tergelak.

“Tinggiku seratus delapan puluh lima, membawa motor selain motor besar akan membuatku nampak seperti gajah sirkus.” Abhimanyu memosisikan spion hingga mereka bisa bertatapan melalui refleksinya. “Siap?”

Argha mencengkeram bahunya karena tangan satunya memegang botol anggur tahun 2005 yang lebih mahal dari kepala Abhimanyu. “Tidak.” Katanya, setengah mencicit—secara tulus takut pada perjalanan ini.

“Tenanglah.” Abhimanyu memundurkan motornya dan Argha berjengit, sedikit takut. “Pegangan.” Katanya lalu terkekeh ketika Argha mencengkeram bahunya semakin kuat. “Di sini,” tambahnya meraih tangan Argha dan meletakkannya di pinggangnya.

Argha mendengus. “Sengaja, ya?” Tanyanya, setengah menuduh dan menatap ke spion yang memantulkan pandangan Abhimanyu. Tersenyum lebar hingga pipinya nyeri.

“Ketahuan, deh.” Abhimanyu nyengir lalu menyalakan mesinnya. “Kita meluncur mengantarkan Yang Mulia pulang ke kediamannya.” Gurau Abhimanyu ketika motor meluncur ke pintu keluar basemen restoran.

Mereka mengklakson Security yang berjaga malam itu, menitipkan mobil Argha di basemen dengan keadaan terkunci sebelum Abhimanyu mengendarai motornya bergabung ke jalanan Seminyak yang masih ramai. Argha di belakangnya, setengah terlindungi tubuh bidang Abhimanyu dari angin malam yang bahkan di balik jaket pun masih terasa sedikit menggigit.

“Abhim?” Tanya Argha kemudian, meninggikan suaranya agar Abhimanyu mendengarnya.

“Yaaa?” Balas Abhimanyu, melirik ke spion yang diarahkannya ke Argha. “Kenapa?”

“Siapa kasih tahu aku masih di parkir tadi?” Tanyanya, membalas tatapan Abhimanyu di spion motor.

Abhimanyu sejenak diam lalu mengedikkan bahunya, membelok ke jalanan kecil yang anehnya ramai. Pasti jalan pintas yang dikatakannya tadi. Dia nampak rileks berkendara dengan kecepatan 50km/jam tanpa helm dan jaket, sudah terbiasa melakukannya selama ini. Berbeda dengan Argha yang tidak pernah berkendara dengan motor selepas masa SMA-nya.

“Entahlah.” Katanya, menembus jalanan. “Aku hanya berpikir aku harus mampir ke Gourmet sebentar dan ketika aku bertanya, Security bilang kau belum keluar. Jadi aku memutuskan untuk mengecekmu.”

Argha diam sejenak lalu menghela napas. Senang Abhimanyu memutuskan untuk mampir dan mengeceknya, menemukan Argha persis sebelum dia meledak dalam emosi impulsif akibat kesialan tiba-tiba tadi

“Terima kasih, Abhimanyu.”

Abhimanyu menatapnya dari spion, mata mereka bertemu. “Kembali kasih, Argha.”

Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Abhimanyu. “Awas menabrak. Aku masih ingin hidup.” Katanya, menyamarkan keinginannya memeluk Abhimanyu dengan kecemasan menaiki sepeda motor.

Lelaki itu tergelak. “Tenang saja!”

Dan Argha percaya. Begitu saja.


ps. eheheh

// expeditionist , OCD.

ps. kalo jelek, yaudahlah ya wkwkwkwkwkwk T-T


Bonjour, Doudou.”

Abhimanyu menoleh dari atas motornya dan Argha tersenyum. Lelaki itu baru saja tiba, persis lima menit setelah Argha memarkir mobilnya di basemen. Jam mereka tiba di restoran selalu berdekatan; terkadang malah bersamaan dan itu membuat Argha entah bagaimana, senang.

Dia belum paham perasaan apa yang sebenarnya dirasakannya untuk Abhimanyu dan terlalu takut untuk mendapatkan jawabannya. Argha menundanya, mendorong rasa penasaran itu ke balik kepalanya dan berusaha tidak memikirkannya.

Abhimanyu dengan rambut ikal berantakan, mencuat-cuat menggemaskan sebagai orang pertama yang dilihatnya sebelum bekerja selalu membuat Argha merasa hangat. Seperti sekarang, Abhimanyu tersenyum dengan helm menutupi kepalanya dengan ikalnya mencuat dari bawah helmnya. Dia mengenakan bomber jacket berwarna cokelat gelap yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.

“Selamat pagi, Chef.” Sahutnya parau sebelum menurunkan masker di wajahnya dan tersenyum.

Argha menutup pintu mobilnya, membawa kantung makanannya yang terisi tiga potong quesadilla untuk Abhimanyu. “Semoga kamu belum sarapan?” Tanyanya, entah mengapa merasa... ceria hari ini.

Abhimanyu tergelak lembut, membuka helmnya. Dia menarik benda itu dari kepalanya, membiarkan rambutnya yang lemas dan lembut beriak—jatuh dengan perlahan di kedua sisi wajahnya. Beberapa anak rambut mencuat, seperti jambul kakak tua. Dia nampak segar, namun juga mengantuk. Jenis ekspresi yang membuat Argha ingin memeluknya, mendekapnya erat agar dia kembali tidur.

“Trims, Chef.” Katanya, menuruni motornya dan meletakkan helmnya di salah satu spion sebelum menghampiri Argha. Aroma parfumnya segar, ditambah aroma sabun mandi dan selapis keringatnya. “Saya sengaja tidak makan karena akan mendapatkan sarapan.”

Argha tersenyum, menatap anak itu dan mengulurkan kantung makanannya. Abhimanyu menerimanya. “Tadi malam tidur nyenyak?” Tanyanya ketika Abhimanyu membuka ritsleting kantung makanan untuk membongkarnya.

Dia mengangguk, berkutat dengan kotak makan dan Argha mendesah—mengulurkan tangan untuk membantunya mengeluarkan sepotong quesadilla dari dalam kotak makanan. “Nyenyak, Chef. Terima kasih.” Dia membawa makanan itu ke depan wajahnya, mengamatinya sejenak sebelum menghabiskannya dalam dua gigitan raksasa.

“Bagaimana dengan Anda?” Tanyanya, setengah mengunyah.

Argha mengamatinya, senyuman kecil bermain di bibirnya. Menahan keinginan kuat untuk mengulurkan tangan, menyisir rambut ikal Abhimanyu sebagaimana yang dilakukannya akhir pekan lalu ketika menemani Abhimanyu menangis. Merindukan bagaimana lembutnya rambut itu di sela-sela jemarinya, tidak seperti rambut lelaki pada umumnya yang cenderung kasar dan kaku.

“Kami duduk dulu, ya? Baru dimakan.” Keluhnya pada Abhimanyu yang mengepit tas makanan di ketiaknya, membawa kotak makan di tangan kirinya dan menggenggam quesadilla kedua di tangan kanannya. “Nanti tersedak.”

Abhimanyu menatapnya, pipinya bergerak mengunyah sisa makanan. “Bahasa Indonesia Anda lucu, Chef. Saya suka mendengarnya.” Dia terkekeh lalu tanpa peringatan sama sekali; mengulurkan tangan, mengusap kepala Argha dengan punggung tangannya yang bersih.

Lalu keduanya diam dengan tangan Abhimanyu beberapa senti di atas rambut Argha. Mereka berpandangan, sama-sama terkejut pada sentuhan itu.

Argha yakin itu bukanlah gerakan yang direncakanan Abhimanyu, dia hanya refleks melakukannya. Tidak sempat menahan dirinya sendiri dan itu membuat jantung Argha berdegup lebih kuat. Dia terbiasa disentuh—selalu disentuh bahkan. Sebastien mengusap kepalanya berkali-kali, mengecup keningnya, menyisiri rambutnya, bahkan membantunya membasuh sampo dari sana.

Tapi tidak ada satu pun sentuhan itu yang memberikan efek sama seperti yang diberikan oleh sentuhan Abhimanyu.

“Uh,” Abhimanyu menarik tangannya, nyaris menjatuhkan makanan di genggamannya lalu memalingkan wajah. “Maaf, saya tidak sengaja.” Gumamnya dan Argha menelan ludahnya dengan sulit.

“Tidak apa-apa.” Sahutnya kering, berdebar.

Dia membawa telapak tangannya ke dadanya, di atas kemejanya yang tiga kancing teratasnya terbuka dan merasakan debaran jantungnya yang lebih kuat dari biasanya. Abhimanyu bergerak mendahuluinya, menjauh dari Argha dan menyeret suasana kikuk di antara mereka. Argha menatap punggung Abhimanyu yang menjauh dengan perasaan tidak yakin.

Dia... gugup? Dan kenapa dia gugup?

Argha sudah berusia tiga puluh sembilan tahun, dia sudah yakin bahwa percintaan bukan lagi urusannya. Dia sudah menyerah, akan menghabiskan sisa hidupnya sendirian dan merindukan Yukio karena dia tahu tidak akan ada yang bisa menyentuh hatinya seperti apa yang dilakukan Yukio.

Usianya sudah begitu jauh dari percintaan anak muda yang merepotkan. Dia tidak ingin mengurus seseorang, berkomitmen hanya akan menyenangkannya, meletakkan harapan di tangannya, berjuang bersama; menghabiskan setiap hari bersamanya. Memberikannya akses untuk menghancurkan hati dan menjungkir balikkan hidupnya.

Argha sudah melewati masa itu, sudah cukup merasakan semuanya selama lima tahun bersama Yukio.

“Chef?”

Argha mengerjap, menoleh dan menemukan Abhimanyu yang merona berdiri di dalam boks lift. Sejak kapan dia tiba di sana? Ronanya begitu tipis, menghampar indah di atas wajahnya yang bulat dibingkai rambut ikalnya. Mata karamelnya berkilauan oleh rasa malu, kikuk, dan gelisah. Argha terserang perasaan impulsif ingin menghampirinya, memeluknya.

“Ya?” Tanyanya, parau. Selapis aroma tubuh Abhimanyu tertinggal di cuping hidungnya, meracuni otak dan paru-parunya tiap kali dia menarik napas—menolak untuk pergi.

Abhimanyu menatapnya. “Anda ikut bersama saya naik ke atas?”

Argha mengerjap. “Ah, ya. Sure.” Sahutnya, bergegas menghampiri Abhimanyu yang menahan lift terbuka untuknya walaupun dia merasa tidak terlalu ingin terjebak dalam restoran yang sepi bersama Abhimanyu setelah kejadian barusan.

Argha memasuki lift, berdiri di sisi Abhimanyu seraya menyugar rambutnya—menyamarkan gerakannya sendiri yang ingin menyentuh tempat di mana Abhimanyu menyentuhnya.

Selama dia menemani Abhimanyu kemarin, Argha tidak pernah disentuh. Dia hanya memfokuskan perhatiannya pada Abhimanyu; menyisiri rambutnya, mengusap wajahnya ketika dia sudah lelap. Abhimanyu tidak menyentuhnya. Mungkin karena dia sedang berduka untuk dirinya sendiri sehingga dia menyerap perhatian Argha sepenuhnya.

Dan Argha tidak keberatan. Dia hanya tidak siap pada efek dari sentuhan Abhimanyu padanya, setelah menghabiskan dua hari di kamar Abhimanyu yang beraroma pekat keringatnya, dengan pintu tertutup. Keintiman yang terjalin tanpa mereka sadari, membuat Argha sedikit gelisah.

Dia merasa dekat dengan Abhimanyu sekarang. Jenis kedekatan yang amatlah berbeda dengan yang dimilikinya bersama Sebastien. Kedekatan yang membuat Argha sedikit cemas—karena dia mungkin tahu ke arah mana semua ini bermuara.

Apakah dia siap?

“Chef?” Suara Abhimanyu menyadarkan Argha bahwa lift sudah berhenti dan terbuka.

“Oh, maaf.” Argha mengulaskan senyuman tipis sebelum bergegas keluar dari boks lift, kikuk. Menyadari benar kehadiran Abhimanyu di sisinya; hawa dan aroma tubuh Abhimanyu.

Mereka melangkah bersidiam, menyusuri lorong yang sudah menyala terang karena Security yang bertugas sudah menyalakan listrik utama gedung. Sebentar lagi Steward akan datang, Argha ingin dia sudah berada di dapur untuk mulai mengerjakan laporannya. Setiap hari, dia harus melaporkan cost control milik dapur yang nantinya akan dirangkum menjadi Weekly Report untuk diserahkan ke Kinan.

Aspek yang dilaporkan lumayan banyak dan rumit sehingga Argha memutuskan untuk mencicilnya saja. Semua format laporan di tempat ini dua kali lebih detail dari semua tempatnya bekerja dan jabatan Executive yang dipegangnya bukanlah hal sesederhana gaji dua dijit bagi Kinan. Fasilitas yang didapatkan karyawan benar-benar sesuai dengan pekerjaan mereka.

Abhimanyu membantunya mengerjakan laporan ini di masa-masa awal Argha beradaptasi dengan wajah masam dan aura permusuhan yang menggemaskan itu. Mengingat Abhimanyu sebagai second layer yang masam dan membencinya sekarang, membuat Argha tersenyum tipis. Karena Abhimanyu sekarang adalah anjing besar menggemaskan yang menyundulnya demi mendapatkan perhatian.

“Silakan, Chef.” Abhimanyu mengulurkan hanger dengan clothing jacket dengan tulisan perak binatu langganan restoran mereka ke arah Argha. Di hangernya terdapat tulisan rapi “ARGHA MAHAWIRA” sebagai penanda itu adalah seragamnya.

Argha menerimanya. “Trims, Abhimanyu.” Dia tersenyum lalu berbalik untuk memindai sidik jarinya di mesin pindai, pertanda bahwa dia mengambil seragamnya.

Abhimanyu mengekornya ke loker, berjalan beberapa senti di belakangnya. Cukup dekat untuk Argha mencium aroma parfumnya dan merasakan kehadirannya. Mereka memasuki loker yang sepi dan menutup pintunya. Mendadak Argha merasa sangat gelisah, dia menghela napas dan melirik Abhimanyu yang melangkah memasuki loker masih sambil mengunyah makanan yang dia kemaskan untuk Abhimanyu.

Ruangan itu sepi, bersih dan hanya ada mereka di sana. Terlepas dari Abhimanyu adalah seorang perjaka, Argha sangat menyadari percikan gairah di antara mereka. Prinsip Argha-lah satu-satunya hal yang menahan Argha agar tidak melempar Abhimanyu ke ranjang dan menuntaskan keinginan mereka berdua.

Dan dia masih merasa prinsip itu relevan, bahkan sekarang.

Abhimanyu masih perjaka, dia belum tahu seks yang sebenarnya seperti apa; ekspektasinya mungkin masih sangat tinggi tentang hubungan seksual. Mungkin juga kink-kink tersembunyi yang dia sendiri belum pahami aturan mainnya, tidak paham apakah itu aman atau tidak dilakukan bersama pasangannya, tanpa memilih dengan siapa dia bisa melakukan permainan seks itu.

Juga ikatan yang terjalin jika menjadi yang 'pertama' bagi mereka. Hal yang mustahil dihindari karena tubuh mengingat jauh lebih kuat daripada otak. Argha tidak terbangun tiap malam, merindukan pelukan Yukio selama satu bulan penuh setelah mereka berakhir tanpa alasan.

Hal yang menyelamatkan Argha dari 'ikatan' dengan orang pertama yang diajaknya bercinta adalah tubuhnya sudah lebih dahulu terikat dengan Yukio—ciuman pertama mereka, sentuhan Yukio, kecupan lembutnya, dekapannya, napasnya.... Semuanya terpeta di tubuh Argha, di semua tempat yang pernah Yukio sentuh.

Dia merasakan betapa intensnya ingatan tubuh terhadap seseorang hingga dia memutuskan bahwa dia tidak mau berurusan dengan mereka yang belum pernah bercinta. Argha sejauh ini berhasil menghindari mereka, mengasah radar yang membuatnya merasakan seorang perawan atau perjaka dan bergegas mengakhiri hubungan mereka.

Biasanya naif, berpikir seks adalah sesuatu yang luar biasa. Membuat mereka melayang ke langit ketujuh dengan multiple orgasm. Padahal hal yang kebanyakan terjadi adalah top hanya bertahan selama rata-rata lima hingga sepuluh menit sebelum seks berakhir. Parahnya lagi, tidak memberikan after care karena 1) tidak tahu bahwa itu harus dilakukan atau 2) memang tidak ingin repot-repot memastikan pasangannya merasakan hal yang sama karena kebutuhannya sudah terpenuhi.

Argha menemukan banyak sekali top semacam ini. Terkadang membuatnya senang karena ketika dia membutuhkan pengalih perhatian, top semacam ini sangat berguna. Tidak berisik, tidak banyak membutuhkan peran Argha.

Tidak semua, tentu saja. Sebastien adalah satu dari beberapa teman seks Argha yang bisa mengatur ritmenya sendiri, mengatur napasnya hingga dia bisa bertahan lebih lama dari lima menit dan memberikan Argha multiple orgasm. Sebastien adalah makhluk langka.

Dan memikirkan ekspektasi Abhimanyu tentang seks membuat Argha sedikit malas. Bukan berarti dia adalah bagian dari para lelaki yang hanya bertahan lima menit, dia bisa memberikan apa yang mungkin Abhimanyu butuhkan—tentu saja. Tapi tetap saja, dia tidak tertarik melakukannya.

Tapi, satu ciuman mungkin tidak akan menyakiti siapa pun, 'kan?

Argha membuka lokernya, menyimpan pakaian dan tasnya di sana. Dia kemudian membuka kemejanya, bersiap untuk menggantinya dengan seragam. Abhimanyu di sisinya, masih mengunyah quesadilla terakhir dari Argha dengan kekanakan—caranya mengunyah membuat Argha senang, dia lahap sekali. Membuat Argha kenyang hanya dengan melihatnya makan.

“Rasanya enak?” Tanya Argha, tidak bisa menahan dirinya sendiri—memecahkan gelembung kikuk mereka karena sentuhan Abhimanyu tadi.

Abhimanyu menoleh, seolah baru menyadari Argha di sana dengan pipi terisi makanan. Mengangguk, bergegas menelannya. “Tidak yakin apakah karena saya lapar atau memang makanan Anda enak, Chef.”

Argha memicingkan matanya, senang atmosfer mereka kembali rileks. “For your own safety, can we agree for the second reason?” Dia berpura-pura meregangkan jemarinya, seolah bersiap untuk memukuli Abhimanyu.

Pemuda itu tergelak, suaranya tinggi dan menggema di loker yang kosong. Argha menatapnya, tersenyum kecil—senang karena Abhimanyu sudah bisa tersenyum dan tertawa lagi setelah beberapa hari menghabiskan waktu untuk bermuram durja. Sebagian kecil hatinya, ingin mengabari Cedrik bahwa Abhimanyu baik-baik saja bersamanya.

Namun sebagian lain menganggap hal itu tidak penting. Cedrik bukan siapa-siapa untuk Abhimanyu, dia tidak perlu tahu. Sebaiknya Argha tidak mengembalikan perhatian Cedrik ke hal yang berusaha diajaknya berdamai.

Alright, it does taste good, then. Not because I'm hungry.” Abhimanyu nyengir, menatap Argha dengan mata citrine-nya yang berkilauan. Dia kemudian membereskan kotak makan Argha. “Saya cuci dulu, besok saya kembalikan.”

Argha menarik napas, tidak yakin pada apa yang terjadi pada dirinya. “Saya tidak mau kalau tidak isi kembali.” Katanya, lalu mengerutkan kening; apakah kalimatnya masuk akal?

Abhimanyu menoleh. Nampak memahami kalimat kacau Argha. “Apakah itu cara Anda meminta saya membuatkan Anda sarapan besok?” Tanyanya, nampak ceria—matanya berkerlip, cantik sekali hingga Argha ingin mengulurkan tangan dan mengusap sisi wajahnya.

And if I am?” Sahut Argha, menaikkan sebelah alisnya dan menyerigai—menyerah berusaha menggunakan bahasa Indonesia.

Alright.” Abhimanyu nyengir. “Challenge accepted.” Dia mengulurkan tangan ke arah Argha yang terkekeh, menjabat tangannya dengan kuat sebagai tanda setuju.

Mereka kemudian berpandangan. Argha berpikir apakah Abhimanyu memikirkan apa yang Argha pikirkan? Betapa hubungan mereka sekarang membaik dengan sangat drastis? Tidak pernah membayangkan sous chef-nya yang pada hari pertama Argha melihatnya nampak seperti anak ayam kehilangan induknya di dapur, lalu menatapnya dengan penuh dendam dan amarah yang Argha yakin tidak akan padam hingga tujuh turunan Argha, kini tertawa bersamanya.

Tersenyum karena makanan buatan Argha, merona karena Argha, mengajaknya bersalaman, meminta Argha memeluknya saat sedih, berbaring di pangkuannya setelah lelah terisak...

Ajaib, bagaimana hidup membalikkan segalanya.

Argha menurunkan pertahanan dirinya, membiarkan Abhimanyu menggenggam tangannya lebih lama dan merasakan ibu jarinya membelai punggung tangan Argha dengan lembut; memutar, membentuk pola yang menenangkan.

Abhimanyu berdeham, matanya melirik Argha. “Argha?” Panggilnya parau dan perut Argha mengencang.

Ada sesuatu dari cara Abhimanyu menyebut namanya yang membuatnya seketika awas dan siaga, tertarik. Dia menatap Abhimanyu yang balas menatapnya, sesuatu di dasar perutnya berdenyar senang. Ingin mendengar Abhimanyu memanggil namanya lagi—dan lagi. Menempelkan bibirnya di kulit Argha, membisikkan namanya di atas permukaan kulitnya. Merasakan nama dan suara Abhimanyu di sana.

“Ya?” Tanyanya, tercekat.

Abhimanyu mencondongkan tubuhnya sedikit dan Argha otomatis mendekatkan tubuhnya, seolah ditarik oleh daya yang tidak disadarinya. Mereka berpandangan, Argha tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tidak bodoh dan ini bukan roman picisan—dia hanya perlu mengulurkan tangan, meraih Abhimanyu dan menciumnya.

Memberikan apa yang mereka berdua inginkan. Argha menelan ludah, entah mengapa merasa gugup menghadapi Abhimanyu. Padahal dia selama ini mencium siapa saja dengan mudah; tidak pernah terlalu memikirkannya. Apakah karena Abhimanyu seorang perjaka? Atau... hal lain?

Abhimanyu mengulurkan tangan, menyentuh pinggul Argha dan Argha menarik napas tajam—merasakan panas tangan Abhimanyu menembus pakaiannya dan mengengat kulitnya. Dia mendekat, membirkan Abhimanyu meraih pinggangnya dan menariknya.

Can I...?” Bisik Abhimanyu dan Argha mengangguk.

Tidak ada gunanya menolak. Dia menginginkan ini, bahkan memikirkannya tadi. Dia bisa mencium jejak aroma chili flakes di mulut Abhimanyu. Sejenak jijik memikirkan dia harus mencium mulut yang baru saja makan dan sebelum sempat melakukan apa pun, Abhimanyu menarik dirinya.

Argha mengerjap, disorientasi. Perasaan tertolak menghantamnya, kuat sekali hingga dia menarik napas tajam. Sekali lagi, sebelum sempat memikirkan atau mengatakan sesuatu, Abhimanyu mundur darinya. Menyambar sesuatu dari lokernya yang terbuka sebelum bergegas menuju wastafel dan di luar perkiraan Argha, berkumur.

Otaknya berusaha memprosesnya. Kenapa...? Apakah Abhimanyu menyadari OCD Argha? Atau dia hanya malu karena napasnya beraroma seperti bayam, keju, dan cabai kering?

Abhimanyu meraih mouth wash dan berkumur dengan secercah aroma mint menguar dari sana. Dia berkumur cukup lama sebelum membuang sisa mouth wash itu dan mengelap bibirnya.

”... Kenapa?” Bisik Argha, berdiri membeku di tempatnya menonton Abhimanyu mengeringkan tangannya di lap dan menyugar rambutnya.

Abhimanyu merona tipis. “Aku menyadari betapa kau... bersikap hati-hati dengan keadaan sekitarmu? Menyemprotkan antiseptik setiap tiga puluh menit sekali ke tanganmu? Ke meja? Ke semua benda yang kausentuh? Mencuci tangan selama lima menit penuh? Mencuci kakimu sebelum naik ke tempat tidur atau memasuki kosku? Membawa alat makan bahkan botol minummu sendiri?” Dia berdiri di depan Argha yang terpana.

“Tidak sulit menebaknya,” Abhimanyu berdeham, menolak menatap Argha karena rona semakin pekat di wajahnya. Dia berbisik dengan lembut—begitu lembut hingga Argha bisa merasakannya di permukaan kulitnya. “Aku mencari dan membaca beberapa artikel mengenai itu. Aku ingin... membuatmu merasa nyaman.”

Argha menatapnya. Bersumpah jantungnya berdebar dengan ritme yang sangat aneh—lambat, namun kuat hingga rusuknya terasa ngilu. Perhatian ini, perhatian malu-malu yang menggemaskan. Sesuatu yang asing dalam hidup Argha. Abhimanyu mengatakannya dengan begitu tulus dan memaknainya, ingin membuat Argha nyaman.

Seseorang baru saja mengatakan pada Argha bahwa dia rela mempelajari OCD demi membuat Argha nyaman.

Argha mengulurkan tangan, meraih kerah pakaian Abhimanyu dan menciumnya—keras, persis di bibir hingga Abhimanyu mengeluarkan suara tercekik keras sebelum mengulurkan lengannya, mendekap pinggang Argha. Mereka menggeram, Abhimanyu langsung mengambil alih kendali—selalu, tiap kali dia menyentuh Argha.

Dia mendorong Argha, menekannya ke loker yang dingin dan keras. Memenjarakan Argha di kedua lengannya yang kuat dan keras, menggeram di bibir Argha dan melumat lembut bibir bawahnya. Argha gemetar, menempelkan tubuhnya pada Abhimanyu; memeluk tengkuknya, menariknya semakin dekat.

“Aku membaca beberapa artikel mengenai itu.”

Argha menggeram keras, memangut bibir Abhimanyu hingga dia terkesiap dan menyelipkan lidahnya ke mulut Abhimanyu yang sekarang segar dan kesat. Dia menyentuh lidah Abhimanyu, membelitkan lidahnya ke sana dan menghisap lembut lidahnya. Memberikannya French kiss yang layak didapatkan Abhimanyu atas segala yang dilakukannya untuk Argha.

“Aku.... ingin membuatmu merasa nyaman.”

Dia ingin memeluk Abhimanyu, mendekapnya dan meremukkan semua tulang Abhimanyu karena dia sangat menggemaskan. Ini pertama kalinya, seseorang dengan begitu tulus mencari tahu OCD yang dimiliki Argha untuk memahami bagaimana caranya membantu untuk meringankannya.

Membuat Argha nyaman.

Abhimanyu mengerang dalam, mendekap Argha lebih dekat lagi ke tubuhnya. Menyelipkan lututnya ke antara kedua kaki Argha yang terengah dan merasakan tubuhnya yang menebal dengan dengusan dalam. Argha melepaskan ciuman mereka, tersengal karena sentuhan Abhimanyu di tubuhnya dan kesempatan itu digunakan Abhimanyu untuk menyentuh tubuh atasnya yang telanjang karena dia sedang berganti baju.

“Hmmm...” Bisik Abhimanyu dengan suara paraunya, mengecup bahu Argha yang terbuka dan meraih tangan Argha yang bebas, menyelipkannya masuk ke pakaiannya. “Here, Babe.” Bisiknya di telinga Argha ketika membawa jemari Argha ke tindik di dadanya.

Argha gemetar. Setengah mati menginginkan benda itu di mulutnya dan Abhimanyu tidak membuatnya mudah. Dia memilinnya dengan jemari, mendongak dan memejamkan mata ketika mendengar Abhimanyu mendesah oleh sentuhannya. Dengan ibu jarinya, Argha menekan tindik itu dan menggeram mendengar desahan Abhimanyu.

Just a kiss,” sengal Argha ketika Abhimanyu mulai menggigiti tubuhnya. “We can't fuck here.”

Abhimanyu menggeram.

Argha tersenyum, “Not that I want to fuck you tho.”

Abhimanyu menarik wajahnya, memberengut. “Not that shit about a virgin again.” Protesnya dan Argha tergelak; sangat bergairah hingga tubuhnya nyeri, tapi prinsip adalah prinsip.

Sorry, Doudou.” Argha menjulurkan lehernya, mengecup pipi Abhimanyu; dalam dan lama, lebih lama dari yang direncanakannya. “But I can give you a handjob.” Dia menjilat bibirnya, sengaja berlama-lama dan dengan cara paling sensual yang bisa dilakukannya.

Mata Abhimanyu berkilat dan Argha mengulurkan tangan, menyentuh selangkangannya. Abhimanyu mendesis oleh sentuhannya, terengah. Menghibur Argha. Dia sangat menginginkan Argha hingga tubuhnya nyeri dan tidak bisa menyembunyikannya.

“Menggemaskan sekali,” bisik Argha lalu mendengar suara seseorang yang melangkah di lorong di depan loker. “Come here,” bisiknya merendahkan suara dan memberi tanda agar Abhimanyu mengikutinya ke loker.

“Jika kita ketahuan, kita akan dipecat. Kau tahu itu, 'kan?” Katanya ketika mereka masuk ke bilik toilet dan Abhimanyu menguncinya.

Abhimanyu sejenak menelan ludah, takut sebelum kemudian menyerigai seperti orang sinting. “That makes it more exciting, doesn't it?.”

Dan Argha tergelak tanpa suara. Dia kebetulan bertemu perjaka seksi yang memiliki selera seks nyeleneh. Abhimanyu Candrakumara mungkin akan benar-benar jadi alasan kematian Argha dan dia dengan senang hati melompat ke Neraka.

Pants down then, Doudou.” Argha menyerigai. “We're here for business.”


ps. ehe :33