eclairedelange

i write.

ps. idk........ careful with your heart kinda narration????????


Abhimanyu paham dia tidak seharusnya nyaman bersama Argha, tahu lelaki itu bisa melangkah pergi kapan pun dia mau tanpa ragu sedikit pun.

Argha memang seindah mimpi, kata itu bukan sekadar kiasan. Abhimanyu terkadang takut menyentuhnya, takut lelaki itu lenyap seperti embun yang menguap ketika matahari bersinar semakin terik. Juga mengundang, seperti mimpi buruk di siang bolong yang menarik Abhimanyu semakin dalam ke pesonannya lalu meninggalkannya setelah terjebak.

Namun bagaimana dia bisa mengabaikan perhatian dan kesigapannya dalam menemani Abhimanyu? Dia sama sekali tidak ragu menawarkan bantuan, menemani Abhimanyu, membantunya makan, menenangkan setiap mimpi buruknya, dan memastikan dia baik-baik saja. Abhimanyu takut untuk percaya—dua kali sudah rasa percayanya dirusak dan rasa-rasanya, mungkin sudah tidak ada cukup ruang lagi di hatinya untuk mencoba.

“Kau sudah cukup kuat untuk bekerja?”

Tapi bagaimana dengan ini...?

Dia menghela napas, melepas helmnya dan menoleh ke Yaris putih yang diparkir di sisi motornya di basemen Le Gourmet. Menemukan Argha Mahawira sedang menutup pintu mobilnya dengan handbag Christian Dior di lekukan lengannya—tersenyum padanya.

Dia mengenakan kemeja halus yang jatuh lembut di tubuhnya, dilapisi cardigan rajut lembut yang menegaskan bentuk tubuhnya yang langsing. Dia mengenakan sepatu selop sewarna kulit dengan logo Gucci keemasan di bagian atasnya, nampak mengilap. Rambutnya disisir rapi, dipotong presisi tanpa sedikit pun yang keluar dari garisnya atau menyentuh kerah bajunya. Aroma parfumnya semerbak; tidak terlalu kuat seperti parfum maskulin, tapi juga tidak selembut parfum perempuan.

Argha nampak sangat... feminim namun juga maskulin. Tidak ada satu pun kata sifat yang bias pada satu jenis kelamin yang bisa menggambarkan pesonanya dengan sempurna—mendekati pun tidak. Membuat Abhimanyu kebingungan bagaimana cara untuk menjelaskan keindahan Argha selain melihat lelaki itu secara langsung untuk memahami pesonanya.

“Sudah, Chef.” Sahutnya kering, sejenak teringat bagaimana dia memanggil Argha dengan namanya di kos ketika menangis dalam pelukannya—merasa malu dan kikuk. “Saya ingin mencari pengalih perhatian dari kesedihan saya sendiri.” Dia meletakkan helmnya di atas jok NMax-nya lalu turun dan membuka jaket berkendaranya.

Abhimanyu terbangun hari ini dengan perasaan kosong. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Lalu memutuskan untuk bergegas bangun dan berangkat bekerja, berpikir dia akan pindah kos dari tempat lamanya agar tidak mengingat Cedrik. Namun ketika dia memasuki kamar mandi, dia menemukan sabun baru yang terbuka di rak alat mandi. Teringat Argha yang memutuskan untuk membasuh diri di kamarnya sebelum pulang semalam dengan jantung yang berdebar.

Rasa kosong itu terangkat, tergantikan rasa hangat dan senyuman ketika menyentuh sabun yang digunakan Argha—mengingatkan Abhimanyu bahwa ada seseorang yang juga mengkhawatirkannya sekarang. Bukan kakaknya, bukan Cedrik. Seseorang baru yang sejak awal sudah sangat mencuri perhatiannya.

“Hubunganmu dengan Cedrik, sayangnya, memang harus diakhiri, Abhimanyu. Kalian harus berhenti saling menyakiti. Cedrik tidak meninggalkanmu karena sifatmu atau apa, dia hanya tidak bisa lagi berada di sisimu karena dia tahu perasaan cintanya padamu membebani kalian.”

Abhimanyu menatap wajahnya yang sembab di cermin yang berembun oleh air yang digunakannya mandi dan menghela napas. Mencoba memaksa kepalanya menerima kata-kata Argha bahwa Cedrik tidak meninggalkannya karena Abhimanyu cacat—dia hanya pergi untuk mengurus perasaannya sendiri. Bukan karena Abhimanyu.

Dia mencoba memercayai kalimat Argha itu, menghibur dirinya agar tidak menghukum dirinya dengan begitu kejam karena sekali lagi ditinggalkan.

“Kakakmu yang meninggalkanmu dan ibumu yang membencimu: keduanya bukan salahmu, Abhimanyu.”

Abhimanyu menghela napas, menundukkan kepalanya dengan kedua tangan bertumpu di wastafel kamarnya memikirkan kalimat Argha itu. Menyadari bahwa selama dua tahun ini ketika dia benar-benar kesulitan dengan emosinya sendiri, belum ada yang pernah memberi tahunya bahwa kedua hal itu bukan kesalahannya.

Walaupun Ibu melampiaskannya pada Abhimanyu, kekesalan itu bukan salah Abhimanyu. Dia tidak tahu apa-apa ketika dilahirkan dan dikenalkan ke keluarga tirinya. Jika bisa memilih, memangnya Abhimanyu mau dilahirkan sebagai anak dari istri kedua yang dibenci istri pertama?

Anak tidak bisa memilih siapa orang tuanya, tapi orang tua bisa memilih siapa pasangan mereka dan jika ayah Abhimanyu memilih untuk memiliki istri kedua—mengapa itu kemudian menjadi salah Abhimanyu?

Argha Mahawira menenangkannya dengan cara yang sangat berbeda dengan semua orang dan Abhimanyu mengapresiasinya.

Argha menatapnya lalu tersenyum kecil. Dia belakangan ini nampak hangat, tidak lagi sensual seperti dewa seks. Kebapakan, bijak, lembut, dan menenangkan. Pembawaannya membuat Abhimanyu nyaman, bahkan jauh dari apa yang Cedrik atau kakaknya bisa berikan. Mungkin karena dia lebih tua dari keduanya?

“Kau tahu,” katanya melangkah ke sisi Abhimanyu yang bergegas mengekornya ke lift. Selapis aroma parfum Argha tercium ketika dia menggerakkan tangannya dan Abhimanyu otomatis menarik napas. “Saat kau merasa sedih, kecewa, marah pada sesuatu, kau harus menghabiskan emosi itu. Tidak peduli seberapa lama waktu yang kaubutuhkan, habiskan saja. Tiga hari menangis tanpa makan? Lakukan saja.”

Abhimanyu mengulurkan tangan, menekan tombol lift untuk Argha seraya memikirkan kalimatnya. Argha berdiri di sisinya, beraroma harum dan nampak sangat rapi—padahal mereka akan berganti baju dan bekerja, tapi dia nampak seolah akan pergi ke acara formal. Mereka berdiri di depan pintu lift yang menutup, menunggunya terbuka untuk naik ke loker.

“Percayalah, setelahnya kau akan merasa jauh lebih baik. Lebih mudah untuk bangkit dan baik-baik saja karena kau sudah menghabiskan sedihmu.” Argha menoleh, tersenyum kecil—menyemangati. “Jauh lebih efektif daripada,” dia membentuk tanda kutip dengan satu tangan. “'Mengalihkan' perhatianmu dari rasa sedih itu. Menghindarinya hanya akan membuatnya menumpuk di hatimu, semakin menyulitkanmu.”

Abhimanyu diam, memikirkan kalimatnya perlahan seraya menatap lift yang terbuka. Mereka memasuki kotak lift dan Abhimanyu menekan tombol Ground dan menutup pintu. Restoran belum terlalu ramai, biasanya yang datang pertama Abhimanyu dan Diadari sebelum disusul oleh para Steward yang mulai menyiapkan semua kebutuhan dapur.

Sementara “orang kantor”, begitu mereka biasa menyebut tim PT yang berkantor di lantai satu Le Gourmet, akan datang pukul delapan pagi. Biasanya lewat di EDR untuk mengambil air hangat untuk menyeduh kopi mereka dan mengambil jatah sarapan mereka—croissant dan bagel. Kinan yang biasanya muncul pertama, tiba selalu tepat pukul setengah delapan pagi dengan setelan licin dan wajah seperti penderita sembelit. Mengecek EDR dan dapur, sebelum bergegas naik ke ruangannya.

Jika Abhimanyu menjadi General Manager dari dua restoran tersibuk di Bali, dia mungkin juga akan berwajah masam sepanjang waktu.

Crying doesn't mean you're weak,” Argha menepuk bahunya dan meremasnya lembut. Mengembalikan Abhimanyu ke masa sekarang dan meremang oleh sentuhannya.

Abhimanyu menoleh padanya dan Argha tersenyum, melanjutkan. “Sometimes it means you've been holding on for too long that you body cannot hold it any longer.”

Dia membalas senyuman Argha, merasa lebih baik. Ringan dan hangat. “Anda sering menangis, Chef?” Tanyanya parau ketika lift bergerak naik mengantar mereka ke Ground untuk berganti pakaian.

Argha berpikir sejenak lalu tersenyum. “Saya pernah menangis hebat hingga saya menolak makan dan bangun dari ranjang. Tapi hanya tiga kali dalam hidup saya.”

Dia mengangkat telunjuknya, “Satu ketika orang tua saya meninggal,” katanya ringan dan Abhimanyu berjengit sedikit pada betapa ringannya dia mengucapkan kematian orang tuanya.

Dia mengangkat jari kedua, “Dua ketika saya lulus dari Le Cordon Bleu Paris dan memutuskan untuk meninggalkan Indonesia.” Lalu menambahkan jari ketiga hingga sekarang di depan Abhimanyu ada tiga jari kurus panjang Argha yang dipamerkan.

“Serta tiga...,” dan dia mendadak berhenti.

Abhimanyu yang awalnya menatap ketiga jemari Argha menoleh, menatap wajahnya dan menyaksikan detik terakhir ketika senyumannya menguap lenyap dari wajah Argha. Kesedihan merambat di wajahnya, meredupkan sorot matanya yang membuat Abhimanyu seketika merasakan sengatan pedih di hatinya.

Argha selalu nampak tertata, hangat, tenang, dan terkendali. Tidak pernah ada kesedihan di wajahnya, maka ketika dia nampak sedih dan menerawang, Abhimanyu ingin meraihnya. Memeluknya, menenangkannya... Seperti apa yang dilakukan Argha padanya.

Mungkin juga pada semua orang.

“Saya hanya menceritakan ini padamu.” Argha kemudian bersuara persis sebelum pikiran Abhimanyu meliar. Terdengar parau seolah menahan tangis. “Sudah lama sekali sejak saya membagi ini dengan orang lain, ternyata rasanya lebih ringan.” Dia mengulaskan senyuman dan Abhimanyu tertegun.

Menyadari bahwa Argha punya lukanya sendiri—sesuatu yang membuatnya langsung berhenti tersenyum hanya dengan mengingatnya. Dan tidak ada yang tahu karena dia menyembunyikan semuanya dibalik personanya sebagai 'lelaki sensual' yang gemar menebar kata-kata manis.

Abhimanyu menghela napas, mendadak mensyukuri hidupnya walaupun tidak menyenangkan, dia memiliki keluarga yang utuh. Tidak harus menjalani hidup sendirian seperti Argha hingga melepaskan kewarganegaraan Indonesia-nya demi melupakan kenangan buruknya di negara ini.

“Chef?” Panggilnya ketika lift terbuka dan Argha menoleh.

“Ya?” Sahutnya, menatap Abhimanyu.

Lift terbuka, menampakkan lorong panjang menuju dapur yang masih temaram karena lampu utama belum dinyalakan. Masih sedikit pengap dan beraroma apak. Security sedang pergi ke pusat listrik restoran untuk menyalakannya, juga penyejuk ruangan sentral persis setelah Abhimanyu memasuki halaman disusul Yaris putih Argha.

Dia menyadari benar kehadiran Argha di sisinya, ujung lengan bajunya menyentuh lengan Abhimanyu dan aroma parfumnya hinggap di cuping hidung Abhimanyu. Setelah dua hari yang mereka lewati bersama dengan Argha menghabiskan nyaris keduanya di kamar Abhimanyu, menemaninya menangis sambil memeluknya; Abhimanyu merasakan 'ikatan' yang mulai terbentuk di antara mereka.

Abhimanyu merasa lebih dekat dengan Argha, akrab seperti sahabat lama yang lama tidak berjumpa. Perasaan yang jauh lebih kuat dari yang dimilikinya dengan Cedrik. Bersama Argha, Abhimanyu tidak perlu mencemaskan perasaannya. Tidak terbebani dengan perasaan cinta yang tidak bisa dibalasnya. Jauh lebih ringan daripada ketika bersama Cedrik.

Walaupun hatinya masih berdenyut pedih karena takut pada kesendirian, dia senang setidaknya dua hari pertama tanpa Cedrik, ada seseorang di sisinya. Bukan seseorang yang akan dipilihnya, tapi bukan juga seseorang yang akan ditolaknya.

Menemukan sisi baru Argha Mahawira yang hangat, lembut, dan penyayang. Seolah Abhimanyu bisa membayangkan betapa dia bisa menjadi ayah yang baik, sosok dewasa yang selalu tenang seperti permukaan air danau. Mengingat ceritanya tentang menjadi sebatang kara membuat Abhimanyu menyadari bahwa sikap tenang dan dewasanya didapatkan bukan tanpa pengorbanan apa pun.

Argha sudah pernah terjerembab, terperosok ke dalam lubang dan hancur sebelum dia memutuskan untuk kembali bangkit. Menjadi dirinya yang baru, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tapi juga nampak lebih... rapuh; sekarang setelah Abhimanyu melihat sisi lain Argha yang lebih terbuka dari sebelumnya.

Biasanya Abhimanyu tidak suka menceritakan kehidupannya pada siapa pun kecuali mereka sudah cukup dekat—bahkan ke Cedrik sekali pun. Namun malam ketika dia duduk berhadapan dengan Argha. Dia minum susu steril kaleng yang dicekokan padanya oleh Argha sementara atasannya minum sekaleng bir, Abhimanyu menceritakan tentang keluarganya.

Sangat mengapresiasi bagaimana Argha mendengarkan dengan sopan, ekspresinya bersimpati dan sama sekali tidak menilai Abhimanyu. Dia menceritakan tentang Ibu yang sering bertengkar dengan Bapak, bagaimana dia menggunakan Amerika untuk kabur dari rumah... Dan merasa nyaman sepenuhnya.

Argha nampak seperti pohon pule raksasa yang tinggi, rindang, dan kokoh. Mengundang siapa saja untuk bersandar padanya, mencari kekuatan untuk bangkit. Membuat Abhimanyu merasa teduh, diterima, dan nyaman. Ajaib apa yang mampu dua hari lakukan pada mereka, pada Abhimanyu.

Abhimanyu membuka kedua lengannya, sejenak ragu namun akhirnya berdeham. Dia memandang Argha yang menaikkan alisnya melihat gestur itu. “Anda ingin pelukan?” Tanyanya, setengah berbisik padahal tidak akan ada yang bisa mendengar mereka sekarang.

Atasannya sejenak diam, menatap kedua lengannya yang terbuka. Abhimanyu sudah akan menurunkan kedua lengannya, kikuk karena yakin Argha akan menolak pelukannya—merasa tidak sopan dan terlalu percaya diri. Mengapa juga dia menawarkan pelukan??

Namun Argha meletakkan tasnya di lantai lift, mengulurkan kedua lengannya persis sebelum lift menutup kembali karena mereka tidak juga keluar dan menyusupkan diri ke pelukan Abhimanyu.

Aroma parfumnya menghantam penciuman Abhimanyu; pekat, namun lembut. Tercampur aroma keringatnya yang tipis, aroma Argha. Dia membelitkan lengannya di pinggang Abhimanyu dan Abhimanyu menarik napas lembut; mendekap atasannya di dalam dadanya. Menghirup aroma Argha yang sekarang memenuhi paru-parunya.

Argha terasa hangat. Pelukan yang membuatnya nyaman dan tenang, nyaris seperti morfim yang seketika menghapuskan semua sakit yang tengah berdenyut di dadanya karena terkoyak kecewa. Abhimanyu menghela napas, membenamkan wajahnya di cerukan leher Argha dan merasakan atasannya mendekapnya lebih erat—lebih hangat lagi. Mereka berpelukan dengan diam selama beberapa menit, mengapresiasi waktu itu.

“Trims,” gumam Argha di pelukannya kemudian, teredam oleh pakaian Abhimanyu. Terdengar lega dan meluruh dalam pelukannya. “It feels great.” Dia mengusap punggung Abhimanyu dengan telapak tangannya.

Abhimanyu mendekapnya lebih erat sekali lagi sebelum menguraikan pelukannya dengan sedikit tidak ikhlas—dia masih ingin mendekap Argha. “Sama-sama, Chef.” Dia tersenyum, sedikit mengantuk karena efek pelukan tadi.

“Ternyata,” Argha tersenyum ketika mereka melangkah keluar dari lift menuju loker. “Berteman tidak seburuk itu, 'kan?”

Abhimanyu balas tersenyum, menatap Argha yang nampak berkilauan seperti mutiara yang baru saja dicongkel dari kerang. Murni dan indah. “Ya, Chef.” Katanya, memaknai kata itu lebih dari apa yang dibayangkannya karena memang.

Berteman dengan Argha ternyata tidak seburuk apa yang dipikirkannya. Setelah dia berdamai dengan perasaan iri dan kecewanya karena tidak mendapatkan posisi Argha, rasanya lebih mudah untuk menerima Argha di dapur dan mendengarkan komandonya dalam memimpin tim mereka. Membuat koordinasi mereka jauh lebih baik. Abhimanyu juga merasa jauh lebih ringan ketika bekerja.

Dia meraih seragam di ruangan sebelum beranjak ke loker, sejenak melupakan Cedrik setelah pelukannya dengan Argha lalu sekarang mendadak saja lelaki itu kembali ke pikirannya.

Dia kemarin memblokir nomor Cedrik; terbelah antara perasaan bersalah dan malu. Cedrik menyatakan perasaannya lagi dan bahkan setelah mencoba untuk membalas perasaannya, Abhimanyu tidak juga bisa memberikannya perasaan yang layak sebagai balasannya. Menolaknya untuk ketiga kalinya tidak mudah bagi Abhimanyu sendiri, apalagi ketika lelaki itu akhirnya memutuskan untuk melangkah pergi dari kehidupan Abhimanyu.

Dengan panik, dipengaruhi oleh rasa bersalah dan malu, tidak ingin mencari Cedrik ketika dia membutuhkan seseorang lagi. Tidak ingin memperumit hubungan mereka dan ingin melepaskan Cedrik setelah mencekiknya nyaris selama dua setengah tahun. Abhimanyu akhirnya memblokir nomornya, berharap cara itu bisa mempermudah jalannya untuk melangkah, menjauh dari Cedrik.

Sesuatu yang disadari Abhimanyu, seharusnya dilakukannya sejak dulu. Melepaskan Cedrik, bukannya membiarkan hubungan mereka berlarut-larut dan menyakiti pemuda itu dengan harapan yang tidak akan bersambut.

Dan dia senang ketika dia kebingungan, ada Argha di sisinya walaupun dia harus benar-benar menjaga dirinya sendiri; tidak boleh merasa terlalu nyaman dengan Argha. Tidak ingin ini berakhir seperti hubungannya dengan Cedrik. Tapi Abhimanyu juga paham sekali bahwa dia... mudah terikat dengan orang yang membuatnya nyaman dan percaya.

Termasuk Argha.

Dia menatap Argha yang berdiri di depan lokernya, sedang melepas kemejanya untuk menggantinya dengan seragam sementara penyejuk ruangan sentral mulai mendengung menyala dan suara menggema lampu menyala menandakan bahwa Security sudah menyalakan listrik restoran. Dalam lima menit, Steward akan mulai datang untuk memulai pekerjaan.

Hidup terus bergerak maju dan Abhimanyu masih berdiri di sini, hidup dan sehat setelah dua hari tanpa Cedrik. Berkat Argha yang memberikannya naungan dan tempat bersandar, membuatnya nyaman.

Dan Abhimanyu takut.

Takut dia sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Argha. Ketertarikannya yang semula fisik, kini perlahan terasa berubah. Abhimanyu bisa merasakan perubahan itu, menjadi ketertarikan emosi. Dia tertarik pada Argha bukan lagi karena penasaran pada seksnya, namun kebutuhan untuk bersamanya; dihibur, ditenangkan, dan disokong secara emosional.

Perasaan yang dulu dirasakannya ke Cedrik, hanya saja kini tumbuh lebih kuat karena sosok Argha yang bisa jadi sangat dewasa padanya. Dia mengoreksi Abhimanyu dengan lembut, namun tegas. Tidak terus memaklumi Abhimanyu dan menenangkannya, dia mengoreksi Abhimanyu jika salah.

Awalnya sikap itu terasa tidak menyenangkan, Abhimanyu yang terbiasa dimaklumi dan disayangi terkejut karena sikap tegasnya. Dua malam mendengarkan Argha menghiburnya, membimbinya melewati patah hati, kecewanya pada diri sendiri, dan ketakutannya pada masa depan setelah ini membuat Abhimanyu menyadari bahwa... dia membutuhkan ketegasan itu.

Argha Mahawira memang lelaki berbahaya—bukan hanya karena sensualitas dan fisiknya.

Not changing your clothes?” Tanya Argha, menoleh dengan seragam di tangannya. “Kenapa berdiri di sana terus?”

Abhimanyu mengerjap dan tersenyum, merasa gugup di sekitar Argha sekarang. “Sekarang, Chef.” Sahutnya perlahan lalu menghampiri lokernya sendiri dan mulai mengganti pakaiannya.

... Jika seseorang yang kita inginkan tidak menginginkan kita?

Jika begitu, hanya ada dua cara. 1) Berhenti, tinggalkan, dan hidup bahagia atau 2) buat mereka menginginkanmu.

Are you alright?” Tanya Argha lagi ketika Abhimanyu berdiri di sisinya, mengerutkan alisnya dan Abhimanyu tersenyum dalam hati—bagaimana bisa lelaki senior berusia nyaris empat puluh bisa nampak seindah Argha? Tetap nampak muda dan bersinar.

Dia terlihat dewasa, tenang, dan penuh pesona namun sekarang dia nampak menggemaskan ketika khawatir. Menatap Abhimanyu dengan mata gelapnya yang berkilau oleh rasa cemas yang nyaris tulus—emosi yang Abhimanyu belum juga terbiasa lihat di matanya. Membuat Abhimanyu terenyuh karena seseorang ternyata peduli padanya. Argha ternyata peduli padanya.

Are you hurting?” Desak Argha lagi, menatapnya serius. “Abhimanyu, I'm asking you questions.” Tegurnya dengan nada yang membuat Abhimanyu ingin tertawa. Apakah dia tidak salah mendengar nadanya?

Karena Argha Mahawira baru saja... merajuk padanya?

Dari mana datangnya Argha Mahawira yang ini? Apakah dua malam menghabiskan waktu bersama Abhimanyu membuatnya... merasakan hal yang sama? Bahwa emosi mereka terkoneksi, begitu erat dalam waktu yang begitu singkat?

I'm not hurting,” sahut Abhimanyu, menatapnya dengan senyuman kecil di bibirnya. Merasa begitu... hangat? Padahal dia baru saja menghabiskan akhir pekannya dengan menangis dan mengasihani dirinya sendiri.

Argha membantunya bangkit, memperkuatnya. Menyokong emosinya agar lekas pulih. Bersikap begitu dewasa namun juga menggemaskan di sekitarnya, menatapnya khawatir seperti seekor Siberian Husky yang agung, mengibaskan ekornya ketika tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.

I'm fine, Argha.” Bisiknya, mengetes nama itu di tempat lain selain kamarnya dan mendapati reaksi Argha seketika itu juga.

Chef senior itu mengerjap, menatapnya dalam sebelum sorot matanya berubah. Emosi berkilat di mata itu sekejap, seperti kerlip bintang sebelum kembali lenyap dan dia tersenyum—senyuman seindah mimpi yang membuat Abhimanyu ingin memeluknya.

Great.” Sahut Argha, entah mengapa memelankan suaranya juga padahal hanya ada mereka berdua di loker itu. “I'm glad you are.”

... Make them want you.


ps. ehe :3

ps. idk... careful with your heart kinda narration????????


Sebenarnya Argha punya banyak sekali pekerjaan hari ini.

Maksudnya, mengasihani dirinya sendiri karena sejak kemarin nomor Yukio tidak lagi aktif. Semuanya karena dia mengirimkan pesan yang sama sekali tidak dipikirkannya baik-baik. Dia sedang berbaring di lengannya, menatap Abhimanyu yang lelap dan merasa dia bisa saja jatuh cinta pada boneka beruang manis menggemaskan ini saat itu juga. Lalu mengirimkan pesan pada Yukio dalam keadaan sedikit mabuk dan sekarang... menyesalinya?

Tidak juga sebenarnya...

Argha menghela napas jengkel. Dia menoleh ke tas makanan di jok penumpang mobilnya. Dia membuatkan Abhimanyu sesuatu untuk dimakan karena pesan Cedrik mau tidak mau membuatnya resah; bagaimana jika anak itu nekat? Maka dia membongkar kulkasnya dalam balutan robe sutra kesukaannya—baru bangun karena notifikasi grup yang berisik, menyadari dia membeli terlalu banyak bahan segar yang mulai membusuk lalu memasak sesuatu.

Dia tidak memasak sesuatu yang rumit, hanya dada ayam dengan sedikit bumbu, kentang yang dilembutkan dengan mentega, serta brokoli panggang dengan taburan oregano. Menambahkan sedikit chili flakes di ayamnya untuk menambah bumbu dan rasa karena Abhimanyu orang Bali—dia pasti suka makanan dengan rasa yang tajam. Argha mengemasnya dalam kotak makan plastik yang didapatkannya saat take away makanan; alasannya recylcle, padahal sebenarnya karena dia tidak punya tempat lain.

Why are you so care about this man?” Rutuknya pada dirinya sendiri seraya mengemudi, mendelik marah ke jalanan dari vilanya menuju kos Abhimanyu yang sebenarnya tidak terlalu jauh.

Argha bisa saja berbaring di ranjangnya, menatap ponselnya berharap Yukio akan membalas pesannya lagi seharian karena Sebastien masih di Jakarta. Namun dia malah memasak, mandi, bersiap-siap menuju kos Abhimanyu karena Cedrik menitipkan anak itu padanya. Tapi dia tidak keberatan, mungkin dia memang harus memastikan keadaan anak itu apalagi sekarang Cedrik mendadak pergi dan tidak ada yang memberi tahu Abhimanyu.

Argha ingin memastikan dia tetap utuh ketika melihat berita itu.

He might not realize it now, but I think he has a feeling for you. So if you're not interested in him, please draw a very thick line between you both, Chef.

Inginkah Argha membuat garis batas itu?

Tangannya naik ke atas, menyugar rambutnya perlahan dan merasakan helaiannya yang lemas karena dia baru mencucinya lalu mengeringkannya tadi sebelum berangkat. Argha mengenakan kemeja tipis putih berbahan ringan yang sejuk, celana kain santai longgar, serta sandal-selop kulitnya. Membawa clutch-nya yang terisi ponsel, antiseptik, dompet, dan kunci rumahnya.

Argha membelok ke gang pas-pasan menuju kos Abhimanyu, menjaga agar spionnya tidak tergerus di dinding rumah di kanan-kirinya sebelum membelok ke gerbang kos Abhimanyu yang terbuka. Syukurlah halaman kos Abhimanyu cukup luas untuk mobilnya diparkir. Dia mematikan mesin mobil, sudah ahli memarkir mobilnya dan berkendara dengan mobil setir kanan.

Alih-alih keluar, Argha bersandar di kursinya dan menghela napas panjang. Dia menatap kap mobilnya dan menerawang. Apa yang sebenarnya hatinya inginkan belakangan ini? Abhimanyu memang menarik, dia tidak pernah berbohong tentang itu. Tapi apakah dia cukup menarik untuk menggantikan Yukio?

Terkadang Argha berpikir tentang apakah dia memang tidak bisa berdamai dengan berakhirnya hubungannya dengan Yukio atau dia tidak mau melakukannya? Karena keduanya adalah hal yang sangat berbeda. Mungkin Argha merasa sangat bersalah karena dia memenuhi kebutuhan fisiknya yang tidak bisa didapatkannya dari Yukio karena dia menghormati preferensi seksual Yukio.

Cedrik sedang melakukan sesuatu yang dilakukan Yukio padanya dulu; melangkah pergi dari hidup Abhimanyu. Namun dengan alasan yang sama sekali berbeda dengan yang dilakukan Yukio.

Yukio mencintai Argha, mereka saling mencintai dan tidak pernah membiarkan satu sama lain merasa harus mengemis demi perhatian; dia memberikan Yukio segalanya, memastikan dia hangat dan dicintai begitu hebatnya. Dan dengan melangkah pergi setelah Argha memberikan semuanya adalah hal yang sangat sulit diterima Argha; bahkan setelah bertahun-tahun.

Bahkan sekarang, setelah Yukio memiliki kekasih baru.

Mungkin jika alasan berakhirnya hubungan mereka sama persis seperti yang terjadi pada Cedrik dan Abhimanyu, Argha akan lebih mudah bangkit dari sisa hubungan itu dan melanjutkan hidupnya. Dia yakin sekali, Cedrik pasti akan mendapatkan pengganti Abhimanyu secepatnya. Dia lelaki manis yang hangat dan perhatian, tidak sulit menarik perhatian siapa saja. Ditambah pribadi yang sangat menyenangkan.

Hal yang sama sulit dikatakan Argha mengenai Abhimanyu yang nampak menggemaskan di luar namun begitu rapuh dan membingungkan di dalam. Seperti berjalan di atas ladang ranjau, Argha harus benar-benar memerhatikan langkahnya jika tidak mau sesuatu meledak di wajahnya.

Cedrik tidak melakukan apa pun tentang itu selama ini, tidak ada yang melakukan apa pun tentang itu sepanjang pengetahuan Argha. Mereka memaklumi sikap Abhimanyu, selalu memberikan alasan 'dia masih muda', 'wajar dia bersikap naif'.

Abhimanyu sudah dua puluh delapan tahun, sudah saatnya dia bangkit mengurus emosinya sendiri dan berhenti meneriaki orang-orang di sekitarnya seolah mereka memiliki hutang pada Abhimanyu. Dia harus belajar bertanggung jawab atas emosinya sendiri, meminta maaf, dan mengoreksi dirinya.

Dia menghela napas, meraih tas makanan dan juga kotak kertas terisi donat-donat bersalut gula yang dibelinya di Petitenget tadi; penasaran karena antriannya, maka dia berhenti untuk membeli beberapa. Siapa tahu bisa membuat suasana hati Abhimanyu sedikit membaik. Juga membeli beberapa makanan segar tahan lama dan minuman kemasan untuk Abhimanyu di mini market yang ditemuinya.

Abhimanyu belum juga menyalakan ponselnya, itu hal yang baik sebenarnya. Dia tidak akan melihat pesan Cedrik yang mengatakan selamat tinggal. Cedrik tidak meninggalkan grup koordinasi besar, Argha menyadari. Apakah dia ingin tetap membuat Abhimanyu tenang?

Argha menutup pintu mobilnya, mengangguk pada teman kos Abhimanyu yang bertemu mata dengannya sebelum melangkah ke kamar Abhimanyu. Motornya ada di garasi, terkunci dan memberi tahu Argha bahwa dia tidak pergi ke mana pun—tidak juga pulang ke rumahnya.

Kamar Abhimanyu ada di pojok, dekat dengan tempat bersembahyang yang harum oleh dupa dan semerbak pandan yang diiris tipis serta bebungaan. Argha melepas sepatunya di undakan terbawah sebelum menaiki terasnya dan mengulurkan tangan ke jendela—menyelipkan ibu jarinya ke celah yang terbuka, menyingkap tirainya dan melihat Abhimanyu berbaring dengan selimut menutupi setengah wajahnya. Lelap.

Argha menghela napas, syukurlah dia tidur. Lalu dia mengerjap, menatap pintu dengan pemahaman baru. Jika Abhimanyu tidur, berarti dia mengunci pintunya? Argha mengulurkan tangannya yang bebas ke gagang pintu dengan sedikit berdebar, takut jika pintu itu terkunci maka sia-sia sudah dia datang kemari.

Bagaimana caranya dia masuk? Bisakah dia meminjam kunci cadangan pada pemilik kos dengan alasan 'mencegah teman saya bunuh diri karena patah hati'? Apakah alasan itu cukup masuk akal?

Namun sebelum pikirannya meliar, dia menyentakkan gagang itu—mengetesnya dan mendapati ternyata pintunya tidak terkunci. Terbuka dengan mudah hingga Argha nyaris terjerembab menabrak pintu dengan keningnya karena mengerahkan terlalu banyak dorongan. Dia berhasil mengendalikan diri sebelum terjatuh ke lantai dan menoleh ke Abhimanyu—memastikan suara itu tidak membangunkannya.

Gundukan di atas kasur yang bernapas teratur itu diam, dengkur lembut Abhimanyu masih terdengar dan Argha menghela napas lega.

Dengan perlahan, dia menutup pintu kembali dan meletakkan bawaannya di meja kecil di bawah jendela yang oleh Abhimanyu diisi dengan kebutuhan dapurnya. Ada penanak nasi kecil yang kosong, teko elektrik untuk merebus air, dan termos perak 500mL. Di sisinya ada rak piring kecil yang terisi sepasang piring, sepasang gelas, dan beberapa sendok makan. Semuanya serba minimalis, menyesuaikan kebutuhan pemilik kamar.

Argha berjongkok di bawah meja, menemukan kontainer tertutup yang terisi makanan instan yang disimpan Abhimanyu. Sebagian besar mie instan, tentu saja. Beberapa pasta kemasan dan bumbu jadi instan yang membuat Argha menghela napas. Menjadi chef bukan berarti makanan lezat sepanjang hari, terkadang mereka pulang kelelahan dan hanya makan sekantong keripik kentang sebelum tidur karena tidak lagi memiliki energi untuk membuat makanan—bahkan telur goreng.

Dia mengeluarkan kotak makannya, membuka tutupnya agar uap panasnya tidak membuat daging ayamnya menjadi soggy lalu meletakkannya di meja, menutupnya dengan selembar tisu. Dia juga meletakkan donat di atas meja, mengawasi apakah ada semut di sekitar sana sebelum bangkit menghampiri tempat tidur.

Tempat itu berantakan, beraroma apak. Abhimanyu tidak membuka kamarnya atau bahkan tirai jendela sejak kemarin malam, juga tidak menyalakan penyejuk ruangan. Di karpetnya, ada banyak gumpalan tisu yang membuat Argha berdeguk—mual membayangkan bakteri-bakteri dan kuman yang mungkin menempel di sana. Ada satu plastik besar terisi 500 lembar tisu yang berdiri di dekat kepala Abhimanyu, isinya berkurang nyaris seperempat. Argha menghela napas, dia benar-benar kacau semalam ternyata.

Abhimanyu sedang meringkuk seperti bola di ranjang, mengenakan selimut hingga ke dagunya dan terlelap. Matanya sedikit bengkak dan noda bekas air mata di bantalnya—gelap dan lebar, beberapa sudah mengering. Aroma ruangan itu pekat dengan kesedihan, rasa frustrasi, kebingungan, dan membuatnya tidak nyaman. Argha tidak mau menyentuhkan kakinya di karpet sama sekali—jijik.

Argha tidak tahan lagi. Dia berdiri, membuka pintu kamar Abhimanyu dan membuka tirai jendelanya. Tidak lagi peduli apakah Abhimanyu terbangun oleh gerakan itu atau tidak. Bersungut-sungut, dia meraih serokan serta sapu Abhimanyu di teras untuk membereskan gumpalan tisu di karpet dengan wajah mengerut, menahan muntah.

Dia membuang semua gumpalan tisu terisi air mata dan ingus itu di tong sampah depan kamar Abhimanyu sebelum menyapu, menggosok keras-keras karpet dengan sapi lidi yang harusnya digunakan di ranjang. Menyemprotkan antiseptiknya sendiri ke atas permukaan karpet, memastikan setiap sudutnya terkena semprotan.

Abhimanyu terbangun ketika Argha sedang menggosok kedua tangannya di bawah air dengan sabun tangan—mengerut jijik pada telapak tangannya sendiri setelah membereskan ruangan penuh ingus tanpa sarung tangan.

Dia duduk di ranjang, bertelanjang dada dengan selimut teronggok di pangkuannya—disorientasi pada limpahan cahaya, ruangan yang bersih dan beraroma tajam cairan antiseptik. Pintu kamarnya terbuka lebar, syukurlah kamarnya berada paling pojok sehingga tidak banyak orang yang berlalu-lalang di depannya.

Argha keluar dari kamar mandi dan mengerjap. Tubuh atas Abhimanyu memang menakjubkan; berisi di tempat yang benar, liat, panjang dengan otot-otot yang dibentuk dengan baik. Tidak berlebihan, cukup untuk membuatnya nampak atletis seperti binatang liar. Nipple piercing-nya berkilauan, mencuri fokus perhatian Argha dan teringat bagaimana rasanya benda itu di bibirnya beberapa pekan lalu.

“Halo,” sapanya berdeham dan Abhimanyu menoleh; rambutnya kusut, seperti sarang burung di kepalanya. Ikal-ikalnya saling membelit, harus dipisahkan dengan tangan karena jika menggunakan sisir itu hanya akan menyakiti kulit kepala Abhimanyu.

Abhimanyu menatapnya. “Kapan Anda datang, Chef?” Tanyanya, suaranya parau sekali hingga Argha yakin itu pasti menyakitinya. “Maaf saya tidur.” Katanya, menyentuh lehernya sendiri dan berdeham lalu meringis.

“Tidak masalah. Aku baru saja datang,” dia tersenyum. “Kau pasti menangis seperti binatang liar,” Argha mengelap tangannya di sehelai tisu dan mengeringkan kakinya di keset Abhimanyu sebelum melangkah ke meja kecil tempat makanan Abhimanyu. “Kubuatkan jahe hangat.”

Abhimanyu masih duduk di ranjang, setengah telanjang dan kebingungan. “Anda membereskan kamar saya, Chef?” Tanyanya, menoleh ke karpet yang sudah bersih dari jejak tangisan menyedihkannya. “Terima kasih.” Gumamnya, lalu melanjutkan pada dirinya sendiri tentang bagaimana bisa dia tidak terbangun.

“Kau kelelahan.” Argha menancapkan stop kontak mug elektrik Abhimanyu dan menuang air ke dalamnya, menutupnya lalu menunggunya mendidih. “Aku juga membawakanmu makanan. Kau lapar?”

Abhimanyu menatapnya, merona tipis. Sangat tidak sesuai dengan tubuh atasnya yang atletis, tapi Argha tidak keberatan. Dia menyugar rambutnya, nampak kikuk dan menyadari rambutnya yang kusut. Mengeluh, dia berusaha mengurainya sendiri dan meringis.

Argha mendesah, “Kemari.” Katanya, mendudukkan diri di tepi ranjang dan mengulurkan tangan. “Aku uraikan untukmu. Jika kau melakukannya sendiri, itu hanya akan menyakiti kulit kepalamu.”

Abhimanyu menatapnya, nampak rikuh dan malu tapi akhirnya menyerah. Merangkak ke arah Argha lalu mendudukkan diri di depannya, sedikit menunduk agar Argha leluasa meraih rambutnya. Mereka begitu dekat; Abhimanyu beraroma lembut linen dan kantuk, membuat Argha merasa ingin merengkuhnya dan meringkuk dalam pelukannya. Aroma keringatnya membuat Argha tenang.

Dia mengulurkan tangan, meraih segumpal rambut Abhimanyu dan menguraikannya perlahan dengan kedua tangannya. Dia harus menjulurkan tubuh atasnya, meraih ke puncak kepala Abhimanyu yang bersila di depannya seperti tersangka kasus kejahatan.

“Sudah makan?” Tanya Argha seraya menyisiri rambutnya yang sudah terurai dengan jemari sebelum melanjutkan ke sisi satunya. “Aku membawakanmu makanan. Setidaknya makan sesuatu sebelum kembali mengasihani dirimu sendiri.”

Abhimanyu mengangguk di dadanya, hidungnya menempel di dada Argha dalam posisi ini. “Ya, Chef.” Sahutnya teredam.

“Argha.” Koreksinya, menarik lepas sejumput rambut dan Abhimanyu mengaduh keras. “Maaf, maaf!” Katanya, bergegas menunduk menatap Abhimanyu yang meringis. Argha menekan bagian kulit kepala Abhimanyu yang tertarik, mengusapnya lembut.

“Tidak apa-apa, Chef.” Sahutnya, membersit parau.

“Argha.” Ulang Argha sekali lagi, menatap helaian rambut yang diuraikannya di kedua tangannya; saling membelit, membentuk simpul menyebalkan yang sulit dipisahkan. “Panggil saja Argha di luar jam bekerja.”

Abhimanyu mengerjap. “Tapi Anda sebelas tahun lebih tua dari saya dan—”

Argha menurunkan tubuhnya, memicingkan mata jengkel pada Abhimanyu. “We don't talk about age gap here in this house. Understand?” Ancamnya dan Abhimanyu sejenak diam, sebelum senyuman tipis terbit di bibirnya.

“Tapi Anda memang sebelas tahun lebih—ADUH!”

Argha menjambak rambut Abhimanyu dengan puas melihat second layer-nya meringis. Dia melirik ke meja kecil di sisi ranjang Abhimanyu, ponselnya tergeletak di sana. Berharap Abhimanyu tidak mengecek benda itu hari ini, jadi Argha harus mengalihkan perhatiannya. Dia bisa sedikit... memanipulasi Abhimanyu hari ini agar sedikit ceria. Lagi pula, Argha tidak keberatan.

Dia hanya... menolong, 'kan? Melakukan seperti apa yang diminta Cedrik.

... Ya, 'kan?

“Diam.” Gerutu Argha, kembali menguraikan rambut Abhimanyu yang meringis. Sedikit berdebar membayangkan jika Abhimanyu mau, dia bisa mengulurkan tangan dan melingkarkannya di pinggang Argha—mengecup perutnya dalam posisi ini.

Mungkin juga berguling, memeluknya di ranjang. Mendekapnya erat ke dadanya yang telanjang dan hangat, mengaitkan tangannya di atas perut Argha lalu mengecup tengkuknya. Mereka bisa tidur siang bersama, tidak perlu bicara—menghibur dengan sentuhan fisik. Bukankah itu yang selalu Argha lakukan tiap kali dia merasa gelisah? Namun, sentuhan Abhimanyu....

Sentuhan Abhimanyu terdengar jauh lebih mendebarkan dari sentuhan siapa pun. Argha nyaris bisa merasakan kulitnya berdenyar, menginginkan sentuhan itu. Teringat bagaimana tangan Abhimanyu membakar menembus lapisan seragamnya ketika kali pertama mereka berciuman di loker.

Kenapa Argha tidak berbalik melakukannya dari belakang? Entahlah. Dia sepertinya sudah sinting. Dan ketika dia berada di sini, di sekitar Abhimanyu, Yukio terlupakan sepenuhnya. Dia lebih fokus pada keberadaan Abhimanyu; aroma tubuhnya, senyumannya, suaranya, tawanya.... Mata serupa batu citrine-nya yang gemerlap oleh sinar matahari dan emosinya.

Tapi Argha berdeham, menarik dirinya. Tidak yakin pada pengendalian dirinya sendiri sekarang, padahal dia selalu yakin dia adalah lelaki yang bisa mengontrol diri. Dia tidak akan bercinta dengan Abhimanyu, itu pasti. Dia tidak mau menyentuh seseorang yang belum pernah berhubungan badan. Tapi satu ciuman....

Satu ciuman tidak akan melukai siapa pun, 'kan?

“Kau mau makan?” Katanya akhirnya, bertolak belakang dengan apa yang diteriakkan kepalanya.

Abhimanyu mengangguk. Sekarang rambutnya mekar, menggemaskan di atas kepalanya setelah Argha mengurai kusutnya. Dia nampak seperti jamur dan Argha tersenyum, tidak bisa menahan tawa kecilnya. “Apa? Kenapa?” Tanya Abhimanyu.

“Rambutmu.” Gumamnya lalu beranjak menuruni ranjang dan meraih makanannya, merasakan di belakangnya Abhimanyu bergegas menyisir rambutnya dan merapikannya. “Kau mungkin juga bisa mengenakan pakaian? Maksudku...,” Argha tidak melanjutkannya, tidak tahu apa yang harus dikatakannya.

Sejenak hening sebelum Argha mendengar Abhimanyu bangkit dari ranjang dan mengenakan pakaiannya. Setelahnya, barulah Argha merasa lebih nyaman menatapnya walaupun sedih karena tidak bisa menatap tindik mungil di dadanya—bedebah bangsat, bagaimana bisa dia memilih puting untuk meletakkan tindiknya?

Dari semua tempat di tubuhnya dan dia memilih... puting??

Argha kemudian membantunya makan, menyajikan kotak makan di depan Abhimanyu beserta sendok untuknya makan. Juga menyeduhkan air hangat dengan potongan jahe yang ditemukannya menyelip di keranjang bumbu dapur kecil Abhimanyu—sudah mulai tumbuh tunas, tapi tidak masalah.

Dia kemudian duduk di depan Abhimanyu, menontonnya makan dengan perlahan sambil menyesap air jahenya sendiri. Memastikan Abhimanyu memasukkan cukup makanan sebelum dia menolaknya, mendorong wadah makanan menjauh dan menatap Argha dengan rasa bersalah.

“Tidak bisa,” gumamnya menyeka mulutnya sendiri lalu menggeleng. “Maaf. Aku tidak bisa.” Bisiknya sebelum mengerang dan kembali berbaring di ranjangnya, mungkin mendadak teringat kembali tentang kenyataan bahwa dia tidak memiliki siapa pun untuk berpegangan sekarang.

Argha menatap Abhimanyu yang menyelimuti dirinya, berbalik memunggungi Argha—memberikan gestur bahwa dia tidak ingin bicara, bahkan tidak ingin bersopan santun pada atasannya. Argha menghela napas, teringat ketika dirinya menangisi Yukio—jika saja hari itu ada yang memaksanya makan, dia mungkin juga akan melakukan hal yang sama.

Maka dia bangkit, membereskan sisa makanan Abhimanyu lalu menutup pintu kamarnya dan menutup jendela. Argha kemudian menyalakan penyejuk ruangan yang mati, menyetel suhunya di angka 22 derajat agar nyaman sebelum mendudukkan dirinya di kaki ranjang Abhimanyu.

Haruskah dia pulang sekarang? Atau menemani Abhimanyu di sini?

Argha menatap gundukan di ranjang dengan dilema; jika dia pergi, akankah Abhimanyu baik-baik saja? Bisakah dia menjaga dirinya? Bolehkah jika dia menghubungi Khrisna dan memberi tahu kondisi adiknya atau itu hanya akan membuat Abhimanyu semakin marah?

Dia sedang merenung, memikirkan apa yang harus dilakukannya ketika Abhimanyu bergerak—menurunkan selimutnya sedikit, menatap Argha dengan matanya yang sudah mulai basah.

“Argha?” Bisiknya dan Argha menoleh, kaget pada bagaimana seluruh tubuhnya merespons suara Abhimanyu yang parau dan kesakitan.

“Ya?” Sahutnya, refleks sebelum kepalanya bahkan memikirkan jawabannya. “Something's wrong?” Tanyanya lembut, mencondongkan tubuh atasnya ke arah Abhimanyu; ingin membagi luka di hatinya, menanggungnya bersama Abhimanyu.

Everything is,” sahut Abhimanyu sengau dan Argha menarik dirinya mendekat ke sisi Abhimanyu. “Bolehkah aku meminta bantuanmu?”

Argha berdebar; tidak terbiasa mendengar Abhimanyu menggunakan 'aku-kamu' padanya. “Ya?” Sahutnya, tangannya gatal ingin diulurkan dan mengusap kepalanya, membuatnya nyaman. Membuainya hingga mengantuk.

Can you... Can I...,” Abhimanyu berdeham, nampak tidak yakin pada permintaannya maka Argha mengangguk.

“Ya?” Desaknya, menyemangati Abhimanyu.

Can I have a cuddle? If it wasn't too much trouble for you?” Bisiknya dan Argha bisa melihat dia mengerahkan semua kekuatannya untuk mengatakan itu.

Argha menatapnya sejenak, mencoba mencari jawaban di dalam dirinya sendiri apakah dia ingin melakukannya? Apakah dia baik-baik saja? Apakah itu baik-baik saja? Namun tidak menemukan apa pun. Maka dia menjulurkan dirinya, berbaring di ranjang di sisi Abhimanyu yang bergegas bergeser memberinya ruang.

Sure, Big Baby,” bisiknya, jantungnya berdebar. “C'mere.” Gumamnya ketika Abhimanyu berbalik, meringkuk di dadanya dan Argha mengulurkan tangan; memeluknya.

Is it fine?” Tanyanya di rambut Abhimanyu yang terasa hangat, mendebarkan, dan nyaman; seolah seluruh lelah yang selama ini menggelayuti seluruh otot Argha menguap, lenyap begitu saja.

Yes. It is.” Bisik Abhimanyu, menempelkan keningnya di dada Argha. “Thank you.”

Argha menarik napas, berharap Abhimanyu tidak mendengar debaran jantungnya. “My pleasure, Doudou.” Sahutnya, menelan ludah dengan sulit dan mengusap lembut punggung Abhimanyu.

Now, let's get some sleep, alright?” Dia mengusap punggung Abhimanyu lembut, merasakan tubuhnya mulai berguncang lembut merespons tangisan tanpa suaranya.

Argha menghela napas, “Tomorrow will be better. I promise.”


ps. ehe :“(

tw // insecurity , abadonment issue , trust issue , heart break . ps. inhales


Tok, tok!

Nada terganggu, “Ya?”

Cedrik menghela napas lalu membuka pintu ruangan Kinan, melihat sahabatnya sedang menunduk di balik layar iMac-nya dengan kacamata terpasang di atas hidungnya. Alisnya berkerut dalam—Arsa sudah memperingatinya bahwa Kinan sedang dalam suasana hati buruk belakangan ini karena Year End Report dan Business Plan. Termasuk target penjualan per bulannya untuk dua restoran serta satu bistro yang akan mereka urus kedepannya.

Cedrik sudah mendapatkan posisi untuk bertanggung jawab atas bakery bistro itu, La Truffle, tapi mau bagaimana lagi. Uang tidak bisa menyembuhkan sakit hatinya dengan instan. Cedrik harus menjauh dari tempat ini, bahkan jika dia suatu hari nanti kembali pun, dia akan mencari kos baru. Mengubah semuanya agar tidak ada lagi kenangan tentang Abhimanyu yang menempel di sana.

Teringat Nikolas, Cedrik menghela napas.

Dia bisa jadi akan kembali, tapi entahlah. Dia tidak mungkin memaksa Nikolas memindahkan bisnisnya yang sudah begitu besar di Bali; merupakan satu-satunya pet shop besar dengan pet hotel dan dokter hewan dalam satu gedung. Pelanggannya adalah ekspatriat Bali, tersebar di semua kabupaten. Rasanya sangat kurang ajar jika Cedrik memintanya melepaskan itu semua.

“Selamat pagi, Bapak.” Sapa Cedrik seraya menutup pintu ruangan Kinan di belakangnya.

Kinan mendongak dengan alis berkerut, menyatu di tengah keningnya dan ekspresi wajah sangat terganggu seolah Cedrik bertanggung jawab atas tingginya tingkat kematian di dunia. “Oh, kau.” Katanya menghembuskan napas sebal, kembali menatap layar komputernya.

“Jawabannya tidak. Keputusan saya sudah final. Kembali ke Le Paradis.” Lanjut Kinan bahkan tanpa mendongak dan Cedrik menghela napas.

Ruangan Kinan baru, dipisahkan dari ruangan Arsa yang berada di luar ruangan ini; berhadapan dengan meja PA Kinan—baru bergabung dua bulan lalu dan masih sedikit kikuk. Seperti kelinci, dia sering sekali tersentak kaget oleh hal-hal kecil dan hidup dalam ketegangan hingga Cedrik takut dia terkena stroke di usia muda.

Ruangan terluas yang dulunya adalah ruang berkas restoran. Terisi ruang pertemuan kecil yang cukup untuk enam orang yang biasanya diisi jajaran wakilnya. Ruang dokumen dengan rak-rak tinggi di sisi kirinya, beraroma apak khas kertas tua. Seperangkat sofa, televisi (yang Cedrik tidak tahu fungsinya; memang Kinan pernah bersantai menonton televisi di tempat bekerja??? Tapi ini ide Arsa, jadi ya begitulah.), dan meja kerja yang luas. Tapi tidak peduli seluas apa pun meja jati itu, selalu penuh oleh dokumen.

Dia akan menambah Executive Assistant Manager bulan depan karena pekerjaannya semakin banyak semenjak mereka berubah menjadi PT. Ruangan Arsa akan digunakan EAM itu dan Arsa akan menggunakan ruangan Kinan jika harus menegur karyawan. Berharap dengan adanya EAM, beban pikiran Kinan akan berkurang sedikit.

Di atas meja berantakan dengan map-map yang belum diproses Kinan, menumpuk di atas keranjang besi hitam dengan tulisan Document In sementara pasangannya Document Out, kosong melompong. Tadi ketika Cedrik masuk, dia menemukan Personal Assistant Kinan sudah mengintip beberapa kali dengan resah melalui jendela kecil yang memisahkan ruangan Kinan apakah dokumen-dokumen sudah ditanda tangani.

“Halo. Bapak di dalam?” Tanya Cedrik pada PA Kinan dan pemuda itu nyaris terjengkang di tempanya, mengancam kepalanya terbentur rak di belakangnya mendengar suara Cedrik. “Maaf, maaf!” Serunya, kaget karena reaksinya. “Kau baik-baik saja??”

Tapi pemuda itu bergegas mengangguk, mengabaikan Cedrik lalu mendahuluinya untuk memberi tahu Kinan bahwa ada yang ingin bertemu sebelum membiarkannya masuk.

Anak malang. Semoga dia tidak mati muda, pikir Cedrik ketika melihat tumpukan dokumen itu namun Kinan nampak sedang sangat sibuk dengan apa pun itu yang sedang dikerjakannya di iMac-nya.

Ada seteko teh yang diletakkan di sudut terjauh di meja kerjanya dan di meja panjang di bawah jendela di belakang Kinan, ada figura terisi fotonya dan Arsa dalam ukuran lumayan besar. Mereka berangkulan di depan Le Paradis dengan piagam bintang satu Michelin mereka, tersenyum lebar dengan wajah memerah karena bahagia. Mengingatkan Cedrik sekali lagi, seberapa jauh mereka telah melangkah hingga di posisi ini.

“Bapak,” kata Cedrik berdiri di tengah ruangan karena Kinan tidak mempersilakannya duduk. “Setidaknya izinkan saya menjelaskan alasan saya mengundurkan diri.”

Kinan menghela napas, terganggu ketika dia mendongak dan membuka kacamatanya. “Chef,” katanya dingin dan Cedrik bergidik—tidak pernah terbiasa pada nada yang digunakan Kinan ketika bekerja. “Saya tidak perlu mendengarkan apa pun karena permohonan Anda saya tolak.”

Cedrik mendesah keras. “Kinan,” katanya dan Kinan mengerutkan alisnya merespons perubahan nada bicara Cedrik. “Aku tidak bisa di sini sekarang.”

Berdecak, Kinan menunjuk kursi di depannya. “Tutup pintunya.” Katanya dan Cedrik bergegas melakukannya—menutup pintu setelah mengangguk pada PA Kinan yang nampak cemas dan gelisah karena Kinan belum juga menandatangani dokumennya lalu menguncinya.

Dia meraih salah satu kursi di depan meja Kinan dan mendudukkan dirinya di sana. “Kau akan mendengarkanku?” Tanyanya.

Kinan menatapnya, jengkel. “Kau punya sepuluh menit.” Katanya meraih cangkir di meja dan menyesap tehnya. “Apa kata Arsa?” Tanyanya.

Cedrik mengeluarkan map yang dimasukannya ke dalam totebag Le Paradis yang terisi surat pengunduran dirinya. Seharusnya dia membawa itu ke Arsa untuk ditanda tangani, lalu ke Executive Restaurant Manager, Stefan sebagai HRD, Teo sebagai Financial Controller sebelum Kinan. Mereka semua, layer di bawah Kinan seharusnya menyetujui dulu dokumen itu sebelum Kinan.

Namun karena ini Cedrik, maka Arsa langsung memintanya bertemu Kinan. “Kau saja yang bertemu dengannya. Semoga kau dikunyah-kunyah seperti mainan anjing.” Kutuk Arsa, akhirnya setuju menandatangani surat pengunduran diri itu dengan getir—setelah mendengarkan penjelasan Cedrik.

Dan di sinilah dia sekarang, siap dikunyah Kinan yang benar-benar sedang dalam suasana hati yang buruk—sangat buruk.

“Arsa setuju.” Dia mendorong dokumen itu ke arah Kinan, melirik dengan pilu tumpukan dokumen di sisinya yang tidak tersentuh—berjanji akan mengingatkan Kinan tentang itu nanti, membantu PA-nya.

Kinan menghela napas dalam ketika meraihnya dan membuka map itu seraya menyandarkan tubuhnya di kursi empuknya yang berderit. Cedrik yakin seempuk dan senyaman apa pun kursi itu, dia tidak sudi duduk di sana menggantikan Kinan.

Mata Kinan langsung melihat ke akhir halaman, ke kolom tanda tangan dan menemukan tanda tangan Arsa terisi sebagai supervisor Cedrik. “Baiklah,” katanya meletakkan dokumen itu di pangkuannya dan menatap Cedrik. “Kuharap ceritamu cukup mengharukan sehingga aku sudi menanda tangani ini.”

Cedrik tersenyum tipis. “Long story short,” katanya menatap Kinan. “Aku akhirnya menyerah tentang Abhimanyu dan ingin mengambil waktu untuk menyembuhkan diri. Menjauh dari semua hal yang mengingatkanku tentang Abhimanyu. Kau pasti tahu rasanya.” Tambahnya, mengingatkan Kinan bagaimana mereka menjual apartemen lama Arsa karena tidak mau mengingat depresi berkepanjangan Arsa ketika pertama kali menyadari indra perasanya lenyap.

Dan Cedrik benar. Mata Kinan berkilat, nampak tidak menyukai kalimat Cedrik namun menyadari betapa benarnya argumentasi Cedrik.

“Apa yang membuatmu akhirnya menyerah?” Tanyanya, mengulurkan tangan ke gelas terisi pulpen di dekat iMac-nya dan meraih sebuah pulpen, menjentikkan ujungnya dengan suara 'tik!' samar.

“Aku...,” Cedrik berdeham, merasakan gumpalan itu lagi di tenggorokannya. Tidak terlalu suka menceritakan ulang hal ini namun dia harus mendapatkan tanda tangan Kinan. Tidak mau merusak surat rekomendasinya, apalagi dari restoran bintang Michelin.

Ancamannya adalah tidak diterima di mana pun.

“Aku menyatakan perasaanku untuk ketiga kalinya pada Abhimanyu dan,” dia berhenti dan menguatkan dirinya—luka yang menganga di dadanya masih berdarah, perih sekali ketika tidak sengaja tersentuh. Namun dia mengencangkan perutnya, menahan sakit itu dan melanjutkan. “Dan kau tahu apa jawabannya.”

KInan menatapnya. Diam selama beberapa menit sebelum menghela napas berat, menegakkan tubuhnya, menarik kursi mendekat ke meja dan meletakkan dokumen Cedrik di meja. Hatinya membuncah oleh rasa lega yang nyaris melumpuhkan, senang Kinan mengabulkan permintaannya. Itu berarti dia akan mendapatkan surat rekomendasi, dia akan mendapatkan pekerjaan baru.

Sedang membayangkan kehidupan baru yang akan dimulainya di pulau terpencil di Indonesia (mungkin Bintan? Pulau Moyo? Atau mungkin ke Maladewa saja?), ketika Kinan membuka suaranya.

“Chef, saya hanya akan menyetujui unpaid long leave,” katanya dingin dan Cedrik mendongak—kaget. Menyaksikan Kinan mencoret tulisan 'resignation' di atas dokumen Cedrik dan menulis dengan tekanan lebih dari biasanya: 'unpaid long leave'. “Tidak ada pengunduran diri hari ini. Silakan pergi berlibur, gunakan uang yang sudah Anda dapatkan selama bekerja di Le Paradis untuk menenangkan diri.”

Kinan menandatangani kolom namanya dan Cedrik tahu, sisa layer akan seketika menyetujui itu karena Kinan dan Arsa sudah menandatanganinya. Dia kemudian mengulurkan dokumen itu ke arah Cedrik yang lemas karena keputusan itu.

“Lalu kembalilah ketika Anda merasa, Anda sudah cukup kuat. Kami membutuhkan Anda.” Dia menatap Cedrik, matanya dingin sekali dan Cedrik menghela napas—tidak tahu bagaimana bisa Arsa jatuh cinta pada rubah albino berdarah dingin ini.

“Dan kau pikir,” tambah Kinan dengan rahang dikencangkan—marah. “Aku akan membiarkanmu melangkah keluar begitu saja setelah semua yang kita lalui bersama membangun restoran ini, Cedrik? Semua depresi Arsa? Bintang Michelin? La Truffle? Kariermu yang gemilang? Karena patah hati?” Cibirnya dan Cedrik mendenguskan senyuman.

“Yang benar saja. Tidak.” Kinan meletakkan kembali pulpennya. “Kau jauh lebih kuat dari itu. Pergilah berlibur, gunakan waktumu untuk memikirkan ulang segalanya. Lalu kembalilah.”

Dia menarik napas, “Kembalilah pulang.”

Cedrik menatap surat pengunduran dirinya, menatap tanda tangan basah Kinan dan Arsa di sana serta tulisan tebal Kinan yang sedikit berantakan 'unpaid long leave' dengan perasaan campur aduk. Apakah ini yang terbaik dari keputusannya?

Kinan benar. Dia punya karier yang sangat gemilang di sini; menjadi Executive Pastry Chef untuk tiga restoran, bekerja dengan sahabatnya sendiri, dan rasanya sayang sekali jika dia membuang semuanya. Tapi hatinya yang remuk tidak bisa bertahan di sini, tidak bisa melihatnya sendiri jika suatu hari nanti Abhimanyu bahagia dengan lelaki pilihannya—yang bukan Cedrik.

Instingnya adalah kabur, melarikan diri sejauh mungkin dari Abhimanyu. Namun pilihan Kinan terdengar sedikit lebih masuk akal. Dia akan pergi berlibur, cuti panjang tidak dibayar untuk menenangkan diri. Dia punya cukup tabungan untuk berlibur, mungkin pulang ke Jakarta bertemu orang tuanya dan menemani mereka sebentar; mencari kesibukan, mungkin mengajar kursus kecil-kecilan.

Lalu kembali ketika dia sudah cukup kuat.

Kembali pada sahabat-sahabatnya, Arsa dan Kinan.

Kembali pada... Nikolas.

“Bagaimana?” Tanya Kinan sekali lagi, alisnya naik sebelah. “Keputusan saya sudah final, Chef. Itulah hal paling baik yang bisa saya berikan.”

Cedrik menghela napas dan mengangguk. Sepertinya memang begitu. “Tentu, Bapak.” Sahutnya. “Saya akan meminta tanda tangan dari yang lainnya jika begitu.”

Kinan menatapnya lalu tersenyum hangat, persona yang digunakannya ketika bekerja seketika luruh dan dia kembali menjadi Kinan—pasangan sahabatnya. “Excellent choice.” Dia mendorong kursinya menjauh dan bangkit.

Cedrik bergegas bangkit dan berbalik, menyambut Kinan dalam pelukannya. Dia lebih tinggi sepuluh senti dari Kinan, maka dia mengecup puncak kepalanya dan mengeratkan pelukannya. “I love you.” Bisiknya, senang karena di antara dua orang bodoh sepertinya dan Arsa, ada Kinan.

Take care while I'm away, alright?” Tambahnya. “Tonjok Arsa untukku jika dia bertingkah.”

Selalu menjadi yang paling logis, paling cerdas, dan paling berkepala dingin. Dia punya banyak jalan keluar dari segala masalah mereka. Jabatan yang dipegangnya sekarang, bukan tanpa alasan. Dan dia senang—senang Arsa memilih Kinan sebagai pasangannya.

I love you too,” balas Kinan di dadanya, tertawa teredam. “Kembalilah secepatnya, oke? Aku tidak sanggup mengurus Arsa sendirian.”

Cedrik tergelak parau. “Tidak janji, tapi akan kuusahakan.”

Lalu dia berhenti di depan pintu sejenak, sebelum pergi ke ruangan staf di sebelah untuk bertemu ERM yang harus menanda tangani dokumennya. Dia menoleh ke Kinan yang sudah kembali ke layar iMac-nya sambil menarik napas panjang—membenci pekerjaannya.

“Pak?” Panggilnya.

Kinan mendongak dengan alis berkerut. “Apa lagi maumu?” Tanyanya.

Cedrik mengedikkan bahu dan menunjuk dokumen di atas meja dengan dagunya. “Kau bisa memperingan pekerjaan PA-mu dengan mulai menanda tangani tumpukan itu?”

Kinan mengerjap, sejenak disorientasi lalu menoleh ke dokumen itu dan mengerang. “Ah, ya.” Gerutunya, meraih tumpukan map itu dengan jengkel. “Trims.” Tambahnya memutar bola mata. “Jangan lupa berikan surat itu ke Stefan setelah selesai, oke?”

Cedrik melambaikan dokumennya. “Trims, Pak.”

“Sama-sama, Chef.” Kinan tersenyum lalu wajahnya kembali jengkel. Mendelik pada Cedrik. “Apa lagi maumu sekarang? Enyahlah.” Gerutunya dan Cedrik terkekeh.

Dia masih tertawa kecil ketika menutup pintu ruangan Kinan lalu menoleh ke PA-nya yang bergegas berdiri. “Saya sudah meminta Bapak menanda tangani dokumen masuk. Sedang dikerjakan, masuklah dua puluh menit lagi.” Dia tersenyum dan PA itu nampak sangat lega hingga Cedrik tersenyum.

“Terima kasih, Chef. Terima kasih!” Dia mengangguk, nampak sangat bersyukur dan Cedrik balas mengangguk sebelum keluar dari ruangan Kinan dan menuju ruangan staf.

Hatinya sedikit ringan sekarang, memikirkan ke mana sebaiknya dia memulai wisatanya setelah ini. Dan mengabari Nikolas tentang ini. Mungkin menginap di rumahnya malam ini sepulang bekerja?

Untuk pertama kalinya, bertemu seseorang membuatnya senang dan ringan alih-alih terbebani oleh perasaan bersalah karena tidak cukup baik untuk orang itu. Cedrik menghela napas, senang dia melepaskan Abhimanyu walaupun sedikit merasa bersalah karena tahu apa akibatnya pada Abhimanyu.

Namun dia memilih untuk memprioritaskan dirinya sendiri sekarang. Abhimanyu akan baik-baik saja.


Abhimanyu tidak baik-baik saja.

Dia merasa tidak enak badan seharian. Terbangun pukul setengah enam pagi, menemukan Argha sudah tidak ada di kamarnya. Dia terserang rasa panik, takut baru saja mengusir Argha juga dari hidupnya namun dia langsung tenang ketika mendengar suara flush di kamar mandi disusul Argha yang keluar dari kamar mandi.

Good morning, Doudou?” Sapanya lembut dan Abhimanyu tersenyum kecil, merasakan senyuman itu menikam hatinya sendiri; mengingatkannya bahwa Cedrik sudah melangkah pergi dari hidupnya.

“Jika begitu,” kata Cedrik semalam dan Abhimanyu merasa jantungnya mencelos; tahu benar apa yang akan dikatakan Cedrik setelahnya namun tetap menanti lelaki itu mengucapkannya sendiri. “Aku tidak bisa lagi menemanimu, Abhimanyu. Aku... sudah selesai.”

No. No.” Argha bergegas menghampirinya ketika wajahnya berkerut, menahan tangis saat mengingat kenangan itu. Bergegas meluncur ke ranjangnya—memeluknya hangat. Aroma Argha begitu menyenangkan; lembut, hangat, secercah wewangian feminim yang tidak menyengat dan keringatnya. “You're fine, you're fine.”

Dan sekarang Abhimanyu takut untuk memercayai siapa pun karena tahu mereka akan—pasti meninggalkannya. Bahkan Cedrik yang sudah dia yakini akan tetap tinggal apa pun yang terjadi. Dia harus menjaga jarak dari Argha, menjauhinya agar tidak terlanjur bergantung padanya.

Abhimanyu tidak mau menghadapi luka yang sama untuk ketiga kalinya.

Dia duduk di loker, baru saja selesai mencuci wajahnya dan menenangkan diri. Prep sudah selesai, mereka sedang beristirahat dan Abhimanyu tidak ingin makan apa pun. Dia akan pergi ke ruang istirahat karyawan untuk tidur saja karena dia tidak ingin memasukkan apa pun ke tubuhnya. Abhimanyu mengganti seragamnya, tidak ingin benda itu kusut atau berbau keringat ketika dia tidur.

Abhimanyu merasa tubuhnya melayang ketika melepas kemejanya, menggantunya di hanger lalu menyelipkannya ke dalam loker. Dia berdiri dengan kaus dalam di loker yang sepi; menatap wajahnya sendiri yang dipantulkan cermin kecil di dalam lokernya. Dia nampak kacau, sakit, dan kelelahan.

Haruskah dia meminta early out saja? Atau tidur selama tiga jam akan membuatnya lebih baik?

Abhimanyu menghela napas berat, meraih kaus yang digunakannya untuk berangkat bekerja tadi dan mengenakannya melalui kepala. Sedang merapikan pakaiannya ketika pintu loker terbuka dan Argha muncul dari sana; dia nampak sedikit kacau juga hari ini; beberapa kali melamun ketika prep, mengecek ponselnya dengan resah dan berusaha menghubungi seseorang.

Abhimanyu yakin pasti karena menemaninya begadang semalaman dan membuatnya merasa bersalah.

“Ah, kau di sini.” Kata Argha, tersenyum kecil namun tidak menyentuh matanya. “You don't have lunch?” Tanyanya, mulai membuka seragamnya dan Abhimanyu sejenak ingin bertanya ke mana dia akan pergi—namun urung, takut terdengar begitu menyebalkan.

Takut membuat Argha terbebani. Takut menunjukkan kelemahannya, takut bergantung pada Argha.

No, Chef.” Katanya parau, mengulaskan senyuman kecil yang terasa pedih. “Saya akan tidur di ruang karyawan.” Dia kemudian meraih ponselnya dan menyelipkannya ke saku celananya.

Argha berhenti dan menoleh. “Kau baik-baik saja?” Tanyanya.

Abhimanyu menggeleng. “Tidak, tapi tidak masalah.” Sahutnya, menghela napas dan menekan sakit yang kembali menyeruak di dadanya; mengingat ketika Cedrik melepaskan pelukan mereka dan Abhimanyu bergidik, kedinginan.

“We're done here, then, Abhimanyu. I can't continue.”

Abhimanyu menggertakkan giginya, bibir bawahnya gemetar dan dia menumpukan tangannya di sisi loker—menahan dirinya agar tidak meluruh ke lantai akibat rasa sakit mendadak yang menikamnya. Begitu dalam, begitu kuat hingga dia merasa tubuhnya baru saja terbelah dua oleh rasa sakit itu.

Argha mengulurkan tangan, bergegas menangkapnya persis sebelum Abhimanyu menghantam lantai dengan lututnya dan berpotensi menciderai kepalanya. “You're not going to do good today,” gumamnya dan mendesah.

I'll go get some sleep, Chef.” Bisik Abhimanyu, terengah—tidak yakin mengapa dia merasa sangat kelelahan dan kebingungan.

Rasanya seperti dia hanyut terbawa arus, tidak memiliki genggaman. Melayang begitu saja seperti layangan yang tidak digenggam; tidak berani memanggil kakaknya, tidak berani meminta bantuan Argha, tidak ingin merepotkan Hadrian. Dia hanya memiliki Cedrik selama ini; selalu dan selalu Cedrik. Hingga mereka nyaris memiliki koneksi emosi yang begitu kuat; tahu kapan salah satu dari mereka sedang kesulitan atau membutuhkan dukungan emosi.

Kehilangan Cedrik berdampak sangat besar pada kondisi Abhimanyu; fisik dan emosi. Seperti ada sebuah organ vital yang dirampas dari tubuhnya, dicabut paksa dan lubangnya dibiarkan menganga. Namun jika teringat nada suara dan ekspresi Cedrik semalam ketika mengakhiri hubungan mereka, Abhimanyu merasa berdosa.

Dia sudah mencekik Cedrik selama ini, menggenggamnya begitu erat hingga pemuda itu tidak bisa bernapas. Menggantungkan seluruh bahagia, hidup, dan segalanya pada Cedrik—memintanya bertanggung jawab atas segala emosi yang Abhimanyu rasakan.

Abhimanyu memang harus melepaskannya. Mereka harus mengakhiri ini.

Tapi bagaimana caranya hidup tanpa Cedrik?

Abhimanyu menarik napas tajam, tangannya yang bebas bergerak untuk meraih dadanya—menekan rasa sakit itu walaupun dia tahu rasa itu berada di balik rusuknya dan dia tidak mungkin menyentuhnya. Ponselnya jatuh ke lantai, berderak keras namun dia tidak mendengarnya. Semua suara terasa menggema di kepalanya, seolah dia sedang berada di dalam sebuah bola raksasa yang menyaring semua suara. Membuatnya bingung dengan suara gema beruntun yang menghantam kepalanya.

Terdengar suara kesiap tajam dan Argha meraihnya ke dalam pelukannya, Abhimanyu seketika meluruh ke dalam hangatnya tubuh Argha—membalas pelukannya, menyandarkan keningnya di bahu Argha dan menghirup aroma tubuhnya. Setengah dirinya tahu dia harus menarik diri dari Argha, tidak boleh membebani siapa pun dengan emosinya lagi.

“Maaf,” bisiknya kacau—seperti baru saja menenggak terlalu banyak minuman keras. Dia mabuk; tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, kepalanya berat, matanya panas, dan dadanya... dadanya perih sekali.

Perih, perih sekali.

Dia memukul dadanya, terbatuk keras ketika gerakan itu membuatnya sakit dan Argha mendesis lembut—menarik tangan Abhimanyu dengan lembut namun kuat dari sana, menjauhkannya lalu melingkarkannya di pinggang Argha.

Perih, perih sekali.

“Sshhh, it's okay, it's okay, Little Darling.” Bisiknya lembut dan hati Abhimanyu semakin pedih mendengarnya; suara Argha yang hangat, bisikan lembutnya, aroma parfumnya...

Dia tidak mau terjebak dalam perasaan bergantung ini, perasaan lemah dan terekspos ini. Tidak ingin merepotkan siapa pun, dia tidak mau memaksa siapa pun tinggal di sisinya karena kasihan. Tidak ingin membuat siapa pun merasakan sakit yang dirasakan Cedrik akibat keegoisannya sendiri.

Abhimanyu terluka, kebingungan, self-esteem-nya terjun bebas. Merasa sama sekali tidak berharga karena telah menyakiti semua orang dengan emosi dan traumanya sendiri. Abhimanyu ingin melepaskan kepalanya, berhenti berpikir. Melepaskan hatinya, berhenti merasakan. Dia ingin semua indranya mati, berhenti memberikannya begitu banyak perasaan yang menyakitinya.

“Sayang,” bisik Argha dan Abhimanyu tersedak tangisannya sendiri.

Dia bersandar sepenuhnya pada Argha, memohon bantuan dari atasannya untuk menariknya ke permukaan. Menegakkan tubuhnya dan membantunya berdiri, membimbingnya melangkah karena Abhimanyu tidak yakin dia bisa melakukannya kecuali merangkak di tanah—menyeret dirinya sendiri untuk maju.

Tapi Abhimanyu harus mandiri, dia harus mengurus semua emosinya sendiri. Jika dia bergantung pada Argha dan lelaki itu juga meninggalkannya, apa yang harus dilakukannya? Namun dia tidak bisa melawan bagian dirinya yang membutuhkan sokongan itu.

Argha terasa sangat hangat, dewasa, dan menenangkan. Pelukannya lebih erat dari Cedrik, lebih hangat—seperti dipeluk ayahnya sendiri. Mungkin karena perbedaan usia mereka yang sangat jauh, di beberapa kesempatan Argha terasa begitu kebapakan. Membuatnya merindukan sosok yang tidak dimilikinya selama ini; sosok lebih dewasa yang akan menjaganya. Tidak akan meninggalkannya demi orang lain.

Sosok yang akan selalu bersama Abhimanyu.

Tapi dia tahu siapa Argha, lelaki itu akan meninggalkannya persis setelah dia selesai dengan urusannya bersama Abhimanyu. Maka dia mengeratkan pelukannya pada pinggang Argha, mendekapnya lebih erat berusaha menguatkan dirinya sendiri sebelum menegakkan tubuh dan melangkah pergi.

Lebih baik jika dia yang berlalu sebelum siapa pun sempat meninggalkannya. Abhimanyu tidak ingin ditinggalkan lagi, tidak sudi merasakan sakit itu lagi. Dia gemetar dalam pelukan Argha dan telapak tangan hangatnya mengusap punggung Abhimanyu, membisikkan kalimat menenangkan di telinganya dengan suara beratnya.

You'll be fine, Doudou. You'll be fine.” Bisiknya dan Abhimanyu ingin meledak dalam tangisan liar yang keras, ingin melepaskan semua sakit yang bercokol di dadanya—membebaskan semuanya. Menangis hingga paru-parunya mengerut dan air matanya habis.

Berharap Argha benar.

You can count on me for now, alright, Doudou? I'm here. I'm here.”

Bahwa dia akan baik-baik saja...


ps. ehe :(( byebye cedrik! see you around later! <3 welcome, yukio :P

tw // atheism .

ps. argha gak percaya tuhan dg caranya sendiri, silakan skip bagian itu jika tidak nyaman yaa <3 pss. old but gold, aku dengerin Back to December :“)


Ketika akhirnya Abhimanyu terlelap, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi.

Argha hanya punya beberapa jam sebelum mereka berangkat untuk bekerja. Dia menghela napas, merasa lelah dan sakit kepala karena kurang tidur. Tapi tidak bisa mengabaikan telepon Abhimanyu yang dipenuhi racauan tidak jelas mengenai perasaannya.

Anak itu berhenti di pinggir jalan dalam perjalanan kembali ke Seminyak pukul satu pagi untuk meluapkan emosinya. Argha mau tidak mau langsung bergegas menghampirinya ke kos dengan sangat khawatir, menemukannya berbaring di lantai masih mengenakan jaket berkendara dengan wajah merah padam. Syukurlah anak itu masih cukup sadar untuk mengirimkannya lokasi sehingga Argha bisa menemukannya—menyelamatkannya.

Kenapa Argha ikut campur ke dalam urusan mereka? Tidak tahu.

Mungkin Sebastien harus menonjok wajah Argha ketika dia pulang untuk menyadarkan Argha bahwa dia punya kehidupan yang menyenangkan, damai dari drama percintaan tapi malah melemparkan diri pada Abhimanyu. Membelitkan dirinya dalam kisah cinta mereka yang rumit. Memangnya keuntungan apa yang akan didapatkan Argha?

Dia duduk di atas karpet lembut kamar Abhimanyu, menyandarkan kepalanya di kasur Abhimanyu dan memejamkan mata. Kelelahan.

Kamar Abhimanyu beraroma lembut parfumnya serta pengarum ruangan, juga aroma keringatnya. Dia punya cermin satu badan raksasa di depan kasurnya, membuat Argha sejenak diam dan berdeham. Tidak bisa tidak merespons benda itu dengan kaget; jika menemukan cermin itu di kamar perempuan, Argha tidak akan terkejut. Kaum hawa senang memadu-padan pakaiannya dan menyukai cermin satu badan untuk mencocokkannya. Abhimanyu...?

Namun tidak lama karena dia bergegas menghampiri Abhimanyu. Menyingkirkan semua penasarannya karena dia di sini untuk membantu dan menenangkan Abhimanyu—setelah bertengkara dengan Cedrik, nampaknya. Memangnya apa lagi probelmatika kehidupan Abhimanyu selain pekerjaan dan Cedrik?

What the fuck are you doing here, Argha?” Gumamnya rendah pada dirinya sendiri, mendengarkan dengung penyejuk ruangan kamar Abhimanyu dan dengkuran lembutnya.

Abhimanyu meledak dalam tangisan yang membingungkan ketika Argha tiba, dia sendiri bahkan tidak memahami alasan dari tangisan itu. Dia memandangi tangannya yang basah oleh air mata, kebingungan sementara air mata terus menetes ke atas sana. Dia gemetar, ketakutan, cemas, dan Argha tidak tega meninggalkannya sendirian. Dia menatap Argha, air mata merebes dari sudut matanya dan membasahi wajahnya yang merah padam.

Kebingungan, terluka, patah hati, ketakutan, cemas.... Matanya berkilat dan Argha tidak menyukai luka itu. Ingin merengkuhnya, menahannya agar tidak hancur dalam kedua lengannya.

“Kenapa saya menangis, Chef?” Tanyanya memilukan dengan suara yang terdengar begitu penuh luka dan Argha mengencangkan otot perutnya—menahan pedih yang menyeruak di dadanya mendengar nada itu.

“Kenapa saya menangis? Kenapa saya...?” Isaknya, matanya berkilau kebingungan, buram oleh air mata dan Argha tidak tega lagi.

Maka dia memeluknya.

Sudah lama sekali sejak dia memberikan pelukan emosional pada seseorang, pelukan hangat dan lama. Menyandarkan Abhimanyu di bahunya, membiarkan air matanya merembes di pakaian Argha. Dia bahkan tidak mengganti piyama sutranya karena terburu-buru. Sedikit jengkel karena dia sudah menggunakan rangkaian skin care malam dan harus keluar kamar, tapi dia akhirnya menyerah dan mengabaikannya saja.

Dia mendengarkan Abhimanyu menangis, tidak mengomentari apa pun. Hanya diam dan memeluknya, mengusap bahunya hangat. Membiarkan Abhimanyu meluapkan segala hal yang mencekiknya. Argha tidak bisa mendengar sebagian dari kalimatnya, namun dia menangkap ketakutan Abhimanyu.

Ketakutan untuk diabaikan.

Argha akhirnya memahami semuanya; sikap meledak-ledak itu, keposesifan Abhimanyu, emosinya yang tidak stabil, kecemasannya, rasa tidak percaya dirinya. Tapi dia tidak bisa memahami apa penyebabnya, Abhimanyu hanya mengulang-ulang kalimat “tidak mau ditinggalkan” dan “tidak mau sendirian”.

Kondisinya lumayan parah, terguncang hebat dan Argha memiliki cukup nurani tersisa di hatinya (secara mengejutkan sekali) untuk tetap berada di sisi Abhimanyu hingga dia kelelahan dan terlelap. Sedikit merasa iri karena tidak ada yang menemani Argha ketika dia sangat membutuhkan teman; ketika pertama kali kembali ke Paris dengan status 'yatim piatu', pertama kali ke Jepang sendirian, masa awal ditinggalkan Yukio....

Tidak ada yang menemani Argha sama sekali. Dia sendirian, menelan luka dan pedihnya hidup. Hingga akhirnya memutuskan bahwa Tuhan tidak pernah ada karena Dia tidak pernah mengabulkan doa Argha, tidak pernah menyelamatkan Argha, tidak pernah memberikan pertolongan. Tidak mau lagi termakan doktrin agama yang tidak dikenali dan tidak dimaknainya.

Jika dia sekarang bahagia, itu semua karena dia sendiri. Bukan karena anugerah Tuhan. Jika dia masih hidup sekarang, itu semua karena dia sendiri yang menyelamatkan dirinya; mencegahnya melompat ke Seine untuk mati tenggelam, mencegahnya agar tidak melemparkan diri ke depan kereta. Tuhan tidak melakukan apa pun dalam hidupnya kecuali mengambil segalanya.

Argha memutuskan dia akan menjadi seseorang yang dia sendiri butuhkan untuk Abhimanyu.

I'm so fucked up.” Erangnya lalu memejamkan mata, mendengarkan dengkur Abhimanyu yang lembut dan sedikit tersenyum.

Jarak usia mereka begitu jauh, emosi mereka juga begitu berbeda. Abhimanyu masih sangat muda, baru lulus sekolah kulinari dan belum pernah bertemu banyak rekan kerja dengan berbagai macam rupa. Dia belum bertemu mantan kekasih yang menyakitinya, sahabat yang menikamnya dari belakang, atasan dari neraka; semua orang memanjakannya, Cedrik melindunginya.

Argha mendesah, bergerak dari posisinya dan berpindah ke depan wajah Abhimanyu. Dia bersila di seberang Abhimanyu yang lelap, menumpukan wajahnya di tangan—mengamati wajah Abhimanyu.

Apakah dia pernah memikirkan bagaimana kehidupannya jika dia memiliki saudara? Apakah membuat hidup terasa semakin ringan atau malah memberikannya beban tanggung jawab lain setelah orang tuanya meninggal? Bagaimana jika dia memiliki adik? Berbagi duka dengannya ketika orang tua mereka meninggal, bertanya kabar, bertengkar...

Dia mengulurkan tangan, sejenak ragu sebelum menyentuh kening Abhimanyu. Dengan dua jari, meraih salah satu ikal yang meluruh di keningnya dan menariknya lembut—mengamati ketika pernya merentang memanjang lalu melepaskannya. Rambut Abhimanyu memantul, kembali membentuk ikal menggemaskan dengan semburat jagung karena sering terkena sinar matahari.

Why?” Bisik Argha perlahan, menyentuhkan ibu jarinya di kening Abhimanyu—begitu lembut hingga nyaris tidak menyentuhnya dan merasakan napasnya di pergelangan tangannya. “Why I'm so drown into you?”

Dia teringat kali pertama bertemu Abhimanyu. Sore yang cerah di Starbucks Reserve, hari pertamanya di Bali—kesepian belum memiliki teman mengobrol, duduk bersama Christian dan melihat boneka beruang menggemaskan ini melangkah memasuki store dengan Cedrik di sisinya. Matanya yang berkilauan, rambut ikalnya, pembawaannya yang menyenangkan... Senyumannya.

Tidak bisa mengenyahkan wajah Abhimanyu dari kepalanya setelah itu.

Argha menumpukan dagunya di tepian ranjang, menyisir rambut Abhimanyu perlahan dan mendengarkan dengkurannya. Ada begitu banyak manusia yang ditemui Argha di hidupnya, begitu banyak khianat, luka, dan kekecewaan. Komitmen bukanlah hal yang dibutuhkannya sekarang. Toh dia hidup bertahun-tahun sendirian dengan bahagia. Tidak lagi ingin merasakan kehilangan.

Abhimanyu juga merasakan hal yang sama dengannya. Tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Seperti balon yang melayang di langit, tidak tahu akan berhenti di mana dan tidak ada yang menggenggamnya, menahannya di bumi.

Apakah jika dia bertemu Argha yang juga tidak memiliki genggaman, mereka akan saling membelit lalu saling menyelamatkan?

Why can't I just... ignore you?” Bisik Argha lagi, menyentuh wajah Abhimanyu lembut dengan ujung jari telunjuknya—berhati-hati agar tidak membangunkannya. “I tried, so damn hard. So hard, to ignore you. To run away from you but just... why?”

Apakah Argha akhirnya... tertarik pada seseorang selain Yukio? Bahwa hati yang telah lama Argha pikir mati setelah Yukio pergi, kini kembali mekar karena Abhimanyu? Anak kecil rewel yang meledak-ledak ini? Anak kecil yang bahkan kebingungan dengan emosinya sendiri? Naif, berisik, penasaran, dan juga kebetulan seksi dengan nipple piercing serta ciumannya yang mendebarkan?

Argha tersenyum kecil. Hatinya, untuk pertama kalinya setelah begitu lama dingin, menghangat—membuat tubuhnya berdenyar lembut. Perasaan yang sama ketika pertama kali dia mendongak, bertemu mata dengan Yukio yang tersenyum dan mengulurkan tangan padanya.

“Hai! Apakah kau tidak kedinginan di sana? Ayo, kita makan sesuatu di dalam!”

Dia melipat tangannya di tepian ranjang dan mengistirahatkan kepalanya di sana, menggunakan lengan sebagai bantal lalu memejamkan mata. Tangannya yang bebas menemukan tangan Abhimanyu, menyelipkan jemarinya ke antara jemari Abhimanyu lalu meremasnya lembut.

“Tidak usah cemas!”

Argha merasa mendengar suara Yukio lagi di kepalanya ketika jemari Abhimanyu bergerak di dalam tangannya. Dengkurannya berhenti sejenak ketika dia mengerat giginya. Argha membuka sebelah matanya, memastikan Abhimanyu tidak terbangun. Anak itu mengeluarkan suara-suara kecil igauan samar sebelum kembali lelap—kelelahan setelah menangis dan perjalanan pulang-pergi dari Ubud.

“Aku terlalu kurus dan pendek untuk menyakitimu, bukankah begitu??” Yukio tersenyum lebar hingga matanya membentuk sepasang bulan sabit menggemaskan; hidungnya kemerahan, tangannya tenggelam dalam sarung tangannya yang terlalu besar.

“Aku hanya akan mentraktirmu okonomiyaki! どして?How?

Dan dia terlelap di sisi Abhimanyu, tangan bertautan dengan bayangan senyuman lebar Yukio di balik kelopak matanya; gemerlap serupa Venus yang terbit di pagi hari.


Dia selalu berpikir menemani Arsa bekerja akan menjadi tempat terakhirnya; akan menggunakan masa pensiunnya bahkan untuk tetap aktif di PT menemani kedua sahabatnya.

Tapi hidup terkadang membawanya ke tempat-tempat mengejutkan baru yang memaksa Cedrik merelakan sesuatu. Dia melangkah ke ruangannya di Pastry, mengamati mejanya yang sudah ditempatinya bertahun-tahun. Semuanya adalah barangnya, dia bahkan memesan iMac berwarna toska untuk membuat Kinan jengkel. Ada figura yang terisi foto mereka bertiga ketika Michelin memberikan mereka bintang pertama, foto ketika grand opening Le Paradis.

Cedrik mengulurkan tangan, meraih figura itu dan tersenyum. Arsa nampak kurus dan tidak terawat; rambutnya masih setengah botak, bekas luka di lengan bawahnya beberapa masih cukup basah dan tulangnya berbonggol-bonggol. Mereka benar-benar menyeret Arsa bangkit kala itu, teringat ketika dia melempar gelas ke dinding dengan marah karena terkhianati oleh pasangannya...

Di balik figura, ada photo stip yang diselipkan Cedrik; isinya foto mereka semua ketika pernikahan Arsa dan Kinan. Cedrik menggendong Bubble kecil yang mengenakan sayap unicorn di kedua lengannya, tersenyum lebar dengan seragam Le Paradis lama mereka. Arsa nampak cemerlang, memeluk Kinan dengan bangga dan mengangkat gelas sampanyenya.

Bagaimana rasanya bahagia? Seutuhnya, sepenuhnya?

Cedrik tidak lagi ingat. Belakangan ini, dia terlalu banyak berduka. Terlalu banyak menelan pahit dan kecewa. Bukan salah siapa-siapa, itu semua pilihan Cedrik sepenuhnya.

Dia meletakkan figura itu kembali di meja dan membaliknya. Cedrik dengan sadar mencintai seseorang yang sudah jelas menyatakan bahwa dia tidak bisa mencintai Cedrik—terus berusaha walaupun dia tahu bagaimana akhirnya. Berharap dan terus berharap, lupa bahwa harapan terkadang adalah sumber dari segala luka.

Cedrik melangkah keluar ruangannya. Pastry masih kosong, dia sengaja datang lebih awal dari biasanya dan membuka pintu belakang dengan kuncinya sendiri; dia butuh waktu sendirian. Dia melangkah ke meja prep, mengusap permukaannya dan teringat waktu-waktu lembur yang dihabiskannya bersama Arsa untuk menciptakan, menyempurnakan menu-menu untuk Le Gourmet.

“Ini hadiah ulang tahun Kinan, aku ingin semuanya sempurna.” Geram sahabatnya frustrasi sambil menunduk ke cokelat di tangannya dan Cedrik ingat dia menegakkan tubuhnya, menyadari mereka sudah nyaris dua puluh empat jam di dapur itu tanpa tidur.

Besoknya, mereka berdua berhalusinasi karena kelelahan. Berbaring di ranjang kamar tamu di rumah Arsa-Kinan, mendengarkan Kinan mengomel sepanjang hari sambil mengurus mereka; bukan perawat yang menyenangkan, Cedrik memberikannya bintang 1.

Cedrik tersenyum, penuh nostalgia. Teringat juga hari ketika dia menemani Arsa membuat The Kinan, menjadi asistennya mengutak-atik semua cokelat dan tekstur serta suhu menjadi satu makanan penutup. Beberapa kali gagal, namun Arsa tidak menyerah—bahkan tidak berhenti makan hingga Cedrik nyaris menyuapinya makanan.

Aku merindukan diriku sendiri, pikirnya hampa. Mengedarkan pandangan ke ruangan Pastry Le Paradis yang jauh lebih besar dari Le Gourmet dengan dua oven raksasa, walk-in chiller sendiri, dan ruangan cokelat yang dingin untuk memproduksi ratusan bonbon setiap harinya untuk dijual. Daerah kekuasaannya, tempat ternyamannya di dunia ini. Bersama sahabatnya.

Cedrik merindukan dirinya sendiri sebelum dia jatuh cinta. Dirinya yang sibuk bekerja, bahagia mengekor kedua sahabatnya berpacaran, menikmati kesendiriannya dengan senang, berjalan-jalan mengeksplor Bali, membuat resep-resep baru di waktu luangnya....

Ketika Abhimanyu datang, dia mengubah semua kebiasaannya. Lalu perlahan tidak lagi melakukannya karena dia memprioritaskan Abhimanyu di atas segalanya, berharap dengan melakukannya, Abhimanyu akan mencintainya. Melengkapi kebahagiaannya.

Namun dia tidak pernah menyesal jatuh cinta pada Abhimanyu. Anak manis yang tertawa ceria padanya, memeluknya, mendekapnya, menemaninya tidur ketika demamnya terlalu tinggi hingga dia menggigil, menciumnya sayang—membuat kehidupan, di beberapa kesempatan, terasa jauh lebih baik.

Sekarang dia akan menutup buku itu. Memulai bab baru dalam hidupnya, berhenti menangisi akhir yang tidak bahagia dari bab sebelumnya dan berharap—sedikit saja, di bab selanjutnya dia tidak akan tersandung di lubang yang sama.

Cedrik menumpukan kedua tangannya di meja prep, menunduk dan bernapas dari mulutnya. Berusaha menelan kembali tangis yang hendak menyeruak di dadanya, berkali-kali berusaha mengenyahkan gumpalan tidak nyaman di tenggorokannya itu. Matanya panas, maka dia memejamkannya. Menggertakkan giginya agar tidak terisak.

Dia harus meninggalkan tempat ini. Cedrik tidak bisa terus di sini, menyaksikan Abhimanyu berbahagia—tanpa dirinya. Menyadari fakta bahwa bukan dirinya yang dibutuhkan Abhimanyu untuk bahagia. Bahwa Cedrik tidak akan pernah menjadi bagian masa depan Abhimanyu—setidaknya bukan posisi yang diharapkannya...

Bahunya berguncang, Cedrik merendahkan tubuhnya dan mulai menangis. Menyerah kalah pada kesedihan yang mencekiknya, membakar paru-parunya dan membuatnya sulit bernapas. Lucu, mereka bahkan tidak pernah berpacaran dan sekarang rasanya seolah Abhimanyu baru saja mengakhiri hubungan mereka.

“Aku mencintaimu. Yah, begitulah. Kupikir kau sudah tahu itu?”

Dia mendengar dirinya sendiri bersuara, menatap Abhimanyu yang mengerjap—kaget. Mereka sedang menghabiskan waktu di The Bridges, makan siang sambil menikmati sebotol wine menikmati keteduhan restoran itu dan Cedrik memutuskan dia akan menyatakan perasaannya pada Abhimanyu.

Itu penolakan pertamanya.

Seharusnya dia berhenti, menyerah dan melupakan Abhimanyu. Mencari kesibukan lain, mungkin orang lain yang akan mencintainya lebih hebat dari apa yang dilakukannya untuk Abhimanyu. Tapi, tidak.

Dia kembali melakukannya.

Apakah kau berubah pikiran tentang perasaanmu padaku? Karena aku masih mencintaimu.”

Dan berharap kali ketiga menyatakannya, Abhimanyu akan menjawab 'ya'.

“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Katanya tadi malam, dengan Abhimanyu di pelukannya—sangat bodoh, berharap sekarang Abhimanyu akan menerimanya. Menyambut perasaannya setelah begitu banyak hal yang dilakukannya, begitu banyak cinta yang diberikannya untuk Abhimanyu.

Namun jawabannya tetap sama.

Untuk ketiga kalinya.

“Maaf. Aku tidak bisa.”

Hatinya patah; sekali lagi, di tangan orang yang sama. Orang yang dicintainya dengan seluruh dirinya, berusaha dibahagiakannya. Namun Cedrik tidak pernah cukup untuknya. Bukan Cedrik yang diinginkannya di sini.

Dan itulah saatnya Cedrik menyatakan cukup. Menghormati dirinya sendiri untuk melangkah pergi dari Abhimanyu. Berhenti mencoba, berhenti berharap, berhenti berusaha. Maka dia bangkit setelah menghabiskan malam tanpa tidur lalu berangkat ke Le Paradis.

“Cedrik?”

Cedrik tidak mendongak, menangis tanpa suara dengan mulut terbuka—berusaha bernapas karena hidungnya tidak mau melakukannya. Dia memukul dadanya sendiri, mencoba untuk mengenyahkan rasa sakit yang bercokol di dalam sana. Meremas organ di balik paru-parunya, meremukkannya lalu mencabutnya dari sana. Meninggalkan lubang menganga yang berdenyut.

“Cedrik!?” Dia mendengar langkah kaki di kejauhan menuju Pastry. “Bajingan tengik ini.” Pintu yang terbuka, “Apa yang kaulakukan sepagi ini di—oh! Astaga!”

Dia mendengar seseorang setengah berlari ke arahnya lalu menyambar tubuhnya, menyentakkannya dari posisi awal untuk memeluknya. Aroma parfum Arsa yang seperti kayu yang terbakar menguburnya. Arsa mendekapnya, mengeratkan pelukannya. Secercah aroma keringat dan matahari pagi yang dingin terperangkap di hidung Cedrik.

“Cedrik?” Bisiknya, gemetar. “Cedrik, Cedrik. Cedrik.” Bisiknya, mengusap tubuh sahabatnya—memeluknya semakin erat, ingin membagi kesedihan itu ke tubuhnya. Seperti yang mereka selalu lakukan tiap kali Arsa terbangun karena berhalusinasi di bawah pengaruh antidepresan.

Cedrik menarik napas, mengeluarkan suara lolongan terluka dari tenggorokannya. Dia hancur, remuk, rusak... Mustahil diperbaiki. Hatinya terasa kebas, tidak ada lagi yang berdenyut di sana sementara paru-parunya mengerut oleh rasa panas sakit hatinya. Dadanya terasa hampa, seolah ada lubang raksasa di sana sekarang dan membuat tubuhnya ringan.

Dia merosot, menumpukan tubuhnya sepenuhnya pada Arsa yang ikut merosot bersamanya—berlutut di lantai Pastry dan menyangganya. Merasakan kedua lengan kurus Arsa menahan Cedrik, menariknya naik dari air yang berusaha menenggelamkannya.

Ketika Arsa mengatakan dia merasa seperti tenggelam, Cedrik tidak percaya hingga sekarang. Dia merasa ada pusaran yang sedang berusaha menelannya, kepalanya berputar dan dia tidak merasakan indranya berfungsi; tidak merasakan suhu tubuh Arsa, tidak mencium aroma ruangannya, tidak bisa melihat, tidak merasakan rongga mulutnya sendiri—semua terasa kebas dan membingungkan disertai suara gemuruh keras di balik telinganya.

Dia ingin tenggelam, jatuh jauh ke dalam lautan dan tidak lagi ingin berusaha berenang ke permukaan. Tidak ingin kembali hidup, ingin sakit hati ini meremukkannya hingga hancur. Pusaran air bawah laut menghantamnya, memaksa Cedrik membuka mulut dan meloloskan semua sisa udara di paru-parunya dan menjejalkan air asin ke dalam.

”... akan menemanimu hingga tidur jika begitu. Kau mau bermain Uno?”

Cedrik berhenti. Menoleh kebingungan di dalam gemuruh air yang mendadak tenang. Mencari suara mendengung yang menghentikan gemuruh itu. Matanya mengerjap, mencari-cari sementara kedua kakinya bergerak—menahan dirinya agar tidak tenggelam.

“Kau ingin makan? Aku membelikanmu beberapa makanan, kau bisa memilihnya jika mau? Kau bukan vegetarian, 'kan?”

Cedrik mendongak, menonton ingatannya semalam ketika Nikolas tiba di kamarnya dengan dua kantong belanja raksasa yang penuh. Membuatnya tersenyum kecil karena dia nampak seperti induk semang. Memasuki kamarnya dengan suara langkah menghentak; seperti kelinci yang mengambek. Wajahnya sebal, tapi khawatir dan mendelik pada Cedrik ketika dia tertawa.

“Itu reverse! Kau tidak bisa bermain Uno, ya?”

Matanya menatap wajah Nikolas yang memenuhi permukaan lautan, mengerutkan alis dengan senyuman konyol bermain di bibirnya dan bekas bedak yang diusapkan Cedrik di wajahnya tiap dia kalah bermain. Tindik di hidungnya berkilau, ada sejumput rambut yang luruh dari keningnya; kenapa Cedrik tidak menyekanya?

Nikolas selalu melakukannya tanpa disadarinya, menyelipkan sejumput rambut ke balik telinganya dan Cedrik mendapati gerakan itu sangat feminim dan mendebarkan. Cocok dengan keseluruhan pembawaan Nikolas yang serupa hangat.

Cedrik bergerak, mendorong dirinya berenang ke permukaan. Ingin meraih Nikolas yang tertawa, melemparkan segenggam bedak ke arahnya petang itu ketika menyelesaikan pekerjaannya lebih awal untuk menemani Cedrik yang diyakininya pasti kebosanan di kos sendirian.

Dia terus berenang, naik ke permukaan. Mungkin masih memiliki alasan untuk bertahan? Mungkin dia bisa menyelamatkan seseorang dari keharusan terluka sedalam Cedrik? Mungkin... dia bisa dicintai?

Nikolas di permukaan menoleh, tersenyum padanya dan melambai lalu mengulurkan tangan. “Sedikit lagi, Cedrik!” Serunya, ceria. “Apakah kau tidak dingin di sana??”

Cedrik mengulurkan tangannya, berusaha meraih tangan itu. Hatinya berharap, seseorang akan mengapresiasinya. Mencintainya, menemaninya, dan membuatnya merasa utuh. Membantunya menyembuhkan diri, melupakan kekecewaan yang dua tahun ini bercokol di kepalanya seperti kanker.

Dia kemudian muncul di permukaan dan membuka matanya, menemukan Arsa yang berwajah sembab di hadapannya—ikut menangis bersamanya. Disorientasi; bukankah dia tadi tenggelam?

“Arsa?” Tanyanya parau, tenggorokannya pedih.

Alih-alih pelukan sayang dan seruan lega, Cedrik mendapatkan cibiran. “'Arsa',” tiru sahabatnya jengkel, sengau oleh sisa tangian dengan mulut mencibir sebal.

“Kau baru saja menangis, melolong seperti anjing yang divasektomi tanpa bius lalu membuka mata dan mengatakan, 'Arsa?'” Dia mengulurkan tangan, menoyor kening Cedrik—cukup keras hingga kepalanya bergoyang dan membuatnya pening sejenak.

“Kenapa, sih, kau selalu membuatku khawatir?? Kepalaku ini sensitif! Memangnya kau mau...” Omel Arsa namun Cedrik berhenti mendengarkan, menatap sahabatnya yang peduli padanya.

Arsa dan Kinan sayang padanya. Setidaknya jika langit runtuh, bumi terbelah, dia masih punya keduanya untuk menyangganya. Menariknya ke permukaan. Mungkin... juga Nikolas. Jika dia belum lelah menunggu Cedrik setelah dia menyembuhkan diri, menyelesaikan urusannya dengan Abhimanyu.

Cedrik tersenyum tipis. Pantas saja tenggorokannya pedih. Dia menunduk menatap telapak tangannya sendiri dan menghela napas. “Arsa,” panggilnya sekali lagi.

“Apa lagi!?” Bentak Arsa.

Dia mendongak dan tersenyum. “Aku mengundurkan diri dari Le Paradis.”


ps. ehe :( belom kelar :( SEMANGAT YA ABIS INI GABHIM BAKAL MULAI UWU UWU :D

tw // abandonment issue .


Argha sejenak bimbang dengan nampan makanan di tangannya, mengedarkan pandangan ke EDR Le Gourmet mencari tempat duduk lain—di mana saja selain tempat Abhimanyu duduk menerawang dengan makanan tidak tersentuh di hadapannya.

Bukan urusanmu, Argha. Menjauhlah dari masalah, pikirnya sambil melangkah ke kursi kosong di sudut ruangan, terjauh dari Abhimanyu namun di tengah perjalanan dia menghela napas berat. Lalu berbalik dan menghampiri Abhimanyu.

Entah sihir apa yang digunakan anak itu hingga Argha sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya di hadapan Abhimanyu. Apakah wajahnya yang imut-imut? Rambut ikalnya yang menggemaskan? Mata cokelatnya yang berkilauan? Pembawaannya yang hangat? Ciumannya?

Nipple piercing-nya? Argha tidak lagi paham.

Ketika dia tiba di parkiran pagi tadi, Abhimanyu sedang berdiri di dekat motornya menatap ponsel. Membeku dengan pandangan nanar dan Argha tahu ini pasti mengenai pesan Arsa di grup koordinasi tentang Cedrik. Dan mau tidak mau, Argha menyentuh dadanya sendiri; teringat hubungannya dan Yukio yang compang-camping bertahun-tahun lalu. Bagaimana dia berusaha mempertahankan hubungan itu hingga lima tahun lamanya sebelum mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti berusaha.

Menjadi pihak yang mencintai tidak pernah menyenangkan. Rasanya seolah orang lain hanya datang untuk menginjak-injak perasaan itu sebelum pergi, membuang semuanya. Atau memanfaatkan perasaan itu untuk egoismenya sendiri. Argha pernah mencintai, begitu hebatnya hingga bahkan setelah sembilan tahun, dia masih merasa pedih ketika mengingatnya. Dan dia tidak ingin terjebak dalam kelemahan itu lagi.

Cedrik pasti telah berusaha, sekuat tenaga menahan dirinya. Mencoba mempertahankan hubungan itu. Bedanya, Yukio mencintai Argha. Mereka saling mencintai sebelum masalah orientasi seksual terbit di antara mereka. Sementara Abhimanyu mungkin... tidak pernah mencintai Cedrik. Tidak seperti cara Cedrik mencintainya.

Wajar jika Cedrik hancur dalam waktu singkat. Apalagi sifat Abhimanyu yang masih naif dan meledak-ledak. Lalu mengapa Abhimanyu nampak sama hancurnya sekarang?

Dia menepuk bahu Abhimanyu dan mengajaknya memasuki gedung restoran untuk bersiap bekerja. Di loker, anak itu duduk di kursi dan terus mencoba menghubungi Cedrik—nampak sedikit frustrasi dan bersalah, matanya nanar dan liar. Dan tidak peduli seberapa inginnya Argha menghiburnya, dia berhasil menahan diri. Hanya memastikan anak itu ke dapur ketika dia siap.

Abhimanyu bekerja dengan baik sepanjang prep, beberapa kali berhenti, melamun dan kehilangan fokus namun Argha hanya perlu berdeham untuk membuatnya kembali bekerja. Argha menghela napas, hubungan mereka tidak akan berakhir baik. Argha tahu.

Dan hati kecilnya—begitu kecil hingga dia tidak yakin bagian itu benar-benar ada di sana, sedikit senang menyadari bahwa sebentar lagi mereka akan mengakhirinya. Mungkin.... Jika menilik dari retak di cermin yang mulai melebar dan menebal, membiaskan bayangan mereka menjadi beberapa bayangan berbeda, cermin itu akan remuk sebentar lagi.

“Halo, Abhimanyu. Can I sit here?” Tanya Argha tersenyum dan tanpa menunggu jawabannya, dia meletakkan nampan dan tas makannya di meja di depan Abhimanyu.

Argha selalu membawa tas makannya ketika bekerja. Isinya sepasang sendok-garpu stainless pribadinya, sedotan kaca, tisu basah, tisu kering dan antiseptik. Dia punya banyak sekali tahapan sebelum dan sesudah makan, terkadang membuat teman makannya jengkel.

Hari ini menu mereka terdiri atas nasi campuran putih dan merah, tumis brokoli daging yang melimpah dengan saus teriyaki harum, serta es krim vanila dengan potongan cokelat putih sebagai pencuci mulut. Argha tidak terlalu suka nasi, maka dia meminta commis yang bertanggung jawab atas menu EDR menambahkan kentang rebus tumbuk dengan sedikit lada, oregano dan garam sebagai pilihan alternatif selain nasi.

“Sedikit saja,” kata Argha karena tahu semua karyawan Gourmet terbiasa makan nasi sebagai karbohidrat utama. “Untuk mereka yang tidak makan nasi.”

Kinan ternyata mengapresiasinya, dia turun sebelum jam makan siang tadi dan menemukan kentang tumbuk lembut tersaji di EDR lalu mengangguk. “Kita bisa melakukannya setiap menu nasi disajikan, ya?” Katanya sebelum berlalu kembali untuk bekerja.

Abhimanyu di hadapannya kini mengerjap, sejenak linglung sebelum mengangguk. “Oh, ya, silakan, Chef.” Katanya, menarik nampannya mendekat untuk memberikan ruang untuk Argha di meja itu.

Argha melirik nampannya, menyadari makanannya belum disentuh sama sekali dan es krimnya mulai meleleh. “Makanlah.” Tegur Argha lembut seraya mengeluarkan alat makan pribadinya yang dibungkus kantung kain. “Kau butuh energi untuk bekerja.”

Abhimanyu mengerjap lagi, menatap Argha dengan wajah kebingungan sebelum menunduk ke makanannya; menyadari apa yang dikatakan Argha. “Oh, ya. Benar. Ya, Chef.” Katanya, linglung.

Argha menghela napas. “Abhim,” panggilnya perlahan. “You know you cannot work if you're losing focus like this.”

Abhimanyu meraih sendok makannya, tidak bereaksi terhadap kata-kata Argha dan mulai menyendok makanan di nampan makannya. Memasukkannya ke mulut tanpa benar-benar merasakannya, hanya melakukannya karena harus. Maka Argha menyerah, membiarkan anak itu melamun memikirkan hubungannya dengan Cedrik.

Mereka bersidiam sementara di sekitar mereka, karyawan Le Gourmet bergiliran mulai makan siang. Anak-anak servis selain mereka yang bertugas untuk opening juga mulai berdatangan, menyapa teman-temannya dengan membuka pintu EDR dan berseru ceria. Ruangan beraroma hangat makanan dan obrolan; semua nampak ceria dan tenang, kecuali Abhimanyu yang resah.

Argha meliriknya sesekali sambil mengirim pesan pada Sebastien, bertanya kapan lelaki itu kembali ke Bali karena dia ingin bertemu. Sebastien berangkat ke Jakarta untuk urusan bisnis hari Minggu kemarin dan Argha sudah tidak tahan. Dia sedang mengetik dengan sebal pada Sebastien ketika Abhimanyu memutuskan untuk mengajaknya bicara.

“Anda pernah mencintai seseorang, Chef?”

Argha mengerjap, mendongak dari ponselnya dan menemukan Abhimanyu menatap titik jauh di belakang Argha—tidak fokus. Argha meletakkan ponselnya, memutuskan untuk menghibur Abhimanyu sejenak karena dia butuh lelaki itu dalam kondisi prima untuk memulai servis nanti.

“Tidak peduli seberapa bajingannya saya di matamu,” mulainya seraya menyuap makanannya lagi dan Abhimanyu menatapnya—bola matanya yang sewarna karamel kini keruh oleh rasa sedih, cemas, bingung, dan gelisah.

Argha tidak menyukainya. Dia ingin mata itu selalu berkilau seperti batu citrine yang baru digosok; cemerlang, indah, dan mendebarkan. Dia ingin Abhimanyu terus tertawa, tersenyum, dan melemparkan guyonan padanya seperti semalam.

“Saya juga bisa mencintai seseorang.” Argha tersenyum, teringat pada Yukio; cinta dalam hidupnya yang selalu membuatnya kuat. “Sangat mencintainya hingga di satu titik, rasa itu menghancurkan saya. Dan mustahil untuk disembuhkan.”

Abhimanyu menatapnya. Mungkin tidak menyangka bahwa Argha memiliki hati untuk mencintai karena dia selalu menyembunyikan perasaan itu di bawah topeng sensualitasnya—membuat semua orang percaya bahwa Argha tidak punya hati. Dia punya hati, tentu saja. Hanya saja organ itu berdenyut untuk Yukio, tidak ada orang lain lagi.

“Bagaimana...” Bisik Abhimanyu perlahan dan Argha tersenyum tipis. Dia begitu menggemaskan; polos, naif, dan tidak paham apa pun dalam hidupnya. Cedrik pasti telah 'menyuapinya' begitu lama, memastikan tidak ada seorang pun yang menyakitinya—bahkan tidak dirinya sendiri.

“Bagaimana caranya Anda berhenti?”

Argha mengedikkan bahunya, “Saya tidak bilang saya berhenti.” Sahutnya kalem.

Sesuatu berkilat di mata Abhimanyu dan untuk pertama kalinya, Argha terlambat menangkap emosi itu karena kilatan itu tenggelam begitu cepat; seperti bintang jatuh. Sejenak berpendar, lalu lenyap. Dan Argha mengerutkan alisnya, penasaran pada emosi apa yang Abhimanyu sembunyikan darinya.

“Tapi, yah.” Argha tersenyum dan menatap makanannya, tidak ingin matanya membocorkan emosi yang bergolak di hatinya sekarang jika dia membicarakan ini. “Dia melangkah pergi dari hidup saya. Bukan cara yang baik hati sama sekali, tapi mungkin... Perasaan saya menjadi beban untuknya. Dia memaksa saya untuk berhenti.”

Kilatan ingatan ketika Yukio menutup pintu apartemen mereka menyengat kepala Argha, membuatnya menarik napas dalam-dalam. Teringat sakit hati yang mengoyaknya hari itu dan dua hari setelahnya; dia tidak bangkit bekerja, terbaring di ranjangnya tanpa makan dan minum. Menangis mengasihani dirinya sendiri.

Argha memejamkan mata, menghela napas dan berusaha menyingkirkan ingatan itu. Bagaimana dia tertatih-tatih, nyaris merangkak bangkit dari ranjang untuk pergi ke toilet karena kandung kemihnya tidak tahu situasi. Mendapati apartemen kosong dan dingin tanpa Yukio, menyadari bahwa dia tidak bermimpi.

Yukio memang meninggalkannya, menyerah atas hubungan mereka.

“Tapi Anda tidak berhenti...?” Bisik Abhimanyu.

Argha tersenyum. “Tidak.” Sahutnya parau, tenggorokannya panas. “Saya tidak berhenti.” Dia mengedikkan bahu, menyuap makanannya dan memberikan waktu untuk Abhimanyu menata isi kepalanya sambil menerawang.

“Dia melangkah pergi...,” bisik Abhimanyu lagi setelah hening dan Argha menyelesaikan makan siangnya, mendorong nampan menjauh darinya dan menyeka mulutnya dengan tisu basah tanpa parfum. “Karena sudah tidak mencintai Anda?”

Argha melipat tisu bekasnya, meletakkannya di atas nampan lalu meraih tisu basah lain untuk mengelap sendok makannya. Membungkusnya dengan tisu kering lalu memasukannya ke kantungnya. Argha mengemas semuanya kembali ke tas makannya, mengulur waktu sebelum menjawab pertanyaan Abhimanyu. Tahu jelas ke mana arah pembicaraan ini dan apa yang Abhimanyu akan lakukan nanti.

“Kami saling mencintai.” Katanya kemudian, menatap Abhimanyu. Memberi tahu anak itu perbedaan besar antara hubungannya dengan Yukio dan hubungan Abhimanyu dengan Cedrik. “Sangat saling mencintai, tapi tidak bisa melanjutkan perjuangan kami karena satu-dua alasan.”

“Dan Abhimanyu,” Argha tersenyum tipis, merogoh sakunya dan mengeluarkan permen. Dia meletakannya di hadapan Abhimanyu sebelum berdiri dari kursinya. “Jika kau memang tidak bisa membalas perasaan mereka,”

Argha menarik napas. Keduanya harus berhenti saling menyakiti; Cedrik sudah cukup lama menunggu dan Abhimanyu tidak juga terlihat akan membalas perasaannya. Awalnya nampak menyenangkan, bagaimana Cedrik terlihat sangat agresif mempertahankan Abhimanyu. Overprotektif pada pemuda itu, menggeram pada siapa saja yang menunjukkan ketertarikan sedikit saja pada Abhimanyu. Argha ingin menggodanya.

Tapi semakin Argha memerhatikan dinamis mereka, semakin Argha menyadari bahwa keduanya sedang saling menyakiti. Belum lagi ketertarikan fisik Abhimanyu padanya; dia sedang membuat bom waktu, persis seperti yang dilakukan Argha pada Yukio. Menumpuk masalah dan melukai perasaan Cedrik.

Argha memang seorang bajingan. Namun satu hal yang dia pasti lakukan adalah menolak siapa saja yang jatuh cinta padanya. Dia tahu dia tidak bisa membalas perasaan mereka, maka dia menghentikan hubungan itu secepat mungkin sebelum terlalu jauh. Sebelum terlalu dalam.

Dan Abhimanyu telah membiarkan Cedrik jatuh cinta sendirian selama dua tahun, tenggelam dan tercekik perasaannya sendiri. Ketika Abhimanyu sendiri tahu bahwa dia tidak bisa membalas perasaan Cedrik.

“Tegaslah padanya. Menjauh darinya.” Argha menunduk menatap Abhimanyu yang tidak menatapnya. “Kau tidak bisa berada di sekitar orang itu terus, memanfaatkan cintanya untuk kepentinganmu sendiri. Tidak peduli seberapa besar kau membutuhkan mereka. Kita tidak bisa berteman dengan seseorang yang dengan jelas menyatakan bahwa mereka mencintai kita, Abhimanyu.”

Argha memejamkan mata, menarik napas. Teringat suara Yukio ketika mengatakan kalimat yang sama persis: “私たちは友達になることはできません、アルガ。”

We cannot be friend, Argha.

Tidak ada seorang pun yang bisa berteman dengan perasaan cintanya. Mereka hanya sedang berharap, menunggu suatu hari nanti yang mereka cintai akan membalas perasaan itu. Terus menunggu, terus berharap. Lalu hancur ketika akhirnya mereka bukanlah yang terpilih.

His boyfriend takes a very good care of Yukio. You don't have to worry.

Pada akhirnya mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa bukan mereka yang dibutuhkan orang yang mereka cintai untuk berbahagia. Bahwa ada seseorang di luar sana yang akan membahagiakan orang yang mereka cintai dan orang itu bukanlah mereka.

Bukan Argha yang dibutuhkan Yukio untuk berbahagia.

Bukan Abhimanyu yang dibutuhkan Cedrik untuk berbahagia.

We're not playing with someone's heart,” bisik Argha lirih. Inilah mengapa Argha selalu mencari pasangan dengan benefit yang berhati dingin seperti Sebastien.

Karena, “The game you playing now is too expensive.”


Cedrik berjanji padanya tidak akan melangkah pergi seperti kakaknya.

Selama ini Abhimanyu bertahan, menggenggam janji itu seperti pelampung. Menyadari betapa Cedrik tidak akan meninggalkannya, terikat mati dan kuat pada janji itu. Dia pikir suatu hari nanti Cedrik akhirnya akan menyerah pada cintanya dan menganggap Abhimanyu temannya—adiknya, atau apa pun selain lelaki yang dicintainya.

Atau mungkin Abhimanyu berharap Cedrik tidak berhenti mencintainya? Karena jika dia berhenti, dia tidak akan memprioritaskan Abhimanyu lagi, 'kan? Persis seperti bagaimana Khrisna menyingkirkan Abhimanyu begitu saja untuk pergi berdua dengan Hadrian. Tidak ingin membawa adiknya berkencan.

Atau bagaimana Abhimanyu diabaikan ketika mereka pergi bertiga, menonton mereka tertawa dan berinteraksi mesra dengan hati pedih. Merasa kesepian bahkan ketika ada kakaknya di sana, bersamanya. Ternyata luka itu tidak sembuh setelah dua tahun, malah semakin membuat Abhimanyu kesulitan untuk percaya. Kesulitan untuk membuka diri.

Tidak ada tempat untuk Abhimanyu jika ada kekasih di hidup Khrisna dan Cedrik. Mereka akan memprioritaskan pasangan mereka, menyingkirkan Abhimanyu dari hidup mereka lalu meninggalkannya.

Aku sudah terlanjur membuat janji dengan temanku, kata Cedrik hari itu.

Menikam hati Abhimanyu dengan ketakutan; jika Cedrik akhirnya berhenti mencintainya, akan ada lebih banyak lagi janji-janji yang dibatalkan. Cedrik yang akhirnya memilih orang lain sebelum Abhimanyu. Kekasih Cedrik yang cemburu pada kehadirannya lalu meminta Cedrik menjaga jarak dari Abhimanyu.

Dan Abhimanyu akhirnya akan terlupakan. Ditinggalkan karena Cedrik harus memilih kekasihnya.

Lalu pada siapa Abhimanyu harus bersandar jika semua orang akhirnya meninggalkannya untuk kekasih mereka? Untuk pasangan mereka? Tidak bolehkah Abhimanyu berteman dengan mereka? Bahkan ketika mereka sudah memiliki pasangan?

Tidakkah mereka memiliki simpati bahwa kekasih mereka mungkin satu-satunya orang yang Abhimanyu percaya di dunia ini? Satu-satunya tempat yang cukup nyaman untuk Abhimanyu huni? Mengapa mereka begitu egois menyingkirkan Abhimanyu?

Kita tidak bisa berteman dengan seseorang yang dengan jelas menyatakan bahwa mereka mencintai kita, Abhimanyu.

Memangnya Abhimanyu yang meminta Cedrik jatuh cinta padanya? Tidak. Abhimanyu tidak pernah merengek pada Cedrik untuk mencintainya, lalu mengapa sekarang perasaan Cedrik menjadi tanggung jawabnya?

Mengapa Abhimanyu tidak boleh memiliki satu saja—satu saja orang yang bisa dipercayainya? Seseorang yang akan bersamanya selamanya, menemani Abhimanyu, tidak akan meninggalkannya sendirian. Tidak akan menyingkirkan Abhimanyu seperti kakak dan ayahnya. Tidak akan menomor-duakannya.

Abhimanyu tidak meminta terlalu banyak, 'kan?

Hanya satu orang.

Satu orang.

Dia menyeka air matanya dengan satu tangan seraya berkendara melewati jalanan ke arah Ubud. Mengabaikan dingin malam yang menyengat menembus jaket berkenadaranya. Dia harus bertemu Cedrik; hatinya tidak ingin ditinggalkan, tidak mau Cedrik juga melangkah pergi dari hidupnya.

Abhimanyu ingin melakukan apa saja agar dia tetap bersama Abhimanyu. Agar dia tidak perlu melihat siapa pun melangkah pergi, memunggunginya lagi. Tidak. Luka dari Khrisna belum juga sembuh dan Abhimanyu tidak ingin merasakan sakit yang sama.

Setitik kesadarannya menyadari dia berkendara di atas kecepatan biasanya dan motor melaju dengan sangat kencang di jalanan. Kepalanya berputar ke mana saja kecuali ke caranya berkendara atau jalanan di depannya. Abhimanyu tidak bisa memaksa kepalanya untuk fokus ke satu titik ketika ketakutan merajalela di dalamnya.

Berharap Cedrik belum memutuskan apa pun tentang hubungan mereka, berharap dia bisa mengubah keputusan Cedrik. Abhimanyu akan berhenti berteman dengan Argha jika itu yang membuat Cedrik terluka; dia akan mengendalikan dirinya di sekitar Argha. Dia tidak akan meminta seks dari Cedrik.

Dia akan melakukan apa saja agar Cedrik tidak pergi dari sisinya.

Abhimanyu tidak akan bisa menangguhkan rasa sakit itu lagi.

Dia membelok, memasuki Ubud yang masih cukup ramai. Restoran-restoran masih buka, beberapa sudah mulai membereskan meja-meja luar ruangan mereka. Beberapa wisatawan luar negeri masih berjalan di atas trotoar, menikmati waktu mereka di Bali. Suara tawa rendah masih sayup terdengar hingga jalanan, pun aroma makanan dan bir yang sepat.

Semua orang tertawa, menikmati liburan dan waktu berkualitas mereka dengan orang yang mereka cintai dengan gembira sementara Abhimanyu—beberapa meter jauhnya dari mereka sedang menangis memikirkan ketakutannya untuk ditinggalkan. Berduka entah atas kematian siapa. Dan orang-orang itu tidak menyadarinya.

Abhimanyu sengaja pulang sedikit mendahului atas izin Argha yang bersimpati padanya. Dia ingin bertemu Cedrik secepat mungkin.

Syukurlah kehidupan malam Ubud sudah mulai tenggelam karena Abhimanyu tidak ingin terjebak kemacetan apa pun sekarang. Dia kembali membelok, menuju jalanan yang sudah sangat akrab dengannya menuju kosan Cedrik. Raditya pasti belum pulang jam segini, membuat Abhimanyu merasa lebih nyaman untuk bertemu Cedrik.

Perlukah dia memohon pada Cedrik?

Hatinya menyadari bahwa di sisi lain Abhimanyu harus menghentikan hubungan ini. Dia harus melangkah pergi, tegas pada Cedrik alih-alih semakin menyakitinya. Namun Abhimanyu tidak siap akan kesendirian yang terbit jika dia mengusir Cedrik dari hidupnya. Teringat betapa menyedihkannya dia terbaring di kamarnya sementara semua orang menghabiskan waktu dengan teman-temannya kemarin.

Dan Abhimanyu tidak memiliki teman.

Dia melihat gerbang kosan Cedrik lalu melambat, memasang sein untuk membelok dan menyadari mobil yang memenuhi halaman. Abhimanyu berhenti di depan gerbang, mengamati Wrangler Rubicon putih dengan plat nomor Jakarta yang terparkir di halaman kos Cedrik.

Abhimanyu tidak pernah melihat mobil ini di kosan Cedrik sebelumnya. Mobil Arsa berwarna hitam dengan plat Gianyar. Namun satu sel di kepalanya merasa bahwa mobil ini sangat familiar. Di mana Abhimanyu pernah melihatnya?

Rubicon bukanlah mobil langka di Bali, khususnya di Ubud dan Gianyar. Tetangga Abhimanyu di rumahnya memiliki satu sewarna hijau tentara. Pendapatan masyarakat dari sektor pariwisata di Ubud begitu besar hingga Rubicon bukan lagi mobil 'kelas atas' yang sulit ditemukan di jalan raya.

Jadi mungkin Abhimanyu berpapasan dengan mobil ini di suatu tempat.

Dia membelok ke ruang kosong halaman kosan, memarkir motornya begitu saja. Tidak memikirkan apakah hujan akan mengguyurnya nanti atau tidak. Abhimanyu mencabut kunci motornya setelah mengeluarkan bawaannya dari bagasi lalu bergegas melangkah ke kamar Cedrik seraya merogoh sakunya, ingin meneleponnya untuk mengabarkan bahwa Abhimanyu sudah tiba.

Abhimanyu mengemaskan sedikit sisa makanan EDR untuk Cedrik, sudah dihangatkan sebelum berangkat. Berharap Cedrik tidak keberatan dengan makanan itu. Abhimanyu bisa membelikannya makanan lain jika Cedrik mau. Yakin Cedrik pasti belum makan apa pun seharian jika tidak dipaksa.

Dia menekan nomor Cedrik, hendak mengangkat ponselnya ke telinga ketika dia bertemu seseorang di lorong ke arah kamar. Abhimanyu berhenti bergerak, menurunkan ponselnya kembali. Mustahil melupakan lelaki ini. Dia begitu manis, tindikan di hidungnya yang berkilau, pembawaannya yang hangat....

Mata mereka bertemu.

Dari penampilannya, dia sepertinya pekerja kantoran. Dia mengenakan kemeja garis-garis biru di tubuhnya juga celana longgar gelap, membawa tas jinjing yang nampak sedikit penuh di tangannya, satu tas belanja besar yang dilipat di bawah ketiaknya serta jaket yang dikaitkan di lekukan lengannya. Rambutnya yang sedikit panjang diikat menjadi pony tail pendek; membuatnya nampak... cantik.

“Oh. Halo.” Sapa lelaki itu tersenyum ramah. “Kita pernah bertemu?”

Abhimanyu mengerjap. “Sepertinya begitu,” dia memaksakan senyuman yang diharapkannya nampak ramah. Sekarang Abhimanyu tahu mengapa mobil itu nampak familiar. “Grand Lucky? Alaskan Malamute?”

Pemuda itu tersenyum ramah. Senyumannya lebar, menarik, dan menular. Namun ada sedikit jejak luka di wajahnya, kelelahan dan kekecewaan. Tipis sekali, nyaris tertutup oleh kebahagiaan palsu yang dipasangnya karena bertemu seseorang.

“Halo, ya. Saya.” Dia memindahkan bawaan di tangan kirinya, mengulurkan tangan lalu kaget sendiri. “Ah, maaf!” Serunya. “Saya kidal jadi kebiasaan.” Dia bergegas memindahkan bawaannya ke tangan kiri dan mengulurkan tangan kanannya.

“Nikolas.” Dia memperkenalkan diri meskipun Abhimanyu sungguh tidak ingin berlama-lama di sini.

Dia harus bertemu dengan Cedrik. Tapi sebagian dirinya yang tahu sopan santun akhirnya menjabat tangan itu, merasakan hangat tangannya karena menghabiskan waktu di dalam ruangan. Sejenak, aroma tembakau menyeruak dari tubuhnya; tumpang tindih dengan aroma parfumnya. Mata Abhimanyu langsung melirik bibirnya, memastikan apakah dia perokok dan menyadari bibirnya yang berwarna terang.

“Abhimanyu.” Abhimanyu balas memperkenalkan diri. “Anda tinggal di sini juga?”

Nikolas mengerjap. “Ah, tidak.” Katanya. “Saya hanya menemui teman saya. Sekarang dia sudah tidur, jadi saya memutuskan untuk pulang dan kembali besok. Anda sendiri?” Dia melepaskan jabatan tangannya.

“Menjenguk teman saya yang sakit.” Abhimanyu tersenyum, menyukai suara Nikolas yang hangat.

Bibir Nikolas terbuka sedikit ketika mengangguk. “Banyak yang sakit belakangan ini, ya?” Komentarnya basa-basi lalu sebelum Abhimanyu sempat menanggapi, dia mengecek jam tangannya dan menatap Abhimanyu menyesal.

“Baiklah, saya tidak akan menahan Anda lebih lama lagi. Saya harus pulang sekarang.” Dia meringis dan Abhimanyu menggeleng, tidak masalah. “Mari, Abhimanyu. Senang bertemu dengan Anda.”

Abhimanyu tersenyum. “Silakan.” Katanya dan berbalik ketika Nikolas melewatinya, berlari kecil ke mobilnya. “Hati-hati di jalan.” Dia melambai sebelum senyumannya lenyap ketika berbalik dan berlari ke kamar Cedrik.

Abhimanyu hanya menemukan sandal Cedrik di undakan depan dan melepas sepatunya, bergegas naik lalu mengetuk pintu kamarnya. Dia mengulurkan tangan, meraih gagang pintu dan membukanya. Tidak terkunci, maka dia mendorongnya terbuka. Kamar Cedrik remang-remang, lampu tidurnya dinyalakan dan dia sedang berbaring di ranjangnya dengan selimut.

Aroma rokok menyengat dari sana dan Abhimanyu memutuskan untuk membuka pintu sedikit, juga jendela agar udara bisa mengalir. Dia membiarkan tirai jendela tertutup saat meletakkan bawaannya di lantai sebelum mengendap lembut ke sisi Cedrik.

Abhimanyu duduk di tepi ranjang, menghela napas dan mengulurkan tangan menyentuh kening Cedrik. Dia tidak panas, mungkin hanya kelelahan. Dan itu membuatnya lega, setidaknya dia sudah melihat Cedrik dengan mata kepalanya sendiri. Dia mengedarkan pandangan ke kamar Cedrik yang rapi tapi sedikit... tidak sesuai. Abhimanyu tahu cara Cedrik menata kamarnya dan sekarang, semua terlihat seperti baru saja disentuh orang lain.

Di meja tempat Cedrik menyimpan makanannya sekarang sedikit penuh; ada buah-buahan kesukaan Cedrik, dua bungkus roti double soft yang masih tersegel, selai kacang dan cokelat, beberapa bubur instan, juga kotak-kotak terisi makanan yang siap dihangatkan. Botol-botol suplemen makanan, vitamin C, dan beberapa liter susu serta minuman isotonik. Piring di bawah tudung saji kecil memberi tahu Abhimanyu bahwa Cedrik belum menghabiskan makanan terakhirnya.

Dia tersenyum kecil melihatnya. Arsa pasti membawakan banyak sekali makanan untuk Cedrik, tahu kebiasaan lelaki itu ketika sakit. Dia pasti merokok juga di kamar Cedrik sebelum pergi dan tidak repot-repot membiarkan asap rokok digantikan udara baru sebelum pergi. Tapi Abhimanyu senang setidaknya ada yang mengurus Cedrik ketika sakit.

“Oh? Abhim?”

Abhimanyu menoleh dari meja makanan Cedrik dan menatap lelaki itu, nampak kelelahan dan mengantuk. Wajahnya sedikit bengkak dengan mata yang sayu. “Hai,” bisiknya lembut dan mengulurkan tangan—menyisir rambut Cedrik yang kusut.

Cedrik mengamati ruangan sejenak, disorientasi. “Kau datang sendirian?” Tanyanya dan Abhimanyu mengangguk.

“Kau tidur seperti sapi ketika aku datang. Bahkan tidak mengunci pintu kamarmu.” Setengahnya adalah keluhan dengan senyuman, Abhimanyu merasa senang karena sudah bersama Cedrik. “Bagaimana perasaanmu?”

Cedrik masih mengerjap, mengedarkan pandangan ke seluruh kamarnya. “Mana...?” Tanyanya berbisik dan Abhimanyu terkekeh parau.

“Chef Arsa?” Balas Abhimanyu geli pada Cedrik yang disorientasi pada sekitarnya. Arsa pastilah orang terakhir yang dilihatnya sebelum lelap. “Tentu saja bekerja. Kau tidur lama sekali, ya?”

Cedrik menatapnya lalu menghela napas, tersenyum lemah. “Ya. Kurasa begitu.” Dia memijat pelipisnya. “Pantas rasanya pusing.” Dia kemudian menarik dirinya di ranjang yang berderit, mendudukkan dirinya.

Abhimanyu menatapnya lalu menoleh ke bawaannya di lantai. “Aku membawakanmu makanan, tapi sepertinya kalah cepat dengan Chef Arsa.” Dia menoleh ke meja makanan Cedrik yang nyaris kepenuhan.

Cedrik ikut menatapnya dan mengamati makanan di meja sejenak sebelum tersenyum tipis. “Yah,” katanya dengan sedikit menerawang, memandangi tumpukan makanan itu dengan sedikit sayang. “Dia memang selalu bersikap berlebihan.” Bisiknya dan Abhimanyu tersenyum.

“Dia sayang padamu.” Abhimanyu meraih makanannya, sedikit senang karena Cedrik sudah tidak meledak-ledak seperti tadi. Bahkan sekarang nampak lembut, tenang, dan... senang. “Kau mau melanjutkan makanmu?”

Cedrik menghela napas, memalingkan wajah dari cadangan makanannya di meja lalu menatap Abhimanyu. “Kenapa kau datang?” Tanyanya lembut dan Abhimanyu berhenti bergerak, merasakan tikaman kecil namun dalam di hatinya karena pertanyaan itu.

“Aku ingin memastikanmu baik-baik saja.” Abhimanyu mengangkat wajahnya, menatap Cedrik yang nampak kelelahan. “Aku akan menemanimu malam ini.”

“Abhimanyu.” Bisik Cedrik dan Abhimanyu menggertakkan giginya—dia terlalu cepat senang. Cedrik ternyata belum melepaskan obrolan mereka tadi. “Kau tidak perlu melakukannya, pulanglah. Beristirahat.”

“Cedrik—,” mulai Abhimanyu, hendak mendebatnya dan bersikeras seperti biasa. Tahu Cedrik akan luluh padanya jika dia mendesaknya. Dia harus membuat Cedrik berhenti berpikir tentang meninggalkannya.

“Abhimanyu.” Sela Cedrik, lebih tegas dan Abhimanyu diam. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.” Katanya, mengatakannya dengan perlahan seolah mendiktekan sesuatu pada Abhimanyu.

Abhimanyu diam. Karena dia tidak sempat memikirkannya. Apakah dia tertarik pada Argha? Ya. Secara fisik. Hanya tertarik pada... seperti apa rasa Argha. Apakah seks yang diberikannya sesuai dengan tampangnya? Bagaimana rasa seks yang sebenarnya? Dia penasaran.

Bukan kepada Argha, melainkan apa yang Argha bisa berikan padanya. Seks.

Apakah aman jika dia menjelaskan ini pada Cedrik? Seberapa dalam luka yang mungkin ditimbulkan kejujuran Abhimanyu padanya? Apakah itu yang terbaik? Bisakah Cedrik memahami penjelasan Abhimanyu?

Bagaimana jika dia berbohong? Akankah itu memberikan rasa tenang pada Cedrik dan membuatnya melupakan omong kosong tentang meninggalkan Abhimanyu?

Jika dia jujur, bukankah itu hanya semakin menegaskan betapa kurangnya Cedrik untuk Abhimanyu? Mendorongnya agar segera pergi dari Abhimanyu karena apa pun yang dilakukannya, dia tidak bisa memberikan seks untuk Abhimanyu?

Itu membuat Abhimanyu nampak seperti bajingan tengik. Karena dari segala hal yang bisa diberikan Cedrik, dia menginginkan seks. Mementingkan seks seperti seorang freak dan tidak menghargai cinta itu sendiri—terlepas dari kebutuhan jasmaninya.

... Kenapa dia tidak bertanya pada Argha tadi? Apakah Abhimanyu salah karena menginginkan seks di hubungannya? Apakah itu membuatnya menjadi bajingan? Argha hanya menginginkan seks dalam hubungannya dan apakah itu salah? Berdarah dingin dan antipati?

Apakah gairah seksualnya salah? Apakah dia salah karena dia bukan aseksual seperti Cedrik?

Apakah Abhimanyu yang salah?

“Apakah kau tertarik pada Argha?”

Abhimanyu mendongak, menatap Cedrik yang balas menatapnya lekat-lekat. Nampak sangat terluka hingga Abhimanyu tidak tega untuk jujur bahwa dia tertarik—bahkan jika hanya secara fisik pada Argha. Dia akan menyakiti Cedrik jika dia jujur sekarang. Lalu apa yang harus dikatakannya pada Cedrik sekarang? Dia belum memikirkan jawaban apa pun untuknya.

“Kami berteman.” Mulainya perlahan, merasa jiwanya sedang terlepas dari tubuhnya sendiri ketika mengatakannya. Dia tidak merasakan dirinya sendiri, seolah mendengar suaranya mendengung dari kejauhan.

“Aku merasa tidak ada gunanya lagi membenci Argha. Kami bisa berteman dan membentuk kerja sama yang lebih baik lagi ketika bekerja.” Abhimanyu merasa disorientasi di tubuhnya sendiri. Dia merasa dia sedang menatap dirinya dari kejauhan. Suaranya menggema di kepalanya, seolah bukan dia yang bicara.

“Aku ingin membuat Chef Arsa bangga padaku. Aku lelah mengecewakannya dan jika berteman dengan Argha bisa memberikanku itu... Maka akan kulakukan.” Lalu dia menambahkan, “Apakah aku salah?”

Cedrik menatapnya. “Kalian berteman...?” Bisiknya.

Abhimanyu mengangguk. “Dia atasanku, 'kan? Kau berteman dengan atasanmu.” Balasnya lalu bergegas menambahkan. “Aku hanya lelah jika terus membencinya dan merusak dinamis bekerja kami di dapur. Dia juga menolongku beberapa kali.”

Cedrik diam, mendengarkan. Masih nampak terluka dan gelisah sehingga Abhimanyu kembali menjelaskan. “Aku beberapa kali merasa terlalu cemas dan Argha bersikap baik hati dengan meminta seseorang membawaku ke klinik. Terlepas dari segalanya, dia memang tidak bersalah, 'kan?”

“Maksudku,” Abhimanyu mengerjap. “Dia salah karena dia mendapatkan posisi head chef. Dia memang layak dari segalanya dan aku harus lebih banyak belajar darinya jika aku ingin memimpin restoran, 'kan?”

Mereka bersidiam. Abhimanyu menjilat bibirnya; tidak sepenuhnya bohong. Dia memang memutuskan bahwa dia tidak akan membenci Argha lagi. Dia akan belajar dari Argha, meminta bimbingannya selama bekerja sehingga dia menjadi juru masak yang lebih baik lagi.

You could be like Arsa in three years. Katanya dan Abhimanyu ingin melakukannya. Ingin menjadi juru masak sehebat Arsa dan memanfaatkan orang-orang disekitarnya untuk belajar seperti apa yang Cedrik katakan padanya.

Dan dengan mulus melewatkan detail tentang ciuman mereka di loker.

Itu, pikir Abhimanyu getir. Akan menjadi rahasianya dengan Argha. Ciuman pertama dan terakhir mereka, dia harus berhenti menyakiti Cedrik sekarang.

Cedrik menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Abhimanyu menahan napasnya, menunggu apa yang diputuskan Cedrik setelah mendengarkan penjelasannya. Lalu lelaki itu tersenyum dan mengulurkan lengannya.

“Kemari.” Bisiknya parau. “Aku kangen sekali padamu.”

Abhimanyu tersenyum, air mata merebak dan menyengat matanya ketika dia beringsut mendekat ke Cedrik lalu membenamkan dirinya ke tubuh Cedrik yang langsung mendekapnya erat. Dia mengulurkan lengannya, memeluk Cedrik.

“Maafkan aku.” Bisik Cedrik lembut, ada sedikit kegetiran di suaranya dan Abhimanyu langsung mengusap punggungnya lembut. “Maaf karena aku tidak bisa memberikan apa yang kaubutuhkan.”

Abhimanyu menggeleng di dadanya. “Omong kosong.” Katanya sedikit gemetar; masih tidak terlalu menyukai suara Cedrik dan nadanya.

Seolah dia sudah memutuskan sesuatu. Dan apa pun yang Abhimanyu lakukan tidak akan mengubahnya. Perut Abhimanyu mulas, dia mengeratkan pelukannya pada Cedrik—tidak sudi melonggarkannya. Ketakutan merayap di dasar perutnya, membuatnya mual.

Cedrik tidak akan pergi, 'kan?

“Cedrik?”

“Hm?”

“Kau tidak akan meninggalkanku, 'kan?” Bisiknya lirih, sedikit menuntut. “Kau berjanji.”

Cedrik menyisir rambutnya, menyelipkan jemarinya ke sela-sela per lembut rambut Abhimanyu. “Ya.” Bisiknya dan Abhimanyu menghembuskan napas lega. “Aku tidak akan pergi.”

Dia menumpukan keningnya di kepala Abhimanyu, napasnya menderu di kulit kepala Abhimanyu. “Aku berjanji padamu.”


ps. ehe roller coaster-nya belum turun gais :P

ps. isinya cenik semua. kalo gasuka skip aja bor, rasah cingkimin. tengs <3


Cedrik tidak tahu apakah dia harus senang atau sedih ketika melihat bahwa Abhimanyu dan Argha sudah memiliki ikatan yang akrab.

Dia berkendara dari Le Paradis menuju rumah Nikolas. Setengah hatinya membenci keputusan ini. Dia tidak seharusnya mencari orang lain untuk menghibur dan membalut luka yang disebabkan orang lain. Dia memperlakukan Nikolas dengan tidak adil, apalagi dia paham sekali Nikolas tertarik padanya.

Tidak sulit melihatnya. Cedrik selalu menyadari tatapan Nikolas padanya, senyumannya, pesan-pesan kecilnya yang perhatian, sleep call di beberapa kesempatan. Semuanya diladeni Cedrik atas dasar kebaikan semata, tidak ingin memberikan harapan apa pun pada Nikolas. Terkadang mengabaikannya untuk memberi jarak di hubungan mereka. Namun sepertinya dokter hewan muda itu tidak menangkap maksud itu sebagai 'berhenti', namun 'coba lagi'.

Dan Cedrik tidak yakin bagaimana dia harus menyikapinya.

Lalu kenapa Cedrik akhirnya memanfaatkan ketulusannya? Inikah yang dirasakan Abhimanyu untuknya? Rasa kasihan dan bersalah karena tidak bisa membalas perasaan itu lalu memberikan perhatian; apa saja selain rasa cinta untuk menghargainya. Memberikan harapan pada Cedrik, membuatnya percaya bahwa ada kesempatan untuk hubungan mereka ketika perbedaan krusial itu berada di bawah hidung mereka.

Dia tidak bisa melupakan suara tawa Abhimanyu tadi. Cedrik bergegas keluar dari Pastry, terserang rasa cemas karena suara itu dan menemukan keduanya sedang menahan tawa. Abhimanyu nampak ceria dan rileks, bahagia. Tidak lagi ada jejak kebencian yang dulu berkobar di matanya—benci yang digunakan Cedrik sebagai pegangan. Memberikannya rasa tenang dan aman bahwa Abhimanyu tidak akan tergoda pada Argha selama dia masih membenci juru masak senior itu.

Dan sekarang...

Cedrik mengoper gigi motornya dengan marah, lupa mengendurkan kopling sehingga motor sedikit melonjak kaget dan menggeram marah. Namun dia berhasil mengendalikannya, memaksa benda itu menurut padanya di jalanan Ubud yang masih lumayan ramai. Dia ingin ditemani seseorang, ingin ditenangkan, ingin dihibur...

Ingin seseorang mengisi luka di hatinya, menyembuhkannya. Seseorang, siapa saja selain dirinya sendiri.

Dia ingin seseorang bertanggung jawab atas sakit ini; siapa saja selain dirinya sendiri.

Sebenarnya apa yang Cedrik harapkan dari hubungannya dengan Abhimanyu? Sudah dua tahun mereka tidak juga mengalami kemajuan, terhadang perbedaan orientasi seksual mereka. Dia berusaha—sangat berusaha mengubah orientasinya, membuat dirinya tertarik pada seks namun dia selalu merasa mual setelahnya. Bahkan hanya dengan membayangkannya.

Dia tidak bisa membuat dirinya sempurna untuk Abhimanyu. Tidak bisa memberikan apa yang Abhimanyu inginkan. Perasaan ini menumbuhkan rasa cemas berlebihan dalam hubungan mereka, rasa overprotektif yang memusingkan, berusaha menjaga Abhimanyu dari semua orang yang mungkin menarik perhatiannya agar Cedrik tidak disingkirkan. Cedrik egois, jika tentang Abhimanyu dia cukup egois.

Bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri.

Dia berusaha memenuhi kotak ekspektasi Abhimanyu tentang pasangannya, berusaha mengisinya dengan hal-hal lain. Tahu bahwa dia tidak bisa memberikan seks untuk Abhimanyu. Maka Cedrik memberikannya perhatian, kasih sayang, kesabaran, dan waktunya; berharap dengan semua itu, Abhimanyu tidak lagi membutuhkan seks.

Namun dia salah.

Apa yang diharapkannya di dunia ini? Di mana segala hal diseksualisasi untuk menarik minat khayalak. Iklan menggunakan cara-cara provokatif secara seksual untuk menjual barangnya, video memasak yang sengaja menggunakan gerakan seksi menjurus seksual, konten-konten mengundang yang sengaja dirancang untuk menstimulus pikiran tidak senonoh, candaan seksual...

Segalanya berputar pada seks; hingga Cedrik tidak lagi paham apa yang sebenarnya disukai manusia dari seks? Padahal kegiatan itu sama sekali tidak menarik, cenderung membosankan.

Dan lelaki yang dicintainya, Abhimanyu hanyalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan seks itu, bahkan begitu tinggi hingga Cedrik gelisah tiap kali tidak bisa memberikan apa yang diinginkannya. Rasa cemas dan kecewa pada dirinya sendiri, mengunyahnya hidup-hidup tiap kali Abhimanyu menatapnya dengan sedih; tidak mendapatkan seks dari Cedrik.

Dia ingin sekali menjawab, “Apa, sih, yang membuatmu sangat menyukai seks?!” dengan jengkel namun selalu berhasil menahan dirinya. Apakah dia salah karena tidak menyukai seks? Apakah Abhimanyu salah karena sangat menyukai seks?

Dan apakah Argha salah karena dia sangat sensual? Mengundang siapa saja yang aktif secara seksual untuk mendekatinya, penasaran pada rasa lelaki itu, ingin mencicipinya. Apakah dia selezat penampilannya?

Haruskah Cedrik marah karena Abhimanyu akhirnya tergoda pada Argha seperti laron yang mendekati cahaya? Siapa yang salah? Cedrik? Abhimanyu? Argha? Atau... siapa?

Cedrik berhenti di depan gerbang kayu rumah Nikolas, memarkir motornya sebentar lalu membuka gerbang kecil di sisi gerbang rel untuk memasukkan motornya ke halaman. Dia kemudian kembali menguncinya, menggemboknya sebelum melepaskan sarung tangan berkendaranya dan meletakkan helmnya di teras kecil di sudut halaman depan rumah Nikolas.

Cedrik melangkah ke pintu masuk, pikirannya berat. Memikirkan tawa yang dibagi Argha dan Abhimanyu; penasaran pada apa yang mereka bicarakan. Penasaran apakah dia sudah... kalah?

Nyeri menyeruak di dadanya, dia menghela napas dan mendorong pintu kayu itu. Suaranya berderit keras di rumah yang sudah hening dan seseorang langsung membuka pintu depan. Serangan sakit lain menikam dadanya, merasa bersalah karena dia mendatangi Nikolas untuk menghibur luka ini. Dia menuruni tangga, melihat pintu ganda depan terbuka dan Nikolas muncul dari sana.

“Hai,” sapanya parau. Dia mengenakan pakaian tidurnya; kaus tanpa lengan longgar dan celana pendek. Di dekatnya ada Bong yang mengintip, menyalak ceria ketika mengenali aroma Cedrik.

Dia seketika merasa nyaman. Ada seseorang sekarang di sisinya, seseorang yang mencintainya. Dia akan melakukan apa saja untuk membuat Cedrik senang, 'kan? Menghibur Cedrik seperti yang dilakukannya untuk Abhimanyu?

Cedrik melangkah maju, mendekat ke Nikolas yang tersenyum. Nampak mengantuk sekali dan Cedrik malah memintanya bangun untuk menemaninya terluka. Tapi memikirkan prospek pulang ke kosan untuk mengasihani dirinya sendiri tidak terasa menyenangkan. Tidak juga ingin mendengarkan nasihat Arsa dan tatapan simpati Kinan yang sudah memintanya menyerah pada Abhimanyu jutaan kali dalam dua tahun ini.

Dia butuh Nikolas, ingin memanfaatkan rasa cinta itu. Sekali saja, untuk keuntungannya sendiri.

You've been taking care of everyone but yourself lately. I just want to show you how it feels like to be taken care.” Katanya dan Cedrik hanya ingin menagih janjinya.

“Aku baru saja selesai menjerang air. Kau mau teh?” Tanyanya ketika Cedrik berdiri di depannya. “Atau sesuatu yang kuat? Aku ada whiskey.”

Cedrik menatapnya. Merasa lelah menyeruak di dadanya, begitu kuatnya. Semua rasa yang ditahannya, semua perasaan yang coba dipendamnya selama dua tahun mencoba membuat dirinya sesuai dengan kebutuhan Abhimanyu mendadak terbit; menghantamnya dengan kuat hingga dia sedikit terhuyung lalu mendekat ke Nikolas. Menumpukan keningnya di bahu pemuda itu dan merasakan Nikolas berjengit kaget oleh sentuhan itu.

“Sebentar.” Bisiknya parau dengan mata dan ulu hati yang mulai panas. “Sebentar saja. Tolong.”

Dia mendengar deru napas Nikolas, aroma keringat tipis yang tercampur dengan aroma linen hangat seprainya, sedikit jejak aroma Bong, dan sisa parfumnya. Denyut nadi di bawah telinga Nikolas terdengar kuat, Cedrik menyadari tindakannya baru saja membuat Nikolas kikuk namun dia membutuhkannya.

Bong mendengking sedih, menyadari perasaan Cedrik dan mengendus kakinya. Menggaruknya lembut, menyundulkan hidungnya pada betis Cedrik sebelum berbaring di kakinya. Dagunya ditumpukan di atas kaki Cedrik, mendongak menatap Cedrik yang menunduk dengan tatapan sedih. Dengkingan kecil lolos dari bibirnya, seolah menghibur Cedrik.

Nikolas sejenak ragu. Cedrik bisa merasakan otot lengannya sedikit bergerak sebelum akhirnya mengangkat kedua tangannya untuk memeluk Cedrik; mengusap punggungnya. Tangannya sedikit dingin karena tegang dan malu, namun Cedrik menghargainya.

It'd be fine. It'd be fine.” Bisiknya lembut dan Cedrik memejamkan mata, sekarang merasa berdosa karena secara sadar telah memanfaatkan Nikolas yang sama sekali tidak bersalah padanya.

Cedrik kemudian mempersilakan Nikolas kembali tidur, dia akan pergi sebelum matahari terbit untuk kembali bekerja. Sejenak, dokter hewan itu menatapnya cemas namun akhirnya setuju untuk meninggalkannya sendiri—menarik tali leher Bong sedikit untuk memaksanya masuk ke kamar. Cedrik kemudian berbaring di sofa, menatap langit-langit yang remang dengan segelas teh hangat di meja—dibuatkan Nikolas yang mendesak.

Nikolas tidak bercanda atau melebih-lebihkan ketika mengatakan bahwa rumahnya berantakan. Tempat itu memang berantakan; ada cucian kotor di bak cuci yang belum disentuh, mainan Bong berserakan di atas karpet lembut, lantainya terasa sedikit kotor ketika Cedrik melangkah di atasnya, dan aroma rumah sedikit apak.

Tapi dia tidak masalah. Lebih baik seperti ini daripada sendirian di kosnya, di tempat di mana Abhimanyu pernah menyentuhnya. Tempat di mana mereka berciuman, berpelukan sebelum tidur, tertawa dan membagi bahagia; berpikir dengan naif kehidupan akan selamanya baik pada mereka. Berpikir jika tidak bisa memiliki Abhimanyu, Cedrik akan bahagia memiliki dia di sisinya. Selalu dan selamanya bergantung pada Cedrik.

Cedrik menutup matanya dengan lengan, berharap dia bisa terlelap walaupun rasa cemas mencengkeram kepalanya. Tidak bisa mengenyahkan tawa Abhimanyu dan Argha dari pikirannya, tatapan yang mereka tukar, bahasa tubuh mereka... Membuat Cedrik menyadari bahwa selama ini mereka sangat akrab.

Siapa sangka hanya butuh satu hari untuk Abhimanyu berpaling dari Cedrik setelah dua tahun mereka menghabiskan waktu berdua?

Cedrik hanya tidak menemaninya satu hari dan segalanya berantakan. Dia hanya melepaskan Abhimanyu satu hari, ingin beristirahat sejenak dari Abhimanyu dan merilekskan dirinya. Mengambil waktu senggang melakukan apa yang dia inginkan alih-alih Abhimanyu dan segalanya kacau.

Sekarang Abhimanyu sudah menjauh darinya. Cedrik bisa melihat dari tatapannya, dia hendak mengatakan sesuatu. Dia ingin mengakhiri hubungan mereka, ingin meninggalkan Cedrik.

Apakah dia seharusnya memperkenalkan Abhimanyu dengan Nikolas? Namun dia merasa memperkenalkan lelaki yang mencintainya pada lelaki yang Cedrik cintai tidak akan berjalan baik. Tidakkah itu akan menyakiti Nikolas? Bahwa Abhimanyu-lah alasan mengapa Cedrik tidak bisa menerima segala perhatiannya yang berlimpah?

Bagaimana jika Abhimanyu memperkenalkan Cedrik pada lelaki yang dicintainya?

Akankah Cedrik tetap utuh? Dia tidak ingin membuat Nikolas merasakan sakit itu; tidak. Nikolas tidak layak merasakan sakit itu.

“Cedrik, aku ingin bicara.” Katanya tadi, kilatan emosi di matanya membuat Cedrik gelisah. Perutnya mengejang tidak nyaman dan reaksi pertamanya adalah bersikap defensif, mendorong Abhimanyu menjauh untuk menunda percakapan yang dia tahu akan datang cepat atau lambat.

Abhimanyu sedang ragu. Cedrik tidak yakin pada siapa keraguan itu ditujukan, dia berpikir Abhimanyu sedang takut pada Cedrik karena rasa bersalahnya tempo hari. Namun ketika dia melihat interaksi Argha dan Abhimanyu, dia menyadari bahwa Abhimanyu ragu pada hubungan mereka.

Dia sudah merasakan energi Abhimanyu tidak lagi hangat, merasakan perubahan emosinya pada Cedrik sejak begitu lama. Namun dia terus berusaha mempertahankannya. Bersikap egois dengan mencengkeram Abhimanyu begitu kuat di jemarinya, berharap Abhimanyu tidak akan meninggalkannya.

Apakah Abhimanyu sudah tertarik pada Argha sejak lama? Sejak kapan...? Bukankah dia membenci Argha? Apakah ada saat ketika dia berbaring di pelukan Cedrik dan memikirkan Argha...?

Saat ketika dia mencium Cedrik dan memikirkan Argha?

Hatinya koyak. Begitu kuatnya hingga Cedrik menarik napas tajam, mencengkeram dadanya. Meremasnya kuat, berusaha mengenyahkan sakit dibalik paru-paru dan jantungnya. Rasa sakit panas yang mengerikan, membuat setiap tarikan napasnya menyengat hidungnya. Air mata meleleh dari sudut matanya dan isakan kecil lolos dari bibirnya.

Pernahkah Abhimanyu menciumnya sambil memikirkan Argha...? Itukah mengapa dia mendadak begitu memaksa Cedrik memberikannya sentuhan fisik?

Pikiran itu menyengatnya, berkali-kali seperti seekor ular yang menggigitnya. Menyuntikkan bisa ke pembuluh darahnya dan meracuni sistemnya. Membuat hatinya lumpuh dan kebas, otaknya merespons sakit hebat itu dengan diam. Membiarkan hati menguasai seluruh organ dan meracuninya dengan rasa sakit dan kecewa.

Cedrik lupa menyadari bahwa jatuh cinta akan selalu datang bersama dengan patah hati.

Dan dia sama sekali tidak siap.

”... Cedrik?”

Cedrik tidak bereaksi, panas di dadanya menyesakkan. Dia terisak, tidak lagi ingin berusaha mengendalikan tangis itu. Tidak ketika seluruh energinya terhisap habis oleh rasa sakit yang mengoyak hatinya. Bagaimana jika Abhimanyu meninggalkannya...? Menjauh darinya?

Mengakhiri hubungan mereka setelah dua tahun lamanya karena... Argha? Bajingan sensual yang sejak awal sudah membuat hubungan mereka bergolak. Cedrik seharusnya tidak mengendurkan pertahanan dirinya pada Argha, terlalu mengandalkan kebencian Abhimanyu pada Argha untuk menenangkan dirinya. Terlalu memercayai Abhimanyu.

Terlalu berusaha untuk Abhimanyu.

Terlalu mencintai Abhimanyu.

Terlalu bodoh.

Menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Abhimanyu; segala cinta, perhatian, emosi, waktu dan segalanya pada Abhimanyu hingga tidak ada lagi yang tersisa pada Cedrik untuk dirinya sendiri.

Atau bahkan Nikolas.

“Hei, hei. Kau oke?” Bisik Nikolas, menghampirinya membawa aroma linen hangat dan keringatnya, berlutut di sisi kepala Cedrik. “Hei, ya Tuhan.” Bisiknya panik. “Kau mendengarku? Cedrik?”

Cedrik tidak ingin menjawab, tidak ingin bergerak. Dia ingin menangis, terus menangis hingga air matanya kering dan dia mati. Tidak ingin hidup untuk menghadapi hari esok ketika dia tahu Abhimanyu akan meninggalkannya. Melangkah pergi darinya dan menyambut pelukan Argha. Tidak ingin memikirkan bagaimana Argha tidak akan perlu berusaha sekeras Cedrik untuk mengimbangi keinginan seksual Abhimanyu.

Dia tidak perlu berusaha, tidak perlu membengkokkan dirinya untuk menyesuaikan dengan lekukan Abhimanyu.

Benci memikirkan bagaimana Argha tidak perlu... tidak perlu....

“Ya Tuhan,” bisik Nikolas sekali lagi, sayup-sayup dari sela tangisnya sendiri dan dengung yang menbuat Cedrik pening.

Dia menyerah ketika Nikolas menyelipkan lengannya di bawah tubuh Cedrik, menariknya bangkit lalu membaringkan tubuh atas Cedrik di tubuhnya. Memeluknya dan menyandarkan kepalanya di kepala Cedrik. Menggumamkan sesuatu yang tidak Cedrik dengar, namun membuatnya tenang karena setidaknya akan ada seseorang yang menyelamatkannya jika dia tenggelam. Jika Cedrik tidak mampu menahan dirinya sendiri, tidak mampu berdiri di kakinya sendiri.

Akan ada seseorang yang menariknya bangkit.


Nikolas tidak yakin apa yang harus dilakukannya sekarang dengan Cedrik yang terisak di pelukannya dan Bong yang mendengking—ikut merasakan kesedihan itu.

Dia tidak tenang meninggalkan Cedrik sendirian, apalagi ketika menyadari ekspresinya yang pucat dan kosong ketika tiba. Dia nampak seperti baru saja dihajar segerombol orang dan tidak lagi ingin hidup. Nikolas sejenak ingin menghubungi Kinan untuk bertanya apakah sesuatu terjadi di tempat kerja, namun merasa dia bukanlah siapa-siapa untuk melakukannya. Lagi pula, tidak sopan menghubungi pasangan seseorang selepas jam kerja.

Maka dia mengusap punggung Cedrik, berusaha membuatnya merasa lebih baik di tengah ruang tamu yang remang-remang sementara di kejauhan Ubud mulai terlelap. Isakan Cedrik berat, tangisannya tidak bersuara; begitu menyayat hati.

“Pernahkah kau mencintai seseorang?” Tanya lelaki itu tiba-tiba, parau dan berat hingga sejenak Nikolas tidak yakin apakah itu benar suara Cedrik. “Begitu mencintainya hingga kau rela membengkokkan diri, mengubah dirimu sendiri untuk menyesuaikan keinginannya tapi...

“Kau tidak juga cukup untuknya?”

Nikolas diam. Tidak yakin harus menjawab apa. Cedrik gemetar di pelukannya dan Nikolas bisa merasakan pedih yang dirasakannya. Apakah ini mengenai seseorang yang disukainya? Orang yang melangkah masuk ke kehidupan Cedrik satu hari lebih awal dari Nikolas?

Siapkah Nikolas mengetahui siapa yang dicintai Cedrik? Seseorang yang membuatnya terluka dan sehancur ini sekarang? Siapkah Nikolas...? Siapkah dia menyembuhkan luka yang diberikan orang itu pada Cedrik? Bagaimana jika dia mengenalnya? Bagaimana jika dia tahu siapa dia? Akankah dia baik-baik saja?

Siapkah hatinya...?

“Jika...,” bisik Nikolas perlahan, memilah kata yang ingin digunakannya sehingga tidak menyakiti Cedrik. “Jika dia memang mencintaimu, dia tidak akan mengubahmu.”

Dia sudah mengatakannya. Tidak merasa benar pada bagaimana Cedrik memaksakan dirinya untuk menjadi lelaki yang sesuai untuk seseorang yang mungkin bahkan tidak berusaha untuknya—karena jika mereka berdua berusaha, Nikolas yakin mereka tidak membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk menggantungkan hubungan mereka.

Tentu saja ada yang salah dalam hubungan itu. Dan Nikolas benar-benar penasaran pada alasan mengapa mereka tidak juga menjadi sepasang kekasih.

“Bagaimana jika perbedaan itu begitu krusial dan penting untuknya?” Bisik Cedrik lagi dan Nikolas bergidik—ini pertama kalinya Cedrik berada sedekat ini dengannya.

Aroma tubuhnya menenangkan; seperti cokelat, vanila, dan toko roti yang segar. Secercah keringat dan sisa parfumnya, juga udara malam. Nikolas ingin memeluknya, membenamkan wajahnya pada pelukan Cedrik dan lelap di sana. Ingin mencintainya, ingin membahagiakannya, ingin membuatnya melupakan siapa pun itu yang menyakitinya.

“Maka...,” Nikolas menghela napas. Tidak ada cara yang lembut untuk mengatakan ini. “Mungkin kau sudah tahu jawabannya selama ini dan menolak melihatnya.” Bisiknya lalu perasaan bersalah menyengat hatinya karena telah mengatakan kenyataan itu pada Cedrik.

Dia merasakan tubuh Cedrik menegang di pelukannya dan tangisannya berhenti. Mungkin merasa tertampar atau bahkan tersinggung pada kata-kata Nikolas. Tapi dia tidak mau menghibur Cedrik dengan cara itu. Jika dia memang tidak bahagia, kenapa dia terus bertahan merusak dirinya?

Nikolas tidak berpikir hanya dirinyalah yang bisa membahagiakan Cedrik, dia mungkin juga tidak bisa melakukannya. Sudah pernah mengalami kegagalan dalam hubungan romantis karena orientasi seksualnya; semua orang yang datang padanya seketika menuntut seks. Bahkan di pertemuan pertama dan Nikolas tidak memiliki ketertarikan apa pun pada seks.

Dia pasti tidak bisa melakukannya juga. Tapi dia berharap dia diberikan kesempatan untuk mencoba.

Dan berharap jika... Cedrik juga seorang aseksual. Tidak bisa menjelaskan bagaimana, tapi ketika mendengarnya bicara; Nikolas langsung merasakan bahwa dia juga seorang aseksual. Dia tidak menyentuh Nikolas dengan cara yang... sensual. Dia menyentuh dengan hangat, tersenyum dengan tulus, dan selalu memperlakukannya dengan sopan.

Entah apakah Cedrik memang amat baik atau dia seorang aseksual karena semua orang yang ditemui Nikolas selalu berusaha mengajaknya bercinta di pertemuan pertama atau kedua. Perasaannya kuat, kali ini dia percaya pada kata hatinya.

You didn't ask too much,” bisik Nikolas lagi berusaha menghibur Cedrik, menempelkan telapak tangannya di punggung Cedrik. Berdebar karena dia mungkin mengatakan sesuatu yang membuatnya nampak lebih baik padahal dia hanya ingin menghibur Cedrik.

You probably are just asking the wrong person.”

Mereka bersidiam, lama sekali hingga Nikolas takut dia baru saja mengatakan hal yang salah. Namun dia tetap diam, tidak yakin bagaimana memperbaikinya. Bagaimana jika dia bicara, hanya akan menambah rasa tersinggung Cedrik lalu membuatnya pergi dari rumah Nikolas?

Bong di kaki mereka mendengking panjang, mengeluarkan suara-suara sedih dan menyundulkan hidungnya pada kedua kaki mereka. Memohon seseorang untuk memberi tahunya bahwa mereka baik-baik saja, tidak ada yang sedih. Mereka hanya bercanda lalu tertawa sambil memeluk Bong kembali.

I can give him everything, even the world...,” bisik Cedrik dan hati Nikolas berdenyut mendengarnya; menyadari cinta yang dituangkan Cedrik dalam kalimatnya, pemujaan itu, kerinduan itu, juga... kekecewaan.

Him, pikir Nikolas hampa. Dia mencintai seorang lelaki. Apakah lelaki itu berada di sekitarnya? Dekat dengannya bahkan ketika Nikolas tidak bertemu dengannya...?

But he asked the only thing I can't give him.” Bisiknya lagi, mengembalikan fokus Nikolas ke masa sekarang dengan jantungnya yang mencelos; apakah Cedrik persis seperti apa yang dipikirkannya...?

Out of everyone, I fall in love with him. Knowing so much I could never.”

Sisa kalimat Cedrik berceceran di sekitar mereka, meloloskan diri dari mulutnya begitu saja. Nikolas yakin dia sudah mabuk oleh sakit hati, tidak lagi menyadari bahwa dia sedang memeluk orang asing yang baru 'dikenalnya' secara resmi selama beberapa minggu. Dia seharusnya menceritakan semua ini pada Arsa, sahabat akrabnya.

Tapi Nikolas menghargainya, dia mendengarkan. Tidak ingin merusak rasa nyaman Cedrik sekarang. Berharap detik dia menyadari bahwa dia mencintai orang yang salah, dia melihat Nikolas di sisinya. Nikolas tidak akan melepaskan Cedrik sedikit pun, akan terus menempel padanya. Tidak ingin terlambat lagi. Tidak.

Sudah cukup dua tahun ini.

“Mungkin...,” Nikolas memulai perlahan. “Mungkin dia memang tidak ingin bersamamu? Mencari-cari alasan untuk menolakmu?” Dia menggigit lidahnya karena baru saja menjelek-jelekkan seseorang yang Cedrik sayangi.

Sehebat apa pun dia menginginkan Cedrik, Nikolas tidak ingin menggunakan cara itu.

“Tidak.” Bisik Cedrik, mengusapkan wajahnya di bahu Nikolas dan membenamkan dirinya semakin dalam ke pelukan Nikolas yang menahan napas.

Aroma Cedrik begitu menyenangkan, Nikolas ingin memeluknya. Ingin mengusap semua lukanya, menyembuhkannya. Memberi tahunya bagaimana rasanya dicintai begitu hebatnya hingga Cedrik tidak lagi teringat pada sakit hatinya. Namun dia bertahan, memeluknya longgar—tidak ingin merangsek masuk ke ruang personal Cedrik seberapa pun luasnya Cedrik membuka pintu sebelum dia dipersilakan.

I'm asexual. He's not asking too much, it's just me. The problem is me.”

Jantung Nikolas mencelos lalu melonjak begitu kuat, memukul dadanya hingga dia menarik napas tajam. Dia memenangkan pertarungan ini dengan siapa pun itu lawannya; tidak lagi tertarik karena... mereka berdua aseksual! Bayangkan betapa luar biasanya hidup Nikolas ketika akhirnya bertemu seseorang dengan orientasi seksual sama dengannya dan lelaki itu juga orang yang sudah dicintainya.

Tuhan maha baik!

Tidak ada hubungan lain yang akan lebih baik daripada dua aseksual. Karena tidak akan ada kecemasan karena tidak bisa memberikan seks untuk pasangan mereka, tidak akan ada rasa 'kurang sempurna' karena mereka berdua sama-sama mencintai melampaui seks. Tidak membutuhkan seks untuk mengikat perasaan mereka, untuk mencintai dengan utuh.

“Aku...,” Nikolas menelan ludah, berusaha tidak terdengar terlalu senang karena takut melukai Cedrik yang sedang sedih. “Aku... paham. Aku paham sekali. Percayalah.”

Cedrik diam sejenak lalu tergelak getir. “Tidak, kau tidak paham. Kau tidak akan paham rasa kurang dan cemas ini. Rasa tidak layak karena tidak bisa memberikan—”

“Aku paham.” Potong Nikolas, nyaris menangis sekarang. Tangis bahagia dan bersemangat; perasaan senang yang membuncah terasa hangat di dadanya. Perbuatan baik apa yang telah dilakukannya dahulu hingga dia mendapatkan karma baik mencintai seseorang yang memiliki orientasi seksual yang sama dengannya??

“Aku paham karena aku juga aseksual!” Serunya tertahan. “Aku paham, aku paham sekali!”

Cedrik menegang di pelukannya. Dia menarik dirinya dan Nikolas mengeluarkan suara erang tertahan, takut baru saja mengatakan sesuatu yang membuat Cedrik tersinggung. Nikolas menatap Cedrik yang balas menatapnya, sedikit tegang.

Kau seharusnya diam saja, Bodoh! Bentaknya pada dirinya sendiri ketika ketegangan melingkupi mereka, menyusul keheningan Cedrik. “Maaf,” cicitnya. “Aku tidak bermaksud mengecilkan masalahmu atau mengalihkan pembicaraan sungguh. Aku hanya—”

“Kau aseksual?”

Nikolas mengerjap, mengangguk perlahan di bawah tatapan Cedrik. “Ya.” Bisiknya. “Hubunganku selalu gagal karena aku belum bertemu pasangan dengan orientasi seksual yang sama. Aku paham bagaimana perasaanmu ketika mereka menginginkan satu-satunya hal yang tidak bisa kuberikan...”

“Tapi!” Dia bergegas menambahkan. “Aku juga tidak mengatakan bahwa aku jauh lebih baik dari dia yang kaucintai sekarang. Aku paham sekali bahwa kau—”

“Aku tahu kau mencintaiku.”

Nikolas diam, jantungnya mencelos. Dia menatap Cedrik dan melihatnya.

Rasa bersalah yang menyeruak di mata Cedrik, berkilat begitu tajam dan terasa menikam hati Nikolas dengan belati panas bergerigi. Nikolas tidak bodoh, dia tahu apa ini. Dan entah bagaimana, dia malah tersenyum dengan mata tersengat panas air mata.

“Y-yah,” dia mengendikkan bahunya dan tertawa kecil, seperti seorang psikopat. “Aku tidak berusaha membuatnya tidak nampak, 'kan?” Dia tersenyum, bibir bawahnya gemetar.

Cedrik menolaknya.

Pemahaman itu menamparnya, menghantamnya dengan begitu kuat. Tenggorokannya terasa panas tersengat tangisan. Dua tahun. Dua tahun dia berusaha, dua tahun dia menanti Cedrik dan dia baru saja merasa bahagia karena mereka adalah aseksual. Yakin dia memenangkan pertarungan. Dia terlalu cepat senang, terlalu gegabah. Tidak sabaran padahal Cedrik baru saja mengungkapkan betapa dia mencintai orang ini. Tidak ada ruang di hatinya untuk siapa pun. Tidak peduli selama apa pun Nikolas mengetuk.

Seharusnya dia diam saja tadi, seharusnya dia tidak mengatakan apa pun. Dia seharusnya mendengarkan Cedrik saja, menyimpan kartu AS-nya nanti. Nanti ketika Cedrik sudah melepaskan diri dari orang ini.

Seharusnya dia....

Seharusnya...

Cedrik menghela napas, nampak tertekan dan Nikolas merasa bersalah karena sudah menambahkan pikiran untuk Cedrik sekarang. “Nikolas, aku—”

Nikolas memotongnya dengan berdiri. “Tidak masalah.” Katanya, nyaris setengah histeris. “Saya paham, Chef.” Dia menambahkan tawa kecil yang tegang dan perih. Merasakan pedih di hatinya ketika dia kembali menggunakan kalimat formal pada Cedrik.

“Beristirahatlah.” Dia memaksakan senyuman di ototnya yang kaku karena sedih. “Maaf saya harus tidur sekarang karena nanti saya harus ke klinik pagi-pagi sekali. Selamat malam, Chef.”

Dia tidak berhenti untuk melihat ekspresi Cedrik, tidak mau melihat rasa bersalah itu lagi. Penolakan tanpa kata yang ternyata sangat menyakitkan. Nikolas bergegas berlalu dari sana, memanggil Bong dengan parau lalu berjalan cepat ke kamarnya.

Amarah dan rasa sedih membakar dirinya. Nikolas membanting pintu, menghantamkan kepalan tangannya ke daun pintu hingga Bong mendengking keras karena kaget—menyelipkan ekornya ke kedua kaki belakangnya dan bersembunyi di belakang ranjang. Dia lalu bersandar di sana, merasa luar biasa.

Luar biasa bodoh.


ps. ehe :(


Argha lupa memberi tahu Abhimanyu bahwa dia datang ke Gourmet bersama Cedrik.

Cedrik memutuskan untuk ikut bersama driver perusahaan dari Ubud ke Seminyak karena dia malas berkendara sendiri. Cedrik diam selama perjalanan di kursi belakang, memandang jalanan dan tidak bicara pada Argha atau driver. Di pertemuan tadi dia juga tidak terlalu aktif, nampak sedikit melamun dan kehilangan fokus di beberapa kesempatan.

Tapi laporannya mengenai menu baru yang dikerjakannya sempurna; terlepas dari masalah yang sedang melandanya, Cedrik tetap bekerja dengan maksimal. Dia menjelaskan dengan detail kemajuannya, memberikan sample pada semua yang berada di ruangan dan menerima semua umpan balik, baik dari Arsa maupun Argha. Mencatatnya dan berjanji akan memberikan sample baru dalam satu minggu. Setelahnya dia kembali melamun.

Mau tidak mau, Argha sejenak berpikir apakah tindakannya kemarin mengajak Abhimanyu makan berdua membuat mereka bertengkar dan merusak hari Cedrik? Jika iya, maka dia akan sangat bersalah. Dia sebaiknya menjaga jarak dari Abhimanyu, dengan sangat serius.

Dia seorang bajingan dan menjadi penyebab keretakan hubungan orang lain bukanlah sesuatu yang ingin ditambahkannya ke CV-nya.

Dan Abhimanyu tidak sempat mengendalikan ekspresinya sama sekali ketika melihat Argha memasuki dapur. Dia nampak sumringah ketika Argha mendorong pintu, tersenyum lebar dan membuka mulut hendak menyambutnya ketika Cedrik muncul dari balik bahu Argha—mengenakan seragam gelap Paradis-nya yang membuatnya nampak berisi dan ekspresi Abhimanyu terguncang selama satu menit penuh sebelum mengendalikannya. Dan Argha bisa melihat Cedrik bereaksi terhadap ekspresi itu.

Abhimanyu manis sekali ketika tersenyum, nyaris seperti anak kecil yang guru kesayangannya muncul setelah sekian lama ditinggalkan. Hal menyenangkan lain adalah bagaimana dia sekarang nampak senang bertemu Argha, tidak lagi bersikap seperti penderita wasir. Dan itu membuat Argha senang karena berarti kesalahannya beberapa bulan lalu sudah termaafkan, dengan bonus teman baru.

Jika saja tidak ada Cedrik, Argha pasti akan membalas senyumannya. Mungkin menepuk kepalanya juga karena begitu menggemaskan. Tapi dia tidak mau membuat Cedrik tersinggung, setelah bagaimana dia bersikap seharian ini.

“Halo, Abhimanyu.” Sela Argha bergegas, mengangguk dan melewati Sous Chef-nya. Bersikap seprofesional mungkin menghadapi sapaan ceria itu. “Apakah ada yang terjadi selama saya pergi yang harus saya ketahui?” Tanyanya—jika keduanya akan bertengkar, mereka sebaiknya tidak melakukannya di sini.

Abhimanyu menatap Cedrik sejenak lalu menoleh pada Argha. Cedrik berbalik, bergegas menuju Pastry Section. Mereka tidak bertukar sapaan dan itu membuat Argha sedikit cemas.

“Tidak ada, Chef.” Kata Abhimanyu dan sekarang nampak sedikit tegang, kikuk. “Saya sudah melaporkan semuanya melalui Whatsapp kepada Anda. Tidak ada hal lain.”

Argha mengangguk. “Excellent.” Pujinya lalu meraih topinya yang diselipkan di bawah ketiak, menggunakannya di kepala setelah merapikan rambutnya agar tidak mencuat keluar. “Tim sudah makan?”

“Sudah, Chef.” Sahut Abhimanyu lagi, melirik Pastry sejenak lalu berdeham. Jelas sekali nampak tidak nyaman. “Saya juga sudah tadi.” Tambahnya sedikit melamun, tidak fokus.

“Maaf,” Argha memutuskan untuk menambahkan. Abhimanyu mendongak, menatapnya kebingungan. “Saya lupa memberi tahumu Cedrik datang bersama saya.” Katanya dengan suara rendah. Tidak tahu kenapa, dia hanya ingin saja melakukannya. Menghibur Abhimanyu, menenangkannya.

Argha membuka mulut lagi, hendak menambahkan bahwa dia tidak tahu mereka sedang bertengkar namun kemudian menutup mulutnya kembali. Merasa itu bukan urusannya sama sekali. Memangnya jika mereka bertengkar, apa hubungannya dengan Argha? Dia seharusnya tidak ikut campur pada hubungan mereka berdua.

“Oh.” Abhimanyu tergelak kecil, kikuk dan tegang. Membuat sesuatu bergerak tidak nyaman di perut Argha. Bola mata cokelat karamelnya berkilat. “Tidak apa-apa, Chef.” Katanya lalu berdeham kembali. “Jika tidak keberatan, saya akan ke Pastry sebentar?”

Argha mengerjap, sudah menduga ini. “Silakan.” Katanya lalu menoleh ke tablet kecil di depannya untuk mengecek reservasi mereka; tidak ingin melihat ketika Abhimanyu berlari ke Pastry untuk mencari Cedrik.

Argha tidak pernah sepenasaran ini pada hubungan orang lain. Dia biasanya tidak suka mengendus di sekitar orang lain, sering kali cuek. Karena dia selalu berusaha menghindari orang-orang yang mencarinya untuk kabur dari pasangan mereka. Tidak suka terlibat drama percintaan.

Namun Abhimanyu dan Cedrik telah menariknya, seperti magnet. Membuat Argha penasaran, ingin tahu apa sebenarnya masalah mereka hingga ekspresi Abhimanyu ketika melihatnya adalah ketakutan.

Pembawaan Cedrik sangat lembut dan tenang, Argha ragu jika dalam hubungan mereka Cedrik melakukan kekerasan atau manipulasi emosi sehingga Abhimanyu submisif padanya. Dia tidak memiliki tampang sebagai bajingan sama sekali. Dan caranya berbicara pada orang-orang yang disayanginya sangat hangat, pengertian. Jenis teman yang akan disukai siapa saja, menarik perhatian siapa saja dengan keramahannya. Cedrik punya banyak teman, itu membutikan betapa dia adalah lelaki yang menyenangkan.

Tidak seperti Argha.

Dia menghela napas berat, merasa sedikit jengkel. Dan tidak paham apa penyebab rasa jengkel yang bercokol di dadanya ini. Argha menyentuh beberapa pilihan di tablet di hadapannya dan mengecek reservasi. Sebentar lagi mereka akan memulai servis, jadi Argha berbalik dan mengecek prep yang dilakukan tim tanpanya.

Tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menoleh ke Pastry dan melihat Cedrik berdiri di sudut, dekat ruangan Cokelat. Abhimanyu di depannya, wajahnya berkerut—nampak sedang menjelaskan sesuatu dan Cedrik tidak terlalu menyukainya. Dia kelihatan kelelahan sekali, Argha nyaris menghampiri mereka dan meminta Abhimanyu membicarakan apa pun itu yang sedang dikatakannya, lain kali saja.

Tapi sekali lagi. Itu bukan urusan Argha. Maka dia beranjak menjauh, memaksa dirinya agar menatap ke depan dan tidak menoleh lagi. Jika mereka menaikkan suara, mungkin itulah saat Argha ikut campur karena bagaimana pun ini dapur Argha. Tidak peduli setinggi apa jabatan Cedrik di perusahaan ini, wilayah Argha adalah milik Argha.

“Chef,”

Argha mengerjap dan menoleh, menemukan Diadari berdiri di sisinya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Dia berdeham, mengulaskan senyuman. Hubungannya dengan Diadari berakhir begitu saja, seperti biasanya. Dia berhenti menghubungi Diadari dan memperlakukannya dengan sopan; menjaga jarak. Gadis pintar, pasti menangkap maksud dari tindakannya.

“Untuk reservasi grup malam ini, semuanya sudah siap. Protein sudah disiapkan Butcher.” Diadari menatapnya, mempertahankan ekspresi tenangnya yang dihargai Argha.

“Trims, Diadari. Saya akan cek sekarang.” Dia hendak beranjak mengecek pekerjaan anak buahnya ketika dia kembali berhenti dan menoleh sekali lagi ke Pastry. “Tolong jika terjadi sesuatu di Pastry, panggil saya.”

Diadari mengerjap lalu menoleh ke Pastry dengan heran. “Oh, Chef Cedrik di sini.” Katanya ketika melihat Cedrik, seragamnya gelap jadi semua orang langsung tahu itu adalah orang Le Paradis dan hanya ada dua juru masak yang bebas berkeliaran di Le Gourmet: Arsa atau Cedrik. Jadi tidak sulit menebaknya.

Lalu Diadari kembali menatap Argha. “Tidak akan terjadi apa-apa, Chef.” Tambahnya sedikit kebingungan. Nampak tidak memahami kekhawatiran Argha mengenai keributan di Pastry sementara ada Cedrik di sana.

Argha menghela napas, mengangguk. Mungkin semua orang tahu Cedrik sebagai lelaki lembut yang tenang—Argha setuju. Dia tidak menyebutkan masalah akan datang dari Cedrik. Abhimanyu-lah yang dikhawatirkannya. Dia mendorong pintu ke arah Butcher yang dingin, meninggalkan Diadari tanpa bicara lagi.

“Halo.” Sapanya pada tim Butcher yang terdiri atas dua orang.

Ruangan itu beraroma amis darah tipis dan dengung AC sentral yang membuatnya lebih dingin dari ruangan lainnya di dapur agar protein mereka tidak rusak. Para commis yang berada di dalamnya menggunakan masker dan apron dari silikon untuk menghalau percikan darah ketika bekerja. Ada walk in chiller di sudut ruangan, di mana semua daging disimpan.

Di meja sekarang ada protein-protein yang akan digunakan hari ini. Sudah dibumbui tipis sehingga commis yang bertugas di section Protein bisa langsung memprosesnya. Argha membersit kecil, tidak terlalu menyukai Butcher dan selalu kagum bagaimana orang Butcher betah dengan aroma ini setiap harinya.

These are fresh, right?” Tanyanya menghampiri protein mentah di atas meja dan menyentuhnya dengan tangan—merasakan tekstur dan suhunya.

Yes, Chef. Delivered this dawn from our usual.” Sahut CDP-nya mengangguk seraya melepaskan sarung tangan lateksnya yang sudah penuh noda.

Argha mengangguk, tidak betah berlama-lama di Butcher dan bergegas keluar dari sana. Melirik sekali lagi ke Pastry dan menghela napas, mungkin dia hanya membayangkan hal yang tidak-tidak. Cedrik dan Abhimanyu akan baik-baik saja. Mereka berdua orang dewasa—walaupun Abhimanyu tidak, tapi Cedrik tahu caranya mengontrol emosi Abhimanyu dan menenangkannya.

Jadi Argha sama sekali tidak dibutuhkan. Dia menghela napas, pergi ke ruangannya untuk mengecek laporan yang harus diserahkannya ke Kinan sebelum servis dimulai. Berusaha mendorong interaksi Cedrik ke belakang kepalanya. Dia tidak perlu memikirkan mereka sama sekali.

Argha menyalakan iMac-nya dan menunggu program berjalan sempurna sebelum membuka sistem Le Gourmet yang terkoneksi pada komputer Kinan dan Arsa; menemukan sudah ada notulen rapat dari pertemuan mereka tadi dikirimkan oleh asisten Kinan. Argha membukanya, mencari pengingat hal-hal yang harus dikerjakannya.

Cedrik dan Abhimanyu akan baik-baik saja.


“Aku sungguh—”

Abhimanyu berjengit sedikit mendengar nada suara Cedrik yang sedikit meninggi dan menatapnya dengan alis berkerut—wajahnya mengerut. Cedrik nampak sakit; kelelahan dan kebingungan. Pandangan matanya sedikit liar dan kantung matanya gelap sekali. Kulit Cedrik seputih susu, sedikit warna lain akan sangat menyala di sana.

Cedrik menghela napas, berhenti bicara dan memijat pelipisnya. “Abhim, aku sungguh tidak mau membicarakan ini sekarang, oke?” Bisiknya berusaha menahan suaranya agar tidak meninggi.

Abhimanyu ikut menarik napas. Tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka sekarang. Hubungan mereka nampak baik-baik saja, namun tidak terasa baik-baik saja. Abhimanyu merasakan jarak di antara mereka, meskipun Cedrik masih suka memanggilnya dengan nama kecil, jarak itu ada. Seolah Cedrik sedang menarik dirinya dari Abhimanyu.

Dan itu membuatnya takut.

Tidak peduli seberapa besarnya dia menginginkan orang lain, dia tetap membutuhkan Cedrik. Tidak mau membayangkan bagaimana hidupnya jika Cedrik juga hengkang dari sana. Siapa yang akan menjaganya tetap utuh? Siapa yang akan memastikannya tidak tenggelam dan mati tercekik emosinya sendiri?

Dia mengulurkan tangan, meraih ujung lengan panjang seragam Cedrik dengan dua jarinya. “Cedrik,” bisiknya—merasakan ketakutan menjalar di tubuhnya, membuatnya bergidik.

“Tidak.” Sela Cedrik lembut, mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Abhimanyu—sedikit menariknya tersembunyi dari pandangan anak Pastry dan Main Kitchen. Dia meremasnya hangat, menenangkan Abhimanyu. “Kita akan membicarakan ini nanti, oke? Kita sedang bekerja.” Dia mengusap tangan Abhimanyu dengan kedua tangannya.

“Tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu.” Tambahnya dan Abhimanyu menghela napas, mau tidak mau diam karena Cedrik nampak sama sekali tidak ingin diganggu.

Abhimanyu kemudian keluar dari Pastry dengan perasaan hampa yang aneh. Cedrik meyakinkannya bahwa mereka baik-baik saja, tidak ada yang terjadi. Namun perasaan Abhimanyu tetap tidak nyaman. Ada yang terjadi di antara mereka dan dia menyadari bahwa dia juga belakangan ini menyembunyikan sesuatu dari Cedrik.

Dia mengusap wajahnya. Cedrik tahu jika dia berbohong...? Tahu tentang percikan api yang dimulainya dengan Argha? Dan dia marah atas itu? Tersinggung, terluka, terkhianati...?

Abhimanyu meremas tangannya sendiri, gelisah ketika melangkah ke Main Kitchen untuk mempersiapkan servis. Argha tidak ada di dapur ketika dia keluar dan dia menoleh ke ruangannya, menemukan chef senior itu sedang menatap layar komputernya dengan serius. Maka Abhimanyu beranjak. Tidak ada yang bisa dicek lagi sekarang semua sudah siap untuk prep, dia pergi ke EDR untuk membuat teh hangat.

Dia kembali ke dapur beberapa menit sebelum servis dan beberapa tamu sudah mulai datang—menduduki meja mereka dan memesan wine seraya menunggu servis dimulai. Abhimanyu mendorong pintu dapur, menemukan Argha sudah siap di depan dapur untuk memimpin timnya menyelesaikan servis hari ini.

“Chef.” Abhimanyu mengangguk padanya, tidak menemukan semangat untuk menyelesaikan servis ini namun dia bekerja di bidang hospitality. Emosi dan masalah pribadinya tidak memiliki ruang ketika dia bekerja karena tamu tidak akan peduli bagaimana keadaan atau problematika hidupnya. Mereka hanya peduli tentang layanan Abhimanyu untuk mereka.

Argha mendongak, membuka mulut hendak mengatakan sesuatu yang serius dengan program Gourmet menyala di tablet mereka ketika wajahnya berubah sedikit. “Are you alright?” Tanyanya.

Abhimanyu menghela napas. Suara Argha begitu menenangkan; berat, lembut, hangat, dan membuatnya mendadak ingin bersandar padanya. Menumpukan keningnya di bahu Argha dan ditenangkan. Namun jika teringat urusannya yang belum selesai dengan Cedrik, Abhimanyu menahan dirinya.

Jika dia tidak mau menyakiti Cedrik, maka dia sebaiknya menjaga jarak dari Argha.

“Ya, Chef. Tidak perlu khawatir.” Sahutnya, berusaha terdengar tegar dan baik-baik saja walaupun di telinganya sendiri pun suaranya gemetar.

Argha bukan orang bodoh, dia menangkap itu. Matanya mengamati wajah Abhimanyu, mencari-cari emosi di dalamnya. Mereka berpandangan, dua menit yang terasa selamanya ketika mata gelap Argha mengunci pandangannya. Ada emosi yang bergerak di sana; redup sekali seperti api yang nyaris mati, namun kilaunya masih sempat tertangkap Abhimanyu.

Dia khawatir.

Namun dia tidak mendesak Abhimanyu. Argha mengangguk dan kembali menatap tablet-nya; sesuatu yang disyukuri Abhimanyu karena jika seseorang bertanya atau mendesaknya sekarang dia mungkin akan menangis karena perasaan berat yang menggelayuti dadanya sekarang.

About this....” Dia membalik tablet di meja dan memperlihatkan maksudnya pada Abhimanyu yang menghela napas senang; mengalihkan pikirannya dari masalah dengan Cedrik.

Pemuda itu masih di Le Gourmet, dia akan mengawasi servis malam ini sekaligus mengawasi pembuatan base untuk semua Pastry mereka. Menurut Argha, Kinan mengungkapkan akan membuka Gourmet untuk Bakery atau Breakfast pada pukul delapan hingga sepuluh pagi untuk menambah fungsi Pastry pada pertemuan tadi. Arsa setuju pada ide itu dan meminta Cedrik untuk mempersiapkan Pastry Team Le Gourmet. Menu sudah diberikan tadi dan Argha menenangkan mereka bahwa semuanya murni urusan Pastry dan Bar sehingga Main Kitchen bisa fokus pada prep dinner seperti biasa.

Apakah itu yang membuat Cedrik tertekan? Pikir Abhimanyu seraya mendengarkan Argha yang sedang melakukan briefing sebelum servis—membagi tim dan memastikan mereka semua mengenakan pakaian dengan benar.

Cedrik berdiri di sisi Argha yang lain, mendengarkan dengan sedikit melamun ketika Argha membagikan hasil pertemuan tadi yang berhubungan dengan Le Gourmet. Abhimanyu meliriknya, tidak yakin apakah dia harus mengajaknya bicara atau memberikannya ruang dan waktu.

“Tidak, Chef. Terima kasih.” Kata Cedrik ketika Argha menawarkan waktu baginya mengatakan sesuatu untuk tim. “Saya di sini hanya untuk tim Pastry.” Dia mengulaskan senyumannya yang biasa, mengangguk pada Argha sebelum kembali menatap ke depan dengan kedua tangan di belakang punggungnya.

Dia nampak rapi. Tinggi dan seputih vampir, topinya berdiri tegak dan kencang. Tidak ada sedikit pun rambut yang lolos dari penutup kepalanya, wajahnya bersih dan licin dari rambut halus. Seragam Le Paradis berlengan panjangnya menyembunyikan semua tatonya dengan sempurna, beraroma lembut cokelat hitam.

“Saya akan melampirkan CC pada Anda di surel saya ke Arsa besok pagi mengenai kesiapan Pastry untuk sesi Breakfast.” Tambahnya dan Argha mengangguk.

Setelahnya, mereka kembali ke section masing-masing dan Argha menoleh ke Hadrian yang menunggu di pintu. Argha mengangguk pada Hadrian yang tersenyum, menarik ujung lengan panjang jas hitamnya.

“Hadrian,” katanya lembut, namun tegas. “Ouvrez Le Gourmet, s'il vous plaît.” Please open Le Gourmet. Dia menyemprotkan antiseptik ke tangannya dan menegakkan kepalanya.

Compris, Chef.” Understood, Chef. Hadrian mengangguk dan meluncur keluar dari dapur untuk memulai servis.

Abhimanyu menarik napas. Ada sesuatu dari cara Argha untuk memulai servis yang berbeda dengan Arsa. Juru masak bintang Michelin itu tidak pernah mengatakan hal semacam Argha pada Raditya untuk memulai servis. Dia hanya mengangguk, menggulung sedikit lengan panjang seragamnya, seperti seorang matador yang siap menghadapi banteng yang dilepaskan ke arahnya. Dan Raditya sudah paham apa yang diinginkannya.

Argha memulai servis dengan sangat tenang. Nyaris cantik dengan bahasa Prancis-nya yang mendayu-dayu. Seperti seseorang yang akan menerima berkat dari surga lalu menyemprot antiseptik ke tangannya dan menegakkan kepala; siap untuk bekerja.

Tidak butuh waktu lama hingga tablet berdenting dan pesanan pertama masuk ke dapur. Argha menyentuh layar dan membiarkan pesan itu terbuka untuk membaca pesanannya.

Première entrée!” First entre! Serunya pada timnya yang seketika menegakkan kepalanya, Abhimanyu berdiri di sisinya menghadap ke tim mereka; siap berkeliling untuk mengecek dan membantu semua commis mereka.

Argha menarik napas. “Du tableau cinq! Entrée, deux Le Foie Gras Poelé! Un Le Porc et un L'Agneau! How long?!” Tambahnya, menoleh ke timnya. For table 5. Appetizer, two Le Foie Gras Poelé! One Le Porc and one L'Agneau!

10 minutes for appetizer, Chef!” Balas commis yang bertugas di section Protein bergegas meraih pan untuk mengerjakan makanan mereka. Serentak terdengar suara semua orang mulai bekerja; dentang wajan, suara api yang mendengung keras, dan suasana dapur yang mulai memanas.

OK, appetizer in ten minutes! Heard?!” Seru Argha lagi dan semua serentak menjawab, yes, Chef! dengan tegas.

Setelahnya, Abhimanyu tidak lagi memikirkan tentang Cedrik karena dia sibuk membantu commis dan mengecek self-hygiene mereka ketika bekerja. Menjauhkan tangan dari wajan, mengecek konsistensi saus, kematangan protein sebelum diserahkan ke Argha, bahkan mengecek apakah ada rambut yang mungkin menyelip di sana. Mereka sudah belajar dengan keras dari kejadian beberapa minggu lalu. Abhimanyu tidak lagi mau meletakkan Argha di posisi itu.

Mendengarkan cerita tentang kehidupannya yang berpindah-pindah, membuat Abhimanyu sedikit simpati padanya. Bagaimana rasanya ditinggal orang tua di masa remaja dan kemudian mendapati dia sendirian di dunia ini karena keluarga orang tuanya tidak mau menerimanya? Harus langsung meniti karier karena jika tidak, Argha akan berakhir di jalanan—kelaparan. Walaupun dia memiliki orang tua yang cukup berada hingga bisa dibiayai kuliah di Le Cordon Bleu Paris, hidupnya jungkir balik sebelum dia siap untuk mandiri.

Kisah itu membuatnya sedikit banyak merasakan ikatan dengan atasannya. Merasa dia ingin membantu Argha, menjadi tim yang solid untuknya. Dan Abhimanyu merasa itu hal yang benar untuk dilakukan.

Abhimanyu kembali ke sisinya ketika servis sudah berjalan setengah, mengerjakan pesanan gastronomi.

“Abhimanyu!” Seru Argha ketika menerima pesanan itu. “This one is for you, Mr. Wizard!” Dan mengedipkan sebelah matanya, mengundang senyuman kecil Abhimanyu.

Kekaguman tulus Argha pada kemampuannya dalam molekular gastronomi terkadang membuat Abhimanyu malu. Dia benar-benar memuji Abhimanyu terang-terangan, menatapnya kagum ketika bekerja dan bertanya-tanya dengan tertarik tentang semua barang di 'laboratorium'-nya—jika menurut Argha.

Padahal Arsa bisa mengerjakan hal-hal yang jauh lebih spektakuler seperti makanan penutup andalan Le Paradis, The Kinan yang secara teknik amatlah rumit. Bahkan untuk lulusan molekular gastronomi seperti Abhimanyu. Hanya Arsa dan Cedrik (tertatih-tatih) yang bisa mengerjakannya.

Tapi Argha berdecak, “You are you, Arsa is a whole different thing. Don't think so low about your talent.” Dia menepuk bahu Abhimanyu hangat. “You can be him in three years if you keep on doing what you do now.”

Dan pujian itu membuat Abhimanyu senang.

Dia mengelap tangannya sebelum meraih timbangan digitalnya, mulai menakar serbuk-serbuk kesukaannya. Hatinya membuncah, sejenak melupakan masalahnya dengan Cedrik ketika dia mulai membuat caviar dari jus wortel. Dia menambahkan bubuk agar-agar ke dalam jus wortelnya untuk menambah kepadatan massa cairan itu. Mengaduknya perlahan seraya memanaskannya sedikit sehingga bubuk agar larut di dalamnya. Lalu dengan spuit dia meneteskan cairan itu ke dalam olive oil, membentuk bulatan-bulatan kecil serupa caviar. Mengaduk minyaknya perlahan, mendorong cairan itu menggumpal dan memadat sebelum menyaringnya.

Abhimanyu mengelap piring, menyajikan makanannya di atas sana dan menambahkan buih serta caviar buatannya. Abhimanyu mengelap sisi piring, memastikan tidak ada noda yang tidak sesuai keinginannya. Lalu mengambil penutup makanan dari kaca, dia kemudian menyelipkan slang nitrogen cair dan menyemprotkan sedikit ke dalamnya membentuk kubah asap keperakan. Dia mengakat piring dengan perlahan, mendorongnya ke meja dan menekan bel.

Service, please!” Serunya dan tersenyum pada anak servis yang bergegas meraih piring itu untuk menyajikannya. “Jangan lupa diangkat tutupnya!” Tambahnya persis sebelum anak itu mendorong pintu lorong pendek yang memisahkan keributan dapur dan area makan terbuka.

Yes, Chef!” Balasnya, mendorong pintu terbuka dan menyelipkan dirinya keluar.

Abhimanyu beranjak ke sisi Argha, meraih piring dan mulai membantunya menata makanan. Pesanan terus dibacakan dan makanan terus mengalir dengan flow yang sangat stabil; paling stabil selama Abhimanyu bekerja di dapur Le Gourmet dan dia menyukainya. Dapur mulai terasa seperti Le Paradis, namun sedikit lebih santai.

Dia sedang menunduk dengan pinset, menyeimbangkan sepotong edible flower di atas hati angsa yang beraroma harum menggugah selera ketika Argha mendekatkan kepalanya sedikit ke Abhimanyu.

Does it hurt?”

Abhimanyu mengerjap, mendongak menatap atasannya yang sedang mengerjakan makanan di tangannya. Sama sekali tidak menoleh, namun dari senyuman yang bermain di bibirnya, Abhimanyu tahu dia tadi bertanya.

Excuse me, Chef?” Tanyanya, sedikit kebingungan. Sakit? Memangnya kenapa dia sakit?

Argha mengangguk. Wajahnya kembali serius dan Abhimanyu mengerjap. “Does it hurt falling from the vending machine?”

Hah? “Hah?” Tanya Abhimanyu, sama sekali tidak paham apa yang sedang Argha coba katakan. Pinsetnya berhenti, masih setengah menjepit kelopak bunga pansy kuning rapuh di atas piringnya.

Argha meliriknya, wajahnya serius dan Abhimanyu mengencangkan perutnya. Ada apa ini? Tapi alih-alih menjawab, Argha mengangkat piring yang dikerjakannya dan meletakkannya di atas meja tinggi di hadapan mereka lalu menekan bel.

Service, s'il vous plaît!” Serunya lalu menokeh kembali ke Abhimanyu, mengulaskan senyum bajingannya yang sayangnya, sangat menarik. “Because you look like a whole snack.”

Abhimanyu diam sejenak, memproses kata-kata itu sebelum senyuman kecil terbit di bibirnya dan dia mendengus. “Alright.” Katanya, sedikit berdebar karena tidak yakin atasannya sedang melemparkan pick up lines padanya.

That was a bad one, I know. I'm sorry.” Argha mengedikkan bahu dan Abhimanyu tergelak lembut, mengangkat piringnya lalu meminta anak servis menyajikannya.

Abhimanyu tertawa, meraih piring lain dan mulai menata makanan di atasnya—merasa sedikit kikuk. Tidak yakin bagaimana harus menanggapi Argha yang sedang... berusaha mengajaknya bercanda? Atau... entahlah?

OK. This one would be good.” Argha meraih piring lain dan menerima foie gras yang baru matang. “Garnish for foie gras!” Serunya pada tim sebelum kembali ke Abhimanyu.

You look great,” katanya dan Abhimanyu mendenguskan tawa kecil. “I haven't said anything yet!” Protes Argha dan Abhimanyu tergelak kecil; bingung antara terkena serangan adrenalin karena servis atau karena tidak menyangka Argha akan bersikap menggoda padanya—seperti yang dilakukannya pada semua orang.

You look great on that clothes,” Argha menerima piring terisi garnish, mengucapkan terima kasih pada tim Commisary lalu kembali ke Abhimanyu. “But you know what else you would look great on?”

Abhimanyu tersenyum, tidak menoleh karena sedang menyusun makanan di piringnya. Namun meladeni Argha. “What?” Tanyanya.

Me.” Balas juru masak senior itu dan Abhimanyu menyemburkan tawa keras yang tertahan, suaranya menggema keras di dapur—tidak sempat ditahannya. Sejenak membuat semua orang berhenti bekerja dan menoleh.

“Maaf!” Seru Abhimanyu, gemetar menahan tawa dan tidak menoleh pada timnya. “Kembali bekerja!”

Argha mengulum senyuman sambil menunduk mengerjakan pesanannya. Ini terasa menyenangkan; bercanda ketika servis namun tetap fokus, memiliki ikatan yang baik dengan atasannya sehingga mereka bisa memperkuat kerja sama mereka. Kenapa Abhimanyu tidak melakukannya sejak dulu?

Yeah, yeah!” Abhimanyu tergelak tanpa suara, mengangguk seraya mengangkat piringnya dan meletakkannya di meja. Menekan bel, memanggil anak servis sebelum menjawab Argha. “That was good.”

Apa pun alasan Argha melakukannya, Abhimanyu senang. Dia baru saja membuat suasana hati Abhimanyu membaik dan melupakan rasa berat di hatinya karena pertengkarannya dengan Cedrik.

I know it.” Argha tersenyum superior, menyelesaikan pesanannya dan mengangkatnnya ke meja. “Service, please!” Serunya setelah memukul bel di meja dan anak servis bergegas menyambar piringnya, nyaris terpeleset. “Careful, Pretty.” Tambah Argha dan anak servis itu meringis seraya berterima kasih.

Abhimanyu berdeham. “Are you a piece of bread, Chef?” Tanyanya ketika menerima protein untuk pesanan selanjutnya. Dia mengecek layar tablet sejenak untuk memastikan pesanan sesuai lalu kembali ke Argha yang mendengus sebagai jawaban.

Maka Abhimanyu melanjutkan, “Because I want to put some meat between those buns.” Tandasnya dan Argha mengeluarkan suara tercekik keras ketika tidak sengaja menjatuhkan piring stainless yang terisi beef tartare untuk pesanan mereka.

Abhimanyu menyemburkan tawa rendah; bahunya terguncang dan dia harus mencengkeram pinggiran meja agar tidak terjatuh, terhibur karena Argha yang panik menerima balasan pick up lines-nya. Argha mendelik padanya dan Abhimanyu mengatupkan bibirnya, menggertakkan gigi agar tidak terbahak-bahak melihat ekspresi sepat Argha karena makanan sekarang berhamburan di kakinya. Namun Abhimanyu melihat kilau tawa di matanya.

Please new batch of beef tartare, I dropped that shit!” Serunya pada bagian protein dan commis bergegas membuatkan yang baru. “That was great, you fucker!” Desisnya pada Abhimanyu yang terkekeh di atas makanannya.

I didn't said I was a nice man.” Tambahnya, menoleh dan mengedip pada Argha yang mengerang, namun tak ayal tersenyum lebar.

“I didn't say you are, tho.” Balasnya dan Abhimanyu tersenyum lebar.


ps. ehe :p


Argha menatap layar ponselnya sendiri dengan perasaan campur aduk. Pada akhirnya, sisi dirinya yang egois menang.

Dia seharusnya menjaga jarak dari Abhimanyu, bukannya menarik lelaki itu semakin dekat dengan dirinya. Namun memikirkan hubungannya dengan Cedrik yang adalah refleksi sempurna hubungannya dengan Yukio, Argha memiliki firasat bahwa Abhimanyu mungkin sedang mengasihani dirinya sendiri. Kecewa karena telah mengkhianati Cedrik—apalagi posisinya bukan Cedrik yang memaksa Abhimanyu untuk melampiaskan gairahnya pada orang lain.

Argha mempertimbangkan banyak hal hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghibur anak itu sedikit. Dia masih sangat muda dan naif, meledak-ledak. Pasti kesulitan untuk menyelesaikan konflik dengan dirinya sendiri mengenai keinginan seksualnya. Maka dia memutuskan untuk berkeliling sedikit, mencari tempat makan yang nampak hangat dan tidak mengintimidasi lalu mengundang Abhimanyu.

Restoran ramen yang ditemukannya ini memiliki suasana Jepang yang lumayan menyenangkan. Begitu memasukinya, Argha mencium aroma kuah wijen autentik yang membuatnya seketika tersenyum. Seseorang bahkan menyerukan “いらっしゃいませ!” dari kejauhan untuk menyambut Argha yang memasuki restoran mereka, sedikit membungkuk.

Ada show kitchen di sana, dengan kursi-kursi yang dijajarkan di depannya. Mejanya dari kayu, dengan hiasan persis yang selalu ditemukan Argha di Jepang. Membuatnya merasa baru saja pulang ke negara asal paspornya ketika memasukinya. Tamu yang datang lumayan banyak, didominasi oleh lokal yang sedang mengobrol di antara makanan mereka.

Dia mengambil kursi di depan show kitchen, membuat dirinya merasa sangat Jepang dengan duduk menonton juru masak menyiapkan makanannya. Tidak yakin apakah Abhimanyu akan menerima undangannya, maka Argha memesan dua mangkuk—mencoba peruntungannya dengan sedikit memaksa Abhimanyu untuk datang.

Dia tersenyum ketika anak itu setuju untuk datang. Setengah dirinya yang waras tahu ini sesuatu yang salah; Abhimanyu bisa saja salah mengartikan perhatian ini, memperumit hubungan mereka kedepannya walaupun Argha sama sekali tidak membutuhkan apa pun dari Abhimanyu. Masih menolak untuk percaya bahwa dia tertarik pada orang lain selain Yukio.

Argha akan menolak Abhimanyu sebagaimana dia menolak semua orang yang menginginkan apa saja selain hubungan fisik darinya. Dia ahli melakukannya.

“いらっしゃいませ!”

Argha menoleh ke pintu masuk ketika pelayan menyerukan kata sambutan untuk pelanggan dan menghela napas.

Atau... mungkin tidak.

Abhimanyu nampak begitu hangat hari ini, mengenakan cardigan manis berwarna cokelat tanah dengan titik-titik air di rambut ikalnya. Kerah V cardigan itu menukik turun, memperlihatkan kaus polos yang digunakan Abhimanyu sebagai dalaman. Dia nampak sangat menggemaskan, boneka beruang yang harus dipeluk dan disayangi. Selimut yang menjaga tidur siapa saja tetap hangat dan lelap sepanjang malam.

Dia memasuki restoran, mata cokelat karamelnya berkilauan saat dia mencari-cari Argha dan Argha mengangkat tangannya, memberi tanda pada Abhimanyu untuk menghampirinya. Abhimanyu tersenyum, masih sedikit kikuk saat bergegas menghampiri Argha.

“Maaf, Chef. Sedikit macet.” Katanya ketika menarik kursi untuk dirinya sendiri di sisi Argha dan menyelipkan kunci motornya ke saku celana jins gelapnya. Dia lalu menggosok rambutnya sendiri dengan jari, memercik air dari kepalanya. “Saya harap mienya tidak mengembang.”

Argha tergelak. Sedikit kebingungan mengapa jantungnya berdebar sedikit lebih kuat sekarang, menghirup aroma parfum Abhimanyu. Kiehl's Original Musk; bergamot, sedikit bunga jeruk, mawar, dan kenanga lembut. Dia pasti menggunakan parfum dengan cara menyemprotnya ke udara sebelum melangkah melewatinya karena aromanya berasal dari seluruh tubuhnya dan tidak menyengat.

“Tidak, dia baik-baik saja, kok.” Dia mendorong mangkuk ramen di hadapan Abhimanyu mendekat ke arahnya. “Kau ingin antiseptik?” Argha mengeluarkan botol antiseptiknya yang selalu dibawa ke mana-mana dan mengulurkannya ke Abhimanyu.

Anak itu tersenyum, mengangguk dan menarik sedikit lengan cardigan rajutannya ke atas lalu mengulurkan tangan; mempersilakan Argha menyemprotkan sedikit antiseptik ke tangannya. Argha melakukannya, memastikan jumlahnya cukup untuk membersihkan telapak tangannya dari berkendara sebelum makan.

“Apakah di luar hujan deras?” Tanya Argha, menyimpan kembali antiseptiknya ke tas kecil yang dibawanya dan Abhimanyu menggeleng.

“Hanya gerimis kecil, Chef. Jadi saya tidak mengenakan jas hujan.” Katanya, menyugar rambutnya sedikit. “Ini karena saya berlari dari tempat parkir ke pintu masuk. Tidak masalah.”

Argha meraih beberapa lembar tisu dan menyerahkannya pada Abhimanyu. Ada noda-noda gelap di atas sweater-nya, bukti air yang merembes ke serat-serat benangnya dan Abhimanyu menekan tisu ke atasnya sebelum membersit. Dia membenahi duduknya, bersiap makan.

“Ini pertama kalinya saya kemari.” Akunya kemudian saat meraih sumpit dan mengelapnya dengan tisu. Dia menatap makanannya yang sudah mulai hangat-hangat kuku tapi Argha terkesan dengan waktu yang dibutuhkannya untuk tiba di sini.

Dia mengulurkan tangan, menyentuh permukaan mangkuk ramen Abhimanyu dan menyadari dari suhunya bahwa makanan itu masih sangat layak dimakan sebelum kembali ke makanannya sendiri. Sedikit merasa dia baru saja bersikap sedikit terlalu perhatian pada Abhimanyu yang mengamatinya seperti anak menatap ayahnya.

“Kau tiba cukup cepat,” Argha berdeham, mengalihkan fokusnya dengan kembali menyuap makanannya ditemani Abhimanyu yang mulai mengaduk bumbu di bagian atas ramen-nya. “Apakah kosmu dekat?”

Abhimanyu mengangguk. “Hanya beberapa meter dari sini, Chef, tapi macetnya yang membuat saya sedikit lama.” Dia meringis lalu mulai menyuap makanannya—meniupnya sedikit lalu memasukkan sumpit ke mulutnya. “Hm...,” gumamnya ketika mengunyah, nampak menyukai rasa makanannya.

Argha tersenyum. “It tastes amazing, right?” Tanyanya dan Abhimanyu mengangguk—nampak jauh lebih menggemaskan ketika memegang sumpit dan menatap makanannya sambil mengunyah.

Argha selalu yakin bahwa dia lebih tertarik pada lelaki-lelaki indah. Yukio, Sebastien. Mereka yang memiliki daya pesona menawan; dingin, pendiam, misterius. Dan Abhimanyu sama sekali bukan ketiganya; dia seperti matahari musim semi yang hangat, melelehkan semua sisa salju di tanah dan memberikan ruang bagi bebungaan untuk mekar.

Dia juga seperti buku yang terbuka, semua emosinya terpampang jelas di wajahnya. Berkilat di matanya, mengumumkan dengan gamblang pada semua orang. Bahkan mereka yang tidak mengenal Abhimanyu secara personal. Apakah perbedaan krusial itu yang menyebabkan Argha tertarik padanya?

Abhimanyu seperti anjing kecil yang tersesat. Duduk di depan pintu rumah Argha, memohon untuk dipelihara dan Argha tidak tega untuk mengusirnya. Menginginkan anjing itu untuk dirinya sendiri walaupun ada kalung melingkar di lehernya; tanpa bahwa Argha tidak boleh menyentuhnya.

Kekhawatiran Argha tentang kekikukan mereka jika pergi makan berdua ternyata tidak terbukti. Mereka menemukan bahan obrolan ringan yang lancar; membahas restoran, menu-menu yang bisa diimprovisasi, peningkatan mutu dan standar pelayanan, evaluasi dari kasus terakhir tentang rambut di makanan, hingga akhirnya obrolan kecil tentang kehidupan pribadi.

“Wah.” Abhimanyu menggenggam kartu identitas warga negara Jepang Argha yang dikeluarkannya karena anak itu penasaran. Dia mengamati fotonya dan tergelak. “Anda terlihat lebih muda di foto itu, Chef.”

Argha meliriknya tajam dari pinggiran gelas ocha keempatnya dan Abhimanyu tergelak lebih keras, meletakannya kembali di meja lalu mendorongnya ke Argha. “Aku mengurusnya di Embassy of Japan di setiap negara yang kutempati sementara. Sekalian memperpanjang KITAS dan pasporku.” Argha meletakkan gelasnya dan mengembalikan kartu itu ke dompetnya, tersenyum kecil.

“Berarti Chef sudah... tidak pernah pulang ke keluarga di Indonesia?” Tanya Abhimanyu, nadanya ringan. Mereka memang membahas tentang kehidupan personal mereka tapi Argha tidak siap dengan pertanyaan ini.

Dia menarik napas, tersenyum kecil. Tahu Abhimanyu akan menanyakan ini. “Sudah lama sekali. Saya sudah lupa terakhir kali saya menginjakkan kaki di Indonesia.”

Abhimanyu menatapnya, “Apakah... rasanya aneh sekarang? Ketika Anda kembali ke Indonesia? Setelah segala hal yang Anda lakukan untuk menjaga jarak?”

Ekspresi Abhimanyu seketika berubah ketika menyadari Argha membeku sejenak oleh pertanyaannya. Dia berdeham, langsung merasa bersalah; emosi itu meledak di mata karamelnya, berkilat di bawah lampu restoran.

“Ah, maaf.” Bisiknya, merona dan memalingkan wajah. “Saya tidak seharusnya menanyakan hal itu, Chef. Maaf.” Dia menggenggam gelas ocha-nya lebih kuat lagi hingga buku-buku jemarinya memutih.

Argha nyaris bisa merasakan anxiety Abhimanyu terbit, merambat di tubuhnya ketika posisi duduknya berubah. Punggungnya tegak, kaki kanannya bergerak perlahan merespons ledakan adrenalin yang tidak diinginkan itu dan dia mulai membawa ibu jarinya ke bibir—menggigitinya, tanpa disadari.

“Tidak apa-apa.” Gumam Argha, menenangkan dirinya sendiri dan menjilat bibirnya; sedikit resah. “Sudah lama sekali.” Dia menambahkan senyuman di kalimatnya, berusaha menghibur Abhimanyu; dia hanya bertanya, rasanya tidak adil jika menyalahkannya atau menuduhnya bersikap tidak sensitif pada Argha.

Lagi pula Argha sendiri yang memulai obrolan tentang kehidupan personal dengan bertanya tentang keluarga Abhimanyu, tentang Khrisna dan mendengarkan bagaimana dia menjelaskan hubungannya dengan kakaknya serta ayahnya. Jadi, bukankah pertanyaan tentang keluarga Argha hal yang normal?

“Orang tua saya sudah meninggal, ketika saya masih menempuh pendidikan di Le Cordon Bleu Paris.” Tambahnya, menatap ocha di dalam gelasnya—sedikit teringat hari di mana dia tergopoh-gopoh, berlari di Charles de Gaulle untuk mengejar penerbangan langsung ke Indonesia pertama yang bisa ditemukannya.

Dia masih begitu muda, begitu naif dan ambisius mengenai kariernya. Pulang ke Indonesia, menemukan kedua orang tuanya sudah dimasukkan ke dalam peti jenazah dan keluarga besarnya tidak membuang-buang waktu untuk mulai membicarakan pembagian harta peninggalan ayahnya. Argha sama sekali tidak mendengarkan, dia hanya menatap kedua orang tuanya. Terluka dan terkhianati karena mereka memutuskan untuk pergi tanpa Argha, meninggalkannya sendirian.

Ayahnya sudah mengatur pengiriman uang otomatis setiap bulannya untuk Argha selama dia bersekolah di Paris agar uang kuliahnya tidak terlambat di bank di mana asuransi kesehatan Argha juga dibayarkan. Terlepas dari segalanya, ayahnyalah yang memintanya bersekolah ke Le Cordon Bleu. Dia sangat mendukung ketertarikan Argha pada dunia kuliner, memastikan anaknya menempuh pendidikan di sekolah terbaik di dunia.

Mungkin itulah yang Argha syukuri hingga sekarang; fakta dia berasal dari keluarga kaya sehingga dia bisa mendapat pendidikan terbaik, hidup layak di Paris, dan meniti karirnya sendiri.

Kiriman uang itu berhenti ketika Argha menyelesaikan pendidikannya di Le Cordon Bleu, mendapatkan gelar bachelor of Superior French Cuisine and Pastry setelah menempuh dua intership di Paris. Lalu memulai kariernya secepat mungkin karena dia tidak akan bisa makan jika terus mengandalkan kiriman uang.

Dia tidak lagi merespons semua panggilan atau pesan dari Indonesia setelahnya, mengganti nomornya dan melemparnya ke Seine. Meminta maaf pada orang tuanya ketika dia memutuskan segala ikatannya dengan keluarga Indonesia-nya. Terlanjur sakit hati karena di hari pemakaman keduanya, mereka sibuk merongrong Argha dengan warisan. Juga memutuskan untuk melupakan orang tuanya hari itu, melepaskan segala identitas lamanya kecuali nama karena sudah tercatat di semua dokumen legal.

“Hidup saya rumit.” Dia terkekeh dan Abhimanyu menatapnya, menunggunya bicara. “Paris, Jepang. Lalu Dubai, Maladewa. Dan sekarang malah kembali ke Indonesia.” Dia menatap ocha-nya, mau tidak mau sedikit cemas jika dia tidak sengaja bertemu keluarga Indonesia-nya di sini.

Apakah mereka masih mengingat wajah Argha setelah bertahun-tahun? Argha bahkan ragu dia masih mengingat wajah mereka atau yakin mereka semua—setidaknya yang mengenal Argha, sudah meninggal setidaknya sepuluh tahun lalu.

“Anda berusaha kabur dari masa lalu...?” Tanya Abhimanyu kemudian setelah mereka diam sejenak dan Argha tersenyum.

“Ya, begitulah.” Dia kemudian menoleh, menatap Abhimanyu dan tersenyum. “But here I am, coming back to the very place that destroyed me.”

“Saya kembali ke Indonesia hanya karena Arsa.” Tambah Argha tersenyum kecil, berusaha menenangkan dirinya setelah memikirkan masa lalu yang dia pikir sudah dilupakannya. “Tidak ingin melepaskan kesempatan untuk bekerja bersama Michelin star chef walaupun itu berarti saya harus kembali ke negara ini.”

Abhimanyu tersenyum kecil, mengangguk paham. “Terlepas dari kondisi keluarga saya sendiri,” katanya perlahan dan dengan telunjuk, dia menyusuri tepian gelas ocha-nya seraya melamun.

Gerakan jarinya membuat Argha bergidik, membayangkan jemari itu di tempat lain. Di tubuhnya. Membelai Argha dengan lembut dan menyenangkannya, membisikkan pada Argha betapa puasnya dia bercinta dengan Argha.

“Saya juga kembali karena tawaran bekerja dari Chef Arsa.” Dia menoleh dan tersenyum lebar.

Argha mengerjap, kembali ke masa sekarang dan membalas senyumannya. Anak manis, Abhimanyu ini. Menyukainya dari kesan pertama bertemu bukanlah hal yang mustahil. Dia nampak sangat menyenangkan, menenangkan, hangat, menggemaskan; namun detik dia membuka diri, orang-orang mungkin akan berbalik mencari jalan keluar dari sana.

“Kau memulai di dapur profesional di usia yang sangat muda.” Argha mengangguk setuju. “Di usiamu bergabung dengan Arsa, saya baru memulai karier saya sebagai commis—itu pun karena rekomendasi bagus dari tempat magang saya dan Le Cordon Bleu.”

Abhimanyu menatapnya, sejenak ragu sebelum tersenyum kecil. “Itulah mengapa...,” dia berdeham. “Saya punya gangguan kecemasan.” Dia menolak menatap Argha ketika melanjutkan. “Saya tidak menyalahkan Chef Arsa sama sekali, dia berhak memiliki ekspektasi.

“Dan saya paham setinggi apa posisi pertama saya di dapur profesional, persis di bawah juru masak sekelas Michelin. Itu membuat saya merasa selalu terancam, selalu berada di ujung tanduk; takut melakukan kesalahan. Mengecewakan Chef Arsa yang sudah memberikan kesempatan begitu besar untuk saya.” Dia menatap gelasnya seolah jika dia memalingkan pandangannya, gelas itu akan tumbuh menjadi monster.

Argha diam, menunggu Abhimanyu melampiaskan segala isi hatinya mengenai posisinya. Krannya sudah terbuka, Argha tidak ingin menutupnya. Dia ingin mendengarkannya, ingin memahami bagaimana second layer-nya ingin diperlakukan agar kerja sama tim mereka bisa terjalin.

“Di masa awal saya bergabung, bobot tubuh saya turun drastis.” Abhimanyu tersenyum, nampak menerawang. Mungkin kembali ke masa itu, mengingat perjuangannya. “Tidak ingin makan karena saya lebih membutuhkan tidur daripada makanan kala itu. Kebingungan, tidak tahu apa yang harus saya lakukan bersama Chef Arsa yang begitu cepat dan tertata. Saya takut tidak bisa melakukan tugas saya dengan baik.”

Argha mengangguk. Dia sudah pernah melihat cara kerja Arsa ketika dia datang ke Le Paradis untuk melakukan tes memasak. Dia begitu mengerikan di dapur; dengan tubuh kurusnya mengguncangkan dapur. Disiplin yang diterapkannya pada semua commis-nya mengerikan. Mereka semua bekerja dengan diam dan fokus, Argha bahkan yakin Arsa mungkin menyuntik mereka dengan sesuatu hingga mereka tidak ingin menggaruk tubuh mereka ketika bekerja.

Tim Arsa adalah tim dapur paling tenang, fokus, disiplin, dan efisien yang pernah Argha lihat. Arsa memimpinnya dengan sangat berkharisma, tidak peduli bahwa dia bertubuh kurus dengan pitak mengganggu di kepalanya dan wajah sembelit sepanjang waktu; dia mengisi ruangan dengan auranya. Membuat siapa saja seketika segan padanya.

Tidak banyak juru masak yang memiliki pembawaan itu. Dan Argha paham sekali bagaimana Abhimanyu yang masih sangat muda, harus bertemu dengan singa buas seperti Arsa. Bahkan Argha sendiri butuh waktu untuk menyamai ritmenya dengan Arsa—padahal dia bekerja di dunia ini jauh lebih lama dari Arsa.

“Tapi saya juga ingin membuktikan bahwa saya layak di posisi itu.” Abhimanyu menghela napas dan meringis, dia nampak manis saat melakukannya ketika melanjutkan lagi. Argha tersenyum kecil, menyemangatinya untuk melanjutkan.

“Saya berusaha mengejar ketertinggalan saya, terus menekan diri saya agar bergerak dan melampaui kemampuan saya. Hingga akhirnya beliau mempercayakan Le Gourmet di tangan saya.” Dia kemudian nampak sedikit murung. “Tapi saya malah mengacaukan restoran itu.” Abhimanyu mendesah dan menoleh pada Argha yang mengangkat alisnya ketika mata mereka bertemu.

“Jadi, yah.” Dia menggaruk pelipisnya. Merona tipis dan Argha ingin sekali mengecup rona itu, mengusapnya sayang dan memeluk Abhimanyu. Meyakinkannya bahwa dia sudah melakukan yang terbaik yang dia mampu.

“Saya bersyukur Anda datang untuk membantu saya, Chef. Terima kasih.”

Argha terenyak. Tidak menyangka hari ini akhirnya tiba.

Dia akhirnya mendengar Abhimanyu mengaku kalah, melepaskan segala gengsi dan bencinya pada Argha untuk mengalah dan menyadari bahwa dia membutuhkan bantuan. Bahwa dia membutuhkan bimbingan Argha. Dan tidak lagi membenci Argha karena telah merebut posisi head chef yang diinginkannya. Itu seketika menghapus garis tebal di antara mereka, membuat Argha merasa diterima oleh Abhimanyu.

Mereka akan bekerja dengan jauh lebih baik lagi ke depannya. Entah apa yang dirasakan Argha mengenai kenyataan itu.

“Are we friend, Chef?”

“I don't know, Abhim. You tell me?”

“I think yes.”

Argha tersenyum. “Saya senang bisa membantu.” Katanya dan Abhimanyu seketika membalas senyumannya; anak manis. “Kita akan membuktikan pada Arsa bahwa kita mampu membawa Le Gourmet ke bintang Michelin Arsa selanjutnya.” Dia mengulurkan tangan dan Abhimanyu tergelak.

Agree?”

Abhimanyu menyambut jabatan tangannya; menggenggam tangan Argha dengan kuat dan hangat hingga rasa itu berdenyar ke seluruh tubuh Argha. Dia tersenyum lebar hingga matanya membentuk sepasang bulan sabit menggemaskan dan menunjukkan lesung pipi samar di pipi atasnya.

“Setuju, Chef.”

Argha mengangkat gelas ocha-nya. “For another Michelin star?”

Abhimanyu tergelak, mengangkat gelasnya sendiri lalu menyentuhkannya pada gelas Argha. “For another Michelin star.”

Di luar hujan mulai deras, terdengar gemuruh dari dalam restoran. Para tamu di sekitar mereka juga nampak semakin betah karena ingin berteduh dan menghangatkan diri. Ocha mereka sudah mulai dingin dan habis, menemani obrolan mereka tentang hal-hal sederhana. Tentang hobi, tentang karier, tentang hal-hal kesukaan.

Namun Argha merasa dirinya hangat—sangat hangat, ketika menatap Abhimanyu yang tertawa.


ps. ehe :3 niatnya nambahin cenik tapi aku lelah jadi kapan2 aja yaacchh

isinya gabhim, tapi yagitu deh baca sendiri aja hehe careful. ini pedes :(


Argha menghela napas panjang, bersandar semakin dalam di bathtub luar ruangannya dan menjauhkan ponsel dari pandangannya.

Dia baru kembali dari rumah Sebastien dan memutuskan untuk mandi di dalam bak berendam dengan bath bomb. Air di sekitarnya sekarang penuh busa yang lembut berwarna merah jambu tipis dengan aroma harum yang menyenangkan. Di lantai, dia meletakkan sepiring cheese platter, sebotol anggur merah dan gelasnya; ingin menikmati waktu sendiriannya sebaik mungkin.

Dia menyandarkan kepalanya di tepian bathtub, memejamkan mata. Berusaha membuat kepalanya rileks. Meletakkan ponselnya menjauh, tidak lagi ingin membaca pesan apa pun yang Hikaru kirimkan padanya. Di sekitarnya, angin berdesir lembut, memecah permukaan air kolamnya menjadi ombak-ombak kecil dan gemeresak dedaunan dari pohon tinggi milik tetangga belakangnya yang melewati dinding mereka.

Pemilik vila sudah menawarkan diri untuk membantu Argha memangkasnya agar daunnya yang rontok tidak mengotori kolam renang, tapi Argha menolaknya. Alih-alih, memberikan bayaran ekstra untuk pengurus vila membereskan kolamnya yang kotor.

Dia suka pohon itu. Bougenvil besar berwarna merah pekat, bunganya membuat Argha merasa lebih baik. Juga memberikannya keteduhan tiap memutuskan untuk berendam. Dia senang menemukan daun-daun kering di atas lantai pualam vilanya; membuat rumah itu nampak hidup dan hangat. Suara daunnya yang gemerisik membuatnya tenang.

Vila itu dilengkapi dengan boks mandi rain shower, persis di depan bathtub. Dia menggunakannya hanya jika ingin membasuh diri setelah berenang atau pulang terlalu malam. Lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah Sebastien yang sekarang terasa seperti rumahnya sendiri.

Sebastien sudah menawarinya untuk tinggal di rumahnya saja. Memberikannya lantai dua untuk dirinya sendiri sebagai privasi tapi Argha menolaknya. Tidak ada yang terasa lebih nyaman selain pulang ke tempat di mana segalanya beraroma seperti dirinya.

Argha menaikkan kakinya ke pinggiran bathtub, menyilangkannya dan kedua tangannya terjulur ke luar bathtub, menggantung. Posisi yang membuatnya merasa nyaman sementara di atasnya atap alami dari daun bougenvil menyaring sinar matahari sehingga tidak menyengat wajahnya. Jauh dari hingar-bingar jalanan Seminyak, sepi dan menenangkan.

Ada perasaan malu yang sekarang bercokol di hatinya. Selama dia berhubungan dengan Yukio, memiliki ONS bukanlah masalah baru dalam hubungan mereka. Malah itu semua ide dari Yukio untuk Argha, jadi dia tidak pernah merasa sebersalah ini pada Yukio hanya karena... sexting.

Argha mendesah keras, mengusap wajahnya dengan tangannya dan menutup matanya dengan lengan. Air beriak ketika dia bergerak. Tubuh atasnya terpapar udara, tidak pernah merasa risih berkeliaran dengan tubuh telanjang di sini karena dinding vilanya begitu tinggi dan dia sudah mengunci pintu depan. Tidak ada yang tahu kediamannya selain pemilik vila yang tidak akan datang tanpa menghubunginya terlebih dahulu.

Singkat kata: privasinya sangat terjaga.

I have never seen you being this hard before,” Sebastien tergelak tanpa suara, mengusap tubuh Argha persis setelah dia mengakhiri panggilannya dengan Abhimanyu. Terengah karena sangat menginginkan Abhimanyu namun terhalang prinsipnya sendiri.

He was that good, eh?” Sebastien mengecup perutnya yang telanjang dan Argha mendesis—merasa sangat bergairah dan tidak tahu cara menyelesaikannya. “Who knows a virgin could do this to you.”

Argha tidak menjawab karena dia juga tidak menyangka betapa kotornya Abhimanyu dengan mulutnya. Di balik penampilannya yang menggemaskan, rambut ikal kecokelatan, mata seperti karamel meleleh, dia ternyata binatang. Paham mengapa dia dan Cedrik tidak bisa memiliki hubungan.

Tangannya terulur ke gelas wine di lantai dan meraihnya, menyesapnya perlahan sambil menatap langit biru yang mulai beranjak. Dia akan bermalas-malasan hari ini, sendirian dengan membaca buku atau menonton sesuatu. Sudah cukup kemarin dihabiskannya bertemu begitu banyak orang. Ingin mengasihani dirinya sendiri lebih tepatnya.

Dia berbaring di ranjang Sebastien dengan lelaki itu mendengkur lembut di sisinya, menatap langit-langit kamar semalam. Merasakan rasa bersalah bertahun-tahun lalu menyeruak di dadanya. Rasa bersalah yang persis sama dengan yang dirasakannya ketika pulang ke apartemen mereka kali pertama dia bercinta dengan one night stand dan menemukan Yukio terlelap. Sedikit kebingungan mengapa dia merasakan itu lagi sekarang, setelah bertahun-tahun kebas.

Argha menggoyangkan gelasnya, menatap cairan di dalamnya bergolak membentuk pusaran kecil mengikuti gerakan gelasnya dengan pikiran melanglang buana. Apakah dia sudah tertarik pada Abhimanyu lebih dari perasaan tertariknya pada semua orang?

Apakah rasa tertarik itu... bukan lagi sekadar fisik?

“Carilah seseorang untuk diajak bercinta.” Kata Yukio hari itu dan Argha menoleh, sepenuhnya kaget dan defensif oleh kalimat itu walaupun Yukio mengatakannya nyaris setengah berbisik.

Argha memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam ketika ingatan itu muncul ke permukaan; seperti film rusak yang dipaksa untuk ditayangkan. Pecah dan kotor, namun tetap menyakitkan. Mengerikan bagaimana Argha masih bisa mengingat jelas ekspresi Yukio hari itu...

“Apa?” Tanyanya, merasakan darah surut dari wajahnya. Dan Yukio balas menatapnya, nampak serius dengan kalimatnya. “Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatmu tersinggung?” Dia mematikan kompornya, tidak bisa fokus pada masakannya dan obrolan Yukio.

Yukio merapatkan ponco di tubuhnya. “Kau mendengarku, Argha.” Bisiknya dan menatapnya. “Aku tahu kau tersiksa dalam hubungan ini. Aku mendengarmu...,” dia menelan ludah dan merona tipis. “Aku mendengarmu di kamar mandi semalam.”

Argha merasa jantungnya mencelos. Dia sudah berusaha bermasturbasi sediam mungkin, memastikan Yukio sudah terlelap sebelum memanjakan dirinya sendiri karena tahu itu hanya akan menerbitkan rasa cemas baru di dalam diri Yukio. Tidak menyangka Yukio akan terjaga dan mendengarnya.

Mungkin itulah hal paling vital dalam hubungan mereka. Argha tidak siap ketika dia tahu Yukio seorang aseksual setelah satu tahun mereka bersama—tidak pernah berpikir macam-macam tentang Yukio yang selalu menolak ketika Argha mengajaknya bercinta. Berpikir mungkin kecemasan dan gangguan mentalnya yang membuatnya kesulitan hingga akhirnya Yukio mengatakannya. Menangis karena merasa bersalah tidak bisa memberikan apa yang Argha inginkan dan butuhkan dari hubungan mereka.

Keduanya bertahan, tertatih-tatih namun tetap kuat. Argha berusaha menyamai langkah Yukio yang sama sekali tidak tertarik pada hubungan seksual. Maka dia selalu melakukannya sendirian, diam-diam setelah Yukio lelap agar tidak membuatnya tersinggung. Argha jelas bukan aseksual, bahkan memiliki sex drive yang lumayan tinggi sehingga bersama Yukio adalah pengorbanan besar yang selalu membuat Yukio cemas. Tidak peduli seberapa seringnya Argha memberi tahunya bahwa dia tidak keberatan.

“Itu bukan apa-apa.” Argha bersikeras, meletakkan semuanya dan bergegas merengkuh Yukio—hatinya berdenyut pedih. “Maaf jika aku ternyata tidak melakukannya dengan cukup tenang dan membangunkanmu. Maaf jika membuatmu merasa kurang.” Dia mengecup kepala Yukio yang balas memeluknya, melingkarkan lengannya di pinggang Argha.

“Kau cukup. Kau sempurna.” Bisik Argha di rambutnya. Mengeratkan pelukannya, tidak ingin melepaskan Yukio. Tidak ingin melepaskan satu-satunya jangkar yang menahannya tetap di bumi. “Jangan mengatakan hal-hal yang hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Aku baik-baik saja, oke? Tidak masalah. Sungguh.”

Dan itulah awal mula dari segala pertengkaran mereka. Yukio tetap bersikeras Argha harus mencari one night stand untuk dirinya sendiri, menyenangkan diri. Melakukan apa yang dibutuhkannya dan Argha tahu itu hanya akan semakin menyakiti Yukio—membuatnya merasa tidak sempurna.

Mereka semakin sering beradu mulut, padahal sudah empat tahun lebih mereka bertahan dengan pengaturan itu. Entah mengapa di tahun kelima Yukio mulai bersikeras. Sekali, karena tidak ingin bertengkar dan membuat suasana hati Yukio memburuk, Argha melakukannya. Dia senang, mendapatkan pelepasan yang dibutuhkannya. Seks membuatnya merasa luar biasa, namun ketika dia pulang ke apartemen dan melihat Yukio terlelap di ranjang mereka....

Argha merasa kotor sekali.

Dia membilas tubuhnya, menggosok kulitnya hingga pedih berusaha menghilangkan segala jejak sentuhan perempuan yang diajaknya bercinta tadi. Menyabuni tubuhnya berkali-kali hingga kulitnya terasa melepuh karena sabun, berdiri di bawah shower begitu lama karena merasa tubuhnya begitu kotor. Tidak mau menyentuhnya, tidak ingin Yukio menyentuhnya.

Yukio yang menariknya keluar dari kamar mandi hari itu, memeluknya dan menenangkan Argha. Membuat tubuh mereka berdua basah, menangis bersama ketika Argha meminta maaf dan Yukio meyakinkan dia bahwa itu tidak apa-apa. Dari sanalah semua OCD-nya berasal; rasa bersalah hebat itu, ketakutan itu, kebingungan itu.... Bercokol di kepalanya, memberikannya sugesti yang keliru.

Namun di saat yang bersamaan; rasa bahagia, ledakan orgasme yang membuatnya merasa senang untuk beberapa detik hingga kepalanya pening kemudian membuat Argha melakukannya lagi. Diam-diam dari Yukio; terlambat sadar bahwa semakin sering dia melakukannya, semakin Yukio merasa cemas bahwa dia sedang mengekang Argha. Memenjarakannya.

Dan fakta Argha merasa dia harus menyembunyikan itu darinya membuat perasaan Yukio semakin tidak karuan meski Argha sudah menjelaskan bahwa dia melakukannya malah demi Yukio. Dia tanpa disadari, memupuk pertengkaran hebat yang akhirnya membuat Yukio memutuskan bahwa hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi.

Itulah mengapa detik dia mengetahui Cedrik adalah seorang aseksual, Argha langsung memahami dinamika hubungannya dan Abhimanyu.

Perasaan bersalah yang selalu terbit di mata Cedrik adalah perasaan yang dirasakan Argha dan Yukio bertahun-tahun hingga mereka frustrasi. Perasaan tidak cukup layak, kurang, cemas, tidak nyaman; merasa telah merenggut sesuatu dari pasangannya.

Apalagi sekarang setelah Argha mengetahui bagaimana Abhimanyu bereaksi terhadap godaan seksual. Cedrik pasti sudah compang-camping, dua tahun berusaha menyamai langkah Abhimanyu dengan kondisi perbedaan fatal itu. Timpang seperti hubungannya dengan Yukio, rasa bahagia yang tidak lepas karena terbebani perasaan bersalah terhadap satu sama lain.

Argha berhasil menahannya selama empat tahun, bersikap ksatria pada Yukio dan mencoba mengalah atas kebutuhannya sendiri. Namun Abhimanyu, dia yakin, bukanlah tipe yang menghadapi masalah seperti Argha. Dia masih sangat naif. Dia pasti sedang menggerus Cedrik di tangannya seperti menggerus kedelai menjadi tahu, menghancurkannya.

Argha memejamkan mata, tidak berani membayangkan kerusakan Cedrik jika Abhimanyu memutuskan untuk menyelesaikan hubungan mereka dan melangkah pergi. Persis seperti yang dilakukan Yukio dari kehidupan Argha. Karena Argha bahkan belum berhasil menyembuhkan diri setelah nyaris sepuluh tahun lalu menatap punggung Yukio yang melangkah keluar dari apartemen mereka, meninggalkannya.

Dan dia jelas tidak mau menjadi alasan Abhimanyu meninggalkan Cedrik, tidak peduli seberapa besar dia menginginkan Abhimanyu untuk dirinya sendiri sekarang.

Argha yakin dia bisa bertahan, menjauhkan dirinya dari Abhimanyu—bisa berusaha melakukannya. Namun ledakan emosi Abhimanyu yang begitu ekstrim membuatnya sedikit cemas. Sex drive-nya mengerikan, Argha sudah lama tidak bertemu lelaki seperti Abhimanyu. Dia yakin Abhimanyu akan kembali lagi, lagi, dan lagi pada Argha. Hingga akhirnya dia tidak mau pergi.

Dan Argha merasa berdosa karena dia... senang memikirkannya.

Cheers for the future damage,” bisiknya parau mengangkat gelasnya, sudah mulai paham ke mana semua hal ini akan bermuara. Sudah melihat retak di atas cermin di hadapannya, sebentar lagi pecah. Berhamburan, menyakiti semua orang dengan pecahannya. Tidak akan ada yang selamat.

For Cedrik's endless happiness.” Tambahnya muram sebelum menyesap minumannya.


Abhimanyu berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit dengan nanar.

Dia menyentuh dadanya sendiri, merasa bersalah sejak semalam detik dia menyelesaikan teleponnya dengan Argha. Merasa sudah mengkhianati kepercayaan Cedrik padanya, berselingkuh darinya walaupun otaknya paham sekali bahwa mereka tidak berhubungan. Abhimanyu tidak perlu merasa bersalah.

Tapi menikmati seks bersama orang lain ketika mengingat ada orang lain yang dengan tulus menantinya terasa salah. Maka dia bergegas menghapus isi pesannya dengan Argha; tidak mau Cedrik tidak sengaja menemukannya atau dia membacanya lagi. Perasaan malu dan bersalah ini membuatnya merasa tercekik.

Dia tidak mau bertemu Cedrik sekarang.

Bagaimana bisa dia menghadapi Cedrik ketika dia ingin belajar mencintai Cedrik namun di sisi lain sangat menikmati desahan Argha di telepon semalam? Ingin bercinta dengannya—sangat ingin, seperti orang sinting. Bukankah itu selingkuh dan tamak namanya? Abhimanyu harus melepaskan salah satu, tidak bisa menggenggam keduanya.

Tapi dia juga tahu Argha hanya menganggap hubungan mereka sekadar fisik semata. Dia bahkan tidak memiliki kesulitan untuk berpindah ke Sebastien setelah selesai menolong Abhimanyu; dia mungkin tidak merasakan gairah itu sebesar Abhimanyu. Hanya menolong perjaka malang yang tergoda oleh tubuh sensualnya, melakukan hal baik. Mungkin juga merasa geli karena Abhimanyu begitu baru pada seks.

“I don't do sex with a virgin, Abhimanyu.”

Abhimanyu mengerang keras, menutup wajahnya dan meringkuk di ranjang membentuk bola. Mengapa tidak ada seseorang dengan pembawaan seperti Argha dan sifat ksatria seperti Cedrik? Kenapa mereka harus dua orang yang berbeda?

Tapi dia sudah begitu lama bersama Cedrik, begitu dekat dan lengket. Bergantung padanya. Jika dia melepaskan Cedrik sekarang, dia pasti akan remuk. Jika dia terus menggenggam Cedrik sementara dia menginginkan Argha, itu sama sekali tidak adil untuk Cedrik. Lelaki baik itu berhak bahagia, sebahagia apa yang dilakukannya untuk Abhimanyu.

Tapi apakah Argha menginginkan Abhimanyu seperti Abhimanyu menginginkannya?

Abhimanyu menghela napas keras, merasa pusing karena semua perasaannya tumpang-tindih. Membuatnya sakit kepala berusaha mencari tahu apa yang diinginkannya dari kedua lelaki itu. Moralnya menyadari bahwa berhubungan dengan aseksual seperti Cedrik dan melampiaskan keinginan fisiknya bersama Argha adalah hal yang salah; tidak bisa dibenarkan, membuatnya cemas.

Itu sama saja menyakiti Cedrik, meneriaki wajahnya betapa dia tidak bisa membahagiakan Abhimanyu hingga dia harus mencari orang lain selain Cedrik. Dan Abhimanyu tahu Cedrik tidak layak mendapatkan perlakuan semacam itu setelah ketulusannya menemani Abhimanyu selama ini.

Dia ingin membicarakan ini, mengeluarkan isi kepalanya namun tidak ada yang bisa diajaknya bicara. Terlalu kikuk jika harus membicarakannya ke Hadrian dan terlalu malu jika ke Khrisna—ada jarak yang jelas di antara mereka, jarak yang terbentang detik Khrisna melangkah keluar dari kamarnya tanpa menjelaskan apa pun. Dan Abhimanyu tidak berani menyeberanginya.

Teman bicaranya selama ini hanya Cedrik; karena lelaki itu begitu memahami kebutuhan emosional Abhimanyu. Tidak pernah lelah meladeninya. Dia tidak berani terbuka pada Raditya. Ada sesuatu pada pemuda itu yang membuat Abhimanyu segan padanya. Dia begitu tinggi, tampan, dan memesona; nyaris bersinar seperti seorang dewa Yunani. Di beberapa kesempatan sangat mengintimidasi. Abhimanyu tidak paham bagaimana Cedrik bisa biasa saja di sampingnya.

Dan pikiran ini membuat Abhimanyu menyadari betapa kesepiannya dia jika tidak ada Cedrik.

Abhimanyu menurunkan tangannya dan meraih bantalnya, memeluknya dan merasa perih menyeruak di dadanya. Fakta bahwa dia kesepian menghantamnya lebih kuat dari apa yang dipikirkannya dan dia tidak siap menghadapi rasa sakitnya. Tidak mau menghubungi Cedrik karena dia tidak mau terus-terusan memanfaatkan pemuda itu untuk membalut lukanya, dia malu. Dia merasa begitu jahat padanya.

Tidak ingin menghubungi Argha setelah kejadian semalam dan tidak yakin bagaimana dia harus menghadapi atasannya itu besok di tempat kerja. Haruskah dia bersikap biasa saja? Menganggap seolah tidak ada yang terjadi? Atau.... Bagaimana?

Dia seharusnya menolak Argha. Menjauhinya, menjaga jarak aman darinya. Melupakannya. Paham dia tidak boleh bermain api dengannya. Tapi dia terpeleset, terjatuh ke dalam pesonannya dan tidak menemukan jalan keluar. Membelahnya antara penasaran pada Argha dan bersalah pada Cedrik. Belum lagi pesan-pesan mereka yang terasa dingin dan berjarak belakangan ini; entah mengapa membuatnya semakin sedih.

Abhimanyu ingin tetap bersama Cedrik. Ingin dia tetap menemani Abhimanyu, ingin berteman dengannya. Memintanya menyerah pada perasaannya, melupakan itu sehingga dia bisa membina hubungan pertemanan platonik yang lebih nyaman karena seberapa pun Abhimanyu berusaha, dia tidak bisa melihat Cedrik lebih dari sekadar kakak.

Dan tidak bisa bohong bahwa dia keberatan dengan orientasi seksual Cedrik. Kadang kala, frustrasi. Lalu sekarang ada Argha Mahawira di hadapannya dengan mulut, suara, dan tangan sialannya berhasil mematik begitu banyak rasa penasaran di dalam dirinya. Memberikan reaksi yang jauh lebih hebat dan kuat dari apa yang ciuman Cedrik bisa berikan. Membayangkannya saja bisa membuat Abhimanyu bergidik nikmat.

Apakah dia berdosa karena merasa orientasi seksual Cedrik membuatnya keberatan?

Abhimanyu mendesah panjang. Tidak lagi paham ke mana arah isi kepalanya dan ingin berhenti. Dia berguling terlentang di kasurnya, menatap langit-langit lagi dan merasa begitu bosan, juga pedih karena kesepian. Cedrik punya Arsa, Kinan, dan Raditya—juga teman barunya kemarin. Dia tidak akan berbaring di ranjangnya, berpikir dengan siapa dia harus menghabiskan waktunya.

Tapi Abhimanyu tidak memiliki siapa-siapa jika tidak ada Cedrik.

Tapi Abhimanyu tidak memiliki siapa-siapa jika tidak ada Cedrik.

Abhimanyu menarik napas, berusaha menelan kembali tangis yang mulai merebak di dadanya; menyulutnya dengan rasa panas yang menyiksa. Dia kesepian, bersalah, dan kebingungan. Tidak tahu pada siapa dia harus mengungkapkan segala isi kepala dan hatinya karena satu-satunya orang yang dipercayanya di kehidupan ini adalah salah satu dari hal yang menyiksanya.

Satu-satunya orang yang dipercayanya di kehidupan ini...

Satu-satunya.

Dia menarik napas, air mata meleleh di pipinya. Rasa panas membakar ulu hatinya, menaikkan asam lambungnya ke tenggorokan. Membuat asam menyebar di mulutnya bersama air mata yang semakin deras, menyengat matanya. Belum pernah selama dua tahun ini dia merasa terhimpit oleh rasa kesepian ini karena Cedrik selalu ada untuk membalut lukanya, menenangkannya, membahagiakannya....

Tapi apa yang diberikannya pada Cedrik sebagai balasan? Tidak ada.

Malah bermain api dengan Argha Mahawira persis di bawah hidung Cedrik. Menyadari sekali bahwa jika Abhimanyu tidak bisa membahagiakan Cedrik, dia sebaiknya tidak menyakitinya. Dia marah pada dirinya sendiri; marah karena tidak bisa mencintai Cedrik, tidak puas pada segala yang telah diberikan Cedrik untuknya. Selalu merasa kurang, selalu menginginkan lebih. Menemukan kekurangan pada Cedrik, menyalahkannya atas kekurangan itu.

Wajah Argha muncul di kepalanya. Ekspresi cemasnya ketika menatap Abhimanyu, permen yang selalu dijejalkannya ke genggaman Abhimanyu, serta suara paraunya yang hangat saat mengatakan:

“Don't hit yourself, okay? Promise me.”

“Take care, Abhimanyu.”

“Good job, Abhimanyu.”

Thank you, Abhimanyu.”

“You did amazing today, Abhimanyu.”

“There's nothing wrong with you. That's okay.”

“I don't want to defend myself because what I did was terribly wrong, so I truly hope you could forgive me.”

“This will be our little secret, Abhimanyu. Can you keep a secret?”

“Oh. Spicy.”

Abhimanyu memejamkan matanya, membenci apa yang dirinya sendiri pikirkan. Argha sudah memasuki kehidupannya lebih dalam dari apa yang direncanakannya dengan kehangatan asing yang terbit di wajahnya ketika Abhimanyu terserang rasa cemas. Genggaman tangannya ketika Abhimanyu membantunya menjelaskan ke Arsa mengenai rambut di makanan. Sosoknya yang mengayomi dan tegas....

Jika suatu hari nanti, Abhimanyu memutuskan untuk meninggalkan Cedrik dan memilih orang lain.... Akankah Cedrik tetap memaafkannya? Seperti yang dijanjikannya pada Abhimanyu?

Apakah jahat jika Abhimanyu berharap Cedrik tetap menemani Abhimanyu bahkan jika dia akhirnya memilih... Argha?


ps. ehehehehe :((( cebhim, you guys don't ask too much, you're just asking the wrong persons </////3

cw // expeditionist .


Cedrik mengerutkan alis, menatap ponselnya dan pesannya yang dikirim ke Abhimanyu.

Status Abhimanyu masih daring, tapi dia tidak juga membuka pesan Cedrik. Apakah dia marah pada Cedrik karena tidak menemaninya hari ini? Atau dia sedang sangat menikmati harinya sehingga tidak sempat mengecek ponselnya? Atau dia sedang menelepon seseorang?

Baguslah jika Abhimanyu sangat menikmati harinya hingga tidak sempat mengecek ponsel, meringankan perasaan bersalah Cedrik karena terlanjur membuat janji hari ini dengan Nikolas. Tidak nyaman jika membawa Abhimanyu bertemu Nikolas.

Dia sedang duduk di klinik Nikolas, mendadak harus berhenti sebentar karena ada pasien yang membutuhkan tindakan secepatnya sehingga timnya menghubungi Nikolas ketika mereka baru saja menaikkan belanjaan mereka ke mobil. Bong duduk di sisi kaki Cedrik di lantai, dagunya ditumpukan ke pangkuan Cedrik dengan tali leher terlilit di lengan bawah Cedrik—menunggu majikannya yang sedang bekerja. Ekornya mengibas kecil sedikit.

Ketika mereka tiba, pemilik kucing malang itu sedang menangis dengan wajah pucat. Nampak panik dan hanya sempat mengenakan hoodie di atas pakaiannya. Di pangkuannya ada kandang dan Cedrik langsung menahan napas ketika melihat noda darah di pintunya. Nikolas seketika berlari ke ruangannya meninggalkan Cedrik begitu saja—tanpa mengatakan apa pun. Maka Cedrik bersikap mandiri dengan menenangkan Bong yang kebingungan dan menunggu di sudut pet shop yang cukup ramai.

Perasaan Cedrik sedikit tidak nyaman sekarang. Haruskah dia menelepon Abhimanyu dan meminta maaf karena tidak bisa menemaninya hari ini? Dia memainkan ponselnya, menatap ke kandang anjing kosong di hadapannya—hanya ada satu-dua hewan peliharaan titipan hari itu. Salah satunya adalah mini pom paling mini yang pernah Cedrik lihat; sedang balas menatapnya, menelengkan wajah menggemaskan. Namun tidak berani mengeluarkan suara, mungkin karena Malamute di sisi Cedrik.

Dia pasti menerawang karena ketika Nikolas kembali, dia menepuk bahu Cedrik lembut dan Cedrik terkesiap kecil. Mendongak, dia beradu pandang dengan Nikolas yang nampak sedikit berkeringat.

“Hei, maaf.” Ujarnya mendesah. “Kucingnya sudah baik-baik saja. Tertembak seseorang ketika bermain dan aku sudah mengeluarkan pelurunya.” Dia melangkah ke wastafel di dekat Cedrik dan mencuci tangannya.

Cedrik mengangguk. Tidak paham mengapa manusia bisa menembak binatang jinak seolah mereka berkuasa atas segalanya. “Lalu dia akan berada di sini untuk penyembuhan, ya?” Tanyanya ketika melihat asisten Nikolas mendorong troli terisi tubuh kucing yang tidak sadar ke arah kandang penyembuhannya sementara pemiliknya mengikuti untuk menyelesaikan pembayaran.

“Yep.” Nikolas mengeringkan tangannya, lalu menghela napas. “Sekarang kita bisa pulang.” Dia memberikan kombinasi senyuman dan ringisan pada Cedrik yang berdiri. “Maaf kau harus menungguku bekerja dan maaf juga karena mengabaikanmu tadi.”

Cedrik mengedikkan bahu. Mengecek ponselnya sekali dan Abhimanyu masih tidak membalas pesannya, jadi dia menyelipkan benda itu ke sakunya—dia akan menelepon Abhimanyu nanti. “Tidak masalah,” dia tersenyum. “Keadaannya sedang genting. Aku paham.”

Nikolas memandangnya sejenak lalu tertawa kecil. “Kau paham karena kau sering melakukannya juga, ya?”

Dia mengedikkan bahu, meringis. “Ketahuan.” Sahut Cedrik dan Nikolas kembali tergelak.

Mereka akhirnya kembali setelah Nikolas membicarakan beberapa hal lagi dengan pemilik kucing malang itu. Akan dititipkan di pet shop hingga lukanya cukup membaik, tidak mau mengambil risiko jahitannya terlepas jika kucing itu berkeliaran dan Nikolas meninggalkan tempat kerjanya. Sama sekali tidak nampak jengkel karena harus datang ketika hari libur, dia tetap nampak ceria dan rileks saat berkendara ke rumahnya.

Bong pindah duduk di pangkuan Cedrik sepanjang perjalanan kembali, menumpukan dagunya di jendela yang terbuka setengah dengan Cedrik yang memeluk lehernya; menjaganya agar tidak menjulurkan leher terlalu jauh. Kemacetan Ubud dimulai perlahan seiring dengan menggeliatnya kegiatan masyarakat; para wisatawan mulai bermunculan di jalanan, menikmati suasana Ubud yang meskipun moderen, tetap terasa sangat sakral.

Cedrik menyaksikan Ubud bersama Bong di pelukannya. Memangku Malamute bukan pekerjaan yang menyenangkan, paha Cedrik sedikit kesemutan ketika mereka akhirnya membelok ke pintu masuk rumah Nikolas. Dokter hewan muda itu bergegas turun untuk membuka gerbang—tidak mengizinkan Cedrik bergerak. Dengan kedua lengannya, dia mendorong gerbang terbuka sambil tersenyum pada beberapa tetangganya yang lewat sebelum berlari kecil ke mobilnya dan memanjat naik.

“Kita tiba,” Nikolas menarik rem tangan setelah memarkir mobilnya di halaman dan mencabut kuncinya. “Ayo, Bong! Jalan-jalannya selesai.” Dia membuka pintunya dan Cedrik mengikuti langkahnya; Bong melompat dari pangkuannya, mengibaskan bulunya seraya menyalak.

Nikolas tertawa, membuka pintu belakang dan mulai mengeluarkan kantung-kantung belanja mereka. Cedrik turun dari kursi penumpang, mengecek ponselnya sekali lagi dan mendesah ketika Abhimanyu belum juga membalas pesannya; tapi statusnya sudah tidak lagi daring. Dia mengusap wajahnya, mulai merasa berat hati karena tidak menemani Abhimanyu hari ini.

“Kau oke?”

Cedrik mendesah, menoleh dan tersenyum pada Nikolas. “Oke.” Sahutnya menenangkannya. Merasa tidak enak hati pada Nikolas, takut pemuda itu berpikir Cedrik keberatan menemaninya hari ini. Maka dia mendorong kekhawatirannya menjauh.

“Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan hal lain.” Kilahnya lalu bergegas membantu Nikolas membawa belanjaan mereka masuk ke rumah.

Tukang kebunnya sudah pulang, halaman sudah basah oleh air dan bersih. Udara terasa lebih melegakan di sini dengan gemerisik dedaunan yang tertiup angin daripada jalanan Ubud tadi. Cedrik menghela napas dalam-dalam, berusaha melepaskan beban yang menghimpit di dadanya tentang Abhimanyu. Dia sudah dewasa, Cedrik berhak mendapat satu hari libur darinya.

Rumah Nikolas dingin ketika mereka masuk, sangat berbeda dengan udara di luar. Nikolas menyalakan penyejuk ruangan, membiarkan alat itu mendengung persis ketika mereka masuk. Cedrik meletakkan semuanya di dapur, mulai mengecek dengan cepat apakah dia memiliki semua hal yang dibutuhkannya untuk mengerjakan makanan Nikolas sementara pemuda itu berganti baju.

“Boleh kulihat labunya?” Tanya Cedrik, melepas jaketnya dan menyampirkannya di sofa saat Nikolas keluar dari kamarnya mengenakan pakaian yang lebih santai. Dia mengenakan kaus lengan pendek di dalamnya, merasakan kausnya sedikit basah oleh keringat.

Nikolas melirik tangannya. “Oh.” Katanya dan Cedrik mengikuti pandangannya ke arah tato di tangannya. “Kau punya tato? Aku baru memerhatikan.”

Cedrik tertawa. “Ya begitulah.” Dia mengulurkan kedua lengan bawahnya, mempersilakan Nikolas melihat tatonya. “Kau suka tato?”

Nikolas menatap tato di lengan Cedrik, nampak sedikit iri. “Ya, tapi orang tuaku tidak. Jadi aku memilih untuk tidak melakukannya untuk mereka. Kecuali tindik.” Nikolas mendongak, tersenyum pada Cedrik.

“Aku punya sekitar sepuluh tato,” Cedrik mengedikkan bahu. “Aku dan Arsa suka menambah tato bersama hingga tidak menyadari bahwa kami mulai kehabiskan tempat untuk menato.”

Nikolas tertawa, mengangguk setuju. “Tato Arsa banyak sekali. Terkadang membuatku iri.” Dia meringis dan Cedrik tergelak. “Tapi anehnya tidak membuatnya terlihat.... Entahlah, kotor?” Katanya beranjak ke dapur dan Cedrik mengekornya. “Beberapa orang dengan sleeve tattoo terlihat kotor?”

“Warnanya mungkin.” Cedrik tersenyum. “Arsa tidak menggunakan tinta warna biru atau merah, hanya hitam. Atau warna cerah seperti tatoku ini.” Dia menunjukkan tato dandelion di lengan bawahnya.

“Ah, ya! Benar!” Nikolas mengangguk. “Tinta warna biru dan merah membuatnya terlihat kotor.” Dia kemudian membungkuk di kabinet bawah bar dapur dan mengeluarkan sebuah labu kuning yang cukup besar. “Bagaimana menurutmu?”

Cedrik menghampirinya, mengusap benda itu lalu mengangkatnya. “Lumayan.” Katanya mengira-kira beratnya yang mungkin dua kilogram lebih. “Aku akan membuatkanmu bars yang bisa dibawa untuk bekerja. Aku tahu pekerjaanmu tidak memberikanmu cukup waktu untuk duduk menikmati makan siang, 'kan?” Dia melemparkan senyuman lebar pada Nikolas sebelum pergi ke bak cuci—membilas tangannya sebelum bekerja.

“Kau yakin kita tidak makan sesuatu dulu sebelum bekerja?” Tanya Nikolas saat Cedrik bersiap di sisinya. “Aku belum sarapan.” Ringisnya.

Cedrik tergelak. “Aku sudah makan dua tangkup roti dengan selai sebelum ke rumahmu. Silakan makan jika kau lapar?” Dia menoleh ke Nikolas yang mendesah.

“Apakah acara memasak hari ini termasuk kau membuatkanku makan siang?” Tanya Nikolas kemudian saat menjejalkan setangkup sourdough bread ke mulutnya dengan daging ham sebagai isiannya.

Cedrik menatapnya, menaikkan sebelah alisnya menggoda. “Dan berapa kiranya, Bapak Dokter akan membayar saya untuk menjadi personal chef sehari ini?”

Nikolas nyaris tersedak makanannya saat dia tergelak. Kepalanya terlempar ke belakang, membuat rambutnya membentuk air terjun ke belakang kepalanya. Matanya lenyap menjadi garis bulan sabit pipih dan suara tawanya begitu menyenangkan hingga sesaat Cedrik mendengarkannya dalam-dalam.

Nikolas berdiri di sisinya ketika Cedrik bekerja, menonton dengan serius sambil mengunyah makanan. Cedrik memulai dengan memotong labu kuning itu, membersihkannya dan mengambil dagingnya—meletakkannya di baskom dalam bentuk potongan dadu besar dan menghancurkannya. Memulai prosesnya dengan membuat pumpkin puree dari semua labu kuning itu.

Dia tidak membawa apronnya, dengan kesal teringat benda itu terselip di antara tumpukan bajunya di kosan maka dia harus puas menjaga tangannya sejauh mungkin dari tubuhnya ketika bekerja. Nikolas membantunya, mengajaknya mengobrol tentang hal-hal ringan yang membuat Cedrik merasa rileks.

Pintu kaca ke arah kolam renang dibuka, membiarkan angin persawahan di belakang rumah Nikolas masuk diiringi suara gemericik air yang beriak oleh angin juga dedaunan. Televisi dinyalakan hanya untuk memberi suara tambahan agar suasana tidak hening dengan Bong bermalas-malasan di atas sofa, menonton kedua majikannya bekerja di dapur.

Cedrik mencampur pumpkin puree, mentega, dan vanila ke dalam cocoa butter yang sudah dilelehkan lalu mengaduknya perlahan. Kemudian menambahkan semua sisa bahan ke dalamnya seperti madu, garam laut, dan protein bubuk milik Nikolas. Tidak lama, adonannya mulai menggumpal dan berat siap untuk dicetak.

Nikolas memasang kertas roti di atas loyang agar tidak lengket dan Cedrik menuang adonannya ke sana. Dengan spatula, memipihkannya agar tidak terlalu tebal. Dia menaburkan potongan kasar pistachio di atasnya, menekan-nekannya sedikit lalu beranjak melelehkan cokelat blok.

“Kau membuatnya nampak mudah,” Nikolas menatap loyang yang sudah terisi protein bars untuknya. Tidak perlu dipanggang, hanya tinggal dimasukkan ke kulkas hingga membeku sepenuhnya.

“Memang mudah, kok.” Cedrik tergelak dan mengaduk cokelatnya yang mulai meleleh. “Kau bisa membuatnya sendiri jika kau mau. Aku sudah memberimu resepnya, 'kan?” Tambahnya ceria.

Ada sesuatu di rumah Nikolas yang membuatnya nyaman. Tempat itu bersih, harum, terbuka; dengan begitu banyak ruang. Dia yang biasanya menghabiskan hari libur di kamar kosnya yang sumpek sangat menghargai ruang baru yang lega untuk bernapas ini. Cahaya sinar menjelang siang yang berkilau di lantainya yang bersih, udara Ubud, suara lalu lintas di kejauhan yang tidak mengganggu. Dan aroma Baccarat Nikolas yang sudah tercampur dengan keringatnya.

Sejak kapan aroma itu terasa akrab? Padahal mereka baru bertemu dua kali?

Nikolas menatap makanan itu. “Tidak,” gumamnya dan Cedrik menoleh. Nikolas tidak menatapnya, dia menumpukan tangannya di pinggiran konter dapur. Selapis warna merah jambu menghampar di wajahnya. “Aku tidak mau mengerjakannya sendiri.”

Cedrik berhenti mengaduk cokelatnya. Menatap dokter hewan muda yang tidak membalas tatapannya itu, sejenak tidak paham. Apakah dia baru saja mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaannya?

“Oh,” dia berdeham kikuk, merasa bersalah. Kembali mengaduk cokelatnya dan menggunakan lap untuk mengangkat mangkuk dari atas air yang mendidih. Dia mematikan kompor. “Aku tidak bermaksud membuatmu marah atau tersinggung. Aku tahu kau sibuk sekali bekerja. Jadi—”

“Aku ingin kau yang melakukannya untukku.”

Dia berhenti bergerak. Menoleh pada Nikolas yang masih belum menatapnya. Apa katanya barusan? “Yah,” dia mengerjap. Menggunakan sendok mulai memberi drizzle di atas barnya. “Boleh, jika aku punya waktu aku akan membuatkanmu camilan. Tidak masalah.”

Nikolas mendongak, menatapnya dan Cedrik balas menatapnya. Tidak paham pada emosi apa yang berkeretak lembut di mata Nikolas sekarang. “Kau...,” katanya nyaris berbisik. “Kau memang selalu baik pada semua orang, ya?”

Cedrik mengerjap. Tidak yakin ke mana arah obrolan ini sebenarnya. Apakah Nikolas marah karena Cedrik tidak mau menolongnya membuatkan camilan? Padahal Cedrik hanya memikirkan Nikolas. Karena jika menunggu waktu luang Cedrik, dia bisa kehabisan camilan. Lebih praktis jika dia mengerjakannya sendiri tanpa repot menunggu Cedrik. Tapi mungkin dia sudah kelewatan, membuat Nikolas berpikir dia merepotkan Cedrik. Dia tidak bermaksud begitu.

“Tidak semuanya,” sahut Cedrik, memalingkan wajah dan meletakkan alat memasaknya di bak cuci piring dan mendengar tarikan napas tajam Nikolas. “Hanya mereka yang baik padaku.” Dia tersenyum pada Nikolas.

Lalu bergegas menambahkan, tidak ingin Nikolas tersinggung atau salah paham pada kalimatnya tadi. “Tidak masalah jika kau ingin aku yang membuatkanmu camilan. Aku hanya berharap kau tidak keberatan menunggu waktu luangku.” Dia tersenyum lebar, meminta maaf.

Nikolas menatapnya. Sejenak membuka mulut, nampak frustrasi sebelum menghela napas dan membalas senyuman Cedrik. Senyuman Nikolas sangat manis dengan taring yang menonjol dan kerutan di sudut matanya. “Tidak,” katanya lembut. “Tidak masalah sama sekali. Aku akan menunggumu hingga luang.”

Lalu menambahkan dengan pelan hingga Cedrik tidak yakin apakah Nikolas memang mengatakannya. Karena air yang mengucur keras dan Cedrik sedang mencuci alat-alat memasaknya tadi. Meredam semua suara lain dari telinga Cedrik.

“Aku akan selalu menunggumu.”


Argha tahu Abhimanyu menggemaskan, tapi dia tidak menyangka dia akan semenggemaskan ini.

Dia tersenyum menatap layar ponselnya, terhibur karena pick up lines yang dilemparkan Abhimanyu padanya dan melirik wajahnya yang merona setelah melakukannya. Sangat berbeda dengan Abhimanyu yang menggeram kemarin, mendorongnya ke dinding dan mendominasinya.

Argha masih sering membayangkannya, berpikir apa yang bisa dilakukan Abhimanyu padanya jika dia memiliki ruang dan kesempatan? Bayangkan lelaki menggemaskan yang begitu imut-imut berubah menjadi binatang liar detik ketika dia mencium Argha—merasakan Argha di bibirnya. Seperti melepaskan pelatuk pada granat yang meledak di hadapannya.

Dan itu membuat Argha sangat terhibur.

Berpikir jika Abhimanyu dengan sex drive setinggi ini menghabiskan waktunya dengan Cedrik yang seorang aseksual pasti membuatnya frustrasi. Argha tidak bermaksud memandang sebelah mata orientasi seksual Cedrik, paham sekali bahwa memang ada orang-orang yang merasa seks adalah sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan. Bukan merupakan inti dari sebuah hubungan yang seharusnya merupakan koneksi emosi.

Argha paham. Sangat paham apa yang dipikirkan Cedrik, juga apa yang dirasakan Abhimanyu selama bersamanya. Cedrik pasti tidak tahu caranya mengendalikan binatang liar seperti Abhimanyu yang detik pertama nampak menggemaskan seperti seekor Poodle lalu berubah menjadi serigala beringas.

Dia mengetik di ponselnya. Meet me in the bathroom in 5 min? lalu mengirimnya. Tersenyum kecil, menantang Abhimanyu untuk melakukannya karena dia nampaknya sangat menyukai ruang publik.

Argha sedikit kaget pada perubahan mendadak ini. Bagaimana Abhimanyu yang awalnya menatapnya dengan trauma pekat berkilat di matanya, sedikit gemetar karena dipojokkan sekarang malah terus merongrongnya seperti anjing kelaparan. Dia tidak paham traumanya, pun cara kerjanya di otak Abhimanyu.

Tapi dia bisa... memberikan apa yang Abhimanyu inginkan, 'kan? Hanya menuruti apa saja yang Abhimanyu inginkan darinya dengan senang hati.

Bukan porsinya untuk menanyakan pada Abhimanyu bagaimana bisa dia berubah pikiran. Dia tidak pernah menanyakan hal-hal semacam itu pada pasangannya; jika mereka ingin bercinta, maka Argha memberikannya. Pembicaraan tentang perasaan dan perhatian hanya akan memperumit hubungan mereka nantinya.

Kecuali Sebastien yang sekarang mulai terasa seperti sahabatnya alih-alih FWB. Sahabat dengan banyak sekali benefit tanpa perasaan yang mengganggu karena Sebastien berprinsip sama dengan Argha. Beruntung sekali lelaki pertama yang match dengannya hari itu adalah soulmate Argha. Jadi dia tidak repot mencari orang lain lagi.

Mungkin dia akan bertanya pada Abhimanyu mengenai kesepakatan ONS atau FWB—hal biasa dan satu-satunya pembicaraan serius dalam hubungan Argha dengan semua orang. Tapi entah mengapa, dia tidak terlalu tertarik melakukannya karena menggoda Abhimanyu lebih terasa menyenangkan. Dia sangat meledak-ledak hingga dia sendiri kerepotan dengan itu; Argha bisa melihatnya.

Abhimanyu di sisinya mendengus keras, menyamarkan kekagetannya menerima pesan Argha yang frontal. Argha menyerigai, menyandarkan dirinya di sofa—sengaja menempelkan bahunya di bahu Abhimanyu dan mengedip cepat pada Sebastien yang memutar bola matanya.

The poor kid doesn't deserve that begitu kata Sebastien lewat pesan tadi dan Argha mencibir. Sebastien terlalu berpikir tinggi tentang dirinya sendiri, padahal Abhimanyu hanya beberapa tahun lebih muda darinya.

Abhimanyu menantangnya secara terbuka, maka sebaiknya Argha memberi tahu Abhimanyu siapa lawannya sekarang. Dia bukan aseksual seperti Cedrik dan seks adalah hal yang sangat akrab dengan dirinya sendiri; pelepasan penat, pengalihan isi kepala yang selalu digunakannya selama bertahun-tahun lepas dari Yukio.

Argha bangkit, tidak memberi banyak waktu untuk Abhimanyu berpikir. “Excuse me for a moment, I need to use the rest room.” Dia menebarkan senyuman pada semua orang di meja mereka.

Hadrian sedang menceritakan kisah-kisah horor di ITB, sesuatu yang sangat menarik jika saja Abhimanyu tidak memutuskan untuk bersikap sangat menggemaskan di sisi Argha—mengalihkan fokusnya. Sebastien di sisi lain secara mengejutkan mendengarkan dengan serius, tertarik menatap Hadrian yang adalah pencerita ulung. Khrisna menambahkan detail-detail cerita yang dilupakan Hadrian. Mereka bertiga tertawa bersama, akrab seperti sahabat lama.

Argha melemparkan tatapan pada Abhimanyu yang nampak seperti baru saja ditendang persis di selangkangannya lalu meluncur melewati Sebastien—sengaja meletakkan tangannya di bahu Sebastien dan membiarkan pemuda itu meraihnya, mengecupnya sebelum melepaskan Argha. Matanya tetap terpancang kepada Hadrian yang tergelak oleh leluconnya sendiri.

Dia memasuki toilet Starbucks yang berada di sudut ruangan. Tempat itu tidak terlalu ramai, jadi Argha yakin tidak ada yang ada yang curiga jika mereka menggunakan toilet lebih lama dari biasanya. Dia memasuki bilik kedua yang berada di sudut dan menunggu, mengecek apakah Abhimanyu berani melakukannya.

Dia mengedarkan pandangan, selalu tahu Starbucks memiliki toilet umum paling bersih. Harum dan tidak menjijikkan. Namun dia tetap mengeluarkan antiseptik, menyemprotkannya ke toilet. Jika dia menggoda Abhimanyu, maka dia sebaiknya mempersiapkan tempat yang akan membuat otaknya rileks. Argha mengelap permukaan toilet dengan tisu, membuangnya ke tong sampah dengan wajah mengernyit lalu bergegas menyemprot tangannya sendiri.

Cukup bersih, setidaknya dia sudah membubuhkan banyak sekali antiseptik.

Argha kemudian menutup toilet dan duduk di atasnya, menyilangkan kakinya lalu membuka ponselnya. Mengecek ruang obrolan Abhimanyu dan menyadari pemuda itu sudah membaca pesannya tadi. Dia masih daring dan Argha tersenyum, sedikit geli. Adrenalin membuncah di dasar perutnya, meledak-ledak seperti berondong jagung yang dimasak.

Sudah lama dia tidak merasa seperti ini. Sepertinya dia harus mencoba expeditionist sesekali dengan pasangannya nanti karena ternyata ini membuatnya sangat mabuk oleh adrenalin. Kenyataan bahwa seseorang mungkin memergoki mereka membuat Argha semakin bersemangat. Siapa sangka Abhimanyu yang sangat imut itu memiliki kink yang sangat mendebarkan.

Mungkin juga sedikit sadistik? Karena dia mencengkeram Argha begitu kuat ketika menciumnya; menjambak rambutnya, mungkin juga mencekiknya jika saja dia memiliki kesempatan. Argha bergidik, memejamkan mata dengan nikmat—memikirkan apa saja kink yang mungkin disembunyikan Abhimanyu di balik senyuman imutnya.

Kapan terakhir kali dia memiliki pasangan dengan kink? Argha sudah tidak lagi ingat. Sebastien tidak memiliki kink yang berarti, hanya suka dipuji ketika dia menjadi bottom—sederhana, tidak menantang. Tapi Abhimanyu....

Pikiran Argha disela ketukan di pintu kamar mandinya dan dia membuka matanya. Dia menatap ponselnya dan melihat Abhimanyu mengetik.

Bilik yang mana?

Senyuman lebar merekah di bibirnya. Dia langsung berdiri, membuka selot pintu dan menariknya terbuka sedikit—langsung melihat Abhimanyu berdiri di depan pintu. Separuh tubuhnya menutupi pintu dan matanya sekarang menggelap, menyebarkan denyar gairah di seluruh tubuh Argha. Dia mundur dari pintu, membiarkan Abhimanyu mendorong pintu dan memasuki kamar mandi.

“Oh,” Argha tidak bisa menahan desahannya detik Abhimanyu berdiri di balik pintu dan menguncinya. Terdengar suara klik! keras ketika dia melakukannya dan Abhimanyu bersandar di pintu—dadanya naik-turun dan wajahnya merona.

“Kemari.” Kata Abhimanyu dengan suara berat yang baru pertama kali didengar Argha dan dia dengan senang hati mendekat—seperti seekor rusa betina yang merengkuh singa jantan. Tahu jelas singa itu akan merobek lehernya, melahapnya habis.

Argha mendekat, menyentuh dadanya dan mengusap dada Abhimanyu—menemukan piercing-nya yang dingin dari luar pakaiannya. Berdebar karena ingin merasakan besi itu di lidahnya. Dengan lembut dia membuka kancing kemeja flanel Abhimanyu, sengaja berlama-lama dengan jemarinya sambil menggoda Abhimanyu yang terengah. Dia mengangkat tangannya, meletakkannya di sisi leher Argha dan mengusapnya. Tangan Abhimanyu panas, menyengat kulit Argha.

Argha tersenyum, menyapukan kemeja Abhimanyu ke sisi tubuhnya, memaparkan torsonya ke udara. Mendengkur senang melihat otot Abhimanyu yang halus dan mendebarkan. Dengan telapak tangan, dia mengusapnya. Tersenyum senang saat Abhimanyu mendesis oleh sentuhannya. Argha menggigit bibir bawahnya, sedikit membungkuk dan menatap piercing Abhimanyu di hadapannya.

Can I, Doudou?” Bisiknya parau, nyaris tidak terdengar karena mereka tidak ingin ada yang mencuri dengar kegiatan mereka.

Abhimanyu terengah, menunduk menatapnya dengan wajah merah padam. Argha nyaris meledak karena melihat betapa menggemaskannya Abhimanyu ketika dia bergairah. “Yes, please.” Katanya berat dan Argha memejamkan mata, membiarkan suara baru itu membelai kulitnya.

Argha menjulurkan lidahnya, sengaja menggoda Abhimanyu sebelum menjilat piercing-nya sekali. Abhimanyu gemetar, memejamkan mata dan mencengkeram tengkuk Argha—kentara sekali sentuhan Argha membuatnya setengah sinting. Mendengar umpatan tajam meloloskan diri dari bibirnya dengan puas.

We can fuck here, we'll make it quick.” Argha menggumam, mengecup sisi dadanya—beberapa senti dari piercing-nya. “No one needs to know.” Dia menyerigai, mendayu-dayu dan melihat langsung efeknya pada Abhimanyu yang tersengal.

Do you want to be top or bottom, Doudou?” Tanyanya, mengusap puncak dada Abhimanyu yang lain dengan ibu jarinya. Menggodanya, merasakan gairahnya sendiri mulai menggelegak seperti sepanci sup yang mendidih. Merasa tertantang karena melakukannya di ruang publik.

Abhimanyu mengerjap, menatapnya. “What...?” Tanyanya. Argha tergelak kecil, sepertinya ini kali pertama Abhimanyu melakukannya dengan seorang versatile.

Argha menatap dada Abhimanyu, ingin menjilatnya sesegera mungkin. Melahap Abhimanyu. “You know,” dengkurnya. “The usual. I can be whatever you want. Top or bottom, it doesn't matter for me.” Dia kemudian mendongak, hendak menggoda Abhimanyu.

Dan dia melihat ekspresi Abhimanyu. Senyumannya padam, gairah lenyap dari kepalanya begitu saja seperti lampu yang dimatikan. Ekspresi itu langsung memukul Argha mundur. Dia menegakkan tubuhnya, melepaskan diri dari Abhimanyu. Mereka berpandangan dalam diam dan alarm berdering nyaring di kepala Argha sekarang.

Dia menyugar rambutnya, menggertakkan rahangnya. Kepalanya pening oleh alarmnya sendiri. “Kau sudah pernah bercinta, 'kan?” Tanyanya kemudian, mengerutkan alisnya. Nyaris menuntut Abhimanyu untuk mengatakan ya.

Abhimanyu merona, dia menegakkan tubuhnya. Nampak seindah dewa Yunani kuno dengan rambut ikal dramatis yang berantakan dan kemeja setengah terbuka. Piercing-nya bisa membuat Argha gila. Dia seolah diciptakan untuk membuat Argha terjun bebas ke Neraka; tubuhnya, ekspresinya, rambutnya, rasanya....

“Ini kali pertamaku.” Bisiknya dan jantung Argha seketika mencelos—begitu kuatnya perasaan itu hingga dadanya terasa nyeri. Abhimanyu menatapnya dari balik bulu matanya yang lentik. “I hope you don't mind to teach me?”

Argha mundur, menabrak dinding di belakangnya. Alarm di kepalanya meraung sekarang ketika dia menggeleng. Dia memang seorang bajingan tengik, playboy kelas kakap yang tidak pernah segan menyakiti siapa pun, memotong lepas mereka yang berusaha memenjarakannya. Namun dia tidak—tidak akan pernah mau berurusan dengan seorang perjaka atau perawan.

Ikatan yang tercipta setelah menjadi first person untuk mereka mustahil dielakkan dan Argha tidak mau mengurusnya. Tidak mau diingat dengan cara itu, tidak mau memiliki ikatan sesakral itu dengan siapa pun.

Abhimanyu menatapnya, sekarang nampak bingung setelah menyadari bahwa Argha sedang mengelak. “Argha?” Panggilnya dan Argha nyaris mendesah lagi, mendengar suaranya ketika menyebutkan nama Argha.

Setan tahu betapa Argha menginginkan Abhimanyu, tapi tidak. Dia punya prinsip.

“Tidak.” Katanya dingin dan Abhimanyu mengerjap, kaget oleh nada suaranya. Argha menghampirinya, menyingkirkannya dari pintu dengan lembut; tidak kuasa bersikap kasar pada Abhimanyu. “Tidak, tidak.” Tambahnya, setengah panik.

Abhimanyu menyingkir dari pintu dengan bingung. Disorientasi pada sikap Argha yang mendadak berubah. “Kenapa?” Tanyanya, berdiri dengan posisi menyerah di sudut toilet—menatap Argha dengan mata menggemaskannya yang sekarang pekat oleh kebingungan. “Argha?” Desaknya lagi.

Argha berdiri di depan pintu, tangannya menggenggam gagang pintu dan merasa amarah menggelegak di dasar perutnya. Kehidupan sedang mempermainkannya, selalu berhasil menjegal langkah Argha dan membuatnya tersungkur. Dia benci sekali hidupnya yang selalu naik turun dengan ekstrim seperti gyro-drop.

Dia tidak menoleh, tidak kuasa menatap wajah Abhimanyu yang kebingungan atau sakit hati yang mungkin menyeruak di wajahnya jika mendengar kalimat Argha.

No, Abhimanyu. I don't do sex with a virgin.” Katanya tegas lalu membuka pintu. “Find someone else to satisfy your hunger. I can't do that with you.” Argha melangkah keluar dan membiarkan pintu di belakangnya menutup.

Dia menghambur ke tempat mereka, membuat semua orang menoleh kaget. “Let's go home.” Katanya, setengah menggeram marah pada Sebastien yang tertawa dan membuat tawa di wajah pemuda itu lenyap.

“Oh?” Sebastien mendongak dan menangkap ekspresinya. Segera menyadarinya dan berdeham. “You done?” Tanyanya dan berdiri. “I apologize we have to be parted like this, but I'd be glad to meet you again later, Hadrian. Kris.” Katanya, mengangguk ramah pada kedua orang bingung yang bergegas berdiri.

We have appointment to dentist by...,” Sebastien berbohong dengan mulus, mengecek jam tangannya. “One, right? Yes. Sure.” Dia menatap Argha dan mengusap kepalanya. “Kami permisi dulu jika begitu? Tolong sampaikan salam saya pada Abhimanyu.”

Sebastien kemudian membimbingnya pergi, mengabaikan Khrisna dan Hadrian yang masih kebingungan. Bergegas membukakan pintu untuk Argha yang menghambur keluar—sangat, sangat marah sekarang. Ingin memukul sesuatu, ingin mengumpat. Ingin mengamuk.

Okay, what's happening?” Tanya Sebastien saat mereka meluncur menjauh dari Starbucks. “Aren't you having fun with Abhimanyu?”

Shut it, Seb.” Gertak Argha, memalingkan wajah dari Sebastien. Memejamkan mata dengan jengkel dan memijat pelipisnya. Berharap Abhimanyu menemukan seseorang yang akan melakukan seks pertama dengannya, memberikan jalan untuk Argha.

Karena dia tidak akan menjalin ikatan itu dengan siapa pun lagi.


ps. ehehehehehehehe :D