Gemati 277
ps. isinya cenik semua. kalo gasuka skip aja bor, rasah cingkimin. tengs <3
Cedrik tidak tahu apakah dia harus senang atau sedih ketika melihat bahwa Abhimanyu dan Argha sudah memiliki ikatan yang akrab.
Dia berkendara dari Le Paradis menuju rumah Nikolas. Setengah hatinya membenci keputusan ini. Dia tidak seharusnya mencari orang lain untuk menghibur dan membalut luka yang disebabkan orang lain. Dia memperlakukan Nikolas dengan tidak adil, apalagi dia paham sekali Nikolas tertarik padanya.
Tidak sulit melihatnya. Cedrik selalu menyadari tatapan Nikolas padanya, senyumannya, pesan-pesan kecilnya yang perhatian, sleep call di beberapa kesempatan. Semuanya diladeni Cedrik atas dasar kebaikan semata, tidak ingin memberikan harapan apa pun pada Nikolas. Terkadang mengabaikannya untuk memberi jarak di hubungan mereka. Namun sepertinya dokter hewan muda itu tidak menangkap maksud itu sebagai 'berhenti', namun 'coba lagi'.
Dan Cedrik tidak yakin bagaimana dia harus menyikapinya.
Lalu kenapa Cedrik akhirnya memanfaatkan ketulusannya? Inikah yang dirasakan Abhimanyu untuknya? Rasa kasihan dan bersalah karena tidak bisa membalas perasaan itu lalu memberikan perhatian; apa saja selain rasa cinta untuk menghargainya. Memberikan harapan pada Cedrik, membuatnya percaya bahwa ada kesempatan untuk hubungan mereka ketika perbedaan krusial itu berada di bawah hidung mereka.
Dia tidak bisa melupakan suara tawa Abhimanyu tadi. Cedrik bergegas keluar dari Pastry, terserang rasa cemas karena suara itu dan menemukan keduanya sedang menahan tawa. Abhimanyu nampak ceria dan rileks, bahagia. Tidak lagi ada jejak kebencian yang dulu berkobar di matanya—benci yang digunakan Cedrik sebagai pegangan. Memberikannya rasa tenang dan aman bahwa Abhimanyu tidak akan tergoda pada Argha selama dia masih membenci juru masak senior itu.
Dan sekarang...
Cedrik mengoper gigi motornya dengan marah, lupa mengendurkan kopling sehingga motor sedikit melonjak kaget dan menggeram marah. Namun dia berhasil mengendalikannya, memaksa benda itu menurut padanya di jalanan Ubud yang masih lumayan ramai. Dia ingin ditemani seseorang, ingin ditenangkan, ingin dihibur...
Ingin seseorang mengisi luka di hatinya, menyembuhkannya. Seseorang, siapa saja selain dirinya sendiri.
Dia ingin seseorang bertanggung jawab atas sakit ini; siapa saja selain dirinya sendiri.
Sebenarnya apa yang Cedrik harapkan dari hubungannya dengan Abhimanyu? Sudah dua tahun mereka tidak juga mengalami kemajuan, terhadang perbedaan orientasi seksual mereka. Dia berusaha—sangat berusaha mengubah orientasinya, membuat dirinya tertarik pada seks namun dia selalu merasa mual setelahnya. Bahkan hanya dengan membayangkannya.
Dia tidak bisa membuat dirinya sempurna untuk Abhimanyu. Tidak bisa memberikan apa yang Abhimanyu inginkan. Perasaan ini menumbuhkan rasa cemas berlebihan dalam hubungan mereka, rasa overprotektif yang memusingkan, berusaha menjaga Abhimanyu dari semua orang yang mungkin menarik perhatiannya agar Cedrik tidak disingkirkan. Cedrik egois, jika tentang Abhimanyu dia cukup egois.
Bahkan tidak memikirkan dirinya sendiri.
Dia berusaha memenuhi kotak ekspektasi Abhimanyu tentang pasangannya, berusaha mengisinya dengan hal-hal lain. Tahu bahwa dia tidak bisa memberikan seks untuk Abhimanyu. Maka Cedrik memberikannya perhatian, kasih sayang, kesabaran, dan waktunya; berharap dengan semua itu, Abhimanyu tidak lagi membutuhkan seks.
Namun dia salah.
Apa yang diharapkannya di dunia ini? Di mana segala hal diseksualisasi untuk menarik minat khayalak. Iklan menggunakan cara-cara provokatif secara seksual untuk menjual barangnya, video memasak yang sengaja menggunakan gerakan seksi menjurus seksual, konten-konten mengundang yang sengaja dirancang untuk menstimulus pikiran tidak senonoh, candaan seksual...
Segalanya berputar pada seks; hingga Cedrik tidak lagi paham apa yang sebenarnya disukai manusia dari seks? Padahal kegiatan itu sama sekali tidak menarik, cenderung membosankan.
Dan lelaki yang dicintainya, Abhimanyu hanyalah manusia biasa yang memiliki kebutuhan seks itu, bahkan begitu tinggi hingga Cedrik gelisah tiap kali tidak bisa memberikan apa yang diinginkannya. Rasa cemas dan kecewa pada dirinya sendiri, mengunyahnya hidup-hidup tiap kali Abhimanyu menatapnya dengan sedih; tidak mendapatkan seks dari Cedrik.
Dia ingin sekali menjawab, “Apa, sih, yang membuatmu sangat menyukai seks?!” dengan jengkel namun selalu berhasil menahan dirinya. Apakah dia salah karena tidak menyukai seks? Apakah Abhimanyu salah karena sangat menyukai seks?
Dan apakah Argha salah karena dia sangat sensual? Mengundang siapa saja yang aktif secara seksual untuk mendekatinya, penasaran pada rasa lelaki itu, ingin mencicipinya. Apakah dia selezat penampilannya?
Haruskah Cedrik marah karena Abhimanyu akhirnya tergoda pada Argha seperti laron yang mendekati cahaya? Siapa yang salah? Cedrik? Abhimanyu? Argha? Atau... siapa?
Cedrik berhenti di depan gerbang kayu rumah Nikolas, memarkir motornya sebentar lalu membuka gerbang kecil di sisi gerbang rel untuk memasukkan motornya ke halaman. Dia kemudian kembali menguncinya, menggemboknya sebelum melepaskan sarung tangan berkendaranya dan meletakkan helmnya di teras kecil di sudut halaman depan rumah Nikolas.
Cedrik melangkah ke pintu masuk, pikirannya berat. Memikirkan tawa yang dibagi Argha dan Abhimanyu; penasaran pada apa yang mereka bicarakan. Penasaran apakah dia sudah... kalah?
Nyeri menyeruak di dadanya, dia menghela napas dan mendorong pintu kayu itu. Suaranya berderit keras di rumah yang sudah hening dan seseorang langsung membuka pintu depan. Serangan sakit lain menikam dadanya, merasa bersalah karena dia mendatangi Nikolas untuk menghibur luka ini. Dia menuruni tangga, melihat pintu ganda depan terbuka dan Nikolas muncul dari sana.
“Hai,” sapanya parau. Dia mengenakan pakaian tidurnya; kaus tanpa lengan longgar dan celana pendek. Di dekatnya ada Bong yang mengintip, menyalak ceria ketika mengenali aroma Cedrik.
Dia seketika merasa nyaman. Ada seseorang sekarang di sisinya, seseorang yang mencintainya. Dia akan melakukan apa saja untuk membuat Cedrik senang, 'kan? Menghibur Cedrik seperti yang dilakukannya untuk Abhimanyu?
Cedrik melangkah maju, mendekat ke Nikolas yang tersenyum. Nampak mengantuk sekali dan Cedrik malah memintanya bangun untuk menemaninya terluka. Tapi memikirkan prospek pulang ke kosan untuk mengasihani dirinya sendiri tidak terasa menyenangkan. Tidak juga ingin mendengarkan nasihat Arsa dan tatapan simpati Kinan yang sudah memintanya menyerah pada Abhimanyu jutaan kali dalam dua tahun ini.
Dia butuh Nikolas, ingin memanfaatkan rasa cinta itu. Sekali saja, untuk keuntungannya sendiri.
“You've been taking care of everyone but yourself lately. I just want to show you how it feels like to be taken care.” Katanya dan Cedrik hanya ingin menagih janjinya.
“Aku baru saja selesai menjerang air. Kau mau teh?” Tanyanya ketika Cedrik berdiri di depannya. “Atau sesuatu yang kuat? Aku ada whiskey.”
Cedrik menatapnya. Merasa lelah menyeruak di dadanya, begitu kuatnya. Semua rasa yang ditahannya, semua perasaan yang coba dipendamnya selama dua tahun mencoba membuat dirinya sesuai dengan kebutuhan Abhimanyu mendadak terbit; menghantamnya dengan kuat hingga dia sedikit terhuyung lalu mendekat ke Nikolas. Menumpukan keningnya di bahu pemuda itu dan merasakan Nikolas berjengit kaget oleh sentuhan itu.
“Sebentar.” Bisiknya parau dengan mata dan ulu hati yang mulai panas. “Sebentar saja. Tolong.”
Dia mendengar deru napas Nikolas, aroma keringat tipis yang tercampur dengan aroma linen hangat seprainya, sedikit jejak aroma Bong, dan sisa parfumnya. Denyut nadi di bawah telinga Nikolas terdengar kuat, Cedrik menyadari tindakannya baru saja membuat Nikolas kikuk namun dia membutuhkannya.
Bong mendengking sedih, menyadari perasaan Cedrik dan mengendus kakinya. Menggaruknya lembut, menyundulkan hidungnya pada betis Cedrik sebelum berbaring di kakinya. Dagunya ditumpukan di atas kaki Cedrik, mendongak menatap Cedrik yang menunduk dengan tatapan sedih. Dengkingan kecil lolos dari bibirnya, seolah menghibur Cedrik.
Nikolas sejenak ragu. Cedrik bisa merasakan otot lengannya sedikit bergerak sebelum akhirnya mengangkat kedua tangannya untuk memeluk Cedrik; mengusap punggungnya. Tangannya sedikit dingin karena tegang dan malu, namun Cedrik menghargainya.
“It'd be fine. It'd be fine.” Bisiknya lembut dan Cedrik memejamkan mata, sekarang merasa berdosa karena secara sadar telah memanfaatkan Nikolas yang sama sekali tidak bersalah padanya.
Cedrik kemudian mempersilakan Nikolas kembali tidur, dia akan pergi sebelum matahari terbit untuk kembali bekerja. Sejenak, dokter hewan itu menatapnya cemas namun akhirnya setuju untuk meninggalkannya sendiri—menarik tali leher Bong sedikit untuk memaksanya masuk ke kamar. Cedrik kemudian berbaring di sofa, menatap langit-langit yang remang dengan segelas teh hangat di meja—dibuatkan Nikolas yang mendesak.
Nikolas tidak bercanda atau melebih-lebihkan ketika mengatakan bahwa rumahnya berantakan. Tempat itu memang berantakan; ada cucian kotor di bak cuci yang belum disentuh, mainan Bong berserakan di atas karpet lembut, lantainya terasa sedikit kotor ketika Cedrik melangkah di atasnya, dan aroma rumah sedikit apak.
Tapi dia tidak masalah. Lebih baik seperti ini daripada sendirian di kosnya, di tempat di mana Abhimanyu pernah menyentuhnya. Tempat di mana mereka berciuman, berpelukan sebelum tidur, tertawa dan membagi bahagia; berpikir dengan naif kehidupan akan selamanya baik pada mereka. Berpikir jika tidak bisa memiliki Abhimanyu, Cedrik akan bahagia memiliki dia di sisinya. Selalu dan selamanya bergantung pada Cedrik.
Cedrik menutup matanya dengan lengan, berharap dia bisa terlelap walaupun rasa cemas mencengkeram kepalanya. Tidak bisa mengenyahkan tawa Abhimanyu dan Argha dari pikirannya, tatapan yang mereka tukar, bahasa tubuh mereka... Membuat Cedrik menyadari bahwa selama ini mereka sangat akrab.
Siapa sangka hanya butuh satu hari untuk Abhimanyu berpaling dari Cedrik setelah dua tahun mereka menghabiskan waktu berdua?
Cedrik hanya tidak menemaninya satu hari dan segalanya berantakan. Dia hanya melepaskan Abhimanyu satu hari, ingin beristirahat sejenak dari Abhimanyu dan merilekskan dirinya. Mengambil waktu senggang melakukan apa yang dia inginkan alih-alih Abhimanyu dan segalanya kacau.
Sekarang Abhimanyu sudah menjauh darinya. Cedrik bisa melihat dari tatapannya, dia hendak mengatakan sesuatu. Dia ingin mengakhiri hubungan mereka, ingin meninggalkan Cedrik.
Apakah dia seharusnya memperkenalkan Abhimanyu dengan Nikolas? Namun dia merasa memperkenalkan lelaki yang mencintainya pada lelaki yang Cedrik cintai tidak akan berjalan baik. Tidakkah itu akan menyakiti Nikolas? Bahwa Abhimanyu-lah alasan mengapa Cedrik tidak bisa menerima segala perhatiannya yang berlimpah?
Bagaimana jika Abhimanyu memperkenalkan Cedrik pada lelaki yang dicintainya?
Akankah Cedrik tetap utuh? Dia tidak ingin membuat Nikolas merasakan sakit itu; tidak. Nikolas tidak layak merasakan sakit itu.
“Cedrik, aku ingin bicara.” Katanya tadi, kilatan emosi di matanya membuat Cedrik gelisah. Perutnya mengejang tidak nyaman dan reaksi pertamanya adalah bersikap defensif, mendorong Abhimanyu menjauh untuk menunda percakapan yang dia tahu akan datang cepat atau lambat.
Abhimanyu sedang ragu. Cedrik tidak yakin pada siapa keraguan itu ditujukan, dia berpikir Abhimanyu sedang takut pada Cedrik karena rasa bersalahnya tempo hari. Namun ketika dia melihat interaksi Argha dan Abhimanyu, dia menyadari bahwa Abhimanyu ragu pada hubungan mereka.
Dia sudah merasakan energi Abhimanyu tidak lagi hangat, merasakan perubahan emosinya pada Cedrik sejak begitu lama. Namun dia terus berusaha mempertahankannya. Bersikap egois dengan mencengkeram Abhimanyu begitu kuat di jemarinya, berharap Abhimanyu tidak akan meninggalkannya.
Apakah Abhimanyu sudah tertarik pada Argha sejak lama? Sejak kapan...? Bukankah dia membenci Argha? Apakah ada saat ketika dia berbaring di pelukan Cedrik dan memikirkan Argha...?
Saat ketika dia mencium Cedrik dan memikirkan Argha?
Hatinya koyak. Begitu kuatnya hingga Cedrik menarik napas tajam, mencengkeram dadanya. Meremasnya kuat, berusaha mengenyahkan sakit dibalik paru-paru dan jantungnya. Rasa sakit panas yang mengerikan, membuat setiap tarikan napasnya menyengat hidungnya. Air mata meleleh dari sudut matanya dan isakan kecil lolos dari bibirnya.
Pernahkah Abhimanyu menciumnya sambil memikirkan Argha...? Itukah mengapa dia mendadak begitu memaksa Cedrik memberikannya sentuhan fisik?
Pikiran itu menyengatnya, berkali-kali seperti seekor ular yang menggigitnya. Menyuntikkan bisa ke pembuluh darahnya dan meracuni sistemnya. Membuat hatinya lumpuh dan kebas, otaknya merespons sakit hebat itu dengan diam. Membiarkan hati menguasai seluruh organ dan meracuninya dengan rasa sakit dan kecewa.
Cedrik lupa menyadari bahwa jatuh cinta akan selalu datang bersama dengan patah hati.
Dan dia sama sekali tidak siap.
”... Cedrik?”
Cedrik tidak bereaksi, panas di dadanya menyesakkan. Dia terisak, tidak lagi ingin berusaha mengendalikan tangis itu. Tidak ketika seluruh energinya terhisap habis oleh rasa sakit yang mengoyak hatinya. Bagaimana jika Abhimanyu meninggalkannya...? Menjauh darinya?
Mengakhiri hubungan mereka setelah dua tahun lamanya karena... Argha? Bajingan sensual yang sejak awal sudah membuat hubungan mereka bergolak. Cedrik seharusnya tidak mengendurkan pertahanan dirinya pada Argha, terlalu mengandalkan kebencian Abhimanyu pada Argha untuk menenangkan dirinya. Terlalu memercayai Abhimanyu.
Terlalu berusaha untuk Abhimanyu.
Terlalu mencintai Abhimanyu.
Terlalu bodoh.
Menyerahkan dirinya sepenuhnya pada Abhimanyu; segala cinta, perhatian, emosi, waktu dan segalanya pada Abhimanyu hingga tidak ada lagi yang tersisa pada Cedrik untuk dirinya sendiri.
Atau bahkan Nikolas.
“Hei, hei. Kau oke?” Bisik Nikolas, menghampirinya membawa aroma linen hangat dan keringatnya, berlutut di sisi kepala Cedrik. “Hei, ya Tuhan.” Bisiknya panik. “Kau mendengarku? Cedrik?”
Cedrik tidak ingin menjawab, tidak ingin bergerak. Dia ingin menangis, terus menangis hingga air matanya kering dan dia mati. Tidak ingin hidup untuk menghadapi hari esok ketika dia tahu Abhimanyu akan meninggalkannya. Melangkah pergi darinya dan menyambut pelukan Argha. Tidak ingin memikirkan bagaimana Argha tidak akan perlu berusaha sekeras Cedrik untuk mengimbangi keinginan seksual Abhimanyu.
Dia tidak perlu berusaha, tidak perlu membengkokkan dirinya untuk menyesuaikan dengan lekukan Abhimanyu.
Benci memikirkan bagaimana Argha tidak perlu... tidak perlu....
“Ya Tuhan,” bisik Nikolas sekali lagi, sayup-sayup dari sela tangisnya sendiri dan dengung yang menbuat Cedrik pening.
Dia menyerah ketika Nikolas menyelipkan lengannya di bawah tubuh Cedrik, menariknya bangkit lalu membaringkan tubuh atas Cedrik di tubuhnya. Memeluknya dan menyandarkan kepalanya di kepala Cedrik. Menggumamkan sesuatu yang tidak Cedrik dengar, namun membuatnya tenang karena setidaknya akan ada seseorang yang menyelamatkannya jika dia tenggelam. Jika Cedrik tidak mampu menahan dirinya sendiri, tidak mampu berdiri di kakinya sendiri.
Akan ada seseorang yang menariknya bangkit.
Nikolas tidak yakin apa yang harus dilakukannya sekarang dengan Cedrik yang terisak di pelukannya dan Bong yang mendengking—ikut merasakan kesedihan itu.
Dia tidak tenang meninggalkan Cedrik sendirian, apalagi ketika menyadari ekspresinya yang pucat dan kosong ketika tiba. Dia nampak seperti baru saja dihajar segerombol orang dan tidak lagi ingin hidup. Nikolas sejenak ingin menghubungi Kinan untuk bertanya apakah sesuatu terjadi di tempat kerja, namun merasa dia bukanlah siapa-siapa untuk melakukannya. Lagi pula, tidak sopan menghubungi pasangan seseorang selepas jam kerja.
Maka dia mengusap punggung Cedrik, berusaha membuatnya merasa lebih baik di tengah ruang tamu yang remang-remang sementara di kejauhan Ubud mulai terlelap. Isakan Cedrik berat, tangisannya tidak bersuara; begitu menyayat hati.
“Pernahkah kau mencintai seseorang?” Tanya lelaki itu tiba-tiba, parau dan berat hingga sejenak Nikolas tidak yakin apakah itu benar suara Cedrik. “Begitu mencintainya hingga kau rela membengkokkan diri, mengubah dirimu sendiri untuk menyesuaikan keinginannya tapi...
“Kau tidak juga cukup untuknya?”
Nikolas diam. Tidak yakin harus menjawab apa. Cedrik gemetar di pelukannya dan Nikolas bisa merasakan pedih yang dirasakannya. Apakah ini mengenai seseorang yang disukainya? Orang yang melangkah masuk ke kehidupan Cedrik satu hari lebih awal dari Nikolas?
Siapkah Nikolas mengetahui siapa yang dicintai Cedrik? Seseorang yang membuatnya terluka dan sehancur ini sekarang? Siapkah Nikolas...? Siapkah dia menyembuhkan luka yang diberikan orang itu pada Cedrik? Bagaimana jika dia mengenalnya? Bagaimana jika dia tahu siapa dia? Akankah dia baik-baik saja?
Siapkah hatinya...?
“Jika...,” bisik Nikolas perlahan, memilah kata yang ingin digunakannya sehingga tidak menyakiti Cedrik. “Jika dia memang mencintaimu, dia tidak akan mengubahmu.”
Dia sudah mengatakannya. Tidak merasa benar pada bagaimana Cedrik memaksakan dirinya untuk menjadi lelaki yang sesuai untuk seseorang yang mungkin bahkan tidak berusaha untuknya—karena jika mereka berdua berusaha, Nikolas yakin mereka tidak membutuhkan waktu hingga dua tahun untuk menggantungkan hubungan mereka.
Tentu saja ada yang salah dalam hubungan itu. Dan Nikolas benar-benar penasaran pada alasan mengapa mereka tidak juga menjadi sepasang kekasih.
“Bagaimana jika perbedaan itu begitu krusial dan penting untuknya?” Bisik Cedrik lagi dan Nikolas bergidik—ini pertama kalinya Cedrik berada sedekat ini dengannya.
Aroma tubuhnya menenangkan; seperti cokelat, vanila, dan toko roti yang segar. Secercah keringat dan sisa parfumnya, juga udara malam. Nikolas ingin memeluknya, membenamkan wajahnya pada pelukan Cedrik dan lelap di sana. Ingin mencintainya, ingin membahagiakannya, ingin membuatnya melupakan siapa pun itu yang menyakitinya.
“Maka...,” Nikolas menghela napas. Tidak ada cara yang lembut untuk mengatakan ini. “Mungkin kau sudah tahu jawabannya selama ini dan menolak melihatnya.” Bisiknya lalu perasaan bersalah menyengat hatinya karena telah mengatakan kenyataan itu pada Cedrik.
Dia merasakan tubuh Cedrik menegang di pelukannya dan tangisannya berhenti. Mungkin merasa tertampar atau bahkan tersinggung pada kata-kata Nikolas. Tapi dia tidak mau menghibur Cedrik dengan cara itu. Jika dia memang tidak bahagia, kenapa dia terus bertahan merusak dirinya?
Nikolas tidak berpikir hanya dirinyalah yang bisa membahagiakan Cedrik, dia mungkin juga tidak bisa melakukannya. Sudah pernah mengalami kegagalan dalam hubungan romantis karena orientasi seksualnya; semua orang yang datang padanya seketika menuntut seks. Bahkan di pertemuan pertama dan Nikolas tidak memiliki ketertarikan apa pun pada seks.
Dia pasti tidak bisa melakukannya juga. Tapi dia berharap dia diberikan kesempatan untuk mencoba.
Dan berharap jika... Cedrik juga seorang aseksual. Tidak bisa menjelaskan bagaimana, tapi ketika mendengarnya bicara; Nikolas langsung merasakan bahwa dia juga seorang aseksual. Dia tidak menyentuh Nikolas dengan cara yang... sensual. Dia menyentuh dengan hangat, tersenyum dengan tulus, dan selalu memperlakukannya dengan sopan.
Entah apakah Cedrik memang amat baik atau dia seorang aseksual karena semua orang yang ditemui Nikolas selalu berusaha mengajaknya bercinta di pertemuan pertama atau kedua. Perasaannya kuat, kali ini dia percaya pada kata hatinya.
“You didn't ask too much,” bisik Nikolas lagi berusaha menghibur Cedrik, menempelkan telapak tangannya di punggung Cedrik. Berdebar karena dia mungkin mengatakan sesuatu yang membuatnya nampak lebih baik padahal dia hanya ingin menghibur Cedrik.
“You probably are just asking the wrong person.”
Mereka bersidiam, lama sekali hingga Nikolas takut dia baru saja mengatakan hal yang salah. Namun dia tetap diam, tidak yakin bagaimana memperbaikinya. Bagaimana jika dia bicara, hanya akan menambah rasa tersinggung Cedrik lalu membuatnya pergi dari rumah Nikolas?
Bong di kaki mereka mendengking panjang, mengeluarkan suara-suara sedih dan menyundulkan hidungnya pada kedua kaki mereka. Memohon seseorang untuk memberi tahunya bahwa mereka baik-baik saja, tidak ada yang sedih. Mereka hanya bercanda lalu tertawa sambil memeluk Bong kembali.
“I can give him everything, even the world...,” bisik Cedrik dan hati Nikolas berdenyut mendengarnya; menyadari cinta yang dituangkan Cedrik dalam kalimatnya, pemujaan itu, kerinduan itu, juga... kekecewaan.
Him, pikir Nikolas hampa. Dia mencintai seorang lelaki. Apakah lelaki itu berada di sekitarnya? Dekat dengannya bahkan ketika Nikolas tidak bertemu dengannya...?
“But he asked the only thing I can't give him.” Bisiknya lagi, mengembalikan fokus Nikolas ke masa sekarang dengan jantungnya yang mencelos; apakah Cedrik persis seperti apa yang dipikirkannya...?
“Out of everyone, I fall in love with him. Knowing so much I could never.”
Sisa kalimat Cedrik berceceran di sekitar mereka, meloloskan diri dari mulutnya begitu saja. Nikolas yakin dia sudah mabuk oleh sakit hati, tidak lagi menyadari bahwa dia sedang memeluk orang asing yang baru 'dikenalnya' secara resmi selama beberapa minggu. Dia seharusnya menceritakan semua ini pada Arsa, sahabat akrabnya.
Tapi Nikolas menghargainya, dia mendengarkan. Tidak ingin merusak rasa nyaman Cedrik sekarang. Berharap detik dia menyadari bahwa dia mencintai orang yang salah, dia melihat Nikolas di sisinya. Nikolas tidak akan melepaskan Cedrik sedikit pun, akan terus menempel padanya. Tidak ingin terlambat lagi. Tidak.
Sudah cukup dua tahun ini.
“Mungkin...,” Nikolas memulai perlahan. “Mungkin dia memang tidak ingin bersamamu? Mencari-cari alasan untuk menolakmu?” Dia menggigit lidahnya karena baru saja menjelek-jelekkan seseorang yang Cedrik sayangi.
Sehebat apa pun dia menginginkan Cedrik, Nikolas tidak ingin menggunakan cara itu.
“Tidak.” Bisik Cedrik, mengusapkan wajahnya di bahu Nikolas dan membenamkan dirinya semakin dalam ke pelukan Nikolas yang menahan napas.
Aroma Cedrik begitu menyenangkan, Nikolas ingin memeluknya. Ingin mengusap semua lukanya, menyembuhkannya. Memberi tahunya bagaimana rasanya dicintai begitu hebatnya hingga Cedrik tidak lagi teringat pada sakit hatinya. Namun dia bertahan, memeluknya longgar—tidak ingin merangsek masuk ke ruang personal Cedrik seberapa pun luasnya Cedrik membuka pintu sebelum dia dipersilakan.
“I'm asexual. He's not asking too much, it's just me. The problem is me.”
Jantung Nikolas mencelos lalu melonjak begitu kuat, memukul dadanya hingga dia menarik napas tajam. Dia memenangkan pertarungan ini dengan siapa pun itu lawannya; tidak lagi tertarik karena... mereka berdua aseksual! Bayangkan betapa luar biasanya hidup Nikolas ketika akhirnya bertemu seseorang dengan orientasi seksual sama dengannya dan lelaki itu juga orang yang sudah dicintainya.
Tuhan maha baik!
Tidak ada hubungan lain yang akan lebih baik daripada dua aseksual. Karena tidak akan ada kecemasan karena tidak bisa memberikan seks untuk pasangan mereka, tidak akan ada rasa 'kurang sempurna' karena mereka berdua sama-sama mencintai melampaui seks. Tidak membutuhkan seks untuk mengikat perasaan mereka, untuk mencintai dengan utuh.
“Aku...,” Nikolas menelan ludah, berusaha tidak terdengar terlalu senang karena takut melukai Cedrik yang sedang sedih. “Aku... paham. Aku paham sekali. Percayalah.”
Cedrik diam sejenak lalu tergelak getir. “Tidak, kau tidak paham. Kau tidak akan paham rasa kurang dan cemas ini. Rasa tidak layak karena tidak bisa memberikan—”
“Aku paham.” Potong Nikolas, nyaris menangis sekarang. Tangis bahagia dan bersemangat; perasaan senang yang membuncah terasa hangat di dadanya. Perbuatan baik apa yang telah dilakukannya dahulu hingga dia mendapatkan karma baik mencintai seseorang yang memiliki orientasi seksual yang sama dengannya??
“Aku paham karena aku juga aseksual!” Serunya tertahan. “Aku paham, aku paham sekali!”
Cedrik menegang di pelukannya. Dia menarik dirinya dan Nikolas mengeluarkan suara erang tertahan, takut baru saja mengatakan sesuatu yang membuat Cedrik tersinggung. Nikolas menatap Cedrik yang balas menatapnya, sedikit tegang.
Kau seharusnya diam saja, Bodoh! Bentaknya pada dirinya sendiri ketika ketegangan melingkupi mereka, menyusul keheningan Cedrik. “Maaf,” cicitnya. “Aku tidak bermaksud mengecilkan masalahmu atau mengalihkan pembicaraan sungguh. Aku hanya—”
“Kau aseksual?”
Nikolas mengerjap, mengangguk perlahan di bawah tatapan Cedrik. “Ya.” Bisiknya. “Hubunganku selalu gagal karena aku belum bertemu pasangan dengan orientasi seksual yang sama. Aku paham bagaimana perasaanmu ketika mereka menginginkan satu-satunya hal yang tidak bisa kuberikan...”
“Tapi!” Dia bergegas menambahkan. “Aku juga tidak mengatakan bahwa aku jauh lebih baik dari dia yang kaucintai sekarang. Aku paham sekali bahwa kau—”
“Aku tahu kau mencintaiku.”
Nikolas diam, jantungnya mencelos. Dia menatap Cedrik dan melihatnya.
Rasa bersalah yang menyeruak di mata Cedrik, berkilat begitu tajam dan terasa menikam hati Nikolas dengan belati panas bergerigi. Nikolas tidak bodoh, dia tahu apa ini. Dan entah bagaimana, dia malah tersenyum dengan mata tersengat panas air mata.
“Y-yah,” dia mengendikkan bahunya dan tertawa kecil, seperti seorang psikopat. “Aku tidak berusaha membuatnya tidak nampak, 'kan?” Dia tersenyum, bibir bawahnya gemetar.
Cedrik menolaknya.
Pemahaman itu menamparnya, menghantamnya dengan begitu kuat. Tenggorokannya terasa panas tersengat tangisan. Dua tahun. Dua tahun dia berusaha, dua tahun dia menanti Cedrik dan dia baru saja merasa bahagia karena mereka adalah aseksual. Yakin dia memenangkan pertarungan. Dia terlalu cepat senang, terlalu gegabah. Tidak sabaran padahal Cedrik baru saja mengungkapkan betapa dia mencintai orang ini. Tidak ada ruang di hatinya untuk siapa pun. Tidak peduli selama apa pun Nikolas mengetuk.
Seharusnya dia diam saja tadi, seharusnya dia tidak mengatakan apa pun. Dia seharusnya mendengarkan Cedrik saja, menyimpan kartu AS-nya nanti. Nanti ketika Cedrik sudah melepaskan diri dari orang ini.
Seharusnya dia....
Seharusnya...
Cedrik menghela napas, nampak tertekan dan Nikolas merasa bersalah karena sudah menambahkan pikiran untuk Cedrik sekarang. “Nikolas, aku—”
Nikolas memotongnya dengan berdiri. “Tidak masalah.” Katanya, nyaris setengah histeris. “Saya paham, Chef.” Dia menambahkan tawa kecil yang tegang dan perih. Merasakan pedih di hatinya ketika dia kembali menggunakan kalimat formal pada Cedrik.
“Beristirahatlah.” Dia memaksakan senyuman di ototnya yang kaku karena sedih. “Maaf saya harus tidur sekarang karena nanti saya harus ke klinik pagi-pagi sekali. Selamat malam, Chef.”
Dia tidak berhenti untuk melihat ekspresi Cedrik, tidak mau melihat rasa bersalah itu lagi. Penolakan tanpa kata yang ternyata sangat menyakitkan. Nikolas bergegas berlalu dari sana, memanggil Bong dengan parau lalu berjalan cepat ke kamarnya.
Amarah dan rasa sedih membakar dirinya. Nikolas membanting pintu, menghantamkan kepalan tangannya ke daun pintu hingga Bong mendengking keras karena kaget—menyelipkan ekornya ke kedua kaki belakangnya dan bersembunyi di belakang ranjang. Dia lalu bersandar di sana, merasa luar biasa.
Luar biasa bodoh.
ps. ehe :(