Gemati 255

isinya gabhim, tapi yagitu deh baca sendiri aja hehe careful. ini pedes :(


Argha menghela napas panjang, bersandar semakin dalam di bathtub luar ruangannya dan menjauhkan ponsel dari pandangannya.

Dia baru kembali dari rumah Sebastien dan memutuskan untuk mandi di dalam bak berendam dengan bath bomb. Air di sekitarnya sekarang penuh busa yang lembut berwarna merah jambu tipis dengan aroma harum yang menyenangkan. Di lantai, dia meletakkan sepiring cheese platter, sebotol anggur merah dan gelasnya; ingin menikmati waktu sendiriannya sebaik mungkin.

Dia menyandarkan kepalanya di tepian bathtub, memejamkan mata. Berusaha membuat kepalanya rileks. Meletakkan ponselnya menjauh, tidak lagi ingin membaca pesan apa pun yang Hikaru kirimkan padanya. Di sekitarnya, angin berdesir lembut, memecah permukaan air kolamnya menjadi ombak-ombak kecil dan gemeresak dedaunan dari pohon tinggi milik tetangga belakangnya yang melewati dinding mereka.

Pemilik vila sudah menawarkan diri untuk membantu Argha memangkasnya agar daunnya yang rontok tidak mengotori kolam renang, tapi Argha menolaknya. Alih-alih, memberikan bayaran ekstra untuk pengurus vila membereskan kolamnya yang kotor.

Dia suka pohon itu. Bougenvil besar berwarna merah pekat, bunganya membuat Argha merasa lebih baik. Juga memberikannya keteduhan tiap memutuskan untuk berendam. Dia senang menemukan daun-daun kering di atas lantai pualam vilanya; membuat rumah itu nampak hidup dan hangat. Suara daunnya yang gemerisik membuatnya tenang.

Vila itu dilengkapi dengan boks mandi rain shower, persis di depan bathtub. Dia menggunakannya hanya jika ingin membasuh diri setelah berenang atau pulang terlalu malam. Lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah Sebastien yang sekarang terasa seperti rumahnya sendiri.

Sebastien sudah menawarinya untuk tinggal di rumahnya saja. Memberikannya lantai dua untuk dirinya sendiri sebagai privasi tapi Argha menolaknya. Tidak ada yang terasa lebih nyaman selain pulang ke tempat di mana segalanya beraroma seperti dirinya.

Argha menaikkan kakinya ke pinggiran bathtub, menyilangkannya dan kedua tangannya terjulur ke luar bathtub, menggantung. Posisi yang membuatnya merasa nyaman sementara di atasnya atap alami dari daun bougenvil menyaring sinar matahari sehingga tidak menyengat wajahnya. Jauh dari hingar-bingar jalanan Seminyak, sepi dan menenangkan.

Ada perasaan malu yang sekarang bercokol di hatinya. Selama dia berhubungan dengan Yukio, memiliki ONS bukanlah masalah baru dalam hubungan mereka. Malah itu semua ide dari Yukio untuk Argha, jadi dia tidak pernah merasa sebersalah ini pada Yukio hanya karena... sexting.

Argha mendesah keras, mengusap wajahnya dengan tangannya dan menutup matanya dengan lengan. Air beriak ketika dia bergerak. Tubuh atasnya terpapar udara, tidak pernah merasa risih berkeliaran dengan tubuh telanjang di sini karena dinding vilanya begitu tinggi dan dia sudah mengunci pintu depan. Tidak ada yang tahu kediamannya selain pemilik vila yang tidak akan datang tanpa menghubunginya terlebih dahulu.

Singkat kata: privasinya sangat terjaga.

I have never seen you being this hard before,” Sebastien tergelak tanpa suara, mengusap tubuh Argha persis setelah dia mengakhiri panggilannya dengan Abhimanyu. Terengah karena sangat menginginkan Abhimanyu namun terhalang prinsipnya sendiri.

He was that good, eh?” Sebastien mengecup perutnya yang telanjang dan Argha mendesis—merasa sangat bergairah dan tidak tahu cara menyelesaikannya. “Who knows a virgin could do this to you.”

Argha tidak menjawab karena dia juga tidak menyangka betapa kotornya Abhimanyu dengan mulutnya. Di balik penampilannya yang menggemaskan, rambut ikal kecokelatan, mata seperti karamel meleleh, dia ternyata binatang. Paham mengapa dia dan Cedrik tidak bisa memiliki hubungan.

Tangannya terulur ke gelas wine di lantai dan meraihnya, menyesapnya perlahan sambil menatap langit biru yang mulai beranjak. Dia akan bermalas-malasan hari ini, sendirian dengan membaca buku atau menonton sesuatu. Sudah cukup kemarin dihabiskannya bertemu begitu banyak orang. Ingin mengasihani dirinya sendiri lebih tepatnya.

Dia berbaring di ranjang Sebastien dengan lelaki itu mendengkur lembut di sisinya, menatap langit-langit kamar semalam. Merasakan rasa bersalah bertahun-tahun lalu menyeruak di dadanya. Rasa bersalah yang persis sama dengan yang dirasakannya ketika pulang ke apartemen mereka kali pertama dia bercinta dengan one night stand dan menemukan Yukio terlelap. Sedikit kebingungan mengapa dia merasakan itu lagi sekarang, setelah bertahun-tahun kebas.

Argha menggoyangkan gelasnya, menatap cairan di dalamnya bergolak membentuk pusaran kecil mengikuti gerakan gelasnya dengan pikiran melanglang buana. Apakah dia sudah tertarik pada Abhimanyu lebih dari perasaan tertariknya pada semua orang?

Apakah rasa tertarik itu... bukan lagi sekadar fisik?

“Carilah seseorang untuk diajak bercinta.” Kata Yukio hari itu dan Argha menoleh, sepenuhnya kaget dan defensif oleh kalimat itu walaupun Yukio mengatakannya nyaris setengah berbisik.

Argha memejamkan mata, menarik napas dalam-dalam ketika ingatan itu muncul ke permukaan; seperti film rusak yang dipaksa untuk ditayangkan. Pecah dan kotor, namun tetap menyakitkan. Mengerikan bagaimana Argha masih bisa mengingat jelas ekspresi Yukio hari itu...

“Apa?” Tanyanya, merasakan darah surut dari wajahnya. Dan Yukio balas menatapnya, nampak serius dengan kalimatnya. “Apakah aku melakukan sesuatu yang membuatmu tersinggung?” Dia mematikan kompornya, tidak bisa fokus pada masakannya dan obrolan Yukio.

Yukio merapatkan ponco di tubuhnya. “Kau mendengarku, Argha.” Bisiknya dan menatapnya. “Aku tahu kau tersiksa dalam hubungan ini. Aku mendengarmu...,” dia menelan ludah dan merona tipis. “Aku mendengarmu di kamar mandi semalam.”

Argha merasa jantungnya mencelos. Dia sudah berusaha bermasturbasi sediam mungkin, memastikan Yukio sudah terlelap sebelum memanjakan dirinya sendiri karena tahu itu hanya akan menerbitkan rasa cemas baru di dalam diri Yukio. Tidak menyangka Yukio akan terjaga dan mendengarnya.

Mungkin itulah hal paling vital dalam hubungan mereka. Argha tidak siap ketika dia tahu Yukio seorang aseksual setelah satu tahun mereka bersama—tidak pernah berpikir macam-macam tentang Yukio yang selalu menolak ketika Argha mengajaknya bercinta. Berpikir mungkin kecemasan dan gangguan mentalnya yang membuatnya kesulitan hingga akhirnya Yukio mengatakannya. Menangis karena merasa bersalah tidak bisa memberikan apa yang Argha inginkan dan butuhkan dari hubungan mereka.

Keduanya bertahan, tertatih-tatih namun tetap kuat. Argha berusaha menyamai langkah Yukio yang sama sekali tidak tertarik pada hubungan seksual. Maka dia selalu melakukannya sendirian, diam-diam setelah Yukio lelap agar tidak membuatnya tersinggung. Argha jelas bukan aseksual, bahkan memiliki sex drive yang lumayan tinggi sehingga bersama Yukio adalah pengorbanan besar yang selalu membuat Yukio cemas. Tidak peduli seberapa seringnya Argha memberi tahunya bahwa dia tidak keberatan.

“Itu bukan apa-apa.” Argha bersikeras, meletakkan semuanya dan bergegas merengkuh Yukio—hatinya berdenyut pedih. “Maaf jika aku ternyata tidak melakukannya dengan cukup tenang dan membangunkanmu. Maaf jika membuatmu merasa kurang.” Dia mengecup kepala Yukio yang balas memeluknya, melingkarkan lengannya di pinggang Argha.

“Kau cukup. Kau sempurna.” Bisik Argha di rambutnya. Mengeratkan pelukannya, tidak ingin melepaskan Yukio. Tidak ingin melepaskan satu-satunya jangkar yang menahannya tetap di bumi. “Jangan mengatakan hal-hal yang hanya akan menyakiti dirimu sendiri. Aku baik-baik saja, oke? Tidak masalah. Sungguh.”

Dan itulah awal mula dari segala pertengkaran mereka. Yukio tetap bersikeras Argha harus mencari one night stand untuk dirinya sendiri, menyenangkan diri. Melakukan apa yang dibutuhkannya dan Argha tahu itu hanya akan semakin menyakiti Yukio—membuatnya merasa tidak sempurna.

Mereka semakin sering beradu mulut, padahal sudah empat tahun lebih mereka bertahan dengan pengaturan itu. Entah mengapa di tahun kelima Yukio mulai bersikeras. Sekali, karena tidak ingin bertengkar dan membuat suasana hati Yukio memburuk, Argha melakukannya. Dia senang, mendapatkan pelepasan yang dibutuhkannya. Seks membuatnya merasa luar biasa, namun ketika dia pulang ke apartemen dan melihat Yukio terlelap di ranjang mereka....

Argha merasa kotor sekali.

Dia membilas tubuhnya, menggosok kulitnya hingga pedih berusaha menghilangkan segala jejak sentuhan perempuan yang diajaknya bercinta tadi. Menyabuni tubuhnya berkali-kali hingga kulitnya terasa melepuh karena sabun, berdiri di bawah shower begitu lama karena merasa tubuhnya begitu kotor. Tidak mau menyentuhnya, tidak ingin Yukio menyentuhnya.

Yukio yang menariknya keluar dari kamar mandi hari itu, memeluknya dan menenangkan Argha. Membuat tubuh mereka berdua basah, menangis bersama ketika Argha meminta maaf dan Yukio meyakinkan dia bahwa itu tidak apa-apa. Dari sanalah semua OCD-nya berasal; rasa bersalah hebat itu, ketakutan itu, kebingungan itu.... Bercokol di kepalanya, memberikannya sugesti yang keliru.

Namun di saat yang bersamaan; rasa bahagia, ledakan orgasme yang membuatnya merasa senang untuk beberapa detik hingga kepalanya pening kemudian membuat Argha melakukannya lagi. Diam-diam dari Yukio; terlambat sadar bahwa semakin sering dia melakukannya, semakin Yukio merasa cemas bahwa dia sedang mengekang Argha. Memenjarakannya.

Dan fakta Argha merasa dia harus menyembunyikan itu darinya membuat perasaan Yukio semakin tidak karuan meski Argha sudah menjelaskan bahwa dia melakukannya malah demi Yukio. Dia tanpa disadari, memupuk pertengkaran hebat yang akhirnya membuat Yukio memutuskan bahwa hubungan mereka tidak bisa dilanjutkan lagi.

Itulah mengapa detik dia mengetahui Cedrik adalah seorang aseksual, Argha langsung memahami dinamika hubungannya dan Abhimanyu.

Perasaan bersalah yang selalu terbit di mata Cedrik adalah perasaan yang dirasakan Argha dan Yukio bertahun-tahun hingga mereka frustrasi. Perasaan tidak cukup layak, kurang, cemas, tidak nyaman; merasa telah merenggut sesuatu dari pasangannya.

Apalagi sekarang setelah Argha mengetahui bagaimana Abhimanyu bereaksi terhadap godaan seksual. Cedrik pasti sudah compang-camping, dua tahun berusaha menyamai langkah Abhimanyu dengan kondisi perbedaan fatal itu. Timpang seperti hubungannya dengan Yukio, rasa bahagia yang tidak lepas karena terbebani perasaan bersalah terhadap satu sama lain.

Argha berhasil menahannya selama empat tahun, bersikap ksatria pada Yukio dan mencoba mengalah atas kebutuhannya sendiri. Namun Abhimanyu, dia yakin, bukanlah tipe yang menghadapi masalah seperti Argha. Dia masih sangat naif. Dia pasti sedang menggerus Cedrik di tangannya seperti menggerus kedelai menjadi tahu, menghancurkannya.

Argha memejamkan mata, tidak berani membayangkan kerusakan Cedrik jika Abhimanyu memutuskan untuk menyelesaikan hubungan mereka dan melangkah pergi. Persis seperti yang dilakukan Yukio dari kehidupan Argha. Karena Argha bahkan belum berhasil menyembuhkan diri setelah nyaris sepuluh tahun lalu menatap punggung Yukio yang melangkah keluar dari apartemen mereka, meninggalkannya.

Dan dia jelas tidak mau menjadi alasan Abhimanyu meninggalkan Cedrik, tidak peduli seberapa besar dia menginginkan Abhimanyu untuk dirinya sendiri sekarang.

Argha yakin dia bisa bertahan, menjauhkan dirinya dari Abhimanyu—bisa berusaha melakukannya. Namun ledakan emosi Abhimanyu yang begitu ekstrim membuatnya sedikit cemas. Sex drive-nya mengerikan, Argha sudah lama tidak bertemu lelaki seperti Abhimanyu. Dia yakin Abhimanyu akan kembali lagi, lagi, dan lagi pada Argha. Hingga akhirnya dia tidak mau pergi.

Dan Argha merasa berdosa karena dia... senang memikirkannya.

Cheers for the future damage,” bisiknya parau mengangkat gelasnya, sudah mulai paham ke mana semua hal ini akan bermuara. Sudah melihat retak di atas cermin di hadapannya, sebentar lagi pecah. Berhamburan, menyakiti semua orang dengan pecahannya. Tidak akan ada yang selamat.

For Cedrik's endless happiness.” Tambahnya muram sebelum menyesap minumannya.


Abhimanyu berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit dengan nanar.

Dia menyentuh dadanya sendiri, merasa bersalah sejak semalam detik dia menyelesaikan teleponnya dengan Argha. Merasa sudah mengkhianati kepercayaan Cedrik padanya, berselingkuh darinya walaupun otaknya paham sekali bahwa mereka tidak berhubungan. Abhimanyu tidak perlu merasa bersalah.

Tapi menikmati seks bersama orang lain ketika mengingat ada orang lain yang dengan tulus menantinya terasa salah. Maka dia bergegas menghapus isi pesannya dengan Argha; tidak mau Cedrik tidak sengaja menemukannya atau dia membacanya lagi. Perasaan malu dan bersalah ini membuatnya merasa tercekik.

Dia tidak mau bertemu Cedrik sekarang.

Bagaimana bisa dia menghadapi Cedrik ketika dia ingin belajar mencintai Cedrik namun di sisi lain sangat menikmati desahan Argha di telepon semalam? Ingin bercinta dengannya—sangat ingin, seperti orang sinting. Bukankah itu selingkuh dan tamak namanya? Abhimanyu harus melepaskan salah satu, tidak bisa menggenggam keduanya.

Tapi dia juga tahu Argha hanya menganggap hubungan mereka sekadar fisik semata. Dia bahkan tidak memiliki kesulitan untuk berpindah ke Sebastien setelah selesai menolong Abhimanyu; dia mungkin tidak merasakan gairah itu sebesar Abhimanyu. Hanya menolong perjaka malang yang tergoda oleh tubuh sensualnya, melakukan hal baik. Mungkin juga merasa geli karena Abhimanyu begitu baru pada seks.

“I don't do sex with a virgin, Abhimanyu.”

Abhimanyu mengerang keras, menutup wajahnya dan meringkuk di ranjang membentuk bola. Mengapa tidak ada seseorang dengan pembawaan seperti Argha dan sifat ksatria seperti Cedrik? Kenapa mereka harus dua orang yang berbeda?

Tapi dia sudah begitu lama bersama Cedrik, begitu dekat dan lengket. Bergantung padanya. Jika dia melepaskan Cedrik sekarang, dia pasti akan remuk. Jika dia terus menggenggam Cedrik sementara dia menginginkan Argha, itu sama sekali tidak adil untuk Cedrik. Lelaki baik itu berhak bahagia, sebahagia apa yang dilakukannya untuk Abhimanyu.

Tapi apakah Argha menginginkan Abhimanyu seperti Abhimanyu menginginkannya?

Abhimanyu menghela napas keras, merasa pusing karena semua perasaannya tumpang-tindih. Membuatnya sakit kepala berusaha mencari tahu apa yang diinginkannya dari kedua lelaki itu. Moralnya menyadari bahwa berhubungan dengan aseksual seperti Cedrik dan melampiaskan keinginan fisiknya bersama Argha adalah hal yang salah; tidak bisa dibenarkan, membuatnya cemas.

Itu sama saja menyakiti Cedrik, meneriaki wajahnya betapa dia tidak bisa membahagiakan Abhimanyu hingga dia harus mencari orang lain selain Cedrik. Dan Abhimanyu tahu Cedrik tidak layak mendapatkan perlakuan semacam itu setelah ketulusannya menemani Abhimanyu selama ini.

Dia ingin membicarakan ini, mengeluarkan isi kepalanya namun tidak ada yang bisa diajaknya bicara. Terlalu kikuk jika harus membicarakannya ke Hadrian dan terlalu malu jika ke Khrisna—ada jarak yang jelas di antara mereka, jarak yang terbentang detik Khrisna melangkah keluar dari kamarnya tanpa menjelaskan apa pun. Dan Abhimanyu tidak berani menyeberanginya.

Teman bicaranya selama ini hanya Cedrik; karena lelaki itu begitu memahami kebutuhan emosional Abhimanyu. Tidak pernah lelah meladeninya. Dia tidak berani terbuka pada Raditya. Ada sesuatu pada pemuda itu yang membuat Abhimanyu segan padanya. Dia begitu tinggi, tampan, dan memesona; nyaris bersinar seperti seorang dewa Yunani. Di beberapa kesempatan sangat mengintimidasi. Abhimanyu tidak paham bagaimana Cedrik bisa biasa saja di sampingnya.

Dan pikiran ini membuat Abhimanyu menyadari betapa kesepiannya dia jika tidak ada Cedrik.

Abhimanyu menurunkan tangannya dan meraih bantalnya, memeluknya dan merasa perih menyeruak di dadanya. Fakta bahwa dia kesepian menghantamnya lebih kuat dari apa yang dipikirkannya dan dia tidak siap menghadapi rasa sakitnya. Tidak mau menghubungi Cedrik karena dia tidak mau terus-terusan memanfaatkan pemuda itu untuk membalut lukanya, dia malu. Dia merasa begitu jahat padanya.

Tidak ingin menghubungi Argha setelah kejadian semalam dan tidak yakin bagaimana dia harus menghadapi atasannya itu besok di tempat kerja. Haruskah dia bersikap biasa saja? Menganggap seolah tidak ada yang terjadi? Atau.... Bagaimana?

Dia seharusnya menolak Argha. Menjauhinya, menjaga jarak aman darinya. Melupakannya. Paham dia tidak boleh bermain api dengannya. Tapi dia terpeleset, terjatuh ke dalam pesonannya dan tidak menemukan jalan keluar. Membelahnya antara penasaran pada Argha dan bersalah pada Cedrik. Belum lagi pesan-pesan mereka yang terasa dingin dan berjarak belakangan ini; entah mengapa membuatnya semakin sedih.

Abhimanyu ingin tetap bersama Cedrik. Ingin dia tetap menemani Abhimanyu, ingin berteman dengannya. Memintanya menyerah pada perasaannya, melupakan itu sehingga dia bisa membina hubungan pertemanan platonik yang lebih nyaman karena seberapa pun Abhimanyu berusaha, dia tidak bisa melihat Cedrik lebih dari sekadar kakak.

Dan tidak bisa bohong bahwa dia keberatan dengan orientasi seksual Cedrik. Kadang kala, frustrasi. Lalu sekarang ada Argha Mahawira di hadapannya dengan mulut, suara, dan tangan sialannya berhasil mematik begitu banyak rasa penasaran di dalam dirinya. Memberikan reaksi yang jauh lebih hebat dan kuat dari apa yang ciuman Cedrik bisa berikan. Membayangkannya saja bisa membuat Abhimanyu bergidik nikmat.

Apakah dia berdosa karena merasa orientasi seksual Cedrik membuatnya keberatan?

Abhimanyu mendesah panjang. Tidak lagi paham ke mana arah isi kepalanya dan ingin berhenti. Dia berguling terlentang di kasurnya, menatap langit-langit lagi dan merasa begitu bosan, juga pedih karena kesepian. Cedrik punya Arsa, Kinan, dan Raditya—juga teman barunya kemarin. Dia tidak akan berbaring di ranjangnya, berpikir dengan siapa dia harus menghabiskan waktunya.

Tapi Abhimanyu tidak memiliki siapa-siapa jika tidak ada Cedrik.

Tapi Abhimanyu tidak memiliki siapa-siapa jika tidak ada Cedrik.

Abhimanyu menarik napas, berusaha menelan kembali tangis yang mulai merebak di dadanya; menyulutnya dengan rasa panas yang menyiksa. Dia kesepian, bersalah, dan kebingungan. Tidak tahu pada siapa dia harus mengungkapkan segala isi kepala dan hatinya karena satu-satunya orang yang dipercayanya di kehidupan ini adalah salah satu dari hal yang menyiksanya.

Satu-satunya orang yang dipercayanya di kehidupan ini...

Satu-satunya.

Dia menarik napas, air mata meleleh di pipinya. Rasa panas membakar ulu hatinya, menaikkan asam lambungnya ke tenggorokan. Membuat asam menyebar di mulutnya bersama air mata yang semakin deras, menyengat matanya. Belum pernah selama dua tahun ini dia merasa terhimpit oleh rasa kesepian ini karena Cedrik selalu ada untuk membalut lukanya, menenangkannya, membahagiakannya....

Tapi apa yang diberikannya pada Cedrik sebagai balasan? Tidak ada.

Malah bermain api dengan Argha Mahawira persis di bawah hidung Cedrik. Menyadari sekali bahwa jika Abhimanyu tidak bisa membahagiakan Cedrik, dia sebaiknya tidak menyakitinya. Dia marah pada dirinya sendiri; marah karena tidak bisa mencintai Cedrik, tidak puas pada segala yang telah diberikan Cedrik untuknya. Selalu merasa kurang, selalu menginginkan lebih. Menemukan kekurangan pada Cedrik, menyalahkannya atas kekurangan itu.

Wajah Argha muncul di kepalanya. Ekspresi cemasnya ketika menatap Abhimanyu, permen yang selalu dijejalkannya ke genggaman Abhimanyu, serta suara paraunya yang hangat saat mengatakan:

“Don't hit yourself, okay? Promise me.”

“Take care, Abhimanyu.”

“Good job, Abhimanyu.”

Thank you, Abhimanyu.”

“You did amazing today, Abhimanyu.”

“There's nothing wrong with you. That's okay.”

“I don't want to defend myself because what I did was terribly wrong, so I truly hope you could forgive me.”

“This will be our little secret, Abhimanyu. Can you keep a secret?”

“Oh. Spicy.”

Abhimanyu memejamkan matanya, membenci apa yang dirinya sendiri pikirkan. Argha sudah memasuki kehidupannya lebih dalam dari apa yang direncanakannya dengan kehangatan asing yang terbit di wajahnya ketika Abhimanyu terserang rasa cemas. Genggaman tangannya ketika Abhimanyu membantunya menjelaskan ke Arsa mengenai rambut di makanan. Sosoknya yang mengayomi dan tegas....

Jika suatu hari nanti, Abhimanyu memutuskan untuk meninggalkan Cedrik dan memilih orang lain.... Akankah Cedrik tetap memaafkannya? Seperti yang dijanjikannya pada Abhimanyu?

Apakah jahat jika Abhimanyu berharap Cedrik tetap menemani Abhimanyu bahkan jika dia akhirnya memilih... Argha?


ps. ehehehehe :((( cebhim, you guys don't ask too much, you're just asking the wrong persons </////3