Gemati 259


Argha menatap layar ponselnya sendiri dengan perasaan campur aduk. Pada akhirnya, sisi dirinya yang egois menang.

Dia seharusnya menjaga jarak dari Abhimanyu, bukannya menarik lelaki itu semakin dekat dengan dirinya. Namun memikirkan hubungannya dengan Cedrik yang adalah refleksi sempurna hubungannya dengan Yukio, Argha memiliki firasat bahwa Abhimanyu mungkin sedang mengasihani dirinya sendiri. Kecewa karena telah mengkhianati Cedrik—apalagi posisinya bukan Cedrik yang memaksa Abhimanyu untuk melampiaskan gairahnya pada orang lain.

Argha mempertimbangkan banyak hal hingga akhirnya dia memutuskan untuk menghibur anak itu sedikit. Dia masih sangat muda dan naif, meledak-ledak. Pasti kesulitan untuk menyelesaikan konflik dengan dirinya sendiri mengenai keinginan seksualnya. Maka dia memutuskan untuk berkeliling sedikit, mencari tempat makan yang nampak hangat dan tidak mengintimidasi lalu mengundang Abhimanyu.

Restoran ramen yang ditemukannya ini memiliki suasana Jepang yang lumayan menyenangkan. Begitu memasukinya, Argha mencium aroma kuah wijen autentik yang membuatnya seketika tersenyum. Seseorang bahkan menyerukan “いらっしゃいませ!” dari kejauhan untuk menyambut Argha yang memasuki restoran mereka, sedikit membungkuk.

Ada show kitchen di sana, dengan kursi-kursi yang dijajarkan di depannya. Mejanya dari kayu, dengan hiasan persis yang selalu ditemukan Argha di Jepang. Membuatnya merasa baru saja pulang ke negara asal paspornya ketika memasukinya. Tamu yang datang lumayan banyak, didominasi oleh lokal yang sedang mengobrol di antara makanan mereka.

Dia mengambil kursi di depan show kitchen, membuat dirinya merasa sangat Jepang dengan duduk menonton juru masak menyiapkan makanannya. Tidak yakin apakah Abhimanyu akan menerima undangannya, maka Argha memesan dua mangkuk—mencoba peruntungannya dengan sedikit memaksa Abhimanyu untuk datang.

Dia tersenyum ketika anak itu setuju untuk datang. Setengah dirinya yang waras tahu ini sesuatu yang salah; Abhimanyu bisa saja salah mengartikan perhatian ini, memperumit hubungan mereka kedepannya walaupun Argha sama sekali tidak membutuhkan apa pun dari Abhimanyu. Masih menolak untuk percaya bahwa dia tertarik pada orang lain selain Yukio.

Argha akan menolak Abhimanyu sebagaimana dia menolak semua orang yang menginginkan apa saja selain hubungan fisik darinya. Dia ahli melakukannya.

“いらっしゃいませ!”

Argha menoleh ke pintu masuk ketika pelayan menyerukan kata sambutan untuk pelanggan dan menghela napas.

Atau... mungkin tidak.

Abhimanyu nampak begitu hangat hari ini, mengenakan cardigan manis berwarna cokelat tanah dengan titik-titik air di rambut ikalnya. Kerah V cardigan itu menukik turun, memperlihatkan kaus polos yang digunakan Abhimanyu sebagai dalaman. Dia nampak sangat menggemaskan, boneka beruang yang harus dipeluk dan disayangi. Selimut yang menjaga tidur siapa saja tetap hangat dan lelap sepanjang malam.

Dia memasuki restoran, mata cokelat karamelnya berkilauan saat dia mencari-cari Argha dan Argha mengangkat tangannya, memberi tanda pada Abhimanyu untuk menghampirinya. Abhimanyu tersenyum, masih sedikit kikuk saat bergegas menghampiri Argha.

“Maaf, Chef. Sedikit macet.” Katanya ketika menarik kursi untuk dirinya sendiri di sisi Argha dan menyelipkan kunci motornya ke saku celana jins gelapnya. Dia lalu menggosok rambutnya sendiri dengan jari, memercik air dari kepalanya. “Saya harap mienya tidak mengembang.”

Argha tergelak. Sedikit kebingungan mengapa jantungnya berdebar sedikit lebih kuat sekarang, menghirup aroma parfum Abhimanyu. Kiehl's Original Musk; bergamot, sedikit bunga jeruk, mawar, dan kenanga lembut. Dia pasti menggunakan parfum dengan cara menyemprotnya ke udara sebelum melangkah melewatinya karena aromanya berasal dari seluruh tubuhnya dan tidak menyengat.

“Tidak, dia baik-baik saja, kok.” Dia mendorong mangkuk ramen di hadapan Abhimanyu mendekat ke arahnya. “Kau ingin antiseptik?” Argha mengeluarkan botol antiseptiknya yang selalu dibawa ke mana-mana dan mengulurkannya ke Abhimanyu.

Anak itu tersenyum, mengangguk dan menarik sedikit lengan cardigan rajutannya ke atas lalu mengulurkan tangan; mempersilakan Argha menyemprotkan sedikit antiseptik ke tangannya. Argha melakukannya, memastikan jumlahnya cukup untuk membersihkan telapak tangannya dari berkendara sebelum makan.

“Apakah di luar hujan deras?” Tanya Argha, menyimpan kembali antiseptiknya ke tas kecil yang dibawanya dan Abhimanyu menggeleng.

“Hanya gerimis kecil, Chef. Jadi saya tidak mengenakan jas hujan.” Katanya, menyugar rambutnya sedikit. “Ini karena saya berlari dari tempat parkir ke pintu masuk. Tidak masalah.”

Argha meraih beberapa lembar tisu dan menyerahkannya pada Abhimanyu. Ada noda-noda gelap di atas sweater-nya, bukti air yang merembes ke serat-serat benangnya dan Abhimanyu menekan tisu ke atasnya sebelum membersit. Dia membenahi duduknya, bersiap makan.

“Ini pertama kalinya saya kemari.” Akunya kemudian saat meraih sumpit dan mengelapnya dengan tisu. Dia menatap makanannya yang sudah mulai hangat-hangat kuku tapi Argha terkesan dengan waktu yang dibutuhkannya untuk tiba di sini.

Dia mengulurkan tangan, menyentuh permukaan mangkuk ramen Abhimanyu dan menyadari dari suhunya bahwa makanan itu masih sangat layak dimakan sebelum kembali ke makanannya sendiri. Sedikit merasa dia baru saja bersikap sedikit terlalu perhatian pada Abhimanyu yang mengamatinya seperti anak menatap ayahnya.

“Kau tiba cukup cepat,” Argha berdeham, mengalihkan fokusnya dengan kembali menyuap makanannya ditemani Abhimanyu yang mulai mengaduk bumbu di bagian atas ramen-nya. “Apakah kosmu dekat?”

Abhimanyu mengangguk. “Hanya beberapa meter dari sini, Chef, tapi macetnya yang membuat saya sedikit lama.” Dia meringis lalu mulai menyuap makanannya—meniupnya sedikit lalu memasukkan sumpit ke mulutnya. “Hm...,” gumamnya ketika mengunyah, nampak menyukai rasa makanannya.

Argha tersenyum. “It tastes amazing, right?” Tanyanya dan Abhimanyu mengangguk—nampak jauh lebih menggemaskan ketika memegang sumpit dan menatap makanannya sambil mengunyah.

Argha selalu yakin bahwa dia lebih tertarik pada lelaki-lelaki indah. Yukio, Sebastien. Mereka yang memiliki daya pesona menawan; dingin, pendiam, misterius. Dan Abhimanyu sama sekali bukan ketiganya; dia seperti matahari musim semi yang hangat, melelehkan semua sisa salju di tanah dan memberikan ruang bagi bebungaan untuk mekar.

Dia juga seperti buku yang terbuka, semua emosinya terpampang jelas di wajahnya. Berkilat di matanya, mengumumkan dengan gamblang pada semua orang. Bahkan mereka yang tidak mengenal Abhimanyu secara personal. Apakah perbedaan krusial itu yang menyebabkan Argha tertarik padanya?

Abhimanyu seperti anjing kecil yang tersesat. Duduk di depan pintu rumah Argha, memohon untuk dipelihara dan Argha tidak tega untuk mengusirnya. Menginginkan anjing itu untuk dirinya sendiri walaupun ada kalung melingkar di lehernya; tanpa bahwa Argha tidak boleh menyentuhnya.

Kekhawatiran Argha tentang kekikukan mereka jika pergi makan berdua ternyata tidak terbukti. Mereka menemukan bahan obrolan ringan yang lancar; membahas restoran, menu-menu yang bisa diimprovisasi, peningkatan mutu dan standar pelayanan, evaluasi dari kasus terakhir tentang rambut di makanan, hingga akhirnya obrolan kecil tentang kehidupan pribadi.

“Wah.” Abhimanyu menggenggam kartu identitas warga negara Jepang Argha yang dikeluarkannya karena anak itu penasaran. Dia mengamati fotonya dan tergelak. “Anda terlihat lebih muda di foto itu, Chef.”

Argha meliriknya tajam dari pinggiran gelas ocha keempatnya dan Abhimanyu tergelak lebih keras, meletakannya kembali di meja lalu mendorongnya ke Argha. “Aku mengurusnya di Embassy of Japan di setiap negara yang kutempati sementara. Sekalian memperpanjang KITAS dan pasporku.” Argha meletakkan gelasnya dan mengembalikan kartu itu ke dompetnya, tersenyum kecil.

“Berarti Chef sudah... tidak pernah pulang ke keluarga di Indonesia?” Tanya Abhimanyu, nadanya ringan. Mereka memang membahas tentang kehidupan personal mereka tapi Argha tidak siap dengan pertanyaan ini.

Dia menarik napas, tersenyum kecil. Tahu Abhimanyu akan menanyakan ini. “Sudah lama sekali. Saya sudah lupa terakhir kali saya menginjakkan kaki di Indonesia.”

Abhimanyu menatapnya, “Apakah... rasanya aneh sekarang? Ketika Anda kembali ke Indonesia? Setelah segala hal yang Anda lakukan untuk menjaga jarak?”

Ekspresi Abhimanyu seketika berubah ketika menyadari Argha membeku sejenak oleh pertanyaannya. Dia berdeham, langsung merasa bersalah; emosi itu meledak di mata karamelnya, berkilat di bawah lampu restoran.

“Ah, maaf.” Bisiknya, merona dan memalingkan wajah. “Saya tidak seharusnya menanyakan hal itu, Chef. Maaf.” Dia menggenggam gelas ocha-nya lebih kuat lagi hingga buku-buku jemarinya memutih.

Argha nyaris bisa merasakan anxiety Abhimanyu terbit, merambat di tubuhnya ketika posisi duduknya berubah. Punggungnya tegak, kaki kanannya bergerak perlahan merespons ledakan adrenalin yang tidak diinginkan itu dan dia mulai membawa ibu jarinya ke bibir—menggigitinya, tanpa disadari.

“Tidak apa-apa.” Gumam Argha, menenangkan dirinya sendiri dan menjilat bibirnya; sedikit resah. “Sudah lama sekali.” Dia menambahkan senyuman di kalimatnya, berusaha menghibur Abhimanyu; dia hanya bertanya, rasanya tidak adil jika menyalahkannya atau menuduhnya bersikap tidak sensitif pada Argha.

Lagi pula Argha sendiri yang memulai obrolan tentang kehidupan personal dengan bertanya tentang keluarga Abhimanyu, tentang Khrisna dan mendengarkan bagaimana dia menjelaskan hubungannya dengan kakaknya serta ayahnya. Jadi, bukankah pertanyaan tentang keluarga Argha hal yang normal?

“Orang tua saya sudah meninggal, ketika saya masih menempuh pendidikan di Le Cordon Bleu Paris.” Tambahnya, menatap ocha di dalam gelasnya—sedikit teringat hari di mana dia tergopoh-gopoh, berlari di Charles de Gaulle untuk mengejar penerbangan langsung ke Indonesia pertama yang bisa ditemukannya.

Dia masih begitu muda, begitu naif dan ambisius mengenai kariernya. Pulang ke Indonesia, menemukan kedua orang tuanya sudah dimasukkan ke dalam peti jenazah dan keluarga besarnya tidak membuang-buang waktu untuk mulai membicarakan pembagian harta peninggalan ayahnya. Argha sama sekali tidak mendengarkan, dia hanya menatap kedua orang tuanya. Terluka dan terkhianati karena mereka memutuskan untuk pergi tanpa Argha, meninggalkannya sendirian.

Ayahnya sudah mengatur pengiriman uang otomatis setiap bulannya untuk Argha selama dia bersekolah di Paris agar uang kuliahnya tidak terlambat di bank di mana asuransi kesehatan Argha juga dibayarkan. Terlepas dari segalanya, ayahnyalah yang memintanya bersekolah ke Le Cordon Bleu. Dia sangat mendukung ketertarikan Argha pada dunia kuliner, memastikan anaknya menempuh pendidikan di sekolah terbaik di dunia.

Mungkin itulah yang Argha syukuri hingga sekarang; fakta dia berasal dari keluarga kaya sehingga dia bisa mendapat pendidikan terbaik, hidup layak di Paris, dan meniti karirnya sendiri.

Kiriman uang itu berhenti ketika Argha menyelesaikan pendidikannya di Le Cordon Bleu, mendapatkan gelar bachelor of Superior French Cuisine and Pastry setelah menempuh dua intership di Paris. Lalu memulai kariernya secepat mungkin karena dia tidak akan bisa makan jika terus mengandalkan kiriman uang.

Dia tidak lagi merespons semua panggilan atau pesan dari Indonesia setelahnya, mengganti nomornya dan melemparnya ke Seine. Meminta maaf pada orang tuanya ketika dia memutuskan segala ikatannya dengan keluarga Indonesia-nya. Terlanjur sakit hati karena di hari pemakaman keduanya, mereka sibuk merongrong Argha dengan warisan. Juga memutuskan untuk melupakan orang tuanya hari itu, melepaskan segala identitas lamanya kecuali nama karena sudah tercatat di semua dokumen legal.

“Hidup saya rumit.” Dia terkekeh dan Abhimanyu menatapnya, menunggunya bicara. “Paris, Jepang. Lalu Dubai, Maladewa. Dan sekarang malah kembali ke Indonesia.” Dia menatap ocha-nya, mau tidak mau sedikit cemas jika dia tidak sengaja bertemu keluarga Indonesia-nya di sini.

Apakah mereka masih mengingat wajah Argha setelah bertahun-tahun? Argha bahkan ragu dia masih mengingat wajah mereka atau yakin mereka semua—setidaknya yang mengenal Argha, sudah meninggal setidaknya sepuluh tahun lalu.

“Anda berusaha kabur dari masa lalu...?” Tanya Abhimanyu kemudian setelah mereka diam sejenak dan Argha tersenyum.

“Ya, begitulah.” Dia kemudian menoleh, menatap Abhimanyu dan tersenyum. “But here I am, coming back to the very place that destroyed me.”

“Saya kembali ke Indonesia hanya karena Arsa.” Tambah Argha tersenyum kecil, berusaha menenangkan dirinya setelah memikirkan masa lalu yang dia pikir sudah dilupakannya. “Tidak ingin melepaskan kesempatan untuk bekerja bersama Michelin star chef walaupun itu berarti saya harus kembali ke negara ini.”

Abhimanyu tersenyum kecil, mengangguk paham. “Terlepas dari kondisi keluarga saya sendiri,” katanya perlahan dan dengan telunjuk, dia menyusuri tepian gelas ocha-nya seraya melamun.

Gerakan jarinya membuat Argha bergidik, membayangkan jemari itu di tempat lain. Di tubuhnya. Membelai Argha dengan lembut dan menyenangkannya, membisikkan pada Argha betapa puasnya dia bercinta dengan Argha.

“Saya juga kembali karena tawaran bekerja dari Chef Arsa.” Dia menoleh dan tersenyum lebar.

Argha mengerjap, kembali ke masa sekarang dan membalas senyumannya. Anak manis, Abhimanyu ini. Menyukainya dari kesan pertama bertemu bukanlah hal yang mustahil. Dia nampak sangat menyenangkan, menenangkan, hangat, menggemaskan; namun detik dia membuka diri, orang-orang mungkin akan berbalik mencari jalan keluar dari sana.

“Kau memulai di dapur profesional di usia yang sangat muda.” Argha mengangguk setuju. “Di usiamu bergabung dengan Arsa, saya baru memulai karier saya sebagai commis—itu pun karena rekomendasi bagus dari tempat magang saya dan Le Cordon Bleu.”

Abhimanyu menatapnya, sejenak ragu sebelum tersenyum kecil. “Itulah mengapa...,” dia berdeham. “Saya punya gangguan kecemasan.” Dia menolak menatap Argha ketika melanjutkan. “Saya tidak menyalahkan Chef Arsa sama sekali, dia berhak memiliki ekspektasi.

“Dan saya paham setinggi apa posisi pertama saya di dapur profesional, persis di bawah juru masak sekelas Michelin. Itu membuat saya merasa selalu terancam, selalu berada di ujung tanduk; takut melakukan kesalahan. Mengecewakan Chef Arsa yang sudah memberikan kesempatan begitu besar untuk saya.” Dia menatap gelasnya seolah jika dia memalingkan pandangannya, gelas itu akan tumbuh menjadi monster.

Argha diam, menunggu Abhimanyu melampiaskan segala isi hatinya mengenai posisinya. Krannya sudah terbuka, Argha tidak ingin menutupnya. Dia ingin mendengarkannya, ingin memahami bagaimana second layer-nya ingin diperlakukan agar kerja sama tim mereka bisa terjalin.

“Di masa awal saya bergabung, bobot tubuh saya turun drastis.” Abhimanyu tersenyum, nampak menerawang. Mungkin kembali ke masa itu, mengingat perjuangannya. “Tidak ingin makan karena saya lebih membutuhkan tidur daripada makanan kala itu. Kebingungan, tidak tahu apa yang harus saya lakukan bersama Chef Arsa yang begitu cepat dan tertata. Saya takut tidak bisa melakukan tugas saya dengan baik.”

Argha mengangguk. Dia sudah pernah melihat cara kerja Arsa ketika dia datang ke Le Paradis untuk melakukan tes memasak. Dia begitu mengerikan di dapur; dengan tubuh kurusnya mengguncangkan dapur. Disiplin yang diterapkannya pada semua commis-nya mengerikan. Mereka semua bekerja dengan diam dan fokus, Argha bahkan yakin Arsa mungkin menyuntik mereka dengan sesuatu hingga mereka tidak ingin menggaruk tubuh mereka ketika bekerja.

Tim Arsa adalah tim dapur paling tenang, fokus, disiplin, dan efisien yang pernah Argha lihat. Arsa memimpinnya dengan sangat berkharisma, tidak peduli bahwa dia bertubuh kurus dengan pitak mengganggu di kepalanya dan wajah sembelit sepanjang waktu; dia mengisi ruangan dengan auranya. Membuat siapa saja seketika segan padanya.

Tidak banyak juru masak yang memiliki pembawaan itu. Dan Argha paham sekali bagaimana Abhimanyu yang masih sangat muda, harus bertemu dengan singa buas seperti Arsa. Bahkan Argha sendiri butuh waktu untuk menyamai ritmenya dengan Arsa—padahal dia bekerja di dunia ini jauh lebih lama dari Arsa.

“Tapi saya juga ingin membuktikan bahwa saya layak di posisi itu.” Abhimanyu menghela napas dan meringis, dia nampak manis saat melakukannya ketika melanjutkan lagi. Argha tersenyum kecil, menyemangatinya untuk melanjutkan.

“Saya berusaha mengejar ketertinggalan saya, terus menekan diri saya agar bergerak dan melampaui kemampuan saya. Hingga akhirnya beliau mempercayakan Le Gourmet di tangan saya.” Dia kemudian nampak sedikit murung. “Tapi saya malah mengacaukan restoran itu.” Abhimanyu mendesah dan menoleh pada Argha yang mengangkat alisnya ketika mata mereka bertemu.

“Jadi, yah.” Dia menggaruk pelipisnya. Merona tipis dan Argha ingin sekali mengecup rona itu, mengusapnya sayang dan memeluk Abhimanyu. Meyakinkannya bahwa dia sudah melakukan yang terbaik yang dia mampu.

“Saya bersyukur Anda datang untuk membantu saya, Chef. Terima kasih.”

Argha terenyak. Tidak menyangka hari ini akhirnya tiba.

Dia akhirnya mendengar Abhimanyu mengaku kalah, melepaskan segala gengsi dan bencinya pada Argha untuk mengalah dan menyadari bahwa dia membutuhkan bantuan. Bahwa dia membutuhkan bimbingan Argha. Dan tidak lagi membenci Argha karena telah merebut posisi head chef yang diinginkannya. Itu seketika menghapus garis tebal di antara mereka, membuat Argha merasa diterima oleh Abhimanyu.

Mereka akan bekerja dengan jauh lebih baik lagi ke depannya. Entah apa yang dirasakan Argha mengenai kenyataan itu.

“Are we friend, Chef?”

“I don't know, Abhim. You tell me?”

“I think yes.”

Argha tersenyum. “Saya senang bisa membantu.” Katanya dan Abhimanyu seketika membalas senyumannya; anak manis. “Kita akan membuktikan pada Arsa bahwa kita mampu membawa Le Gourmet ke bintang Michelin Arsa selanjutnya.” Dia mengulurkan tangan dan Abhimanyu tergelak.

Agree?”

Abhimanyu menyambut jabatan tangannya; menggenggam tangan Argha dengan kuat dan hangat hingga rasa itu berdenyar ke seluruh tubuh Argha. Dia tersenyum lebar hingga matanya membentuk sepasang bulan sabit menggemaskan dan menunjukkan lesung pipi samar di pipi atasnya.

“Setuju, Chef.”

Argha mengangkat gelas ocha-nya. “For another Michelin star?”

Abhimanyu tergelak, mengangkat gelasnya sendiri lalu menyentuhkannya pada gelas Argha. “For another Michelin star.”

Di luar hujan mulai deras, terdengar gemuruh dari dalam restoran. Para tamu di sekitar mereka juga nampak semakin betah karena ingin berteduh dan menghangatkan diri. Ocha mereka sudah mulai dingin dan habis, menemani obrolan mereka tentang hal-hal sederhana. Tentang hobi, tentang karier, tentang hal-hal kesukaan.

Namun Argha merasa dirinya hangat—sangat hangat, ketika menatap Abhimanyu yang tertawa.


ps. ehe :3 niatnya nambahin cenik tapi aku lelah jadi kapan2 aja yaacchh