Gemati 238

cw // expeditionist .


Cedrik mengerutkan alis, menatap ponselnya dan pesannya yang dikirim ke Abhimanyu.

Status Abhimanyu masih daring, tapi dia tidak juga membuka pesan Cedrik. Apakah dia marah pada Cedrik karena tidak menemaninya hari ini? Atau dia sedang sangat menikmati harinya sehingga tidak sempat mengecek ponselnya? Atau dia sedang menelepon seseorang?

Baguslah jika Abhimanyu sangat menikmati harinya hingga tidak sempat mengecek ponsel, meringankan perasaan bersalah Cedrik karena terlanjur membuat janji hari ini dengan Nikolas. Tidak nyaman jika membawa Abhimanyu bertemu Nikolas.

Dia sedang duduk di klinik Nikolas, mendadak harus berhenti sebentar karena ada pasien yang membutuhkan tindakan secepatnya sehingga timnya menghubungi Nikolas ketika mereka baru saja menaikkan belanjaan mereka ke mobil. Bong duduk di sisi kaki Cedrik di lantai, dagunya ditumpukan ke pangkuan Cedrik dengan tali leher terlilit di lengan bawah Cedrik—menunggu majikannya yang sedang bekerja. Ekornya mengibas kecil sedikit.

Ketika mereka tiba, pemilik kucing malang itu sedang menangis dengan wajah pucat. Nampak panik dan hanya sempat mengenakan hoodie di atas pakaiannya. Di pangkuannya ada kandang dan Cedrik langsung menahan napas ketika melihat noda darah di pintunya. Nikolas seketika berlari ke ruangannya meninggalkan Cedrik begitu saja—tanpa mengatakan apa pun. Maka Cedrik bersikap mandiri dengan menenangkan Bong yang kebingungan dan menunggu di sudut pet shop yang cukup ramai.

Perasaan Cedrik sedikit tidak nyaman sekarang. Haruskah dia menelepon Abhimanyu dan meminta maaf karena tidak bisa menemaninya hari ini? Dia memainkan ponselnya, menatap ke kandang anjing kosong di hadapannya—hanya ada satu-dua hewan peliharaan titipan hari itu. Salah satunya adalah mini pom paling mini yang pernah Cedrik lihat; sedang balas menatapnya, menelengkan wajah menggemaskan. Namun tidak berani mengeluarkan suara, mungkin karena Malamute di sisi Cedrik.

Dia pasti menerawang karena ketika Nikolas kembali, dia menepuk bahu Cedrik lembut dan Cedrik terkesiap kecil. Mendongak, dia beradu pandang dengan Nikolas yang nampak sedikit berkeringat.

“Hei, maaf.” Ujarnya mendesah. “Kucingnya sudah baik-baik saja. Tertembak seseorang ketika bermain dan aku sudah mengeluarkan pelurunya.” Dia melangkah ke wastafel di dekat Cedrik dan mencuci tangannya.

Cedrik mengangguk. Tidak paham mengapa manusia bisa menembak binatang jinak seolah mereka berkuasa atas segalanya. “Lalu dia akan berada di sini untuk penyembuhan, ya?” Tanyanya ketika melihat asisten Nikolas mendorong troli terisi tubuh kucing yang tidak sadar ke arah kandang penyembuhannya sementara pemiliknya mengikuti untuk menyelesaikan pembayaran.

“Yep.” Nikolas mengeringkan tangannya, lalu menghela napas. “Sekarang kita bisa pulang.” Dia memberikan kombinasi senyuman dan ringisan pada Cedrik yang berdiri. “Maaf kau harus menungguku bekerja dan maaf juga karena mengabaikanmu tadi.”

Cedrik mengedikkan bahu. Mengecek ponselnya sekali dan Abhimanyu masih tidak membalas pesannya, jadi dia menyelipkan benda itu ke sakunya—dia akan menelepon Abhimanyu nanti. “Tidak masalah,” dia tersenyum. “Keadaannya sedang genting. Aku paham.”

Nikolas memandangnya sejenak lalu tertawa kecil. “Kau paham karena kau sering melakukannya juga, ya?”

Dia mengedikkan bahu, meringis. “Ketahuan.” Sahut Cedrik dan Nikolas kembali tergelak.

Mereka akhirnya kembali setelah Nikolas membicarakan beberapa hal lagi dengan pemilik kucing malang itu. Akan dititipkan di pet shop hingga lukanya cukup membaik, tidak mau mengambil risiko jahitannya terlepas jika kucing itu berkeliaran dan Nikolas meninggalkan tempat kerjanya. Sama sekali tidak nampak jengkel karena harus datang ketika hari libur, dia tetap nampak ceria dan rileks saat berkendara ke rumahnya.

Bong pindah duduk di pangkuan Cedrik sepanjang perjalanan kembali, menumpukan dagunya di jendela yang terbuka setengah dengan Cedrik yang memeluk lehernya; menjaganya agar tidak menjulurkan leher terlalu jauh. Kemacetan Ubud dimulai perlahan seiring dengan menggeliatnya kegiatan masyarakat; para wisatawan mulai bermunculan di jalanan, menikmati suasana Ubud yang meskipun moderen, tetap terasa sangat sakral.

Cedrik menyaksikan Ubud bersama Bong di pelukannya. Memangku Malamute bukan pekerjaan yang menyenangkan, paha Cedrik sedikit kesemutan ketika mereka akhirnya membelok ke pintu masuk rumah Nikolas. Dokter hewan muda itu bergegas turun untuk membuka gerbang—tidak mengizinkan Cedrik bergerak. Dengan kedua lengannya, dia mendorong gerbang terbuka sambil tersenyum pada beberapa tetangganya yang lewat sebelum berlari kecil ke mobilnya dan memanjat naik.

“Kita tiba,” Nikolas menarik rem tangan setelah memarkir mobilnya di halaman dan mencabut kuncinya. “Ayo, Bong! Jalan-jalannya selesai.” Dia membuka pintunya dan Cedrik mengikuti langkahnya; Bong melompat dari pangkuannya, mengibaskan bulunya seraya menyalak.

Nikolas tertawa, membuka pintu belakang dan mulai mengeluarkan kantung-kantung belanja mereka. Cedrik turun dari kursi penumpang, mengecek ponselnya sekali lagi dan mendesah ketika Abhimanyu belum juga membalas pesannya; tapi statusnya sudah tidak lagi daring. Dia mengusap wajahnya, mulai merasa berat hati karena tidak menemani Abhimanyu hari ini.

“Kau oke?”

Cedrik mendesah, menoleh dan tersenyum pada Nikolas. “Oke.” Sahutnya menenangkannya. Merasa tidak enak hati pada Nikolas, takut pemuda itu berpikir Cedrik keberatan menemaninya hari ini. Maka dia mendorong kekhawatirannya menjauh.

“Tidak apa-apa. Aku hanya memikirkan hal lain.” Kilahnya lalu bergegas membantu Nikolas membawa belanjaan mereka masuk ke rumah.

Tukang kebunnya sudah pulang, halaman sudah basah oleh air dan bersih. Udara terasa lebih melegakan di sini dengan gemerisik dedaunan yang tertiup angin daripada jalanan Ubud tadi. Cedrik menghela napas dalam-dalam, berusaha melepaskan beban yang menghimpit di dadanya tentang Abhimanyu. Dia sudah dewasa, Cedrik berhak mendapat satu hari libur darinya.

Rumah Nikolas dingin ketika mereka masuk, sangat berbeda dengan udara di luar. Nikolas menyalakan penyejuk ruangan, membiarkan alat itu mendengung persis ketika mereka masuk. Cedrik meletakkan semuanya di dapur, mulai mengecek dengan cepat apakah dia memiliki semua hal yang dibutuhkannya untuk mengerjakan makanan Nikolas sementara pemuda itu berganti baju.

“Boleh kulihat labunya?” Tanya Cedrik, melepas jaketnya dan menyampirkannya di sofa saat Nikolas keluar dari kamarnya mengenakan pakaian yang lebih santai. Dia mengenakan kaus lengan pendek di dalamnya, merasakan kausnya sedikit basah oleh keringat.

Nikolas melirik tangannya. “Oh.” Katanya dan Cedrik mengikuti pandangannya ke arah tato di tangannya. “Kau punya tato? Aku baru memerhatikan.”

Cedrik tertawa. “Ya begitulah.” Dia mengulurkan kedua lengan bawahnya, mempersilakan Nikolas melihat tatonya. “Kau suka tato?”

Nikolas menatap tato di lengan Cedrik, nampak sedikit iri. “Ya, tapi orang tuaku tidak. Jadi aku memilih untuk tidak melakukannya untuk mereka. Kecuali tindik.” Nikolas mendongak, tersenyum pada Cedrik.

“Aku punya sekitar sepuluh tato,” Cedrik mengedikkan bahu. “Aku dan Arsa suka menambah tato bersama hingga tidak menyadari bahwa kami mulai kehabiskan tempat untuk menato.”

Nikolas tertawa, mengangguk setuju. “Tato Arsa banyak sekali. Terkadang membuatku iri.” Dia meringis dan Cedrik tergelak. “Tapi anehnya tidak membuatnya terlihat.... Entahlah, kotor?” Katanya beranjak ke dapur dan Cedrik mengekornya. “Beberapa orang dengan sleeve tattoo terlihat kotor?”

“Warnanya mungkin.” Cedrik tersenyum. “Arsa tidak menggunakan tinta warna biru atau merah, hanya hitam. Atau warna cerah seperti tatoku ini.” Dia menunjukkan tato dandelion di lengan bawahnya.

“Ah, ya! Benar!” Nikolas mengangguk. “Tinta warna biru dan merah membuatnya terlihat kotor.” Dia kemudian membungkuk di kabinet bawah bar dapur dan mengeluarkan sebuah labu kuning yang cukup besar. “Bagaimana menurutmu?”

Cedrik menghampirinya, mengusap benda itu lalu mengangkatnya. “Lumayan.” Katanya mengira-kira beratnya yang mungkin dua kilogram lebih. “Aku akan membuatkanmu bars yang bisa dibawa untuk bekerja. Aku tahu pekerjaanmu tidak memberikanmu cukup waktu untuk duduk menikmati makan siang, 'kan?” Dia melemparkan senyuman lebar pada Nikolas sebelum pergi ke bak cuci—membilas tangannya sebelum bekerja.

“Kau yakin kita tidak makan sesuatu dulu sebelum bekerja?” Tanya Nikolas saat Cedrik bersiap di sisinya. “Aku belum sarapan.” Ringisnya.

Cedrik tergelak. “Aku sudah makan dua tangkup roti dengan selai sebelum ke rumahmu. Silakan makan jika kau lapar?” Dia menoleh ke Nikolas yang mendesah.

“Apakah acara memasak hari ini termasuk kau membuatkanku makan siang?” Tanya Nikolas kemudian saat menjejalkan setangkup sourdough bread ke mulutnya dengan daging ham sebagai isiannya.

Cedrik menatapnya, menaikkan sebelah alisnya menggoda. “Dan berapa kiranya, Bapak Dokter akan membayar saya untuk menjadi personal chef sehari ini?”

Nikolas nyaris tersedak makanannya saat dia tergelak. Kepalanya terlempar ke belakang, membuat rambutnya membentuk air terjun ke belakang kepalanya. Matanya lenyap menjadi garis bulan sabit pipih dan suara tawanya begitu menyenangkan hingga sesaat Cedrik mendengarkannya dalam-dalam.

Nikolas berdiri di sisinya ketika Cedrik bekerja, menonton dengan serius sambil mengunyah makanan. Cedrik memulai dengan memotong labu kuning itu, membersihkannya dan mengambil dagingnya—meletakkannya di baskom dalam bentuk potongan dadu besar dan menghancurkannya. Memulai prosesnya dengan membuat pumpkin puree dari semua labu kuning itu.

Dia tidak membawa apronnya, dengan kesal teringat benda itu terselip di antara tumpukan bajunya di kosan maka dia harus puas menjaga tangannya sejauh mungkin dari tubuhnya ketika bekerja. Nikolas membantunya, mengajaknya mengobrol tentang hal-hal ringan yang membuat Cedrik merasa rileks.

Pintu kaca ke arah kolam renang dibuka, membiarkan angin persawahan di belakang rumah Nikolas masuk diiringi suara gemericik air yang beriak oleh angin juga dedaunan. Televisi dinyalakan hanya untuk memberi suara tambahan agar suasana tidak hening dengan Bong bermalas-malasan di atas sofa, menonton kedua majikannya bekerja di dapur.

Cedrik mencampur pumpkin puree, mentega, dan vanila ke dalam cocoa butter yang sudah dilelehkan lalu mengaduknya perlahan. Kemudian menambahkan semua sisa bahan ke dalamnya seperti madu, garam laut, dan protein bubuk milik Nikolas. Tidak lama, adonannya mulai menggumpal dan berat siap untuk dicetak.

Nikolas memasang kertas roti di atas loyang agar tidak lengket dan Cedrik menuang adonannya ke sana. Dengan spatula, memipihkannya agar tidak terlalu tebal. Dia menaburkan potongan kasar pistachio di atasnya, menekan-nekannya sedikit lalu beranjak melelehkan cokelat blok.

“Kau membuatnya nampak mudah,” Nikolas menatap loyang yang sudah terisi protein bars untuknya. Tidak perlu dipanggang, hanya tinggal dimasukkan ke kulkas hingga membeku sepenuhnya.

“Memang mudah, kok.” Cedrik tergelak dan mengaduk cokelatnya yang mulai meleleh. “Kau bisa membuatnya sendiri jika kau mau. Aku sudah memberimu resepnya, 'kan?” Tambahnya ceria.

Ada sesuatu di rumah Nikolas yang membuatnya nyaman. Tempat itu bersih, harum, terbuka; dengan begitu banyak ruang. Dia yang biasanya menghabiskan hari libur di kamar kosnya yang sumpek sangat menghargai ruang baru yang lega untuk bernapas ini. Cahaya sinar menjelang siang yang berkilau di lantainya yang bersih, udara Ubud, suara lalu lintas di kejauhan yang tidak mengganggu. Dan aroma Baccarat Nikolas yang sudah tercampur dengan keringatnya.

Sejak kapan aroma itu terasa akrab? Padahal mereka baru bertemu dua kali?

Nikolas menatap makanan itu. “Tidak,” gumamnya dan Cedrik menoleh. Nikolas tidak menatapnya, dia menumpukan tangannya di pinggiran konter dapur. Selapis warna merah jambu menghampar di wajahnya. “Aku tidak mau mengerjakannya sendiri.”

Cedrik berhenti mengaduk cokelatnya. Menatap dokter hewan muda yang tidak membalas tatapannya itu, sejenak tidak paham. Apakah dia baru saja mengatakan sesuatu yang menyinggung perasaannya?

“Oh,” dia berdeham kikuk, merasa bersalah. Kembali mengaduk cokelatnya dan menggunakan lap untuk mengangkat mangkuk dari atas air yang mendidih. Dia mematikan kompor. “Aku tidak bermaksud membuatmu marah atau tersinggung. Aku tahu kau sibuk sekali bekerja. Jadi—”

“Aku ingin kau yang melakukannya untukku.”

Dia berhenti bergerak. Menoleh pada Nikolas yang masih belum menatapnya. Apa katanya barusan? “Yah,” dia mengerjap. Menggunakan sendok mulai memberi drizzle di atas barnya. “Boleh, jika aku punya waktu aku akan membuatkanmu camilan. Tidak masalah.”

Nikolas mendongak, menatapnya dan Cedrik balas menatapnya. Tidak paham pada emosi apa yang berkeretak lembut di mata Nikolas sekarang. “Kau...,” katanya nyaris berbisik. “Kau memang selalu baik pada semua orang, ya?”

Cedrik mengerjap. Tidak yakin ke mana arah obrolan ini sebenarnya. Apakah Nikolas marah karena Cedrik tidak mau menolongnya membuatkan camilan? Padahal Cedrik hanya memikirkan Nikolas. Karena jika menunggu waktu luang Cedrik, dia bisa kehabisan camilan. Lebih praktis jika dia mengerjakannya sendiri tanpa repot menunggu Cedrik. Tapi mungkin dia sudah kelewatan, membuat Nikolas berpikir dia merepotkan Cedrik. Dia tidak bermaksud begitu.

“Tidak semuanya,” sahut Cedrik, memalingkan wajah dan meletakkan alat memasaknya di bak cuci piring dan mendengar tarikan napas tajam Nikolas. “Hanya mereka yang baik padaku.” Dia tersenyum pada Nikolas.

Lalu bergegas menambahkan, tidak ingin Nikolas tersinggung atau salah paham pada kalimatnya tadi. “Tidak masalah jika kau ingin aku yang membuatkanmu camilan. Aku hanya berharap kau tidak keberatan menunggu waktu luangku.” Dia tersenyum lebar, meminta maaf.

Nikolas menatapnya. Sejenak membuka mulut, nampak frustrasi sebelum menghela napas dan membalas senyuman Cedrik. Senyuman Nikolas sangat manis dengan taring yang menonjol dan kerutan di sudut matanya. “Tidak,” katanya lembut. “Tidak masalah sama sekali. Aku akan menunggumu hingga luang.”

Lalu menambahkan dengan pelan hingga Cedrik tidak yakin apakah Nikolas memang mengatakannya. Karena air yang mengucur keras dan Cedrik sedang mencuci alat-alat memasaknya tadi. Meredam semua suara lain dari telinga Cedrik.

“Aku akan selalu menunggumu.”


Argha tahu Abhimanyu menggemaskan, tapi dia tidak menyangka dia akan semenggemaskan ini.

Dia tersenyum menatap layar ponselnya, terhibur karena pick up lines yang dilemparkan Abhimanyu padanya dan melirik wajahnya yang merona setelah melakukannya. Sangat berbeda dengan Abhimanyu yang menggeram kemarin, mendorongnya ke dinding dan mendominasinya.

Argha masih sering membayangkannya, berpikir apa yang bisa dilakukan Abhimanyu padanya jika dia memiliki ruang dan kesempatan? Bayangkan lelaki menggemaskan yang begitu imut-imut berubah menjadi binatang liar detik ketika dia mencium Argha—merasakan Argha di bibirnya. Seperti melepaskan pelatuk pada granat yang meledak di hadapannya.

Dan itu membuat Argha sangat terhibur.

Berpikir jika Abhimanyu dengan sex drive setinggi ini menghabiskan waktunya dengan Cedrik yang seorang aseksual pasti membuatnya frustrasi. Argha tidak bermaksud memandang sebelah mata orientasi seksual Cedrik, paham sekali bahwa memang ada orang-orang yang merasa seks adalah sesuatu yang terlalu dilebih-lebihkan. Bukan merupakan inti dari sebuah hubungan yang seharusnya merupakan koneksi emosi.

Argha paham. Sangat paham apa yang dipikirkan Cedrik, juga apa yang dirasakan Abhimanyu selama bersamanya. Cedrik pasti tidak tahu caranya mengendalikan binatang liar seperti Abhimanyu yang detik pertama nampak menggemaskan seperti seekor Poodle lalu berubah menjadi serigala beringas.

Dia mengetik di ponselnya. Meet me in the bathroom in 5 min? lalu mengirimnya. Tersenyum kecil, menantang Abhimanyu untuk melakukannya karena dia nampaknya sangat menyukai ruang publik.

Argha sedikit kaget pada perubahan mendadak ini. Bagaimana Abhimanyu yang awalnya menatapnya dengan trauma pekat berkilat di matanya, sedikit gemetar karena dipojokkan sekarang malah terus merongrongnya seperti anjing kelaparan. Dia tidak paham traumanya, pun cara kerjanya di otak Abhimanyu.

Tapi dia bisa... memberikan apa yang Abhimanyu inginkan, 'kan? Hanya menuruti apa saja yang Abhimanyu inginkan darinya dengan senang hati.

Bukan porsinya untuk menanyakan pada Abhimanyu bagaimana bisa dia berubah pikiran. Dia tidak pernah menanyakan hal-hal semacam itu pada pasangannya; jika mereka ingin bercinta, maka Argha memberikannya. Pembicaraan tentang perasaan dan perhatian hanya akan memperumit hubungan mereka nantinya.

Kecuali Sebastien yang sekarang mulai terasa seperti sahabatnya alih-alih FWB. Sahabat dengan banyak sekali benefit tanpa perasaan yang mengganggu karena Sebastien berprinsip sama dengan Argha. Beruntung sekali lelaki pertama yang match dengannya hari itu adalah soulmate Argha. Jadi dia tidak repot mencari orang lain lagi.

Mungkin dia akan bertanya pada Abhimanyu mengenai kesepakatan ONS atau FWB—hal biasa dan satu-satunya pembicaraan serius dalam hubungan Argha dengan semua orang. Tapi entah mengapa, dia tidak terlalu tertarik melakukannya karena menggoda Abhimanyu lebih terasa menyenangkan. Dia sangat meledak-ledak hingga dia sendiri kerepotan dengan itu; Argha bisa melihatnya.

Abhimanyu di sisinya mendengus keras, menyamarkan kekagetannya menerima pesan Argha yang frontal. Argha menyerigai, menyandarkan dirinya di sofa—sengaja menempelkan bahunya di bahu Abhimanyu dan mengedip cepat pada Sebastien yang memutar bola matanya.

The poor kid doesn't deserve that begitu kata Sebastien lewat pesan tadi dan Argha mencibir. Sebastien terlalu berpikir tinggi tentang dirinya sendiri, padahal Abhimanyu hanya beberapa tahun lebih muda darinya.

Abhimanyu menantangnya secara terbuka, maka sebaiknya Argha memberi tahu Abhimanyu siapa lawannya sekarang. Dia bukan aseksual seperti Cedrik dan seks adalah hal yang sangat akrab dengan dirinya sendiri; pelepasan penat, pengalihan isi kepala yang selalu digunakannya selama bertahun-tahun lepas dari Yukio.

Argha bangkit, tidak memberi banyak waktu untuk Abhimanyu berpikir. “Excuse me for a moment, I need to use the rest room.” Dia menebarkan senyuman pada semua orang di meja mereka.

Hadrian sedang menceritakan kisah-kisah horor di ITB, sesuatu yang sangat menarik jika saja Abhimanyu tidak memutuskan untuk bersikap sangat menggemaskan di sisi Argha—mengalihkan fokusnya. Sebastien di sisi lain secara mengejutkan mendengarkan dengan serius, tertarik menatap Hadrian yang adalah pencerita ulung. Khrisna menambahkan detail-detail cerita yang dilupakan Hadrian. Mereka bertiga tertawa bersama, akrab seperti sahabat lama.

Argha melemparkan tatapan pada Abhimanyu yang nampak seperti baru saja ditendang persis di selangkangannya lalu meluncur melewati Sebastien—sengaja meletakkan tangannya di bahu Sebastien dan membiarkan pemuda itu meraihnya, mengecupnya sebelum melepaskan Argha. Matanya tetap terpancang kepada Hadrian yang tergelak oleh leluconnya sendiri.

Dia memasuki toilet Starbucks yang berada di sudut ruangan. Tempat itu tidak terlalu ramai, jadi Argha yakin tidak ada yang ada yang curiga jika mereka menggunakan toilet lebih lama dari biasanya. Dia memasuki bilik kedua yang berada di sudut dan menunggu, mengecek apakah Abhimanyu berani melakukannya.

Dia mengedarkan pandangan, selalu tahu Starbucks memiliki toilet umum paling bersih. Harum dan tidak menjijikkan. Namun dia tetap mengeluarkan antiseptik, menyemprotkannya ke toilet. Jika dia menggoda Abhimanyu, maka dia sebaiknya mempersiapkan tempat yang akan membuat otaknya rileks. Argha mengelap permukaan toilet dengan tisu, membuangnya ke tong sampah dengan wajah mengernyit lalu bergegas menyemprot tangannya sendiri.

Cukup bersih, setidaknya dia sudah membubuhkan banyak sekali antiseptik.

Argha kemudian menutup toilet dan duduk di atasnya, menyilangkan kakinya lalu membuka ponselnya. Mengecek ruang obrolan Abhimanyu dan menyadari pemuda itu sudah membaca pesannya tadi. Dia masih daring dan Argha tersenyum, sedikit geli. Adrenalin membuncah di dasar perutnya, meledak-ledak seperti berondong jagung yang dimasak.

Sudah lama dia tidak merasa seperti ini. Sepertinya dia harus mencoba expeditionist sesekali dengan pasangannya nanti karena ternyata ini membuatnya sangat mabuk oleh adrenalin. Kenyataan bahwa seseorang mungkin memergoki mereka membuat Argha semakin bersemangat. Siapa sangka Abhimanyu yang sangat imut itu memiliki kink yang sangat mendebarkan.

Mungkin juga sedikit sadistik? Karena dia mencengkeram Argha begitu kuat ketika menciumnya; menjambak rambutnya, mungkin juga mencekiknya jika saja dia memiliki kesempatan. Argha bergidik, memejamkan mata dengan nikmat—memikirkan apa saja kink yang mungkin disembunyikan Abhimanyu di balik senyuman imutnya.

Kapan terakhir kali dia memiliki pasangan dengan kink? Argha sudah tidak lagi ingat. Sebastien tidak memiliki kink yang berarti, hanya suka dipuji ketika dia menjadi bottom—sederhana, tidak menantang. Tapi Abhimanyu....

Pikiran Argha disela ketukan di pintu kamar mandinya dan dia membuka matanya. Dia menatap ponselnya dan melihat Abhimanyu mengetik.

Bilik yang mana?

Senyuman lebar merekah di bibirnya. Dia langsung berdiri, membuka selot pintu dan menariknya terbuka sedikit—langsung melihat Abhimanyu berdiri di depan pintu. Separuh tubuhnya menutupi pintu dan matanya sekarang menggelap, menyebarkan denyar gairah di seluruh tubuh Argha. Dia mundur dari pintu, membiarkan Abhimanyu mendorong pintu dan memasuki kamar mandi.

“Oh,” Argha tidak bisa menahan desahannya detik Abhimanyu berdiri di balik pintu dan menguncinya. Terdengar suara klik! keras ketika dia melakukannya dan Abhimanyu bersandar di pintu—dadanya naik-turun dan wajahnya merona.

“Kemari.” Kata Abhimanyu dengan suara berat yang baru pertama kali didengar Argha dan dia dengan senang hati mendekat—seperti seekor rusa betina yang merengkuh singa jantan. Tahu jelas singa itu akan merobek lehernya, melahapnya habis.

Argha mendekat, menyentuh dadanya dan mengusap dada Abhimanyu—menemukan piercing-nya yang dingin dari luar pakaiannya. Berdebar karena ingin merasakan besi itu di lidahnya. Dengan lembut dia membuka kancing kemeja flanel Abhimanyu, sengaja berlama-lama dengan jemarinya sambil menggoda Abhimanyu yang terengah. Dia mengangkat tangannya, meletakkannya di sisi leher Argha dan mengusapnya. Tangan Abhimanyu panas, menyengat kulit Argha.

Argha tersenyum, menyapukan kemeja Abhimanyu ke sisi tubuhnya, memaparkan torsonya ke udara. Mendengkur senang melihat otot Abhimanyu yang halus dan mendebarkan. Dengan telapak tangan, dia mengusapnya. Tersenyum senang saat Abhimanyu mendesis oleh sentuhannya. Argha menggigit bibir bawahnya, sedikit membungkuk dan menatap piercing Abhimanyu di hadapannya.

Can I, Doudou?” Bisiknya parau, nyaris tidak terdengar karena mereka tidak ingin ada yang mencuri dengar kegiatan mereka.

Abhimanyu terengah, menunduk menatapnya dengan wajah merah padam. Argha nyaris meledak karena melihat betapa menggemaskannya Abhimanyu ketika dia bergairah. “Yes, please.” Katanya berat dan Argha memejamkan mata, membiarkan suara baru itu membelai kulitnya.

Argha menjulurkan lidahnya, sengaja menggoda Abhimanyu sebelum menjilat piercing-nya sekali. Abhimanyu gemetar, memejamkan mata dan mencengkeram tengkuk Argha—kentara sekali sentuhan Argha membuatnya setengah sinting. Mendengar umpatan tajam meloloskan diri dari bibirnya dengan puas.

We can fuck here, we'll make it quick.” Argha menggumam, mengecup sisi dadanya—beberapa senti dari piercing-nya. “No one needs to know.” Dia menyerigai, mendayu-dayu dan melihat langsung efeknya pada Abhimanyu yang tersengal.

Do you want to be top or bottom, Doudou?” Tanyanya, mengusap puncak dada Abhimanyu yang lain dengan ibu jarinya. Menggodanya, merasakan gairahnya sendiri mulai menggelegak seperti sepanci sup yang mendidih. Merasa tertantang karena melakukannya di ruang publik.

Abhimanyu mengerjap, menatapnya. “What...?” Tanyanya. Argha tergelak kecil, sepertinya ini kali pertama Abhimanyu melakukannya dengan seorang versatile.

Argha menatap dada Abhimanyu, ingin menjilatnya sesegera mungkin. Melahap Abhimanyu. “You know,” dengkurnya. “The usual. I can be whatever you want. Top or bottom, it doesn't matter for me.” Dia kemudian mendongak, hendak menggoda Abhimanyu.

Dan dia melihat ekspresi Abhimanyu. Senyumannya padam, gairah lenyap dari kepalanya begitu saja seperti lampu yang dimatikan. Ekspresi itu langsung memukul Argha mundur. Dia menegakkan tubuhnya, melepaskan diri dari Abhimanyu. Mereka berpandangan dalam diam dan alarm berdering nyaring di kepala Argha sekarang.

Dia menyugar rambutnya, menggertakkan rahangnya. Kepalanya pening oleh alarmnya sendiri. “Kau sudah pernah bercinta, 'kan?” Tanyanya kemudian, mengerutkan alisnya. Nyaris menuntut Abhimanyu untuk mengatakan ya.

Abhimanyu merona, dia menegakkan tubuhnya. Nampak seindah dewa Yunani kuno dengan rambut ikal dramatis yang berantakan dan kemeja setengah terbuka. Piercing-nya bisa membuat Argha gila. Dia seolah diciptakan untuk membuat Argha terjun bebas ke Neraka; tubuhnya, ekspresinya, rambutnya, rasanya....

“Ini kali pertamaku.” Bisiknya dan jantung Argha seketika mencelos—begitu kuatnya perasaan itu hingga dadanya terasa nyeri. Abhimanyu menatapnya dari balik bulu matanya yang lentik. “I hope you don't mind to teach me?”

Argha mundur, menabrak dinding di belakangnya. Alarm di kepalanya meraung sekarang ketika dia menggeleng. Dia memang seorang bajingan tengik, playboy kelas kakap yang tidak pernah segan menyakiti siapa pun, memotong lepas mereka yang berusaha memenjarakannya. Namun dia tidak—tidak akan pernah mau berurusan dengan seorang perjaka atau perawan.

Ikatan yang tercipta setelah menjadi first person untuk mereka mustahil dielakkan dan Argha tidak mau mengurusnya. Tidak mau diingat dengan cara itu, tidak mau memiliki ikatan sesakral itu dengan siapa pun.

Abhimanyu menatapnya, sekarang nampak bingung setelah menyadari bahwa Argha sedang mengelak. “Argha?” Panggilnya dan Argha nyaris mendesah lagi, mendengar suaranya ketika menyebutkan nama Argha.

Setan tahu betapa Argha menginginkan Abhimanyu, tapi tidak. Dia punya prinsip.

“Tidak.” Katanya dingin dan Abhimanyu mengerjap, kaget oleh nada suaranya. Argha menghampirinya, menyingkirkannya dari pintu dengan lembut; tidak kuasa bersikap kasar pada Abhimanyu. “Tidak, tidak.” Tambahnya, setengah panik.

Abhimanyu menyingkir dari pintu dengan bingung. Disorientasi pada sikap Argha yang mendadak berubah. “Kenapa?” Tanyanya, berdiri dengan posisi menyerah di sudut toilet—menatap Argha dengan mata menggemaskannya yang sekarang pekat oleh kebingungan. “Argha?” Desaknya lagi.

Argha berdiri di depan pintu, tangannya menggenggam gagang pintu dan merasa amarah menggelegak di dasar perutnya. Kehidupan sedang mempermainkannya, selalu berhasil menjegal langkah Argha dan membuatnya tersungkur. Dia benci sekali hidupnya yang selalu naik turun dengan ekstrim seperti gyro-drop.

Dia tidak menoleh, tidak kuasa menatap wajah Abhimanyu yang kebingungan atau sakit hati yang mungkin menyeruak di wajahnya jika mendengar kalimat Argha.

No, Abhimanyu. I don't do sex with a virgin.” Katanya tegas lalu membuka pintu. “Find someone else to satisfy your hunger. I can't do that with you.” Argha melangkah keluar dan membiarkan pintu di belakangnya menutup.

Dia menghambur ke tempat mereka, membuat semua orang menoleh kaget. “Let's go home.” Katanya, setengah menggeram marah pada Sebastien yang tertawa dan membuat tawa di wajah pemuda itu lenyap.

“Oh?” Sebastien mendongak dan menangkap ekspresinya. Segera menyadarinya dan berdeham. “You done?” Tanyanya dan berdiri. “I apologize we have to be parted like this, but I'd be glad to meet you again later, Hadrian. Kris.” Katanya, mengangguk ramah pada kedua orang bingung yang bergegas berdiri.

We have appointment to dentist by...,” Sebastien berbohong dengan mulus, mengecek jam tangannya. “One, right? Yes. Sure.” Dia menatap Argha dan mengusap kepalanya. “Kami permisi dulu jika begitu? Tolong sampaikan salam saya pada Abhimanyu.”

Sebastien kemudian membimbingnya pergi, mengabaikan Khrisna dan Hadrian yang masih kebingungan. Bergegas membukakan pintu untuk Argha yang menghambur keluar—sangat, sangat marah sekarang. Ingin memukul sesuatu, ingin mengumpat. Ingin mengamuk.

Okay, what's happening?” Tanya Sebastien saat mereka meluncur menjauh dari Starbucks. “Aren't you having fun with Abhimanyu?”

Shut it, Seb.” Gertak Argha, memalingkan wajah dari Sebastien. Memejamkan mata dengan jengkel dan memijat pelipisnya. Berharap Abhimanyu menemukan seseorang yang akan melakukan seks pertama dengannya, memberikan jalan untuk Argha.

Karena dia tidak akan menjalin ikatan itu dengan siapa pun lagi.


ps. ehehehehehehehe :D