Gemati 300
tw // insecurity , abadonment issue , trust issue , heart break . ps. inhales
Tok, tok!
Nada terganggu, “Ya?”
Cedrik menghela napas lalu membuka pintu ruangan Kinan, melihat sahabatnya sedang menunduk di balik layar iMac-nya dengan kacamata terpasang di atas hidungnya. Alisnya berkerut dalam—Arsa sudah memperingatinya bahwa Kinan sedang dalam suasana hati buruk belakangan ini karena Year End Report dan Business Plan. Termasuk target penjualan per bulannya untuk dua restoran serta satu bistro yang akan mereka urus kedepannya.
Cedrik sudah mendapatkan posisi untuk bertanggung jawab atas bakery bistro itu, La Truffle, tapi mau bagaimana lagi. Uang tidak bisa menyembuhkan sakit hatinya dengan instan. Cedrik harus menjauh dari tempat ini, bahkan jika dia suatu hari nanti kembali pun, dia akan mencari kos baru. Mengubah semuanya agar tidak ada lagi kenangan tentang Abhimanyu yang menempel di sana.
Teringat Nikolas, Cedrik menghela napas.
Dia bisa jadi akan kembali, tapi entahlah. Dia tidak mungkin memaksa Nikolas memindahkan bisnisnya yang sudah begitu besar di Bali; merupakan satu-satunya pet shop besar dengan pet hotel dan dokter hewan dalam satu gedung. Pelanggannya adalah ekspatriat Bali, tersebar di semua kabupaten. Rasanya sangat kurang ajar jika Cedrik memintanya melepaskan itu semua.
“Selamat pagi, Bapak.” Sapa Cedrik seraya menutup pintu ruangan Kinan di belakangnya.
Kinan mendongak dengan alis berkerut, menyatu di tengah keningnya dan ekspresi wajah sangat terganggu seolah Cedrik bertanggung jawab atas tingginya tingkat kematian di dunia. “Oh, kau.” Katanya menghembuskan napas sebal, kembali menatap layar komputernya.
“Jawabannya tidak. Keputusan saya sudah final. Kembali ke Le Paradis.” Lanjut Kinan bahkan tanpa mendongak dan Cedrik menghela napas.
Ruangan Kinan baru, dipisahkan dari ruangan Arsa yang berada di luar ruangan ini; berhadapan dengan meja PA Kinan—baru bergabung dua bulan lalu dan masih sedikit kikuk. Seperti kelinci, dia sering sekali tersentak kaget oleh hal-hal kecil dan hidup dalam ketegangan hingga Cedrik takut dia terkena stroke di usia muda.
Ruangan terluas yang dulunya adalah ruang berkas restoran. Terisi ruang pertemuan kecil yang cukup untuk enam orang yang biasanya diisi jajaran wakilnya. Ruang dokumen dengan rak-rak tinggi di sisi kirinya, beraroma apak khas kertas tua. Seperangkat sofa, televisi (yang Cedrik tidak tahu fungsinya; memang Kinan pernah bersantai menonton televisi di tempat bekerja??? Tapi ini ide Arsa, jadi ya begitulah.), dan meja kerja yang luas. Tapi tidak peduli seluas apa pun meja jati itu, selalu penuh oleh dokumen.
Dia akan menambah Executive Assistant Manager bulan depan karena pekerjaannya semakin banyak semenjak mereka berubah menjadi PT. Ruangan Arsa akan digunakan EAM itu dan Arsa akan menggunakan ruangan Kinan jika harus menegur karyawan. Berharap dengan adanya EAM, beban pikiran Kinan akan berkurang sedikit.
Di atas meja berantakan dengan map-map yang belum diproses Kinan, menumpuk di atas keranjang besi hitam dengan tulisan Document In sementara pasangannya Document Out, kosong melompong. Tadi ketika Cedrik masuk, dia menemukan Personal Assistant Kinan sudah mengintip beberapa kali dengan resah melalui jendela kecil yang memisahkan ruangan Kinan apakah dokumen-dokumen sudah ditanda tangani.
“Halo. Bapak di dalam?” Tanya Cedrik pada PA Kinan dan pemuda itu nyaris terjengkang di tempanya, mengancam kepalanya terbentur rak di belakangnya mendengar suara Cedrik. “Maaf, maaf!” Serunya, kaget karena reaksinya. “Kau baik-baik saja??”
Tapi pemuda itu bergegas mengangguk, mengabaikan Cedrik lalu mendahuluinya untuk memberi tahu Kinan bahwa ada yang ingin bertemu sebelum membiarkannya masuk.
Anak malang. Semoga dia tidak mati muda, pikir Cedrik ketika melihat tumpukan dokumen itu namun Kinan nampak sedang sangat sibuk dengan apa pun itu yang sedang dikerjakannya di iMac-nya.
Ada seteko teh yang diletakkan di sudut terjauh di meja kerjanya dan di meja panjang di bawah jendela di belakang Kinan, ada figura terisi fotonya dan Arsa dalam ukuran lumayan besar. Mereka berangkulan di depan Le Paradis dengan piagam bintang satu Michelin mereka, tersenyum lebar dengan wajah memerah karena bahagia. Mengingatkan Cedrik sekali lagi, seberapa jauh mereka telah melangkah hingga di posisi ini.
“Bapak,” kata Cedrik berdiri di tengah ruangan karena Kinan tidak mempersilakannya duduk. “Setidaknya izinkan saya menjelaskan alasan saya mengundurkan diri.”
Kinan menghela napas, terganggu ketika dia mendongak dan membuka kacamatanya. “Chef,” katanya dingin dan Cedrik bergidik—tidak pernah terbiasa pada nada yang digunakan Kinan ketika bekerja. “Saya tidak perlu mendengarkan apa pun karena permohonan Anda saya tolak.”
Cedrik mendesah keras. “Kinan,” katanya dan Kinan mengerutkan alisnya merespons perubahan nada bicara Cedrik. “Aku tidak bisa di sini sekarang.”
Berdecak, Kinan menunjuk kursi di depannya. “Tutup pintunya.” Katanya dan Cedrik bergegas melakukannya—menutup pintu setelah mengangguk pada PA Kinan yang nampak cemas dan gelisah karena Kinan belum juga menandatangani dokumennya lalu menguncinya.
Dia meraih salah satu kursi di depan meja Kinan dan mendudukkan dirinya di sana. “Kau akan mendengarkanku?” Tanyanya.
Kinan menatapnya, jengkel. “Kau punya sepuluh menit.” Katanya meraih cangkir di meja dan menyesap tehnya. “Apa kata Arsa?” Tanyanya.
Cedrik mengeluarkan map yang dimasukannya ke dalam totebag Le Paradis yang terisi surat pengunduran dirinya. Seharusnya dia membawa itu ke Arsa untuk ditanda tangani, lalu ke Executive Restaurant Manager, Stefan sebagai HRD, Teo sebagai Financial Controller sebelum Kinan. Mereka semua, layer di bawah Kinan seharusnya menyetujui dulu dokumen itu sebelum Kinan.
Namun karena ini Cedrik, maka Arsa langsung memintanya bertemu Kinan. “Kau saja yang bertemu dengannya. Semoga kau dikunyah-kunyah seperti mainan anjing.” Kutuk Arsa, akhirnya setuju menandatangani surat pengunduran diri itu dengan getir—setelah mendengarkan penjelasan Cedrik.
Dan di sinilah dia sekarang, siap dikunyah Kinan yang benar-benar sedang dalam suasana hati yang buruk—sangat buruk.
“Arsa setuju.” Dia mendorong dokumen itu ke arah Kinan, melirik dengan pilu tumpukan dokumen di sisinya yang tidak tersentuh—berjanji akan mengingatkan Kinan tentang itu nanti, membantu PA-nya.
Kinan menghela napas dalam ketika meraihnya dan membuka map itu seraya menyandarkan tubuhnya di kursi empuknya yang berderit. Cedrik yakin seempuk dan senyaman apa pun kursi itu, dia tidak sudi duduk di sana menggantikan Kinan.
Mata Kinan langsung melihat ke akhir halaman, ke kolom tanda tangan dan menemukan tanda tangan Arsa terisi sebagai supervisor Cedrik. “Baiklah,” katanya meletakkan dokumen itu di pangkuannya dan menatap Cedrik. “Kuharap ceritamu cukup mengharukan sehingga aku sudi menanda tangani ini.”
Cedrik tersenyum tipis. “Long story short,” katanya menatap Kinan. “Aku akhirnya menyerah tentang Abhimanyu dan ingin mengambil waktu untuk menyembuhkan diri. Menjauh dari semua hal yang mengingatkanku tentang Abhimanyu. Kau pasti tahu rasanya.” Tambahnya, mengingatkan Kinan bagaimana mereka menjual apartemen lama Arsa karena tidak mau mengingat depresi berkepanjangan Arsa ketika pertama kali menyadari indra perasanya lenyap.
Dan Cedrik benar. Mata Kinan berkilat, nampak tidak menyukai kalimat Cedrik namun menyadari betapa benarnya argumentasi Cedrik.
“Apa yang membuatmu akhirnya menyerah?” Tanyanya, mengulurkan tangan ke gelas terisi pulpen di dekat iMac-nya dan meraih sebuah pulpen, menjentikkan ujungnya dengan suara 'tik!' samar.
“Aku...,” Cedrik berdeham, merasakan gumpalan itu lagi di tenggorokannya. Tidak terlalu suka menceritakan ulang hal ini namun dia harus mendapatkan tanda tangan Kinan. Tidak mau merusak surat rekomendasinya, apalagi dari restoran bintang Michelin.
Ancamannya adalah tidak diterima di mana pun.
“Aku menyatakan perasaanku untuk ketiga kalinya pada Abhimanyu dan,” dia berhenti dan menguatkan dirinya—luka yang menganga di dadanya masih berdarah, perih sekali ketika tidak sengaja tersentuh. Namun dia mengencangkan perutnya, menahan sakit itu dan melanjutkan. “Dan kau tahu apa jawabannya.”
KInan menatapnya. Diam selama beberapa menit sebelum menghela napas berat, menegakkan tubuhnya, menarik kursi mendekat ke meja dan meletakkan dokumen Cedrik di meja. Hatinya membuncah oleh rasa lega yang nyaris melumpuhkan, senang Kinan mengabulkan permintaannya. Itu berarti dia akan mendapatkan surat rekomendasi, dia akan mendapatkan pekerjaan baru.
Sedang membayangkan kehidupan baru yang akan dimulainya di pulau terpencil di Indonesia (mungkin Bintan? Pulau Moyo? Atau mungkin ke Maladewa saja?), ketika Kinan membuka suaranya.
“Chef, saya hanya akan menyetujui unpaid long leave,” katanya dingin dan Cedrik mendongak—kaget. Menyaksikan Kinan mencoret tulisan 'resignation' di atas dokumen Cedrik dan menulis dengan tekanan lebih dari biasanya: 'unpaid long leave'. “Tidak ada pengunduran diri hari ini. Silakan pergi berlibur, gunakan uang yang sudah Anda dapatkan selama bekerja di Le Paradis untuk menenangkan diri.”
Kinan menandatangani kolom namanya dan Cedrik tahu, sisa layer akan seketika menyetujui itu karena Kinan dan Arsa sudah menandatanganinya. Dia kemudian mengulurkan dokumen itu ke arah Cedrik yang lemas karena keputusan itu.
“Lalu kembalilah ketika Anda merasa, Anda sudah cukup kuat. Kami membutuhkan Anda.” Dia menatap Cedrik, matanya dingin sekali dan Cedrik menghela napas—tidak tahu bagaimana bisa Arsa jatuh cinta pada rubah albino berdarah dingin ini.
“Dan kau pikir,” tambah Kinan dengan rahang dikencangkan—marah. “Aku akan membiarkanmu melangkah keluar begitu saja setelah semua yang kita lalui bersama membangun restoran ini, Cedrik? Semua depresi Arsa? Bintang Michelin? La Truffle? Kariermu yang gemilang? Karena patah hati?” Cibirnya dan Cedrik mendenguskan senyuman.
“Yang benar saja. Tidak.” Kinan meletakkan kembali pulpennya. “Kau jauh lebih kuat dari itu. Pergilah berlibur, gunakan waktumu untuk memikirkan ulang segalanya. Lalu kembalilah.”
Dia menarik napas, “Kembalilah pulang.”
Cedrik menatap surat pengunduran dirinya, menatap tanda tangan basah Kinan dan Arsa di sana serta tulisan tebal Kinan yang sedikit berantakan 'unpaid long leave' dengan perasaan campur aduk. Apakah ini yang terbaik dari keputusannya?
Kinan benar. Dia punya karier yang sangat gemilang di sini; menjadi Executive Pastry Chef untuk tiga restoran, bekerja dengan sahabatnya sendiri, dan rasanya sayang sekali jika dia membuang semuanya. Tapi hatinya yang remuk tidak bisa bertahan di sini, tidak bisa melihatnya sendiri jika suatu hari nanti Abhimanyu bahagia dengan lelaki pilihannya—yang bukan Cedrik.
Instingnya adalah kabur, melarikan diri sejauh mungkin dari Abhimanyu. Namun pilihan Kinan terdengar sedikit lebih masuk akal. Dia akan pergi berlibur, cuti panjang tidak dibayar untuk menenangkan diri. Dia punya cukup tabungan untuk berlibur, mungkin pulang ke Jakarta bertemu orang tuanya dan menemani mereka sebentar; mencari kesibukan, mungkin mengajar kursus kecil-kecilan.
Lalu kembali ketika dia sudah cukup kuat.
Kembali pada sahabat-sahabatnya, Arsa dan Kinan.
Kembali pada... Nikolas.
“Bagaimana?” Tanya Kinan sekali lagi, alisnya naik sebelah. “Keputusan saya sudah final, Chef. Itulah hal paling baik yang bisa saya berikan.”
Cedrik menghela napas dan mengangguk. Sepertinya memang begitu. “Tentu, Bapak.” Sahutnya. “Saya akan meminta tanda tangan dari yang lainnya jika begitu.”
Kinan menatapnya lalu tersenyum hangat, persona yang digunakannya ketika bekerja seketika luruh dan dia kembali menjadi Kinan—pasangan sahabatnya. “Excellent choice.” Dia mendorong kursinya menjauh dan bangkit.
Cedrik bergegas bangkit dan berbalik, menyambut Kinan dalam pelukannya. Dia lebih tinggi sepuluh senti dari Kinan, maka dia mengecup puncak kepalanya dan mengeratkan pelukannya. “I love you.” Bisiknya, senang karena di antara dua orang bodoh sepertinya dan Arsa, ada Kinan.
“Take care while I'm away, alright?” Tambahnya. “Tonjok Arsa untukku jika dia bertingkah.”
Selalu menjadi yang paling logis, paling cerdas, dan paling berkepala dingin. Dia punya banyak jalan keluar dari segala masalah mereka. Jabatan yang dipegangnya sekarang, bukan tanpa alasan. Dan dia senang—senang Arsa memilih Kinan sebagai pasangannya.
“I love you too,” balas Kinan di dadanya, tertawa teredam. “Kembalilah secepatnya, oke? Aku tidak sanggup mengurus Arsa sendirian.”
Cedrik tergelak parau. “Tidak janji, tapi akan kuusahakan.”
Lalu dia berhenti di depan pintu sejenak, sebelum pergi ke ruangan staf di sebelah untuk bertemu ERM yang harus menanda tangani dokumennya. Dia menoleh ke Kinan yang sudah kembali ke layar iMac-nya sambil menarik napas panjang—membenci pekerjaannya.
“Pak?” Panggilnya.
Kinan mendongak dengan alis berkerut. “Apa lagi maumu?” Tanyanya.
Cedrik mengedikkan bahu dan menunjuk dokumen di atas meja dengan dagunya. “Kau bisa memperingan pekerjaan PA-mu dengan mulai menanda tangani tumpukan itu?”
Kinan mengerjap, sejenak disorientasi lalu menoleh ke dokumen itu dan mengerang. “Ah, ya.” Gerutunya, meraih tumpukan map itu dengan jengkel. “Trims.” Tambahnya memutar bola mata. “Jangan lupa berikan surat itu ke Stefan setelah selesai, oke?”
Cedrik melambaikan dokumennya. “Trims, Pak.”
“Sama-sama, Chef.” Kinan tersenyum lalu wajahnya kembali jengkel. Mendelik pada Cedrik. “Apa lagi maumu sekarang? Enyahlah.” Gerutunya dan Cedrik terkekeh.
Dia masih tertawa kecil ketika menutup pintu ruangan Kinan lalu menoleh ke PA-nya yang bergegas berdiri. “Saya sudah meminta Bapak menanda tangani dokumen masuk. Sedang dikerjakan, masuklah dua puluh menit lagi.” Dia tersenyum dan PA itu nampak sangat lega hingga Cedrik tersenyum.
“Terima kasih, Chef. Terima kasih!” Dia mengangguk, nampak sangat bersyukur dan Cedrik balas mengangguk sebelum keluar dari ruangan Kinan dan menuju ruangan staf.
Hatinya sedikit ringan sekarang, memikirkan ke mana sebaiknya dia memulai wisatanya setelah ini. Dan mengabari Nikolas tentang ini. Mungkin menginap di rumahnya malam ini sepulang bekerja?
Untuk pertama kalinya, bertemu seseorang membuatnya senang dan ringan alih-alih terbebani oleh perasaan bersalah karena tidak cukup baik untuk orang itu. Cedrik menghela napas, senang dia melepaskan Abhimanyu walaupun sedikit merasa bersalah karena tahu apa akibatnya pada Abhimanyu.
Namun dia memilih untuk memprioritaskan dirinya sendiri sekarang. Abhimanyu akan baik-baik saja.
Abhimanyu tidak baik-baik saja.
Dia merasa tidak enak badan seharian. Terbangun pukul setengah enam pagi, menemukan Argha sudah tidak ada di kamarnya. Dia terserang rasa panik, takut baru saja mengusir Argha juga dari hidupnya namun dia langsung tenang ketika mendengar suara flush di kamar mandi disusul Argha yang keluar dari kamar mandi.
“Good morning, Doudou?” Sapanya lembut dan Abhimanyu tersenyum kecil, merasakan senyuman itu menikam hatinya sendiri; mengingatkannya bahwa Cedrik sudah melangkah pergi dari hidupnya.
“Jika begitu,” kata Cedrik semalam dan Abhimanyu merasa jantungnya mencelos; tahu benar apa yang akan dikatakan Cedrik setelahnya namun tetap menanti lelaki itu mengucapkannya sendiri. “Aku tidak bisa lagi menemanimu, Abhimanyu. Aku... sudah selesai.”
“No. No.” Argha bergegas menghampirinya ketika wajahnya berkerut, menahan tangis saat mengingat kenangan itu. Bergegas meluncur ke ranjangnya—memeluknya hangat. Aroma Argha begitu menyenangkan; lembut, hangat, secercah wewangian feminim yang tidak menyengat dan keringatnya. “You're fine, you're fine.”
Dan sekarang Abhimanyu takut untuk memercayai siapa pun karena tahu mereka akan—pasti meninggalkannya. Bahkan Cedrik yang sudah dia yakini akan tetap tinggal apa pun yang terjadi. Dia harus menjaga jarak dari Argha, menjauhinya agar tidak terlanjur bergantung padanya.
Abhimanyu tidak mau menghadapi luka yang sama untuk ketiga kalinya.
Dia duduk di loker, baru saja selesai mencuci wajahnya dan menenangkan diri. Prep sudah selesai, mereka sedang beristirahat dan Abhimanyu tidak ingin makan apa pun. Dia akan pergi ke ruang istirahat karyawan untuk tidur saja karena dia tidak ingin memasukkan apa pun ke tubuhnya. Abhimanyu mengganti seragamnya, tidak ingin benda itu kusut atau berbau keringat ketika dia tidur.
Abhimanyu merasa tubuhnya melayang ketika melepas kemejanya, menggantunya di hanger lalu menyelipkannya ke dalam loker. Dia berdiri dengan kaus dalam di loker yang sepi; menatap wajahnya sendiri yang dipantulkan cermin kecil di dalam lokernya. Dia nampak kacau, sakit, dan kelelahan.
Haruskah dia meminta early out saja? Atau tidur selama tiga jam akan membuatnya lebih baik?
Abhimanyu menghela napas berat, meraih kaus yang digunakannya untuk berangkat bekerja tadi dan mengenakannya melalui kepala. Sedang merapikan pakaiannya ketika pintu loker terbuka dan Argha muncul dari sana; dia nampak sedikit kacau juga hari ini; beberapa kali melamun ketika prep, mengecek ponselnya dengan resah dan berusaha menghubungi seseorang.
Abhimanyu yakin pasti karena menemaninya begadang semalaman dan membuatnya merasa bersalah.
“Ah, kau di sini.” Kata Argha, tersenyum kecil namun tidak menyentuh matanya. “You don't have lunch?” Tanyanya, mulai membuka seragamnya dan Abhimanyu sejenak ingin bertanya ke mana dia akan pergi—namun urung, takut terdengar begitu menyebalkan.
Takut membuat Argha terbebani. Takut menunjukkan kelemahannya, takut bergantung pada Argha.
“No, Chef.” Katanya parau, mengulaskan senyuman kecil yang terasa pedih. “Saya akan tidur di ruang karyawan.” Dia kemudian meraih ponselnya dan menyelipkannya ke saku celananya.
Argha berhenti dan menoleh. “Kau baik-baik saja?” Tanyanya.
Abhimanyu menggeleng. “Tidak, tapi tidak masalah.” Sahutnya, menghela napas dan menekan sakit yang kembali menyeruak di dadanya; mengingat ketika Cedrik melepaskan pelukan mereka dan Abhimanyu bergidik, kedinginan.
“We're done here, then, Abhimanyu. I can't continue.”
Abhimanyu menggertakkan giginya, bibir bawahnya gemetar dan dia menumpukan tangannya di sisi loker—menahan dirinya agar tidak meluruh ke lantai akibat rasa sakit mendadak yang menikamnya. Begitu dalam, begitu kuat hingga dia merasa tubuhnya baru saja terbelah dua oleh rasa sakit itu.
Argha mengulurkan tangan, bergegas menangkapnya persis sebelum Abhimanyu menghantam lantai dengan lututnya dan berpotensi menciderai kepalanya. “You're not going to do good today,” gumamnya dan mendesah.
“I'll go get some sleep, Chef.” Bisik Abhimanyu, terengah—tidak yakin mengapa dia merasa sangat kelelahan dan kebingungan.
Rasanya seperti dia hanyut terbawa arus, tidak memiliki genggaman. Melayang begitu saja seperti layangan yang tidak digenggam; tidak berani memanggil kakaknya, tidak berani meminta bantuan Argha, tidak ingin merepotkan Hadrian. Dia hanya memiliki Cedrik selama ini; selalu dan selalu Cedrik. Hingga mereka nyaris memiliki koneksi emosi yang begitu kuat; tahu kapan salah satu dari mereka sedang kesulitan atau membutuhkan dukungan emosi.
Kehilangan Cedrik berdampak sangat besar pada kondisi Abhimanyu; fisik dan emosi. Seperti ada sebuah organ vital yang dirampas dari tubuhnya, dicabut paksa dan lubangnya dibiarkan menganga. Namun jika teringat nada suara dan ekspresi Cedrik semalam ketika mengakhiri hubungan mereka, Abhimanyu merasa berdosa.
Dia sudah mencekik Cedrik selama ini, menggenggamnya begitu erat hingga pemuda itu tidak bisa bernapas. Menggantungkan seluruh bahagia, hidup, dan segalanya pada Cedrik—memintanya bertanggung jawab atas segala emosi yang Abhimanyu rasakan.
Abhimanyu memang harus melepaskannya. Mereka harus mengakhiri ini.
Tapi bagaimana caranya hidup tanpa Cedrik?
Abhimanyu menarik napas tajam, tangannya yang bebas bergerak untuk meraih dadanya—menekan rasa sakit itu walaupun dia tahu rasa itu berada di balik rusuknya dan dia tidak mungkin menyentuhnya. Ponselnya jatuh ke lantai, berderak keras namun dia tidak mendengarnya. Semua suara terasa menggema di kepalanya, seolah dia sedang berada di dalam sebuah bola raksasa yang menyaring semua suara. Membuatnya bingung dengan suara gema beruntun yang menghantam kepalanya.
Terdengar suara kesiap tajam dan Argha meraihnya ke dalam pelukannya, Abhimanyu seketika meluruh ke dalam hangatnya tubuh Argha—membalas pelukannya, menyandarkan keningnya di bahu Argha dan menghirup aroma tubuhnya. Setengah dirinya tahu dia harus menarik diri dari Argha, tidak boleh membebani siapa pun dengan emosinya lagi.
“Maaf,” bisiknya kacau—seperti baru saja menenggak terlalu banyak minuman keras. Dia mabuk; tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri, kepalanya berat, matanya panas, dan dadanya... dadanya perih sekali.
Perih, perih sekali.
Dia memukul dadanya, terbatuk keras ketika gerakan itu membuatnya sakit dan Argha mendesis lembut—menarik tangan Abhimanyu dengan lembut namun kuat dari sana, menjauhkannya lalu melingkarkannya di pinggang Argha.
Perih, perih sekali.
“Sshhh, it's okay, it's okay, Little Darling.” Bisiknya lembut dan hati Abhimanyu semakin pedih mendengarnya; suara Argha yang hangat, bisikan lembutnya, aroma parfumnya...
Dia tidak mau terjebak dalam perasaan bergantung ini, perasaan lemah dan terekspos ini. Tidak ingin merepotkan siapa pun, dia tidak mau memaksa siapa pun tinggal di sisinya karena kasihan. Tidak ingin membuat siapa pun merasakan sakit yang dirasakan Cedrik akibat keegoisannya sendiri.
Abhimanyu terluka, kebingungan, self-esteem-nya terjun bebas. Merasa sama sekali tidak berharga karena telah menyakiti semua orang dengan emosi dan traumanya sendiri. Abhimanyu ingin melepaskan kepalanya, berhenti berpikir. Melepaskan hatinya, berhenti merasakan. Dia ingin semua indranya mati, berhenti memberikannya begitu banyak perasaan yang menyakitinya.
“Sayang,” bisik Argha dan Abhimanyu tersedak tangisannya sendiri.
Dia bersandar sepenuhnya pada Argha, memohon bantuan dari atasannya untuk menariknya ke permukaan. Menegakkan tubuhnya dan membantunya berdiri, membimbingnya melangkah karena Abhimanyu tidak yakin dia bisa melakukannya kecuali merangkak di tanah—menyeret dirinya sendiri untuk maju.
Tapi Abhimanyu harus mandiri, dia harus mengurus semua emosinya sendiri. Jika dia bergantung pada Argha dan lelaki itu juga meninggalkannya, apa yang harus dilakukannya? Namun dia tidak bisa melawan bagian dirinya yang membutuhkan sokongan itu.
Argha terasa sangat hangat, dewasa, dan menenangkan. Pelukannya lebih erat dari Cedrik, lebih hangat—seperti dipeluk ayahnya sendiri. Mungkin karena perbedaan usia mereka yang sangat jauh, di beberapa kesempatan Argha terasa begitu kebapakan. Membuatnya merindukan sosok yang tidak dimilikinya selama ini; sosok lebih dewasa yang akan menjaganya. Tidak akan meninggalkannya demi orang lain.
Sosok yang akan selalu bersama Abhimanyu.
Tapi dia tahu siapa Argha, lelaki itu akan meninggalkannya persis setelah dia selesai dengan urusannya bersama Abhimanyu. Maka dia mengeratkan pelukannya pada pinggang Argha, mendekapnya lebih erat berusaha menguatkan dirinya sendiri sebelum menegakkan tubuh dan melangkah pergi.
Lebih baik jika dia yang berlalu sebelum siapa pun sempat meninggalkannya. Abhimanyu tidak ingin ditinggalkan lagi, tidak sudi merasakan sakit itu lagi. Dia gemetar dalam pelukan Argha dan telapak tangan hangatnya mengusap punggung Abhimanyu, membisikkan kalimat menenangkan di telinganya dengan suara beratnya.
“You'll be fine, Doudou. You'll be fine.” Bisiknya dan Abhimanyu ingin meledak dalam tangisan liar yang keras, ingin melepaskan semua sakit yang bercokol di dadanya—membebaskan semuanya. Menangis hingga paru-parunya mengerut dan air matanya habis.
Berharap Argha benar.
“You can count on me for now, alright, Doudou? I'm here. I'm here.”
Bahwa dia akan baik-baik saja...
ps. ehe :(( byebye cedrik! see you around later! <3 welcome, yukio :P