Gemati 294

tw // atheism .

ps. argha gak percaya tuhan dg caranya sendiri, silakan skip bagian itu jika tidak nyaman yaa <3 pss. old but gold, aku dengerin Back to December :“)


Ketika akhirnya Abhimanyu terlelap, waktu sudah menunjukkan pukul setengah tiga pagi.

Argha hanya punya beberapa jam sebelum mereka berangkat untuk bekerja. Dia menghela napas, merasa lelah dan sakit kepala karena kurang tidur. Tapi tidak bisa mengabaikan telepon Abhimanyu yang dipenuhi racauan tidak jelas mengenai perasaannya.

Anak itu berhenti di pinggir jalan dalam perjalanan kembali ke Seminyak pukul satu pagi untuk meluapkan emosinya. Argha mau tidak mau langsung bergegas menghampirinya ke kos dengan sangat khawatir, menemukannya berbaring di lantai masih mengenakan jaket berkendara dengan wajah merah padam. Syukurlah anak itu masih cukup sadar untuk mengirimkannya lokasi sehingga Argha bisa menemukannya—menyelamatkannya.

Kenapa Argha ikut campur ke dalam urusan mereka? Tidak tahu.

Mungkin Sebastien harus menonjok wajah Argha ketika dia pulang untuk menyadarkan Argha bahwa dia punya kehidupan yang menyenangkan, damai dari drama percintaan tapi malah melemparkan diri pada Abhimanyu. Membelitkan dirinya dalam kisah cinta mereka yang rumit. Memangnya keuntungan apa yang akan didapatkan Argha?

Dia duduk di atas karpet lembut kamar Abhimanyu, menyandarkan kepalanya di kasur Abhimanyu dan memejamkan mata. Kelelahan.

Kamar Abhimanyu beraroma lembut parfumnya serta pengarum ruangan, juga aroma keringatnya. Dia punya cermin satu badan raksasa di depan kasurnya, membuat Argha sejenak diam dan berdeham. Tidak bisa tidak merespons benda itu dengan kaget; jika menemukan cermin itu di kamar perempuan, Argha tidak akan terkejut. Kaum hawa senang memadu-padan pakaiannya dan menyukai cermin satu badan untuk mencocokkannya. Abhimanyu...?

Namun tidak lama karena dia bergegas menghampiri Abhimanyu. Menyingkirkan semua penasarannya karena dia di sini untuk membantu dan menenangkan Abhimanyu—setelah bertengkara dengan Cedrik, nampaknya. Memangnya apa lagi probelmatika kehidupan Abhimanyu selain pekerjaan dan Cedrik?

What the fuck are you doing here, Argha?” Gumamnya rendah pada dirinya sendiri, mendengarkan dengung penyejuk ruangan kamar Abhimanyu dan dengkuran lembutnya.

Abhimanyu meledak dalam tangisan yang membingungkan ketika Argha tiba, dia sendiri bahkan tidak memahami alasan dari tangisan itu. Dia memandangi tangannya yang basah oleh air mata, kebingungan sementara air mata terus menetes ke atas sana. Dia gemetar, ketakutan, cemas, dan Argha tidak tega meninggalkannya sendirian. Dia menatap Argha, air mata merebes dari sudut matanya dan membasahi wajahnya yang merah padam.

Kebingungan, terluka, patah hati, ketakutan, cemas.... Matanya berkilat dan Argha tidak menyukai luka itu. Ingin merengkuhnya, menahannya agar tidak hancur dalam kedua lengannya.

“Kenapa saya menangis, Chef?” Tanyanya memilukan dengan suara yang terdengar begitu penuh luka dan Argha mengencangkan otot perutnya—menahan pedih yang menyeruak di dadanya mendengar nada itu.

“Kenapa saya menangis? Kenapa saya...?” Isaknya, matanya berkilau kebingungan, buram oleh air mata dan Argha tidak tega lagi.

Maka dia memeluknya.

Sudah lama sekali sejak dia memberikan pelukan emosional pada seseorang, pelukan hangat dan lama. Menyandarkan Abhimanyu di bahunya, membiarkan air matanya merembes di pakaian Argha. Dia bahkan tidak mengganti piyama sutranya karena terburu-buru. Sedikit jengkel karena dia sudah menggunakan rangkaian skin care malam dan harus keluar kamar, tapi dia akhirnya menyerah dan mengabaikannya saja.

Dia mendengarkan Abhimanyu menangis, tidak mengomentari apa pun. Hanya diam dan memeluknya, mengusap bahunya hangat. Membiarkan Abhimanyu meluapkan segala hal yang mencekiknya. Argha tidak bisa mendengar sebagian dari kalimatnya, namun dia menangkap ketakutan Abhimanyu.

Ketakutan untuk diabaikan.

Argha akhirnya memahami semuanya; sikap meledak-ledak itu, keposesifan Abhimanyu, emosinya yang tidak stabil, kecemasannya, rasa tidak percaya dirinya. Tapi dia tidak bisa memahami apa penyebabnya, Abhimanyu hanya mengulang-ulang kalimat “tidak mau ditinggalkan” dan “tidak mau sendirian”.

Kondisinya lumayan parah, terguncang hebat dan Argha memiliki cukup nurani tersisa di hatinya (secara mengejutkan sekali) untuk tetap berada di sisi Abhimanyu hingga dia kelelahan dan terlelap. Sedikit merasa iri karena tidak ada yang menemani Argha ketika dia sangat membutuhkan teman; ketika pertama kali kembali ke Paris dengan status 'yatim piatu', pertama kali ke Jepang sendirian, masa awal ditinggalkan Yukio....

Tidak ada yang menemani Argha sama sekali. Dia sendirian, menelan luka dan pedihnya hidup. Hingga akhirnya memutuskan bahwa Tuhan tidak pernah ada karena Dia tidak pernah mengabulkan doa Argha, tidak pernah menyelamatkan Argha, tidak pernah memberikan pertolongan. Tidak mau lagi termakan doktrin agama yang tidak dikenali dan tidak dimaknainya.

Jika dia sekarang bahagia, itu semua karena dia sendiri. Bukan karena anugerah Tuhan. Jika dia masih hidup sekarang, itu semua karena dia sendiri yang menyelamatkan dirinya; mencegahnya melompat ke Seine untuk mati tenggelam, mencegahnya agar tidak melemparkan diri ke depan kereta. Tuhan tidak melakukan apa pun dalam hidupnya kecuali mengambil segalanya.

Argha memutuskan dia akan menjadi seseorang yang dia sendiri butuhkan untuk Abhimanyu.

I'm so fucked up.” Erangnya lalu memejamkan mata, mendengarkan dengkur Abhimanyu yang lembut dan sedikit tersenyum.

Jarak usia mereka begitu jauh, emosi mereka juga begitu berbeda. Abhimanyu masih sangat muda, baru lulus sekolah kulinari dan belum pernah bertemu banyak rekan kerja dengan berbagai macam rupa. Dia belum bertemu mantan kekasih yang menyakitinya, sahabat yang menikamnya dari belakang, atasan dari neraka; semua orang memanjakannya, Cedrik melindunginya.

Argha mendesah, bergerak dari posisinya dan berpindah ke depan wajah Abhimanyu. Dia bersila di seberang Abhimanyu yang lelap, menumpukan wajahnya di tangan—mengamati wajah Abhimanyu.

Apakah dia pernah memikirkan bagaimana kehidupannya jika dia memiliki saudara? Apakah membuat hidup terasa semakin ringan atau malah memberikannya beban tanggung jawab lain setelah orang tuanya meninggal? Bagaimana jika dia memiliki adik? Berbagi duka dengannya ketika orang tua mereka meninggal, bertanya kabar, bertengkar...

Dia mengulurkan tangan, sejenak ragu sebelum menyentuh kening Abhimanyu. Dengan dua jari, meraih salah satu ikal yang meluruh di keningnya dan menariknya lembut—mengamati ketika pernya merentang memanjang lalu melepaskannya. Rambut Abhimanyu memantul, kembali membentuk ikal menggemaskan dengan semburat jagung karena sering terkena sinar matahari.

Why?” Bisik Argha perlahan, menyentuhkan ibu jarinya di kening Abhimanyu—begitu lembut hingga nyaris tidak menyentuhnya dan merasakan napasnya di pergelangan tangannya. “Why I'm so drown into you?”

Dia teringat kali pertama bertemu Abhimanyu. Sore yang cerah di Starbucks Reserve, hari pertamanya di Bali—kesepian belum memiliki teman mengobrol, duduk bersama Christian dan melihat boneka beruang menggemaskan ini melangkah memasuki store dengan Cedrik di sisinya. Matanya yang berkilauan, rambut ikalnya, pembawaannya yang menyenangkan... Senyumannya.

Tidak bisa mengenyahkan wajah Abhimanyu dari kepalanya setelah itu.

Argha menumpukan dagunya di tepian ranjang, menyisir rambut Abhimanyu perlahan dan mendengarkan dengkurannya. Ada begitu banyak manusia yang ditemui Argha di hidupnya, begitu banyak khianat, luka, dan kekecewaan. Komitmen bukanlah hal yang dibutuhkannya sekarang. Toh dia hidup bertahun-tahun sendirian dengan bahagia. Tidak lagi ingin merasakan kehilangan.

Abhimanyu juga merasakan hal yang sama dengannya. Tidak ingin merasakan kehilangan lagi. Seperti balon yang melayang di langit, tidak tahu akan berhenti di mana dan tidak ada yang menggenggamnya, menahannya di bumi.

Apakah jika dia bertemu Argha yang juga tidak memiliki genggaman, mereka akan saling membelit lalu saling menyelamatkan?

Why can't I just... ignore you?” Bisik Argha lagi, menyentuh wajah Abhimanyu lembut dengan ujung jari telunjuknya—berhati-hati agar tidak membangunkannya. “I tried, so damn hard. So hard, to ignore you. To run away from you but just... why?”

Apakah Argha akhirnya... tertarik pada seseorang selain Yukio? Bahwa hati yang telah lama Argha pikir mati setelah Yukio pergi, kini kembali mekar karena Abhimanyu? Anak kecil rewel yang meledak-ledak ini? Anak kecil yang bahkan kebingungan dengan emosinya sendiri? Naif, berisik, penasaran, dan juga kebetulan seksi dengan nipple piercing serta ciumannya yang mendebarkan?

Argha tersenyum kecil. Hatinya, untuk pertama kalinya setelah begitu lama dingin, menghangat—membuat tubuhnya berdenyar lembut. Perasaan yang sama ketika pertama kali dia mendongak, bertemu mata dengan Yukio yang tersenyum dan mengulurkan tangan padanya.

“Hai! Apakah kau tidak kedinginan di sana? Ayo, kita makan sesuatu di dalam!”

Dia melipat tangannya di tepian ranjang dan mengistirahatkan kepalanya di sana, menggunakan lengan sebagai bantal lalu memejamkan mata. Tangannya yang bebas menemukan tangan Abhimanyu, menyelipkan jemarinya ke antara jemari Abhimanyu lalu meremasnya lembut.

“Tidak usah cemas!”

Argha merasa mendengar suara Yukio lagi di kepalanya ketika jemari Abhimanyu bergerak di dalam tangannya. Dengkurannya berhenti sejenak ketika dia mengerat giginya. Argha membuka sebelah matanya, memastikan Abhimanyu tidak terbangun. Anak itu mengeluarkan suara-suara kecil igauan samar sebelum kembali lelap—kelelahan setelah menangis dan perjalanan pulang-pergi dari Ubud.

“Aku terlalu kurus dan pendek untuk menyakitimu, bukankah begitu??” Yukio tersenyum lebar hingga matanya membentuk sepasang bulan sabit menggemaskan; hidungnya kemerahan, tangannya tenggelam dalam sarung tangannya yang terlalu besar.

“Aku hanya akan mentraktirmu okonomiyaki! どして?How?

Dan dia terlelap di sisi Abhimanyu, tangan bertautan dengan bayangan senyuman lebar Yukio di balik kelopak matanya; gemerlap serupa Venus yang terbit di pagi hari.


Dia selalu berpikir menemani Arsa bekerja akan menjadi tempat terakhirnya; akan menggunakan masa pensiunnya bahkan untuk tetap aktif di PT menemani kedua sahabatnya.

Tapi hidup terkadang membawanya ke tempat-tempat mengejutkan baru yang memaksa Cedrik merelakan sesuatu. Dia melangkah ke ruangannya di Pastry, mengamati mejanya yang sudah ditempatinya bertahun-tahun. Semuanya adalah barangnya, dia bahkan memesan iMac berwarna toska untuk membuat Kinan jengkel. Ada figura yang terisi foto mereka bertiga ketika Michelin memberikan mereka bintang pertama, foto ketika grand opening Le Paradis.

Cedrik mengulurkan tangan, meraih figura itu dan tersenyum. Arsa nampak kurus dan tidak terawat; rambutnya masih setengah botak, bekas luka di lengan bawahnya beberapa masih cukup basah dan tulangnya berbonggol-bonggol. Mereka benar-benar menyeret Arsa bangkit kala itu, teringat ketika dia melempar gelas ke dinding dengan marah karena terkhianati oleh pasangannya...

Di balik figura, ada photo stip yang diselipkan Cedrik; isinya foto mereka semua ketika pernikahan Arsa dan Kinan. Cedrik menggendong Bubble kecil yang mengenakan sayap unicorn di kedua lengannya, tersenyum lebar dengan seragam Le Paradis lama mereka. Arsa nampak cemerlang, memeluk Kinan dengan bangga dan mengangkat gelas sampanyenya.

Bagaimana rasanya bahagia? Seutuhnya, sepenuhnya?

Cedrik tidak lagi ingat. Belakangan ini, dia terlalu banyak berduka. Terlalu banyak menelan pahit dan kecewa. Bukan salah siapa-siapa, itu semua pilihan Cedrik sepenuhnya.

Dia meletakkan figura itu kembali di meja dan membaliknya. Cedrik dengan sadar mencintai seseorang yang sudah jelas menyatakan bahwa dia tidak bisa mencintai Cedrik—terus berusaha walaupun dia tahu bagaimana akhirnya. Berharap dan terus berharap, lupa bahwa harapan terkadang adalah sumber dari segala luka.

Cedrik melangkah keluar ruangannya. Pastry masih kosong, dia sengaja datang lebih awal dari biasanya dan membuka pintu belakang dengan kuncinya sendiri; dia butuh waktu sendirian. Dia melangkah ke meja prep, mengusap permukaannya dan teringat waktu-waktu lembur yang dihabiskannya bersama Arsa untuk menciptakan, menyempurnakan menu-menu untuk Le Gourmet.

“Ini hadiah ulang tahun Kinan, aku ingin semuanya sempurna.” Geram sahabatnya frustrasi sambil menunduk ke cokelat di tangannya dan Cedrik ingat dia menegakkan tubuhnya, menyadari mereka sudah nyaris dua puluh empat jam di dapur itu tanpa tidur.

Besoknya, mereka berdua berhalusinasi karena kelelahan. Berbaring di ranjang kamar tamu di rumah Arsa-Kinan, mendengarkan Kinan mengomel sepanjang hari sambil mengurus mereka; bukan perawat yang menyenangkan, Cedrik memberikannya bintang 1.

Cedrik tersenyum, penuh nostalgia. Teringat juga hari ketika dia menemani Arsa membuat The Kinan, menjadi asistennya mengutak-atik semua cokelat dan tekstur serta suhu menjadi satu makanan penutup. Beberapa kali gagal, namun Arsa tidak menyerah—bahkan tidak berhenti makan hingga Cedrik nyaris menyuapinya makanan.

Aku merindukan diriku sendiri, pikirnya hampa. Mengedarkan pandangan ke ruangan Pastry Le Paradis yang jauh lebih besar dari Le Gourmet dengan dua oven raksasa, walk-in chiller sendiri, dan ruangan cokelat yang dingin untuk memproduksi ratusan bonbon setiap harinya untuk dijual. Daerah kekuasaannya, tempat ternyamannya di dunia ini. Bersama sahabatnya.

Cedrik merindukan dirinya sendiri sebelum dia jatuh cinta. Dirinya yang sibuk bekerja, bahagia mengekor kedua sahabatnya berpacaran, menikmati kesendiriannya dengan senang, berjalan-jalan mengeksplor Bali, membuat resep-resep baru di waktu luangnya....

Ketika Abhimanyu datang, dia mengubah semua kebiasaannya. Lalu perlahan tidak lagi melakukannya karena dia memprioritaskan Abhimanyu di atas segalanya, berharap dengan melakukannya, Abhimanyu akan mencintainya. Melengkapi kebahagiaannya.

Namun dia tidak pernah menyesal jatuh cinta pada Abhimanyu. Anak manis yang tertawa ceria padanya, memeluknya, mendekapnya, menemaninya tidur ketika demamnya terlalu tinggi hingga dia menggigil, menciumnya sayang—membuat kehidupan, di beberapa kesempatan, terasa jauh lebih baik.

Sekarang dia akan menutup buku itu. Memulai bab baru dalam hidupnya, berhenti menangisi akhir yang tidak bahagia dari bab sebelumnya dan berharap—sedikit saja, di bab selanjutnya dia tidak akan tersandung di lubang yang sama.

Cedrik menumpukan kedua tangannya di meja prep, menunduk dan bernapas dari mulutnya. Berusaha menelan kembali tangis yang hendak menyeruak di dadanya, berkali-kali berusaha mengenyahkan gumpalan tidak nyaman di tenggorokannya itu. Matanya panas, maka dia memejamkannya. Menggertakkan giginya agar tidak terisak.

Dia harus meninggalkan tempat ini. Cedrik tidak bisa terus di sini, menyaksikan Abhimanyu berbahagia—tanpa dirinya. Menyadari fakta bahwa bukan dirinya yang dibutuhkan Abhimanyu untuk bahagia. Bahwa Cedrik tidak akan pernah menjadi bagian masa depan Abhimanyu—setidaknya bukan posisi yang diharapkannya...

Bahunya berguncang, Cedrik merendahkan tubuhnya dan mulai menangis. Menyerah kalah pada kesedihan yang mencekiknya, membakar paru-parunya dan membuatnya sulit bernapas. Lucu, mereka bahkan tidak pernah berpacaran dan sekarang rasanya seolah Abhimanyu baru saja mengakhiri hubungan mereka.

“Aku mencintaimu. Yah, begitulah. Kupikir kau sudah tahu itu?”

Dia mendengar dirinya sendiri bersuara, menatap Abhimanyu yang mengerjap—kaget. Mereka sedang menghabiskan waktu di The Bridges, makan siang sambil menikmati sebotol wine menikmati keteduhan restoran itu dan Cedrik memutuskan dia akan menyatakan perasaannya pada Abhimanyu.

Itu penolakan pertamanya.

Seharusnya dia berhenti, menyerah dan melupakan Abhimanyu. Mencari kesibukan lain, mungkin orang lain yang akan mencintainya lebih hebat dari apa yang dilakukannya untuk Abhimanyu. Tapi, tidak.

Dia kembali melakukannya.

Apakah kau berubah pikiran tentang perasaanmu padaku? Karena aku masih mencintaimu.”

Dan berharap kali ketiga menyatakannya, Abhimanyu akan menjawab 'ya'.

“Aku mencintaimu. Sangat mencintaimu.” Katanya tadi malam, dengan Abhimanyu di pelukannya—sangat bodoh, berharap sekarang Abhimanyu akan menerimanya. Menyambut perasaannya setelah begitu banyak hal yang dilakukannya, begitu banyak cinta yang diberikannya untuk Abhimanyu.

Namun jawabannya tetap sama.

Untuk ketiga kalinya.

“Maaf. Aku tidak bisa.”

Hatinya patah; sekali lagi, di tangan orang yang sama. Orang yang dicintainya dengan seluruh dirinya, berusaha dibahagiakannya. Namun Cedrik tidak pernah cukup untuknya. Bukan Cedrik yang diinginkannya di sini.

Dan itulah saatnya Cedrik menyatakan cukup. Menghormati dirinya sendiri untuk melangkah pergi dari Abhimanyu. Berhenti mencoba, berhenti berharap, berhenti berusaha. Maka dia bangkit setelah menghabiskan malam tanpa tidur lalu berangkat ke Le Paradis.

“Cedrik?”

Cedrik tidak mendongak, menangis tanpa suara dengan mulut terbuka—berusaha bernapas karena hidungnya tidak mau melakukannya. Dia memukul dadanya sendiri, mencoba untuk mengenyahkan rasa sakit yang bercokol di dalam sana. Meremas organ di balik paru-parunya, meremukkannya lalu mencabutnya dari sana. Meninggalkan lubang menganga yang berdenyut.

“Cedrik!?” Dia mendengar langkah kaki di kejauhan menuju Pastry. “Bajingan tengik ini.” Pintu yang terbuka, “Apa yang kaulakukan sepagi ini di—oh! Astaga!”

Dia mendengar seseorang setengah berlari ke arahnya lalu menyambar tubuhnya, menyentakkannya dari posisi awal untuk memeluknya. Aroma parfum Arsa yang seperti kayu yang terbakar menguburnya. Arsa mendekapnya, mengeratkan pelukannya. Secercah aroma keringat dan matahari pagi yang dingin terperangkap di hidung Cedrik.

“Cedrik?” Bisiknya, gemetar. “Cedrik, Cedrik. Cedrik.” Bisiknya, mengusap tubuh sahabatnya—memeluknya semakin erat, ingin membagi kesedihan itu ke tubuhnya. Seperti yang mereka selalu lakukan tiap kali Arsa terbangun karena berhalusinasi di bawah pengaruh antidepresan.

Cedrik menarik napas, mengeluarkan suara lolongan terluka dari tenggorokannya. Dia hancur, remuk, rusak... Mustahil diperbaiki. Hatinya terasa kebas, tidak ada lagi yang berdenyut di sana sementara paru-parunya mengerut oleh rasa panas sakit hatinya. Dadanya terasa hampa, seolah ada lubang raksasa di sana sekarang dan membuat tubuhnya ringan.

Dia merosot, menumpukan tubuhnya sepenuhnya pada Arsa yang ikut merosot bersamanya—berlutut di lantai Pastry dan menyangganya. Merasakan kedua lengan kurus Arsa menahan Cedrik, menariknya naik dari air yang berusaha menenggelamkannya.

Ketika Arsa mengatakan dia merasa seperti tenggelam, Cedrik tidak percaya hingga sekarang. Dia merasa ada pusaran yang sedang berusaha menelannya, kepalanya berputar dan dia tidak merasakan indranya berfungsi; tidak merasakan suhu tubuh Arsa, tidak mencium aroma ruangannya, tidak bisa melihat, tidak merasakan rongga mulutnya sendiri—semua terasa kebas dan membingungkan disertai suara gemuruh keras di balik telinganya.

Dia ingin tenggelam, jatuh jauh ke dalam lautan dan tidak lagi ingin berusaha berenang ke permukaan. Tidak ingin kembali hidup, ingin sakit hati ini meremukkannya hingga hancur. Pusaran air bawah laut menghantamnya, memaksa Cedrik membuka mulut dan meloloskan semua sisa udara di paru-parunya dan menjejalkan air asin ke dalam.

”... akan menemanimu hingga tidur jika begitu. Kau mau bermain Uno?”

Cedrik berhenti. Menoleh kebingungan di dalam gemuruh air yang mendadak tenang. Mencari suara mendengung yang menghentikan gemuruh itu. Matanya mengerjap, mencari-cari sementara kedua kakinya bergerak—menahan dirinya agar tidak tenggelam.

“Kau ingin makan? Aku membelikanmu beberapa makanan, kau bisa memilihnya jika mau? Kau bukan vegetarian, 'kan?”

Cedrik mendongak, menonton ingatannya semalam ketika Nikolas tiba di kamarnya dengan dua kantong belanja raksasa yang penuh. Membuatnya tersenyum kecil karena dia nampak seperti induk semang. Memasuki kamarnya dengan suara langkah menghentak; seperti kelinci yang mengambek. Wajahnya sebal, tapi khawatir dan mendelik pada Cedrik ketika dia tertawa.

“Itu reverse! Kau tidak bisa bermain Uno, ya?”

Matanya menatap wajah Nikolas yang memenuhi permukaan lautan, mengerutkan alis dengan senyuman konyol bermain di bibirnya dan bekas bedak yang diusapkan Cedrik di wajahnya tiap dia kalah bermain. Tindik di hidungnya berkilau, ada sejumput rambut yang luruh dari keningnya; kenapa Cedrik tidak menyekanya?

Nikolas selalu melakukannya tanpa disadarinya, menyelipkan sejumput rambut ke balik telinganya dan Cedrik mendapati gerakan itu sangat feminim dan mendebarkan. Cocok dengan keseluruhan pembawaan Nikolas yang serupa hangat.

Cedrik bergerak, mendorong dirinya berenang ke permukaan. Ingin meraih Nikolas yang tertawa, melemparkan segenggam bedak ke arahnya petang itu ketika menyelesaikan pekerjaannya lebih awal untuk menemani Cedrik yang diyakininya pasti kebosanan di kos sendirian.

Dia terus berenang, naik ke permukaan. Mungkin masih memiliki alasan untuk bertahan? Mungkin dia bisa menyelamatkan seseorang dari keharusan terluka sedalam Cedrik? Mungkin... dia bisa dicintai?

Nikolas di permukaan menoleh, tersenyum padanya dan melambai lalu mengulurkan tangan. “Sedikit lagi, Cedrik!” Serunya, ceria. “Apakah kau tidak dingin di sana??”

Cedrik mengulurkan tangannya, berusaha meraih tangan itu. Hatinya berharap, seseorang akan mengapresiasinya. Mencintainya, menemaninya, dan membuatnya merasa utuh. Membantunya menyembuhkan diri, melupakan kekecewaan yang dua tahun ini bercokol di kepalanya seperti kanker.

Dia kemudian muncul di permukaan dan membuka matanya, menemukan Arsa yang berwajah sembab di hadapannya—ikut menangis bersamanya. Disorientasi; bukankah dia tadi tenggelam?

“Arsa?” Tanyanya parau, tenggorokannya pedih.

Alih-alih pelukan sayang dan seruan lega, Cedrik mendapatkan cibiran. “'Arsa',” tiru sahabatnya jengkel, sengau oleh sisa tangian dengan mulut mencibir sebal.

“Kau baru saja menangis, melolong seperti anjing yang divasektomi tanpa bius lalu membuka mata dan mengatakan, 'Arsa?'” Dia mengulurkan tangan, menoyor kening Cedrik—cukup keras hingga kepalanya bergoyang dan membuatnya pening sejenak.

“Kenapa, sih, kau selalu membuatku khawatir?? Kepalaku ini sensitif! Memangnya kau mau...” Omel Arsa namun Cedrik berhenti mendengarkan, menatap sahabatnya yang peduli padanya.

Arsa dan Kinan sayang padanya. Setidaknya jika langit runtuh, bumi terbelah, dia masih punya keduanya untuk menyangganya. Menariknya ke permukaan. Mungkin... juga Nikolas. Jika dia belum lelah menunggu Cedrik setelah dia menyembuhkan diri, menyelesaikan urusannya dengan Abhimanyu.

Cedrik tersenyum tipis. Pantas saja tenggorokannya pedih. Dia menunduk menatap telapak tangannya sendiri dan menghela napas. “Arsa,” panggilnya sekali lagi.

“Apa lagi!?” Bentak Arsa.

Dia mendongak dan tersenyum. “Aku mengundurkan diri dari Le Paradis.”


ps. ehe :( belom kelar :( SEMANGAT YA ABIS INI GABHIM BAKAL MULAI UWU UWU :D