Gemati 272
Argha lupa memberi tahu Abhimanyu bahwa dia datang ke Gourmet bersama Cedrik.
Cedrik memutuskan untuk ikut bersama driver perusahaan dari Ubud ke Seminyak karena dia malas berkendara sendiri. Cedrik diam selama perjalanan di kursi belakang, memandang jalanan dan tidak bicara pada Argha atau driver. Di pertemuan tadi dia juga tidak terlalu aktif, nampak sedikit melamun dan kehilangan fokus di beberapa kesempatan.
Tapi laporannya mengenai menu baru yang dikerjakannya sempurna; terlepas dari masalah yang sedang melandanya, Cedrik tetap bekerja dengan maksimal. Dia menjelaskan dengan detail kemajuannya, memberikan sample pada semua yang berada di ruangan dan menerima semua umpan balik, baik dari Arsa maupun Argha. Mencatatnya dan berjanji akan memberikan sample baru dalam satu minggu. Setelahnya dia kembali melamun.
Mau tidak mau, Argha sejenak berpikir apakah tindakannya kemarin mengajak Abhimanyu makan berdua membuat mereka bertengkar dan merusak hari Cedrik? Jika iya, maka dia akan sangat bersalah. Dia sebaiknya menjaga jarak dari Abhimanyu, dengan sangat serius.
Dia seorang bajingan dan menjadi penyebab keretakan hubungan orang lain bukanlah sesuatu yang ingin ditambahkannya ke CV-nya.
Dan Abhimanyu tidak sempat mengendalikan ekspresinya sama sekali ketika melihat Argha memasuki dapur. Dia nampak sumringah ketika Argha mendorong pintu, tersenyum lebar dan membuka mulut hendak menyambutnya ketika Cedrik muncul dari balik bahu Argha—mengenakan seragam gelap Paradis-nya yang membuatnya nampak berisi dan ekspresi Abhimanyu terguncang selama satu menit penuh sebelum mengendalikannya. Dan Argha bisa melihat Cedrik bereaksi terhadap ekspresi itu.
Abhimanyu manis sekali ketika tersenyum, nyaris seperti anak kecil yang guru kesayangannya muncul setelah sekian lama ditinggalkan. Hal menyenangkan lain adalah bagaimana dia sekarang nampak senang bertemu Argha, tidak lagi bersikap seperti penderita wasir. Dan itu membuat Argha senang karena berarti kesalahannya beberapa bulan lalu sudah termaafkan, dengan bonus teman baru.
Jika saja tidak ada Cedrik, Argha pasti akan membalas senyumannya. Mungkin menepuk kepalanya juga karena begitu menggemaskan. Tapi dia tidak mau membuat Cedrik tersinggung, setelah bagaimana dia bersikap seharian ini.
“Halo, Abhimanyu.” Sela Argha bergegas, mengangguk dan melewati Sous Chef-nya. Bersikap seprofesional mungkin menghadapi sapaan ceria itu. “Apakah ada yang terjadi selama saya pergi yang harus saya ketahui?” Tanyanya—jika keduanya akan bertengkar, mereka sebaiknya tidak melakukannya di sini.
Abhimanyu menatap Cedrik sejenak lalu menoleh pada Argha. Cedrik berbalik, bergegas menuju Pastry Section. Mereka tidak bertukar sapaan dan itu membuat Argha sedikit cemas.
“Tidak ada, Chef.” Kata Abhimanyu dan sekarang nampak sedikit tegang, kikuk. “Saya sudah melaporkan semuanya melalui Whatsapp kepada Anda. Tidak ada hal lain.”
Argha mengangguk. “Excellent.” Pujinya lalu meraih topinya yang diselipkan di bawah ketiak, menggunakannya di kepala setelah merapikan rambutnya agar tidak mencuat keluar. “Tim sudah makan?”
“Sudah, Chef.” Sahut Abhimanyu lagi, melirik Pastry sejenak lalu berdeham. Jelas sekali nampak tidak nyaman. “Saya juga sudah tadi.” Tambahnya sedikit melamun, tidak fokus.
“Maaf,” Argha memutuskan untuk menambahkan. Abhimanyu mendongak, menatapnya kebingungan. “Saya lupa memberi tahumu Cedrik datang bersama saya.” Katanya dengan suara rendah. Tidak tahu kenapa, dia hanya ingin saja melakukannya. Menghibur Abhimanyu, menenangkannya.
Argha membuka mulut lagi, hendak menambahkan bahwa dia tidak tahu mereka sedang bertengkar namun kemudian menutup mulutnya kembali. Merasa itu bukan urusannya sama sekali. Memangnya jika mereka bertengkar, apa hubungannya dengan Argha? Dia seharusnya tidak ikut campur pada hubungan mereka berdua.
“Oh.” Abhimanyu tergelak kecil, kikuk dan tegang. Membuat sesuatu bergerak tidak nyaman di perut Argha. Bola mata cokelat karamelnya berkilat. “Tidak apa-apa, Chef.” Katanya lalu berdeham kembali. “Jika tidak keberatan, saya akan ke Pastry sebentar?”
Argha mengerjap, sudah menduga ini. “Silakan.” Katanya lalu menoleh ke tablet kecil di depannya untuk mengecek reservasi mereka; tidak ingin melihat ketika Abhimanyu berlari ke Pastry untuk mencari Cedrik.
Argha tidak pernah sepenasaran ini pada hubungan orang lain. Dia biasanya tidak suka mengendus di sekitar orang lain, sering kali cuek. Karena dia selalu berusaha menghindari orang-orang yang mencarinya untuk kabur dari pasangan mereka. Tidak suka terlibat drama percintaan.
Namun Abhimanyu dan Cedrik telah menariknya, seperti magnet. Membuat Argha penasaran, ingin tahu apa sebenarnya masalah mereka hingga ekspresi Abhimanyu ketika melihatnya adalah ketakutan.
Pembawaan Cedrik sangat lembut dan tenang, Argha ragu jika dalam hubungan mereka Cedrik melakukan kekerasan atau manipulasi emosi sehingga Abhimanyu submisif padanya. Dia tidak memiliki tampang sebagai bajingan sama sekali. Dan caranya berbicara pada orang-orang yang disayanginya sangat hangat, pengertian. Jenis teman yang akan disukai siapa saja, menarik perhatian siapa saja dengan keramahannya. Cedrik punya banyak teman, itu membutikan betapa dia adalah lelaki yang menyenangkan.
Tidak seperti Argha.
Dia menghela napas berat, merasa sedikit jengkel. Dan tidak paham apa penyebab rasa jengkel yang bercokol di dadanya ini. Argha menyentuh beberapa pilihan di tablet di hadapannya dan mengecek reservasi. Sebentar lagi mereka akan memulai servis, jadi Argha berbalik dan mengecek prep yang dilakukan tim tanpanya.
Tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menoleh ke Pastry dan melihat Cedrik berdiri di sudut, dekat ruangan Cokelat. Abhimanyu di depannya, wajahnya berkerut—nampak sedang menjelaskan sesuatu dan Cedrik tidak terlalu menyukainya. Dia kelihatan kelelahan sekali, Argha nyaris menghampiri mereka dan meminta Abhimanyu membicarakan apa pun itu yang sedang dikatakannya, lain kali saja.
Tapi sekali lagi. Itu bukan urusan Argha. Maka dia beranjak menjauh, memaksa dirinya agar menatap ke depan dan tidak menoleh lagi. Jika mereka menaikkan suara, mungkin itulah saat Argha ikut campur karena bagaimana pun ini dapur Argha. Tidak peduli setinggi apa jabatan Cedrik di perusahaan ini, wilayah Argha adalah milik Argha.
“Chef,”
Argha mengerjap dan menoleh, menemukan Diadari berdiri di sisinya dengan ekspresi yang tidak bisa dijelaskan. Dia berdeham, mengulaskan senyuman. Hubungannya dengan Diadari berakhir begitu saja, seperti biasanya. Dia berhenti menghubungi Diadari dan memperlakukannya dengan sopan; menjaga jarak. Gadis pintar, pasti menangkap maksud dari tindakannya.
“Untuk reservasi grup malam ini, semuanya sudah siap. Protein sudah disiapkan Butcher.” Diadari menatapnya, mempertahankan ekspresi tenangnya yang dihargai Argha.
“Trims, Diadari. Saya akan cek sekarang.” Dia hendak beranjak mengecek pekerjaan anak buahnya ketika dia kembali berhenti dan menoleh sekali lagi ke Pastry. “Tolong jika terjadi sesuatu di Pastry, panggil saya.”
Diadari mengerjap lalu menoleh ke Pastry dengan heran. “Oh, Chef Cedrik di sini.” Katanya ketika melihat Cedrik, seragamnya gelap jadi semua orang langsung tahu itu adalah orang Le Paradis dan hanya ada dua juru masak yang bebas berkeliaran di Le Gourmet: Arsa atau Cedrik. Jadi tidak sulit menebaknya.
Lalu Diadari kembali menatap Argha. “Tidak akan terjadi apa-apa, Chef.” Tambahnya sedikit kebingungan. Nampak tidak memahami kekhawatiran Argha mengenai keributan di Pastry sementara ada Cedrik di sana.
Argha menghela napas, mengangguk. Mungkin semua orang tahu Cedrik sebagai lelaki lembut yang tenang—Argha setuju. Dia tidak menyebutkan masalah akan datang dari Cedrik. Abhimanyu-lah yang dikhawatirkannya. Dia mendorong pintu ke arah Butcher yang dingin, meninggalkan Diadari tanpa bicara lagi.
“Halo.” Sapanya pada tim Butcher yang terdiri atas dua orang.
Ruangan itu beraroma amis darah tipis dan dengung AC sentral yang membuatnya lebih dingin dari ruangan lainnya di dapur agar protein mereka tidak rusak. Para commis yang berada di dalamnya menggunakan masker dan apron dari silikon untuk menghalau percikan darah ketika bekerja. Ada walk in chiller di sudut ruangan, di mana semua daging disimpan.
Di meja sekarang ada protein-protein yang akan digunakan hari ini. Sudah dibumbui tipis sehingga commis yang bertugas di section Protein bisa langsung memprosesnya. Argha membersit kecil, tidak terlalu menyukai Butcher dan selalu kagum bagaimana orang Butcher betah dengan aroma ini setiap harinya.
“These are fresh, right?” Tanyanya menghampiri protein mentah di atas meja dan menyentuhnya dengan tangan—merasakan tekstur dan suhunya.
“Yes, Chef. Delivered this dawn from our usual.” Sahut CDP-nya mengangguk seraya melepaskan sarung tangan lateksnya yang sudah penuh noda.
Argha mengangguk, tidak betah berlama-lama di Butcher dan bergegas keluar dari sana. Melirik sekali lagi ke Pastry dan menghela napas, mungkin dia hanya membayangkan hal yang tidak-tidak. Cedrik dan Abhimanyu akan baik-baik saja. Mereka berdua orang dewasa—walaupun Abhimanyu tidak, tapi Cedrik tahu caranya mengontrol emosi Abhimanyu dan menenangkannya.
Jadi Argha sama sekali tidak dibutuhkan. Dia menghela napas, pergi ke ruangannya untuk mengecek laporan yang harus diserahkannya ke Kinan sebelum servis dimulai. Berusaha mendorong interaksi Cedrik ke belakang kepalanya. Dia tidak perlu memikirkan mereka sama sekali.
Argha menyalakan iMac-nya dan menunggu program berjalan sempurna sebelum membuka sistem Le Gourmet yang terkoneksi pada komputer Kinan dan Arsa; menemukan sudah ada notulen rapat dari pertemuan mereka tadi dikirimkan oleh asisten Kinan. Argha membukanya, mencari pengingat hal-hal yang harus dikerjakannya.
Cedrik dan Abhimanyu akan baik-baik saja.
“Aku sungguh—”
Abhimanyu berjengit sedikit mendengar nada suara Cedrik yang sedikit meninggi dan menatapnya dengan alis berkerut—wajahnya mengerut. Cedrik nampak sakit; kelelahan dan kebingungan. Pandangan matanya sedikit liar dan kantung matanya gelap sekali. Kulit Cedrik seputih susu, sedikit warna lain akan sangat menyala di sana.
Cedrik menghela napas, berhenti bicara dan memijat pelipisnya. “Abhim, aku sungguh tidak mau membicarakan ini sekarang, oke?” Bisiknya berusaha menahan suaranya agar tidak meninggi.
Abhimanyu ikut menarik napas. Tidak yakin apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka sekarang. Hubungan mereka nampak baik-baik saja, namun tidak terasa baik-baik saja. Abhimanyu merasakan jarak di antara mereka, meskipun Cedrik masih suka memanggilnya dengan nama kecil, jarak itu ada. Seolah Cedrik sedang menarik dirinya dari Abhimanyu.
Dan itu membuatnya takut.
Tidak peduli seberapa besarnya dia menginginkan orang lain, dia tetap membutuhkan Cedrik. Tidak mau membayangkan bagaimana hidupnya jika Cedrik juga hengkang dari sana. Siapa yang akan menjaganya tetap utuh? Siapa yang akan memastikannya tidak tenggelam dan mati tercekik emosinya sendiri?
Dia mengulurkan tangan, meraih ujung lengan panjang seragam Cedrik dengan dua jarinya. “Cedrik,” bisiknya—merasakan ketakutan menjalar di tubuhnya, membuatnya bergidik.
“Tidak.” Sela Cedrik lembut, mengulurkan tangan dan menggenggam tangan Abhimanyu—sedikit menariknya tersembunyi dari pandangan anak Pastry dan Main Kitchen. Dia meremasnya hangat, menenangkan Abhimanyu. “Kita akan membicarakan ini nanti, oke? Kita sedang bekerja.” Dia mengusap tangan Abhimanyu dengan kedua tangannya.
“Tenang saja aku tidak akan meninggalkanmu.” Tambahnya dan Abhimanyu menghela napas, mau tidak mau diam karena Cedrik nampak sama sekali tidak ingin diganggu.
Abhimanyu kemudian keluar dari Pastry dengan perasaan hampa yang aneh. Cedrik meyakinkannya bahwa mereka baik-baik saja, tidak ada yang terjadi. Namun perasaan Abhimanyu tetap tidak nyaman. Ada yang terjadi di antara mereka dan dia menyadari bahwa dia juga belakangan ini menyembunyikan sesuatu dari Cedrik.
Dia mengusap wajahnya. Cedrik tahu jika dia berbohong...? Tahu tentang percikan api yang dimulainya dengan Argha? Dan dia marah atas itu? Tersinggung, terluka, terkhianati...?
Abhimanyu meremas tangannya sendiri, gelisah ketika melangkah ke Main Kitchen untuk mempersiapkan servis. Argha tidak ada di dapur ketika dia keluar dan dia menoleh ke ruangannya, menemukan chef senior itu sedang menatap layar komputernya dengan serius. Maka Abhimanyu beranjak. Tidak ada yang bisa dicek lagi sekarang semua sudah siap untuk prep, dia pergi ke EDR untuk membuat teh hangat.
Dia kembali ke dapur beberapa menit sebelum servis dan beberapa tamu sudah mulai datang—menduduki meja mereka dan memesan wine seraya menunggu servis dimulai. Abhimanyu mendorong pintu dapur, menemukan Argha sudah siap di depan dapur untuk memimpin timnya menyelesaikan servis hari ini.
“Chef.” Abhimanyu mengangguk padanya, tidak menemukan semangat untuk menyelesaikan servis ini namun dia bekerja di bidang hospitality. Emosi dan masalah pribadinya tidak memiliki ruang ketika dia bekerja karena tamu tidak akan peduli bagaimana keadaan atau problematika hidupnya. Mereka hanya peduli tentang layanan Abhimanyu untuk mereka.
Argha mendongak, membuka mulut hendak mengatakan sesuatu yang serius dengan program Gourmet menyala di tablet mereka ketika wajahnya berubah sedikit. “Are you alright?” Tanyanya.
Abhimanyu menghela napas. Suara Argha begitu menenangkan; berat, lembut, hangat, dan membuatnya mendadak ingin bersandar padanya. Menumpukan keningnya di bahu Argha dan ditenangkan. Namun jika teringat urusannya yang belum selesai dengan Cedrik, Abhimanyu menahan dirinya.
Jika dia tidak mau menyakiti Cedrik, maka dia sebaiknya menjaga jarak dari Argha.
“Ya, Chef. Tidak perlu khawatir.” Sahutnya, berusaha terdengar tegar dan baik-baik saja walaupun di telinganya sendiri pun suaranya gemetar.
Argha bukan orang bodoh, dia menangkap itu. Matanya mengamati wajah Abhimanyu, mencari-cari emosi di dalamnya. Mereka berpandangan, dua menit yang terasa selamanya ketika mata gelap Argha mengunci pandangannya. Ada emosi yang bergerak di sana; redup sekali seperti api yang nyaris mati, namun kilaunya masih sempat tertangkap Abhimanyu.
Dia khawatir.
Namun dia tidak mendesak Abhimanyu. Argha mengangguk dan kembali menatap tablet-nya; sesuatu yang disyukuri Abhimanyu karena jika seseorang bertanya atau mendesaknya sekarang dia mungkin akan menangis karena perasaan berat yang menggelayuti dadanya sekarang.
“About this....” Dia membalik tablet di meja dan memperlihatkan maksudnya pada Abhimanyu yang menghela napas senang; mengalihkan pikirannya dari masalah dengan Cedrik.
Pemuda itu masih di Le Gourmet, dia akan mengawasi servis malam ini sekaligus mengawasi pembuatan base untuk semua Pastry mereka. Menurut Argha, Kinan mengungkapkan akan membuka Gourmet untuk Bakery atau Breakfast pada pukul delapan hingga sepuluh pagi untuk menambah fungsi Pastry pada pertemuan tadi. Arsa setuju pada ide itu dan meminta Cedrik untuk mempersiapkan Pastry Team Le Gourmet. Menu sudah diberikan tadi dan Argha menenangkan mereka bahwa semuanya murni urusan Pastry dan Bar sehingga Main Kitchen bisa fokus pada prep dinner seperti biasa.
Apakah itu yang membuat Cedrik tertekan? Pikir Abhimanyu seraya mendengarkan Argha yang sedang melakukan briefing sebelum servis—membagi tim dan memastikan mereka semua mengenakan pakaian dengan benar.
Cedrik berdiri di sisi Argha yang lain, mendengarkan dengan sedikit melamun ketika Argha membagikan hasil pertemuan tadi yang berhubungan dengan Le Gourmet. Abhimanyu meliriknya, tidak yakin apakah dia harus mengajaknya bicara atau memberikannya ruang dan waktu.
“Tidak, Chef. Terima kasih.” Kata Cedrik ketika Argha menawarkan waktu baginya mengatakan sesuatu untuk tim. “Saya di sini hanya untuk tim Pastry.” Dia mengulaskan senyumannya yang biasa, mengangguk pada Argha sebelum kembali menatap ke depan dengan kedua tangan di belakang punggungnya.
Dia nampak rapi. Tinggi dan seputih vampir, topinya berdiri tegak dan kencang. Tidak ada sedikit pun rambut yang lolos dari penutup kepalanya, wajahnya bersih dan licin dari rambut halus. Seragam Le Paradis berlengan panjangnya menyembunyikan semua tatonya dengan sempurna, beraroma lembut cokelat hitam.
“Saya akan melampirkan CC pada Anda di surel saya ke Arsa besok pagi mengenai kesiapan Pastry untuk sesi Breakfast.” Tambahnya dan Argha mengangguk.
Setelahnya, mereka kembali ke section masing-masing dan Argha menoleh ke Hadrian yang menunggu di pintu. Argha mengangguk pada Hadrian yang tersenyum, menarik ujung lengan panjang jas hitamnya.
“Hadrian,” katanya lembut, namun tegas. “Ouvrez Le Gourmet, s'il vous plaît.” Please open Le Gourmet. Dia menyemprotkan antiseptik ke tangannya dan menegakkan kepalanya.
“Compris, Chef.” Understood, Chef. Hadrian mengangguk dan meluncur keluar dari dapur untuk memulai servis.
Abhimanyu menarik napas. Ada sesuatu dari cara Argha untuk memulai servis yang berbeda dengan Arsa. Juru masak bintang Michelin itu tidak pernah mengatakan hal semacam Argha pada Raditya untuk memulai servis. Dia hanya mengangguk, menggulung sedikit lengan panjang seragamnya, seperti seorang matador yang siap menghadapi banteng yang dilepaskan ke arahnya. Dan Raditya sudah paham apa yang diinginkannya.
Argha memulai servis dengan sangat tenang. Nyaris cantik dengan bahasa Prancis-nya yang mendayu-dayu. Seperti seseorang yang akan menerima berkat dari surga lalu menyemprot antiseptik ke tangannya dan menegakkan kepala; siap untuk bekerja.
Tidak butuh waktu lama hingga tablet berdenting dan pesanan pertama masuk ke dapur. Argha menyentuh layar dan membiarkan pesan itu terbuka untuk membaca pesanannya.
“Première entrée!” First entre! Serunya pada timnya yang seketika menegakkan kepalanya, Abhimanyu berdiri di sisinya menghadap ke tim mereka; siap berkeliling untuk mengecek dan membantu semua commis mereka.
Argha menarik napas. “Du tableau cinq! Entrée, deux Le Foie Gras Poelé! Un Le Porc et un L'Agneau! How long?!” Tambahnya, menoleh ke timnya. For table 5. Appetizer, two Le Foie Gras Poelé! One Le Porc and one L'Agneau!
“10 minutes for appetizer, Chef!” Balas commis yang bertugas di section Protein bergegas meraih pan untuk mengerjakan makanan mereka. Serentak terdengar suara semua orang mulai bekerja; dentang wajan, suara api yang mendengung keras, dan suasana dapur yang mulai memanas.
“OK, appetizer in ten minutes! Heard?!” Seru Argha lagi dan semua serentak menjawab, yes, Chef! dengan tegas.
Setelahnya, Abhimanyu tidak lagi memikirkan tentang Cedrik karena dia sibuk membantu commis dan mengecek self-hygiene mereka ketika bekerja. Menjauhkan tangan dari wajan, mengecek konsistensi saus, kematangan protein sebelum diserahkan ke Argha, bahkan mengecek apakah ada rambut yang mungkin menyelip di sana. Mereka sudah belajar dengan keras dari kejadian beberapa minggu lalu. Abhimanyu tidak lagi mau meletakkan Argha di posisi itu.
Mendengarkan cerita tentang kehidupannya yang berpindah-pindah, membuat Abhimanyu sedikit simpati padanya. Bagaimana rasanya ditinggal orang tua di masa remaja dan kemudian mendapati dia sendirian di dunia ini karena keluarga orang tuanya tidak mau menerimanya? Harus langsung meniti karier karena jika tidak, Argha akan berakhir di jalanan—kelaparan. Walaupun dia memiliki orang tua yang cukup berada hingga bisa dibiayai kuliah di Le Cordon Bleu Paris, hidupnya jungkir balik sebelum dia siap untuk mandiri.
Kisah itu membuatnya sedikit banyak merasakan ikatan dengan atasannya. Merasa dia ingin membantu Argha, menjadi tim yang solid untuknya. Dan Abhimanyu merasa itu hal yang benar untuk dilakukan.
Abhimanyu kembali ke sisinya ketika servis sudah berjalan setengah, mengerjakan pesanan gastronomi.
“Abhimanyu!” Seru Argha ketika menerima pesanan itu. “This one is for you, Mr. Wizard!” Dan mengedipkan sebelah matanya, mengundang senyuman kecil Abhimanyu.
Kekaguman tulus Argha pada kemampuannya dalam molekular gastronomi terkadang membuat Abhimanyu malu. Dia benar-benar memuji Abhimanyu terang-terangan, menatapnya kagum ketika bekerja dan bertanya-tanya dengan tertarik tentang semua barang di 'laboratorium'-nya—jika menurut Argha.
Padahal Arsa bisa mengerjakan hal-hal yang jauh lebih spektakuler seperti makanan penutup andalan Le Paradis, The Kinan yang secara teknik amatlah rumit. Bahkan untuk lulusan molekular gastronomi seperti Abhimanyu. Hanya Arsa dan Cedrik (tertatih-tatih) yang bisa mengerjakannya.
Tapi Argha berdecak, “You are you, Arsa is a whole different thing. Don't think so low about your talent.” Dia menepuk bahu Abhimanyu hangat. “You can be him in three years if you keep on doing what you do now.”
Dan pujian itu membuat Abhimanyu senang.
Dia mengelap tangannya sebelum meraih timbangan digitalnya, mulai menakar serbuk-serbuk kesukaannya. Hatinya membuncah, sejenak melupakan masalahnya dengan Cedrik ketika dia mulai membuat caviar dari jus wortel. Dia menambahkan bubuk agar-agar ke dalam jus wortelnya untuk menambah kepadatan massa cairan itu. Mengaduknya perlahan seraya memanaskannya sedikit sehingga bubuk agar larut di dalamnya. Lalu dengan spuit dia meneteskan cairan itu ke dalam olive oil, membentuk bulatan-bulatan kecil serupa caviar. Mengaduk minyaknya perlahan, mendorong cairan itu menggumpal dan memadat sebelum menyaringnya.
Abhimanyu mengelap piring, menyajikan makanannya di atas sana dan menambahkan buih serta caviar buatannya. Abhimanyu mengelap sisi piring, memastikan tidak ada noda yang tidak sesuai keinginannya. Lalu mengambil penutup makanan dari kaca, dia kemudian menyelipkan slang nitrogen cair dan menyemprotkan sedikit ke dalamnya membentuk kubah asap keperakan. Dia mengakat piring dengan perlahan, mendorongnya ke meja dan menekan bel.
“Service, please!” Serunya dan tersenyum pada anak servis yang bergegas meraih piring itu untuk menyajikannya. “Jangan lupa diangkat tutupnya!” Tambahnya persis sebelum anak itu mendorong pintu lorong pendek yang memisahkan keributan dapur dan area makan terbuka.
“Yes, Chef!” Balasnya, mendorong pintu terbuka dan menyelipkan dirinya keluar.
Abhimanyu beranjak ke sisi Argha, meraih piring dan mulai membantunya menata makanan. Pesanan terus dibacakan dan makanan terus mengalir dengan flow yang sangat stabil; paling stabil selama Abhimanyu bekerja di dapur Le Gourmet dan dia menyukainya. Dapur mulai terasa seperti Le Paradis, namun sedikit lebih santai.
Dia sedang menunduk dengan pinset, menyeimbangkan sepotong edible flower di atas hati angsa yang beraroma harum menggugah selera ketika Argha mendekatkan kepalanya sedikit ke Abhimanyu.
“Does it hurt?”
Abhimanyu mengerjap, mendongak menatap atasannya yang sedang mengerjakan makanan di tangannya. Sama sekali tidak menoleh, namun dari senyuman yang bermain di bibirnya, Abhimanyu tahu dia tadi bertanya.
“Excuse me, Chef?” Tanyanya, sedikit kebingungan. Sakit? Memangnya kenapa dia sakit?
Argha mengangguk. Wajahnya kembali serius dan Abhimanyu mengerjap. “Does it hurt falling from the vending machine?”
Hah? “Hah?” Tanya Abhimanyu, sama sekali tidak paham apa yang sedang Argha coba katakan. Pinsetnya berhenti, masih setengah menjepit kelopak bunga pansy kuning rapuh di atas piringnya.
Argha meliriknya, wajahnya serius dan Abhimanyu mengencangkan perutnya. Ada apa ini? Tapi alih-alih menjawab, Argha mengangkat piring yang dikerjakannya dan meletakkannya di atas meja tinggi di hadapan mereka lalu menekan bel.
“Service, s'il vous plaît!” Serunya lalu menokeh kembali ke Abhimanyu, mengulaskan senyum bajingannya yang sayangnya, sangat menarik. “Because you look like a whole snack.”
Abhimanyu diam sejenak, memproses kata-kata itu sebelum senyuman kecil terbit di bibirnya dan dia mendengus. “Alright.” Katanya, sedikit berdebar karena tidak yakin atasannya sedang melemparkan pick up lines padanya.
“That was a bad one, I know. I'm sorry.” Argha mengedikkan bahu dan Abhimanyu tergelak lembut, mengangkat piringnya lalu meminta anak servis menyajikannya.
Abhimanyu tertawa, meraih piring lain dan mulai menata makanan di atasnya—merasa sedikit kikuk. Tidak yakin bagaimana harus menanggapi Argha yang sedang... berusaha mengajaknya bercanda? Atau... entahlah?
“OK. This one would be good.” Argha meraih piring lain dan menerima foie gras yang baru matang. “Garnish for foie gras!” Serunya pada tim sebelum kembali ke Abhimanyu.
“You look great,” katanya dan Abhimanyu mendenguskan tawa kecil. “I haven't said anything yet!” Protes Argha dan Abhimanyu tergelak kecil; bingung antara terkena serangan adrenalin karena servis atau karena tidak menyangka Argha akan bersikap menggoda padanya—seperti yang dilakukannya pada semua orang.
“You look great on that clothes,” Argha menerima piring terisi garnish, mengucapkan terima kasih pada tim Commisary lalu kembali ke Abhimanyu. “But you know what else you would look great on?”
Abhimanyu tersenyum, tidak menoleh karena sedang menyusun makanan di piringnya. Namun meladeni Argha. “What?” Tanyanya.
“Me.” Balas juru masak senior itu dan Abhimanyu menyemburkan tawa keras yang tertahan, suaranya menggema keras di dapur—tidak sempat ditahannya. Sejenak membuat semua orang berhenti bekerja dan menoleh.
“Maaf!” Seru Abhimanyu, gemetar menahan tawa dan tidak menoleh pada timnya. “Kembali bekerja!”
Argha mengulum senyuman sambil menunduk mengerjakan pesanannya. Ini terasa menyenangkan; bercanda ketika servis namun tetap fokus, memiliki ikatan yang baik dengan atasannya sehingga mereka bisa memperkuat kerja sama mereka. Kenapa Abhimanyu tidak melakukannya sejak dulu?
“Yeah, yeah!” Abhimanyu tergelak tanpa suara, mengangguk seraya mengangkat piringnya dan meletakkannya di meja. Menekan bel, memanggil anak servis sebelum menjawab Argha. “That was good.”
Apa pun alasan Argha melakukannya, Abhimanyu senang. Dia baru saja membuat suasana hati Abhimanyu membaik dan melupakan rasa berat di hatinya karena pertengkarannya dengan Cedrik.
“I know it.” Argha tersenyum superior, menyelesaikan pesanannya dan mengangkatnnya ke meja. “Service, please!” Serunya setelah memukul bel di meja dan anak servis bergegas menyambar piringnya, nyaris terpeleset. “Careful, Pretty.” Tambah Argha dan anak servis itu meringis seraya berterima kasih.
Abhimanyu berdeham. “Are you a piece of bread, Chef?” Tanyanya ketika menerima protein untuk pesanan selanjutnya. Dia mengecek layar tablet sejenak untuk memastikan pesanan sesuai lalu kembali ke Argha yang mendengus sebagai jawaban.
Maka Abhimanyu melanjutkan, “Because I want to put some meat between those buns.” Tandasnya dan Argha mengeluarkan suara tercekik keras ketika tidak sengaja menjatuhkan piring stainless yang terisi beef tartare untuk pesanan mereka.
Abhimanyu menyemburkan tawa rendah; bahunya terguncang dan dia harus mencengkeram pinggiran meja agar tidak terjatuh, terhibur karena Argha yang panik menerima balasan pick up lines-nya. Argha mendelik padanya dan Abhimanyu mengatupkan bibirnya, menggertakkan gigi agar tidak terbahak-bahak melihat ekspresi sepat Argha karena makanan sekarang berhamburan di kakinya. Namun Abhimanyu melihat kilau tawa di matanya.
“Please new batch of beef tartare, I dropped that shit!” Serunya pada bagian protein dan commis bergegas membuatkan yang baru. “That was great, you fucker!” Desisnya pada Abhimanyu yang terkekeh di atas makanannya.
“I didn't said I was a nice man.” Tambahnya, menoleh dan mengedip pada Argha yang mengerang, namun tak ayal tersenyum lebar.
“I didn't say you are, tho.” Balasnya dan Abhimanyu tersenyum lebar.
ps. ehe :p