eclairedelange

i write.

ps. whipped abhimanyu at your service x pss. gak diedit ya allah aku capek wkwkw abaikan typo ya x


Starbucks Santrian tidak terlalu ramai, itulah mengapa Abhimanyu tidak terlalu menyukainya.

Dia ingin ke tempat yang ramai sehingga dia tidak bisa memikirkan apa pun. Tapi Hadrian mungkin berpikir membawanya ke tempat sepi bisa menenangkannya. Abhimanyu suka tempat itu sebenarnya, rindang dengan pohon raksasa dan store yang didominasi kayu dan jendela. Hanya saja mungkin tidak hari ini ketika dia membutuhkan distraksi dari Cedrik dan kencan rahasianya. Mereka duduk di salah satu sofa depan, bersandar dalam di sana dan menatap jalanan di depannya.

Hadrian memesankan minuman untuk Abhimanyu. Caramel macchiato untuk Abhimanyu, americano untuk dirinya sendiri, juga green tea latte untuk Khrisna yang ternyata menyusul mereka. Abhimanyu tidak tahu bagaimana perasaannya tentang Khrisna yang datang bergabung dengan mereka—tapi dia tidak memiliki energi untuk memikirkan apa yang dirasakannya. Maka dia diam saja.

Hubungannya dengan kakaknya belum terlalu baik. Masih di level kikuk dan tidak nyaman, Abhimanyu juga tidak tahu apa yang harus diceritakannya ke kakaknya. Karena selama ini Cedrik yang mengisi posisi itu untuk Khrisna. Ketika mereka keluar bersama, mereka lebih sering menghabiskan waktu dengan sibuk menunduk ke ponsel selain membicarakan kondisi rumah.

Tapi mungkin dengan keberadaan Hadrian, kekikukan itu bisa dihindari.

“Ini dia,” Hadrian kembali dari konter, membawa minuman mereka bertiga dengan nampan juga quiche dan cheese cake. Aroma telur dari quiche yang baru dipanaskan membuat Abhimanyu mendadak lapar, ingat bahwa dia belum sarapan.

Hatinya nyeri lagi karena ingat dia seharusnya pergi ke Ubud menjemput Cedrik, mereka akan sarapan bersama lalu pergi bersama. Makan siang dan kembali ke kos untuk bermalas-malasan seperti biasanya. Menonton Cedrik merokok atau menulis resep-resep baru. Kadang pergi ke rumah Arsa, membantunya mengurus anjing-anjingnya. Pergi dengan Raditya. Semuanya terasa seperti kebiasaan sekarnag. Aneh sekali ketika dia tidak melakukan hal yang biasa dilakukannya—seperti ada sesuatu yang hilang. Membuatnya merasa kosong.

“Trims, Pak.” Abhimanyu tersenyum, menerima minumannya dan menyesapnya perlahan.

Hadrian mengangguk, mendesah panjang seraya duduk di sisi Abhimanyu. Menyandarkan dirinya di kursi, menyilangkan kakinya. Udara Denpasar panas sekali hari ini padahal belum terlalu siang sehingga ketika memasuki Starbucks yang sejuk mereka seketika mendesah senang.

Hadrian sudah meminta Abhimanyu untuk memanggilnya 'Kak' saja agar tidak terlalu kaku di luar jam bekerja, tapi Abhimanyu tidak mau melakukannya. Takut tidak sengaja bersikap tidak sopan ketika bekerja. Lagi pula pembawaan Hadrian yang dewasa dan tenang cocok untuk dipanggil 'Pak'.

“Bagaimana hubunganmu dengan Kris?” Tanya Hadrian ketika Abhimanyu meraih garpu, mulai menyendok quiche lembut di atas meja.

Garpu terbenam dengan mudah ke dalamnya, Abhimanyu menerawang sambil menyendoknya dan menyuapnya. Dia membiarkan rasa telur dan rempah meledak di dalam mulutnya, menyesap makanan yang lumer itu sebelum mengunyahnya sedikit dan menelannya.

“Yah, begitulah.” Sahut Abhimanyu, membiarkan ujung garpu di dalam mulutnya sejenak—mendecap sisa rasa telur di permukaannya lalu memutuskan dia akan menghabiskan quiche di hadapannya. “Mungkin terlalu lama berjauhan, jadi masih kikuk.” Dia meraih piring, bersandar di kursinya dan mulai menyuap makanan.

Ponselnya di meja, diletakkan dengan layar terbalik—berharap Abhimanyu akan berhenti mengeceknya. Namun toh akhirnya dia meraihnya, membalik benda itu dan menekan tombol kuncinya agar layar menyala, menunggu notifikasi dari Cedrik. Namun nihil.

Abhimanyu mendesah. Kencan Cedrik hari ini pastilah sangat menyenangkan hingga dia lupa mengecek ponselnya, hingga dia melupakan Abhimanyu. Cedrik bahkan biasanya mengabarinya ketika Executive Meeting, kebosanan mendengarkan Arsa. Dia tidak tahu apakah dia harus senang jika Cedrik menikmati harinya atau sedih karena dia tidak menikmati harinya tanpa Cedrik di sisinya.

“Tentu saja.” Hadrian menoleh, menatapnya sayang dengan senyuman bermain di bibirnya. “Kalian tidak bertemu selama dua tahun dan itu lama, tentu saja kalian akan merasa kikuk. Tapi aku yakin kalian akan kembali baik-baik saja.” Dia mengulurkan tangan, mengusap rambut Abhimanyu sayang.

“Bagaimana dengan Chef Argha? Hubungan kalian membaik?”

Abhimanyu tersedak tertahan; berhasil menyamarkannya dengan suara deham keras, nyaris menyemburkannya dari mulut ketika mendengarnya. Dia tidak memikirkan Argha sejak tadi karena kepalanya terisi dengan pikiran mengenai kencan Cedrik hari ini. Dan sekarang ketika Hadrian membahasnya, kilasan ingatan tentang ciuman mereka membanjiri kepalanya. Wajah Argha yang merah padam, terengah dengan bibir terkuak—sedikit bengkak karena ciuman mendadak menyala di kepalanya hingga dia merasa wajahnya panas.

Bibirnya berdenyar aneh. Seolah bibir Argha masih menempel di sana, merasakan bagaimana dia melumat bibir Abhimanyu perlahan—sangat terampil dan terlatih. Abhimanyu menolak memikirkan berapa banyak orang yang dicium Argha seperti itu sebelum Abhimanyu. Tubuhnya mengingat Argha jauh lebih hebat dari apa yang kepalanya bisa lakukan; semua tempat di mana Argha menyentuhnya terasa hangat dan berdenyar sekarang. Khususnya di bagian piercing-nya.

“Untuk pekerjaan,” katanya setelah memulihkan diri dan Hadrian mengamatinya—alisnya berkerut. “Kami baik-baik saja.” Abhimanyu menjejalkan makanan lain ke mulutnya, takut tidak sengaja mengatakan hal-hal aneh.

Apakah semua orang yang disentuh Argha merasakan ini? Jika ya, Argha memang benar-benar utusan Neraka. Menyebarkan dosa pada semua orang, mendorong mereka ke api jahanam karena Abhimanyu ingin kembali merasakannya. Dia begitu lezat, menggugah selera; mencicipinya tidak membuat Abhimanyu kenyang. Malah semakin lapar dan tak tertahankan.

Abhimanyu berdeham, tidak nyaman sekarang karena membayangkan desahan Argha di telinganya. Suara rengekan kecilnya ketika Abhimanyu mendesaknya ke dinding, menggencetnya di sana dan mengusapkan lututnya ke selangkangannya. Dia menjilat bibirnya, tidak lagi bernafsu untuk makan. Tidak jika makanannya bukan Argha.

“Syukurlah jika begitu.” Sahut Hadrian meraih gelas minumannya dan menyesap isinya. Abhimanyu mengerjap, seolah baru saja ditampar karena memikirkan Argha dan desahannya pada pukul sebelas pagi. “Kacau sekali jika kau dan Argha tidak memiliki hubungan baik. Kalian, 'kan, tim.” Dia tersenyum pada Abhimanyu yang mengangguk.

Hubungan mereka memang membaik. Lebih tepatnya Abhimanyu yang tidak bisa mengenyahkan ingatan tentang ciuman mereka tiap kali bekerja sementara bajingan bangsa itu dengan mudah mengabaikannya seolah itu hal tidak penting. Dia bekerja lebih ketat sekarang, sedikit lebih tegang dari sebelum-sebelumnya karena dia sudah mendapat dua surat teguran dan berada dalam masa percobaan lebih ketat.

Kinan lebih sering mondar-mandir di restoran sekarang, berhenti di sisi meja tamu dan bertanya tentang makanan mereka—memastikan semua orang senang. Arsa berkunjung ke Le Gourmet kemarin Jumat, mengawasi prep mereka seperti hering lapar—berdiri di ujung dapur, melihat kedua tangannya dan diam.

Secara garis besar, Argha sedang diuji coba. Apakah dia memang layak menyandang posisinya. Jadi Abhimanyu berusaha mempermudah pekerjaannya dengan melakukan tanggung jawabnya dengan lebih baik. Dia mengawasi semua commis bekerja dengan lebih serius sekarang. Waspada tiap kali menyajikan makanan, mengecek jika ada kontaminasi sebelum benar-benar menatanya di piring.

Hal yang Abhimanyu kagumi dari Arsa adalah walaupun Argha mungkin memiliki rekomendasi yang bagus; dia tidak begitu saja melepaskannya. Dia tetap mengawasi Argha, memperlakukannya dengan adil seperti semua orang. Argha yang senior baik dari jam terbang dan usia pun, terkadang terlihat 'kalah' ketika Arsa membuka mulutnya. Padahal jika Argha mau, dia mungkin bisa membanting Arsa ke tanah karena Arsa relatif kurus dibanding Argha.

Namun aura lelaki itu begitu besar, mengisi seluruh ruangan—hal yang bahkan Argha tidak bisa lakukan. Jika Arsa berada di dapur, Argha terlihat kecil dan remeh. Apalagi jika dia sedang marah. Dan Argha juga selalu memperlakukan Arsa dengan hormat walaupun dia lebih muda darinya. Di beberapa kesempatan, nampak kagum padanya.

Sejauh ini, belum ada keluhan lagi. Semua berjalan mulus dan lancar. Abhimanyu masih penasaran rambut siapa yang ada di makanan namun karena mereka sudah memberi peringatan pada semuanya; kasus ditutup. Argha yakin itu rambut commis mereka yang memasak makanan, entah bagaimana lolos dari penutup kepalanya. Dia sekarang menyempatkan beberapa menit sebelum memulai servis untuk mengecek penutup kepala semua orang.

We're not yet Michelin star restaurant and you are already whinning like a baby.” Katanya ketika melihat ekspresi beberapa orang yang tidak nyaman dengan pengaturan baru itu. “Walk away if you're not ready. The door is open.” Tambahnya, sama sekali tidak menaikkan suaranya—namun akhirnya semua orang diam, menurutinya.

“Pekerjaan baik.” Putus Abhimanyu, menyesap minumannya dan menerawang.

Khrisna kemudian datang, bergabung dengan mereka. Mengenakan celana jins longgar dan turtleneck gelap yang membalut tubuhnya sempurna—sedikit ketat, jika menurut Abhimanyu. Mencetak tubuhnya dengan cara yang membuat Abhimanyu risih. Tapi mungkin memang itu tujuan Khrisna, memamerkan tubuhnya yang berisi.

“Pak Ricci mendadak memotong pertemuan hari ini karena ada urusan penting,” Khrisna duduk di sisi Hadrian, membawa aroma matahari di tubuhnya dan mendesah menerima minumannya. “Tapi sebenarnya semua sudah selesai, hanya tinggal basa-basi remeh. Jadi tidak masalah.” Khrisna menyesap minumannya.

“Bagaimana sebenarnya Pak Ricci ini jika bekerja?” Tanya Hadrian setelah Khrisna duduk dengan nyaman. “Kali pertama dan terakhir aku bertemu dengannya ketika outing karyawan. Dia mengantar Argha ke Le Paradis dan dia cukup ramah—tersenyum memesona. Pembawaannya menyenangkan.”

Khrisna mendesah. “Tidak sama sekali.” Gerutunya, sedikit jengkel. “Dia rewel, serius, keras kepala, dan idealis. Matanya awas sekali pada hal-hal kecil, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan kesalahan kecil yang sering luput.”

Abhimanyu menoleh ke kakaknya, memikirkan Sebastien yang ditemuinya saat outing. Sama sekali tidak terdengar seperti apa yang dikatakan Khrisna. Dia nampak memesona, kaya—tentu saja, dan juga ramah. Senyumannya menyihir sekali. Mungkin karena dia tidak sedang bekerja, itu menyebabkan pembawaannya menjadi lebih rileks.

“Dan dia bajingan tidak punya hati.” Khrisna bergidik ketika mengatakannya. “Kau tidak akan mau berurusan dengannya, khususnya berdebat. Dia punya kemampuan itu; membuatmu bingung dengan kalimatmu sendiri karena dia mengacaukan strukturnya. Mencari celah dari setiap perkataanmu dan melemparkannya kembali padamu. Memutar inti obrolanmu dan jika kau berhasil mempertahankan poinmu, maka dia akan mengangguk setuju pada apa pun itu.”

Hadrian berjengit. “Sepertinya tipe atasan yang tidak akan kupilih. Merepotkan.” Dia meneguk kopi hitamnya. “Tapi mungkin itu karena dia sedang bekerja. Siapa tahu ketika dia tidak bekerja, dia ternyata lebih hangat dan menyenangkan.”

“Dia lajang sepanjang yang orang-orang ketahui,” Khrisna menambahkan dan Abhimanyu tidak paham mengapa kakaknya membicarakan Sebastien ketika mereka seharusnya menghibur diri, rileks di hari libur yang cerah ini. “Tidak cukup memiliki hati untuk jatuh cinta. Maka aku benar-benar bingung ketika—oh, fuck!”

Khrisna mengakhiri kalimatnya dengan desis umpatan yang membuat Abhimanyu menoleh. Menemukan kakaknya menatap ke luar Starbucks dan mengikutinya; menemukan Mercedes Benz S300 putih mengilap memasuki tempat parkir dengan jendela gelap yang mustahil diintip.

“Pak Ricci is here.” Gerutu Khrisna dan Abhimanyu nyaris tidak mendengarkannya karena pintu Mercedes itu terbuka.

Dan manusia pertama yang keluar dari dalam mobil itu adalah Argha Mahawira.

Dia mengenakan kemeja satin putih tipis, menggantung dengan indah di bahunya yang sedikit terpapar udara. Dipadukan dengan celana kain yang menegaskan bentuk jenjang kaki Argha dan sandal selop kulit. Argha menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. Mengusap bibirnya dengan tisu basah seraya menutup pintu dengan tangan yang tadi digunakannya untuk menyugar rambut. Mengepit leather clutch di bawah ketiak tangannya yang sedang mengusap bibirnya.

Sebastien menyusul kemudian keluar dari sisi pengemudi. Sejenak berdiri di sisi pintu yang terbuka dan membenahi celananya sebelum menekan kunci pada mobilnya. Lalu bergegas menyusul Argha yang sudah melangkah memasuki Starbucks, berhenti sejenak untuk membuang tisu basahnya. Sebastien mengenakan kemeja gelap, dua kancing teratasnya terbuka. Dimasukkan rapi ke balik ikat pinggang celananya dan sepatu pantofel mengilap.

Abhimanyu tidak akan terbiasa melihat mereka bersama. Keduanya sama menariknya, sama sensualnya, dan sangat mengundang perhatian. Seluruh store menoleh pada mereka, mengamati keduanya melangkah masuk seolah bergerak dalam slow motion. Mereka mengubah jalanan mana pun menjadi runaway dengan penampilan mereka.

Sebastien mendorong pintu terbuka, mempersilakan Argha memasuki store duluan sebelum membiarkan pintu mengayun tertutup. Abhimanyu memandangi mereka, entah bagaimana tidak bisa mengalihkan padangannya dari Argha dan Sebastien.

Mereka berdua nampak sama mendominasinya, sama menariknya, sama memesonanya; mustahil mengabaikan mereka jika berada di ruangan yang sama. Sebastien lebih tinggi beberapa senti dari Argha, berdiri di sisinya dengan sedikit protektif. Dan Argha... Dia nampak seindah mimpi.

Caranya bergerak, ekspresi wajahnya, senyumannya.... Mata Abhimanyu menatap bibirnya, mengamati bentuknya dan mengamati caranya bergerak ketika Argha mengatakan sesuatu pada barista di balik meja konter. Tidak bisa melupakan rasa bibir itu di bibirnya. Dia begitu indah, menyihir siapa saja ketika bergerak, bahkan Sebastien di sisinya—menunduk sedikit menatap Argha dengan senyuman kecil di bibirnya.

Khrisna mendengus. “Jadi urusan pentingnya adalah membawa kekasihnya jalan-jalan.” Gerutunya di bawah napasnya sendiri sambil menyesap minumannya—mengalihkan pandangannya dari Sebastien.

“Kak harus menyapanya.” Abhimanyu menatap kakaknya lalu kembali melirik Argha yang sedang mengeluarkan uang dari dompetnya—bahkan ketika melakukan hal seremeh itu pun, dia nampak begitu mendebarkan. “Atau akan mengabaikannya saja?”

Khrisna membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu ketika mata Argha melirik Abhimanyu dan mereka bertatapan. Abhimanyu menarik napas, sejenak panik karena Argha menyadari tatapannya namun atasannya itu tersenyum. Senyuman ramah yang mengembang perlahan seperti sekuntum bunga yang mekar, menyihir Abhimanyu dalam pesonanya.

“Halo.” Katanya mendayu-dayu, sekarang menoleh pada Abhimanyu dan rombongannya. “Abhimanyu, Hadrian, Khrisna. It's so good meeting you here! What a coincidence!”

Sebastien juga menoleh dari barista yang mengurus kartunya untuk membayar makanan mereka. Matanya bertemu Abhimanyu, untuk pertama kalinya dan entah bagaimana tatapannya membuat Abhimanyu sama sekali tidak nyaman. Mungkin karena dia kekasih Argha? Atau karena dia mencium kekasihnya di loker? Merasa seperti bajingan yang mengganggu kekasih orang lain walaupun dia tahu hubungan Sebastien dan Argha tidak lebih dari sekadar fisik.

Sudut bibir Sebastien naik sedikit sebelum menoleh ke Khrisna yang seketika mengangguk—tersenyum karier. “Ah, Kris.” Sapanya. “It's you again.” Tambahnya dan dari nadanya, Sebastien juga sama tidak nyamannya dengan Khrisna bertemu di Starbucks—apalagi setelah memotong rapat untuk 'urusan lain'.

Sir,” sapa Khrisna mengangguk ramah. Walaupun baru saja mengatakan hal tidak sopan mengenai Sebastien.

Argha menoleh ke Sebastien, tersenyum. “Can we join them?” Tanyanya dan Abhimanyu menahan napasnya—tidak mau bertemu Argha hari ini, setelah membayangkan ciuman mereka apalagi jika ditemani oleh pasangannya yang....

Nampak jauh lebih memesona dari Abhimanyu.

Tinggi, dewasa, mapan. Memiliki pembawaan yang menyihir satu ruangan, begitu cocok disandingkan dengan Argha Mahawira. Dan jika dibandingkan dengan Abhimanyu, dia tidak ada apa-apanya. Dia hanya second layer Argha; tidak memiliki rumah, Mercedes Benz S300, atau kartu kredit hitam yang bisa digunakan tanpa batas.

You should ask them,” balas Sebastien ringan, menerima kembali kartunya dan Argha menoleh pada mereka.

Can we join you today?” Tanyanya manis, tersenyum ramah dan Abhimanyu yakin, Hadrian akan mengizinkannya karena dia Hadrian. Tidak tahan untuk tidak bersikap hangat pada siapa pun yang ditemuinya.

“Ya, tentu, Chef! Silakan!” Hadrian tersenyum lebar, menggeser duduknya memberikan ruang untuk Argha dan Sebastien.

Khrisna dan Abhimanyu saling melirik—berkomunikasi tanpa suara bahwa mereka sama-sama tidak menginginkan ini namun tidak berdaya mencegah Hadrian melakukan apa yang diinginkannya. Maka Abhimanyu mendesah pasrah ketika Argha duduk di sisinya, membawa aroma parfum pekatnya ke hidung Abhimanyu dan Sebastien duduk di kursi tunggal di sisinya.

Abhimanyu terjepit di antara Hadrian dan Argha.

Argha beraroma seperti Chanel Deauville; aroma citrus, sedikit melati lembut, basil, juga mawar yang menyenangkan. Begitu segar, seperti musim panas.

It's my first time seeing you without Cedrik,” Argha tersenyum. “Is he here?” Tanya Argha ringan, meletakkan clutch-nya di atas meja dan menyugar rambutnya. Aroma parfum dan keringatnya membuat Abhimanyu sinting—ingin mencondongkan tubuhnya ke sana, mengecup leher Argha. Titik dari mana aroma parfumnya paling kuat tercium.

Mungkin mendorongnya berbaring di sofa, mencumbunya karena terlihat sangat mengundang hari ini? Mengusap semua tubuhnya, mendengarkan rengekannya, dan caranya mendesahkan nama Abhimanyu....

“Cedrik hari ini tidak bergabung,” Hadrian menjawab setelah menunggu beberapa detik karena Abhimanyu masih menatap Argha seperti orang buta yang baru bisa melihat kembali. “Hari ini khusus untuk kakak dan adik.” Tambahnya, menendang kaki Abhimanyu yang langsung mengerjap—mengalihkan pandangan dari Argha.

Wajahnya panas. Maka dia meraih gelas minumannya, meneguk isinya dengan cepat—berusaha menjernihkan isi kepalanya. Menyingkirkan bayangan wajah Argha yang merah padam dan tersengal karenanya dari otaknya.

“Ah, begitu?” Argha nampak tidak nyaman. Alisnya sedikit berkerut, menelengkan kepalanya—memberikan ekspresi tidak nyaman yang sangat indah hingga Abhimanyu kembali menahan napas. “Are we interupting something important then?”

Argha Mahawira memang selalu indah, tetap dia hari ini—khususnya hari ini, terlihat jauh lebih memesona dari biasanya. Apa yang baru saja dimakannya? Dilakukannya? Dia bersinar, seperti bulan purnama. Abhimanyu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bibir Argha, sekuat apa pun dia berusaha. Membayangkan rasanya di bibir Abhimanyu....

Sialan, pikir Abhimanyu. Menggelengkan kepala berusaha menjernihkan kepalanya. Mari pikirkan hal lain. Apa yang dipikirkannya tadi sebelum Hadrian membahas Argha...?

No, no!” Hadrian mengibaskan tangannya, tertawa ceria—tawanya menyenangkan. Selalu membuat siapa saja merasa lebih baik karena terdengar seperti gemericing lonceng kaki penari. “Tidak apa-apa, Chef. Bergabunglah! Bertiga terlalu sepi!”

We already sent the revision to your email, Sir.” Kata Khrisna kemudian, mengangguk pada Sebastien yang duduk di sofa—bersandar dalam dengan kedua kakinya. “We're expecting feedback on Monday?”

Sebastien mendesah, “This is Sunday, Kris. Relax.” Sahutnya, melambai kecil meminta Khrisna diam. “Let's talk about something else. We don't want to bore anyone here.” Dia melemparkan senyuman memesona pada Hadrian dan Abhimanyu.

I heard a lot about you, Abhimanyu.” Katanya, mengulurkan tangan dan Abhimanyu bergegas menjabatnya—merasakan tangannya yang halus dan aroma parfum Christian Dior Eau Sauvage menghambur ke penciuman Abhiamyu.

Sebastien melirik Argha cepat sebelum kembali memandang Abhimanyu. “I'm glad we finally get to know each other officially.” Dia melepaskan tangan Abhimanyu. “You are a sweetheart, yes. I can see that.” Sebastien Ricci tersenyum dan Abhimanyu bergidik—entah bagaimana senyuman itu membuat Abhimanyu menyadari bangsat berhati dingin seperti apa dia.

Yes, Sir.” Sahut Abhimanyu, tersenyum karier seperti kakaknya. “Thank you so much for the chocolate.”

Sebastien sejenak diam, alisnya berkerut berusaha memikirkan apa yang dimaksud Abhimanyu sebelum pemahaman menyala di matanya. “Ah, the bonbon. Yes.” Dia tergelak lembut. “Yes. My pleasure, Abhimanyu. I hope you love them?”

Abhimanyu mengangguk. Manusia sinting mana yang tidak menyukai cokelat buatan Cedrik yang manis, pahit, lembut, dan meleleh di mulut? Dengan isian yang meledak seperti kembang api mungil di lidah persis setelah lapisan cokelat larut bersama saliva? “Of course, I do, Sir. Very kind of you.” Dia tersenyum ramah.

Sepanjang sisa obrolan mereka, yang disetir oleh Hadrian, Abhimanyu tidak bisa mengabaikan bagaimana sisi tubuhnya dan Argha menempel. Yakin parfum lelaki itu menempel di pakaiannya karena terus bergesekan setiap dia bergerak. Bahu mereka bersentuhan jika diam dan Abhimanyu yakin akal sehatnya akan tergelincir dari tempatnya karena sangat ingin mencium Argha lagi.

Seharusnya Abhimanyu tidak menciumnya. Tahu dia akan kecanduan seperti menghirup zat narkotika, tidak akan puas mencicipi siapa pun jika itu bukan Argha. Dengan Argha sebagai pembandingnya. Tapi dia tidak menyesal melakukannya, karena jika tidak—dia mungkin akan terus dihantui rasa penasaran pada sehebat apa rasanya jika berciuman dengan wajah sekelas bajingan sensual seperti Argha.

Dia melirik Sebastien yang tertawa berat bersama Hadrian, memikirkan apa saja yang sudah dilakukannya dengan Argha dan iri pada kenyataan itu. Dia bebas menyentuh Argha; menciumnya, bercinta dengannya, apa saja—segala hal yang Abhimanyu inginkan. Sebastien mengulurkan tangan, mengusap paha Argha sambil bicara. Melakukannya dengan (mungkin ini hanya pikiran Abhimanyu, tapi peduli setan) sensual; menggerakkan jemarinya tanpa menyadarinya sementara Argha di sisi Abhimanyu setengah bersandar ke tubuh Abhimanyu. Sangat memanfaatkan posisi sofa yang sedikit sempit untuk diisi tiga orang.

Abhimanyu tidak keberatan. Sama sekali tidak.

Dia menghirup dalam-dalam aroma Chanel yang digunakan Argha, memikirkan apa saja yang bisa dilakukannya pada Argha jika dia memiliki kesempatan sebesar Sebastien.

Dan Cedrik sama sekali lenyap dari pikirannya.


ps. ehe :(

tw // anxiety , separation issue , trust issue .


Cedrik tidak menyangka rumah Nikolas berada di pinggiran Sayan yang asri dan meneduhkan.

Bentuk rumahnya tidak besar dan sangat khas Bali dengan tembok bata merah serta arsitektur kayu, bentuk bangunannya landai. Terdiri atas dua halaman utama. Halaman terdepan dengan gerbang kayu yang tinggi mengilat, dibatasi oleh gapura masuk khas Bali menuju halaman kedua di mana rumah utama berada.

Bagian depan rumahnya adalah gapura rumah Bali yang asri dengan pintu ukiran kayu kecil yang sepertinya hanya muat untuk satu orang. Halaman depannya diberi rumput rapi yang dipangkas apik. Ada pohon kamboja harum ditanam di beberapa sisi, semerbak karena bunga-bunganya mekar. Cedrik bisa melihat palem-palem ekor tupai tinggi menghiasi halaman utama rumahnya.

Dari pembawaan Nikolas, Cedrik pikir rumahnya akan mirip dengan rumah Arsa. Vila terbuka yang futuristik, mengilap didominasi jendela dan warna putih. Siapa sangka ternyata rumahnya mengusung arsitektur lokal dan kuno Bali, memberi kesan teduh yang menenangkan. Lapang dan terbuka, hangat. Berlawanan dengan pembawaan Nikolas. Seperti rumah yang dihuni keluarga kecil yang bahagia—terikat secara emosi yang kuat. Rumah yang Cedrik sendiri secara pribadi akan pilih jika dia memiliki rumah nanti.

Pagar kayunya yang tinggi terbuka sedikit tadi ketika Cedrik tiba, maka dia langsung berkendara masuk. Mobil Nikolas diparkir di halaman depan maka Cedrik memarkir motornya di sebelahnya, melepas helmnya dan turun dari atas motor. Dia merogoh saku, hendak menelepon Nikolas ketika dia mendengar suara derit kusen pintu kayu terbuka dan menoleh.

“Oh, hai! Aku mendengar suara motor, aku pikir itu kau. Ternyata benar.” Sapa Nikolas, tersenyum dengan seekor anjing besar di sisinya. Dia mengenakan kaus putih tipis dengan celana khaki pendek yang nyaman. Rambutnya dikuncir kecil di atas kepalanya. “Cepat juga? Apakah kosmu dekat?” Dia membuka pintu ukiran Bali itu, membiarkan anjingnya menuruni tangga.

“Lumayan,” Cedrik terkekeh. Juga tidak menyangka betapa dekatnya kediaman mereka. Dia bahkan tidak berkendara lama—tapi mungkin karena kemacetan biasanya belum dimulai sehingga dia bisa tiba dengan cepat.

Nikolas nampak segar, sedikit jejak air masih tersisa di ujung-ujung rambutnya. Tindik di hidungnya dilepas, mungkin belum dipasang lagi dan dia melangkah di belakang Bong yang menghampiri Cedrik—mengendus dari jauh mencoba mengenali siapa dia seraya menggeram. Bulu tengkuknya berdiri dan ekornya mengibas tinggi—mengancam seraya menggeram tidak suka. Cedrik meringis, teringat kali pertama berkenalan dengan semua anjing Arsa-Kinan.

“Tidak perlu, Bong. Dia teman.” Nikolas menyelipkan satu tangannya ke saku dan tangan lainnya mengusap kepala Bong, dekat dengan tali lehernya—siap menangkapnya jika Bong memutuskan melompat. Menatap Cedrik sedikit cemas. “Dia biasanya tidak begini.” Gumamnya.

Cedrik menatap Alaskan Malamute itu dan perlahan mengulurkan tangan, mengizinkannya mengendus aroma Cedrik. “Tidak apa-apa, mungkin pakaianku beraroma seperti salah satu anjing Arsa yang membuatnya defensif.” Cedrik mendongak sebentar, tersenyum pada Nikolas dengan tangan terulur ke anjingnya.

Bong menggeram keras, Nikolas bergegas meraih tali lehernya; berjaga-jaga. Tinggi anjing itu jika berdiri mungkin cukup untuk meraih wajah Cedrik dengan sedikit melompat. Namun anjing itu mengendus beberapa kali, kemudian mendengking keras dan Cedrik tergelak. Terbiasa dikenalkan ke anjing membuatnya menyadari bahwa Bong sedang frustrasi—ingin mengendusnya namun pemiliknya menahannya.

Maka Cedrik mendekat, membiarkan hidung Bong mengendusnya semakin dekat. Cedrik bertahan, menunggu Bong selesai mengendusnya dengan tenang—Nikolas mengamatinya, sejenak cemas sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari kalung Bong. Anjing itu mengendus, semakin dekat dan akhirnya berhenti di depan kaki Cedrik—menciuminya lalu menegakkan kepalanya, mendongak pada Cedrik, menelengkan kepalanya manja dan menjulurkan lidahnya keluar.

Nikolas terkekeh. “Nah, dia minta dibelai.” Katanya geli dan Cedrik mengulurkan tangannya—mengusap kepalanya perlahan dan Bong menyalak ceria. “Selamat, kalian berteman.”

Cedrik terkekeh. “Aku sudah pernah menghadapi anjing yang lebih menyulitkan dari ini, tenang saja.” Katanya, mengusap kepala Bong yang duduk di depannya—jinak dan manja.

Alis Nikolas naik sebelah. “Bubble?”

Cedrik menggeleng, “Arsa.”

Nikolas tergelak, suaranya berat dan lepas. Matanya membentuk bulan sabit kembar dengan kerut menggemaskan di sisi-sisinya. Dia memiliki senyuman yang manis, Cedrik mengakuinya. Taringnya yang sedikit menyembul membuatnya menarik. Dia memiliki kerut di sisi mulutnya—garis wajah yang muncul karena seseorang sering tertawa.

“Masuklah sebentar, aku akan mengganti pakaian dan mengambil dompet.” Nikolas menatapnya, mengial pintu masuk ke rumahnya.

Cedrik mengangguk, melangkah masuk mengikuti Nikolas dengan Bong di sisinya—mencari perhatian Cedrik yang terus mengusap kepalanya sayang. Nikolas beberapa kali menoleh dan tergelak melihat Bong yang menempel akrab pada Cedrik.

Mereka menaiki undakan ke gapura berpintu kayu itu, Nikolas membuka kedua daun pintunya dan Cedrik menarik napas melihat bentuk rumahnya. Tidak heran juga sebenarnya, Kinan menyinggung Nikolas yang merupakan anak tunggal dari pengusaha kaya. Tinggal sendirian di Bali dengan semua aset pemberian orang tuanya. Tetapi hebatnya, dia tidak seperti semua anak Golden Spoon yang pernah Cedrik temui.

Rumahnya terbuka, landai dan hangat. Bentuknya khas tradisional Bali, beratap rendah. Ada kolam renang mengintip di halaman belakangnya, tamannya ditata rapi didominasi oleh tumbuhan tropis dengan rumput seperti karpet empuk. Jalan setapak dari batu alam dibentuk mengarah dari pintu masuk ke pintu utama rumah. Cedrik melihat seorang tukang kebun sedang memangkas pepohonan dan penyiram rumput berputar sedang melakukan tugasnya.

Tidak terlalu luas, tidak sebesar apa yang Cedrik bayangkan. Tapi dari ukurannya, mungkin di dalamnya terdiri atas 2-3 kamar. Padahal dia sepertinya tinggal sendirian di sana, tidakkah terlalu luas dan sepi?

“Tunggulah di dalam,” Nikolas melepas sandalnya dan meraih sandal rumahan untuk Cedrik yang bergegas membuka sepatunya lalu mengenakan sandal lembut itu.

Dia merasa sedikit canggung berkunjung ke rumah Nikolas. Dia begitu kaya—bukan hanya dari pemberian orang tuanya, namun juga dari pekerjaannya. Dari klien-kliennya yang sebagian besar adalah binatang ras yang mahal dan membutuhkan perawatan ekstra, Cedrik bisa membayangkan sebanyak apa uang yang mungkin diraupnya setiap bulan hingga dia bisa memelihara seekor Alaskan Malamute, satu Rubicon, dan rumah besar ini.

Dan harga rumahnya tentu saja fantastis karena berada di Ubud. Di mana properti begitu mahal karena posisinya yang berada di poros pariwisata Bali.

Mereka memasuki rumah Nikolas yang ternyata bagian dalamnya tidak sesumpek apa yang dipikirkan Cedrik. Bagian belakangnya terbuka dengan jendela-jendela geser yang mengarah ke halaman belakang yang adalah kolam renang. Didominasi warna putih dan cokelat hangat serta kayu. Walaupun nampak sangat tradisional di bagian luarnya, isi di dalamnya sangat moderen. Hingga sejenak Cedrik tidak paham konsep rumah Nikolas seperti apa, tapi berpikir mungkin dia membeli rumahnya sebelum merombak sesuai keinginannya. Sehingga rumah itu terlihat seperti puzle bongkar pasang yang sedikit tidak cocok.

Aroma pengarum ruangan lembut, tidak menyakiti hidung Cedrik dengan secercah aroma khas anjing di udara. Sedikit aroma Baccarat juga, tapi itu mungkin dari Nikolas yang berdiri di sisinya.

“Duduklah sebentar,” Nikolas melambai ke sofa yang berada di dekat dapur dengan bar. “Aku akan mengganti pakaian.” Dia tersenyum dan Cedrik seketika balas tersenyum. “Ambil apa saja dari dapur selama kau menunggu.” Dia menunjuk kulkas dua pintu di dapur yang mengilat. “Anggap saja rumah sendiri.”

Nikolas adalah teman pertamanya di luar pekerjaan setelah tiga tahun hidup di Bali. Cedrik menyadarinya ketika mengenyakkan diri di sofa lembut milik Nikolas di depan televisi setelah Nikolas berlalu ke kamar utama yang berada dekat halaman belakang. Ponselnya ada di meja di depan Cedrik dengan iPad, Kindle, dan kacamatanya di meja—sepertinya dia sedang membaca ketika Cedrik datang.

Dia sudah mengenal Nikolas begitu lama, baru sekarang dia menjalin pertemanan dengan dokter hewan Arsa-Kinan itu. Merasa tidak perlu melakukannya karena dia tidak memiliki urusan dengan Nikolas. Namun setelah menemaninya seharian bekerja, Cedrik menyadari bahwa memiliki teman lain dengan bahan obrolan baru selain urusan dapur, menyenangkan juga. Memberikannya sudut pandang baru, hal-hal baru untuk dicari tahu....

Untuk pertama kalinya, Cedrik merasa segar. Tidak lagi suntuk dan lelah dengan rutinitas bekerjanya. Jika dia membicarakan pekerjaannya, Nikolas menunjukkan ketertarikan yang membuatnya nyaman. Bertanya hal-hal sepele yang Cedrik pikir orang lain sudah pahami; membuatnya memutar otak berusaha menjelaskan hal itu dengan bahasa sederhana.

Dia tidak menyesal menolak Abhimanyu hari ini. Toh hanya sekali, biasanya dia menghabiskan nyaris seluruh waktunya bersama Abhimanyu. Dia berhak mendapat libur sehari saja dari Abhimanyu, 'kan? Abhimanyu lelaki dewasa, dia punya teman-teman lain yang bisa diajak keluar jika dia suntuk. Tidak harus Cedrik.

Menyadari benar bahwa dia sedang menghibur dirinya sendiri, Cedrik mendesah lalu memijat pelipisnya.

Dia bersandar di sofa, menatap ke sekitar rumah dengan sopan. Menyadari bahwa tempat itu nampak... kosong. Tidak hangat. Mungkin karena Nikolas menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja sehingga tidak sempat membuat rumah terasa seperti rumah. Hanya seperti tempat singgah untuk tidur saja, persis Cedrik.

“Ayo. Maaf memintamu menunggu.”

Cedrik mengerjap, menoleh dan menemukan Nikolas bediri dengan celana jins skinny dan kaus putihnya tadi. Mengenakan topi dan sudah memasang tindik hidungnya lagi—membuatnya nampak manis. Bong di sisinya, mengibaskan ekor ceria pada Cedrik sekarang setelah mengenalnya. Aroma Baccarat semakin pekat, sejenak membuat Cedrik sedikit pening.

“Dia akan naik di kursi belakang, tenang saja.” Nikolas tersenyum ketika mengunci rumahnya, mengatakan sesuatu pada tukang kebun sebelum melangkah ke mobilnya, Bong mengikuti mereka dengan ceria—ekornya mengibas ceria, mengotori jins Cedrik dengan bulunya yang rontok.

“Hanya datang sebulan sekali, kok.” Nikolas tersenyum menjelaskan ketika Cedrik menatap tukang kebun itu. “Aku tidak sempat mengurus rumah karena berkeliling Bali, jadi harus ada yang melakukannya untukku.”

Cedrik berhasil menahan dirinya persis sebelum mengatakan, “Cari pasangan saja,” karena menyadari dia benci dibercandai dengan kalimat itu. Memangnya dia tidak berusaha mencari pasangan selama ini? Jadi dia tidak akan menggunakan gurauan itu pada Nikolas.

Hop in, Bong!” Nikolas menepuk jok belakang mobilnya dan anjing itu melompat naik, menyalak ceria pada Nikolas yang tergelak—mendekatkan wajahnya, membiarkan Bong menjilati wajahnya. “Good boy!” Dia tersenyum, menggaruk leher Bong sebelum membuka pintu pengemudi.

Cedrik membantunya membukakan gerbangnya, cukup untuk mobilnya keluar. Jalan di depan rumah itu adalah jalan utama, sedikit ramai oleh kendaraan dan beberapa orang yang menoleh penasaran karena gerbang tinggi itu jarang terbuka. Nikolas memutar mobilnya dengan mulus di halaman dan mengeluarkan ke jalan, menunggu hingga Cedrik selesai menutup pagar lalu memanjat naik ke kursi penumpang sebelum meluncur ke Denpasar.

“Apa yang akan kita buat hari ini?” Tanyanya ketika mobil meluncur, mematikan penyejuk kabin karena Bong menjulurkan kepalanya ke luar jendela—mengamati jalanan dengan ceria. Dia menurunkan sedikit jendela Cedrik juga agar angin di luar masuk.

“Kau punya permintaan khusus?” Tanya Cedrik, dia punya beberapa resep yang ingin dicobanya tapi jika Nikolas memiliki makanan yang diinginkannya maka Cedrik akan membuatkannya.

Nikolas berpikir sejenak, satu tangannya memegang kemudi dan tangan lainnya beristirahat di atas persneling. Memandang lurus ke jalanan, sedikit melamun. “Resep apa yang paling membanggakan di kariermu?” Tanyanya.

Cedrik tergelak, menyeka rambutnya yang berhamburan karena angin di jendela. “Seven Deadly Sins, tapi jika kau ingin aku membuat itu maka kau harus reservasi di Le Paradis.” Dia menoleh ke Nikolas yang tersenyum lebar hingga matanya membentuk bulan sabit lagi.

“Baiklah, baiklah.” Dia melepas topinya, menyugar rambutnya yang sedikit panjang sambil berpikir. “Aku punya labu kuning di rumah, diberikan oleh istri tukang kebunku. Ada sebuah, ukurannya cukup besar. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengannya.” Dia menoleh ke Cedrik sejenak, meringis.

“Mungkin Chef Cedrik bisa membuatkanku sesuatu dari labu itu?” Tanyanya lagi, bergurau dan Cedrik tergelak kecil.

Otak Cedrik seketika bekerja. Memikirkan beberapa makanan yang bisa dibuatnya dari labu; mengganti tepungnya dengan daging labu yang bertekstur lebih padat dan lembut. Dia berpikir tentang Nikolas yang sehari-harinya begitu aktif bekerja. Maka dia ingin membuatkan makanan yang padat, mengenyangkan namun praktis—bisa dibawa Nikolas ke mana saja tanpa merepotkannya. Pumpkin bars mungkin bisa; digabungkan dengan granola dan potongan almond, juga cokelat untuk menambah rasa.

Pumpkin scones? Pikir Cedrik, menatap ke luar jendela. Scones kecil, mudah dibawa dan mengenyangkan. Namun rasanya tidak membosankan seperti roti—bisakah labu memberi tekstur grainy pada scones? Atau pumpkin pie bar? Memodifikasi makanan sederhana menjadi sesuatu yang praktis untuk dibawa Nikolas yang sibuk berlalu-lalang.

Dia bisa mencobanya nanti. Cedrik mencatat di kepalanya, merasa sedikit bersemangat karena akan mencoba bahan baru di tangannya—jika berhasil, dia mungkin bisa mendiskusikannya dengan Arsa. Sejauh ini, dia baru memberikan Arsa Deconstructed Sumping Waluh—makanan penutup khas Bali yang nyatanya digemari oleh tamu luar mereka karena rasa manis alami labu kuningnya.

“Beberapa, mungkin?” Cedrik tersenyum, menelengkan wajahnya ke Nikolas yang menoleh padanya—mata mereka bertemu. “Kita akan coba.” Tambahnya, menyadari bola mata Nikolas berwarna cokelat gelap pekat—bukan hitam.

Ketika cahaya matahari menimpa wajahnya, matanya berpendar kecokelatan. Tidak seterang Abhimanyu, tapi setidaknya bukan hitam. Membuatnya nampak hangat.

Nikolas membalas senyumannya. Ketika Nikolas diam, dia nampak seperti pemuda serius yang tidak bisa diajak bercanda. Garis wajahnya tegas sekali dengan rahang sedikit lebar—jenis wajah maskulin. Namun nyatanya, ketika dia mulai tersenyum dan berbicara; dia terlihat sedikit kikuk, ramah, dan mudah malu. Berlawanan sekali dengan pembawaannya jika dia tidak tersenyum.

Great, Chef. I count on you.” Katanya, masih tersenyum dengan mata membentuk bulan sabit berkerut. Senyumannya begitu menular hingga Cedrik tidak bisa tidak membalasnya.

Cedrik tergelak. Hatinya hangat. “No worries, Doc. I'll try my best.”


Abhimanyu melamun lagi.

Dia berusaha untuk melupakan fakta bahwa Cedrik sekarang mungkin sedang berkencan dan menikmati hari yang cerah bersama orang lain yang bukan dirinya. Separuh hatinya sadar bahwa dia tidak boleh cemburu; bukankah dia sendiri yang tidak pernah menyambut perasaan Cedrik? Tidak peduli berapa kali dia menyatakan cintanya pada Abhimanyu?

Lalu kenapa dia sakit hati hanya karena Cedrik mungkin mulai tertarik pada orang lain dan bosan padanya?

Hatinya berdenyut—nyeri sekali. Membayangkan suatu hari nanti, Cedrik juga akan bosan padanya. Dan pergi dari hidupnya, membuangnya seperti apa yang dilakukan Khrisna padanya. Tidak peduli seberapa banyak kata 'maaf' yang digunakan kakaknya, luka di hati Abhimanyu tidak sembuh. Terlalu dalam, bekasnya begitu lekat. Mustahil dihapuskan.

Dia takut dan cemas. Abhimanyu memandang kotak-kotak sereal di hadapannya sementara Hadrian sedang memilih sereal kesukaan Khrisna di rak setelah tadi mengambil susu almond juga untuk Khrisna. Dia mengulurkan tangan, menatap jemarinya sendiri—apakah dia mencekik Cedrik? Mencengkeramnya terlalu kuat karena tidak ingin ditinggalkan sehingga Cedrik sulit bernapas?

Itukah mengapa dia akhirnya melepaskan diri dari Abhimanyu?

Atau apakah dia tahu tentang ciumannya dan Argha di loker beberapa hari lalu? Apakah dia kecewa pada Abhimanyu? Haruskah dia menjelaskan pada Cedrik bahwa semuanya hanya fisik semata? Dia tidak tertarik pada Argha—setidaknya bukan secara romantis. Dia hanya penasaran pada rasa Argha, fisiknya yang indah.

Abhimanyu mendesah. Dia sedang bersikap egois, 'kan?

“Kau ingin membeli sesuatu?” Tanya Hadrian di sisinya, nampak hangat dengan sweatshirt dan celana jins. Rambutnya disisir naik dengan rapi. Dia mengambil dua kotak sereal dan memasukannya ke troli di hadapannya yang sudah lumayan penuh.

Dia tidak hanya membeli sereal dan susu. Juga daging, roti, buah-buahan untuk memelihara Khrisna yang nyatanya menerapkan pola hidup empat sehat lima sempurna sejak bekerja di luar negeri. Syukurlah tempat kos Hadrian adalah rumah yang cukup mewah dengan dapur yang memadai untuk memasakkan makanan menyusahkan Khrisna. Walaupun dia harus berangkat lebih pagi untuk bekerja, jaraknya itulah yang membuat Abhimanyu menolak menyewa kamar bersamanya.

Abhimanyu menggeleng. Dia sudah membeli beberapa bungkus camilan untuk dirinya sendiri, juga sekotak stroberi yang nampak ranum. Tidak membutuhkan apa-apa karena tidak suka menyetok makanan di kosannya. Jika orang-orang berpikir menjadi chef berarti tidak pernah kelaparan, itu tidak berlaku untuk Abhimanyu. Dia menghabiskan nyaris dua belas jam untuk memasak makanan untuk orang lain, tiba di kos dengan tubuh remuk setelah bekerja, hal paling bernutrisi yang dimakannya adalah sepotong pisang sebelum terlelap. Kadang dia hanya minum sekotak susu atau makan setangkup roti—apa saja agar perutnya diam sehingga dia bisa tidur.

“Aku tidak terlalu butuh apa pun,” sahutnya mengamati keranjang belanja mereka—membayangkan dengan hati pedih apa yang sedang dilakukan Cedrik sekarang karena dia tidak membalas pesan Abhimanyu.

Hadrian berhenti sejenak. “Kau baik-baik saja? Kita bisa selesai berbelanja sekarang.” Dia mengulurkan tangan, mengusap kepala Abhimanyu dan menyisiri ikal-ikalnya. “Kita ke Starbucks, membeli sesuatu yang manis.”

Abhimanyu menghela napas, memasang senyuman. Sudah merasakan tatapan cemas Hadrian sejak dia tiba di kosan. Dia tidak terlalu bisa menyembunyikan ekspresinya—apa saja yang dirasakannya akan terpampang jelas di wajahnya. Hadrian jelas menyadari ada yang salah, apalagi ketika tahu Abhimanyu tidak menghabiskan hari liburnya dengan Cedrik—seperti apa yang selalu dilakukannya, rutin selama dua tahun belakangan ini.

Hadrian tidak perlu bertanya.

Cedrik biasanya berotasi di sekitar Abhimanyu seperti bumi yang mengelilingi matahari. Ketika dia tidak melakukannya, Abhimanyu nampak sedikit goyah. Kebingungan. Mungkin malam ini dia harus mengobrol dengan Cedrik, mencari tahu apa yang salah dan bagaimana Abhimanyu bisa memperbaikinya. Mereka sudah dekat selama dua tahun, sia-sia rasanya jika mereka kehilangan segalanya sekarang.

Bukan berarti... Abhimanyu bisa mencintai Cedrik. Jika dia meminta Cedrik menjadi kakaknya saja, sahabat platonik—apakah Abhimanyu bersikap egois, mengabaikan perasaan Cedrik?

Abhimanyu mengangkat tangannya, memijat pelipisnya yang berdenyut. Hadrian mengusap bahunya, menatapnya cemas. Abhimanyu memejamkan matanya, berusaha menenangkan isi kepalanya namun malah membuatnya semakin awas dengan keadaan sekitarnya. Dia mengerutkan alisnya, mendengar seseorang tertawa di lorong sebelah mereka. Membicarakan labu kuning...

“Kita pergi saja, ya? Ayo selesaikan belanjaan kita dan—” Hadrian mendadak menarik napas tajam dan Abhimanyu membuka matanya, mendongak ke kekasih kakaknya yang memandang melewati bahu Abhimanyu. Matanya sedikit melebar dan bibirnya terkuak kecil—terkejut.

“Pak? Kenapa?” Tanyanya parau, hendak menoleh—melihat apa yang dilihat Hadrian namun mendadak pemuda itu meraih bahu Abhimanyu. Merangkulnya erat, begitu erat hingga bahu Abhimanyu sedikit sakit.

“Tidak apa-apa,” Hadrian tersenyum lalu membimbingnya pergi. “Tadi aku pikir ada seseorang yang kukenal, ternyata bukan. Aku hanya membayangkannya saja.” Dia tertawa kecil, melemparkan Abhimanyu senyuman berbentuk heart-nya yang manis.

Jantung Abhimanyu berdenyut kuat sekali—begitu kuatnya hingga dadanya sedikit nyeri. “Oh, ya?” Tanyanya kering, entah mengapa memiliki insting kuat untuk menoleh. Dia merasakan Cedrik di sekitarnya. “Siapa?” Tanyanya, berusaha berbalik dan Hadrian tidak sempat menahannya.

Abhimanyu berputar di kakinya, nyaris terserimpet sepatunya sendiri dan menoleh ke belakang. Tidak sudi dihentikan oleh Hadrian dengan suara tarikan napas keras sebagai reaksi tubuhnya atas ketegangan mencekam di kepalanya. Namun tidak ada siapa-siapa.

Dia tidak menemukan siapa pun yang dikenalnya, hanya seorang pemuda dengan topi dan kaus putih tipis longgar—menoleh kaget karena Abhimanyu mendadak berbalik. Dia berdiri di ujung lorong dengan sekantung oatmeal kemasan di tangannya, menatap Abhimanyu bingung. Abhimanyu membalas tatapannya, menyadari tindikan permata manis di hidungnya. Berkelip oleh lampu supermarket.

Sejenak dia terengah, perasaan bahwa Cedrik berada di dekatnya begitu kuat hingga dia sejenak kelelahan karena perasaan kuat itu. Dia tergagap sebentar sebelum berhasil tersenyum pada pemuda itu. Dan pemuda bertindik itu membalas senyumannya dengan kikuk—mungkin masih terkejut karena Abhimanyu tadi. Dia kemudian bergegas berlalu dari sana, seolah Abhimanyu akan menularkan penyakit menular hanya dengan bertatapan. Tapi masih sempat mengangguk sopan pada Abhimanyu yang balas mengangguk kaku.

Dia mengamati pemuda itu menghampiri temannya di ujung rak—Abhimanyu hanya bisa melihat ujung jaketnya yang berwarna cokelat dan mereka berlalu dari sana. Abhimanyu menghembuskan napas panjang, memijat pelipisnya dengan perasaan kacau.

“Sayang? Kau baik-baik saja?” Tanya Hadrian lembut, merangkulnya dan meremas bahunya hangat. “Kita pergi, oke? Kita cari sesuatu yang manis.” Dengan lembut, dia membimbing Abhimanyu menjauhi lorong itu ke kasir.

Kepala Abhimanyu berdentam-dentam oleh ketakutan dan rasa cemas. Bagaimana jika Cedrik benar-benar meninggalkannya? Seperti ayah dan kakaknya? Apa yang harus Abhimanyu lakukan tanpannya? Dia menggantungkan hidupnya pada Cedrik—pada kehangatannya, kelembutannya, sosoknya yang melindungi....

Sosok terdekat sebagai kakak yang Abhimanyu miliki selama dua tahun ini. Mengisi kekosongan dan mengobati luka yang ditinggalkan Khrisna padanya. Walaupun Abhimanyu paham kakaknya meninggalkannya karena masalah pribadinya sendiri, hatinya tidak kunjung bisa memaafkannya. Masih sering teringat bagaimana kakaknya melangkah keluar begitu saja dari kamarnya; diam dan tidak pernah menghubunginya lagi.

Abhimanyu menghela napas, berusaha membuat dirinya tegar saat menemani Hadrian membayar belanjaannya. Meminta Abhimanyu berdiri di sisinya, menjaganya dengan serius—membuat Abhimanyu tersentuh karena dia sangat mengkhawatirkan Abhimanyu, menyayanginya seperti adik. Mereka menyelesaikan belanjaan mereka dan Hadrian bergegas membimbing Abhimanyu keluar dari Grand Lucky yang lumayan ramai.

“Kita pergi ke Starbucks, oke? Minum sesuatu yang manis!” Hadrian tersenyum, bergegas mengenakan helmnya setelah memasukkan belanjaan ke dalam bagasi motor Abhimanyu.

Hadrian yang membawa motornya karena Abhimanyu sedang malas. Maka dia naik ke jok belakang setelah Hadrian naik dan memutar motornya. Mereka meluncur keluar dari Grand Lucky dan sudut mata Abhimanyu menangkap Rubicon putih di dekat pintu keluar ketika motor berhenti untuk bergabung dengan lalu lintas.

Menoleh, dia menemukan pemuda tadi sedang membuka pintu belakang dan seekor anjing menyembulkan kepalanya dari dalam—menjilati wajahnya ceria. Mudah mengenalinya karena tindik di hidungnya. Abhimanyu tersenyum melihat anjing raksasa itu, berpikir apakah dia harus memelihara anjing? Matanya mengejap dan menangkap seseorang berdiri di sisinya, tertutup oleh pintu mobil. Hanya melihat bagian bahu jaket cokelatnya.

Dan sebelum Abhimanyu sempat melihat wajah temannya, motornya melaju menjauhi Grand Lucky—bergabung di lalu lintas jalan utama Sanur yang ramai.


ps. ehe :( D:

edisi spesial Yukio <3


tw // eating disorder , panic attack .


”... We can't?”

Yukio menggeleng, wajahnya sendu sekali hingga hati Argha terasa dipelintir.

Hari itu musim semi, cuaca sedang dingin dan Yukio terkena flu ringan. Argha baru memasang meja penghangat dan memasak makanan berkuah untuk mereka nikmati sambil menonton televisi. Seharusnya jadi hari yang normal dan nyaman karena Argha pulang tepat waktu dari tempatnya bekerja dan membawa makanan kesukaan mereka—okonomiyaki dari tempat langganan mereka. Juga beberapa custard pudding kesukaan Yukio, agar dia mau memasukan sedikit saja kalori ke tubuhnya.

Namun dia juga tahu mereka sudah menunda obrolan ini begitu lama. Berharap Yukio melupakannya saja karena Argha sungguh tidak bisa menerima alasannya. Dia berharap Argha bahagia ketika bahagianya adalah Yukio. Dia berharap Argha bisa bahagia tanpa kebahagiaannya?

Yukio pasti sudah sinting.

Banyak hal yang mereka lakukan untuk bertahan. Argha berusaha—sekuat tenaga berusaha untuk membuat hubungan mereka tetap stabil terlepas dari perbedaan prinsip mereka. Argha tidak tahu sebelum jatuh cinta dia harus mencari tahu apakah seseorang memiliki prinsip yang sama dengannya karena detik dia memandang Yukio di bawah salju tipis yang mulai luruh di depan toko okonomiyaki kesukaan mereka, Argha jatuh cinta.

Begitu saja.

Tidak menyangka bahwa masalah mereka kedepannya jauh lebih hebat. Tetapi keduanya tidak ingin menyerah, Argha memperjuangkannya. Perbedaan mereka tidak ada apa-apanya dibanding rasa cinta di hatinya untuk Yukio.

“Then at least, we can be friend, right?” Argha gemetar, merasakan sakit menyeruak di dadanya dan membuatnya sesak. Dia tidak siap berpisah dengan Yukio: siapa yang akan mengingatkannya makan? Siapa yang akan memastikannya menyalakan penghangat ketika musim dingin?

Yukio begitu ceroboh, lemah karena eating disorder-nya yang sedikit parah. Dia hanya bisa makan makanan tertentu, biasanya menolak makanan lainnya. Argha harus selalu memaksanya makan setiap hari, terkadang menyuapinya. Mengalihkan perhatiannya jika dia merasa bersalah karena makan. Membantunya menyeka rambut jika memuntahkan makanannya ke mangkuk toilet, berharap Argha bisa menanggung rasa sakit itu untuknya. Berharap dia bisa berada di posisi Yukio.

Dia menyadari kapan pun Yukio mulai merasa cemas. Menggigiti kukunya, merobek kutikulanya, menggerakkan tubuhnya, dan menatap ke seluruh ruangan dengan cemas. Keringat dingin di keningnya, bibirnya yang kering... Argha akan langsung memeluknya, memintanya bernapas dan membantunya menghadapi panic attack-nya yang parah.

Yukio menatapnya, bola matanya lembut dan Argha bisa melihat air mata berkilauan di sana. Menikam jantungnya dengan belati panas sekali lagi, menyengatnya dengan rasa sakit yang menyesakkan. “If we keep being friend, Argha, you won't let me go. You have to let me go, you have to... I don't know, live your life.”

Yukio mengulurkan tangan, menyeka wajah Argha dan mengusapnya lembut. Argha menggenggam tangan Yukio yang mungil dan gendut di wajahnya, menguburnya dalam jemarinya yang besar.

“Jika aku terus membiarkanmu berada di sekitarku, kau tidak akan berhenti berharap aku berubah pikiran dan kembali padamu.” Bisik Yukio pelan dan Argha merunduk, menumpukan keningnya ke kening Yukio—menghirup aroma tubuhnya yang lembut dan menenangkan. “Lalu akan semakin berat untukku melepaskanmu, mengikhlaskan bahwa kita tidak bisa bersama. Kau harus melupakanku, kau harus terus hidup, Argha. Melangkah ke depan.

“Sudah cukup waktu yang kaukorbankan untukku selama ini berusaha mengimbangiku padahal kau tidak perlu melakukannya.” Tambah Yukio lambat-lambat.

Mereka bersama selama lima tahun. Dengan perbedaan besar yang mengganjal, berusaha menemukan jalan keluar yang sesuai agar mereka bisa tetap bersama. Sayangnya, Yukio menyerah. Tidak lagi kuat menghadapi perbedaan fatal itu. Padahal Argha tidak pernah mempermasalahkannya walaupun dirinyalah pihak yang, menurut Yukio, paling dirugikan. Karena dia mencintai Yukio, dia bisa melakukan apa saja.

“Aku mencintaimu.” Bisik Yukio lagi, napasnya menerpa wajah Argha—menghamparkan selapis aroma pasta gigi yang harum ke hidungnya. “Aku sangat mencintaimu, kau tidak perlu meragukan perasaanku. Kapan dan di mana pun aku berada, kau tetap memiliki tempat di hatiku.

“Tapi aku tidak bisa lagi bertahan. Aku tidak bisa menyiksamu dengan cara ini.”

“Tidak.” Sela Argha tegas, gemetar. Dia meremas tangan Yukio yang sedikit dingin dan berpikir sejenak bahwa dia harus menaikkan suhu penghangat ruangan jika tidak ingin Yukio sakit. “Kau tidak bisa meminta seseorang untuk tetap hidup tanpa bernapas, Yukio.”

Yukio mengernyit. Sudah menduga jawaban Argha seperti ini. “Argha,” keluhnya dengan suara sedikit gemetar dan Argha bergegas memeluknya, mengusap tubuhnya agar hangat. “Kau harus berhenti.” Gumamnya teredam di dada Argha. “Tolong... Tolong berhentilah.”

Tubuhnya begitu mungil. Argha senang membungkusnya dalam pelukannya, memastikannya hangat seperti seekor itik yang dierami induknya. Memeluknya dalam tidurnya, menggendongnya, menggoyangkan tubuhnya, dan menggigiti pipinya. Respons Yukio selalu menghiburnya; mengomel dalam bahasa Jepang berlogat Kansai yang tidak dipahami Argha seraya memukulnya. Menendangnya.

Hidup mereka bahagia sekali. Sangat bahagia, seperti mimpi. Maka dia benar-benar remuk ketika Yukio memutuskan untuk menyerah.

“Tidak.” Balas Argha, menumpukan dagunya di kepala Yukio—memejamkan matanya. Dia tidak mau berhenti, tidak sudi berhenti. Yukio bisa mengusirnya, menendangnya keluar, melemparinya dengan sampah tapi tidak.

Argha tidak akan berhenti. Tidak akan menyerah tentangnya.

Yukio adalah alasannya kembali berusaha hidup, memberinya alasan untuk kembali bernapas dan berjuang. Membantu Argha kembali berdiri setelah membuang keluarganya sendiri di Indonesia. Memberinya kehidupan baru, identitas baru. Memberinya bahagia. Dia pasti sudah sinting jika berharap Argha bisa melupakannya begitu saja setelah dia membuat Argha bangkit dari keterpurukannya.

“Argha.” Yukio mendesah panjang, namun tak ayal memeluknya. “Kita sudah memberi kesempatan hubungan ini bertahun-tahun dan kita berdua tahu, ini menyiksamu.”

Argha menggeleng, keras kepala. “Tidak masalah. Aku akan menangguhkan apa saja untukmu; bahkan beban langit.” Dia mengecup puncak kepala Yukio dan mendesah, sangat mencintai pemuda itu hingga hatinya sesak.

“Tapi, jangan. Tolong jangan mengusirku dari hidupmu, Yukio.” Bisiknya, gemetar dan merasakan tangis mulai terbit di pangkal tenggorokannya. “Aku bisa mati.”


Argha menggertakkan giginya.

Dia mengangkat wajahnya, menatap refleksi wajahnya sendiri di cermin wastafel yang basah karena dia memercikkan air ke sana. Membasuh wajahnya setelah bertemu Arsa, kepalanya berdenyut. Dia memandang tangannya sendiri yang menggenggam tepian wastafel, sudah mencucinya dengan sabun dua kali tadi setelah digenggam tangan Abhimanyu yang lengket.

Berpikir dengan sedikit mabuk, mengapa dia selalu tertarik pada individu yang memiliki kebutuhan khusus dengan mental mereka?

Dia berpikir selama ini dia tidak akan pernah merasakan ketertarikan apa pun di luar fisik pada orang lain selain Yukio. Pemuda manis yang tersenyum padanya, tenggelam dalam syal tebalnya dan melambai kecil. Argha ingat menatapnya dengan terpesona, melihat pipinya yang memerah. Hidungnya yang mungil, matanya yang bersinar seperti bintang. Dia mengenakan topi dengan kelepai penghangat telinga. Menggemaskan sekali, begitu kecil dalam pakaian penghangatnya yang berlapis-lapis.

“Halo!” Sapanya ceria hari itu. “Kau baik-baik saja? Di sana dingin. Kau mau makan bersamaku?” Begitu katanya, terlepas dari fakta bahwa mereka baru saja berkenalan—dia bahkan belum tahu nama Argha.

Rasanya seperti berdosa ketika dia tertarik pada orang lain selain Yukio—padahal Argha tidak percaya kehidupan setelah kematian, dosa, bahkan Tuhan. Dia tahu hatinya tidak terbagi sama sekali, tidak menggantikan Yukio. Seolah ada hati baru yang tumbuh di sisinya, untuk menampung perasaan tertarik baru itu.

Abhimanyu berbeda sekali dengan Yukio.

Jika Yukio adalah musim dingin. Salju indah yang berkelip karena sinar matahari temaram dari mendung yang tebal. Indah, mendebarkan, dan Argha harus berhati-hati di sekitarnya jika tidak ingin merusak sesuatu. Sementara Abhimanyu adalah musim panas yang berkilauan—hangat, menyenangkan, mengundang.

Mata Yukio selalu berkabut, sedikit kelabu. Mata Abhimanyu cokelat karamel. Mengontraskan perbedaan pribadi mereka namun sama manisnya ketika tersenyum, mengulurkan tangan pada Argha untuk menyelamatkannya.

Walaupun OCD-nya sama sekali tidak mengapresiasi genggaman tangan Abhimanyu, mau tidak mau Argha menyadari ukuran tangan Abhimanyu di tangannya. Rasanya pas—tepat. Mengisi semua ceruknya dengan sempurna.

Argha mendesah, mengusap wajahnya lalu menyeka rambutnya. Dia menatap dirinya sendiri di cermin. Sekarang apa yang harus dilakukannya? Arsa setuju untuk memberinya kesempatan kedua—atau ketiga? Entahlah. Dan Argha merasa dia harus segera beradaptasi dengan timnya jika tidak mau kejadian seperti ini terulang.

Mungkin dia salah karena telah mengendurkan fokusnya karena angka reservasi rendah. Dia biasanya tidak melakukannya. Dia selalu awas dan waspada terhadap makanan, selalu mengeceknya sebelum disajikan. Entah apa yang membuatnya kehilangan sedikit fokusnya kema—

“Yukio sudah memiliki kekasih sekarang. Berhentilah.”

Argha menghela napas, memijat pelipisnya teringat kata-kata Hikaru beberapa tahun lalu ketika mereka bertemu sebelum Argha berangkat ke Maladewa. Satu tahun setelah dia berpisah dengan Yukio.

Setengah hatinya merasa senang. Setidaknya sekarang ada seseorang yang akan menjaga Yukio; memastikan dia makan dengan teratur, membantunya menenangkan diri jika terkena serangan panik, menemaninya tidur, menyayanginya.

Namun setengahnya lagi terluka—begitu hebatnya hingga selama satu menit penuh dia terenyak di kursinya. Menatap Hikaru yang membalas tatapannya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Merasakan sakit itu perlahan menyeruak di dadanya; mengubur semua sarafnya dalam rasa hampa dan kebas.

“Dan aku bisa meyakinkanmu bahwa pasangannya bukan aku.” Tambah Hikaru perlahan, menilai reaksi Argha. “Mereka bertemu di suatu tempat, kau tahu Yukio.”

Yukio gemar memungut sesuatu di jalan. Itu gurauan antara dirinya dan Hikaru. Anak anjing, boneka yang rusak, potongan kain perca yang cantik, bunga yang mengering—termasuk memungut Argha. Maka dia tidak lagi terkejut Yukio menemukan kekasihnya di suatu tempat, memutuskan untuk memberikannya kasih dan cinta. Kehangatan yang pernah menjadi milik Argha.

Hati Argha koyak. Dia tidak lagi bisa menggambarkan rasa sakit yang menyeruak di dadanya saat ini. Dia menyentuhnya, mencengkeram tempat yang dia pikir adalah hatinya—namun sakit itu berdenyut di belakang sana. Di balik jantung dan paru-parunya, panas membakarnya. Menyebar seperti api yang menyesakkan.

Argha mengepalkan tangannya, mulutnya terbuka beberapa kali. Entah hendak bicara atau menarik napas karena mendadak merasa sesak. “Apakah mereka...?” Bisiknya kemudian, nyaris dikalahkan suara sibuknya jalanan di sekitar mereka.

Tidak perlu mengucapkannya karena Hikaru tahu apa yang dibicarakan Argha.

Hikaru menatapnya, rahangnya mengencang dan dia mengangguk. Argha menarik napas tajam, mengangkat tangannya dan mengusap wajahnya. Berusaha mengabaikan sakit di hatinya, kekecewaan karena bukan dia yang akan membahagiakan Yukio. Membuatnya begitu bahagia dan hidup seperti apa yang dilakukannya untuk Argha.

“Maafkan aku,” bisik Hikaru hari itu, mengulurkan tangan dan mengusap bahu Argha walaupun itu sama sekali bukan kesalahan Hikaru.

Argha di masa kini menekan keningnya, memijatnya kuat berusaha mengenyahkan kenangan itu. Dia harus bekerja, fokus untuk memimpin timnya dan tidak ada ruang untuk memikirkan Yukio sekarang. Dia harus memastikan tidak ada makanan cacat lain yang keluar dari dapurnya atau Arsa akan benar-benar mengusirnya.

Rekomendasi buruk dari juru masak berbintang Michelin akan merusak seluruh CV Argha. Maka dia harus bekerja lebih baik lagi, mendapatkan rekomendasi Arsa untuk karier yang lebih baik meski dia sudah merasa tidak lagi ingin berpindah-pindah. Berharap dia bisa bekerja bersama Arsa hingga akhirnya pensiun, mungkin bisa membantunya menjadi tim Executive. Memikirkan perkembangan restorannya dari belakang.

“Argha, aku mencintaimu. Kau tahu aku mencintaimu.”

Argha mengerang keras, menempelkan keningnya di cermin ketika ingatan tentang Yukio kembali ke kepalanya. Teringat bagaimana dia mengulurkan tangan, menyentuh dadanya sendiri dan menatap Argha—hari ketika dia memutuskan untuk keluar dari hidup Argha. Pindah dari apartemen Argha.

“Akan selalu ada ruang di hatiku yang adalah milikmu. Tidak akan tergantikan. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, mendoakanmu berbahagia di mana pun kau berada.”

Argha menyentuh dadanya, membuka mulutnya saat air mata menyengat matanya. Merasakan jantungnya yang berdebar, berpikir bahwa dia juga memiliki tempat yang sama untuk Yukio di hatinya—tidak akan terisi oleh siapa pun.

Yukio akan selalu menjadi cinta pertama dan terindahnya. Mengulurkan tangan sedetik lebih cepat dari kematian, menarik Argha keluar dari sumur dalam dan membantunya menyembuhkan diri terlepas dari kondisinya sendiri.

Memang, pikir Argha kering. Hanya mereka yang hancur yang memahami perasaan hancur orang lain. Tahu bagaimana menghadapi dan menghibur orang hancur lainnya.

Lalu berpikir apakah sekarang, detik ini—ketika Argha memikirkan Yukio dan betapa ruang di hatinya adalah milik Yukio, pemuda itu juga sedang memikirkan Argha? Apakah pernah sekali saja selama bertahun-tahun mereka berpisah, Yukio memikirkannya? Memimpikannya? Merindukannya?

Atau hanya Argha sendirian?

“Chef?”

Argha mengerjap, membuat air mata meluruh di pipinya dan tidak sempat mengusapnya ketika menoleh. Menemukan Abhimanyu berdiri di depan pintu loker. Rambut ikalnya mencuat-cuat seperti per, menggemaskan sekali—membuatnya nampak seperti karakter animasi.

Dia mengerang dalam hati. Dari semua orang, kenapa Abhimanyu yang menemukannya ketika sedang menangis?

“Oh, kau.” Sahut Argha sengau, mengusap air mata di pipinya dan membersit. Menarik napas, menyingkirkan ingatan Yukio dari kepalanya. “Maaf, aku sedang memikirkan hal-hal lain.” Dia mengedikkan bahu, menyalakan kran air dan menangkupkan tangannya di bawah kucuran air, membawanya ke wajahnya untuk membasuhnya.

“Apakah ada sesuatu yang salah?” Tanya Abhimanyu dan Argha mendengarnya memasuki ruangan—melangkah perlahan, seperti takut jika langkahnya menakuti Argha.

“Tidak.” Argha tersenyum tipis, mengusap air dari wajahnya—menyadari hidung dan matanya yang merah. “Hanya hal-hal remeh. Sama sekali bukan tentang pekerjaan, tenang saja.”

Abhimanyu berdiri beberapa meter darinya, mengamati ketika Argha meraih handuknya dan mengelap wajahnya. Membereskan sisa air mata di wajahnya agar tidak dilihat siapa pun. Abhimanyu sudah cukup buruk.

Omong-omong soal Abhimanyu. “Oh, ya.” Argha menatap Abhimanyu dari refleksi cermin. “Terima kasih atas bantuanmu tadi.” Dia tersenyum, mengelap tangannya di handuk. “Terima kasih telah membelaku walaupun aku sebenarnya bisa melakukannya sendiri, tapi mungkin pendapatmu bisa menjadi pertimbangan untuk Arsa.”

Argha tertawa kecil, memalingkan wajah dari Abhimanyu. “Kau membuatku merasa sangat bersalah karena telah bersikap tidak sopan padamu dan Cedrik.” Dia mengaitkan handuk itu di pegangan besi kecil di sisi wastafel—akan membawanya pulang nanti. “Aku akan lebih menghormatimu sekarang sebagai balasan atas bantuanmu.”

Dia menegakkan tubuhnya dan berbalik, menghadapi Abhimanyu yang masih menatapnya. Tubuh anak itu bidang, berpinggang langsing, dan berkaki panjang. Fisiknya indah sekali, juga bagaimana dia menggerakkan fisik itu. Tapi Argha berpikir dia akan melepaskannya, membiarkan dia dan Cedrik berbahagia sebagai kompensasi atas bantuannya hari ini. Argha bisa bermain-main dengan orang lain. Sebastien contohnya.

“Chef.” Bisik Abhimanyu.

Argha menatapnya, menelengkan wajahnya sedikit. “Ya?” Tanyanya.

Abhimanyu ragu sejenak, menjilat bibirnya perlahan dan memandang ke titik di sisi kepala Argha sebelum kembali ke wajahnya. “Saya tahu lelaki seperti apa Anda ini,” bisiknya perlahan dan Argha mengerutkan alisnya.

Haruskah dia tersinggung pada kalimat itu? Tapi dia tidak merasa keberatan. Karena dia memang begitu. Tidak ada gunanya tersinggung kecuali Abhimanyu menuduhnya.

“Lelaki seperti... apa, maksudmu tepatnya?” Tanya Argha, ingin mengkonfirmasi pikirannya sendiri, menyamakan persepsi mereka.

Abhimanyu menelan ludah, nampak rikuh. Tidak ingin melakukan ini, namun juga sangat ingin. “Hubungan Anda dan Pak Ricci,” mulai Abhimanyu lagi dan alis Argha berkerut—Apa hubungan Sebastien dengan semua ini?

“Hubungan kalian murni adalah fisik, 'kan?”

Argha mengerjap, mulutnya terbuka. Terkejut pada arah pembicaraan ini karena dia baru saja—beberapa detik lalu memberi tahu Abhimanyu dia akan berhenti bersikap tidak sopan pada ruang pribadi Abhimanyu; yang berarti adalah dia akan berhenti menggoda Abhimanyu secara fisik.

Argha bersumpah. Jika Abhimanyu mengizinkannya atau mereka bertemu dalam situasi yang berbeda, Argha tidak akan ragu untuk melompat ke arahnya dan memohon untuk digagahi. Tetapi situasi mereka, Cedrik, dan mungkin juga trauma Abhimanyu menahan Argha. Dia mungkin memang seorang playboy yang menggunakan seks untuk mengalihkan pikirannya sendiri.

Namun dia juga punya batasan yang jelas.

Dia berhasil mengendalikan dirinya. “Dan?” Tanyanya, jantungnya berdebar. Apa yang sebenarnya diinginkan Abhimanyu darinya sekarang? “Memangnya kenapa jika hubungan saya dengan Sebastien adalah fisik semata?”

Abhimanyu menatapnya, rahangnya mengencang dan dia beberapa kali menjilat bibirnya yang kering oleh rasa cemas. Argha menunggunya, tidak ingin memburunya mengungkapkan apa yang hendak dikatakannya. Mata sewarna karamelnya berkilat dan Argha tidak yakin pada kilatan itu—tidak yakin itulah yang dipikirkan Abhimanyu.

Bagaimana jika....?

Mata Abhimanyu memandanginya, ada rasa penasaran di sana. Sesuatu yang coba dilawan Abhimanyu. Persis seperti kemarin ketika mereka berada di ruangan Argha. Tatapan mata yang menggelap oleh keinginan yang Abhimanyu sendiri paham, tidak boleh dirasakan. Argha seketika meremang. Dia sepertinya tahu apa yang diinginkan Abhimanyu.

“Jika begitu,” bisik Abhimanyu, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.

Argha menatapnya, menunggu. Jantungnya berdebar dan tangannya berkedut. Jika Abhimanyu meminta itu, maka Argha tidak tahu apakah dia bisa menahan dirinya. Abhimanyu sedang mengerjainya; seperti segelas air dingin di tengah panasnya gurun pasir. Dia diayunkan di depan Argha, menggoda untuk diraih sementara di sisinya ada Cedrik yang mendampinginya.

Abhimanyu meletakkan Argha di posisi yang sama sekali tidak menguntungkan.

“Bolehkah...” Bisik Abhimanyu dan Argha menahan napasnya.

“Bolehkah saya mencium Anda?”


ps. ehe :((( yakan cebhim udah mau karam yakan :((((((

tw // mention of depression , halucination , atheism .

// be careful with your heart :p


Argha cemas.

Bukan mengenai dirinya sendiri dan surat teguran yang akan ditanda tanganinya sekarang, namun tentang Abhimanyu. Dia melangkah di sisi Argha, wajahnya kencang dan Argha bisa melihat jemarinya saling membelit dengan cemas. Argha menghela napas, kecemasan anak ini lumayan menyulitkan dan Argha tidak yakin apakah kedepannya hal itu tidak akan memberikannya masalah.

Selama bekerja dengan Abhimanyu, bahkan kemarin ketika mereka ditekan begitu kuat oleh tenggat waktu menyajikan makanan, anak itu masih bekerja dengan baik. Tidak goyah sama sekali. Argha berpikir mungkin kecemasannya itu memiliki pemicu yang sama sekali berbeda—bukan pekerjaan.

Mereka berhenti di depan ruangan Arsa yang terbuka sedikit dan Argha menghela napas. Dia sebenarnya sudah menyelesaikan masalah ini kemarin selepas servis. Memanggil commis yang bertanggung jawab di section pasta, helper yang membuat gnocchi, juga anak servis yang menyajikan makanan itu. Mewawancarai mereka tentang self-hygiene mereka ketika bersinggungan dengan makanan.

Kondisi rambut di makanan itu berada di atas saus pasta, menyelip. Tidak panjang namun tetap saja merupakan pelanggaran berat. Mengeliminasi helper yang mengerjakan pasta, menyisakan commis dan anak servis. Mengeliminasi commis juga karena dia mengenakan pelindung kepala selama bekerja—Abhimanyu menjaminnya. Argha lebih yakin itu rambut anak servis namun anak itu nampak tidak tahu jika rambutnya jatuh ke makanan.

Perut Argha mulas membayangkan jika Arsa mendengar masalah ini. Dia akhirnya merasa adil jika memberikan ketiganya surat teguran; berharap dengan ini ketiga divisi bisa saling membantu mengingatkan sebagai efek pengguncang agar timnya bergerak lebih waspada.

Tidak yakin bagaimana Arsa akan menyikapi ini.

Argha mengangkat tangannya, menghela napas lalu mengetuknya. “Chef.” Panggilnya.

Ya, silakan masuk.” Balas Arsa dari dalam sana dan Argha menoleh ke Abhimanyu yang nampak semakin resah; tanpa disadarinya tengah menggigiti kuku ibu jarinya.

Sesuatu berdenting di kepala Argha ketika menyadarinya. Abhimanyu tidak cemas mengenai pekerjaan, itu jelas. Karena dia mencemaskan Arsa—bagaimana atasannya itu bereaksi atas pekerjaannya. Kekecewaan Arsa adalah pemicu kecemasannya. Jika mengingat bagaimana Abhimanyu hingga tiba di titik ini, Argha tidak lagi kaget. Dia baru menyelesaikan pendidikannya dan langsung dibimbing oleh chef ternama—di dapur Michelin pula. Tekanan di bahu Abhimanyu pasti berat sekali.

Padahal terlepas dari itu, Abhimanyu adalah juru masak berbakat. Di usianya yang semuda itu, dia bisa bekerja di dapur Michelin selama dua tahun tanpa sinting. Mungkin hanya perlu lebih lembut pada dirinya sendiri, tidak menghukum diri dengan begitu brutal. Argha sangat terkejut melihatnya memukul kepalanya sendiri ketika cemas.

“Kau siap?” Tanyanya ke Abhimanyu, mau tidak mau sedikit cemas pada keadaannya.

Abhimanyu mengerjap. Nampak baru menyadari bahwa dia sedang menggigiti kukunya dan bergegas menurunkan tangannya. “Tidak, Chef. Tapi mari selesaikan.” Gumamnya.

Argha menghela napas, mendorong pintunya. Ruangan Arsa selalu terasa mencekam ketika mereka memasukinya untuk menerima teguran keras. Argha lelah sekali mendapat teguran di bulan awalnya bekerja, merasa semua keahliannya yang tertulis di CV-nya sama sekali tidak relevan. Entah apakah fokus Argha dalam bekerja yang mulai menurun atau standar Arsa memang berbeda dari semua tempat yang pernah disinggahinya.

Argha yakin dia sudah kehilangan beberapa kilo bobot tubuhnya belakangan ini karena stres berusaha mengejar ketertinggalannya di Le Gourmet. Merasa tubuhnya sedikit lebih ringan. Dan dia benci ketika tubuhnya menyusut, Argha selalu menjaga bobotnya sesuai dengan tinggi tubuhnya selama ini. Dia harus belajar memanajemen stresnya dengan baik.

Masa percobaan Argha akan selesai sebentar lagi. Arsa akan meninjau hasil kerjanya selama tiga bulan masa adaptasi Argha dan sekarang dia sudah lumayan memahami standar Arsa—menemukan celahnya untuk bergabung ke dalam ritmenya. Jika Arsa tidak memutuskan untuk membatalkan kontrak mereka karena masalah rambut sialan ini.

Kinan duduk di sofa, menyilangkan kakinya dan Argha menyadari bahwa itu formasi kesukaan mereka untuk menegur seseorang. Arsa di balik meja, Kinan di sofa terjauh dari meja—menatap karyawan mereka dingin. Arsa mengenakan seragam Le Paradis-nya yang licin, duduk di balik meja dengan kedua lengan terlipat di atas meja, ekspresinya membuat perut Argha menegang.

Ini masalah serius, Argha tahu. Apalagi dia luput untuk memberikan kompensasi pada tamu mereka karena terlalu sibuk memikirkan siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan itu dan bagaimana menjelaskannya pada Arsa dan berdoa—pada siapa atau apa saja yang ada di atas sana, agar Michelin tidak berkunjung hari itu. Lupa melihat permasalahan dalam lingkup lebih besar.

Argha tidak paham apa yang terjadi padanya belakangan ini, fokusnya menurun sekali.

“Kau sebentar lagi empat puluh. Sudah jelas kenapa.” Sahut Sebastien kalem ketika Argha mengeluhkan itu, setelah mereka bercinta di atas ranjang dan mengaduh keras ketika Argha menendang perutnya main-main. Lelaki itu tergelak, berguling menjauhinya di ranjang.

Tapi tidak bisa tidak memikirkannya. Apakah memang karena usianya sebentar lagi empat puluh? Itukah mengapa fokusnya menurun?

“Silakan duduk, Chef.” Arsa melambaikan tangan ke kursi di hadapannya, wajahnya keras dan dingin.

“Restoran ini hadiah ulang tahun Chef Arsa untuk Pak Kinan, Chef.” Kata Abhimanyu dengan parau, kentara sekali cemas tadi ketika mereka melangkah keluar dan Argha menggertakkan giginya—dia mengacau di restoran yang memiliki nilai sentimentil untuk keduanya.

Jika dia keluar dari ruangan Arsa dengan leher masih terpasang, itu adalah keberuntungan.

“Jadi,” kata Arsa ketika semua orang sudah duduk dan Argha merasakan sekali tatapan Kinan di punggungnya—dia pasti jengkel sekali karena ini restoran hadiah ulang tahunnya. “Siapa yang memasak pastanya?”

Argha mengulurkan dokumen di tangannya, tiga lembar surat teguran untuk ketiga anggota timnya. Arsa menerimanya dan Kinan beranjak, mendekat ke sisi pasangannya untuk ikut membacanya. Sejenak Arsa diam, mencermati isi dokumen itu dengan alis berkerut. Ketika dia marah, dia terlihat seperti binatang eksotis. Dingin, berjarak, dan... mencekam. Sangat bertolak belakang dengan pembawaannya yang biasa; ringan, ramah, dan hangat.

“Oke,” Arsa meletakkan dokumen di meja dan menatap semuanya. “Jadi semalam rambutnya ditemukan di saus pastanya yang dimasak oleh commis.” Dia menatap commis yang duduk di sisi Abhimanyu.

Commis itu bergegas mengangguk. “Tapi saya tidak melepas penutup kepala saya sama sekali, Chef.” Katanya, setengah mencicit dan Abhimanyu mendukung jawabannya dengan mengangguk.

“Saya sendiri yang mengecek semua orang di dapur selama servis, Chef.” Katanya dan Argha melirik tangan Abhimanyu di pangkuannya—melihat jemarinya kini mulai merobek kutikulanya.

Argha gatal ingin menjauhkan tangannya namun berhasil menahan diri.

“Jika begitu,” Arsa menatap Argha yang langsung berdeham—tidak nyaman dengan tatapan mata Arsa yang dingin. “Kenapa Anda memberikan surat teguran pada helper yang mengerjakan pastanya, Chef? Saya rasa jika rambutnya berada di saus pasta, dia tidak terlibat.” Arsa menghela napas, seolah sedang bicara dengan orang bodoh.

Dan Argha tidak suka itu. Bagaimana dia bisa membuat seseorang merasa kecil bahkan tanpa menaikkan suaranya. Hanya dari ekspresi, nada suara, dan tatapannya. Dengan sengaja memelankan suaranya, seolah mendiktekan tugas Argha. Pada chef senior yang sudah bekerja di dunia kuliner selama nyaris dua puluh tahun.

“Saya berharap dengan itu setiap divisi akan bisa bekerja lebih awas lagi, Chef.” Sahut Argha, menjelaskan maksudnya dengan memberikan ketiganya surat teguran.

Mata Arsa memicing. “Jadi sistem Anda adalah dengan menghukum semuanya alih-alih menyelesaikannya dengan mengerucut lalu memberikan teguran pada satu orang?”

Argha membalas tatapannya. “Ya, Chef.” Balasnya tegas, tidak merasa itu adalah kesalahan. Dia ingin mendisiplinkan timnya dan jika caranya berbeda dengan apa yang Arsa lakukan, maka Arsa juga tidak berhak mengkritiknya.

Dia sendiri yang memberi tahu Argha bahwa Argha berkuasa sepenuhnya atas dapurnya—segala metode yang digunakannya untuk memimpin tim murni adalah urusan Argha.

Mereka berpandangan sejenak dan Argha bisa melihat amarah di mata Arsa. Dia jengkel dan tersinggung. Namun Argha membalas tatapannya, memberi tahunya bahwa segala hal di dalam timnya adalah urusannya. Arsa hanyalah supervisor sekarang. Pengawasnya, bukan lagi pemimpin dapur.

“Dan jika tidak ada yang mengaku, Anda akan memberikan surat teguran pada semua orang?” Tanya Arsa lagi, suaranya terdengar sangat berkuasa. Sangat alfa dan menuntut. “Itu logika dari cara Anda memimpin, benar?”

Argha mengangguk. “Ya, Chef.” Sahutnya, tegas. Tidak gentar sama sekali. “Jika tidak ada yang mau mengaku, maka dia baru saja membuat seluruh rekan timnya yang tidak bersalah untuk ikut bertanggung jawab.” Jelasnya, masih menatap mata Arsa. “Dengan kedekatan setiap orang di dalam satu tim, saya rasa cara itu sangat berguna.”

Alis Arsa terangkat sebelah. “Jadi, Anda memanipulasi kedekatan emosional mereka?”

Argha mengerjap, seketika mundur karena kaget. Tidak memikirkannya dengan cara itu. Dia hanya tahu bahwa ancaman selalu berguna untuk menghadapi murid bebal. “Ya, Chef.” Katanya tenang setelah mengendalikan dirinya, menatap Arsa. “Hanya saja, persepsi saya tentang ini bukanlah manipulasi.”

Arsa menatapnya, rahangnya bergerak ketika dia menggertakkan giginya. Kinan berdiri di sisi pasangannya, seperti singa betina yang akan melindungi rajanya. Bersidekap dengan tenang. Arsa tidak menerima alasan Argha, dia bisa melihatnya di kerlip mata gelap Arsa namun dia kemudian meraih pena.

Alright.” Katanya parau, menandatangani surat teguran itu untuk ketiga anak buah Argha. “Saya sudah menyerahkan segala hal di dapur Le Gourmet kepada Anda.” Dia kemudian menyerahkan surat itu ke Kinan yang menerimanya—memprosesnya ke HRD.

“Lalu,” Arsa memulai lagi setelah pasangannya menyingkir. “Karena Anda gemar sekali mencari pembenaran diri,” tambahnya menyindir dengan pedas dan Argha menghela napas. “Apa pembelaan Anda mengenai kelalaian memberikan kompensasi atas makanan tidak layak saji kemarin?”

Argha melirik ke sisinya, anak buahnya masih berada di sini. Dia menyadari Arsa berniat melakukannya di depan semua rekan bekerja Argha—entah untuk mempermalukannya atau menunjukkan pada semua karyawannya bahwa semua orang yang bersalah diperlakukan sama.

“Sebenarnya, mungkin salah saya karena terlalu berharap banyak pada Anda, Chef.” Mulainya lagi, menghela napas kecewa dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Tubuh Arsa kurus, kulitnya menggelap di beberapa bagian. Dia nampak nyaris terlalu eksotis untuk menjadi seorang Chef. Seperti petualang dengan bentuk tubuh atletisnya yang lentur.

“Lulusan Le Cordon Bleu Paris, bekerja di bawah beberapa hotel besar. Paris, Inggris, Jepang, Dubai, Maladewa. Semua rekomendasi Anda mengesankan sekali, Chef. Terlepas dari beberapa hal kecil dalam love affair Anda. Saya pikir,” Arsa menatapnya. “'Baiklah, kita ambil dia. Itu tidak ada urusannya dengan pekerjaan.'”

Argha menghela napas. Dia jauh lebih suka jika Arsa menaikkan suaranya—mengata-katai Argha saja dibanding melakukan ini. Bicara dengan tenang, namun semuanya menyakitkan. Memberikan lebih banyak sakit hati dibanding teriakan. Dan dilakukan di depan anak buah Argha, membiarkan mereka mendengarkan kekecewaan Arsa. Mendengarkan kesalahan Argha.

Ini kali pertama Argha ditegur atasannya di depan anak buahnya. Dan rasanya sama sekali tidak mengesankan. Malu, tidak nyaman, jengkel.... Argha juga bisa merasakan anak buahnya tidak nyaman mendengarkan atasan mereka ditegur di depan mereka.

“Saya memaafkan kasus kemarin dengan Abhimanyu. Walaupun itu sama sekali bukan urusan pekerjaan. Juga kasus anggur Anda.” Mulai Arsa lagi, mengingatkan hadiah anggur putihnya untuk Kinan berjuta tahun lalu dan Argha merasa baru saja ditonjok persis di ulu hati—melirik Abhimanyu yang memucat ketika kasusnya dengan Argha dibawa naik kembali.

“Tapi saya rasa maaf pun ada batasnya, ya.” Tambah Arsa, terdengar sangat kecewa hingga Argha mengencangkan otot perutnya menerima limpahan emosi itu.

Arsa sama sekali tidak menaikkan suaranya. Datar saja, namun pekat oleh sindiran dan kekecewaan. Menikam Argha dengan rasa bersalah hebat di hatinya, juga amarah karena dia tahu dia bisa bekerja lebih baik dari ini. Dia melirik Abhimanyu di sisinya. Jika ini adalah jenis kemarahan yang diterima Abhimanyu setiap dia bersalah, Argha tidak lagi kaget pada efeknya. Belum lagi fakta bahwa Abhimanyu sangat mengidolakan Arsa.

“Ya, Chef.” Sahut Argha, berusaha membuat suaranya terdengar tenang walaupun perutnya menggelegak oleh rasa cemas. “Itu murni kesalahan saya karena lupa menawarkan kompensasi atas kekecewaan pelanggan.” Dia mengepalkan tangannya di atas pahanya, membiarkan kuku-kukunya menancap di telapak tangannya. “Saya paham.”

Arsa menatapnya, menilai dari ekspresi Argha apakah dia benar-benar memahami perkataan Arsa tadi atau tidak. Ruangan sejenak hening, tidak ada yang berani bernapas keras. Jantung Argha mulai bertalu-talu, berusaha keras tidak memikirkan apa akibat dari kesalahan fatalnya hari ini. Tidak mau memikirkan bahwa dia harus segera mencari pekerjaan baru.

“Ini bulan terakhir masa percobaan Anda di dapur saya, Chef.” Arsa menarik selembar kertas dari lacinya dan Argha menarik napas tajam—tidak suka pada arah pembicaraan ini.

Argha hendak membuka mulut, menjawab perkataan Arsa ketika seseorang meraih tangannya. Dia berhenti. Telapak tangan itu dingin dan basah oleh keringat. Alarm berdering nyaring di kepalanya—jijik oleh sentuhan itu, jijik membayangkan keringat yang menempel di tangannya. Sudah hendak menyentakkan tangannya dari genggaman itu jika saja dia tidak menunduk, menatap siapa yang menggenggam tangannya.

Abhimanyu.

Napas Argha berhenti sejenak. Tidak yakin bagaimana harus menyikapi sentuhan pertama dari Abhimanyu itu—yang walaupun mengirimkan rasa jijik di kepalanya alih-alih rasa hangat karena Abhimanyu sedang gelisah serta cemas.

Dan sebelum Argha sempat membela dirinya ke Arsa atau menanggapi sentuhan Abhimanyu atau bahkan mengumpulkan kesadarannya yang terpencar berantakan karena kaget, Abhimanyu membuka suara.

“Saya rasa Chef Argha berhak mendapat kesempatan lagi untuk membuktikan dirinya, Chef.” Katanya, ujung kalimatnya sedikit bergetar tapi tekad yang berkilat di bola mata sewarna karamelnya membuat Argha menahan napas.

Genggaman Abhimanyu di tangannya menguat dan Argha menyadari tatapan Kinan dari balik punggung mereka. Sesungguhnya, bahkan Argha sendiri tidak paham apa yang dilakukan Abhimanyu. Bukankah dia... membenci Argha?

Argha menunduk, menatap tangannya yang digenggam tangan Abhimanyu. Menyadari bentuk kukunya yang setengah membulat, pendek, dan penuh luka-luka kecil karena kegemarannya merobek kutikulanya. Lalu mengangkat wajahnya, menatap Abhimanyu yang sedang menatap Arsa.

“Karena kepemimpinan Chef Argha di dapur, dari pengamatan saya, sangat baik. Saya tahu kesalahan ini fatal sekali,” Abhimanyu nyaris tidak berhenti untuk menarik napas, meracau di depan Arsa yang nampak sama kagetnya dengan Argha. “Tapi saya rasa Chef Argha mungkin belum menunjukkan kekuatan terbaiknya dalam tiga bulan ini. Belum membuktikan diri sepenuhnya pada Anda, menunjukkan performa maksimalnya.”

Seluruh ruangan masih hening ketika Abhimanyu selesai bicara. Dia mencengkeram tangan Argha kuat-kuat di atas paha Argha. Dan chef senior itu harus menggertakkan rahangnya agar tidak menepis tangan Abhimanyu—dia tidak paham OCD Argha dan bersikap demikian hanya akan menimbulkan kesalahpahaman lain di antara mereka.

Tidak sekarang ketika hubungannya dan Abhimanyu mulai membaik.

Abhimanyu berdeham. “We as his team feel like we have just let him down by not giving our best peformance to support him. I'm sure there's more in him that he would love to show you, Chef.”

“Jadi,” Abhimanyu menarik napas dan tangannya begitu dingin di tangan Argha.

Melawan keinginannya sendiri untuk menepis tangan itu, Argha membalik telapak tangannya. Membalas genggamannya dan Abhimanyu mengerjap—sejenak melupakan kalimat dalam pidatonya. Argha menyelipkan jemarinya ke sela jemari Abhimanyu—memberikan dirinya sendiri kemewahan untuk menggenggam tangannya.

Hal yang sangat diinginkannya sejak pertama kali bertemu Abhimanyu di Starbucks Reserve Dewata di awal kedatangannya ke pulau yang dingin ini; tidak memiliki teman, sendirian, dan kebingungan. Kehangatan Abhimanyu yang menggodanya mendekat. Menyentuhnya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa Abhimanyu nyata—bisa disentuh, dipeluk.

Abhimanyu berdeham, rahangnya mengencang dan hati Argha berdesir lembut ketika Abhimanyu membalas genggaman tangannya. Argha tidak memahami kondisi apa ini, namun dia tidak keberatan terjebak di sini; dalam perangkap pesona yang ditebar Abhimanyu di hadapannya. Bahkan melompat dengan senang hati ke dalamnya. Menceburkan dirinya.

“Saya mohon Chef bisa memberikan Chef Argha kesempatan sekali lagi.”


Nyet.”

Cedrik membuka sebelah matanya, melihat sahabatnya memasuki ruangan dengan wajah kencang. Dia membuka kancing seragamnya yang mencekik, nampak tidak senang. Cedrik sedang berbaring di sofa ruangannya, menunggunya kembali dari Seminyak.

“Oh, hai, Jing.” Balas Cedrik, kembali memejamkan mata—merasa kepalanya berdenyut. “Sudah marah-marahnya?” Tanyanya, mendengar Arsa bergerak-gerak berisik dan membuka sebelah matanya lagi.

Melirik sahabatnya yang sedang menepuk semua saku di pakaiannya dengan wajah berkerut jengkel. Mulutnya terbuka, umpatan sebentar lagi akan terjun dari sana—mengatai semua orang dengan nama-nama binatang. Maka Cedrik bergegas merogoh saku celananya sendiri, mengeluarkan kotak rokok dan korek api. Memberikan sumpal untuk mulut Arsa.

Here you go.” Katanya, mengulurkan tangannya tanpa menoleh dan mendengar sahabatnya mendesah keras dengan lega, tergesa meraihnya.

Ruangan Arsa memiliki jendela besar. Bisa dibuka jika dia ingin merokok walaupun Kinan tidak terlalu mengapresiasinya. Tapi dia bersikap bijak dengan mengizinkan Arsa melakukan apa saja yang diinginkannya alih-alih bersikap overprotektif seolah Arsa adalah bayi yang tidak bisa membedakan salah dan benar.

Arsa mematikan penyejuk ruangan dan membuka jendelanya. Membiarkan udara Ubud memasuki ruangannya sebelum menyalakan sebatang rokok. “Ah, bangsat.” Keluhnya setelah rokoknya menyala dan dia menghembuskan asap pertamanya. Mengenyakkan diri di sofa tunggal di seberang Cedrik.

“Bagaimana Gourmet?” Tanya Cedrik, bangkit dari posisi berbaring dan menatap Arsa yang melempar kotak rokoknya ke meja. Dia meraih sebatang dan menyulutnya juga.

Arsa menggerakkan tangannya dengan frustrasi. “Mari berharap saja Michelin tidak berkunjung.” Dia menyesap rokoknya lagi, bersandar di kursi dan memisahkan kakinya. Memijat pelipis seraya menatap langit-langit. “Dan bodohnya, Argha bahkan tidak repot-repot menawarkan kompensasi.”

Dari nadanya Cedrik yakin Arsa bisa merajang Argha dan memakannya mentah jika dia mau. Mendenguskan senyuman kecil, Cedrik meletakkan kembali rokoknya di atas meja. Menghembuskan asap rokok pertamanya ke arah jendela, menjauhi Arsa yang sejenak nampak kabur oleh asap yang menguar di depan wajahnya.

Tell Cedrik,” kata Arsa kemudian, menyesap rokoknya dalam-dalam sekali lagi. Nampak sedikit tertekan dan Cedrik sejenak cemas pada keadaan kepala dan depresinya. “Am I wrong for expecting too much from Argha? He's 40!”

Cedrik tersedak asap rokoknya sendiri, tergelak keras. “Kau serius, ya?!” Serunya, menepuk dadanya sendiri berusaha menghentikan serangkaian batuknya dan mengerang karena pedih di hidungnya.

Arsa di depannya mendelik, menatapnya dengan tatapan 'ya, aku serius. Kau mau kukuliti, ya?'. “Ya.” Sahutnya. “Siapa tahu, maksudku.... Dia mulai pikun?”

Cedrik kembali tergelak. “Oh!” Dia tersengal. “Aku akan menganggap ini semua karena kinerjanya, sama sekali bukan sentimen pribadi karena dia mengendus di sekitar gebetan sahabatmu?”

“Kinerja, tentu saja.” Arsa mendelik. “Peduli setan siapa yang didekatinya—kecuali Kinan!” Dia bergegas mengangkat telunjuknya, memperingati Cedrik yang sudah membuka mulut hendak menggodanya.

“Tapi serius,” kata Cedrik setelah tawanya mereda seraya menjentikkan abu rokok di asbak. “Mungkin dia hanya belum bisa beradaptasi dengan standar kerjamu. Kau ingat bagaimana timmu berusaha melakukannya ketika pertama kali bergabung. Bahkan aku sendiri kesulitan.” Dia kembali bersandar di sofa, menyesap rokoknya.

Berteman dengan Arsa dan bekerja dengan Arsa adalah dua hal yang sangat berbeda. Dan Cedrik tidak siap ketika perbedaan itu menamparnya di bulan pertama bergabung di Le Paradis. Belum lagi bagaimana dia nyaris harus menjadi head chef menggantikan Arsa di hari soft opening Le Paradis dan bersumpah dia tidak mau menghadapi kesintingan yang sama lagi—seumur hidupnya.

Arsa berhati dingin. Tegas. Dan sinting. Standar bekerjanya benar-benar gila, Cedrik bisa melihat bagaimana timnya sempat kocar-kacir berusaha mengimbangi kecepatan Arsa dalam bergerak. Cedrik kehilangan satu kilogram di bulan pertamanya bekerja karena stres. Ketika itu Arsa masih dalam masa penyembuhan dari depresinya, lidahnya masih sangat kacau—rutin mengonsumsi antidepresan yang ternyata membuat Arsa menjadi bajingan berdarah dingin dan selalu mengantuk. Tidak bahagia, tidak marah, tidak cemas; kosong.

Dengan kekosongan emosi itu, dia memimpin tim. Menggerus semua orang menyesuaikan dengan standarnya, beberapa orang dipecat saat itu juga di tengah servis yang sibuk karena bergerak terlalu lambat. Semua orang stres di bulan pertama menghadapi Arsa, kaget. Bahkan sous chef seniornya yang sempat akan mengundurkan diri jika saja Kinan tidak memohonnya bertahan.

Baru dua bulan setelah Arsa resmi berhenti mengonsumsi antidepresan-lah, dia berubah sedikit manusiawi. Dan kala itu, timnya sudah sangat paham kinerja Arsa. Sudah beradaptasi sepenuhnya dengan Arsa, dapur bisa bergerak sesuai kemauan Arsa hingga berhasil meraih satu bintang Michelin.

Cedrik bergidik teringat perayaan akbar mereka ketika Michelin mengirimi mereka piagam tanda menyandang gelar bintang satu.

Cedrik yakin Argha harus mengalami masa transisi itu sebelum benar-benar bekerja dengan performa maksimalnya. Bahkan Kinan kehilangan bobot tubuhnya secara drastis ketika menemani masa depresi Arsa. Lelaki itu memang sangat menyusahkan dengan egonya yang sebesar bakatnya.

Jika Argha belum kehilangan bobot tubuhnya, maka dia belum resmi bergabung ke tim Arsa.

Arsa menggaruk keningnya, nampak resah dan jengkel karena Cedrik benar. “Yah, begitu juga menurut—” Ujarnya, hendak mengatakan sesuatu namun menghentikan dirinya sendiri. Matanya menatap Cedrik sejenak dan Cedrik membalasnya; alisnya naik, menunggu Arsa mengatakan sesuatu.

Namun sahabatnya berhenti, menelan kembali kalimat itu. “Menurut Kinan tadi.” Katanya dan Cedrik mengerutkan alis—menyadari Arsa sedang berbohong. Dan Arsa juga menyadari bahwa Cedrik tahu dia berbohong. “Aku berdiskusi dengan Kinan dan Abhimanyu tadi,” katanya akhirnya.

Alis Cedrik naik sebelah. “Dan?” Tanyanya, tidak memahami mengapa Arsa harus berbohong tentang Abhimanyu.

“Menurut Abhimanyu,” Arsa akhirnya bicara, rahangnya bergerak dan dia menatap Cedrik—menunggu reaksinya dan Cedrik bergeming. Tidak melihat ada yang salah dari second layer memberikan pendapat tentang supervisor-nya. “Aku harus memberikan kesempatan untuk Argha.”

Cedrik menyesap rokoknya. “Dan bagaimana menurutmu?”

Arsa menatapnya, menilai sejenak sebelum menyesap rokoknya lagi. “Kuberikan.” Sahutnya seraya menghembuskan asap rokoknya dan mematikan rokoknya yang sudah pendek. “Kurasa Abhimanyu lebih tahu hal ini karena bekerja bersamanya di dapur.”

“Ya, benar.” Cedrik menatap bara rokoknya sendiri—memikirkan perasaan janggal di hatinya tiap kali seseorang menyebutkan nama Abhimanyu.

“Lalu,” Arsa bergegas mengalihkan pembicaraan. Dia menatap sahabatnya ketika meraih sebatang rokok lagi, menyalakannya lalu menghembuskannya. “Apa yang ingin kaubicarakan padaku?” Tanyanya.

Cedrik menghela napas berat. “Kau tahu aku sangat mencintai Abhimanyu.” Mulainya, menyesap rokoknya dan Arsa berhenti—tidak menyangka kalimat pembukaan Cedrik akan segamblang itu. “Semua orang tahu,” koreksi Cedrik, menghela napas.

Dia lalu berusaha menjelaskan perasaan ini pada Arsa. Perasaan kosong aneh tiap kali menatap Abhimanyu, merasakan hubungan mereka yang merapuh dan Abhimanyu yang menjauh. Dia masih sangat mencintai Abhimanyu, Tuhan tahu seberapa hebatnya dia mencintai Abhimanyu. Masih ingin lelaki itu berada di hidupnya, berotasi di sekitarnya seperti bulan. Ingin melindunginya, memastikan dia baik-baik saja, menenangkannya tiap kali mendapat anxiety attack.

Namun, Cedrik manusia biasa.

Dia kelelahan.

Dan merasa bersalah karena kelelahan pada sikap Abhimanyu. Juga tidak paham apa yang membuatnya lelah selama ini. Semalam ketika dia tiba di kos Abhimanyu dalam keadaan dingin setelah berkendara dari Canggu ke Gianyar untuk mengambil mobilnya di klinik Nikolas, lalu melanjutkan perjalanannya ke Seminyak, dia merasa hatinya sangat hampa. Kosong.

Ketika dia memeluk Abhimanyu, menenangkannya, mengecup pelipisnya, dan menghiburnya hingga tidur; hati Cedrik kosong. Rasanya begitu menyiksa karena dia ingin terus merasakan cinta yang berdenyut hangat di hatinya untuk Abhimanyu. Dia takut jika dia mulai kehilangan rasa cinta itu, takut bahwa dia....

Mulai menyerah.

Arsa bangkit, mematikan rokoknya dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Tangisan Cedrik pecah dalam kungkungan aroma Arsa. Dia gemetar, nyaris menggigit lidahnya sendiri ketika berusaha menjelaskan perasaannya. Menjelaskan isi hatinya berharap Arsa memahaminya.

Cedrik tidak ingin menyerah. Tidak ingin mengingkari janjinya pada Abhimanyu bahwa dia tidak akan meninggalkannya seperti ayah dan kakaknya. Dia ingin terus menemani Abhimanyu, ingin pemuda itu terus membutuhkannya. Cedrik ingin menjaganya.

Dia tidak mau menyerah.

Dia begitu lama bertanggung jawab atas perasaan orang lain, berusaha menjaga orang lain dan tidak ada yang memperlakukannya sama hormatnya.

Harinya dengan Nikolas menyenangkan sekali, dia bertemu banyak binatang peliharaan yang manis. Mendapatkan suasana baru menemani Nikolas bekerja; merasa senang karena bertemu banyak orang baru alih-alih hanya berkutat di dalam ruangan berpendingin; berangkat bekerja sebelum matahari terbit dan pulang jauh setelah matahari terbenam. Bersama Nikolas, ada begitu banyak limpahan cahaya matahari. Binatang menggemaskan. Klien ramah yang menawari mereka makanan dan camilan. Berkendara berkeliling Bali, mengunjungi tempat-tempat waktu.

Namun ketika dia mendengar masalah Gourmet, jantungnya seketika mencelos. Rasa cemas pada kondisi Abhimanyu langsung merobek selubung bahagianya seharian. Merusak suasana hatinya, membuatnya merasa bersalah karena membuat Nikolas cemas.

Arsa mengusap punggungnya, menumpukan dagunya di atas kepala Cedrik yang menyandarkan keningnya di bahu Arsa. Membiarkannya menangis, tidak repot-repot menghibur Cedrik sama sekali. Hal yang disyukurinya karena Cedrik tidak ingin mendengar apa pun selain didengarkan. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Arsa, memeluknya lebih erat—menggenggamnya untuk bertahan tetap waras ketika pintu terbuka dengan keras.

“Chef, saya—oh.”

Cedrik tidak mendongak, dia akan mengenali suara itu di mana saja—bahkan di neraka sekali pun. Dia akan menyeberangi lautan api demi merespons suara itu, menghampirinya. Memastikan dia bertemu keduanya: suara Arsa dan Kinan.

Dia mencium aroma parfum Kinan ketika dia memasuki ruangan dengan perlahan, menutup pintu dan bergerak. Mondar-mandir sebelum duduk di sisi Cedrik. Merasakan komunikasi tanpa suara kedua sahabatnya sebelum Kinan ikut memeluknya. Tangannya melingkar di pinggang Cedrik dan menyandarkan tubuhnya di punggung Cedrik—aroma parfumnya menyenangkan. Vanila yang manis, namun lembut. Tidak menyengat.

“Kemari, Bayi-bayi besarku.” Katanya hangat dan Cedrik tergelak tanpa suara. Arsa menepuk punggungnya sayang dan hangat. “Kemari berpelukan, Teletubbies-ku.”

Mereka berpelukan di atas sofa ruangan Arsa. Sudah lama sejak mereka melakukannya, terakhir ketika Arsa terbangun tengah malam dengan mimpi buruk—masa awal melepaskan diri dari antidepresan. Cedrik tidur di kamar tamu, menemani Kinan jika terjadi sesuatu di tengah malam. Mereka bertiga tidur di ranjang Arsa karena dia berhalusinasi, terlalu takut untuk kembali tidur. Merasa seseorang akan mencarinya. Maka Cedrik berbaring di sisi kiri dan Kinan di sisi kanan, menjaganya aman hingga Arsa mau kembali tidur.

Ternyata rasanya menyenangkan.

It's okay,” bisik Kinan ketika Cedrik bersandar padanya. “It's just a bad day, not a bad life.” Dia mengusap kepala Cedrik sementara Arsa mengusap bahunya. “We will find a way, don't worry.”

Cedrik memejamkan matanya yang panas disengat air mata. Akankah mereka menemukan jalannya? Apa yang harus dilakukannya pada Abhimanyu?

Dan dirinya sendiri?


ps. ehe :(((

tw // anxiety , self-blaming , self-hitting .


ps. biar makin nyesek, dengerin Easy on Me-nya Adele yha :'D pss. please pay attention to the tws. ada adegan yg akan bikin kalian gak nyaman di sini.

author's note. kenapa belakangan ini fokusnya cebhim? karena hubungan mereka established pertama, DUA tahun. jauh sblm argha dateng. dengan kondisi abhim emotionally dependant sama cedrik dan abhim benci bgt sama argha. jadi switched ke gabhim, hubungan mereka (dlm hal ini trauma bond) harus aku selesaikan dan akhiri dulu.

i have my own plot and charas development, just leave it to me. easy aja bacanya, ini fiksi. tolong rileks, gausah pake otot.


See you soon, Ares! Papi loves you!”

Cedrik memutar bola matanya sebal, mendelik pada Kinan yang mencium Ares. Anjing itu mendengking, tidak suka ditinggal Kinan. Untuk ini, mereka menukar kendaraan. Cedrik terpaksa membawa Rubicon Arsa karena Ares jelas tidak akan diam di atas Kawasaki Ninja-nya. Maka Kinan yang mengendarai motornya ke Paradis, dia harus mengurus laporan keuangan Gourmet yang masih berantakan bersama Teo.

“Enyah.” Gerutu Cedrik. Kinan tergelak, menghampiri motor Cedrik yang diparkir di sisi jalan dan memakai helmnya.

Kinan mengenakan jaket berkendara Cedrik karena dia tidak punya jaket yang cukup tebal untuk berkendara. Dia menaiki motor Cedrik, menjejak kakinya di tanah dan terlihat tangguh di atas motor—berbeda sekali dengan ketika dia mengendarai mobil. Dia mengaitkan helmnya kencang di dagunya, nampak sedikit tegang karena dia belum lama bisa mengendarai motor.

“Terima kasih, Cedrik, we owe you!” Kinan melambai, matanya tersenyum dari helm full face Cedrik sebelum dia menurunkan kacanya dan menyalakan mesin motor Cedrik. “Why does this beast has to be this big?” Gerutunya, merunduk dengan kedua tangan di stang motornya.

Cedrik memutar bola matanya, “Memangnya kaupikir mobilmu itu kecil?” Dan sekali lagi, Kinan tergelak—sepertinya sedikit mabuk adrenalin karena harus mengendarai motor.

Kinan lumayan tangkas sekarang dengan sepeda motor semenjak dia meminta Cedrik dan Raditya mengajarinya. Walaupun Arsa tidak terlalu mengizinkan, namun dia akhirnya diam dan menonton Kinan berlatih. Menatap dengan penuh celaan dan alis berkerut tiap Raditya mengajarinya naik motor di jalan depan rumah mereka. Awalnya menggunakan motor bebek biasa milik salah satu karyawan Paradis yang dengan senang hati meminjamkan motornya sebelum mencoba motor Cedrik. Kinan tidak bisa mengendarai sepeda, maka mengajarinya menaiki sepeda motor jauh lebih menegangkan.

Arsa masih berpikir membelikan Kinan Tesla adalah solusi terbaik dari masalah mereka jika memiliki agenda berbeda. Cedrik tidak lagi kaget, Bajingan itu punya terlalu banyak uang dan terlalu mencintai Kinan. Syukurlah alih-alih mengikuti pola hidup konsumtif Arsa, Kinan bisa mengerem kebiasaannya menghambur-hamburkan uang—bahkan ketika uang itu untuknya. Arsa selalu memanfaatkan waktu ketika Kinan mengizinkannya menghamburkan uang dengan sangat baik.

Dia mengklakson di atas Ninja Cedrik, “Terima kasih, Cedrik! I love you!” Serunya ceria lalu mengoper gigi dan meluncur di jalanan ke arah Paradis.

“Hati-hati di jalan!” Seru Cedrik, menunggu hingga motornya lenyap di belokan. Cedrik menghela napas, tidak terlalu bersemangat tentang hari ini.

Teringat kejadian semalam ketika mereka berbaring dan kembali menciumnya. Cedrik tidak keberatan dengan ciuman itu, mulai sedikit terbiasa pada sentuhan Abhimanyu namun tidak siap pada bagaimana ciuman itu berubah menjadi gairah; begitu intens hingga Cedrik takut. Belum pernah disentuh atau menginginkan sesuatu sehebat itu. Semua pasangan seksnya dulu sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding desahan Abhimanyu, napas panasnya di wajah Cedrik dan tangannya.

Panik, dia seketika mendorong Abhimanyu dari tubuhnya. Mereka berpandangan dalam keremangan kamarnya, jantung mereka bertalu-talu—Cedrik bisa mendengar debaran jantung Abhimanyu. Tidak yakin apakah itu hal yang diinginkannya dan ketika melihat wajah Abhimanyu, Cedrik yakin mendorongnya adalah hal yang paling benar.

“Maaf,” kata Abhimanyu parau, menyugar rambutnya. Rasa bersalah pekat membanjiri bola matanya, dia nyaris terdengar seperti frustrasi dan gemetar. Cedrik ingin menghiburnya, namun juga tidak ingin menyentuhnya. “Maafkan aku, maaf. Maaf.”

Bukan sepenuhnya salah Abhimanyu karena Cedrik juga membalas ciuman itu; menyadari dengan sedikit mabuk bahwa mereka akan bercinta. Sejenak terlena dan membalas sentuhan Abhimanyu. Cedrik juga menginginkannya, merasakan gairah itu menggelegak di dasar perutnya dan nyaris yakin dia mampu menelanjangi Abhimanyu di sana—saat itu juga. Jika saja tubuhnya yang kebingungan tidak menyadarkan kepalanya.

“Tidak apa-apa.” Sahutnya kering, mengangguk. Menyugar rambutnya dan merasakan jejak darah di bibirnya—tidak yakin apa yang salah pada Abhimanyu hari itu. “Kembalilah tidur.” Dia menuruni ranjangnya dan meraih kotak rokoknya, tidak yakin dia bisa berada di kamar yang sama dengan Abhimanyu setelah semuanya.

Cedrik baru kembali ke kamar setelah menghabiskan nyaris setengah isi kotak rokoknya. Pukul tiga pagi, bersyukur bahwa Kinan memaksanya mengambil cuti hari ini karena cutinya harus diambil sebelum hangus. Dia kembali jauh setelah Abhimanyu terlelap dan menatap wajahnya dengan berat. Merasa sesuatu mengganjal di hatinya.

Haruskah dia tetap bertahan? Semakin hari, semakin banyak tindakan Abhimanyu yang membuat Cedrik kebingungan. Dia berubah, itu jelas. Tidak bisa dijelaskan, namun Cedrik bisa merasakan shifting dalam energi Abhimanyu. Pembawaannya berubah, ada sesuatu yang terjadi dan Cedrik tidak yakin apakah dia akan menyukainya. Abhimanyu menginginkan validasi belakangan ini; banyak sekali, khususnya tentang dirinya sendiri.

Tuhan tahu betapa besar cinta Cedrik untuk Abhimanyu. Betapa tulusnya dia ingin membahagiakan Abhimanyu, mencoba melakukannya selama dua tahun. Tidak beranjak dari sisi Abhimanyu, menemani naik dan turun suasana hatinya. Belajar memahami Abhimanyu, ingin menjadi satu-satunya rumah tempat pemuda itu pulang. Dan Abhimanyu memang pulang padanya, selalu mencari Cedrik kapan pun dia membutuhkan tempat bernaung. Menemukan nyaman dalam pelukan Cedrik. Dia pikir dia sudah memenangkan hati Abhimanyu, sudah menggenggamnya dan siap untuk menyatakan perasaannya pada Abhimanyu sekali lagi.

Hubungan mereka menyenangkan—sangat menyenangkan.

Sebelum Argha Mahawira memutuskan untuk bergabung.

Cedrik menghela napas berat, memasuki pintu samping rumah Arsa dan Boba langsung menyalak. Berlari menghampirinya dan dengan lincah berdiri di kedua kaki belakangnya, memohon digendong. Cedrik tersenyum, membungkuk dan menggendong anjing menggemaskan itu. Boba mendengking ceria, menjilati telinga Cedrik yang terkekeh.

“Oke, Princess, tapi hari ini aku tidak bermain denganmu, ya?” Katanya menepuk pantat anjing itu lembut lalu memasuki rumah Arsa yang terbuka. “Aku harus membawa Ares ke dokter.”

Jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang dan Cedrik harus bergegas. Klinik Nikolas berada sedikit jauh dari rumah Arsa. Maka dia memberi tahu Bubble bahwa dia akan pergi, meminta anjing itu menjaga adik-adiknya sebelum memasangkan tali pada Ares. Great Danes itu menatap Cedrik, nampak takut padanya karena mereka belum berkenalan dengan baik selain tadi ketika Kinan meminta Ares mengendus Cedrik.

Anjing itu akhirnya menurut pada Cedrik setelah dia menyuapi Ares beberapa potong treat kesukaannya. Mengikuti Cedrik ke mobil dengan ekor bergoyang kecil.

“Sampai ketemu nanti, ya?” Cedrik melambai ke semua anjing di dalam rumah, Bubble berdiri di depan pintu—lidahnya terjulur dan mengibaskan ekornya ceria.

Cedrik selalu takjub pada betapa pintarnya Bubble, dia bukan anjing penjaga tapi kemampuannya sangat menakjubkan. Dia nyaris nampak seolah memahami bahasa manusia. Uang yang dikeluarkan Arsa untuk melatihnya tidak terbuang sia-sia karena anjing itu begitu cerdas dan setia. Matanya berkilat ketika Cedrik menutup pintu yang berdenting—tanda terkunci secara otomatis menggunakan sistem smart lock yang hanya terbuka dengan password atau sidik jari Arsa-Kinan. Dia mendengus, seolah mengangguk pada Cedrik.

Pintu belakang terbuka agar para anjing bisa berkeliaran dan tidak stres. Dinding luar rumah Arsa-Kinan yang setinggi nyaris tiga puluh meter, sudah dilengkapi pecahan beling yang dipasang mengancam di pinggirannya sebagai langkah pengamanan karena bentuk vila mereka yang sangat terbuka.

Hop in!” Cedrik menepuk kursi penumpang Rubicon Arsa dan Ares langsung melompat naik dengan ceria, duduk dengan pintar di atasnya. Menatap Cedrik senang, memiliki teman baru.

Cedrik membuka pintu garasi, mendorongnya sebelum bergegas menaiki jeep Arsa dan menyalakan mesinnya yang menggeram. Menurunkan rem tangan, dia lalu memasukkan persneling. Menginjak gas dan mengeluarkannya dari garasi, berhati-hati agar tidak menggores badan mobil ke dinding karena garasi mereka begitu pas-pasan dengan ukuran mobil mereka. Berhasil memarkirnya di jalan depan rumah, Cedrik kemudian bergegas menutup garasi dan menggemboknya. Melambai pada Bubble yang masih duduk di depan pintu, menunggu Cedrik lenyap.

“Anak pintar,” Cedrik tersenyum dan mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Ares ketika dia mengenyakkan pantatnya di kursi pengemudi.

Menginjak gas, dia meluncur ke klinik hewan Nikolas. Dia mengenal dokter itu sejak lama, dia dokter Bubble di Bali. Lalu Maple, lalu Boba, Gnocchi, dan sekarang Ares. Setahunya dia memiliki banyak klien ekspatriat di Bali—berkeliling memberikan home service karena hewan-hewan yang diurusnya berukuran antara sangat besar atau sangat kecil, sangat kuat atau sangat ringkih; tidak mungkin dibawa ke kliniknya.

Cedrik mengingat-ingat wajahnya selain foto profil Whatsapp-nya. Menyadari bahwa Nikolas menarik, memiliki senyum yang manis dan dia sangat ahli mengurus hewan. Hal yang paling diingatnya dari Nikolas adalah tindik permata mungil di hidungnya; mungkin karena dia bekerja untuk dirinya sendiri, cukup besar dan bernama maka dia memutuskan untuk bertindak sesukanya.

Satu-satunya obrolan yang pernah mereka jalin adalah ketika menyadari bahwa Nikolas keturunan Chinese sama dengannya dan membicarakan marga mereka. Selain itu, Cedrik tidak yakin mereka banyak mengobrol karena Nikolas selalu sibuk dengan semua anjing dan Arsa—mengobrol dengan sahabat Cedrik membicarakan keadaan anjing-anjingnya.

Atau aku yang tidak memerhatikan? Pikirnya, berkendara dengan mulus di atas jalan dengan Ares di sisinya, melongokkan kepalanya ke luar jendela—menikmati angin jalanan. “Jangan terlalu jauh, Ares.” Cedrik meraih tali lehernya, menariknya sedikit agar Ares menuruti maunya.

Anjing itu menyalak ceria sekali, menuruti kemauan Cedrik dengan menarik sedikit lehernya. Cedrik mengalungkan tali lehernya di pergelangan tangannya, menjaga-jaga jika Ares memutuskan untuk menjulurkan leher semakin jauh ke luar. Cedrik tidak mau kepalanya dijadikan jaminan di neraka jika terjadi sesuatu pada Ares karena Kinan menyayangi anjing ini lebih dari pasangannya sendiri.

Prospek sarapan bersama Nikolas tidak terdengar buruk. Cedrik juga butuh teman untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian semalam. Mungkin sarapan sebentar dengan Nikolas akan membantunya. Mereka bisa membicarakan hal-hal sederhana tentang binatang mungkin? Pekerjaan? Karena Cedrik, sepanjang ingatannya, belum pernah benar-benar mengobrol dengan Nikolas. Hanya saling tersenyum ramah dan mengangguk ketika bertemu mata. Mungkin Cedrik harus memiliki teman di luar pekerjaannya sendiri untuk memberi suasana baru dalam hidupnya.

Mereka tiba di klinik Nikolas beberapa puluh menit kemudian, Cedrik meluncur ke parkirannya. Memarkir mobilnya di sisi Rubicon putih Nikolas lalu mengajak Ares turun. Mobil Nikolas mengumumkan betapa banyak uang yang mungkin didapatkannya dari klien-kliennya. Arsa tidak membayarnya murah untuk bertanggung jawab atas lima anjing rasnya.

Dia mengeluarkan Ares dari mobil, menguncinya lalu beranjak ke pintu klinik. “Halo, selamat pagi.” Cedrik mendorong pintu kaca gandanya, bertemu dengan karyawan Nikolas di belakang kasir. “Saya ada janji dengan Dokter Nikolas?” Tambahnya, mengeluarkan buku periksa Ares. “Ares.”

Gadis ramah di balik komputer tersenyum. “Oh, ya!” Katanya, menjulurkan tubuhnya ke balik meja—ke Ares yang duduk dengan manis di sisi Cedrik. “Halo, Ares!” Sapanya lalu menatap Cedrik. “Dokter di dalam, langsung saja masuk.”

Cedrik mengangguk, berterima kasih dan menarik lembut tali Ares. Anjing itu bergegas mengikuti Cedrik meluncur melewati lorong ke arah ruang praktik. Melewati lorong terisi kandang-kandang yang bersih, anjing-anjing di dalamnya bangkit dan menatap Cedrik tertarik ketika dia lewat dan Cedrik tersenyum—belum pernah melihat anjing sebanyak ini. Tidak tahan untuk tidak mengulurkan tangan pada yang terdekat, membiarkan pomeranian sewarna kopi di dalamnya mengendus jarinya.

Tempat untuk kucing dan anjing dipisahkan, Cedrik juga melihat ada beberapa kandang lain yang terisi kelinci jenis Holland loops, berdiri dengan kaki belakang mereka mengendus udara. Tersenyum kecil, Cedrik merasa lebih baik. Binatang peliharaan selalu membuat hati siapa saja hangat, memiliki teman yang tidak akan meninggalkan mereka atau menilai setiap keputusan mereka—kecuali Boba, dia ahli melakukannya. Dia jarang menemukan pet hotel yang menerima kelinci di Bali karena binatang itu sangat high maintenance dan belum banyak yang menyadari cara perawatan kelinci yang benar.

Tempat itu lumayan besar, ada pet shop di bagian depannya, ruangan Nikolas berada di belakang dengan beberapa kandang terisi anjing-anjing yang dititipkan di sana serta ruangan grooming. Arsa selalu membawa semua anjingnya ke sini setidaknya dua bulan sekali untuk grooming dan trimming bulu mereka—khususnya Boba yang mudah tersedak bulunya sendiri.

Ruangan Nikolas di belakang, terbuka dan terang. Pintunya terkuak sedikit, Cedrik bisa melihat tangannya dari luar sedang menulis sesuatu dan bicara dengan seseorang. Cedrik menunggu sejenak di luar pintu, menatap ruangan grooming yang masih kosong karena ini terlalu pagi.

“Dikembalikan ke kandangnya, ya? Hati-hati.” Kata Nikolas sayup-sayup dari dalam sana dan pintu mendadak terbuka, seorang asisten melangkah keluar mendorong troli.

Keduanya terkesiap saat saling berpandangan sebelum asisten itu tertawa kecil, meminta maaf. “Silakan, Kak. Dokter di dalam.” Katanya tersenyum, mendorong pintu semakin terbuka—mempersilakan Cedrik masuk.

“Oh, halo.” Cedrik mengangguk, melirik ke troli yang dibawanya dan menemukan seekor Scottish Short Hair sedang tergolek tidak sadar, ada bekas luka di perutnya.

“Siapa?” Tanya suara dari dalam dan Cedrik menoleh, persis ketika Nikolas menjulurkan tubuhnya untuk melihat ke luar ruangan—mata mereka bertemu dan Cedrik otomatis tersenyum.

“Pagi, Dok.” Sapanya lalu membimbing Ares masuk ke dalam ruangan, namun anjing itu sepertinya paham ruangan Nikolas sangat mengancam—memutuskan untuk duduk di sana, menolak melangkah. Mendesah panjang, Cedrik mengusap kepalanya. “Ares, ayo.”

Great Danes di kakinya membalas tatapan Cedrik lalu melengos. Tidak sudi disuruh masuk ke ruangan Nikolas. Cedrik kembali mendesah dan Nikolas menghampirinya dari balik meja, tertawa kecil. Dia mengenakan kemeja putih kotak-kotak di tubuhnya dengan celana jins santai—menggenggam sarung tangan lateks di tangannya. Cedrik mengangguk padanya, tersenyum ketika dia berdiri di sisi Cedrik. Dia membawa aroma seperti Baccarat Rouge 540. Kayu-kayuan manis, sedikit almond, dan cedar.

Dia tidak lebih tinggi dari Cedrik, mungkin sekepala lebih pendek. Rambutnya gelap, ujung-ujungnya kemerahan karena terlalu sering terpapar matahari dengan ikal-ikal berantakan. Berusaha untuk disisir rapi, namun ikalnya pasti sangat keras kepala karena kembali mencuat keluar. Tindik permata kecil di hidungnya berkilauan ketika dia tersenyum dan berjongkok di sisi Ares.

“Halo, Ares?” Sapanya kemudian, mengulurkan tangan dan membiarkan Ares mencium aroma tangannya. “Ayo, kita masuk sebentar, yuk? Tidak akan sakit, tenang saja. Hanya sebentar, janji.”

Cedrik tidak bisa menahan senyumannya mendengarkan lelaki dewasa mengubah suaranya menjadi sedikit kekanakan untuk bicara dengan binatang. Nikolas kemudian mengusap kepala Ares sayang, terus bicara dengannya dalam suara anak-anak buatan sebelum akhirnya Ares menjilati tangannya dengan ekor bergoyang ceria—mengenal Nikolas.

“Persahabatan kalian tidak akan lama.” Cedrik tidak bisa menahan diri untuk berkomentar dan Nikolas tertawa, suaranya sedikit berat. Paham bahwa detik Ares menyadari bau Nikolas disertai sakit menikam karena jarum suntik, Ares pasti akan membencinya sama seperti semua anjing Arsa lainnya.

“Yah,” Nikolas kemudian berdiri—menghamburkan aroma parfumnya sekali lagi dan Cedrik otomatis menarik napas. Dokter muda itu menyuka rambutnya lalu mengulurkan tangan, meminta tali leher Ares. “Setidaknya aku sempat nampak memesona di matanya.”

Cedrik tertawa, meletakkan tali itu di tangannya dan mengizinkan Nikolas membimbing Ares masuk. Nikolas menggendong Ares naik ke atas meja periksanya, mengusap-usapnya sayang dan mengajaknya bercanda. Ares nampak menyukainya, menyalak ceria ketika Nikolas mengusap kepalanya dan memeluk lehernya.

“Anak pintar, anak pintar.” Puji Nikolas, tertawa lalu menaikkannya ke atas timbangan. “Silakan duduk, Chef. Anggap saja rumah sendiri.” Dia tersenyum pada Cedrik yang menarik salah satu kursi di depan mejanya dan mendudukkan diri di sana.

“Chef membawa bukunya?” Tanya Nikolas dan Cedrik mengangguk, mengeluarkannya dari saku celananya. Dia berdiri, mengulurkannya ke Nikolas yang menerimanya.

“Surat-suratnya?” Tanya Nikolas kemudian dan Cedrik mengerjap—tidak ada yang memberi tahunya untuk membawa surat-surat adopsi Ares tadi. “Oh.” Nikolas menyadari kesalahannya dan tergelak kecil, merona tipis. “Saya lupa memberi tahu Chef tadi. Tidak apa-apa, nanti akan saya minta Pak Kinan mengirimkan fotonya saja.”

Saya, Cedrik menyadari. Tadi dokter itu menggunakan aku untuk menyebut dirinya sendiri, mungkin kelepasan dan sekarang kembali bersikap profesional. Cedrik sejujurnya tidak keberatan dengan aku, merasa lebih ringan daripada saya. Tapi dia tidak berkomentar, merasa belum terlalu akrab dengan Nikolas untuk melakukannya.

“Maaf, Dok.” Ringisnya, Cedrik tidak pernah mengurus anjing jadi dia tidak tahu dokumen apa yang harus dibawanya untuk ke Vet selain buku periksa Ares yang diberikan Kinan.

“Tidak masalah, Chef.” Nikolas melemparkan senyuman hangatnya sekali lagi sebelum memasang sarung tangan lateks—membuat suara-suara menggemaskan untuk menghibur Ares di meja. “Saya masih akan bertemu Ares di lain-lain kesempatan.”

Cedrik mendudukkan dirinya kembali. Menonton Nikolas memeriksa kondisi kesehatan Ares. Mengecek telinganya, kondisi kulitnya, giginya, liurnya; dia tidak melewatkan hal sekecil apa pun. Tangannya yang terbalut sarung tangan lateks bergerak di tubuh Ares sambil sibuk mengajak anjing itu mengobrol. Setelahnya, Nikolas meraih pulpen dan mulai menulis di buku Ares sambil mengusap-usap punggungnya.

Dia kemudian memberikan vaksin untuk Ares. Sesuai dugaan, membutuhkan bantuan Cedrik untuk memeluknya dan menjaganya tetap diam karena dia menyadari benar spuit yang digunakan Nikolas.

“Nah,” Cedrik tergelak, memeluk Ares di atas meja—berhadapan dengan Nikolas yang mendesah panjang, suntikan di tangannya. “Inilah saatnya dia membencimu.”

Nikolas ikut tertawa, menatap Cedrik sebelum menunduk ke Ares. “Mau bagaimana lagi. Menjadi dokter hewan berarti menyukai binatang sekaligus dibenci oleh mereka semua.” Keluhnya dan Cedrik tersenyum lebar.

Nikolas kemudian mengangkat lapisan lemak di tengkuknya lalu menyelipkan suntikan ke sana—cepat dan singkat. Menyelesaikannya bahkan sebelum Cedrik mengedip. Namun Ares sangat menyadarinya dengan menyalak keras, kaget oleh sakitnya jarum suntik. Dia mendengking panjang, menyusupkan kepalanya ke bawah ketiak Cedrik—mengadu.

“Aduh,” Nikolas tertawa, mematahkan jarum suntik di spuitnya lalu memasukannya ke dalam kemasan aman dan melemparnya ke kantung sampah medis. “Jangan dramatis begitu.” Dia mengulurkan tangan mengusap Ares lembut. “Sudah selesai, kok.”

Cedrik tertawa, ikut mengusapnya—menenangkan Ares yang gemetar. “Jangan sampai dia mengadu ke Kinan tentang ini.” Guraunya dan Nikolas tertawa.

Dia melepas sarung tangannya, membuangnya lalu mendongak menatap Cedrik yang memeluk Ares di atas meja. “Jadi,” katanya berdeham. Cedrik membalas tatapannya. “Saya punya sekitar satu jam sebelum visit?”

Cedrik berpikir sejenak. Menoleh ke binatang-bintang di kandang yang sedang dititipkan, melihat beberapa karyawan mulai mengeluarkan kelinci-kelinci dari kandang untuk memberikannya kesempatan meregangkan kaki. Cedrik tidak pernah pergi ke tempat selain kosan dan pekerjaannya, mungkin menemani Abhimanyu. Makan, ke bistro, ke bar, dan sekali kemarin, ke taman safari.

Dunia Nikolas berbeda dengan kehidupannya dan Cedrik berpikir, apakah dia boleh setidaknya satu hari ini saja menghabiskan waktunya menjauh dari segala sumber stresnya? Pprospek kembali ke kos atau ke rumah Arsa sama sekali tidak menarik. Dia tidak mau sendirian dan terpaksa memikirkan Abhimanyu dan kejadian semalam.

Otaknya yang malang harus diistirahatkan. “Ke mana saja Anda akan visit hari ini?” Tanyanya kemudian, menghela napas.

Alis Nikolas naik sebelah mendengarnya. Sesuatu berkilat di matanya, terlalu cepat dan Cedrik tidak sempat menangkapnya. “Klien saya, di Nusa Dua. Mereka punya tiga Siberian Husky. Lalu ke Canggu untuk mengecek Chow Chow, mengantar salah satu kelinci Holland loops kembali ke rumahnya di Ubud. Lumayan sibuk.” Jelasnya, menatap Cedrik yang sejenak berpikir.

Mengedikkan bahu, Cedrik tersenyum. Lebih baik dia mencari kegiatan daripada mengasihani dirinya sendiri. “Apakah Anda membutuhkan asisten untuk hari ini?”


L'Agneau pour le table 2, s'il vous plait!”

Abhimanyu mendongak, menoleh ke Argha yang mendorong piring makanan ke anak servis yang bergegas mengambilnya dan berlalu keluar. Servis mereka hari ini naik beberapa persen karena walk-in guest, mengisi meja-meja di area merokok dan menikmati suasana malam Seminyak yang semakin ramai. Karena flow yang rendah, Abhimanyu diperbantukan di section, mengecek dan mengoreksi pekerjaan commis mereka. Argha berdiri sendiri di meja plating menyelesaikan pesanan.

Tadi mereka sudah dihajar pesanan reservasi, mengerjakan plating-nya bertiga ditemani Diadari. Mereka menjejerkan piring di atas meja panjang dan menata makanan dengan hati-hati karena semua piring harus keluar bersamaan. Abhimanyu merasa dia sudah menatap kentang nyaris selamanya, hingga di titik dia tidak mau makan kentang setidaknya seminggu ke depan ketika menegakkan diri dan terserang migren ringan—kelelahan. Tapi syukurlah makanan berhasil disajikan tepat waktu; semua piring keluar bersamaan dan tidak ada masalah sama sekali.

Argha memimpin tim dengan sangat cekatan dan tegas. Membagi semua orang menjadi tim-tim kecil yang harus fokus hanya pada pekerjaan mereka; membuat semua kondimen makanan selesai bersamaan dengan memberikan mereka tenggat waktu, memaksa Abhimanyu dan Diadari menunduk terus ke atas piring untuk menata makanan. Rasanya sudah berjam-jam hingga akhirnya piring-piring diangkat oleh anak-anak servis dan disajikan bersamaan. Abhimanyu bersandar di atas meja, tersengal karena itu servis paling intens yang pernah dilakukannya selama di Gourmet.

Cara Argha memimpin sangat berbeda dengan Arsa, namun sama efisiennya. Arsa jauh lebih keras ketika bekerja di bawah tekanan, suaranya meninggi dengan mudah namun Argha tetap tenang—suaranya tidak ditinggikan karena dia marah atau stres, tapi dia ingin timnya mendengar suaranya. Alisnya tidak berkerut sama sekali dihada