Gemati 202
tw // mention of depression , halucination , atheism .
// be careful with your heart :p
Argha cemas.
Bukan mengenai dirinya sendiri dan surat teguran yang akan ditanda tanganinya sekarang, namun tentang Abhimanyu. Dia melangkah di sisi Argha, wajahnya kencang dan Argha bisa melihat jemarinya saling membelit dengan cemas. Argha menghela napas, kecemasan anak ini lumayan menyulitkan dan Argha tidak yakin apakah kedepannya hal itu tidak akan memberikannya masalah.
Selama bekerja dengan Abhimanyu, bahkan kemarin ketika mereka ditekan begitu kuat oleh tenggat waktu menyajikan makanan, anak itu masih bekerja dengan baik. Tidak goyah sama sekali. Argha berpikir mungkin kecemasannya itu memiliki pemicu yang sama sekali berbeda—bukan pekerjaan.
Mereka berhenti di depan ruangan Arsa yang terbuka sedikit dan Argha menghela napas. Dia sebenarnya sudah menyelesaikan masalah ini kemarin selepas servis. Memanggil commis yang bertanggung jawab di section pasta, helper yang membuat gnocchi, juga anak servis yang menyajikan makanan itu. Mewawancarai mereka tentang self-hygiene mereka ketika bersinggungan dengan makanan.
Kondisi rambut di makanan itu berada di atas saus pasta, menyelip. Tidak panjang namun tetap saja merupakan pelanggaran berat. Mengeliminasi helper yang mengerjakan pasta, menyisakan commis dan anak servis. Mengeliminasi commis juga karena dia mengenakan pelindung kepala selama bekerja—Abhimanyu menjaminnya. Argha lebih yakin itu rambut anak servis namun anak itu nampak tidak tahu jika rambutnya jatuh ke makanan.
Perut Argha mulas membayangkan jika Arsa mendengar masalah ini. Dia akhirnya merasa adil jika memberikan ketiganya surat teguran; berharap dengan ini ketiga divisi bisa saling membantu mengingatkan sebagai efek pengguncang agar timnya bergerak lebih waspada.
Tidak yakin bagaimana Arsa akan menyikapi ini.
Argha mengangkat tangannya, menghela napas lalu mengetuknya. “Chef.” Panggilnya.
“Ya, silakan masuk.” Balas Arsa dari dalam sana dan Argha menoleh ke Abhimanyu yang nampak semakin resah; tanpa disadarinya tengah menggigiti kuku ibu jarinya.
Sesuatu berdenting di kepala Argha ketika menyadarinya. Abhimanyu tidak cemas mengenai pekerjaan, itu jelas. Karena dia mencemaskan Arsa—bagaimana atasannya itu bereaksi atas pekerjaannya. Kekecewaan Arsa adalah pemicu kecemasannya. Jika mengingat bagaimana Abhimanyu hingga tiba di titik ini, Argha tidak lagi kaget. Dia baru menyelesaikan pendidikannya dan langsung dibimbing oleh chef ternama—di dapur Michelin pula. Tekanan di bahu Abhimanyu pasti berat sekali.
Padahal terlepas dari itu, Abhimanyu adalah juru masak berbakat. Di usianya yang semuda itu, dia bisa bekerja di dapur Michelin selama dua tahun tanpa sinting. Mungkin hanya perlu lebih lembut pada dirinya sendiri, tidak menghukum diri dengan begitu brutal. Argha sangat terkejut melihatnya memukul kepalanya sendiri ketika cemas.
“Kau siap?” Tanyanya ke Abhimanyu, mau tidak mau sedikit cemas pada keadaannya.
Abhimanyu mengerjap. Nampak baru menyadari bahwa dia sedang menggigiti kukunya dan bergegas menurunkan tangannya. “Tidak, Chef. Tapi mari selesaikan.” Gumamnya.
Argha menghela napas, mendorong pintunya. Ruangan Arsa selalu terasa mencekam ketika mereka memasukinya untuk menerima teguran keras. Argha lelah sekali mendapat teguran di bulan awalnya bekerja, merasa semua keahliannya yang tertulis di CV-nya sama sekali tidak relevan. Entah apakah fokus Argha dalam bekerja yang mulai menurun atau standar Arsa memang berbeda dari semua tempat yang pernah disinggahinya.
Argha yakin dia sudah kehilangan beberapa kilo bobot tubuhnya belakangan ini karena stres berusaha mengejar ketertinggalannya di Le Gourmet. Merasa tubuhnya sedikit lebih ringan. Dan dia benci ketika tubuhnya menyusut, Argha selalu menjaga bobotnya sesuai dengan tinggi tubuhnya selama ini. Dia harus belajar memanajemen stresnya dengan baik.
Masa percobaan Argha akan selesai sebentar lagi. Arsa akan meninjau hasil kerjanya selama tiga bulan masa adaptasi Argha dan sekarang dia sudah lumayan memahami standar Arsa—menemukan celahnya untuk bergabung ke dalam ritmenya. Jika Arsa tidak memutuskan untuk membatalkan kontrak mereka karena masalah rambut sialan ini.
Kinan duduk di sofa, menyilangkan kakinya dan Argha menyadari bahwa itu formasi kesukaan mereka untuk menegur seseorang. Arsa di balik meja, Kinan di sofa terjauh dari meja—menatap karyawan mereka dingin. Arsa mengenakan seragam Le Paradis-nya yang licin, duduk di balik meja dengan kedua lengan terlipat di atas meja, ekspresinya membuat perut Argha menegang.
Ini masalah serius, Argha tahu. Apalagi dia luput untuk memberikan kompensasi pada tamu mereka karena terlalu sibuk memikirkan siapa yang bertanggung jawab atas kesalahan itu dan bagaimana menjelaskannya pada Arsa dan berdoa—pada siapa atau apa saja yang ada di atas sana, agar Michelin tidak berkunjung hari itu. Lupa melihat permasalahan dalam lingkup lebih besar.
Argha tidak paham apa yang terjadi padanya belakangan ini, fokusnya menurun sekali.
“Kau sebentar lagi empat puluh. Sudah jelas kenapa.” Sahut Sebastien kalem ketika Argha mengeluhkan itu, setelah mereka bercinta di atas ranjang dan mengaduh keras ketika Argha menendang perutnya main-main. Lelaki itu tergelak, berguling menjauhinya di ranjang.
Tapi tidak bisa tidak memikirkannya. Apakah memang karena usianya sebentar lagi empat puluh? Itukah mengapa fokusnya menurun?
“Silakan duduk, Chef.” Arsa melambaikan tangan ke kursi di hadapannya, wajahnya keras dan dingin.
“Restoran ini hadiah ulang tahun Chef Arsa untuk Pak Kinan, Chef.” Kata Abhimanyu dengan parau, kentara sekali cemas tadi ketika mereka melangkah keluar dan Argha menggertakkan giginya—dia mengacau di restoran yang memiliki nilai sentimentil untuk keduanya.
Jika dia keluar dari ruangan Arsa dengan leher masih terpasang, itu adalah keberuntungan.
“Jadi,” kata Arsa ketika semua orang sudah duduk dan Argha merasakan sekali tatapan Kinan di punggungnya—dia pasti jengkel sekali karena ini restoran hadiah ulang tahunnya. “Siapa yang memasak pastanya?”
Argha mengulurkan dokumen di tangannya, tiga lembar surat teguran untuk ketiga anggota timnya. Arsa menerimanya dan Kinan beranjak, mendekat ke sisi pasangannya untuk ikut membacanya. Sejenak Arsa diam, mencermati isi dokumen itu dengan alis berkerut. Ketika dia marah, dia terlihat seperti binatang eksotis. Dingin, berjarak, dan... mencekam. Sangat bertolak belakang dengan pembawaannya yang biasa; ringan, ramah, dan hangat.
“Oke,” Arsa meletakkan dokumen di meja dan menatap semuanya. “Jadi semalam rambutnya ditemukan di saus pastanya yang dimasak oleh commis.” Dia menatap commis yang duduk di sisi Abhimanyu.
Commis itu bergegas mengangguk. “Tapi saya tidak melepas penutup kepala saya sama sekali, Chef.” Katanya, setengah mencicit dan Abhimanyu mendukung jawabannya dengan mengangguk.
“Saya sendiri yang mengecek semua orang di dapur selama servis, Chef.” Katanya dan Argha melirik tangan Abhimanyu di pangkuannya—melihat jemarinya kini mulai merobek kutikulanya.
Argha gatal ingin menjauhkan tangannya namun berhasil menahan diri.
“Jika begitu,” Arsa menatap Argha yang langsung berdeham—tidak nyaman dengan tatapan mata Arsa yang dingin. “Kenapa Anda memberikan surat teguran pada helper yang mengerjakan pastanya, Chef? Saya rasa jika rambutnya berada di saus pasta, dia tidak terlibat.” Arsa menghela napas, seolah sedang bicara dengan orang bodoh.
Dan Argha tidak suka itu. Bagaimana dia bisa membuat seseorang merasa kecil bahkan tanpa menaikkan suaranya. Hanya dari ekspresi, nada suara, dan tatapannya. Dengan sengaja memelankan suaranya, seolah mendiktekan tugas Argha. Pada chef senior yang sudah bekerja di dunia kuliner selama nyaris dua puluh tahun.
“Saya berharap dengan itu setiap divisi akan bisa bekerja lebih awas lagi, Chef.” Sahut Argha, menjelaskan maksudnya dengan memberikan ketiganya surat teguran.
Mata Arsa memicing. “Jadi sistem Anda adalah dengan menghukum semuanya alih-alih menyelesaikannya dengan mengerucut lalu memberikan teguran pada satu orang?”
Argha membalas tatapannya. “Ya, Chef.” Balasnya tegas, tidak merasa itu adalah kesalahan. Dia ingin mendisiplinkan timnya dan jika caranya berbeda dengan apa yang Arsa lakukan, maka Arsa juga tidak berhak mengkritiknya.
Dia sendiri yang memberi tahu Argha bahwa Argha berkuasa sepenuhnya atas dapurnya—segala metode yang digunakannya untuk memimpin tim murni adalah urusan Argha.
Mereka berpandangan sejenak dan Argha bisa melihat amarah di mata Arsa. Dia jengkel dan tersinggung. Namun Argha membalas tatapannya, memberi tahunya bahwa segala hal di dalam timnya adalah urusannya. Arsa hanyalah supervisor sekarang. Pengawasnya, bukan lagi pemimpin dapur.
“Dan jika tidak ada yang mengaku, Anda akan memberikan surat teguran pada semua orang?” Tanya Arsa lagi, suaranya terdengar sangat berkuasa. Sangat alfa dan menuntut. “Itu logika dari cara Anda memimpin, benar?”
Argha mengangguk. “Ya, Chef.” Sahutnya, tegas. Tidak gentar sama sekali. “Jika tidak ada yang mau mengaku, maka dia baru saja membuat seluruh rekan timnya yang tidak bersalah untuk ikut bertanggung jawab.” Jelasnya, masih menatap mata Arsa. “Dengan kedekatan setiap orang di dalam satu tim, saya rasa cara itu sangat berguna.”
Alis Arsa terangkat sebelah. “Jadi, Anda memanipulasi kedekatan emosional mereka?”
Argha mengerjap, seketika mundur karena kaget. Tidak memikirkannya dengan cara itu. Dia hanya tahu bahwa ancaman selalu berguna untuk menghadapi murid bebal. “Ya, Chef.” Katanya tenang setelah mengendalikan dirinya, menatap Arsa. “Hanya saja, persepsi saya tentang ini bukanlah manipulasi.”
Arsa menatapnya, rahangnya bergerak ketika dia menggertakkan giginya. Kinan berdiri di sisi pasangannya, seperti singa betina yang akan melindungi rajanya. Bersidekap dengan tenang. Arsa tidak menerima alasan Argha, dia bisa melihatnya di kerlip mata gelap Arsa namun dia kemudian meraih pena.
“Alright.” Katanya parau, menandatangani surat teguran itu untuk ketiga anak buah Argha. “Saya sudah menyerahkan segala hal di dapur Le Gourmet kepada Anda.” Dia kemudian menyerahkan surat itu ke Kinan yang menerimanya—memprosesnya ke HRD.
“Lalu,” Arsa memulai lagi setelah pasangannya menyingkir. “Karena Anda gemar sekali mencari pembenaran diri,” tambahnya menyindir dengan pedas dan Argha menghela napas. “Apa pembelaan Anda mengenai kelalaian memberikan kompensasi atas makanan tidak layak saji kemarin?”
Argha melirik ke sisinya, anak buahnya masih berada di sini. Dia menyadari Arsa berniat melakukannya di depan semua rekan bekerja Argha—entah untuk mempermalukannya atau menunjukkan pada semua karyawannya bahwa semua orang yang bersalah diperlakukan sama.
“Sebenarnya, mungkin salah saya karena terlalu berharap banyak pada Anda, Chef.” Mulainya lagi, menghela napas kecewa dan menyandarkan tubuhnya di kursi. Tubuh Arsa kurus, kulitnya menggelap di beberapa bagian. Dia nampak nyaris terlalu eksotis untuk menjadi seorang Chef. Seperti petualang dengan bentuk tubuh atletisnya yang lentur.
“Lulusan Le Cordon Bleu Paris, bekerja di bawah beberapa hotel besar. Paris, Inggris, Jepang, Dubai, Maladewa. Semua rekomendasi Anda mengesankan sekali, Chef. Terlepas dari beberapa hal kecil dalam love affair Anda. Saya pikir,” Arsa menatapnya. “'Baiklah, kita ambil dia. Itu tidak ada urusannya dengan pekerjaan.'”
Argha menghela napas. Dia jauh lebih suka jika Arsa menaikkan suaranya—mengata-katai Argha saja dibanding melakukan ini. Bicara dengan tenang, namun semuanya menyakitkan. Memberikan lebih banyak sakit hati dibanding teriakan. Dan dilakukan di depan anak buah Argha, membiarkan mereka mendengarkan kekecewaan Arsa. Mendengarkan kesalahan Argha.
Ini kali pertama Argha ditegur atasannya di depan anak buahnya. Dan rasanya sama sekali tidak mengesankan. Malu, tidak nyaman, jengkel.... Argha juga bisa merasakan anak buahnya tidak nyaman mendengarkan atasan mereka ditegur di depan mereka.
“Saya memaafkan kasus kemarin dengan Abhimanyu. Walaupun itu sama sekali bukan urusan pekerjaan. Juga kasus anggur Anda.” Mulai Arsa lagi, mengingatkan hadiah anggur putihnya untuk Kinan berjuta tahun lalu dan Argha merasa baru saja ditonjok persis di ulu hati—melirik Abhimanyu yang memucat ketika kasusnya dengan Argha dibawa naik kembali.
“Tapi saya rasa maaf pun ada batasnya, ya.” Tambah Arsa, terdengar sangat kecewa hingga Argha mengencangkan otot perutnya menerima limpahan emosi itu.
Arsa sama sekali tidak menaikkan suaranya. Datar saja, namun pekat oleh sindiran dan kekecewaan. Menikam Argha dengan rasa bersalah hebat di hatinya, juga amarah karena dia tahu dia bisa bekerja lebih baik dari ini. Dia melirik Abhimanyu di sisinya. Jika ini adalah jenis kemarahan yang diterima Abhimanyu setiap dia bersalah, Argha tidak lagi kaget pada efeknya. Belum lagi fakta bahwa Abhimanyu sangat mengidolakan Arsa.
“Ya, Chef.” Sahut Argha, berusaha membuat suaranya terdengar tenang walaupun perutnya menggelegak oleh rasa cemas. “Itu murni kesalahan saya karena lupa menawarkan kompensasi atas kekecewaan pelanggan.” Dia mengepalkan tangannya di atas pahanya, membiarkan kuku-kukunya menancap di telapak tangannya. “Saya paham.”
Arsa menatapnya, menilai dari ekspresi Argha apakah dia benar-benar memahami perkataan Arsa tadi atau tidak. Ruangan sejenak hening, tidak ada yang berani bernapas keras. Jantung Argha mulai bertalu-talu, berusaha keras tidak memikirkan apa akibat dari kesalahan fatalnya hari ini. Tidak mau memikirkan bahwa dia harus segera mencari pekerjaan baru.
“Ini bulan terakhir masa percobaan Anda di dapur saya, Chef.” Arsa menarik selembar kertas dari lacinya dan Argha menarik napas tajam—tidak suka pada arah pembicaraan ini.
Argha hendak membuka mulut, menjawab perkataan Arsa ketika seseorang meraih tangannya. Dia berhenti. Telapak tangan itu dingin dan basah oleh keringat. Alarm berdering nyaring di kepalanya—jijik oleh sentuhan itu, jijik membayangkan keringat yang menempel di tangannya. Sudah hendak menyentakkan tangannya dari genggaman itu jika saja dia tidak menunduk, menatap siapa yang menggenggam tangannya.
Abhimanyu.
Napas Argha berhenti sejenak. Tidak yakin bagaimana harus menyikapi sentuhan pertama dari Abhimanyu itu—yang walaupun mengirimkan rasa jijik di kepalanya alih-alih rasa hangat karena Abhimanyu sedang gelisah serta cemas.
Dan sebelum Argha sempat membela dirinya ke Arsa atau menanggapi sentuhan Abhimanyu atau bahkan mengumpulkan kesadarannya yang terpencar berantakan karena kaget, Abhimanyu membuka suara.
“Saya rasa Chef Argha berhak mendapat kesempatan lagi untuk membuktikan dirinya, Chef.” Katanya, ujung kalimatnya sedikit bergetar tapi tekad yang berkilat di bola mata sewarna karamelnya membuat Argha menahan napas.
Genggaman Abhimanyu di tangannya menguat dan Argha menyadari tatapan Kinan dari balik punggung mereka. Sesungguhnya, bahkan Argha sendiri tidak paham apa yang dilakukan Abhimanyu. Bukankah dia... membenci Argha?
Argha menunduk, menatap tangannya yang digenggam tangan Abhimanyu. Menyadari bentuk kukunya yang setengah membulat, pendek, dan penuh luka-luka kecil karena kegemarannya merobek kutikulanya. Lalu mengangkat wajahnya, menatap Abhimanyu yang sedang menatap Arsa.
“Karena kepemimpinan Chef Argha di dapur, dari pengamatan saya, sangat baik. Saya tahu kesalahan ini fatal sekali,” Abhimanyu nyaris tidak berhenti untuk menarik napas, meracau di depan Arsa yang nampak sama kagetnya dengan Argha. “Tapi saya rasa Chef Argha mungkin belum menunjukkan kekuatan terbaiknya dalam tiga bulan ini. Belum membuktikan diri sepenuhnya pada Anda, menunjukkan performa maksimalnya.”
Seluruh ruangan masih hening ketika Abhimanyu selesai bicara. Dia mencengkeram tangan Argha kuat-kuat di atas paha Argha. Dan chef senior itu harus menggertakkan rahangnya agar tidak menepis tangan Abhimanyu—dia tidak paham OCD Argha dan bersikap demikian hanya akan menimbulkan kesalahpahaman lain di antara mereka.
Tidak sekarang ketika hubungannya dan Abhimanyu mulai membaik.
Abhimanyu berdeham. “We as his team feel like we have just let him down by not giving our best peformance to support him. I'm sure there's more in him that he would love to show you, Chef.”
“Jadi,” Abhimanyu menarik napas dan tangannya begitu dingin di tangan Argha.
Melawan keinginannya sendiri untuk menepis tangan itu, Argha membalik telapak tangannya. Membalas genggamannya dan Abhimanyu mengerjap—sejenak melupakan kalimat dalam pidatonya. Argha menyelipkan jemarinya ke sela jemari Abhimanyu—memberikan dirinya sendiri kemewahan untuk menggenggam tangannya.
Hal yang sangat diinginkannya sejak pertama kali bertemu Abhimanyu di Starbucks Reserve Dewata di awal kedatangannya ke pulau yang dingin ini; tidak memiliki teman, sendirian, dan kebingungan. Kehangatan Abhimanyu yang menggodanya mendekat. Menyentuhnya. Meyakinkan dirinya sendiri bahwa Abhimanyu nyata—bisa disentuh, dipeluk.
Abhimanyu berdeham, rahangnya mengencang dan hati Argha berdesir lembut ketika Abhimanyu membalas genggaman tangannya. Argha tidak memahami kondisi apa ini, namun dia tidak keberatan terjebak di sini; dalam perangkap pesona yang ditebar Abhimanyu di hadapannya. Bahkan melompat dengan senang hati ke dalamnya. Menceburkan dirinya.
“Saya mohon Chef bisa memberikan Chef Argha kesempatan sekali lagi.”
“Nyet.”
Cedrik membuka sebelah matanya, melihat sahabatnya memasuki ruangan dengan wajah kencang. Dia membuka kancing seragamnya yang mencekik, nampak tidak senang. Cedrik sedang berbaring di sofa ruangannya, menunggunya kembali dari Seminyak.
“Oh, hai, Jing.” Balas Cedrik, kembali memejamkan mata—merasa kepalanya berdenyut. “Sudah marah-marahnya?” Tanyanya, mendengar Arsa bergerak-gerak berisik dan membuka sebelah matanya lagi.
Melirik sahabatnya yang sedang menepuk semua saku di pakaiannya dengan wajah berkerut jengkel. Mulutnya terbuka, umpatan sebentar lagi akan terjun dari sana—mengatai semua orang dengan nama-nama binatang. Maka Cedrik bergegas merogoh saku celananya sendiri, mengeluarkan kotak rokok dan korek api. Memberikan sumpal untuk mulut Arsa.
“Here you go.” Katanya, mengulurkan tangannya tanpa menoleh dan mendengar sahabatnya mendesah keras dengan lega, tergesa meraihnya.
Ruangan Arsa memiliki jendela besar. Bisa dibuka jika dia ingin merokok walaupun Kinan tidak terlalu mengapresiasinya. Tapi dia bersikap bijak dengan mengizinkan Arsa melakukan apa saja yang diinginkannya alih-alih bersikap overprotektif seolah Arsa adalah bayi yang tidak bisa membedakan salah dan benar.
Arsa mematikan penyejuk ruangan dan membuka jendelanya. Membiarkan udara Ubud memasuki ruangannya sebelum menyalakan sebatang rokok. “Ah, bangsat.” Keluhnya setelah rokoknya menyala dan dia menghembuskan asap pertamanya. Mengenyakkan diri di sofa tunggal di seberang Cedrik.
“Bagaimana Gourmet?” Tanya Cedrik, bangkit dari posisi berbaring dan menatap Arsa yang melempar kotak rokoknya ke meja. Dia meraih sebatang dan menyulutnya juga.
Arsa menggerakkan tangannya dengan frustrasi. “Mari berharap saja Michelin tidak berkunjung.” Dia menyesap rokoknya lagi, bersandar di kursi dan memisahkan kakinya. Memijat pelipis seraya menatap langit-langit. “Dan bodohnya, Argha bahkan tidak repot-repot menawarkan kompensasi.”
Dari nadanya Cedrik yakin Arsa bisa merajang Argha dan memakannya mentah jika dia mau. Mendenguskan senyuman kecil, Cedrik meletakkan kembali rokoknya di atas meja. Menghembuskan asap rokok pertamanya ke arah jendela, menjauhi Arsa yang sejenak nampak kabur oleh asap yang menguar di depan wajahnya.
“Tell Cedrik,” kata Arsa kemudian, menyesap rokoknya dalam-dalam sekali lagi. Nampak sedikit tertekan dan Cedrik sejenak cemas pada keadaan kepala dan depresinya. “Am I wrong for expecting too much from Argha? He's 40!”
Cedrik tersedak asap rokoknya sendiri, tergelak keras. “Kau serius, ya?!” Serunya, menepuk dadanya sendiri berusaha menghentikan serangkaian batuknya dan mengerang karena pedih di hidungnya.
Arsa di depannya mendelik, menatapnya dengan tatapan 'ya, aku serius. Kau mau kukuliti, ya?'. “Ya.” Sahutnya. “Siapa tahu, maksudku.... Dia mulai pikun?”
Cedrik kembali tergelak. “Oh!” Dia tersengal. “Aku akan menganggap ini semua karena kinerjanya, sama sekali bukan sentimen pribadi karena dia mengendus di sekitar gebetan sahabatmu?”
“Kinerja, tentu saja.” Arsa mendelik. “Peduli setan siapa yang didekatinya—kecuali Kinan!” Dia bergegas mengangkat telunjuknya, memperingati Cedrik yang sudah membuka mulut hendak menggodanya.
“Tapi serius,” kata Cedrik setelah tawanya mereda seraya menjentikkan abu rokok di asbak. “Mungkin dia hanya belum bisa beradaptasi dengan standar kerjamu. Kau ingat bagaimana timmu berusaha melakukannya ketika pertama kali bergabung. Bahkan aku sendiri kesulitan.” Dia kembali bersandar di sofa, menyesap rokoknya.
Berteman dengan Arsa dan bekerja dengan Arsa adalah dua hal yang sangat berbeda. Dan Cedrik tidak siap ketika perbedaan itu menamparnya di bulan pertama bergabung di Le Paradis. Belum lagi bagaimana dia nyaris harus menjadi head chef menggantikan Arsa di hari soft opening Le Paradis dan bersumpah dia tidak mau menghadapi kesintingan yang sama lagi—seumur hidupnya.
Arsa berhati dingin. Tegas. Dan sinting. Standar bekerjanya benar-benar gila, Cedrik bisa melihat bagaimana timnya sempat kocar-kacir berusaha mengimbangi kecepatan Arsa dalam bergerak. Cedrik kehilangan satu kilogram di bulan pertamanya bekerja karena stres. Ketika itu Arsa masih dalam masa penyembuhan dari depresinya, lidahnya masih sangat kacau—rutin mengonsumsi antidepresan yang ternyata membuat Arsa menjadi bajingan berdarah dingin dan selalu mengantuk. Tidak bahagia, tidak marah, tidak cemas; kosong.
Dengan kekosongan emosi itu, dia memimpin tim. Menggerus semua orang menyesuaikan dengan standarnya, beberapa orang dipecat saat itu juga di tengah servis yang sibuk karena bergerak terlalu lambat. Semua orang stres di bulan pertama menghadapi Arsa, kaget. Bahkan sous chef seniornya yang sempat akan mengundurkan diri jika saja Kinan tidak memohonnya bertahan.
Baru dua bulan setelah Arsa resmi berhenti mengonsumsi antidepresan-lah, dia berubah sedikit manusiawi. Dan kala itu, timnya sudah sangat paham kinerja Arsa. Sudah beradaptasi sepenuhnya dengan Arsa, dapur bisa bergerak sesuai kemauan Arsa hingga berhasil meraih satu bintang Michelin.
Cedrik bergidik teringat perayaan akbar mereka ketika Michelin mengirimi mereka piagam tanda menyandang gelar bintang satu.
Cedrik yakin Argha harus mengalami masa transisi itu sebelum benar-benar bekerja dengan performa maksimalnya. Bahkan Kinan kehilangan bobot tubuhnya secara drastis ketika menemani masa depresi Arsa. Lelaki itu memang sangat menyusahkan dengan egonya yang sebesar bakatnya.
Jika Argha belum kehilangan bobot tubuhnya, maka dia belum resmi bergabung ke tim Arsa.
Arsa menggaruk keningnya, nampak resah dan jengkel karena Cedrik benar. “Yah, begitu juga menurut—” Ujarnya, hendak mengatakan sesuatu namun menghentikan dirinya sendiri. Matanya menatap Cedrik sejenak dan Cedrik membalasnya; alisnya naik, menunggu Arsa mengatakan sesuatu.
Namun sahabatnya berhenti, menelan kembali kalimat itu. “Menurut Kinan tadi.” Katanya dan Cedrik mengerutkan alis—menyadari Arsa sedang berbohong. Dan Arsa juga menyadari bahwa Cedrik tahu dia berbohong. “Aku berdiskusi dengan Kinan dan Abhimanyu tadi,” katanya akhirnya.
Alis Cedrik naik sebelah. “Dan?” Tanyanya, tidak memahami mengapa Arsa harus berbohong tentang Abhimanyu.
“Menurut Abhimanyu,” Arsa akhirnya bicara, rahangnya bergerak dan dia menatap Cedrik—menunggu reaksinya dan Cedrik bergeming. Tidak melihat ada yang salah dari second layer memberikan pendapat tentang supervisor-nya. “Aku harus memberikan kesempatan untuk Argha.”
Cedrik menyesap rokoknya. “Dan bagaimana menurutmu?”
Arsa menatapnya, menilai sejenak sebelum menyesap rokoknya lagi. “Kuberikan.” Sahutnya seraya menghembuskan asap rokoknya dan mematikan rokoknya yang sudah pendek. “Kurasa Abhimanyu lebih tahu hal ini karena bekerja bersamanya di dapur.”
“Ya, benar.” Cedrik menatap bara rokoknya sendiri—memikirkan perasaan janggal di hatinya tiap kali seseorang menyebutkan nama Abhimanyu.
“Lalu,” Arsa bergegas mengalihkan pembicaraan. Dia menatap sahabatnya ketika meraih sebatang rokok lagi, menyalakannya lalu menghembuskannya. “Apa yang ingin kaubicarakan padaku?” Tanyanya.
Cedrik menghela napas berat. “Kau tahu aku sangat mencintai Abhimanyu.” Mulainya, menyesap rokoknya dan Arsa berhenti—tidak menyangka kalimat pembukaan Cedrik akan segamblang itu. “Semua orang tahu,” koreksi Cedrik, menghela napas.
Dia lalu berusaha menjelaskan perasaan ini pada Arsa. Perasaan kosong aneh tiap kali menatap Abhimanyu, merasakan hubungan mereka yang merapuh dan Abhimanyu yang menjauh. Dia masih sangat mencintai Abhimanyu, Tuhan tahu seberapa hebatnya dia mencintai Abhimanyu. Masih ingin lelaki itu berada di hidupnya, berotasi di sekitarnya seperti bulan. Ingin melindunginya, memastikan dia baik-baik saja, menenangkannya tiap kali mendapat anxiety attack.
Namun, Cedrik manusia biasa.
Dia kelelahan.
Dan merasa bersalah karena kelelahan pada sikap Abhimanyu. Juga tidak paham apa yang membuatnya lelah selama ini. Semalam ketika dia tiba di kos Abhimanyu dalam keadaan dingin setelah berkendara dari Canggu ke Gianyar untuk mengambil mobilnya di klinik Nikolas, lalu melanjutkan perjalanannya ke Seminyak, dia merasa hatinya sangat hampa. Kosong.
Ketika dia memeluk Abhimanyu, menenangkannya, mengecup pelipisnya, dan menghiburnya hingga tidur; hati Cedrik kosong. Rasanya begitu menyiksa karena dia ingin terus merasakan cinta yang berdenyut hangat di hatinya untuk Abhimanyu. Dia takut jika dia mulai kehilangan rasa cinta itu, takut bahwa dia....
Mulai menyerah.
Arsa bangkit, mematikan rokoknya dan merengkuhnya ke dalam pelukannya. Tangisan Cedrik pecah dalam kungkungan aroma Arsa. Dia gemetar, nyaris menggigit lidahnya sendiri ketika berusaha menjelaskan perasaannya. Menjelaskan isi hatinya berharap Arsa memahaminya.
Cedrik tidak ingin menyerah. Tidak ingin mengingkari janjinya pada Abhimanyu bahwa dia tidak akan meninggalkannya seperti ayah dan kakaknya. Dia ingin terus menemani Abhimanyu, ingin pemuda itu terus membutuhkannya. Cedrik ingin menjaganya.
Dia tidak mau menyerah.
Dia begitu lama bertanggung jawab atas perasaan orang lain, berusaha menjaga orang lain dan tidak ada yang memperlakukannya sama hormatnya.
Harinya dengan Nikolas menyenangkan sekali, dia bertemu banyak binatang peliharaan yang manis. Mendapatkan suasana baru menemani Nikolas bekerja; merasa senang karena bertemu banyak orang baru alih-alih hanya berkutat di dalam ruangan berpendingin; berangkat bekerja sebelum matahari terbit dan pulang jauh setelah matahari terbenam. Bersama Nikolas, ada begitu banyak limpahan cahaya matahari. Binatang menggemaskan. Klien ramah yang menawari mereka makanan dan camilan. Berkendara berkeliling Bali, mengunjungi tempat-tempat waktu.
Namun ketika dia mendengar masalah Gourmet, jantungnya seketika mencelos. Rasa cemas pada kondisi Abhimanyu langsung merobek selubung bahagianya seharian. Merusak suasana hatinya, membuatnya merasa bersalah karena membuat Nikolas cemas.
Arsa mengusap punggungnya, menumpukan dagunya di atas kepala Cedrik yang menyandarkan keningnya di bahu Arsa. Membiarkannya menangis, tidak repot-repot menghibur Cedrik sama sekali. Hal yang disyukurinya karena Cedrik tidak ingin mendengar apa pun selain didengarkan. Dia melingkarkan lengannya di pinggang Arsa, memeluknya lebih erat—menggenggamnya untuk bertahan tetap waras ketika pintu terbuka dengan keras.
“Chef, saya—oh.”
Cedrik tidak mendongak, dia akan mengenali suara itu di mana saja—bahkan di neraka sekali pun. Dia akan menyeberangi lautan api demi merespons suara itu, menghampirinya. Memastikan dia bertemu keduanya: suara Arsa dan Kinan.
Dia mencium aroma parfum Kinan ketika dia memasuki ruangan dengan perlahan, menutup pintu dan bergerak. Mondar-mandir sebelum duduk di sisi Cedrik. Merasakan komunikasi tanpa suara kedua sahabatnya sebelum Kinan ikut memeluknya. Tangannya melingkar di pinggang Cedrik dan menyandarkan tubuhnya di punggung Cedrik—aroma parfumnya menyenangkan. Vanila yang manis, namun lembut. Tidak menyengat.
“Kemari, Bayi-bayi besarku.” Katanya hangat dan Cedrik tergelak tanpa suara. Arsa menepuk punggungnya sayang dan hangat. “Kemari berpelukan, Teletubbies-ku.”
Mereka berpelukan di atas sofa ruangan Arsa. Sudah lama sejak mereka melakukannya, terakhir ketika Arsa terbangun tengah malam dengan mimpi buruk—masa awal melepaskan diri dari antidepresan. Cedrik tidur di kamar tamu, menemani Kinan jika terjadi sesuatu di tengah malam. Mereka bertiga tidur di ranjang Arsa karena dia berhalusinasi, terlalu takut untuk kembali tidur. Merasa seseorang akan mencarinya. Maka Cedrik berbaring di sisi kiri dan Kinan di sisi kanan, menjaganya aman hingga Arsa mau kembali tidur.
Ternyata rasanya menyenangkan.
“It's okay,” bisik Kinan ketika Cedrik bersandar padanya. “It's just a bad day, not a bad life.” Dia mengusap kepala Cedrik sementara Arsa mengusap bahunya. “We will find a way, don't worry.”
Cedrik memejamkan matanya yang panas disengat air mata. Akankah mereka menemukan jalannya? Apa yang harus dilakukannya pada Abhimanyu?
Dan dirinya sendiri?
ps. ehe :(((