Gemati 235
ps. whipped abhimanyu at your service x pss. gak diedit ya allah aku capek wkwkw abaikan typo ya x
Starbucks Santrian tidak terlalu ramai, itulah mengapa Abhimanyu tidak terlalu menyukainya.
Dia ingin ke tempat yang ramai sehingga dia tidak bisa memikirkan apa pun. Tapi Hadrian mungkin berpikir membawanya ke tempat sepi bisa menenangkannya. Abhimanyu suka tempat itu sebenarnya, rindang dengan pohon raksasa dan store yang didominasi kayu dan jendela. Hanya saja mungkin tidak hari ini ketika dia membutuhkan distraksi dari Cedrik dan kencan rahasianya. Mereka duduk di salah satu sofa depan, bersandar dalam di sana dan menatap jalanan di depannya.
Hadrian memesankan minuman untuk Abhimanyu. Caramel macchiato untuk Abhimanyu, americano untuk dirinya sendiri, juga green tea latte untuk Khrisna yang ternyata menyusul mereka. Abhimanyu tidak tahu bagaimana perasaannya tentang Khrisna yang datang bergabung dengan mereka—tapi dia tidak memiliki energi untuk memikirkan apa yang dirasakannya. Maka dia diam saja.
Hubungannya dengan kakaknya belum terlalu baik. Masih di level kikuk dan tidak nyaman, Abhimanyu juga tidak tahu apa yang harus diceritakannya ke kakaknya. Karena selama ini Cedrik yang mengisi posisi itu untuk Khrisna. Ketika mereka keluar bersama, mereka lebih sering menghabiskan waktu dengan sibuk menunduk ke ponsel selain membicarakan kondisi rumah.
Tapi mungkin dengan keberadaan Hadrian, kekikukan itu bisa dihindari.
“Ini dia,” Hadrian kembali dari konter, membawa minuman mereka bertiga dengan nampan juga quiche dan cheese cake. Aroma telur dari quiche yang baru dipanaskan membuat Abhimanyu mendadak lapar, ingat bahwa dia belum sarapan.
Hatinya nyeri lagi karena ingat dia seharusnya pergi ke Ubud menjemput Cedrik, mereka akan sarapan bersama lalu pergi bersama. Makan siang dan kembali ke kos untuk bermalas-malasan seperti biasanya. Menonton Cedrik merokok atau menulis resep-resep baru. Kadang pergi ke rumah Arsa, membantunya mengurus anjing-anjingnya. Pergi dengan Raditya. Semuanya terasa seperti kebiasaan sekarnag. Aneh sekali ketika dia tidak melakukan hal yang biasa dilakukannya—seperti ada sesuatu yang hilang. Membuatnya merasa kosong.
“Trims, Pak.” Abhimanyu tersenyum, menerima minumannya dan menyesapnya perlahan.
Hadrian mengangguk, mendesah panjang seraya duduk di sisi Abhimanyu. Menyandarkan dirinya di kursi, menyilangkan kakinya. Udara Denpasar panas sekali hari ini padahal belum terlalu siang sehingga ketika memasuki Starbucks yang sejuk mereka seketika mendesah senang.
Hadrian sudah meminta Abhimanyu untuk memanggilnya 'Kak' saja agar tidak terlalu kaku di luar jam bekerja, tapi Abhimanyu tidak mau melakukannya. Takut tidak sengaja bersikap tidak sopan ketika bekerja. Lagi pula pembawaan Hadrian yang dewasa dan tenang cocok untuk dipanggil 'Pak'.
“Bagaimana hubunganmu dengan Kris?” Tanya Hadrian ketika Abhimanyu meraih garpu, mulai menyendok quiche lembut di atas meja.
Garpu terbenam dengan mudah ke dalamnya, Abhimanyu menerawang sambil menyendoknya dan menyuapnya. Dia membiarkan rasa telur dan rempah meledak di dalam mulutnya, menyesap makanan yang lumer itu sebelum mengunyahnya sedikit dan menelannya.
“Yah, begitulah.” Sahut Abhimanyu, membiarkan ujung garpu di dalam mulutnya sejenak—mendecap sisa rasa telur di permukaannya lalu memutuskan dia akan menghabiskan quiche di hadapannya. “Mungkin terlalu lama berjauhan, jadi masih kikuk.” Dia meraih piring, bersandar di kursinya dan mulai menyuap makanan.
Ponselnya di meja, diletakkan dengan layar terbalik—berharap Abhimanyu akan berhenti mengeceknya. Namun toh akhirnya dia meraihnya, membalik benda itu dan menekan tombol kuncinya agar layar menyala, menunggu notifikasi dari Cedrik. Namun nihil.
Abhimanyu mendesah. Kencan Cedrik hari ini pastilah sangat menyenangkan hingga dia lupa mengecek ponselnya, hingga dia melupakan Abhimanyu. Cedrik bahkan biasanya mengabarinya ketika Executive Meeting, kebosanan mendengarkan Arsa. Dia tidak tahu apakah dia harus senang jika Cedrik menikmati harinya atau sedih karena dia tidak menikmati harinya tanpa Cedrik di sisinya.
“Tentu saja.” Hadrian menoleh, menatapnya sayang dengan senyuman bermain di bibirnya. “Kalian tidak bertemu selama dua tahun dan itu lama, tentu saja kalian akan merasa kikuk. Tapi aku yakin kalian akan kembali baik-baik saja.” Dia mengulurkan tangan, mengusap rambut Abhimanyu sayang.
“Bagaimana dengan Chef Argha? Hubungan kalian membaik?”
Abhimanyu tersedak tertahan; berhasil menyamarkannya dengan suara deham keras, nyaris menyemburkannya dari mulut ketika mendengarnya. Dia tidak memikirkan Argha sejak tadi karena kepalanya terisi dengan pikiran mengenai kencan Cedrik hari ini. Dan sekarang ketika Hadrian membahasnya, kilasan ingatan tentang ciuman mereka membanjiri kepalanya. Wajah Argha yang merah padam, terengah dengan bibir terkuak—sedikit bengkak karena ciuman mendadak menyala di kepalanya hingga dia merasa wajahnya panas.
Bibirnya berdenyar aneh. Seolah bibir Argha masih menempel di sana, merasakan bagaimana dia melumat bibir Abhimanyu perlahan—sangat terampil dan terlatih. Abhimanyu menolak memikirkan berapa banyak orang yang dicium Argha seperti itu sebelum Abhimanyu. Tubuhnya mengingat Argha jauh lebih hebat dari apa yang kepalanya bisa lakukan; semua tempat di mana Argha menyentuhnya terasa hangat dan berdenyar sekarang. Khususnya di bagian piercing-nya.
“Untuk pekerjaan,” katanya setelah memulihkan diri dan Hadrian mengamatinya—alisnya berkerut. “Kami baik-baik saja.” Abhimanyu menjejalkan makanan lain ke mulutnya, takut tidak sengaja mengatakan hal-hal aneh.
Apakah semua orang yang disentuh Argha merasakan ini? Jika ya, Argha memang benar-benar utusan Neraka. Menyebarkan dosa pada semua orang, mendorong mereka ke api jahanam karena Abhimanyu ingin kembali merasakannya. Dia begitu lezat, menggugah selera; mencicipinya tidak membuat Abhimanyu kenyang. Malah semakin lapar dan tak tertahankan.
Abhimanyu berdeham, tidak nyaman sekarang karena membayangkan desahan Argha di telinganya. Suara rengekan kecilnya ketika Abhimanyu mendesaknya ke dinding, menggencetnya di sana dan mengusapkan lututnya ke selangkangannya. Dia menjilat bibirnya, tidak lagi bernafsu untuk makan. Tidak jika makanannya bukan Argha.
“Syukurlah jika begitu.” Sahut Hadrian meraih gelas minumannya dan menyesap isinya. Abhimanyu mengerjap, seolah baru saja ditampar karena memikirkan Argha dan desahannya pada pukul sebelas pagi. “Kacau sekali jika kau dan Argha tidak memiliki hubungan baik. Kalian, 'kan, tim.” Dia tersenyum pada Abhimanyu yang mengangguk.
Hubungan mereka memang membaik. Lebih tepatnya Abhimanyu yang tidak bisa mengenyahkan ingatan tentang ciuman mereka tiap kali bekerja sementara bajingan bangsa itu dengan mudah mengabaikannya seolah itu hal tidak penting. Dia bekerja lebih ketat sekarang, sedikit lebih tegang dari sebelum-sebelumnya karena dia sudah mendapat dua surat teguran dan berada dalam masa percobaan lebih ketat.
Kinan lebih sering mondar-mandir di restoran sekarang, berhenti di sisi meja tamu dan bertanya tentang makanan mereka—memastikan semua orang senang. Arsa berkunjung ke Le Gourmet kemarin Jumat, mengawasi prep mereka seperti hering lapar—berdiri di ujung dapur, melihat kedua tangannya dan diam.
Secara garis besar, Argha sedang diuji coba. Apakah dia memang layak menyandang posisinya. Jadi Abhimanyu berusaha mempermudah pekerjaannya dengan melakukan tanggung jawabnya dengan lebih baik. Dia mengawasi semua commis bekerja dengan lebih serius sekarang. Waspada tiap kali menyajikan makanan, mengecek jika ada kontaminasi sebelum benar-benar menatanya di piring.
Hal yang Abhimanyu kagumi dari Arsa adalah walaupun Argha mungkin memiliki rekomendasi yang bagus; dia tidak begitu saja melepaskannya. Dia tetap mengawasi Argha, memperlakukannya dengan adil seperti semua orang. Argha yang senior baik dari jam terbang dan usia pun, terkadang terlihat 'kalah' ketika Arsa membuka mulutnya. Padahal jika Argha mau, dia mungkin bisa membanting Arsa ke tanah karena Arsa relatif kurus dibanding Argha.
Namun aura lelaki itu begitu besar, mengisi seluruh ruangan—hal yang bahkan Argha tidak bisa lakukan. Jika Arsa berada di dapur, Argha terlihat kecil dan remeh. Apalagi jika dia sedang marah. Dan Argha juga selalu memperlakukan Arsa dengan hormat walaupun dia lebih muda darinya. Di beberapa kesempatan, nampak kagum padanya.
Sejauh ini, belum ada keluhan lagi. Semua berjalan mulus dan lancar. Abhimanyu masih penasaran rambut siapa yang ada di makanan namun karena mereka sudah memberi peringatan pada semuanya; kasus ditutup. Argha yakin itu rambut commis mereka yang memasak makanan, entah bagaimana lolos dari penutup kepalanya. Dia sekarang menyempatkan beberapa menit sebelum memulai servis untuk mengecek penutup kepala semua orang.
“We're not yet Michelin star restaurant and you are already whinning like a baby.” Katanya ketika melihat ekspresi beberapa orang yang tidak nyaman dengan pengaturan baru itu. “Walk away if you're not ready. The door is open.” Tambahnya, sama sekali tidak menaikkan suaranya—namun akhirnya semua orang diam, menurutinya.
“Pekerjaan baik.” Putus Abhimanyu, menyesap minumannya dan menerawang.
Khrisna kemudian datang, bergabung dengan mereka. Mengenakan celana jins longgar dan turtleneck gelap yang membalut tubuhnya sempurna—sedikit ketat, jika menurut Abhimanyu. Mencetak tubuhnya dengan cara yang membuat Abhimanyu risih. Tapi mungkin memang itu tujuan Khrisna, memamerkan tubuhnya yang berisi.
“Pak Ricci mendadak memotong pertemuan hari ini karena ada urusan penting,” Khrisna duduk di sisi Hadrian, membawa aroma matahari di tubuhnya dan mendesah menerima minumannya. “Tapi sebenarnya semua sudah selesai, hanya tinggal basa-basi remeh. Jadi tidak masalah.” Khrisna menyesap minumannya.
“Bagaimana sebenarnya Pak Ricci ini jika bekerja?” Tanya Hadrian setelah Khrisna duduk dengan nyaman. “Kali pertama dan terakhir aku bertemu dengannya ketika outing karyawan. Dia mengantar Argha ke Le Paradis dan dia cukup ramah—tersenyum memesona. Pembawaannya menyenangkan.”
Khrisna mendesah. “Tidak sama sekali.” Gerutunya, sedikit jengkel. “Dia rewel, serius, keras kepala, dan idealis. Matanya awas sekali pada hal-hal kecil, menghabiskan waktu berjam-jam untuk menyelesaikan kesalahan kecil yang sering luput.”
Abhimanyu menoleh ke kakaknya, memikirkan Sebastien yang ditemuinya saat outing. Sama sekali tidak terdengar seperti apa yang dikatakan Khrisna. Dia nampak memesona, kaya—tentu saja, dan juga ramah. Senyumannya menyihir sekali. Mungkin karena dia tidak sedang bekerja, itu menyebabkan pembawaannya menjadi lebih rileks.
“Dan dia bajingan tidak punya hati.” Khrisna bergidik ketika mengatakannya. “Kau tidak akan mau berurusan dengannya, khususnya berdebat. Dia punya kemampuan itu; membuatmu bingung dengan kalimatmu sendiri karena dia mengacaukan strukturnya. Mencari celah dari setiap perkataanmu dan melemparkannya kembali padamu. Memutar inti obrolanmu dan jika kau berhasil mempertahankan poinmu, maka dia akan mengangguk setuju pada apa pun itu.”
Hadrian berjengit. “Sepertinya tipe atasan yang tidak akan kupilih. Merepotkan.” Dia meneguk kopi hitamnya. “Tapi mungkin itu karena dia sedang bekerja. Siapa tahu ketika dia tidak bekerja, dia ternyata lebih hangat dan menyenangkan.”
“Dia lajang sepanjang yang orang-orang ketahui,” Khrisna menambahkan dan Abhimanyu tidak paham mengapa kakaknya membicarakan Sebastien ketika mereka seharusnya menghibur diri, rileks di hari libur yang cerah ini. “Tidak cukup memiliki hati untuk jatuh cinta. Maka aku benar-benar bingung ketika—oh, fuck!”
Khrisna mengakhiri kalimatnya dengan desis umpatan yang membuat Abhimanyu menoleh. Menemukan kakaknya menatap ke luar Starbucks dan mengikutinya; menemukan Mercedes Benz S300 putih mengilap memasuki tempat parkir dengan jendela gelap yang mustahil diintip.
“Pak Ricci is here.” Gerutu Khrisna dan Abhimanyu nyaris tidak mendengarkannya karena pintu Mercedes itu terbuka.
Dan manusia pertama yang keluar dari dalam mobil itu adalah Argha Mahawira.
Dia mengenakan kemeja satin putih tipis, menggantung dengan indah di bahunya yang sedikit terpapar udara. Dipadukan dengan celana kain yang menegaskan bentuk jenjang kaki Argha dan sandal selop kulit. Argha menyugar rambutnya yang sedikit berantakan. Mengusap bibirnya dengan tisu basah seraya menutup pintu dengan tangan yang tadi digunakannya untuk menyugar rambut. Mengepit leather clutch di bawah ketiak tangannya yang sedang mengusap bibirnya.
Sebastien menyusul kemudian keluar dari sisi pengemudi. Sejenak berdiri di sisi pintu yang terbuka dan membenahi celananya sebelum menekan kunci pada mobilnya. Lalu bergegas menyusul Argha yang sudah melangkah memasuki Starbucks, berhenti sejenak untuk membuang tisu basahnya. Sebastien mengenakan kemeja gelap, dua kancing teratasnya terbuka. Dimasukkan rapi ke balik ikat pinggang celananya dan sepatu pantofel mengilap.
Abhimanyu tidak akan terbiasa melihat mereka bersama. Keduanya sama menariknya, sama sensualnya, dan sangat mengundang perhatian. Seluruh store menoleh pada mereka, mengamati keduanya melangkah masuk seolah bergerak dalam slow motion. Mereka mengubah jalanan mana pun menjadi runaway dengan penampilan mereka.
Sebastien mendorong pintu terbuka, mempersilakan Argha memasuki store duluan sebelum membiarkan pintu mengayun tertutup. Abhimanyu memandangi mereka, entah bagaimana tidak bisa mengalihkan padangannya dari Argha dan Sebastien.
Mereka berdua nampak sama mendominasinya, sama menariknya, sama memesonanya; mustahil mengabaikan mereka jika berada di ruangan yang sama. Sebastien lebih tinggi beberapa senti dari Argha, berdiri di sisinya dengan sedikit protektif. Dan Argha... Dia nampak seindah mimpi.
Caranya bergerak, ekspresi wajahnya, senyumannya.... Mata Abhimanyu menatap bibirnya, mengamati bentuknya dan mengamati caranya bergerak ketika Argha mengatakan sesuatu pada barista di balik meja konter. Tidak bisa melupakan rasa bibir itu di bibirnya. Dia begitu indah, menyihir siapa saja ketika bergerak, bahkan Sebastien di sisinya—menunduk sedikit menatap Argha dengan senyuman kecil di bibirnya.
Khrisna mendengus. “Jadi urusan pentingnya adalah membawa kekasihnya jalan-jalan.” Gerutunya di bawah napasnya sendiri sambil menyesap minumannya—mengalihkan pandangannya dari Sebastien.
“Kak harus menyapanya.” Abhimanyu menatap kakaknya lalu kembali melirik Argha yang sedang mengeluarkan uang dari dompetnya—bahkan ketika melakukan hal seremeh itu pun, dia nampak begitu mendebarkan. “Atau akan mengabaikannya saja?”
Khrisna membuka mulutnya, hendak mengatakan sesuatu ketika mata Argha melirik Abhimanyu dan mereka bertatapan. Abhimanyu menarik napas, sejenak panik karena Argha menyadari tatapannya namun atasannya itu tersenyum. Senyuman ramah yang mengembang perlahan seperti sekuntum bunga yang mekar, menyihir Abhimanyu dalam pesonanya.
“Halo.” Katanya mendayu-dayu, sekarang menoleh pada Abhimanyu dan rombongannya. “Abhimanyu, Hadrian, Khrisna. It's so good meeting you here! What a coincidence!”
Sebastien juga menoleh dari barista yang mengurus kartunya untuk membayar makanan mereka. Matanya bertemu Abhimanyu, untuk pertama kalinya dan entah bagaimana tatapannya membuat Abhimanyu sama sekali tidak nyaman. Mungkin karena dia kekasih Argha? Atau karena dia mencium kekasihnya di loker? Merasa seperti bajingan yang mengganggu kekasih orang lain walaupun dia tahu hubungan Sebastien dan Argha tidak lebih dari sekadar fisik.
Sudut bibir Sebastien naik sedikit sebelum menoleh ke Khrisna yang seketika mengangguk—tersenyum karier. “Ah, Kris.” Sapanya. “It's you again.” Tambahnya dan dari nadanya, Sebastien juga sama tidak nyamannya dengan Khrisna bertemu di Starbucks—apalagi setelah memotong rapat untuk 'urusan lain'.
“Sir,” sapa Khrisna mengangguk ramah. Walaupun baru saja mengatakan hal tidak sopan mengenai Sebastien.
Argha menoleh ke Sebastien, tersenyum. “Can we join them?” Tanyanya dan Abhimanyu menahan napasnya—tidak mau bertemu Argha hari ini, setelah membayangkan ciuman mereka apalagi jika ditemani oleh pasangannya yang....
Nampak jauh lebih memesona dari Abhimanyu.
Tinggi, dewasa, mapan. Memiliki pembawaan yang menyihir satu ruangan, begitu cocok disandingkan dengan Argha Mahawira. Dan jika dibandingkan dengan Abhimanyu, dia tidak ada apa-apanya. Dia hanya second layer Argha; tidak memiliki rumah, Mercedes Benz S300, atau kartu kredit hitam yang bisa digunakan tanpa batas.
“You should ask them,” balas Sebastien ringan, menerima kembali kartunya dan Argha menoleh pada mereka.
“Can we join you today?” Tanyanya manis, tersenyum ramah dan Abhimanyu yakin, Hadrian akan mengizinkannya karena dia Hadrian. Tidak tahan untuk tidak bersikap hangat pada siapa pun yang ditemuinya.
“Ya, tentu, Chef! Silakan!” Hadrian tersenyum lebar, menggeser duduknya memberikan ruang untuk Argha dan Sebastien.
Khrisna dan Abhimanyu saling melirik—berkomunikasi tanpa suara bahwa mereka sama-sama tidak menginginkan ini namun tidak berdaya mencegah Hadrian melakukan apa yang diinginkannya. Maka Abhimanyu mendesah pasrah ketika Argha duduk di sisinya, membawa aroma parfum pekatnya ke hidung Abhimanyu dan Sebastien duduk di kursi tunggal di sisinya.
Abhimanyu terjepit di antara Hadrian dan Argha.
Argha beraroma seperti Chanel Deauville; aroma citrus, sedikit melati lembut, basil, juga mawar yang menyenangkan. Begitu segar, seperti musim panas.
“It's my first time seeing you without Cedrik,” Argha tersenyum. “Is he here?” Tanya Argha ringan, meletakkan clutch-nya di atas meja dan menyugar rambutnya. Aroma parfum dan keringatnya membuat Abhimanyu sinting—ingin mencondongkan tubuhnya ke sana, mengecup leher Argha. Titik dari mana aroma parfumnya paling kuat tercium.
Mungkin mendorongnya berbaring di sofa, mencumbunya karena terlihat sangat mengundang hari ini? Mengusap semua tubuhnya, mendengarkan rengekannya, dan caranya mendesahkan nama Abhimanyu....
“Cedrik hari ini tidak bergabung,” Hadrian menjawab setelah menunggu beberapa detik karena Abhimanyu masih menatap Argha seperti orang buta yang baru bisa melihat kembali. “Hari ini khusus untuk kakak dan adik.” Tambahnya, menendang kaki Abhimanyu yang langsung mengerjap—mengalihkan pandangan dari Argha.
Wajahnya panas. Maka dia meraih gelas minumannya, meneguk isinya dengan cepat—berusaha menjernihkan isi kepalanya. Menyingkirkan bayangan wajah Argha yang merah padam dan tersengal karenanya dari otaknya.
“Ah, begitu?” Argha nampak tidak nyaman. Alisnya sedikit berkerut, menelengkan kepalanya—memberikan ekspresi tidak nyaman yang sangat indah hingga Abhimanyu kembali menahan napas. “Are we interupting something important then?”
Argha Mahawira memang selalu indah, tetap dia hari ini—khususnya hari ini, terlihat jauh lebih memesona dari biasanya. Apa yang baru saja dimakannya? Dilakukannya? Dia bersinar, seperti bulan purnama. Abhimanyu tidak bisa mengalihkan pandangannya dari bibir Argha, sekuat apa pun dia berusaha. Membayangkan rasanya di bibir Abhimanyu....
Sialan, pikir Abhimanyu. Menggelengkan kepala berusaha menjernihkan kepalanya. Mari pikirkan hal lain. Apa yang dipikirkannya tadi sebelum Hadrian membahas Argha...?
“No, no!” Hadrian mengibaskan tangannya, tertawa ceria—tawanya menyenangkan. Selalu membuat siapa saja merasa lebih baik karena terdengar seperti gemericing lonceng kaki penari. “Tidak apa-apa, Chef. Bergabunglah! Bertiga terlalu sepi!”
“We already sent the revision to your email, Sir.” Kata Khrisna kemudian, mengangguk pada Sebastien yang duduk di sofa—bersandar dalam dengan kedua kakinya. “We're expecting feedback on Monday?”
Sebastien mendesah, “This is Sunday, Kris. Relax.” Sahutnya, melambai kecil meminta Khrisna diam. “Let's talk about something else. We don't want to bore anyone here.” Dia melemparkan senyuman memesona pada Hadrian dan Abhimanyu.
“I heard a lot about you, Abhimanyu.” Katanya, mengulurkan tangan dan Abhimanyu bergegas menjabatnya—merasakan tangannya yang halus dan aroma parfum Christian Dior Eau Sauvage menghambur ke penciuman Abhiamyu.
Sebastien melirik Argha cepat sebelum kembali memandang Abhimanyu. “I'm glad we finally get to know each other officially.” Dia melepaskan tangan Abhimanyu. “You are a sweetheart, yes. I can see that.” Sebastien Ricci tersenyum dan Abhimanyu bergidik—entah bagaimana senyuman itu membuat Abhimanyu menyadari bangsat berhati dingin seperti apa dia.
“Yes, Sir.” Sahut Abhimanyu, tersenyum karier seperti kakaknya. “Thank you so much for the chocolate.”
Sebastien sejenak diam, alisnya berkerut berusaha memikirkan apa yang dimaksud Abhimanyu sebelum pemahaman menyala di matanya. “Ah, the bonbon. Yes.” Dia tergelak lembut. “Yes. My pleasure, Abhimanyu. I hope you love them?”
Abhimanyu mengangguk. Manusia sinting mana yang tidak menyukai cokelat buatan Cedrik yang manis, pahit, lembut, dan meleleh di mulut? Dengan isian yang meledak seperti kembang api mungil di lidah persis setelah lapisan cokelat larut bersama saliva? “Of course, I do, Sir. Very kind of you.” Dia tersenyum ramah.
Sepanjang sisa obrolan mereka, yang disetir oleh Hadrian, Abhimanyu tidak bisa mengabaikan bagaimana sisi tubuhnya dan Argha menempel. Yakin parfum lelaki itu menempel di pakaiannya karena terus bergesekan setiap dia bergerak. Bahu mereka bersentuhan jika diam dan Abhimanyu yakin akal sehatnya akan tergelincir dari tempatnya karena sangat ingin mencium Argha lagi.
Seharusnya Abhimanyu tidak menciumnya. Tahu dia akan kecanduan seperti menghirup zat narkotika, tidak akan puas mencicipi siapa pun jika itu bukan Argha. Dengan Argha sebagai pembandingnya. Tapi dia tidak menyesal melakukannya, karena jika tidak—dia mungkin akan terus dihantui rasa penasaran pada sehebat apa rasanya jika berciuman dengan wajah sekelas bajingan sensual seperti Argha.
Dia melirik Sebastien yang tertawa berat bersama Hadrian, memikirkan apa saja yang sudah dilakukannya dengan Argha dan iri pada kenyataan itu. Dia bebas menyentuh Argha; menciumnya, bercinta dengannya, apa saja—segala hal yang Abhimanyu inginkan. Sebastien mengulurkan tangan, mengusap paha Argha sambil bicara. Melakukannya dengan (mungkin ini hanya pikiran Abhimanyu, tapi peduli setan) sensual; menggerakkan jemarinya tanpa menyadarinya sementara Argha di sisi Abhimanyu setengah bersandar ke tubuh Abhimanyu. Sangat memanfaatkan posisi sofa yang sedikit sempit untuk diisi tiga orang.
Abhimanyu tidak keberatan. Sama sekali tidak.
Dia menghirup dalam-dalam aroma Chanel yang digunakan Argha, memikirkan apa saja yang bisa dilakukannya pada Argha jika dia memiliki kesempatan sebesar Sebastien.
Dan Cedrik sama sekali lenyap dari pikirannya.
ps. ehe :(