Gemati 180
tw // anxiety , self-blaming , self-hitting .
ps. biar makin nyesek, dengerin Easy on Me-nya Adele yha :'D pss. please pay attention to the tws. ada adegan yg akan bikin kalian gak nyaman di sini.
author's note. kenapa belakangan ini fokusnya cebhim? karena hubungan mereka established pertama, DUA tahun. jauh sblm argha dateng. dengan kondisi abhim emotionally dependant sama cedrik dan abhim benci bgt sama argha. jadi switched ke gabhim, hubungan mereka (dlm hal ini trauma bond) harus aku selesaikan dan akhiri dulu.
i have my own plot and charas development, just leave it to me. easy aja bacanya, ini fiksi. tolong rileks, gausah pake otot.
“See you soon, Ares! Papi loves you!”
Cedrik memutar bola matanya sebal, mendelik pada Kinan yang mencium Ares. Anjing itu mendengking, tidak suka ditinggal Kinan. Untuk ini, mereka menukar kendaraan. Cedrik terpaksa membawa Rubicon Arsa karena Ares jelas tidak akan diam di atas Kawasaki Ninja-nya. Maka Kinan yang mengendarai motornya ke Paradis, dia harus mengurus laporan keuangan Gourmet yang masih berantakan bersama Teo.
“Enyah.” Gerutu Cedrik. Kinan tergelak, menghampiri motor Cedrik yang diparkir di sisi jalan dan memakai helmnya.
Kinan mengenakan jaket berkendara Cedrik karena dia tidak punya jaket yang cukup tebal untuk berkendara. Dia menaiki motor Cedrik, menjejak kakinya di tanah dan terlihat tangguh di atas motor—berbeda sekali dengan ketika dia mengendarai mobil. Dia mengaitkan helmnya kencang di dagunya, nampak sedikit tegang karena dia belum lama bisa mengendarai motor.
“Terima kasih, Cedrik, we owe you!” Kinan melambai, matanya tersenyum dari helm full face Cedrik sebelum dia menurunkan kacanya dan menyalakan mesin motor Cedrik. “Why does this beast has to be this big?” Gerutunya, merunduk dengan kedua tangan di stang motornya.
Cedrik memutar bola matanya, “Memangnya kaupikir mobilmu itu kecil?” Dan sekali lagi, Kinan tergelak—sepertinya sedikit mabuk adrenalin karena harus mengendarai motor.
Kinan lumayan tangkas sekarang dengan sepeda motor semenjak dia meminta Cedrik dan Raditya mengajarinya. Walaupun Arsa tidak terlalu mengizinkan, namun dia akhirnya diam dan menonton Kinan berlatih. Menatap dengan penuh celaan dan alis berkerut tiap Raditya mengajarinya naik motor di jalan depan rumah mereka. Awalnya menggunakan motor bebek biasa milik salah satu karyawan Paradis yang dengan senang hati meminjamkan motornya sebelum mencoba motor Cedrik. Kinan tidak bisa mengendarai sepeda, maka mengajarinya menaiki sepeda motor jauh lebih menegangkan.
Arsa masih berpikir membelikan Kinan Tesla adalah solusi terbaik dari masalah mereka jika memiliki agenda berbeda. Cedrik tidak lagi kaget, Bajingan itu punya terlalu banyak uang dan terlalu mencintai Kinan. Syukurlah alih-alih mengikuti pola hidup konsumtif Arsa, Kinan bisa mengerem kebiasaannya menghambur-hamburkan uang—bahkan ketika uang itu untuknya. Arsa selalu memanfaatkan waktu ketika Kinan mengizinkannya menghamburkan uang dengan sangat baik.
Dia mengklakson di atas Ninja Cedrik, “Terima kasih, Cedrik! I love you!” Serunya ceria lalu mengoper gigi dan meluncur di jalanan ke arah Paradis.
“Hati-hati di jalan!” Seru Cedrik, menunggu hingga motornya lenyap di belokan. Cedrik menghela napas, tidak terlalu bersemangat tentang hari ini.
Teringat kejadian semalam ketika mereka berbaring dan kembali menciumnya. Cedrik tidak keberatan dengan ciuman itu, mulai sedikit terbiasa pada sentuhan Abhimanyu namun tidak siap pada bagaimana ciuman itu berubah menjadi gairah; begitu intens hingga Cedrik takut. Belum pernah disentuh atau menginginkan sesuatu sehebat itu. Semua pasangan seksnya dulu sama sekali tidak ada apa-apanya dibanding desahan Abhimanyu, napas panasnya di wajah Cedrik dan tangannya.
Panik, dia seketika mendorong Abhimanyu dari tubuhnya. Mereka berpandangan dalam keremangan kamarnya, jantung mereka bertalu-talu—Cedrik bisa mendengar debaran jantung Abhimanyu. Tidak yakin apakah itu hal yang diinginkannya dan ketika melihat wajah Abhimanyu, Cedrik yakin mendorongnya adalah hal yang paling benar.
“Maaf,” kata Abhimanyu parau, menyugar rambutnya. Rasa bersalah pekat membanjiri bola matanya, dia nyaris terdengar seperti frustrasi dan gemetar. Cedrik ingin menghiburnya, namun juga tidak ingin menyentuhnya. “Maafkan aku, maaf. Maaf.”
Bukan sepenuhnya salah Abhimanyu karena Cedrik juga membalas ciuman itu; menyadari dengan sedikit mabuk bahwa mereka akan bercinta. Sejenak terlena dan membalas sentuhan Abhimanyu. Cedrik juga menginginkannya, merasakan gairah itu menggelegak di dasar perutnya dan nyaris yakin dia mampu menelanjangi Abhimanyu di sana—saat itu juga. Jika saja tubuhnya yang kebingungan tidak menyadarkan kepalanya.
“Tidak apa-apa.” Sahutnya kering, mengangguk. Menyugar rambutnya dan merasakan jejak darah di bibirnya—tidak yakin apa yang salah pada Abhimanyu hari itu. “Kembalilah tidur.” Dia menuruni ranjangnya dan meraih kotak rokoknya, tidak yakin dia bisa berada di kamar yang sama dengan Abhimanyu setelah semuanya.
Cedrik baru kembali ke kamar setelah menghabiskan nyaris setengah isi kotak rokoknya. Pukul tiga pagi, bersyukur bahwa Kinan memaksanya mengambil cuti hari ini karena cutinya harus diambil sebelum hangus. Dia kembali jauh setelah Abhimanyu terlelap dan menatap wajahnya dengan berat. Merasa sesuatu mengganjal di hatinya.
Haruskah dia tetap bertahan? Semakin hari, semakin banyak tindakan Abhimanyu yang membuat Cedrik kebingungan. Dia berubah, itu jelas. Tidak bisa dijelaskan, namun Cedrik bisa merasakan shifting dalam energi Abhimanyu. Pembawaannya berubah, ada sesuatu yang terjadi dan Cedrik tidak yakin apakah dia akan menyukainya. Abhimanyu menginginkan validasi belakangan ini; banyak sekali, khususnya tentang dirinya sendiri.
Tuhan tahu betapa besar cinta Cedrik untuk Abhimanyu. Betapa tulusnya dia ingin membahagiakan Abhimanyu, mencoba melakukannya selama dua tahun. Tidak beranjak dari sisi Abhimanyu, menemani naik dan turun suasana hatinya. Belajar memahami Abhimanyu, ingin menjadi satu-satunya rumah tempat pemuda itu pulang. Dan Abhimanyu memang pulang padanya, selalu mencari Cedrik kapan pun dia membutuhkan tempat bernaung. Menemukan nyaman dalam pelukan Cedrik. Dia pikir dia sudah memenangkan hati Abhimanyu, sudah menggenggamnya dan siap untuk menyatakan perasaannya pada Abhimanyu sekali lagi.
Hubungan mereka menyenangkan—sangat menyenangkan.
Sebelum Argha Mahawira memutuskan untuk bergabung.
Cedrik menghela napas berat, memasuki pintu samping rumah Arsa dan Boba langsung menyalak. Berlari menghampirinya dan dengan lincah berdiri di kedua kaki belakangnya, memohon digendong. Cedrik tersenyum, membungkuk dan menggendong anjing menggemaskan itu. Boba mendengking ceria, menjilati telinga Cedrik yang terkekeh.
“Oke, Princess, tapi hari ini aku tidak bermain denganmu, ya?” Katanya menepuk pantat anjing itu lembut lalu memasuki rumah Arsa yang terbuka. “Aku harus membawa Ares ke dokter.”
Jam sudah menunjukkan pukul delapan kurang dan Cedrik harus bergegas. Klinik Nikolas berada sedikit jauh dari rumah Arsa. Maka dia memberi tahu Bubble bahwa dia akan pergi, meminta anjing itu menjaga adik-adiknya sebelum memasangkan tali pada Ares. Great Danes itu menatap Cedrik, nampak takut padanya karena mereka belum berkenalan dengan baik selain tadi ketika Kinan meminta Ares mengendus Cedrik.
Anjing itu akhirnya menurut pada Cedrik setelah dia menyuapi Ares beberapa potong treat kesukaannya. Mengikuti Cedrik ke mobil dengan ekor bergoyang kecil.
“Sampai ketemu nanti, ya?” Cedrik melambai ke semua anjing di dalam rumah, Bubble berdiri di depan pintu—lidahnya terjulur dan mengibaskan ekornya ceria.
Cedrik selalu takjub pada betapa pintarnya Bubble, dia bukan anjing penjaga tapi kemampuannya sangat menakjubkan. Dia nyaris nampak seolah memahami bahasa manusia. Uang yang dikeluarkan Arsa untuk melatihnya tidak terbuang sia-sia karena anjing itu begitu cerdas dan setia. Matanya berkilat ketika Cedrik menutup pintu yang berdenting—tanda terkunci secara otomatis menggunakan sistem smart lock yang hanya terbuka dengan password atau sidik jari Arsa-Kinan. Dia mendengus, seolah mengangguk pada Cedrik.
Pintu belakang terbuka agar para anjing bisa berkeliaran dan tidak stres. Dinding luar rumah Arsa-Kinan yang setinggi nyaris tiga puluh meter, sudah dilengkapi pecahan beling yang dipasang mengancam di pinggirannya sebagai langkah pengamanan karena bentuk vila mereka yang sangat terbuka.
“Hop in!” Cedrik menepuk kursi penumpang Rubicon Arsa dan Ares langsung melompat naik dengan ceria, duduk dengan pintar di atasnya. Menatap Cedrik senang, memiliki teman baru.
Cedrik membuka pintu garasi, mendorongnya sebelum bergegas menaiki jeep Arsa dan menyalakan mesinnya yang menggeram. Menurunkan rem tangan, dia lalu memasukkan persneling. Menginjak gas dan mengeluarkannya dari garasi, berhati-hati agar tidak menggores badan mobil ke dinding karena garasi mereka begitu pas-pasan dengan ukuran mobil mereka. Berhasil memarkirnya di jalan depan rumah, Cedrik kemudian bergegas menutup garasi dan menggemboknya. Melambai pada Bubble yang masih duduk di depan pintu, menunggu Cedrik lenyap.
“Anak pintar,” Cedrik tersenyum dan mengulurkan tangan untuk mengusap kepala Ares ketika dia mengenyakkan pantatnya di kursi pengemudi.
Menginjak gas, dia meluncur ke klinik hewan Nikolas. Dia mengenal dokter itu sejak lama, dia dokter Bubble di Bali. Lalu Maple, lalu Boba, Gnocchi, dan sekarang Ares. Setahunya dia memiliki banyak klien ekspatriat di Bali—berkeliling memberikan home service karena hewan-hewan yang diurusnya berukuran antara sangat besar atau sangat kecil, sangat kuat atau sangat ringkih; tidak mungkin dibawa ke kliniknya.
Cedrik mengingat-ingat wajahnya selain foto profil Whatsapp-nya. Menyadari bahwa Nikolas menarik, memiliki senyum yang manis dan dia sangat ahli mengurus hewan. Hal yang paling diingatnya dari Nikolas adalah tindik permata mungil di hidungnya; mungkin karena dia bekerja untuk dirinya sendiri, cukup besar dan bernama maka dia memutuskan untuk bertindak sesukanya.
Satu-satunya obrolan yang pernah mereka jalin adalah ketika menyadari bahwa Nikolas keturunan Chinese sama dengannya dan membicarakan marga mereka. Selain itu, Cedrik tidak yakin mereka banyak mengobrol karena Nikolas selalu sibuk dengan semua anjing dan Arsa—mengobrol dengan sahabat Cedrik membicarakan keadaan anjing-anjingnya.
Atau aku yang tidak memerhatikan? Pikirnya, berkendara dengan mulus di atas jalan dengan Ares di sisinya, melongokkan kepalanya ke luar jendela—menikmati angin jalanan. “Jangan terlalu jauh, Ares.” Cedrik meraih tali lehernya, menariknya sedikit agar Ares menuruti maunya.
Anjing itu menyalak ceria sekali, menuruti kemauan Cedrik dengan menarik sedikit lehernya. Cedrik mengalungkan tali lehernya di pergelangan tangannya, menjaga-jaga jika Ares memutuskan untuk menjulurkan leher semakin jauh ke luar. Cedrik tidak mau kepalanya dijadikan jaminan di neraka jika terjadi sesuatu pada Ares karena Kinan menyayangi anjing ini lebih dari pasangannya sendiri.
Prospek sarapan bersama Nikolas tidak terdengar buruk. Cedrik juga butuh teman untuk mengalihkan pikirannya dari kejadian semalam. Mungkin sarapan sebentar dengan Nikolas akan membantunya. Mereka bisa membicarakan hal-hal sederhana tentang binatang mungkin? Pekerjaan? Karena Cedrik, sepanjang ingatannya, belum pernah benar-benar mengobrol dengan Nikolas. Hanya saling tersenyum ramah dan mengangguk ketika bertemu mata. Mungkin Cedrik harus memiliki teman di luar pekerjaannya sendiri untuk memberi suasana baru dalam hidupnya.
Mereka tiba di klinik Nikolas beberapa puluh menit kemudian, Cedrik meluncur ke parkirannya. Memarkir mobilnya di sisi Rubicon putih Nikolas lalu mengajak Ares turun. Mobil Nikolas mengumumkan betapa banyak uang yang mungkin didapatkannya dari klien-kliennya. Arsa tidak membayarnya murah untuk bertanggung jawab atas lima anjing rasnya.
Dia mengeluarkan Ares dari mobil, menguncinya lalu beranjak ke pintu klinik. “Halo, selamat pagi.” Cedrik mendorong pintu kaca gandanya, bertemu dengan karyawan Nikolas di belakang kasir. “Saya ada janji dengan Dokter Nikolas?” Tambahnya, mengeluarkan buku periksa Ares. “Ares.”
Gadis ramah di balik komputer tersenyum. “Oh, ya!” Katanya, menjulurkan tubuhnya ke balik meja—ke Ares yang duduk dengan manis di sisi Cedrik. “Halo, Ares!” Sapanya lalu menatap Cedrik. “Dokter di dalam, langsung saja masuk.”
Cedrik mengangguk, berterima kasih dan menarik lembut tali Ares. Anjing itu bergegas mengikuti Cedrik meluncur melewati lorong ke arah ruang praktik. Melewati lorong terisi kandang-kandang yang bersih, anjing-anjing di dalamnya bangkit dan menatap Cedrik tertarik ketika dia lewat dan Cedrik tersenyum—belum pernah melihat anjing sebanyak ini. Tidak tahan untuk tidak mengulurkan tangan pada yang terdekat, membiarkan pomeranian sewarna kopi di dalamnya mengendus jarinya.
Tempat untuk kucing dan anjing dipisahkan, Cedrik juga melihat ada beberapa kandang lain yang terisi kelinci jenis Holland loops, berdiri dengan kaki belakang mereka mengendus udara. Tersenyum kecil, Cedrik merasa lebih baik. Binatang peliharaan selalu membuat hati siapa saja hangat, memiliki teman yang tidak akan meninggalkan mereka atau menilai setiap keputusan mereka—kecuali Boba, dia ahli melakukannya. Dia jarang menemukan pet hotel yang menerima kelinci di Bali karena binatang itu sangat high maintenance dan belum banyak yang menyadari cara perawatan kelinci yang benar.
Tempat itu lumayan besar, ada pet shop di bagian depannya, ruangan Nikolas berada di belakang dengan beberapa kandang terisi anjing-anjing yang dititipkan di sana serta ruangan grooming. Arsa selalu membawa semua anjingnya ke sini setidaknya dua bulan sekali untuk grooming dan trimming bulu mereka—khususnya Boba yang mudah tersedak bulunya sendiri.
Ruangan Nikolas di belakang, terbuka dan terang. Pintunya terkuak sedikit, Cedrik bisa melihat tangannya dari luar sedang menulis sesuatu dan bicara dengan seseorang. Cedrik menunggu sejenak di luar pintu, menatap ruangan grooming yang masih kosong karena ini terlalu pagi.
“Dikembalikan ke kandangnya, ya? Hati-hati.” Kata Nikolas sayup-sayup dari dalam sana dan pintu mendadak terbuka, seorang asisten melangkah keluar mendorong troli.
Keduanya terkesiap saat saling berpandangan sebelum asisten itu tertawa kecil, meminta maaf. “Silakan, Kak. Dokter di dalam.” Katanya tersenyum, mendorong pintu semakin terbuka—mempersilakan Cedrik masuk.
“Oh, halo.” Cedrik mengangguk, melirik ke troli yang dibawanya dan menemukan seekor Scottish Short Hair sedang tergolek tidak sadar, ada bekas luka di perutnya.
“Siapa?” Tanya suara dari dalam dan Cedrik menoleh, persis ketika Nikolas menjulurkan tubuhnya untuk melihat ke luar ruangan—mata mereka bertemu dan Cedrik otomatis tersenyum.
“Pagi, Dok.” Sapanya lalu membimbing Ares masuk ke dalam ruangan, namun anjing itu sepertinya paham ruangan Nikolas sangat mengancam—memutuskan untuk duduk di sana, menolak melangkah. Mendesah panjang, Cedrik mengusap kepalanya. “Ares, ayo.”
Great Danes di kakinya membalas tatapan Cedrik lalu melengos. Tidak sudi disuruh masuk ke ruangan Nikolas. Cedrik kembali mendesah dan Nikolas menghampirinya dari balik meja, tertawa kecil. Dia mengenakan kemeja putih kotak-kotak di tubuhnya dengan celana jins santai—menggenggam sarung tangan lateks di tangannya. Cedrik mengangguk padanya, tersenyum ketika dia berdiri di sisi Cedrik. Dia membawa aroma seperti Baccarat Rouge 540. Kayu-kayuan manis, sedikit almond, dan cedar.
Dia tidak lebih tinggi dari Cedrik, mungkin sekepala lebih pendek. Rambutnya gelap, ujung-ujungnya kemerahan karena terlalu sering terpapar matahari dengan ikal-ikal berantakan. Berusaha untuk disisir rapi, namun ikalnya pasti sangat keras kepala karena kembali mencuat keluar. Tindik permata kecil di hidungnya berkilauan ketika dia tersenyum dan berjongkok di sisi Ares.
“Halo, Ares?” Sapanya kemudian, mengulurkan tangan dan membiarkan Ares mencium aroma tangannya. “Ayo, kita masuk sebentar, yuk? Tidak akan sakit, tenang saja. Hanya sebentar, janji.”
Cedrik tidak bisa menahan senyumannya mendengarkan lelaki dewasa mengubah suaranya menjadi sedikit kekanakan untuk bicara dengan binatang. Nikolas kemudian mengusap kepala Ares sayang, terus bicara dengannya dalam suara anak-anak buatan sebelum akhirnya Ares menjilati tangannya dengan ekor bergoyang ceria—mengenal Nikolas.
“Persahabatan kalian tidak akan lama.” Cedrik tidak bisa menahan diri untuk berkomentar dan Nikolas tertawa, suaranya sedikit berat. Paham bahwa detik Ares menyadari bau Nikolas disertai sakit menikam karena jarum suntik, Ares pasti akan membencinya sama seperti semua anjing Arsa lainnya.
“Yah,” Nikolas kemudian berdiri—menghamburkan aroma parfumnya sekali lagi dan Cedrik otomatis menarik napas. Dokter muda itu menyuka rambutnya lalu mengulurkan tangan, meminta tali leher Ares. “Setidaknya aku sempat nampak memesona di matanya.”
Cedrik tertawa, meletakkan tali itu di tangannya dan mengizinkan Nikolas membimbing Ares masuk. Nikolas menggendong Ares naik ke atas meja periksanya, mengusap-usapnya sayang dan mengajaknya bercanda. Ares nampak menyukainya, menyalak ceria ketika Nikolas mengusap kepalanya dan memeluk lehernya.
“Anak pintar, anak pintar.” Puji Nikolas, tertawa lalu menaikkannya ke atas timbangan. “Silakan duduk, Chef. Anggap saja rumah sendiri.” Dia tersenyum pada Cedrik yang menarik salah satu kursi di depan mejanya dan mendudukkan diri di sana.
“Chef membawa bukunya?” Tanya Nikolas dan Cedrik mengangguk, mengeluarkannya dari saku celananya. Dia berdiri, mengulurkannya ke Nikolas yang menerimanya.
“Surat-suratnya?” Tanya Nikolas kemudian dan Cedrik mengerjap—tidak ada yang memberi tahunya untuk membawa surat-surat adopsi Ares tadi. “Oh.” Nikolas menyadari kesalahannya dan tergelak kecil, merona tipis. “Saya lupa memberi tahu Chef tadi. Tidak apa-apa, nanti akan saya minta Pak Kinan mengirimkan fotonya saja.”
Saya, Cedrik menyadari. Tadi dokter itu menggunakan aku untuk menyebut dirinya sendiri, mungkin kelepasan dan sekarang kembali bersikap profesional. Cedrik sejujurnya tidak keberatan dengan aku, merasa lebih ringan daripada saya. Tapi dia tidak berkomentar, merasa belum terlalu akrab dengan Nikolas untuk melakukannya.
“Maaf, Dok.” Ringisnya, Cedrik tidak pernah mengurus anjing jadi dia tidak tahu dokumen apa yang harus dibawanya untuk ke Vet selain buku periksa Ares yang diberikan Kinan.
“Tidak masalah, Chef.” Nikolas melemparkan senyuman hangatnya sekali lagi sebelum memasang sarung tangan lateks—membuat suara-suara menggemaskan untuk menghibur Ares di meja. “Saya masih akan bertemu Ares di lain-lain kesempatan.”
Cedrik mendudukkan dirinya kembali. Menonton Nikolas memeriksa kondisi kesehatan Ares. Mengecek telinganya, kondisi kulitnya, giginya, liurnya; dia tidak melewatkan hal sekecil apa pun. Tangannya yang terbalut sarung tangan lateks bergerak di tubuh Ares sambil sibuk mengajak anjing itu mengobrol. Setelahnya, Nikolas meraih pulpen dan mulai menulis di buku Ares sambil mengusap-usap punggungnya.
Dia kemudian memberikan vaksin untuk Ares. Sesuai dugaan, membutuhkan bantuan Cedrik untuk memeluknya dan menjaganya tetap diam karena dia menyadari benar spuit yang digunakan Nikolas.
“Nah,” Cedrik tergelak, memeluk Ares di atas meja—berhadapan dengan Nikolas yang mendesah panjang, suntikan di tangannya. “Inilah saatnya dia membencimu.”
Nikolas ikut tertawa, menatap Cedrik sebelum menunduk ke Ares. “Mau bagaimana lagi. Menjadi dokter hewan berarti menyukai binatang sekaligus dibenci oleh mereka semua.” Keluhnya dan Cedrik tersenyum lebar.
Nikolas kemudian mengangkat lapisan lemak di tengkuknya lalu menyelipkan suntikan ke sana—cepat dan singkat. Menyelesaikannya bahkan sebelum Cedrik mengedip. Namun Ares sangat menyadarinya dengan menyalak keras, kaget oleh sakitnya jarum suntik. Dia mendengking panjang, menyusupkan kepalanya ke bawah ketiak Cedrik—mengadu.
“Aduh,” Nikolas tertawa, mematahkan jarum suntik di spuitnya lalu memasukannya ke dalam kemasan aman dan melemparnya ke kantung sampah medis. “Jangan dramatis begitu.” Dia mengulurkan tangan mengusap Ares lembut. “Sudah selesai, kok.”
Cedrik tertawa, ikut mengusapnya—menenangkan Ares yang gemetar. “Jangan sampai dia mengadu ke Kinan tentang ini.” Guraunya dan Nikolas tertawa.
Dia melepas sarung tangannya, membuangnya lalu mendongak menatap Cedrik yang memeluk Ares di atas meja. “Jadi,” katanya berdeham. Cedrik membalas tatapannya. “Saya punya sekitar satu jam sebelum visit?”
Cedrik berpikir sejenak. Menoleh ke binatang-bintang di kandang yang sedang dititipkan, melihat beberapa karyawan mulai mengeluarkan kelinci-kelinci dari kandang untuk memberikannya kesempatan meregangkan kaki. Cedrik tidak pernah pergi ke tempat selain kosan dan pekerjaannya, mungkin menemani Abhimanyu. Makan, ke bistro, ke bar, dan sekali kemarin, ke taman safari.
Dunia Nikolas berbeda dengan kehidupannya dan Cedrik berpikir, apakah dia boleh setidaknya satu hari ini saja menghabiskan waktunya menjauh dari segala sumber stresnya? Pprospek kembali ke kos atau ke rumah Arsa sama sekali tidak menarik. Dia tidak mau sendirian dan terpaksa memikirkan Abhimanyu dan kejadian semalam.
Otaknya yang malang harus diistirahatkan. “Ke mana saja Anda akan visit hari ini?” Tanyanya kemudian, menghela napas.
Alis Nikolas naik sebelah mendengarnya. Sesuatu berkilat di matanya, terlalu cepat dan Cedrik tidak sempat menangkapnya. “Klien saya, di Nusa Dua. Mereka punya tiga Siberian Husky. Lalu ke Canggu untuk mengecek Chow Chow, mengantar salah satu kelinci Holland loops kembali ke rumahnya di Ubud. Lumayan sibuk.” Jelasnya, menatap Cedrik yang sejenak berpikir.
Mengedikkan bahu, Cedrik tersenyum. Lebih baik dia mencari kegiatan daripada mengasihani dirinya sendiri. “Apakah Anda membutuhkan asisten untuk hari ini?”
“L'Agneau pour le table 2, s'il vous plait!”
Abhimanyu mendongak, menoleh ke Argha yang mendorong piring makanan ke anak servis yang bergegas mengambilnya dan berlalu keluar. Servis mereka hari ini naik beberapa persen karena walk-in guest, mengisi meja-meja di area merokok dan menikmati suasana malam Seminyak yang semakin ramai. Karena flow yang rendah, Abhimanyu diperbantukan di section, mengecek dan mengoreksi pekerjaan commis mereka. Argha berdiri sendiri di meja plating menyelesaikan pesanan.
Tadi mereka sudah dihajar pesanan reservasi, mengerjakan plating-nya bertiga ditemani Diadari. Mereka menjejerkan piring di atas meja panjang dan menata makanan dengan hati-hati karena semua piring harus keluar bersamaan. Abhimanyu merasa dia sudah menatap kentang nyaris selamanya, hingga di titik dia tidak mau makan kentang setidaknya seminggu ke depan ketika menegakkan diri dan terserang migren ringan—kelelahan. Tapi syukurlah makanan berhasil disajikan tepat waktu; semua piring keluar bersamaan dan tidak ada masalah sama sekali.
Argha memimpin tim dengan sangat cekatan dan tegas. Membagi semua orang menjadi tim-tim kecil yang harus fokus hanya pada pekerjaan mereka; membuat semua kondimen makanan selesai bersamaan dengan memberikan mereka tenggat waktu, memaksa Abhimanyu dan Diadari menunduk terus ke atas piring untuk menata makanan. Rasanya sudah berjam-jam hingga akhirnya piring-piring diangkat oleh anak-anak servis dan disajikan bersamaan. Abhimanyu bersandar di atas meja, tersengal karena itu servis paling intens yang pernah dilakukannya selama di Gourmet.
Cara Argha memimpin sangat berbeda dengan Arsa, namun sama efisiennya. Arsa jauh lebih keras ketika bekerja di bawah tekanan, suaranya meninggi dengan mudah namun Argha tetap tenang—suaranya tidak ditinggikan karena dia marah atau stres, tapi dia ingin timnya mendengar suaranya. Alisnya tidak berkerut sama sekali dihadapkan pada tekanan sekuat itu.
Abhimanyu menyadari senioritas Argha. Pasti butuh sesuatu yang lebih sinting untuk membuatnya tertekan.
Acara berakhir mulus tanpa cacat, tapi mereka belum bisa merayakannya karena masih ada tamu-tamu lain yang harus diberi makan. Dengan flow makanan yang rendah, mereka bisa beristirahat sedikit-sedikit.
Ketika bekerja di Paradis, Abhimanyu tidak pernah mendapatkan kemewahan untuk beristirahat. Detik mereka memulai servis, segalanya begitu intens hingga memusingkan dan baru selesai ketika piring dessert terakhir dibersihkan oleh Steward. Angka reservasi Paradis selalu lebih tinggi dari Gourmet, ukuran restorannya juga relatif lebih kecil dengan meja terbatas. Tiga bulan pertamanya bekerja di Paradis, Abhimanyu kehilangan bobot tubuhnya nyaris lima kilo karena berusaha beradaptasi dengan kecepatan bekerja Arsa yang sinting.
Cedrik yang membantunya beradaptasi. Mengajaknya berolahraga, membantunya memahami pekerjaan barunya, mendampinginya dengan sabar. Abhimanyu selalu sangat segan pada Arsa karena dia begitu berbakat, mengintimidasi walaupun secara fisik, Cedrik jauh lebih tinggi dan berisi. Tapi tubuh Arsa yang kurus, berotot panjang, penuh tato dan bekas luka di sepanjang lengannya membuatnya nampak seperti ketua gangster. Membuat Abhimanyu merasa malu untuk bertanya hal-hal sederhana, maka dia berbalik bertanya pada Cedrik.
Abhimanyu menatap potongan foie grass di hadapannya, merasa sesuatu yang berat menghimpit dadanya. Cedrik selalu begitu baik padanya, begitu dewasa, hangat, dan perhatian. Dia membantu Abhimanyu beradaptasi di masa-masa awalnya bekerja; anak berusia dua puluh enam tahun, di dapur profesional pertamanya bekerja pada chef dengan bintang Michelin. Lebih muda dari semua anggota dapur yang dikenalnya, diremehkan dan dipandang sebelah mata karena usianya. Ekspektasi yang berat di bahunya membuatnya sering terkena anxiety attack—ketakutan jika dia mengecewakan Arsa, melakukan kesalahan dalam pekerjaannya, bertanya hal yang terlalu remeh.
Cedrik yang membantunya. Menjembatani dirinya dan Arsa, membantu Abhimanyu mengkomunikasikan kebutuhan serta kesulitannya pada atasannya. Membantunya menjalin ikatan dengan Arsa hingga akhirnya Abhimanyu memiliki keberanian untuk bertanya dan berdiskusi dengan Arsa. Jika ada orang yang paling berperan besar dalam karier Abhimanyu, dia adalah Cedrik dan Arsa.
Dia tidak bisa mengenyahkan ekspresi Cedrik semalam ketika mereka nyaris bercinta. Kecewa, bingung, takut.... Abhimanyu tidak berhenti menghukum dirinya sejak terbangun dan tidak menemukan Cedrik di ranjangnya. Pemuda itu sudah mandi dan memberi tahu Abhimanyu sebelum dia berangkat ke Seminyak bahwa dia akan pergi seharian menemani Ares—anjing baru Kinan.
Cedrik menghindarinya.
Rasanya seperti ada belati panas yang ditikamkan ke hati Abhimanyu ketika Cedrik memalingkan pandangannya dari Abhimanyu, menghindari tatapannya. Dan dia menyadari bahwa itu sepenuhnya kesalahannya, jika saja dia berhenti. Jika saja dia tidak ke kosan Cedrik kemarin malam. Abhimanyu seharusnya bisa mengendalikan dirinya sendiri. Dia tahu kondisi Cedrik yang adalah aseksual tapi kenapa dia terus-terusan mendesakkan dirinya pada Cedrik?
Abhimanyu menarik napas berat, menyentuh dadanya. Merasakan sakit berdenyut di sana, seperti sesuatu baru saja dicabut paksa dari sana. Meninggalkan luka yang berdarah dan pedih.
“Anda baik, Chef?”
Abhimanyu mengerjap, menoleh dan menemukan salah satu commis menatapnya cemas. Dia memaksakan senyuman dan menegakkan tubuhnya. “Ya, tentu.” Sahutnya parau, berusaha menyingkirkan ekspresi Cedrik dari sudut kepalanya dan melupakan ruang obrolannya yang masih diabaikan Cedrik.
Dia membutuhkan waktu untuk memikirkan kejadian semalam, Abhimanyu berusaha menghibur dirinya sendiri. Cedrik berhak mendapatkan waktu untuk melakukannya dan Abhimanyu tidak ingin mengganggunya. Dia merogoh saku, membuka ponselnya dan menghela napas ketika Cedrik belum juga membalas pesannya.
Jangan lupa makan. ketiknya lalu mengirimnya ke Cedrik. Tidak terlalu mengharapkan balasan, tapi setidaknya Cedrik akan melihatnya dari layar notifikasi, 'kan?
Abhimanyu kembali menyelipkan ponselnya ke saku, memikirkan apa yang mungkin sedang dilakukan Cedrik hari ini. Berharap harinya dengan kelima anjing Arsa menyenangkan dan membuatnya melupakan rasa tidak nyaman yang terbit karena Abhimanyu.
“Chef. Chef Argha.”
Abhimanyu menoleh, menemukan Hadrian memasuki dapur dengan dua piring di tangannya, salah satunya sudah termakan jika dilihat dari plating-nya yang sudah berantakan. Wajahnya pucat dan kencang. Seketika sesuatu menyeruak di dasar perut Abhimanyu dan jantungnya mencelos, membuatnya sedikit limbung. Seperti racun. Hadrian belum pernah memasang wajah seperti itu selama ini.
“The guests in table 12 returned their foods.” Kata Hadrian tegang.
Dapur sedang sedikit sibuk, berisik dengan semua suara alat masak dan api yang menggelegar. Namun kalimat Hadrian seketika menghentikan semua suara. Tim Gourmet berhenti sejenak bekerja, menoleh kaget mendengarnya. Abhimanyu limbung, mencengkeram pinggiran meja dengan tangannya berusaha mempertahankan keseimbangannya.
Le Gourmet sudah buka selama satu tahun, sebentar lagi akan merayakan hari jadinya. Dan sepanjang Abhimanyu bekerja di bawah kepemimpinan Arsa baik di Le Paradis maupun di Le Gourmet, belum pernah—belum pernah ada makanan yang dikembalikan ke dapur.
Perutnya mual, membayangkan ekspresi di wajah Arsa ketika dia mendengar makanan di Gourmet dikembalikan. Belum lagi ekspresi Kinan karena restoran ini adalah hadiah ulang tahunnya dari Arsa.
Dan Abhimanyu baru saja mengecewakannya. Rasa bersalah menghantamnya, begitu kuat hingga dia berdeguk kecil—merasakan asam lambung di lidahnya, panas membakar ulu hatinya.
Argha di meja plating juga nampak sedikit pucat namun berhasil mengendalikan ekspresinya dengan sedikit terlambat; Abhimanyu menangkap kekagetan itu. Abhimanyu meninggalkan section-nya, merasa seolah tubuhnya melayang ketika dia bergegas menghampiri Argha yang menerima kedua piring di tangan Hadrian di atas meja.
“What was wrong?” Tanya Argha tegang, meraih piring di meja—mendekatkannya ke wajahnya untuk dilihat.
Ada Les Gnocchis di atasnya, satu sudah termakan dengan sepotong gnocchi tergigit di atasnya dan piring satunya masih utuh. Makanan itu baru keluar sepuluh menit lalu, Abhimanyu mendengar Argha meneriakkannya kepada anak servis. Dia bersandar di meja, menggenggam pinggirannya agar tidak limbung.
Hadrian menatapnya. “There's hair in the food, Chef.” Sahutnya kering, mengulurkan tangan dan menyeka sepotong gnocchi menyingkir dari atas makanan—memperlihatkan sehelai rambut di atasnya.
Abhimanyu menarik napas, keras seperti udara yang terhisap. Mereka semua akan dihabisi Arsa. Dia melirik ke sisinya, Argha menatap piring itu nanar—rahangnya mengencang. Yakin chef senior itu juga sama tidak senangnya tentang ini dan memikirkan apa yang mungkin Arsa pikirkan jika dia tahu. Walaupun jabatannya executive, Argha tetap melapor pada Arsa—dia memiliki atasan di sini, pekerjaannya akan dinilai Arsa.
Dan ini bulan ketiganya di Le Gourmet.
“Putain.” Desis Argha di bawha napasnya, begitu beracun hingga Abhimanyu bergidik oleh kekuatan kemarahannya. “Abhimanyu,” tambahnya dengan suara sedikit gemetar—menahan amarah. “Cook two portions of Les Gnocchis, I'll serve them myself to apologize.”
Abhimanyu mengangguk, bergegas pergi dari sana untuk memasak. Commis di section pasta bergegas menyingkir dan memberikan tempat untuk Abhimanyu. Dia meraih pan, mulai memanaskannya di atas kompor dan menuang sedikit minyak zaitun untuk memasak. Matanya sedikit kabur namun dia memaksa dirinya sendiri untuk fokus.
“Siapa yang memasak makanan untuk meja 12?” Tanya Argha, suaranya dingin dan begitu tajam—ini kali kedua Argha menggunakan suara itu selain kali pertama dia masuk ke dapur Le Gourmet.
Abhimanyu tidak mendongak, dia fokus mengerjakan pesanan mereka. Tidak ingin melihat ekspresi Argha atau amarah yang berkilat di matanya. Semua orang di dapur diam, menatap head chef mereka yang sedang marah. Tidak ada yang menjawab, satu-satunya suara adalah desis pan yang digunakan Abhimanyu untuk memasak.
Argha kehilangan kesabarannya, menghantamkan kepalan tangannya ke meja plating hingga beberapa piring berdentang karenanya. “Siapa yang memasak makanan untuk meja 12?!” Raungnya ke seluruh ruangan dan membuat Abhimanyu berjengit—nyaris melukai dirinya sendiri. “Are you deaf?! I'm asking you, Motherfuckers!”
Tetap tidak ada yang menjawab. Mungkin takut pada apa yang mungkin Argha lakukan pada mereka jika mengaku. Abhimanyu menyelesaikan pesanannya, bergegas membawa pan ke meja dan menuangnya ke atas piring. Mengelap pinggirannya sementara Argha masih berdiri dengan bahu naik-turun oleh amarah—memandang semua timnya.
“You have ten minutes to think and come at me owning your mistake,” katanya saat Abhimanyu mendorong piring makanan ke arah Hadrian yang meletakkan makan baru itu di nampan.
“Ten minutes, you hear me?” Ulangnya, memandang semua commis satu per satu persis di matanya dengan nada ancaman yang begitu pekat. “Or everone has to take the responsibility together.”
Dia kemudian keluar dari dapur, mendampingi Hadrian untuk menyajikan makanan itu sekaligus meminta maaf atas kejadian barusan. Abhimanyu menoleh ke timnya yang tegang—saling menatap dengan resah. Semua makanan mereka dibuat segar, tidak ada yang membeli dari suplayer—bahkan pasta mereka dibuat langsung oleh tim. Maka jika ada kesalahan pada makanan, merekalah pelakunya. Tidak mungkin tidak.
“Kalian dengar kata Chef Argha,” ulang Abhimanyu, suaranya tegang—berusaha tidak memikirkan Arsa di kepalanya sekarang. “Siapa yang memasak pastanya?” Abhimanyu memandang commis yang bekerja di bagian pasta malam itu—menunggu dia mengangkat tangan dan mengakui kesalahannya.
Namun hingga Argha kembali, dia belum juga melakukannya. Jejak keramahan palsu Argha yang digunakannya untuk meminta maaf pada tamu seketika lenyap seperti lampu yang dimatikan detik dia menginjakkan kakinya kembali di dapur. Berdiri seperti singa marah yang menggeram pada semua orang, matanya berkilat—dan Abhimanyu belum pernah melihatnya semarah itu. Dia kembali ke sisi Abhimanyu, wajahnya kencang oleh amarah.
“Belum mengaku?” Tanyanya dan semua commis berjengit. Mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan. “Jadi kalian semua ingin mempertanggung jawabkannya bersama? Oke, saya akan menandatangani surat teguran kedua untuk semua orang di dapur ini jika tidak ada yang—”
“Saya, Chef.”
Abhimanyu menoleh ke commis di bagian pasta yang mengangkat tangannya. Bibir bawahnya gemetar dan dia nampak sangat tertekan, takut juga kebingungan.
“Did you use your head cover while cooking?” Tanya Argha dan secercah aksen Prancis meloloskan diri dari bibirnya—Abhimanyu menyadari bahwa dia menggunakan bahasa Prancis sebagai bahasa ibunya. Selalu mengumpat dalam bahasa itu jika sudah sangat marah.
“Yes, Chef.” Bisik commis itu dan Abhimanyu melihatnya menggunakan penutup kepala saat memasak, tidak ada yang melepasnya selama servis. Dia sendiri yang memastikannya.
“Who made the pasta?” Tanya Argha lagi, kini karena satu orang sudah mengakui kesalahannya, dia terdengar sedikit—sedikit lebih tenang. Namun amarahnya seketika kembali menggelegak ketika tidak ada yang menanggapinya setelah satu menit.
“Answer me, Fuckers!” Serunya, kembali menghantamkan kepalan tangannya ke meja plating.
“Saya, Chef!” Seru seseorang, gemetar dan Argha menoleh—menemukan salah satu helper mengangkat tangannya. “Saya bertugas membuat gnocchi hari ini.” Dia mencicit.
Argha mengerutkan alisnya, jengkel dan terganggu. “You need someone to shout at your face to acknowledge your mistake, don't you?” Dia lalu menambahkan. “Temui saya di ruangan setelah servis.” Lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa Prancis yang Abhimanyu yakin tidak ingin dipahaminya.
Dia berbalik di meja plating menenangkan emosinya dan Abhimanyu di sisinya terserang anxiety attack. Merasakan kecemasan mulai merayap dari dasar perutnya; menumpuk semakin tinggi dan semakin intens, membuat napasnya pendek-pendek, jantungnya berdebar lebih kuat dan kepalanya sakit.
”... Kau oke?” Sayup-sayup dia mendengar seseorang bertanya namun otaknya gagal mengenali suara siapa itu.
Abhimanyu membuka mulutnya, semuanya terasa kabur. Sekarang otaknya dipenuhi rasa takut dan cemas, bagaimana mereka menghadapi Arsa nanti? Sanggupkah Abhimanyu menatap mata atasannya setelah ini? Kenapa dia terus-terusan mengecewakan Arsa dan tidak pernah becus melakukan pekerjaannya? Kenapa Abhimanyu selalu gagal?
Semua orang selalu memujinya pintar, berbakat. Itulah mengapa Arsa memilihnya. Namun sejauh ini, hal yang diberikannya ke Arsa hanyalah kekecewaan. Bagaimana Abhimanyu bisa memercayai bahwa dirinya pintar dan berbakat dengan semua kegagalan ini?
”... Bhim? Abhimanyu??”
Mulutnya terbuka, dia menunduk—berusaha mengendalikan isi kepalanya yang bergerak liar. Menyedot semua energi dan napasnya. Tangan dan kakinya dingin, rasa itu menjalar dari ujung-ujung jemarinya naik hingga mencengkeram jantungnya. Abhimanyu membencinya—sangat membenci bagaimana dia terus menerus gagal.
Seseorang menyentuh bahunya dan dia terjengkang dengan suara kesiap keras, menoleh kaget dengan defensif. Menemukan Argha menatapnya dengan kaget, tangannya terangkat kikuk di udara. Abhimanyu menatapnya, ada kecemasan dan kekhawatiran di sorot matanya.
“Hei, are you okay?” Tanyanya perlahan, mengerjap dan menurunkan tangannya membentuk gestur menyerah di depan dadanya. “Kau diam sejak tadi. Aku memanggilmu berulang-ulang. Kau oke?”
Abhimanyu mengangguk, merasa tubuhnya mengambang karena rasa cemas yang mengalir di pembuluh darahnya. Memaksa jantung, otak, dan paru-parunya bekerja lebih cepat. Kepalanya berdenyut mengerikan, seperti ada sesuatu yang mencengkeramnya—menggigitnya. Dia mengangkat tangannya, memukul kepalanya; berusaha mengenyahkan rasa sakit itu. Pelan, pelan... Lalu dia mengangkat tangannya, menguatkan pukulan itu demi mengenyahkan sakitnya.
“No, no! What the fuck?!” Argha berseru, mencengkeram tangannya dan menahannya ketika Abhimanyu hendak memukul kepalanya lebih keras lagi. “Don't hit yourself! Are you nuts?!”
Abhimanyu mendongak, menatap Argha yang berdiri begitu dekat dengannya. Tangannya yang hangat mencengkeram tangan Abhimanyu, menjauhkannya dari kepalanya. Dia kebingungan, panik, cemas, takut.... Dia hanya berdiri, menatap Argha dengan mata nanar yang mulai panas. Rasa bersalah bergumul di dasar perutnya. Suara Argha barusan menyusup ke kepalanya, meneriakinya bahwa Abhimanyu baru saja melakukan kesalahan lain.
Kau melakukannya lagi. Kau mengecewakan semua orang. Kau layak dipukul. Pukul dirimu sendiri, ayo. Lakukan! Kau tahu kau layak mendapatkannya! CEPAT! Pukul dirimu!
“Abhimanyu??” Argha menurunkan tangan Abhimanyu. “Hey, hey, hey. Easy, alright? Easy. Easy.” Bisiknya, meletakkan tangan Abhimanyu di sisi tubuhnya. “Easy, no one hurts. Easy. Breathing.”
Biasanya ini Cedrik, pikirnya mabuk dan sesak oleh kesedihan. Biasanya Cedrik yang akan memberi tahunya untuk tenang. Memintanya bernapas. Memeluknya dan menenangkannya, menimangnya sayang—memberi tahu Abhimanyu bahwa semuanya akan baik-baik saja. Abhimanyu sudah melakukan yang terbaik. Membantu Abhimanyu melawan suara di kepalanya sendiri.
Wajah Cedrik yang menghindari tatapannya tadi kembali terbayang di benaknya, membuat Abhimanyu mual. Jika setelah ini Cedrik menjauhinya, bagaimana Abhimanyu bertahan? Siapa yang akan menjaganya tetap waras?
“Berhenti. Jangan dipikirkan.”
Abhimanyu mengerjap, menatap Argha yang balas menatapnya. Apa katanya barusan?
Argha sejenak ragu lalu berdeham, “Do you want... I don't know, a hug or something?” Tanyanya pelan, melepaskan genggamannya pada Abhimanyu dan berdiri di depannya dengan kedua tangan terkulai.
“Tidak, Chef. Tidak.” Sahut Abhimanyu, mengangkat tangannya. Dia harus menjauh dari sini. Dia ingin menangis, dia ingin muntah. Dia ingin berbaring dan mengasihani dirinya sendiri. “Saya akan ke klinik sebentar.” Tambahnya parau.
Argha membuka mulut, hendak mengatakan sesuatu namun menutup mulutnya kembali. Dia menoleh ke timnya. “Seseorang antar Abhimanyu.” Katanya.
“Ya, Chef!” Commis terdekat dari Abhimanyu bergegas menghampirinya—nampak senang bisa menghindari amukan Argha. Dia membantu Abhimanyu berdiri. “Pelan-pelan, Chef.” Bisiknya saat membantu Abhimanyu melangkah.
Persis sebelum Abhimanyu melangkah keluar dari pintu dapur, dia mendengar seorang berderap ke arah mereka. Menoleh, dia menemukan Argha menghampirinya dan mengulurkan tangannya. Ada permen di atas telapak tangannya. Abhimanyu menatap permen itu sebentar lalu mendongak, menatap mata Argha yang berkilat oleh emosi yang tidak dikenali Abhimanyu.
“Don't,” bisiknya menatap Abhimanyu, terdengar nyaris tulus. Menjejalkan permen itu ke saku depan seragam Abhimanyu.
Kenapa Argha selalu memberinya permen ketika dia merasa panik? Pikir Abhimanyu mabuk ketika merasakan kemasan permen itu menusuk dadanya dari luar seragam.
Argha menelan ludah, menatapnya cemas. “Don't hit yourself, okay?”
Abhimanyu balas menatapnya.
“Promise me?” Bisik Argha lagi, mendesak.
Abhimanyu mengangguk, tidak terlalu menyadari apa yang baru saja dijanjikannya pada Argha.
ps. ehe :(