Gemati 231

tw // anxiety , separation issue , trust issue .


Cedrik tidak menyangka rumah Nikolas berada di pinggiran Sayan yang asri dan meneduhkan.

Bentuk rumahnya tidak besar dan sangat khas Bali dengan tembok bata merah serta arsitektur kayu, bentuk bangunannya landai. Terdiri atas dua halaman utama. Halaman terdepan dengan gerbang kayu yang tinggi mengilat, dibatasi oleh gapura masuk khas Bali menuju halaman kedua di mana rumah utama berada.

Bagian depan rumahnya adalah gapura rumah Bali yang asri dengan pintu ukiran kayu kecil yang sepertinya hanya muat untuk satu orang. Halaman depannya diberi rumput rapi yang dipangkas apik. Ada pohon kamboja harum ditanam di beberapa sisi, semerbak karena bunga-bunganya mekar. Cedrik bisa melihat palem-palem ekor tupai tinggi menghiasi halaman utama rumahnya.

Dari pembawaan Nikolas, Cedrik pikir rumahnya akan mirip dengan rumah Arsa. Vila terbuka yang futuristik, mengilap didominasi jendela dan warna putih. Siapa sangka ternyata rumahnya mengusung arsitektur lokal dan kuno Bali, memberi kesan teduh yang menenangkan. Lapang dan terbuka, hangat. Berlawanan dengan pembawaan Nikolas. Seperti rumah yang dihuni keluarga kecil yang bahagia—terikat secara emosi yang kuat. Rumah yang Cedrik sendiri secara pribadi akan pilih jika dia memiliki rumah nanti.

Pagar kayunya yang tinggi terbuka sedikit tadi ketika Cedrik tiba, maka dia langsung berkendara masuk. Mobil Nikolas diparkir di halaman depan maka Cedrik memarkir motornya di sebelahnya, melepas helmnya dan turun dari atas motor. Dia merogoh saku, hendak menelepon Nikolas ketika dia mendengar suara derit kusen pintu kayu terbuka dan menoleh.

“Oh, hai! Aku mendengar suara motor, aku pikir itu kau. Ternyata benar.” Sapa Nikolas, tersenyum dengan seekor anjing besar di sisinya. Dia mengenakan kaus putih tipis dengan celana khaki pendek yang nyaman. Rambutnya dikuncir kecil di atas kepalanya. “Cepat juga? Apakah kosmu dekat?” Dia membuka pintu ukiran Bali itu, membiarkan anjingnya menuruni tangga.

“Lumayan,” Cedrik terkekeh. Juga tidak menyangka betapa dekatnya kediaman mereka. Dia bahkan tidak berkendara lama—tapi mungkin karena kemacetan biasanya belum dimulai sehingga dia bisa tiba dengan cepat.

Nikolas nampak segar, sedikit jejak air masih tersisa di ujung-ujung rambutnya. Tindik di hidungnya dilepas, mungkin belum dipasang lagi dan dia melangkah di belakang Bong yang menghampiri Cedrik—mengendus dari jauh mencoba mengenali siapa dia seraya menggeram. Bulu tengkuknya berdiri dan ekornya mengibas tinggi—mengancam seraya menggeram tidak suka. Cedrik meringis, teringat kali pertama berkenalan dengan semua anjing Arsa-Kinan.

“Tidak perlu, Bong. Dia teman.” Nikolas menyelipkan satu tangannya ke saku dan tangan lainnya mengusap kepala Bong, dekat dengan tali lehernya—siap menangkapnya jika Bong memutuskan melompat. Menatap Cedrik sedikit cemas. “Dia biasanya tidak begini.” Gumamnya.

Cedrik menatap Alaskan Malamute itu dan perlahan mengulurkan tangan, mengizinkannya mengendus aroma Cedrik. “Tidak apa-apa, mungkin pakaianku beraroma seperti salah satu anjing Arsa yang membuatnya defensif.” Cedrik mendongak sebentar, tersenyum pada Nikolas dengan tangan terulur ke anjingnya.

Bong menggeram keras, Nikolas bergegas meraih tali lehernya; berjaga-jaga. Tinggi anjing itu jika berdiri mungkin cukup untuk meraih wajah Cedrik dengan sedikit melompat. Namun anjing itu mengendus beberapa kali, kemudian mendengking keras dan Cedrik tergelak. Terbiasa dikenalkan ke anjing membuatnya menyadari bahwa Bong sedang frustrasi—ingin mengendusnya namun pemiliknya menahannya.

Maka Cedrik mendekat, membiarkan hidung Bong mengendusnya semakin dekat. Cedrik bertahan, menunggu Bong selesai mengendusnya dengan tenang—Nikolas mengamatinya, sejenak cemas sebelum akhirnya melepaskan tangannya dari kalung Bong. Anjing itu mengendus, semakin dekat dan akhirnya berhenti di depan kaki Cedrik—menciuminya lalu menegakkan kepalanya, mendongak pada Cedrik, menelengkan kepalanya manja dan menjulurkan lidahnya keluar.

Nikolas terkekeh. “Nah, dia minta dibelai.” Katanya geli dan Cedrik mengulurkan tangannya—mengusap kepalanya perlahan dan Bong menyalak ceria. “Selamat, kalian berteman.”

Cedrik terkekeh. “Aku sudah pernah menghadapi anjing yang lebih menyulitkan dari ini, tenang saja.” Katanya, mengusap kepala Bong yang duduk di depannya—jinak dan manja.

Alis Nikolas naik sebelah. “Bubble?”

Cedrik menggeleng, “Arsa.”

Nikolas tergelak, suaranya berat dan lepas. Matanya membentuk bulan sabit kembar dengan kerut menggemaskan di sisi-sisinya. Dia memiliki senyuman yang manis, Cedrik mengakuinya. Taringnya yang sedikit menyembul membuatnya menarik. Dia memiliki kerut di sisi mulutnya—garis wajah yang muncul karena seseorang sering tertawa.

“Masuklah sebentar, aku akan mengganti pakaian dan mengambil dompet.” Nikolas menatapnya, mengial pintu masuk ke rumahnya.

Cedrik mengangguk, melangkah masuk mengikuti Nikolas dengan Bong di sisinya—mencari perhatian Cedrik yang terus mengusap kepalanya sayang. Nikolas beberapa kali menoleh dan tergelak melihat Bong yang menempel akrab pada Cedrik.

Mereka menaiki undakan ke gapura berpintu kayu itu, Nikolas membuka kedua daun pintunya dan Cedrik menarik napas melihat bentuk rumahnya. Tidak heran juga sebenarnya, Kinan menyinggung Nikolas yang merupakan anak tunggal dari pengusaha kaya. Tinggal sendirian di Bali dengan semua aset pemberian orang tuanya. Tetapi hebatnya, dia tidak seperti semua anak Golden Spoon yang pernah Cedrik temui.

Rumahnya terbuka, landai dan hangat. Bentuknya khas tradisional Bali, beratap rendah. Ada kolam renang mengintip di halaman belakangnya, tamannya ditata rapi didominasi oleh tumbuhan tropis dengan rumput seperti karpet empuk. Jalan setapak dari batu alam dibentuk mengarah dari pintu masuk ke pintu utama rumah. Cedrik melihat seorang tukang kebun sedang memangkas pepohonan dan penyiram rumput berputar sedang melakukan tugasnya.

Tidak terlalu luas, tidak sebesar apa yang Cedrik bayangkan. Tapi dari ukurannya, mungkin di dalamnya terdiri atas 2-3 kamar. Padahal dia sepertinya tinggal sendirian di sana, tidakkah terlalu luas dan sepi?

“Tunggulah di dalam,” Nikolas melepas sandalnya dan meraih sandal rumahan untuk Cedrik yang bergegas membuka sepatunya lalu mengenakan sandal lembut itu.

Dia merasa sedikit canggung berkunjung ke rumah Nikolas. Dia begitu kaya—bukan hanya dari pemberian orang tuanya, namun juga dari pekerjaannya. Dari klien-kliennya yang sebagian besar adalah binatang ras yang mahal dan membutuhkan perawatan ekstra, Cedrik bisa membayangkan sebanyak apa uang yang mungkin diraupnya setiap bulan hingga dia bisa memelihara seekor Alaskan Malamute, satu Rubicon, dan rumah besar ini.

Dan harga rumahnya tentu saja fantastis karena berada di Ubud. Di mana properti begitu mahal karena posisinya yang berada di poros pariwisata Bali.

Mereka memasuki rumah Nikolas yang ternyata bagian dalamnya tidak sesumpek apa yang dipikirkan Cedrik. Bagian belakangnya terbuka dengan jendela-jendela geser yang mengarah ke halaman belakang yang adalah kolam renang. Didominasi warna putih dan cokelat hangat serta kayu. Walaupun nampak sangat tradisional di bagian luarnya, isi di dalamnya sangat moderen. Hingga sejenak Cedrik tidak paham konsep rumah Nikolas seperti apa, tapi berpikir mungkin dia membeli rumahnya sebelum merombak sesuai keinginannya. Sehingga rumah itu terlihat seperti puzle bongkar pasang yang sedikit tidak cocok.

Aroma pengarum ruangan lembut, tidak menyakiti hidung Cedrik dengan secercah aroma khas anjing di udara. Sedikit aroma Baccarat juga, tapi itu mungkin dari Nikolas yang berdiri di sisinya.

“Duduklah sebentar,” Nikolas melambai ke sofa yang berada di dekat dapur dengan bar. “Aku akan mengganti pakaian.” Dia tersenyum dan Cedrik seketika balas tersenyum. “Ambil apa saja dari dapur selama kau menunggu.” Dia menunjuk kulkas dua pintu di dapur yang mengilat. “Anggap saja rumah sendiri.”

Nikolas adalah teman pertamanya di luar pekerjaan setelah tiga tahun hidup di Bali. Cedrik menyadarinya ketika mengenyakkan diri di sofa lembut milik Nikolas di depan televisi setelah Nikolas berlalu ke kamar utama yang berada dekat halaman belakang. Ponselnya ada di meja di depan Cedrik dengan iPad, Kindle, dan kacamatanya di meja—sepertinya dia sedang membaca ketika Cedrik datang.

Dia sudah mengenal Nikolas begitu lama, baru sekarang dia menjalin pertemanan dengan dokter hewan Arsa-Kinan itu. Merasa tidak perlu melakukannya karena dia tidak memiliki urusan dengan Nikolas. Namun setelah menemaninya seharian bekerja, Cedrik menyadari bahwa memiliki teman lain dengan bahan obrolan baru selain urusan dapur, menyenangkan juga. Memberikannya sudut pandang baru, hal-hal baru untuk dicari tahu....

Untuk pertama kalinya, Cedrik merasa segar. Tidak lagi suntuk dan lelah dengan rutinitas bekerjanya. Jika dia membicarakan pekerjaannya, Nikolas menunjukkan ketertarikan yang membuatnya nyaman. Bertanya hal-hal sepele yang Cedrik pikir orang lain sudah pahami; membuatnya memutar otak berusaha menjelaskan hal itu dengan bahasa sederhana.

Dia tidak menyesal menolak Abhimanyu hari ini. Toh hanya sekali, biasanya dia menghabiskan nyaris seluruh waktunya bersama Abhimanyu. Dia berhak mendapat libur sehari saja dari Abhimanyu, 'kan? Abhimanyu lelaki dewasa, dia punya teman-teman lain yang bisa diajak keluar jika dia suntuk. Tidak harus Cedrik.

Menyadari benar bahwa dia sedang menghibur dirinya sendiri, Cedrik mendesah lalu memijat pelipisnya.

Dia bersandar di sofa, menatap ke sekitar rumah dengan sopan. Menyadari bahwa tempat itu nampak... kosong. Tidak hangat. Mungkin karena Nikolas menghabiskan sebagian besar waktunya untuk bekerja sehingga tidak sempat membuat rumah terasa seperti rumah. Hanya seperti tempat singgah untuk tidur saja, persis Cedrik.

“Ayo. Maaf memintamu menunggu.”

Cedrik mengerjap, menoleh dan menemukan Nikolas bediri dengan celana jins skinny dan kaus putihnya tadi. Mengenakan topi dan sudah memasang tindik hidungnya lagi—membuatnya nampak manis. Bong di sisinya, mengibaskan ekor ceria pada Cedrik sekarang setelah mengenalnya. Aroma Baccarat semakin pekat, sejenak membuat Cedrik sedikit pening.

“Dia akan naik di kursi belakang, tenang saja.” Nikolas tersenyum ketika mengunci rumahnya, mengatakan sesuatu pada tukang kebun sebelum melangkah ke mobilnya, Bong mengikuti mereka dengan ceria—ekornya mengibas ceria, mengotori jins Cedrik dengan bulunya yang rontok.

“Hanya datang sebulan sekali, kok.” Nikolas tersenyum menjelaskan ketika Cedrik menatap tukang kebun itu. “Aku tidak sempat mengurus rumah karena berkeliling Bali, jadi harus ada yang melakukannya untukku.”

Cedrik berhasil menahan dirinya persis sebelum mengatakan, “Cari pasangan saja,” karena menyadari dia benci dibercandai dengan kalimat itu. Memangnya dia tidak berusaha mencari pasangan selama ini? Jadi dia tidak akan menggunakan gurauan itu pada Nikolas.

Hop in, Bong!” Nikolas menepuk jok belakang mobilnya dan anjing itu melompat naik, menyalak ceria pada Nikolas yang tergelak—mendekatkan wajahnya, membiarkan Bong menjilati wajahnya. “Good boy!” Dia tersenyum, menggaruk leher Bong sebelum membuka pintu pengemudi.

Cedrik membantunya membukakan gerbangnya, cukup untuk mobilnya keluar. Jalan di depan rumah itu adalah jalan utama, sedikit ramai oleh kendaraan dan beberapa orang yang menoleh penasaran karena gerbang tinggi itu jarang terbuka. Nikolas memutar mobilnya dengan mulus di halaman dan mengeluarkan ke jalan, menunggu hingga Cedrik selesai menutup pagar lalu memanjat naik ke kursi penumpang sebelum meluncur ke Denpasar.

“Apa yang akan kita buat hari ini?” Tanyanya ketika mobil meluncur, mematikan penyejuk kabin karena Bong menjulurkan kepalanya ke luar jendela—mengamati jalanan dengan ceria. Dia menurunkan sedikit jendela Cedrik juga agar angin di luar masuk.

“Kau punya permintaan khusus?” Tanya Cedrik, dia punya beberapa resep yang ingin dicobanya tapi jika Nikolas memiliki makanan yang diinginkannya maka Cedrik akan membuatkannya.

Nikolas berpikir sejenak, satu tangannya memegang kemudi dan tangan lainnya beristirahat di atas persneling. Memandang lurus ke jalanan, sedikit melamun. “Resep apa yang paling membanggakan di kariermu?” Tanyanya.

Cedrik tergelak, menyeka rambutnya yang berhamburan karena angin di jendela. “Seven Deadly Sins, tapi jika kau ingin aku membuat itu maka kau harus reservasi di Le Paradis.” Dia menoleh ke Nikolas yang tersenyum lebar hingga matanya membentuk bulan sabit lagi.

“Baiklah, baiklah.” Dia melepas topinya, menyugar rambutnya yang sedikit panjang sambil berpikir. “Aku punya labu kuning di rumah, diberikan oleh istri tukang kebunku. Ada sebuah, ukurannya cukup besar. Dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan dengannya.” Dia menoleh ke Cedrik sejenak, meringis.

“Mungkin Chef Cedrik bisa membuatkanku sesuatu dari labu itu?” Tanyanya lagi, bergurau dan Cedrik tergelak kecil.

Otak Cedrik seketika bekerja. Memikirkan beberapa makanan yang bisa dibuatnya dari labu; mengganti tepungnya dengan daging labu yang bertekstur lebih padat dan lembut. Dia berpikir tentang Nikolas yang sehari-harinya begitu aktif bekerja. Maka dia ingin membuatkan makanan yang padat, mengenyangkan namun praktis—bisa dibawa Nikolas ke mana saja tanpa merepotkannya. Pumpkin bars mungkin bisa; digabungkan dengan granola dan potongan almond, juga cokelat untuk menambah rasa.

Pumpkin scones? Pikir Cedrik, menatap ke luar jendela. Scones kecil, mudah dibawa dan mengenyangkan. Namun rasanya tidak membosankan seperti roti—bisakah labu memberi tekstur grainy pada scones? Atau pumpkin pie bar? Memodifikasi makanan sederhana menjadi sesuatu yang praktis untuk dibawa Nikolas yang sibuk berlalu-lalang.

Dia bisa mencobanya nanti. Cedrik mencatat di kepalanya, merasa sedikit bersemangat karena akan mencoba bahan baru di tangannya—jika berhasil, dia mungkin bisa mendiskusikannya dengan Arsa. Sejauh ini, dia baru memberikan Arsa Deconstructed Sumping Waluh—makanan penutup khas Bali yang nyatanya digemari oleh tamu luar mereka karena rasa manis alami labu kuningnya.

“Beberapa, mungkin?” Cedrik tersenyum, menelengkan wajahnya ke Nikolas yang menoleh padanya—mata mereka bertemu. “Kita akan coba.” Tambahnya, menyadari bola mata Nikolas berwarna cokelat gelap pekat—bukan hitam.

Ketika cahaya matahari menimpa wajahnya, matanya berpendar kecokelatan. Tidak seterang Abhimanyu, tapi setidaknya bukan hitam. Membuatnya nampak hangat.

Nikolas membalas senyumannya. Ketika Nikolas diam, dia nampak seperti pemuda serius yang tidak bisa diajak bercanda. Garis wajahnya tegas sekali dengan rahang sedikit lebar—jenis wajah maskulin. Namun nyatanya, ketika dia mulai tersenyum dan berbicara; dia terlihat sedikit kikuk, ramah, dan mudah malu. Berlawanan sekali dengan pembawaannya jika dia tidak tersenyum.

Great, Chef. I count on you.” Katanya, masih tersenyum dengan mata membentuk bulan sabit berkerut. Senyumannya begitu menular hingga Cedrik tidak bisa tidak membalasnya.

Cedrik tergelak. Hatinya hangat. “No worries, Doc. I'll try my best.”


Abhimanyu melamun lagi.

Dia berusaha untuk melupakan fakta bahwa Cedrik sekarang mungkin sedang berkencan dan menikmati hari yang cerah bersama orang lain yang bukan dirinya. Separuh hatinya sadar bahwa dia tidak boleh cemburu; bukankah dia sendiri yang tidak pernah menyambut perasaan Cedrik? Tidak peduli berapa kali dia menyatakan cintanya pada Abhimanyu?

Lalu kenapa dia sakit hati hanya karena Cedrik mungkin mulai tertarik pada orang lain dan bosan padanya?

Hatinya berdenyut—nyeri sekali. Membayangkan suatu hari nanti, Cedrik juga akan bosan padanya. Dan pergi dari hidupnya, membuangnya seperti apa yang dilakukan Khrisna padanya. Tidak peduli seberapa banyak kata 'maaf' yang digunakan kakaknya, luka di hati Abhimanyu tidak sembuh. Terlalu dalam, bekasnya begitu lekat. Mustahil dihapuskan.

Dia takut dan cemas. Abhimanyu memandang kotak-kotak sereal di hadapannya sementara Hadrian sedang memilih sereal kesukaan Khrisna di rak setelah tadi mengambil susu almond juga untuk Khrisna. Dia mengulurkan tangan, menatap jemarinya sendiri—apakah dia mencekik Cedrik? Mencengkeramnya terlalu kuat karena tidak ingin ditinggalkan sehingga Cedrik sulit bernapas?

Itukah mengapa dia akhirnya melepaskan diri dari Abhimanyu?

Atau apakah dia tahu tentang ciumannya dan Argha di loker beberapa hari lalu? Apakah dia kecewa pada Abhimanyu? Haruskah dia menjelaskan pada Cedrik bahwa semuanya hanya fisik semata? Dia tidak tertarik pada Argha—setidaknya bukan secara romantis. Dia hanya penasaran pada rasa Argha, fisiknya yang indah.

Abhimanyu mendesah. Dia sedang bersikap egois, 'kan?

“Kau ingin membeli sesuatu?” Tanya Hadrian di sisinya, nampak hangat dengan sweatshirt dan celana jins. Rambutnya disisir naik dengan rapi. Dia mengambil dua kotak sereal dan memasukannya ke troli di hadapannya yang sudah lumayan penuh.

Dia tidak hanya membeli sereal dan susu. Juga daging, roti, buah-buahan untuk memelihara Khrisna yang nyatanya menerapkan pola hidup empat sehat lima sempurna sejak bekerja di luar negeri. Syukurlah tempat kos Hadrian adalah rumah yang cukup mewah dengan dapur yang memadai untuk memasakkan makanan menyusahkan Khrisna. Walaupun dia harus berangkat lebih pagi untuk bekerja, jaraknya itulah yang membuat Abhimanyu menolak menyewa kamar bersamanya.

Abhimanyu menggeleng. Dia sudah membeli beberapa bungkus camilan untuk dirinya sendiri, juga sekotak stroberi yang nampak ranum. Tidak membutuhkan apa-apa karena tidak suka menyetok makanan di kosannya. Jika orang-orang berpikir menjadi chef berarti tidak pernah kelaparan, itu tidak berlaku untuk Abhimanyu. Dia menghabiskan nyaris dua belas jam untuk memasak makanan untuk orang lain, tiba di kos dengan tubuh remuk setelah bekerja, hal paling bernutrisi yang dimakannya adalah sepotong pisang sebelum terlelap. Kadang dia hanya minum sekotak susu atau makan setangkup roti—apa saja agar perutnya diam sehingga dia bisa tidur.

“Aku tidak terlalu butuh apa pun,” sahutnya mengamati keranjang belanja mereka—membayangkan dengan hati pedih apa yang sedang dilakukan Cedrik sekarang karena dia tidak membalas pesan Abhimanyu.

Hadrian berhenti sejenak. “Kau baik-baik saja? Kita bisa selesai berbelanja sekarang.” Dia mengulurkan tangan, mengusap kepala Abhimanyu dan menyisiri ikal-ikalnya. “Kita ke Starbucks, membeli sesuatu yang manis.”

Abhimanyu menghela napas, memasang senyuman. Sudah merasakan tatapan cemas Hadrian sejak dia tiba di kosan. Dia tidak terlalu bisa menyembunyikan ekspresinya—apa saja yang dirasakannya akan terpampang jelas di wajahnya. Hadrian jelas menyadari ada yang salah, apalagi ketika tahu Abhimanyu tidak menghabiskan hari liburnya dengan Cedrik—seperti apa yang selalu dilakukannya, rutin selama dua tahun belakangan ini.

Hadrian tidak perlu bertanya.

Cedrik biasanya berotasi di sekitar Abhimanyu seperti bumi yang mengelilingi matahari. Ketika dia tidak melakukannya, Abhimanyu nampak sedikit goyah. Kebingungan. Mungkin malam ini dia harus mengobrol dengan Cedrik, mencari tahu apa yang salah dan bagaimana Abhimanyu bisa memperbaikinya. Mereka sudah dekat selama dua tahun, sia-sia rasanya jika mereka kehilangan segalanya sekarang.

Bukan berarti... Abhimanyu bisa mencintai Cedrik. Jika dia meminta Cedrik menjadi kakaknya saja, sahabat platonik—apakah Abhimanyu bersikap egois, mengabaikan perasaan Cedrik?

Abhimanyu mengangkat tangannya, memijat pelipisnya yang berdenyut. Hadrian mengusap bahunya, menatapnya cemas. Abhimanyu memejamkan matanya, berusaha menenangkan isi kepalanya namun malah membuatnya semakin awas dengan keadaan sekitarnya. Dia mengerutkan alisnya, mendengar seseorang tertawa di lorong sebelah mereka. Membicarakan labu kuning...

“Kita pergi saja, ya? Ayo selesaikan belanjaan kita dan—” Hadrian mendadak menarik napas tajam dan Abhimanyu membuka matanya, mendongak ke kekasih kakaknya yang memandang melewati bahu Abhimanyu. Matanya sedikit melebar dan bibirnya terkuak kecil—terkejut.

“Pak? Kenapa?” Tanyanya parau, hendak menoleh—melihat apa yang dilihat Hadrian namun mendadak pemuda itu meraih bahu Abhimanyu. Merangkulnya erat, begitu erat hingga bahu Abhimanyu sedikit sakit.

“Tidak apa-apa,” Hadrian tersenyum lalu membimbingnya pergi. “Tadi aku pikir ada seseorang yang kukenal, ternyata bukan. Aku hanya membayangkannya saja.” Dia tertawa kecil, melemparkan Abhimanyu senyuman berbentuk heart-nya yang manis.

Jantung Abhimanyu berdenyut kuat sekali—begitu kuatnya hingga dadanya sedikit nyeri. “Oh, ya?” Tanyanya kering, entah mengapa memiliki insting kuat untuk menoleh. Dia merasakan Cedrik di sekitarnya. “Siapa?” Tanyanya, berusaha berbalik dan Hadrian tidak sempat menahannya.

Abhimanyu berputar di kakinya, nyaris terserimpet sepatunya sendiri dan menoleh ke belakang. Tidak sudi dihentikan oleh Hadrian dengan suara tarikan napas keras sebagai reaksi tubuhnya atas ketegangan mencekam di kepalanya. Namun tidak ada siapa-siapa.

Dia tidak menemukan siapa pun yang dikenalnya, hanya seorang pemuda dengan topi dan kaus putih tipis longgar—menoleh kaget karena Abhimanyu mendadak berbalik. Dia berdiri di ujung lorong dengan sekantung oatmeal kemasan di tangannya, menatap Abhimanyu bingung. Abhimanyu membalas tatapannya, menyadari tindikan permata manis di hidungnya. Berkelip oleh lampu supermarket.

Sejenak dia terengah, perasaan bahwa Cedrik berada di dekatnya begitu kuat hingga dia sejenak kelelahan karena perasaan kuat itu. Dia tergagap sebentar sebelum berhasil tersenyum pada pemuda itu. Dan pemuda bertindik itu membalas senyumannya dengan kikuk—mungkin masih terkejut karena Abhimanyu tadi. Dia kemudian bergegas berlalu dari sana, seolah Abhimanyu akan menularkan penyakit menular hanya dengan bertatapan. Tapi masih sempat mengangguk sopan pada Abhimanyu yang balas mengangguk kaku.

Dia mengamati pemuda itu menghampiri temannya di ujung rak—Abhimanyu hanya bisa melihat ujung jaketnya yang berwarna cokelat dan mereka berlalu dari sana. Abhimanyu menghembuskan napas panjang, memijat pelipisnya dengan perasaan kacau.

“Sayang? Kau baik-baik saja?” Tanya Hadrian lembut, merangkulnya dan meremas bahunya hangat. “Kita pergi, oke? Kita cari sesuatu yang manis.” Dengan lembut, dia membimbing Abhimanyu menjauhi lorong itu ke kasir.

Kepala Abhimanyu berdentam-dentam oleh ketakutan dan rasa cemas. Bagaimana jika Cedrik benar-benar meninggalkannya? Seperti ayah dan kakaknya? Apa yang harus Abhimanyu lakukan tanpannya? Dia menggantungkan hidupnya pada Cedrik—pada kehangatannya, kelembutannya, sosoknya yang melindungi....

Sosok terdekat sebagai kakak yang Abhimanyu miliki selama dua tahun ini. Mengisi kekosongan dan mengobati luka yang ditinggalkan Khrisna padanya. Walaupun Abhimanyu paham kakaknya meninggalkannya karena masalah pribadinya sendiri, hatinya tidak kunjung bisa memaafkannya. Masih sering teringat bagaimana kakaknya melangkah keluar begitu saja dari kamarnya; diam dan tidak pernah menghubunginya lagi.

Abhimanyu menghela napas, berusaha membuat dirinya tegar saat menemani Hadrian membayar belanjaannya. Meminta Abhimanyu berdiri di sisinya, menjaganya dengan serius—membuat Abhimanyu tersentuh karena dia sangat mengkhawatirkan Abhimanyu, menyayanginya seperti adik. Mereka menyelesaikan belanjaan mereka dan Hadrian bergegas membimbing Abhimanyu keluar dari Grand Lucky yang lumayan ramai.

“Kita pergi ke Starbucks, oke? Minum sesuatu yang manis!” Hadrian tersenyum, bergegas mengenakan helmnya setelah memasukkan belanjaan ke dalam bagasi motor Abhimanyu.

Hadrian yang membawa motornya karena Abhimanyu sedang malas. Maka dia naik ke jok belakang setelah Hadrian naik dan memutar motornya. Mereka meluncur keluar dari Grand Lucky dan sudut mata Abhimanyu menangkap Rubicon putih di dekat pintu keluar ketika motor berhenti untuk bergabung dengan lalu lintas.

Menoleh, dia menemukan pemuda tadi sedang membuka pintu belakang dan seekor anjing menyembulkan kepalanya dari dalam—menjilati wajahnya ceria. Mudah mengenalinya karena tindik di hidungnya. Abhimanyu tersenyum melihat anjing raksasa itu, berpikir apakah dia harus memelihara anjing? Matanya mengejap dan menangkap seseorang berdiri di sisinya, tertutup oleh pintu mobil. Hanya melihat bagian bahu jaket cokelatnya.

Dan sebelum Abhimanyu sempat melihat wajah temannya, motornya melaju menjauhi Grand Lucky—bergabung di lalu lintas jalan utama Sanur yang ramai.


ps. ehe :( D: