Gemati 217
edisi spesial Yukio <3
tw // eating disorder , panic attack .
”... We can't?”
Yukio menggeleng, wajahnya sendu sekali hingga hati Argha terasa dipelintir.
Hari itu musim semi, cuaca sedang dingin dan Yukio terkena flu ringan. Argha baru memasang meja penghangat dan memasak makanan berkuah untuk mereka nikmati sambil menonton televisi. Seharusnya jadi hari yang normal dan nyaman karena Argha pulang tepat waktu dari tempatnya bekerja dan membawa makanan kesukaan mereka—okonomiyaki dari tempat langganan mereka. Juga beberapa custard pudding kesukaan Yukio, agar dia mau memasukan sedikit saja kalori ke tubuhnya.
Namun dia juga tahu mereka sudah menunda obrolan ini begitu lama. Berharap Yukio melupakannya saja karena Argha sungguh tidak bisa menerima alasannya. Dia berharap Argha bahagia ketika bahagianya adalah Yukio. Dia berharap Argha bisa bahagia tanpa kebahagiaannya?
Yukio pasti sudah sinting.
Banyak hal yang mereka lakukan untuk bertahan. Argha berusaha—sekuat tenaga berusaha untuk membuat hubungan mereka tetap stabil terlepas dari perbedaan prinsip mereka. Argha tidak tahu sebelum jatuh cinta dia harus mencari tahu apakah seseorang memiliki prinsip yang sama dengannya karena detik dia memandang Yukio di bawah salju tipis yang mulai luruh di depan toko okonomiyaki kesukaan mereka, Argha jatuh cinta.
Begitu saja.
Tidak menyangka bahwa masalah mereka kedepannya jauh lebih hebat. Tetapi keduanya tidak ingin menyerah, Argha memperjuangkannya. Perbedaan mereka tidak ada apa-apanya dibanding rasa cinta di hatinya untuk Yukio.
“Then at least, we can be friend, right?” Argha gemetar, merasakan sakit menyeruak di dadanya dan membuatnya sesak. Dia tidak siap berpisah dengan Yukio: siapa yang akan mengingatkannya makan? Siapa yang akan memastikannya menyalakan penghangat ketika musim dingin?
Yukio begitu ceroboh, lemah karena eating disorder-nya yang sedikit parah. Dia hanya bisa makan makanan tertentu, biasanya menolak makanan lainnya. Argha harus selalu memaksanya makan setiap hari, terkadang menyuapinya. Mengalihkan perhatiannya jika dia merasa bersalah karena makan. Membantunya menyeka rambut jika memuntahkan makanannya ke mangkuk toilet, berharap Argha bisa menanggung rasa sakit itu untuknya. Berharap dia bisa berada di posisi Yukio.
Dia menyadari kapan pun Yukio mulai merasa cemas. Menggigiti kukunya, merobek kutikulanya, menggerakkan tubuhnya, dan menatap ke seluruh ruangan dengan cemas. Keringat dingin di keningnya, bibirnya yang kering... Argha akan langsung memeluknya, memintanya bernapas dan membantunya menghadapi panic attack-nya yang parah.
Yukio menatapnya, bola matanya lembut dan Argha bisa melihat air mata berkilauan di sana. Menikam jantungnya dengan belati panas sekali lagi, menyengatnya dengan rasa sakit yang menyesakkan. “If we keep being friend, Argha, you won't let me go. You have to let me go, you have to... I don't know, live your life.”
Yukio mengulurkan tangan, menyeka wajah Argha dan mengusapnya lembut. Argha menggenggam tangan Yukio yang mungil dan gendut di wajahnya, menguburnya dalam jemarinya yang besar.
“Jika aku terus membiarkanmu berada di sekitarku, kau tidak akan berhenti berharap aku berubah pikiran dan kembali padamu.” Bisik Yukio pelan dan Argha merunduk, menumpukan keningnya ke kening Yukio—menghirup aroma tubuhnya yang lembut dan menenangkan. “Lalu akan semakin berat untukku melepaskanmu, mengikhlaskan bahwa kita tidak bisa bersama. Kau harus melupakanku, kau harus terus hidup, Argha. Melangkah ke depan.
“Sudah cukup waktu yang kaukorbankan untukku selama ini berusaha mengimbangiku padahal kau tidak perlu melakukannya.” Tambah Yukio lambat-lambat.
Mereka bersama selama lima tahun. Dengan perbedaan besar yang mengganjal, berusaha menemukan jalan keluar yang sesuai agar mereka bisa tetap bersama. Sayangnya, Yukio menyerah. Tidak lagi kuat menghadapi perbedaan fatal itu. Padahal Argha tidak pernah mempermasalahkannya walaupun dirinyalah pihak yang, menurut Yukio, paling dirugikan. Karena dia mencintai Yukio, dia bisa melakukan apa saja.
“Aku mencintaimu.” Bisik Yukio lagi, napasnya menerpa wajah Argha—menghamparkan selapis aroma pasta gigi yang harum ke hidungnya. “Aku sangat mencintaimu, kau tidak perlu meragukan perasaanku. Kapan dan di mana pun aku berada, kau tetap memiliki tempat di hatiku.
“Tapi aku tidak bisa lagi bertahan. Aku tidak bisa menyiksamu dengan cara ini.”
“Tidak.” Sela Argha tegas, gemetar. Dia meremas tangan Yukio yang sedikit dingin dan berpikir sejenak bahwa dia harus menaikkan suhu penghangat ruangan jika tidak ingin Yukio sakit. “Kau tidak bisa meminta seseorang untuk tetap hidup tanpa bernapas, Yukio.”
Yukio mengernyit. Sudah menduga jawaban Argha seperti ini. “Argha,” keluhnya dengan suara sedikit gemetar dan Argha bergegas memeluknya, mengusap tubuhnya agar hangat. “Kau harus berhenti.” Gumamnya teredam di dada Argha. “Tolong... Tolong berhentilah.”
Tubuhnya begitu mungil. Argha senang membungkusnya dalam pelukannya, memastikannya hangat seperti seekor itik yang dierami induknya. Memeluknya dalam tidurnya, menggendongnya, menggoyangkan tubuhnya, dan menggigiti pipinya. Respons Yukio selalu menghiburnya; mengomel dalam bahasa Jepang berlogat Kansai yang tidak dipahami Argha seraya memukulnya. Menendangnya.
Hidup mereka bahagia sekali. Sangat bahagia, seperti mimpi. Maka dia benar-benar remuk ketika Yukio memutuskan untuk menyerah.
“Tidak.” Balas Argha, menumpukan dagunya di kepala Yukio—memejamkan matanya. Dia tidak mau berhenti, tidak sudi berhenti. Yukio bisa mengusirnya, menendangnya keluar, melemparinya dengan sampah tapi tidak.
Argha tidak akan berhenti. Tidak akan menyerah tentangnya.
Yukio adalah alasannya kembali berusaha hidup, memberinya alasan untuk kembali bernapas dan berjuang. Membantu Argha kembali berdiri setelah membuang keluarganya sendiri di Indonesia. Memberinya kehidupan baru, identitas baru. Memberinya bahagia. Dia pasti sudah sinting jika berharap Argha bisa melupakannya begitu saja setelah dia membuat Argha bangkit dari keterpurukannya.
“Argha.” Yukio mendesah panjang, namun tak ayal memeluknya. “Kita sudah memberi kesempatan hubungan ini bertahun-tahun dan kita berdua tahu, ini menyiksamu.”
Argha menggeleng, keras kepala. “Tidak masalah. Aku akan menangguhkan apa saja untukmu; bahkan beban langit.” Dia mengecup puncak kepala Yukio dan mendesah, sangat mencintai pemuda itu hingga hatinya sesak.
“Tapi, jangan. Tolong jangan mengusirku dari hidupmu, Yukio.” Bisiknya, gemetar dan merasakan tangis mulai terbit di pangkal tenggorokannya. “Aku bisa mati.”
Argha menggertakkan giginya.
Dia mengangkat wajahnya, menatap refleksi wajahnya sendiri di cermin wastafel yang basah karena dia memercikkan air ke sana. Membasuh wajahnya setelah bertemu Arsa, kepalanya berdenyut. Dia memandang tangannya sendiri yang menggenggam tepian wastafel, sudah mencucinya dengan sabun dua kali tadi setelah digenggam tangan Abhimanyu yang lengket.
Berpikir dengan sedikit mabuk, mengapa dia selalu tertarik pada individu yang memiliki kebutuhan khusus dengan mental mereka?
Dia berpikir selama ini dia tidak akan pernah merasakan ketertarikan apa pun di luar fisik pada orang lain selain Yukio. Pemuda manis yang tersenyum padanya, tenggelam dalam syal tebalnya dan melambai kecil. Argha ingat menatapnya dengan terpesona, melihat pipinya yang memerah. Hidungnya yang mungil, matanya yang bersinar seperti bintang. Dia mengenakan topi dengan kelepai penghangat telinga. Menggemaskan sekali, begitu kecil dalam pakaian penghangatnya yang berlapis-lapis.
“Halo!” Sapanya ceria hari itu. “Kau baik-baik saja? Di sana dingin. Kau mau makan bersamaku?” Begitu katanya, terlepas dari fakta bahwa mereka baru saja berkenalan—dia bahkan belum tahu nama Argha.
Rasanya seperti berdosa ketika dia tertarik pada orang lain selain Yukio—padahal Argha tidak percaya kehidupan setelah kematian, dosa, bahkan Tuhan. Dia tahu hatinya tidak terbagi sama sekali, tidak menggantikan Yukio. Seolah ada hati baru yang tumbuh di sisinya, untuk menampung perasaan tertarik baru itu.
Abhimanyu berbeda sekali dengan Yukio.
Jika Yukio adalah musim dingin. Salju indah yang berkelip karena sinar matahari temaram dari mendung yang tebal. Indah, mendebarkan, dan Argha harus berhati-hati di sekitarnya jika tidak ingin merusak sesuatu. Sementara Abhimanyu adalah musim panas yang berkilauan—hangat, menyenangkan, mengundang.
Mata Yukio selalu berkabut, sedikit kelabu. Mata Abhimanyu cokelat karamel. Mengontraskan perbedaan pribadi mereka namun sama manisnya ketika tersenyum, mengulurkan tangan pada Argha untuk menyelamatkannya.
Walaupun OCD-nya sama sekali tidak mengapresiasi genggaman tangan Abhimanyu, mau tidak mau Argha menyadari ukuran tangan Abhimanyu di tangannya. Rasanya pas—tepat. Mengisi semua ceruknya dengan sempurna.
Argha mendesah, mengusap wajahnya lalu menyeka rambutnya. Dia menatap dirinya sendiri di cermin. Sekarang apa yang harus dilakukannya? Arsa setuju untuk memberinya kesempatan kedua—atau ketiga? Entahlah. Dan Argha merasa dia harus segera beradaptasi dengan timnya jika tidak mau kejadian seperti ini terulang.
Mungkin dia salah karena telah mengendurkan fokusnya karena angka reservasi rendah. Dia biasanya tidak melakukannya. Dia selalu awas dan waspada terhadap makanan, selalu mengeceknya sebelum disajikan. Entah apa yang membuatnya kehilangan sedikit fokusnya kema—
“Yukio sudah memiliki kekasih sekarang. Berhentilah.”
Argha menghela napas, memijat pelipisnya teringat kata-kata Hikaru beberapa tahun lalu ketika mereka bertemu sebelum Argha berangkat ke Maladewa. Satu tahun setelah dia berpisah dengan Yukio.
Setengah hatinya merasa senang. Setidaknya sekarang ada seseorang yang akan menjaga Yukio; memastikan dia makan dengan teratur, membantunya menenangkan diri jika terkena serangan panik, menemaninya tidur, menyayanginya.
Namun setengahnya lagi terluka—begitu hebatnya hingga selama satu menit penuh dia terenyak di kursinya. Menatap Hikaru yang membalas tatapannya dengan pandangan yang sulit dijelaskan. Merasakan sakit itu perlahan menyeruak di dadanya; mengubur semua sarafnya dalam rasa hampa dan kebas.
“Dan aku bisa meyakinkanmu bahwa pasangannya bukan aku.” Tambah Hikaru perlahan, menilai reaksi Argha. “Mereka bertemu di suatu tempat, kau tahu Yukio.”
Yukio gemar memungut sesuatu di jalan. Itu gurauan antara dirinya dan Hikaru. Anak anjing, boneka yang rusak, potongan kain perca yang cantik, bunga yang mengering—termasuk memungut Argha. Maka dia tidak lagi terkejut Yukio menemukan kekasihnya di suatu tempat, memutuskan untuk memberikannya kasih dan cinta. Kehangatan yang pernah menjadi milik Argha.
Hati Argha koyak. Dia tidak lagi bisa menggambarkan rasa sakit yang menyeruak di dadanya saat ini. Dia menyentuhnya, mencengkeram tempat yang dia pikir adalah hatinya—namun sakit itu berdenyut di belakang sana. Di balik jantung dan paru-parunya, panas membakarnya. Menyebar seperti api yang menyesakkan.
Argha mengepalkan tangannya, mulutnya terbuka beberapa kali. Entah hendak bicara atau menarik napas karena mendadak merasa sesak. “Apakah mereka...?” Bisiknya kemudian, nyaris dikalahkan suara sibuknya jalanan di sekitar mereka.
Tidak perlu mengucapkannya karena Hikaru tahu apa yang dibicarakan Argha.
Hikaru menatapnya, rahangnya mengencang dan dia mengangguk. Argha menarik napas tajam, mengangkat tangannya dan mengusap wajahnya. Berusaha mengabaikan sakit di hatinya, kekecewaan karena bukan dia yang akan membahagiakan Yukio. Membuatnya begitu bahagia dan hidup seperti apa yang dilakukannya untuk Argha.
“Maafkan aku,” bisik Hikaru hari itu, mengulurkan tangan dan mengusap bahu Argha walaupun itu sama sekali bukan kesalahan Hikaru.
Argha di masa kini menekan keningnya, memijatnya kuat berusaha mengenyahkan kenangan itu. Dia harus bekerja, fokus untuk memimpin timnya dan tidak ada ruang untuk memikirkan Yukio sekarang. Dia harus memastikan tidak ada makanan cacat lain yang keluar dari dapurnya atau Arsa akan benar-benar mengusirnya.
Rekomendasi buruk dari juru masak berbintang Michelin akan merusak seluruh CV Argha. Maka dia harus bekerja lebih baik lagi, mendapatkan rekomendasi Arsa untuk karier yang lebih baik meski dia sudah merasa tidak lagi ingin berpindah-pindah. Berharap dia bisa bekerja bersama Arsa hingga akhirnya pensiun, mungkin bisa membantunya menjadi tim Executive. Memikirkan perkembangan restorannya dari belakang.
“Argha, aku mencintaimu. Kau tahu aku mencintaimu.”
Argha mengerang keras, menempelkan keningnya di cermin ketika ingatan tentang Yukio kembali ke kepalanya. Teringat bagaimana dia mengulurkan tangan, menyentuh dadanya sendiri dan menatap Argha—hari ketika dia memutuskan untuk keluar dari hidup Argha. Pindah dari apartemen Argha.
“Akan selalu ada ruang di hatiku yang adalah milikmu. Tidak akan tergantikan. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untukmu, mendoakanmu berbahagia di mana pun kau berada.”
Argha menyentuh dadanya, membuka mulutnya saat air mata menyengat matanya. Merasakan jantungnya yang berdebar, berpikir bahwa dia juga memiliki tempat yang sama untuk Yukio di hatinya—tidak akan terisi oleh siapa pun.
Yukio akan selalu menjadi cinta pertama dan terindahnya. Mengulurkan tangan sedetik lebih cepat dari kematian, menarik Argha keluar dari sumur dalam dan membantunya menyembuhkan diri terlepas dari kondisinya sendiri.
Memang, pikir Argha kering. Hanya mereka yang hancur yang memahami perasaan hancur orang lain. Tahu bagaimana menghadapi dan menghibur orang hancur lainnya.
Lalu berpikir apakah sekarang, detik ini—ketika Argha memikirkan Yukio dan betapa ruang di hatinya adalah milik Yukio, pemuda itu juga sedang memikirkan Argha? Apakah pernah sekali saja selama bertahun-tahun mereka berpisah, Yukio memikirkannya? Memimpikannya? Merindukannya?
Atau hanya Argha sendirian?
“Chef?”
Argha mengerjap, membuat air mata meluruh di pipinya dan tidak sempat mengusapnya ketika menoleh. Menemukan Abhimanyu berdiri di depan pintu loker. Rambut ikalnya mencuat-cuat seperti per, menggemaskan sekali—membuatnya nampak seperti karakter animasi.
Dia mengerang dalam hati. Dari semua orang, kenapa Abhimanyu yang menemukannya ketika sedang menangis?
“Oh, kau.” Sahut Argha sengau, mengusap air mata di pipinya dan membersit. Menarik napas, menyingkirkan ingatan Yukio dari kepalanya. “Maaf, aku sedang memikirkan hal-hal lain.” Dia mengedikkan bahu, menyalakan kran air dan menangkupkan tangannya di bawah kucuran air, membawanya ke wajahnya untuk membasuhnya.
“Apakah ada sesuatu yang salah?” Tanya Abhimanyu dan Argha mendengarnya memasuki ruangan—melangkah perlahan, seperti takut jika langkahnya menakuti Argha.
“Tidak.” Argha tersenyum tipis, mengusap air dari wajahnya—menyadari hidung dan matanya yang merah. “Hanya hal-hal remeh. Sama sekali bukan tentang pekerjaan, tenang saja.”
Abhimanyu berdiri beberapa meter darinya, mengamati ketika Argha meraih handuknya dan mengelap wajahnya. Membereskan sisa air mata di wajahnya agar tidak dilihat siapa pun. Abhimanyu sudah cukup buruk.
Omong-omong soal Abhimanyu. “Oh, ya.” Argha menatap Abhimanyu dari refleksi cermin. “Terima kasih atas bantuanmu tadi.” Dia tersenyum, mengelap tangannya di handuk. “Terima kasih telah membelaku walaupun aku sebenarnya bisa melakukannya sendiri, tapi mungkin pendapatmu bisa menjadi pertimbangan untuk Arsa.”
Argha tertawa kecil, memalingkan wajah dari Abhimanyu. “Kau membuatku merasa sangat bersalah karena telah bersikap tidak sopan padamu dan Cedrik.” Dia mengaitkan handuk itu di pegangan besi kecil di sisi wastafel—akan membawanya pulang nanti. “Aku akan lebih menghormatimu sekarang sebagai balasan atas bantuanmu.”
Dia menegakkan tubuhnya dan berbalik, menghadapi Abhimanyu yang masih menatapnya. Tubuh anak itu bidang, berpinggang langsing, dan berkaki panjang. Fisiknya indah sekali, juga bagaimana dia menggerakkan fisik itu. Tapi Argha berpikir dia akan melepaskannya, membiarkan dia dan Cedrik berbahagia sebagai kompensasi atas bantuannya hari ini. Argha bisa bermain-main dengan orang lain. Sebastien contohnya.
“Chef.” Bisik Abhimanyu.
Argha menatapnya, menelengkan wajahnya sedikit. “Ya?” Tanyanya.
Abhimanyu ragu sejenak, menjilat bibirnya perlahan dan memandang ke titik di sisi kepala Argha sebelum kembali ke wajahnya. “Saya tahu lelaki seperti apa Anda ini,” bisiknya perlahan dan Argha mengerutkan alisnya.
Haruskah dia tersinggung pada kalimat itu? Tapi dia tidak merasa keberatan. Karena dia memang begitu. Tidak ada gunanya tersinggung kecuali Abhimanyu menuduhnya.
“Lelaki seperti... apa, maksudmu tepatnya?” Tanya Argha, ingin mengkonfirmasi pikirannya sendiri, menyamakan persepsi mereka.
Abhimanyu menelan ludah, nampak rikuh. Tidak ingin melakukan ini, namun juga sangat ingin. “Hubungan Anda dan Pak Ricci,” mulai Abhimanyu lagi dan alis Argha berkerut—Apa hubungan Sebastien dengan semua ini?
“Hubungan kalian murni adalah fisik, 'kan?”
Argha mengerjap, mulutnya terbuka. Terkejut pada arah pembicaraan ini karena dia baru saja—beberapa detik lalu memberi tahu Abhimanyu dia akan berhenti bersikap tidak sopan pada ruang pribadi Abhimanyu; yang berarti adalah dia akan berhenti menggoda Abhimanyu secara fisik.
Argha bersumpah. Jika Abhimanyu mengizinkannya atau mereka bertemu dalam situasi yang berbeda, Argha tidak akan ragu untuk melompat ke arahnya dan memohon untuk digagahi. Tetapi situasi mereka, Cedrik, dan mungkin juga trauma Abhimanyu menahan Argha. Dia mungkin memang seorang playboy yang menggunakan seks untuk mengalihkan pikirannya sendiri.
Namun dia juga punya batasan yang jelas.
Dia berhasil mengendalikan dirinya. “Dan?” Tanyanya, jantungnya berdebar. Apa yang sebenarnya diinginkan Abhimanyu darinya sekarang? “Memangnya kenapa jika hubungan saya dengan Sebastien adalah fisik semata?”
Abhimanyu menatapnya, rahangnya mengencang dan dia beberapa kali menjilat bibirnya yang kering oleh rasa cemas. Argha menunggunya, tidak ingin memburunya mengungkapkan apa yang hendak dikatakannya. Mata sewarna karamelnya berkilat dan Argha tidak yakin pada kilatan itu—tidak yakin itulah yang dipikirkan Abhimanyu.
Bagaimana jika....?
Mata Abhimanyu memandanginya, ada rasa penasaran di sana. Sesuatu yang coba dilawan Abhimanyu. Persis seperti kemarin ketika mereka berada di ruangan Argha. Tatapan mata yang menggelap oleh keinginan yang Abhimanyu sendiri paham, tidak boleh dirasakan. Argha seketika meremang. Dia sepertinya tahu apa yang diinginkan Abhimanyu.
“Jika begitu,” bisik Abhimanyu, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya.
Argha menatapnya, menunggu. Jantungnya berdebar dan tangannya berkedut. Jika Abhimanyu meminta itu, maka Argha tidak tahu apakah dia bisa menahan dirinya. Abhimanyu sedang mengerjainya; seperti segelas air dingin di tengah panasnya gurun pasir. Dia diayunkan di depan Argha, menggoda untuk diraih sementara di sisinya ada Cedrik yang mendampinginya.
Abhimanyu meletakkan Argha di posisi yang sama sekali tidak menguntungkan.
“Bolehkah...” Bisik Abhimanyu dan Argha menahan napasnya.
“Bolehkah saya mencium Anda?”
ps. ehe :((( yakan cebhim udah mau karam yakan :((((((