Gemati 309
ps. idk... careful with your heart kinda narration????????
Sebenarnya Argha punya banyak sekali pekerjaan hari ini.
Maksudnya, mengasihani dirinya sendiri karena sejak kemarin nomor Yukio tidak lagi aktif. Semuanya karena dia mengirimkan pesan yang sama sekali tidak dipikirkannya baik-baik. Dia sedang berbaring di lengannya, menatap Abhimanyu yang lelap dan merasa dia bisa saja jatuh cinta pada boneka beruang manis menggemaskan ini saat itu juga. Lalu mengirimkan pesan pada Yukio dalam keadaan sedikit mabuk dan sekarang... menyesalinya?
Tidak juga sebenarnya...
Argha menghela napas jengkel. Dia menoleh ke tas makanan di jok penumpang mobilnya. Dia membuatkan Abhimanyu sesuatu untuk dimakan karena pesan Cedrik mau tidak mau membuatnya resah; bagaimana jika anak itu nekat? Maka dia membongkar kulkasnya dalam balutan robe sutra kesukaannya—baru bangun karena notifikasi grup yang berisik, menyadari dia membeli terlalu banyak bahan segar yang mulai membusuk lalu memasak sesuatu.
Dia tidak memasak sesuatu yang rumit, hanya dada ayam dengan sedikit bumbu, kentang yang dilembutkan dengan mentega, serta brokoli panggang dengan taburan oregano. Menambahkan sedikit chili flakes di ayamnya untuk menambah bumbu dan rasa karena Abhimanyu orang Bali—dia pasti suka makanan dengan rasa yang tajam. Argha mengemasnya dalam kotak makan plastik yang didapatkannya saat take away makanan; alasannya recylcle, padahal sebenarnya karena dia tidak punya tempat lain.
“Why are you so care about this man?” Rutuknya pada dirinya sendiri seraya mengemudi, mendelik marah ke jalanan dari vilanya menuju kos Abhimanyu yang sebenarnya tidak terlalu jauh.
Argha bisa saja berbaring di ranjangnya, menatap ponselnya berharap Yukio akan membalas pesannya lagi seharian karena Sebastien masih di Jakarta. Namun dia malah memasak, mandi, bersiap-siap menuju kos Abhimanyu karena Cedrik menitipkan anak itu padanya. Tapi dia tidak keberatan, mungkin dia memang harus memastikan keadaan anak itu apalagi sekarang Cedrik mendadak pergi dan tidak ada yang memberi tahu Abhimanyu.
Argha ingin memastikan dia tetap utuh ketika melihat berita itu.
He might not realize it now, but I think he has a feeling for you. So if you're not interested in him, please draw a very thick line between you both, Chef.
Inginkah Argha membuat garis batas itu?
Tangannya naik ke atas, menyugar rambutnya perlahan dan merasakan helaiannya yang lemas karena dia baru mencucinya lalu mengeringkannya tadi sebelum berangkat. Argha mengenakan kemeja tipis putih berbahan ringan yang sejuk, celana kain santai longgar, serta sandal-selop kulitnya. Membawa clutch-nya yang terisi ponsel, antiseptik, dompet, dan kunci rumahnya.
Argha membelok ke gang pas-pasan menuju kos Abhimanyu, menjaga agar spionnya tidak tergerus di dinding rumah di kanan-kirinya sebelum membelok ke gerbang kos Abhimanyu yang terbuka. Syukurlah halaman kos Abhimanyu cukup luas untuk mobilnya diparkir. Dia mematikan mesin mobil, sudah ahli memarkir mobilnya dan berkendara dengan mobil setir kanan.
Alih-alih keluar, Argha bersandar di kursinya dan menghela napas panjang. Dia menatap kap mobilnya dan menerawang. Apa yang sebenarnya hatinya inginkan belakangan ini? Abhimanyu memang menarik, dia tidak pernah berbohong tentang itu. Tapi apakah dia cukup menarik untuk menggantikan Yukio?
Terkadang Argha berpikir tentang apakah dia memang tidak bisa berdamai dengan berakhirnya hubungannya dengan Yukio atau dia tidak mau melakukannya? Karena keduanya adalah hal yang sangat berbeda. Mungkin Argha merasa sangat bersalah karena dia memenuhi kebutuhan fisiknya yang tidak bisa didapatkannya dari Yukio karena dia menghormati preferensi seksual Yukio.
Cedrik sedang melakukan sesuatu yang dilakukan Yukio padanya dulu; melangkah pergi dari hidup Abhimanyu. Namun dengan alasan yang sama sekali berbeda dengan yang dilakukan Yukio.
Yukio mencintai Argha, mereka saling mencintai dan tidak pernah membiarkan satu sama lain merasa harus mengemis demi perhatian; dia memberikan Yukio segalanya, memastikan dia hangat dan dicintai begitu hebatnya. Dan dengan melangkah pergi setelah Argha memberikan semuanya adalah hal yang sangat sulit diterima Argha; bahkan setelah bertahun-tahun.
Bahkan sekarang, setelah Yukio memiliki kekasih baru.
Mungkin jika alasan berakhirnya hubungan mereka sama persis seperti yang terjadi pada Cedrik dan Abhimanyu, Argha akan lebih mudah bangkit dari sisa hubungan itu dan melanjutkan hidupnya. Dia yakin sekali, Cedrik pasti akan mendapatkan pengganti Abhimanyu secepatnya. Dia lelaki manis yang hangat dan perhatian, tidak sulit menarik perhatian siapa saja. Ditambah pribadi yang sangat menyenangkan.
Hal yang sama sulit dikatakan Argha mengenai Abhimanyu yang nampak menggemaskan di luar namun begitu rapuh dan membingungkan di dalam. Seperti berjalan di atas ladang ranjau, Argha harus benar-benar memerhatikan langkahnya jika tidak mau sesuatu meledak di wajahnya.
Cedrik tidak melakukan apa pun tentang itu selama ini, tidak ada yang melakukan apa pun tentang itu sepanjang pengetahuan Argha. Mereka memaklumi sikap Abhimanyu, selalu memberikan alasan 'dia masih muda', 'wajar dia bersikap naif'.
Abhimanyu sudah dua puluh delapan tahun, sudah saatnya dia bangkit mengurus emosinya sendiri dan berhenti meneriaki orang-orang di sekitarnya seolah mereka memiliki hutang pada Abhimanyu. Dia harus belajar bertanggung jawab atas emosinya sendiri, meminta maaf, dan mengoreksi dirinya.
Dia menghela napas, meraih tas makanan dan juga kotak kertas terisi donat-donat bersalut gula yang dibelinya di Petitenget tadi; penasaran karena antriannya, maka dia berhenti untuk membeli beberapa. Siapa tahu bisa membuat suasana hati Abhimanyu sedikit membaik. Juga membeli beberapa makanan segar tahan lama dan minuman kemasan untuk Abhimanyu di mini market yang ditemuinya.
Abhimanyu belum juga menyalakan ponselnya, itu hal yang baik sebenarnya. Dia tidak akan melihat pesan Cedrik yang mengatakan selamat tinggal. Cedrik tidak meninggalkan grup koordinasi besar, Argha menyadari. Apakah dia ingin tetap membuat Abhimanyu tenang?
Argha menutup pintu mobilnya, mengangguk pada teman kos Abhimanyu yang bertemu mata dengannya sebelum melangkah ke kamar Abhimanyu. Motornya ada di garasi, terkunci dan memberi tahu Argha bahwa dia tidak pergi ke mana pun—tidak juga pulang ke rumahnya.
Kamar Abhimanyu ada di pojok, dekat dengan tempat bersembahyang yang harum oleh dupa dan semerbak pandan yang diiris tipis serta bebungaan. Argha melepas sepatunya di undakan terbawah sebelum menaiki terasnya dan mengulurkan tangan ke jendela—menyelipkan ibu jarinya ke celah yang terbuka, menyingkap tirainya dan melihat Abhimanyu berbaring dengan selimut menutupi setengah wajahnya. Lelap.
Argha menghela napas, syukurlah dia tidur. Lalu dia mengerjap, menatap pintu dengan pemahaman baru. Jika Abhimanyu tidur, berarti dia mengunci pintunya? Argha mengulurkan tangannya yang bebas ke gagang pintu dengan sedikit berdebar, takut jika pintu itu terkunci maka sia-sia sudah dia datang kemari.
Bagaimana caranya dia masuk? Bisakah dia meminjam kunci cadangan pada pemilik kos dengan alasan 'mencegah teman saya bunuh diri karena patah hati'? Apakah alasan itu cukup masuk akal?
Namun sebelum pikirannya meliar, dia menyentakkan gagang itu—mengetesnya dan mendapati ternyata pintunya tidak terkunci. Terbuka dengan mudah hingga Argha nyaris terjerembab menabrak pintu dengan keningnya karena mengerahkan terlalu banyak dorongan. Dia berhasil mengendalikan diri sebelum terjatuh ke lantai dan menoleh ke Abhimanyu—memastikan suara itu tidak membangunkannya.
Gundukan di atas kasur yang bernapas teratur itu diam, dengkur lembut Abhimanyu masih terdengar dan Argha menghela napas lega.
Dengan perlahan, dia menutup pintu kembali dan meletakkan bawaannya di meja kecil di bawah jendela yang oleh Abhimanyu diisi dengan kebutuhan dapurnya. Ada penanak nasi kecil yang kosong, teko elektrik untuk merebus air, dan termos perak 500mL. Di sisinya ada rak piring kecil yang terisi sepasang piring, sepasang gelas, dan beberapa sendok makan. Semuanya serba minimalis, menyesuaikan kebutuhan pemilik kamar.
Argha berjongkok di bawah meja, menemukan kontainer tertutup yang terisi makanan instan yang disimpan Abhimanyu. Sebagian besar mie instan, tentu saja. Beberapa pasta kemasan dan bumbu jadi instan yang membuat Argha menghela napas. Menjadi chef bukan berarti makanan lezat sepanjang hari, terkadang mereka pulang kelelahan dan hanya makan sekantong keripik kentang sebelum tidur karena tidak lagi memiliki energi untuk membuat makanan—bahkan telur goreng.
Dia mengeluarkan kotak makannya, membuka tutupnya agar uap panasnya tidak membuat daging ayamnya menjadi soggy lalu meletakkannya di meja, menutupnya dengan selembar tisu. Dia juga meletakkan donat di atas meja, mengawasi apakah ada semut di sekitar sana sebelum bangkit menghampiri tempat tidur.
Tempat itu berantakan, beraroma apak. Abhimanyu tidak membuka kamarnya atau bahkan tirai jendela sejak kemarin malam, juga tidak menyalakan penyejuk ruangan. Di karpetnya, ada banyak gumpalan tisu yang membuat Argha berdeguk—mual membayangkan bakteri-bakteri dan kuman yang mungkin menempel di sana. Ada satu plastik besar terisi 500 lembar tisu yang berdiri di dekat kepala Abhimanyu, isinya berkurang nyaris seperempat. Argha menghela napas, dia benar-benar kacau semalam ternyata.
Abhimanyu sedang meringkuk seperti bola di ranjang, mengenakan selimut hingga ke dagunya dan terlelap. Matanya sedikit bengkak dan noda bekas air mata di bantalnya—gelap dan lebar, beberapa sudah mengering. Aroma ruangan itu pekat dengan kesedihan, rasa frustrasi, kebingungan, dan membuatnya tidak nyaman. Argha tidak mau menyentuhkan kakinya di karpet sama sekali—jijik.
Argha tidak tahan lagi. Dia berdiri, membuka pintu kamar Abhimanyu dan membuka tirai jendelanya. Tidak lagi peduli apakah Abhimanyu terbangun oleh gerakan itu atau tidak. Bersungut-sungut, dia meraih serokan serta sapu Abhimanyu di teras untuk membereskan gumpalan tisu di karpet dengan wajah mengerut, menahan muntah.
Dia membuang semua gumpalan tisu terisi air mata dan ingus itu di tong sampah depan kamar Abhimanyu sebelum menyapu, menggosok keras-keras karpet dengan sapi lidi yang harusnya digunakan di ranjang. Menyemprotkan antiseptiknya sendiri ke atas permukaan karpet, memastikan setiap sudutnya terkena semprotan.
Abhimanyu terbangun ketika Argha sedang menggosok kedua tangannya di bawah air dengan sabun tangan—mengerut jijik pada telapak tangannya sendiri setelah membereskan ruangan penuh ingus tanpa sarung tangan.
Dia duduk di ranjang, bertelanjang dada dengan selimut teronggok di pangkuannya—disorientasi pada limpahan cahaya, ruangan yang bersih dan beraroma tajam cairan antiseptik. Pintu kamarnya terbuka lebar, syukurlah kamarnya berada paling pojok sehingga tidak banyak orang yang berlalu-lalang di depannya.
Argha keluar dari kamar mandi dan mengerjap. Tubuh atas Abhimanyu memang menakjubkan; berisi di tempat yang benar, liat, panjang dengan otot-otot yang dibentuk dengan baik. Tidak berlebihan, cukup untuk membuatnya nampak atletis seperti binatang liar. Nipple piercing-nya berkilauan, mencuri fokus perhatian Argha dan teringat bagaimana rasanya benda itu di bibirnya beberapa pekan lalu.
“Halo,” sapanya berdeham dan Abhimanyu menoleh; rambutnya kusut, seperti sarang burung di kepalanya. Ikal-ikalnya saling membelit, harus dipisahkan dengan tangan karena jika menggunakan sisir itu hanya akan menyakiti kulit kepala Abhimanyu.
Abhimanyu menatapnya. “Kapan Anda datang, Chef?” Tanyanya, suaranya parau sekali hingga Argha yakin itu pasti menyakitinya. “Maaf saya tidur.” Katanya, menyentuh lehernya sendiri dan berdeham lalu meringis.
“Tidak masalah. Aku baru saja datang,” dia tersenyum. “Kau pasti menangis seperti binatang liar,” Argha mengelap tangannya di sehelai tisu dan mengeringkan kakinya di keset Abhimanyu sebelum melangkah ke meja kecil tempat makanan Abhimanyu. “Kubuatkan jahe hangat.”
Abhimanyu masih duduk di ranjang, setengah telanjang dan kebingungan. “Anda membereskan kamar saya, Chef?” Tanyanya, menoleh ke karpet yang sudah bersih dari jejak tangisan menyedihkannya. “Terima kasih.” Gumamnya, lalu melanjutkan pada dirinya sendiri tentang bagaimana bisa dia tidak terbangun.
“Kau kelelahan.” Argha menancapkan stop kontak mug elektrik Abhimanyu dan menuang air ke dalamnya, menutupnya lalu menunggunya mendidih. “Aku juga membawakanmu makanan. Kau lapar?”
Abhimanyu menatapnya, merona tipis. Sangat tidak sesuai dengan tubuh atasnya yang atletis, tapi Argha tidak keberatan. Dia menyugar rambutnya, nampak kikuk dan menyadari rambutnya yang kusut. Mengeluh, dia berusaha mengurainya sendiri dan meringis.
Argha mendesah, “Kemari.” Katanya, mendudukkan diri di tepi ranjang dan mengulurkan tangan. “Aku uraikan untukmu. Jika kau melakukannya sendiri, itu hanya akan menyakiti kulit kepalamu.”
Abhimanyu menatapnya, nampak rikuh dan malu tapi akhirnya menyerah. Merangkak ke arah Argha lalu mendudukkan diri di depannya, sedikit menunduk agar Argha leluasa meraih rambutnya. Mereka begitu dekat; Abhimanyu beraroma lembut linen dan kantuk, membuat Argha merasa ingin merengkuhnya dan meringkuk dalam pelukannya. Aroma keringatnya membuat Argha tenang.
Dia mengulurkan tangan, meraih segumpal rambut Abhimanyu dan menguraikannya perlahan dengan kedua tangannya. Dia harus menjulurkan tubuh atasnya, meraih ke puncak kepala Abhimanyu yang bersila di depannya seperti tersangka kasus kejahatan.
“Sudah makan?” Tanya Argha seraya menyisiri rambutnya yang sudah terurai dengan jemari sebelum melanjutkan ke sisi satunya. “Aku membawakanmu makanan. Setidaknya makan sesuatu sebelum kembali mengasihani dirimu sendiri.”
Abhimanyu mengangguk di dadanya, hidungnya menempel di dada Argha dalam posisi ini. “Ya, Chef.” Sahutnya teredam.
“Argha.” Koreksinya, menarik lepas sejumput rambut dan Abhimanyu mengaduh keras. “Maaf, maaf!” Katanya, bergegas menunduk menatap Abhimanyu yang meringis. Argha menekan bagian kulit kepala Abhimanyu yang tertarik, mengusapnya lembut.
“Tidak apa-apa, Chef.” Sahutnya, membersit parau.
“Argha.” Ulang Argha sekali lagi, menatap helaian rambut yang diuraikannya di kedua tangannya; saling membelit, membentuk simpul menyebalkan yang sulit dipisahkan. “Panggil saja Argha di luar jam bekerja.”
Abhimanyu mengerjap. “Tapi Anda sebelas tahun lebih tua dari saya dan—”
Argha menurunkan tubuhnya, memicingkan mata jengkel pada Abhimanyu. “We don't talk about age gap here in this house. Understand?” Ancamnya dan Abhimanyu sejenak diam, sebelum senyuman tipis terbit di bibirnya.
“Tapi Anda memang sebelas tahun lebih—ADUH!”
Argha menjambak rambut Abhimanyu dengan puas melihat second layer-nya meringis. Dia melirik ke meja kecil di sisi ranjang Abhimanyu, ponselnya tergeletak di sana. Berharap Abhimanyu tidak mengecek benda itu hari ini, jadi Argha harus mengalihkan perhatiannya. Dia bisa sedikit... memanipulasi Abhimanyu hari ini agar sedikit ceria. Lagi pula, Argha tidak keberatan.
Dia hanya... menolong, 'kan? Melakukan seperti apa yang diminta Cedrik.
... Ya, 'kan?
“Diam.” Gerutu Argha, kembali menguraikan rambut Abhimanyu yang meringis. Sedikit berdebar membayangkan jika Abhimanyu mau, dia bisa mengulurkan tangan dan melingkarkannya di pinggang Argha—mengecup perutnya dalam posisi ini.
Mungkin juga berguling, memeluknya di ranjang. Mendekapnya erat ke dadanya yang telanjang dan hangat, mengaitkan tangannya di atas perut Argha lalu mengecup tengkuknya. Mereka bisa tidur siang bersama, tidak perlu bicara—menghibur dengan sentuhan fisik. Bukankah itu yang selalu Argha lakukan tiap kali dia merasa gelisah? Namun, sentuhan Abhimanyu....
Sentuhan Abhimanyu terdengar jauh lebih mendebarkan dari sentuhan siapa pun. Argha nyaris bisa merasakan kulitnya berdenyar, menginginkan sentuhan itu. Teringat bagaimana tangan Abhimanyu membakar menembus lapisan seragamnya ketika kali pertama mereka berciuman di loker.
Kenapa Argha tidak berbalik melakukannya dari belakang? Entahlah. Dia sepertinya sudah sinting. Dan ketika dia berada di sini, di sekitar Abhimanyu, Yukio terlupakan sepenuhnya. Dia lebih fokus pada keberadaan Abhimanyu; aroma tubuhnya, senyumannya, suaranya, tawanya.... Mata serupa batu citrine-nya yang gemerlap oleh sinar matahari dan emosinya.
Tapi Argha berdeham, menarik dirinya. Tidak yakin pada pengendalian dirinya sendiri sekarang, padahal dia selalu yakin dia adalah lelaki yang bisa mengontrol diri. Dia tidak akan bercinta dengan Abhimanyu, itu pasti. Dia tidak mau menyentuh seseorang yang belum pernah berhubungan badan. Tapi satu ciuman....
Satu ciuman tidak akan melukai siapa pun, 'kan?
“Kau mau makan?” Katanya akhirnya, bertolak belakang dengan apa yang diteriakkan kepalanya.
Abhimanyu mengangguk. Sekarang rambutnya mekar, menggemaskan di atas kepalanya setelah Argha mengurai kusutnya. Dia nampak seperti jamur dan Argha tersenyum, tidak bisa menahan tawa kecilnya. “Apa? Kenapa?” Tanya Abhimanyu.
“Rambutmu.” Gumamnya lalu beranjak menuruni ranjang dan meraih makanannya, merasakan di belakangnya Abhimanyu bergegas menyisir rambutnya dan merapikannya. “Kau mungkin juga bisa mengenakan pakaian? Maksudku...,” Argha tidak melanjutkannya, tidak tahu apa yang harus dikatakannya.
Sejenak hening sebelum Argha mendengar Abhimanyu bangkit dari ranjang dan mengenakan pakaiannya. Setelahnya, barulah Argha merasa lebih nyaman menatapnya walaupun sedih karena tidak bisa menatap tindik mungil di dadanya—bedebah bangsat, bagaimana bisa dia memilih puting untuk meletakkan tindiknya?
Dari semua tempat di tubuhnya dan dia memilih... puting??
Argha kemudian membantunya makan, menyajikan kotak makan di depan Abhimanyu beserta sendok untuknya makan. Juga menyeduhkan air hangat dengan potongan jahe yang ditemukannya menyelip di keranjang bumbu dapur kecil Abhimanyu—sudah mulai tumbuh tunas, tapi tidak masalah.
Dia kemudian duduk di depan Abhimanyu, menontonnya makan dengan perlahan sambil menyesap air jahenya sendiri. Memastikan Abhimanyu memasukkan cukup makanan sebelum dia menolaknya, mendorong wadah makanan menjauh dan menatap Argha dengan rasa bersalah.
“Tidak bisa,” gumamnya menyeka mulutnya sendiri lalu menggeleng. “Maaf. Aku tidak bisa.” Bisiknya sebelum mengerang dan kembali berbaring di ranjangnya, mungkin mendadak teringat kembali tentang kenyataan bahwa dia tidak memiliki siapa pun untuk berpegangan sekarang.
Argha menatap Abhimanyu yang menyelimuti dirinya, berbalik memunggungi Argha—memberikan gestur bahwa dia tidak ingin bicara, bahkan tidak ingin bersopan santun pada atasannya. Argha menghela napas, teringat ketika dirinya menangisi Yukio—jika saja hari itu ada yang memaksanya makan, dia mungkin juga akan melakukan hal yang sama.
Maka dia bangkit, membereskan sisa makanan Abhimanyu lalu menutup pintu kamarnya dan menutup jendela. Argha kemudian menyalakan penyejuk ruangan yang mati, menyetel suhunya di angka 22 derajat agar nyaman sebelum mendudukkan dirinya di kaki ranjang Abhimanyu.
Haruskah dia pulang sekarang? Atau menemani Abhimanyu di sini?
Argha menatap gundukan di ranjang dengan dilema; jika dia pergi, akankah Abhimanyu baik-baik saja? Bisakah dia menjaga dirinya? Bolehkah jika dia menghubungi Khrisna dan memberi tahu kondisi adiknya atau itu hanya akan membuat Abhimanyu semakin marah?
Dia sedang merenung, memikirkan apa yang harus dilakukannya ketika Abhimanyu bergerak—menurunkan selimutnya sedikit, menatap Argha dengan matanya yang sudah mulai basah.
“Argha?” Bisiknya dan Argha menoleh, kaget pada bagaimana seluruh tubuhnya merespons suara Abhimanyu yang parau dan kesakitan.
“Ya?” Sahutnya, refleks sebelum kepalanya bahkan memikirkan jawabannya. “Something's wrong?” Tanyanya lembut, mencondongkan tubuh atasnya ke arah Abhimanyu; ingin membagi luka di hatinya, menanggungnya bersama Abhimanyu.
“Everything is,” sahut Abhimanyu sengau dan Argha menarik dirinya mendekat ke sisi Abhimanyu. “Bolehkah aku meminta bantuanmu?”
Argha berdebar; tidak terbiasa mendengar Abhimanyu menggunakan 'aku-kamu' padanya. “Ya?” Sahutnya, tangannya gatal ingin diulurkan dan mengusap kepalanya, membuatnya nyaman. Membuainya hingga mengantuk.
“Can you... Can I...,” Abhimanyu berdeham, nampak tidak yakin pada permintaannya maka Argha mengangguk.
“Ya?” Desaknya, menyemangati Abhimanyu.
“Can I have a cuddle? If it wasn't too much trouble for you?” Bisiknya dan Argha bisa melihat dia mengerahkan semua kekuatannya untuk mengatakan itu.
Argha menatapnya sejenak, mencoba mencari jawaban di dalam dirinya sendiri apakah dia ingin melakukannya? Apakah dia baik-baik saja? Apakah itu baik-baik saja? Namun tidak menemukan apa pun. Maka dia menjulurkan dirinya, berbaring di ranjang di sisi Abhimanyu yang bergegas bergeser memberinya ruang.
“Sure, Big Baby,” bisiknya, jantungnya berdebar. “C'mere.” Gumamnya ketika Abhimanyu berbalik, meringkuk di dadanya dan Argha mengulurkan tangan; memeluknya.
“Is it fine?” Tanyanya di rambut Abhimanyu yang terasa hangat, mendebarkan, dan nyaman; seolah seluruh lelah yang selama ini menggelayuti seluruh otot Argha menguap, lenyap begitu saja.
“Yes. It is.” Bisik Abhimanyu, menempelkan keningnya di dada Argha. “Thank you.”
Argha menarik napas, berharap Abhimanyu tidak mendengar debaran jantungnya. “My pleasure, Doudou.” Sahutnya, menelan ludah dengan sulit dan mengusap lembut punggung Abhimanyu.
“Now, let's get some sleep, alright?” Dia mengusap punggung Abhimanyu lembut, merasakan tubuhnya mulai berguncang lembut merespons tangisan tanpa suaranya.
Argha menghela napas, “Tomorrow will be better. I promise.”
ps. ehe :“(