Gemati 315
ps. idk........ careful with your heart kinda narration????????
Abhimanyu paham dia tidak seharusnya nyaman bersama Argha, tahu lelaki itu bisa melangkah pergi kapan pun dia mau tanpa ragu sedikit pun.
Argha memang seindah mimpi, kata itu bukan sekadar kiasan. Abhimanyu terkadang takut menyentuhnya, takut lelaki itu lenyap seperti embun yang menguap ketika matahari bersinar semakin terik. Juga mengundang, seperti mimpi buruk di siang bolong yang menarik Abhimanyu semakin dalam ke pesonannya lalu meninggalkannya setelah terjebak.
Namun bagaimana dia bisa mengabaikan perhatian dan kesigapannya dalam menemani Abhimanyu? Dia sama sekali tidak ragu menawarkan bantuan, menemani Abhimanyu, membantunya makan, menenangkan setiap mimpi buruknya, dan memastikan dia baik-baik saja. Abhimanyu takut untuk percaya—dua kali sudah rasa percayanya dirusak dan rasa-rasanya, mungkin sudah tidak ada cukup ruang lagi di hatinya untuk mencoba.
“Kau sudah cukup kuat untuk bekerja?”
Tapi bagaimana dengan ini...?
Dia menghela napas, melepas helmnya dan menoleh ke Yaris putih yang diparkir di sisi motornya di basemen Le Gourmet. Menemukan Argha Mahawira sedang menutup pintu mobilnya dengan handbag Christian Dior di lekukan lengannya—tersenyum padanya.
Dia mengenakan kemeja halus yang jatuh lembut di tubuhnya, dilapisi cardigan rajut lembut yang menegaskan bentuk tubuhnya yang langsing. Dia mengenakan sepatu selop sewarna kulit dengan logo Gucci keemasan di bagian atasnya, nampak mengilap. Rambutnya disisir rapi, dipotong presisi tanpa sedikit pun yang keluar dari garisnya atau menyentuh kerah bajunya. Aroma parfumnya semerbak; tidak terlalu kuat seperti parfum maskulin, tapi juga tidak selembut parfum perempuan.
Argha nampak sangat... feminim namun juga maskulin. Tidak ada satu pun kata sifat yang bias pada satu jenis kelamin yang bisa menggambarkan pesonanya dengan sempurna—mendekati pun tidak. Membuat Abhimanyu kebingungan bagaimana cara untuk menjelaskan keindahan Argha selain melihat lelaki itu secara langsung untuk memahami pesonanya.
“Sudah, Chef.” Sahutnya kering, sejenak teringat bagaimana dia memanggil Argha dengan namanya di kos ketika menangis dalam pelukannya—merasa malu dan kikuk. “Saya ingin mencari pengalih perhatian dari kesedihan saya sendiri.” Dia meletakkan helmnya di atas jok NMax-nya lalu turun dan membuka jaket berkendaranya.
Abhimanyu terbangun hari ini dengan perasaan kosong. Tidak bahagia, tidak juga sedih. Lalu memutuskan untuk bergegas bangun dan berangkat bekerja, berpikir dia akan pindah kos dari tempat lamanya agar tidak mengingat Cedrik. Namun ketika dia memasuki kamar mandi, dia menemukan sabun baru yang terbuka di rak alat mandi. Teringat Argha yang memutuskan untuk membasuh diri di kamarnya sebelum pulang semalam dengan jantung yang berdebar.
Rasa kosong itu terangkat, tergantikan rasa hangat dan senyuman ketika menyentuh sabun yang digunakan Argha—mengingatkan Abhimanyu bahwa ada seseorang yang juga mengkhawatirkannya sekarang. Bukan kakaknya, bukan Cedrik. Seseorang baru yang sejak awal sudah sangat mencuri perhatiannya.
“Hubunganmu dengan Cedrik, sayangnya, memang harus diakhiri, Abhimanyu. Kalian harus berhenti saling menyakiti. Cedrik tidak meninggalkanmu karena sifatmu atau apa, dia hanya tidak bisa lagi berada di sisimu karena dia tahu perasaan cintanya padamu membebani kalian.”
Abhimanyu menatap wajahnya yang sembab di cermin yang berembun oleh air yang digunakannya mandi dan menghela napas. Mencoba memaksa kepalanya menerima kata-kata Argha bahwa Cedrik tidak meninggalkannya karena Abhimanyu cacat—dia hanya pergi untuk mengurus perasaannya sendiri. Bukan karena Abhimanyu.
Dia mencoba memercayai kalimat Argha itu, menghibur dirinya agar tidak menghukum dirinya dengan begitu kejam karena sekali lagi ditinggalkan.
“Kakakmu yang meninggalkanmu dan ibumu yang membencimu: keduanya bukan salahmu, Abhimanyu.”
Abhimanyu menghela napas, menundukkan kepalanya dengan kedua tangan bertumpu di wastafel kamarnya memikirkan kalimat Argha itu. Menyadari bahwa selama dua tahun ini ketika dia benar-benar kesulitan dengan emosinya sendiri, belum ada yang pernah memberi tahunya bahwa kedua hal itu bukan kesalahannya.
Walaupun Ibu melampiaskannya pada Abhimanyu, kekesalan itu bukan salah Abhimanyu. Dia tidak tahu apa-apa ketika dilahirkan dan dikenalkan ke keluarga tirinya. Jika bisa memilih, memangnya Abhimanyu mau dilahirkan sebagai anak dari istri kedua yang dibenci istri pertama?
Anak tidak bisa memilih siapa orang tuanya, tapi orang tua bisa memilih siapa pasangan mereka dan jika ayah Abhimanyu memilih untuk memiliki istri kedua—mengapa itu kemudian menjadi salah Abhimanyu?
Argha Mahawira menenangkannya dengan cara yang sangat berbeda dengan semua orang dan Abhimanyu mengapresiasinya.
Argha menatapnya lalu tersenyum kecil. Dia belakangan ini nampak hangat, tidak lagi sensual seperti dewa seks. Kebapakan, bijak, lembut, dan menenangkan. Pembawaannya membuat Abhimanyu nyaman, bahkan jauh dari apa yang Cedrik atau kakaknya bisa berikan. Mungkin karena dia lebih tua dari keduanya?
“Kau tahu,” katanya melangkah ke sisi Abhimanyu yang bergegas mengekornya ke lift. Selapis aroma parfum Argha tercium ketika dia menggerakkan tangannya dan Abhimanyu otomatis menarik napas. “Saat kau merasa sedih, kecewa, marah pada sesuatu, kau harus menghabiskan emosi itu. Tidak peduli seberapa lama waktu yang kaubutuhkan, habiskan saja. Tiga hari menangis tanpa makan? Lakukan saja.”
Abhimanyu mengulurkan tangan, menekan tombol lift untuk Argha seraya memikirkan kalimatnya. Argha berdiri di sisinya, beraroma harum dan nampak sangat rapi—padahal mereka akan berganti baju dan bekerja, tapi dia nampak seolah akan pergi ke acara formal. Mereka berdiri di depan pintu lift yang menutup, menunggunya terbuka untuk naik ke loker.
“Percayalah, setelahnya kau akan merasa jauh lebih baik. Lebih mudah untuk bangkit dan baik-baik saja karena kau sudah menghabiskan sedihmu.” Argha menoleh, tersenyum kecil—menyemangati. “Jauh lebih efektif daripada,” dia membentuk tanda kutip dengan satu tangan. “'Mengalihkan' perhatianmu dari rasa sedih itu. Menghindarinya hanya akan membuatnya menumpuk di hatimu, semakin menyulitkanmu.”
Abhimanyu diam, memikirkan kalimatnya perlahan seraya menatap lift yang terbuka. Mereka memasuki kotak lift dan Abhimanyu menekan tombol Ground dan menutup pintu. Restoran belum terlalu ramai, biasanya yang datang pertama Abhimanyu dan Diadari sebelum disusul oleh para Steward yang mulai menyiapkan semua kebutuhan dapur.
Sementara “orang kantor”, begitu mereka biasa menyebut tim PT yang berkantor di lantai satu Le Gourmet, akan datang pukul delapan pagi. Biasanya lewat di EDR untuk mengambil air hangat untuk menyeduh kopi mereka dan mengambil jatah sarapan mereka—croissant dan bagel. Kinan yang biasanya muncul pertama, tiba selalu tepat pukul setengah delapan pagi dengan setelan licin dan wajah seperti penderita sembelit. Mengecek EDR dan dapur, sebelum bergegas naik ke ruangannya.
Jika Abhimanyu menjadi General Manager dari dua restoran tersibuk di Bali, dia mungkin juga akan berwajah masam sepanjang waktu.
“Crying doesn't mean you're weak,” Argha menepuk bahunya dan meremasnya lembut. Mengembalikan Abhimanyu ke masa sekarang dan meremang oleh sentuhannya.
Abhimanyu menoleh padanya dan Argha tersenyum, melanjutkan. “Sometimes it means you've been holding on for too long that you body cannot hold it any longer.”
Dia membalas senyuman Argha, merasa lebih baik. Ringan dan hangat. “Anda sering menangis, Chef?” Tanyanya parau ketika lift bergerak naik mengantar mereka ke Ground untuk berganti pakaian.
Argha berpikir sejenak lalu tersenyum. “Saya pernah menangis hebat hingga saya menolak makan dan bangun dari ranjang. Tapi hanya tiga kali dalam hidup saya.”
Dia mengangkat telunjuknya, “Satu ketika orang tua saya meninggal,” katanya ringan dan Abhimanyu berjengit sedikit pada betapa ringannya dia mengucapkan kematian orang tuanya.
Dia mengangkat jari kedua, “Dua ketika saya lulus dari Le Cordon Bleu Paris dan memutuskan untuk meninggalkan Indonesia.” Lalu menambahkan jari ketiga hingga sekarang di depan Abhimanyu ada tiga jari kurus panjang Argha yang dipamerkan.
“Serta tiga...,” dan dia mendadak berhenti.
Abhimanyu yang awalnya menatap ketiga jemari Argha menoleh, menatap wajahnya dan menyaksikan detik terakhir ketika senyumannya menguap lenyap dari wajah Argha. Kesedihan merambat di wajahnya, meredupkan sorot matanya yang membuat Abhimanyu seketika merasakan sengatan pedih di hatinya.
Argha selalu nampak tertata, hangat, tenang, dan terkendali. Tidak pernah ada kesedihan di wajahnya, maka ketika dia nampak sedih dan menerawang, Abhimanyu ingin meraihnya. Memeluknya, menenangkannya... Seperti apa yang dilakukan Argha padanya.
Mungkin juga pada semua orang.
“Saya hanya menceritakan ini padamu.” Argha kemudian bersuara persis sebelum pikiran Abhimanyu meliar. Terdengar parau seolah menahan tangis. “Sudah lama sekali sejak saya membagi ini dengan orang lain, ternyata rasanya lebih ringan.” Dia mengulaskan senyuman dan Abhimanyu tertegun.
Menyadari bahwa Argha punya lukanya sendiri—sesuatu yang membuatnya langsung berhenti tersenyum hanya dengan mengingatnya. Dan tidak ada yang tahu karena dia menyembunyikan semuanya dibalik personanya sebagai 'lelaki sensual' yang gemar menebar kata-kata manis.
Abhimanyu menghela napas, mendadak mensyukuri hidupnya walaupun tidak menyenangkan, dia memiliki keluarga yang utuh. Tidak harus menjalani hidup sendirian seperti Argha hingga melepaskan kewarganegaraan Indonesia-nya demi melupakan kenangan buruknya di negara ini.
“Chef?” Panggilnya ketika lift terbuka dan Argha menoleh.
“Ya?” Sahutnya, menatap Abhimanyu.
Lift terbuka, menampakkan lorong panjang menuju dapur yang masih temaram karena lampu utama belum dinyalakan. Masih sedikit pengap dan beraroma apak. Security sedang pergi ke pusat listrik restoran untuk menyalakannya, juga penyejuk ruangan sentral persis setelah Abhimanyu memasuki halaman disusul Yaris putih Argha.
Dia menyadari benar kehadiran Argha di sisinya, ujung lengan bajunya menyentuh lengan Abhimanyu dan aroma parfumnya hinggap di cuping hidung Abhimanyu. Setelah dua hari yang mereka lewati bersama dengan Argha menghabiskan nyaris keduanya di kamar Abhimanyu, menemaninya menangis sambil memeluknya; Abhimanyu merasakan 'ikatan' yang mulai terbentuk di antara mereka.
Abhimanyu merasa lebih dekat dengan Argha, akrab seperti sahabat lama yang lama tidak berjumpa. Perasaan yang jauh lebih kuat dari yang dimilikinya dengan Cedrik. Bersama Argha, Abhimanyu tidak perlu mencemaskan perasaannya. Tidak terbebani dengan perasaan cinta yang tidak bisa dibalasnya. Jauh lebih ringan daripada ketika bersama Cedrik.
Walaupun hatinya masih berdenyut pedih karena takut pada kesendirian, dia senang setidaknya dua hari pertama tanpa Cedrik, ada seseorang di sisinya. Bukan seseorang yang akan dipilihnya, tapi bukan juga seseorang yang akan ditolaknya.
Menemukan sisi baru Argha Mahawira yang hangat, lembut, dan penyayang. Seolah Abhimanyu bisa membayangkan betapa dia bisa menjadi ayah yang baik, sosok dewasa yang selalu tenang seperti permukaan air danau. Mengingat ceritanya tentang menjadi sebatang kara membuat Abhimanyu menyadari bahwa sikap tenang dan dewasanya didapatkan bukan tanpa pengorbanan apa pun.
Argha sudah pernah terjerembab, terperosok ke dalam lubang dan hancur sebelum dia memutuskan untuk kembali bangkit. Menjadi dirinya yang baru, jauh lebih kuat dari sebelumnya. Tapi juga nampak lebih... rapuh; sekarang setelah Abhimanyu melihat sisi lain Argha yang lebih terbuka dari sebelumnya.
Biasanya Abhimanyu tidak suka menceritakan kehidupannya pada siapa pun kecuali mereka sudah cukup dekat—bahkan ke Cedrik sekali pun. Namun malam ketika dia duduk berhadapan dengan Argha. Dia minum susu steril kaleng yang dicekokan padanya oleh Argha sementara atasannya minum sekaleng bir, Abhimanyu menceritakan tentang keluarganya.
Sangat mengapresiasi bagaimana Argha mendengarkan dengan sopan, ekspresinya bersimpati dan sama sekali tidak menilai Abhimanyu. Dia menceritakan tentang Ibu yang sering bertengkar dengan Bapak, bagaimana dia menggunakan Amerika untuk kabur dari rumah... Dan merasa nyaman sepenuhnya.
Argha nampak seperti pohon pule raksasa yang tinggi, rindang, dan kokoh. Mengundang siapa saja untuk bersandar padanya, mencari kekuatan untuk bangkit. Membuat Abhimanyu merasa teduh, diterima, dan nyaman. Ajaib apa yang mampu dua hari lakukan pada mereka, pada Abhimanyu.
Abhimanyu membuka kedua lengannya, sejenak ragu namun akhirnya berdeham. Dia memandang Argha yang menaikkan alisnya melihat gestur itu. “Anda ingin pelukan?” Tanyanya, setengah berbisik padahal tidak akan ada yang bisa mendengar mereka sekarang.
Atasannya sejenak diam, menatap kedua lengannya yang terbuka. Abhimanyu sudah akan menurunkan kedua lengannya, kikuk karena yakin Argha akan menolak pelukannya—merasa tidak sopan dan terlalu percaya diri. Mengapa juga dia menawarkan pelukan??
Namun Argha meletakkan tasnya di lantai lift, mengulurkan kedua lengannya persis sebelum lift menutup kembali karena mereka tidak juga keluar dan menyusupkan diri ke pelukan Abhimanyu.
Aroma parfumnya menghantam penciuman Abhimanyu; pekat, namun lembut. Tercampur aroma keringatnya yang tipis, aroma Argha. Dia membelitkan lengannya di pinggang Abhimanyu dan Abhimanyu menarik napas lembut; mendekap atasannya di dalam dadanya. Menghirup aroma Argha yang sekarang memenuhi paru-parunya.
Argha terasa hangat. Pelukan yang membuatnya nyaman dan tenang, nyaris seperti morfim yang seketika menghapuskan semua sakit yang tengah berdenyut di dadanya karena terkoyak kecewa. Abhimanyu menghela napas, membenamkan wajahnya di cerukan leher Argha dan merasakan atasannya mendekapnya lebih erat—lebih hangat lagi. Mereka berpelukan dengan diam selama beberapa menit, mengapresiasi waktu itu.
“Trims,” gumam Argha di pelukannya kemudian, teredam oleh pakaian Abhimanyu. Terdengar lega dan meluruh dalam pelukannya. “It feels great.” Dia mengusap punggung Abhimanyu dengan telapak tangannya.
Abhimanyu mendekapnya lebih erat sekali lagi sebelum menguraikan pelukannya dengan sedikit tidak ikhlas—dia masih ingin mendekap Argha. “Sama-sama, Chef.” Dia tersenyum, sedikit mengantuk karena efek pelukan tadi.
“Ternyata,” Argha tersenyum ketika mereka melangkah keluar dari lift menuju loker. “Berteman tidak seburuk itu, 'kan?”
Abhimanyu balas tersenyum, menatap Argha yang nampak berkilauan seperti mutiara yang baru saja dicongkel dari kerang. Murni dan indah. “Ya, Chef.” Katanya, memaknai kata itu lebih dari apa yang dibayangkannya karena memang.
Berteman dengan Argha ternyata tidak seburuk apa yang dipikirkannya. Setelah dia berdamai dengan perasaan iri dan kecewanya karena tidak mendapatkan posisi Argha, rasanya lebih mudah untuk menerima Argha di dapur dan mendengarkan komandonya dalam memimpin tim mereka. Membuat koordinasi mereka jauh lebih baik. Abhimanyu juga merasa jauh lebih ringan ketika bekerja.
Dia meraih seragam di ruangan sebelum beranjak ke loker, sejenak melupakan Cedrik setelah pelukannya dengan Argha lalu sekarang mendadak saja lelaki itu kembali ke pikirannya.
Dia kemarin memblokir nomor Cedrik; terbelah antara perasaan bersalah dan malu. Cedrik menyatakan perasaannya lagi dan bahkan setelah mencoba untuk membalas perasaannya, Abhimanyu tidak juga bisa memberikannya perasaan yang layak sebagai balasannya. Menolaknya untuk ketiga kalinya tidak mudah bagi Abhimanyu sendiri, apalagi ketika lelaki itu akhirnya memutuskan untuk melangkah pergi dari kehidupan Abhimanyu.
Dengan panik, dipengaruhi oleh rasa bersalah dan malu, tidak ingin mencari Cedrik ketika dia membutuhkan seseorang lagi. Tidak ingin memperumit hubungan mereka dan ingin melepaskan Cedrik setelah mencekiknya nyaris selama dua setengah tahun. Abhimanyu akhirnya memblokir nomornya, berharap cara itu bisa mempermudah jalannya untuk melangkah, menjauh dari Cedrik.
Sesuatu yang disadari Abhimanyu, seharusnya dilakukannya sejak dulu. Melepaskan Cedrik, bukannya membiarkan hubungan mereka berlarut-larut dan menyakiti pemuda itu dengan harapan yang tidak akan bersambut.
Dan dia senang ketika dia kebingungan, ada Argha di sisinya walaupun dia harus benar-benar menjaga dirinya sendiri; tidak boleh merasa terlalu nyaman dengan Argha. Tidak ingin ini berakhir seperti hubungannya dengan Cedrik. Tapi Abhimanyu juga paham sekali bahwa dia... mudah terikat dengan orang yang membuatnya nyaman dan percaya.
Termasuk Argha.
Dia menatap Argha yang berdiri di depan lokernya, sedang melepas kemejanya untuk menggantinya dengan seragam sementara penyejuk ruangan sentral mulai mendengung menyala dan suara menggema lampu menyala menandakan bahwa Security sudah menyalakan listrik restoran. Dalam lima menit, Steward akan mulai datang untuk memulai pekerjaan.
Hidup terus bergerak maju dan Abhimanyu masih berdiri di sini, hidup dan sehat setelah dua hari tanpa Cedrik. Berkat Argha yang memberikannya naungan dan tempat bersandar, membuatnya nyaman.
Dan Abhimanyu takut.
Takut dia sudah jatuh terlalu dalam pada pesona Argha. Ketertarikannya yang semula fisik, kini perlahan terasa berubah. Abhimanyu bisa merasakan perubahan itu, menjadi ketertarikan emosi. Dia tertarik pada Argha bukan lagi karena penasaran pada seksnya, namun kebutuhan untuk bersamanya; dihibur, ditenangkan, dan disokong secara emosional.
Perasaan yang dulu dirasakannya ke Cedrik, hanya saja kini tumbuh lebih kuat karena sosok Argha yang bisa jadi sangat dewasa padanya. Dia mengoreksi Abhimanyu dengan lembut, namun tegas. Tidak terus memaklumi Abhimanyu dan menenangkannya, dia mengoreksi Abhimanyu jika salah.
Awalnya sikap itu terasa tidak menyenangkan, Abhimanyu yang terbiasa dimaklumi dan disayangi terkejut karena sikap tegasnya. Dua malam mendengarkan Argha menghiburnya, membimbinya melewati patah hati, kecewanya pada diri sendiri, dan ketakutannya pada masa depan setelah ini membuat Abhimanyu menyadari bahwa... dia membutuhkan ketegasan itu.
Argha Mahawira memang lelaki berbahaya—bukan hanya karena sensualitas dan fisiknya.
“Not changing your clothes?” Tanya Argha, menoleh dengan seragam di tangannya. “Kenapa berdiri di sana terus?”
Abhimanyu mengerjap dan tersenyum, merasa gugup di sekitar Argha sekarang. “Sekarang, Chef.” Sahutnya perlahan lalu menghampiri lokernya sendiri dan mulai mengganti pakaiannya.
... Jika seseorang yang kita inginkan tidak menginginkan kita?
Jika begitu, hanya ada dua cara. 1) Berhenti, tinggalkan, dan hidup bahagia atau 2) buat mereka menginginkanmu.
“Are you alright?” Tanya Argha lagi ketika Abhimanyu berdiri di sisinya, mengerutkan alisnya dan Abhimanyu tersenyum dalam hati—bagaimana bisa lelaki senior berusia nyaris empat puluh bisa nampak seindah Argha? Tetap nampak muda dan bersinar.
Dia terlihat dewasa, tenang, dan penuh pesona namun sekarang dia nampak menggemaskan ketika khawatir. Menatap Abhimanyu dengan mata gelapnya yang berkilau oleh rasa cemas yang nyaris tulus—emosi yang Abhimanyu belum juga terbiasa lihat di matanya. Membuat Abhimanyu terenyuh karena seseorang ternyata peduli padanya. Argha ternyata peduli padanya.
“Are you hurting?” Desak Argha lagi, menatapnya serius. “Abhimanyu, I'm asking you questions.” Tegurnya dengan nada yang membuat Abhimanyu ingin tertawa. Apakah dia tidak salah mendengar nadanya?
Karena Argha Mahawira baru saja... merajuk padanya?
Dari mana datangnya Argha Mahawira yang ini? Apakah dua malam menghabiskan waktu bersama Abhimanyu membuatnya... merasakan hal yang sama? Bahwa emosi mereka terkoneksi, begitu erat dalam waktu yang begitu singkat?
“I'm not hurting,” sahut Abhimanyu, menatapnya dengan senyuman kecil di bibirnya. Merasa begitu... hangat? Padahal dia baru saja menghabiskan akhir pekannya dengan menangis dan mengasihani dirinya sendiri.
Argha membantunya bangkit, memperkuatnya. Menyokong emosinya agar lekas pulih. Bersikap begitu dewasa namun juga menggemaskan di sekitarnya, menatapnya khawatir seperti seekor Siberian Husky yang agung, mengibaskan ekornya ketika tidak mendapatkan jawaban yang diinginkannya.
“I'm fine, Argha.” Bisiknya, mengetes nama itu di tempat lain selain kamarnya dan mendapati reaksi Argha seketika itu juga.
Chef senior itu mengerjap, menatapnya dalam sebelum sorot matanya berubah. Emosi berkilat di mata itu sekejap, seperti kerlip bintang sebelum kembali lenyap dan dia tersenyum—senyuman seindah mimpi yang membuat Abhimanyu ingin memeluknya.
“Great.” Sahut Argha, entah mengapa memelankan suaranya juga padahal hanya ada mereka berdua di loker itu. “I'm glad you are.”
... Make them want you.
ps. ehe :3