Gemati 288

tw // abandonment issue .


Argha sejenak bimbang dengan nampan makanan di tangannya, mengedarkan pandangan ke EDR Le Gourmet mencari tempat duduk lain—di mana saja selain tempat Abhimanyu duduk menerawang dengan makanan tidak tersentuh di hadapannya.

Bukan urusanmu, Argha. Menjauhlah dari masalah, pikirnya sambil melangkah ke kursi kosong di sudut ruangan, terjauh dari Abhimanyu namun di tengah perjalanan dia menghela napas berat. Lalu berbalik dan menghampiri Abhimanyu.

Entah sihir apa yang digunakan anak itu hingga Argha sama sekali tidak bisa mengendalikan dirinya di hadapan Abhimanyu. Apakah wajahnya yang imut-imut? Rambut ikalnya yang menggemaskan? Mata cokelatnya yang berkilauan? Pembawaannya yang hangat? Ciumannya?

Nipple piercing-nya? Argha tidak lagi paham.

Ketika dia tiba di parkiran pagi tadi, Abhimanyu sedang berdiri di dekat motornya menatap ponsel. Membeku dengan pandangan nanar dan Argha tahu ini pasti mengenai pesan Arsa di grup koordinasi tentang Cedrik. Dan mau tidak mau, Argha menyentuh dadanya sendiri; teringat hubungannya dan Yukio yang compang-camping bertahun-tahun lalu. Bagaimana dia berusaha mempertahankan hubungan itu hingga lima tahun lamanya sebelum mereka akhirnya memutuskan untuk berhenti berusaha.

Menjadi pihak yang mencintai tidak pernah menyenangkan. Rasanya seolah orang lain hanya datang untuk menginjak-injak perasaan itu sebelum pergi, membuang semuanya. Atau memanfaatkan perasaan itu untuk egoismenya sendiri. Argha pernah mencintai, begitu hebatnya hingga bahkan setelah sembilan tahun, dia masih merasa pedih ketika mengingatnya. Dan dia tidak ingin terjebak dalam kelemahan itu lagi.

Cedrik pasti telah berusaha, sekuat tenaga menahan dirinya. Mencoba mempertahankan hubungan itu. Bedanya, Yukio mencintai Argha. Mereka saling mencintai sebelum masalah orientasi seksual terbit di antara mereka. Sementara Abhimanyu mungkin... tidak pernah mencintai Cedrik. Tidak seperti cara Cedrik mencintainya.

Wajar jika Cedrik hancur dalam waktu singkat. Apalagi sifat Abhimanyu yang masih naif dan meledak-ledak. Lalu mengapa Abhimanyu nampak sama hancurnya sekarang?

Dia menepuk bahu Abhimanyu dan mengajaknya memasuki gedung restoran untuk bersiap bekerja. Di loker, anak itu duduk di kursi dan terus mencoba menghubungi Cedrik—nampak sedikit frustrasi dan bersalah, matanya nanar dan liar. Dan tidak peduli seberapa inginnya Argha menghiburnya, dia berhasil menahan diri. Hanya memastikan anak itu ke dapur ketika dia siap.

Abhimanyu bekerja dengan baik sepanjang prep, beberapa kali berhenti, melamun dan kehilangan fokus namun Argha hanya perlu berdeham untuk membuatnya kembali bekerja. Argha menghela napas, hubungan mereka tidak akan berakhir baik. Argha tahu.

Dan hati kecilnya—begitu kecil hingga dia tidak yakin bagian itu benar-benar ada di sana, sedikit senang menyadari bahwa sebentar lagi mereka akan mengakhirinya. Mungkin.... Jika menilik dari retak di cermin yang mulai melebar dan menebal, membiaskan bayangan mereka menjadi beberapa bayangan berbeda, cermin itu akan remuk sebentar lagi.

“Halo, Abhimanyu. Can I sit here?” Tanya Argha tersenyum dan tanpa menunggu jawabannya, dia meletakkan nampan dan tas makannya di meja di depan Abhimanyu.

Argha selalu membawa tas makannya ketika bekerja. Isinya sepasang sendok-garpu stainless pribadinya, sedotan kaca, tisu basah, tisu kering dan antiseptik. Dia punya banyak sekali tahapan sebelum dan sesudah makan, terkadang membuat teman makannya jengkel.

Hari ini menu mereka terdiri atas nasi campuran putih dan merah, tumis brokoli daging yang melimpah dengan saus teriyaki harum, serta es krim vanila dengan potongan cokelat putih sebagai pencuci mulut. Argha tidak terlalu suka nasi, maka dia meminta commis yang bertanggung jawab atas menu EDR menambahkan kentang rebus tumbuk dengan sedikit lada, oregano dan garam sebagai pilihan alternatif selain nasi.

“Sedikit saja,” kata Argha karena tahu semua karyawan Gourmet terbiasa makan nasi sebagai karbohidrat utama. “Untuk mereka yang tidak makan nasi.”

Kinan ternyata mengapresiasinya, dia turun sebelum jam makan siang tadi dan menemukan kentang tumbuk lembut tersaji di EDR lalu mengangguk. “Kita bisa melakukannya setiap menu nasi disajikan, ya?” Katanya sebelum berlalu kembali untuk bekerja.

Abhimanyu di hadapannya kini mengerjap, sejenak linglung sebelum mengangguk. “Oh, ya, silakan, Chef.” Katanya, menarik nampannya mendekat untuk memberikan ruang untuk Argha di meja itu.

Argha melirik nampannya, menyadari makanannya belum disentuh sama sekali dan es krimnya mulai meleleh. “Makanlah.” Tegur Argha lembut seraya mengeluarkan alat makan pribadinya yang dibungkus kantung kain. “Kau butuh energi untuk bekerja.”

Abhimanyu mengerjap lagi, menatap Argha dengan wajah kebingungan sebelum menunduk ke makanannya; menyadari apa yang dikatakan Argha. “Oh, ya. Benar. Ya, Chef.” Katanya, linglung.

Argha menghela napas. “Abhim,” panggilnya perlahan. “You know you cannot work if you're losing focus like this.”

Abhimanyu meraih sendok makannya, tidak bereaksi terhadap kata-kata Argha dan mulai menyendok makanan di nampan makannya. Memasukkannya ke mulut tanpa benar-benar merasakannya, hanya melakukannya karena harus. Maka Argha menyerah, membiarkan anak itu melamun memikirkan hubungannya dengan Cedrik.

Mereka bersidiam sementara di sekitar mereka, karyawan Le Gourmet bergiliran mulai makan siang. Anak-anak servis selain mereka yang bertugas untuk opening juga mulai berdatangan, menyapa teman-temannya dengan membuka pintu EDR dan berseru ceria. Ruangan beraroma hangat makanan dan obrolan; semua nampak ceria dan tenang, kecuali Abhimanyu yang resah.

Argha meliriknya sesekali sambil mengirim pesan pada Sebastien, bertanya kapan lelaki itu kembali ke Bali karena dia ingin bertemu. Sebastien berangkat ke Jakarta untuk urusan bisnis hari Minggu kemarin dan Argha sudah tidak tahan. Dia sedang mengetik dengan sebal pada Sebastien ketika Abhimanyu memutuskan untuk mengajaknya bicara.

“Anda pernah mencintai seseorang, Chef?”

Argha mengerjap, mendongak dari ponselnya dan menemukan Abhimanyu menatap titik jauh di belakang Argha—tidak fokus. Argha meletakkan ponselnya, memutuskan untuk menghibur Abhimanyu sejenak karena dia butuh lelaki itu dalam kondisi prima untuk memulai servis nanti.

“Tidak peduli seberapa bajingannya saya di matamu,” mulainya seraya menyuap makanannya lagi dan Abhimanyu menatapnya—bola matanya yang sewarna karamel kini keruh oleh rasa sedih, cemas, bingung, dan gelisah.

Argha tidak menyukainya. Dia ingin mata itu selalu berkilau seperti batu citrine yang baru digosok; cemerlang, indah, dan mendebarkan. Dia ingin Abhimanyu terus tertawa, tersenyum, dan melemparkan guyonan padanya seperti semalam.

“Saya juga bisa mencintai seseorang.” Argha tersenyum, teringat pada Yukio; cinta dalam hidupnya yang selalu membuatnya kuat. “Sangat mencintainya hingga di satu titik, rasa itu menghancurkan saya. Dan mustahil untuk disembuhkan.”

Abhimanyu menatapnya. Mungkin tidak menyangka bahwa Argha memiliki hati untuk mencintai karena dia selalu menyembunyikan perasaan itu di bawah topeng sensualitasnya—membuat semua orang percaya bahwa Argha tidak punya hati. Dia punya hati, tentu saja. Hanya saja organ itu berdenyut untuk Yukio, tidak ada orang lain lagi.

“Bagaimana...” Bisik Abhimanyu perlahan dan Argha tersenyum tipis. Dia begitu menggemaskan; polos, naif, dan tidak paham apa pun dalam hidupnya. Cedrik pasti telah 'menyuapinya' begitu lama, memastikan tidak ada seorang pun yang menyakitinya—bahkan tidak dirinya sendiri.

“Bagaimana caranya Anda berhenti?”

Argha mengedikkan bahunya, “Saya tidak bilang saya berhenti.” Sahutnya kalem.

Sesuatu berkilat di mata Abhimanyu dan untuk pertama kalinya, Argha terlambat menangkap emosi itu karena kilatan itu tenggelam begitu cepat; seperti bintang jatuh. Sejenak berpendar, lalu lenyap. Dan Argha mengerutkan alisnya, penasaran pada emosi apa yang Abhimanyu sembunyikan darinya.

“Tapi, yah.” Argha tersenyum dan menatap makanannya, tidak ingin matanya membocorkan emosi yang bergolak di hatinya sekarang jika dia membicarakan ini. “Dia melangkah pergi dari hidup saya. Bukan cara yang baik hati sama sekali, tapi mungkin... Perasaan saya menjadi beban untuknya. Dia memaksa saya untuk berhenti.”

Kilatan ingatan ketika Yukio menutup pintu apartemen mereka menyengat kepala Argha, membuatnya menarik napas dalam-dalam. Teringat sakit hati yang mengoyaknya hari itu dan dua hari setelahnya; dia tidak bangkit bekerja, terbaring di ranjangnya tanpa makan dan minum. Menangis mengasihani dirinya sendiri.

Argha memejamkan mata, menghela napas dan berusaha menyingkirkan ingatan itu. Bagaimana dia tertatih-tatih, nyaris merangkak bangkit dari ranjang untuk pergi ke toilet karena kandung kemihnya tidak tahu situasi. Mendapati apartemen kosong dan dingin tanpa Yukio, menyadari bahwa dia tidak bermimpi.

Yukio memang meninggalkannya, menyerah atas hubungan mereka.

“Tapi Anda tidak berhenti...?” Bisik Abhimanyu.

Argha tersenyum. “Tidak.” Sahutnya parau, tenggorokannya panas. “Saya tidak berhenti.” Dia mengedikkan bahu, menyuap makanannya dan memberikan waktu untuk Abhimanyu menata isi kepalanya sambil menerawang.

“Dia melangkah pergi...,” bisik Abhimanyu lagi setelah hening dan Argha menyelesaikan makan siangnya, mendorong nampan menjauh darinya dan menyeka mulutnya dengan tisu basah tanpa parfum. “Karena sudah tidak mencintai Anda?”

Argha melipat tisu bekasnya, meletakkannya di atas nampan lalu meraih tisu basah lain untuk mengelap sendok makannya. Membungkusnya dengan tisu kering lalu memasukannya ke kantungnya. Argha mengemas semuanya kembali ke tas makannya, mengulur waktu sebelum menjawab pertanyaan Abhimanyu. Tahu jelas ke mana arah pembicaraan ini dan apa yang Abhimanyu akan lakukan nanti.

“Kami saling mencintai.” Katanya kemudian, menatap Abhimanyu. Memberi tahu anak itu perbedaan besar antara hubungannya dengan Yukio dan hubungan Abhimanyu dengan Cedrik. “Sangat saling mencintai, tapi tidak bisa melanjutkan perjuangan kami karena satu-dua alasan.”

“Dan Abhimanyu,” Argha tersenyum tipis, merogoh sakunya dan mengeluarkan permen. Dia meletakannya di hadapan Abhimanyu sebelum berdiri dari kursinya. “Jika kau memang tidak bisa membalas perasaan mereka,”

Argha menarik napas. Keduanya harus berhenti saling menyakiti; Cedrik sudah cukup lama menunggu dan Abhimanyu tidak juga terlihat akan membalas perasaannya. Awalnya nampak menyenangkan, bagaimana Cedrik terlihat sangat agresif mempertahankan Abhimanyu. Overprotektif pada pemuda itu, menggeram pada siapa saja yang menunjukkan ketertarikan sedikit saja pada Abhimanyu. Argha ingin menggodanya.

Tapi semakin Argha memerhatikan dinamis mereka, semakin Argha menyadari bahwa keduanya sedang saling menyakiti. Belum lagi ketertarikan fisik Abhimanyu padanya; dia sedang membuat bom waktu, persis seperti yang dilakukan Argha pada Yukio. Menumpuk masalah dan melukai perasaan Cedrik.

Argha memang seorang bajingan. Namun satu hal yang dia pasti lakukan adalah menolak siapa saja yang jatuh cinta padanya. Dia tahu dia tidak bisa membalas perasaan mereka, maka dia menghentikan hubungan itu secepat mungkin sebelum terlalu jauh. Sebelum terlalu dalam.

Dan Abhimanyu telah membiarkan Cedrik jatuh cinta sendirian selama dua tahun, tenggelam dan tercekik perasaannya sendiri. Ketika Abhimanyu sendiri tahu bahwa dia tidak bisa membalas perasaan Cedrik.

“Tegaslah padanya. Menjauh darinya.” Argha menunduk menatap Abhimanyu yang tidak menatapnya. “Kau tidak bisa berada di sekitar orang itu terus, memanfaatkan cintanya untuk kepentinganmu sendiri. Tidak peduli seberapa besar kau membutuhkan mereka. Kita tidak bisa berteman dengan seseorang yang dengan jelas menyatakan bahwa mereka mencintai kita, Abhimanyu.”

Argha memejamkan mata, menarik napas. Teringat suara Yukio ketika mengatakan kalimat yang sama persis: “私たちは友達になることはできません、アルガ。”

We cannot be friend, Argha.

Tidak ada seorang pun yang bisa berteman dengan perasaan cintanya. Mereka hanya sedang berharap, menunggu suatu hari nanti yang mereka cintai akan membalas perasaan itu. Terus menunggu, terus berharap. Lalu hancur ketika akhirnya mereka bukanlah yang terpilih.

His boyfriend takes a very good care of Yukio. You don't have to worry.

Pada akhirnya mereka harus menerima kenyataan pahit bahwa bukan mereka yang dibutuhkan orang yang mereka cintai untuk berbahagia. Bahwa ada seseorang di luar sana yang akan membahagiakan orang yang mereka cintai dan orang itu bukanlah mereka.

Bukan Argha yang dibutuhkan Yukio untuk berbahagia.

Bukan Abhimanyu yang dibutuhkan Cedrik untuk berbahagia.

We're not playing with someone's heart,” bisik Argha lirih. Inilah mengapa Argha selalu mencari pasangan dengan benefit yang berhati dingin seperti Sebastien.

Karena, “The game you playing now is too expensive.”


Cedrik berjanji padanya tidak akan melangkah pergi seperti kakaknya.

Selama ini Abhimanyu bertahan, menggenggam janji itu seperti pelampung. Menyadari betapa Cedrik tidak akan meninggalkannya, terikat mati dan kuat pada janji itu. Dia pikir suatu hari nanti Cedrik akhirnya akan menyerah pada cintanya dan menganggap Abhimanyu temannya—adiknya, atau apa pun selain lelaki yang dicintainya.

Atau mungkin Abhimanyu berharap Cedrik tidak berhenti mencintainya? Karena jika dia berhenti, dia tidak akan memprioritaskan Abhimanyu lagi, 'kan? Persis seperti bagaimana Khrisna menyingkirkan Abhimanyu begitu saja untuk pergi berdua dengan Hadrian. Tidak ingin membawa adiknya berkencan.

Atau bagaimana Abhimanyu diabaikan ketika mereka pergi bertiga, menonton mereka tertawa dan berinteraksi mesra dengan hati pedih. Merasa kesepian bahkan ketika ada kakaknya di sana, bersamanya. Ternyata luka itu tidak sembuh setelah dua tahun, malah semakin membuat Abhimanyu kesulitan untuk percaya. Kesulitan untuk membuka diri.

Tidak ada tempat untuk Abhimanyu jika ada kekasih di hidup Khrisna dan Cedrik. Mereka akan memprioritaskan pasangan mereka, menyingkirkan Abhimanyu dari hidup mereka lalu meninggalkannya.

Aku sudah terlanjur membuat janji dengan temanku, kata Cedrik hari itu.

Menikam hati Abhimanyu dengan ketakutan; jika Cedrik akhirnya berhenti mencintainya, akan ada lebih banyak lagi janji-janji yang dibatalkan. Cedrik yang akhirnya memilih orang lain sebelum Abhimanyu. Kekasih Cedrik yang cemburu pada kehadirannya lalu meminta Cedrik menjaga jarak dari Abhimanyu.

Dan Abhimanyu akhirnya akan terlupakan. Ditinggalkan karena Cedrik harus memilih kekasihnya.

Lalu pada siapa Abhimanyu harus bersandar jika semua orang akhirnya meninggalkannya untuk kekasih mereka? Untuk pasangan mereka? Tidak bolehkah Abhimanyu berteman dengan mereka? Bahkan ketika mereka sudah memiliki pasangan?

Tidakkah mereka memiliki simpati bahwa kekasih mereka mungkin satu-satunya orang yang Abhimanyu percaya di dunia ini? Satu-satunya tempat yang cukup nyaman untuk Abhimanyu huni? Mengapa mereka begitu egois menyingkirkan Abhimanyu?

Kita tidak bisa berteman dengan seseorang yang dengan jelas menyatakan bahwa mereka mencintai kita, Abhimanyu.

Memangnya Abhimanyu yang meminta Cedrik jatuh cinta padanya? Tidak. Abhimanyu tidak pernah merengek pada Cedrik untuk mencintainya, lalu mengapa sekarang perasaan Cedrik menjadi tanggung jawabnya?

Mengapa Abhimanyu tidak boleh memiliki satu saja—satu saja orang yang bisa dipercayainya? Seseorang yang akan bersamanya selamanya, menemani Abhimanyu, tidak akan meninggalkannya sendirian. Tidak akan menyingkirkan Abhimanyu seperti kakak dan ayahnya. Tidak akan menomor-duakannya.

Abhimanyu tidak meminta terlalu banyak, 'kan?

Hanya satu orang.

Satu orang.

Dia menyeka air matanya dengan satu tangan seraya berkendara melewati jalanan ke arah Ubud. Mengabaikan dingin malam yang menyengat menembus jaket berkenadaranya. Dia harus bertemu Cedrik; hatinya tidak ingin ditinggalkan, tidak mau Cedrik juga melangkah pergi dari hidupnya.

Abhimanyu ingin melakukan apa saja agar dia tetap bersama Abhimanyu. Agar dia tidak perlu melihat siapa pun melangkah pergi, memunggunginya lagi. Tidak. Luka dari Khrisna belum juga sembuh dan Abhimanyu tidak ingin merasakan sakit yang sama.

Setitik kesadarannya menyadari dia berkendara di atas kecepatan biasanya dan motor melaju dengan sangat kencang di jalanan. Kepalanya berputar ke mana saja kecuali ke caranya berkendara atau jalanan di depannya. Abhimanyu tidak bisa memaksa kepalanya untuk fokus ke satu titik ketika ketakutan merajalela di dalamnya.

Berharap Cedrik belum memutuskan apa pun tentang hubungan mereka, berharap dia bisa mengubah keputusan Cedrik. Abhimanyu akan berhenti berteman dengan Argha jika itu yang membuat Cedrik terluka; dia akan mengendalikan dirinya di sekitar Argha. Dia tidak akan meminta seks dari Cedrik.

Dia akan melakukan apa saja agar Cedrik tidak pergi dari sisinya.

Abhimanyu tidak akan bisa menangguhkan rasa sakit itu lagi.

Dia membelok, memasuki Ubud yang masih cukup ramai. Restoran-restoran masih buka, beberapa sudah mulai membereskan meja-meja luar ruangan mereka. Beberapa wisatawan luar negeri masih berjalan di atas trotoar, menikmati waktu mereka di Bali. Suara tawa rendah masih sayup terdengar hingga jalanan, pun aroma makanan dan bir yang sepat.

Semua orang tertawa, menikmati liburan dan waktu berkualitas mereka dengan orang yang mereka cintai dengan gembira sementara Abhimanyu—beberapa meter jauhnya dari mereka sedang menangis memikirkan ketakutannya untuk ditinggalkan. Berduka entah atas kematian siapa. Dan orang-orang itu tidak menyadarinya.

Abhimanyu sengaja pulang sedikit mendahului atas izin Argha yang bersimpati padanya. Dia ingin bertemu Cedrik secepat mungkin.

Syukurlah kehidupan malam Ubud sudah mulai tenggelam karena Abhimanyu tidak ingin terjebak kemacetan apa pun sekarang. Dia kembali membelok, menuju jalanan yang sudah sangat akrab dengannya menuju kosan Cedrik. Raditya pasti belum pulang jam segini, membuat Abhimanyu merasa lebih nyaman untuk bertemu Cedrik.

Perlukah dia memohon pada Cedrik?

Hatinya menyadari bahwa di sisi lain Abhimanyu harus menghentikan hubungan ini. Dia harus melangkah pergi, tegas pada Cedrik alih-alih semakin menyakitinya. Namun Abhimanyu tidak siap akan kesendirian yang terbit jika dia mengusir Cedrik dari hidupnya. Teringat betapa menyedihkannya dia terbaring di kamarnya sementara semua orang menghabiskan waktu dengan teman-temannya kemarin.

Dan Abhimanyu tidak memiliki teman.

Dia melihat gerbang kosan Cedrik lalu melambat, memasang sein untuk membelok dan menyadari mobil yang memenuhi halaman. Abhimanyu berhenti di depan gerbang, mengamati Wrangler Rubicon putih dengan plat nomor Jakarta yang terparkir di halaman kos Cedrik.

Abhimanyu tidak pernah melihat mobil ini di kosan Cedrik sebelumnya. Mobil Arsa berwarna hitam dengan plat Gianyar. Namun satu sel di kepalanya merasa bahwa mobil ini sangat familiar. Di mana Abhimanyu pernah melihatnya?

Rubicon bukanlah mobil langka di Bali, khususnya di Ubud dan Gianyar. Tetangga Abhimanyu di rumahnya memiliki satu sewarna hijau tentara. Pendapatan masyarakat dari sektor pariwisata di Ubud begitu besar hingga Rubicon bukan lagi mobil 'kelas atas' yang sulit ditemukan di jalan raya.

Jadi mungkin Abhimanyu berpapasan dengan mobil ini di suatu tempat.

Dia membelok ke ruang kosong halaman kosan, memarkir motornya begitu saja. Tidak memikirkan apakah hujan akan mengguyurnya nanti atau tidak. Abhimanyu mencabut kunci motornya setelah mengeluarkan bawaannya dari bagasi lalu bergegas melangkah ke kamar Cedrik seraya merogoh sakunya, ingin meneleponnya untuk mengabarkan bahwa Abhimanyu sudah tiba.

Abhimanyu mengemaskan sedikit sisa makanan EDR untuk Cedrik, sudah dihangatkan sebelum berangkat. Berharap Cedrik tidak keberatan dengan makanan itu. Abhimanyu bisa membelikannya makanan lain jika Cedrik mau. Yakin Cedrik pasti belum makan apa pun seharian jika tidak dipaksa.

Dia menekan nomor Cedrik, hendak mengangkat ponselnya ke telinga ketika dia bertemu seseorang di lorong ke arah kamar. Abhimanyu berhenti bergerak, menurunkan ponselnya kembali. Mustahil melupakan lelaki ini. Dia begitu manis, tindikan di hidungnya yang berkilau, pembawaannya yang hangat....

Mata mereka bertemu.

Dari penampilannya, dia sepertinya pekerja kantoran. Dia mengenakan kemeja garis-garis biru di tubuhnya juga celana longgar gelap, membawa tas jinjing yang nampak sedikit penuh di tangannya, satu tas belanja besar yang dilipat di bawah ketiaknya serta jaket yang dikaitkan di lekukan lengannya. Rambutnya yang sedikit panjang diikat menjadi pony tail pendek; membuatnya nampak... cantik.

“Oh. Halo.” Sapa lelaki itu tersenyum ramah. “Kita pernah bertemu?”

Abhimanyu mengerjap. “Sepertinya begitu,” dia memaksakan senyuman yang diharapkannya nampak ramah. Sekarang Abhimanyu tahu mengapa mobil itu nampak familiar. “Grand Lucky? Alaskan Malamute?”

Pemuda itu tersenyum ramah. Senyumannya lebar, menarik, dan menular. Namun ada sedikit jejak luka di wajahnya, kelelahan dan kekecewaan. Tipis sekali, nyaris tertutup oleh kebahagiaan palsu yang dipasangnya karena bertemu seseorang.

“Halo, ya. Saya.” Dia memindahkan bawaan di tangan kirinya, mengulurkan tangan lalu kaget sendiri. “Ah, maaf!” Serunya. “Saya kidal jadi kebiasaan.” Dia bergegas memindahkan bawaannya ke tangan kiri dan mengulurkan tangan kanannya.

“Nikolas.” Dia memperkenalkan diri meskipun Abhimanyu sungguh tidak ingin berlama-lama di sini.

Dia harus bertemu dengan Cedrik. Tapi sebagian dirinya yang tahu sopan santun akhirnya menjabat tangan itu, merasakan hangat tangannya karena menghabiskan waktu di dalam ruangan. Sejenak, aroma tembakau menyeruak dari tubuhnya; tumpang tindih dengan aroma parfumnya. Mata Abhimanyu langsung melirik bibirnya, memastikan apakah dia perokok dan menyadari bibirnya yang berwarna terang.

“Abhimanyu.” Abhimanyu balas memperkenalkan diri. “Anda tinggal di sini juga?”

Nikolas mengerjap. “Ah, tidak.” Katanya. “Saya hanya menemui teman saya. Sekarang dia sudah tidur, jadi saya memutuskan untuk pulang dan kembali besok. Anda sendiri?” Dia melepaskan jabatan tangannya.

“Menjenguk teman saya yang sakit.” Abhimanyu tersenyum, menyukai suara Nikolas yang hangat.

Bibir Nikolas terbuka sedikit ketika mengangguk. “Banyak yang sakit belakangan ini, ya?” Komentarnya basa-basi lalu sebelum Abhimanyu sempat menanggapi, dia mengecek jam tangannya dan menatap Abhimanyu menyesal.

“Baiklah, saya tidak akan menahan Anda lebih lama lagi. Saya harus pulang sekarang.” Dia meringis dan Abhimanyu menggeleng, tidak masalah. “Mari, Abhimanyu. Senang bertemu dengan Anda.”

Abhimanyu tersenyum. “Silakan.” Katanya dan berbalik ketika Nikolas melewatinya, berlari kecil ke mobilnya. “Hati-hati di jalan.” Dia melambai sebelum senyumannya lenyap ketika berbalik dan berlari ke kamar Cedrik.

Abhimanyu hanya menemukan sandal Cedrik di undakan depan dan melepas sepatunya, bergegas naik lalu mengetuk pintu kamarnya. Dia mengulurkan tangan, meraih gagang pintu dan membukanya. Tidak terkunci, maka dia mendorongnya terbuka. Kamar Cedrik remang-remang, lampu tidurnya dinyalakan dan dia sedang berbaring di ranjangnya dengan selimut.

Aroma rokok menyengat dari sana dan Abhimanyu memutuskan untuk membuka pintu sedikit, juga jendela agar udara bisa mengalir. Dia membiarkan tirai jendela tertutup saat meletakkan bawaannya di lantai sebelum mengendap lembut ke sisi Cedrik.

Abhimanyu duduk di tepi ranjang, menghela napas dan mengulurkan tangan menyentuh kening Cedrik. Dia tidak panas, mungkin hanya kelelahan. Dan itu membuatnya lega, setidaknya dia sudah melihat Cedrik dengan mata kepalanya sendiri. Dia mengedarkan pandangan ke kamar Cedrik yang rapi tapi sedikit... tidak sesuai. Abhimanyu tahu cara Cedrik menata kamarnya dan sekarang, semua terlihat seperti baru saja disentuh orang lain.

Di meja tempat Cedrik menyimpan makanannya sekarang sedikit penuh; ada buah-buahan kesukaan Cedrik, dua bungkus roti double soft yang masih tersegel, selai kacang dan cokelat, beberapa bubur instan, juga kotak-kotak terisi makanan yang siap dihangatkan. Botol-botol suplemen makanan, vitamin C, dan beberapa liter susu serta minuman isotonik. Piring di bawah tudung saji kecil memberi tahu Abhimanyu bahwa Cedrik belum menghabiskan makanan terakhirnya.

Dia tersenyum kecil melihatnya. Arsa pasti membawakan banyak sekali makanan untuk Cedrik, tahu kebiasaan lelaki itu ketika sakit. Dia pasti merokok juga di kamar Cedrik sebelum pergi dan tidak repot-repot membiarkan asap rokok digantikan udara baru sebelum pergi. Tapi Abhimanyu senang setidaknya ada yang mengurus Cedrik ketika sakit.

“Oh? Abhim?”

Abhimanyu menoleh dari meja makanan Cedrik dan menatap lelaki itu, nampak kelelahan dan mengantuk. Wajahnya sedikit bengkak dengan mata yang sayu. “Hai,” bisiknya lembut dan mengulurkan tangan—menyisir rambut Cedrik yang kusut.

Cedrik mengamati ruangan sejenak, disorientasi. “Kau datang sendirian?” Tanyanya dan Abhimanyu mengangguk.

“Kau tidur seperti sapi ketika aku datang. Bahkan tidak mengunci pintu kamarmu.” Setengahnya adalah keluhan dengan senyuman, Abhimanyu merasa senang karena sudah bersama Cedrik. “Bagaimana perasaanmu?”

Cedrik masih mengerjap, mengedarkan pandangan ke seluruh kamarnya. “Mana...?” Tanyanya berbisik dan Abhimanyu terkekeh parau.

“Chef Arsa?” Balas Abhimanyu geli pada Cedrik yang disorientasi pada sekitarnya. Arsa pastilah orang terakhir yang dilihatnya sebelum lelap. “Tentu saja bekerja. Kau tidur lama sekali, ya?”

Cedrik menatapnya lalu menghela napas, tersenyum lemah. “Ya. Kurasa begitu.” Dia memijat pelipisnya. “Pantas rasanya pusing.” Dia kemudian menarik dirinya di ranjang yang berderit, mendudukkan dirinya.

Abhimanyu menatapnya lalu menoleh ke bawaannya di lantai. “Aku membawakanmu makanan, tapi sepertinya kalah cepat dengan Chef Arsa.” Dia menoleh ke meja makanan Cedrik yang nyaris kepenuhan.

Cedrik ikut menatapnya dan mengamati makanan di meja sejenak sebelum tersenyum tipis. “Yah,” katanya dengan sedikit menerawang, memandangi tumpukan makanan itu dengan sedikit sayang. “Dia memang selalu bersikap berlebihan.” Bisiknya dan Abhimanyu tersenyum.

“Dia sayang padamu.” Abhimanyu meraih makanannya, sedikit senang karena Cedrik sudah tidak meledak-ledak seperti tadi. Bahkan sekarang nampak lembut, tenang, dan... senang. “Kau mau melanjutkan makanmu?”

Cedrik menghela napas, memalingkan wajah dari cadangan makanannya di meja lalu menatap Abhimanyu. “Kenapa kau datang?” Tanyanya lembut dan Abhimanyu berhenti bergerak, merasakan tikaman kecil namun dalam di hatinya karena pertanyaan itu.

“Aku ingin memastikanmu baik-baik saja.” Abhimanyu mengangkat wajahnya, menatap Cedrik yang nampak kelelahan. “Aku akan menemanimu malam ini.”

“Abhimanyu.” Bisik Cedrik dan Abhimanyu menggertakkan giginya—dia terlalu cepat senang. Cedrik ternyata belum melepaskan obrolan mereka tadi. “Kau tidak perlu melakukannya, pulanglah. Beristirahat.”

“Cedrik—,” mulai Abhimanyu, hendak mendebatnya dan bersikeras seperti biasa. Tahu Cedrik akan luluh padanya jika dia mendesaknya. Dia harus membuat Cedrik berhenti berpikir tentang meninggalkannya.

“Abhimanyu.” Sela Cedrik, lebih tegas dan Abhimanyu diam. “Kau belum menjawab pertanyaanku tadi.” Katanya, mengatakannya dengan perlahan seolah mendiktekan sesuatu pada Abhimanyu.

Abhimanyu diam. Karena dia tidak sempat memikirkannya. Apakah dia tertarik pada Argha? Ya. Secara fisik. Hanya tertarik pada... seperti apa rasa Argha. Apakah seks yang diberikannya sesuai dengan tampangnya? Bagaimana rasa seks yang sebenarnya? Dia penasaran.

Bukan kepada Argha, melainkan apa yang Argha bisa berikan padanya. Seks.

Apakah aman jika dia menjelaskan ini pada Cedrik? Seberapa dalam luka yang mungkin ditimbulkan kejujuran Abhimanyu padanya? Apakah itu yang terbaik? Bisakah Cedrik memahami penjelasan Abhimanyu?

Bagaimana jika dia berbohong? Akankah itu memberikan rasa tenang pada Cedrik dan membuatnya melupakan omong kosong tentang meninggalkan Abhimanyu?

Jika dia jujur, bukankah itu hanya semakin menegaskan betapa kurangnya Cedrik untuk Abhimanyu? Mendorongnya agar segera pergi dari Abhimanyu karena apa pun yang dilakukannya, dia tidak bisa memberikan seks untuk Abhimanyu?

Itu membuat Abhimanyu nampak seperti bajingan tengik. Karena dari segala hal yang bisa diberikan Cedrik, dia menginginkan seks. Mementingkan seks seperti seorang freak dan tidak menghargai cinta itu sendiri—terlepas dari kebutuhan jasmaninya.

... Kenapa dia tidak bertanya pada Argha tadi? Apakah Abhimanyu salah karena menginginkan seks di hubungannya? Apakah itu membuatnya menjadi bajingan? Argha hanya menginginkan seks dalam hubungannya dan apakah itu salah? Berdarah dingin dan antipati?

Apakah gairah seksualnya salah? Apakah dia salah karena dia bukan aseksual seperti Cedrik?

Apakah Abhimanyu yang salah?

“Apakah kau tertarik pada Argha?”

Abhimanyu mendongak, menatap Cedrik yang balas menatapnya lekat-lekat. Nampak sangat terluka hingga Abhimanyu tidak tega untuk jujur bahwa dia tertarik—bahkan jika hanya secara fisik pada Argha. Dia akan menyakiti Cedrik jika dia jujur sekarang. Lalu apa yang harus dikatakannya pada Cedrik sekarang? Dia belum memikirkan jawaban apa pun untuknya.

“Kami berteman.” Mulainya perlahan, merasa jiwanya sedang terlepas dari tubuhnya sendiri ketika mengatakannya. Dia tidak merasakan dirinya sendiri, seolah mendengar suaranya mendengung dari kejauhan.

“Aku merasa tidak ada gunanya lagi membenci Argha. Kami bisa berteman dan membentuk kerja sama yang lebih baik lagi ketika bekerja.” Abhimanyu merasa disorientasi di tubuhnya sendiri. Dia merasa dia sedang menatap dirinya dari kejauhan. Suaranya menggema di kepalanya, seolah bukan dia yang bicara.

“Aku ingin membuat Chef Arsa bangga padaku. Aku lelah mengecewakannya dan jika berteman dengan Argha bisa memberikanku itu... Maka akan kulakukan.” Lalu dia menambahkan, “Apakah aku salah?”

Cedrik menatapnya. “Kalian berteman...?” Bisiknya.

Abhimanyu mengangguk. “Dia atasanku, 'kan? Kau berteman dengan atasanmu.” Balasnya lalu bergegas menambahkan. “Aku hanya lelah jika terus membencinya dan merusak dinamis bekerja kami di dapur. Dia juga menolongku beberapa kali.”

Cedrik diam, mendengarkan. Masih nampak terluka dan gelisah sehingga Abhimanyu kembali menjelaskan. “Aku beberapa kali merasa terlalu cemas dan Argha bersikap baik hati dengan meminta seseorang membawaku ke klinik. Terlepas dari segalanya, dia memang tidak bersalah, 'kan?”

“Maksudku,” Abhimanyu mengerjap. “Dia salah karena dia mendapatkan posisi head chef. Dia memang layak dari segalanya dan aku harus lebih banyak belajar darinya jika aku ingin memimpin restoran, 'kan?”

Mereka bersidiam. Abhimanyu menjilat bibirnya; tidak sepenuhnya bohong. Dia memang memutuskan bahwa dia tidak akan membenci Argha lagi. Dia akan belajar dari Argha, meminta bimbingannya selama bekerja sehingga dia menjadi juru masak yang lebih baik lagi.

You could be like Arsa in three years. Katanya dan Abhimanyu ingin melakukannya. Ingin menjadi juru masak sehebat Arsa dan memanfaatkan orang-orang disekitarnya untuk belajar seperti apa yang Cedrik katakan padanya.

Dan dengan mulus melewatkan detail tentang ciuman mereka di loker.

Itu, pikir Abhimanyu getir. Akan menjadi rahasianya dengan Argha. Ciuman pertama dan terakhir mereka, dia harus berhenti menyakiti Cedrik sekarang.

Cedrik menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Abhimanyu menahan napasnya, menunggu apa yang diputuskan Cedrik setelah mendengarkan penjelasannya. Lalu lelaki itu tersenyum dan mengulurkan lengannya.

“Kemari.” Bisiknya parau. “Aku kangen sekali padamu.”

Abhimanyu tersenyum, air mata merebak dan menyengat matanya ketika dia beringsut mendekat ke Cedrik lalu membenamkan dirinya ke tubuh Cedrik yang langsung mendekapnya erat. Dia mengulurkan lengannya, memeluk Cedrik.

“Maafkan aku.” Bisik Cedrik lembut, ada sedikit kegetiran di suaranya dan Abhimanyu langsung mengusap punggungnya lembut. “Maaf karena aku tidak bisa memberikan apa yang kaubutuhkan.”

Abhimanyu menggeleng di dadanya. “Omong kosong.” Katanya sedikit gemetar; masih tidak terlalu menyukai suara Cedrik dan nadanya.

Seolah dia sudah memutuskan sesuatu. Dan apa pun yang Abhimanyu lakukan tidak akan mengubahnya. Perut Abhimanyu mulas, dia mengeratkan pelukannya pada Cedrik—tidak sudi melonggarkannya. Ketakutan merayap di dasar perutnya, membuatnya mual.

Cedrik tidak akan pergi, 'kan?

“Cedrik?”

“Hm?”

“Kau tidak akan meninggalkanku, 'kan?” Bisiknya lirih, sedikit menuntut. “Kau berjanji.”

Cedrik menyisir rambutnya, menyelipkan jemarinya ke sela-sela per lembut rambut Abhimanyu. “Ya.” Bisiknya dan Abhimanyu menghembuskan napas lega. “Aku tidak akan pergi.”

Dia menumpukan keningnya di kepala Abhimanyu, napasnya menderu di kulit kepala Abhimanyu. “Aku berjanji padamu.”


ps. ehe roller coaster-nya belum turun gais :P