Gemati 344
Cuaca mulai semakin dingin hingga dia tidak bisa lagi menahan suhu hanya dengan pakaian.
Apartemennya gelap ketika dia melangkah masuk, kelelahan setelah bekerja dan melepas sepatu boots hangatnya. Dengan tangan bertumpu di dinding pintu masuk, dia melepaskan kaus kakinya dan meletakkan sepatu itu di rak. Kemudian menyelipkan kakinya ke sandal rumah hangat dan menekan saklar. Lampu utama apartemennya mendengung lembut, berkedip sekali sebelum menyala; menerangi ruang tengah apartemennya.
Dia menghela napas, melepas long coat hangatnya, syal, serta penutup kepalanya. Bulan September hingga Februari setiap tahunnya selalu tidak berbaik hati padanya; cuaca dingin membuatnya melemah dan mudah terserang flu yang menyulitkan kegiatan sehari-harinya.
Berhenti sejenak di dekat rak sepatu, dia menyalakan penghangat ruangan dan bergidik. Menyesal mematikannya sebelum berangkat tadi lalu bergegas ke kamarnya; ingin mandi dan membereskan diri. Lalu mungkin menghangatkan diri dengan secangkir chai tea latte yang kental dan berempah sebelum tidur.
Dia menguap tertahan, melangkah masuk ke kamarnya dan menyalakan lampu. Kamarnya menyala terang, kasurnya belum dibereskan karena dia terlambat bangun tadi. Mendesah, dia melangkah ke dalam ruangan dan melepas pakaiannya seraya mengulurkan tangan ke laci nakas di sisi ranjang; di mana dia menyimpan ponsel lamanya.
Menarik laci terbuka, dia menatap ponsel itu. Tergeletak di dalam laci yang penuh dengan surat-surat tagihan, sedikit lecet dan sudutnya rusak karena jatuh terbentur. Dia sudah tidak menggunakan ponsel itu sejak lama; mungkin enam tahun lalu sejak software-nya sudah tidak bisa lagi diperbaharui. Namun dia tetap menyimpannya, dengan alasan sentimentil.
Tangannya terulur, meraih benda itu dan menatap refleksi samar wajahnya sendiri di permukaan layarnya yang mati. Nomor lamanya masih berada di sini, nomor yang sudah tidak lagi dihubungi siapa pun kecuali satu orang—yang juga merupakan alasan mengapa dia mengganti nomornya. Tidak sanggup jika harus melihat pesan darinya datang begitu saja, tiba-tiba ketika dia sedang beraktivitas.
Sembilan tahun, dia pikir dia akhirnya akan terbiasa. Sembilan tahun, dia pikir dia akhirnya akan bisa melakukannya. Sembilan tahun, dia masih juga berdebar ketika melihat namanya muncul di ponselnya. Menghela napas, dia mengusap layarnya lalu menekan tombol power-nya; menunggu benda itu menyala dan memproses programnya.
Dia meletakkannya di nakas, beranjak ke kamar mandi dan membiarkan benda itu menyala sendiri. Air hangat membantunya meredakan rasa dingin dan lelah, dia berdiri di bawah kucuran air hangat dan menikmati bagaimana air memijat kulitnya sambil memejamkan mata. Menggosok kulitnya dengan puff lembut, menyeka anak rambut yang meluruh ke wajahnya, memikirkan hal-hal menyenangkan hari itu.
Pekerjaannya selesai tepat waktu, dia pulang dan mampir membeli makan malam, juga sedikit camilan. Hal paling menyebalkan hanyalah suhu yang semakin turun, salju bisa turun kapan saja dalam minggu ini maka dia sudah membeli kantung-kantung penghangat untuk digunakan. Cuti musim dingin sudah diberikan, dia memutuskan untuk pulang ke Kyoto bertemu keluarganya.
Lantai sudah mulai hangat ketika dia melangkah keluar dari kamar mandi dalam balutan jubah mandi yang tebal. Rambutnya diikat naik setengah agar tidak terkena air ketika dia mandi, namun tetap saja ujung-ujungnya sedikit basah karena terciprat air dari shower mandinya. Melangkah ke arah cermin, dia mulai menggunakan produk perawatan wajahnya.
Setengah melamun ketika mengusapkan pelembab ke wajahnya yang sedikit hangat karena mandinya tadi. Dia melirik ke nakas, dengan resah ingin segera mengintip pemberitahuan yang mungkin muncul di sana namun juga tidak ingin melakukannya. Dia menyisiri rambutnya, perlahan dan memastikannya cukup lembut seraya mengeringkannya agar dia bisa langsung berbaring.
Bangkit, dia akhirnya menghela napas dan menghampiri nakas untuk meraih ponselnya. Benda itu bergeming, layarnya mati tapi dia tahu ponselnya sudah menyala, sudah terkoneksi pada layanan internet apartemen dan mungkin juga sudah menerima semua pemberitahuan yang tidak bisa masuk ketika dimatikan.
Hening memeluknya, haruskah dia melihatnya? Sudah seminggu lebih dia tidak menerima pemberitahuan pesan dari ponsel ini. Tidak yakin apakah dia senang atas itu atau tidak; sedikit bagian dirinya senang, itu berarti dia sudah terbebaskan dari tanggung jawab. Tidak lagi harus melihat seseorang memohonnya kembali pada hubungan yang mereka berdua tahu tidak bisa dilanjutkan.
Namun sebelas tahun bukanlah waktu yang sebentar. Hidupnya sudah sangat terbiasa dengan kehadirannya, bahkan hal-hal kecil seperti membawa sendok makan sendiri atau antiseptik jika pasangannya melupakan miliknya sendiri. Dia sering tertawa kecil, menatap botol antiseptik yang berada di dalam tasnya, teringat untuk siapa dia membawanya.
Dia menekan tombol utama ponselnya, menyalakan layarnya dan menghembuskan napas ketika tidak ada pemberitahuan yang masuk. Mungkin akhirnya mereka memang harus menyelesaikan ikatan ini. Fokus pada kehidupan mereka masing-masing, melangkah sendiri walaupun berat. Tangannya bergerak, hendak meletakannya kembali dan pergi ke dapur untuk makan ketika layarnya kembali menyala. Berdenting tanda pesan masuk.
Napasnya terhenti. Sejenak takut untuk melihatnya, namun dia akhirnya membawa benda itu ke depan wajahnya. Hanya satu pesan dari nomor yang selalu ditunggunya.
Yukio.
Yukio tersenyum, nyaris bisa mendengar suara Argha memanggilnya ketika membaca pesan itu. Dia menghela napas, merasa harinya lengkap kembali setelah membaca pesan rutin Argha yang walaupun membuatnya semakin sedih, juga memberikan Yukio rasa aman. Seseorang memerhatikannya, menyayanginya, ingin Yukio tahu apa saja yang dilakukannya seharian. Hal-hal remeh, tapi Yukio selalu mendapati dirinya tertawa membacanya.
Dia sudah akan kembali meletakkan ponselnya ketika pemberitahuan baru masuk ke ponselnya. Sedikit panjang, maka dia mengerjap dan memfokuskan pandangannya pada pemberitahuan itu. Membacanya melalui pemberitahuan perlahan dan merasakan jantungnya mencelos; lembut, tidak lagi sepedih sembilan tahun lalu ketika dia memutuskan melangkah pergi.
Namun ada
Kurasa aku menemukan seseorang sekarang. Berbahagia seperti dirimu. Bagaimana...
Jika Yukio ingin membaca sisa pesannya, dia harus membuka pemberitahuan itu. Namun dia sedang tidak ingin melakukannya, Argha pasti masih memandangi ponselnya sekarang dan tidak ingin mengambil risiko seperti kali terakhir. Dia ingin Argha melupakannya, melanjutkan kehidupannya. Tidak peduli bagaimana pun Yukio.
Dia telah mengambil sebelas tahun waktu Argha untuk merindukan Yukio, Argha berhak untuk berbahagia sekarang. Dia harus berbahagia, Yukio bersikeras tentang itu. Yakin bahwa bahagia Argha bukanlah dengannya. Meskipun mereka berhasil membina hubungan selama lima tahun tanpa pertengkaran yang berarti, Yukio masih sering melihat Argha melamun. Sering mendadak menarik napas dalam-dalam, seolah mengatur emosinya sendiri sebelum kembali bicara dengan Yukio.
Argha benar-benar mengorbankan segalanya untuk Yukio dan itu terlalu mahal. Yukio tidak bisa membalas pengorbanan itu, bahkan cintanya pun tidak akan pernah cukup. Setiap hari, perasaan bersalah itu menggelayuti Yukio dan semakin berat setiap harinya.
Puncaknya ketika Argha pulang ke apartemen mereka, kali pertama dia setuju untuk mencari one night stand atas desakan Yukio. Dia mendengar Argha mandi, begitu lama berdiri di bawah air hangat. Akhirnya memutuskan untuk mengeceknya ke kamar mandi setelah dua puluh menit dan menemukan Argha tengah menangis seraya menggosok tubuhnya kuat-kuat.
Ingatan itu tidak pernah meninggalkan kepala Yukio setelah bertahun-tahun.
Hatinya patah, remuk, dan hancur ketika melihat rasa bersalah hebat di wajah Argha. Menyadari bahwa apa pun yang mereka lakukan, tidak ada jalan solusi lagi dari hubungan mereka. Yukio sudah membebani Argha dengan pengorbanan yang begitu besarnya dan tidak bisa membalasnya karena itu hanya menguntungkan Yukio seorang. Padahal ada dua kepala dalam hubungan mereka.
Maka dia mengambil langkah terakhir.
Yukio menghela napas, menyentuh dadanya sendiri. Menarik laci tadi, meletakkan kembali ponselnya di sana dan menutupnya. Tidak ingin membaca pesan apa pun lagi dari Argha.
Dia melangkah keluar, menekan dadanya sendiri berusaha mencegah rasa sakit lembut aneh yang membuat jantungnya ngilu. Yukio melangkah ke ruang tengah apartemennya yang terang, jendelanya tidak tertutup tirai. Mengizinkan Yukio melihat ke halaman depan gedung apartemennya yang nampak kecil dari lantai atas.
Yukio berdiri di depan bak cuci piring, menatap ke luar jendela dan memikirkan pesan Argha tadi. Dia senang karena Argha akhirnya melakukan apa yang selama ini harus dilakukannya. Berbahagia, memilih kekasih yang pasti bisa mengimbanginya secara seksual.
Namun mau tidak mau, dia juga sedih. Berduka karena akhirnya, setelah sebelas tahun, hubungan mereka benar-benar berakhir. Yukio harus menutup buku itu, menyimpannya agar tidak membebani Argha lagi. Membebani dirinya sendiri.
Mereka berdua layak berbahagia, meskipun tidak bersama satu sama lain.
Salju pertama turun di luar sana dan Yukio menghela napas, mengulurkan tangan ke jendela mati yang tidak bisa dibuka untuk keamanan dan menempelkan telapak tangannya di sana. Mengamati ketika suhu hangat tubuhnya membuat embun tipis berbentuk tangan mengikuti telapaknya.
“柏餅みたいね?” Doesn't it look like kashiwa mochi?
Yukio tersenyum, menatap tangannya sendiri. Teringat ketika Argha meletakkannya di atas tangannya sendiri; seperti daun kashiwa yang membungkus mochi. Argha meremasnya, tersenyum senang ketika melakukannya. Matanya berkilauan, penuh cinta yang hingga saat ini sangat disyukuri Yukio. Bagaimana dia bisa bertemu seseorang yang amat mencintainya, mengapresiasi keberadaannya, memastikan kebutuhannya terpenuhi. Berjuang bersamanya, berusaha membahagiakannya....
Hari itu, turunnya salju pertama ketika Yukio melihatnya. Jangkung, sedikit kurus dengan wajah yang asing dengan sekitarnya. Dia berdiri di depan toko okonomiyaki langganan Yukio, mendongak menatap langit dan menyaksikan hujan salju pertama. Dia mengenakan pakaian yang terlalu tipis untuk musim dingin tapi dia tidak nampak terganggu atas itu.
Yukio menghampirinya, penasaran saja. Selalu bersikap terlalu ramah pada semua orang yang ditemuinya di jalanan. Dan ketika lelaki itu mendongak, pandangan mereka bertemu... Yukio jatuh cinta. Begitu saja.
“Hello!” Sapanya, tersenyum dengan jantung berdebar—tidak pernah bertemu lelaki dengan garis wajah setegas lelaki itu.
Argha nampak begitu tampan, nyaris bersinar karena ketampanannya. Pandangannya bisa melelehkan salju sekali pun, dan dia balas tersenyum pada Yukio. Tidak menyangka itulah awal dari kisah cinta mereka yang meskipun terdengar mustahil, namun mampu bertahan lima tahun lamanya.
Dan Yukio tidak menyesal sama sekali; baik mencintai Argha dengan sepenuh hati, juga melepaskannya untuk berbahagia dengan orang yang kini akan memenuhi segala kebutuhannya.
Seseorang yang tidak akan memaksa Argha mengorbankan begitu banyak hal.
Seseorang yang tidak seperti Yukio.
“あなたが誰であっても、” bisiknya, menatap kepingan salju yang turun dengan sendu dan senyuman kecil bermain di bibirnya. Berusaha mengabaikan pedih di dadanya karena kini, dia dan Argha sepenuhnya berakhir.
Memikirkan kira-kira seperti apa orang yang dipilih Argha sekarang, orang yang akhirnya menggeser posisi Yukio di hati Argha setelah sebelas tahun lamanya. Dia pastilah melakukan sesuatu yang begitu hebatnya hingga bisa membuat Argha akhirnya memutuskan bahwa dia layak berbahagia setelah sembilan tahun memohon Yukio kembali.
“あなたはとても幸運だ。” Bisiknya.
Yukio tersenyum lembut; tahu Argha akan mencintai begitu hebatnya hingga dia tidak memikirkan dirinya sendiri. Berharap siapa pun dia yang dicintai Argha, ingat untuk mengeremnya. Mengingatkan Argha bahwa dirinya sendiri juga berharga.
Berharap, mereka bahagia.
Whoever you are, you're very lucky.
Dia meraih ponsel barunya, menekan tombol dua sedikit lebih lama dan langsung memanggil nomor seseorang yang diatur sebagai speed dial di angka itu. Yukio merapatkan sweter rajutan yang dikenakannya, masih menonton salju, menempelkan ponsel di telinganya seraya menunggu teleponnya diangkat.
“ええ、 もしもし?” Yees, hello?
Yukio tersenyum. “Hikaru?” Bisiknya, entah mengapa merendahkan suaranya padahal dia hanya sendirian di apartemennya.
“Aku akan berangkat ke Bali.”
Abhimanyu tidak yakin apakah menunggu di depan vila pribadi seseorang pukul setengah enam pagi termasuk sopan namun dia mengabaikannya.
Dia memarkir motornya di depan pintu masuk ke vila Argha, menyandarkan kedua sikunya di kepala motor dan menatap ke pintu yang tertutup—sengaja tidak memberi tahu Argha bahwa dia akan menjemputnya sebagai kejutan. Lelaki itu pasti bingung bagaimana caranya berangkat bekerja karena mobilnya rusak.
Abhimanyu juga sudah memasang alarm di ponselnya untuk menelepon bengkel yang akan mengecek mobil Argha nanti. Jika dilihat dari masalahnya, mungkin akinya hanya butuh disetrum sedikit agar responsif tapi karena kemarin mereka mendapatkan masalah itu tengah malam, tidak ada yang bisa dilakukan.
Dia juga bangun pagi hari ini, memasak sesuatu untuk Argha dan membawa helm cadangan di bagasi motornya. Tidak rumit karena dari selera makanan Argha yang serba elegan ala ekspatriat, Abhimanyu memutuskan untuk membuatkannya roti panggang dengan alpukat dan telur rebus, menaburkan sedikit lada di atas telurnya. Menambahkan kentang dan brokoli rebus juga sebagai tambahan. Rela bangun begitu pagi, pergi ke pasar tradisional bersama ibu kosnya untuk membeli brokoli.
Cedrik menyadarkan Abhimanyu bahwa selama mereka bersama, Abhimanyu terlalu banyak menerima. Maka dia berusaha untuk memberi pada kesempatan ini; melakukan apa yang seharusnya dilakukannya pada Cedrik jika dia bisa membalas perasaan lelaki itu. Karena sekarang dia berada di posisi Cedrik, dia akan berusaha membuat Argha memberikannya kesempatan. Berharap karma belum menghampirinya dalam waktu dekat karena telah bersikap tidak adil pada Cedrik.
Abhimanyu menumpukan dagunya di atas kepala motor, tangannya terjulur ke depan dan menguap kecil; berpikir apakah dia seharusnya menelepon Argha? Mengabarinya bahwa dia akan menjemput sehingga dia tidak perlu repot mencari kendaraan? Bibir Abhimanyu membentuk garis tipis sebal, tapi dia ingin memberi kejutan.
Dia membalik wajahnya, menumpukan pipi kirinya sekarang sehingga pandangannya bisa langsung ke pintu kayu vila Argha. Dia meniup anak rambut yang menutupi matanya, menyingkirkannya dengan jengkel ketika kekuatan tiupannya gagal melakukan itu.
Semalam ketika dia mengantarnya pulang, Abhimanyu tidak bisa mengamati tempat itu. Sekarang dia melihat betapa personalnya vila itu. Dindingnya tinggi dengan pecahan kaca ditancapkan di atasnya untuk mencegah seseorang memanjatnya. Pintu utamanya hanya pintu kayu sederhana yang cukup untuk dilalui satu orang dengan empat anak tangga kecil. Abhimanyu bisa melihat beberapa palem ditanam di halamannya, juga bunga bougenvil yang sedang semarak karena ini musim panas. Dari sini, dia hanya bisa melihat atap vila Argha—sedikit penasaran pada bagian dalamnya.
Abhimanyu menguap tertahan seraya menggaruk pipi kanannya—menemukan jerawat di atasnya dan memijitnya, berpikir apakah jangan-jangan Argha sudah berangkat bekerja dan tidak bertemu Abhimanyu? Alisnya berkerut, tapi mereka selalu tiba nyaris bersamaan di restoran jadi seharusnya Argha belum berangkat.
Mendadak, dia panik. Bergegas menegakkan tubuh dan merogoh bagasi depan motornya di mana dia meletakkan ponselnya. Abhimanyu sudah akan menelepon Argha ketika terdengar derit engsel kayu terbuka dengan nyaring.
Abhimanyu menoleh, menemukan Argha yang terkejut berdiri di depan pintu. Dia mengenakan celana panjang kain longgar, kemeja bercorak serta luaran berupa cardigan rajut yang menggantung di bahunya. Rambutnya disisir rapi, memamerkan seluruh keningnya yang tinggi. Wajahnya segar, sedikit merona karena perbedaan suhu. Tas tangan Christian Dior-nya dikaitkan di lekukan lengan kirinya dan dia juga membawa termos 500ml di tangan itu sementara tangannya yang bebas sedang memegang gagang pintu.
Senyuman langsung terbit di bibir Abhimanyu, rasa senang membuncah di hatinya ketika melihat Argha. “Hai, selamat pagi!” Sapanya.
Argha mengerjap. “Sudah kapan di sana?” Tanyanya, nampak kebingungan namun kemudian menutup pintu vilanya dan menuruni tangga. “Lama?”
Abhimanyu menggeleng, “Tidak. Baru saja tiba kok.” Ujarnya, menegakkan tubuh dan meraih helm yang diletakkannya di bagasi depan motornya. “Aku sengaja tidak mengatakan padamu aku akan datang.”
Lelaki itu menghampirinya, membawa aroma parfum lembut yang menyegarkan serta secercah sabun mandinya yang beraroma seperti mawar manis. Abhimanyu seketika menarik napas dalam-dalam, membiarkan aroma Argha meracuni otaknya.
“Aku baru saja akan meminta Sebastien menjemputku,” Argha meringis dan Abhimanyu senang dia tiba lebih dulu dari Mercedes Benz S300 milik Sebastien.
Hidungnya mengembang bangga.
“Selamat pagi, Abhimanyu.” Sapa Argha ketika berdiri di depannya, tersenyum ceria dan Abhimanyu nyaris mengulurkan tangan—mendekapnya erat karena gemas. “Terima kasih karena telah perhatian.”
Abhimanyu akan memperbaiki semua hal yang keliru dilakukannya pada Cedrik. Tidak akan membiarkan siapa pun mengalami apa yang dialami Cedrik; tercekik oleh rasa cintanya sendiri, terjerat harapan yang diberikan Abhimanyu padahal tidak pernah ada balasan atas rasa itu dari sisi Abhimanyu.
Dia ingin memperbaiki diri. Ingin mencintai Argha dengan benar, ingin membuatnya percaya pada Abhimanyu, ingin membuatnya jatuh cinta pada Abhimanyu karena dia tidak akan menyia-nyiakan Argha seperti yang dilakukan mantan kekasihnya dulu.
“Do you want some hot tea?” Tanya Argha ketika Abhimanyu memakaikannya helm, menatap Abhimanyu dengan mata gelapnya yang berkilauan. “I made some with spices,”
“No, thank you.” Abhimanyu menyingkirkan rambut Argha dari keningnya agar tidak menusuk mata lalu mengaitkan pengaman helm. “I bought you breakfast tho.” Tambahnya.
Argha tersenyum, nampak senang. “Excellent.” Ujarnya senang dan Abhimanyu balas tersenyum. Argha nampak lebih rileks setelah mengenalnya lebih akrab—koreksi, setelah memberi Abhimanyu handjob yang luar biasa di loker kemarin.
Abhimanyu tidak akan melupakan sensasi orgasme yang diberikan tangan Argha untuknya, bagaimana kepalanya menjadi pening karena intensitasnya dan bisikan kotor Argha yang rendah di telinganya—memanjakannya hingga kepalanya nyaris terasa lepas dari lehernya. Iri pada semua bedebah yang merasakan ini dari Argha sebelum mereka bertemu. Abhimanyu terlambat lahir sebelas tahun.
Jika saja dia yang pertama bertemu Argha, hari itu ketika dia kembali ke Paris dari Indonesia dalam keadaan hancur, Abhimanyu takkan pernah melepaskannya.
Mungkin handjob itu jugalah yang menghapus sisa garis dalam hubungan mereka, membuat Argha rileks dan menunjukkan sisinya yang manis dan menggemaskan ini.
“We can eat breakfast together before preping.” Ujar Argha lagi, mengembalikan Abhimanyu ke masa sekarang. “How does that sound to you?”
Dia mengangguk, menaiki motornya dan menurunkan kedua sandaran kaki untuk Argha. “Just right.” Sahutnya, memosisikan spion agar dia bisa melihat wajah Argha dari pantulannya selama perjalanan.
Argha menaiki motornya, bergerak sebelum akhirnya menemukan posisi nyaman di atas joknya. “Bagaimana dengan Arsa? Dia sudah bisa bekerja hari ini?” Tanyanya.
“Belum, Chef.” Abhimanyu menggeleng. Kinan sudah menghubunginya tadi pagi agar berangkat ke Ubud setelah menyelesaikan prep di Gourmet karena Arsa masih terbangun karena mimpi buruk dan berhalusinasi ringan. “Pak Kinan hari ini juga datang terlambat karena harus menemani Chef Arsa ke psikiaternya.”
“Oh,” bisik Argha, terdengar simpati. “It sounds bad.” Gumamnya, nyaris tidak terdengar oleh Abhimanyu yang menyalakan mesin motornya.
“Yes, it does.” Pikirnya, berharap Cedrik kembali sekarang untuk membantu menyelamatkan restoran karena kedua atasan mereka nampak tidak cukup memiliki energi untuk melakukannya.
“Baiklah,” Argha mengangguk. “Kau selesaikan prep secepat mungkin, makan lalu berangkatlah ke Ubud. Saya akan meminta Diadari mengisi posisimu lagi dan juga membantu Kinan mengecek restoran.”
Abhimanyu mengangguk. Perjalanan bolak-balik Seminyak-Ubud sebenarnya sangat melelahkan, tapi dia tidak memiliki pilihan lain. Dia ingin membantu Arsa dan Kinan, sebisa mungkin. Menekan dirinya melampaui zona nyamannya sendiri. Tempat kerja pertamanya, atasan pertamanya, dan dia sangat beruntung karena mendapatkan pekerjaan yang luar biasa nyaman di kali pertama mencoba.
“Tapi kau juga harus menjaga kondisimu.” Tambah Argha kemudian ketika motor meluncur keluar dari jalan masuk vilanya ke jalan raya menuju Seminyak. “Saya tidak ingin mengambil risiko kau juga jatuh sakit.”
Abhimanyu kembali mengangguk. “Sure thing, Chef.” Katanya.
Argha mengulurkan tangannya yang bebas, memeluk pinggangnya dan Abhimanyu tergelak. Menurunkan tangan kirinya dari stang motor untuk menepuk tangan Argha di atas perutnya—merasa hangat oleh rasa sayang. Abhimanyu meremasnya hangat sebelum kembali memegang stang.
“Good boy.” Puji Argha, menumpukan dagunya di bahu Abhimanyu yang tertawa. “I miss you so bad, the kitchen feels lonely without you.” Protesnya, nyaris merengek seperti bayi.
“Ya?” Balas Abhimanyu, terkekeh. Jantungnya berdebar; apakah Argha melakukan ini pada semua pasangan satu malam dan FWB-nya? Karena jika iya, Abhimanyu akan merencanakan pembunuhan berantai. Mereka yang pernah merasakan ini dari Argha harus enyah, karena semuanya harus menjadi milik Abhimanyu.
“Karena tidak ada yang bisa dikerjai, 'kan, maksudnya?” Dia melirik Argha dari spion, berharap lelaki itu tidak mendengar debaran jantungnya yang kuat.
“Tentu saja.” Argha memutar bola matanya, Abhimanyu menangkap gerakan itu dari spionnya yang diarahkan ke Argha—menatap ketika dia bicara, Argha melihat sekitarnya dengan ekspresi serius. Nampak menikmati perjalanan dengan sepeda motor membelah jalan yang masih sepi.
“Memangnya apa lagi?” Tambahnya. “Kau terlalu muda sebelas tahun dariku.”
“Bisakah kau tidak membawa umurmu dalam setiap pembicaraan? Kau memancingku mengatakan sesuatu yang hanya akan membuatmu jengkel.”
“Tidak.”
“Adil sekali.”
“Tentu saja. Aku lebih tua darimu.”
Abhimanyu tersenyum, membalas tatapan Argha di spion. Dia akan membuat Argha jatuh cinta dan dia cukup keras kepala untuk itu.