Gemati 363

ps. carefuuuuuuul with youuuuuuur heaaaaaaart :p


Abhimanyu menyisir rambut ikalnya, mencoba membuatnya nampak sedikit rapi karena malam ini dia akan makan bersama Sebastien.

Dia belum pernah berada di dekat Sebastien, namun melihatnya dari jauh saja sudah cukup membuat Abhimanyu merasa terintimidasi. Dia tinggi, berisi, berwajah dingin dengan sorot mata yang nampak selalu meremehkan tanpa disengaja. Ekspresinya selalu merupakan topeng keramahan yang palsu dan berjarak, semua orang bisa melihat itu. Dan dia juga sangat kaya.

Kaya raya.

Menurut Khrisna, pendapatannya setiap bulannya mencapai dua ratus juta hanya dari permainan sahamnya; itu pendapatan rata-rata. Jika profitnya tinggi, dia bisa mendapat hingga satu-dua milyar. Belum lagi gaji dari pekerjaannya yang sudah berada di level direktur di perusahaan asing besar di Bali.

Tidak heran jika dia membelanjakan uangnya seperti uang recehan remeh. Pajak tahunan Mercedes-nya mungkin sama sekali bukan beban baginya. Dia punya vila pribadi dan juga bungalows di Ubud—memberikan Abhimanyu gambaran seberapa banyak uang yang mengalir ke rekeningnya. Dia punya properti di Ubud.

'Memelihara' Argha Mahawira jelas bukan masalah untuk Sebastien Ricci.

Memikirkannya membuat Abhimanyu pusing karena minder. Sebastien begitu kaya dan mapan; Argha bisa saja menunjuk pulau dan Sebastien membelikannya detik itu juga. Lalu jika dibandingkan dengan dirinya...

Abhimanyu memicingkan mata. Gajinya selama ini lebih dari cukup, dia selalu mensyukurinya. Abhimanyu bisa tinggal di kos yang nyaman, menyicil motor sendiri, dan menabung. Tapi jika dibandingkan dua ratus juta per bulan, dia hanyalah remah sisa rempeyek di sudut toples.

Dan bisa-bisanya dia mendekati Argha Mahawira yang mungkin harga satu botol skin care saja cukup untuk membeli harga diri Abhimanyu.

Satu-satunya hal yang bisa ditawarkannya hanya kasih sayang pula. Abhimanyu mencibir dirinya sendiri, menggaruk kepalanya dengan sedikit resah. Apakah dia sedang mendekati seseorang yang sama sekali tidak berasal dari levelnya? Haruskah dia menyerah sekarang?

Tapi kepalang basah, dia sudah terlanjur berbesar mulut pada Argha mengenai 'cinta dan ketulusan' beberapa hari lalu dan sekarang atasannya itu nampak lebih nyaman di sekitarnya.

“Mampus, deh.” Gumamnya setengah nelangsa, berusaha menidurkan ikal rambutnya dengan sisir dan gel rambut.

Sebastien meminta Abhimanyu untuk mengenakan pakaian kasual saja, tidak perlu terlalu formal. Maka Abhimanyu mengenakan kemeja tipis yang dipadukan dengan jas luaran berwarna abu-abu. Dia juga mengenakan jins gelap berpipa longgar dan berencana menggunakan sepatu-sandalnya yang semi-formal.

Masalahnya malam ini hanyalah rambut ikal sialannya yang tidak pernah mau diam. Selalu mencuat-cuat, mengembang seperti surai singa. Dia pernah mencatok rambutnya, berharap itu akan mengendalikan ikalnya namun dia malah terlihat seperti seekor tikus yang terjatuh ke dalam minyak. Itulah alasan mengapa Abhimanyu kemudian menyatakan selama tinggal pada catokan selama-lamanya.

Dia akhirnya menyerah berusaha menjinakkan rambutnya ketika jam sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Sebastien akan menjemputnya pukul tujuh tepat dan Abhimanyu sedikit gugup pada ke mana dia akan dibawa. Dia bisa fine dining, tentu saja. Tapi apa yang harus diobrolkannya bersama Sebastien?

Abhimanyu tidak paham pekerjaan kakaknya, tidak juga bermain saham. Lalu apa yang bisa diobrolkannya dengan Sebastien selama mereka makan? Dia menggaruk pelipisnya, apakah dia melakukan hal yang salah?

Saat dia sedang terserang demam panggung karena akan makan malam dengan lelaki Italia kaya raya, pintu kamarnya diketuk. Abhimanyu berjengit kaget; apakah itu Sebastien? Kenapa dia tidak menunggu di depan saja?

Abhimanyu bergegas meraih tas selempang kecilnya yang terisi parfum cadangan, ponsel, dan dompet—berjaga-jaga jika Sebastien mengajaknya split bill lalu mengecek ponselnya. Berharap menemukan pesan Sebastien yang mengatakan dia akan menjemput sampai ke depan pintu. Ponselnya hening, tidak ada pemberitahuan apa pun dari Sebastien—tidak juga Argha yang nampaknya jengkel karena tidak diundang ikut makan malam.

Ketukan lagi, kali ini lebih menuntut dan Abhimanyu bergegas membuka mulutnya. “Ya! Sebentar!” Serunya lalu menyemprotkan parfum ke tubuhnya, menyugar rambutnya dan mendesah sebal—tidak bisa melakukan apa pun lagi atas rambutnya sebelum menghampiri pintu.

Dia membuka selotnya lalu menarik pintu terbuka hanya untuk menemukan Argha Mahawira berdiri di depan pintu dengan wajah jengkel bukan main.

“Oh.” Katanya, mengerjap. Kekagetan karena Argha muncul di kosnya tidak ada apa-apanya dibanding pakaian yang digunakan Argha hari ini.

Dia mengenakan kemeja sutera halus putih, tiga kancing teratasnya terbuka—terlalu terbuka tapi Abhimanyu tidak masalah. Melapisinya dengan jas berwarna toska lembut yang membuatnya nampak lebih langsing, memasangkannya dengan celana kain longgar berwarna biru muda dan sepatu kulit putih pointed. Di leher Argha tergantung kalung mutiara berwarna pucat, begitu pula di pergelangan tangannya; dia sedang memainkan bulirnya dengan jemari sambil menunggu Abhimanyu membuka pintunya.

“Wow.” Gumam Abhimanyu, mengerjap. “Kau nampak...” Dia berdeham, merona karena Argha sangat indah—membuatnya semakin minder mendekatinya karena Abhimanyu tidak punya dua ratus juta per bulan untuk membahagiakannya.

Alis Argha naik sebelah. “Apa?” Tanyanya.

Abhimanyu berdeham kikuk, memalingkan pandangannya seraya menyugar rambutnya lagi. Berharap dia tidak nampak berantakan berhadapan dengan Argha yang sangat rapi dan harum. “Memesona? Luar biasa? Indah?”

Argha mengerjap, sejenak diam memproses kalimat Abhimanyu sebelum tersenyum simpul. Dia mengangkat tangannya, aroma parfum kuat menghambur dari pergelangan tangannya ketika dia mengusap kepala Abhimanyu sayang—menyisiri ikalnya yang menyusahkan sejak tadi.

“Anak manis,” Argha tersenyum. “Kau pikir kau bisa pergi dengan Sebastien tanpa aku, ya?” Lanjutnya dengan nada dingin mengancam yang mengundang tawa rendah dari Abhimanyu.

“Kami akan bercinta setelah makan malam,” keluh Abhimanyu lalu mengaduh ketika Argha menjambak rambutnya sedikit. “Jika kau ikut itu berarti kita akan melakukan threesome dan—aduh!” Abhimanyu mengaduh keras sambil tertawa ketika Argha menguatkan cengkeramannya di kepala Abhimanyu.

“Sayang, sakit.” Rengeknya dan Argha melepaskan genggaman tangannya, merogoh saku dalam jasnya untuk mengeluarkan antiseptik kecil yang langsung disemprotkan ke telapak tangannya.

“Tapi kau tertarik?” Tanya Abhimanyu kemudian, ingin mengisengi Argha yang nampak sedang jengkel karena reaksinya menggemaskan sekali.

“Apa?” Balas Argha terganggu.

Threesome?”

You wanna die so bad, eh?”

Abhimanyu ingin berterima kasih pada Cedrik, walaupun rasanya tidak etis. Namun lelaki itu, ketika memutuskan untuk mengakhiri hubungan mereka, memberikan banyak sekali sudut pandang baru untuk Abhimanyu. Memberikan banyak pelajaran yang bisa Abhimanyu gunakan dalam hubungan barunya saat ini, bersama Argha—meskipun mereka tidak satu kasta.

Dia mencontoh beberapa hal yang dilakukan Cedrik padanya, beberapa hal yang membuatnya nyaman ketika bersama lelaki itu. Bersikap lembut, perhatian, penyabar, dan hangat. Mungkin terkesan jahat karena dia menggunakan pendekatan Cedrik untuk mendekati orang lain. Tapi hanya dialah orang yang pernah mendekati Abhimanyu, memerhatikannya dan membuatnya nyaman sehingga Abhimanyu tidak memiliki pilihan lain.

Dan senang karena ternyata sikap Cedrik juga membuat Argha nyaman.

Mereka keluar dari kos Abhimanyu, mobil Argha diparkir di halaman kos dan berjalan hingga ke depan gang karena Sebastien tidak mau mengambil risiko memasukkan mobilnya ke gang sempit kos Abhimanyu. Argha melangkah di sisinya, nampak sangat indah sambil mengemit leather clutch-nya.

Mobil Sebastien mengilap sekali, membuat Abhimanyu rikuh karena teringat kekayaannya. Dia menurunkan jendela sisi penumpang, tersenyum memesona untuk menyambut Abhimanyu sebelum kemudian senyumannya luntur ketika melihat Argha bersidekap di sisi Abhimanyu. Ekspresinya ketika senyuman itu luntur sangat menggelikan sementara di sisinya Argha mendelik.

“Oh, boy.” Keluhnya dan Abhimanyu menahan tawanya sendiri. “Why did you bring your father tonight, Abhimanyu?” Tanyanya pada Abhimanyu yang tergelak.

Apologize, Sir. My father said this trip has to be supervised by parents.” Balasnya membuka pintu penumpang dan mempersilakan Argha memasukinya.

You will always ruin my fun, right?” Sebastien memicingkan mata pada Argha yang memasuki mobilnya.

Only when I can,” balas Argha, membalas tatapannya dengan sengit. “Which means, always. Memangnya apa urusanmu dengan Abhimanyu yang tidak boleh kuketahui?” Dia mendelik jengkel pada Sebastien yang memutar bola matanya di balik kemudi.

Abhimanyu memasuki mobil seraya tertawa, mau tidak mau sedikit merasa insecure ketika melihat betapa cocoknya Argha dan Sebastien bersanding; mereka berdua sama-sama indah, nampak agung dan menawan. Jika dibandingkan dengan Abhimanyu, dia sama sekali bukan apa-apa.

Sebastien menggunakan kemeja satin gelap dan celana kain yang membungkus kaki panjangnya dengan apik. Rambutnya disisir naik dengan rapi, tidak seperti rambut Abhimanyu yang pasti sekarang mencuat-cuat menyedihkan. Aroma mobilnya seperti pinus lembut, pengharumnya pasti bukan Stella. Joknya juga lembut, bersih, dan nyaman.

Abhimanyu menelan ludah, merasa gelisah sekarang. Kenapa dia setuju untuk pergi makan malam dengan Sebastien ketika dia tahu jelas dirinya akan dibanting ke tanah oleh kesenjangan sosial mereka?

“Abhimanyu,” panggilnya ramah dengan nada semanis madu dan Abhimanyu mendongak—membalas tatapannya dari spion tengah mobil. “Kita akan makan malam di Metis hari ini. Kau sudah pernah makan di sana?”

Abhimanyu mengangguk. “Sekali, Pak. Hanya untuk competitor survey bersama Chef Arsa.” Katanya, mencoba menggali ingatannya tentang rasa makanan di tempat itu.

Argha menoleh. “Competitor?” Ulangnya tertarik. “Dan kenapa saya tidak tahu?” Tuntutnya dan Abhimanyu meringis.

Metis menyajikan makanan Prancis juga, sama seperti mereka. Hanya saja setelah kunjungannya ke sana, Arsa merasa Metis tidak bisa disandingkan dengan Gourmet. Mereka memiliki banyak perbedaan besar, khususnya dalam segi seni plating dan penyajian. Gourmet juga memiliki wine ceiling terlengkap di Bali sebagai kekuatan utama dan konsistensi rasa makanan. Jadi mungkin itulah mengapa Arsa tidak memberi tahu Argha mengenai restoran itu.

“Mereka menyajikan menu Prancis juga, Chef. Tapi menurut Chef Arsa, makanan mereka tidak bisa disamakan dengan Gourmet. Jadi mungkin itulah mengapa Chef tidak memberi tahu Anda.” Jelas Abhimanyu saat mobil mulai meluncur mulus di jalanan menuju Petitenget.

Argha mencibir seraya mengangguk, nampak memikirkan itu. “Kebetulan sekali jika begitu. Saya juga harus merasakan makanan mereka.” Katanya, bersidekap dan bersandar di kursi mobil.

Sebastien melirik Abhimanyu dari spion tengah, menaikkan sebelah alisnya dengan usil dan Abhimanyu tersenyum lebar. Ternyata di balik pembawaannya yang dingin dan serius, Sebastien tetaplah lelaki biasa dengan selera humor dan rasa usil—mungkin hanya terbit untuk orang-orang tertentu. Dan Abhimanyu tidak tahu apakah dia harus merasa beruntung karena dia adalah salah satunya atau tidak.

So, Abhimanyu,” mulai Sebastien ringan ketika membelok di jalanan, sesekali melirik spionnya sebelum mendahului dengan mulus. “How old is your father?”

Abhimanyu mengerjap, sejenak kebingungan mengapa tiba-tiba Sebastien menanyakan usia ayahnya. Dia diam sejenak, tidak terlalu ingat usia ayahnya. “Around sixty, Sir.” Balas Abhimanyu sopan. “I think he was born in 1960-something?”

“Ah, twenty years.” Gumam Sebastien mengangguk-angguk kalem sambil lalu, namun masih cukup keras untuk didengar semua orang.

Argha langsung merasa diserang secara personal, menoleh dengan raut wajah sangat jengkel hingga Abhimanyu takut pembuluh darah di pelipisnya meledak karena menahan amarah. “What do you mean by twenty years, you motherfucker?!”

Sebastien menoleh, memasang wajah kaget yang dibuat-buat dan Abhimanyu harus menggigit bagian dalam pipinya agar tidak tertawa. “Apa?” Balasnya, berpura-pura bodoh. “Aku tidak mengatakan dua puluh, kataku 'ah, enam puluh, ya?'”

Argha memicingkan matanya. “Kau jelas-jelas mengatakan dua puluh tadi!” Sahutnya sengit. “Apa maksudmu dengan dua puluh?!”

“Kau tahu,” Sebastien mengangguk serius. “Terkadang ketika usiamu melewati tiga puluh lima, kau suka berhalusinasi mendengarkan sesuatu yang tidak diucapkan.” Dia menyentuh telinganya sendiri. “Kau harus ke THT, Argha.”

“Kurang ajar!” Geram Argha, semakin mengamyk karena jawaban Sebastien. “Aku dengar jelas kau bilang dua puluh! Dan kenapa dua puluh!?”

Sebastien menatap Argha seolah sepasang tangan tumbuh dari lehernya. “Aku tidak bilang dua puluh! Malah aku pikir setidaknya sepuluh tahun!” Tambahnya lalu mengaduh keras ketika Argha memukul rusuknya—keras, jika dinilai dari suara terkesiap Sebastien.

“Apa yang sepuluh?” Tanya Abhimanyu, sejenak kebingungan mengikuti obrolan mereka. Dua puluh berarti perbedaan usia ayahnya dan Argha, 'kan? Lalu kenapa sepuluh...?

“AH!” Serunya lalu tertawa dan Sebastien menimpalinya. Argha mengerang tinggi.

“Sayang sekali, Pak, Anda melupakan kakak saya?” Tambahnya lalu menyingkir ketika Argha mengulurkan tangannya, cepat seperti seekor ular hendak memukulnya. “Ayah saya tidak mungkin berusia lima puluh tahun!” Dia menangkap tangan Argha yang nyaris menyambar ujung rambutnya lalu mengecupnya sayang, tergelak ketika Argha memutar tangannya lalu mencubit bibirnya.

“Ah, iya, benar. Kris!” Seru Sebastien lalu tergelak lagi.

“Puas?!” Argha berseru marah, nampak benar-benar tersinggung namun Sebastien tidak menanggapinya sama sekali; jadi Abhimanyu pikir mereka pasti sering melakukan ini. “Kenapa kalian selalu saja membawa umur? Memangnya tidak ada hal lain yang kalian bisa bicarakan!?”

Sebastien mengedipkan sebelah matanya ke Abhimanyu yang tergelak, mengecupi tangan Argha agar tidak marah.


This is awkward.” Komentar Sebastien ketika mereka duduk di meja untuk tiga orang yang disiapkan mendadak karena awalnya sekretaris Sebastien hanya memesankan meja untuk dua orang.

Argha duduk di antara mereka, dagu dinaikkan. Tidak memberi kesempatan Sebastien untuk sendirian bersama Abhimanyu malam itu. Nampak sangat agung dan Abhimanyu rasanya ingin berbaring di pangkuannya, mengeong sambil membenamkan wajahnya di perut Argha agar dia berhenti memasang ekspresi wajah itu. Menggodanya, membuat Argha tertawa lalu menciumnya.

Selama ini Abhimanyu belum berani menciumnya, hanya sesekali mencium buku jarinya ketika mereka berdua. Argha sering mampir ke kosnya sepulang bekerja, sebelum pulang ke rumahnya sendiri belakangan ini. Abhimanyu mulai merasa mungkin inilah sifat Argha sebenarnya, dibalik sensualitas dan sikap tidak pedulinya. Dia hangat, seperti seekor kucing manis yang mendongak menatap Abhimanyu dengan mata berbinar—minta dielus.

Mereka melakukan pendekatan dengan perlahan setelah Abhimanyu menyatakannya tempo hari. Argha bersikap lebih lembut padanya, lebih hangat, dan semakin membuat Abhimanyu berdebar karena sikapnya. Dia bisa begitu perhatian, begitu hangat dan kebapakan di satu sisi namun juga manja, menggemaskan dan meledak-ledak di sisi lainnya.

Dan Abhimanyu menyadari bahwa dia menyukai kedua sisi itu.

Abhimanyu juga berusaha memperlihatkan pada Argha bahwa dia tidak hanya tertarik pada seks. Bahwa dia sudah melampaui ketertarikan fisik itu pada Argha, emosinya yang stabil jauh lebih menarik minat Abhimanyu sekarang. Ingin bersandar sepenuhnya pada Argha.

I see nothing wrong.” Sahut Argha kalem dan Abhimanyu mengulurkan tangannya, meremas tangan Argha di atas pangkuannya.

Argha mendongak, menatapnya sejenak sebelum menunduk ke tangan mereka di pangkuannya. Tersenyum, dia membalik telapak tangannya dan menggenggam balik tangan Abhimanyu. Rasa hangat langsung merambat di tangan Abhimanyu, membuatnya berdenyar lembut.

Sebastien memutar bola matanya. “Jadi jika aku mengajak Abhimanyu makan, kau akan selalu mengikutinya?” Tanyanya, membuka menu untuk mulai memesan sementara pelayan di sisinya nampak memasang wajah steril.

“Yep.” Argha mengangguk, meletakkan menu di meja karena dia hanya menggunakan satu tangan. Mengamatinya sejenak lalu mengedikkan bahunya. “Bring me the Chef's Recommendation. I have no allergy.” Dia menutup menu dan mengembalikannya pada pelayan.

Execellent choice, Sir.” Sahut pelayan itu tersenyum ramah seraya menerima kembali menu yang diserahkan Argha.

Abhimanyu memutuskan untuk meniru jejak Argha karena tidak terlalu yakin pada apa yang ingin dimakannya. Sebastien yang memesan menu berbeda sendiri, tidak memilih makanan yang mengandung protein hewani seraya tersenyum memesona pada pelayan itu.

“Apakah Anda vegetarian, Pak?” Tanya Abhimanyu, melirik sejenak Argha yang sedang memainkan jemari Abhimanyu dalam genggamannya sambil melamun.

Sebastien menggeleng, “Tidak. Hanya sedang tidak ingin makan.” Katanya tersenyum lalu mengeluarkan tablet-nya. “Maaf, benda ini harus menyala selama kita makan malam.” Pintanya sopan, membuka kunci layarnya dan Abhimanyu menangkap sekilas tampilan grafik saham di layarnya.

Hal yang Abhimanyu takutkan bahwa mereka tidak memiliki topik obrolan ternyata salah karena sepanjang malam, Sebastien membicarakan hal-hal ringan tentang pariwisata Bali. Dia juga mendengarkan dengan sopan ketika Abhimanyu bicara, memberikan pertanyaan tentang pekerjaan yang membuat Abhimanyu nyaman walaupun sesekali matanya melirik tablet di meja.

Argha juga mengobrol dengan santai malam itu, rileks di kursinya seraya mendengarkan Abhimanyu dan Sebastien bertukar pikiran di antara makanan mereka. Suasana restoran tenang dan damai, Sebastien memilih kursi yang dekat dengan taman mereka sehingga suara tamu lain tidak mengganggu mereka.

Hujan baru saja reda sehingga suhu sedikit menggigit dan tanah basah membuat suasana semakin sendu. Lilin yang menyala di meja mereka bergoyang tertiup angin, memberi pendar keemasan di sekitar mereka dan menghalau serangga dari meja mereka.

Persis sebelum makanan penutup, Argha bangkit untuk ke kamar mandi. Momen itu dimanfaatkan Sebastien untuk mengobrol lebih akrab dengan Abhimanyu.

“Jadi,” katanya sedikit menyingkirkan tablet-nya. “Sudahkah dia menceritakan padamu mengenai Yukio?”

Abhimanyu mengerjap. “Yukio?” Ulangnya, merasa nama itu asing di telinganya. Apakah dia pernah mendengar Argha mengucapkan nama itu? “Memangnya dia siapa?”

Sebastien menatapnya, alisnya naik sebelah lalu tersenyum ramah. Begitu menyihir hingga sejenak Abhimanyu mengerjap dan mengerutkan alisnya. “Ah, begitu.” Katanya seolah jawaban Abhimanyu sudah cukup menggambarkan segalanya. “Jika begitu, kau harus menunggu dia menjelaskannya sendiri padamu.”

Abhimanyu menelan ludah, mendadak merasa mulas. Apakah ada sesuatu yang dirahasiakan Argha darinya? Lelaki seperti Argha, Abhimanyu sadari, pastilah terdiri atas begitu banyak rahasia. Dia tidak lagi terkejut. Mungkin sedikit terluka karena sejauh ini dia sudah menceritakan begitu banyak rahasia dan traumanya pada Argha, tapi lelaki itu belum cukup memercayainya untuk menceritakan rahasianya.

Sebastien tersenyum melihat ekspresi Abhimanyu. “Dia...,” Sebastien sejenak berpikir sebelum menambahkan perlahan. “Mungkin satu-satunya saingan terberatmu dalam mendapatkan Argha.”

Have you... ever been in that kind of relationship? I had. Once.

Aku pernah jatuh cinta. Sekali.

Sekali.

Sekali.

Abhimanyu mengerjap. “Mantan kekasih Argha...?” Bisiknya, teringat kisah hidup Argha yang dibaginya di kamar Abhimanyu hari ketika dia menangisi hubungannya dengan Cedrik.

Tentang hidup di Jepang. Kartu tanda penduduk Jepang, foto Argha yang masih muda. Tentang temannya yang membantu Argha melalui tes kewarganegaraan untuk mendapatkan tanda penduduk itu. Mengapa dia tidak ingin kembali ke Jepang dan selalu mengurus dokumennya di Konsulat Jepang di setiap negara yang ditinggalinya....

Yukio.

Sebastien menyesap anggurnya perlahan. “Itu hak Argha sepenuhnya untuk menjelaskan padamu. Aku hanya berpikir kau sudah tahu.” Dia mengedikkan bahunya ringan. “Bisa dipertimbangkan sebagai apakah dia sudah memercayaimu atau belum.”

Dia memikirkannya, tidak yakin bagaimana perasaannya sekarang. Dia tahu tentang mantan kekasih Argha, selalu menganggapnya hanyalah seseorang tanpa wajah yang bisa disingkirkan ke sudut pikirannya. Namun setelah Sebastien memberikannya nama, Abhimanyu mulai bisa membayangkan wajahnya.

Yukio tidak terdengar seperti nama yang mengkhusus pada satu gender atau bahkan dia bisa jadi seorang transpuan atau transpria atau malah non-binary karena Argha sejauh yang dia ketahui adalah seorang panseksual—saingan Abhimanyu tidak terbatas gender. Abhimanyu mulai merasakan sosok itu bangkit, membentuk diri semakin nyata di kepala Abhimanyu. Membuatnya sedikit merasa cemas dan tidak percaya diri.

Apa pun yang dilakukan Yukio, itu pasti begitu besar dampaknya pada Argha karena dia kemudian berhenti jatuh cinta detik Yukio meninggalkannya. Dan Abhimanyu mulai menyadari seberapa berat saingannya mendapatkan hati Argha serta mengapa Argha nampak enggan ketika kali pertama Abhimanyu mengutarakan ketertarikannya pada Argha.

“Tapi,” tambah Sebastien seraya memotong makanan penutupnya dengan sendok mungil. “Dia nampak sangat tertarik padamu. Percayalah.” Dia menyunggingkan senyuman separuh yang menarik. “Argha tidak terlalu pintar menyembunyikan emosinya ketika berada di sekitarmu; menjadi bola emosi yang menggemaskan.”

Abhimanyu tersenyum, setuju ketika menatap Argha di hadapannya beberapa jam kemudian setelah Sebastien mengantar mereka pulang. Argha diturunkan di kos Abhimanyu karena mobilnya di sana, namun alih-alih pulang ternyata dia membawa tas terisi pakaian ganti dan perlengkapan mandinya.

“Aku menginap.” Katanya tegas, mengunci mobilnya dan Abhimanyu tergelak, merangkulnya saat melangkah ke kamarnya.

“Baiklah.” Sahut Abhimanyu, mempersilakan Argha masuk dan membersihkan diri terlebih dahulu.

Sementara Argha mandi, Abhimanyu membereskan kamarnya. Menyapu karpet lembut di tengah kamarnya dengan sapu lidi agar debunya hilang, menyemprotkan antiseptik ke atasnya agar Argha nyaman. Dia juga mengganti seprai dan sarung bantalnya dengan yang baru, berpikir Argha pasti lebih senang jika kasur Abhimanyu diberi seprai baru. Dia juga menyapu lantai, membereskan semuanya agar Argha tidak gelisah di kamarnya.

Sekarang, dia duduk di sisi Abhimanyu dengan piyama sutera yang menggantung di tubuhnya, membawa sebotol air putih di pangkuannya; menenggaknya sejak tadi seperti bir. Abhimanyu juga sudah berberes, membersihkan dirinya sebelum duduk di sisi Argha.

“Kenapa?” Tanya Abhimanyu perlahan; terlepas dari seberapa inginnya dia membaringkan diri di pangkuan Argha, dia menahannya. Berpikir pasti ada sesuatu yang mengganggu Argha hingga dia ingin menginap.

“Tidak.” Argha menggeleng, menatapnya. “Aku tidak apa-apa, hanya ingin bermalam di sini.” Dia kemudian mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. “Terakhir kali aku di sini, kau sedang menangis.”

Abhimanyu meringis, menggaruk pelipisnya dan menemukan jerawat kecil di sana—wajahnya yang sensitif cepat sekali berjewarat. Dia memijitnya sambil memandang cermin di depannya. “Aku sebenarnya ingin pindah dari kos ini.” Katanya perlahan.

Dia sempat memikirkannya dengan serius karena tidak sanggup memikirkan kenangan yang dibaginya bersama Cedrik di kamar ini. Terbangun dan terlelap bersama Cedrik di ranjangnya nyaris selama dua tahun. Makan bersama, bermain game, beristirahat sebelum kembali bekerja; begitu banyak kenangan dan barang-barang kecil dari Cedrik.

Namun kemudian Argha berkunjung, membereskan kamar itu dan semuanya terasa... berbeda. Dia menyentuh semua barang Abhimanyu, merapikannya, menyemprotkan antiseptik seperti seorang freak. Argha memberikan kenangan baru di kamarnya, memeluknya ketika menangis. Menemaninya hingga tertidur, menenangkannya ketika merasa anixous....

“Lalu?” Tanya Argha di masa sekarang, menoleh padanya.

Abhimanyu tersenyum. “Kau memberikan kenangan baru di kamar ini, jadi aku tidak terlalu ingin melepasnya lagi.” Dia kemudian mengulurkan tangan, telapak tangannya terbuka dan Argha seketika meletakkan tangannya di sana untuk Abhimanyu genggam. Dia menunduk, menatap jemarinya yang bertautan dengan jemari Argha—memainkannya.

“Abhimanyu?” Panggil Argha dan Abhimanyu mendongak, alisnya naik.

“Ya?” Sahutnya, mengerjap.

Argha menggeser duduknya, mengulurkan tangan dan mengusap sisi wajahnya dengan lembut lalu mengatakan sesuatu dalam bahasa yang tidak dipahami Abhimanyu. Mungkin Prancis? Karena tidak terdengar seperti bahasa Jepang. Nadanya lirih, mendayu-dayu dan Abhimanyu nyaris tidak bisa mengenali bahasa itu.

Dia memejamkan mata, menyandarkan wajahnya dalam genggaman Argha yang hangat. Mengangkat tangan mereka yang bertautan dan meremasnya, merasa hatinya penuh oleh rasa sayang. Argha membantunya bangkit dari kesedihannya, membimbing Abhimanyu, perhatian padanya, bersikap hangat; melebihi apa yang ayah dan kakak Abhimanyu bisa berikan.

Lalu Argha menciumnya, di bibir.

Berbeda sekali dengan ciuman mereka selama ini, Argha melakukannya dengan lembut. Abhimanyu terkesiap kecil sebelum menyambut bibir Argha yang melumatnya dengan perlahan—tangannya membelai wajah Abhimanyu, mengusapnya seperti menenangkan seekor anak kucing.

Tu es ma joie de vivre...” Bisik Argha dalam ciumannya, bibirnya mengusap bibir Abhimanyu dengan lembut dan napasnya terasa hangat di wajah Abhimanyu.

Kening mereka bertemu, bibir mereka bersentuhan lembut, namun Abhimanyu tidak ingin membuka matanya. Dia ingin merasakan Argha dengan seluruh indranya selain matanya karena dia sudah cukup sering melihat Argha. Dia ingin merasakan sentuhan Argha, mencium aroma tubuhnya, menyecap rasanya di lidah Abhimanyu. Ciuman mendayu-dayu lembut yang memabukkan.

Argha menarik ciumannya, menarik napas sejenak lalu kembali menciumnya; terus seperti menyecap candu. Abhimanyu mengulurkan tangannya yang bebas, memeluk pinggangnya dan menariknya mendekat. Membalas setiap ciuman-ciuman lembut kecilnya. Bukan ciuman panas yang membakar gairah, namun cukup untuk membuat Abhimanyu pening.

Argha terasa menakjubkan.

Dia menarik ciumannya, terengah kecil dan Abhimanyu nyaris mendesah mendengar suaranya. “Tes yeux, Doudou,” bisiknya dalam dan bibirnya mengusap bibir Abhimanyu lembut saat mengatakannya. “J’en rêve jour et nuit.”

Argha kembali menciumnya, melumat bibirnya lembut. Menyelipkan lidahnya yang hangat ke mulut Abhimanyu dan membelainya sebelum kembali menariknya. Membuat Abhimanyu mabuk, mencondongkan tubuhnya secara naluriah ke Argha untuk meminta lebih banyak. Argha menyelipkan jemarinya ke rambut ikal Abhimanyu, meremasnya lembut.

Tu me rends heureuse...” Argha berbisik rendah dan Abhimanyu nyaris orgasme hanya dengan mendengarkannya berbisik dalam bahasa Prancis yang tidak dipahaminya. Namun entah bagaimana kekuatan ucapan Argha membuatnya bergidik. “Je pense toujours à toi.”

Abhimanyu menciumnya. Mengecup lembut, meraih bibir bawah Argha dan melumatnya lembut. Mendengarkan dengan seksama suara dengkur Argha ketika dia menciumnya. Tangannya menyentuh tubuh Argha, mendekapnya hangat dan menempelkan telapak tangannya di kulit telanjang Argha yang hangat.

“Bisakah kau menerjemahkan semuanya?” Tanyanya ketika menarik ciuman mereka lepas dan Argha tertawa parau.

“Tidak sekarang.” Sahut Argha perlahan, merona di bawah lampu temaram yang digunakan Abhimanyu sebelum berbaring.

Abhimanyu tersenyum. “Alright.” Bisiknya lalu kembali mencium Argha yang mendesah kecil. “Soon you'd tell me what those line mean.” Dia tersenyum dalam ciuman mereka, memejamkan matanya—merasa sangat bahagia hingga hatinya terasa akan meledak.

Argha tergelak, memeluk kepalanya dan memijat kulit kepalanya dengan jemari. “Sure, Doudou.” Gumamnya di bibir Abhimanyu, membukanya dan mengizinkan Abhimanyu kembali menciumnya.

Now just kiss me.” Bisiknya, tersenyum. Jemarinya mengusap kepala Abhimanyu dengan sangat sensual hingga Abhimanyu nyaris mendorongnya berbaring di karpet dan mencumbunya.

Namun dia sudah berjanji pada Argha. Jika dia hanya ingin ciuman kecil, maka Abhimanyu akan memberikannya. Tidak ingin memburu-buru hubungan mereka. Dia ingin Argha nyaman dan percaya padanya sepenuhnya. Membangun hubungan yang diberi fondasi yang kuat oleh rasa aman, nyaman, dan percaya.

Abhimanyu tergelak di atas bibirnya. Mengecupnya lembut sekali, mengusap punggungnya dengan tangan. “Sure, I'll kiss you.” Bisiknya parau, setengah mendengkur karena rasa Argha di bibirnya.

Argha menggumam, tidak yakin dalam bahasa apa namun terdengar mengantuk dan senang. “I'll keep on doing so until you tell me to stop.” Abhimanyu kembali mencium Argha yang tergelak lembut, terus menciumnya hingga Argha memintanya berhenti.

How's that?” Gumamnya, mencium Argha yang mendesah—tidak menjawabnya, maka Abhimanyu menganggapnya sebagai persetujuan.


ps. ehe :*


French (jgn blg2 abhim yh)

1) Tu es ma joie de vivre: you're the joy in my life 2) Tes yeux, Doudou, j’en rêve jour et nuit: your eyes, doudou, I dream of it day and night. 3) Tu me rends heureuse: you make me happy (male) 4) Je pense toujours à toi: I always think about you