Gemati 389

tw // insecurity , anxiety . cw // miscommunication (a bit kok hehe)


Un Le Tartare de Thon et Les Escargots pour la tableu trois! How long?!”

Fifteen minutes, Chef!”

Make it eleven!”

Yes, Chef! Heard!”

Argha kembali menunduk ke layar tablet di hadapannya setelah meneriakkan pesanan kepada semua anak buahnya. Abhimanyu sedang berkeliling untuk mengecek pekerjaan semua orang setelah sebelum servis tadi Sebastien membelikan mereka kopi disertai pesan genit yang membuat Abhimanyu tertawa. Mereka berteman, secara ajaib meskipun Sebastien dan Abhimanyu bukanlah duo yang dibayangkan Argha tapi ternyata mereka bisa melakukannya.

Menggelikan sekali membayangkannya, tapi semenjak Argha memberi tahu Sebastien mengenai niat seriusnya pada Abhimanyu, lelaki itu menepati janjinya dengan berhenti menghubungi Argha. Adalah Abhimanyu yang kemudian meminta Argha untuk tetap berteman dengan Sebastien walaupun Argha biasanya tidak melakukannya.

“Tidak ada yang salah dengan berteman, 'kan?” Abhimanyu menatapnya dan Argha akhirnya mengedikkan bahu, setuju untuk tetap berteman dengan Sebastien.

Tersenyum karena mengingat Abhimanyu, dia kembali mengecek pesanan yang masuk. Membuka pop up message yang muncul di sistem dan menaikan satu alisnya ketika akhirnya dia membaca isinya.

Table : 14 (Non-Smoking Area)

Starter : Le Foie Gras Poele (1) Main Course : L'Agneau (1) Dessert : Pista Choc (1) (note: served after main course) Drink : (self service, BAR — attach receipt!) Note : served by chef s'il vous plait – H

TEN MINUTES INTO STARTER

“Kenapa?” Tanya Abhimanyu yang berada di sisinya, menerima protein yang diserahkan oleh salah satu commis dan mengecek pesanan di layar tab-nya sendiri untuk memastikan dia mengerjakan pesanan yang benar.

Argha mengedikkan bahu. “Akhirnya seseorang meminta chef serving setelah sekian lama,” dia tersenyum lalu menarik napas dan menolehkan kepalanya: “For table 14!” Serunya keras lalu menyuarakan pesanannya.

Abhimanyu terkekeh, “Ingin aku saja yang menyajikannya?” Tanyanya seraya meraih piring, mengelap permukaannya sedikit lalu meletakkannya di mejanya. Dia meraih daging hati angsa di atas piring stainless yang diletakkan commis di sisinya dan meletakkannya di atas piring dengan perlahan.

“Tidak, aku saja.” Argha mengangguk pada commis yang membawa piring terisi beef tartare segar. “Garnish for tartare!” Raungnya dan mendapat anak magang yang berlari kecil ke arahnya dengan sepiring garnish dari Commissary sebagai jawaban.

Don't run, Little Girl.” Tegur Argha, tegas tanpa mendongak saat menerima makanannya—tidak suka ketika anggota timnya berlarian di dapur. Mereka seharusnya berjalan dengan cepat. “Do fast walking instead, watch your step, alright.”

Anak itu langsung mengangguk, sedikit takut dan kaget karena ditegur. “Yes, Chef!” Sahutnya lalu berbalik dan bergegas kembali ke Commissary, kali ini berjalan cepat.

“Baiklah,” sahut Abhimanyu kemudian menahan napas ketika menggunakan pinset meletakkan edible flower di atas makanan yang dikerjakannya sebelum menegakkan tubuh dan mengelap sisi piring yang sedikit kotor.

Service, please!” Dia memukul bel dengan tangannya dan seorang anak servis bergegas berlari menghampirinya. “Starter for table 11.” Dia mengangguk dan anak servis itu membawanya ke ruang restoran.

Abhimanyu menekan tanda selesai pada pesanan meja sebelas di bagian Starter dan pesan lain muncul sebagai perhitungan mundur untuk Main Course. “Main course for table eleven! How long?!”

Ten, Chef!” Seru commis di kejauhan dan Abhimanyu mengangguk. “Heard!” Balasnya.

Argha berdeham, mengangkat piringnya dan menekan bel. “Service, please!: Serunya dan seorang anak servis bergegas menghampirinya.

Flow berjalan sangat lancar malam ini, semua orang nampaknya sedang bersemangat setelah keberhasilan mereka mengeksekusi makan malam pemprov Bali beberapa hari lalu. Dan Argha senang, berpikir dia sepertinya harus membelikan mereka sesuatu sesekali sebagai apresiasi atas pekerjaan mereka karena nampaknya begitulah budaya bekerja di perusahaan ini.

Dia akan bertanya pada Abhimanyu nanti, apa yang biasanya Kinan atau Arsa berikan pada mereka ketika melakukan kerja bagus sebagai hadiah. Tidak sabar untuk pulang dan berkendara bersama Abhimanyu; lima belas menit yang berharga bersama anak itu dalam mobilnya, bergandengan tangan sambil mendengarkan lagu Indonesia dari radio yang tidak terlalu dipahaminya.

Argha menghela napas, melanjutkan pekerjaannya ketika pesanan baru masuk dan dia bergegas membukanya; berpikir bahwa hari ini mereka cukup ramai karena pesanan masuk dalam waktu yang berdekatan. Pesanan itu terbuka dan isinya membuatnya mendenguskan tawa kecil.

Table : 08 (Non-Smoking Area)

Starter : Le Corpacio (1) Main Course : La Barramundi (1) Dessert : Maxi Marnier (1) (note: served after main course) Drink : (attended by sommelier — attach receipt!) Note : served by chef pls – H

ELEVEN MINUTES INTO STARTER

“Kenapa lagi?” Abhimanyu menoleh dari pekerjaannya menyeimbangkan setangkai asparagus di atas steak yang hangat di atas piring.

Argha menggeleng, menerima pesanan itu dengan senyuman di bibirnya. “Malam ini banyak yang ingin melihatku ternyata.” Katanya lalu menarik napas. “For table eight!”

“Oh, ya?” Abhimanyu menyerigai, mata cokelatnya berkilau menggemaskan. “Kuharap mereka semua bapak-bapak buncit tidak menarik.” Tambahnya lalu kembali menunduk ke makanan yang sedang dikerjakannya.

Jealousy, jealousy,” dendang Argha lembut terkekeh dan meraih piring baru ketika makanan diserahkan padanya. “Bagaimana jika pengunjungnya ternyata lelaki di usia vital yang indah dan menarik?”

Senyuman Abhimanyu surut dan Argha mengulum senyuman lebarnya. Abhimanyu mudah digoda belakangan ini, cepat sekali sebal jika Argha membicarakan orang lain di depannya. Mungkin karena Argha sederhananya bisa mendapatkan siapa saja yang diinginkannya, Abhimanyu merasa posisinya selalu terancam.

“Aku yang sajikan.” Dia memicingkan mata dan Argha menyemburkan tawa kecil sebelum terkekeh-kekeh. “Aku serius!”

Argha tersenyum lebar. “Tidak, tenang saja.” Dia mengedip genit pada Abhimanyu yang langsung merona. “Aku tidak akan tergoda pada siapa pun; jika itu yang kautakutkan.” Klaimnya lalu mendadak merasakan tikaman rasa cemas yang begitu kuat hingga dia menarik napas tajam.

Apa itu tadi?

Dia berhenti, menyentuh dadanya dengan punggung tangan karena telapak tangannya sedang mengerjakan makanan dan mendongak. Rasa cemas itu tajam, kuat, dan begitu cepat hingga tubuhnya sejenak merasa disorientasi pada rasa itu.

“Hei? Ada apa??” Tanya Abhimanyu, mendesak ketika melihat gerakan Argha—berhenti bekerja dan mendadak seluruh commis ikut berhenti bekerja untuk menoleh pada Argha. “Chef?”

Argha menggeleng, melambaikan tangan pada anak buahnya dan menggeleng. “Kembali bekerja.” Katanya tegang dan menoleh pada Abhimanyu. “Tidak apa-apa, hanya perasaanku saja.” Dia mengulaskan senyuman dan berpikir jika hal ini berlanjut dia akan mengambil cuti sehari untuk pergi menjauh sebentar; merasa tidak akan bisa bekerja dengan baik.

Abhimanyu menatapnya, mengerutkan alis dalam masih nampak khawatir namun perlahan kembali bekerja diikuti semua anak buah mereka dan Argha berdeham, kembali ke makanannya dengan perasaan resah pada apa yang sebenarnya terjadi. Merasakan tatapan Abhimanyu padanya selama beberapa menit sebelum dia kembali ke makanannya, setengah hati.

For table 14, Chef, L'Agneau.” Seorang commis meletakkan piring terisi makanan di sisi Argha dan dia mengangguk bergegas menyelesaikan piring di hadapannya lalu memberikannya pada anak servis.

“Saya akan menyajikan ini sebentar.” Katanya pada Abhimanyu seraya melepas penutup mulut di bibirnya untuk pergi keluar. “Tolong awasi sebentar.” Tambahnya dan mengangguk pada anak servis. “Chef serving, please.”

Anak servis bergegas meraih nampan dan meletakkan makanan itu di atasnya sementara Argha melangkah keluar dari balik konter dapur dan merapikan pakaiannya. Sudah lama sejak seseorang meminta head chef menyajikan makanan dan Argha sedikit merindukan sensasi berinteraksi dengan pengunjung mereka. Dia menegakkan topinya sebelum melangkah ke lorong menuju area restoran diikuti anak servis yang membawa nampan untuknya.

“Meja empat belas, ya?” Gumamnya dan anak servis itu mengangguk.

Argha mendorong pintu di hadapannya.


Yukio meraih gelas anggur putihnya, tersenyum seraya menyandarkan tubuhnya di kursi yang empuk.

Suasana Le Gourmet semakin lama, semakin menyenangkan. Cuaca Indonesia sedikit terlalu lembab dan berat untuknya, membuat Yukio sedikit kesulitan untuk bernapas. Namun setelah beberapa jam, dia berhasil membuat dirinya sendiri terbiasa pada udara itu. Tidak seperti udara Jepang yang cenderung kering, udara Indonesia begitu... menyesakkan. Tapi tidak masalah, penyejuk ruangan membuat segalanya lebih baik.

Sommelier yang membantunya memilih anggurnya ternyata lulusan luar negeri dan sangat ramah. Dia dengan sabar memilihkan Yukio anggur yang akan cocok dengan menu yang dipesannya, membukakan sebotol untuk Yukio dan menuangkannya—meminta Yukio mencicipinya sebelum menerimanya.

Dia harus menandatangani receipt ketika menerima rekomendasi Sommelier. Mungkin agar tamu tidak mengelak ketika ditagihkan dan memberikan bonus untuk Sommelier yang bertanggung jawab. Yukio kemudian mengecek dompetnya, menemukan beberapa pecahan dolar di sana dan mengingatkan diri untuk memberi tip pada Sommelier-nya malam itu.

Yukio menatap gelasnya, menikmati Matua Valley Sauvignon Blanc 2016-nya yang dingin sambil menunggu main course-nya disajikan. Botol anggur sisanya berada di tengah mejanya, dalam wadah terisi es yang menjaga suhu minuman itu untuk mengunci rasanya. Makanan Le Gourmet pun lezat, dia suka pada ledakan rasa menyenangkan di mulutnya dan bagaimana semua protein itu terasa meleleh seperti mentega yang dipanaskan dalam mulutnya. Beberapa kali mendesah, menatap piringnya dengan takjub bagaimana mereka bisa menciptakan makanan selezat itu.

Tempat duduknya strategis, dia bisa melihat seluruh restoran dari sini dan jendela berada di sebelahnya. Jika dia bosan melihat isi restoran karena dia sendirian (walaupun dia tidak masalah karena sebelum dia memiliki Argha dan setelah hubungan mereka berakhir pun, Yukio selalu sendirian melakukan kegiatannya), dia bisa melihat ke luar jendela.

Dia belum melihat head chef itu sejak tadi. Berpikir Argha pasti sudah berubah sekarang setelah sembilan tahun mereka tidak berkabar. Keahlian memasaknya pasti lebih mengesankan lagi karena makanan yang dicicipi Yukio tadi terasa luar biasa dan hatinya disengat rasa bangga yang hangat.

Argha melanjutkan hidupnya. Dia berbahagia sekarang. Dan Yukio senang memikirkannya. Tidak sabar untuk melihat Argha lagi, sudah membayangkan seperti apa reaksi Argha ketika Yukio berseru “surprise!” padanya. Dia pasti akan sangat terkejut. Yukio juga tidak sabar melihat kekasih baru Argha; seperti apa orangnya? Apakah dia baik pada Argha? Apakah dia mencintai Argha dengan tulus? Merawat Argha dan OCD-nya dengan telaten?

Dia tidak sabar lagi!

Yukio mendekatkan gelas ke bibirnya, mengangkatnya sehingga cairan meluruh ke mulutnya yang terkuak. Persis ketika anggur putih itu menyentuh permukaan bibirnya, dia melihat seseorang melangkah keluar dari pintu yang mengarah ke dapur. Dan dia menahan napasnya, jantungnya berdetak kencang ketika seluruh dirinya mengingat lelaki itu dengan sempurna. Langsung mengenalinya meskipun Argha sudah berubah dalam rentang waktu sembilan tahun.

Argha masih tetap setinggi dan seindah mimpi. Mengenakan seragam putih tanpa noda, melangkah keluar dari lorong dalam langkah panjangnya yang terasa familiar. Rambutnya ditahan oleh penutup kepala dan topinya yang tinggi, dia mengenakan chef jacket berlengan pendek yang memamerkan tubuh langsingnya dan apron panjang semata kaki.

Mata gelapnya mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan dan tidak menyadari kehadiran Yukio di sudut ruangan. Dia menoleh ke anak servis di belakangnya, membawa nampan yang terisi makanan. Bertanya sesuatu dengan suara rendah dan anak servis itu mengangguk.

Yukio mengeluarkan suara tercekik tertahan, ingin segera menemui Argha dan nyaris melompat dari kursinya untuk menyapa lelaki itu. Argha pasti mengantarkan pesanannya!

Dia nampak luar biasa, menua dengan sangat indah seperti anggur. Tidak seperti ketika Yukio terakhir melihatnya sebelum melangkah pergi dari apartemennya, namun jauh lebih indah dan dewasa. Dia mendebarkan, menyihir semua orang yang melihatnya seperti biasa hingga hidung Yukio mengembang bangga. Semua tamu menoleh, berbisik-bisik melihat head chef Le Gourmet melangkah di sekitar mereka menuju meja yang memesan makanan di tangan anak servis di belakangnya.

Tubuhnya lebih berisi sekarang, sehat dan kencang. Tidak lagi kurus seperti ketika bersama Yukio, bekerja seperti orang sinting. Binar matanya berbeda, nampaknya kehidupan mulai berbaik hati pada Argha sekarang setelah melepaskan Yukio.

Dan Yukio bersyukur atas itu.

Argha kemudian mengangguk, mengatakan sesuatu dan anak servis menunjuk dengan dagunya. Argha kembali mengangguk, senyuman kecil bermain di bibirnya ketika bertemu mata dengan beberapa tamu yang mendesah karena keindahannya. Yukio bisa bersimpati, karena Argha memang sangat indah.

Lelaki itu kemudian memalingkan wajah dari anak servis dan melangkah ke arah Yukio...


Abhimanyu mendongak ketika pintu terbuka dan menemukan atasannya memasuki dapur dengan wajah ceria.

Dan merasa sebal tanpa alasan. “Tamumu menyenangkan?” Gerutunya, kembali menunduk ke balik konter untuk mengerjakan pesanan.

Argha tergelak lembut, memasuki konter dari pintu kecil di ujung dapur dan menyempatkan diri memukul pantat Abhimanyu. “Tidak, hanya seorang pria paruh baya ramah yang sangat mengapresiasi bantuanku. Dia minum red wine dengan dagingnya.”

Abhimanyu mencibir. “Memang kau tidak tertarik pada pria paruh baya?” Gerutunya lagi, masih dongkol karena Argha tersenyum ceria memasuki dapur.

Aku paruh baya.” Sahutnya, mengedikkan bahunya kalem. Usahanya bergurau payah sekali karena Abhimanyu sedang sebal. Dan Argha menyadarinya dengan tersenyum lembut, “Sungguh, dia hanya memuji makanan kita, berjanji akan mengajak keluarganya datang ke restoran lain kali karena makanan yang dipesannya begitu lezat.”

Perasaannya membaik, namun mendadak merasa bersalah karena bersikap berlebihan pada Argha. Memangnya kenapa jika dia ceria setelah menyajikan makanan untuk tamu? Dia menerima pujian atas makanannya, tentu saja dia senang. Kenapa juga Abhimanyu harus merasa dongkol dan sebal atas itu?

“Maaf,” gumamnya sedikit malu dan kikuk.

Argha menoleh dengan alis terangkat. “Untuk?” Tanyanya bingung.

Abhimanyu mengedikkan bahunya, merona tipis. “Bersikap berlebihan.” Gerutunya, sebal pada dirinya sendiri. “Maksudku, kau hanya bersikap baik pada tamu dan melayani mereka seperti seharusnya tapi aku malah...,” dia berhenti sejenak, kesulitan untuk mengakui kesalahannya.

Maka Argha menunggu. Selalu melakukannya tiap kali Abhimanyu akan meminta maaf, tidak pernah memotongnya dan mengatakan 'tidak apa-apa, aku paham' seperti yang dilakukan semua orang. Dia akan menunggu, selama apa pun yang dibutuhkan Abhimanyu hingga dia mengakui kesalahannya. Menunggu hingga Abhimanyu mengucapkannya.

Awalnya hal ini menjengkelkan sekali, egoisme Abhimanyu tidak menyukainya. Membuatnya sering kali memberontak dan malah balas membentak Argha yang ajaibnya, tidak bereaksi sama sekali atas ledakan emosi itu; tidak bergegas menenangkannya, tidak bergegas meminta maaf, dia hanya tersenyum dan menatap Abhimanyu.

“Jika kau ingin dimaafkan, maka kau harus mengakui kesalahanmu dulu, Abhimanyu.” Katanya, setenang Buddha dan Abhimanyu semakin marah dibuatnya. “Beri tahu aku apa yang salah dari sikapmu tadi?”

Sering kali meninggalkan Argha begitu saja, berharap akhirnya Argha yang akan mencarinya lebih dulu seraya meminta maaf karena bersikap berlebihan hanya karena hal-hal kecil. Tapi, coba tebak apa yang dilakukan Argha? Mengabaikan Abhimanyu sepenuhnya. Dan ketika dia murka atas ini, Argha hanya menghela napas dan menatapnya dengan senyuman tipis di bibirnya.

“Aku tidak akan minta maaf karena dalam hal ini, kau yang berhutang maaf padaku, Abhimanyu.”

Karena dia lelah, akhirnya Abhimanyu berhasil melakukannya. Sedikit kesulitan karena ada sesuatu dalam dirinya yang membenci itu; tidak mau mengakui kesalahannya dan meminta maaf, alih-alih berpikir bahwa orang lain-lah yang seharusnya meminta maaf pada Abhimanyu. Berpikir bahwa semua orang yang salah, bukan dirinya.

Argha begitu sabar meladeni tingkah kekanakan Abhimanyu, berbeda sekali dengan Cedrik yang pasti sudah menghampirinya dan meminta maaf—membelai ego Abhimanyu dengan fakta bahwa bukan dirinya yang salah. Itulah hal yang membuat Abhimanyu senang pada Argha.

“Malah bersikap menyebalkan. Jadi, aku minta maaf.” Bisiknya lirih, mengerucutkan bibirnya jengkel.

Argha menghela napas di sisinya. “I can't hear that, Abhimanyu.” Katanya tegas dan Abhimanyu mengerang dalam hati; dia akan terus melakukan ini hingga Abhimanyu menurutinya.

Maka dia menghela napas. “Aku minta maaf, Argha. Karena bersikap menyebalkan padahal kau sudah menjelaskan semuanya tapi aku memilih bersikap curiga.” Katanya dengan sedikit lebih keras dan Argha langsung tersenyum lebar, bangga. Ekspresinya membuat perasaan Abhimanyu lebih baik.

“Terima kasih sudah mengakui kesalahanmu. Dan kau tidak menyebalkan kok.” Dia menepuk bahu Abhimanyu lalu kembali ke pekerjaannya. Mengecek tab di hadapannya dan menyadari dia harus menyajikan makanan meja selanjutnya.

For table ten!” Serunya.

Abhimanyu menatap Argha yang bekerja sejenak. Dia mengulurkan tangan, meraih piring dan mulai menjajarkannya karena meja sepuluh terisi empat orang yang memesan menu berbeda. Semua harus keluar bersamaan sesuai standar tempat kerja mereka. Alisnya berkerut, nampak fokus pada pekerjaannya dan begitu menakjubkan hingga Abhimanyu harus menghela napas dalam-dalam.

Kata-kata afirmasi Argha selalu membuatnya merasa nyaman dan karenanya, dia juga selalu berusaha menggunakan kalimat yang sama untuk Argha. Ingin membuat Argha merasakan apa yang dirasakan Abhimanyu karena kalimatnya yang menyejukkan itu. Canggung pada awalnya, tapi lama-lama Abhimanyu terbiasa; dia juga sering mencari contoh-contoh afirmasi di internet dan mempraktikannya pada Argha. Terus belajar dan berkembang, ingin menyamai kedewasaan Argha hingga dia paham bahwa dia memiliki Abhimanyu untuk bersandar.

Sejak dia menyela perdebatan Abhimanyu dan Khrisna, kakaknya belum menghubunginya lagi. Hadrian yang mengiriminya pesan, meminta Abhimanyu untuk memberikan ruang dan pengertian pada Khrisna mengenai ini. Dia tidak keberatan, bahkan sudah tidak terlalu memikirkan posisi Khrisna di hidupnya; dampak kepergian Khrisna selama dua tahun menyisakan luka yang sangat dalam. Memberikan jarak yang lebar di antara mereka dan Abhimanyu tidak keberatan atas itu.

Bersyukur Argha menyela perdebatan itu sebelum dia benar-benar menonjok kakaknya.

Abhimanyu menghela napas, kembali ke pekerjaannya dan menyingkirkan itu semua. Tidak sabar untuk memeluk Argha nanti sebelum dia masuk ke vilanya atau mengajaknya menginap saja karena Abhimanyu ingin memastikan dia tidur lelap, belum ingin berpisah dengan Argha. Ingin berbaring di pangkuannya, rambutnya disisir dengan jemari, dan mendengarkannya mengomel dalam bahasa Prancis.

Dia tersenyum, bersemangat menyelesaikan servisnya.

For table eight! Chef serving!” Seru Argha kemudian dan Abhimanyu mendongak, melihat atasannya bergegas keluar dari konter untuk menyajikan makanan untuk tamu mereka.

Anak servis berjalan di belakang Argha dengan nampan terisi makanan. Argha akan menyajikan makanan itu, biasanya mengobrol sebentar dengan tamu sekadar basa-basi. Lebih banyak memberikan pujian untuk makanan mereka, penasaran pada siapa yang memastikan makanan itu lezat tiba di tamu mereka. Abhimanyu dulu yang melakukannya, menyenangkan melihat tamu-tamu mendongak dari makanan mereka untuk mengagumi Abhimanyu yang melangkah mengenakan seragamnya menuju meja tamu.

Argha juga pasti sangat menikmatinya.

Dia menatap Abhimanyu sebelum melangkah keluar, mengedip genit hingga Abhimanyu tergelak dan memberikannya air kiss cepat. Abhimanyu bergegas berpura menangkapnya dan mengantonginya, menepuk kantongnya sambil mengangguk serius.

“Untuk nanti.” Katanya serius. Dan Argha tertawa tanpa suara sebelum berbalik dan meluncur keluar.

Dia suka sekali pada Argha Mahawira dan berharap mereka bisa bertukar tubuh sehari saja, agar Argha paham apa yang dirasakan Abhimanyu untuknya.

Malam ini Abhimanyu akan memeluk Argha, begitu erat hingga dia sesak. Abhimanyu menyerigai, senang.


Argha mendorong pintu terbuka, menghela napas dan memasang senyuman tipis ramahnya sebelum melangkah ke bawah cahaya restoran yang terang.

Beberapa tamu yang terdekat, menoleh ketika Argha keluar. Menarik perhatian karena seragamnya berwarna putih, berbeda jelas dengan semua anak servis yang mengenakan seragam sewarna burgundi yang diberi aksen batik di bagian hemnya. Argha mengangguk pada beberapa yang bertemu mata dengannya seraya melangkah melewati meja-meja.

“Meja delapan, di sudut, Chef.” Bisik anak servis di belakangnya dan Argha mengangguk—senang dia membantu Argha karena dia tidak terlalu hafal nomor meja restoran.

Makanan di atas nampan masih hangat, Argha harus bergegas agar makanan itu tiba di hadapan tamu dalam keadaan terbaiknya. Dia membelok sedikit, mengangguk pada tamu yang menatapnya untuk menghampiri sudut restoran.

“Itu, Chef. Tamu dengan kemeja abu-abu.” Bisik anak servis di belakangnya lagi dan Argha kembali mengangguk.

Tamu itu menikmati segelas Matua Valley Sauvignon Blanc di atas meja, botolnya berada di tengah meja. Argha tersenyum dalam hati, mengapresiasi kombinasi makanan dan anggurnya; hal kecil yang membuatnya senang. Jika itu pekerjaan Sommelier mereka, maka dia melakukan hal yang hebat. Memberikan pengalaman makan terbaik untuk tamu.

Di meja, tamu mereka sedang memandang ke luar jendela sambil bertopang dgau. Rambutnya sedikit panjang, menyentuh dagunya dan postur tubuhnya kecil serta langsing—seperti postur tubuh penari. Satu tangannya bergerak di dekat gelas, mengusap tepiannya dengan ibu jari—nampak sangat menikmati kesendiriannya.

Argha menghampirinya, tersenyum ramah dan membuka mulut hendak menyapa tamu itu ketika dia menyadari kedatangan Argha lalu menoleh.

Langit terasa runtuh ketika mata mereka bertemu, jantung Argha mencelos—begitu kuatnya hingga dia berhenti mendadak dalam perjalanannya menghampiri meja nomor delapan. Anak servis di belakangnya mengeluarkan suara kaget tertahan, namun berhasil mempertahankan keseimbangan nampan di tangannya.

Tubuh Argha bereaksi, namun tidak seperti yang diharapkannya. Kekagetan dan kecemasan merayap di tubuhnya, perlahan seperti binatang melata dari ujung kaki melewati garis tulang punggungnya hingga napasnya terasa dingin—menyakiti pangkal hidungnya.

Karena yang sekarang tersenyum padanya adalah Yukio Hirano.

Lelaki mungil itu bergegas berdiri dari kursinya untuk menghadap Argha, tersenyum ramah padanya seraya mengaitkan sebelah rambutnya ke telinga. “Halo, Argha.” Sapanya parau dalam bahasa Jepang yang menghantam Argha dengan begitu kuatnya, disertai banjir bah kenangan ketika mereka bersama.

“Apa kabar?”

Yukio nampak luar biasa, masih seindah bulan purnama yang berpendar keperakan. Selalu membuat Argha menahan napas karena pesonanya. Seperti keping salju yang rumit, namun indah dan mendebarkan. Rambutnya menyentuh dagu sekarang, diberi highlight keperakan manis. Dia semakin kurus hingga Argha sejenak panik: apakah dia makan dengan baik?

Argha selalu berpikir bagaimana jika dia bertemu Yukio lagi setelah sekian lama dan sekarang ketika lelaki itu berdiri di depannya, Argha tidak tahu apa yang dirasakannya—sama sekali.

Abhimanyu terlupakan begitu saja ketika dia menatap cinta pertamanya, bernapas dan bernyawa di hadapannya. Setelah nyaris sepuluh tahun merindukannya. Argha ingin duduk, ingin menyandarkan dirinya karena tidak yakin apakah dia sedang berhalusinasi sekarang.

Dia pastilah membeku di sana begitu lama hingga Yukio merona, nampak kikuk.

Surprise? Kau terkejut, 'kan?” Ujarnya setengah meringis dan satu-satunya hal yang ingin Argha lakukan adalah merengkuhnya ke dalam kedua tangannya; memastikan Yukio baik-baik saja.

Namun dia hanya mengatakan, “Yukio?” Dengan menyedihkan.

Yukio tersenyum, mencuri napasnya kembali. “Hai. Iya, ini aku.” Katanya, suaranya masih lembut dan menenangkan, persis seperti yang Argha ingat.

Sembilan tahun tidak mengubah Yukio sama sekali, kecuali membuatnya semakin kurus dan pucat. Argha tidak yakin apakah kekasih baru Yukio benar-benar memerhatikannya atau pekerjaan Yukio yang semakin menyusahkan. Ada begitu banyak hal yang ingin Argha katakan padanya; kenapa dia datang? Kenapa sekarang? Ke mana dia selama sembilan tahun Argha menunggunya? Dengan siapa dia datang?

Namun dia berdeham, menghela napas untuk menenangkan diri dan melangkah mendekat ke meja Yukio. Menoleh ke anak servis dan meraih piring makanan Yukio.

Good evening,” sapanya, tidak mengenali suaranya sendiri ketika berbicara—merasa dia sedang menonton dirinya sendiri dari luar tubuhnya. “Welcome to Le Gourmet Bali. I'm your Executive Head Chef, Argha Mahawira. Pleasure to meet you.” Dia meletakkan piring makanan itu di atas tatakannya.

Yukio tersenyum, kembali duduk dan mengenakan serbet di atas pangkuannya. Menarik kursi mendekat ke makanannya. Menatap menu di piring sejenak lalu mendongak pada Argha, mengulaskan senyuman.

Argha menggertakkan giginya. “You've ordered La Barramundi,” dia mengangguk pada makanan di meja dan mempertahankan pandangannya di makanan itu. “It's our special main course, the perfect fit for your Sauvignon Blanc.” Dia melambaikan tangannya ringan pada botol anggur di meja Yukio.

Tangannya dingin.

Seluruh tubuhnya dingin sekarang.

It's a caramelized barramundi, with black pepper sauce and spinach.” Argha menggertakkan rahangnya dan memaksa dirinya mendongak dari ikan di piring ke wajah Yukio yang masih menatapnya dengan senyuman di bibirnya. “We wish you a great evening, please do not hestitate to tell us about anything you find inconvenient.”

Yukio mengangguk, nampak puas. “Thank you,” katanya lembut dan Argha menghela napas. “Your food is excellent, I've never had anything like this before. You did a great job, Chef.”

My pleasure.” Sahutnya kaku, tidak yakin pada apa yang harus dilakukannya sekarang. “Please enjoy the rest of your night.” Tambahnya kemudian lalu berbalik, dia harus bergegas menjauh sebelum mengatakan hal-hal yang tidak diinginkannya.

Namun persis sebelum dia melangkah kembali ke dapur, dia berhenti. Mendadak hingga anak servis nyaris menabrak punggungnya lagi. Tapi Argha tidak peduli, dia menatap Yukio yang balas menatapnya—mengerjap sedikit kebingungan.

“Ya?” Tanyanya.

“Yukio,” katanya dalam bahasa Jepang—merendahkannya hingga tidak ada yang mendengarnya selain Yukio. “Tolong temui aku, setelah pekerjaanku selesai.”

Dan tanpa menunggu jawabannya, Argha berbalik dan melangkah ke dapur. Tidak memberikan Yukio kesempatan untuk menolak karena Yukio tidak bisa dan tidak boleh menolaknya.

Tangannya terkepal di kedua sisi tubuhnya.


“Apa...?”

Abhimanyu menatap Argha yang sedang bergegas mengganti pakaiannya selepas servis. Sekembalinya dari mengantar makanan kedua, Argha menjadi lebih tegang dari biasanya. Abhimanyu berusaha mengajaknya mengobrol, menghiburnya namun Argha sama sekali tidak menanggapinya. Perasaan gelisah menyeruak di dasar perut Abhimanyu; apakah ada yang terjadi?

Dan pertanyaannya terjawab. Argha menolak pulang bersamanya. Padahal dia membawa mobil Argha hari ini dan meminta Abhimanyu untuk pulang bersama Hadrian saja. Abhimanyu tidak masalah pulang berjalan kaki, dekat dan cukup ramai. Hal yang dipermasalahkannya hanyalah kenapa Argha tidak mau menatapnya?

“Aku akan pulang sendiri. Aku harus menemui seseorang.” Tukasnya, nyaris terganggu dan nada itu membuat Abhimanyu sejenak terdiam; dingin, tajam, dan tidak sabaran.

Argha belum pernah menggunakan nada itu padanya. Membuat Abhimanyu mundur selangkah darinya, kaget dan takut. Apakah dia melakukan kesalahan? Apakah Argha marah padanya? Itukah mengapa dia tidak mau pulang bersama Abhimanyu?

Argha menoleh padanya, sejenak nampak resah dan jengkel namun kemudian dia mengerjap—nampak kaget lalu memejamkan mata, menggeleng kuat dan menggertakkan rahangnya.

“Abhimanyu,” bisiknya lembut. “Doudou,” tambahnya mengulurkan tangan hendak meraih Abhimanyu namun urung, menikam Abhimanyu sekali lagi dengan rasa bingung. “Aku harus menemui temanku dari Jepang,”

Alarm di kepala Abhimanyu berdering keras sekali, hingga dia sejenak limbung. Firasatnya kuat mengatakan bahwa ini Yukio. Nama yang disebut Sebastien di hari mereka makan malam bersama seperti tiga orang beradab dengan Argha yang bersikap manja padanya; Abhimanyu ingin Argha yang itu dikembalikan padanya sekarang.

Dia ingin meneriakkan banyak hal sekarang, termasuk mencengkeram tangan Argha dan memaksanya memberi tahu Abhimanyu siapa teman yang akan ditemuinya. Namun satu-satunya kalimat yang keluar dari mulutnya adalah:

“Tidak bisakah aku ikut bersamamu...?” Bisiknya, sedikit tersengat rasa bersalah karena ingin tahu urusan Argha—seperti anak kecil menyebalkan padahal dia menghabiskan begitu banyak waktu berusaha agar nampak dewasa.

Argha menghela napas. “Tidak, maaf.” Katanya lalu memalingkan wajah dari Abhimanyu dan bergegas membereskan barang-barangnya. “Dia sudah menungguku di luar sejak tadi.”

Abhimanyu berdiri di sana, patah hati entah karena apa ketika Argha meraih tas Dior kesayangannya dari loker dan bergegas mengunci lokernya. Bahkan tidak repot menoleh lagi pada Abhimanyu yang berdiri di sisinya dengan seragam belum dilepaskan. Mereka biasanya mengobrol santai sambil berganti baju, saling menggoda dan tertawa sebelum bersama mengembalikan seragam lalu turun ke parkiran untuk pulang.

Proses lambat yang biasanya membuat lelah Abhimanyu menguap, membuatnya cukup tenang untuk langsung terlelap setibanya di kos. Satu-dua pesan dengan Argha atau sleep call sebelum benar-benar tidur; rutinitas yang dia sukai.

Namun sekarang Argha tidak menoleh, bahkan tidak berpamitan. Wajahnya serius dan fokus, sedikit terganggu dan dibayangi kesedihan yang Abhimanyu tidak kenali.

Apakah memang benar Yukio yang ditemuinya? Kenapa sekarang? Dan untuk apa Argha menemui mantannya? Tidakkah dia ingin menjelaskan sesuatu pada Abhimanyu? Atau menurutnya Abhimanyu tidak cukup penting untuk tahu segalanya?

Argha bebas memasuki kamar Abhimanyu, sudah membuat dirinya betah di sana dan menyimpan beberapa barang pribadinya di ruang Abhimanyu. Namun Abhimanyu bahkan belum pernah memasuki vilanya. Dia menyadari itu, tapi tidak ingin membebani Argha dengan bertanya. Jika dia merasa nyaman, dia pasti akan mengundang Abhimanyu.

Sekarang hal sederhana itu mendadak terasa seperti bentangan jarak yang hebat. Apakah Argha tidak pernah menganggap Abhimanyu seperti Abhimanyu menganggapnya? Apakah selama ini hanya Abhimanyu yang menyukainya dan Argha tidak pernah?

Abhimanyu berdiri di sana, hatinya mendadak mati rasa—tidak lagi berdenyut, tidak lagi pedih. Hanya rasa kebas yang menyiksanya, membuatnya merasa ada lubang raksasa kosong di dadanya. Seseorang menikamnya di sana, membuat lubang menembus hingga ke punggungnya.

Dia ditinggalkan.

Oleh seseorang yang amat dipercayainya.

Lagi.

Argha mencabut kunci lokernya dan terburu-buru keluar dari loker yang sepi, tidak mengatakan apa pun saat mengulurkan tangan untuk membuka pintu. Meninggalkan Abhimanyu koyak di belakangnya, bahkan tidak memiliki energi untuk berkata-kata.

Persis ketika Abhimanyu pikir dia akhirnya remuk, hancur lebur oleh sakit hati, Argha berhenti dan menoleh. Wajahnya berkerut oleh ekspresi yang tidak dipahami Abhimanyu; sakit, bingung, gelisah, resah, dan bersalah. Mata mereka bertemu.

“Aku berjanji,” bisiknya dan Abhimanyu menatapnya kosong; tidak lagi ingin memercayai janji siapa pun pada titik ini. Jika Argha ingin pergi, maka Abhimanyu akan membukakan pintu selebar-lebarnya untuk Argha dan mengantarnya keluar.

“Aku akan menghubungimu nanti, ya? Aku akan... menjelaskan segalanya. Tolong jangan berpikir yang tidak-tidak, ya?” Mohonnya, pilu dan lirih namun hati Abhimanyu mati.

Abhimanyu tidak mau mendengarkan penjelasan. Tidak ingin apa pun dari Argha saat ini. Dia hanya ingin Argha melangkah keluar, menyelesaikan penderitaannya dan menggerus Abhimanyu seperti kedelai di kedua tangannya. Argha bisa membunuhnya, tidak masalah.

Tapi mulutnya terbuka, letih dan terluka. “Ya.” Katanya dingin dan hampa.

Argha tidak lagi berhenti, dia bergegas keluar dari loker dan Abhimanyu mendengarnya berlari di lorong menuju lift untuk turun ke basemen. Meninggalkan Abhimanyu sendirian di sana, terluka lagi oleh hal yang sama.

Dia merogoh sakunya, rasa hampa di dadanya menjadi-jadi dan dia takut dia akan mati di sana karena rasa itu. Maka dia menekan nomor terakhir dalam catatan panggilannya hari ini. Tidak terlalu dekat dengannya, namun Abhimanyu membutuhkan seseorang untuk menemaninya.

Yes, Abhimanyu? Is there something wrong?”

Abhimanyu membuka mulutnya, sejenak diam dengan bibir bawah gemetar sebelum melanjutkan. “Pak Ricci, can you please pick me up at Gourmet?”


ps. ehe besok part 3 :D