Gemati 359
Argha menatap bayangan wajahnya sendiri di cermin dengan mata memicing, jengkel.
“What's wrong with you?” Tanyanya di loker yang sudah sepi karena sekali lagi, dia menjadi yang terakhir pulang sekaligus menunggu Abhimanyu yang berangkat dari Ubud untuk menjemputnya.
Argha menyadari sekali perubahan emosinya belakangan ini. Bagaimana dia ingin selalu menempel dengan Abhimanyu, ingin lelaki itu hanya memerhatikannya, ingin selalu melihatnya. Tidak ingin berjauhan atau melihatnya—bahkan memikirkannya memerhatikan orang lain. Sejak malam ketika dia akhirnya mengakui pada Yukio bahwa dia mungkin telah tertarik lebih dari yang direncakanannya pada Abhimanyu, dia merasakan perubahan emosinya.
Berada di sekitar Abhimanyu sekarang membuatnya nyaman, sedikit candu. Aroma parfumnya, aroma tubuhnya, caranya bersikap baik dan lembut pada Argha membuatnya sedikit kebingungan. Kehangatan yang belum pernah dirasakannya, namun tidak membuatnya keberatan. Tapi tadi, dia menyadari bahwa dia baru saja bersikap clingy dan menggelikan dengan meminta Abhimanyu menjemputnya terlepas dari fakta bahwa mobilnya sudah bisa digunakan dengan baik.
“Why did you do that?” Tanyanya sekali lagi pada dirinya sendiri. Dia tidak pernah seperti itu, bahkan tidak kepada Yukio. Dia selalu memposisikan dirinya sebagai yang dewasa dalam suatu hubungan, bertanggung jawab atas Yukio dan eating disorder-nya.
Apakah kehangatan Abhimanyu mencairkan Argha yang selama ini secara tidak sadar selalu bersikap tegar dan kuat? Apakah dia baru saja memberi tahu Argha bahwa Argha sebenarnya mendambakan perhatian, kasih sayang, sosok melindungi; jumlah yang sama seperti yang diberikannya kepada semua orang?
Apakah Abhimanyu baru saja menyentuh tempat di hati Argha yang bahkan dirinya sendiri tidak sadari keberadaannya?
Siapa sangka pemuda berusia 28 tahun bisa membuat Argha merasakan itu semua. Sebelas tahun lebih muda dari Argha.
Argha menghela napas, mengusap wajahnya dan menyugar rambutnya. Melirik jam dinding, dia menyadari Abhimanyu akan tiba dalam sepuluh menit. Jadi dia bergegas membereskan bawaannya, mengancingkan kemejanya dan keluar dari pintu belakang. Restoran sudah sepi, Hadrian pulang lebih dulu tadi katanya akan menemani Khrisna. Kinan juga sempat datang ke restoran, menemani servis hingga pukul delapan sebelum Arsa meneleponnya agar pulang.
Suasana sedang tidak terlalu baik sekarang. Argha bisa merasakan bahwa tim sedang kerepotan untuk tetap berada di pace yang sama dengan ketidakhadiran Arsa. Tim kebingungan, khususnya Gourmet yang seketika timpang tanpa kehadiran Abhimanyu di sisi gastronomi. Argha tadi menyempatkan diri bicara dengan Stefan, mencari tahu kira-kira seberapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mendapatkan junior sous chef gastronomi untuk Paradis.
“Sebenarnya,” Stefan menjawab perlahan. Dia lelaki menarik di usia tiga puluh lima tahun, rambutnya disisir naik dengan rapi. Pembawaannya menenangkan dan begitu agung, kantornya harum lembut ketika Argha masuk.
Argha tidak suka memasuki ruangan PT karena semuanya beraroma seperti kertas, tinta mesin pencetak, pengharum ruangan sintetis dan stres. Semua orang sedang bekerja ketika dia masuk, harus melewati ruangan Akunting jika harus menemui HRD. Teo di ruangannya, nampak tenggelam di balik dokumen yang harus diceknya karena tidak ada Kinan.
Stefan di ruangannya, sedang mengecek payroll sebelum diserahkan ke Teo lalu disetujui Kinan. Mempersilakannya masuk dengan ramah.
“Chef Arsa ingin Abhimanyu ditarik kembali ke Paradis dan sous chef baru akan diposisikan di Gourmet karena beliau sudah nyaman dengan Abhimanyu.”
Jantung Argha mencelos, secara insting tidak ingin Abhimanyu diambil darinya.
Mereka memang masih di perusahaan yang sama, selalu ada staff outing untuk bertemu dan Ubud tidak terdengar terlalu jauh. Tapi Argha entah bagaimana, tidak suka memikirkan Abhimanyu akan berada di tempat bekerja yang sama dengan Cedrik lagi. Dia merasa... cemburu? Tidak ingin memberi kesempatan mereka untuk terhanyut kenangan masa lalu dan kembali berusaha mencoba hubungan mereka.
Namun di depan Stefan, dia berhasil menjaga ekspresinya. “Ah, I see.” Katanya kering, berdeham. “Lalu bagaimana keputusan akhirnya? Abhimanyu akan ditarik ke Paradis lagi?”
Stefan, ajaibnya, menggeleng. “Abhimanyu akan tetap di Gourmet, Chef. Bapak tidak mau semua juru masak terbaik diposisikan di Paradis sementara pekerjaan rumah perusahaan untuk Le Gourmet masih besar sekali.”
Argha menghela napas, lega. “Setuju.” Katanya. “Saya juga membutuhkan Abhimanyu sebagai tangan kanan saya karena saya belum lama bergabung dengan perusahaan.”
“Bapak juga mempertimbangkan hal yang sama, Chef.” Stefan mengangguk, menumpukan tangannya di meja kerjanya. “Abhimanyu diharapkan bisa membantu Chef untuk mengejar ketertinggalan dalam perusahaan. Jika memposisikan dua orang baru dalam satu dapur sebagai supervisor akan terlalu riskan.”
Setelahnya, Argha keluar dari ruangan perusahaan dengan perasaan mengambang. Apakah dia bisa tenang sekarang? Kinan dengan tegas meminta Abhimanyu untuk tetap di Gourmet—membagi tenaga mereka di dapur karena Paradis sudah memiliki Arsa. Tapi jika suatu saat nanti sous chef baru sudah bisa menyamai ritme bekerja Arsa, akankah Abhimanyu tetap ditarik ke Paradis dan diganti oleh sous chef baru itu?
Memikirkannya membuat Argha jengkel. Tidak mau timnya diganti setelah sejauh ini. Dia sudah memahami kekuatan dan kelemahan timnya, sudah bisa membaca strategi apa yang harus digunakannya ketika sepi dan ramai sesuai dengan analisis itu. Argha sudah mengusai timnya, mengganti salah satunya sekarang membuat Argha harus menganalisis semuanya ulang. Memikirkan di mana dia harus diletakkan ketika ramai dan di mana ketika sepi.
Dan juga tidak mau Abhimanyu dijauhkan darinya.
Argha menggertakkan gigi. Tidak menyukai ketika dia mulai bersikap overprotektif dan menjengkelkan. Sesuatu yang muncul ketika dia tertarik secara tulus pada seseorang, tertarik di level emosional dan bukan hanya secara fisik. Dia menyadari sifatnya ini dan tidak ingin mengganggu siapa pun dengan itu.
Orang tuanya yang meninggal, anak tunggal dengan kekayaan warisan ayahnya, dimusuhi semua keluarganya yang lain karena ingin mendapatkan kekayaannya membuat Argha sulit memercayai seseorang. Selalu berpikir semua orang yang baik padanya, memiliki tujuan tidak baik. Dan ketika menemukan satu orang saya yang bersikap baik padanya, tulus, dan memberinya perhatian tanpa pamrih, Argha akan luluh.
Persis seperti bagaimana Yukio membuatnya jatuh cinta. Selain senyumannya, dia juga membawa Argha makan malam hari itu. Membayarinya makan dengan ceria, bahkan tidak meminta nomor Argha. Sehingga setelahnya, Argha menghabiskan nyaris satu bulan menunggu di depan toko okonomiyaki itu di jam yang sama; berharap bertemu Yukio kembali dengan menyedihkan.
Dia cukup mudah jatuh cinta pada ketulusan. Itulah mengapa dia selalu membatasi dan menamengi hatinya.
Sekarang, dengan sikapnya yang mulai bergantung, manja, dan overprotektif pada Abhimanyu; Argha menyadari bahwa dia mulai seperti kucing yang baru saja dipungut dari jalanan. Diberi perhatian, makan, dan kasih sayang. Dan Argha mulai menyundul pemiliknya, mengeong kecil, menempel padanya; berharap tidak akan disakiti atau ditinggalkan.
Menyadari trauma Abhimanyu yang juga adalah ditinggalkan dan terasing, Argha sedikit khawatir pada bagaimana hubungan mereka kedepannya. Dia keluar dari lift, melangkah menuju mobilnya dengan pikiran melayang. Dia memang memiliki prinsip tidak akan bercinta dengan perjaka atau perawan Apakah prinsip itu masih berlaku pada Abhimanyu?
Anak itu bahkan tidak terlalu memikirkan dengan siapa dia melakukan untuk pertama kali hanya agar Argha mau bercinta dengannya. Apakah itu berarti Abhimanyu hanya menginginkan seks darinya? Kenapa rasanya menyakitkan padahal Argha selama ini bertemu puluhan orang yang juga hanya menginginkan seks darinya.
Argha menghela napas, memijat pangkal hidungnya seraya menyelipkan kunci ke pintu mobilnya untuk membukanya. Mungkin dia harus melihat lagi sejauh apa Abhimanyu mau berusaha dan berharap dia mungkin... akhirnya memperlihatkan pada Argha bahwa dia tidak hanya mendekatinya untuk seks.
Mobilnya sudah diperbaiki. Sebastien yang meneleponkan montir untuk membereskannya saat itu juga. Hanya masalah aki, mereka langsung menyetrumnya di sana ditemani Security karena Argha sedang bekerja. Setelahnya mobil menyala kembali dengan catatan Argha harus menyalakannya setiap pagi sebelum menggunakannya.
Argha menyelipkan kunci ke lubang Starter, lalu memutarnya. Untuk menenangkan dirinya, Argha menekan tombol Start Engine dan menghembuskan napas lega ketika mesin menyala dengan lembut. Dia akan memanaskan mobilnya sekarang sebelum mandi.
Dari kejauhan, terdengar suara derum mesin meluncur memasuki lorong ke arah basemen dan Argha menoleh. Persis ketika kepala NMAX Abhimanyu muncul di pintu masuk. Anak itu menaikkan kaca helmnya dan tersenyum lebar pada Argha yang seketika membalas senyumannya.
“Hai, Sayang!” Serunya ceria, menggema di ruang parkir yang sunyi. Mengundang senyuman di bibir Argha. “Kau sudah menunggu lama, ya?” Dia berhenti persis di depan Argha, tersenyum lebar dengan ban depan motornya hanya sepuluh senti di depan Argha.
“Hai.” Balas Argha, langsung merasa senang tanpa alasan hanya dengan melihat senyuman Abhimanyu—anak manis yang sekarang selalu tersenyum pada Argha setelah menghabiskan empat-lima bulan memberengut permanen seperti penderita wasir.
“Tidak. Baru juga turun. Tadi di loker, cuci wajah.” Argha mengangguk, mematikan mesin mobilnya dan mencabut kunci. “Kita akan makan apa?” Tanyanya, mengunci mobil lalu menyimpan kuncinya kemarin.
Abhimanyu mengerutkan alisnya pada mobil Argha. “Kau sungguh akan meninggalkan mobilmu di sini lagi?” Tanyanya lalu menatap Argha yang balas menatapnya lalu dia bergegas menambahkan dengan sedikit panik. “Maksudnya, tidak masalah. Hanya jika kau memang ingin aku menjemputmu terus, besok kita pulangkan saja mobilnya. Dia lebih aman di rumah.”
Argha menggigit bagian dalam pipinya sambil berpikir. Tidak terlalu keberatan meninggalkannya di sini, toh ada Security yang menjaga mobilnya. Di vilanya, benda ini diparkir di halaman dan ditutupi dengan jas hujan mobil saja. Rasanya malah lebih aman di sini.
“Tidak masalah.” Tutup Argha lalu mengulurkan tangan, meminta helmnya.
Abhimanyu menatapnya lalu menghela napas, dengan senyuman kecil di bibirnya. Dia memarkir motornya, membuka bagasi dan mengeluarkan helm cadangan untuk Argha dari sana. Abhimanyu membuka kait pengamannya dan mengulurkannya pada Argha.
“Kemari.” Gumamnya lembut, memasangkan helm dan Argha tersenyum—senang pada gestur itu. Abhimanyu mengaitkannya agar aman, menarik talinya agar lebih erat sebelum menyisihkan anak rambut di kening Argha dan nyengir. “Nah.”
“Biasanya,” kata Abhimanyu saat Argha menaiki motornya. “Aku hanya makan nasi jinggo untuk makan malam jika pulang terlalu larut. Kau mau sesuatu yang lain?”
Argha mengerutkan hidungnya. Tidak menyukai fakta bahwa dia harus makan karbohidrat seperti nasi sebelum berbaring. Tubuh Abhimanyu mungkin mencerna semuanya dengan cepat, membakarnya menjadi energi. Namun tubuh Argha akan menyimpannya sebagai lemak di tempat-tempat yang dibencinya.
“Ya.” Katanya seketika, dia tidak cukup tertarik pada Abhimanyu untuk berkenan makan nasi pada pukul dua belas malam. “Tidak ada makan lain?”
Abhimanyu melirik jam tangan G-Shock di pergelangan tangan kirinya, belum berangkat hingga mereka memutuskan ke mana mereka akan makan. “Kurasa tidak ada karena sudah lewat pukul dua belas. Kecuali makanan yang tidak akan kausukai.”
“Makanan tidak aku suka?” Ulang Argha dengan alis berkerut lalu mengernyit. “Maksudnya something fried, with oil dripping from them while eating with rice?” Tanyanya, berusaha tidak terdengar terlalu jijik pada prospek makanan itu.
Namun Abhimanyu tergelak, suaranya menyenangkan. Menggema di basemen yang sepi, memantul hingga kembali ke telinga Argha. Seolah ada beberapa Abhimanyu yang tertawa bersamaan.
“That,” Abhimanyu mengangguk, nampak geli. “Or junk food.”
“Ew. Nope.” Sahut Argha seketika, benar-benar tidak ingin makan makanan dengan komposisi pengawet dan bahan kimia serupa makanan lebih besar dari bahan segar di dalamnya. “No, no, no. No.” Dia bergidik.
“That's what I thought!” Abhimanyu memutar tubuhnya sedikit agar bisa menatap Argha di belakang.
“Kamu makan itu setiap malam?” Tanya Argha, wajahnya mengerut jijik dan Abhimanyu kembali tergelak. “That's deadass gross!”
“Tidak ada pilihan lain.” Abhimanyu mengedikkan bahunya lalu mengulurkan tangan; menepuk kepala Argha dari luar helmnya. “Aku terlalu lelah untuk memasak makanan setelah bekerja, apalagi sekarang aku harus bolak-balik ke Ubud.”
Argha membuka mulutnya, lalu menutupnya kembali. Tidak yakin apakah dia harus mengatakan ini. Dia baru saja hendak mengundang Abhimanyu ke vilanya, ke kamarnya, untuk makan malam. Dia memang sudah sinting. Dia menggeleng lalu berdeham.
“Ya sudah. Kita pulang. Nanti berhenti di rumahku. Aku beri makan. Tinggal hangatkan.” Katanya pada Abhimanyu, matanya berkilat dan Argha mengumpat dalam hati. Abhimanyu tidak bodoh, dia pasti tahu apa yang awalnya hendak ditawarkan Argha padanya.
Alisnya naik sebelah sebelum dia mengangguk. “Baiklah. Aku akan mengambil makanannya.” Katanya, berdeham dan tersenyum menggoda. “Lalu pulang. Begitu, 'kan?”
Argha mengangguk. Mengikuti permainan Abhimanyu. “Yap. Begitu. Benar.” Katanya tegas dan Abhimanyu tergelak, memutar tubuhnya ke depan dan menyalakan mesin motornya.
“Argha?” Tanyanya ketika motor meluncur ke arah pintu keluar basemen.
“Yaaa?” Balas Argha dari belakang, berusaha mengalahkan suara deru mesin motor Abhimanyu dan suara dengung angin yang mereka tembus.
“Kira-kira seberapa lama kau bisa bertahan untuk tidak menyentuhku?” Abhimanyu meliriknya dari spion.
“Maksudnya?” Tanya Argha, polos dan memeluk pinggang Abhimanyu erat—merasakan pemuda itu sejenak nyaris kehilangan kendali atas motornya. “Aku sedang menyentuhmu sekarang.” Dengan sengaja, menyelipkan jemarinya ke bawah jaket berkendara Abhimanyu.
“Fuck, don't!” Desis Abhimanyu dan Argha tersenyum senang—memangnya hanya Abhimanyu yang bisa memainkan permainan ini? “Argha!”
“Yaaa?” Tanya Argha manis, menyelipkan jemarinya ke balik kaus Abhimanyu yang menggeram kecil—telunjuknya menemukan pusar Abhimanyu, menyentuhnya dan memainkannya.
“Jangan!” Gerutu Abhimanyu saat mereka keluar dari basemen, ke arah pintu keluar Gourmet yang dijaga oleh pos Security.
Argha tidak berhenti. Sengaja membelai perut Abhimanyu dengan jemarinya, lembut dan menggoda saat mereka berpamitan pada Security. Membuat Abhimanyu bersuara seperti menahan buang air besar dan bergegas pergi dari sana setelah Argha memberi tahu mereka bahwa dia menitipkan mobilnya lagi di sana.
“Stop that!” Geram Abhimanyu dan Argha tergelak lembut, menyelipkan jemarinya ke balik pinggang celana Abhimanyu. “No, Babe!” Seru Abhimanyu, setengah merengek dan Argha tertawa. “Have mercy on me!”
“Baiklah,” Argha menarik tangannya dan tersenyum lebar pada Abhimanyu yang menatapnya di spion motor.
“You won't make it easy for me, eh?” Gerutu Abhimanyu, namun tetap tersenyum kecil dan Argha mendesah.
Who says it was easy for me too? Pikirnya nelangsa. Dia akhirnya menjawab. “Two can play the game, Abhimanyu.” Lalu mengedip dan Abhimanyu mendesah panjang.
“But you won't have sex with me?” Tanya Abhimanyu lagi dan Argha menghela napas dalam hati; mulai merasa bahwa semua sikap Abhimanyu ini hanya demi membawanya ke ranjang.
Jika ya, Abhimanyu melakukannya dengan sangat baik. Paling baik dari semua lelaki dan perempuan yang pernah dikencani Argha untuk seks.
“No.” Sahutnya, entah mengapa merasa suasana hatinya menjadi sedikit buruk. “Can we stop talking about sex?” Selanya sebelum Abhimanyu sempat bicara dan memalingkan wajah ketika menyadari tatapan Abhimanyu dari spion.
Mereka bersidiam sejenak sebelum Abhimanyu menurunkan tangan kirinya dari stang motor lalu mengusap tangan Argha di atas perutnya. Meremasnya hangat dan menepuk-nepuknya sayang.
“I didn't do everything I did only for sex.” Katanya, perlahan tapi karena mereka memelan untuk membelok, Argha bisa mendengarnya dan dia mengerjap. “Percayalah padaku.”
“The truth is that,” Abhimanyu berbisik ketika mereka akhirnya tiba di vila Argha, menunggu di depan pintu sementara Argha berdiri di hadapannya dengan barang bawaannya—hendak mengambilkan prep meal-nya untuk dimakan Abhimanyu.
“Yes?” Tanya Argha, berhenti untuk mendengarkan.
Mereka berdiri di halaman luar Argha, beberapa meter dari pintu masuk dalam suasana malam yang mulai hening. Angin cukup dingin, menyelip dari sela-sela pakaian Argha dan dia ingin bergegas masuk untuk makan. Namun juga tidak ingin melepaskan pandangan dari wajah Abhimanyu dan bola mata cokelatnya yang cantik.
Anak itu menunduk, nampak tidak yakin bagaimana menyuarakan isi kepalanya. Maka Argha menunggu di undakan terakhir vilanya, dengan tas di tangannya. Menatapnya lekat. Jantungnya berdebar, mereka begitu dekat dengan rumah Argha. Dia bisa saja mengundang Abhimanyu, tidur bersamanya. Menenggelamkan diri pada aroma tubuh Abhimanyu agar tidurnya lelap.
Namun Argha belum sepenuhnya yakin pada tujuan Abhimanyu. Bahkan jika dia sudah mengatakan sendiri bahwa tujuannya bukan seks. Manusia bisa mengatakan apa saja yang dibutuhkan untuk mendapatkan apa yang diinginkannya; memanipulasi. Dan Argha sudah tidak lagi ingin terjebak di sana.
Jika Abhimanyu memang tidak melakukan ini hanya untuk seks, maka dia harus membuktikannya pada Argha.
“The truth is that,” Abhimanyu menjilat bibirnya perlahan, nampak ragu sebelum menyugar rambutnya dan mendongak. Matanya bertemu dengan mata Argha; pandangan itu membuat Argha bergidik.
“I want you to be my first.”
Dan tidak perlu ahli untuk menjelaskan 'pertama' apa yang dimaksud Abhimanyu dalam kalimatnya.
“Is that too much to ask?” Tambahnya dan Argha tidak tahu apa yang harus dikatakannya pada Abhimanyu sebagai jawaban.
ps. ehe :p