Gemati 375
tw // atheism (anthropocentic) , manipulation , family issue . cw // OCD (R-OCD and W&C-OCD).
ps. jangan self-diagnosed, yaa! hubungi profesional jika kalian merasa butuh bantuan <3
Argha gugup.
Tidak sering, terakhir kali dia merasa gugup adalah ketika dia mengganti pakaiannya ke seragam chef cadangannya untuk memasak di depan Arsa Mahardika. Lelaki kurus yang ternyata memiliki ambisi dan talenta lebih besar dari kepalanya. Memasak untuk juru masak berbintang Michelin bukanlah hal yang mudah baginya, dia harus mempersiapkan diri sebaik mungkin agar performanya tidak buruk. Akhirnya berhasil menyajikan five course fine dining untuk Arsa dan Cedrik hari itu.
Dia ingat rasanya. Perutnya mulas, keringatnya dan napasnya terasa dingin. Persis yang dirasakannya ketika menempuh perjalanan dari Charles de Gaulle menuju Soekarno Hatta bertahun-tahun lalu, gelisah berusaha menahan tangisnya ketika dikabari tentang orang tuanya. Penerbangan panjang yang sangat menyiksa melintasi bumi hanya untuk melihat peti keduanya dimasukkan ke wadah kremasi.
Argha mendesah. Sejak di Indonesia, ingatan itu kembali menajam. Dia sering bermimpi berada di pesawat itu lagi, berdoa agar penerbangan bisa dipercepat. Lucu bagaimana dia sempat sangat percaya Tuhan akan menyelamatkannya. Dia bisa berada di sini semua karena usahanya sendiri, Tuhan tidak pernah memberikannya apa-apa kecuali mengambil segala yang penting dalam hidupnya.
Bahkan di saat paling rendah dalam hidupnya, dia berdoa memohon pertolongan pada Tuhan dan tidak mendapatkan apa pun. Maka Argha berhenti percaya, berhenti mencari Tuhan ketika dia membutuhkan apa pun. Dia lebih baik berjuang sendiri, mengurus dirinya sendiri karena berdoa saja pada Tuhan tidak akan membuatnya makan dan hidup.
Dia mengecek penampilannya sendiri di cermin. Dia akan menjemput Abhimanyu sebentar lagi, tadi lelaki itu bilang dia sedang bersiap-siap dan meminta Argha berangkat saja daripada menunggunya selesai. Abhimanyu ketiduran ketika menelepon Argha tadi, menemani Argha membereskan vilanya—membicarakan hal-hal random yang menghibur Argha.
Sekarang karena dia percaya pada Abhimanyu, nyaman berada di sekitarnya, Argha mulai merasa 'ketergantungan' padanya. Perasaan lemah yang mengekspos luka dan traumanya. Dia ingin Abhimanyu selalu mengabarinya, selalu didekatnya, selalu memastikan lelaki itu tidak akan... kehabisan rasa tertarik padanya.
Argha tidak terlalu menyukai sifatnya yang ini, tapi dia juga kesulitan mengontrolnya sekarang. Terlanjur mengendurkan pertahanan dirinya bersama Abhimanyu. Sekarang dia hanya bisa berharap Abhimanyu tidak akan melangkah pergi seperti... orang tuanya dan Yukio.
Karena Argha sungguh tidak ingin mengalami sakit itu lagi.
Dia berpikir sambil mengemudi menuju kos Abhimanyu, memikirkan perbedaan vital apa yang mungkin mereka miliki yang bisa memunculkan konflik. Abhimanyu juga hypersexual, sama seperti Argha—gairahnya meledak-ledak, bahkan lebih kuat dari Argha. Mungkin karena usianya baru dua puluh delapan dan seorang perjaka, masih penasaran setengah mati pada seks tidak peduli seberapa pun Argha berusaha menjelaskan bahwa seks hanyalah kegiatan biasa saja.
Jadi seks bukanlah masalah.
Agama juga sepertinya tidak karena Argha sudah sering memberikan jawaban yang menjurus, menunjukkan pada Abhimanyu bahwa dia tidak percaya Tuhan dan agama. Abhimanyu juga sepertinya tidak terlalu religius menjalani agamanya, santai dan kalem.
Argha menyentuh bibirnya, mengusapnya pelan dan merasakan pelembab bibir yang dibubuhkannya di sana seraya memutar kemudi untuk membelok ke jalan masuk kos Abhimanyu. Mungkin Argha harus mengajaknya bicara dengan serius, mencocokkan prinsip-prinsip mereka sebelum melangkah ke hubungan lebih lanjut; langkah pencegahan dari sakit hati berkepanjangan.
Dia membelok masuk ke gerbang yang terbuka, mengklakson sekali berharap Abhimanyu mendengarnya lalu merogoh clutch-nya untuk mencari ponsel. Dia menekan tombolnya, menyalakan layarnya dan melihat Abhimanyu belum menjawab pesannya maka Argha mengetik kembali.
Aku di depan. Sudah tiba. ketiknya lalu menekan kirim, menatap layarnya menunggu Abhimanyu daring dan membacanya.
Namun pesannya bergeming selama satu menit penuh dan alis Argha berkerut. Dia mendongak, menatap halaman kos Abhimanyu. Tempat itu besar, namun hanya ada tujuh kamar di sana dan terisi semua. Rata-rata pekerja Seminyak dan pasangan suami-istri yang membutuhkan akses fleksibel tanpa jam malam. Halamannya luas, cukup untuk parkir mobil kecil dan garasi bagi anak-anak kosan. Lorong kamarnya ditanami palem-palem pendek meneduh juga bebungaan tropis, membingkai jalan dari batu gosok berwarna putih-hitam. Di sela-selanya ditanami rumput yang rapi, dijaga dengan apik oleh pemilik yang juga tinggal di sana.
Argha melihat motor Abhimanyu terparkir di garasi depan, hafal plat nomornya dan ada stiker merek pakaian di sayap belakangnya. Berarti Abhimanyu di kos. Argha menekan tombol panggil, namun tidak diangkat. Perasaan cemas merangkak naik, dia memutuskan untuk mematikan mesin mobilnya. Menarik rem tangan, dia kemudian mencabut kunci setelah menekan Start Engine/Off dan bergegas keluar. Argha membawa clutch-nya, meninggalkan blazernya di dalam, disangkutkan di kepala tempat duduk dan bergegas melangkah ke kamar Abhimanyu di ujung lorong.
Ketika dia tiba, pintu kamar Abhimanyu terbuka setengah dan ada sepatu yang tidak dikenali Argha di undakannya. Dia melepas sepatunya, melangkah menaiki dua anak tangga ke teras kamar Abhimanyu dan mendengar percakapan antara dua orang.
Dia berhenti, persis sebelum tangannya membuka pintu. Sejenak, Argha mengintip dari celah pintu dan melihat postur tubuh lelaki yang lebih tinggi dari Abhimanyu. Menyadari bahwa itu Khrisna dari gagang kacamata dan gaya rambutnya. Maka Argha menghela napas, mundur dari pintu hendak memberi keduanya privasi membicarakan masalah personal mereka. Namun itu sebelum dia mendengar topik argumentasi kedua saudara itu.
“Tidak.” Abhimanyu menggeram dari dalam sana. Dia lalu melanjutkan dalam bahasa yang tidak dikenali Argha—mungkin bahasa Bali dan dari nadanya, dia benar-benar terganggu dan risih.
Argha kembali berbalik, berdiri di dekat pintu dengan khawatir. Toh dia tidak paham apa yang mereka bicarakan, siap menyela jika mereka kemudian memutuskan untuk saling tonjok. Percakapan mereka dalam bahasa Bali, sialnya sehingga Argha benar-benar tidak paham apa yang mereka ributkan. Dia berdiri di sana, dengan punggung menghadap pintu menunggu Abhimanyu dan Khrisna membereskan urusan mereka.
“Kataku tidak.” Abhimanyu meninggikan suaranya, sekarang terdengar sangat marah dan tersinggung. Suaranya bukan lagi suara Abhimanyu yang biasa, terdengar lebih berat dan parau oleh emosi. “Aku tidak mau bertemu Ibuk. Harus berapa kali kujelaskan pada Kakak aku tidak mau bertemu Ibuk, apa pun alasannya.”
Argha menahan napasnya. Ini urusan keluarga, pikirnya dan sedikit menjauh. Tidak enak jika menguping obrolan mereka. Argha tahu masalah istri pertama ayah Abhimanyu, mendengar cerita tentang bagaimana perempuan itu melampiaskan sakit hatinya pada ayah Abhimanyu ke anak kecil yang tidak paham apa pun.
Abhimanyu terdengar marah, sedikit gemetar ketika menolak permintaan kakaknya. Argha tidak terlalu bisa memahami bahasa Indonesia mereka karena menggunakan logat Bali yang kental dan pengucapan yang berbeda dari yang Argha pelajari, namun dia bisa mendengar betapa jengkelnya Abhimanyu.
“Kita coba,” Khrisna bersuara, sedikit memohon. “Sebentar saja. Kita selesaikan bersama Ibuk sebelum Kakak kembali ke Singapura.”
Abhimanyu menarik napas marah. “Jadi semua diburu-buru karena jadwal Kakak sibuk, ya?” Tanyanya dan Argha bisa mendengarnya mencibir saat mengatakan itu. “Memang, ya? Semua hal di keluarga ini harus memikirkan kesibukan Kakak, kebutuhan Kakak, semuanya harus disesuaikan dengan Kakak.”
“Utu,” bisik Khrisna, namun masih cukup keras untuk didengar Argha. Dia terdengar letih dan bingung. “Maksud Kakak...,” katanya lemah dan Argha tahu Khrisna tidak memiliki pembelaan apa pun; dia memang memprioritaskan dirinya sendiri.
Maka Argha memutuskan untuk melerai mereka, tidak mau merusak suasana hati Abhimanyu. Memangnya hanya Khrisna yang bisa egois mengenai kebutuhannya? Argha berdeham keras, mendorong pintu terbuka persis saat kedua saudara itu menoleh. Khrisna menatapnya, terbelalak—mungkin tidak menduga Argha akan muncul di kos adiknya.
“Hello, Khrisna.” Sapanya ramah dan lembut. “I apologize for eavesdropping your conversation but I can't help since you were shouting at each other.” Dia melangkah masuk dan menutup pintu di belakangnya.
“But from what I've heard,” Argha tersenyum memesona pada Khrisna yang balas menatapnya. “I believe Abhimanyu has already been very clear about what he wants?”
Rahang Khrisna sejenak mengencang lalu menghela napas. “It's something personal.” Sahutnya parau, menggambar garis antara dirinya dan Argha—terdengar seolah dia lebih paham tentang adiknya dibanding Argha.
“Yes, I agree.” Argha tersenyum tenang, menghela napas dan meletakkan clutch-nya di depan tubuh. “But I also believe that 'no' means 'no'. It doesn't mean 'convice me', Khrisna.”
Khrisna menatapnya dan sejenak Argha takut dia akan menyerang Argha. Dia bisa jadi lebih tua—jauh lebih tua, tapi tubuh Khrisna lebih tinggi dan bidang darinya. Tapi apakah lelaki seperti Khrisna adalah tipe yang menyerang dengan kekerasan? Argha pikir tidak, dia lebih ke arah diplomatis. Menyelesaikan masalah dengan kepala dingin, salah satu karyawan gemilang jika mengutip pendapat Sebastien.
Tapi menjadi sangat pintar, memiliki risikonya sendiri. Ketidak mampuan merasakan emosi, tidak mampu menyesuaikan diri dengan rekan kerja, menganggap semua orang bisa diatur dan lebih rendah darinya—dalam beberapa kasus ekstrim.
“Learn to respect your younger brother's decision.” Tambah Argha, perlahan namun tegas. Menggunakan nada yang selalu dia pakai jika harus menegur bawahan yang 'sok pintar'. “He's old enough to make his own without being told what to do.”
Khrisna masih menatapnya dan Argha bisa melihat pergulatan batin di matanya—dia ingin menjawab, Argha bisa melihatnya. Ingin menguliahi Argha mengenai betapa dia paham tentang kebutuhan adiknya, paham apa yang adiknya inginkan, dan bahwa keputusannyalah yang terbaik untuk Abhimanyu.
Argha membalas tatapannya tenang, menantangnya untuk mengatakan isi kepalanya. Dia sudah siap bersilat lidah di sana, membela Abhimanyu yang berdiri di depan Khrisna dengan wajah merah padam oleh amarah. Argha tidak tahu seberapa parah kerusakan yang disebabkan oleh pelepasan emosi salah sasaran ibu tiri Abhimanyu pada anak itu, tapi dari keengganannya bertemu dengan perempuan itu bahkan setelah dibujuk, Argha yakin cukup parah.
Namun akhirnya kakak Abhimanyu menghela napas dalam dan membuang wajah dari Argha, menatap adiknya dengan kekecewaan pekat di wajahnya. Argha menggertakkan gigi; tidak menyukai serangan emosi itu pada Abhimanyu dan bisa melihat efeknya saat itu juga. Kilatan rasa bersalah menyeruak di mata sewarna karamel Abhimanyu menyambut kekecewaan Khrisna yang sebenarnya sama sekali tidak beralasan.
“Dia tidak perlu bertanggung jawab atas kekecewaanmu.” Tegur Argha sekali lagi, mengepalkan tangannya. Jika dia menonjok Khrisna, apakah Khrisna akan membalasnya? “Dia memilih untuk tidak melakukannya, maka kau harus menghormati keputusannya alih-alih membuatnya merasa bersalah karena telah memprioritaskan dirinya sendiri.”
Khrisna mengerjap, menoleh pada Argha dengan terganggu. Argha memicingkan matanya, Khrisna memang anak ayah Abhimanyu jika begitu. Atau Khrisna tidak paham pada konsep 'menghormati' keputusan orang lain?
Dan sebelum mereka sempat berargumen, Abhimanyu membuka suaranya. Parau dan lelah. “Pulanglah, Kak. Aku tidak ingin bertemu denganmu.” Desahnya berat dan Argha bergegas menghampirinya, ingin menyokongnya jika terjatuh.
Khrisna menangkap gerakan itu dan jelas sekali takut. Argha tidak paham ketakutan apa yang berkilat di matanya dan bahkan kenapa dia merasa seperti itu, namun semuanya terjawab detik itu juga. Ketika Khrisna menyerah, berbalik dan hendak pergi dari sana; dia menyempatkan diri berhenti di depan pintu dan mengatakan:
“Dia berbahaya. Aku sudah memintamu menjaga jarak darinya.”
Argha menyunggingkan senyuman, memahami usaha Khrisna melakukannya karena dia menggunakan bahasa Inggris. Jelas ingin Argha tahu apa yang dipikirkannya tentang Argha. Tidak perlu Einstein untuk tahu siapa dia yang dimaksud Khrisna.
“Diam.” Bentak Abhimanyu pada kakaknya, mengepalkan tangannya di sisi tubuh dan siap menyerang kapan saja Khrisna memutuskan untuk mengetes keberuntungannya lagi.
Khrisna menatapnya, mengerutkan alisnya sebelum berbalik. “You've been warned.” Tambahnya dingin lalu melangkah pergi dari sana.
Setelahnya, hening. Abhimanyu gemetar di sisi Argha, menahan amarahnya. Argha mengulurkan lengannya, memeluk Abhimanyu erat walaupun pemuda itu tidak membalasnya karena marah. Argha mengusap punggungnya lembut, menenangkannya dengan perlahan dan menunggu amarahnya mereda perlahan.
“Maaf,” bisik Abhimanyu kemudian dan Argha menatapnya.
“Untuk?” Balasnya lembut, tersenyum.
“Kata-kata kakakku.” Abhimanyu menatapnya dari balik bulu matanya. Wajahnya merah padam oleh amarah, namun juga bersalah pada Argha karena kata-kata Khrisna yang sebenarnya sama sekali tidak membuat Argha tersinggung.
“Doudou,” bisik Argha, mengusap pipi Abhimanyu dengan tangannya lalu menepuknya sayang. “It takes more than that to hurt me,” dia mengedipkan sebelah matanya dan Abhimanyu mengerjap sebelum perlahan tersenyum. “It's pretty normal, by the way, to have someone thinks I'm not good for them. So, it's nothing.”
“I know,” dia kemudian menumpukan keningnya pada kening Argha, memeluk pinggangnya dan mengeratkan pelukannya; menarik Argha mendekat padanya. “I know, but still.” Bisiknya.
Argha terkekeh. “Kita akan makan malam, oke? Tidak boleh sedih.” Dia menepuk punggung Abhimanyu sayang lalu menyisiri rambut ikalnya. “Kita lupakan tentang kakakmu.”
Abhimanyu memeluknya, membenamkan wajahnya di ceruk leher Argha dan menarik napas dalam-dalam. Argha terkekeh, membalas pelukannya dan berharap dia bisa menenangkan Abhimanyu setelah serangan emosi Khrisna tadi. Mereka bersidiam dengan Abhimanyu mendekap Argha begitu erat selama beberapa menit di sana dan Argha tidak keberatan. Dia mengusap punggung Abhimanyu sayang, menyisir ikal rambutnya perlahan dan merasakan betapa dia sangat... terikat pada anak ini.
Argha memejamkan mata, menumpukan kepalanya di atas kepala Abhimanyu. Menghirup aroma samponya yang mulai terasa familiar. Merasakan hangat menjalar di tubuhnya, membuat ujung-ujung jemarinya berdenyar lembut. Argha menyukai Abhimanyu. Sangat menyukainya.
Mungkin memang sudah menyukainya di hari pertama lelaki itu mencuri perhatian Argha di Starbucks, mungkin sudah juga di hari kedua mereka bertemu di dapur Le Gourmet yang berantakan. Mungkin juga sudah di hari ketiga Argha menatapnya, berdiri di sisinya untuk melaksanakan servis—tidak ramah, namun tetap manis dan mengundang.
Mungkin juga sudah ketika Argha memojokkannya di dekat ruangan Arsa, melawan keinginan impulsifnya untuk mencondongkan tubuh dan mengecup Abhimanyu; mencuri satu ciuman saja dari sana untuk memuaskan rasa penasaran Argha pada rasa Abhimanyu.
Mungkin sudah, namun Argha tidak menyadarinya.
Dia tersenyum, mengecup kepala Abhimanyu dalam dan lama. Dia menghabiskan sembilan tahun untuk menangisi Yukio, berharap dia akan berubah pikiran dan kembali pada Argha. Siapa sangka sakit hati dan perjuangannya ternyata membuahkan hasil; bukan Yukio, namun semesta menggantinya dengan Abhimanyu.
“Je t'aime bien.” Bisik Argha lembut, selirih angin dengan helaian rambut Abhimanyu di wajahnya. I like you.
“Apa?” Tanya Abhimanyu, ternyata mendengarnya dan Argha tergelak.
Dia pengecut, karena sejauh ini hanya berani mengatakan perasaannya dalam bahasa Prancis—bahasa yang tidak dipahami Abhimanyu. Namun dia perlu memastikan bahwa Abhimanyu cukup serius padanya sebelum membuka diri karena sejak awal, anak itu terang-terangan menunjukkan bahwa dia menginginkan seks dari Argha.
Komitmen adalah hal yang menakutkan, dia dan Sebastien sepakat mengenai itu. Mendedikasikan seluruh hidup pada satu orang, menyesuaikan prinsip dan bahkan mewujudkan harapan bersama bukanlah hal yang mudah. Berlaku seumur hidup. Dia tidak mau melompat ke dalam sana sebelum memastikan bahwa pasangannya adalah orang yang tepat.
“Tidak apa-apa,” sahutnya lalu mengeratkan pelukannya sekali sebelum melepaskannya. “Kita pergi makan?”
Abhimanyu tersenyum, sudah nampak lebih baik. “Ayo,” katanya parau lalu melepas pelukannya pada Argha lalu meraih ponsel dan dompetnya—dia menyelipkan dompet ke saku belakang celananya dan ponsel ke saku sampingnya. “Biarkan aku yang mengemudi.” Dia mengulurkan tangan.
Argha mengangguk, memberikan Abhimanyu kunci mobilnya. “Kau baik-baik saja?” Tanyanya.
Anak itu menghela napas lalu mengangguk. “Baik.” Dia menoleh pada Argha lalu tanpa peringatan, merunduk untuk mencuri ciuman dari bibir Argha—melumatnya lembut dan lambat, meletakkan satu tangannya atas tulang ekor Argha.
“Sangat baik.” Bisiknya parau setelah mencium Argha.
Argha tersenyum, mengulurkan tangan dan mengusap bibir Abhimanyu dengan ibu jarinya. “Great then,” bisiknya lalu mengecup bibir itu sekali lagi; mendesah pada rasanya.
Abhimanyu merengkuh tubuhnya, mengecupi bibirnya perlahan. Merasakan Argha dalam tiap kecupannya, mengusap bibir Argha lembut dengan bibirnya, bahkan tersenyum dalam ciumannya. Argha mabuk, tidak pernah merasa begitu hanya karena ciuman. Kepalanya berputar, dia tertawa kecil ketika Abhimanyu mengecupi garis rahangnya main-main.
“We eat?” Tanyanya sekali lagi ketika Abhimanyu mengecup lehernya pelan dan sehalus sayap kupu-kupu.
“Can I eat you instead?” Tanya Abhimanyu, setengah merajuk dan Argha tergelak, menepuk pantatnya dengan gemas lalu meremasnya.
“Nope.” Sahutnya lalu mendorong Abhimanyu lembut dari atas tubuhnya, menolaknya dengan cukup tegas tanpa membuatnya tersinggung.
Abhimanyu mendesah, mengedikkan bahu lalu mendekatkan wajahnya ke Argha. “Can I have a kiss on my cheeks then?” Tanyanya manja dan Argha tergelak.
“This kiddie,” desah Argha lalu mengecup pipinya, lama lalu berpindah ke sisi satunya. “There. You happy?” Dia menepuk pipi Abhimanyu sayang.
“Here?” Abhimanyu menyeka rambutnya naik dari keningnya, menunjuk tempat itu. “One here, please?” Dia menunjukkan telunjuknya pada Argha, menatapnya dengan mata berbinar seperti seekor anak anjing menggemaskan.
Argha tergelak, mengecup keningnya sayang. “Happy now?” Tanyanya lagi.
Abhimanyu memajukan dagunya dan mengerucutkan bibirnya usil. “Here??” Tanyanya, menunjuk bibirnya dan Argha terkekeh.
“Kau rewel juga, ya?” Keluhnya bermain-main lalu mengecup bibir Abhimanyu, sengaja membuat suara decak keras ketika melakukannya dan Abhimanyu tertawa ceria; seperti bayi yang diberi permainan baru. “Sudah? Senang?”
“Senang.” Sahut Abhimanyu, meraih tangan Argha lalu mengecup buku jemarinya sayang dan mengusapnya—menggenggam telapak tangan Argha di kedua tangannya hingga hangat dan mengecupnya. “Aku suka sekali padamu.” Bisiknya.
Argha menahan napas. Itu pertama kalinya Abhimanyu mengungkapkan perasaannya. Bukannya Argha tidak tahu, dia selalu melihatnya dalam sorot mata Abhimanyu, dalam tindakannya, perhatiannya; namun mengucapkannya adalah hal yang berbeda sama sekali. Mengucapkan berarti mengakuinya, menerima perasaan itu.
Dia menatap Abhimanyu, tersenyum kecil. Jantungnya berkepak di dalam dadanya; kuat, namun dalam dan lambat. Sedikit menyakiti rusuknya, namun membuatnya merasa hangat.
“You do?” Tanyanya.
Abhimanyu mengangguk. “Very much.”
Argha merasa wajahnya menghangat dan senyuman di bibirnya terbit, hingga menyakiti otot pipinya. “Good.” Bisiknya tercekat, gugup. “Great.”
Abhimanyu berjalan di sisi Argha, memutuskan untuk memarkir mobil mereka di Le Gourmet dan berjalan kaki ke restoran ramen kesukaan Argha—walaupun dia tidak mengakuinya.
Sunset Road ramai, seperti biasa. Ada banyak wisatawan yang tumpah ruah ke jalanan menikmati suasana malam Kuta yang melegenda ke mancanegara walaupun Abhimanyu secara pribadi tidak yakin apa yang sebenarnya mereka nikmati di Kuta selain kemacetan dan lautan manusia.
Jika itu Abhimanyu, dia lebih suka pergi ke wilayah Bali yang lain. Singaraja misalnya dengan banyak air terjun eksotis yang tidak terjamah wisatawan, atau Tabanan. Kintamani. Ada banyak sekali wilayah Bali lain yang bisa dikunjungi namun wisatawan memilih untuk bedesakan di Kuta dan Ubud.
Abhimanyu menggenggam tangan Argha, mengayunkannya ceria sambil bersiul ketika melangkah di atas trotoar yang ramai. Sesekali harus maju ketika berpapasan dengan tamu lain, bersikap sopan dengan berdiri di depan Argha untuk menjaganya. Lelaki itu nampak santai namun tetap menarik, Abhimanyu melihat beberapa orang melirik Argha dan berhenti ketika bertemu mata dengan Abhimanyu.
Enak saja, mereka pikir mereka siapa bisa memandangi Argha seperti itu? Maka Abhimanyu menatap mereka, menunggu mereka menyadari tatapan Abhimanyu lalu memberikannya tatapan sinis; melirik mereka dari atas ke bawah, melirik kakinya lalu membuang wajah. Teknik yang selalu sukses mengusir pandangan tidak diinginkan.
Sementara Argha di sisinya, tidak terganggu sama sekali. Dia mengenakan kemeja lembut dengan dua kancing teratasnya terbuka. Memutuskan untuk tidak menggunakan blazernya. Kemeja itu berlengan panjang, longgar dan nyaman dalam cuaca Kuta yang sedikit gerah. Dia menyugar rambutnya yang sudah lumayan panjang, menyentuh telinganya beberapa kali dengan tangan kirinya yang juga menggenggam clutch, sementara tangan kanannya dalam genggaman Abhimanyu.
Restoran ramen kesukaan mereka tidak terlalu ramai, itu membuat Abhimanyu senang. Tidak ingin berdesakan dengan siapa-siapa malam ini, ingin memiliki malam yang lambat bersama Argha sebelum besok mereka kembali bekerja. Abhimanyu menyingkap penutup pintu di atas pintu masuk restoran, mempersilakan Argha mendahuluinya sementara dari dalam seseorang meneriakkan sambutan.
“いらっしゃいませ!” Welcome!
“Kau ingin duduk di sana lagi seperti kemarin?” Tanya Argha, berdiri di depannya dengan tangan mereka masih bertaut—Abhimanyu tidak lagi peduli pada pandangan orang-orang padanya, lagi pula mereka tidak menggaji Abhimanyu.
Abhimanyu melirik bar di depan open kitchen, membayangkan hawa panas yang bertiup ke wajahnya saat juru masak merebus mie membuatnya menggeleng. “Bisakah kita duduk di tempat yang lebih sepi?” Sahutnya.
Argha mengedarkan pandangannya dan menoleh, “Di sana?” Tanyanya, menunjuk kursi di sudut.
Kursi itu jauh dari pusat restoran dan nampaknya memberi mereka lebih banyak privasi, maka Abhimanyu mengangguk. Argha memintanya menunggu di sana sementara dia memesan makanan; sedikit bernostalgia menggunakan bahasa Jepang-nya pada pemilik restoran yang adalah orang Jepang asli.
Dia bahkan nampak sangat bersemangat menghampiri open kitchen di mana semua juru masak sedang mengurus pesanan. “こんばんは、おじいさん!” Good evening, Uncle! Sapanya dengan nada ramah.
Abhimanyu tersenyum, sejenak mengamati interaksi Argha dengan pemilik restoran yang menyambutnya dengan senang. Mengangguk-angguk sambil mengulurkan tangannya. Argha menyambut jabatan tangannya dengan sedikit gurat jijik di wajahnya yang Abhimanyu tahu, tidak bisa dikontrolnya. Namun dia berhasil untuk tidak bergegas mengelap tangannya, alih-alih dia meraih sehelai tisu di meja—dengan pelan-pelan dan lembut, mengelap tangannya seraya mengalihkan perhatian pemilik dari tangannya.
Mereka mengoceh dalam bahasa Jepang, sehingga Abhimanyu akhirnya memutuskan untuk duduk di kursi mereka dan menunggu. Argha masih tertawa di sana, mengangguk-angguk ceria ketika pemilik mengatakan sesuatu dalam bahasa Jepang yang panjang dan memusingkan—mungkin menceritakan masa mudanya.
Dia duduk di sana, bertopang dagu mengamati Argha yang masih mengobrol. Namun dengan mulus di bawah meja menyemprotkan antiseptik ke tangannya dan mengusapnya—membuat gerakan itu terlihat sangat natural. Abhimanyu jadi penasaran apa penyebab dari OCD Argha. Dia membaca tentang itu, menemukan ada beberapa sub-type OCD dan menyadari bahwa pengetahuannya tentang OCD selama ini masih sangat terbatas.
OCD secara sederhana adalah reaksi yang kompulsif akibat obsesi dari penderitanya. Obsesi pun ada bermacam-macam tipe; kebersihan, keteraturan, mengecek sesuatu, dan bahkan seks. Ada pula yang tipe obsessional di mana mereka memiliki pikiran-pikiran tidak nyaman mengenai sesuatu seperti tidak mau berada di urutan 13 karena angka itu berarti sial atau harus melangkah keluar dengan kaki kanan pertama agar tidak ada yang mati, melompati garis sebanyak tujuh kali jika tidak mau celaka—secara berlebihan hingga obsesif. Di beberapa kasus, ada pula obsesi terhadap penampilan, hubungan, bahkan kehidupan.
Abhimanyu selama ini berpikir OCD hanyalah sekadar suka keteraturan dan tidak suka kotor. Namun membaca beberapa jurnal tentang itu membuatnya menyadari bahwa hal itu jauh lebih kompleks. Lebih karena penderita tidak bisa menolong diri mereka sendiri untuk merasa seperti itu.
Seperti Argha, dia mungkin berusaha untuk menenangkan dirinya bahwa tidak ada bakteri atau kuman jika bersentuhan dengan seseorang. Tetapi otaknya sudah terlanjur menakut-takutinya dengan membayangkan bahwa dia akan sakit parah jika tidak mencuci tangannya, bahkan kematian. Membuatnya merasa jijik berlebihan hingga ke tahap sulit dikontrol dan menyulitkan kegiatan sehari-harinya.
Mempelajari itu membuat Abhimanyu bisa memposisikan dirinya di sekitar Argha. Dia membantu lelaki itu, berharap bisa memperingan rasa anxious di kepalanya. Abhimanyu memberikan Argha sandal rumah di kosnya, selalu membersihkan ruangan sebelum Argha menyentuh apa pun, menggosok kamar mandinya, juga menyediakan alat mandi baru untuk Argha—khusus diletakkan di kotak obat terbersih di kamar mandinya.
Dan dia senang ternyata usahanya berhasil membuat Argha nyaman.
“Maaf, lama.” Argha tiba di depannya, wajahnya memerah karena ceria dan langsung meraih botol antiseptik—menyemprotkan banyak-banyak ke tangannya dan mengusap keduanya, nampak lebih nyaman sekarang.
“Ini,” Abhimanyu mengulurkan tas kecil Argha yang terisi alat makan miliknya sendiri, sejak tadi dibawakannya untuk Argha.
“Trims, Doudou.” Sahutnya tulus, menerima kantung kecil itu. Isinya berdenting berisik ketika bergoyang; isinya adalah sendok, garpu, sepasang sumpit, dan sedotan stainless.
Semuanya, menurut Argha, selalu dicuci bersih dan dikeringkan sebelum digunakan. Sebastien juga memberikannya alat untuk mensterilisasi alat makannya yang membuat Argha semakin nyaman. Abhimanyu semakin penasaran pada isi vila Argha, pasti begitu bersih dan teratur.
“Aku memesankanmu sesame ramen dengan ekstra chicken chashu.” Dia mengeluarkan kotak tempatnya menyimpan alat makan dan menatanya di meja dan Abhimanyu mengamatinya dengan senyuman kecil di bibirnya. “Aku juga menambahkan nasi untukmu, karena kau suka makan.”
Abhimanyu tergelak pada kalimat terakhir. “Trims, Sayang.” Katanya, meraih botol antiseptik Argha dan membasuh tangannya sendiri sebelum menyentuh tangan Argha.
“Aku cepat hafal, 'kan?” Argha menyerigai, senang dan Abhimanyu mengangguk—hatinya hangat. Senang melihat betapa rileks Argha di sekitarnya hingga dia tidak lagi perlu repot-repot menggunakan topeng sensualitasnya.
Tapi dari yang diamati Abhimanyu sejauh ini, Argha memang secara natural menggoda. Pembawaannya begitu mengundang rasa penasaran, dia indah dan menakjubkan. Mencuri napas siapa saja yang berpapasan dengannya. Gerak-geriknya tanpa disengaja begitu sensual dan penuh misteri; membuat siapa saja merasa penasaran, Abhimanyu yakin dia tidak ingin menggoda siapa pun.
Dan dia senang—sedikit bangga bahwa Argha Mahawira yang mungkin bisa mengencani siapa pun yang diinginkannya di dunia ini, memilih dirinya. Dia bisa saja menunjuk seseorang dan orang itu akan langsung menuruti dirinya atau berbahagia dengan Sebastien yang kaya raya dengan dua ratus juta per bulannya.
Tapi tidak.
Dia memilih Abhimanyu.
“Argha?”
“Hm?”
“Terima kasih.” Karena memilihku.
“Untuk?”
Abhimanyu tersenyum. “Tidak tahu,” katanya menyugar rambutnya. “Aku hanya ingin berterima kasih padamu.”
Argha mengerjap, menatapnya sejenak dengan mata gelapnya yang serupa onyx yang mengilap setelah diasah sebelum senyuman terbit di bibirnya. “Kembali kasih, jika begitu.”
Argha begitu indah—sangat indah.
ps. ehe :3
French:
“Je t'aime bien” berarti “I like you”, berbeda dengan “Je t'aime” yang berarti “I love you”.