Gemati 327
// expeditionist , OCD.
ps. kalo jelek, yaudahlah ya wkwkwkwkwkwk T-T
“Bonjour, Doudou.”
Abhimanyu menoleh dari atas motornya dan Argha tersenyum. Lelaki itu baru saja tiba, persis lima menit setelah Argha memarkir mobilnya di basemen. Jam mereka tiba di restoran selalu berdekatan; terkadang malah bersamaan dan itu membuat Argha entah bagaimana, senang.
Dia belum paham perasaan apa yang sebenarnya dirasakannya untuk Abhimanyu dan terlalu takut untuk mendapatkan jawabannya. Argha menundanya, mendorong rasa penasaran itu ke balik kepalanya dan berusaha tidak memikirkannya.
Abhimanyu dengan rambut ikal berantakan, mencuat-cuat menggemaskan sebagai orang pertama yang dilihatnya sebelum bekerja selalu membuat Argha merasa hangat. Seperti sekarang, Abhimanyu tersenyum dengan helm menutupi kepalanya dengan ikalnya mencuat dari bawah helmnya. Dia mengenakan bomber jacket berwarna cokelat gelap yang memeluk tubuhnya dengan sempurna.
“Selamat pagi, Chef.” Sahutnya parau sebelum menurunkan masker di wajahnya dan tersenyum.
Argha menutup pintu mobilnya, membawa kantung makanannya yang terisi tiga potong quesadilla untuk Abhimanyu. “Semoga kamu belum sarapan?” Tanyanya, entah mengapa merasa... ceria hari ini.
Abhimanyu tergelak lembut, membuka helmnya. Dia menarik benda itu dari kepalanya, membiarkan rambutnya yang lemas dan lembut beriak—jatuh dengan perlahan di kedua sisi wajahnya. Beberapa anak rambut mencuat, seperti jambul kakak tua. Dia nampak segar, namun juga mengantuk. Jenis ekspresi yang membuat Argha ingin memeluknya, mendekapnya erat agar dia kembali tidur.
“Trims, Chef.” Katanya, menuruni motornya dan meletakkan helmnya di salah satu spion sebelum menghampiri Argha. Aroma parfumnya segar, ditambah aroma sabun mandi dan selapis keringatnya. “Saya sengaja tidak makan karena akan mendapatkan sarapan.”
Argha tersenyum, menatap anak itu dan mengulurkan kantung makanannya. Abhimanyu menerimanya. “Tadi malam tidur nyenyak?” Tanyanya ketika Abhimanyu membuka ritsleting kantung makanan untuk membongkarnya.
Dia mengangguk, berkutat dengan kotak makan dan Argha mendesah—mengulurkan tangan untuk membantunya mengeluarkan sepotong quesadilla dari dalam kotak makanan. “Nyenyak, Chef. Terima kasih.” Dia membawa makanan itu ke depan wajahnya, mengamatinya sejenak sebelum menghabiskannya dalam dua gigitan raksasa.
“Bagaimana dengan Anda?” Tanyanya, setengah mengunyah.
Argha mengamatinya, senyuman kecil bermain di bibirnya. Menahan keinginan kuat untuk mengulurkan tangan, menyisir rambut ikal Abhimanyu sebagaimana yang dilakukannya akhir pekan lalu ketika menemani Abhimanyu menangis. Merindukan bagaimana lembutnya rambut itu di sela-sela jemarinya, tidak seperti rambut lelaki pada umumnya yang cenderung kasar dan kaku.
“Kami duduk dulu, ya? Baru dimakan.” Keluhnya pada Abhimanyu yang mengepit tas makanan di ketiaknya, membawa kotak makan di tangan kirinya dan menggenggam quesadilla kedua di tangan kanannya. “Nanti tersedak.”
Abhimanyu menatapnya, pipinya bergerak mengunyah sisa makanan. “Bahasa Indonesia Anda lucu, Chef. Saya suka mendengarnya.” Dia terkekeh lalu tanpa peringatan sama sekali; mengulurkan tangan, mengusap kepala Argha dengan punggung tangannya yang bersih.
Lalu keduanya diam dengan tangan Abhimanyu beberapa senti di atas rambut Argha. Mereka berpandangan, sama-sama terkejut pada sentuhan itu.
Argha yakin itu bukanlah gerakan yang direncakanan Abhimanyu, dia hanya refleks melakukannya. Tidak sempat menahan dirinya sendiri dan itu membuat jantung Argha berdegup lebih kuat. Dia terbiasa disentuh—selalu disentuh bahkan. Sebastien mengusap kepalanya berkali-kali, mengecup keningnya, menyisiri rambutnya, bahkan membantunya membasuh sampo dari sana.
Tapi tidak ada satu pun sentuhan itu yang memberikan efek sama seperti yang diberikan oleh sentuhan Abhimanyu.
“Uh,” Abhimanyu menarik tangannya, nyaris menjatuhkan makanan di genggamannya lalu memalingkan wajah. “Maaf, saya tidak sengaja.” Gumamnya dan Argha menelan ludahnya dengan sulit.
“Tidak apa-apa.” Sahutnya kering, berdebar.
Dia membawa telapak tangannya ke dadanya, di atas kemejanya yang tiga kancing teratasnya terbuka dan merasakan debaran jantungnya yang lebih kuat dari biasanya. Abhimanyu bergerak mendahuluinya, menjauh dari Argha dan menyeret suasana kikuk di antara mereka. Argha menatap punggung Abhimanyu yang menjauh dengan perasaan tidak yakin.
Dia... gugup? Dan kenapa dia gugup?
Argha sudah berusia tiga puluh sembilan tahun, dia sudah yakin bahwa percintaan bukan lagi urusannya. Dia sudah menyerah, akan menghabiskan sisa hidupnya sendirian dan merindukan Yukio karena dia tahu tidak akan ada yang bisa menyentuh hatinya seperti apa yang dilakukan Yukio.
Usianya sudah begitu jauh dari percintaan anak muda yang merepotkan. Dia tidak ingin mengurus seseorang, berkomitmen hanya akan menyenangkannya, meletakkan harapan di tangannya, berjuang bersama; menghabiskan setiap hari bersamanya. Memberikannya akses untuk menghancurkan hati dan menjungkir balikkan hidupnya.
Argha sudah melewati masa itu, sudah cukup merasakan semuanya selama lima tahun bersama Yukio.
“Chef?”
Argha mengerjap, menoleh dan menemukan Abhimanyu yang merona berdiri di dalam boks lift. Sejak kapan dia tiba di sana? Ronanya begitu tipis, menghampar indah di atas wajahnya yang bulat dibingkai rambut ikalnya. Mata karamelnya berkilauan oleh rasa malu, kikuk, dan gelisah. Argha terserang perasaan impulsif ingin menghampirinya, memeluknya.
“Ya?” Tanyanya, parau. Selapis aroma tubuh Abhimanyu tertinggal di cuping hidungnya, meracuni otak dan paru-parunya tiap kali dia menarik napas—menolak untuk pergi.
Abhimanyu menatapnya. “Anda ikut bersama saya naik ke atas?”
Argha mengerjap. “Ah, ya. Sure.” Sahutnya, bergegas menghampiri Abhimanyu yang menahan lift terbuka untuknya walaupun dia merasa tidak terlalu ingin terjebak dalam restoran yang sepi bersama Abhimanyu setelah kejadian barusan.
Argha memasuki lift, berdiri di sisi Abhimanyu seraya menyugar rambutnya—menyamarkan gerakannya sendiri yang ingin menyentuh tempat di mana Abhimanyu menyentuhnya.
Selama dia menemani Abhimanyu kemarin, Argha tidak pernah disentuh. Dia hanya memfokuskan perhatiannya pada Abhimanyu; menyisiri rambutnya, mengusap wajahnya ketika dia sudah lelap. Abhimanyu tidak menyentuhnya. Mungkin karena dia sedang berduka untuk dirinya sendiri sehingga dia menyerap perhatian Argha sepenuhnya.
Dan Argha tidak keberatan. Dia hanya tidak siap pada efek dari sentuhan Abhimanyu padanya, setelah menghabiskan dua hari di kamar Abhimanyu yang beraroma pekat keringatnya, dengan pintu tertutup. Keintiman yang terjalin tanpa mereka sadari, membuat Argha sedikit gelisah.
Dia merasa dekat dengan Abhimanyu sekarang. Jenis kedekatan yang amatlah berbeda dengan yang dimilikinya bersama Sebastien. Kedekatan yang membuat Argha sedikit cemas—karena dia mungkin tahu ke arah mana semua ini bermuara.
Apakah dia siap?
“Chef?” Suara Abhimanyu menyadarkan Argha bahwa lift sudah berhenti dan terbuka.
“Oh, maaf.” Argha mengulaskan senyuman tipis sebelum bergegas keluar dari boks lift, kikuk. Menyadari benar kehadiran Abhimanyu di sisinya; hawa dan aroma tubuh Abhimanyu.
Mereka melangkah bersidiam, menyusuri lorong yang sudah menyala terang karena Security yang bertugas sudah menyalakan listrik utama gedung. Sebentar lagi Steward akan datang, Argha ingin dia sudah berada di dapur untuk mulai mengerjakan laporannya. Setiap hari, dia harus melaporkan cost control milik dapur yang nantinya akan dirangkum menjadi Weekly Report untuk diserahkan ke Kinan.
Aspek yang dilaporkan lumayan banyak dan rumit sehingga Argha memutuskan untuk mencicilnya saja. Semua format laporan di tempat ini dua kali lebih detail dari semua tempatnya bekerja dan jabatan Executive yang dipegangnya bukanlah hal sesederhana gaji dua dijit bagi Kinan. Fasilitas yang didapatkan karyawan benar-benar sesuai dengan pekerjaan mereka.
Abhimanyu membantunya mengerjakan laporan ini di masa-masa awal Argha beradaptasi dengan wajah masam dan aura permusuhan yang menggemaskan itu. Mengingat Abhimanyu sebagai second layer yang masam dan membencinya sekarang, membuat Argha tersenyum tipis. Karena Abhimanyu sekarang adalah anjing besar menggemaskan yang menyundulnya demi mendapatkan perhatian.
“Silakan, Chef.” Abhimanyu mengulurkan hanger dengan clothing jacket dengan tulisan perak binatu langganan restoran mereka ke arah Argha. Di hangernya terdapat tulisan rapi “ARGHA MAHAWIRA” sebagai penanda itu adalah seragamnya.
Argha menerimanya. “Trims, Abhimanyu.” Dia tersenyum lalu berbalik untuk memindai sidik jarinya di mesin pindai, pertanda bahwa dia mengambil seragamnya.
Abhimanyu mengekornya ke loker, berjalan beberapa senti di belakangnya. Cukup dekat untuk Argha mencium aroma parfumnya dan merasakan kehadirannya. Mereka memasuki loker yang sepi dan menutup pintunya. Mendadak Argha merasa sangat gelisah, dia menghela napas dan melirik Abhimanyu yang melangkah memasuki loker masih sambil mengunyah makanan yang dia kemaskan untuk Abhimanyu.
Ruangan itu sepi, bersih dan hanya ada mereka di sana. Terlepas dari Abhimanyu adalah seorang perjaka, Argha sangat menyadari percikan gairah di antara mereka. Prinsip Argha-lah satu-satunya hal yang menahan Argha agar tidak melempar Abhimanyu ke ranjang dan menuntaskan keinginan mereka berdua.
Dan dia masih merasa prinsip itu relevan, bahkan sekarang.
Abhimanyu masih perjaka, dia belum tahu seks yang sebenarnya seperti apa; ekspektasinya mungkin masih sangat tinggi tentang hubungan seksual. Mungkin juga kink-kink tersembunyi yang dia sendiri belum pahami aturan mainnya, tidak paham apakah itu aman atau tidak dilakukan bersama pasangannya, tanpa memilih dengan siapa dia bisa melakukan permainan seks itu.
Juga ikatan yang terjalin jika menjadi yang 'pertama' bagi mereka. Hal yang mustahil dihindari karena tubuh mengingat jauh lebih kuat daripada otak. Argha tidak terbangun tiap malam, merindukan pelukan Yukio selama satu bulan penuh setelah mereka berakhir tanpa alasan.
Hal yang menyelamatkan Argha dari 'ikatan' dengan orang pertama yang diajaknya bercinta adalah tubuhnya sudah lebih dahulu terikat dengan Yukio—ciuman pertama mereka, sentuhan Yukio, kecupan lembutnya, dekapannya, napasnya.... Semuanya terpeta di tubuh Argha, di semua tempat yang pernah Yukio sentuh.
Dia merasakan betapa intensnya ingatan tubuh terhadap seseorang hingga dia memutuskan bahwa dia tidak mau berurusan dengan mereka yang belum pernah bercinta. Argha sejauh ini berhasil menghindari mereka, mengasah radar yang membuatnya merasakan seorang perawan atau perjaka dan bergegas mengakhiri hubungan mereka.
Biasanya naif, berpikir seks adalah sesuatu yang luar biasa. Membuat mereka melayang ke langit ketujuh dengan multiple orgasm. Padahal hal yang kebanyakan terjadi adalah top hanya bertahan selama rata-rata lima hingga sepuluh menit sebelum seks berakhir. Parahnya lagi, tidak memberikan after care karena 1) tidak tahu bahwa itu harus dilakukan atau 2) memang tidak ingin repot-repot memastikan pasangannya merasakan hal yang sama karena kebutuhannya sudah terpenuhi.
Argha menemukan banyak sekali top semacam ini. Terkadang membuatnya senang karena ketika dia membutuhkan pengalih perhatian, top semacam ini sangat berguna. Tidak berisik, tidak banyak membutuhkan peran Argha.
Tidak semua, tentu saja. Sebastien adalah satu dari beberapa teman seks Argha yang bisa mengatur ritmenya sendiri, mengatur napasnya hingga dia bisa bertahan lebih lama dari lima menit dan memberikan Argha multiple orgasm. Sebastien adalah makhluk langka.
Dan memikirkan ekspektasi Abhimanyu tentang seks membuat Argha sedikit malas. Bukan berarti dia adalah bagian dari para lelaki yang hanya bertahan lima menit, dia bisa memberikan apa yang mungkin Abhimanyu butuhkan—tentu saja. Tapi tetap saja, dia tidak tertarik melakukannya.
Tapi, satu ciuman mungkin tidak akan menyakiti siapa pun, 'kan?
Argha membuka lokernya, menyimpan pakaian dan tasnya di sana. Dia kemudian membuka kemejanya, bersiap untuk menggantinya dengan seragam. Abhimanyu di sisinya, masih mengunyah quesadilla terakhir dari Argha dengan kekanakan—caranya mengunyah membuat Argha senang, dia lahap sekali. Membuat Argha kenyang hanya dengan melihatnya makan.
“Rasanya enak?” Tanya Argha, tidak bisa menahan dirinya sendiri—memecahkan gelembung kikuk mereka karena sentuhan Abhimanyu tadi.
Abhimanyu menoleh, seolah baru menyadari Argha di sana dengan pipi terisi makanan. Mengangguk, bergegas menelannya. “Tidak yakin apakah karena saya lapar atau memang makanan Anda enak, Chef.”
Argha memicingkan matanya, senang atmosfer mereka kembali rileks. “For your own safety, can we agree for the second reason?” Dia berpura-pura meregangkan jemarinya, seolah bersiap untuk memukuli Abhimanyu.
Pemuda itu tergelak, suaranya tinggi dan menggema di loker yang kosong. Argha menatapnya, tersenyum kecil—senang karena Abhimanyu sudah bisa tersenyum dan tertawa lagi setelah beberapa hari menghabiskan waktu untuk bermuram durja. Sebagian kecil hatinya, ingin mengabari Cedrik bahwa Abhimanyu baik-baik saja bersamanya.
Namun sebagian lain menganggap hal itu tidak penting. Cedrik bukan siapa-siapa untuk Abhimanyu, dia tidak perlu tahu. Sebaiknya Argha tidak mengembalikan perhatian Cedrik ke hal yang berusaha diajaknya berdamai.
“Alright, it does taste good, then. Not because I'm hungry.” Abhimanyu nyengir, menatap Argha dengan mata citrine-nya yang berkilauan. Dia kemudian membereskan kotak makan Argha. “Saya cuci dulu, besok saya kembalikan.”
Argha menarik napas, tidak yakin pada apa yang terjadi pada dirinya. “Saya tidak mau kalau tidak isi kembali.” Katanya, lalu mengerutkan kening; apakah kalimatnya masuk akal?
Abhimanyu menoleh. Nampak memahami kalimat kacau Argha. “Apakah itu cara Anda meminta saya membuatkan Anda sarapan besok?” Tanyanya, nampak ceria—matanya berkerlip, cantik sekali hingga Argha ingin mengulurkan tangan dan mengusap sisi wajahnya.
“And if I am?” Sahut Argha, menaikkan sebelah alisnya dan menyerigai—menyerah berusaha menggunakan bahasa Indonesia.
“Alright.” Abhimanyu nyengir. “Challenge accepted.” Dia mengulurkan tangan ke arah Argha yang terkekeh, menjabat tangannya dengan kuat sebagai tanda setuju.
Mereka kemudian berpandangan. Argha berpikir apakah Abhimanyu memikirkan apa yang Argha pikirkan? Betapa hubungan mereka sekarang membaik dengan sangat drastis? Tidak pernah membayangkan sous chef-nya yang pada hari pertama Argha melihatnya nampak seperti anak ayam kehilangan induknya di dapur, lalu menatapnya dengan penuh dendam dan amarah yang Argha yakin tidak akan padam hingga tujuh turunan Argha, kini tertawa bersamanya.
Tersenyum karena makanan buatan Argha, merona karena Argha, mengajaknya bersalaman, meminta Argha memeluknya saat sedih, berbaring di pangkuannya setelah lelah terisak...
Ajaib, bagaimana hidup membalikkan segalanya.
Argha menurunkan pertahanan dirinya, membiarkan Abhimanyu menggenggam tangannya lebih lama dan merasakan ibu jarinya membelai punggung tangan Argha dengan lembut; memutar, membentuk pola yang menenangkan.
Abhimanyu berdeham, matanya melirik Argha. “Argha?” Panggilnya parau dan perut Argha mengencang.
Ada sesuatu dari cara Abhimanyu menyebut namanya yang membuatnya seketika awas dan siaga, tertarik. Dia menatap Abhimanyu yang balas menatapnya, sesuatu di dasar perutnya berdenyar senang. Ingin mendengar Abhimanyu memanggil namanya lagi—dan lagi. Menempelkan bibirnya di kulit Argha, membisikkan namanya di atas permukaan kulitnya. Merasakan nama dan suara Abhimanyu di sana.
“Ya?” Tanyanya, tercekat.
Abhimanyu mencondongkan tubuhnya sedikit dan Argha otomatis mendekatkan tubuhnya, seolah ditarik oleh daya yang tidak disadarinya. Mereka berpandangan, Argha tahu apa yang harus dilakukannya. Dia tidak bodoh dan ini bukan roman picisan—dia hanya perlu mengulurkan tangan, meraih Abhimanyu dan menciumnya.
Memberikan apa yang mereka berdua inginkan. Argha menelan ludah, entah mengapa merasa gugup menghadapi Abhimanyu. Padahal dia selama ini mencium siapa saja dengan mudah; tidak pernah terlalu memikirkannya. Apakah karena Abhimanyu seorang perjaka? Atau... hal lain?
Abhimanyu mengulurkan tangan, menyentuh pinggul Argha dan Argha menarik napas tajam—merasakan panas tangan Abhimanyu menembus pakaiannya dan mengengat kulitnya. Dia mendekat, membirkan Abhimanyu meraih pinggangnya dan menariknya.
“Can I...?” Bisik Abhimanyu dan Argha mengangguk.
Tidak ada gunanya menolak. Dia menginginkan ini, bahkan memikirkannya tadi. Dia bisa mencium jejak aroma chili flakes di mulut Abhimanyu. Sejenak jijik memikirkan dia harus mencium mulut yang baru saja makan dan sebelum sempat melakukan apa pun, Abhimanyu menarik dirinya.
Argha mengerjap, disorientasi. Perasaan tertolak menghantamnya, kuat sekali hingga dia menarik napas tajam. Sekali lagi, sebelum sempat memikirkan atau mengatakan sesuatu, Abhimanyu mundur darinya. Menyambar sesuatu dari lokernya yang terbuka sebelum bergegas menuju wastafel dan di luar perkiraan Argha, berkumur.
Otaknya berusaha memprosesnya. Kenapa...? Apakah Abhimanyu menyadari OCD Argha? Atau dia hanya malu karena napasnya beraroma seperti bayam, keju, dan cabai kering?
Abhimanyu meraih mouth wash dan berkumur dengan secercah aroma mint menguar dari sana. Dia berkumur cukup lama sebelum membuang sisa mouth wash itu dan mengelap bibirnya.
”... Kenapa?” Bisik Argha, berdiri membeku di tempatnya menonton Abhimanyu mengeringkan tangannya di lap dan menyugar rambutnya.
Abhimanyu merona tipis. “Aku menyadari betapa kau... bersikap hati-hati dengan keadaan sekitarmu? Menyemprotkan antiseptik setiap tiga puluh menit sekali ke tanganmu? Ke meja? Ke semua benda yang kausentuh? Mencuci tangan selama lima menit penuh? Mencuci kakimu sebelum naik ke tempat tidur atau memasuki kosku? Membawa alat makan bahkan botol minummu sendiri?” Dia berdiri di depan Argha yang terpana.
“Tidak sulit menebaknya,” Abhimanyu berdeham, menolak menatap Argha karena rona semakin pekat di wajahnya. Dia berbisik dengan lembut—begitu lembut hingga Argha bisa merasakannya di permukaan kulitnya. “Aku mencari dan membaca beberapa artikel mengenai itu. Aku ingin... membuatmu merasa nyaman.”
Argha menatapnya. Bersumpah jantungnya berdebar dengan ritme yang sangat aneh—lambat, namun kuat hingga rusuknya terasa ngilu. Perhatian ini, perhatian malu-malu yang menggemaskan. Sesuatu yang asing dalam hidup Argha. Abhimanyu mengatakannya dengan begitu tulus dan memaknainya, ingin membuat Argha nyaman.
Seseorang baru saja mengatakan pada Argha bahwa dia rela mempelajari OCD demi membuat Argha nyaman.
Argha mengulurkan tangan, meraih kerah pakaian Abhimanyu dan menciumnya—keras, persis di bibir hingga Abhimanyu mengeluarkan suara tercekik keras sebelum mengulurkan lengannya, mendekap pinggang Argha. Mereka menggeram, Abhimanyu langsung mengambil alih kendali—selalu, tiap kali dia menyentuh Argha.
Dia mendorong Argha, menekannya ke loker yang dingin dan keras. Memenjarakan Argha di kedua lengannya yang kuat dan keras, menggeram di bibir Argha dan melumat lembut bibir bawahnya. Argha gemetar, menempelkan tubuhnya pada Abhimanyu; memeluk tengkuknya, menariknya semakin dekat.
“Aku membaca beberapa artikel mengenai itu.”
Argha menggeram keras, memangut bibir Abhimanyu hingga dia terkesiap dan menyelipkan lidahnya ke mulut Abhimanyu yang sekarang segar dan kesat. Dia menyentuh lidah Abhimanyu, membelitkan lidahnya ke sana dan menghisap lembut lidahnya. Memberikannya French kiss yang layak didapatkan Abhimanyu atas segala yang dilakukannya untuk Argha.
“Aku.... ingin membuatmu merasa nyaman.”
Dia ingin memeluk Abhimanyu, mendekapnya dan meremukkan semua tulang Abhimanyu karena dia sangat menggemaskan. Ini pertama kalinya, seseorang dengan begitu tulus mencari tahu OCD yang dimiliki Argha untuk memahami bagaimana caranya membantu untuk meringankannya.
Membuat Argha nyaman.
Abhimanyu mengerang dalam, mendekap Argha lebih dekat lagi ke tubuhnya. Menyelipkan lututnya ke antara kedua kaki Argha yang terengah dan merasakan tubuhnya yang menebal dengan dengusan dalam. Argha melepaskan ciuman mereka, tersengal karena sentuhan Abhimanyu di tubuhnya dan kesempatan itu digunakan Abhimanyu untuk menyentuh tubuh atasnya yang telanjang karena dia sedang berganti baju.
“Hmmm...” Bisik Abhimanyu dengan suara paraunya, mengecup bahu Argha yang terbuka dan meraih tangan Argha yang bebas, menyelipkannya masuk ke pakaiannya. “Here, Babe.” Bisiknya di telinga Argha ketika membawa jemari Argha ke tindik di dadanya.
Argha gemetar. Setengah mati menginginkan benda itu di mulutnya dan Abhimanyu tidak membuatnya mudah. Dia memilinnya dengan jemari, mendongak dan memejamkan mata ketika mendengar Abhimanyu mendesah oleh sentuhannya. Dengan ibu jarinya, Argha menekan tindik itu dan menggeram mendengar desahan Abhimanyu.
“Just a kiss,” sengal Argha ketika Abhimanyu mulai menggigiti tubuhnya. “We can't fuck here.”
Abhimanyu menggeram.
Argha tersenyum, “Not that I want to fuck you tho.”
Abhimanyu menarik wajahnya, memberengut. “Not that shit about a virgin again.” Protesnya dan Argha tergelak; sangat bergairah hingga tubuhnya nyeri, tapi prinsip adalah prinsip.
“Sorry, Doudou.” Argha menjulurkan lehernya, mengecup pipi Abhimanyu; dalam dan lama, lebih lama dari yang direncanakannya. “But I can give you a handjob.” Dia menjilat bibirnya, sengaja berlama-lama dan dengan cara paling sensual yang bisa dilakukannya.
Mata Abhimanyu berkilat dan Argha mengulurkan tangan, menyentuh selangkangannya. Abhimanyu mendesis oleh sentuhannya, terengah. Menghibur Argha. Dia sangat menginginkan Argha hingga tubuhnya nyeri dan tidak bisa menyembunyikannya.
“Menggemaskan sekali,” bisik Argha lalu mendengar suara seseorang yang melangkah di lorong di depan loker. “Come here,” bisiknya merendahkan suara dan memberi tanda agar Abhimanyu mengikutinya ke loker.
“Jika kita ketahuan, kita akan dipecat. Kau tahu itu, 'kan?” Katanya ketika mereka masuk ke bilik toilet dan Abhimanyu menguncinya.
Abhimanyu sejenak menelan ludah, takut sebelum kemudian menyerigai seperti orang sinting. “That makes it more exciting, doesn't it?.”
Dan Argha tergelak tanpa suara. Dia kebetulan bertemu perjaka seksi yang memiliki selera seks nyeleneh. Abhimanyu Candrakumara mungkin akan benar-benar jadi alasan kematian Argha dan dia dengan senang hati melompat ke Neraka.
“Pants down then, Doudou.” Argha menyerigai. “We're here for business.”
ps. ehe :33