Gemati 364
ps. carefuuuuuuul with youuuuuur heaaaaartt :p
Argha membuka matanya, menghela napas dan menguap tertahan. Terbangun di tengah malam karena haus dan menyadari seseorang memeluk pinggangnya erat, bernapas di dadanya.
Dia mengangkat wajahnya sedikit, menunduk dan melihat rambut ikal Abhimanyu di bawah dagunya. Abhimanyu meringkuk dalam pelukannya, menempelkan wajahnya di dada Argha dan mendengkur lembut seperti bola gendut yang hangat. Argha tersenyum, mendesah panjang lalu mengangkat tangannya—mengusap kepala Abhimanyu sayang. Dia pikir setelah semua pertunjukan kedewasaan Abhimanyu belakangan ini, dia akan berhenti menjadi little spoon ketika tidur.
Ternyata sama saja, selalu ingin menjadi little tiap kali Argha menemaninya tidur seperti saat Argha pertama bersamanya melalui kesedihannya tempo waktu. Tapi Argha tidak keberatan.
Dia merasakan Abhimanyu menggumam samar, mengeratkan pelukannya dan menyamankan dirinya dalam pelukan Argha. Juru masak senior itu terkekeh tanpa suara, memeluknya semakin erat dengan tubuhnya. Mengecup puncak kepalanya lalu menghela napas panjang—merasa nyaman untuk pertama kalinya.
Argha merasa hangat setelah sekian tahun. Akhirnya dia merasa diterima, merasa diinginkan, dan dibutuhkan secara tulus—bukan lagi karena hubungan seksual. Emosinya dihargai, kebutuhannya didengarkan. Seseorang benar-benar membuka kedua tangannya, menyambut Argha dan segala kekurangannya. Abhimanyu menyadarkan Argha bahwa dia masih bisa mencintai, bisa merelakan hubungannya yang sudah karam bersama Yukio dulu, dan bahwa dia layak untuk dicintai.
Bahkan ketika bersama Yukio, Argha tidak pernah menunjukkan sisinya yang manja. Selalu merasa dia harus dewasa agar Yukio bisa bersandar padanya. Namun Abhimanyu mengajarinya untuk melepaskan emosi itu, tidak memandangnya aneh atau menilainya buruk karena dia bersikap seperti itu di usianya yang sebentar lagi genap empat puluh. Secara naluriah bersikap lebih dewasa di beberapa kesempatan sehingga Argha merasa dia bisa bergantung pada Abhimanyu.
“Clingy jalur diabaikan orang tua atau terlalu dimanjakan orang tua?” Tanyanya tadi sebelum terlelap ketika Argha memeluknya, memejamkan mata tenggelam dalam aroma tubuhnya yang terasa sangat familiar.
“Terlalu dimanjakan orang tua,” sahut Argha terkekeh. Teringat bagaimana hidupnya sebelum semuanya jungkir balik; dia anak tunggal dari keluarga kaya dan memiliki orang tua langka yang selalu menyisihkan waktu mereka untuk mendengarkan Argha.
Mereka bahkan tidak memaksa Argha melanjutkan bisnis keluarga seperti kebanyakan orang. Ayahnya mempersilakan Argha memilih masa depannya sendiri dan memastikan Argha mendapatkan yang terbaik untuk meraihnya. Dia menyadari sekali hak khusus yang didapatkannya sejak lahir karena menjadi anak tunggal di keluarga hangat yang kaya.
Setelah orang tuanya meninggal, Argha kehilangan kendali atas hidupnya. Tidak bisa merasakan kehangatan itu lagi, kebingungan seperti anak burung yang baru menetas dan tidak menemukan ibunya di sarang. Lalu merasa bahwa dia harus bersikap tegar, harus kuat agar bisa tetap hidup dan bertahan. Dan kasih Yukio saat dia bersikap dewasa dan tenang, membuatnya yakin bahwa itulah yang seharusnya dilakukannya.
Dewasa dan tenang.
Namun Abhimanyu, anak manja menggemaskan yang bisa mendadak menjadi begitu pengertian dan dewasa, telah menyadarkan Argha. Dia tertawa ketika Argha bersikap manja dan menyebalkan. Mengecup tangannya, mengusap kepalanya sayang, memastikan Argha tidak terluka oleh tingkahnya sendiri.
Belum pernah ada seorang pun yang memperlakukannya begitu. Selalu menganggap karena Argha berusia tiga puluh sembilan tahun, maka dia harus diperlakukan seperti orang dewasa. Menjadi tempat bersandar dan tidak memberi Argha kesempatan untuk bersandar pada mereka ketika membutuhkan.
Ini mendesak Argha untuk mengambil posisi dewasa dan dominan dalam hubungan. Membuatnya takut untuk menunjukkan sisinya yang menginginkan perhatian. Akhirnya menyembunyikan sisi itu—yang kemudian dibangkitkan Abhimanyu dengan tindakan sesederhana mengusap kepalanya dan mengaitkan helm untuknya.
“Aku ingin memperbaiki diri,” katanya lagi tadi sebelum terlelap—setengah mengantuk. “Aku sudah terlalu menyakiti Cedrik selama dua tahun, aku ingin menjadi lebih baik. Aku tidak ingin siapa pun merasakan sakit yang dirasakan Cedrik. Kuharap... kau tidak keberatan?”
Jatuh cinta memang sederhana.
Argha tersenyum, menggeleng. Siapa pun alasannya, tidak masalah. Hal terpenting adalah Abhimanyu mau berubah dan belajar. Bersyukur dia memutuskan untuk belajar bersama Argha alih-alih kembali ke Cedrik. Abhimanyu paham bahwa kesempatannya untuk memperbaiki diri bersama Cedrik sudah habis.
“Kau juga... Dewasa.” Gumamnya, mulai terlelap dan Argha menimangnya sayang agar lekas tertidur. Menatap Abhimanyu yang menggumam setengah mengantuk dalam pelukannya dengan senyuman lebar di bibir. “Kau mengoreksiku dengan tegas, tidak pandang bulu. Tidak pernah... mewajarkan apa pun tingkahku? Memarahiku... Mengoreksi...” Dan dia akhirnya terlelap.
Menggemaskan sekali hingga Argha memeluknya erat, mengecup keningnya sayang. Memeluknya terasa seperti memeluk doudou—baby comforter. Membuat Argha merasa aman, nyaman, dan hangat. Aromanya manis dan lembut, pembawaannya hangat, mata serupa karamel yang sedang dilelehkan...
Teringat ketika dia melihat Cedrik di sisi Abhimanyu di Starbucks Reserve beberapa bulan lalu dan memutuskan untuk menyerah saja. Lalu dikejutkan pada fakta bahwa lelaki itu adalah second layer-nya yang sepat dan penuh dendam karena Argha dianggap merebut posisi yang diincarnya. Keadaan dapur ketika dia pertama kali berkunjung, kilatan rasa benci yang pekat dan mengejutkan di mata serupa karamel Abhimanyu.
Dan bagaimana Argha mendapati dirinya ikut campur terlalu dalam pada urusan pribadi Abhimanyu, mendesakkan dirinya ke ruang personal Abhimanyu hingga mendapatkan teguran keras, sebelum dia mundur. Sekuat tenaga menarik dirinya menjauh. Berharap dirinya benar-benar menyerah.
Hanya untuk mendapati dirinya tertarik semakin dalam pada pesona Abhimanyu; seperti laron mendekati cahaya dan kini berbaring di sisinya, di atas ranjang Abhimanyu; persis seperti apa yang selalu diimpikannya.
“Je t'adore.” Bisiknya, membenamkan wajahnya di rambut ikal Abhimanyu yang sedikit kusut—beraroma keringatnya dan secercah bau jalanan setelah makan malam tadi. “Tu es mignon.” Dia tersenyum, mengecup kepalanya lalu mendesah—memeluk Abhimanyu yang terasa seperti boneka Teddy raksasa dalam pelukannya.
“Je ne sais pas pourquoi je tombe profondément en toi...” Bisiknya, merasa lebih nyaman membisikannya dalam bahasa Prancis. Bahasa pertama yang digunakannya untuk melupakan bahasa Indonesia, selalu merasa lebih nyaman mengekspresikan diri dalam bahasa itu.
“Tu es juste là, et je te veux. Ça a l'air fou,” Argha tersenyum, memejamkan mata dengan pipi bersandar di rambut Abhimanyu yang terasa empuk seperti permen kapas. “Mais, ça ne me dérange pas d'être un peu fou de toi.”
Dia mendesah, memejamkan mata sebelum kemudian sedikit melepaskan Abhimanyu dari tubuhnya. Argha bangkit, menjulurkan tubuhnya ke meja di sisi ranjang untuk meraih ponsel mereka yang diletakkan bersebelahan—sedang diisi daya. Argha mencabutnya, mengusap kepala Abhimanyu sayang dengan tangannya yang bebas lalu membuka kunci layar ponselnya.
Dia membuka Whatsapp dan mencari ruang obrolan monolognya pada Yukio. Menyadari bahwa pesannya sudah terkirim dari tanda centang ganda di status pesan dan mendesah, Yukio tidak akan membalasnya lagi. Argha tahu. Argha paham. Dia seharusnya sudah melakukan ini sejak lama, melepaskan hubungan ini. Melepaskan Yukio. Berbahagia.
Tapi jika dia melakukannya dulu, apakah dia akan bertemu Abhimanyu? Mungkinkah jalan hidup membawanya kembali ke Indonesia untuk bekerja bersama chef berbintang Michelin dan bertemu Abhimanyu sebagai bonusnya?
Atau Argha mungkin memilih negara lain? Tidak bertemu Christian, tidak mendapatkan informasi bahwa Arsa Mahardika yang profilnya sempat Argha baca dengan kekaguman tulus, mencari kepala juru masak untuk restoran Prancis-nya yang baru. Memberikan alasan Argha untuk kembali ke Indonesia.
Dia teringat keraguannya, berbulan-bulan memikirkan penawaran itu. Memikirkan potensi kembali ke Indonesia dan mungkin bertemu salah satu saudaranya yang tamak. Tapi mungkin paman-pamannya sudah mati bertahun-tahun lalu, sepupu-sepupu Argha tidak akan mengenalinya, 'kan?
Argha terus mempertimbangkannya. Maju-mundur, tidak yakin sebelum akhirnya membulatkan tekad dan menerimanya. Syukurlah Arsa tidak muak menunggunya memutuskan karena ternyata dia juga sangat membutuhkan Argha, tergiur oleh referensi yang dicantumkan Argha pada curriculum vitae-nya.
“C'est probablement le moment. Le bon moment.” Gumamnya, menyisiri rambut Abhimanyu yang terlelap seperti bayi—sepertinya kelelahan. Mungkin inilah waktunya; waktu yang tepat untuk melepas Yukio, setelah Abhimanyu menyadarkannya.
Semesta menanti Argha bertemu Abhimanyu, membiarkannya berharap pada Yukio selama bertahun-tahun lalu meletakkan boneka lucu itu di pangkuan Argha dan mengambil Yukio darinya. Memberi tahu Argha, bahwa inilah saatnya dia berhenti.
Maka Argha menekan layar tempatnya mengetik pesan, menunggu hingga keyboard muncul dan menggantinya menjadi keyboard Jepang. Dia kemudian mulai mengetik:
Yukio, aku rasa inilah saatnya untuk aku berhenti...
Abhimanyu selalu tahu bahwa Argha Mahawira adalah lelaki paling indah yang pernah ditemuinya.
Namun tidak ada yang memperingati Abhimanyu tentang betapa indahnya wajah lelaki itu ketika baru bangun. Dia terlelap, satu tangannya memeluk Abhimanyu dan tangannya yang lain berada di atas perutnya—terlentang di kasur Abhimanyu dengan tubuh Abhimanyu meringkuk di pelukannya. Ternyata tetap berbaring dalam posisi yang sama sepanjang malam.
Abhimanyu bangkit dari posisinya, menelungkup dengan siku bertumpu di kasur menguap tertahan hanya untuk mengamati wajah Argha yang lelap. Matanya tertutup, bulu matanya yang panjang sedikit bergetar dalam tidurnya. Dia mendengkur, halus sekali seperti seekor kucing yang terlelap. Napasnya teratur dan aroma tubuhnya membuat Abhimanyu ingin membenamkan wajahnya di ceruk leher Argha—menghirupnya penuh-penuh.
Di luar, dia mendengar ibu kosnya mulai menyapu halaman. Kegiatan yang biasa dilakukannya sebelum mulai berdoa—membawa aroma dupa dan bebungaan, yang berarti ini sudah pukul enam pagi. Abhimanyu menguap sekali lagi, mengusap rambutnya yang mekar ke belakang dan menatap jam dinding. Benar, pukul enam lewat lima belas menit. Ibu kosnya selalu tepat waktu.
Biasanya, Abhimanyu akan bangun untuk membereskan kamar dan membeli sarapan. Atau mampir ke warung sayur beberapa meter dari kosnya untuk melihat apakah dia ingin memasak sesuatu. Tapi sekarang, dengan Argha di sisinya, beraroma lembut seperti ranjang, Abhimanyu tidak ingin bergeser sedikit pun.
Dia memeluk Argha kembali, mendesah senang dan menyusupkan kepalanya ke dada Argha; senang hingga kepalanya pening. Di luar dugaan, itu ternyata membangunkan Argha yang menghela napas berat dan parau sebelum berguling—memeluknya dan tergelak kecil.
“Morning, Sayang?” Bisiknya dengan suara baru bangunnya yang mendebarkan.
Abhimanyu nyaris mendesah dengan menyedihkan mendengar suara parau Argha itu. “Morning, Babe,” sahut Abhimanyu senang, memeluknya. “Tidur nyenyak?”
“Hmm,” gumam Argha lalu menguap tertahan, membenamkan wajahnya di rambut Abhimanyu—bermalas-malasan. Dia menyelipkan jemarinya di rambut di atas tengkuk Abhimanyu, menyisirnya lembut. “Ya. Terima kasih. Kau?” Tanyanya, mengecup puncak kepala Abhimanyu.
“Nyenyak juga, trims.” Abhimanyu tersenyum, membelitkan kakinya ke kaki Argha yang kembali tertawa; parau dan setengah mengantuk. Tidak mau melepaskan diri dari Argha sama sekali. “Maaf membangunkanmu.”
“Tidak masalah,” Argha mengangkat tangannya, menyugar rambutnya dan kembali menguap. “Ini jam berapa?” Tanyanya, kembali memeluk Abhimanyu seperti memeluk bantal.
“Jam enam lewat,” Abhimanyu mendongak, melihat Argha memejamkan mata dengan wajah mengantuk—ada tanda garis seprai di sisi pipinya. “Kau mau sarapan? Mandi?”
Argha menggeleng, berdecak jengkel. “Kamu diam saja, berisik.” Gerutunya, mengeratkan pelukannya dan Abhimanyu terkekeh.
Dia menikmati ini. Pagi malas di hari Senin libur mereka bersama Argha yang memeluknya. Aroma dan hangatnya tubuh Argha, suara parau baru bangunnya, kecupan di kepalanya; tidak pernah merasa sesenang ini. Hatinya terasa penuh sekarang, hingga dia yakin dia bisa melakukan apa saja selama Argha memeluknya dan mengecup kepalanya sayang.
Sebastien benar. Argha sudah jatuh sedikit terlalu dalam pada Abhimanyu; dia bisa merasakan perubahan sikap Argha padanya. Mungkin memang sejak awal Argha sudah menaruh perhatian padanya; namun Abhimanyu bersikap terlalu agresif pada perhatian Argha. Pesan-pesan bernada personal, perhatian kecil, godaan terang-terangan saat bekerja dan Abhimanyu yang mungkin saja takut, malah balik menyerangnya. Mendorong Argha menjauh darinya.
Tapi memang apa yang ditakdirkan menjadi milik Abhimanyu, akan mendekat pada Abhimanyu—tidak peduli bagaimana pun caranya dia mendorong Argha menjauh.
“Sayang,” panggilnya, mengusapkan wajahnya di dada Argha—senang.
“Hm?” Sahut Argha setengah menggumam dan mengantuk. “Kamu berisik. Mau minta apa?”
Abhimanyu terkekeh. “My grumpy darling,” dia mengangkat wajahnya sedikit, mengecup leher Argha. “Kau memang selalu marah-marah, ya? Menurutmu itu memang sifatmu atau bawaan usia?” Tanyanya iseng lalu mengaduh ketika Argha mencubit keras pantatnya.
“Bisa tidak kau sehari saja tidak membahas usiaku?” Ancamnya, mengatakan itu dengan gigi terkatup sambil mengeraskan cubitannya.
“Sayaaang!” Rengek Abhimanyu, mendesis sakit berusaha melepaskan capitan Argha di pantatnya. “Itu sakit, sungguh!” Abhimanyu menaikkan suaranya dan Argha melepaskan cubitannya yang sekuat capit kepiting.
“Jangan menyebalkan.” Tandas Argha, kemudian menepuk pantatnya dan mengusapnya; meremasnya sensual hingga Abhimanyu mendesis.
“Jangan menggodaku.” Keluhnya dan mendesah ketika tubuhnya bereaksi dengan sehat pada pagi hari serta sentuhan Argha. “Tuh, 'kan.” Dia menurunkan tangannya, membenahi posisi tubuhnya di dalam pakaiannya.
Mata Argha terbuka, tersenyum jahil ketika dia menurunkan tangan dan mengusap selangkangan Abhimanyu. “Wakey, wakey?” Bisiknya parau dan Abhimanyu berdecak jengkel.
“Jangan!” Bentaknya setengah hati, berusaha menjauhkan tangan Argha dari tubuhnya. “Argha!” Dia mendelik namun Argha tergelak tertahan. “Jika kau tidak akan membereskannya, maka jangan menggodanya.”
Argha mendesah, “Kata siapa?” Gumamnya, menyentakkan celana Abhimanyu terbuka lalu membungkus tubuhnya di bawah selimut dengan tangannya—tidak memberi Abhimanyu kesempatan untuk membela diri.
Dan Abhimanyu tidak keberatan.
Abhimanyu mendesis oleh sentuhan Argha, kepalanya mendongak ketika jemari Argha mulai membelainya. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Abhimanyu, membisikkan kata-kata kotor dengan begitu ahli seraya memijat tubuh Abhimanyu dengan perlahan—menyiksanya.
Abhimanyu tersengal, menumpukan keningnya di bahu Argha yang mengecupi sisi wajahnya dan menjilat telinganya. Terus membisikkan hal-hal kotor yang akan dilakukannya pada Abhimanyu sambil memberinya handjob dari surga. Tangan Argha yang lain terjepit di bawah lehernya, mengusap kepalanya dengan hangat.
“Ooh, fuck!” Geram Abhimanyu, membuka mulutnya dengan mata terpejam. Merasakan sentuhan Argha dengan seluruh indranya yang siaga.
Argha di telinganya mendenguskan senyuman lembut, mengusap ujung tubuh Abhimanyu dengan ibu jarinya. “I know, Doudou. I know.” Bisiknya dengan sedikit superior—paham bahwa dia baru saja melakukan sesuatu yang disukai Abhimanyu lalu menjilat telinganya.
Jadi mungkin, Abhimanyu tidak terlalu membutuhkan sarapan pagi ini karena beberapa menit kemudian, dia mendorong Argha berbaring di ranjangnya dan menyelipkan wajahnya di antara selangkangan Argha. Mendapat sarapan yang jauh lebih baik lagi. Sempat berjengit kaget ketika Argha membentaknya jengkel, memintanya menggunakan kondom.
Dia menurutinya, apa saja demi membuat Argha nyaman.
Argha memang tidak mau melakukan seks dengan seorang perjaka, tapi ternyata dia tidak menolak blowjob Abhimanyu. Malah sangat menikmatinya dari caranya memeluk kepala Abhimanyu dengan kedua tungkai langsingnya.
Dan Abhimanyu sama sekali tidak keberatan.
“I know, Babe. I know.” Sahutnya parau, meniru Argha seraya menyerigai ketika Argha mendesah panjang oleh kenikmatan karena mulutnya.
ps. ehe :p tidak semudah itu kisanak heuheuheu
French (jgn blg2 abhim y)
Je t'adore: I adore you
Tu es mignon: you're cute
Je ne sais pas pourquoi je tombe profondément en toi: I don't know why I fall deep into you
Tu es juste là, et je te veux. Ça a l'air fou mais, ça ne me dérange pas d'être un peu fou de toi: you are there and I want you. It sounds crazy, but I don't mind being a little crazy for you.