Gemati 387
ps. alur maju-mundur, pelan2 yaa bacanya biar gak bingung sksks also THIS IS THE TIME SKIP WE'RE ALL WAITING FOR YEAAAAH (?) pss. carefuuuuuuullll wittttthhh youuuur heaaartttt :P
Argha tidak ingat sejak kapan, tetapi sekarang Abhimanyu sudah nyaris terasa seperti kekasihnya.
Anak itu suka menceritakan hal-hal remeh, melemparkan gurauan yang terkadang sulit ditangkap kemampuan bahasa Indonesia Argha, juga menggenggam tangannya—yang terakhir, nyaris seperti obsesi. Di sekitar Argha, Abhimanyu selalu bersikap manis dan menyenangkan. Menatapnya dengan mata sewarna karamel yang berkilauan oleh emosi dan tersenyum lebar, memamerkan geliginya yang rapi setelah melakukan upacara Metatah setahun lalu.
“Mereka menggunakan kikir untuk meratakan gigiku,” dia mengangguk, bercerita tentang prosesi Metatah-nya pada Argha yang duduk di seberangnya di EDR pada jam makan siang. “Harus dilakukan sebelum matahari terbit. Konon agar tidak sakit.”
Argha menontonnya bicara, selalu begitu tiap Abhimanyu mulai berkicau seperti anak kecil. Khususnya ketika membicarakan molekular gastronominya, dia sangat menyukai pekerjaannya sekarang hingga Argha semakin paham mengapa Arsa menyayanginya. Dia sigap, senang menolong, dan tidak neko-neko dalam mengambil pekerjaan. Second layer yang mungkin semua supervisor butuhkan dalam bekerja.
“Tidakkah itu sakit?” Tanya Argha, mengelap sendok makannya sebelum menggunakannya untuk makan. Dia membawa piring sendiri, sudah meminta maaf pada teman-teman kerjanya mengenai ini karena dia tidak mau menggunakan piring yang sudah digunakan orang lain dan dicuci bersama sisa makanan menjijikkan.
Abhimanyu yang di sisi lain, sudah mulai menjejalkan makanan ke mulutnya dengan sangat kelaparan, menggeleng. “Tidak,” katanya dan Argha tersenyum karena pipinya bergerak-gerak ketika mengunyah. “Hanya sedikit ngilu saja, kok!”
Argha mengangguk, mulai menyendok makanannya dengan sedikit perasaan resah yang tidak bisa dikendalikannya tiap makan di tempat lain selain rumahnya sendiri. Takut piring atau sendoknya terkontaminasi kuman yang akan membuatnya sakit parah lalu dia akan—
Stop, Argha. Pikirnya menghela napas melalui mulutnya, menenangkan diri. Berharap Abhimanyu tidak menyadarinya, dia tersenyum dengan mata tertutup tapi Abhimanyu mendadak diam.
“Hei, kenapa?” Tanyanya lembut lalu mengulurkan tangan dan menepuk tangan Argha lembut. “Tanganmu gemetar. Kau mau aku mengganti makanannya? Mencuci ulang piringmu? Aku akan menggunakan air hangat.”
Argha menghela napas, tersenyum. “Tidak, seharusnya tidak masalah.” Dia menatap makanannya dan menelan ludah—kenapa belakangan ini dia jadi mudah anxious mengenai segala hal? Padahal biasanya dia mudah menenangkan OCD-nya dengan antiseptik.
Perasaannya juga sering gelisah, insomnia ringan sehingga Abhimanyu sering menemaninya hingga lelap dengan telepon—walaupun anak itu yang lebih sering tertidur duluan, tapi Argha menghargai ketulusannya. Dia pasti lelah setelah bekerja, namun masih mau menemani Argha. Kadang, dia tidur di kos Abhimanyu; satu-satunya tempat di mana dia bisa tidur lelap tanpa terbangun.
Pekerjaan mereka gemilang belakangan ini. Bahkan menyelesaikan servis untuk rombongan penting Gubernur Bali dengan sangat baik hingga Kinan sendiri membukakan satu botol wine tua untuk mereka nikmati selepas servis bersama dengan canape. Itu pertama kalinya Argha menikmati pesta bersama teman-temannya di dapur Le Gourmet dan semakin kagum pada kepemimpinan Kinan; dia sendiri yang menuang wine untuk semuanya, mengajak mereka bersulang dengan ceria dan membacakan GCC yang isinya gemilang.
Pemerintah Provinsi Bali bahkan menjanjikan Kinan lebih banyak bisnis kedepannya, menjamu tamu-tamu penting Provinsi walaupun Arsa tidak terlalu suka berurusan dengan pemerintah. Karena mereka cenderung suka menawar harga serendah-rendahnya lalu mencantumkan harga mahal di proposal agar bisa mengantongi selisih dananya. Dia dengan tegas meminta DOSM untuk memastikan harga pemerintah yang masuk tetap sesuai harga normal Gourmet.
Jadi dengan hal-hal baik semacam itu, Argha tidak paham mengapa perasaan gelisahnya semakin menjadi-jadi.
“Tidak,” Abhimanyu menggeleng tegas dan meraih piring Argha untuk menggantinya. Dia menuang makanan Argha ke piringnya tanpa sedikit pun berjengit jijik lalu bangkit menuju ke konter makanan.
Argha menghela napas, menatap makanan di nampan Abhimanyu yang penuh. Hari ini mereka makan chicken katsu dengan sambal matah dan sauteed vegetable—tidak terlalu masuk akal tapi Argha berkenan mengabaikannya. Abhimanyu sudah memiliki porsi makannya sendiri, banyak seperti biasa. Syukurlah Argha tidak makan banyak sehingga menyusahkannya.
Dia menoleh, menemukan Abhimanyu sedang mencuci piring Argha sendiri di diswasher milik EDR dengan air hangat dan tidak menggunakan sarung tangan kuning yang selalu Argha tidak sukai karena dipakai beberapa kali sebelum diganti.
Abhimanyu secara menakjubkan beradaptasi pada OCD Argha dengan sangat baik; dia punya satu liter antiseptik di kamarnya sekarang, membeli tiga set seprai baru untuk diganti tiap Argha berkunjung, dan memberinya selop kamar lembut berbentuk unicorn.
“Lucu, 'kan!?” Serunya ketika menunjukkan slipper itu maka Argha menerimanya dengan tawa rendah di bibirnya.
Dia juga rajin membereskan kamarnya, mengepel lantai, memastikan alat mandi cadangan Argha di kamarnya selalu bersih dan kering agar Argha nyaman. Dan itu membuat hatinya hangat; tidak bisa tidak membandingkan ketulusan Abhimanyu dan Yukio.
Mungkin karena hubungannya dan Yukio sudah di ujung tanduk saat itu sehingga mereka berdua hanya bersama karena sama-sama tidak yakin untuk melepaskan. Yukio tidak nampak benar-benar membantu Argha melewati masa-masa awal OCD-nya yang mengerikan dan sekarang, ada Abhimanyu.
“There you go!”
Argha mengerjap dan melihat piringnya diletakkan di hadapannya, digenggam Abhimanyu dengan dua helai tisu agar tangannya tidak langsung mengontaminasi permukaannya. Argha mendadak ingin menangis; tidak terbiasa menerima perhatian yang begitu banyak seperti ini. Dia berdeham, berusaha menelan gumpalan tidak nyaman di tenggorokannya dan tersenyum—jika Abhimanyu mengatakan sesuatu yang lembut sekali lagi, Argha mungkin akan benar-benar menitikkan air mata.
“Sudah cukup nyaman untukmu?” Tanyanya, berdiri di sisi Argha dan mengerjap—aroma parfumnya tercampur dengan sedikit rempah.
“Sudah, trims.” Sahut Argha parau, bergegas menerimanya agar tidak menyusahkan Abhimanyu lagi dan hendak meraih piring itu untuk mengisinya dengan makanan namun Abhimanyu dengan sigap meraihnya.
“A-a,” katanya, tersenyum lebar hingga kerutan muncul di pangkal hidung dan sudut matanya. Argha menghela napas, berusaha untuk tidak menangis karena itu akan sangat memalukan. “Akan kuambilkan makanan untukmu.” Dia mengedipkan sebelah matanya lalu melenggang ke konter makanan.
Dan untuk semakin membuat Argha terharu, dia tidak menyendokkan nasi untuk Argha. Alih-alih, dia menambah sayuran di piring Argha dan tidak membubuhkan sambal di atas katsu-nya. Abhimanyu masih menggenggam piring dengan tisu ketika meletakkannya di depan Argha.
“Porsinya pas?” Tanyanya lagi. Begitu tulus memastikan Argha nyaman.
Argha menatap makanannya dan tersenyum, sebenarnya terlalu banyak tapi tidak masalah. Dia bisa menghabiskannya agar Abhimanyu senang dan tidak lagi repot mengurusnya. “Cukup.” Katanya, mendongak. “Trims, Doudou.”
“My pleasure,” Abhimanyu akhirnya kembali duduk di kursinya dan memulai makannya sendiri.
Situasi belakangan ini tenang dan normal. Arsa beberapa kali datang berkunjung untuk mengecek dapur, nampak puas pada bagaimana Argha mengatur isi dapur dan menjaga flow makanan keluar dari dapur. Dia juga mengecek kebutuhan Abhimanyu di little lab-nya di sudut dapur, mencatat beberapa barang yang sudah habis dan usang untuk dibelikan yang baru. Karena tidak ada Cedrik, maka Arsa sendiri yang mengontrol Pastry.
Mereka memulai trial untuk buka pada jam Breakfast and Brunch (B&B) dengan mengusung tema Grab&Go ramah lingkungan sesuai dengan program pemerintah provinsi mengenai pengurangan sampah plastik. Semua makanan hanya akan dibungkus dalam satu kantung kertas daur ulang yang steril, mengajak pembeli untuk membawa tempat makan mereka sendiri atau membeli kemasan reusable dari mereka.
Argha sudah melihat sampel produk reusable mereka dan merasa harga serta kualitasnya bersaing. Nampak ringkas dan mudah dibawa, memberikan potensi untuk menjaring pelanggan tetap yang datang membawa tempat mereka sendiri.
“Ini strategi marketing yang sederhana, Bapak.” Kata Lisna, DOSM mereka ketika menjelaskan konsep penjualan B&B mereka di rapat Executive yang dihadiri Argha, dibantu dengan PPT yang menarik dan komunikatif.
“Jika begitu,” kata Teo di seberang Argha dengan mata memicing ke layar yang digunakan Lisna. “Kita bisa memberikan diskon untuk pembelian menggunakan kemasan dari kita, 'kan? Seperti Starbucks dan yang lainnya.”
“Diskon di tanggal tertentu juga bisa.” Tambah Cedrik berkeresak dari layar laptop yang menyala di depan Arsa, mengenakan earphone di telinganya. Dia sedang berada di vila atas laut yang indah dengan suara debur angin dan ombak yang konstan. Membuat Argha merindukan masa-masanya bekerja di Maladewa. “Meningkatkan penjualan di akhir bulan, berikan harga bottom saja.”
Kinan mengangguk di kepala meja, di sisi kanannya ada PA-nya yang cekatan sedang mengetik notulen rapat dan di sisi kirinya, Arsa bersidekap dalam balutan seragam chef-nya—nampak sedikit mengantuk.
“Diskon jika mereka membawa tempat sendiri juga bisa,” tambah Kinan, melepas kacamatanya dan memijat pangkal hidungnya; nampak letih dan Arsa mengulurkan tangan di bawah meja, memijat tangannya yang bebas. “Saya masih ingin meninjau ulang ide ini. Jadi saya tampung semua masukannya.”
“The menu has been prepared, we can have the sample now if you don't mind?” Tanya Argha ketika itu dan membawakan senampan makanan ke dalam ruang rapat terdiri atas pastry renyah yang lezat, pastry sandwhich, dan beberapa parfait yang menurut Argha akan memberikan sentuhan baru pada produk mereka.
“We will also serve chocolat chaud and latte,” Argha menambahkan ketika nampan kedua dibawa masuk. “Infused water is hit lately, so I decided to add them into the menu. Also flavored kombucha.”
Dan bisa melihat wajah Kinan yang puas karena gebrakan Argha. Dia tidak bisa mencicipi kombucha karena masalah kesehatan tapi dia menyukai kombinasi infused water buatan Argha. Rapat hari itu ditutup karena Kinan harus mengerjakan laporan dan mereka harus kembali mengecek dapur, akan dilanjutkan beberapa hari lagi.
Hasilnya memuaskan. Semua berjalan baik dalam hidup Argha belakangan ini dan dia juga akan bertemu Hikaru lagi dalam waktu dekat. Sebenarnya, hatinya sedikit berharap Yukio mungkin akan ikut bersama Hikaru sehingga dia bisa bertemu dan menyelesaikan hubungan mereka dengan baik. Namun dia juga tidak yakin bagaimana dia akan bersikap jika bertemu Yukio lagi, di hadapannya, setelah sembilan tahun lamanya.
Argha menatap makanannya. Mungkin prospek bertemu Hikaru kembali, seseorang yang dulu adalah bagian penting dalam hidupnya di Jepang membuatnya gelisah.
Cukup kuatkah perasaannya pada Abhimanyu untuk menahannya tidak goyah ketika masa lalu dilemparkan ke wajahnya?
Dia mendongak, menatap Abhimanyu yang sedang makan sambil bermain ponsel—selalu melakukannya padahal Argha sudah menegurnya. Dia suka makan sambil menonton video TikTok yang remeh dan kekanakan, kadang sambil menonton streamer bermain video games atau vlog misteri. Perbedaan generasi mereka membuat Argha sedikit geli karena Abhimanyu menikmati hidup dengan cara yang sangat berbeda dengan Argha.
Abhimanyu tertawa, menatap video di ponselnya dengan sendok di atas piring. Makanan baru dimakan sedikit dan dia sudah mengunyah makanannya, suara tawanya rendah dan geli. Argha tersenyum, mengamatinya melakukan sesuatu selalu membuatnya tenang dan bahagia.
Anak itu tenang dan cuek, tidak terlalu peduli urusan orang lain jika tidak diminta. Sedikit judes jika menurut anak-anak lain ketika Argha mengobrol dengan mereka. Mengklaim bahwa sebelum Argha masuk, Abhimanyu adalah head yang galak.
“Selalu marah-marah, Chef.” Bisik salah satu commis, melirik Abhimanyu yang sedang mengecek Commissary. “Jika benar-benar marah, dia akan membanting barang-barang. Dramatis sekali. Padahal sudah ditegur Bapak dan dipotong gajinya untuk mengganti rugi, tapi dilakukan lagi.”
“Mirip Chef Arsa,” tambah teman commis itu. Menatap Argha lalu melirik Abhimanyu sembunyi-sembunyi. “Kami sering memanggilnya Rangda* jika sedang kesal padanya. Jangan disampaikan, ya, Chef!” Tambahnya mendesis, sedikit takut karena keceplosan.
Argha tertawa parau mendengar panggilan itu. Abhimanyu-nya? Galak dan membanting barang-barang? Dia pasti berubah karena sesuatu belakangan ini. Dan dia tidak melakukannya, tidak menyampaikannya pada Abhimanyu bahkan ketika Abhimanyu menghujaninya dengan ciuman kecil-kecil yang memabukkan di ranjangnya.
Ada hal-hal yang perlu disampaikan pada supervisor untuk perbaikan diri, ada yang sebaiknya Argha simpan sendiri untuk penilaian pribadi atas seseorang sebagai atasan mereka.
Dia sudah beberapa kali ingin mengundang Abhimanyu ke vilanya, akhirnya memberi lelaki itu akses masuk dan bahkan sudah meletakkan sandal kamar di depan pintu untuknya. Memilih warna hijau tentara yang menurutnya cocok untuk Abhimanyu, menyiapkan sikat gigi baru di kamar mandi dan juga handuk baru digantungannya.
Tapi tiap kali Abhimanyu mengantarnya pulang, Argha tidak berani melakukannya. Tidak tahu mengapa, selalu tidak berhasil membuat dirinya sendiri mengatakan ajakan itu. Lalu menyesal setelah melihat Abhimanyu berlalu dari depan vilanya; kadang dalam motor besarnya atau kadang dengan mobil Argha yang dititipkan di kosnya jika Argha malas membawa kendaraan sendiri.
”... Tidak makan? Sayang? Halooo?”
Argha mengerjap, kembali ke masa kini dan tersenyum. “Maaf, memikirkan pekerjaan.” Katanya, menyugar rambutnya. Tidak sepenuhnya bohong karena dia memang harus memikirkan launching B&B mereka.
“Oh, aku pikir kau tidak nyaman dengan alat makanmu lagi,” Abhimanyu menghela napas.
“Tidak, ini oke.” Argha tersenyum, “Terima kasih, ya?”
Anak itu mengangguk, “Rileks sebentar, oke? Ini jam makan siang.” Abhimanyu menyerigai, menepuk bahunya hangat. “Jangan memikirkan pekerjaan. LIhat ini, kerutan ini. Bisa jadi permanen!” Dia berdecak penuh gurau, mengulurkan tangan dan mengusap kerutan di antara kedua alis Argha dengan ibu jarinya.
Argha tertawa parau oleh sentuhan itu. “Baiklah.” Katanya, menatap Abhimanyu lalu senyumannya pudar ketika mendengar suara musik TikTok dari ponsel Abhimanyu.
“This kiddie,” gerutunya sebal. “Habiskan makananmu dan berhenti menonton TikTok!” Bentaknya main-main sambil mendelik dan Abhimanyu tergelak.
Tempat itu megah, sangat di luar dugaan.
Suasananya menyenangkan, membuat siapa saja paham bahwa restoran itu diperuntukkan bagi mereka yang benar-benar makan untuk kualitas, bukan porsi. Mobil-mobil yang masuk menurunkan tamu di lobi depan, beberapa bahkan berjalan kaki namun dia tidak melihat seorang pun diperlakukan berbeda; semua tamu disambut sama, bermobil atau berjalan kaki.
Atmosfer mewahnya menyeruak hingga ke jalan raya, membuat semua orang menoleh dengan tertarik. Lampu kristalnya menyala keperakan; berpendar bersama lampu-lampu kuning yang disusun dengan komposisi tertentu untuk membentuk cahaya yang diinginkan.
Aroma pengharum ruangannya lembut, tidak menyengat. Mengundang perhatian dan membuat perasaan nyaman. Ada standing bouquet di depan pintu masuk, diisi peony gendut yang merekah cantik dan mawar lokal yang beraroma manis legit. Malam seolah bergerak begitu lambat dan magis di sini, bersama orang-orang yang tertawa bersama rekan makan mereka.
Anggur yang dibuka dan dituang, makanan hangat yang disajikan, suara tawa, obrolan rendah yang akrab, denting alat makan dan gelas. Semuanya bergerak dalam dinamis yang menyihir, membuat siapa saja merasa betah di dalamnya. Menikmati interiornya yang sedikit kuno dalam dominasi warna cokelat gelap yang hangat.
Sebuah mobil meluncur memasuki halaman restoran itu, jendela penumpangnya terbuka dan seseorang sedang mengamati tempat itu dengan takjub. Mobil berhenti di lobi dan seorang valet membantunya membuka pintu dengan sopan dan tenang.
“Welcome to Le Gourmet, Bali.” Sapanya tersenyum, membungkuk sedikit dengan sopan khas salam Asia.
Seragamnya rapi, tidak ada noda atau kusut di permukaannya. Mengenakan pin di dada kiri dan kanannya, termasuk name tag yang berwarna keemasan dengan tulisan yang tegas. Dia mengantarnya masuk, melewati pintu ganda yang terbuka untuk menemui seseorang dalam balutan seragam gelap yang sangat menarik hingga sejenak membuatnya mendesah karena ragawinya sangat mendebarkan.
Restoran itu jauh lebih megah dari kelihatannya. Tidak terlalu besar, namun berhasil menata interiornya sedemikian rupa hingga membuatnya nampak lega. Langit-langitnya tinggi, didominasi oleh jendela dan bata yang sengaja diberi kesan kasar. Penyejuk ruangan diatur di suhu yang nyaman, musik lembut mengalun namun tidak mengganggu pembicaraan pengunjung.
Orang menghela napas, senang pada tempat ini dan segala hal di dalamnya. Matanya bergerak mengelilingi ruangan, menemukan rak-rak anggur yang ditata rapi di belakang dekat dengan bar kecil yang terbuka. Pintu ke arah dapur tertutup, namun sesekali ketika anak servis mendorongnya untuk keluar, sekelebat pemandangan isi dapur nampak dari celahnya.
Meja-meja berbentuk bulat ditata di tengah ruangan, ada smoking area kecil di sayap barat dengan payung-payung kanvas hijau gelap dan lampu yang terang untuk mempernyaman makan mereka. Anak-anak servis berseragam gelap bergerak seanggun penari, tersenyum kecil dan tulus dalam melayani tamu yang nampak sangat menghargai mereka atas itu.
Restoran berbintang ini serius dalam melayani tamu dan dia tidak menyesal untuk memutuskan datang, memesan meja untuk dirinya sendiri.
“Hello, welcome to Le Gourmet, Bali.” Sapa lelaki di sisinya, tag namanya berkilat keemasan dengan nama 'Hadrian' di atasnya. Senyumannya berbentuk hati yang menggemaskan. “I'm Hadrian, the Restaurant Manager. Have you made a reservation before?”
Tamu itu mengangguk, melepas blazernya yang terasa panas dan mengaitkannya di lekukan lengannya. “Yes, I had.” Sahutnya lembut, kembali menatap ke restoran yang berkilauan.
“Can I have the chef served for me?” Tanyanya pada manajer di sisinya dan lelaki itu mengangguk ramah.
“Certainly. I'd inform the chef about your request.”
Dia tersenyum, “Excellent.” Gumamnya.
Memikirkan dia akan memesan anggur putih malam ini bersama makanannya. Anggur kesukaannya, minuman kesukaannya dengan alasan sentimentil. Tapi anggur putih tidak pernah salah jika dipadukan dengan makanan Prancis di restoran ini.
“May I have a name the reservation made under, please?” Tanya Hadrian lagi, lembut seraya mengangkat tab-nya untuk mengecek nama di sistem restoran mereka.
Tamu itu menghela napas, bergidik karena suhu penyejuk lebih dingin dari udara di luar. “Yes,” katanya dan menatap Hadrian dengan senyuman cerah di bibirnya.
“It's Yukio. Hirano Yukio.”
ps. ehe :p
- Rangda: setan Bali berbentuk raksasa dengan rambut panjang dan lidah panjang, mirip wewe gombel. local jokes, kalo marah dibilang “calingne renggah care rangde” (taringnya panjang/tajem, kayak rangda= omongannya pedes). jangan search kalo takut. tengs.