Gemati 338
careful with your heart :p
“Thank you for tonight, Team! Have a good rest, see you tomorrow.”
Argha melambaikan tangannya pada tim yang membubarkan dirinya setelah membeokan ucapan selamat tinggal. Argha tersenyum hangat seraya melepas toque di kepalanya dan menghela napas panjang. Tidak tertarik untuk bertemu Sebastien hari ini, tidak tertarik pada seks. Dia lelah, ingin berbaring saja. Mungkin dia harus meminta Sebastien mula mencari FWB baru karena belakangan ini perhatian Argha sudah tidak lagi pada seks dengan Sebastien.
Dia mengusap kepalanya, menyisiri rambutnya yang sedikit lembab setelah sekian jam terjebak di dalam penutup kepala dan memijat kulit kepalanya; memikirkan alasan apa yang harus digunakannya pada Sebastien untuk membatalkan hari ini.
Argha sedang menginginkan waktu sendiri. Memanjakan dirinya, menenangkan kepalanya, terlelap setelah segelas wine dan makanan yang sudah disiapkannya sebelum berangkat tadi; tinggal dihangatkan. Kepalanya berpikir ketika dia mengecek dapur yang mulai kosong sekali lagi; membayangkan tidur yang nyaman dalam dekapan seseorang.
Dan jelas bukan Sebastien.
Dia menghela napas, mematikan lampu di Steward sebelum melangkah keluar dari dapur sambil menarik lepas simpul apron di punggungnya. Dia orang terakhir yang keluar, biasanya melakukan last check dengan Abhimanyu. Argha merogoh saku celananya, sebaiknya membatalkan janjinya dengan segera daripada menyebabkan kekacauan. Walaupun dia paham Sebastien tidak akan marah karena hal semacam ini; dia lelaki paling santai yang pernah ditemui Argha.
Menekan nomor Sebastien, Argha melepas apronnya dan menyampirkannya di lekukan lengannya. Dia harus bertemu Hadrian sebelum pulang, mengecek reservasi dan closing hari ini; membantu Kinan yang sejak pagi nampak seperti macan sakit gigi. Dia tidak pernah marah; butuh lebih banyak cobaan untuk membuatnya menaikkan suara, tapi pagi ini dia membentak PA-nya karena hal sepele.
Bentakannya membuat seluruh restoran bersiaga dan bersikap hati-hati di depannya. Argha bersimpati pada Personal Assistant Kinan. Dia baru bekerja, setegang kawat, kaku, dan canggung. Mungkin Kinan memang benar-benar sudah pada batas maksimalnya: suaminya kembali harus mengonsumsi antidepresan dan Cedrik tidak ada di sini untuk membantunya. Dia juga pulang lebih awal tadi, sekitar pukul tujuh petang padahal biasanya dia akan ikut closing sebelum pulang.
“Biasanya jika tidak ada Chef Arsa, Cedrik yang bertanggung jawab sebagai Executive Head Chef untuk membantu Pak Kinan.” Jelas Abhimanyu tadi, ketika Argha iseng bertanya apa yang terjadi jika kondisi restoran timpang seperti sekarang.
“Jadi Pak Kinan mungkin sedang tertekan sekarang,” Abhimanyu menghela napas dan Argha mengamatinya. “Karena dia harus mengurus semuanya sendirian.”
Ada secercah nada sayang di kalimat Abhimanyu ketika membicarakan Arsa dan Kinan, nada yang sama yang dirasakan Argha pada semua karyawan saat membicarakan atasan mereka. Beberapa kali mengikuti outing sudah memberikan Argha pengetahuan seberapa dekatnya Arsa dan Kinan dengan karyawannya; mereka bukan bos, mereka pemimpin yang sangat mengayomi.
Argha juga sempat melihat Kinan duduk bersama salah satu Steward senior, mendengarkan permasalahan keluarganya. Juga mengirimkan bingkisan pribadi untuk semua karyawannya yang sudah berkeluarga ketika hari raya. Tidak mahal, tapi dia dan Arsa menulis tangan kartunya sendiri. Itu menunjukkan betapa dia menghargai semua karyawannya.
Argha sedang berusaha menemukan posisi nyamannya di perusahaan ini setelah berhasil menyamai ritme bekerja Arsa, berusaha menempatkan dirinya dengan benar serta bergabung dengan karyawan perusahaan.
Sejauh ini berhasil melakukannya dengan mulus walaupun bahasa Indonesia-nya masih kaku dan menyedihkan. Ajaib sekali bagaimana di hari Argha memutuskan dia akan berhenti menjadi seorang Indonesia, semua identitas aslinya lenyap begitu saja kecuali namanya. Argha sama sekali lupa caranya berkomunikasi dengan bahasa Indonesia setelah nyaris belasan tahun tidak menggunakan bahasa itu.
“Halo, Sayang?”
Argha mengerjap. “Oh, hai, Seb.” Katanya, mendorong pintu ke arah restoran dan melihat Hadrian di balik komputer sedang mengecek pesanan dan nota pembayaran agar balance ketika diserahkan ke Akunting pagi besok.
“Aku sepertinya tidak bisa datang hari ini,” desahnya dan memijat tengkuknya. “Aku lelah sekali.” Gerutunya dan bisa mendengar Sebastien merengek—bercanda. “Dan sepertinya kau bisa mulai mencari FWB baru mulai sekarang.”
“Ah, akhirnya kita tiba di pembicaraan ini,” erang Sebastien dari seberang sana namun Argha bisa mendengar senyuman di bibirnya. “Sejak kau menemani Abhimanyu menangis selama dua hari penuh tanpa mengirimiku pesan, aku sudah tahu aku harus mencari orang baru. Jadi, tidak masalah sama sekali.”
Argha menghela napas, senang sekali. Senang bahwa Sebastien orang yang sama persis dengannya dan tidak meributkan hal-hal sepele semacam ini. Tidak membuang-buang waktu Argha dan jaminan tetap berteman bahkan setelah ini.
“Baiklah,” Argha tersenyum, menyeberangi restoran yang sudah sepi dan remang menuju Hadrian. “Aku akan menghubungimu lagi nanti jika ada yang kubutuhkan.”
Sebastien tergelak serak. “Tentu saja, Sayang. Kontak aku kapan pun kau menyesal melepaskanku demi Abhimanyu.” Dia mendecakkan lidahnya genit dan Argha tergelak.
Dia menutup sambungan, menghampiri Hadrian yang keningnya berkerut. “Ada yang bisa kubantu?” Tanyanya, berdiri di sisi meja reservasi.
Pintu restoran sudah ditutup dan dikunci, tangga menuju ruang perusahaan pun sudah mati. Satu-satunya lampu yang menyala hanyalah lampu di atas kepala Hadrian dan Argha masih kagum bagaimana dia berani menghabiskan tengah malamnya sendirian di restoran yang gelap.
“Halo, Chef.” Hadrian mendongak, tersenyum ceria. “Laporan sudah saya kirim, hanya tinggal memastikan semua bukti debit disatukan dengan notanya untuk dicek Akunting lalu ditagihkan besok ke bank.” Dia menepuk tumpukan kertas di sisi meja yang diikat dengan karet gelang.
Argha mengangguk. “Kau tidak takut di sini sendirian?” Tanyanya, Argha biasanya membantu Hadrian karena dia membereskan dapur. Selalu bertemu Hadrian di loker, sudah menyelesaikan pekerjaannya.
Namun hari ini lumayan ramai sehingga Hadrian memulai closing-nya lebih lambat dari biasanya dan harus tinggal lebih lama. Argha memutuskan untuk menemaninya, sekalian mengobrol dengan Hadrian. Juga menunggu Abhimanyu mengabarinya.
Pesan terakhir yang dikirimkan Abhimanyu hanya sebelum servis, sepertinya dia sibuk sekali dan Argha juga tidak merasakan ponselnya bergetar tanda pesan masuk selama bekerja. Sedikit kesepian karena harus melakukan plating sendirian tanpa rekan mengobrol di sisinya.
“Tidak,” Hadrian tersenyum lebar. “Sudah terbiasa, Chef. Tidak ada yang aneh, kok. Saya sudah lama di Bali, hal-hal semacam itu sudah tidak lagi menakuti saya.” Dia kembali menghitung nota dan merapikannya, memasukannya ke kotak besi dengan kombinasi angka sebagai pengamannya.
“Anda sendiri, Chef?” Tanya Hadrian, mendongak setelah menyimpan bukti pembayaran itu di brangkas kecil di bawah meja reservasi. “Anda takut di sini sendirian?”
Argha mengangkat wajahnya, menatap restoran yang kosong. Semua kursi dinaikkan ke atas meja dalam posisi terbalik, lantai sudah dipel dan dibersihkan, vas-vas dijejerkan di sudut untuk besok kembali diisi air dan bunga segar, dan lampu utama mati. Hanya ada cahaya dari luar yang menyusup dari jendela, ditemani suara riuh jalanan Seminyak serta sayup obrolan dua Security yang berjaga di pos depan.
“Saya bahkan tidak percaya Tuhan.” Argha tersenyum dan Hadrian tergelak pelan—suaranya menggema dalam restoran yang hening.
“Ah, wine Anda, Chef.” Hadrian menoleh ke meja kecil di sisi komputer yang biasanya digunakan untuk meletakkan pesanan tamu yang akan diambil sebelum pulang.
Dia meraih hadiah Argha dan mengulurkan sebotol wine lokal Bali yang Argha dan Sebastien sukai itu, dikemas dengan cantik dan diikatkan pita bertuliskan 'LE GOURMET' megah di lehernya, ada tag kecil di pita itu berisi detail Le Gourmet. Simpel dan elegan.
“Terima kasih.” Argha menerima botol itu, merasakan beratnya dan mengecek tahunnya. “Wah, 2005.” Dia tersenyum, membayangkan betapa senangnya Sebastien atas hubungannya dengan Abhimanyu hingga dia mengeluarkan uang sebanyak itu untuknya.
“Pak Ricci memiliki selera yang bagus sekali tentang wine.” Komentar Hadrian sopan, tersenyum ketika mereka mulai meninggalkan ruang restoran menuju bagian karyawan.
Mereka kemudian berdampingan melangkah ke loker, berganti baju dan keluar dari restoran ke lift yang membawa mereka ke basemen. Argha tahu usia hubungan Hadrian dengan Khrisna, bagaimana dia dekat dengan Abhimanyu, juga hubungan anak itu dengan kakaknya.
“Tidak terlalu baik,” Hadrian mengeluarkan jaket dari tasnya, meringis. “Mereka berdua kikuk jika dihadapkan dengan ungkapan kasih sayang, belum lagi karena Kris kabur dari rumah dua tahun lalu dan tidak menjelaskan apa pun ke Abhimanyu.”
“Saya sendiri,” tambahnya ketika memasuki lift dan menekan tombol Basement. “Tidak yakin siapa yang harus disalahkan. Kris meninggalkan rumah karena masalahnya sendiri, perasaannya valid. Dia berhak untuk pergi dari tempat itu. Namun ternyata kepergiannya menimbulkan luka yang terlalu dalam untuk Abhimanyu. Membuat anak itu merasa diabaikan, ditinggalkan.”
Ingatan Argha melayang ke hari ketika dia menemukan Abhimanyu meringkuk di lantai kosannya, menangis hingga tersengal menggumamkan 'bagaimana denganku?' berulang-ulang di sela tangisnya. Argha pikir, dia pastilah tergantung begitu kuat pada Cedrik secara emosional hingga kepergian Cedrik membuatnya terluka begitu dalam.
Namun sekarang setelah mendengar cerita masa lalu Abhimanyu dari pihak selain pelaku, Argha memahami luka itu. Dan setuju pada Hadrian karena perasaan kedua kakak-beradik itu sama validnya. Abhimanyu merasa ditinggalkan karena Khrisna tidak menjelaskan apa pun, persis di hari kepulangan Abhimanyu ke Indonesia. Membuatnya terlihat seolah kehadiran Abhimanyu-lah yang mendorongnya pergi.
“Saya rasa,” Hadrian menghela napas. “Mereka perlu bicara dan saling memaafkan. Karena dalam kejadian itu tidak ada yang salah sama sekali. Mereka hanya salah paham.”
Argha mengangguk, meraih kunci mobilnya. “Saya setuju.” Gumamnya, memikirkan Abhimanyu dan Cedrik; lelaki itu berada di sisi Abhimanyu persis ketika dia membutuhkan sokongan.
Apakah jika Cedrik bukan aseksual dan Abhimanyu bukan hypersexual mereka akan menjadi pasangan serasi yang tidak mungkin dipisahkan? Dan Argha tidak akan memiliki kesempatan sama sekali ketika dia tiba, sangat terlambat, dua tahun kemudian?
“Keras kepala, mereka itu.” Hadrian terkekeh lembut, Argha bisa mendengar kasih sayang disuaranya ketika membicarakan Khrisna dan Abhimanyu. “Dalam Hindu, Khrisna adalah awatara atau wujud yang dipilih Dewa Wisnu untuk turun ke Bumi, menemani Arjuna dalam perang Bhratayuda, semacam penasihat dan ayah Arjuna selama perang. Dan Abhimanyu adalah anak Arjuna.”
Argha tertawa. “Kakek dan anak pertama lelaki memang tidak pernah akur.” Komentarnya dan Hadrian tertawa, berhenti di motornya lalu bersiap untuk pulang.
Argha membuka pintu mobilnya, memasukkan tasnya ke kursi penumpang lalu menyelipkan dirinya masuk. “Sampai bertemu besok, Hadrian.” Katanya tersenyum dan melambai kecil. “Selamat beristirahat.”
Hadrian mengangguk, sudah mengenakan jaket dan helmnya. “Anda juga, Chef.” Dia kemudian mendirikan motornya dan menyalakan mesinnya. “Saya duluan, Chef!” Pamitnya lalu memutar dan meluncur pergi.
Argha melambai, menutup pintunya dan menyelipkan kunci mobilnya. Mendesah ketika memutarnya lalu menekan tombol Start Engine hanya untuk mendapati mobilnya tidak bereaksi. Perutnya mencelos, sejenak panik dan berusaha menekan tombol itu lagi; mesin menggeram kecil sebelum kembali mati.
“Putain!” Geramnya, berpikir pastilah ada sesuatu yang salah dengan kelistrikan mobilnya—mungkin akinya butuh distrum sedikit agar responsif.
Dia memukul kemudi sekali dengan jengkel, berpikir bahwa pagi tadi mobilnya baik-baik saja lalu memutuskan untuk bertingkah persis setelah Argha sendirian. Dia merogoh tas tangannya, mencari ponsel untuk menghubungi Sebastien—memintanya menjemput Argha dan mengurus mobilnya besok. Dia lelah, hanya ingin mandi lalu berbaring dengan wine hadiah dari Sebastien tadi. Tapi sebelum dia sempat membuka kontak mencari nama Sebastien, motor menderum lembut memasuki ruang parkir dan Argha menoleh.
Motor itu meluncur ke dekat mobilnya, menggeram sebentar lalu mati. Argha mengamati motor itu hingga tiba ke sisi mobilnya dan menyadari Abhimanyu berada di atasnya, menaikkan kaca helmnya dengan wajah khawatir.
Rasa lega membanjiri tubuh Argha ketika melihat wajah familiar di sekitarnya. Dia menurunkan ponselnya, membatalkan panggilannya pada Sebastien dan menurunkan jendelanya.
“What's wrong?” Tanya Abhimanyu dengan suara sarat rasa cemas yang membuat dasar perut Argha berdesir; dia melepas helmnya, membebaskan rambut ikal menggemaskannya. “Kenapa belum pulang?”
Argha menghela napas. “Mobil rusak,” gerutunya. “Lihat, tidak nyala. Sudah dicoba tadi. Tapi juga tidak mau.” Dia mengulurkan tangan, membuka pintu pengemudi sehingga lampu kabin menyala; memberi ruang untuk Abhimanyu mengecek mobilnya.
Abhimanyu menuruni motornya, melepas helm untuk menghampiri Argha dan berdiri di sisinya—aroma tubuhnya seperti udara dingin, jalanan, dan secercah parfumnya. Dia merunduk, dekat dengan wajah Argha untuk melihat kemudi.
“Lihat.” Argha menekan tombol Start Engine sekali lagi, mobil menggeram meresponsnya sebelum kembali mati. “Tidak nyala. Tidak bisa pulang.” Dia mendesah, mendongak ke Abhimanyu di sisinya—setengah rambutnya, diselipkan ke belakang telinganya sementara dia mengerutkan alis.
Dia nampak begitu tampan hingga Argha ingin mendesah; alisnya berkerut, bibirnya membentuk garis tipis karena sedang serius dan ekspresinya tegas. Beraroma keringat yang anehnya membuat Argha ingin membenamkan diri ke dalam aroma itu. Membuatnya nyaman, melenturkan sarafnya yang tegang sejak tadi bekerja.
Abhimanyu menegakkan dirinya. “Tinggalkan saja di sini,” katanya kemudian menoleh ke Argha yang mengerutkan alis. “Kita telepon bengkel besok, sekarang sudah malam. Kau pasti lelah. Aku antar pulang saja.”
Argha sejenak diam. Jika dia mengizinkan Abhimanyu mengantarnya pulang, maka dia akan menjadi orang pertama di Bali yang mengetahui kediamanya. Apakah dia siap untuk itu? Kemungkinan Abhimanyu akan muncul begitu saja di depan vilanya karena dia punya akses? Apakah Argha nyaman atas itu?
Dia menghela napas. “Oke.” Katanya, meraih tasnya dan botol wine-nya—dia akan minum segelas malam ini, bayaran atas segala kesialan ini. Dia mematikan mesin mobil, menarik kuncinya dan keluar. “Tapi tidak punya helm. Tidak apa-apa?” Tanyanya ketika berdiri di sisi motor Abhimanyu.
“Tidak masalah, dekat kok.” Abhimanyu mengangguk. “Kita lewat jalan pintas saja. Aku tahu.”
Argha menatapnya sejenak, skeptis. Tidak yakin apakah berkendara dengan motor cukup aman untuk kepalanya jika tidak menggunakan helm. Tapi dibanding dia menunggu di sana atau pulang dengan orang yang tidak dikenal dalam taksi, motor Abhimanyu terdengar lebih aman.
“Percayalah padaku.” Abhimanyu tersenyum dan mengulurkan tangan, mengusap kepala Argha lembut. “Aku bisa mengendarai motorku dengan baik.” Senyumannya melebar, hingga matanya membentuk bulan sabit menggemaskan dengan kerut kipas di kedua ujungnya.
Jantungnya berdebar, memukul rusuknya kuat hingga Argha menghela napas tajam. Anak itu begitu menggemaskan, hangat, lembut; tidak seperti apa pun atau siapa pun yang Argha temui sepanjang hidupnya yang dingin dan asing. Abhimanyu nampak seperti rumah, dibesarkan oleh kedua orang tuanya dan juga dimanjakan semua orang di sekitarnya.
Sangat berlawanan dengan Argha yang menghabiskan sisa masa dewasanya sendirian, berusaha menghidupi dirinya sendiri sebagai yatim piatu. Tidak pernah mendapat belas kasih kehidupan atau dimanjakan siapa pun. Mungkin hidup mereka yang bertolak belakang itulah yang menarik mereka pada satu sama lain; Argha yang mendambakan kehangatan Abhimanyu dan Abhimanyu yang membutuhkan ketegasan serta dinginnya sikap Argha.
Argha tersenyum. “Oke kalau begitu.” Katanya lalu mengunci mobilnya, memasukan kuncinya ke dalam tas.
Abhimanyu membuka jaketnya, mengulurkannya ke Argha. “Pakaianmu terlalu tipis untuk berkendara dengan motor.” Katanya.
Argha menunduk, menatap kemeja suteranya lalu meringis. “Oke.” Katanya.
Abhimanyu mengambil alih tas dan botol anggur Argha; menggantungkan tasnya di atas tangki motor dan memegang botol anggur Argha. Mengamatinya mengenakan jaket berkendara Abhimanyu yang beraroma pekat seperti Abhimanyu, memeluknya dalam kehangatan yang familiar. Argha mendekap dirinya sendiri, senang menerima benda hangat itu.
“Here,” Abhimanyu tersenyum, mengulurkan botol anggur kembali ke Argha lalu mengambil helmnya. Dia membukanya, memasangkannya lembut ke kepala Argha, mengaitkannya hingga terdengar suara klik! nyaring lalu dengan jemari menyingkirkan sisa anak rambut di kening Argha.
“Nah. Kau siap untuk menundukkan jalanan sekarang.” Guraunya, menepuk kepala Argha dari luar helmnya.
Argha menatapnya, tidak bisa menahan senyuman lebarnya. Sejak kapan dia merasa sangat nyaman bersama Abhimanyu? Perasaan hangat yang pertama kali terbit di hatinya, memeluk benda itu dan membuat seluruh tubuh Argha berdenyar penuh kehangatan ketika Abhimanyu berada di sekitarnya.
Dia tidak lagi ingin menghubungi Yukio, tidak ingin mengingat kesedihan dan kehampaan selama Yukio tidak membalas pesannya. Refleks mencari Abhimanyu untuk meyakinkan dirinya bahwa dia tidak perlu kembali mengasihani dirinya sendiri. Karena sekarang ada Abhimanyu; anak kecil naif yang ternyata begitu lembut dan hangat—di luar dugaan Argha.
Percayalah padaku.
Usia mereka terpaut sangat jauh, Argha pikir dia mungkin akan berakhir menjadi babysitter untuk emosi Abhimanyu. Mengurus bayi yang akan merepotkannya. Namun dia sama sekali tidak siap ketika Abhimanyu berdiri, bertanggung jawab untuk Argha seperti sekarang.
“Tua dan dewasa adalah hal yang berbeda,” pikirnya ketika Abhimanyu menaiki motornya dan mendirikannya.
“Hop in, Babe.” Katanya, menoleh ke Argha—nampak sangat manis dengan rambut ikal membingkai wajahnya, mata serupa citrine yang berkilauan, dan senyuman lebar di bibirnya.
Dia mengulurkan tangan, membantu menurunkan kedua pijakan kaki untuk Argha sebelum mengembalikan tangannya ke stang motor. Argha menjulurkan kakinya, menumpukan satu tangannya di bahu Abhimanyu dan menarik dirinya duduk di jok belakang NMax Abhimanyu yang ternyata lebih besar dari yang dipikirkannya.
“Motormu besar. Sekali.” Gerutunya dan Abhimanyu tergelak.
“Tinggiku seratus delapan puluh lima, membawa motor selain motor besar akan membuatku nampak seperti gajah sirkus.” Abhimanyu memosisikan spion hingga mereka bisa bertatapan melalui refleksinya. “Siap?”
Argha mencengkeram bahunya karena tangan satunya memegang botol anggur tahun 2005 yang lebih mahal dari kepala Abhimanyu. “Tidak.” Katanya, setengah mencicit—secara tulus takut pada perjalanan ini.
“Tenanglah.” Abhimanyu memundurkan motornya dan Argha berjengit, sedikit takut. “Pegangan.” Katanya lalu terkekeh ketika Argha mencengkeram bahunya semakin kuat. “Di sini,” tambahnya meraih tangan Argha dan meletakkannya di pinggangnya.
Argha mendengus. “Sengaja, ya?” Tanyanya, setengah menuduh dan menatap ke spion yang memantulkan pandangan Abhimanyu. Tersenyum lebar hingga pipinya nyeri.
“Ketahuan, deh.” Abhimanyu nyengir lalu menyalakan mesinnya. “Kita meluncur mengantarkan Yang Mulia pulang ke kediamannya.” Gurau Abhimanyu ketika motor meluncur ke pintu keluar basemen restoran.
Mereka mengklakson Security yang berjaga malam itu, menitipkan mobil Argha di basemen dengan keadaan terkunci sebelum Abhimanyu mengendarai motornya bergabung ke jalanan Seminyak yang masih ramai. Argha di belakangnya, setengah terlindungi tubuh bidang Abhimanyu dari angin malam yang bahkan di balik jaket pun masih terasa sedikit menggigit.
“Abhim?” Tanya Argha kemudian, meninggikan suaranya agar Abhimanyu mendengarnya.
“Yaaa?” Balas Abhimanyu, melirik ke spion yang diarahkannya ke Argha. “Kenapa?”
“Siapa kasih tahu aku masih di parkir tadi?” Tanyanya, membalas tatapan Abhimanyu di spion motor.
Abhimanyu sejenak diam lalu mengedikkan bahunya, membelok ke jalanan kecil yang anehnya ramai. Pasti jalan pintas yang dikatakannya tadi. Dia nampak rileks berkendara dengan kecepatan 50km/jam tanpa helm dan jaket, sudah terbiasa melakukannya selama ini. Berbeda dengan Argha yang tidak pernah berkendara dengan motor selepas masa SMA-nya.
“Entahlah.” Katanya, menembus jalanan. “Aku hanya berpikir aku harus mampir ke Gourmet sebentar dan ketika aku bertanya, Security bilang kau belum keluar. Jadi aku memutuskan untuk mengecekmu.”
Argha diam sejenak lalu menghela napas. Senang Abhimanyu memutuskan untuk mampir dan mengeceknya, menemukan Argha persis sebelum dia meledak dalam emosi impulsif akibat kesialan tiba-tiba tadi
“Terima kasih, Abhimanyu.”
Abhimanyu menatapnya dari spion, mata mereka bertemu. “Kembali kasih, Argha.”
Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Abhimanyu. “Awas menabrak. Aku masih ingin hidup.” Katanya, menyamarkan keinginannya memeluk Abhimanyu dengan kecemasan menaiki sepeda motor.
Lelaki itu tergelak. “Tenang saja!”
Dan Argha percaya. Begitu saja.
ps. eheheh