Gourmet Meal 622

ps. kurang-lebihnya mohon dimaafkan, saya belum menikah soalnya :(


Jeongguk bersandar di dinding Merajan Griya Wisnu yang sekarang terasa semarak.

Di tengah halamannya yang luas, persis di depan patung Siwa Nataraja* setinggi 1x manusia, Wisnu dan Lakshmi sedang tertawa melaksanakan prosesi pernikahan mereka; Medagang-dagangan. Lakshmi sedang duduk di atas sabut kelapa, menawarkan hasil tani di hadapannya pada Wisnu. Mereka tidak berhenti tertawa sehingga para ibu-ibu yang membantu mereka melaksanakan semua prosesi pernikahan mereka mengomel jenaka dan memukul bahu Wisnu memintanya untuk serius. Namun kembali tertawa beberapa detik kemudian.

Jeongguk mengamati dari jauh, Taehyung berada di dekat kakaknya. Nampak sangat penuh oleh bahagia. Lakshmi mengenakan payas agung yang indah dengan bunga emas tinggi di kepalanya, bahunya terbuka—memamerkan betapa indah tubuh langsingnya. Binar bahagia tidak meninggalkan matanya sejak pagi walaupun dia dan Taehyung bertukar tangis di kamarnya sebelum penata rias datang.

Taehyung membantunya berkemas, memasukkan pakaiannya ke dalam koper untuk beberapa hari sebelum Lakshmi kembali mengambil sisanya. Jeongguk menemani keduanya di kamar, membantu mengemas pakaian Lakshmi dan memeluk keduanya ketika mereka menangis. Menghabiskan waktu bersama selama tiga puluh tahun lebih dan sekarang harus berpisah, pastilah sangat menguras air mata mereka. Taehyung nampak sangat sedih namun juga bahagia—terbelah dalam emosi yang tidak dipahaminya.

“Dia akan bahagia sekarang, ingat saja itu.” Jeongguk mengecup puncak kepala Taehyung dan tergelak tanpa suara ketika kedua saudara itu menangis dalam pelukannya. “Cup, cup.” Godanya geli.

Lakshmi luar biasa ketika riasan wajah menyentuh kulitnya. Tidak tebal, namun cukup untuk membuatnya nampak bersinar. Wisnu juga nampak sama bahagianya, senyuman lebar tidak meninggalkan bibirnya—mereka akhirnya menikah setelah sekian lama dipisahkan dan dijauhkan, berusaha dimanipulasi agar retak. Namun mereka berhasil.

Upacara dimulai dengan Ngekeb, yakni mempelai perempuan diluluri dengan lulur khusus sebelum memasuki kamar pengantin dan tidak diizinkan bertemu dengan pengantin pria. Prosesi ini bermakna mempelai perempuan telah mengubur masa lalunya dan siap menyambut masa depan bersama mempelai pria yang menjemputnya. Saat Wisnu tiba, Lakshmi dibantu keluar setelah sebelumnya ditutupi dengan selembar kain tipis kuning (Ngungkeb Lawang/Membuka Pintu) dan mereka kemudian menjalani sembilan rangkaian upacara di Merajan Wisnu, dipimpin oleh kakeknya setelah menyanyikan sloka Weda dan melemparkan daun sirih.

“Wah, Tugus ahlinya menusuk, ya?!” Goda seorang ibu dan semua orang beriak tertawa ketika Wisnu merobek tikar dadakan di pangkuan Lakshmi dengan keris sebagai tanda mereka sepakat. yang mengakhiri prosesi Medagang-dagangan atau bermain penjual-pembeli.

“Harus itu!” Dengus Wisnu bangga dan semua orang tertawa, ibu Wisnu memukul bahunya ringan namun tak ayal tertawa.

Lakshmi merona, namun tersenyum lebar ketika Wisnu menyimpan kembali kerisnya ke dalam sarung di bagian belakang pakaian menikahnya sebelum mereka mengambil tiga sarana kesuburan: talas, andong, dan kunyit untuk ditanam di belakang Kemulan (pura tempat beristananya Tiga Dewa Utama Hindu: Brahma, Wisnu, Siwa). Mereka kemudian berpindah ke prosesi selanjutnya ditemani para ibu yang tertawa dan sesekali melemparkan gurauan tidak senonoh.

“Kakakku menunggu lama sekali untuk ini,” kata adik Wisnu di sisi Jeongguk, menggendong anaknya yang lelap—kepalanya terkulai di bahunya.

Jeongguk mengangguk, tersenyum. “Mereka layak mendapatkan upacara yang lebih megah.”

Adik Wisnu tergelak. “Kakakku tidak terlalu memikirkan hal itu, dia hanya ingin secepatnya menikah. Mereka sudah dipisahkan begitu lama.” Dia juga tidak bisa melepaskan pandangan dari kedua mempelai di kejauhan, nampak bahagia dan terharu.

“Mereka sudah berhubungan berapa tahun?” Tanya Jeongguk karena pertama kali dia mengenal Taehyung, sepertinya Lakshmi sudah menjadi kekasih Wisnu.

Adiknya mengerutkan alis sejenak. “Mungkin sepuluh tahun? Dua belas?” Dia mengerjap. “Sudah lama sekali. Kami sempat melamar Mbok Gek dua kali sebelum ini dan keduanya ditolak mentah-mentah, syarat Tugung harus menikah lebih dulu dan semacamnya.” Adik Wisnu menghelap napas.

“Dua belas tahun.” Ulang Jeongguk sopan dan mendesah panjang. Bagaimana bisa ayah Taehyung bersikap sangat kejam dengan menahan pernikahan anaknya selama itu?

Dan yang lebih mengesankan adalah bagaimana Wisnu bersabar selama bertahun-tahun untuk Lakshmi yang bahkan seorang Astra. Jeongguk menghembuskan napas; Taehyung melepaskan kakaknya pada keluarga yang tepat. Jika mereka bisa bertahan 12 tahun, membiarkan anak sulung lelaki mereka menikahi seorang Astra, maka mereka pasti akan memperlakukan Lakshmi jauh lebih terhormat dari ayah kandungnya sendiri.

Jeongguk bisa melihat bagaimana ibu Wisnu mengemit lengan ibu Taehyung, menempel dengan kebaya sama dan riasan yang nyaris identik—tertawa-tawa kecil dan nampak bahagia.

Salahkah jika Jeongguk berpikir, ayah Taehyung-lah yang menahan semua orang dari bahagia mereka hanya karena dia sedang tidak bahagia? Mengerikan sekali bagaimana manusia bisa memproyeksikan ketidak bahagiaannya pada orang lain. Bagaimana jika seseorang tidak bahagia, dia berpikir orang lain juga tidak berhak bahagia.

“Akhirnya semua bahagia.” Adik Wisnu mendesah, mengusap punggung anak perempuannya yang lelap.

Jeongguk tersenyum menatapnya, menyaksikan pernikahan secara adat mereka yang hanya dihadiri keluarga Wisnu dan Lakshmi. Jeongguk merupakan satu-satunya tamu di luar kedua keluarga itu hari ini, didaulat menjadi supir mobil pernikahan mereka dari Puri ke Griya Wisnu dengan Taehyung di sisinya. Melihat Yaris-nya dihiasi setangkai tebu, selendang, dan bunga membuat Jeongguk menghela napas.

“Akhirnya.” Desah Jeongguk setuju.

Pernikahan Lakshmi memberikannya kebahagiaan, karena dia bisa merasakan betapa bahagianya Taehyung dan kakaknya hari ini. Mereka akhirnya mendapatkan apa yang selama ini mereka dambakan. Melepaskan diri dari satu-satunya neraka mereka di dunia ini, bergabung ke pasangan mereka masing-masing.

Taehyung berdiri dekat kakaknya, menemaninya berkeliling nyaris seperti terobsesi—antara ingin dan tidak ingin melepas kakaknya, satu-satunya saudaranya. Dia berdiri dekat kerumunan ketika Wisnu dan Lakshmi memutari api dengan Lakshmi menyangga keranjang anyaman di kedua tangannya, melangkah di belakang Wisnu yang memikul tegen-tegenan. Keduanya diikat dengan sabuk, mengelilingi api seraya tergelak sebanyak tujuh kali sebagai simbol memulai perjalanan pernikahan mereka.

Jeongguk masih menyaksikan dari jauh ketika akhirnya kedua mempelai naik untuk natab sesaji pernikahan mereka dan Taehyung untuk pertama kalinya sejak dimulainya rangkaian pernikahan, mendongak mencarinya. Jeongguk tersenyum, bersidekap dan menatap Taehyung—menunggu kekasihnya menyadari pandangannya.

Dia nampak indah sekali dalam balutan kemeja safari berwarna putih dengan kain bermotif yang sama dengan Jeongguk—mereka memberanikan diri menggunakannya karena ibu Taehyung juga menggunakan kain yang sama. Taehyung mengenakan kain ayahnya dan Jeongguk mengenakan kain Taehyung. Ada bulu merak di udeng-nya dan wajahnya merah padam—karena adrenalin, bahagia, dan matahari yang mulai terik.

Taehyung menyadari tatapan Jeongguk dan menoleh, mata mereka bertemu dan Taehyung tersenyum lebar. Jeongguk tidak akan pernah terbiasa melihat betapa berkilauannya Taehyung sekarang; setelah terbebas dari ayah kandungnya, memberikan bahagia yang dijanjikannya untuk kakaknya dan siap menyambut bahagianya sendiri.

Dia seperti matahari; memancarkan sinar menyilaukan dan menghangatkan Jeongguk setiap kali dia tersenyum. Jeongguk akan selalu berotasi di sekitar Taehyung, tidak sudi melepaskan diri setelah segala naik-turun terjal yang mereka lewati selama ini.

Dia menyeka keringat di hidung dan bagian atas bibirnya sebelum melompat turun dari bale pawedaan dan menghampiri Jeongguk yang tersenyum. Adik Wisnu berpamitan, hendak membaringkan anaknya di kamar karena kakinya lelah. Jeongguk mengangguk, mempersilakannya sebelum mendongak dan Taehyung sejenak berhenti di beberapa titik, menyapa keluarga Wisnu dan tertawa-tawa. Menepuk bahu mereka sebelum berpamitan hendak menghampiri Jeongguk.

Dia melangkah ke arah Jeongguk, kainnya berdesir di sisi kedua kakinya. Tersibak ketika dia melangkah dengan kaki terbalut sandal selop kulit. Dia nampak luar biasa hari ini, wajahnya diberikan sentuhan sedikit riasan wajah untuk membuatnya terlihat segar sepanjang upacara.

Aroma dupa, bunga, dan perayaan terasa menyesakkan. Semua orang mengobrol dan tertawa, ikut berbahagia dengan kedua mempelai dan keluarga. Ibu Taehyung duduk di dekat bale pawedaan, menemani anak perempuannya—menatapnya dengan sendu, mungkin juga tidak menyangka anaknya akhirnya menikah. Di pangkuannya ada kotak beledu merah, terisi perhiasan yang akan diberikannya ke Lakshmi di akhir prosesi sebagai 'bekal' untuk anak gadisnya.

“Hai.” Sapa Jeongguk lembut, menatap Taehyung yang akhirnya tiba di hadapannya—membawa aroma pekat dupa harum dan kenanga. “Kau mau duduk?” Tanyanya, mengerling tempat kosong di sisinya yang tadi diisi oleh adik Wisnu.

Taehyung mengangguk, bergegas duduk di sana dan mendesah memijat kakinya. “Melelahkan sekali,” gerutunya.

“Tapi kau nampak sangat bahagia.” Jeongguk terkekeh, melirik kekasihnya yang sedang memejamkan mata—menyandarkan tubuhnya ke saka di belakang Jeongguk.

“Tentu saja!” Taehyung tersenyum lebar. “Kakakku menikah.” Katanya pada Jeongguk yang tergelak.

Mereka menyaksikan prosesi sisanya berdampingan. Melihat bagaimana Lakshmi dan Wisnu bertukar pandangan penuh sayang setelah sekarang sah menjadi suami-istri secara agama. Mereka akan mengurus akta pernikahan mereka nantinya. Sekarang tengah menikmati hingar-bingar bahagia adrenalin saat akhirnya mendapatkan sesuatu yang mereka idam-idamkan selama bertahun-tahun. Wisnu tidak berhenti menggenggam tangan Lakshmi, meremasnya dan menciuminya lembut—nampak nyaris meledak karena perasaan bahagia.

“Akhirnya.” Jeongguk mendesah dan Taehyung mengangguk. “Akhirnya.” Sahutnya setuju.

Mereka tidak membahas fakta bahwa kematian ayah mereka membuka begitu banyak gerbang kebahagiaan mereka—bahwa ayah merekalah yang menahan segalanya untuk mereka. Taehyung lebih dari puas menjalankan posisi barunya sebagai kepala keluarga menggantikan ayahnya sebagai wali Lakshmi. Walaupun Puri tidak ikut campur, hanya menyaksikan ketika Lakshmi dijemput di Puri tadi namun tidak ikut ke Griya, Taehyung tidak membiarkan perasaannya hari itu dirusak.

Dia memutuskan untuk berbahagia. Dia tersenyum sepanjang waktu, membantu kakaknya membenahi riasan kepalanya, menemaninya, dan bersikap jauh lebih hebat dari ayahnya. Dan Jeongguk bangga karenanya.

“Kau sudah makan?” Tanya Taehyung dan Jeongguk menggeleng—dia sejak tadi duduk di sana bersama adik Wisnu, belum lapar.

Dia memikirkan keluarganya sendiri. Sudah lama sekali sejak dia terakhir menghubungi ayahnya dan Yugyeom, sempat berpikir inilah rasanya nanti jika dia akhirnya keluar dari Puri-nya dan hidup bersama Taehyung? Mungkin dia harus menghubungi Yugyeom nanti malam; adiknya tidak tahu apa-apa mengenai Wak Anom dan Jeongguk sedang menghukumnya sekarang.

Tapi masalah ayahnya, Jeongguk belum bisa memaafkannya. Hatinya masih sangat terluka, perasaan tidak berharga yang diciptakan 'kelalaian' ayahnya tidak akan sembuh dalam satu-dua bulan. Butuh bertahun-tahun, bahkan mungkin seumur hidup sebelum Jeongguk benar-benar memaafkan ayahnya. Namun Yugyeom; adiknya yang manis, satu-satunya saudaranya.

Dan bagaimana pamannya menangis ketika mengatakan dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Jeongguk melalui reinkarnasi menjadi adiknya membuat Jeongguk terjaga semalaman. Dia menyayangi Jeongguk dan walaupun dia tidak tahu kenapa, dia merasa sedikit bersalah karena takut padanya—mengabaikan usahanya semasa hidup. Jeongguk ingin meminta maaf; hanya pada Yugyeom dan Wak Anom.

Dua orang yang menyayanginya di Puri itu—atau mungkin... satu jiwa.

Satu-satunya jiwa yang menyayanginya dalam dua kali kehidupannya dan Jeongguk terharu karenanya. Memikirkannya, sedikit-banyak mengobati rasa ketidak berhargaannya selama ini; mengingat ada satu jiwa yang menyayanginya dan dia memiliki Taehyung.

Wak Anom tahu tentang hubungannya dengan Taehyung namun tidak menasihati mereka apa pun ketika dipeluasang—tidak marah atau memberikan kata-kata menyakitkan. Dan itu... membuktikan betapa terlepas dari apa pun pilihan Jeongguk, dia mendukungnya. Bahkan merahasiakannya dari ayah Jeongguk ketika dia memiliki akses untuk memberi tahunya.

Karena jika Wak Anom memberi tahu ayahnya, Jeongguk yakin ayahnya tidak akan diam sekarang. Pasti sudah mengamuk dan mengusirnya dari Puri.

“Menurutmu,” katanya pada Taehyung yang meneguk air mineral 330ml dalam satu tegukan panjang hingga habis. “Menurutmu haruskah aku menghubungi Ogik?”

Taehyung berhenti meneguk, menurunkan botolnya dan menatap Jeongguk. Dia menatap wajahnya, menyapukan pandangan menilai di ekspresi Jeongguk. “Kau sudah siap memaafkan?” Tanyanya.

Mereka sering berkonsultasi berdua sekarang, terbuka tentang keluhan masing-masing di depan Thia. Berdiskusi bertiga dan itu memperkuat hubungan mereka, tidak ada rahasia lagi di antara mereka. Keduanya selalu mencoba membicarakan setiap kali ada gejolak emosional di antara mereka—yang sekarang jarang terjadi karena mereka sudah memiliki satu sama lain.

Jeongguk juga sudah tahu mengenai uang yang dipinjamkan Jimin untuk mereka, menggunakannya dengan sangat cermat. Mencatat pengeluaran mereka dalam sebuah buku, mengalokasikan sekian persen untuk hal-hal penting. Mereka merencanakan masa depan mereka dengan baik. Jeongguk juga memasukkan lamaran posisi Junior Sous Chef di salah satu resor besar di Lagoi minggu lalu—kelasnya di bawah Amankila, tentu saja tapi tidak masalah. Jeongguk hanya berharap mereka, atau setidaknya salah satu dari mereka sudah memiliki pekerjaan di hari mereka mendarat di Lagoi.

Dia merasakan betapa hubungannya dengan Taehyung sekarang berdenyut begitu kuat—ikatannya erat. Tidak tergoyahkan. Dan Jeongguk senang; setelah semua pertengkaran kekanakan, sikap diam Taehyung, dan segalanya, mereka akhirnya cukup dewasa untuk terbuka pada diskusi dalam menyelesaikan masalah mereka. Mendiskusikan perasaan mereka, bagaimana mereka ingin diperlakukan, dan merencanakan masa depan.

Dia bangga pada diri mereka sendiri.

“Kurasa.” Jeongguk mengedikkan bahunya, menatap ke depan. “Tidak adil jika aku memberikan silent treatment pada Yugyeom ketika itu bukan salahnya.”

Taehyung menepuk pahanya. “Bukan,” koreksinya tersenyum. “Kau sedang memberikan ruang dan waktu untuk dirimu sendiri memikirkan segalanya. Kau memberi tahu Yugyeom bahwa kau membutuhkan waktu untuk sendiri dan Yugyeom setuju. Maka untukku, itu bukan silent treatment sama sekali. Kau mengkomunikasikan kebutuhanmu dan Yugyeom mengiyakannya.”

Jeongguk tersenyum, menatap Taehyung dengan bahagia. Jika saja Mirah tidak memaksa mereka berdua berkonsultasi, akankah hubungan mereka sekuat, sedewasa, dan seerat ini? Sanggupkah mereka bertahan melewati cobaan bertubi-tubi ini atau menyerah pada kehidupan?

Jeongguk tidak akan pernah tahu dan tidak keberatan; dia puas dengan apa yang dimilikinya dengan Taehyung sekarang. Dia menepuk bahu Taehyung, tidak sabar untuk memeluknya lagi malam ini sebelum tidur. Menyadari bahwa Jeongguk tidak terlalu ingin kembali pulang jika itu berarti tanpa Taehyung di ranjangnya.

“Baiklah.” Jeongguk menghela napas. “Aku akan menghubungi Yugyeom malam ini.”

Taehyung tersenyum. “I'm so proud of you.” Katanya dan dada Jeongguk mengembang senang—merasa utuh hanya karena kalimat sederhana itu.

Mereka hanya tinggal menyelesaikan Ngaben ayah Taehyung dan bisa meninggalkan segalanya—seutuhnya. Melupakan kepahitan yang mereka jalani selama ini, merengkuh masa depan yang akan mereka putuskan sendiri. Tidak ada lagi yang bisa mengganggu mereka, sepanjang sisa usia mereka.


Glosarium: