Gourmet Meal 620

ps. sbenernya aku agak lelah. niatnya hari ini narasi nikah mbgek tp krna otakku macet jadi aku kasih uwu aja sbg gantinya yaa <3 semoga besok udah enakan <3 pss. unedited, gila aku capek bgt sksksks excuse the typo <3


Jeongguk akhirnya terbiasa terbangun di Puri dengan suara kedua saudara berkegiatan di luar.

Nyaris seperti rutinitas yang mereka hafalkan di luar kepala. Lakshmi yang selalu terbangun pertama untuk mengerjakan pekerjaan di dapur; menanak beras, menyiapkan lauk sarapan, sebelum menyiapkan canang di atas nampan untuk Taehyung. Taehyung akan bangun 5-10 menit setelahnya, menyapu halaman dan mandi sebelum bersembahyang di Merajan Puri sambil ngejot. Setelahnya, Lakshmi bersiap berangkat bekerja menaiki motornya sendiri. Jika dia harus ke Denpasar setiap hari Jumat, Wisnu akan menjemputnya sekaligus dia berangkat ke tempat kerjanya sendiri atau diantar Taehyung jika tidak sibuk.

Jeongguk sudah hafal kegiatan mereka, bahkan beberapa kali bergabung memberikan kontribusi dengan membantu mereka menyapu halaman dan berakhir ibu Taehyung mengomel, berteriak-teriak melarang Jeongguk menyapu. Dia berlari dari kamarnya, seperti seekor ayam betina galak dan menyambar sapu lidi dari tangan Jeongguk seraya berseru “Jangan, Turah, jangan!” dengan heboh.

Tapi Jeongguk tetap melakukannya. Dan ibu Taehyung akhirnya mengalah, membiarkan Jeongguk menyapu halaman rumah mereka sebelum bergabung dengan Lakshmi di dapur untuk sekadar membantunya menggoreng lauk.

Entah bagaimana Puri Taehyung terasa jauh lebih nyaman dari rumahnya sendiri. Dia memiliki Taehyung, Lakshmi, dan ibunya yang menyambut Jeongguk dengan tangan terbuka—seperti memiliki keluarga baru yang menganggapnya ada. Meminta bantuannya, menanyakan keinginannya, mengobrol dengannya. Mungkin bagi Taehyung, mendapati Lakshmi datang menawarkan apakah mereka ingin kopi adalah hal yang biasa. Namun untuk Jeongguk itu adalah sebuah kemewahan.

Dia belum pernah mendapatkan perhatian semacam itu. Pertanyaan sesederhana “Turah ingin makan malam apa?” dari Lakshmi membuatnya tersanjung dan berharga. Persis perasaan nyaman yang didapatkannya dari Mirah ketika dulu mereka bersama—perasaan yang sejenak membuatnya memalingkan wajah dari Taehyung jika saja hatinya yang egois tidak terus menerus memanggil Taehyung kembali.

Dia mendudukkan diri di ranjang Taehyung, mengerang panjang dan mengusap rambut dari keningnya yang menghalangi matanya. Jeongguk memejamkan matanya yang pedih akibat sinar lampu kamar Taehyung sejenak, menyadari bahwa biasanya dia akan terbangun detik Taehyung menyalakan lampu—semacam alarm alami mereka yang tidur dengan lampu mati. Namun dia tidak terbangun, menakjubkan.

Jeongguk menyingkirkan selimut dari tubuhnya. Dia sudah berada di Puri cukup lama sekarang dan ayahnya tidak menghubunginya—entah menghormati waktunya sendirian atau memang tidak lagi peduli. Jeongguk tidak lagi memusingkannya. Terlalu menyakitkan untuk diingat bagaimana mereka mengabaikan Jeongguk semudah menjentikkan jari, tidak mampu membagi perhatian mereka untuk anak kandung mereka. Dan menurut Jeongguk, sejuta kata maaf pun tidak akan bisa mengobati perasaannya.

Pernikahan Lakshmi akan dilaksanakan minggu depan. Tidak megah atau mewah, hanya akan dilaksanakan di Griya Wisnu dan Jimin bersikeras menyewakan make up artist mahal untuk Lakshmi berikut membelikannya kebaya cantik yang menonjolkan bentuk leher dan bahu Lakshmi, serta kulit zaitunnya. Semuanya akan dilaksanakan sekaligus hingga Mepamit. Setelahnya Lakshmi akan menjadi seorang Jro, kastanya akan lebih tinggi dari Taehyung dan semua keluarganya.

Dan Puri akan semakin sepi, menyisakan Taehyung dan ibunya. Taehyung sedikit cemas karena Lakshmi yang biasanya mengurus rumah tangga, memastikan semua berjalan dengan baik dan jika dia tidak lagi tinggal bersama mereka, Taehyung membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Mereka masih sering melakukan kamuflasi dengan pergi keluar Puri pukul enam pagi dan kembali pukul lima sore seolah mereka bekerja, mendapati ibu Taehyung duduk di teras termangu sendirian di teras.

Sejak ayah Taehyung meninggal, ibu Taehyung otomatis tidak memiliki teman mengobrol. Dia terkadang hanya duduk di teras, menatap kejauhan menunggu anak-anaknya pulang dan membuat rumah kembali ramai. Atau membuat kulit canang dari janur segar sendirian di rumahnya yang besar.

Taehyung sudah mendesak ibunya untuk pulang saja ke rumah adiknya yang bersedia menerimanya pulang namun ibunya bersikeras tetap di Puri. Jeongguk menggeleng, tidak yakin bagaimana meyakinkan ibunya. Anggota Puri lain tidak pernah menjenguk mereka sama sekali dan Taehyung mencemaskan keamanan ibunya ketika mereka semua pergi 'bekerja'. Taehyung sungguh tidak habis pikir bagaimana bisa keluarganya tidak tersentuh untuk menemani perempuan paruh baya di rumahnya.

Sejujurnya, Jeongguk pun tidak. Sedingin itukah hati mereka? Sebanyak apa benci yang sudah meradang di hati mereka hingga tidak ada lagi nurani di sana untuk bersikap baik pada sesama manusia—saudaranya? Tapi bukankah Jeongguk dan Taehyung sudah sangat akrab dengan para manusia yang sama sekali tidak mencerminkan kemanusiaan?

Nyatanya, mereka masih terkejut.

“Bagaimana menurutmu? Atau perlukah kita membawa Ibuk ke Lagoi?” Tanya Jeongguk pada Taehyung yang mengerutkan wajahnya.

Jeongguk tahu Taehyung tidak ingin membawa ibunya dan merasa sangat bersalah atas itu. Jimin memberi tahunya bahwa jika ibunya tidak berkenan maka itu bukan urusan Taehyung lagi—dia sudah berusaha. Jimin memang sangat praktis tentang segala hal termasuk orang tuanya, namun bukan berarti semua orang bisa melakukannya.

“Panti Wreda?” Bisik Taehyung dan Jeongguk menatapnya. “Setidaknya di sana mereka memperlakukan ibuku jauh lebih sopan daripada semua orang di tempat ini, 'kan?”

Jeongguk menatap Taehyung, lama dan dalam. Tahu kekasihnya sedang dalam kondisi perang batin mengenai tempat ibunya nanti ketika mereka kabur. Orang Puri jelas tidak mau menerimanya karena dia bukan bagian dari Puri dan Taehyung tidak terlalu ingin membawa sepotong kehidupan lamanya ke kehidupan barunya, Jeongguk tidak memiliki kapasitas untuk membicarakan ini karena perasaan Taehyung mengenai keluarganya murni urusan Taehyung.

Menikahi lelaki yang berkasta dalam sistem patriarki Bali yang luar biasa kuat sangat merugikan seorang perempuan. Dalam Hindu, leluhur merupakan identitas diri mereka. Maka ketika seorang perempuan melepaskan leluhur Sudra-nya untuk menikahi lelaki yang berasal dari kasta di atasnya, dia berada di posisi yang tidak stabil. Posisinya lebih tinggi dari leluhur lamanya namun tidak 'diterima' sepenuhnya oleh leluhur barunya karena dia tidak 'terlahir' dengan kasta itu. Ibu kandungnya tidak boleh bicara padanya dengan bahasa sehari-hari karena anaknya sekarang lebih tinggi darinya. Dia bahkan lebih tinggi dari leluhurnya.

Dan ketika suaminya meninggal, itu memberikan kuasa bagi keluarga lelaki untuk menyingkirkannya. Meninggalkan perempuan itu sendirian tanpa 'rumah' untuk pulang karena keluarganya ketika gadis berkasta lebih rendah darinya dan harus menghormatinya sementara dia tidak benar-benar berada di kasta suaminya.

Itulah yang Taehyung takutkan terjadi pada ibunya.

Jeongguk juga sempat bertanya pada ibu Taehyung, tentang prospek tinggal di luar Puri dan jawabannya membuat Jeongguk paham mengapa Taehyung tidak membawanya:

“Hidup Ibuk di sini Turah, Ibuk akan bertahan di sini. Ibuk sayang sekali pada Ajung, tidak ingin berada di tempat lain selain di sini. Dekat dengan Ajung.”

Maka dia mengangguk; jika memang ibu Taehyung ingin tinggal maka mereka sebaiknya tidak memaksanya. Tidak ingin membuat keduanya tidak nyaman. “Boleh, kita percayakan saja mereka menjemput Ibuk jika dibutuhkan dan membayarnya dari jauh.” Dan Taehyung nampak lega ketika Jeongguk mengiyakan idenya.

Jeongguk menguap tertahan lalu mengikat rambutnya dengan karet yang selalu berada di pergelangan tangan kirinya sebelum menurunkan kakinya ke lantai lalu meraih pakaiannya yang teronggok di lantai. Dia membentangkannya, mendengus geli ketika menyadari itu kaus Taehyung. Kekasihnya salah mengambil baju lagi. Namun dia tetap menggunakannya sebelum bangkit dan melangkah ke luar.

Dia langsung berhadapan dengan Taehyung yang sedang membungkuk menyapu halaman. “Pagi?” Sapanya parau dan Taehyung menoleh, tersenyum.

Taehyung mengenakan kaus Jeongguk di atas tubuhnya dan Jeongguk tersenyum lebar. Entah mengapa itu memberikannya bayangan nyaman bagaimana kehidupan mereka di masa depan nantinya; kaus tertukar, seseorang bangun lebih awal dan membereskan rumah. Hanya ada mereka di sana, berdua—memiliki satu sama lain. Tidak akan ada yang mengganggu mereka. Dia nampak segar dengan rambut dicepol rendah di tengkuknya, beberapa anak rambut meluruh di pelipisnya—tidak sempat diseka.

Langit belum terang, masih kebiruan dan bulan masih mengintip dari kejauhan namun Jeongguk sudah mencium aroma nasi yang baru matang serta kopi yang segar. Dan hal yang sangat diinginkan Jeongguk saat ini adalah kembali berbaring. Kepalanya berdentam-dentam belakangan ini, tidak bisa berhenti memimpikan Yugyeom yang mendadak berubah menjadi Wak Anom dan terbangun dengan perasaan kacau setelahnya. Syukurlah Taehyung selalu di sisinya, memeluknya untuk menenangkannya.

“Hai,” sapanya menegakkan tubuhnya, memandang Jeongguk cemas. “Aku berusaha membangunkanmu tapi kau tidur begitu lelap jadi kubiarkan saja.” Dia mengetukkan pangkal sapu ke teras kamarnya sebelum kembali membungkuk. “Kau mau kopi?”

Jeongguk menuruni undakan, duduk di undakan terbawah dan menguap tertahan. Bangun pagi di Puri Taehyung berbeda sekali dengan rumahnya. Di rumahnya, semua orang bersiap dengan individualis dan bertemu untuk pertama kalinya di meja makan. Tidak ada kopi atau makanan kecil sebelum sarapan, persis militer. Atau apakah Puri Taehyung terasa nyaman sekarang setelah ayahnya meninggal?

“Tidak,” sahut Jeongguk menghela napas lalu memukul pantat Taehyung lalu meremasnya sekilas; menggodanya. “Aku mengantuk sekali.”

Taehyung menyapu halaman, sama sekali tidak terganggu pada sentuhan Jeongguk. “Hari ini kita akan pergi ke mana?” Tanyanya seraya meraih serokan sampah dan mulai menyerok semuanya.

Jeongguk meregangkan tubuh. “Sebenarnya aku tidak ingin pergi ke mana pun hari ini, bisakah kita mengarang alasan saja tentang libur atau apa?” Tanyanya dan Taehyung tergelak lembut.

“Baiklah.” Sahutnya membereskan halaman. “Jika begitu aku akan membeli sesuatu di pasar, kita masak makan siang yang enak.” Dia menegakkan tubuhnya dan menatap Jeongguk—mengulurkan tangan, dia mengusap kepala Jeongguk yang langsung memejamkan mata dan tersenyum. Seperti anak kucing menggemaskan.

“Kau kelelahan sekali belakangan ini.” Katanya berdiri di depan Jeongguk yang menumpukan keningnya di perut Taehyung—masih ingin bermanja-manja dengannya di ranjang. “Tidurmu nyenyak sekali dan lama, aku jadi khawatir. Kau kelelahan? Haruskah kita ke dokter?”

“Aku hanya memikirkan banyak hal.” Gumam Jeongguk di perutnya, ingin memeluknya namun takut ibu Taehyung keluar dari kamar dan mendapati mereka berpelukan di halaman rumahnya.

Ibu Taehyung menawari Jeongguk tidur di kamar tamu. Tempatnya terletak dekat dengan bekas kamar nenek Taehyung yang sekarang kosong, dekat Merajan. Kamar Taehyung nampak dari jendelanya. Jeongguk menyetujuinya hanya untuk mengendap ke kamar Taehyung pada tengah malam dan selalu bangun sebelum ibu Taehyung sehingga dia tidak tahu Jeongguk menghabiskan malam di kamar anaknya.

Lakshmi juga selalu bekerja sama dengan mereka sehingga rasanya Puri hanya milik mereka bertiga. Namun tidak bisa dipungkiri, Jeongguk merindukan adiknya. Merindukan waktu berkualitas mereka berdua di dapur seraya makan mie instan. Sudah beberapa hari dia tidak menghubungi siapa pun keluarganya dan Taehyung juga tidak berkomentar mengenai itu.

Jeongguk belum siap menghadapi adiknya jika dia belum bisa memisahkan Yugyeom dan pamannya dari satu badan walaupun sebenarnya reinkarnasi tidak berlangsung dengan cara itu. Yugyeom hanya mewarisi sedikit sifat pamannya, sedikit kebiasaannya, dan sedikit kesukaan atau ketidak sukaannya tentang sesuatu. Dia bahkan tidak mengingat apa pun dari kehidupan sebelumnya, hanya mereka yang mengenal paman merekalah yang mengetahuinya. Selebihnya, dia adalah manusia baru.

Rasanya memang sangat tidak adil jika Jeongguk melimpahkan kesalahan yang bahkan tidak dilakukan Yugyeom padanya tetapi dia tidak bisa menolong dirinya sendiri. Maka Jeongguk mengambil langkah mundur, menata isi kepalanya.

“Kita kembali tidur setelah mandi, oke?” Bisik Taehyung, membelai kepalanya lembut sebelum dengan lembut mendorong Jeongguk yang merengek menjauh persis ketika Lakshmi keluar dari dapur.

“Oh, Turah sudah bangun? Mbok Gek buatkan kopi?” Tawarnya, rambutnya digelung rapi di atas kepalanya nampak sedang sibuk menyiapkan makanan untukdi rumah.

Jeongguk menggeleng, menyeka rambutnya dan merasa kepalanya begitu berat—sulit untuk memikirkan jawaban untuk pertanyaan sederhana sekali pun. Dia benar-benar dikuras habis oleh informasi yang baru didapatkannya itu. “Nanti tiang buat sendiri saja, Mbok Gek.” Tolaknya lembut.

Taehyung menatapnya dan tersenyum. “Mandilah jika begitu atau kau ingin kembali berbaring? Aku akan maturan sebentar lalu bergabung denganmu lagi.”

Jeongguk menatapnya, ingin mengatakan sesuatu namun otaknya menolak untuk berpikir maka dia mengangguk. Dia beranjak bangkit dan menyeret dirinya ke kamar, berbaring kembali di ranjang Taehyung dengan posisi menelungkup—terlelap detik kepalanya menyentuh bantal.

Sisanya samar-samar. Dia merasa melihat Taehyung memasuki kamar lagi, mencium keningnya sebelum mandi. Jeongguk terombang-ambing dalam kantuk, merasa mencium aroma dupa dan bunga ketika Taehyung memasuki kamar untuk menghaturkan canang di pelangkiran kamarnya dan berhenti untuk mengusap kepalanya sayang. Jeongguk merasa sedang menonton Taehyung dari kejauhan, di balik selubung tebal yang membuat semuanya nampak kabur. Selubung kantuk yang sulit dilawan.

Dia masih merasa kebingungan ketika melihat Taehyung memasuki kamar, masih mengenakan kain setelah berdoa dan menyusup ke pelukannya. Taehyung mengecupi pipinya sayang—beraroma bunga dan dupa.

“Hm...” Erang Jeongguk, merasa kepalanya sakit.

“Kau tidur lama sekali, ini sudah hampir pukul sembilan pagi.” Bisik Taehyung mengusap wajahnya. “Kau yakin tidak ingin ke dokter?”

Jeongguk menggeleng, merengkuh kekasihnya ke dalam kedua lengannya dan berguling di ranjang. “Aku hanya butuh tidur.” Gumamnya parau dan sebelum Taehyung sempat menjawab, dia kembali lelap.

*