eclairedelange

i write.

tw // manipulation , narcissism , OCD .

ps. alur maju-mundur, pelan2 ya bacanya pss. struktur kalimat Argha memang sengaja aku 'rusak' yaa so it's not typo or me changing my writing style aku cuma berusaha adopt struktur bahasa indo bule2 hahahahah


Cedrik menghela napas panjang, memijat pelipisnya.

Memikirkan pertemuannya tadi dengan Christian juga lelaki yang diajaknya mengobrol. Cedrik bukan orang bodoh, dia tahu Christian bersama Argha. Faktanya, dia bahkan melihat juru masak senior itu dari luar jendela Starbucks Reserve. Sulit untuk tidak menyadari keberadaan Argha, sudah hendak menyapanya hanya untuk menyadari bahwa matanya menatap Abhimanyu. Senyuman kecil superior itu bermain di bibirnya, seolah dia sedang menatap mahakaryanya—seolah dia baru saja menyelesaikan satu makanan dan menyukainya.

Namun, Cedrik jelas tidak.

Maka dia mengulurkan tangan, menahan pintu untuk Abhimanyu dan sengaja mengalihkan pandangannya dari ruangan. Meraih bahunya ketika melangkah, menekan bahu atasnya agar tidak menoleh ke kursi Argha—tidak mau Abhimanyu membalas tatapan Argha yang terasa membakar bagian belakang kepalanya.

“Kenapa?” Tanya Abhimanyu saat itu dan Cedrik menggeleng. “Tatap saja aku, beri aku perhatian.” Balasnya dan Abhimanyu mengerutkan wajah jenaka.

“Menjijikkan.” Balasnya bergurau namun tidak melepaskan lengan Cedrik di bahunya. Cedrik melirik dari sekor matanya, melewati kepala Abhimanyu dan menyadari tatapan Argha masih menempel pada mereka dengan resah serta jengkel.

Dari semua orang, mengapa harus Abhimanyu?

Cedrik berguling terlentang, menutup mata dengan lengannya dan membuka mulutnya untuk bernapas. Argha menarik, begitu menarik secara seksual hingga dia merasa risih. Dia tinggi, rapi, langsing, dan nampak sensual bahkan hanya dengan diam. Cedrik jarang bertemu seseorang dengan pembawaan sesensual Argha—dia bisa saja hanya bernapas namun membuat siapa saja tergoda ke arahnya, seperti seekor serangga mendekati Venus filtrap. Pakaiannya sederhana, namun membuatnya nampak sangat menggoda.

Dia tidak mau Abhimanyu menatapnya. Maka dia mengandalkan kebencian Abhimanyu pada calon atasannya. Berharap dia cukup membencinya hingga tidak akan tergoda pada aura Dewa Seks yang dibawa Argha—tidak memerhatikan jemari kurusnya yang indah, pinggang mungilnya, kaki jenjangnya, dan ekspresi menggodanya yang superior.

Argha bisa mendapatkan lelaki atau perempuan mana pun yang diinginkannya, mengapa dia menginginkan milik Cedrik?

“Sialan.” Geramnya, menghela napas dalam-dalam, membiarkan ingatan kali pertama dia bertemu Abhimanyu terputar di kepalanya.

Bukan hari yang menyenangkan atau cerah, dia ingat hujan deras turun semalaman di Ubud membuat udara pagi itu menjadi berkabut tipis dan kelabu. Cuaca yang membuat Cedrik ingin kembali berguling di ranjangnya, menggunakan selimut atau membuat kopi seraya merokok. Sama sekali bukan beranjak untuk bekerja di cold room seperti Pastry. Tidak ada yang spesial hari itu kecuali Kinan yang ingin bertemu dengannya sepulang bekerja untuk membahas posisi barunya sebagai Executive.

Dia bahkan masih ingat suasana hatinya yang buruk pagi itu ketika mendorong pintu karyawan Le Paradis dengan jaket di tubuhnya—kedinginan, seraya berpikir apakah dia memang benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Dia berhenti di smoking room sebentar untuk menghangatkan tubuh, duduk sendirian di ruangan itu dengan sebatang rokok—menguap kelelahan karena semalam begadang menyelesaikan series di Netflix.

Cedrik sedang menguap, sama lelahnya dan sama mengantuknya ketika Kinan pertama kali membawa Teddy Bear itu masuk ke dalam dapur. Arsa sedang mengoceh, mengajak timnya berdoa sebelum bekerja dan mengevaluasi kinerja semalam di sisinya—sekepala lebih pendek dari Cedrik.

“Pagi, Chef.” Sapa Kinan dengan nada dingin serupa bajingan Rusia saat memanggil suaminya di lingkungan kerja. “Abhimanyu siap bergabung.” Dia mendorong maju seseorang di sisinya maju, berdiri persis di depan Cedrik.

Dia selalu berpikir kisah cinta romantis di buku dan film melebih-lebihkan pertemuan pemeran utamanya. Menipu dan menjebak semua penikmatnya menjadikan mereka hopeless romantic dengan perasaan mencelos, jantung yang berdebar kecang, waktu yang seolah berhenti; Cedrik tidak menyukainya. Dunia nyata tidak seindah itu, semuanya pahit. Setidaknya dalam hidup Cedrik dan dia bersyukur Arsa tidak melangkah di jalan yang sama sejak bertemu Kinan.

Namun hari itu ketika Abhimanyu mendongak, tidak sengaja menatapnya dan tersenyum, Cedrik merasa sesuatu baru saja kembali hidup. Berdenyut; perlahan namun terasa, mengirimkan denyar hangat ke seluruh tubuhnya. Seolah dia baru saja kembali hidup.

Dia menahan napas, menatap boneka beruang hangat yang balas menatapnya dengan senyum kikuk di bibirnya. Dia muda sekali hingga Cedrik mengerutkan alis—bagaimana mungkin seorang sehijau itu masuk ke dapur Arsa?

Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Arsa melangkah maju. “Halo, akhirnya.” Katanya, meraih Abhimanyu ke sisinya dan Cedrik menggeser tubuhnya—memberi tempat untuk Abhimanyu di sisinya dan menghirup aroma parfumnya.

“Tim,” kata Arsa menepuk bahu Abhimanyu di sisinya. “Perkenalkan junior sous chef saya, Abhimanyu.”

“Bukankah dia terlalu muda?” Tanya Cedrik kemudian, bersandar di kursi di seberang Arsa dengan kaki diselonjorkan. Menatap Arsa yang berada di depannya, menandatangani kontrak barunya sebagai Executive Pastry Chef. “Siapa saja bisa melihat betapa hijaunya dia.”

Arsa mengangguk merapikan berkas itu lalu menyingkirkannya. Dia mendongak, menatap Cedrik yang balas menatapnya. “Dia lulusan Gastronomy Science, bukan LCB tapi lumayan terkenal. Aku butuh sekali junior sous chef untuk menggantikanku ketika aku butuh libur, Cedrik.”

Arsa mendorong kursinya mundur, meraih holder hitam besar di meja belakangnya—semua data karyawan karena Kinan sering menggunakan ruangan ini untuk bekerja jika Arsa sedang meneriaki commis-nya di dapur. Dia membukanya dan mendorong kursinya lagi ke arah mejanya, roda kursinya berkeretak di lantai. Dia meletakkannya di meja, mendorongnya ke arah Cedrik.

Pastry Chef itu meliriknya, menemukan CV Abhimanyu dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap foto di sana. Tersenyum kecil menatap betapa mudanya Abhimanyu, membalas tatapannya dengan ekspresi membeku di atas kertas foto. Cedrik meraihnya dan membaca CV-nya, dengan sedikit geli menyadari bahwa dia benar. Abhimanyu baru lulus enam bulan lalu dan baru magang sekali.

“Aku mendapat namanya dari seniorku yang mengajar di universitasnya. Anak berbakat, suka belajar dan ambisius,” Arsa mengangguk ketika Cedrik membaca CV Abhimanyu. “Kita bisa membentuknya sedikit.”

Cedrik mengedikkan bahunya. “Menurutku tetap tidak terlalu oke untuk mentalnya. Lulus kuliah dan mendapat jalur VVIP menuju sous chef. Dia tidak akan berkembang seperti semua commis-mu yang lain. Atau bahkan Bli Made yang membutuhkan pengalaman lima belas tahun untuk bisa jadi Senior Sous Chef-mu.

“Aku hanya takut,” Cedrik melanjutkan menatap Arsa yang balas menatapnya. “That he will think too high about himself.”

Cedrik di masa sekarang menghela napas, mengusap wajahnya dan membuka mata—menatap langit-langit kamar kosnya dan mendengar di kamar sebelah, kamar Raditya, keduanya sedang mengobrol. Cedrik menatap dinding yang memisahkan kamar mereka dan tersenyum tipis.

Kau selalu tertarik pada orang yang hanya akan menyulitkanmu, Ced.

Arsa tidak salah, Cedrik terkekeh parau dan menghela napas. Dia memang cenderung tertarik pada orang yang membuatnya kesulitan. Arsa Mahardika dan sekarang Abhimanyu. Orang-orang dengan masalah serius tentang harga dirinya (dalam kasus ini, terlalu mahal) malah akan membuat Cedrik menyayanginya. Persis bagaimana dia menyayangi Arsa.

Dan lucu bagaimana sekarang Abhimanyu memiliki mental persis seperti apa yang diduga Cedrik. Tidak pernah merasa di bawah membuatnya meremehkan semua orang. Dia tidak tahu rasanya merangkak dari posisi paling rendah, berusaha meraih posisi tertinggi karena Arsa secara harfiah menggelarkan karpet merah di jalan Abhimanyu, menggendongnya ke singgasana tertinggi dalam hierarki dapur.

Abhimanyu tidak terlalu menghormati siapa pun di dalam hidupnya kecuali Arsa, membuatnya menjadi pribadi yang apatis. Dia hanya akan mendengarkan Arsa, menuruti mau Arsa, dan tidak pernah mau menundukkan kepalanya pada orang selain Arsa.

Awalnya Cedrik kira itu hanyalah rasa kagum yunior kepada seniornya, rasa terima kasih yang mendalam. Rasa terinspirasi pada perjalanan Arsa hingga sekarang mendapat gelar Michelin Star Chef. Hingga hari ketika dia menyatakan perasaannya pada Abhimanyu.

Beruang Teddy itu duduk di hadapannya, dengan gelas bir ketiga mereka di satu restoran di Ubud. Cedrik yang memesan mejanya, bahkan mempersiapkan sampanye yang akan dibawa keluar ketika dia memberi tanda pada pelayan. Namun Abhimanyu yang apatis merenggut hatinya, meremukkannya dan menginjaknya persis di depan Cedrik dengan mengatakan:

“Terima kasih atas perasaanmu, aku sangat tersanjung. Tapi aku menyukai orang lain.”

Dan Cedrik berharap Abhimanyu berhenti bicara saat itu juga, dia sudah memeras cukup banyak air jeruk ke atas luka hatinya yang menganga. Namun toh lelaki itu tidak bisa melihat ekspresi Cedrik yang seolah baru saja ditonjok persis di ulu hati oleh kalimatnya karena dia melanjutkan:

“Aku menyukai Arsa.”

Cedrik menarik napas, duduk di ranjangnya dan menyugar rambutnya dengan resah. Benci ketika dia mengingat hari itu; benci bagaimana dia membutuhkan waktu begitu lama untuk kembali terbiasa dengan Arsa. Tidak bisa tidak membenci sahabatnya walaupun dia tahu Arsa tidak bersalah karena dia tentu tidak bisa mengontrol siapa pun atas perasaan mereka.

Tetapi Cedrik bertahan, seperti pungguk merindukan bulan berharap suatu hari nanti Abhimanyu akan menyadari bahwa dia tidak akan bisa memiliki kesempatan dengan Arsa dan akhirnya menatapnya.

“Aku tidak peduli apa yang mungkin kaulakukan, itu waktumu.” Dia ingat Abhimanyu mengerutkan alis, menatapnya—apakah itu rasa kasihan berkelip di matanya? “Tapi Cedrik, aku tidak bisa menerimamu.”

Dan Cedrik menjawab, “Kau akan berubah pikiran suatu hari nanti, Abhim, dan aku akan memastikan aku berada persis di depanmu ketika hal itu terjadi.”

“Ini sepenuhnya keputusanku, Abhim. Kau tidak perlu merasa bersalah, pergunakanlah aku sebagaimana kau membutuhkannya.” Lanjutnya, nyaris putus asa berusaha mempertahankan Abhimanyu di sisinya.

Sekarang, sekali-dua kali dia merasakan serangan emosi Abhimanyu. Semua tumbuh karena kurangnya kewajiban untuk menunduk pada orang lain dan bagaimana dia mengonsep dirinya sendiri di kepalanya; lebih tinggi dari semua orang. Lebih hebat. Abhimanyu sedikit manipulatif dan narsis sebagai hasilnya, Cedrik merasakan emosi itu—persis Arsa sebelum dia bertemu Kinan, sebelum dipadamkan oleh sikap Kinan.

Berharap, Cedrik-lah yang akan menjadi penawar bagi sifat Abhimanyu. Menemaninya berdinamika, berusaha menjelaskan emosi itu pada Abhimanyu dan mengajaknya berdamai. Cedrik selalu memastikan dirinya dekat dengan Abhimanyu karena dia tahu, detik Abhimanyu menyadari bahwa dia tidak bisa memiliki Arsa akan terjadi begitu cepat dan singkat.

Jika Cedrik terlambat, maka dia akan sepenuhnya dikesampingkan dari hidup Abhimanyu. Dengan pintu terkunci rapat.

Haruskah dia cemas pada Argha sekarang?

Dia memejamkan mata, merasa mengantuk namun otaknya tidak juga tenang—berputar-putar dan mendengung seperti sekumpulan lebah yang marah, membuatnya kelelahan. Dia menarik napas, memijat titik di antara kedua matanya dengan ibu jari—menekannya untuk meredakan sakit kepalanya ketika ponselnya berdering.

Cedrik menoleh dan senyuman seketika terkembang di bibirnya, menyadari nama Abhimanyu berkedip di layarnya. Dia meraih kotak rokoknya, beranjak bagun dari kasurnya dan keluar ke teras kosan seraya mengangkat teleponnya.

“Hai,” sapanya lembut.

Aku tidak bisa tidur.” Gerutu suara dari seberang sana, Cedrik mendengar Abhimanyu bergerak di ranjangnya dan mengerang. “Sialan.”

“Kau di mana?” Tanyanya, meraih bantal sofa di lemari ruang tamu dan meletakkannya di salah satu kursi rotan sebelum duduk di atasnya, menekuk kakinya.

Di Gianyar, di rumah.” Sahut Abhimanyu, menahan kuapannya dengan menggemaskan hingga Cedrik tersenyum—jemarinya memainkan pematik di tangannya. “Aku memutuskan untuk pulang tadi, sekalian saja daripada aku harus kembali Selasa pagi langsung bekerja.”

Cedrik membuka kotak rokoknya, menyelipkan sebatang dan menyalakan pematik. Dia menarik napas ketika ujung rokok mulai terbakar dan menghisapnya sekali, menghembuskannya melalui hidung sebelum menjawab. “Benar, tapi terlalu malam. Syukurlah kau tiba selamat.”

Dia menatap ke halaman depan kosan yang sepi, semua sudah berada di kamar masing-masing. Gerbang tinggi kosan sudah digembok, Cedrik sendirian di teras dan menyukainya. Lebih baik memikirkan segalanya di ruang terbuka daripada di kamarnya yang terasa mencekiknya.

Cedrik mendongak, menatap laron yang terbang di sekitar lampu ruang tamu—mengelilinginya seraya menghisap rokoknya, mendengarkan Abhimanyu bercerita. Merasa lelah dan putus asanya terangkat dari bahunya, cengkeraman rasa cemas akan kehadiran Argha melonggar dari hatinya.

Abhimanyu begitu dekat dengannya, berdenyar seperti lampu yang adalah sumber bahagia Cedrik. Argha mungkin bisa berusaha, tapi Cedrik yakin dia akan menjadi lelaki pertama yang Abhimanyu cari kapan pun dia membutuhkan sandaran.

“Kau akan selalu mencariku kapan pun kau butuh, 'kan?” Tanyanya, menjentikkan abu rokoknya ke asbak di atas meja.

Dia mendengar Abhimanyu diam sejenak sebelum terkekeh tanpa suara. “Yah, begitulah. Rasanya seperti kebiasaan. Kau terlalu dekat,”

Cedrik tersenyum.

Argha Mahawira bisa berharap, tapi dia tidak memiliki kesempatan apa pun.


Argha butuh waktu untuk memproses betapa menyilaukannya Cedrik dari dekat.

Hello,” dia mengulurkan tangan ke lelaki langsing yang duduk di sebelah Arsa. “Pleasure to meet you, at least, Cedrik.” Dia tersenyum dan Cedrik membalas jabatannya—tidak sekuat apa yang dibayangkan Argha.

Hello, yeah. Pleasure to meet you too, Chef.” Sahutnya, tersenyum dan melepaskan tangan mereka. Dia mengenakan seragam Le Paradis, hitam dengan tepian batik di bagian hemnya. Warna itu malah semakin menegaskan betapa pucat warna kulitnya hingga Argha bisa melihat pembuluh darah menyebar di tangannya—biru keunguan.

Cedrik menarik, nampak tenang dan terstruktur dengan tahi lalat mungil manis di bawah matanya. Tertinggi di ruangan itu dan terlihat lebih pendiam dari kedua temannya. Tersenyum ramah pada Argha pagi itu di pertemuan Executive pertamanya sebagai head chef Le Gourmet.

Argha belum sempat mengintip dapur, dia langsung pergi ke ruangan rapat—datang lewat pintu depan dan diantarkan langsung oleh Hadrian agar tidak bertemu Abhimanyu. Dia harus bermain petak umpet selama beberapa hari dengan sous chef-nya demi ini. Arsa tidak bermasalah dengan pengaturan sementara itu, menyerahkan kendali sepenuhnya pada Argha—yang disyukurinya karena dia sempat bertanya-tanya bagaimana dia harus memperlakukan Arsa.

Secara pengalaman, Arsa jauh di bawahnya namun statusnya sebagai Michelin Star Chef membuat Argha segan—ini melahirkan kebingungan tentang bagaimana Argha harus memosisikan Arsa di dapurnya. Tapi dia senang ketika chef itu menyerahkan dapur Le Gourmet sepenuhnya pada kendali Argha.

“Itu timmu sekarang, Chef. Saya tidak akan ikut campur kecuali dibutuhkan.” Dia menatap Argha, langsung ke mata dengan tegas.

Argha mengangguk. “I'm grateful, Chef.” Sahutnya, tersenyum tulus pada percaya yang diberikan Arsa padanya—tenang karena dia tidak harus berebut daerah kekuasaan dengan singa lain.

“Halo, Chef.” Kinan mengulurkan tangan, nampak sangat rapi seperti biasa hingga Argha merasa tidak nyaman karena hanya mengenakan kemeja satin lembut di atas tubuhnya. “Tidur nyenyak?”

Argha tersenyum, menjabat tangannya. “Nyenyak sekali. Terima kasih.” Sahutnya, walaupun semalaman terbaring nyalang karena untuk pertama kali pesannya ke Yukio tidak terkirim.

Berpikir dia akhirnya memblokir nomor Argha namun saat mencoba meneleponnya, panggilan langsung masuk ke kotak suara. Dia sudah berjanji pada Yukio tidak akan meneleponnya, namun dia tidak bisa mengabaikan rasa resah di hatinya. Pukul dua pagi, dia sudah nyaris menghubungi Sebastien—pasangan one night stand-nya, meminta dia menjemput Argha dan entahlah... Membuatnya melupakan ponselnya, melupakan Yukio sebentar.

Namun berakhir meletakkan ponselnya lagi di atas nakas dan memejamkan mata, terlelap selepas pukul tiga pagi. Dan terbangun dengan tubuh terasa remuk karena kurang tidur, namun dia tetap bangkit dan bersiap. Mungkin malam ini dia akan mencari one night stand baru, mengenyahkan isi kepalanya dengan orgasme.

“Saya dengar kemarin Anda bertemu dengan Christian?” Tanya Kinan lagi, tersenyum dan Argha menyukai aroma parfumnya—lembut, tidak menusuk. Membuat sarafnya rileks; hari ini dia beraroma lembut vanila.

“Ya,” Argha mengangguk, mempraktikkan bahasa Indonesianya. “Saya bertemu Christian. Mengobrol. Bahasa Indonesia jelek, jadi harus belajar.” Dia mengerutkan alis, sedikit bangga pada kemampuannya menggunakan bahasa itu.

Are you comfortable in English or French?” Tanya Arsa dari kepala meja, mengeluarkan buku catatannya yang tebal—penuh potongan kertas dan nampak tua.

“Tolong,” Argha menggeleng, melambaikan tangannya. “Bicara pada saya dengan Indonesia saja, oke? Saya harus belajar, gunakan bahasa Indonesia.”

Dan Arsa tergelak. “Baiklah, Indonesia.” Dia mengangguk, menarik pulpen dari kantung kecil di lengan pakaiannya.

“Memangnya kenapa?” Tanya Cedrik, di sisi kanan Arsa dengan ekspresi bertanya dan Argha belum juga terbiasa pada bagaimana dia nampak seperti makhluk imortal dengan kulitnya yang putih. “Staf kami memahami bahasa Inggris.”

Argha tertawa. “Saya harus masuk dapur sebagai commis, ingat? Jadi saya tidak mau... Siapa dia itu? Abhimanyu?” Dia menoleh ke Kinan yang mengangguk, senyuman bermain di bibirnya. “Nah, saya tidak mau Abhimanyu tahu saya adalah kepala juru masak dia yang baru. Saya mau lihat, cara dia pimpin tim. Wah, bahasa Indonesia saya bagus.” Tambahnya, merasa senang pada kemajuannya sendiri.

“Ya, bagus sekali.” Puji Kinan tulus. “Hanya sedikit berantakan di strukturnya, tapi jika terus berlatih Chef bisa melakukannya.”

“Nanti saya yang akan mengenalkan Chef pada Abhimanyu,” Arsa mengangguk menatap catatannya. “Kita bisa ke dapur setelah pertemuan ini atau mungkin sekalian besok di hari pertama Chef bekerja.”

“Besok lebih baik,” Argha setuju, mengeluarkan catatannya sendiri dan siap mendengarkan serta memberi beberapa umpan balik tentang makanannya beberapa hari lalu. “Mari kita berakting lebih baik.”

“Jika Anda orang Indonesia, mengapa bahasa Indonesia Anda jelek, Chef?”

Argha mendongak, menatap Cedrik yang balas menatapnya. Tentu saja orang akan penasaran. Nama Argha secara harfiah diambil dari bahasa Sanskerta, sangat Indonesia. Namun dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Bekerja lama di luar negeri sekali pun tidak cukup kuat sebagai alasan karena melupakan bahasa ibu adalah hal yang tidak mudah. Namun sebelum dia sempat menjawab, Kinan mendesis seperti seekor ular—memperingati Cedrik.

“Cedrik.” Sela Kinan, menatap lelaki itu dan Cedrik mengerjap, nampak tidak nyaman sekarang.

“Tidak apa.” Argha bergegas melerainya, mengulurkan tangan dan tersenyum. “Penasaran saja, wajar.” Dia mengangguk lalu menoleh ke Cedrik. “Bahasa itu harus sering digunakan, supaya tidak berkarat. Saya jarang sekali gunakan bahasa Indonesia sejak berangkat ke Jepang belasan tahun lalu. Jadi, saya pilih melupakan bahasa itu karena saya tidak ingin kembali.

“Tapi, saya di sini sekarang atas rayuan Arsa.”

Arsa tergelak, menyelamatkan suasana kikuk antara Argha dan Cedrik. Dia melirik Cedrik, sejenak nampak cemas sebelum menoleh ke Argha yang mempertahankan senyumannya—berusaha menenangkan semua orang bahwa meskipun pertanyaan Cedrik tadi terlalu personal, Argha tidak keberatan.

Cedrik berdeham, “Maaf, Chef, jika pertanyaan saya terlalu personal.” Katanya dan Argha menggeleng, melambaikan tangannya ringan.

“Tidak masalah, Chef. Tidak ada yang dibunuh.” Dia lalu menoleh ke Arsa. “Dimulai saja, Chef. Saya yakin ada pekerjaan yang menunggu semua orang.”

Rapat itu ternyata berjalan lumayan lama dengan banyak agenda. Arsa tidak bohong atau melebih-lebihkan ketika dia memberi tahu Argha bahwa mereka bertiga adalah 'otak' di balik kedua restoran Arsa. Kinan memiliki banyak sekali pekerjaan sebagai Executive Restaurant Manager; khususnya bagian legal and general. Dia sendiri menghabiskan waktu nyaris satu jam lebih untuk membicarakan permasalahannya.

Menakjubkan sekali bagaimana Arsa dan Kinan bisa berubah menjadi dua rekan kerja yang saling menghormati di sana padahal mereka adalah pasangan. Argha menyadari percik sayang di mata Arsa sekali-dua kali, namun Kinan. Bajingan berdarah dingin itu sama sekali tidak, dia menatap Arsa seperti rekan kerja—sama seperti menatap Cedrik dan Argha. Memanggil Arsa dengan 'Chef' menggunakan nada dingin yang mengundang senyuman di bibir Argha.

Dia paham bagaimana tiga serangkai itu bisa menjadi rekan kerja. Semua orang pasti bisa jika ada Kinan di sana.

Argha juga tahu bahwa Cedrik sekarang bertanggung jawab atas quality control semua dessert di dua restoran—memiliki kewajiban untuk memberikan pelatihan pada semua anggota tim Pastry Section dan Argha secara personal memujinya karena dessert yang dimakannya kemarin sempurna walaupun supervisor-nya berada di restoran lain.

“Beberapa makanan dikirim langsung dari Le Paradis,” jelas Arsa pada Argha kemudian. “Seperti cokelat dan bon-bon, itu buatan tangan Cedrik langsung. Diproduksi skala medium untuk distok di setiap restoran.”

Kemudian Hadrian masuk setelah Arsa meneleponnya untuk membawakan beberapa sampel makanan yang Arsa ingin Argha cicipi karena dia memiliki gelar di bidang Superior French Cuisine and Pâtisserie. Argha juga sempat fokus pada cokelat selama beberapa waktu ketika dia bekerja di Four Season Paris. Argha menerima sepiring cokelat, terisi beberapa potong yang terlihat lezat. Dia menyemprotkan antiseptik ke tangannya, mengelapnya dengan sehelai tisu sebelum meraihnya dan mengamati permukaannya.

Dia memicingkan mata, menatap noktah putih tipis di bagian bawah cokelat itu dan mengerutkan alisnya. “Tiba kapan, ya?” Tanyanya pada Hadrian yang masih berdiri di dekat pintu seraya meraih kacamatanya.

“Itu batch pertama hari ini, Chef. Dibuat kemarin dan tiba semalam.” Hadrian mengecek tab-nya yang terisi log book dan stock opname per harinya.

“Dibuat segar, ya?” Argha membuka gagang kacamatanya, menoleh ke Cedrik yang mengangguk. Dia kembali menunduk, mengenakannya kacamatanya dan mendekatkan cokelat ke bawah cahaya dan menemukan noktah putih itu lebih jelas.

Paham masalahnya. “Butuh sedikit tempering lagi, ya, ini Chef.” Tanyanya kemudian, menaikkan kacamatanya dan Cedrik mengerutkan alis, berdiri.

“Benarkah?” Tanyanya mencondongkan tubuhnya dan Argha mendorong piring mendekat ke Cedrik, di tengah meja. Arsa bergabung mencondongkan tubuh untuk mengeceknya.

“Bercak putih ini,” Argha menunjuk perlahan dengan jemarinya, menunjukkannya pada rekan kerjanya. Nyaris tidak nampak kecuali di bawah sinar lampu, belum terbentuk tapi Argha yakin beberapa jam lagi di suhu ruangan bercak ini akan menyebar ke semua permukaan cokelat seperti jamur. Merusak penampilannya.

Dia menggerakkan tangannya yang bebas sementara kedua rekannya mengamati cokelat di tangannya yang lain seraya menjelaskan, “Beberapa menit lagi, dua kali temper.”

Cedrik menemukannya dan mengangguk, nampak terganggu. “Trims, Chef.” Dia mengangguk pada Argha yang tersenyum tipis. “Saya akan mengecek termometer cokelatnya setelah ini.” Dia kembali ke kursinya dan menulis sesuatu di buku catatannya.

Argha mengangguk, namun tetap membawa cokelat itu ke mulutnya dan menggigitnya. Mengecek isinya sebelum memakan sisanya dan menyemprotkan antiseptik ke tangannya. Argha mengunyah sisa cokelatnya seraya menarik selembar tisu lagi dan mengelap tangannya.

“Konsistensinya bagus,” dia menelan kunyahannya, lidahnya menyukai apa yang baru saja dicicipinya. “It's smooth, chewy, and not too sweet. Personally the chocolate I'd love to stuff into my mouth. Tidak membuat mual.” Dia mengangguk pada Cedrik. “The problem is only the tempering then it's all good.”

Thank you, Chef.” Sahut Cedrik, tersenyum. “I'll check my equipment later.”

I also hear this legendary dessert?” Tanya Argha ketika pertemuan mereka berakhir dan Arsa meminta staf membawakan mereka camilan karena Kinan harus makan. “Seven Deadly Sins, if I'm not mistaken?”

Yes,” Cedrik mengangguk, jelas ingat hidangan penutup setinggi tujuh senti yang mendapatkan satu halaman di majalah kuliner itu. “Originally Arsa's recipe, but I did several things to the original recipe. Changed there and here.” Dia menatap Argha. “Come to Le Paradis, I'll serve you personally.”

Argha tergelak kecil, merogoh leather pouch-nya dan mengeluarkan antiseptiknya. Dia menyemprot tangannya untuk kesekian kalinya, menggosokkannya lembut disela-sela jemarinya demi menenangkan sarafnya yang tegang—membayangkan kuman-kuman di atas meja sedang berlarian di tangannya dan seseorang akan mati jika dia tidak melakukannya.

Sure,” Argha tersenyum senang. “I'd be delighted.”

Dia menyerah hari itu, akhirnya menelepon Sebastien meminta pemuda itu menjemputnya di Le Gourmet. Menolak makan siang dari Arsa karena tidak mau mengambil risiko bertemu dengan Abhimanyu. Argha tidak terlalu suka 'berteman' dengan pasangan one night stand-nya namun karena dia secara harfiah sendirian di Indonesia maka Sebastien adalah orang terdekat dan satu-satunya yang bisa diajaknya mengobrol.

Would you like to have lunch? Tanya pemuda itu dan Argha mengetik balasannya. Sure, I'm starving. We can stop by a hotel later, burn the calories. Xo

“Baik,” Argha berdiri ketika Sebastien meneleponnya. “Teman saya sudah sampai. Jadi, saya pamit dulu. Ketemu besok, Chef?” Dia melangkah ke arah Arsa yang sedang menyuap camilannya.

Arsa bergegas mengelap tangannya di apronnya dan Argha harus berjuang keras untuk tidak mengerutkan wajahnya lalu menarik tangannya ketika menyadari tangan kotor Arsa. Dia menggertakkan giginya ketika menjambat tangan Arsa, berusaha melawan keinginan spontan untuk mengibaskan tangannya. Takut Arsa menganggapnya tidak sopan meskipun alarm di kepalanya berdenging nyaring hingga nyaris melumpuhkan.

“Terima kasih, Chef.” Dia mengangguk ke Arsa lalu menyalami Cedrik, berusaha tidak mengernyit karena memikirkan bakteri yang menempel di tangannya—nyaris bisa merasakan sesuatu berlarian di telapak tangannya.

Dia menyalami Kinan sebelum keluar dari ruangan ditemani Hadrian, melihat Mercedes-Benz S300 putih susu Sebastien sudah menunggunya di depan pintu ganda. Jendela pengemudinya turun ketika Sebastien melihatnya, dan dia tersenyum. Argha balas tersenyum, senang menemukan wajah familiar setelah seharian merasa asing. Argha bergegas mengangguk pada Hadrian, menjaga tangannya sejauh mungkin dari tubuhnya.

“Terima kasih bantuannya,” dia mengangguk pada Hadrian, ingin bergegas memasuki mobil dan menyemprot tangannya dengan antiseptik ketika matanya menangkap seseorang yang melangkah ke arah ruang pertemuan yang baru saja ditinggalkannya.

Teddy Bear.

Argha berhenti, mengamati pemuda itu. Tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terpesona. Dia mengenakan seragam putih Le Gourmet, dengan topi tinggi di kepalanya—menyembunyikan rambut ikalnya menggemaskannya dengan sempurna namun Argha bisa merasakan kehadirannya. Dia seperti cokelat panas, siap di-temper untuk melarutkan lemak dan mendapatkan suhu yang sesuai sebelum dibentuk. Mendapatkan tekstur yang diinginkan.

Dan pemuda itu berhenti di pintu, mengetuknya. Hendak membukanya ketika daun pintu terayun membuka dan Cedrik muncul dari balik pintu. Argha menahan napas ketika senyuman terbit di bibir Teddy Bear itu ketika melihat Cedrik dan tatapan Cedrik padanya membuat Argha menggeleng.

Assez, Argha.” Bisiknya di bawah napasnya sebelum memalingkan pandangannya ke Hadrian. “Ketemu besok, ya?” Dia tersenyum lalu tanpa sempat menahan diri, dia melanjutkan. “Ah. Dia siapa?”

Hadrian mengerjap, menoleh ke arah tangan Argha dan tersenyum. “Ah, dia, Chef?” Dia menatap Argha yang menatapnya, antisipatif dengan jantung berdebar.

“Dia Abhimanyu,” Hadrian memberikannya senyuman heart-shaped menyenangkannya. “Head chef in-charge kami.”

*

tw // manipulation . ps. kacau sekali ya problematika kisah cinta om-om ini ckckck


Oh, damn, been a long time, Christ! Look at you, Sweet Darling! Gorgeous as usual!”

Argha bangkit, merengkuh mantan rekan kerjanya dalam pelukan hangat yang membuat Christian tertawa. Mereka berpelukan sebentar dan Argha mengecup kedua pipinya—kebiasaan yang dibawanya dari Paris*.

Itulah mengapa dia tidak terlalu suka bertemu siapa pun dengan pacar mereka yang terlalu overprotektif. Karena jika Argha benar-benar mau, dia bisa merebut pacar mereka tanpa berusaha keras. Tapi dia tidak melakukannya, 'kan? Seharusnya mereka bersyukur Argha tidak mengincar kekasih mereka. Dia benci melihat lelaki petantang-pententeng sok keren di sekitarnya, membuat risih.

Been amazing life lately, Chef. I engaged, work has been amazing and yeah, life's good.” Sahut Christian, tersenyum lebar dan Argha senang melihat betapa sehat dia terlihat ketika dia duduk di hadapan Argha. Rambutnya membentuk per-per manis di keningnya dan Argha mendesah melihatnya; Christian lembut dan hangat. Beruntung sekali lelaki yang mendapatkannya.

How's yours?” Tanyanya, menatap Argha dengan senyuman di wajahnya.

Argha mendesah, bersandar di kursinya dan menyilangkan kakinya. “Lumayan, tapi itu tidak hal yang kita bicara hari ini.” Sahutnya perlahan dan mengetes bahasa Indonesianya. “Sial, I have to learn Indonesian, Christ. I have to get rid of this stupid accent because I need to go undercover.”

Christian mengerutkan alisnya, tersenyum geli. “Undercover, eh?” Sahutnya. “Kau selalu melebih-lebihkan semuanya, dramatic king. Apa lagi sekarang? Bersembunyi dari one night stand psikopat?”

Argha mendelik, menyugar rambutnya. Dia mengerutkan alisnya, berusaha memproses isi kepalanya dengan bahasa Indonesia. Jika dia dua hari lagi akan masuk ke dapur Le Gourmet sebagai commis gadungan maka dia harus meyakinkan sous chef-nya bahwa dia bawahan.

“Aku...,” dia berhenti sejenak, mengerutkan keningnya. Sudah terlalu lama tidak menggunakan bahasa Indonesia karena tidak terlalu menyukai bahasa itu; bahasa yang digunakan keluarganya untuk mengatai keluarganya. Dia lebih nyaman berbicara dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Jepang.

Jepang karena Yukio dan demi Yukio.

“Aku ingin masuk...,” dia bicara, berpikir sejenak dan Christian mulai terkekeh. “Shut up, Christ!” Deliknya dan Christian mengangkat tangannya dengan pose menyerah, tersenyum seraya meraih gelas di hadapannya—mengecek isinya dengan senang.

“Wah, Chef masih ingat kesukaanku?” Tanyanya saat menemukan Signature Hot Chocolate dengan ekstra espresso di dalamnya.

“Tentu saja,” Argha mengangguk, mengedipkan sebelah matanya. “Aku selalu ingat....” Dia mengerutkan alisnya lagi, seperti orang sembelit. “Kesukaan pretty boys—oh, damn!” Dia memukul pahanya ketika bahasanya berubah tiba-tiba.

Christian tergelak renyah, membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. Starbucks Reserve Dewata hari itu tidak terlalu ramai terlepas dari fakta bahwa itu akhir pekan. Gedungnya yang didominasi kayu dan jendela membuat sinar matahari sore yang hangat masuk dengan leluasa, memberikan rasa yang menyenangkan. Argha memilih kursi di dekat jendela, sofa yang empuk berhadapan dengan Christian.

Argha mulai terbiasa dengan lingkungan sekitarnya, berpikir dia akan mencari kosan di dekat Gourmet. Mungkin dia bisa bertanya pada Arsa tentang ini daripada dia harus mencari-cari sendiri, mengekspos dirinya pada masalah karena ketidakmampuannya berbicara bahasa Indonesia dengan lancar. Pemilik vila yang disewanya ramah, dia mendapatkan sarapan yang lezat setiap pagi.

Mungkin dia akan tinggal di sana selama bekerja, memikirkan gajinya yang lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya serta tabungannya yang harus mulai diinvestasikan daripada menumpuk di rekeningnya—membuatnya harus membayar pajak lebih banyak..

“Apa yang Chef akan lakukan sebenarnya?” Tanya Christian, tersenyum. “Anda bergabung dengan tim Arsa di Le Gourmet, 'kan?”

Yes,” Argha mengangguk. “I'll join Arsa's team as commis for a little while, to check my sous's working method.” Argha menyesap minumannya perlahan, mengerutkan alis pada rasa matcha latte buatan baristanya. “Wait,” katanya memotong Christian yang hendak mengatakan sesuatu. “This drink tastes like dog's puke.” Gerutunya.

Argha berdiri, membawa minumannya ke konter dengan wajah terganggu. Melihatnya mendekat, seorang barista dengan apron hitam—bagus, karena Argha memang ingin bicara dengan seseorang yang paham keinginannya. Dia mendekat ke konter bar, meletakkan minumannya ke sana dan diam, menunggu seseorang menghampirinya.

Hi,” sapa barista itu tersenyum ramah, bergegas mendatanginya—menangkap ekspresinya yang tidak senang. “Is there something wrong?”

A lot.” Argha mengerutkan alisnya. “Are you the store manager?”

Barista itu mengangguk. “Yes, I am.” Dia tersenyum walaupun dari kilatan matanya, Argha tahu dia tahu ada masalah. “Anything I can help you?”

This beverage tastes like shit.” Katanya, mengerutkan alis dan mendorong minumannya. “Do you really know how to make drink? My dog's food tastes better than this.”

Barista di hadapannya menarik napas, meraih gelas minuman Argha. Berusaha mempertahankan senyuman profesionalnya ketika mengecek minuman Argha. “I do apologize for the inconvenience, what can I do to make your drink better?”

Argha mengerutkan alisnya, kentara sekali bahwa jawaban itu salah. “I don't know, Young Man.” Sahutnya, melepaskan suara chef-nya yang berasal dari perut—membuatnya keras tanpa berteriak. Membuat beberapa orang menoleh kaget mendengarnya. “You tell me. If I know what was wrong, then I'll be there behind the bar making drinks, won't I?”

Barista di hadapannya memucat sejenak sebelum mengangguk. “Sure, Sir.” Katanya nyaris mencicit, membawa kembali minuman Argha ke bar. “Please remain be seated and I'll bring the new beverage to you.” Dia tersenyum ramah dan Argha mengangguk.

Great.” Dia kemudian berbalik dan kembali ke tempat duduknya, disambut Christian yang mengulum senyuman geli. “Stupid people,” gerutunya seraya menghempaskan diri ke sofa di hadapan Christian.

You could just tell the poor man what was wrong tho, Chef.” Komentarnya ketika Argha duduk. “It will make it easier for him to fix the drink.”

Argha mengerutkan alisnya. “Feed him like elementary schooler?” Gerutunya dan Christian terkekeh, sudah paham bagaimana cara Argha mengoreksi orang lain.

Dia ingat ketika masih bekerja di bawahnya, commis baru mereka menangis karena diminta memperbaiki rasa makanan tanpa diberi tahu apa kesalahannya. Commis malang itu menghabiskan sepanjang hari berusaha memperbaiki makanannya dan Argha tidak juga puas hingga akhirnya Argha membuang makanannya, melempar piring malang itu ke tempat sampah lalu memasaknya sendiri. Dan barulah dia tahu bahwa dia hanya kurang memasukkan lada.

Your stupid taste buds need to be fixed, go see doctor.” Kecamnya seraya mengayunkan wok di atas api. “Crying won't save you, quit it! Or move it somewhere else I can't see you weeping like a kindergarten kid losing their turn for a motherfucking swing.” Tambahnya ketika commis itu mulai menitikkan air mata.

Menyebalkan, sangat. Namun Argha membuat mereka fokus pada pekerjaan dan semakin peka pada kesalahan mereka sendiri, detail dalam memasak. Karena lidah seniornya sangat peka pada rasa; dia bisa membongkar resep makanan hanya dengan satu-dua suapan sekaligus memperbaiki apa yang kurang. Itulah mengapa Christian yakin, Arsa akan sangat menghargai kemampuannya daripada tenggelam bekerja di resor di bawah perintah orang lain.

Argha akan membawa Arsa pada satu bintang Michelin lagi, Christian yakin. Dia lulusan Le Cordon Bleu Paris, memasak sepanjang hidupnya berkeliling separuh dunia, dan pernah belajar di bawah juru-juru masak kenamaan.

Jika dia bekerja di Le Gourmet, maka dia akan bertemu Abhimanyu. Tapi Christian tidak ingin “memperkenalkan” mantan atasannya pada anak itu. Mereka bisa bertemu sendiri nanti karena Christian juga tidak terlalu mengenal anak itu. Hal yang diketahuinya hanya Abhimanyu terlalu muda untuk jabatan head chef—sering mendengar Kinan mengeluhkan ini. Dalam hati sedikit cemas pada pertemuan pertama mereka: Argha yang tegas dan tanpa tedeng aling-aling dengan Abhimanyu yang hijau dan serba emosional.

Namun Christian tetap diam, tersenyum pada seniornya. “Baiklah. Mari belajar menghilangkan aksenmu.” Katanya.

Mereka mengobrol dalam bahasa Indonesia, Argha berusaha keras mengembalikan logat Indonesianya. Atau setidaknya berbicara dengan bahasa itu lebih lancar. Alisnya berkerut sepanjang mereka mengobrol, nampak berkonsentrasi pada setiap kalimatnya. Aksennya lebih condong ke Prancis dengan R panjang yang bergetar di ujungnya serta suara 'ng' sengau. Christian selalu tertawa ketika dia menyebut J sebagai Z dan Argha akan kehilangan kesabarannya.

“Lalu siapa nama yang akan kaugunakan untuk memperkenalkan diri?” Tanya Christian, menyesap minumannya sementara Argha berkomat-kamit mengetes kemampuan berbahasa Indonesianya.

I'll go with 'Wira'. Sounds too Indonesia and safe.” Argha menatapnya, meminta persetujuan.

Yes, true. But your accent not really.” Dia tergelak ketika Argha mengerang. “You'd better as Pierre or Jean-Baptise.” Kekehnya dan Argha mendelik.

Barista tadi datang ke meja mereka, membawa nampan terisi minuman baru Argha. Dia nampak sedikit takut namun memasang wajah ramah ketika meletakkan minumannya. “Sir, this is your drink. We hope it tastes good and if there's anything else you need our help with, please don't be hesitate to tell us.” Dia tersenyum dan Christian paham kalimat itu hanya sekadar basa-basi, namun barista malang itu tidak tahu siapa Argha Mahawira.

Of course I will tell you, gladly.” Sahutnya, meraih gelas minumannya dan barista itu menarik napas. “Let's see if you actually know how to make drink.” Barista itu mengangguk, tersenyum kering—sedikit pucat sebelum mengangguk pada Christian dan bergegas berlalu, nyaris berlari.

Argha menatap minumannya dan Christian melirik ke konter, menemukan barista tadi menatap mereka dengan tegang—menunggu Argha mencicipi minumannya. Dia tersenyum, teringat ketika dia bekerja bersama Argha. Lelaki di hadapannya menyesap minumannya dan mendecap perlahan, mengangguk senang lalu menoleh—menatap langsung ke barista tadi yang berjengit kaget karena ketahuan mengintip.

That's it, good job!” Katanya, memberi satu jempol dan Christian tertawa.

Mantan atasannya mungkin bermulut tajam, tapi dia tidak pelit pujian. Jika mereka memang melakukan hal yang benar, maka Argha akan memujinya—menepuk bahu mereka akrab. Bahkan ingat ketika dia mentraktir satu dapur untuk makan malam mewah karena mereka berhasil menyelesaikan servis paling panjang sepanjang karir Christian.

Dia dan Christian kemudian menghabiskan sisa hari untuk melatih lidahnya, berakhir dengan rasa frustrasi. Argha nampak jengkel karena tidak juga berhasil membuat R-nya terdengar jelas dan tajam seperti lidah Indonesia. Tidak berhasil mengucapkan J dan menegaskan 'ng'-nya. Wajahnya nampak kusut karena berusaha dan Christian tergelak.

Damn this stupid tongue,” Argha menyugar rambutnya, merasa frustrasi dengan kemampuannya sendiri. “Apakah menurutmu jika aku menggunakan bahasa Inggris dia curiga?”

Christian berpikir sejenak. “Kau bisa menggunakan nama yang lebih... Entahlah, tidak terlalu Indonesia lalu bilang saja kau bekerja karena Arsa memiliki bintang Michelin?”

Argha mengerjap, memikirkan alasan itu dan mengangguk. “Not bad,” komentarnya menatap ke seluruh penjuru ruangan, mengistirahatkan matanya ketika dia melihat seseorang mendorong pintunya terbuka.

Dia selalu mengagumi keindahan ragawi dan pemuda itu indah sekaligus hangat. Rambutnya sedagu, mengikal menggemaskan di kedua sisi wajahnya. Sedang tersenyum lebar, nampak menggemaskan seperti boneka beruang kesayangan seseorang. Meleleh bak cokelat yang dipanaskan, mengenakan kaus sederhana dan celana jins berpipa longgar. Mata bulatnya berkilauan ketika bahagia menyentuhnya dan Argha tersenyum, berpikir bahwa anak itu manis sekali.

Namun berhenti ketika seseorang mengulurkan tangan dari balik bahunya untuk menahan pintu baginya. Pemuda tinggi, langsing, berkulit seputih salju dengan topi di kepalanya. Dia menunduk ke pemuda Teddy Bear itu, mengatakan sesuatu yang membuatnya tertawa seraya melangkah ke bar, ke barista yang meneriakkan salam selamat datang.

Pemuda tinggi itu merengkuh bahunya seraya berjalan, menunjukkan pada semua orang bahwa pemuda itu miliknya. Ada taring menyembul di bibirnya ketika dia tersenyum dan pemuda di sisinya tertawa bersamanya; nampak manis dan serasi. Dan itulah red flag Argha; tidak merusak hubungan orang, persetan dengan betapa indahnya mereka. Dia tidak mau menjadi orang ketiga.

Argha tersenyum separuh, mengedikkan sebelah bahunya. “Pretty people sold fast,” komentarnya dan Christian mengerjap, mendongak dari ponselnya.

Pardon, Chef?” Tanyanya.

Argha tergelak, “Tidak, aku hanya bicara dengan diriku sendiri.” Katanya dengan aksen Prancis, melirik sekali lagi ke pasangan tadi.

Lelaki Teddy Bear itu memesan sesuatu dan kekasihnya menatapnya, seperti terhipnotis dengan senyuman kecil bermain di bibirnya seraya bersandar di konter. Argha tersenyum kecil, memahami ekspresi itu karena jika lelaki itu kekasihnya maka dia akan memperlakukannya dengan cara yang sama persis.

Argha memalingkan wajahnya, merasa tidak sopan menatap terlalu lama dan meregangkan tubuh. “Aku akan pergi ke toilet sebentar, okay?” Katanya pada Christian seraya bangkit, melicinkan pakaiannya. Terlalu lama belajar bahasa Indonesia membuatnya sakit kepala.

“Oke, Chef.” Christian melambai dan Argha melangkah ke arah toilet, melirik pasangan tadi sekali lagi seraya tersenyum.

Dia belum pernah menginginkan seseorang seperti dia menginginkan boneka menggemaskan itu. Dan perasaan ini mengganggu Argha karena anak itu sudah memiliki kekasih. Merogoh sakunya, dia mengeluarkan antiseptik dan menyemprot tangannya—mengusapnya lalu menyemprot gagang pintu di hadapannya.

“Kanan duluan,” gumamnya ketika memasuki toilet dan menggeleng jengkel. “No need, Argha.” Gerutunya pada dirinya sendiri, menggertakkan giginya. “No one dies if you enter the room left first.”

Namun dia tetap melakukannya. Argha menghembuskan napas, memijat pelipisnya. Dia harus memikirkan alibi yang baik untuk masuk ke dapur sebagai commis hari selasa nanti tanpa mengumumkan jam terbangnya. Berharap sous chef-nya tidak menyadarinya.


“Oh? Chef Christ!”

Abhimanyu mendongak pada Cedrik di sisinya, mendapati lelaki itu tersenyum ramah pada seseorang di depan mereka dan Abhimanyu menoleh. Menemukan lelaki langsing dengan rambut ikal menggemaskan duduk di sofa sendirian dengan dua gelas setengah kosong di depannya. Hatinya berdesir; siapa orang ini? Dan bagaimana Cedrik mengenalnya?

“Halo, Cedrik!” Sapa Christian, lelaki itu dan berdiri menghampiri Cedrik yang tergelak dan menyalaminya. “Sudah lama, ya, saya tidak melihatmu.”

Cedrik terkekeh dan Abhimanyu mengerutkan alis, tidak suka melihat lelaki itu tertawa dengan orang lain. “Tidak terlalu lama, Chef. Terakhir mungkin beberapa bulan lalu ketika kita menyelesaikan The Kinan untuk Arsa.”

“Ah, ya!” Christian menjentikkan jarinya, tersenyum secerah matahari pada Cedrik. “Aku ingat, ya, benar.” Dia menepuk bahu Cedrik. “Bagaimana dapur setelahnya? Aman?”

Cedrik mengangguk, menggenggam gelas di tangan kanannya. “Safe and sound as long as Arsa Mahardika ruled the kingdom.” Dia mengangguk serius dan Christian tertawa.

Abhimanyu menyesap minumannya. Dia bertemu Cedrik berdua saja? Untuk apa? Dia mengamati keduanya, merasa sedikit jengkel karena Cedrik tidak memperkenalkannya pada Christian seperti sebagaimana seharusnya. Dia menumpukan berat badannya pada kaki kanannya, mengetuk-ngetuk lantai dengan telapak kakinya—tidak sabaran.

Hari libur selalu mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama, sudah begitu sejak pertama kali mereka dekat. Jika bukan Cedrik yang menjemputnya ke Seminyak, maka Abhimanyu yang berangkat ke Ubud. Dulu ketika mereka masih sama-sama di Le Paradis, lebih mudah berpergian. Dia, Cedrik, dan Raditya. Mereka selalu makan bersama sepulang bekerja, minum bersama jika libur, dan berlibur bersama—mencoba hal-hal baru, menjajal tempat wisata baru.

Namun hari ini dia tidak bisa bergabung, Raditya. Karena kekasih jarak jauhnya datang untuk menginap seminggu bersamanya. Cedrik memberi tahunya ketika menjemputnya pagi tadi, Abhimanyu mengedikkan bahu. Tidak masalah.

Semenjak mereka bekerja di tempat yang berbeda, waktu bersama jadi begitu terbatas. Mereka hanya bisa bertemu pada hari libur, tidak bisa lagi makan bersama sepulang bekerja. Itu terkadang membuat Abhimanyu kesepian; merindukan Cedrik dan Raditya, serta kosan mereka bertiga dulu. Namun jika dia tidak pindah ke Gourmet, dia tidak mungkin mendapat posisi head chef.

Walaupun sekarang posisi itu bukan lagi miliknya.

Abhimanyu menggertakkan gigi, menatap minumannya dengan jengkel seolah benda itu adalah Argha, calon head barunya. Dalam hati berharap dengan tulus Argha terkena gangguan pencernaan hari ini.

Cedrik pastilah menyadari perubahan emosi Abhimanyu karena dia menoleh dan menatapnya. Abhimanyu balas menatapnya, mengedikkan dagunya untuk bertanya dan lelaki itu tersenyum.

“Chef sudah mengenal Abhimanyu, 'kan? Sous chef Arsa.” Katanya, mengulurkan tangan dan menyentuh punggung Abhimanyu lembut—memintanya mendekat dengan sayang.

Christian tersenyum. “Halo, ya!” Katanya mengulurkan tangan dan Abhimanyu bergegas menjabatnya. “Tapi kurasa kita belum berkenalan secara resmi, ya, Abhimanyu? Tapi aku dengar banyak tentangmu dari Arsa dan Cedrik.” Dia mengguncang tangan Abhimanyu beberapa kali sebelum melepasnya. “Saya Christian,”

Abhimanyu membalas senyumannya. “Halo, Chef. Saya Abhimanyu. Senang berkenalan dengan Chef.”

“Sendirian, Chef?” Tanya Cedrik kemudian, meletakkan satu tangannya di punggung Abhimanyu—gestur bahwa dia tidak melupakan Abhimanyu dan itu membuatnya senang. “Tidak bersama Chef Felix?”

“Oh, tidak!” Christian melirik gelas di meja sebelum melirik Abhimanyu yang mengerjap, menyadari tatapan itu. “Saya bersama teman saya, sedang di toilet. Felix sedang di rumah, tidak ingin bergabung.”

Cedrik mengangguk. “Baiklah, saya tidak akan mengganggu Chef lama-lama.” Dia tersenyum dan Abhimanyu menatapnya, menyukai senyuman Cedrik yang selalu menenangkan. Belum lagi tahi lalat mungil di bawah matanya dan pembawaannya yang selalu lembut. “Kami akan naik ke atas.”

Christian tergelak. “Saya juga tidak akan mengganggu kencan kalian.” Dia tersenyum pada Abhimanyu yang merona tipis. “Selamat berakhir pekan.” Dia melambai pada keduanya ketika Cedrik membimbingnya naik ke lantai dua, menikmati suasana yang lebih tenang.

“Dia teman Arsa,” Cedrik menarik kursi untuk Abhimanyu sebelum dirinya sendiri duduk di hadapan Abhimanyu. “Bekerja di Jumana Resort, bawahan tunangannya.”

Abhimanyu mengerjap. “Mereka bertunangan dan bekerja di satu tempat kerja?” Tanyanya, terkekeh kecil. Karyawan Kinan tidak akan pernah merasakan itu karena Kinan dengan tegas melarangnya—jika mereka akan berpacaran, maka salah satu harus ditransfer ke restoran lain atau berhenti.

Tidak terlalu adil karena dia dan Arsa secara harfiah menikah. Namun tidak ada yang bisa menandingi profesionalitas Kinan yang memanggil Arsa dengan 'Chef' menggunakan nada paling dingin yang pernah didengar Abhimanyu. Menatapnya seolah dia benar-benar rekan kerja tanpa sedikit pun—sedikit pun percikan cinta di matanya. Dia benar-benar bajingan berdarah dingin jika bekerja.

Ketika Arsa mengingatkannya hal semacam, “Jangan lupa makan.” Kinan akan mengangguk seolah Arsa hanya mengingatkannya untuk bekerja.

Dan Abhimanyu iri pada hubungan mereka, pada bagaimana Arsa menatapnya seolah Kinan baru saja membawakannya matahari. Menyelamatkan dunianya, meniupkan jiwa ke tubuhnya dan membuat Arsa bernyawa. Pemujaan yang takzim, seolah Arsa sedang memuja Tuhan.

Abhimanyu tidak menyukainya.

“Berhenti.”

Abhimanyu mengerjap, menoleh ke Cedrik yang menatapnya. Dia melepas topinya, membiarkan rambutnya yang mulai gondrong terurai membentuk tirai tipis di keningnya yang tinggi. “Ya?” Tanyanya, mengerjap.

“Kau sedang memikirkan hal yang tidak menyenangkan.” Cedrik mengulurkan tangan, menyisir rambut Abhimanyu ke belakang dengan jemarinya—aroma parfumnya menyenangkan; seperti cotton lembut, sedikit bedak bayi. “Terlihat dari wajahmu.”

Abhimanyu suka perlakuan Cedrik padanya; selalu lembut, hangat, menenangkan. Dan dia selalu sabar pada Abhimanyu, tidak pernah menaikkan suaranya. Mengumpat sekali-dua kali, namun kemudian menjelaskan pada Abhimanyu maksudnya seraya meminta maaf. Seperti permen kapas, Cedrik manis menyengat namun membuat lidahnya merindu.

Namun dia tidak bisa membalas perasaannya. Entah mengapa, sikap lembut Cedrik terasa menyenangkan tetapi bukan hal yang dicarinya. Dia ingin pasangan yang bisa membuatnya merasa bersemangat sepanjang waktu—membuatnya merasa diinginkan, membuatnya merasa berharga. Diberi tatapan takzim seolah sedang memuja Tuhan....

Abhimanyu menatap Cedrik di hadapannya. “Maaf jika begitu.” Sahutnya, tersenyum kecil lalu menyesap minumannya. “Kau masih belum mendengar apa pun tentang Argha?” Tanyanya.

Cedrik menghela napas, menautkan jemarinya dan menatap Abhimanyu. “Why are we talking about this Argha guy if that only makes you upset?” Sahutnya, menatap Abhimanyu. “I'm here to make you happy, alright?”

Abhimanyu memalingkan wajahnya sejenak dari Cedrik sebelum kembali menatapnya. Tidakkah Cedrik menyadari bahwa dia sedang memperjuangkan posisinya sebagai head chef sekarang? Kenapa dia tidak bersikap suportif pada Abhimanyu dengan memberi tahu segala hal yang dia tahu sebagai tim Executive dan sahabat dekat Arsa?

“Cedrik,” mulainya, memicingkan matanya pada Cedrik. “Kau tahu seberapa aku menginginkan posisi head chef itu dan jika kau memang mencintaiku, kenapa kau tidak mendukungku?”

Cedrik balas menatapnya lalu memalingkan wajah seraya menghela napas berat. Dia bersandar di kursinya, meluruskan kakinya hingga menyentuh kaki Abhimanyu di bawah meja. Dia menyugar rambutnya, menatap Abhimanyu dengan wajah ditelengkan—ekspresinya tidak tertebak.

“Karena aku mencintaimu dan aku tahu dirimu, Abhimanyu.” Katanya, jernih dan tegas. Kalimat itu membuat Abhimanyu menarik napas tajam, merasa dingin merambati kaki dan tangannya—keringat mulai terbit di permukaan telapak tangannya.

Dia benci ketika Cedrik mengucapkan betapa dia mencintai Abhimanyu dengan gamblang dan tegas. Jernih. Membuatnya takut dan gelisah.

“Itulah mengapa aku tahu bahwa kau belum siap menjadi head chef.” Lanjutnya, sama tegasnya. “Di bawah kepemimpinan Argha, kau mungkin akan belajar banyak hal baru sebelum menjabat menjadi kepala.”

Abhimanyu melambaikan tangannya di antara mereka, seolah mengusir lalat yang mengganggu—menghentikan Cedrik dengan decakan marah meloloskan diri dari bibirnya. “Aku hanya akan belajar dari Arsa dan hanya Arsa.” Sahutnya, menatap Cedrik—menantangnya.

Menyadari suasana yang mulai keruh, Cedrik menarik napas. “Aku tidak mau membicarakan ini.” Katanya mengulurkan tangan dan mengusap tangan Abhimanyu di atas meja.

Abhimanyu membalik telapak tangannya, membiarkan Cedrik menggambar pola melingkar di atasnya dengan telunjuknya yang kurus. Gerakan itu mengaduk dasar perut Abhimanyu, membuatnya merasa semakin gelisah.

“Aku tidak mau membuatmu jengkel.” Kata Cedrik lembut dan menatapnya, tersenyum tipis. Abhimanyu menahan napas.

Dia mudah dicintai, Abhimanyu tahu. Dia perhatian, lembut, penyayang, dan pekerja keras. Selera humornya benar-benar sehat, Abhimanyu tidak pernah jengkel jika bersamanya—dia selalu pandai menyetir pembicaraa, membangun percakapan. Itulah yang membuatnya dan Arsa menjadi duo yang menyenangkan; Arsa yang selalu serius dan Cedrik yang penuh gurauan.

Tapi, mengapa hatinya tidak juga jatuh cinta pada Cedrik?


  • Cipika-cipiki itu hal wajar di Paris, sama kayak salaman di Indonesia. Cowok kek, cewek kek, mereka pasti cipika-cipiki kalo udah akrab <3

ps. asyiiik seru khaaaan gemati qiqiqi

dibuat sebagai hadiah ultah kak @bluegreyvk <3 happy belated birthday, kak pika sayangnya ire bulolnya mas aji #1!!!! keep being you, the most supportive, caring, and positive person I've ever known! <33


Ajiwira menghela napas, menatap ponselnya dengan resah karena Gabriel belum juga memberinya kabar hari ini.

Mereka hanya berpisah di teras rumah tadi ketika berangkat bekerja, Gabriel meluncur duluan dengan mobilnya seraya mengklaksonnya sebagai tanda pamit sebelum Ajiwira menutup gerbang karena ibunya sedang di Wonosari dan berangkat ke pabrik bersama Jonathan.

Dan setelahnya Gabriel tidak memberikannya kabar apa pun sepanjang hari.

Dia mendongak dari ponselnya, menatap pabrik yang teduh dan ceria. Dia mendengar Jonathan mengobrol dengan Simbah Putri, pembatik tertua mereka, yang selalu memanjakan Jonathan dan memanggilnya dengan “putu-ku” sambil memeluknya. Sisanya, semua orang sedang bekerja dengan damai; beriak air sumur di sudut yang digunakan untuk membasuh lilin batik, suara batik cetak di seberangnya, dan suara lagu Jawa dari radio untuk para pembatik sepuh bekerja di teras.

Ada beberapa tamu, ditemani oleh anak depan memilih batik dan melihat-lihat proses pembuatan batik cetak yang lebih mudah dari batik tulis; cepat dan singkat. Ajiwira bersandar di kursinya, memikirkan sudah seberapa jauh dirinya melangkah setelah pertengkarannya dengan ayahnya di masa lalu.

Sekarang hidupnya sudah lebih baik dan damai, tidak ada keributan yang terlalu menguras tenaganya bersama Gabriel. Mereka bisa menyelesaikan konflik tanpa argumen, berkepala dingin, dan terstruktur. Gabriel juga tidak pernah takut meminta maaf jika dia salah, terus memperbaiki dirinya.

Ajiwira kembali menatap ponselnya, mengamati status di bawah nama kontak Gabriel yang masih kosong—kekasihnya mematikan fitur “terakhir dilihat” pada akun Whatsapp-nya. Dia mendesah lalu mengetik:

Hari ini pulang jam berapa, Dek?

Dia menunggu, menatap layar berharap pesan itu berubah tanda menjadi biru namun pesannya bergeming. Ajiwira mendesah lalu meletakkan ponselnya, berdiri dan keluar dari ruangan; tidak ingin mengasihani dirinya sendiri saat kekasihnya sibuk bekerja. Dia keluar ke lorong, menoleh ke kanan dan menemukan Jonathan duduk di selasar bersama para sepuh, tertawa ceria.

Sudah mulai sore, batik-batik yang dijemur mulai diangkat untuk diproses kembali keesokan harinya. Mereka memiliki pesanan batik lumayan banyak untuk seragam pegawai pemerintahan di Purworejo. Mereka akan mengirimkannya lima hari lagi, maka Ajiwira meminta manajer operasionalnya untuk mempercepat prosesnya karena pesanan baru datang dari Pemkot Yogyakarta.

Pabrik sibuk sekali dan Ajiwira senang.

“Mas Aji!”

Ajiwira tersenyum, menoleh pada Jonathan yang menandak ke arahnya dan otomatis mengulurkan sebelah lengannya. Jonathan memeluk pinggangnya, tersenyum lebar. “Kenapa?” Tanya Ajiwira menunduk.

Sejak Jonathan tinggal bersama mereka, Ajiwira merasa 'utuh'. Seolah memiliki anak remaja yang membuat suasana rumah menjadi lebih menyenangkan. Dia selalu bicara, mengomel, dan membuat semua orang tertawa. Tahu latar belakangnya tentang dua ayah yang tidak becus membesarkannya, Ajiwira merasa bertanggung jawab untuk memberikannya figur ayah yang Jonathan butuhkan.

“Malam ini kita beli martabak, boleh?” Tanyanya, menggelayut di Ajiwira dengan manja dan mereka sudah terbiasa dengan sikap itu. Jonathan suka berbaring di pangkuan Gabriel, memeluknya dari belakang, selalu membutuhkan physical touch untuk mengekspresikan sayangnya.

Itulah mengapa hubungan jarak jauhnya dengan Raditya bergolak belakangan ini.

“Boleh.” Ajiwira menangguk tersenyum, mengusap rambut biru elektriknya yang menarik perhatian. “Kita beli dua untuk Mas Eb juga?” Tanyanya.

Jonathan mengangguk lalu menegakkan tubuhnya, Ajiwira melepasnya dan menatapnya sayang. Merasa seolah membesarkan seorang anak dengan menyaksikan perkembangan Jonathan dan Raditya. “Tapi, Mas Eb tidak terlalu menyukai martabak.”

Ajiwira mengangguk. “Bukan berarti Mas Eb tidak mau, 'kan?” Balasnya lalu mengusap kepalanya sekali lagi, pikirannya kembali ke ponselnya. Ke Gabriel yang tak kunjung membalas pesannya.

Tumben sekali. Biasanya sesibuk apa pun Gabriel, dia selalu membalas pesan Ajiwira atau setidaknya mengabarinya bahwa dia akan sibuk seharian. Maka ini sedikit-banyak membuatnya cemas, ingin meneleponnya namun takut mengganggu Gabriel yang sedang bekerja. Mungkin hanya sedang fokus dan tidak sempat mengabari Ajiwira, dia harus berusaha bersikap tenang. Gabriel sudah bersamanya selama tiga belas tahun, jika dia memang akan meninggalkan Ajiwira, dia sudah melakukannya bertahun-tahun lalu.

Namun dia bertahan. Berkenan pindah agama menjadi Islam untuk Ajiwira. Tinggal bersamanya. Memohon penempatan di Yogyakarta ketika diklat di Cianjur. Gabriel sudah melakukan segalanya untuk bersama Ajiwira, rasanya tidak pantas Ajiwira meragukannya hanya karena satu hari tidak mengabarinya.

“Kita masak untuk Mas Eb, yuk?” Ajiwira kemudian bersuara dan Jonathan menoleh dari ponselnya, nampak bersemangat. Seperti anak anjing menggemaskan yang selalu melompat-lompat ceria.

“Masak apa?” Tanyanya dan Ajiwira nyaris bisa melihat ekor tak kasat mata Jonathan mengibas dengan ceria ketika mengatakannya.

“Nasi goreng? Kesukaan Mas Eb?” Tawarnya dan Jonathan mengangguk. Ajiwira tersenyum, setidaknya resep mudah itu tidak akan membuat Jonathan merusak dapur dan mendapat jitakan main-main dari Gabriel.

Assalamualaikum, Pak!”

Ajiwira mengangguk dan melambai, “Wa'alaikumsalam, ngatos-atos, nggih!” Sahutnya pada karyawannya yang membubarkan diri setelah jam pulang kerja sebelum kembali ke gembok di tangannya, menutup gerbang pabrik.

Jonathan sudah menunggu di atas motor, siap mengantar mereka kembali pulang dan mampir di mini market membeli sosis kesukaan Gabriel. Ajiwira meraih helmnya, mengenakannya sebelum naik ke jok belakang motornya.

“Sudah, 'kan, Mas?” Tanya anak itu, menoleh ke gerbang yang sudah digembok.

“Sudah, ayo pulang.” Ajiwira mengangguk dan Jonathan mengendarai motornya seraya bersiul ceria.

Perjalanan dari pabrik ke rumah tidak jauh, namun mereka memutar untuk pergi ke depan membeli martabak di depan Indomaret. Ajiwira memasuki mini market dan mengambil beberapa makanan kesukaan Gabriel, entah mengapa ingin memberikannya sesuatu malam ini. Berpikir kekasihnya pasti lelah bekerja hingga tidak sempat mengabarinya. Dia meraih cokelat dan beberapa kantung cemilan, juga kesukaan Jonathan sebelum beranjak ke kasir. Melirik ke pintu kaca, dia melihat Jonathan duduk di atas motor dengan satu kaki terlipat di atas jok menunggu pesanan martabaknya dikerjakan.

Langit Yogyakarta bersemburat jingga, dari kejauhan terdengar suara anak-anak mengaji di pengeras suara masjid terdekat. Ajiwira menghela napas, hari sederhana dengan rutinitas sederhana yang membuatnya nyaman. Dia memeluk belanjaannya, menatap langit dan membayangkan pulang ke rumah. Bertemu Gabriel, mengobrol dengan Jonathan dan merasa “di rumah” lalu menghela napas teringat jungkir balik dunianya dan Gabriel beberapa tahun silam.

Sekarang, dia bisa menoleh ke belakang dan tersenyum setelah luka di hatinya sembuh.

“Totalnya...”

Ajiwira mengangguk, merogoh sakunya untuk mengeluarkan dompet dan menarik beberapa lembar uang. Membayarnya lalu menyelipkan dompetnya kembali ke saku belakang celananya dan menunggu belanjaannya dibungkus. Dia berterima kasih seraya tersenyum dan mengangkat kantung plastiknya.

Dia menyempatkan merogoh sakunya, mengecek ponselnya yang hening. Pesannya ke Gabriel bahkan belum dibaca. Dia menarik napas dengan resah, mengirim pesan lagi pada kekasihnya dengan hati berat:

Lembur, ya, Dek?

Ajiwira menatap ponselnya, menunggu dan berharap Gabriel membacanya namun tetap saja tidak ada yang terjadi. Ajiwira menarik napas, menenangkan dirinya sendiri agar tidak cemas. Jika setelah Maghrib Gabriel belum membalas pesannya, dia akan menelepon kantor Gabriel dan menanyakan apakah kekasihnya baik-baik saja. Menggeleng, dia berusaha mengenyahkan pikiran tentang kecelakaan yang mungkin menahan Gabriel.

Dia menuruni tangga perlahan, mengatur isi kepalanya agar tenang sebelum menoleh dan mendapati Jonathan sudah menunggunya dengan dua porsi martabak digantung di depan. Anak itu menunduk ke ponselnya, sedang mengetik sesuatu—pasti Raditya, pikir Ajiwira. Sedikit resah karena kekasihnya belum juga membalas pesannya.

“Ayo, Mas Aji, aku lapar!” Katanya ceria ketika Ajiwira mendekat, mendongak dari ponselnya. Jonathan menyimpannya kembali ke sakunya lalu mengenakan helmnya dan menegakkan motornya.

“Kau tidak pernah tidak lapar.” Sahut Ajiwira, menaiki jok belakang dan memegang bahunya.

“Masa pertumbuhan memang begitu, Mas.” Jonathan mengangguk, menyalakan motor Ajiwira. “Makan agar tetap bertumbuh sehat dan kuat untuk melawan musuh.” Katanya dan Ajiwira tergelak.

Motor meluncur pulang, ditemani suara gema anak-anak yang mengaji dan suara motor karyawan yang pulang bekerja. Ajiwira mendongak ke langit, tidak merasakan getar di ponselnya. Gabriel belum menghubunginya, bahkan tidak memberi tahunya apakah dia lembur atau tidak hari ini.

Ajiwira mengamati jalanan, menelan kekhawatirannya dan tidak ingin memberi tahu Jonathan tentang isi kepalanya yang terasa pekat. Rasa cemas yang semula setitik, kini perlahan membesar dan melebar—membuatnya merasa udaranya diracuni rasa cemas yang tidak bisa dihentikan. Ajiwira menarik napas, menyebutkan istigfar berkali-kali, menjauhkan pikiran tentang kecelakaan Gabriel dari kepalanya.

”... Mas? Mas??”

Ajiwira mengerjap dan menoleh ke Jonathan yang menatapnya dengan cemas, berkali-kali dari refleksi di kaca spion. “Oh, kenapa, Na? Maaf, Mas agak melamun.” Dia menyentuh keningnya di balik helm.

“Mas sakit?” Tanya Jonathan cemas. “Mau istirahat?”

Ajiwira menggeleng. “Tidak, hanya memikirkan hal lain.” Katanya, merogoh sakunya dan mengecek ponselnya—menyadari dengan resah Gabriel belum juga membalas pesannya.

Dia kembali menyimpan ponselnya, berusaha mengabaikan perasaannya sendiri. Gabriel pasti baik-baik saja, mungkin lupa membalasnya dan sekarang sudah di rumah menunggunya. Tapi tetap saja, Ajiwira tidak bisa menenangkan pikirannya yang bergerak liar seperti binatang buas—mendesaknya memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

Jonathan meliriknya selama perjalanan dan menaikkan kecepatannya, ingin segera tiba di rumah lalu meminta Ajiwira beristirahat. Dia membelok ke Jalan Prawirotaman, meluncur lurus dan memasang sein untuk membelok ke gang kecil ke arah rumah.

Ajiwira menegakkan tubuhnya ketika rumah mulai terlihat dan merasa darahnya surut ketika tidak melihat mobil Gabriel di halaman. Jantungnya terasa mencelos hingga ke dasar perutnya ketika dia menuruni motor dan membuka gerbang kecil untuk motor.

“Mas Eb belum pulang, ya? Tumben.” Gumam Jonathan seraya memasukkan motornya, memarkir motor itu di bawah atap kanopi garasi mereka.

Ajiwira merasa tangan dan kakinya dingin, dia merogoh sakunya. Telinganya berdenging keras oleh rasa cemas dan khawatir, dia nyaris tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri saat menggenggam ponselnya hendak menelepon Gabriel. Nyaris menjatuhkannya ke tanah dan tidak mendengar Jonathan yang memanggilnya. Dia melepaskan genggamannya pada plastik terisi makanan di tangannya untuk menggenggam ponsel dengan kedua tangannya; gemetar oleh rasa cemas.

Pikiran Gabriel kecelakaan berdentam-dentam di kepalanya, membuat kepalanya nyeri dan tidak bisa fokus pada apa pun. Tangannya gemetar, mencari nomor Gabriel di ponselnya dan berusaha menekan tombol hubungi. Napasnya pendek, kekhawatiran membuatnya lumpuh dan persis ketika dia menempelkan ponsel di telinganya lalu mendongak—dia melihatnya.

“Mas?” Gabriel tersenyum, menyambutnya sebelum senyumannya surut karena menyadari ekspresi Ajiwira. “Lho? Mas kena—?”

Allahuakbar.” Tangisnya, nyaris tidak mendengar kalimat Gabriel saat menjatuhkan ponselnya dan langsung berlari ke arah Gabriel yang berdiri di pintu depan dengan pakaian bekerjanya, kebingungan pada kekasihnya.

“Sayang, Sayang!” Ajiwira memeluknya erat, membenamkan wajahnya di cerukan leher Gabriel yang kebingungan namun balas memeluknya. “Sayang, Astaghfirullah, Alhamdulillah.” Dia mengeratkan pelukannya, merasa jantungnya berdebar lebih kuat oleh rasa lega.

“Kenapa??” Tanya Gabriel kebingungan. “Tadi mobilku bannya bocor dan velg-nya bengkok jadi harus masuk bengkel. Aku tidak sempat mengabari Mas karena aku mondar-mandir mengurus dokumen lalu dayanya habis.” Dia membelai punggung Ajiwira yang meluruh di pelukannya.

Jonathan mendekat dan menggeleng ketika Gabriel menatapnya, mencari penjelasan atas sikap kekasihnya. Ajiwira memeluknya erat sekali, menghirup aromanya nyaris seperti pengguna narkotika yang tidak bisa hidup tanpanya.

“Mas?” Bisik Gabriel lembut, mengusap rambutnya lembut. “Kita di luar? Masuk dulu, ya?”

Ajiwira menarik napas, menarik tubuhnya dan menatap Gabriel yang masih menggunakan kacamata. Rambutnya disisir rapi, lengket oleh gel rambut yang membuatnya tetap di tempat. Masih mengenakan kemeja rapi dan melepas jas hitamnya—nampak sehat kecuali kantung mata gelapnya. Ajiwira meremas lengan atasnya.

Alhamdulillah.” Bisiknya berulang-ulang.

Dia kembali memeluk Gabriel ketika Jonathan menutup pintu depan dan mereka ada di ruang keluarga yang hening. Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Gabriel, menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya yang lebih bidang—menyebutkan syukur berulang-ulang.

“Kenapa, sih?” Gabriel tergelak kecil, mengusap punggung Ajiwira dengan tangannya yang hangat. Dia mengecup bahu Ajiwira di hadapannya, menyandarkan kepalanya di sana—sedikit tersenyum. “Mas khawatir, ya? Maafkan aku, lupa mengabari karena sibuk.”

You have no idea.” Bisik Ajiwira, mengeratkan pelukannya. Jantungnya berdebar begitu kuat hingga rusuknya nyeri. “No, you don't have any idea about it.”

Gabriel tergelak, “Tadi aku mampir ke UGM,” gumamnya perlahan, membelai punggung Ajiwira.

“Kenapa?” Tanya Ajiwira, masih menolak melepaskan pelukannya.

Gabriel menggigit bibirnya dan tersenyum. “Mendaftar untuk S3.”

Ajiwira menegakkan tubuhnya, mendorong Gabriel dan meremas bahunya. “Sungguh?” Tanyanya. Jantungnya kembali melonjak, kali ini dengan perasaan bangga dan bahagia. “Kau akhirnya mempertimbangkan mengambil studi lagi??”

Gabriel mengangguk, tergelak kecil. “Tapi kasusku dikurangi, pekerjaanku juga dibatasi agar aku bisa fokus pendidikan sebelum kembali aktif.” Dia tersenyum lebar. “Aku sudah membicarakannya dengan seniorku dan katanya tidak masalah, ada banyak hakim lain yang bisa membantu kasus-kasusku.”

Ajiwira menghela napas, senang. Hatinya sesak oleh rasa bangga. Dia tidak pernah ingin melanjutkan pendidikannya, toh dia sekarang sudah dalam zona nyaman dengan usahanya yang terus naik secara stagnan—tidak tinggi, tapi cukup untuk keperluan mereka. Dan mendengar Gabriel akhirnya melanjutkan pendidikannya—menyelesaikannya demi dirinya sendiri membuatnya bangga.

Dia mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada Gabriel yang tersenyum lebar—sama manisnya, sama lugunya, dan sama menggemaskannya seperti pertama kali mereka bertemu, bertahun-tahun lalu di Kraton. Di bawah matahari Yogyakarta yang panas melalui lensa kamera Gabriel.

“Mas bangga sekali padamu.” Bisiknya, memeluk Gabriel dan mengecup keningnya. “Bangga sekali. Sangat bangga.”

Gabriel tergelak ceria, gemericing seperti genta angin ketika balas memeluknya. “Terima kasih, Ndoro.” Guraunya dan Ajiwira tersenyum lebar.

“Ayo, makan-makan kita rayakan!” Seru Jonathan dari dapur, sejak tadi menyingkir memberi ruang untuk Ajiwira dan Gabriel. “Mas Eb calon mahasiswa S3, Mas Eb menuju botak licin!”

Gabriel mengangkat wajahnya dan mengecup bibir Ajiwira. “I love you.” Dia tersenyum lebar.

Ajiwira mengecupnya, lalu mengecup kedua pipinya, ujung hidungnya, keningnya, dagunya—Gabriel mulai terkekeh ceria ketika Ajiwira mengecup kedua kelopak matanya, mengeratkan pelukannya.

“Mas!” Kekehnya, menggeliat dalam kedua lengan Ajiwira.

I love you too.” Dia mengecup sisi wajahnya dan Gabriel tertawa. “Jangan hilang lagi, ya?”

“Oke!” Gabriel tergelak. “Maafkan aku.”

Ajiwira tersenyum, mengecup keningnya. “Dimaafkan.”


HAPPY BELATED BIRTHDAY, BULOL MAS AJI #1! IRE LOVES U!!!! <3

cw // mature explicit content and word choices for Argha's part.


“Tidak akan terjadi apa-apa,” kata Cedrik di atas motornya, menatap Abhimanyu yang diturunkannya di parkiran karyawan basemen Le Gourmet. “Arsa tidak akan marah.”

Abhimanyu menatap seniornya yang masih mengenakan helm, rambut ash silver Cedrik mengintip dari tepian helmnya. Kulitnya yang seputih salju berpendar cantik dan matanya selalu menatap Abhimanyu dengan lembut; selalu begitu sejak mereka pertama mengobrol di Le Paradis dua tahun lalu.

“Yah, semoga saja.” Katanya, melepaskan helmnya lalu meletakkannya di atas motornya sendiri dan menghela napas.

“Sampai bertemu nanti,” Cedrik mengulurkan kepalan tangannya dan Abhimanyu tersenyum, membenturkan lembut kepalan tangannya ke sana.

“Telepon aku sepulang bekerja?” Tanyanya dan Cedrik mengangguk dengan senyuman di bibirnya, sebelum meluncur kembali ke Ubud.

Abhimanyu menghela napas, memikirkan betapa Cedrik benar-benar menempuh perjalanan Ubud-Denpasar-Seminyak-Ubud demi dirinya. Meninggalkan prep demi mengantarnya kembali ke restoran dari rumah sakit padahal Abhimanyu bisa saja memesan taksi daring.

“Jadi, kapan kalian akan berpacaran?”

Abhimanyu meringis, teringat pesan Hadrian tadi dan menggeleng. Dia punya hal yang lebih penting daripada memikirkan Cedrik.

Melangkah pergi dari basemen, dia menaiki tangga menuju lantai Ground dan bergegas meluncur ke arah ruangan Arsa. Abhimanyu menarik napas panjang, menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya—meringis ketika gerakan itu menyakiti lukanya sebelum mengangkat kepalan tangannya untuk mengetuk pintu di hadapannya.

“Ya?” Sahut suara Arsa dari dalam.

Dia kembali menarik napas, merasakan debaran jantungnya yang kacau dan keringat di telapak tangannya. Abhimanyu benci perasaan ini; perasaan berat karena mengecewakan seseorang. Rasanya menggelayuti hatinya, membuatnya merasa lelah dan kebingungan. Dia ingin Arsa memujinya, puas atas hasil kerjanya, dan mempertimbangkannya menjadi head chef. Namun yang dilakukannya selama satu minggu ini adalah mengacaukan dapur.

Haruskah dia mengambil employee benefit-nya pergi ke psikolog perusahaan seperti apa yang disarankan Arsa?

“Saya, Chef.” Sahutnya, sedikit gemetar di ujung kalimatnya dan menarik napas dalam-dalam, mengelap telapak tangannya yang basah di apron yang belum sempat dilepasnya tadi.

“Oh,” kata Arsa dari dalam, terdengar cukup tenang. Namun Abhimanyu harus tetap bersiaga. “Masuklah, Abhim.”

Abhimanyu meraih gagang pintu dan membukanya seraya menggumamkan permisi, menjaga tatapannya turun selama sepersekian detik sebelum mendongak—kebiasaan yang selalu dilakukannya demi menghormati privasi seseorang di dalam ruangan. Memberikan mereka sepersekian detik untuk menghentikan obrolan atau kegiatan di dalam ruangan dan menerimanya. Dia mendongak, menatap Arsa yang duduk di balik mejanya dan Kinan sedang bersidekap di sofa terjauh dari meja Arsa—nampak licin seperti biasa.

“Duduk, Abhim.” Arsa melambai pada tempat duduk di hadapannya. “Bagaimana tanganmu?” Tanyanya.

Abhimanyu mengangkat tangannya, memperlihatkan luka bakar yang dibebat itu pada Arsa. Ada sesuatu tentang Arsa yang selalu membuat Abhimanyu ingin menyenangkannya. Dia tegas, perhatian, dan mengundang; seperti serigala alfa yang secara natural memb