Gemati 037

tw // manipulation , narcissism , OCD .

ps. alur maju-mundur, pelan2 ya bacanya pss. struktur kalimat Argha memang sengaja aku 'rusak' yaa so it's not typo or me changing my writing style aku cuma berusaha adopt struktur bahasa indo bule2 hahahahah


Cedrik menghela napas panjang, memijat pelipisnya.

Memikirkan pertemuannya tadi dengan Christian juga lelaki yang diajaknya mengobrol. Cedrik bukan orang bodoh, dia tahu Christian bersama Argha. Faktanya, dia bahkan melihat juru masak senior itu dari luar jendela Starbucks Reserve. Sulit untuk tidak menyadari keberadaan Argha, sudah hendak menyapanya hanya untuk menyadari bahwa matanya menatap Abhimanyu. Senyuman kecil superior itu bermain di bibirnya, seolah dia sedang menatap mahakaryanya—seolah dia baru saja menyelesaikan satu makanan dan menyukainya.

Namun, Cedrik jelas tidak.

Maka dia mengulurkan tangan, menahan pintu untuk Abhimanyu dan sengaja mengalihkan pandangannya dari ruangan. Meraih bahunya ketika melangkah, menekan bahu atasnya agar tidak menoleh ke kursi Argha—tidak mau Abhimanyu membalas tatapan Argha yang terasa membakar bagian belakang kepalanya.

“Kenapa?” Tanya Abhimanyu saat itu dan Cedrik menggeleng. “Tatap saja aku, beri aku perhatian.” Balasnya dan Abhimanyu mengerutkan wajah jenaka.

“Menjijikkan.” Balasnya bergurau namun tidak melepaskan lengan Cedrik di bahunya. Cedrik melirik dari sekor matanya, melewati kepala Abhimanyu dan menyadari tatapan Argha masih menempel pada mereka dengan resah serta jengkel.

Dari semua orang, mengapa harus Abhimanyu?

Cedrik berguling terlentang, menutup mata dengan lengannya dan membuka mulutnya untuk bernapas. Argha menarik, begitu menarik secara seksual hingga dia merasa risih. Dia tinggi, rapi, langsing, dan nampak sensual bahkan hanya dengan diam. Cedrik jarang bertemu seseorang dengan pembawaan sesensual Argha—dia bisa saja hanya bernapas namun membuat siapa saja tergoda ke arahnya, seperti seekor serangga mendekati Venus filtrap. Pakaiannya sederhana, namun membuatnya nampak sangat menggoda.

Dia tidak mau Abhimanyu menatapnya. Maka dia mengandalkan kebencian Abhimanyu pada calon atasannya. Berharap dia cukup membencinya hingga tidak akan tergoda pada aura Dewa Seks yang dibawa Argha—tidak memerhatikan jemari kurusnya yang indah, pinggang mungilnya, kaki jenjangnya, dan ekspresi menggodanya yang superior.

Argha bisa mendapatkan lelaki atau perempuan mana pun yang diinginkannya, mengapa dia menginginkan milik Cedrik?

“Sialan.” Geramnya, menghela napas dalam-dalam, membiarkan ingatan kali pertama dia bertemu Abhimanyu terputar di kepalanya.

Bukan hari yang menyenangkan atau cerah, dia ingat hujan deras turun semalaman di Ubud membuat udara pagi itu menjadi berkabut tipis dan kelabu. Cuaca yang membuat Cedrik ingin kembali berguling di ranjangnya, menggunakan selimut atau membuat kopi seraya merokok. Sama sekali bukan beranjak untuk bekerja di cold room seperti Pastry. Tidak ada yang spesial hari itu kecuali Kinan yang ingin bertemu dengannya sepulang bekerja untuk membahas posisi barunya sebagai Executive.

Dia bahkan masih ingat suasana hatinya yang buruk pagi itu ketika mendorong pintu karyawan Le Paradis dengan jaket di tubuhnya—kedinginan, seraya berpikir apakah dia memang benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Dia berhenti di smoking room sebentar untuk menghangatkan tubuh, duduk sendirian di ruangan itu dengan sebatang rokok—menguap kelelahan karena semalam begadang menyelesaikan series di Netflix.

Cedrik sedang menguap, sama lelahnya dan sama mengantuknya ketika Kinan pertama kali membawa Teddy Bear itu masuk ke dalam dapur. Arsa sedang mengoceh, mengajak timnya berdoa sebelum bekerja dan mengevaluasi kinerja semalam di sisinya—sekepala lebih pendek dari Cedrik.

“Pagi, Chef.” Sapa Kinan dengan nada dingin serupa bajingan Rusia saat memanggil suaminya di lingkungan kerja. “Abhimanyu siap bergabung.” Dia mendorong maju seseorang di sisinya maju, berdiri persis di depan Cedrik.

Dia selalu berpikir kisah cinta romantis di buku dan film melebih-lebihkan pertemuan pemeran utamanya. Menipu dan menjebak semua penikmatnya menjadikan mereka hopeless romantic dengan perasaan mencelos, jantung yang berdebar kecang, waktu yang seolah berhenti; Cedrik tidak menyukainya. Dunia nyata tidak seindah itu, semuanya pahit. Setidaknya dalam hidup Cedrik dan dia bersyukur Arsa tidak melangkah di jalan yang sama sejak bertemu Kinan.

Namun hari itu ketika Abhimanyu mendongak, tidak sengaja menatapnya dan tersenyum, Cedrik merasa sesuatu baru saja kembali hidup. Berdenyut; perlahan namun terasa, mengirimkan denyar hangat ke seluruh tubuhnya. Seolah dia baru saja kembali hidup.

Dia menahan napas, menatap boneka beruang hangat yang balas menatapnya dengan senyum kikuk di bibirnya. Dia muda sekali hingga Cedrik mengerutkan alis—bagaimana mungkin seorang sehijau itu masuk ke dapur Arsa?

Sebelum dia sempat mengatakan apa pun, Arsa melangkah maju. “Halo, akhirnya.” Katanya, meraih Abhimanyu ke sisinya dan Cedrik menggeser tubuhnya—memberi tempat untuk Abhimanyu di sisinya dan menghirup aroma parfumnya.

“Tim,” kata Arsa menepuk bahu Abhimanyu di sisinya. “Perkenalkan junior sous chef saya, Abhimanyu.”

“Bukankah dia terlalu muda?” Tanya Cedrik kemudian, bersandar di kursi di seberang Arsa dengan kaki diselonjorkan. Menatap Arsa yang berada di depannya, menandatangani kontrak barunya sebagai Executive Pastry Chef. “Siapa saja bisa melihat betapa hijaunya dia.”

Arsa mengangguk merapikan berkas itu lalu menyingkirkannya. Dia mendongak, menatap Cedrik yang balas menatapnya. “Dia lulusan Gastronomy Science, bukan LCB tapi lumayan terkenal. Aku butuh sekali junior sous chef untuk menggantikanku ketika aku butuh libur, Cedrik.”

Arsa mendorong kursinya mundur, meraih holder hitam besar di meja belakangnya—semua data karyawan karena Kinan sering menggunakan ruangan ini untuk bekerja jika Arsa sedang meneriaki commis-nya di dapur. Dia membukanya dan mendorong kursinya lagi ke arah mejanya, roda kursinya berkeretak di lantai. Dia meletakkannya di meja, mendorongnya ke arah Cedrik.

Pastry Chef itu meliriknya, menemukan CV Abhimanyu dan tidak bisa menahan diri untuk tidak menatap foto di sana. Tersenyum kecil menatap betapa mudanya Abhimanyu, membalas tatapannya dengan ekspresi membeku di atas kertas foto. Cedrik meraihnya dan membaca CV-nya, dengan sedikit geli menyadari bahwa dia benar. Abhimanyu baru lulus enam bulan lalu dan baru magang sekali.

“Aku mendapat namanya dari seniorku yang mengajar di universitasnya. Anak berbakat, suka belajar dan ambisius,” Arsa mengangguk ketika Cedrik membaca CV Abhimanyu. “Kita bisa membentuknya sedikit.”

Cedrik mengedikkan bahunya. “Menurutku tetap tidak terlalu oke untuk mentalnya. Lulus kuliah dan mendapat jalur VVIP menuju sous chef. Dia tidak akan berkembang seperti semua commis-mu yang lain. Atau bahkan Bli Made yang membutuhkan pengalaman lima belas tahun untuk bisa jadi Senior Sous Chef-mu.

“Aku hanya takut,” Cedrik melanjutkan menatap Arsa yang balas menatapnya. “That he will think too high about himself.”

Cedrik di masa sekarang menghela napas, mengusap wajahnya dan membuka mata—menatap langit-langit kamar kosnya dan mendengar di kamar sebelah, kamar Raditya, keduanya sedang mengobrol. Cedrik menatap dinding yang memisahkan kamar mereka dan tersenyum tipis.

Kau selalu tertarik pada orang yang hanya akan menyulitkanmu, Ced.

Arsa tidak salah, Cedrik terkekeh parau dan menghela napas. Dia memang cenderung tertarik pada orang yang membuatnya kesulitan. Arsa Mahardika dan sekarang Abhimanyu. Orang-orang dengan masalah serius tentang harga dirinya (dalam kasus ini, terlalu mahal) malah akan membuat Cedrik menyayanginya. Persis bagaimana dia menyayangi Arsa.

Dan lucu bagaimana sekarang Abhimanyu memiliki mental persis seperti apa yang diduga Cedrik. Tidak pernah merasa di bawah membuatnya meremehkan semua orang. Dia tidak tahu rasanya merangkak dari posisi paling rendah, berusaha meraih posisi tertinggi karena Arsa secara harfiah menggelarkan karpet merah di jalan Abhimanyu, menggendongnya ke singgasana tertinggi dalam hierarki dapur.

Abhimanyu tidak terlalu menghormati siapa pun di dalam hidupnya kecuali Arsa, membuatnya menjadi pribadi yang apatis. Dia hanya akan mendengarkan Arsa, menuruti mau Arsa, dan tidak pernah mau menundukkan kepalanya pada orang selain Arsa.

Awalnya Cedrik kira itu hanyalah rasa kagum yunior kepada seniornya, rasa terima kasih yang mendalam. Rasa terinspirasi pada perjalanan Arsa hingga sekarang mendapat gelar Michelin Star Chef. Hingga hari ketika dia menyatakan perasaannya pada Abhimanyu.

Beruang Teddy itu duduk di hadapannya, dengan gelas bir ketiga mereka di satu restoran di Ubud. Cedrik yang memesan mejanya, bahkan mempersiapkan sampanye yang akan dibawa keluar ketika dia memberi tanda pada pelayan. Namun Abhimanyu yang apatis merenggut hatinya, meremukkannya dan menginjaknya persis di depan Cedrik dengan mengatakan:

“Terima kasih atas perasaanmu, aku sangat tersanjung. Tapi aku menyukai orang lain.”

Dan Cedrik berharap Abhimanyu berhenti bicara saat itu juga, dia sudah memeras cukup banyak air jeruk ke atas luka hatinya yang menganga. Namun toh lelaki itu tidak bisa melihat ekspresi Cedrik yang seolah baru saja ditonjok persis di ulu hati oleh kalimatnya karena dia melanjutkan:

“Aku menyukai Arsa.”

Cedrik menarik napas, duduk di ranjangnya dan menyugar rambutnya dengan resah. Benci ketika dia mengingat hari itu; benci bagaimana dia membutuhkan waktu begitu lama untuk kembali terbiasa dengan Arsa. Tidak bisa tidak membenci sahabatnya walaupun dia tahu Arsa tidak bersalah karena dia tentu tidak bisa mengontrol siapa pun atas perasaan mereka.

Tetapi Cedrik bertahan, seperti pungguk merindukan bulan berharap suatu hari nanti Abhimanyu akan menyadari bahwa dia tidak akan bisa memiliki kesempatan dengan Arsa dan akhirnya menatapnya.

“Aku tidak peduli apa yang mungkin kaulakukan, itu waktumu.” Dia ingat Abhimanyu mengerutkan alis, menatapnya—apakah itu rasa kasihan berkelip di matanya? “Tapi Cedrik, aku tidak bisa menerimamu.”

Dan Cedrik menjawab, “Kau akan berubah pikiran suatu hari nanti, Abhim, dan aku akan memastikan aku berada persis di depanmu ketika hal itu terjadi.”

“Ini sepenuhnya keputusanku, Abhim. Kau tidak perlu merasa bersalah, pergunakanlah aku sebagaimana kau membutuhkannya.” Lanjutnya, nyaris putus asa berusaha mempertahankan Abhimanyu di sisinya.

Sekarang, sekali-dua kali dia merasakan serangan emosi Abhimanyu. Semua tumbuh karena kurangnya kewajiban untuk menunduk pada orang lain dan bagaimana dia mengonsep dirinya sendiri di kepalanya; lebih tinggi dari semua orang. Lebih hebat. Abhimanyu sedikit manipulatif dan narsis sebagai hasilnya, Cedrik merasakan emosi itu—persis Arsa sebelum dia bertemu Kinan, sebelum dipadamkan oleh sikap Kinan.

Berharap, Cedrik-lah yang akan menjadi penawar bagi sifat Abhimanyu. Menemaninya berdinamika, berusaha menjelaskan emosi itu pada Abhimanyu dan mengajaknya berdamai. Cedrik selalu memastikan dirinya dekat dengan Abhimanyu karena dia tahu, detik Abhimanyu menyadari bahwa dia tidak bisa memiliki Arsa akan terjadi begitu cepat dan singkat.

Jika Cedrik terlambat, maka dia akan sepenuhnya dikesampingkan dari hidup Abhimanyu. Dengan pintu terkunci rapat.

Haruskah dia cemas pada Argha sekarang?

Dia memejamkan mata, merasa mengantuk namun otaknya tidak juga tenang—berputar-putar dan mendengung seperti sekumpulan lebah yang marah, membuatnya kelelahan. Dia menarik napas, memijat titik di antara kedua matanya dengan ibu jari—menekannya untuk meredakan sakit kepalanya ketika ponselnya berdering.

Cedrik menoleh dan senyuman seketika terkembang di bibirnya, menyadari nama Abhimanyu berkedip di layarnya. Dia meraih kotak rokoknya, beranjak bagun dari kasurnya dan keluar ke teras kosan seraya mengangkat teleponnya.

“Hai,” sapanya lembut.

Aku tidak bisa tidur.” Gerutu suara dari seberang sana, Cedrik mendengar Abhimanyu bergerak di ranjangnya dan mengerang. “Sialan.”

“Kau di mana?” Tanyanya, meraih bantal sofa di lemari ruang tamu dan meletakkannya di salah satu kursi rotan sebelum duduk di atasnya, menekuk kakinya.

Di Gianyar, di rumah.” Sahut Abhimanyu, menahan kuapannya dengan menggemaskan hingga Cedrik tersenyum—jemarinya memainkan pematik di tangannya. “Aku memutuskan untuk pulang tadi, sekalian saja daripada aku harus kembali Selasa pagi langsung bekerja.”

Cedrik membuka kotak rokoknya, menyelipkan sebatang dan menyalakan pematik. Dia menarik napas ketika ujung rokok mulai terbakar dan menghisapnya sekali, menghembuskannya melalui hidung sebelum menjawab. “Benar, tapi terlalu malam. Syukurlah kau tiba selamat.”

Dia menatap ke halaman depan kosan yang sepi, semua sudah berada di kamar masing-masing. Gerbang tinggi kosan sudah digembok, Cedrik sendirian di teras dan menyukainya. Lebih baik memikirkan segalanya di ruang terbuka daripada di kamarnya yang terasa mencekiknya.

Cedrik mendongak, menatap laron yang terbang di sekitar lampu ruang tamu—mengelilinginya seraya menghisap rokoknya, mendengarkan Abhimanyu bercerita. Merasa lelah dan putus asanya terangkat dari bahunya, cengkeraman rasa cemas akan kehadiran Argha melonggar dari hatinya.

Abhimanyu begitu dekat dengannya, berdenyar seperti lampu yang adalah sumber bahagia Cedrik. Argha mungkin bisa berusaha, tapi Cedrik yakin dia akan menjadi lelaki pertama yang Abhimanyu cari kapan pun dia membutuhkan sandaran.

“Kau akan selalu mencariku kapan pun kau butuh, 'kan?” Tanyanya, menjentikkan abu rokoknya ke asbak di atas meja.

Dia mendengar Abhimanyu diam sejenak sebelum terkekeh tanpa suara. “Yah, begitulah. Rasanya seperti kebiasaan. Kau terlalu dekat,”

Cedrik tersenyum.

Argha Mahawira bisa berharap, tapi dia tidak memiliki kesempatan apa pun.


Argha butuh waktu untuk memproses betapa menyilaukannya Cedrik dari dekat.

Hello,” dia mengulurkan tangan ke lelaki langsing yang duduk di sebelah Arsa. “Pleasure to meet you, at least, Cedrik.” Dia tersenyum dan Cedrik membalas jabatannya—tidak sekuat apa yang dibayangkan Argha.

Hello, yeah. Pleasure to meet you too, Chef.” Sahutnya, tersenyum dan melepaskan tangan mereka. Dia mengenakan seragam Le Paradis, hitam dengan tepian batik di bagian hemnya. Warna itu malah semakin menegaskan betapa pucat warna kulitnya hingga Argha bisa melihat pembuluh darah menyebar di tangannya—biru keunguan.

Cedrik menarik, nampak tenang dan terstruktur dengan tahi lalat mungil manis di bawah matanya. Tertinggi di ruangan itu dan terlihat lebih pendiam dari kedua temannya. Tersenyum ramah pada Argha pagi itu di pertemuan Executive pertamanya sebagai head chef Le Gourmet.

Argha belum sempat mengintip dapur, dia langsung pergi ke ruangan rapat—datang lewat pintu depan dan diantarkan langsung oleh Hadrian agar tidak bertemu Abhimanyu. Dia harus bermain petak umpet selama beberapa hari dengan sous chef-nya demi ini. Arsa tidak bermasalah dengan pengaturan sementara itu, menyerahkan kendali sepenuhnya pada Argha—yang disyukurinya karena dia sempat bertanya-tanya bagaimana dia harus memperlakukan Arsa.

Secara pengalaman, Arsa jauh di bawahnya namun statusnya sebagai Michelin Star Chef membuat Argha segan—ini melahirkan kebingungan tentang bagaimana Argha harus memosisikan Arsa di dapurnya. Tapi dia senang ketika chef itu menyerahkan dapur Le Gourmet sepenuhnya pada kendali Argha.

“Itu timmu sekarang, Chef. Saya tidak akan ikut campur kecuali dibutuhkan.” Dia menatap Argha, langsung ke mata dengan tegas.

Argha mengangguk. “I'm grateful, Chef.” Sahutnya, tersenyum tulus pada percaya yang diberikan Arsa padanya—tenang karena dia tidak harus berebut daerah kekuasaan dengan singa lain.

“Halo, Chef.” Kinan mengulurkan tangan, nampak sangat rapi seperti biasa hingga Argha merasa tidak nyaman karena hanya mengenakan kemeja satin lembut di atas tubuhnya. “Tidur nyenyak?”

Argha tersenyum, menjabat tangannya. “Nyenyak sekali. Terima kasih.” Sahutnya, walaupun semalaman terbaring nyalang karena untuk pertama kali pesannya ke Yukio tidak terkirim.

Berpikir dia akhirnya memblokir nomor Argha namun saat mencoba meneleponnya, panggilan langsung masuk ke kotak suara. Dia sudah berjanji pada Yukio tidak akan meneleponnya, namun dia tidak bisa mengabaikan rasa resah di hatinya. Pukul dua pagi, dia sudah nyaris menghubungi Sebastien—pasangan one night stand-nya, meminta dia menjemput Argha dan entahlah... Membuatnya melupakan ponselnya, melupakan Yukio sebentar.

Namun berakhir meletakkan ponselnya lagi di atas nakas dan memejamkan mata, terlelap selepas pukul tiga pagi. Dan terbangun dengan tubuh terasa remuk karena kurang tidur, namun dia tetap bangkit dan bersiap. Mungkin malam ini dia akan mencari one night stand baru, mengenyahkan isi kepalanya dengan orgasme.

“Saya dengar kemarin Anda bertemu dengan Christian?” Tanya Kinan lagi, tersenyum dan Argha menyukai aroma parfumnya—lembut, tidak menusuk. Membuat sarafnya rileks; hari ini dia beraroma lembut vanila.

“Ya,” Argha mengangguk, mempraktikkan bahasa Indonesianya. “Saya bertemu Christian. Mengobrol. Bahasa Indonesia jelek, jadi harus belajar.” Dia mengerutkan alis, sedikit bangga pada kemampuannya menggunakan bahasa itu.

Are you comfortable in English or French?” Tanya Arsa dari kepala meja, mengeluarkan buku catatannya yang tebal—penuh potongan kertas dan nampak tua.

“Tolong,” Argha menggeleng, melambaikan tangannya. “Bicara pada saya dengan Indonesia saja, oke? Saya harus belajar, gunakan bahasa Indonesia.”

Dan Arsa tergelak. “Baiklah, Indonesia.” Dia mengangguk, menarik pulpen dari kantung kecil di lengan pakaiannya.

“Memangnya kenapa?” Tanya Cedrik, di sisi kanan Arsa dengan ekspresi bertanya dan Argha belum juga terbiasa pada bagaimana dia nampak seperti makhluk imortal dengan kulitnya yang putih. “Staf kami memahami bahasa Inggris.”

Argha tertawa. “Saya harus masuk dapur sebagai commis, ingat? Jadi saya tidak mau... Siapa dia itu? Abhimanyu?” Dia menoleh ke Kinan yang mengangguk, senyuman bermain di bibirnya. “Nah, saya tidak mau Abhimanyu tahu saya adalah kepala juru masak dia yang baru. Saya mau lihat, cara dia pimpin tim. Wah, bahasa Indonesia saya bagus.” Tambahnya, merasa senang pada kemajuannya sendiri.

“Ya, bagus sekali.” Puji Kinan tulus. “Hanya sedikit berantakan di strukturnya, tapi jika terus berlatih Chef bisa melakukannya.”

“Nanti saya yang akan mengenalkan Chef pada Abhimanyu,” Arsa mengangguk menatap catatannya. “Kita bisa ke dapur setelah pertemuan ini atau mungkin sekalian besok di hari pertama Chef bekerja.”

“Besok lebih baik,” Argha setuju, mengeluarkan catatannya sendiri dan siap mendengarkan serta memberi beberapa umpan balik tentang makanannya beberapa hari lalu. “Mari kita berakting lebih baik.”

“Jika Anda orang Indonesia, mengapa bahasa Indonesia Anda jelek, Chef?”

Argha mendongak, menatap Cedrik yang balas menatapnya. Tentu saja orang akan penasaran. Nama Argha secara harfiah diambil dari bahasa Sanskerta, sangat Indonesia. Namun dia tidak bisa berbahasa Indonesia. Bekerja lama di luar negeri sekali pun tidak cukup kuat sebagai alasan karena melupakan bahasa ibu adalah hal yang tidak mudah. Namun sebelum dia sempat menjawab, Kinan mendesis seperti seekor ular—memperingati Cedrik.

“Cedrik.” Sela Kinan, menatap lelaki itu dan Cedrik mengerjap, nampak tidak nyaman sekarang.

“Tidak apa.” Argha bergegas melerainya, mengulurkan tangan dan tersenyum. “Penasaran saja, wajar.” Dia mengangguk lalu menoleh ke Cedrik. “Bahasa itu harus sering digunakan, supaya tidak berkarat. Saya jarang sekali gunakan bahasa Indonesia sejak berangkat ke Jepang belasan tahun lalu. Jadi, saya pilih melupakan bahasa itu karena saya tidak ingin kembali.

“Tapi, saya di sini sekarang atas rayuan Arsa.”

Arsa tergelak, menyelamatkan suasana kikuk antara Argha dan Cedrik. Dia melirik Cedrik, sejenak nampak cemas sebelum menoleh ke Argha yang mempertahankan senyumannya—berusaha menenangkan semua orang bahwa meskipun pertanyaan Cedrik tadi terlalu personal, Argha tidak keberatan.

Cedrik berdeham, “Maaf, Chef, jika pertanyaan saya terlalu personal.” Katanya dan Argha menggeleng, melambaikan tangannya ringan.

“Tidak masalah, Chef. Tidak ada yang dibunuh.” Dia lalu menoleh ke Arsa. “Dimulai saja, Chef. Saya yakin ada pekerjaan yang menunggu semua orang.”

Rapat itu ternyata berjalan lumayan lama dengan banyak agenda. Arsa tidak bohong atau melebih-lebihkan ketika dia memberi tahu Argha bahwa mereka bertiga adalah 'otak' di balik kedua restoran Arsa. Kinan memiliki banyak sekali pekerjaan sebagai Executive Restaurant Manager; khususnya bagian legal and general. Dia sendiri menghabiskan waktu nyaris satu jam lebih untuk membicarakan permasalahannya.

Menakjubkan sekali bagaimana Arsa dan Kinan bisa berubah menjadi dua rekan kerja yang saling menghormati di sana padahal mereka adalah pasangan. Argha menyadari percik sayang di mata Arsa sekali-dua kali, namun Kinan. Bajingan berdarah dingin itu sama sekali tidak, dia menatap Arsa seperti rekan kerja—sama seperti menatap Cedrik dan Argha. Memanggil Arsa dengan 'Chef' menggunakan nada dingin yang mengundang senyuman di bibir Argha.

Dia paham bagaimana tiga serangkai itu bisa menjadi rekan kerja. Semua orang pasti bisa jika ada Kinan di sana.

Argha juga tahu bahwa Cedrik sekarang bertanggung jawab atas quality control semua dessert di dua restoran—memiliki kewajiban untuk memberikan pelatihan pada semua anggota tim Pastry Section dan Argha secara personal memujinya karena dessert yang dimakannya kemarin sempurna walaupun supervisor-nya berada di restoran lain.

“Beberapa makanan dikirim langsung dari Le Paradis,” jelas Arsa pada Argha kemudian. “Seperti cokelat dan bon-bon, itu buatan tangan Cedrik langsung. Diproduksi skala medium untuk distok di setiap restoran.”

Kemudian Hadrian masuk setelah Arsa meneleponnya untuk membawakan beberapa sampel makanan yang Arsa ingin Argha cicipi karena dia memiliki gelar di bidang Superior French Cuisine and Pâtisserie. Argha juga sempat fokus pada cokelat selama beberapa waktu ketika dia bekerja di Four Season Paris. Argha menerima sepiring cokelat, terisi beberapa potong yang terlihat lezat. Dia menyemprotkan antiseptik ke tangannya, mengelapnya dengan sehelai tisu sebelum meraihnya dan mengamati permukaannya.

Dia memicingkan mata, menatap noktah putih tipis di bagian bawah cokelat itu dan mengerutkan alisnya. “Tiba kapan, ya?” Tanyanya pada Hadrian yang masih berdiri di dekat pintu seraya meraih kacamatanya.

“Itu batch pertama hari ini, Chef. Dibuat kemarin dan tiba semalam.” Hadrian mengecek tab-nya yang terisi log book dan stock opname per harinya.

“Dibuat segar, ya?” Argha membuka gagang kacamatanya, menoleh ke Cedrik yang mengangguk. Dia kembali menunduk, mengenakannya kacamatanya dan mendekatkan cokelat ke bawah cahaya dan menemukan noktah putih itu lebih jelas.

Paham masalahnya. “Butuh sedikit tempering lagi, ya, ini Chef.” Tanyanya kemudian, menaikkan kacamatanya dan Cedrik mengerutkan alis, berdiri.

“Benarkah?” Tanyanya mencondongkan tubuhnya dan Argha mendorong piring mendekat ke Cedrik, di tengah meja. Arsa bergabung mencondongkan tubuh untuk mengeceknya.

“Bercak putih ini,” Argha menunjuk perlahan dengan jemarinya, menunjukkannya pada rekan kerjanya. Nyaris tidak nampak kecuali di bawah sinar lampu, belum terbentuk tapi Argha yakin beberapa jam lagi di suhu ruangan bercak ini akan menyebar ke semua permukaan cokelat seperti jamur. Merusak penampilannya.

Dia menggerakkan tangannya yang bebas sementara kedua rekannya mengamati cokelat di tangannya yang lain seraya menjelaskan, “Beberapa menit lagi, dua kali temper.”

Cedrik menemukannya dan mengangguk, nampak terganggu. “Trims, Chef.” Dia mengangguk pada Argha yang tersenyum tipis. “Saya akan mengecek termometer cokelatnya setelah ini.” Dia kembali ke kursinya dan menulis sesuatu di buku catatannya.

Argha mengangguk, namun tetap membawa cokelat itu ke mulutnya dan menggigitnya. Mengecek isinya sebelum memakan sisanya dan menyemprotkan antiseptik ke tangannya. Argha mengunyah sisa cokelatnya seraya menarik selembar tisu lagi dan mengelap tangannya.

“Konsistensinya bagus,” dia menelan kunyahannya, lidahnya menyukai apa yang baru saja dicicipinya. “It's smooth, chewy, and not too sweet. Personally the chocolate I'd love to stuff into my mouth. Tidak membuat mual.” Dia mengangguk pada Cedrik. “The problem is only the tempering then it's all good.”

Thank you, Chef.” Sahut Cedrik, tersenyum. “I'll check my equipment later.”

I also hear this legendary dessert?” Tanya Argha ketika pertemuan mereka berakhir dan Arsa meminta staf membawakan mereka camilan karena Kinan harus makan. “Seven Deadly Sins, if I'm not mistaken?”

Yes,” Cedrik mengangguk, jelas ingat hidangan penutup setinggi tujuh senti yang mendapatkan satu halaman di majalah kuliner itu. “Originally Arsa's recipe, but I did several things to the original recipe. Changed there and here.” Dia menatap Argha. “Come to Le Paradis, I'll serve you personally.”

Argha tergelak kecil, merogoh leather pouch-nya dan mengeluarkan antiseptiknya. Dia menyemprot tangannya untuk kesekian kalinya, menggosokkannya lembut disela-sela jemarinya demi menenangkan sarafnya yang tegang—membayangkan kuman-kuman di atas meja sedang berlarian di tangannya dan seseorang akan mati jika dia tidak melakukannya.

Sure,” Argha tersenyum senang. “I'd be delighted.”

Dia menyerah hari itu, akhirnya menelepon Sebastien meminta pemuda itu menjemputnya di Le Gourmet. Menolak makan siang dari Arsa karena tidak mau mengambil risiko bertemu dengan Abhimanyu. Argha tidak terlalu suka 'berteman' dengan pasangan one night stand-nya namun karena dia secara harfiah sendirian di Indonesia maka Sebastien adalah orang terdekat dan satu-satunya yang bisa diajaknya mengobrol.

Would you like to have lunch? Tanya pemuda itu dan Argha mengetik balasannya. Sure, I'm starving. We can stop by a hotel later, burn the calories. Xo

“Baik,” Argha berdiri ketika Sebastien meneleponnya. “Teman saya sudah sampai. Jadi, saya pamit dulu. Ketemu besok, Chef?” Dia melangkah ke arah Arsa yang sedang menyuap camilannya.

Arsa bergegas mengelap tangannya di apronnya dan Argha harus berjuang keras untuk tidak mengerutkan wajahnya lalu menarik tangannya ketika menyadari tangan kotor Arsa. Dia menggertakkan giginya ketika menjambat tangan Arsa, berusaha melawan keinginan spontan untuk mengibaskan tangannya. Takut Arsa menganggapnya tidak sopan meskipun alarm di kepalanya berdenging nyaring hingga nyaris melumpuhkan.

“Terima kasih, Chef.” Dia mengangguk ke Arsa lalu menyalami Cedrik, berusaha tidak mengernyit karena memikirkan bakteri yang menempel di tangannya—nyaris bisa merasakan sesuatu berlarian di telapak tangannya.

Dia menyalami Kinan sebelum keluar dari ruangan ditemani Hadrian, melihat Mercedes-Benz S300 putih susu Sebastien sudah menunggunya di depan pintu ganda. Jendela pengemudinya turun ketika Sebastien melihatnya, dan dia tersenyum. Argha balas tersenyum, senang menemukan wajah familiar setelah seharian merasa asing. Argha bergegas mengangguk pada Hadrian, menjaga tangannya sejauh mungkin dari tubuhnya.

“Terima kasih bantuannya,” dia mengangguk pada Hadrian, ingin bergegas memasuki mobil dan menyemprot tangannya dengan antiseptik ketika matanya menangkap seseorang yang melangkah ke arah ruang pertemuan yang baru saja ditinggalkannya.

Teddy Bear.

Argha berhenti, mengamati pemuda itu. Tidak bisa menahan dirinya untuk tidak terpesona. Dia mengenakan seragam putih Le Gourmet, dengan topi tinggi di kepalanya—menyembunyikan rambut ikalnya menggemaskannya dengan sempurna namun Argha bisa merasakan kehadirannya. Dia seperti cokelat panas, siap di-temper untuk melarutkan lemak dan mendapatkan suhu yang sesuai sebelum dibentuk. Mendapatkan tekstur yang diinginkan.

Dan pemuda itu berhenti di pintu, mengetuknya. Hendak membukanya ketika daun pintu terayun membuka dan Cedrik muncul dari balik pintu. Argha menahan napas ketika senyuman terbit di bibir Teddy Bear itu ketika melihat Cedrik dan tatapan Cedrik padanya membuat Argha menggeleng.

Assez, Argha.” Bisiknya di bawah napasnya sebelum memalingkan pandangannya ke Hadrian. “Ketemu besok, ya?” Dia tersenyum lalu tanpa sempat menahan diri, dia melanjutkan. “Ah. Dia siapa?”

Hadrian mengerjap, menoleh ke arah tangan Argha dan tersenyum. “Ah, dia, Chef?” Dia menatap Argha yang menatapnya, antisipatif dengan jantung berdebar.

“Dia Abhimanyu,” Hadrian memberikannya senyuman heart-shaped menyenangkannya. “Head chef in-charge kami.”

*