Sultan Saori Crumbs: surprise

dibuat sebagai hadiah ultah kak @bluegreyvk <3 happy belated birthday, kak pika sayangnya ire bulolnya mas aji #1!!!! keep being you, the most supportive, caring, and positive person I've ever known! <33


Ajiwira menghela napas, menatap ponselnya dengan resah karena Gabriel belum juga memberinya kabar hari ini.

Mereka hanya berpisah di teras rumah tadi ketika berangkat bekerja, Gabriel meluncur duluan dengan mobilnya seraya mengklaksonnya sebagai tanda pamit sebelum Ajiwira menutup gerbang karena ibunya sedang di Wonosari dan berangkat ke pabrik bersama Jonathan.

Dan setelahnya Gabriel tidak memberikannya kabar apa pun sepanjang hari.

Dia mendongak dari ponselnya, menatap pabrik yang teduh dan ceria. Dia mendengar Jonathan mengobrol dengan Simbah Putri, pembatik tertua mereka, yang selalu memanjakan Jonathan dan memanggilnya dengan “putu-ku” sambil memeluknya. Sisanya, semua orang sedang bekerja dengan damai; beriak air sumur di sudut yang digunakan untuk membasuh lilin batik, suara batik cetak di seberangnya, dan suara lagu Jawa dari radio untuk para pembatik sepuh bekerja di teras.

Ada beberapa tamu, ditemani oleh anak depan memilih batik dan melihat-lihat proses pembuatan batik cetak yang lebih mudah dari batik tulis; cepat dan singkat. Ajiwira bersandar di kursinya, memikirkan sudah seberapa jauh dirinya melangkah setelah pertengkarannya dengan ayahnya di masa lalu.

Sekarang hidupnya sudah lebih baik dan damai, tidak ada keributan yang terlalu menguras tenaganya bersama Gabriel. Mereka bisa menyelesaikan konflik tanpa argumen, berkepala dingin, dan terstruktur. Gabriel juga tidak pernah takut meminta maaf jika dia salah, terus memperbaiki dirinya.

Ajiwira kembali menatap ponselnya, mengamati status di bawah nama kontak Gabriel yang masih kosong—kekasihnya mematikan fitur “terakhir dilihat” pada akun Whatsapp-nya. Dia mendesah lalu mengetik:

Hari ini pulang jam berapa, Dek?

Dia menunggu, menatap layar berharap pesan itu berubah tanda menjadi biru namun pesannya bergeming. Ajiwira mendesah lalu meletakkan ponselnya, berdiri dan keluar dari ruangan; tidak ingin mengasihani dirinya sendiri saat kekasihnya sibuk bekerja. Dia keluar ke lorong, menoleh ke kanan dan menemukan Jonathan duduk di selasar bersama para sepuh, tertawa ceria.

Sudah mulai sore, batik-batik yang dijemur mulai diangkat untuk diproses kembali keesokan harinya. Mereka memiliki pesanan batik lumayan banyak untuk seragam pegawai pemerintahan di Purworejo. Mereka akan mengirimkannya lima hari lagi, maka Ajiwira meminta manajer operasionalnya untuk mempercepat prosesnya karena pesanan baru datang dari Pemkot Yogyakarta.

Pabrik sibuk sekali dan Ajiwira senang.

“Mas Aji!”

Ajiwira tersenyum, menoleh pada Jonathan yang menandak ke arahnya dan otomatis mengulurkan sebelah lengannya. Jonathan memeluk pinggangnya, tersenyum lebar. “Kenapa?” Tanya Ajiwira menunduk.

Sejak Jonathan tinggal bersama mereka, Ajiwira merasa 'utuh'. Seolah memiliki anak remaja yang membuat suasana rumah menjadi lebih menyenangkan. Dia selalu bicara, mengomel, dan membuat semua orang tertawa. Tahu latar belakangnya tentang dua ayah yang tidak becus membesarkannya, Ajiwira merasa bertanggung jawab untuk memberikannya figur ayah yang Jonathan butuhkan.

“Malam ini kita beli martabak, boleh?” Tanyanya, menggelayut di Ajiwira dengan manja dan mereka sudah terbiasa dengan sikap itu. Jonathan suka berbaring di pangkuan Gabriel, memeluknya dari belakang, selalu membutuhkan physical touch untuk mengekspresikan sayangnya.

Itulah mengapa hubungan jarak jauhnya dengan Raditya bergolak belakangan ini.

“Boleh.” Ajiwira menangguk tersenyum, mengusap rambut biru elektriknya yang menarik perhatian. “Kita beli dua untuk Mas Eb juga?” Tanyanya.

Jonathan mengangguk lalu menegakkan tubuhnya, Ajiwira melepasnya dan menatapnya sayang. Merasa seolah membesarkan seorang anak dengan menyaksikan perkembangan Jonathan dan Raditya. “Tapi, Mas Eb tidak terlalu menyukai martabak.”

Ajiwira mengangguk. “Bukan berarti Mas Eb tidak mau, 'kan?” Balasnya lalu mengusap kepalanya sekali lagi, pikirannya kembali ke ponselnya. Ke Gabriel yang tak kunjung membalas pesannya.

Tumben sekali. Biasanya sesibuk apa pun Gabriel, dia selalu membalas pesan Ajiwira atau setidaknya mengabarinya bahwa dia akan sibuk seharian. Maka ini sedikit-banyak membuatnya cemas, ingin meneleponnya namun takut mengganggu Gabriel yang sedang bekerja. Mungkin hanya sedang fokus dan tidak sempat mengabari Ajiwira, dia harus berusaha bersikap tenang. Gabriel sudah bersamanya selama tiga belas tahun, jika dia memang akan meninggalkan Ajiwira, dia sudah melakukannya bertahun-tahun lalu.

Namun dia bertahan. Berkenan pindah agama menjadi Islam untuk Ajiwira. Tinggal bersamanya. Memohon penempatan di Yogyakarta ketika diklat di Cianjur. Gabriel sudah melakukan segalanya untuk bersama Ajiwira, rasanya tidak pantas Ajiwira meragukannya hanya karena satu hari tidak mengabarinya.

“Kita masak untuk Mas Eb, yuk?” Ajiwira kemudian bersuara dan Jonathan menoleh dari ponselnya, nampak bersemangat. Seperti anak anjing menggemaskan yang selalu melompat-lompat ceria.

“Masak apa?” Tanyanya dan Ajiwira nyaris bisa melihat ekor tak kasat mata Jonathan mengibas dengan ceria ketika mengatakannya.

“Nasi goreng? Kesukaan Mas Eb?” Tawarnya dan Jonathan mengangguk. Ajiwira tersenyum, setidaknya resep mudah itu tidak akan membuat Jonathan merusak dapur dan mendapat jitakan main-main dari Gabriel.

Assalamualaikum, Pak!”

Ajiwira mengangguk dan melambai, “Wa'alaikumsalam, ngatos-atos, nggih!” Sahutnya pada karyawannya yang membubarkan diri setelah jam pulang kerja sebelum kembali ke gembok di tangannya, menutup gerbang pabrik.

Jonathan sudah menunggu di atas motor, siap mengantar mereka kembali pulang dan mampir di mini market membeli sosis kesukaan Gabriel. Ajiwira meraih helmnya, mengenakannya sebelum naik ke jok belakang motornya.

“Sudah, 'kan, Mas?” Tanya anak itu, menoleh ke gerbang yang sudah digembok.

“Sudah, ayo pulang.” Ajiwira mengangguk dan Jonathan mengendarai motornya seraya bersiul ceria.

Perjalanan dari pabrik ke rumah tidak jauh, namun mereka memutar untuk pergi ke depan membeli martabak di depan Indomaret. Ajiwira memasuki mini market dan mengambil beberapa makanan kesukaan Gabriel, entah mengapa ingin memberikannya sesuatu malam ini. Berpikir kekasihnya pasti lelah bekerja hingga tidak sempat mengabarinya. Dia meraih cokelat dan beberapa kantung cemilan, juga kesukaan Jonathan sebelum beranjak ke kasir. Melirik ke pintu kaca, dia melihat Jonathan duduk di atas motor dengan satu kaki terlipat di atas jok menunggu pesanan martabaknya dikerjakan.

Langit Yogyakarta bersemburat jingga, dari kejauhan terdengar suara anak-anak mengaji di pengeras suara masjid terdekat. Ajiwira menghela napas, hari sederhana dengan rutinitas sederhana yang membuatnya nyaman. Dia memeluk belanjaannya, menatap langit dan membayangkan pulang ke rumah. Bertemu Gabriel, mengobrol dengan Jonathan dan merasa “di rumah” lalu menghela napas teringat jungkir balik dunianya dan Gabriel beberapa tahun silam.

Sekarang, dia bisa menoleh ke belakang dan tersenyum setelah luka di hatinya sembuh.

“Totalnya...”

Ajiwira mengangguk, merogoh sakunya untuk mengeluarkan dompet dan menarik beberapa lembar uang. Membayarnya lalu menyelipkan dompetnya kembali ke saku belakang celananya dan menunggu belanjaannya dibungkus. Dia berterima kasih seraya tersenyum dan mengangkat kantung plastiknya.

Dia menyempatkan merogoh sakunya, mengecek ponselnya yang hening. Pesannya ke Gabriel bahkan belum dibaca. Dia menarik napas dengan resah, mengirim pesan lagi pada kekasihnya dengan hati berat:

Lembur, ya, Dek?

Ajiwira menatap ponselnya, menunggu dan berharap Gabriel membacanya namun tetap saja tidak ada yang terjadi. Ajiwira menarik napas, menenangkan dirinya sendiri agar tidak cemas. Jika setelah Maghrib Gabriel belum membalas pesannya, dia akan menelepon kantor Gabriel dan menanyakan apakah kekasihnya baik-baik saja. Menggeleng, dia berusaha mengenyahkan pikiran tentang kecelakaan yang mungkin menahan Gabriel.

Dia menuruni tangga perlahan, mengatur isi kepalanya agar tenang sebelum menoleh dan mendapati Jonathan sudah menunggunya dengan dua porsi martabak digantung di depan. Anak itu menunduk ke ponselnya, sedang mengetik sesuatu—pasti Raditya, pikir Ajiwira. Sedikit resah karena kekasihnya belum juga membalas pesannya.

“Ayo, Mas Aji, aku lapar!” Katanya ceria ketika Ajiwira mendekat, mendongak dari ponselnya. Jonathan menyimpannya kembali ke sakunya lalu mengenakan helmnya dan menegakkan motornya.

“Kau tidak pernah tidak lapar.” Sahut Ajiwira, menaiki jok belakang dan memegang bahunya.

“Masa pertumbuhan memang begitu, Mas.” Jonathan mengangguk, menyalakan motor Ajiwira. “Makan agar tetap bertumbuh sehat dan kuat untuk melawan musuh.” Katanya dan Ajiwira tergelak.

Motor meluncur pulang, ditemani suara gema anak-anak yang mengaji dan suara motor karyawan yang pulang bekerja. Ajiwira mendongak ke langit, tidak merasakan getar di ponselnya. Gabriel belum menghubunginya, bahkan tidak memberi tahunya apakah dia lembur atau tidak hari ini.

Ajiwira mengamati jalanan, menelan kekhawatirannya dan tidak ingin memberi tahu Jonathan tentang isi kepalanya yang terasa pekat. Rasa cemas yang semula setitik, kini perlahan membesar dan melebar—membuatnya merasa udaranya diracuni rasa cemas yang tidak bisa dihentikan. Ajiwira menarik napas, menyebutkan istigfar berkali-kali, menjauhkan pikiran tentang kecelakaan Gabriel dari kepalanya.

”... Mas? Mas??”

Ajiwira mengerjap dan menoleh ke Jonathan yang menatapnya dengan cemas, berkali-kali dari refleksi di kaca spion. “Oh, kenapa, Na? Maaf, Mas agak melamun.” Dia menyentuh keningnya di balik helm.

“Mas sakit?” Tanya Jonathan cemas. “Mau istirahat?”

Ajiwira menggeleng. “Tidak, hanya memikirkan hal lain.” Katanya, merogoh sakunya dan mengecek ponselnya—menyadari dengan resah Gabriel belum juga membalas pesannya.

Dia kembali menyimpan ponselnya, berusaha mengabaikan perasaannya sendiri. Gabriel pasti baik-baik saja, mungkin lupa membalasnya dan sekarang sudah di rumah menunggunya. Tapi tetap saja, Ajiwira tidak bisa menenangkan pikirannya yang bergerak liar seperti binatang buas—mendesaknya memikirkan kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi.

Jonathan meliriknya selama perjalanan dan menaikkan kecepatannya, ingin segera tiba di rumah lalu meminta Ajiwira beristirahat. Dia membelok ke Jalan Prawirotaman, meluncur lurus dan memasang sein untuk membelok ke gang kecil ke arah rumah.

Ajiwira menegakkan tubuhnya ketika rumah mulai terlihat dan merasa darahnya surut ketika tidak melihat mobil Gabriel di halaman. Jantungnya terasa mencelos hingga ke dasar perutnya ketika dia menuruni motor dan membuka gerbang kecil untuk motor.

“Mas Eb belum pulang, ya? Tumben.” Gumam Jonathan seraya memasukkan motornya, memarkir motor itu di bawah atap kanopi garasi mereka.

Ajiwira merasa tangan dan kakinya dingin, dia merogoh sakunya. Telinganya berdenging keras oleh rasa cemas dan khawatir, dia nyaris tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri saat menggenggam ponselnya hendak menelepon Gabriel. Nyaris menjatuhkannya ke tanah dan tidak mendengar Jonathan yang memanggilnya. Dia melepaskan genggamannya pada plastik terisi makanan di tangannya untuk menggenggam ponsel dengan kedua tangannya; gemetar oleh rasa cemas.

Pikiran Gabriel kecelakaan berdentam-dentam di kepalanya, membuat kepalanya nyeri dan tidak bisa fokus pada apa pun. Tangannya gemetar, mencari nomor Gabriel di ponselnya dan berusaha menekan tombol hubungi. Napasnya pendek, kekhawatiran membuatnya lumpuh dan persis ketika dia menempelkan ponsel di telinganya lalu mendongak—dia melihatnya.

“Mas?” Gabriel tersenyum, menyambutnya sebelum senyumannya surut karena menyadari ekspresi Ajiwira. “Lho? Mas kena—?”

Allahuakbar.” Tangisnya, nyaris tidak mendengar kalimat Gabriel saat menjatuhkan ponselnya dan langsung berlari ke arah Gabriel yang berdiri di pintu depan dengan pakaian bekerjanya, kebingungan pada kekasihnya.

“Sayang, Sayang!” Ajiwira memeluknya erat, membenamkan wajahnya di cerukan leher Gabriel yang kebingungan namun balas memeluknya. “Sayang, Astaghfirullah, Alhamdulillah.” Dia mengeratkan pelukannya, merasa jantungnya berdebar lebih kuat oleh rasa lega.

“Kenapa??” Tanya Gabriel kebingungan. “Tadi mobilku bannya bocor dan velg-nya bengkok jadi harus masuk bengkel. Aku tidak sempat mengabari Mas karena aku mondar-mandir mengurus dokumen lalu dayanya habis.” Dia membelai punggung Ajiwira yang meluruh di pelukannya.

Jonathan mendekat dan menggeleng ketika Gabriel menatapnya, mencari penjelasan atas sikap kekasihnya. Ajiwira memeluknya erat sekali, menghirup aromanya nyaris seperti pengguna narkotika yang tidak bisa hidup tanpanya.

“Mas?” Bisik Gabriel lembut, mengusap rambutnya lembut. “Kita di luar? Masuk dulu, ya?”

Ajiwira menarik napas, menarik tubuhnya dan menatap Gabriel yang masih menggunakan kacamata. Rambutnya disisir rapi, lengket oleh gel rambut yang membuatnya tetap di tempat. Masih mengenakan kemeja rapi dan melepas jas hitamnya—nampak sehat kecuali kantung mata gelapnya. Ajiwira meremas lengan atasnya.

Alhamdulillah.” Bisiknya berulang-ulang.

Dia kembali memeluk Gabriel ketika Jonathan menutup pintu depan dan mereka ada di ruang keluarga yang hening. Dia mengeratkan pelukannya di pinggang Gabriel, menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya yang lebih bidang—menyebutkan syukur berulang-ulang.

“Kenapa, sih?” Gabriel tergelak kecil, mengusap punggung Ajiwira dengan tangannya yang hangat. Dia mengecup bahu Ajiwira di hadapannya, menyandarkan kepalanya di sana—sedikit tersenyum. “Mas khawatir, ya? Maafkan aku, lupa mengabari karena sibuk.”

You have no idea.” Bisik Ajiwira, mengeratkan pelukannya. Jantungnya berdebar begitu kuat hingga rusuknya nyeri. “No, you don't have any idea about it.”

Gabriel tergelak, “Tadi aku mampir ke UGM,” gumamnya perlahan, membelai punggung Ajiwira.

“Kenapa?” Tanya Ajiwira, masih menolak melepaskan pelukannya.

Gabriel menggigit bibirnya dan tersenyum. “Mendaftar untuk S3.”

Ajiwira menegakkan tubuhnya, mendorong Gabriel dan meremas bahunya. “Sungguh?” Tanyanya. Jantungnya kembali melonjak, kali ini dengan perasaan bangga dan bahagia. “Kau akhirnya mempertimbangkan mengambil studi lagi??”

Gabriel mengangguk, tergelak kecil. “Tapi kasusku dikurangi, pekerjaanku juga dibatasi agar aku bisa fokus pendidikan sebelum kembali aktif.” Dia tersenyum lebar. “Aku sudah membicarakannya dengan seniorku dan katanya tidak masalah, ada banyak hakim lain yang bisa membantu kasus-kasusku.”

Ajiwira menghela napas, senang. Hatinya sesak oleh rasa bangga. Dia tidak pernah ingin melanjutkan pendidikannya, toh dia sekarang sudah dalam zona nyaman dengan usahanya yang terus naik secara stagnan—tidak tinggi, tapi cukup untuk keperluan mereka. Dan mendengar Gabriel akhirnya melanjutkan pendidikannya—menyelesaikannya demi dirinya sendiri membuatnya bangga.

Dia mendekatkan wajahnya, menempelkan keningnya pada Gabriel yang tersenyum lebar—sama manisnya, sama lugunya, dan sama menggemaskannya seperti pertama kali mereka bertemu, bertahun-tahun lalu di Kraton. Di bawah matahari Yogyakarta yang panas melalui lensa kamera Gabriel.

“Mas bangga sekali padamu.” Bisiknya, memeluk Gabriel dan mengecup keningnya. “Bangga sekali. Sangat bangga.”

Gabriel tergelak ceria, gemericing seperti genta angin ketika balas memeluknya. “Terima kasih, Ndoro.” Guraunya dan Ajiwira tersenyum lebar.

“Ayo, makan-makan kita rayakan!” Seru Jonathan dari dapur, sejak tadi menyingkir memberi ruang untuk Ajiwira dan Gabriel. “Mas Eb calon mahasiswa S3, Mas Eb menuju botak licin!”

Gabriel mengangkat wajahnya dan mengecup bibir Ajiwira. “I love you.” Dia tersenyum lebar.

Ajiwira mengecupnya, lalu mengecup kedua pipinya, ujung hidungnya, keningnya, dagunya—Gabriel mulai terkekeh ceria ketika Ajiwira mengecup kedua kelopak matanya, mengeratkan pelukannya.

“Mas!” Kekehnya, menggeliat dalam kedua lengan Ajiwira.

I love you too.” Dia mengecup sisi wajahnya dan Gabriel tertawa. “Jangan hilang lagi, ya?”

“Oke!” Gabriel tergelak. “Maafkan aku.”

Ajiwira tersenyum, mengecup keningnya. “Dimaafkan.”


HAPPY BELATED BIRTHDAY, BULOL MAS AJI #1! IRE LOVES U!!!! <3