Gemati 017

cw // mature explicit content and word choices for Argha's part.


“Tidak akan terjadi apa-apa,” kata Cedrik di atas motornya, menatap Abhimanyu yang diturunkannya di parkiran karyawan basemen Le Gourmet. “Arsa tidak akan marah.”

Abhimanyu menatap seniornya yang masih mengenakan helm, rambut ash silver Cedrik mengintip dari tepian helmnya. Kulitnya yang seputih salju berpendar cantik dan matanya selalu menatap Abhimanyu dengan lembut; selalu begitu sejak mereka pertama mengobrol di Le Paradis dua tahun lalu.

“Yah, semoga saja.” Katanya, melepaskan helmnya lalu meletakkannya di atas motornya sendiri dan menghela napas.

“Sampai bertemu nanti,” Cedrik mengulurkan kepalan tangannya dan Abhimanyu tersenyum, membenturkan lembut kepalan tangannya ke sana.

“Telepon aku sepulang bekerja?” Tanyanya dan Cedrik mengangguk dengan senyuman di bibirnya, sebelum meluncur kembali ke Ubud.

Abhimanyu menghela napas, memikirkan betapa Cedrik benar-benar menempuh perjalanan Ubud-Denpasar-Seminyak-Ubud demi dirinya. Meninggalkan prep demi mengantarnya kembali ke restoran dari rumah sakit padahal Abhimanyu bisa saja memesan taksi daring.

“Jadi, kapan kalian akan berpacaran?”

Abhimanyu meringis, teringat pesan Hadrian tadi dan menggeleng. Dia punya hal yang lebih penting daripada memikirkan Cedrik.

Melangkah pergi dari basemen, dia menaiki tangga menuju lantai Ground dan bergegas meluncur ke arah ruangan Arsa. Abhimanyu menarik napas panjang, menggertakkan giginya dan mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuhnya—meringis ketika gerakan itu menyakiti lukanya sebelum mengangkat kepalan tangannya untuk mengetuk pintu di hadapannya.

“Ya?” Sahut suara Arsa dari dalam.

Dia kembali menarik napas, merasakan debaran jantungnya yang kacau dan keringat di telapak tangannya. Abhimanyu benci perasaan ini; perasaan berat karena mengecewakan seseorang. Rasanya menggelayuti hatinya, membuatnya merasa lelah dan kebingungan. Dia ingin Arsa memujinya, puas atas hasil kerjanya, dan mempertimbangkannya menjadi head chef. Namun yang dilakukannya selama satu minggu ini adalah mengacaukan dapur.

Haruskah dia mengambil employee benefit-nya pergi ke psikolog perusahaan seperti apa yang disarankan Arsa?

“Saya, Chef.” Sahutnya, sedikit gemetar di ujung kalimatnya dan menarik napas dalam-dalam, mengelap telapak tangannya yang basah di apron yang belum sempat dilepasnya tadi.

“Oh,” kata Arsa dari dalam, terdengar cukup tenang. Namun Abhimanyu harus tetap bersiaga. “Masuklah, Abhim.”

Abhimanyu meraih gagang pintu dan membukanya seraya menggumamkan permisi, menjaga tatapannya turun selama sepersekian detik sebelum mendongak—kebiasaan yang selalu dilakukannya demi menghormati privasi seseorang di dalam ruangan. Memberikan mereka sepersekian detik untuk menghentikan obrolan atau kegiatan di dalam ruangan dan menerimanya. Dia mendongak, menatap Arsa yang duduk di balik mejanya dan Kinan sedang bersidekap di sofa terjauh dari meja Arsa—nampak licin seperti biasa.

“Duduk, Abhim.” Arsa melambai pada tempat duduk di hadapannya. “Bagaimana tanganmu?” Tanyanya.

Abhimanyu mengangkat tangannya, memperlihatkan luka bakar yang dibebat itu pada Arsa. Ada sesuatu tentang Arsa yang selalu membuat Abhimanyu ingin menyenangkannya. Dia tegas, perhatian, dan mengundang; seperti serigala alfa yang secara natural memberikan rasa aman pada siapa pun yang berada di sekitarnya. Dia membimbing Abhimanyu, memberi semua ilmu yang diketahuinya untuk mengembangkan bakat Abhimanyu.

Dia merindukan hari-harinya bekerja di Paradis. Dinamikanya bersama Arsa dan Made, menjadi si Bungsu yang disayangi semua orang. Sekarang ketika dia berada di Gourmet, memimpin timnya sendiri dia merasa kesulitan. Namun dia tidak mau Arsa tahu dia kesulitan. Dia ingin Arsa bangga padanya.

Dia ingin Arsa menyukainya.

“Kau membawa kartu asuransi karyawanmu, 'kan?” Kinan beranjak, mendekat untuk mengecek lukanya. Dia menyentuh tangan Abhimanyu, lembut sekali untuk melihatnya. Aroma parfumnya hinggap di cuping hidung Abhimanyu—jauh lebih menyenangkan dari aroma rumah sakit dan dapur.

“Ya, Pak. Sudah saya klaim tadi di rumah sakit.” Abhimanyu mengangguk dan Kinan melepaskan tangannya dengan lembut.

“Tidak dipersulit oleh pihak asuransi?” Tanya Arsa dan Abhimanyu menggeleng—malah itulah salah satu fasilitas karyawan yang disukai Abhimanyu.

Mereka tidak menggunakan fasilitas asuransi karyawan dari negara yang selalu mempersulit bagian administrasi. Asuransi yang perusahaan mereka gunakan adalah milik swasta dan hal yang perlu diberikan Abhimanyu untuk klaim hanya KTP, kartu asuransi, dan laporan pasien masuk dari UGD. Mereka selalu memberikan yang terbaik untuk karyawan mereka, itulah mengapa proses masuk bergabung ke perusahaan mereka begitu ketat dan sulit. Karena fasilitas yang diberikan sebanding dengan pekerjaan—dan mereka memanusiakan karyawan mereka.

“Baiklah.” Kinan mengangguk, tersenyum padanya dan mengusap kepala Abhimanyu lembut. “Jika begitu, aku kembalikan urusannya pada kalian. Aku hanya harus mengecek keadaan karyawan.” Dia menatap Abhimanyu. “Nanti setelah bertemu Arsa, temui Stefan untuk melaporkan klaim asuransimu, ya?”

Abhimanyu mengangguk dan Kinan berlalu dari ruangan, menutup daun pintu. Suasana seketika hening setelah suara sepatu Kinan menjauh lalu lenyap, menyisakan suara deru napas lembut Abhimanyu dan diamnya Arsa. Atasannya menautkan jemarinya di atas meja, menatapnya dengan tatapan menusuk yang membuat Abhimanyu menggertakkan gigi.

Arsa kecewa dan dia membenci emosi itu di wajah Arsa.

“Maaf, Chef.” Bisiknya, walaupun dia tahu Arsa membenci kata maaf dalam bekerja.

“Abhimanyu.” Kata Arsa, suaranya jernih dan tegas. Menonjok ulu hati Abhimanyu hingga dia menarik napas tajam. “Ini sudah kali kedua dalam satu minggu. Dan kali keempat dalam satu bulan.” Dia meraih tablet-nya di meja dan membuka beberapa aplikasi sebelum memutarnya menghadap Abhimanyu.

Employee Report milik Abhimanyu.

Hal yang selalu dievaluasi setiap Supervisor untuk mencari tahu apakah ada masalah di karyawan selama satu tahun bekerja secara reguler. Biasanya di hari jatuh temponya kontrak, dilengkapi dengan hasil konsultasi dengan psikolog hanya tentang pekerjaan jika ada, untuk kemudian dipertimbangkan kontraknya. Milik Abhimanyu ditanda tangani oleh Arsa sendiri sebagai Supervisor-nya.

“Kau melakukan kesalahan fatal di dapur nyaris sekali setiap minggu dalam bulan ini.” Arsa melipat tangannya di atas meja, pembuluh darah di pelipisnya berkedut. “What seems to be the problem, Abhim?”

Abhimanyu menarik napas, mengepalkan tangannya yang sehat di atas pahanya dan merasakan keringat terbit dari sana dengan resah. Ya. Apa masalahnya? Apa masalah Abhimanyu sebenarnya? Dia bekerja dengan baik tadi, mempersiapkan semua bahan baku agar makan siang berjalan lancar dan mendadak saja fokusnya lenyap.

Calon head chef.

Dia menarik napas dalam-dalam, teringat pesan terakhir Arsa di grup yang membuatnya seketika merasa tertekan. Bahwa dia tidak cukup baik untuk menjadi head chef sehingga Arsa harus mencari atasan untuknya. Merasa bahwa dia telah gagal hingga Arsa harus mencari orang lain untuk membantunya. Merasa tidak tertolong dan tidak berdaya.

Rasa gagal itu meracuni hatinya dan membuat Abhimanyu menarik napas tajam berkali-kali. Tidak berani menatap mata Arsa yang pasti pekat oleh kekecewaan. Sialan bagaimana hidup itu bekerja; Abhimanyu berusaha keras menghindari hal yang akan membuat Arsa kecewa dan berakhir mengundang kekecewaan itu. Bertubi-tubi.

Sialan, pikirnya pedas. Dia menarik napas dan menggeleng perlahan. “Tidak ada, Chef. Saya hanya mudah.... Kehilangan fokus.” Dia menatap Arsa sejenak, membalas tatapan atasannya yang kecewa namun juga cemas.

“Dan menurutmu,” Arsa bersandar di kursinya yang berderit, dia mengenakan seragam Le Paradis-nya yang hitam, berlengan panjang menutupi lengannya yang bertato penuh. “Bagaimana cara terbaik untuk mengatur fokusmu agar tidak hidup-mati ketika bekerja, Abhim?”

Abhimanyu diam, memikirkan jawaban apa yang mungkin diberikannya pada Arsa dan membuat atasannya senang. Dia memutar kepalanya, berusaha mencari jawaban yang meyakinkan tentang mengendalikan emosi yang dirinya sendiri belum mampu kendalikan. Belum sempat berpikir, Arsa melanjutkan.

“Saya juga emosional ketika bekerja,” katanya perlahan dan Abhimanyu mengangguk—sudah sering melihat Arsa mengamuk dan meludahi semua orang dengan umpatan.

Juga hari ketika dia bertengkar hebat dengan Cedrik di Le Paradis. Mereka semua terbiasa pada pertengkaran keduanya, biasanya berakhir dengan berbaikan beberapa menit kemudian karena Arsa dan Cedrik tim yang solid—dia orang nomor dua kepercayaan Arsa. Jika saja dia mengambil cuisine ketika bersekolah dulu, tidak akan ada orang lain yang mengisi posisi Sous Chef selain Cedrik. Maka mereka tidak terlalu memedulikan kedua petinggi dapur mereka saling meludahi.

Mendengar Arsa dikatai 'Bajingan' 'Binatang' atau 'Motherfucker' oleh Cedrik bukan hal baru. Mereka saling menunjuk, saling meneriaki seperti biasanya dan seluruh tim mengabaikannya—menunduk ke pekerjaan mereka. Namun tidak ada yang siap sama sekali ketika Arsa menyambar sauce pan terdekat dengannya—masih terisi cairan yang menggelegak dan melemparkannya ke arah Cedrik seraya menggeram seperti seekor singa.

You, fucker!” Raung Arsa membuat semua orang mendongak karena suara dentang sauce pan.

Seluruh dapur terkesiap keras ketika sauce pan melayang ke arah Cedrik yang berdiri di depan pastry section, jangkung dan langsing. Chef muda itu berhasil menunduk tepat waktu dengan gesit, terkesirap keras dan mengangkat lengannya secara naluriah untuk melindungi wajahnya. Sauce pan menghantam dinding beberapa senti di sisinya alih-alih hidung bangirnya.

Cedrik mengerjap, nampak pias karena terkejut oleh serangan barusan. Dia menatap Arsa yang terengah beberapa meter darinya sementara semuanya diam, pekerjaan seketika berhenti bersamaan dengan suara keras pan yang menghantam lantai dan isinya tumpah berantakan di atas safety shoes Cedrik. Noda cipratannya mengenai apron dan seragam, bahkan wajah Cedrik.

Abhimanyu masih ingat ketegangan dapur setelahnya, begitu tebal hingga dia tidak bisa bernapas karena tegang menyaksikan keributan di hadapannya. Made, Sous Chef Senior di sisinya memberi tanda agar Abhimanyu diam karena seluruh dapur diam sekarang—menunggu apa yang mungkin Arsa akan lakukan setelahnya.

That was too much, Arsa.” Cedrik bersuara, dingin dan tajam pekat oleh kekecewaan serta amarah sebelum berbalik. Dia melepas toque-nya dan melemparnya ke lantai, menendang pintu dengan safety shoes-nya hingga pintu itu berdentang dan melangkah keluar.

Arsa berdiri di tempatnya, dadanya naik turun nampak berusaha keras mengendalikan emosinya sebelum menghantamkan kepalan tangannya di atas meja prep. “Bangsat!” Geramnya.

Mereka bersidiam selama satu minggu setelahnya, Abhimanyu bersumpah dia tidak ingin bekerja di bawah atmosfer yang sama lagi seumur hidupnya. Dapur di bawah pimpinan Arsa selalu dinamis dan hangat. Mereka semua fokus jika sedang bekerja, namun jika flow mulai mereda, Arsa sering melemparkan guyonan dan Cedrik akan membalasnya dari pastry section. Sekali, bahkan ada seorang commis yang bernyanyi seraya memasak protein dan Arsa tidak keberatan.

Hari pertama Abhimanyu berjibaku bersama tim dengan reservasi back-to-back hingga mereka nyaris tidak bisa makan dengan tenang, dia pikir dia akan meninggal keesokan harinya. Namun persis setelah piring terakhir dibereskan, Arsa sendiri yang membuka botol anggur merah dan mengajak mereka semua untuk bersantai di restoran—beristirahat dan makan bersama. Menu makan mereka dan Arsa sama, tidak ada yang dibedakan. Mereka tertawa, bernyanyi, dan mengobrol bersama malam itu. Abhimanyu belum pernah merasa segembira itu seumur hidupnya.

Abhimanyu sangat bersyukur bisa bergabung di tim yang tepat sebagai pekerjaan pertamanya. Maka mengecewakan Arsa terasa seperti beban langit yang diletakkan di bahunya.

“Tapi saya tetap menjaga food flow tetap berjalan, Abhim.” Dia menatap Abhimanyu lekat-lekat. “Tidak peduli seberapa marahnya dirimu, kau harus tetap fokus pada pekerjaanmu. Jangan membiarkan emosi menguasaimu dan merusak ritmenya. Kau paham itu.”

Abhimanyu mengangguk, merasa hatinya pedih karena sekali lagi mengecewakan Arsa. “Saya akan memperbaikinya, Chef.” Katanya dan menahan napas ketika Arsa mendesah keras mendengarnya.

“Saya sudah mendengar itu berkali-kali bulan ini, Abhimanyu, dan saya tidak melihat perubahan apa pun dari cara kerjamu.” Sahut Arsa tegas dan Abhimanyu menarik napas, tidak bisa merasa tersinggung karena Arsa mengatakan hal yang sebenarnya.

“Malah semakin mengecewakan.” Tambahnya, menombak Abhimanyu persis di dadanya hingga dia menarik napas dalam-dalam karenanya. “Kau berbakat sekali,” Arsa memulai lagi, menatapnya dengan alis berkerut. “Kau punya bakat yang dibutuhkan untuk menjadi seorang juru masak kepala; kau punya pendidikan, kau punya tekad, kau punya ambisi. Tapi kau tidak memiliki kontrol atas emosimu.”

Abhimanyu menunduk, menatap tangannya sendiri yang dibalut perban dengan jengkel. Jika saja dia tidak menyentuh frying pan panas itu, dia tidak akan berakhir di rumah sakit dan di ruangan Arsa. Servis berjalan mulus sekali, Abhimanyu nyaris yakin Tuhan sedang berada di pihaknya hingga Arsa menjatuhkan bomnya tentang Argha. Dia kehilangan fokusnya, hanya selama sepersekian detik dan semuanya kacau balau.

“Belajarlah mengontrol emosimu, Abhimanyu. Jangan membiarkan hal-hal eksternal merusak fokusmu ketika bekerja.” Arsa kembali bicara saat Abhimanyu tidak juga menjawab. “Saya tidak bisa setiap saat menyelamatkan dapur Gourmet, menyelamatkanmu ketika saya memiliki Paradis untuk dipikirkan. Itulah mengapa saya membutuhkan head chef di Gourmet, Abhimanyu.

“Jika saya bisa mengerjakannya sendiri, untuk apa saya memperkerjakanmu?”

“Bangsat!” Abhimanyu melayangkan kakinya yang terbalut safety shoes ke dinding walk-in chiller setelah keluar dari ruangan Arsa, mendapatkan Communication Letter keduanya dalam bulan ini untuk kesalahan yang sama—kehilangan fokus ketika bekerja.

Dia bergerak gelisah di lorong menujur dapur, pintu gandanya terbuka dan dia bisa mendengar Steward sedang membereskan dapur setelah menyelesaikan servis. Arsa menyelamatkan dapur, sekali lagi dan seperti biasanya. Abhimanyu gagal menyenangkan Arsa, sekali lagi dan seperti biasanya.

Dan itu membuatnya jengkel luar biasa.

Dia melangkah ke dapur, mendorong pintunya terbuka dan menemukan beberapa commis masih membereskan section mereka. Abhimanyu menghela napas, menatap dapur itu dengan resah. Dia begitu menginginkan posisi head chef, ingin menyenangkan Arsa, ingin membuatnya bangga dan membuatnya merasa benar karena memilih Abhimanyu untuk posisi ini. Membayar rasa percaya Arsa untuknya, menghargai kesempatan ini.

“Chef? Tangan Anda baik?”

Abhimanyu tidak menoleh, dari sudut matanya dia melihat Chef de Partie-nya yang sekarang menjabat sebagai Sous Chef in-charge, Diadari, menghampirinya. Dibanding gadis itu, Abhimanyu merasa dirinya jauh lebih hijau karena sebelum bekerja di restoran ini, dia bekerja di beberapa tempat. Dia merangkak naik dari Commis hingga mendapatkan posisi CDP. Sangat berbeda dengan Abhimanyu yang mendapat jalur tol langsung ke posisi Junior Sous Chef karena latar belakang pendidikannya di Gastronomy Science.

Arsa sudah begitu baik pada Abhimanyu. Dia menyalahi semua aturan di dunia kuliner untuk mengangkat Abhimanyu menjadi Sous Chef, mengabaikan kurangnya pengalaman Abhimanyu di dapur untuk menemaninya hanya karena gelar Gastronomy Molecular-nya.

Dan dia mengecewakan Arsa, berkali-kali.

“Baik.” Sahutnya singkat, tidak mau menoleh ke wakilnya. “Dapur bagaimana selama saya pergi?” Tanyanya parau, merasakan air mata amarah menyengat pengliatannya. Dia ingin segera pulang dan memukul sesuatu demi melampiaskan emosi ini.

Diadari berhenti sebentar, mengamati Abhimanyu sebelum menjawab perlahan. “Chef Arsa tiba tepat waktu, Chef. Dan....,” dia berdeham. “Menyelesaikan servis. Juga menyajikan makan malam untuk Chef Argha.”

Argha.

Rahang Abhimanyu mengencang mendengar nama itu, dia menggertakkan giginya keras hingga kepalanya sakit. “Apa yang dipesannya?” Tanya Abhimanyu, menoleh ke Diadari.

Diadari bertubuh berisi, cantik dan manis dengan tahi lalat cukup besar di sisi bibir kirinya. Wajahnya bulat, sedikit tembam dengan dagu melancip dan mata berkilauan. Dia sudah membuka topinya, membiarkan rambut ikal alaminya terikat tinggi membentuk ekor kuda. Seragamnya membalut tubuhnya dengan sempurna. Dia bekerja dengan efisien, tidak butuh terlalu banyak bicara saat menemani Abhimanyu bekerja. Tidak memiliki latar belakang gastronomi, tapi paham apa yang dibutuhkan atasannya ketika bekerja.

Abhimanyu sempat membencinya karena berpikir Arsa akan memilihnya menjadi head chef menggantikan Abhimanyu.

“Hanya tiga course meal, Chef.” Sahut Diadari, seolah sudah menduga atasannya akan menanyakan ini dan menghafalkan pesanannya. “Untuk appetizer, beliau memesan Le Foie Grass Poele. Le Barramundi untuk main dan La Sphere Rogue dengan satu scoop sorbet untuk penutup.”

Abhimanyu mengangguk saat Diadari menambahkan, “Dengan Sauvignon Blanc sebagai temannya.”

“Prancis sekali,” komentar Abhimanyu dengan mata dipicingkan memikirkan kombinasi makanannya—hati angsa, ikan, dan anggur putih. Dia belum mendapatkan informasi apa pun mengenai calon head chef barunya termasuk pekerjaan terakhirnya sebelum bergabung dengan Arsa. “Kau melihat orangnya?”

Diadari menggeleng. “Hanya Chef Arsa dan tim servis, Chef. Saya di belakang.” Tambahnya perlahan seolah menanyakan akal sehat Abhimanyu.

Tentu saja Diadari di belakang sepanjang waktu mengerjakan tugasnya. Abhimanyu menggertakkan giginya sekali lagi sebelum membawa ibu jarinya ke mulut—menggigiti kukunya. Kebiasaan yang sulit sekali hilang ketika dia gelisah. Dia sangat penasaran pada calon atasan barunya dan jengkel karena tidak bisa menemuinya sendiri tadi ketika dia makan. Maka dia menatap Diadari dan mengangguk.

“Trims, Diadari.” Katanya, menurunkan tangannya dan menatap ke pintu ganda yang mengarah ke area restoran—tidak tahu apa yang harus dirasakannya mengenai calon atasan barunya.

“Saya lihat perkembanganmu sejauh ini dan saya rasa kita harus mencari head chef untuk membimbingmu.

Abhimanyu menarik napas, mengepalkan tangannya yang sehat dengan kuat hingga kuku-kukunya menancap di bagian dalam telapak tangannya. Diadari masih berdiri di sisinya, kikuk karena tidak menyadari perdebatan batin yang dirasakan atasannya.

Arsa kecewa padanya.

“Bajingan.” Gumam Abhimanyu, kepalanya berdenyut. “Bajingan.”

Tidak yakin siapa yang lebih dibencinya sekarang; dirinya sendiri atau Argha Mahawira.


Morning, sweetheart.”

Argha tersenyum kecil, merasakan ciuman malas ditarik dari bahunya yang telanjang sementara satu tangan membelai perutnya dengan jemari lembut yang halus. Dia selalu suka pagi malas dengan seseorang di ranjangnya, mengalihkan pikirannya dari kenyataan. Dia memejamkan matanya, mendesah kecil dengan nyaman—jemari kakinya mengerut di bawah selimut, menikmati kemewahannya.

Morning,” balasnya parau lalu terkekeh parau ketika pasangannya mulai menggigiti bahunya lembut. “No, please. I have appointment by 8 today,” dia membelai rambut lelaki di bahunya dan mendesah kecil ketika lidahnya menemukan dadanya; menjilat melingkar dengan penuh godaan.

Too bad,” bisik lelaki itu dan menegakkan tubuhnya, menatap Argha yang terbaring di kasur dengan tatapan mata terpesona. Mengulurkan tangan dan membelai wajah Argha yang memejamkan mata di bawah sentuhannya, mendengkur seperti kucing. Dia menarik, mungkin delapan tahun lebih muda dari Argha namun dia memiliki dick game yang diapresiasi Argha dengan tulus.

Bukan masyarakat lokal, Argha tidak terlalu menyukai lelaki Bali yang ditemuinya. Yah, kecuali Kinan mungkin, tetapi itu kasus yang berbeda. Pasangannya malam ini blasteran, tidak protes ketika Argha memberikannya kondom. Penurut dan mendedikasikan dirinya untuk menyenangkan orang lain. Dan tidak banyak bicara. Sempurna sekali untuk Argha yang kelelahan.

Kecuali bagian di mana dia tidak sengaja melepaskan orgasme di perut Argha.

Membuat Argha berseru keras, mendorong pasangannya yang langsung meminta maaf dengan panik hingga nyaris terjungkal dari kasur sebelum bergegas membasuh tubuhnya dengan air—menggosoknya keras dengan sabun. Dia sudah memperingati pasangannya tentang itu tapi lelaki sial itu malah melupakannya persis di saat-saat terpenting. Wajahnya mengerut ketika memikirkan lengket dan amisnya aroma orgasme itu di atas perutnya. Nyaris muntah membayangkannya lagi sekarang.

“Aku akan mengantarmu ke Ubud, oke?” Bisiknya lagi dan Argha tergelak lembut, tangannya membelai tubuh Argha—menemukan titik-titik yang disukainya dan membuatnya mendesah.

Jika saja dia tidak harus bertemu Arsa pagi ini, dia lebih baik berguling kembali ke kasur dan bercinta sepanjang hari. Namun dia juga membutuhkan uang untuk hidup. Dia terlalu lelah dan malas malam tadi, perutnya berat karena kekenyangan dan memutuskan dia ingin menjadi bottom—berbaring dan dimanjakan. Dan syukurnya, bertemu dom bergengsi tinggi yang tidak suka diberi treatment balasan.

Memberikan Argha malam sempurna tanpa perlu memasukkan kelamin siapa pun ke mulutnya.

Mudah menyenangkan dom semacam itu. Argha hanya perlu mendesah, memujinya, dan itu akan membuatnya merasa di atas awan. Sisanya, dia hanya perlu menikmati permainan. Menghemat tenaganya juga karena dia tidak perlu memberikan apa pun sebagai balasan. Persis seperti apa yang dibutuhkannya.

“Mkay,” bisiknya terkekeh. “Berhenti menciumku.” Gumamnya geli, mendorong lembut tubuh lelaki di atasnya namun tidak terlalu ingin menyingkirkannya.

“Begitu?” Balas pasangannya, Argha merasakan senyuman di kulitnya saat tangannya menyelip ke antara kedua kakinya. Dia bergidik, mendesah keras—menginginkan satu kali lagi bercinta dengan malas.

Namun dia memiliki janji. “What time is it?” Tanyanya, melirik jam dinding di kamar hotel itu dan mendesah, menekan kecewanya. “No time, Darling, I'm sorry I have to wash up.” Dia mengecup pelipis pasangannya.

I'm sorry, Babe.” Bisiknya, beranjak turun dari kasur dan meraih jubah sutera yang dikenakannya semalam. Dia mengenakannya, mengikat talinya longgar sebelum beranjak ke kamar mandi.

Mengayunkan pintunya tertutup, dia memutar kuncinya. Tidak mau mengambil risiko pasangannya memasuki kamar mandi dan memojokkannya; dia benci bercinta di kamar mandi. Tempat itu seharusnya menjadi tempat aman untuk membersihkan diri, bukan bercinta. Argha menatap wajahnya sendiri di cermin, mengusap wajahnya dan merasakan kulitnya. Tidur setelah seks adalah hal yang menakjubkan, bagaimana dia bisa lelap dengan begitu dalam. Dia tersenyum, persis apa yang dibutuhkannya untuk menghadapi hari ini.

Argha mulai membasuh diri, menggosok perut tempat di mana pasangannya orgasme berkali-kali walaupun dia sudah melakukannya tadi malam seraya menahan muntah—otaknya yang kebingungan memberi tahunya bahwa Argha merasa mencium aroma amis dan merasakan lengketnya di atas kulit.

Dia menuang sabun cair, menggosoknya keras-keras dengan jengkel. Mencatat dalam hati dia akan memperingati dengan keras setiap pasangan lelakinya tentang ini kedepannya. Argha memikirkan betapa bencinya dia pada keadaan semacam ini ketika menggosok perutnya dengan shower puff berbusa.

“Bajingan berengsek.” Gerutunya, menggosok semakin keras hingga kulitnya pedih namun otaknya yang kebingungan belum juga puas. Maka dia menarik napas tajam, menggertakkan giginya dan menambahkan sabun ke shower puff-nya.

Setelah sedikit puas, Argha beranjak keluar dari shower box-nya dan meraih botol antiseptik dengan alkohol 70%, menyemprotkannya ke area perut lalu menggosoknya. Argha meletakkan botol itu di sisi wastafel dan menumpukan tangannya di pinggirannya, menarik napas dalam-dalam menenangkan otaknya yang bergemuruh.

“Tidak, itu hanya di kepalamu, Argha.” Gumamnya, memejamkan mata dan menunduk—bernapas dari mulutnya. “Tubuhmu bersih, semuanya bersih. Tidak ada yang berbau, tidak ada yang kotor. Kau hanya membayangkannya.”

Namun dia tetap membubuhkan antiseptik ke perutnya sekali lagi sebelum benar-benar puas—sedikit lebih puas. Dia kemudian menggunakan produk perawatannya, memastikan semuanya rapi sebelum mengenakan jubah mandinya yang lembut. Pasangannya masih berbaring di kasur, bermalas-malasan saat Argha keluar.

“Bersiaplah.” Argha beranjak ke tasnya, mengeluarkan pakaiannya hari ini. Dia juga sudah membawa kemeja chef-nya dan safety shoes. “Ini penting, I don't want to be late. I'm serious.” Dia menatap pasangannya tidak suka dan lelaki itu mendesah sebelum bangun.

“Baiklah, baiklah.” Dia mengecup bahu Argha dari luar jubah mandinya sebelum memasuki kamar mandi.

Dia tidak pernah membawa one night stand-nya ke tempat tinggal karena terlalu berisiko. Tidak mau membiarkan orang yang hanya dikenalnya semalam mengetahui suaka amannya di rumah, tidak mau mereka meninggalkan jejak bakteri di tempatnya.

Mereka berangkat ketika langit bersemburat lembut, Argha duduk di dalam mobilnya yang wangi seraya menatap ke jalanan—memikirkan makanan apa yang bisa dibuatnya hari ini untuk membuat Arsa terpesona. Argha menumpukan dagunya di tangannya, menatap ke luar jendela dengan tatapan menerawang.

“Le Paradis, 'kan?” Tanya pasangannya, Argha senang bagaimana ketika mereka keluar dari kamar dia bersikap sangat sopan pada Argha dan tidak menyentuhnya sama sekali.

Dia bersikap 'profesional' sebagai one night stand, Argha akan menyimpan nomornya jika sewaktu-waktu malas mencari orang baru.

“Ya,” dia mengangguk. “You know where?”

Pasangannya di balik kemudi mengangguk. “Kinda, I had dinner once there. The food tasted amazing. It'd be great if you get the job.” Dia memasukkan persneling, meluncur di jalanan yang lumayan sepi. “Syukurlah kita berangkat pagi sebelum Ubud bangun.”

Yeah,” sahut Argha mengangguk, kembali menatap jalanan walaupun tidak paham korelasi pagi dan Ubud. Dia hanya bersikap sopan, menanggapi obrolan supirnya hari ini.

Argha menghargai selera Arsa, sungguh. Karena Le Paradis nampak seperti supermodel langsing yang berkilauan dengan arsitekturnya yang didominasi putih, emas, dan jendela. Nyaris seperti pasangan bertolak belakang Le Gourmet karena dia begitu cerah, ramah, dan mengundang.

Dia menuruni mobil di halaman parkirnya yang sepi, beberapa karyawan mengendarai kendaraan mereka meluncur ke parkiran belakang melalui jalan di sisi bangunan, menoleh tertarik padanya sebelum mengabaikannya. Argha tiba cukup pagi, pintu depannya masih tertutup dan jam tangannya menunjukkan pukul tujuh lewat.

Dia menoleh, membungkuk untuk menatap lelaki di balik kursi pengemudi. “Thanks.” Katanya tersenyum. “Both the sex and the lift.”

Lelaki itu tertawa, senyumannya manis dan menular. Argha mendapati dia tersenyum bersamanya. “No worries, Pretty. Can I pick you up later, though?” Tanyanya, lalu bergegas menambahkan. “Nothing personal, hanya saja jika kau mencari kendaraan daring di sini akan sulit sekali. Percayalah.”

Argha berpikir sejenak lalu mengedikkan bahu. “I'll text you later, we can grab something before back.” Putusnya sebelum melambai dan bergegas menghampiri pintu gandanya, tidak yakin jika menggunakan pintu belakang.

Syukurlah ketika dia menaiki tangga dengan membawa totebag terisi safety shoes seseorang bergegas membukakan pintunya. “Halo, Chef Argha, selamat pagi. Chef Arsa sudah menunggu Anda di ruangannya.”

Argha mendongak, tersenyum hendak berterima kasih ketika bertemu pandang dengan staf itu. “Oh,” dia berhenti di anak tangga terakhir, mengerjap. “Oh, hello, Gorgeous.” Dia menatap staf itu, mengagumi bentuk wajahnya yang tajam dengan kening tinggi serta rambut keemasannya yang berpendar cantik di bawah cahaya pagi.

Arsa sungguh punya selera yang luar biasa. Pertama, Kinan. Lalu desain Le Gourmet, visual Hadrian, desain Le Paradis, dan sekarang... anak ini.

Damn, look at you. So pretty,” dia tidak bisa menahan dirinya lalu menggeleng, merevisi dirinya sendiri. “Too pretty to work here as a door man or something.” Dia melambaikan tangannya, tidak melepaskan tatapan dari staf di hadapannya. Staf itu bisa sukses menjadi model; tubuhnya tinggi, mungkin satu-dua senti lebih tinggi dari Argha, dengan tubuh langsing jangkung, serta rambutnya yang indah.

Pemuda itu tertawa, “Thank you, Chef.” Dia membukakan pintunya lebih lebar, mempersilakan Argha memasuki restoran. “I'm Raditya, Restaurant Manager.”

Argha tersenyum, mengangguk. “Excellent. Young and already have position.” Dia memasuki restoran, menatap interiornya yang sama mendebarkannya dengan Gourmet—hanya saja tempat ini terlihat lebih hangat, terkesan seperti bistro hangat alih-alih restoran bintang satu Michelin.

Jendela-jendela tinggi nampak berkilau, bersih seolah tanpa kaca. Memberikan pandangan lega ke arah lembah Campuhan yang cantik. Meja-mejanya rapi, baru diturunkan ke lantai dan disiapkan untuk tamu. Langit-langitnya relatif rendah karena memiliki rooftop di bagian atasnya, namun lampu kristal yang menggantung di sana nampak sama megah dan indahnya dengan Gourmet.

Argha bisa melihat kedua bangunan ini didesain oleh arsitek yang sama karena sentuhannya khas sekali. Dia mengamati sekitarnya, menghirup aroma parfum ruangannya yang lembut dan tersenyum. Restoran ini mewah, namun juga tidak mengintimidasi—berbeda dengan Gourmet yang membuat siapa saja merasa terintimidasi karena dia megah dan mewah. Paradis lebih indah, membumi.

And you have partner I guess?” Tanyanya kasual, tidak menatap Raditya di sisinya dan merasakannya menegang oleh pertanyaan itu. Menggemaskan seperti seekor kelinci yang ketakutan, mengumumkan jawabannya. Argha mengedikkan bahu, “Too bad,” pikirnya ketika menyadari dia tidak bisa memiliki keindahan di depannya.

C'est une blague.” Bercanda, Dia mengedip pada Raditya yang tersenyum sopan, nampak lega. “Où est Chef Arsa, Beau?” Di mana Arsa?

Raditya mengangguk, bergegas melangkah mendahuluinya—gestur meminta Argha mengikutinya. “Il attend dans son bureau, je t'y emmène, Chef.” Dia berada di ruangannya, saya akan mengantar Anda ke sana.

Excellent accent,” puji Argha tulus seraya mengekornya melewati lorong karyawan Le Paradis yang bersih dan harum lembut.

“Terima kasih, Chef.” Argha bisa mendengar senyuman di kalimat Raditya dan mereka membelok, melewati ruangan Akunting dan HR yang masih kosong sebelum tiba di ruangan Arsa yang berada persis di sebelah dapur dengan satu jendela ke arah dapur.

Raditya berhenti sejenak lalu mengetuk pintunya. “Chef, ada Chef Argha di sini.” Infonya, menunggu hingga Arsa mempersilakan sebelum mengetuk seraya membuka pintunya.

Good morning, Chef.” Arsa sedang mengancingkan seragamnya di balik mejanya, tersenyum hangat. Rambutnya belum diikat, tergerai di sisi kepalanya dan membuatnya nampak seperti binatang liar yang menggoda untuk dijinakkan. “Good sleep?”

Argha mengingat pasangannya semalam dan tersenyum. “One of my best nights.” Sahutnya melangkah masuk. “Oh, mind if I change my clothes first?” Tanyanya, menyentuh kardigan rajut yang digunakannya di atas kemejanya.

Arsa menatap pakaiannya dan tersenyum. “Silakan, Raditya akan mengantar Anda.” Dia memberi tanda pada Raditya yang mengangguk.

“Sebelah sini, Chef.” Katanya, memberi jalan untuk Argha keluar dan memimpinnya ke loker karyawan.

Ruangannya bersih dan rapi, sudah kosong namun Argha melihat jejeran alas kaki di atas rak yang menandakan bahwa semua tim dapur mungkin sudah bekerja sekarang—memulai preparation untuk hari itu. Argha mengganti pakaiannya, menjejalkannya ke dalam tasnya sebelum mengenakan apron dan safety shoes-nya. Mengenakan harnet untuk menjaga agar rambutnya tidak jatuh ke makanan, Argha kemudian memasang bandana segitiga di atas kepalanya. Lebih baik daripada hanya harnet yang tipis, Argha tidak ingin mengambil risiko.

Argha melicinkan seragamnya, menghela napas dalam-dalam. Belum pernah merasa setegang ini sebelum melakukan tes memasak atau wawancara demi mendapatkan posisi Head Chef—posisi yang sudah dipegangnya selama nyaris lima tahun di Maladewa.

Ini berbeda, dia akan bekerja di depan juru masak berbintang Michelin. Walaupun jam terbang Argha jauh lebih banyak, dia menghormati Arsa karena prestasinya di bidang kuliner. Memberikannya sedikit rasa terintimidasi karena akan memasak sesuatu untuknya.

Argha merogoh kantung di bagian depan tasnya dan mengeluarkan boneka teru teru bozu kecil yang sudah kumal. Argha membawa benda ini berkeliling separuh dunia berpindah tempat bekerja dan tidak pernah mencucinya sama sekali. Dia menatap wajah tersenyumnya yang dibuat dari spidol dan tulisan Jepang berantakan di sudut bawahnya, sebagian luntur karena terkena air dan terpapar udara.

Namun Argha masih mengingat jelas hari ketika Yukio menunduk di atasnya, menulisnya dengan senyuman di bibirnya lalu memamerkannya ke Argha. Memaksanya membawa benda itu ke mana pun dia pergi dan Argha melakukannya. Tidak bisa bekerja dengan benar jika boneka ini tidak berada di sakunya.

Dia menatap tulisan luntur itu dan tersenyum, merasa hangat terbit di hatinya.

アルガ、どこにいても頑張ってね!! —雪♡ (Argha, wherever you are, good luck!! —Yuki♡)


stefan: seokjin diadari: oc

*