Gemati 030
tw // manipulation . ps. kacau sekali ya problematika kisah cinta om-om ini ckckck
“Oh, damn, been a long time, Christ! Look at you, Sweet Darling! Gorgeous as usual!”
Argha bangkit, merengkuh mantan rekan kerjanya dalam pelukan hangat yang membuat Christian tertawa. Mereka berpelukan sebentar dan Argha mengecup kedua pipinya—kebiasaan yang dibawanya dari Paris*.
Itulah mengapa dia tidak terlalu suka bertemu siapa pun dengan pacar mereka yang terlalu overprotektif. Karena jika Argha benar-benar mau, dia bisa merebut pacar mereka tanpa berusaha keras. Tapi dia tidak melakukannya, 'kan? Seharusnya mereka bersyukur Argha tidak mengincar kekasih mereka. Dia benci melihat lelaki petantang-pententeng sok keren di sekitarnya, membuat risih.
“Been amazing life lately, Chef. I engaged, work has been amazing and yeah, life's good.” Sahut Christian, tersenyum lebar dan Argha senang melihat betapa sehat dia terlihat ketika dia duduk di hadapan Argha. Rambutnya membentuk per-per manis di keningnya dan Argha mendesah melihatnya; Christian lembut dan hangat. Beruntung sekali lelaki yang mendapatkannya.
“How's yours?” Tanyanya, menatap Argha dengan senyuman di wajahnya.
Argha mendesah, bersandar di kursinya dan menyilangkan kakinya. “Lumayan, tapi itu tidak hal yang kita bicara hari ini.” Sahutnya perlahan dan mengetes bahasa Indonesianya. “Sial, I have to learn Indonesian, Christ. I have to get rid of this stupid accent because I need to go undercover.”
Christian mengerutkan alisnya, tersenyum geli. “Undercover, eh?” Sahutnya. “Kau selalu melebih-lebihkan semuanya, dramatic king. Apa lagi sekarang? Bersembunyi dari one night stand psikopat?”
Argha mendelik, menyugar rambutnya. Dia mengerutkan alisnya, berusaha memproses isi kepalanya dengan bahasa Indonesia. Jika dia dua hari lagi akan masuk ke dapur Le Gourmet sebagai commis gadungan maka dia harus meyakinkan sous chef-nya bahwa dia bawahan.
“Aku...,” dia berhenti sejenak, mengerutkan keningnya. Sudah terlalu lama tidak menggunakan bahasa Indonesia karena tidak terlalu menyukai bahasa itu; bahasa yang digunakan keluarganya untuk mengatai keluarganya. Dia lebih nyaman berbicara dalam bahasa Inggris, Prancis, dan Jepang.
Jepang karena Yukio dan demi Yukio.
“Aku ingin masuk...,” dia bicara, berpikir sejenak dan Christian mulai terkekeh. “Shut up, Christ!” Deliknya dan Christian mengangkat tangannya dengan pose menyerah, tersenyum seraya meraih gelas di hadapannya—mengecek isinya dengan senang.
“Wah, Chef masih ingat kesukaanku?” Tanyanya saat menemukan Signature Hot Chocolate dengan ekstra espresso di dalamnya.
“Tentu saja,” Argha mengangguk, mengedipkan sebelah matanya. “Aku selalu ingat....” Dia mengerutkan alisnya lagi, seperti orang sembelit. “Kesukaan pretty boys—oh, damn!” Dia memukul pahanya ketika bahasanya berubah tiba-tiba.
Christian tergelak renyah, membuat beberapa orang menoleh ke arah mereka. Starbucks Reserve Dewata hari itu tidak terlalu ramai terlepas dari fakta bahwa itu akhir pekan. Gedungnya yang didominasi kayu dan jendela membuat sinar matahari sore yang hangat masuk dengan leluasa, memberikan rasa yang menyenangkan. Argha memilih kursi di dekat jendela, sofa yang empuk berhadapan dengan Christian.
Argha mulai terbiasa dengan lingkungan sekitarnya, berpikir dia akan mencari kosan di dekat Gourmet. Mungkin dia bisa bertanya pada Arsa tentang ini daripada dia harus mencari-cari sendiri, mengekspos dirinya pada masalah karena ketidakmampuannya berbicara bahasa Indonesia dengan lancar. Pemilik vila yang disewanya ramah, dia mendapatkan sarapan yang lezat setiap pagi.
Mungkin dia akan tinggal di sana selama bekerja, memikirkan gajinya yang lebih dari cukup untuk membiayai hidupnya serta tabungannya yang harus mulai diinvestasikan daripada menumpuk di rekeningnya—membuatnya harus membayar pajak lebih banyak..
“Apa yang Chef akan lakukan sebenarnya?” Tanya Christian, tersenyum. “Anda bergabung dengan tim Arsa di Le Gourmet, 'kan?”
“Yes,” Argha mengangguk. “I'll join Arsa's team as commis for a little while, to check my sous's working method.” Argha menyesap minumannya perlahan, mengerutkan alis pada rasa matcha latte buatan baristanya. “Wait,” katanya memotong Christian yang hendak mengatakan sesuatu. “This drink tastes like dog's puke.” Gerutunya.
Argha berdiri, membawa minumannya ke konter dengan wajah terganggu. Melihatnya mendekat, seorang barista dengan apron hitam—bagus, karena Argha memang ingin bicara dengan seseorang yang paham keinginannya. Dia mendekat ke konter bar, meletakkan minumannya ke sana dan diam, menunggu seseorang menghampirinya.
“Hi,” sapa barista itu tersenyum ramah, bergegas mendatanginya—menangkap ekspresinya yang tidak senang. “Is there something wrong?”
“A lot.” Argha mengerutkan alisnya. “Are you the store manager?”
Barista itu mengangguk. “Yes, I am.” Dia tersenyum walaupun dari kilatan matanya, Argha tahu dia tahu ada masalah. “Anything I can help you?”
“This beverage tastes like shit.” Katanya, mengerutkan alis dan mendorong minumannya. “Do you really know how to make drink? My dog's food tastes better than this.”
Barista di hadapannya menarik napas, meraih gelas minuman Argha. Berusaha mempertahankan senyuman profesionalnya ketika mengecek minuman Argha. “I do apologize for the inconvenience, what can I do to make your drink better?”
Argha mengerutkan alisnya, kentara sekali bahwa jawaban itu salah. “I don't know, Young Man.” Sahutnya, melepaskan suara chef-nya yang berasal dari perut—membuatnya keras tanpa berteriak. Membuat beberapa orang menoleh kaget mendengarnya. “You tell me. If I know what was wrong, then I'll be there behind the bar making drinks, won't I?”
Barista di hadapannya memucat sejenak sebelum mengangguk. “Sure, Sir.” Katanya nyaris mencicit, membawa kembali minuman Argha ke bar. “Please remain be seated and I'll bring the new beverage to you.” Dia tersenyum ramah dan Argha mengangguk.
“Great.” Dia kemudian berbalik dan kembali ke tempat duduknya, disambut Christian yang mengulum senyuman geli. “Stupid people,” gerutunya seraya menghempaskan diri ke sofa di hadapan Christian.
“You could just tell the poor man what was wrong tho, Chef.” Komentarnya ketika Argha duduk. “It will make it easier for him to fix the drink.”
Argha mengerutkan alisnya. “Feed him like elementary schooler?” Gerutunya dan Christian terkekeh, sudah paham bagaimana cara Argha mengoreksi orang lain.
Dia ingat ketika masih bekerja di bawahnya, commis baru mereka menangis karena diminta memperbaiki rasa makanan tanpa diberi tahu apa kesalahannya. Commis malang itu menghabiskan sepanjang hari berusaha memperbaiki makanannya dan Argha tidak juga puas hingga akhirnya Argha membuang makanannya, melempar piring malang itu ke tempat sampah lalu memasaknya sendiri. Dan barulah dia tahu bahwa dia hanya kurang memasukkan lada.
“Your stupid taste buds need to be fixed, go see doctor.” Kecamnya seraya mengayunkan wok di atas api. “Crying won't save you, quit it! Or move it somewhere else I can't see you weeping like a kindergarten kid losing their turn for a motherfucking swing.” Tambahnya ketika commis itu mulai menitikkan air mata.
Menyebalkan, sangat. Namun Argha membuat mereka fokus pada pekerjaan dan semakin peka pada kesalahan mereka sendiri, detail dalam memasak. Karena lidah seniornya sangat peka pada rasa; dia bisa membongkar resep makanan hanya dengan satu-dua suapan sekaligus memperbaiki apa yang kurang. Itulah mengapa Christian yakin, Arsa akan sangat menghargai kemampuannya daripada tenggelam bekerja di resor di bawah perintah orang lain.
Argha akan membawa Arsa pada satu bintang Michelin lagi, Christian yakin. Dia lulusan Le Cordon Bleu Paris, memasak sepanjang hidupnya berkeliling separuh dunia, dan pernah belajar di bawah juru-juru masak kenamaan.
Jika dia bekerja di Le Gourmet, maka dia akan bertemu Abhimanyu. Tapi Christian tidak ingin “memperkenalkan” mantan atasannya pada anak itu. Mereka bisa bertemu sendiri nanti karena Christian juga tidak terlalu mengenal anak itu. Hal yang diketahuinya hanya Abhimanyu terlalu muda untuk jabatan head chef—sering mendengar Kinan mengeluhkan ini. Dalam hati sedikit cemas pada pertemuan pertama mereka: Argha yang tegas dan tanpa tedeng aling-aling dengan Abhimanyu yang hijau dan serba emosional.
Namun Christian tetap diam, tersenyum pada seniornya. “Baiklah. Mari belajar menghilangkan aksenmu.” Katanya.
Mereka mengobrol dalam bahasa Indonesia, Argha berusaha keras mengembalikan logat Indonesianya. Atau setidaknya berbicara dengan bahasa itu lebih lancar. Alisnya berkerut sepanjang mereka mengobrol, nampak berkonsentrasi pada setiap kalimatnya. Aksennya lebih condong ke Prancis dengan R panjang yang bergetar di ujungnya serta suara 'ng' sengau. Christian selalu tertawa ketika dia menyebut J sebagai Z dan Argha akan kehilangan kesabarannya.
“Lalu siapa nama yang akan kaugunakan untuk memperkenalkan diri?” Tanya Christian, menyesap minumannya sementara Argha berkomat-kamit mengetes kemampuan berbahasa Indonesianya.
“I'll go with 'Wira'. Sounds too Indonesia and safe.” Argha menatapnya, meminta persetujuan.
“Yes, true. But your accent not really.” Dia tergelak ketika Argha mengerang. “You'd better as Pierre or Jean-Baptise.” Kekehnya dan Argha mendelik.
Barista tadi datang ke meja mereka, membawa nampan terisi minuman baru Argha. Dia nampak sedikit takut namun memasang wajah ramah ketika meletakkan minumannya. “Sir, this is your drink. We hope it tastes good and if there's anything else you need our help with, please don't be hesitate to tell us.” Dia tersenyum dan Christian paham kalimat itu hanya sekadar basa-basi, namun barista malang itu tidak tahu siapa Argha Mahawira.
“Of course I will tell you, gladly.” Sahutnya, meraih gelas minumannya dan barista itu menarik napas. “Let's see if you actually know how to make drink.” Barista itu mengangguk, tersenyum kering—sedikit pucat sebelum mengangguk pada Christian dan bergegas berlalu, nyaris berlari.
Argha menatap minumannya dan Christian melirik ke konter, menemukan barista tadi menatap mereka dengan tegang—menunggu Argha mencicipi minumannya. Dia tersenyum, teringat ketika dia bekerja bersama Argha. Lelaki di hadapannya menyesap minumannya dan mendecap perlahan, mengangguk senang lalu menoleh—menatap langsung ke barista tadi yang berjengit kaget karena ketahuan mengintip.
“That's it, good job!” Katanya, memberi satu jempol dan Christian tertawa.
Mantan atasannya mungkin bermulut tajam, tapi dia tidak pelit pujian. Jika mereka memang melakukan hal yang benar, maka Argha akan memujinya—menepuk bahu mereka akrab. Bahkan ingat ketika dia mentraktir satu dapur untuk makan malam mewah karena mereka berhasil menyelesaikan servis paling panjang sepanjang karir Christian.
Dia dan Christian kemudian menghabiskan sisa hari untuk melatih lidahnya, berakhir dengan rasa frustrasi. Argha nampak jengkel karena tidak juga berhasil membuat R-nya terdengar jelas dan tajam seperti lidah Indonesia. Tidak berhasil mengucapkan J dan menegaskan 'ng'-nya. Wajahnya nampak kusut karena berusaha dan Christian tergelak.
“Damn this stupid tongue,” Argha menyugar rambutnya, merasa frustrasi dengan kemampuannya sendiri. “Apakah menurutmu jika aku menggunakan bahasa Inggris dia curiga?”
Christian berpikir sejenak. “Kau bisa menggunakan nama yang lebih... Entahlah, tidak terlalu Indonesia lalu bilang saja kau bekerja karena Arsa memiliki bintang Michelin?”
Argha mengerjap, memikirkan alasan itu dan mengangguk. “Not bad,” komentarnya menatap ke seluruh penjuru ruangan, mengistirahatkan matanya ketika dia melihat seseorang mendorong pintunya terbuka.
Dia selalu mengagumi keindahan ragawi dan pemuda itu indah sekaligus hangat. Rambutnya sedagu, mengikal menggemaskan di kedua sisi wajahnya. Sedang tersenyum lebar, nampak menggemaskan seperti boneka beruang kesayangan seseorang. Meleleh bak cokelat yang dipanaskan, mengenakan kaus sederhana dan celana jins berpipa longgar. Mata bulatnya berkilauan ketika bahagia menyentuhnya dan Argha tersenyum, berpikir bahwa anak itu manis sekali.
Namun berhenti ketika seseorang mengulurkan tangan dari balik bahunya untuk menahan pintu baginya. Pemuda tinggi, langsing, berkulit seputih salju dengan topi di kepalanya. Dia menunduk ke pemuda Teddy Bear itu, mengatakan sesuatu yang membuatnya tertawa seraya melangkah ke bar, ke barista yang meneriakkan salam selamat datang.
Pemuda tinggi itu merengkuh bahunya seraya berjalan, menunjukkan pada semua orang bahwa pemuda itu miliknya. Ada taring menyembul di bibirnya ketika dia tersenyum dan pemuda di sisinya tertawa bersamanya; nampak manis dan serasi. Dan itulah red flag Argha; tidak merusak hubungan orang, persetan dengan betapa indahnya mereka. Dia tidak mau menjadi orang ketiga.
Argha tersenyum separuh, mengedikkan sebelah bahunya. “Pretty people sold fast,” komentarnya dan Christian mengerjap, mendongak dari ponselnya.
“Pardon, Chef?” Tanyanya.
Argha tergelak, “Tidak, aku hanya bicara dengan diriku sendiri.” Katanya dengan aksen Prancis, melirik sekali lagi ke pasangan tadi.
Lelaki Teddy Bear itu memesan sesuatu dan kekasihnya menatapnya, seperti terhipnotis dengan senyuman kecil bermain di bibirnya seraya bersandar di konter. Argha tersenyum kecil, memahami ekspresi itu karena jika lelaki itu kekasihnya maka dia akan memperlakukannya dengan cara yang sama persis.
Argha memalingkan wajahnya, merasa tidak sopan menatap terlalu lama dan meregangkan tubuh. “Aku akan pergi ke toilet sebentar, okay?” Katanya pada Christian seraya bangkit, melicinkan pakaiannya. Terlalu lama belajar bahasa Indonesia membuatnya sakit kepala.
“Oke, Chef.” Christian melambai dan Argha melangkah ke arah toilet, melirik pasangan tadi sekali lagi seraya tersenyum.
Dia belum pernah menginginkan seseorang seperti dia menginginkan boneka menggemaskan itu. Dan perasaan ini mengganggu Argha karena anak itu sudah memiliki kekasih. Merogoh sakunya, dia mengeluarkan antiseptik dan menyemprot tangannya—mengusapnya lalu menyemprot gagang pintu di hadapannya.
“Kanan duluan,” gumamnya ketika memasuki toilet dan menggeleng jengkel. “No need, Argha.” Gerutunya pada dirinya sendiri, menggertakkan giginya. “No one dies if you enter the room left first.”
Namun dia tetap melakukannya. Argha menghembuskan napas, memijat pelipisnya. Dia harus memikirkan alibi yang baik untuk masuk ke dapur sebagai commis hari selasa nanti tanpa mengumumkan jam terbangnya. Berharap sous chef-nya tidak menyadarinya.
“Oh? Chef Christ!”
Abhimanyu mendongak pada Cedrik di sisinya, mendapati lelaki itu tersenyum ramah pada seseorang di depan mereka dan Abhimanyu menoleh. Menemukan lelaki langsing dengan rambut ikal menggemaskan duduk di sofa sendirian dengan dua gelas setengah kosong di depannya. Hatinya berdesir; siapa orang ini? Dan bagaimana Cedrik mengenalnya?
“Halo, Cedrik!” Sapa Christian, lelaki itu dan berdiri menghampiri Cedrik yang tergelak dan menyalaminya. “Sudah lama, ya, saya tidak melihatmu.”
Cedrik terkekeh dan Abhimanyu mengerutkan alis, tidak suka melihat lelaki itu tertawa dengan orang lain. “Tidak terlalu lama, Chef. Terakhir mungkin beberapa bulan lalu ketika kita menyelesaikan The Kinan untuk Arsa.”
“Ah, ya!” Christian menjentikkan jarinya, tersenyum secerah matahari pada Cedrik. “Aku ingat, ya, benar.” Dia menepuk bahu Cedrik. “Bagaimana dapur setelahnya? Aman?”
Cedrik mengangguk, menggenggam gelas di tangan kanannya. “Safe and sound as long as Arsa Mahardika ruled the kingdom.” Dia mengangguk serius dan Christian tertawa.
Abhimanyu menyesap minumannya. Dia bertemu Cedrik berdua saja? Untuk apa? Dia mengamati keduanya, merasa sedikit jengkel karena Cedrik tidak memperkenalkannya pada Christian seperti sebagaimana seharusnya. Dia menumpukan berat badannya pada kaki kanannya, mengetuk-ngetuk lantai dengan telapak kakinya—tidak sabaran.
Hari libur selalu mereka gunakan untuk menghabiskan waktu bersama, sudah begitu sejak pertama kali mereka dekat. Jika bukan Cedrik yang menjemputnya ke Seminyak, maka Abhimanyu yang berangkat ke Ubud. Dulu ketika mereka masih sama-sama di Le Paradis, lebih mudah berpergian. Dia, Cedrik, dan Raditya. Mereka selalu makan bersama sepulang bekerja, minum bersama jika libur, dan berlibur bersama—mencoba hal-hal baru, menjajal tempat wisata baru.
Namun hari ini dia tidak bisa bergabung, Raditya. Karena kekasih jarak jauhnya datang untuk menginap seminggu bersamanya. Cedrik memberi tahunya ketika menjemputnya pagi tadi, Abhimanyu mengedikkan bahu. Tidak masalah.
Semenjak mereka bekerja di tempat yang berbeda, waktu bersama jadi begitu terbatas. Mereka hanya bisa bertemu pada hari libur, tidak bisa lagi makan bersama sepulang bekerja. Itu terkadang membuat Abhimanyu kesepian; merindukan Cedrik dan Raditya, serta kosan mereka bertiga dulu. Namun jika dia tidak pindah ke Gourmet, dia tidak mungkin mendapat posisi head chef.
Walaupun sekarang posisi itu bukan lagi miliknya.
Abhimanyu menggertakkan gigi, menatap minumannya dengan jengkel seolah benda itu adalah Argha, calon head barunya. Dalam hati berharap dengan tulus Argha terkena gangguan pencernaan hari ini.
Cedrik pastilah menyadari perubahan emosi Abhimanyu karena dia menoleh dan menatapnya. Abhimanyu balas menatapnya, mengedikkan dagunya untuk bertanya dan lelaki itu tersenyum.
“Chef sudah mengenal Abhimanyu, 'kan? Sous chef Arsa.” Katanya, mengulurkan tangan dan menyentuh punggung Abhimanyu lembut—memintanya mendekat dengan sayang.
Christian tersenyum. “Halo, ya!” Katanya mengulurkan tangan dan Abhimanyu bergegas menjabatnya. “Tapi kurasa kita belum berkenalan secara resmi, ya, Abhimanyu? Tapi aku dengar banyak tentangmu dari Arsa dan Cedrik.” Dia mengguncang tangan Abhimanyu beberapa kali sebelum melepasnya. “Saya Christian,”
Abhimanyu membalas senyumannya. “Halo, Chef. Saya Abhimanyu. Senang berkenalan dengan Chef.”
“Sendirian, Chef?” Tanya Cedrik kemudian, meletakkan satu tangannya di punggung Abhimanyu—gestur bahwa dia tidak melupakan Abhimanyu dan itu membuatnya senang. “Tidak bersama Chef Felix?”
“Oh, tidak!” Christian melirik gelas di meja sebelum melirik Abhimanyu yang mengerjap, menyadari tatapan itu. “Saya bersama teman saya, sedang di toilet. Felix sedang di rumah, tidak ingin bergabung.”
Cedrik mengangguk. “Baiklah, saya tidak akan mengganggu Chef lama-lama.” Dia tersenyum dan Abhimanyu menatapnya, menyukai senyuman Cedrik yang selalu menenangkan. Belum lagi tahi lalat mungil di bawah matanya dan pembawaannya yang selalu lembut. “Kami akan naik ke atas.”
Christian tergelak. “Saya juga tidak akan mengganggu kencan kalian.” Dia tersenyum pada Abhimanyu yang merona tipis. “Selamat berakhir pekan.” Dia melambai pada keduanya ketika Cedrik membimbingnya naik ke lantai dua, menikmati suasana yang lebih tenang.
“Dia teman Arsa,” Cedrik menarik kursi untuk Abhimanyu sebelum dirinya sendiri duduk di hadapan Abhimanyu. “Bekerja di Jumana Resort, bawahan tunangannya.”
Abhimanyu mengerjap. “Mereka bertunangan dan bekerja di satu tempat kerja?” Tanyanya, terkekeh kecil. Karyawan Kinan tidak akan pernah merasakan itu karena Kinan dengan tegas melarangnya—jika mereka akan berpacaran, maka salah satu harus ditransfer ke restoran lain atau berhenti.
Tidak terlalu adil karena dia dan Arsa secara harfiah menikah. Namun tidak ada yang bisa menandingi profesionalitas Kinan yang memanggil Arsa dengan 'Chef' menggunakan nada paling dingin yang pernah didengar Abhimanyu. Menatapnya seolah dia benar-benar rekan kerja tanpa sedikit pun—sedikit pun percikan cinta di matanya. Dia benar-benar bajingan berdarah dingin jika bekerja.
Ketika Arsa mengingatkannya hal semacam, “Jangan lupa makan.” Kinan akan mengangguk seolah Arsa hanya mengingatkannya untuk bekerja.
Dan Abhimanyu iri pada hubungan mereka, pada bagaimana Arsa menatapnya seolah Kinan baru saja membawakannya matahari. Menyelamatkan dunianya, meniupkan jiwa ke tubuhnya dan membuat Arsa bernyawa. Pemujaan yang takzim, seolah Arsa sedang memuja Tuhan.
Abhimanyu tidak menyukainya.
“Berhenti.”
Abhimanyu mengerjap, menoleh ke Cedrik yang menatapnya. Dia melepas topinya, membiarkan rambutnya yang mulai gondrong terurai membentuk tirai tipis di keningnya yang tinggi. “Ya?” Tanyanya, mengerjap.
“Kau sedang memikirkan hal yang tidak menyenangkan.” Cedrik mengulurkan tangan, menyisir rambut Abhimanyu ke belakang dengan jemarinya—aroma parfumnya menyenangkan; seperti cotton lembut, sedikit bedak bayi. “Terlihat dari wajahmu.”
Abhimanyu suka perlakuan Cedrik padanya; selalu lembut, hangat, menenangkan. Dan dia selalu sabar pada Abhimanyu, tidak pernah menaikkan suaranya. Mengumpat sekali-dua kali, namun kemudian menjelaskan pada Abhimanyu maksudnya seraya meminta maaf. Seperti permen kapas, Cedrik manis menyengat namun membuat lidahnya merindu.
Namun dia tidak bisa membalas perasaannya. Entah mengapa, sikap lembut Cedrik terasa menyenangkan tetapi bukan hal yang dicarinya. Dia ingin pasangan yang bisa membuatnya merasa bersemangat sepanjang waktu—membuatnya merasa diinginkan, membuatnya merasa berharga. Diberi tatapan takzim seolah sedang memuja Tuhan....
Abhimanyu menatap Cedrik di hadapannya. “Maaf jika begitu.” Sahutnya, tersenyum kecil lalu menyesap minumannya. “Kau masih belum mendengar apa pun tentang Argha?” Tanyanya.
Cedrik menghela napas, menautkan jemarinya dan menatap Abhimanyu. “Why are we talking about this Argha guy if that only makes you upset?” Sahutnya, menatap Abhimanyu. “I'm here to make you happy, alright?”
Abhimanyu memalingkan wajahnya sejenak dari Cedrik sebelum kembali menatapnya. Tidakkah Cedrik menyadari bahwa dia sedang memperjuangkan posisinya sebagai head chef sekarang? Kenapa dia tidak bersikap suportif pada Abhimanyu dengan memberi tahu segala hal yang dia tahu sebagai tim Executive dan sahabat dekat Arsa?
“Cedrik,” mulainya, memicingkan matanya pada Cedrik. “Kau tahu seberapa aku menginginkan posisi head chef itu dan jika kau memang mencintaiku, kenapa kau tidak mendukungku?”
Cedrik balas menatapnya lalu memalingkan wajah seraya menghela napas berat. Dia bersandar di kursinya, meluruskan kakinya hingga menyentuh kaki Abhimanyu di bawah meja. Dia menyugar rambutnya, menatap Abhimanyu dengan wajah ditelengkan—ekspresinya tidak tertebak.
“Karena aku mencintaimu dan aku tahu dirimu, Abhimanyu.” Katanya, jernih dan tegas. Kalimat itu membuat Abhimanyu menarik napas tajam, merasa dingin merambati kaki dan tangannya—keringat mulai terbit di permukaan telapak tangannya.
Dia benci ketika Cedrik mengucapkan betapa dia mencintai Abhimanyu dengan gamblang dan tegas. Jernih. Membuatnya takut dan gelisah.
“Itulah mengapa aku tahu bahwa kau belum siap menjadi head chef.” Lanjutnya, sama tegasnya. “Di bawah kepemimpinan Argha, kau mungkin akan belajar banyak hal baru sebelum menjabat menjadi kepala.”
Abhimanyu melambaikan tangannya di antara mereka, seolah mengusir lalat yang mengganggu—menghentikan Cedrik dengan decakan marah meloloskan diri dari bibirnya. “Aku hanya akan belajar dari Arsa dan hanya Arsa.” Sahutnya, menatap Cedrik—menantangnya.
Menyadari suasana yang mulai keruh, Cedrik menarik napas. “Aku tidak mau membicarakan ini.” Katanya mengulurkan tangan dan mengusap tangan Abhimanyu di atas meja.
Abhimanyu membalik telapak tangannya, membiarkan Cedrik menggambar pola melingkar di atasnya dengan telunjuknya yang kurus. Gerakan itu mengaduk dasar perut Abhimanyu, membuatnya merasa semakin gelisah.
“Aku tidak mau membuatmu jengkel.” Kata Cedrik lembut dan menatapnya, tersenyum tipis. Abhimanyu menahan napas.
Dia mudah dicintai, Abhimanyu tahu. Dia perhatian, lembut, penyayang, dan pekerja keras. Selera humornya benar-benar sehat, Abhimanyu tidak pernah jengkel jika bersamanya—dia selalu pandai menyetir pembicaraa, membangun percakapan. Itulah yang membuatnya dan Arsa menjadi duo yang menyenangkan; Arsa yang selalu serius dan Cedrik yang penuh gurauan.
Tapi, mengapa hatinya tidak juga jatuh cinta pada Cedrik?
- Cipika-cipiki itu hal wajar di Paris, sama kayak salaman di Indonesia. Cowok kek, cewek kek, mereka pasti cipika-cipiki kalo udah akrab <3
ps. asyiiik seru khaaaan gemati qiqiqi