Gourmet Meal 609

cw // horror , supranatural , moral ambiguity , trust issue .


Taehyung yang sudah menenangkan dirinya setelah terpaksa mengucapkan maaf untuk ayahnya walaupun sama sekali tidak terlalu meniatkannya. Dia duduk di tempat Jeongguk tadi, minum segelas teh hangat yang dibuatkan seseorang sambil menunggu ahli tenung mereka beristirahat sebentar karena kelelahan oleh tangisan ayah Taehyung.

Jeongguk duduk di sisinya, nampak gelisah setelah bersikap lembut pada Taehyung untuk menenangkannya. Taehyung dan Lakshmi sama-sama terguncang karena dipaksa memaafkan seseorang yang telah begitu jahat pada mereka di bawah paksaan, Taehyung meminta maaf pada kakaknya karena bicara mewakili Lakshmi tanpa izin darinya mengenai hal yang luar biasa penting.

Lakshmi menggeleng. “Tidak masalah, malah Mbok Gek berterima kasih karena Tugung menyelamatkan Mbok Gek dari keharusan mengatakan hal yang Mbok Gek tidak inginkan.”

Kesimpulannya mereka berdua tidak memaafkan ayah mereka. Hanya mengatakannya sekadar formalitas agar mereka terlepas dari belenggu kekikukan itu. Taehyung yakin mereka berdua layak mendapatkan waktu untuk memaafkan orang tua mereka dan tentu saja bukan di bawah tekanan semacam tadi—itu sama saja seperti menodongkan pisau ke leher mereka, mendorong mereka ke tiang pancung dan memberi syarat mustahil untuk bertahan hidup.

Dia tidak merasa bersalah karena melakukannya sama seperti ayahnya selama bertahun-tahun tidak merasa bersalah karena telah memperlakukan anaknya dengan sekejam itu.

Sekarang, Lakshmi dan ibu mereka beristirahat di teras luar sementara mereka bersiap untuk sesi Jeongguk. Taehyung menatap kekasihnya yang tegang dan membersit parau setelah menangis. Semua berpikir Taehyung menangis karena memaafkan ayahnya padahal dia menangis karena tidak mau memaafkan ayahnya—setidaknya tidak sekarang. Dia mengulurkan tangan, meremas bahu Jeongguk hangat; memintanya bersiap karena ahli tenung mereka sudah kembali menaiki tempatnya bekerja.

“Wiktu?” Bisiknya lembut, sedikit cemas pada kondisi Jeongguk yang mengkhawatirkan. “Kau siap?”

Haruskah mereka menunda ini?

Jeongguk menghela napas dalam-dalam, nampak lebih pucat lagi saat mengangguk perlahan. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut karena tegang dan cemas, tangannya berkeringat dan lengket ketika menyentuh tangan Taehyung. Taehyung mengamatinya lekat-lekat, mencoba memastikan apakah Jeongguk cukup sehat untuk melanjutkan prosesi meluasang hari ini.

“Kau yakin kau sanggup?” Tanyanya lembut dan Jeongguk menyugar rambutnya dengan jemari—menyisirnya perlahan sebelum kembali mengenakan udeng-nya yang agak berantakan. “Kita bisa kembali besok jika kau mau? Atau kapan saja kau siap.”

“Yakin.” Sahut Jeongguk parau dan menggeleng, menolak saran Taehyung. “Mari selesaikan agar kita bisa pulang lalu aku bisa berbaring di ranjangmu karena aku mual sekali.” Gumamnya, berdeguk kecil dan Taehyung membantunya berdiri.

“Baiklah jika itu maumu.” Gumam Taehyung, membimbingnya mendekat kembali ke tempat mereka tadi dan mendudukkannya di kursi plastik yang tadi digunakan Taehyung.

Jeongguk menarik napas panjang dan berat saat meletakkan pantatnya di kursi plastik. Taehyung menarik kursi di sisinya dan duduk di dekatnya, menatap Jeongguk cemas sementara di sekaa pat ahli tenung sedang mempersiapkan diri dengan selapis keringat di keningnya. Kegiatan ini pasti melelahkan untuknya.

“Sudah siap, nggih?” Tanya ahli tenung mereka yang sudah nampak lebih baik dari sebelumnya—dia pastilah memiliki tubuh yang sangat kuat untuk menampung semua jiwa yang singgah karena dia terlihat baik setelah sekian banyak klien yang dilayaninya.

Jeongguk mengangguk, duduk di sisi Taehyung yang menatapnya—memastikan kekasihnya baik-baik saja. “Beliau paman saya, Anak Agung Anglurah Gde Dalem Anom Karang.” Katanya, suaranya gemetar saat mengucapkan nama lengkap pamannya dan Taehyung menepuk pahanya sekali. “Beliau meninggal sudah lama, mungkin dua puluh tahun lalu dan sudah dilinggihang. Saya ingin... menanyakan beberapa hal.”

Ahli tenung mereka mengangguk, merapikan bebungaan baru di nampannya. “Anak Agung Anglurah Gde Dalem Anom Karang, nggih?” Ulangnya dan Jeongguk mengangguk. Ahli tenung itu kemudian memejamkan mata dan melakukan ritual yang sama dengan yang dilakukannya untuk memanggil ayah Taehyung tadi,

Dupa-dupa baru dinyalakan, bebungaan ditambah di nampan di sisinya sebagai sarana. Dupa baru itu menusuk hidung Taehyung dan sejenak membuatnya pening sementara Jeongguk di sisinya tegak serta gelisah—matanya menatap ahli tenung yang merapalkan mantra dengan mata yang sedikit merah.

Suasana hening sejenak, hanya terdengar obrolan sayup-sayup dari klien yang menunggu giliran di teras luar. Taehyung mendongak, menatap langit biru berusaha meredakan perasaan gelisah di hatinya. Dia ingin pulang, mandi dan berbaring sekarang—berat setelah mendengar tangisan ayahnya dan tidak nyaman karena mengucapkan 'kami memaafkanmu' yang sama sekali tidak diimaninya. Dia memejamkan mata dengan kakinya bertemu dengan kaki Jeongguk; bahasa rahasia bahwa dia berada di dekat Jeongguk, menemaninya karena mereka tidak bisa bergandengan tangan.

Mungkin Taehyung jatuh terlelap sebentar ketika suara ahli tenung terdengar lagi kemudian, dia tersentak dan bergegas membuka matanya, menoleh ke ahli tenung yang mengerutkan alis.

Niki Anak Agung Anglurah Gde Dalem Anom Karang bersama tiang, nggih?” Dia sejenak diam lalu mengerutkan alisnya semakin dalam.

“Oh,” gumamnya. “Paman Atu Ngurah sudah mantuk ngeraganin,” katanya dengan mata terpejam dan Jeongguk yang mengerutkan alis. “Beliau di sini bersama kita namun menolak bicara. Tidak ada yang harus dibicarakan menurut beliau.”

Mantuk ngeraganin?” Ulang Jeongguk perlahan dan ahli tenung itu mengangguk.

“Sudah lama, langsung lahir kembali setelah dilinggihang. Ada urusan yang belum diselesaikan di dunia sehingga beliau dilahirkan kembali saat itu juga.” Sahutnya dengan nada setengah menerawang. “Sekarang nama beliau...,” dia berhenti sejenak, memejamkan mata seolah sedang mendengarkan seseorang bicara di sisinya.

“Anak Agung Agung Anglurah Made Yugyeom Dj.”


Terdengar suara terkesiap keras yang tidak Jeongguk kenali lalu sedetik kemudian dia menyadari bahwa itu suaranya sendiri.

Dia merasakan Taehyung menoleh, menatap Jeongguk yang terbelalak di tempat duduknya—sejenak duduk tegak di kursinya sebelum perlahan meluruh ke kursinya, merosot karena keterkejutannya yang hebat. Namun dia tidak menoleh pada Taehyung—tidak siap menatap simpati yang mungkin terbit di matanya sekarang untuk Jeongguk.

Kepalanya berdenging nyaring sekarang mendengar bahwa adiknya adalah reinkarnasi paman yang selama ini ditakutinya. Dan itu menjelaskan segalanya; sungguh segalanya.

Mengapa semua orang Puri sangat menyayangi Yugyeom, ayahnya yang mengistimewakan Yugyeom, bagaimana kehidupan seolah menghamparkan karpet merah di hadapan Yugyeom—semuanya berkilauan untuknya, dihujani kelopak mawar dan disambut dengan agung. Yugyeom yang manis, Yugyeom yang adalah favorit semua orang di Puri; kesayangan kakek-neneknya.

Menjelaskan mengapa kehidupan Yugyeom bertolak 180 derajat dengan hidup Jeongguk.

Jeongguk pusing dan mual. Dia selalu iri pada Yugyeom karena bagaimana saat dia lahir, semua orang mendadak bergembira—melepaskan kesedihan karena kematian Wak Anom, menyambut Yugyeom seolah dia adalah matahari baru di Puri mereka. Sementara Jeongguk tidak pernah merasakan itu.

Namun dia menyayangi adiknya, menatap matanya yang bulat dan senyumannya yang cerah dari balik jeruji tempat tidurnya dan jatuh cinta—persis seperti semua anggota Puri. Dipikirnya, itu tentulah karena Yugyeom adalah si Paling Bungsu di Puri. Maka semua orang otomatis menyayanginya, memanjakannya. Jeongguk memutuskan untuk menemani adiknya—memberikannya figur kakak yang akan membuatnya bahagia.

Ini menjelaskan semuanya.

Jeongguk berdeguk, memijat pelipisnya dan Taehyung mengulurkan tangannya—meletakkannya di bahunya dan meremasnya lembut. Jeongguk sudah come out ke Yugyeom, memberi tahunya segala rahasia tergelap Jeongguk berpikir adiknya sama sekali tidak berbahaya. Berpikir dia bisa mempercayai adiknya.

Namun sekarang....

“Beliau memilih lahir jadi anak adiknya,” kata ahli tenung itu lagi—tidak menyadari apa yang terjadi di sekitarnya. Jeongguk menggertakkan giginya. “Lahir kembali menjadi adik Atu Ngurah sekarang. Menyelesaikan urusannya yang tertunda karena sakit...” Dia mengerutkan alisnya, mendengarkan seseorang di sisinya.

Jika Wak Anom terlahir kembali menjadi adiknya, maka itu menjelaskan mengapa dialah yang mendatangi ayah Jeongguk mengoreksi sikapnya. Jeongguk menceritakan segalanya ke Yugyeom dan secara tidak sadar sedang menceritakannya pada paman yang selama ini ditakutinya.

Jeongguk begitu dekat dengan Yugyeom, Jeongguk memastikan Yugyeom tidak mengalami apa yang Jeongguk alami di masa kecilnya—kurangnya perhatian, kurangnya cinta. Dia menemani Yugyeom bertumbuh, menjaga adiknya lebih dari bagaimana dia menjaga dirinya sendiri. Jeongguk mencintai adiknya seperti orang sinting dan Yugyeom melakukan hal yang sama—ikatan mereka begitu erat.

Dan sekarang, Yugyeom ternyata adalah manifestasi kelahiran kembali kakak ayahnya—calon Penglingsir Puri Karangasem yang sebenarnya.

“Beliau sendiri yang memilih lahir menjadi adik Atu Ngurah.” Ulang ahli tenung mereka perlahan seolah Jeongguk belum mual karena mendengarnya. “Dan beliau bahagia hidup sebagai... Ogik.”

Jeongguk bergidik mendengar nama itu; nama panggilan yang dia berikan untuk Yugyeom dan sekarang digunakan oleh seluruh anggota Puri. Jeongguk yang memberikan nama itu dan sekarang jiwa yang dilahirkan kembali menjadi adiknya menuyukainya. Jeongguk tidak yakin apakah dia harus tersanjung atau tidak...

Ahli tenung di hadapan mereka mengerutkan alisnya. “Beliau mendapatkan kehidupan yang diinginkannya; aktif dan penuh kasih sayang. Memiliki kakak yang.... penyayang. Walaupun sedih karena akan ditinggalkan...”

Jeongguk menelan ludah dengan sedikit ngeri, Wak Anom mendengar apa yang Jeongguk bicarakan pada adiknya—dia mendengar apa yang Yugyeom dengar, melihat apa yang Yugyeom lihat, merasakan apa yang Yugyeom rasakan.

Dia tahu Jeongguk dan Taehyung adalah sepasang kekasih. Tahu bahwa dia dan Taehyung akan kabur bersama, melepaskan kasta mereka dan memulai kehidupan baru jauh dari Bali. Dia bermain game bersama Taehyung, tahu malam-malam yang mereka habiskan bercinta di kamar Jeongguk.

Dia tahu...

“Itulah....,” bisik Jeongguk perlahan, menyatukan kepingan-kepingan janggal yang didapatinya sejak adiknya lahir. Jarak usia yang sangat jauh dari Yugyeom hingga dia sempat yakin dia tidak akan memiliki saudara dan menyiapkan diri untuk kehidupan yang membosankan.

Namun kemudian ibunya mendadak hamil dan kehamilan itu secara magis mengangkat segala tudung kedukaan Puri. Membuat Puri cerah dan semua orang bahagia. Ibu Jeongguk mengatakan dia bermimpi didatangi jalak Bali putih yang cantik sebelum kehamilannya. Jeongguk bergidik.

“Itulah mengapa Biang tiba-tiba hamil beberapa bulan setelah Wak Anom dilinggihang...?” Lanjutnya tercekat, menyadari keanehan yang sekarang menjadi masuk akal.

Segalanya.

Dan parahnya, Wak Anom mengingatnya.

Ahli tenung itu mengangguk perlahan. “Beliau memang harus lahir kembali, harus menyelesaikan urusannya di dunia ini. Banyak hal yang belum dicobanya, belum dinikmati karena sakit parah di kehidupan sebelumnya.”

Jeongguk melirik Taehyung yang balas meliriknya; tanpa suara pun dia tahu kekasihnya sedang memikirkan hal yang sama dengannya. Rahasia mereka semua ada pada kakak ayah Jeongguk dan jika dia mau, dia bisa mewujud ke mimpi ayah Jeongguk dan mengatakan segalanya. Perut Jeongguk mulas memikirkan potensi itu dan tangannya otomatis bergerak ke sakunya, ingin menelepon adiknya—memastikan Yugyeom masih berada di pihaknya.

“Oh!” Ahli tenung itu mendadak berseru dan alisnya berkerut. “Kata beliau....,” dia mengerutkan wajahnya, nampak mencerna sesuatu—seolah seseorang sedang meneriakinya di telinga. Kepalanya bergerak sedikit, ditelengkan ke arah kiri menjauhi sisi kanannya. “Beliau bilang bahwa.... Rahasi—”

Suaranya mendadak terputus dan dia terkesiap keras. Jeongguk tersentak kecil, secara naluriah mundur dari kursinya bersamaan dengan Taehyung yang terkesiap keras ketika ahli tenung mereka mengerang keras. Kepalanya mendongak ke atas dengan mata terbuka namun hanya menampakkan bagian putih matanya. Anak sulung ahli tenung itu bergegas menghampiri ayahnya, menyangganya agar tidak berguling ke belakang dan jatuh sementara tubuhnya gemetar.

Kenapi nika??” Tanya Taehyung panik. Kenapa??

Anaknya menggeleng. “Tidak apa-apa, ini biasa terjadi jika roh yang dipanggil mendadak masuk tanpa persiapan Ajik.” Katanya namun toh tetap menatap ayahnya yang gemetar hebat di pelukannya dengan cemas. “Sebentar lagi seharusnya—”

Wiktu?”

Jeongguk tersentak, nyaris terjungkal dari kursinya mendengar suara itu. Dia tidak mengenalinya, suara asing yang berat dan parau. Suara yang tidak pernah didengarnya namun nada itu—nada itu. Dia menggunakan nada Yugyeom. Jeongguk menatap ahli tenung yang sekarang membuka matanya dengan tangan gemetar mencengkeram kain di pangkuannya.

Wiktu, rahasia kita tidak akan Uwak katakan pada Ajung.” Lanjutnya, matanya nanar dan menatap Jeongguk yang ketakutan. “Uwak tidak akan mengkhianati Wiktu, Uwak menjaga rahasia...”

Jangan takut.... Jangan. Jangan takut...”

Jeongguk menahan napasnya. Ingatan kacau masa kecilnya berkelebat di kepalanya—begitu cepat seperti flash yang membutakan. Jeongguk menggertakkan rahangnya, berusaha mengenyahkan ingatan tentang kamar gelap yang pengap. Tubuh yang terbaring di ranjang, invalid dan suara napasnya yang terengah-engah. Rumah Wak Anom berada di belakang Puri, disembunyikan, diasingkan. Jeongguk benci suasana rumah itu, benci jika dia harus pergi ke sana menjenguk kakak ayahnya. Dia masih ingat aroma pesing tercampur obat yang menyambutnya tiap menaiki undakan ke teras kamar Wak Anom lalu menangis—merengek pada ayahnya agar dia kembali ke kamarnya saja.

Lalu membayangkan Yugyeom. Anak manis yang selalu menemaninya, mengekor Jeongguk ke mana pun dia pergi. Meniru semua kegiatan Jeongguk, merengek pada Jeongguk, meminta ini-itu, memeluk Jeongguk ketika dia menangis—mendengarkan bagaimana Jeongguk merasa kehidupan Puri tidak membuatnya bahagia.

“Wiktu tidak bahagia di rumah ini?”

“Tidak.”

Jeongguk menatap mata ahli tenung itu, menatap ke mata kakak ayahnya. Dia tahu Jeongguk tidak bahagia lalu memutuskan untuk mampir ke mimpi ayahnya; meminta adiknya untuk bersikap adil pada anak sulungnya, mengubah sikap ayah Jeongguk menjadi lebih manusiawi lalu 'mengusir' Jeongguk dari Puri. Membuat keputusan Jeongguk untuk kabur semakin ringan karena Yugyeom siap menjadi Penglingsir dan ayahnya terdengar 'terbuka' tentang kepergian Jeongguk dari rumah untuk 'bekerja'.

Itu menjelaskan segalanya. Termasuk kesedihan Yugyeom berpisah darinya.

Uwak selalu ingin berkenalan dengan Gung Wah,” suara itu kembali terdengar—suara yang Jeongguk tidak kenal karena dia tidak pernah bicara dengan pamannya itu. “Tapi Gung Wah takut pada Uwak, nggih? Uwak sakit, Uwak tidak bisa menemani Gung.”

Jeongguk mengernyit, itukah mengapa ayahnya selalu memaksa Jeongguk datang menjenguk pamannya dan selalu marah ketika Jeongguk menangis? Dia menatap ahli tenung di depannya dengan perasaan campur aduk; bagaimana dia harus menyikapi banjir bah informasi ini sekarang?

Maka Uwak memutuskan untuk lahir menjadi adik Gung Wah. Uwak ingin mengenal Gung, ingin dekat dengan Gung...”

Rasa nyeri menyengat hati Jeongguk sekarang, merasa bersalah karena selalu ketakutan pada pamannya padahal lelaki tua dan sakit itu hanya ingin mengenal Jeongguk. Dia menggigit bagian dalam pipinya, menahan isak melepaskan diri dari bibirnya. Membayangkan perasaan pamannya ketika Jeongguk menjerit, menolak tiap kali ayahnya mengajaknya masuk untuk menjenguk pamannya.

Ajung selalu minta maaf jika Gung menolak masuk kamar Uwak, lalu Uwak marahi balik karena memarahi Gung yang menangis.” Ahli tenung itu tersenyum pada Jeongguk, ada air mata di sudut matanya yang merah. “Uwak selalu marahi Ajung jika dia galak pada Gung. Ajung patuh pada Uwak.”

Jeongguk membuka mulutnya, sejenak diam lalu kembali menutupnya. Jika memang dia selalu memarahi ayah Jeongguk, mengapa dia membiarkan Jeongguk menderita dengan sikap tidak adil terang-terangan ayah Jeongguk selama ini? Dia diam ketika Jeongguk menangis, tergencet oleh standar hidup patriarki ayahnya dan Jeongguk bersumpah dia tidak mau mendengar siapa pun mencekokinya dengan omong kosong 'ayahmu sayang padamu'.

Uwak berusaha,” sela suara pamannya seolah mendengar isi kepala Jeongguk yang merasa panas menjalar di ulu hatinya—menandai tangisan yang akan terbit sebentar lagi. “Uwak bicara sebagai Ogik, meminta Ajung berhenti tapi Ajung tidak berhenti. Maaf Uwak salah, maaf Uwak...”

Dan untuk membuat Jeongguk semakin kaget, ahli tenung mereka menangis—tersedu-sedu, berat dan parau. Hingga suara napasnya terdengar tercekik dan anak sulung beliau bergegas membantunya. Ahli tenung itu menangis, tersengal dalam pelukan anaknya memproses emosi dari jiwa yang menggunakan tubuhnya sebagai media.

Sementara Jeongguk duduk di sana, tidak memahami apa pun termasuk mengapa pamannya melakukan semua ini demi Jeongguk? Mengapa dia repot-repot....?

“Uwak,” bisik Jeongguk kemudian dan Taehyung meremas bahunya—menyemangatinya. “Uwak jangan menangis.” Bibir bawah Jeongguk gemetar; tidak yakin apakah dia menyayangi pamannya atau ketakutan atau... entahlah. “Uwak tidak bersalah, Uwak tidak... berhutang apa pun pada Gung.”

Mengapa...? Mengapa Jeongguk selalu harus bertanggung jawab atas perasaan orang lain yang bahkan sama sekali bukan karenanya? Pamannya sendiri yang memutuskan melakukannya lalu kenapa Jeongguk yang harus memaafkan dan menghiburnya seolah Jeongguk yang merengek padanya untuk melakukannya?

“Uwak merahasiakan segalanya saja,” Jeongguk mulai perlahan—mendadak gelisah dan tidak nyaman dengan adiknya, terserang keraguan yang melumpuhkan pada adiknya. “Merahasiakan segala yang Gung ceritakan pada Ogik dari Ajung saja sudah cukup. Lebih dari cukup.” Jeongguk nyaris menggigit lidahnya saat mengatakannya.

Ketakutan menyengat otaknya seperti sekawanan lebah; takut pamannya mendadak memberi tahu ayahnya mengenai orientasi seksual Jeongguk, rencana kaburnya dengan Taehyung, segala obrolannya dengan Yugyeom. Merasa terkhianati karena selama ini mempercayai seseorang yang tidak dikenalnya. Jeongguk mendadak merasa begitu asing dengan Yugyeom.

Benarkah Yugyeom adiknya?

Dia pulang ke Puri Taehyung dengan pandangan menerawang, kehilangan nyaris 60% rasa percayanya pada Yugyeom. Walaupun tadi pamannya menangis, meyakinkan Jeongguk bahwa dia tidak akan mengatakan apa pun pada ayah mereka namun Jeongguk terlanjur merasa terkhianati. Rasa percayanya kini retak, menipis dan merapuh. Jeongguk merasa tidak mengenal adiknya sama sekali lagi sekarang, merasa dia seolah orang asing yang tidak dikenalnya.

“Gung? Kemarilah,” bisik Taehyung saat mereka berada di kamar Taehyung dan Jeongguk langsung membenamkan diri ke dalam kedua lengan Taehyung.

Jeongguk suka ketika Taehyung memanggilnya 'Gung', bersikap seperti seorang kakak lelaki yang selalu diinginkan Jeongguk—seseorang yang bisa disandarinya ketika dia membutuhkan, seseorang yang bisa memberi tahu Jeongguk apa yang tidak dipahami Jeongguk. Sosok yang selama ini lenyap dari hidup Jeongguk, sosok yang seharusnya diisi oleh ayahnya sendiri.

Dia bersandar sepenuhnya pada Taehyung sekarang, memeluk pinggangnya dengan erat dan menghirup aromanya dalam-dalam. Dia menyandarkan fisik, jiwa, dan pikirannya di bahu Taehyung; menggenggamnya seperti pelampung yang akan menyelamatkannya di tengah lautan yang bergelombang. Jeongguk meremas pakaian Taehyung, tersengal oleh tangisannya sendiri.

Mengerikan bagaimana jiwa pamannya begitu kuat melalui proses reinkarnasi untuk bisa mengingat masa lalu dan masa kininya.

“Jiwanya masih sangat kuat,” ahli tenung tadi menjelaskan. “Beliau belum lama di Surga sehingga ingatan kehidupan lalunya masih menempel sempurna. Dia belum melepaskan keduniawian lalunya sebelum menyambut kehidupan barunya sehingga dia bisa mengingat segalanya dengan jelas.

“Tapi menurut tiang, beliau sama sekali tidak berbahaya. Beliau sayang pada Atu Ngurah, walaupun mungkin Atu tidak memahaminya sama sekali. Beliau memilih terlahir menjadi adik Atu, dekat dengan Atu.”

Jeongguk menarik napas, mengerang dan Taehyung membisikkan kalimat hiburan di telinganya. Membelai punggungnya lembut dan mengecup puncak kepalanya—menenangkan tangis liar Jeongguk karena perasaan campur aduk di dalam dirinya.

Yugyeom.

Adiknya yang selama ini dipercayainya adalah reinkarnasi dari paman yang ditakutinya sepanjang masa kecilnya. Paman yang mungkin mewujud di mimpi ayahnya dan memberi tahunya segala hal yang Jeongguk bagikan pada Yugyeom.

Hanya Yugyeom.

Bagaimana cara Jeongguk menatap adiknya sekarang? Bisakah dia memisahkan Yugyeom dan pamannya; bahwa adiknya sekarang sama sekali tidak tahu kehidupan lalunya seperti apa? Yugyeom adalah Yugyeom, identitas dan kehidupan baru—tidak mengingat kehidupan lalunya. Jiwa pamannyalah yang mengingatnya.

Jeongguk kebingungan, berusaha memproses perasaan terkhianati pekat yang melumpuhkan di hatinya.

Bagaimana...? Bagaimana sekarang?


Glosarium:

ps. ngl nama lokal yugyeom tuh berat bgt tapi aneh pas digabungin sama nama korea nya hahahahahaha maap kalo cringe :(