Gourmet Meal 636
“Wigung! WIGUNG!”
Taehyung sedang mengetik balasan untuk Arsa ketika Jeongguk berlari ke arah mobil dan membantingnya terbuka seraya menyodorkan ponselnya ke Taehyung.
Wajahnya pucat pasi, nampak panik dengan rambut mencuat-cuat dari udeng-nya yang berantakan dan Taehyung untuk beberapa detik merasa jantungnya mencelos karena cemas; otaknya berjengit memikirkan apa yang mungkin terjadi pada Jeongguk yang tadi pamit membeli minuman dingin. Namun itu sebelum matanya fokus pada ponsel dalam genggaman Jeongguk yang membuat matanya juling. Di layar ada laman M-Banking milik Jeongguk dengan informasi mutasi saldo dari rekening lain.
Taehyung membuka mulut, hendak menjelaskan bahwa itu Arsa ketika menyadari nominalnya. Dia menarik napas tajam, “Sialan.” Gumamnya saat menyadari angka tujuh puluh lima juta yang menyala di ponsel Jeongguk—dicetak tebal dan besar.
“Tujuh puluh lima,” bisik Jeongguk perlahan mendudukkan diri di kursi pengemudi mobil Taehyung. “Dari Chef Arsa.” Lalu dia mengguncangkan ponselnya, nampak ngeri. “Ini uang apa?? Wigung??”
Taehyung menghela napas, pening melihat jumlah uang yang diberikan Arsa. Dia tidak masalah mengenai uang dari Jimin karena mereka bersahabat, dia juga sempat membantu Jimin di masa-masa awalnya kabur. Tapi Arsa dan Kinan. Mereka bahkan bukan teman langsung Taehyung, dia mengenal mereka melalui Felix. Jeongguk pun tidak. Mereka praktis orang asing dan memberikan bantuan sebesar itu untuk Taehyung serta Jeongguk.
“Kata mereka itu hadiah,” bisik Taehyung memijat keningnya—merasa tidak nyaman karena betapa baiknya Arsa-Kinan untuk hidupnya dan Jeongguk hanya karena mereka sama-sama anggota komunitas.
“We're minority here, let's keep supporting each other.”
“Hadiah apa terserah yang jelas mereka ingin membantu.” Lanjut Taehyung, menatap Jeongguk yang sekarang terenyak di kursinya masih menatap ponselnya dengan kosong.
Mereka berada di halaman parkir Pura Besakih yang lumayan ramai. Baru saja sembahyang di Pura Pedarman mereka masing-masing, berpamitan untuk melepaskan kasta mereka sore ini di Griya Wisnu melalui upacara Patiwangi. Sebenarnya upacara ini dikhususkan untuk perempuan yang nyerod atau menikah dengan kasta di bawahnya sebagai upacara 'melepas' kasta mereka. Tidak wajib dilakukan namun beberapa keluarga masih meyakini jika tidak dilakukan, akan membuat pernikahan menjadi tidak harmonis karena pihak perempuan belum melepaskan kastanya.
Tapi dia dan Jeongguk memutuskan untuk melakukannya, melepaskan kasta mereka dan hidup sebagai Jaba/Sudra—hal yang sangat mereka idam-idamkan selama ini. Kakek Wisnu tidak terlalu menyukai ide mereka ini. Alasan Taehyung dan Jeongguk mengenai masalah keluarga, dibantu oleh Lakshmi dan bagaimana beliau sendiri menjadi saksi hidup tentang keluarga Taehyung kemudian membuatnya akhirnya setuju memberikan pengecualian.
Mereka akan melakukannya di Pura Puseh atau Pura Desa Griya Wisnu karena tidak berani membawa upacara itu ke Pura Desa mereka—takut seseorang melihat mereka dan menyebarkan isu ke seluruh masyarakat. Mereka akan melakukannya diam-diam, menyelesaikan urusan pemakaman ayah Taehyung lalu pergi selamanya dari Bali.
“Apa?” Ulang Jeongguk dengan alis berkerut, sama sekali tidak memahami maksud Arsa dan Kinan melakukannya. Sejujurnya, Taehyung pun tidak. “Uang apa?”
“Hadiah.” Ulang Taehyung kering menatap kekasihnya. Dia nampak luar biasa, Taehyung tidak tahu lelaki Hindu yang baru selesai bersembahyang nampak sesegar ini. Dua kancing teratas kemeja Jeongguk terbuka, ada wija di bawah lehernya—titik di tengah tulang selangka dan belikatnya, dia beraroma lembut dupa dan bunga. Aroma yang Taehyung yakin bisa membuatnya lelap sekarang juga.
Jeongguk mengerutkan alisnya semakin dalam. Tidak bisa memprosesnya sama sekali. Namun Taehyung mengedikkan bahunya. “Jika kita mengirimnya kembali, mereka akan memusuhi kita.” Ujarnya, tidak memiliki pilihan lain karena Arsa mendesak.
Jeongguk semakin kebingungan.
“Maka untuk saat ini, kita terima saja.” Katanya menutup obrolan itu karena merasa sedikit mual mengingat jumlah uang yang Arsa kirimkan begitu saja untuk seseorang yang bahkan tidak dia kenal secara pribadi atau dekat. Ini membuat Taehyung sedikit merasa bersalah karena tidak menjalin pertemanan lebih akrab dengan keduanya—lebih karena merasa segan pada Arsa yang lebih muda namun jauh lebih senior darinya dalam hal memasak.
Mereka baru saja tenang, melaju di jalanan menjauh dari Besakih dalam diam—masih memproses uang yang mereka terima. Mereka akhirnya menerima uang yang dikirimkan Arsa dengan baik setelah satu jam, berpikir bahwa itu adalah rezeki mereka dari Tuhan untuk memulai kehidupan melalui Arsa ketika M-Banking Jeongguk kembali berbunyi; notifikasi transfer dana sebesar 25 juta.
“Felix.” Kata Taehyung, bergegas menjelaskan segalanya sebelum kekasihnya sempat berteriak kaget di tengah jalan menuju Griya Wisnu—Taehyung memijat kepalanya, baru saja mengirimi pesan sahabatnya itu mengenai informasi yang diberikannya ke Arsa ketika dia memberi tahu Taehyung bahwa dia juga menyumbangkan dana.
“Mereka tahu mengenai rencana kita untuk memulai kehidupan baru di Bintan, berpikir hadiah apa yang mungkin akan berguna lalu memutuskan untuk memberikan kita uang saja—jauh lebih berguna.” Tambah Taehyung menatap kekasihnya yang pias.
Jeongguk berhenti di lampu merah, menatap ponselnya dengan pucat dan Taehyung tidak bisa tidak tersenyum. Jeongguk menyikapi sumbangan dana itu dengan dramatis, terkejut seperti seekor anak anjing. Taehyung terkadang lupa, Jeongguk berusia lebih muda darinya saat dia bersikap tenang dan mengayomi. Namun sekarang, dia nampak menggemaskan—menatap ponselnya ngeri seolah benda itu bisa memancarkan nuklir yang akan membuatnya menjadi mutan.
“Mari berpikir bahwa kita dikelilingi orang-orang baik saja saat ini.” Katanya, memutuskan di kepalanya dia akan menggunakan uang Arsa untuk memasang kap di halaman rumahnya. Mobilnya butuh atap untuk bernaung jika Taehyung ingin mempertahankan warnanya.
Jeongguk menarik napas, menatap kekasihnya dengan wajah yang tidak dapat dijelaskan. “Hidup sering kali bercanda, ya?” Katanya parau, meraih tangan Taehyung dan meremasnya. “Sekarang, semuanya terasa surealis. Bagaimana bahagia terasa begitu dekat dan banyak sekali orang yang membantu kita. Aku merasa seolah berada di dalam mimpi dan takut jika aku terbangun, ternyata kau masih memberiku sikap diam yang sama—seolah kita tidak pernah ada.”
Taehyung tersenyum lalu menyambar pinggangnya dan mencubitnya keras. Jeongguk berseru keras, membuat beberapa pengendara di depan mereka menoleh kaget ke mobil mereka dan Taehyung tergelak ketika kekasihnya menoleh, mendelik kaget.
“Kenapa, sih!?” Serunya mengusap pinggangnya yang berdenyut.
“Membuktikan padamu bahwa semuanya bukan mimpi.” Sahut Taehyung kalem, menyerigai lebar dan Jeongguk menghembuskan napas—tatapannya berubah hangat dan sendu, tatapan yang selalu diberikannya ke Taehyung sejak dahulu kala.
Taehyung pikir itu karena dia menghormati Taehyung sebagai seniornya. Ternyata, itu karena dia jatuh cinta pada Taehyung seperti pungguk merindukan bulan. Dan sekarang, Jeongguk miliknya seutuhnya. Tidak ada yang bisa membuat Taehyung lebih bahagia dari itu.
“Aku tidak akan ke mana-mana.” Katanya menatap Jeongguk yang tersenyum seraya menginjak gas—matanya menatap ke depan, setelah memasukkan persneling dia melepaskannya untuk menggenggam tangan Taehyung.
“Bagus.” Bisik Jeongguk lirih. “Karena aku akan mengejarmu bahkan ke ujung dunia sekali pun.” Dia mengecup tangan Taehyung dan mengusapnya. “Aku tidak akan berhenti sebelum menemukanmu.”
Taehyung tersenyum lebar, senang.
Mereka tiba di Griya Wisnu tepat waktu, tidak terlalu sore dan mendapati semuanya sudah siap berangkat.
Dengan dua mobil, mereka berangkat ke Pura Desa. Kebetulan kosong karena tidak ada hari raya, Wisnu meminjam kunci gerbangnya dari penjaga Pura dan membuka gemboknya untuk mereka. Jeongguk membantu Wisnu menurunkan keperluan kakeknya untuk muput upacara itu dan Taehyung membantu Lakshmi membawa sesaji yang kemudian ditata di Bale Agung Pura Desa tempat Jeongguk dan Taehyung akan melakukan upacara mereka.
Kakek Wisnu duduk di Bale Agung, bersiap-siap mengenakan pakaian untuk memimpin upacaranya dibantu Wisnu seraya mengobrol dengan Taehyung yang duduk di dekat kakinya. Kakek Wisnu, tidak seperti kebanyakan Pedanda yang serius dan pendiam, adalah pribadi yang jenaka dan santai, membuatnya digemari oleh umat untuk muput upacara. Belum lagi perhitungan dewasa ayu-nya untuk pasangan pengantin selalu tepat dan akurat. Itulah mengapa dia mengizinkan cucu pertamanya menikahi gadis yang diinginkannya.
“Tidak ada jalan kembali, ya?” Godanya saat melilitkan sabuk di tubuhnya seraya tersenyum di bawah kumisnya yang keperakan. “Dilepas, ya dilepas selamanya.”
Taehyung mengangguk, merasa jantungnya berdebar namun dengan alasan yang sama sekali berbeda. Dia merasa bersemangat, tidak sabar untuk 'terlahir kembali' dengan kasta baru yang jauh lebih ringan dari apa yang dipikulnya selama puluhan tahun ini.
“Tidak, Ratu Pedanda.” Sahutnya serius, merasakan kekuatan tekad di dalam hatinya. Lakshmi berdiri di sisinya, merangkul bahunya dan mengusapnya hangat—merindukan adiknya sementara Jeongguk di ujung dekat dengan sesaji terjauh, siap membantu jika dibutuhkan.
“Ya, jika memang merasa wangsa-nya tidak cocok, tidak apa-apa.” Kakek Wisnu mengenakan mahkotanya yang dihiasi kristal-kristal, membiaskan cahaya matahari membentuknya menjadi pelangi dengan perlahan—memastikan cepolan rambutnya masuk ke dalam sana dan Wisnu membantunya. “Yang penting bahagianya. Di hati agar ringan.” Dia menyentuh dadanya sendiri, tersenyum.
Kemudian beliau membenahi tempat duduknya dan mengeluarkan genta dari dalam tasnya. Wisnu menyalakan api di dalam lentera kecil yang digunakan kakeknya untuk menyalakan dupa, menuang bunga ke nampan di sisinya agar mudah diraih. Suasana berubah hening dan khusyuk ketika kakek Wisnu menggoyangkan genta sekali—mengetes suaranya. Denting genta menggema, menjangkau ruang terjauh di Pura Desa yang hening itu.
Taehyung menghela napas dan Lakshmi merasakannya. “Tidak apa-apa, 'kan?” Tanyanya lembut dan Taehyung menggeleng lembut, mengusap tangan kakaknya di bahunya. “Tidak.” Sahutnya.
Sejenak merasa bersalah karena Jeongguk tidak ditemani adiknya hari ini. Namun setelah pembicaraan mereka kemarin, hubungan keduanya belum membaik. Jeongguk masih lumayan kikuk di sekitar adiknya dan Yugyeom masih kebingungan—memproses informasi itu dengan lambat. Keluarga Jeongguk masih tetap tidak mencarinya. Bahkan tidak ibunya.
Maka Jeongguk memutuskan bahwa itu berarti Tuhan mempermudah perjalanannya pergi dari Bali.
Kakek Wisnu melantunkan mantra seraya menggoyangkan gentanya sesuai nada—menciptakan atmosfer nyaman dan akrab. Suara genta yang tinggi dan menenangkan, suara berat beliau melantunkan mantra, aroma dupa dan wewangian. Namun bedanya, Taehyung sekarang akan melepaskan identitas yang tidak dikehendakinya.
Ibunya tidak tahu. Tidak ada yang tahu kecuali Lakshmi dan keluarga Wisnu. Dalam upacara ini dibutuhkan tiga saksi; Tuhan, bhuta kala, dan manusia. Sesaji yang digunakan sudah cukup untuk memberikan pesembahan kepada bhuta kala, memohon kesediaan mereka menjadi saksi dan Lakshmi di sana sebagai saksi manusia dari pihak keluarga.
Setelah selesai melantunkan mantra, kakek Wisnu meminta Taehyung dan Jeongguk mengitari Bale Agung sebanyak tiga kali dari kanan ke kiri. Taehyung dan Jeongguk bergegas melakukannya—mengitari Bale Agung yang lumayan besar perlahan sementara kakek Wisnu kembali melantunkan mantra dan membunyikan gentanya.
“Kemari,” kata kakek Wisnu setelah keduanya selesai dan menoleh ke Wisnu. “Tolong diisi air.” Katanya menyerahkan tembikar ke Wisnu yang bergegas menerimanya. “Air suci lalu masukkan bunga ke dalamnya.” Tambahnya.
Lakshmi melangkah ke arah Wisnu, membantu suaminya pergi ke sumber air suci Pura Desa dan mengisi kedua tembikar itu penuh-penuh sebelum kembali ke Bale Agung. Lakshmi membuka daun pisang yang terisi bunga tujuh dan sembilan rupa, sesuai angka lahir Jeongguk dan Taehyung ke masing-masing tembikar lalu mengaduknya dengan tangan.
“Duduk di sini, mendekat.” Pinta kakek Wisnu, menunjuk sisi Bale tempatnya menaiki balai tadi dan Wisnu menyingkir dari sana.
Jeongguk dan Taehyung berlutut di sana, menunduk menunggu prosesi selanjutnya. Taehyung tidak tahan untuk tidak melirik kekasihnya yang memejamkan mata—menjalani prosesi itu dengan tenang dan damai. Seolah benar-benar tidak sabar untuk melepaskan kastanya, beban berat tak kasat mata di bahunya. Dia tersenyum, mengulurkan tangan dan menepuk tangan Jeongguk. Di atas mereka, kakek Wisnu masih melantunkan mantra dengan lembut—suaranya serak, parau, dan empuk ditemani genta yang magis.
“See you?” Bisik Taehyung.
Jeongguk tersenyum lebar. “See you.” Dia mengangguk lalu memejamkan mata.
Kakek Wisnu mengatakan sesuatu saat mengangkat tembikar pertama dengan sembilan rupa bunga milik Taehyung lalu menurunkan kakinya, meletakkannya di dekat kepala Taehyung dan menuang airnya. Wisnu membantunya, mencuci kaki kakeknya di atas kepala Taehyung sebagai simbolis bahwa kastanya dilepaskan seraya tetap menggumamkan kalimat dalam bahasa Bali halus tentang Taehyung yang dilahirkan kembali.
Dia menuang hingga airnya habis, memastikan bebungaan itu jatuh di kepala dan bahu Taehyung yang menahan napasnya ketika air meluruh di wajahnya. Tidak ada yang berubah, Taehyung tidak merasa tubuhnya kemudian bersinar atau apa. Namun dia merasakan jelas sesuatu diangkat dari bahunya, mengubah tarikan napasnya menjadi lebih ringan dan rileks—paru-parunya mengembang lebih besar dari sebelumnya. Senyum kecil terbit di bibirnya. Dia bahagia.
Di sisinya, Jeongguk juga memejamkan mata sementara kakek Wisnu menyebutkan namanya dan meletakkan kakinya di kepala Jeongguk. Lalu perlahan menuang air bunga ke atas kakinya, dibantu Lakshmi mencucinya dengan lembut. Jeongguk memejamkan mata dengan serius, alisnya berkerut sementara air gemericik meleleh dari wajahnya dan dagunya jatuh ke lantai Bale Agung.
Ada banyak sekali pengecualian khusus di upacara ini untuk Taehyung dan Jeongguk. Mereka senang kakek Wisnu bersedia melakukannya karena jika tidak mereka harus pergi ke Pedanda lain dan berisiko ketahuan oleh Puri mereka masing-masing. Kakek Wisnu setuju merahasiakan ini, begitu pula Wisnu dan Lakshmi.
“Nah, sudah.” Kata kakek Wisnu parau, mengangkat kakinya dari Jeongguk.
Taehyung tidak pernah mendengarkan kalimat yang terasa membuat jiwanya ringan selain kata cinta Jeongguk selama ini. Bahunya terangkat, seolah beban langit baru saja diangkat dari sana dan dia membuka matanya—mengusap kelopak bunga dari wajahnya dan rambut dari keningnya lalu menoleh ke Jeongguk yang juga tersenyum.
Pura Desa tetap hening, dengan aroma dupa yang pekat dan bunga yang baru saja disiramkan ke kepala mereka. Kelopak-kelopaknya berceceran di sekitar Taehyung dan Jeongguk yang kuyup—lelah dari pergi bersembahyang ke tempat yang lumayan jauh, namun bahagia.
Karena sekarang mereka berdua tidak lagi berhak menyandang kasta mereka. Diperkenankan untuk mengganti atau tetap menggunakan nama itu namun tidak lagi berada dalam leluhur yang sama dengan kedua orang tua mereka. Tidak ada restu dari keluarga masing-masing atas upacara ini selain restu Lakshmi, namun menurut kakek Wisnu itu cukup untuk pengecualian.
“Kalian sudah bukan lagi Ksatria.”
Taehyung tersenyum lebar dan Jeongguk meraih tangannya—meremasnya hangat. Taehyung bisa saja menciumnya sekarang, namun tidak ingin mengagetkan Wisnu dan kakeknya. Mereka bisa merayakannya nanti malam.
“Kalian sudah bukan lagi Ksatria.”
Dia bahagia, untuk pertama kalinya dalam hidupnya—bahagia sepenuhnya dengan tangan Jeongguk dalam genggamannya.
Glosarium:
Patiwangi: pati = mati, wangi = harum. Wangsa/kasta diartikan sebagai 'kewangian'. Aku gak yakin apa di tempat lain sama atau beda, tapi yang aku baca di buku Oka Rusmini (sayangnya aku belum sempat liat sendiri upacara ini), ada prosesi membasuh kaki di atas kepala itu. Jadi aku pakai karena kelihatan sakral. Kalo ada yg lebih tahu, silakan QRT nanti aku RT dan aku koreksi narasiku <3 timakaciii <33
Pedarman: pura leluhur. Jadi setiap leluhur/keturunan memiliki puranya sendiri, seperti rumah. Keturunannya pun tidak terbatas hanya satu-dua keluarga, banyak sekali. Dan dalam satu garis darah ini, diperbolehkan untuk menikah. Ada keturunan Pasek, Tangkas, Pande, Kepakisan, dan seterusnya.
Bhuta kala: sebenarnya makhluk-makhluk tidak kasat mata yang membantu Siwa 'meleburkan', ada yang baik dan ada yang jahat. Dalam Hindu, untuk menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta, manusia selain memberikan persembahan pada Tuhan juga memberikan persembahan untuk bhuta kala agar tidak mengganggu manusia. Dalam setiap upacara, biasanya dibutuhkan juga saksi dari para bhuta kala, penghormatan agar tidak mengganggu jalannya upacara. Cmiiw <3
Seperti biasa, mohon bantuan teman-teman Hindu Bali untuk menjelaskan jika ada yang dirasa kurang atau keliru yaa <3 kalo bisa tolong QRT aja, jadi mudah aku RT ato masukkan ke thread. timakaciiii <3