Gourmet Meal 627
ps. alur maju-mundur, pelan2 ya bacanya <3
“Oh. Halo, anak siapa ini?”
Taehyung tergelak, merangkul Jimin yang selalu beraroma lembut dan feminim—dia menyadari dia menyukai aroma sahabatnya. Aroma keringatnya yang begitu familiar: sekarang dia beraroma seperti stroberi lembut, sepercik vanila, dan pinus. Dia sedang mengerutkan alis, menaikkan kacamatanya menatap Yugyeom yang mengerjap di sisi kakaknya.
“Ini Ogik, kenalkan.” Taehyung melambaikan tangan. “Pewaris Puri Agung Karangasem.” Dia mengedip menggoda pada Yugyeom yang mengerang.
Mereka berdiri di Kedatangan Domestik Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, setelah tadi menunggu pesawat Jimin yang tertunda di Starbucks yang berada beberapa meter dari Kedatangan. Mereka menunggu lumayan lama, mungkin satu-dua jam. Namun mereka menghabiskan waktu dengan mengobrol santai mengenai keadaan Puri setelah Jeongguk pergi sambil minum dan menikmati penyejuk ruangan store yang mereka datangi. Jimin tiba dengan ceria, tersenyum lebar dan nampak sangat menarik dalam balutan pakaian kasual rapinya.
“Kau adik Jeongguk?” Tanyanya saat mengulurkan tangan dan Yugyeom menjabatnya, menempel ke kakaknya seperti satelit yang berotasi di sekitar planet. “Semoga kau tidak sama menyebalkannya dengan kakakmu, ya!” Dia tersenyum lebar lalu mendelik pada Jeongguk yang memutar bola matanya.
“Silakan, Yang Mulia.” Dia mengulurkan segelas tinggi green tea latte dengan sedikit saus kecokelatan di dalamnya.
Jimin menerimanya dengan senang, langsung menyurukkan tasnya ke Taehyung yang nyaris menjatuhkannya untuk meraih sedotan stainless miliknya dan menusukkannya ke cup. Dia menyesapnya panjang sebelum bisa diajak bicara dengan beradab.
Puri terasa sepi pagi tadi. Ketika Taehyung terbangun dengan Jeongguk mendengkur lembut di sisinya, suasana hening sekali. Dia terbiasa mendengar suara Lakshmi bekerja di dapur dan ketika tidak mendengarnya, sejenak dia merasa sedih—ada sesuatu yang dicabut dari dadanya dan dia bersyukur ada Jeongguk di sisinya. Dia teringat kakaknya sedang berbahagia sekarang, maka dia menghela napas.
Dia beranjak ke luar dan sekali lagi, tertegun. Puri sepi sekali, tidak ada kehidupan. Ibunya masih lelap, begitu juga Jeongguk. Dan ketika dia beranjak ke dapur, melewati kamar kakaknya yang kosong hatinya berdenyut nyeri. Merindukan kakaknya, bahkan belum sehari sejak kakaknya resmi tinggal bersama Wisnu. Mereka akan segera keluar dari Griya karena Wisnu bukan pewaris lagi, membeli rumah di Batubulan yang lebih dekat dengan tempat bekerja Wisnu. Lakshmi juga sudah memohon pemindahannya ke cabang kantor Denpasar dan mendapatkan persetujuan.
Mau tidak mau, Taehyung senang. Kakaknya sudah bebas dari Puri, memiliki kehidupannya sendiri bersama lelaki yang dengan tulus menanti dan mencintainya selama ini. Dia juga hidup di luar lingkungan Griya, memberikannya otoritas sendiri di rumah dan hidupnya bersama Wisnu. Taehyung berbahagia untuk kakaknya walaupun sedikit pusing memikirkan nasib ibunya jika dia pergi mengejar bahagianya.
Taehyung memulai hari pertamanya tanpa kakak perempuannya dengan mencuci beras; memasak lauk untuk seharian. Jeongguk bangun beberapa menit kemudian, bergabung dengannya di dapur. Ibunya juga turut ke dapur, mengambil alih tugas memasak dan meminta Taehyung untuk bersembahyang saja. Dia merasa kesepian, walaupun ada Jeongguk di sisinya. Beginikah rasanya nanti ketika dia pergi dari Bali?
Dia menatap nampan di tangannya yang terisi canang. Lakshmi praktis adalah penggerak Puri—dia mengerjakan isi dapur, menyapu halaman, membuat canang, bersembahyang, memastikan semua pakaian tercuci-setrika. Dan sekarang setelah dia hilang, Taehyung sejenak timpang. Mau tidak mau memikirkan bagaimana jika dia juga meninggalkan ibunya?
Sambil berdoa di Merajan, Taehyung berpikir dia akan merayu ibunya untuk pulang ke rumah adiknya lagi. Dia tidak bisa meninggalkannya sendirian di tempat ini.
“Bagaimana hari pertama tanpa Lakshmi?” Tanya Jimin ketika mereka semua duduk di dalam Yaris Jeongguk dengan Yugyeom di balik kemudi dan Jeongguk di sisinya. “Kacau?”
Jeongguk mengerling Taehyung lewat spion dan tergelak. “Aku menemukannya pagi ini, mencuci beras dengan raut wajah sedih seperti anak tiri yang ditinggalkan.” Dan Taehyung mengerang, menyandarkan diri di kursinya.
“Kasihan sekali.” Jimin mengusap pipi Taehyung yang kasar, belum bercukur karena sedikit panik mengerjakan pekerjaan rumah yang biasa dilakukan Lakshmi. “Mungkin itulah mengapa ayahmu memintamu menikah duluan. Sehingga ketika Lakshmi menikah, ada perempuan baru yang mengisi tempatnya.”
Taehyung mendelik padanya, namun tak ayal setuju pada logika itu setelah menjalani satu hari tanpa kakaknya. “Benar juga.” Katanya kemudian dan Jeongguk tergelak.
Jimin menjentikkan jarinya. “Aku memang selalu yang paling pintar di antara kita berdua.” Dia kembali menyesap minumannya. “Ayo, makan sesuatu yang lezat.” Dia mencondongkan tubuhnya ke kursi Yugyeom. “Ogik ingin makan sesuatu yang lezat? Aku yang traktir.”
Yugyeom melirik kakaknya dan Jimin berdecak keras, memutar bola matanya. Taehyung menatap Yugyeom, menyadari bagaimana kikuknya dia bertemu pertama kali dengan Jimin. “Tidak perlu minta izin kakakmu! Dia itu tunduk padaku.” Dia menepuk kepala Yugyeom sayang. “Jadi, kau mau makan apa?”
Yugyeom nyengir, memasang sein dan berbelok keluar dari kawasan Bandara. “Makanan mahal?”
Jimin memutar bola matanya. “Try me, Kid.” Dia menaikkan sebelah alisnya. “Gajiku dalam dolar.” Dia mengedikkan gelas minumannya seolah itu gelas sampanye sambil bersandar di kursinya dengang angkuh.
“Tapi tetap tidak mampu membeli green tea latte-nya sendiri.” Gerutu Jeongguk, bersidekap di tempatnya memandang jalanan di depannya.
Jimin menarik napas tajam, dramatis dan Taehyung tertawa. “Pantas saja minumanku pahit!” Katanya lalu dengan sengaja menggoyangkan gelasnya yang penuh kondensasi ke atas pangkuan Jeongguk—membuat air-airnya berjatuhan. “Kau tidak ikhlas!”
Jeongguk berseru, berusaha menjauhkan Jimin yang tergelak darinya dan Taehyung mendesah. “Hei, hei. Nanti minumannya tumpah.” Tegurnya dengan nada sedikit keras dan kedua lelaki itu menurutinya.
Jimin kembali duduk, mencibir pada Jeongguk yang mendelik padanya. Mobil meluncur, membelah lalu lintas Denpasar yang ramai dan terik. Yugyeom handal di balik kemudi, Taehyung pikir dia akan bersikap grasa-grusu di jalan tapi dia mewarisi bakat kakaknya mengemudi. Dia mengerem dengan sangat lembut, memutar kemudi dengan handal—mobil mendengkur di bawahnya seperti kucing jinak.
“Jadi, Ogik ingin makan apa?” Tanya Jimin sekali lagi, setelah berdamai dengan Jeongguk yang mengelap tetesan air di pakaiannya menggunakan tisu.
“Pilihlah,” Taehyung menatap Yugyeom yang membalas tatapannya dari spion tengah. “Dia tidak akan diam sebelum kau mengiyakan. Habiskan saja uangnya.”
Jimin menepuk tasnya. “Tentu, tentu.” Dia tersenyum. Taehyung mengusap bahu sahabatnya—Jimin tidak selalu kaya. Pada masa awal kaburnya, dia tidak memiliki uang sama sekali dan Taehyung yang memberikannya uang untuk bertahan.
Taehyung mengirimkannya setengah gaji Taehyung mungkin selama satu tahun hingga akhirnya dia diterima menjadi FA Garuda Indonesia, melalui proses seleksi yang mengerikan dan begitu ketat. Dari sanalah, Jimin kemudian bertekad membalas segala kebaikan Taehyung dan karirnya melejit. Dia menembus airlines internasional setelah menjadi FA Senior di penerbangan internasional Garuda Indonesia selama 5 tahun dan tidak bisa dihentikan sejak gajinya ditransfer dalam dolar.
Dia ringan sekali tentang uang. Nyaris dermawan pada Taehyung; membelikan hal-hal yang tidak diperlukan Taehyung, membawakan Lakshmi tas-tas mahal, termasuk penata rias termahal di Bali untuk pernikahannya kemarin. Jimin juga sudah membayar penuh untuk dua riasan di hari resepsi kakaknya, lengkap dengan fotografer dan videografer untuk mengabadikannya. Dia melakukannya untuk membalas bantuan kedua saudara itu di masa sulitnya.
Dan Taehyung bersyukur. Kebaikannya berbuah manis. Termasuk bagaimana Jimin tanpa segan memberikannya uang untuk membantunya memulai hidup di Lagoi. Uang itu sudah dirincinya dengan Jeongguk, mengalokasikannya dengan baik karena tabungan mereka sudah terperas habis untuk rumah mereka yang walaupun hanya terisi satu kamar utama, dapur kecil, dan kamar mandi, harganya tidak murah. Mereka membeli properti di Kepulauan Riau.
Setibanya di Lagoi nanti, Jeongguk harus bertemu notaris bersama Verdio untuk menandatangani surat perjanjian bahwa Verdio yang namanya tercantum di sertifikat tanah dan rumah mereka, tidak bisa menjual properti tersebut tanpa surat kuasa bermaterai dari Jeongguk sebagai pemilik sah. Mereka membutuhkan nama Verdio karena mereka tidak bisa membeli properti di provinsi lain di Indonesia jika tidak memiliki KTP setempat. Verdio juga nanti yang akan membantu mereka membalikkan nama STNK dan BPKB Hard Top Taehyung agar memudahkan mereka membayar pajak.
“Tidak membawa kendaraan pun tidak masalah.” Kata Verdio saat mereka tersambung di telepon. “Semua resor di tempat ini memiliki mess karyawan dan dilengkapi dengan shuttle antar-jemput.”
Namun Taehyung bersikeras. Mobil itu tabungannya, juga motornya yang terpaksa dijualnya untuk menambahi pembelian rumah mereka. Dia terlalu sentimentil pada barang-barangnya sehingga Jeongguk akhirnya setuju membawanya.
Rumah mereka cantik sekali, setidaknya begitu pikir Taehyung. Berada di salah satu perumahan dekat dengan staff housing salah satu resor di Lagoi. Menggabungkan tabungan mereka hingga ke tetes-tetes terakhir, mereka berhasil membelinya. Tidak terlalu dekat dengan pantai, setidaknya 1km dari bibir pantai namun menurut Verdio suara gemuruhnya masih terdengar. Pantai Lagoi tidak seperti pantai di Bali, berkarang dan memiliki banyak pemecah gelombang, memberikan tepi pantai yang damai dengan ombak-ombak kecil.
Tidak persis seperti apa yang dibayangkan Taehyung, namun dia puas. Setidaknya dia memiliki Jeongguk di sisinya dan pantai bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dia tidak sabar mengadopsi anjing dan menghabiskan sedikit lagi waktu liburnya untuk menikmati hidup.
“Le Gourmet?” Tanya Yugyeom perlahan dan Taehyung tergelak. “Nah, dia memilih yang termahal.” Katanya.
“Wiktu berjanji membawaku ke sana, tapi belum terlaksana.” Yugyeom melirik spion sebelum membelokkan mobil ke jalur kanan dengan mulus dan Jeongguk meringis bersamaan dengan Taehyung.
Keuangan mereka terjun bebas belakangan ini, tentu saja mereka tidak bisa membawa Yugyeom ke tempat-tempat yang diinginkannya. Mereka tidak membicarakan itu pada siapa pun, hanya Jimin—itu pun karena mereka membutuhkan bantuan, Taehyung membutuhkan bantuan. Jika tidak, mereka tidak akan memberi tahu siapa pun.
“Tidak masalah,” sela Jimin seketika sebelum suasana menjadi kaku karena mereka bertiga tahu alasan Jeongguk berhenti memanjakan adiknya. “Kakakmu punya banyak yang harus diperhatikan. Aku yang akan membawamu ke sana.” Dia mengusap rambut Yugyeom.
Le Gourmet, tidak seperti Le Paradis, menerima walk-in guest selama meja tersedia. Dan memiliki jam istirahat karyawan pada pukul 10-11 pagi sebelum kembali buka untuk makan siang dan makan malam. Konsep baru yang dibawa Arsa ke Bali di mana semua restoran rata-rata buka penuh selama 12 jam. Mereka membelok ke Seminyak dan terjebak kemacetan. Mobil melaju perlahan, mengikuti arus lalu lintas. Mereka mengisi kemacetan dengan mengobrol sebelum mobil membelok ke gerbang masuk Le Gourmet.
Yugyeom membelok ke jalan masuknya dan diberhentikan oleh Security yang mengecek mobil mereka dengan metal detector serta cermin lantai. Bagasi mereka dicek dan jumlah penumpang juga dilihat sebelum mereka menawarkan Valet Parking. Yugyeom akhirnya berkendara ke lobi restoran yang megah. Jika saja batu pualam di tepi jalan tidak diberi identitas 'Fine Dining' maka siapa saja mungkin salah mengira tempat ini sebagai hotel mewah.
Mereka berempat turun dari mobil, Yugyeom mempersilakan Valet Parking memasuki mobilnya dan berkendara menuju turunan ke arah basement parking mereka karena lalu lintas Seminyak tidak mengizinkan parkir di tepi jalan. Jimin nampak sebal karena dia hanya mengenakan pakaian kasual rapi untuk pergi ke restoran semewah ini.
“Kenapa kalian tidak bilang kita makan di restoran mewah?” Gerutunya, sengaja meninggalkan sisa minumannya di mobil. “Pakaianku jelek sekali.”
Lobi restoran itu megah dengan lantai pualam, langit-langit tinggi dan lampu kristal. Pintu ganda kacanya tertutup namun kacanya memberikan akses untuk tamu melihat set up mejanya yang rapi. Di dominasi warna emas, hijau zaitun gelap, dan cokelat kayu, chandelier utama menyala dengan cahaya temaram dibantu jendela-jendela raksasa yang menggantikan 60% dindingnya. Ada rak tinggi terisi botol-botol wine di belakang, menyembunyikan pintu ke arah dapur yang tertutup. Dinding mereka sengaja dibuat dengan motif batu bata kusam yang membuatnya nampak tua namun juga indah.
Jeongguk memutar bola matanya. “Kau sendiri yang minta makanan mahal.” Katanya lalu mengangguk pada sepasang anak servis yang berdiri di depan pintu ganda kacanya, mereka dilengkapi meja berdiri terisi menu Le Gourmet yang di-engraving di atas plakat keemasan dengan alas kulit mahal.
“Halo, apakah ada meja untuk empat orang?” Tanyanya ramah.
Sebelum anak servis sempat menjawab, suara terkesirap keras terdengar dari dalam diikuti suara ketukan heels sepatu pantofel dan keempatnya menoleh. Menemukan boneka porselen rapi melangkah ke arah mereka dengan senyuman lebar di bibirnya. Taehyung lupa betapa putih dan bersihnya Kinan hingga dia melihatnya sekali lagi. Dia mengenakan kacamata bergagang tipis, pipinya merona dan senyuman lebarnya menular.
“Gung. Tjok.” Sapa Kinan, nampak luar biasa cerdas dan licin dalam setelan jasnya. Name tag keemasan di dada kirinya mengilap dengan tulisan mungil “KINAN – Executive Manager”. “Halo, apa kabar?!”
Dia bergegas menyalami Jeongguk dan Taehyung lalu menegur mereka. “Kenapa kalian tidak menghubungiku jika ingin datang?” Tanyanya lalu mengangguk pada anak servis di depan. “Tamu saya, biar saya yang handle.” Katanya tersenyum sebelum kembali fokus pada Taehyung.
“Mendadak. Kami dari bandara, menjemput teman kami dan memutuskan membawanya ke restoran terbaik yang kami tahu.” Jeongguk menjabat tangannya hangat sambil tergelak. “Apakah ada meja untuk empat orang?”
Kinan sejenak berpikir sambil menjabat tangan Taehyung, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru restoran dan Taehyung menyadari plakat keemasan di atas nyaris setiap meja dengan huruf R perak—tanda dipesan. “Kami agak penuh,” gumamnya. “Tapi ada dua meja untuk dua orang yang bisa kami set up untuk kalian. Bagaimana?”
Taehyung mengangguk. “Tidak masalah. Kami juga datang mendadak.” Katanya lalu menyentuh bahu Jimin. “Kenalkan, sahabatku, Jimin.” Katanya. “Senior FA Qatar Airways. Jimin, ini Kinan. Pemilik restoran ini.”
Jimin memberikannya kombinasi ringisan dan senyuman, tidak terlalu suka maskapai tempatnya bekerja disebutkan namun Taehyung sengaja menggodanya. Dia kemudian menatap Kinan yang menatapnya dengan kekaguman sopan. “Abaikan dia.” Jimin mengibaskan tangannya dan menjabat tangan Kinan. “Jimin. Restoranmu luar biasa!”
Kinan tertawa. “Terima kasih banyak. Saya Kinan.” Katanya ramah sebelum menoleh ke Yugyeom. “Dan ini pasti adikmu karena kalian mirip sekali.” Dia mengulurkan tangan dan Yugyeom bergegas menjabatnya.
Jeongguk tergelak. “Ya,” katanya mengusap rambut adiknya. “Yugyeom.” Dia menatap adiknya yang menjabat tangan Kinan kikuk. “Dia yang meminta kami makan di sini hari ini.”
“Baiklah, untuk Yugyeom akan kami siapkan mejanya.” Kinan tersenyum. “Jika kalian bisa menunggu sebentar di lounge sementara meja kalian disiapkan?” Dia memberi tanda ke sudut ruangan di mana lounge kecil disiapkan dengan seperangkat sofa.
“Tentu, tidak masalah.” Jeongguk mengangguk. Dan Kinan mengangguk sebelum memanggil FB Captain mereka, menyebutkan serangkaian intruksi untuk menyiapkan meja mereka. Dia kembali tersenyum pada Jeongguk sementara FB Captain bergegas melaksanakannya.
Kinan bergegas memimpin mereka ke sana dengan senyuman di bibirnya. Aroma tubuh Kinan begitu manis dan pekat hingga sejenak Jeongguk mengerjap, sedikit pening. “Saya mohon maaf kebetulan hari ini Chef Arsa sedang berada di Le Paradis, tapi jika berkenan Sous Chef kami yang akan menyajikan makanannya.” Katanya ketika semua orang duduk di sofa.
“Tidak masalah,” tolak Taehyung sopan. “Jika Sous Chef kalian sibuk, tidak masalah siapa pun yang menyajikannya. Tidak perlu repot-repot dan tolong, jangan mengganggu Arsa untuk hal sesepele ini.” Dia tersenyum dan Kinan mengangguk. “Kami hanya datang untuk makan, santai saja.”
“Dia pemilik restorannya?” Bisik Jimin ketika Kinan menjauh untuk mengecek meja mereka. Dia mengedarkan pandangan ke restoran, mengagumi interiornya yang mewah. “Wow.”
“Kau mau tahu sesuatu yang bahkan lebih 'wow'?” Sahut Taehyung dan tersenyum pada anak servis yang menyajikan sampanye dalam gelas tinggi untuk mereka seraya menunggu.
Jimin menerima gelasnya dengan ceria. Nampak menyukai konsep restoran yang dipilih Yugyeom sementara anak itu menatap sekitar dengan kagum di sisi kakaknya—menempel terus sejak tiba di Puri. Terlihat nyata sangat merindukan kakaknya dan merasa bersalah.
“Try me,” Jimin menyesap sampanyenya dan Jeongguk terkekeh parau, menyesap sampanyenya sendiri.
Taehyung menarik napas. “Restoran ini hadiah ulang tahun untuk Kinan dari suaminya, Chef Arsa Mahardika.” Dia mengerling plakat di atas meja mereka dengan tulisan dalam tiga bahasa 'Terima kasih telah menunggu' dengan tulisan kecil 'Le Gourmet by Chef Arsa Mahardika'.
Bibir tipis Jimin membentuk O menggemaskan di atas tepian gelasnya lalu melirik sekitarnya. Bibirnya berkerut tertarik ketika sekali lagi mengamati restoran megah itu. Matanya terbelalak tertarik ketika menatap Taehyung dan Jeongguk yang tertawa atas reaksinya. Mereka pun pertama kali mendengarnya dari Felix bereaksi sama dan membayangkan dengan geli bagaimana reaksi Jimin yang membenci komitmen ketika mendengar alasan Arsa ketika memberikan restoran ini untuk Kinan: “He deserves all the greatest life can offer.”
“This Arsa Mahardika is richie-rich dom, isn't he?” Gumamnya di bawah napasnya seraya menyesap sampanyenya ketika Kinan mendekat ke arah mereka. “Restoran ini tidak mungkin menghabiskan uang di bawah 1 miliyar.”
“Dia punya restoran berbintang Michelin di Ubud, Le Paradis. Reservasinya penuh setidaknya tiga bulan sebelumnya.” Jeongguk terkekeh ketika Jimin kembali memberikan ekspresi kaget sopan itu dan menyesap minumannya. “Restoran makanan Bali dikombinasikan dengan teknik memasak Prancis. Konsepnya mirip Mozaic, hanya saja Le Paradis memiliki sentuhan Bali yang lebih kuat karena Arsa juru masak berkebangsaan Indonesia. Tidak seperti Chris Salans.”
“Kau bukan sugar daddy terkaya di dunia ini, terima saja.” Gurau Taehyung dan Jimin tergelak.
Mereka kemudian didudukkan di meja mereka yang walaupun adalah set up dadakan namun tetap terasa nyaman. Kinan sendiri yang melayani mereka untuk makan siang itu walaupun Taehyung bersikeras meminta anak servis saja karena takut Kinan memiliki kesibukan lain dan pemuda itu balas mendelik, bertahan di posisinya sebagai maître d'hotel mereka hari ini.
“Berapa course meal tertinggi kalian?” Tanya Jimin ketika Kinan menyerahkan menu ke tangannya, membukanya hanya untuk sopan santun karena dia sama sekali tidak melirik menu atau pun harga yang tertera di sana.
“Sesuai standar Michelin, dua belas.” Sahutnya tersenyum seraya mengeluarkan tablet untuk mencatat pesanan mereka. Dia menjulurkan tangan sambil menggumamkan permisi, membantu Jimin menemukan halaman di mana semua course meal mereka berada. “Anda ingin mencoba course meal tertinggi kami?”
Yugyeom pucat dengan buku menu di tangannya, duduk di sisi kakaknya. Taehyung tertawa, mengusap kepalanya sayang. “Dua belas...?” Dia mengerjap dan Jimin tersenyum lebar mendengarnya.
“Sepertinya bayi kami ketakutan,” dia menutup menunya, tidak meliriknya sama sekali. “Maka akan kuambil pertengahannya saja. Tolong 6 course meal untuk kami.” Dan menambahkan dengan ceria. “Surprise me with the menu, give me creativity!” Dia menumpukan tangan di atas meja dengan manis.
Kinan tersenyum ketika memasukkan pesanan mereka ke tablet di tangannya yang tersambung langsung ke dapur dan meja reservasi di sudut depan sebelum pamit untuk memberikan ruang pribadi untuk mereka setelah menginformasikan sommelier mereka akan menemani mereka dalam sepuluh menit.
Jimin menatap Yugyeom serius. “Kau harus menghabiskan makanannya. Oke?” Dia mengacungkan telunjuknya, mendelik berpura-pura galak.
Yugyeom tersenyum lebar, mulai nampak nyaman berada di sekitar Jimin. “Oke!”
ps. besok narasi beratnya, ya, keasikan qiqiqiqi