Gourmet Meal 640

tw // male insecurity , morally ambiguous .


Jeongguk memijat pelipisnya.

Mereka bangun pagi-pagi buta hari ini, bersiap-siap untuk pergi ke Griya untuk melaksanakan pemakaman ayah Taehyung. Sejak hari di mana dia bertemu dengan lelaki paruh baya itu, Jeongguk mulai merasa tidak nyaman di Puri. Mendesak Taehyung untuk mengizinkannya menyewa kamar di dekat Puri namun Taehyung dengan tegas menolaknya.

“Aku memiliki tempat ini sekarang,” Taehyung tidak menoleh saat mengatakannya. “Jadi, itu hakku untuk menerima siapa saja di bawah atap rumahku. Kita tidak perlu menghamburkan uang untuk menyewa kamar.”

Jeongguk menghela napas, tidak menemukan hasil jika bertengkar dengan Taehyung. Maka dia bertahan dan mengurangi waktunya keluar. Taehyung memahami keinginannya dan meminta kekasihnya tetap di Puri menemani ibunya, dia yang keluar membeli keperluan mereka. Uang mereka, walaupun mendapatkan suntikan dari Arsa dan Felix, tetap berkurang secara perlahan. Belum lagi betapa berat hati mereka ketika melakukan membayaran uang muka semua sesaji pemakaman ayah Taehyung.

“Pejamkan saja matamu.” Kata Jeongguk ketika Taehyung harus menekan perintah 'Transfer' dari M-Banking-nya sendiri.

Uang yang berkurang terasa membuat usia Taehyung berkurang walaupun Bintan sudah 60% akan menerimanya. HR Manager mereka harus bertemu Taehyung, memastikan bahwa dia paham posisi yang akan didudukinya sekarang jauh di bawah level pekerjaan terakhirnya dan gaji yang mereka tawarkan tentunya berbeda dengan Bali. Meskipun Taehyung berkali-kali meyakinkan mereka bahwa dia tidak masalah, Bintan nampak masih mempertimbangkannya.

Jeongguk tidak menyalahkan siapa pun. Posisi mereka tinggi dan berasal dari resor yang lumayan terkenal—belum lagi Jeongguk, resor-resor sekelas tempat bekerja terakhir mereka di Lagoi tentu saja sudah memiliki executive head chef. Hal ini membuat Jeongguk pening, tidak ingin membebankan semua kebutuhan hidup mereka nanti pada Taehyung.

Sejenak berpikir apakah mereka melakukan hal yang keliru dengan membuang pekerjaan mereka?

Dia menatap wajahnya sendiri di cermin Taehyung sementara kekasihnya mandi di dalam kamar mandi. Jeongguk meraih kain mereka hari itu dan mulai melipatnya sedikit agar tidak terlalu panjang dan menutupi kakinya—membentuk simpul di depan dan mengikat ujungnya agar kuat. Dia menambahkan saput gelap di atasnya, mengikatnya kencang untuk menjaga kainnya. Jeongguk sedang menghamparkan udeng lembarannya di atas kasur untuk melipatnya ketika Taehyung keluar dengan handuk melingkar di pinggangnya.

“Kau baik?” Tanya Taehyung seraya menyugar rambutnya yang mulai panjang.

Jeongguk mengangguk walaupun kepalanya berdentam-dentam. Rasa cemas dan takut kembali merayap di belakang kepalanya; takut Taehyung memutuskan bahwa dia menyesal telah membuang segalanya demi Jeongguk. Rasa tidak percaya dirinya membuat Jeongguk mengerat giginya, menahan rasa sakit.

“Sayang?” Taehyung menyentuh bahunya, mendesaknya menoleh.

Jeongguk menghela napas dan menegakkan tubuhnya, menatap Taehyung yang lembab serta beraroma lembut sabun mandi. Dia menatap Taehyung yang mengerutkan alisnya, menatapnya cemas. Tangan Jeongguk terangkat, membelai wajah Taehyung dan mendesah. Binar berkilau di mata Taehyung; dia begitu menakjubkan hingga Jeongguk harus menahan napas ketika menatapnya.

Bagaimana caranya menjelaskan isi hati Jeongguk sekarang tanpa membuat Taehyung meragukan kemampuannya? Dia takut, cemas, dan tidak percaya diri mengenai masa depan mereka dengan kondisi dirinya tidak memiliki pekerjaan. Bisakah mereka bertahan?

Jimin, Arsa, dan Felix memang menawarkan bantuan tetapi apakah mereka akan selamanya bergantung pada bantuan mereka? Jeongguk ingin hidup yang mandiri bersama Taehyung; hanya mereka berdua, di tempat di mana semua orang tidak mengenal mereka. Jeongguk ingin menjadi tulang punggung Taehyung, ingin menjaganya dan menopangnya dalam hidup ini.

Namun sekarang dia tidak memiliki pekerjaan dan uang selain tabungannya yang mulai menipis sementara Taehyung tiap bulannya masih menerima royalti dari resepnya. Memiliki setidaknya sedikit uang reguler untuk hidup mereka. Jeongguk juga menumpang di rumah Taehyung dan merasa sama sekali tidak berguna sekarang.

Dia yang mendesak Taehyung kabur bersamanya namun dia juga yang tidak bisa bertanggung jawab atas kehidupan Taehyung.

“Aku sungguh mencintaimu.” Bisiknya pecah dan menumpukan keningnya di bahu Taehyung yang langsung memeluknya. “Aku sungguh sangat mencintaimu.” Bisiknya, mengecupi kulit telanjang Taehyung.

“Ada apa ini?” Gelak Taehyung lembut, mendengkur seperti kucing seraya membelai rambut Jeongguk—menyisiri helaiannya dengan jemari. “Kenapa? Apakah ada yang mengganggu pikiranmu?”

Jeongguk menggeleng, melingkarkan lengannya di pinggang Taehyung dan menghirup aroma tubuhnya. Merasa amat nyaman dan aman, merasa terlindungi. Taehyung sejak dulu selalu membuat Jeongguk merasa kagum dan aman. Sekarang ketika dia bisa memeluknya, menyandarkan diri pada Taehyung, perasaan aman itu berlipat ganda. Jeongguk senang, bahagia, namun juga cemas pada masa depan mereka.

“Bisakah aku membahagiakanmu?” Bisiknya lembut, menarik Taehyung mendekat dan seniornya tergelak—memeluknya dan mengecup pelipisnya sayang.

“Kau sudah membuatku bahagia.” Sahutnya lirih, mengusap bahu Jeongguk dengan sayang. “Kau tidak perlu berusaha terlalu keras, kau selalu membuatku bahagia.”

Jeongguk membuka mulutnya, hendak mengingatkan Taehyung mengenai kemampuan finansialnya dan bagaimana dia tidak layak membahagiakan Taehyung secara materi namun dia menutup mulutnya kembali. Tidak memiliki keberanian untuk mengatakannya, keberanian untuk mengaku bahwa dia lemah dan butuh bantuan. Harga dirinya mencegahnya.

Dia mengaitkan jemarinya di punggung bawah Taehyung dan mengecup bahunya. Merasakan sayang yang membuncah di dadanya; menjalari tubuhnya dengan arus hangat lembut yang menenangkan.

“Kau luar biasa.” Bisiknya lembut, mengecup bahunya yang lembab. “Kau sangat luar biasa.”

Taehyung tergelak parau, mengusap kepala Jeongguk. “Ada apa ini? Kenapa kau jadi manja sekali?”

Jeongguk tersenyum, mengecup bahunya dan lehernya dengan intim sebelum mengecup keningnya. “Entahlah.” Dia tersenyum dan menakupkan wajah Taehyung di kedua tangannya. “Karena aku mencintaimu? Dan tidak sabar hidup bersamamu?”

Taehyung terkekeh dalam genggamannya dan Jeongguk sengaja mengencangkan genggamannya di pipi Taehyung hingga Taehyung mengerang menggemaskan. “Ahu huha!” Katanya. Aku juga.

Jeongguk mengecup bibirnya sebelum melepaskannya. “Ganti bajumu, ayo bersiap. Kita selesaikan semuanya hari ini.”

Mereka kemudian bersiap, mengenakan kain dan kemeja putih untuk upacara hari ini. Ibu Taehyung sudah menunggu di halaman dengan kebaya brokat putih, rumah dikunci erat dan setahu Jeongguk tidak ada keluarga Puri yang datang untuk mengikuti upacara itu—menunjukkan seberapa bencinya semua orang pada almarhum. Menilik dari cerita Lakshmi, ayah mereka mengancam semua orang juga dan menggunakan kekuasaannya sebagai Penglingsir. Mengancamnya jika mereka tidak melakukan apa yang ayah Taehyung lakukan maka dia akan mengusir mereka dari natah Puri—yang mana sangat bisa dilakukannya sebagai Penglingsir.

Jeongguk tidak lagi heran. Satu-satunya orang yang mencintai ayah Taehyung adalah istrinya—hingga akhir hayatnya, terlepas dari selicik apa caranya memanipulasi semua orang menjadi bidak dalam permainannya. Anak-anaknya bahkan tidak pernah merasa menyayangi ayah mereka. Namun hari ini Lakshmi dan Wisnu akan bergabung dengan mereka, formalitas. Lakshmi melakukannya untuk Taehyung, sama sekali bukan untuk ayahnya.

Mereka berkendara ke Griya, pukul lima pagi. Memulai upacara sepagi mungkin agar bisa diselesaikan dalam satu hari. Griya sudah hiruk-pikuk ketika mereka datang; sesaji untuk ayah Taehyung sudah dipersiapkan di balai besar, dilabeli untuk 'Segara', 'Gunung', 'Ngaben', dan 'Ngeroras'.

Lakshmi juga sudah menunggu mereka, memeluk Taehyung dan Jeongguk dengan erat. Jeongguk menyadari perubahan warna di wajah Lakshmi; dia nampak cerah dan bersinar. Dia memang selalu cantik, memiliki kecantikan purba yang mendebarkan—namun sekarang setelah menikah dan hidup di keluarga yang menghargainya sebagai manusia, dia nampak luar biasa. Wajahnya yang sebulat bulan purnama, berkilauan dan memancarkan kecantikannya sendiri. Rambutnya dipotong hingga sepunggung, digelung cantik dengan bunga anggrek bulan disematkan di sana. Dia mengenakan perhiasan, jauh lebih banyak dari yang diberikan ibunya.

Lakshmi hidup dalam kebahagiaan dan Jeongguk tidak sabar memberikan bahagia yang sama untuk adiknya.

Mbok Jro terlihat luar biasa.” Puji Jeongguk tulus dan tersenyum.

Lakshmi balas tersenyum—senyumannya jauh lebih rileks dan bahagia dari ketika sebelum dia menikah. Jeongguk senang sekali melihatnya. “Begitulah, Turah. Tiang bahagia.” Katanya.

“Bukan Turah lagi,” bisik Jeongguk dan mengedipkan sebelah matanya—Lakshmi tergelak, tawanya lepas dan ringan.

“Baiklah.” Dia merendahkan suaranya. “Bli Raka.” Koreksinya dan Jeongguk terkekeh.

Mereka kemudian berangkat ke laut untuk memanggil atma ayah Taehyung yang dilebur ke laut beberapa bulan lalu. Taehyung yang mengemudi di dampingi Jeongguk dan jok belakang mobilnya terisi sesaji yang akan digunakan di pantai. Sisa sesaji mengikuti mereka di atas mobil bak terbuka—semuanya akan digunakan hari ini dan Taehyung memutuskan untuk memakamkan ayahnya dengan cara sepraktis mungkin mumpung keluarga Puri tidak ikut campur. Ibu Taehyung ada di mobil Wisnu, karena lebih rendah dan merindukan anak sulung perempuannya. Mereka menuju Pantai Goa Lawah yang masih sepi.

Sesaji tiba beberapa saat kemudian dan Jeongguk langsung membantu mereka menurunkannya. Menjajarkannya di balai sesaji sementara kakek Wisnu mulai bersiap memimpin upacara di balai kecil yang diperuntukan untuk Pedanda. Taehyung tidak banyak bicara, dia hanya duduk di sisi tempat pemujaan dengan ibunya yang memeluk orang-orangan yang terbuat dari kayu dan tempurung kelapa yang mengenakan pakaian ayah Taehyung.

Jeongguk duduk agak jauh, bersama Wisnu. Memberikan ruang untuk Taehyung, Lakshmi, dan ibunya untuk secara khusyuk mengikuti upacara itu. Mungkin itulah upacara Ngaben paling hening yang pernah Jeongguk ikuti; hanya ada segelintir orang di sana dan itu pun sebagian besar adalah orang Griya yang membantu membawa sesaji. Hanya ada lima orang yang menghadirinya. Namun Taehyung tidak nampak keberatan, dia ingin semuanya cepat selesai.

Jumlah orang yang hadir membuat Jeongguk menyadari bahwa sikap individu selama hidupnya akan menunjukkan hasil di hari kematiannya; seberapa banyak orang yang berduka atas kehilangannya.

Dia menatap lautan, memainkan setangkai dupa yang mati di tangannya—memikirkan keluarganya sendiri. Mereka belum menghubungi Jeongguk dan dia hanya bertukar pesan dengan Yugyeom, memberi tahu Jeongguk situasi rumah tenang dan damai. Dia memejamkan mata, menghirup aroma asin laut dan udaranya yang lembab.

“Anggap saja Tuhan memperingan langkahmu.” Taehyung menghiburnya ketika Jeongguk mengeluhkan ketidakpedulian keluarganya seraya memeluknya. “Wak Nom benar dengan memintamu pergi.”

Meski begitu, Jeongguk tetap merasa berat—dia berusaha meyakinkan dirinya selama bertahun-tahun bahwa perasaan diabaikan itu hanya ada di dalam kepalanya. Dan sekarang, keluarganya tidak repot-repot lagi meyakinkannya bahkan setelah Jeongguk mengonfrontasi mereka tentang itu.

Jeongguk mengusap dagunya, merasakan jenggotnya yang mulai tumbuh—pendek dan tajam. Genta berbunyi diselingi suara berat kakek Wisnu yang menggumamkan mantra untuk menyelesaikan upacara hari itu. Kemudian, orang-orangan dengan pakaian ayah Taehyung dibakar sebagai simbolis Ngaben sebelum sisanya ditumbuk hingga menjadi abu.

Taehyung menatap api yang membakar simbolis tubuh ayahnya dengan tatapan yang sama ketika mereka melakukan mekingsan di geni—kosong dan sama sekali tidak menunjukkan emosi apa pun. Dia terlihat keras dan lelah, Jeongguk merasakan nyeri di hatinya. Ingin segera menghapus beban yang membuat wajah Taehyung berkerut dan menua.

If I had my life to do over,” bisik Taehyung malam itu setelah mereka bercinta merayakan lepasnya kasta mereka, berbaring di dada Jeongguk yang lengket dengan suara serak. “I would find you sooner, so I could love you longer.”

Jeongguk tergelak tanpa suara, mengecup puncak kepalanya. “Tidak ada drama silent treatment selama dua tahun lagi?” Godanya.

Taehyung menggeleng, menggigiti bibir bawahnya. “Tidak.” Katanya tegas dan Jeongguk menciumnya.

Taehyung di masa sekarang sedang menggenggam batu dan mulai menumbuk sisa-sisa pembakaran tubuh ayahnya di atas sebuah piring diiringi suara genta dan mantra. Lakshmi diberikan kesempatan untuk melakukannya, juga ibunya sebelum Taehyung menyelesaikannya. Sisa bubuk itu kemudian dimasukkan ke dalam kelapa berwarna gading.

Mereka memulai begitu pagi, namun tetap saja mereka berangkat untuk upacara selanjutnya menjelang siang. Bersyukur mereka memangkas waktu dengan melaksanakan Ngulapin dan Ngaben langsung di Pantai Goa Lawah.

Mereka beristirahat sejenak di Griya untuk melakukan upacara Atma Wedana sambil menunggu kakek Wisnu memimpin upacara. Makan siang diberikan dalam kotak dengan menu yang cukup mengenyangkan. Jeongguk duduk di sisi Taehyung yang makan dalam diam—tidak terlalu banyak bicara sepanjang hari entah karena apa.

“Kau baik?” Tanyanya lembut seraya menyuap makanannya. Lauk mereka sepotong ayam, sedikit sayur, dua potong tempe dan nasi dilengkapi dengan kerupuk serta buah jeruk.

“Baik.” Kata Taehyung menatap makanannya. “Aku hanya... tidak yakin bagaimana caraku bersikap mengenai ini. Karena aku sungguh tidak bersedih.” Dia memelototi makanannya yang separuh termakan seolah benda itu melakukan hal yang sangat jahat padanya.

Jeongguk berhenti makan, menahan kunyahannya di mulut dan menatap Taehyung yang masih memelototi makanannya. Jeongguk menelannya dan berujar, “Jika kau tidak bersedih, maka tidak usah.” Katanya ringan. “Tidak ada yang memaksamu bersedih, tidak ada yang berhak mengatur apa yang harus kaurasakan. Kau yang hidup dengannya selama bertahun-tahun, tidak ada yang berhak memberi tahumu apa yang harus kaurasakan ketika mereka tidak tahu apa yang kau alami selama ini.

“Perasaanmu adalah urusanmu. Orang lain tidak berhak mengaturnya.”

Taehyung menghela napas dalam dan menyugar rambutnya. Dia melepas udeng-nya tadi sebelum makan, membebaskan rambutnya yang lembab karena keringat. “Aku dilema,” katanya. “Tidak merasa bersedih karena memang aku tidak bersedih namun juga merasa berdosa karena tidak bersedih.”

Jeongguk mengangguk. “Aku tidak paham persis apa yang kaurasakan,” hiburnya meremas bahu Taehyung. “Tetapi jangan bersikap keras pada dirimu sendiri, oke?”

Taehyung menoleh padanya dan tersenyum. “We're so close to our happy ending.”

“Yap.” Jeongguk mengangguk dan membalas senyumannya. “We are.” Dia mengangguk. “Habiskan makananmu, kita masih punya seharian.”


Glosarium: