Gourmet Meal 617

tw // trust issue , betrayal , mention of death , moral ambiguity .


Jeongguk mengeringkan rambutnya dengan perasaan resah yang masih menggenang di hatinya—dia menatap refleksi dirinya sendiri di cermin, memikirkan segalanya secara perlahan khususnya pesan Taehyung tadi di ponselnya.

Dia senang sekarang kekasihnya yang sudah mulai tenang dan bahagia sejak kematian ayahnya bisa bersikap seperti dia yang dulu—mengayomi, lembut, dan membuat Jeongguk merasa aman. Dia selalu memiliki kemampuan itu. Dan sejujurnya pesona itulah yang membuat Jeongguk sejak awal mengaguminya. Taehyung tegas, keras, dan sulit ditundukkan. Jeongguk terinspirasi pada betapa kuat karakternya, ingin menjadi versi dirinya yang sama kuatnya dengan Taehyung sehingga menghadapi ketidakadilan ayahnya akan terasa mudah.

Dia senang sekarang dia memiliki Taehyung sebagai kakak, sahabat, kekasih, dan keluarganya.

Ayahnya sudah pulang, beberapa menit lalu ketika Jeongguk baru saja melepas kausnya untuk mandi. Dia mengetuk pintu Jeongguk mengatakan dia akan menunggu Jeongguk di rumah utama untuk mengobrol.

Sesungguhnya, bahkan Jeongguk sendiri tidak yakin apa yang ingin ditanyakannya. Kenapa Wak Anom menyayanginya? Kenapa dia sangat ingin bertemu Jeongguk? Kenapa tidak ada yang memberi tahu Jeongguk bahwa Yugyeom adalah reinkarnasi Wak Anom? Cukupkah pertanyaan itu?

Jeongguk menyelipkan kepalanya melalui leher bajunya dan kedua lengannya. Melicinkannya sebelum menyisir rambutnya yang setengah basah, dia menjemur handuknya di jemuran kecil yang ada di teras kamarnya sebelum menghela napas. Melirik kamar Yugyeom dengan perasaan campur aduk; persis sebelum dia pergi dari sini, dia dihadapkan pada kenyataan ini. Butuh berapa lama hingga Jeongguk akhirnya terbiasa lagi menatap adiknya?

Atau mungkinkah dia akan bisa melakukannya lagi—suatu hari nanti? Memercayai Yugyeom seperti sebelumnya?

Jeongguk melangkah ke rumah utama, menyeberangi halaman rumahnya yang luas dan dihiasi pohon kamboja raksasa serta pot-pot bonsai ayahnya. Angin berdesir keras, membuat beberapa kuntum bunga rontok dari tangkainya—melayang jatuh ke rumput yang dicukur rapi. Jeongguk menendang bunga di tengah jalan dengan kakinya, menyingkirkannya dari jalan setapak ke arah rumah utama. Rumah mereka luas sekali dan memberikan jarak yang disadari Jeongguk ketika mereka beranjak dewasa. Membuat Jeongguk dan Yugyeom berjarak dengan orang tua mereka, persis seperti kamar mereka yang berjauhan.

Kamar Jeongguk dekat dengan garasi dan pintu samping tempat para tamu mereka memasuki Puri sementara kamar Yugyeom berada di garis diagonal kamar Jeongguk—dekat dengan pintu masuk utama Puri yang tidak digunakan karena berbatasan dengan wilayah wisatawan. Gerbangnya digembok berkarat dengan lapisan di teralis gerbangnya agar wisatawan tidak bisa mengintip ke dalam rumah utama.

Puri mereka terdiri atas tiga halaman. Halaman paling depan dengan gapura utama Puri mereka yang menghadap ke Selatan, lalu halaman kedua sebelum rumah utama yang berada di belakang. Dua halaman itu merupakan wilayah wisatawan dan di belakang rumah Jeongguk masih ada halaman lain untuk anggota Puri lainnya. Di seberang jalan, juga ada bagian dari Puri mereka di mana saudara ayahnya tinggal, sama luasnya. Baru dipugar dua tahun lalu. Wisatawan lebih banyak pergi ke Puri Kangin (Timur) karena di sanalah semua peninggalan Kerajaan Karangasem selain Taman Soekasada, Ujung dan Istana Air Tirta Gangga, Abang.

Namun rumah yang luas tidak membuat perasaan Jeongguk lapang sama sekali. Lebih terasa mencekik apalagi jika dia mendengar suara kerumunan wisatawan di halaman depan mendengarkan penjelasan tentang masa kejayaan Kerajaan Karangasem dan mendadak terserang perasaan ketakutan aneh pada keramaian. Merasa seperti seekor binatang yang terkurung di kebun binatang, menjadi pusat tontonan. Belum lagi jika ada tamu tidak sopan yang berusaha mengintip dari gerbang yang sudah diberi lapisan.

Atau ketika seseorang menyewa Puri untuk melakukan sesi foto pra-pernikahan di rumah utama. Jeongguk dan Yugyeom sangat tidak nyaman dengan banyaknya orang menginvasi rumah mereka, memaksa mereka bersembunyi di kamar. Orang tua mereka harus pergi ke Puri Kangin agar tidak mengganggu proses pengambilan gambar. Namun uang sewanya dibutuhkan Puri untuk perawatan jadi Jeongguk harus menghela napas dan mengalah ketika mendengar keriuhan para fotografer dan calon pengantin.

Jeongguk tidak menyukainya, tapi jika dihadapkan pada kepentingannya atau Puri maka jawabannya sudah jelas.

Dia menaiki undakan rumah utama yang pintunya terbuka, mencari ayahnya yang berada di dalam. “Ajung?” Panggilnya saat melepas sandal di undakan terakhir dan menjejakkan kakinya di atas lantai yang dingin.

Sejenak hening, hanya terdengar suara televisi yang menyala. Sayup-sayup hingga ke teras depan. Jeongguk duduk di salah satu kursi rotan di teras dengan meja marmer, memandangi isi rumah utama Puri—guci-guci lama, kayu-kayu, foto-foto kakek buyutnya yang pernah menjadi raja pada masanya, lampu kristal di atas kepalanya....

“Oh, Gung.”

Jeongguk mengerjap, menoleh ke ayahnya yang keluar dari pintu gebyok khas Bali rumah utama yang selalu dijadikan latar belakang foto pra-pernikahan. “Nggih, Ajung.” Katanya membenahi posisi duduknya dan ayahnya menarik kursi di hadapannya.

Dari rumah utama, dengan posisinya yang sedikit lebih tinggi dari kamar Jeongguk dan Yugyeom, dia bisa mengamati seluruh halaman dan mengintip sedikit ke jalanan di depan Puri. Sejenak mereka berdua kikuk, tidak pernah duduk berdua tanpa siapa pun di antara mereka untuk mencairkan suasana. Jeongguk tidak ingat sejak kapan, namun hubungannya dengan ayahnya tidak pernah baik dan dia selalu menganggapnya sebagai hubungan biasa ayah dan anak sulung lelaki yang pasti tidak pernah akur.

“Apa yang Gung ingin tanyakan tentang Uwak?” Tanya ayahnya kemudian, menatap Jeongguk yang menarik napas dalam-dalam.

Dia menyadari dari mana dia mendapatkan gennya sekarang. Ayahnya sudah berusia enam puluh tahun, namun rambutnya masih lumayan gelap dan wajahnya tegas. Tubuhnya masih sehat, tinggi dan bidang. Wajahnya pun masih tampan, lelaki dengan karisma seorang pemimpin dan seorang ayah yang hangat. Sayangnya, bukan untuk Jeongguk setidaknya hingga seminggu lalu.

Jeongguk memilah pertanyaan di kepalanya dengan perlahan, tidak yakin mana yang sebaiknya ditanyakan duluan ketika ayahnya kembali bersuara, kali ini dengan nada sedikit penasaran.

“Kenapa kau mendadak menanyakan tentang Uwak setelah sekian lama?” Tanyanya lagi, menatap Jeongguk seraya menumpukan tangannya di meja marmer yang dingin. “Ajung pikir kau membenci Uwak?”

Jeongguk menatap turun, memilah perasaannya sendiri tentang kakak ayahnya. Apakah dia membenci Uwak-nya atau membenci atmosfer kamarnya yang membuat anak kecil berusia 10 tahun mana pun ketakutan? Atau membenci ayahnya yang selalu memaksanya ke sana?

“Kenapa Ajung tidak memberi tahuku bahwa Ogik adalah reinkarnasi Uwak?” Tanya Jeongguk mendadak—pertanyaan itu melepaskan diri begitu saja dari bibirnya, tanpa dia sempat mengendalikannya.

Ayahnya mengerjap, kaget oleh serangan pertanyaan itu sebelum menghela napas dan menatap Jeongguk. “Uwak sendiri yang melarangnya.” Katanya dan Jeongguk berjengit. “Kau ingat ketika kami pergi untuk meluasang kehamilan ibumu? Mencari tahu apakah Uwak mantuk ngeraganin?”

Jeongguk menggeleng, karena sungguh tidak menemukan sedikit pun ingatan tentang itu di kepalanya. Dan ayah Jeongguk menghela napas, mendongak menatap lampu kristal di atas kepalanya dan Jeongguk menyadari uban di bawah rambut gelapnya—mengintip seperti kerlip bintang.

“Uwak yang meminta kami merahasiakan darimu tentang reinkarnasinya, ingin menjadi adikmu.” Ayahnya bicara dengan nada melamun, seolah berada di tempat lain. “Uwak ingin memperbaiki hubungannya denganmu.” Dia menutup matanya lalu menatap Jeongguk yang duduk mendengarkan.

“Kau cucu pertama di Puri ini, kau tahu, 'kan?” Tanya ayahnya.

Jeongguk mengangguk. Itulah yang selalu dikatakan ayahnya ketika dia mengoreksi sikap Jeongguk yang nakal—mengingatkannya tentang tanggung jawab di bahunya, bagaimana dia harus merepresentasikan Puri di masyarakat. Menjadi perwakilan dari Puri di setiap upacara adat penting wilayah mereka.

“Kami semua menantikan kelahiranmu.”

Jeongguk mengerutkan alis. Tidak masuk akal karena semua orang praktis mengabaikan Jeongguk selama ini, tidak pernah ada yang menyayangi Jeongguk seperti mereka menyayangi Yugyeom—itulah mengapa Jeongguk selalu ingin pergi dari rumahnya sendiri.

“Termasuk Uwak yang tidak bisa menikah karena memiliki HIV/AIDS, tidak ingin menularkannya pada siapa pun; khususnya ke keturunannya yang tidak tahu apa-apa. Namun persis saat kau berusia satu bulan tujuh hari, penyakit Uwak semakin parah. Kami berduka, memfokuskan seluruh perhatian kami padanya dan...,” ayah Jeongguk menghela napas, memijat pelipisnya.

“Kami melupakanmu.”

Jeongguk menarik napas, menggertakkan rahangnya. Mudah sekali melupakan bayi berusia satu bulan ketika penyakit anak sulung Penglingsir Puri mendadak menjadi begitu parah hingga dia invalid sepanjang hidupnya. Bayi 40 hari yang sama sekali tidak paham apa pun, tumbuh diabaikan oleh semua orang yang sibuk memfokuskan perhatian mereka ke orang lain dan kemudian meminta maaf seolah segala ketidak berhargaan diri Jeongguk yang tumbuh karena sikap lalai mereka mendadak sembuh hanya dengan satu kata.

“Uwak berusaha mengingatkan kami tentangmu. Selalu bertanya, 'di mana Gung Wah? Gung Wah tidak mau bertemu Uwak?' dan dia sendiri yang memberikan namamu. Dia yang memotong rambutmu ketika harus digundul—”

“Tapi kalian tetap tidak memedulikan keinginan Uwak.” Sela Jeongguk dingin. Ada setangkai es dingin yang menancap di hatinya sekarang, membuat rasa beku menjalar di atas hatinya; rasa perih yang mustahil diabaikan.

Ayahnya menatap Jeongguk, nampak tidak kuasa dan menyesal. Dia sejenak tidak bisa bicara, menghindari tatapan Jeongguk dengan malu karena menyadari bahwa Jeongguk benar: mereka mengabaikan permintaan Wak Anom untuk memerhatikan Jeongguk alih-alih dirinya yang sakit. Sepanjang waktu, bertahun-tahun. Dan mereka tetap mengabaikan Jeongguk bahkan setelah Wak Anom meninggal.

“Lalu apakah Ajung juga menyalahkanku karena aku tidak mau bertemu Uwak hingga dia meninggal? Itukah mengapa aku selalu diperlakukan tidak adil di rumah ini? Dan Ogik mendapatkan segalanya; kasih sayang, perhatian... Semua karena dia adalah reinkarnasi Uwak?”

Jeongguk tidak tahu dari mana dia mendapatkan keberanian itu namun setelah mengucapkannya, dia merasa lega. Lega karena akhirnya mengucapkan keras-keras apa yang dirasakannya, apa yang ditahannya selama ini. Keluhan yang ditelannya bulat-bulat dengan getir karena takut. Sekarang dia mendadak dipenuhi energi, merasa kuat dan nyaris pening karena ledakan adrenalin mendadak.

“Gung.” Bisik ayahnya tidak kuasa, nampak menyesal dan sejenak, ekspresi ayah Jeongguk itu menyengat hatinya dengan rasa bersalah; bersalah karena telah menyakitinya sebelum Jeongguk menggertakkan giginya.

Ayahnya tidak merasa bersalah selama bertahun-tahun mengabaikannya, mengarahkan segala kesedihan dan rasa frustrasinya kehilangan kakak ke anak kecil yang bahkan tidak pernah meminta untuk dilahirkan.

“Tahukah Ajung apa harga dari semua kelalaian kalian?” Tanya Jeongguk dengan tenggorokan panas tersengat tangis. Dia menelan ludah, berusaha menelan tangisan itu kembali ke dalam dirinya. “Hanya Uwak yang menyayangiku di rumah ini? Hanya dia yang ingat bahwa aku hidup di sini? Bahkan tidak ayahku sendiri?”

“Uwak meminta untuk didekatkan denganmu ketika kami meluasang Ogik di dalam kandungan.” Sela ayahnya. “Uwak meminta kami merahasiakan itu darimu agar dia bisa memiliki ikatan denganmu tanpa kau merasa takut. Itu permintaan Uwak ketika kami meluasang.”

“Bahkan tidak ayahku sendiri.” Jeongguk memejamkan mata, menghela napas berat dan merasa ada bunga es di paru-parunya; menyengat tiap tarikan napasnya dan membuatnya berat serta menyiksa.

“Gung,” bisik ayahnya. Nampak jauh lebih tua dan dihantui perasaan bersalah—yang disadari Jeongguk muncul setelah Wak Anom mendatangi mimpinya, menegurnya dengan keras. “Ajung minta maaf.”

Jika tidak, akankah dia menyesalinya?

Jeongguk mendengus pelan, berusaha mengabaikan rasa panas di ulu hatinya—suatu tempat di balik paru-paru dan jantungnya. Rasa panas yang menjalar, mencengkeram setiap organnya. Bukankah dia selalu menginginkan permintaan maaf ayahnya? Lalu mengapa sekarang permintaan maaf ini terdengar menyedihkan dan tidak bermakna sama sekali?

“Tahukah Ajung, Ajung baru saja merusak satu-satunya ikatan keluarga yang kumiliki di kehidupan ini? Di rumah ini?” Jeongguk mengerjap, berusaha mengenyahkan air mata dari sudut matanya yang panas dan mengaburkan pandangannya. “Tahukah Ajung sekarang aku merasa benar-benar sendirian?

“Tahukah Ajung sekarang aku tidak tahu bagaimana caraku memandang Yugyeom tanpa teringat bahwa dia adalah Wak Anom?”

“Gung, kau tahu itu tidak adil bagi—”

“Tahu apa Ajung tentang keadilan?” Sela Jeongguk dingin, napasnya memburu bersama dengan kemarahan yang mulai mendidih di perutnya—naik ke kepalanya, membuatnya pening. “Jangan membicarakan keadilan ketika kau sendiri gagal melakukannya untukku dan Yugyeom selama ini.

“Bahkan dalam dua kali kehidupan Uwak pun, Ajung gagal melakukan apa yang diinginkan Uwak. Ajung selalu memprioritaskan dia, sama seperti anggota Puri lainnya. Dan dua kali juga dalam satu kehidupan, mengkhianati dan mengabaikanku.

“Dan bagaimana perasaan Yugyeom jika dia tahu bahwa kalian semua tidak pernah menyayanginya sebagai Yugyeom? Karena kalian masih dibayangi oleh Uwak? Kalian menyayangi Uwak, kalian menganggap Yugyeom adalah Uwak dan mencoba mencari pengampunan atas sikap kalian selama ini kepada Uwak dengan menyayangi Yugyeom. Mengabaikan identitas barunya, tubuh barunya, dan pikiran barunya sebagai Yugyeom.

“Dan, Ajung,”

Jeongguk menatap ayahnya, merasa jijik dan muak di rumah ini. Uwak-nya benar, dia harus pergi dari sini dan berbahagia. Mereka sudah mendapatkan kesempatan kedua untuk memperlakukan Jeongguk dengan benar namun sekali lagi mereka tidak melakukannya.

Dan menurut mereka, bagaimana caranya Jeongguk mempercayai mereka sekarang setelah mendengar bagaimana mereka 'melupakan' Jeongguk seolah dia hanyalah boneka perca tidak penting yang akan tetap diam di sudut ruangan ketika mereka bosan memainkannya untuk diambil kembali nantinya?

Hanya Yugyeom alasannya bertahan di rumah ini dan sekarang, Jeongguk tidak yakin lagi apakah dia bisa memandang Yugyeom dengan cara yang sama tanpa terbayang aroma kamar pamannya yang membuat Jeongguk Kecil di kepalanya menggigil. Dan dihadapkan pada kenyataan bahwa Uwak-nya adalah alasan mengapa dia diabaikan.

Dua kali.

Dia gemetar ketika mendorong kursi dengan kakinya dan berdiri, ayahnya mendongak—menatapnya dengan ekspresi menyesal yang membuat hatinya tersengat rasa bersalah namun tidak lagi. Ayahnya lelaki dewasa yang menyadari benar bahwa dia salah namun tetap melakukannya—selama tiga puluh tahun lebih. Menganugerahi Jeongguk kondisi mental yang tidak stabil dan kesulitan untuk menghargai dirinya sendiri.

“Haruskah Gung mati dan ber-reinkarnasi sebelum Ajung akhirnya memberikan perhatian yang kubutuhkan?” Tanyanya dingin, tercekat tangisnya sendiri.

“Persis seperti Uwak?”


Taehyung tersenyum lebar, memandang bunga yang diterimanya dari Lakshmi ketika dia pulang bekerja.

“Nih!” Lakshmi memukul pelan kepala Taehyung dengan buket bunga itu sebelum menyerahkannya, dia tersenyum lebar ketika adiknya menerimanya lalu memandanginya. “Kau senang?”

Taehyung menahan senyumannya dan berdeham. Berusaha memasang wajah biasa saja di depan kakaknya. “Biasa saja. Hanya bunga.”

Lakshmi mencibir mendengarnya sebelum menyeka rambutnya yang diikat rendah dan beranjak dari sana. “Sebentar lagi kau pasti akan nyengir seperti orang bodoh karena bunga yang 'biasa saja' itu,” dia melambaikan tangannya, berbalik untuk pergi ke kamarnya lalu mendadak tergelak keras dan menjerit karena Taehyung menyambar pinggangnya lalu menggelitikinya.

“Tugung!” Serunya ceria dan Taehyung melepaskannya setelah mencium keningnya keras.

Mereka belum pernah bercanda selepas itu di rumah karena ayah mereka membencinya. Semua komunikasi mereka praktis dilakukan dengan cara berbisik; tidak boleh menjerit, tidak boleh tergelak keras, tidak boleh berteriak. Ayah mereka membencinya. Taehyung menatap halaman Puri-nya. Apakah dia berdosa karena merasa lega setelah ayahnya meninggal? Merasa himpitan di dadanya melonggar seketika itu juga dan dia akhirnya menikmati hidup setelah tiga puluh tahun digencet ayahnya sendiri?

Mbok Gek ingin makan apa hari ini?” Tanyanya saat Lakshmi melepas sepatunya di teras kamarnya yang berada di dekat dapur.

“Kita beli saja makanan, ya? Mbok Gek lelah sekali.” Katanya meletakkan sepatunya di rak dan menatap Taehyung. “Turah menginap di sini lagi?”

Taehyung mengerutkan wajahnya, menatap bunga di tangannya lalu mengedikkan bahu. “Entahlah. Tapi belikan saja makanan, jika dia tidak datang, Tugung yang makan.” Katanya sebelum berpisah dengan kakaknya yang akan mandi.

Dia sudah memotong bagian bawah kertas pembungkus bunga itu untuk dimasukkan ke botol kaca terisi air. Dia juga sudah memendekkan tangkai-tangkai bunga untuk menjaganya tetap segar. Sekarang bunga Jeongguk berdiri di sudut mejanya, terdekat dengan jendela yang memberikan sinar untuknya. Kelopak mawarnya masih kuncup, sebentar lagi merekah ditemani bunga matahari mungil yang semarak. Taehyung tersenyum, mengulurkan tangan dan menyentuh kelopaknya.

Dia tidak terlalu suka bunga, menurutnya terlalu feminim dan dia dibesarkan dengan toxic masculinity tentang bagaimana lelaki tidak sepantasnya menyukai sesuatu yang berbau feminim seperti bunga. Namun menerima buket itu membuat perasaannya senang—seseorang memikirkannya, memikirkan Taehyung ketika memilih mawar putih dan bunga mataharinya.

Jeongguk.

Taehyung nyengir lebar hingga pipinya sakit sebelum meraih ponselnya dan mengecek pemberitahuannya, berharap Jeongguk mengirimkannya pesan memberi tahu tentang hasil obrolannya dengan ayahnya. Namun ponselnya hening maka dia kembali meletakkannya di meja sebelum beranjak ke ranjang dan berbaring di sana—meregangkan tubuhnya.

Menjadi pengangguran ternyata memiliki pro dan kontranya sendiri. Dia punya banyak waktu luang untuk melakukan hal-hal yang diinginkannya dengan Jeongguk; pergi berkencan, menjelajahi Bali bersama saat pamit bekerja, makan siang bersama, pergi berkendara jauh, melakukan banyak hal. Namun Taehyung mulai merasakan efeknya pada saldo rekening mereka.

Uang mereka harusnya difokuskan untuk menata kehidupan baru mereka, maka setiap kali mereka makan dengan harga lebih mahal, Taehyung merasakan sentakan rasa tidak nyaman di hatinya—kecemasan dan ketakutan. Mereka harus berhemat sekarang sementara upacara Ngaben ayahnya masih di depan mata.

Syukurlah mereka masih mendapat gaji terakhir mereka dan Taehyung mendapatkan royalti dari menu yang diciptakannya untuk Alila. Dia juga sudah melamar pekerjaan di beberapa resor di Lagoi—termasuk Banyan Tree Bintan yang kebetulan membutuhkan posisi Senior Sous Chef. Verdio, Executive Head Chef Banyan Tree yang menghubunginya langsung tertarik pada loyalitasnya pada Alila dan meyakinkan Taehyung dia akan mengisi posisi di bawah posisi terakhirnya dan Taehyung tidak keberatan.

“Tidak masalah,” Jeongguk mengerjap saat Taehyung memberi tahunya mengenai pekerjaan barunya—calon pekerjaan barunya. “Wigung memang jauh lebih senior dariku, tentu saja Wigung yang mendapatkan pekerjaan duluan. Aku tidak masalah siapa pun itu yang terpenting adalah satu orang yang bekerja untuk rumah kita.”

Taehyung tidak bisa menahan senyuman lebarnya ketika mendengar 'rumah kita' dari bibir Jeongguk. Teringat percakapan mereka di awal berpacaran dengan Taehyung yang sangat awam tentang homoseksualitas.

“Siapa... perempuannya?” Tanyanya saat itu, masih belum memahami hubungan barunya atau orientasi barunya.

Jeongguk mengerutkan alisnya, terlihat jijik oleh pertanyaan Taehyung. “Tidak ada perempuan.” Tegasnya menggeleng. “Itulah mengapa aku mengencani lelaki. Jangan membawa dinamis heteroseksual ke hubungan kita; tidak ada peran perempuan dan lelaki di sini. Kita berdua lelaki.”

Dan itu membuat perasaan Taehyung jauh lebih baik.

Dia tersenyum, memandang langit-langit kamarnya memikirkan Jeongguk dan merindukannya padahal lelaki itu belum setengah hari meninggalkan Puri-nya untuk membereskan urusannya di rumah. Taehyung mengerang, berguling menelungkup di kasur dan memeluk bantalnya—tidak sabar untuk bergegas kabur dari Bali dan memulai hidupnya dengan Jeongguk.

Hanya mereka berdua dan anjing.

Dia tersenyum lebar.

Kemudian terdengar suara gedebuk keras dan Taehyung bangkit, langsung menghambur dari ranjangnya—takut terjadi sesuatu pada kakak atau ibunya karena dia satu-satunya lelaki di rumah ini untuk melindungi mereka. Dia melangkah cepat ke pintu kamarnya dan keluar ke teras untuk mendapati Jeongguk melangkah masuk ke halaman Puri dengan wajah merah padam. Menggenggam tali tas bepergian di tangannya yang bebas dan satu ransel di bahunya.

Jantungnya mencelos melihat ekspresi Jeongguk; jejak air matanya, rambutnya yang setengah basah, pakaiannya yang tidak diganti—dia mengenakan celana pendek, kaus lusuh, dan sandal jepit. Pakaian rumah dan membuat Taehyung menyadari bahwa dia pastilah berangkat begitu saja tanpa memikirkan apa pun lagi.

“Gung?” Tanyanya kaget. Kekasihnya kacau; wajahnya merah padam, dadanya naik turun dan dari penampilannya, Taehyung tahu hasil diskusinya dengan ayahnya tidak berjalan baik.

“Hei, hei.” Dia bergegas menuruni undakan dan meraih Jeongguk, dia memindahkan tas dari tangan Jeongguk dan merengkuhnya dalam pelukannya. Pemuda itu gemetar dan langsung menyandarkan keningnya di bahu Taehyung—menangis.

“Siapa itu, Tugung?” Suara Lakshmi terdengar dari kamarnya dan dia membuka pintu, mengenakan terusan rumah dan handuk melilit kepalanya dan wajahnya berubah ketika melihat Jeongguk dalam pelukan adiknya. Dia menatap Taehyung yang menggeleng lembut, melarangnya bertanya sebelum membimbing kekasihnya ke kamarnya.

“Kau aman, kau bersamaku.” Bisiknya lembut, membantu Jeongguk menaiki undakan dan meninggalkan tasnya di halaman. Lakshmi bergegas keluar, menyambar tas itu dan membawanya naik sementara adiknya memeluk Jeongguk.

“Trims, Mbok Gek.” Bibir Taehyung berbisik saat Lakshmi meletakkan tas Jeongguk di sisi kamarnya dan menutup pintu kamar adiknya setelah melemparkan tatapan cemas sekali lagi ke Jeongguk.

Taehyung mengusap punggung Jeongguk lembut dan hangat, mendengarkan isakannya dengan seksama berusaha untuk menekan pertanyaan yang berada di ujung lidahnya. Apa yang terjadi? Kenapa Jeongguk membawa pakaiannya? Apakah mereka bertengkar? Bagaimana Yugyeom?

Namun dia menelannya, memeluk Jeongguk semakin erat ke dadanya—mengecup puncak kepalanya sebelum mengayunkan tubuhnya lembut. “Ssshh,” bisiknya lirih di telinga Jeongguk yang terisak. “Menangislah, habiskan semuanya.”

Dia mengulang kalimat favoritnya dari Jeongguk tiap kali dia menangis dan melakukan semua yang selalu dilakukan Jeongguk untuknya—berharap Jeongguk merasakan kenyamanan yang sama dengan yang dia rasakan tiap kali Jeongguk melakukannya. Dia memeluk Jeongguk, erat dan hangat—mendengarkan kekasihnya yang selalu tenang dan meneduhkan kini retak dan runtuh dihantam gelombangnya sendiri.

Mampukah Taehyung menjadi sandaran untuk Jeongguk seperti apa yang selalu dilakukannya untuk Taehyung?

Dia memejamkan mata pedih mendengarkan isakan Jeongguk, membenamkan wajahnya di helai rambut Jeongguk dan bernapas di sana—menangis bersamanya.

*