Gourmet Meal 628

tw // mention of homophobia and name-calling .

ps. unedited, maaf sksks :(


Jeongguk duduk di teras kamar Taehyung dengan Yugyeom di sisinya, dengan sekotak cheese cake yang dibelikan Jimin untuknya.

Yugyeom sedang menikmati waktu paling menyenangkan di hidupnya hari ini dengan Jimin yang membelikan apa saja yang ditunjuknya. Setelah kekenyangan dengan 6 course meal di Le Gourmet, Jimin mengajaknya ke pusat perbelanjaan untuk membeli daging dan bahan-bahan barbecue karena besok mereka akan makan enak lagi. Dia menggunakan kartu kreditnya tanpa berpikir dan Jeongguk mendesah, merasakan tikaman rasa iri karena kondisi keuangannya saat ini menyedihkan—mengerikan.

Dia belum terlalu terbiasa dengan Yugyeom sekarang, masih merasa berjarak dan takut. Asing pada Yugyeom di cara pandang barunya. Dia menatap adiknya yang sedang makan dengan tenang. Ibu Taehyung sudah tidur, tadi kaget ketika Jimin datang dan mereka berpelukan. Dia repot meminta semuanya tidur di kamar tamu yang luas namun Jimin mendebatnya, mereka akhirnya menggelar kasur di lantai kamar Taehyung untuk berempat.

Sekarang Jimin sedang bersama Taehyung di dalam, memberikan ruang untuk Jeongguk dan Yugyeom di teras. Sudah lama Jeongguk berpikir tentang haruskah dia memberi tahu Yugyeom segalanya? Dan informasi dari Yugyeom tentang bagaimana orang tuanya tidak mencari Jeongguk setelah dia pergi dari Puri membulatkan tekadnya.

Dia akan pergi dari Puri, melepaskan kastanya dan hidup jauh seolah dia dilahirkan oleh batu. Dia dan Taehyung sudah bertanya pada Wisnu mengenai upcara Patiwangi, pemuda itu setuju untuk memberikan tempat bagi keduanya dan akan membicarakannya dengan kakeknya. Mereka akan melepaskan kasta mereka secepatnya, tidak perlu ada yang tahu.

“Jadi, apa yang akan Wiktu bicarakan?” Tanya Yugyeom, mendongak menatap kakaknya yang menghela napas—berusaha mencari cara untuk membicarakan segalanya.

Dia menatap Yugyeom yang balas menatapnya. Menyadari seberapa dewasanya dia sekarang; jauh berbeda dengan hari ketika dia pertama kali menatap Jeongguk, tersenyum memamerkan gusinya. Yugyeom sudah dewasa, dia sudah memikirkan masa depannya. Stres karena belum mendapat pekerjaan, kebingungan akan hari esok, hubungannya dengan kekasihnya. Dia sudah nyaris tidak lagi membutuhkan Jeongguk pada titik ini.

Itu membuat Jeongguk lega. Setidaknya dia meninggalkan Yugyeom dalam keadaan mandiri dan dewasa, jadi dia tidak akan kelimpungan dengan tanggung jawab barunya walaupun ayah mereka masih sangat sehat. Semua orang Puri akan dengan senang hati membantunya menjadi Pewaris—karena itu memang hak Yugyeom sebagai reinkarnasi Wak Anom. Puri pasti akan lebih senang jika Yugyeom yang naik menjadi Penglingsir alih-alih Jeongguk.

Memikirkannya, walaupun senang karena dia akhirnya melepaskan posisi berat itu, tetap membuat hatinya nyeri. Nyeri oleh perasaan tidak diinginkan, tidak dihargai yang begitu kuatnya hingga dia menghela napas dalam-dalam.

“Wiktu akan memberi tahumu beberapa hal yang Wiktu juga baru ketahui belakangan ini.” Dia menatap Yugyeom yang melipat kotak pembungkus cake-nya lalu menyingkirkannya, siap mendengarkan kakaknya.

Jeongguk menatap halaman Puri yang sepi, ditemani suara binatang malam yang mulai menggeliat bangun ketika manusia terlelap. Jimin dan Taehyung juga sedang berdiskusi, mengenai rencana kepindahan mereka serta jalur tercepat darat Bali-Lagoi yang membuat Jeongguk menghela napas kelelahan sebelum mereka bahkan berangkat.

“Yugyeom.” Kata Jeongguk perlahan, menatap sepetak cahaya di halaman Puri yang diciptakan oleh bias cahaya lampu teras amar Taehyung dan dia menyadari kekuatan panggilan itu untuk Yugyeom yang langsung menegakkan tubuhnya.

“Setelah Wiktu berangkat,” lanjutnya perlahan seolah sedang menjelaskan sesuatu kepada balita. Jeongguk ingin adiknya paham apa yang akan dihadapinya kedepannya, berharap Yugyeom dan juga Wak Anom, bisa melepaskannya untuk merengkuh kehidupan yang diinginkannya. “Kau akan menjadi Penglingsir menggantikan Ajung.”

Dia menatap Yugyeom yang mengerjap, masih berusaha mencari tahu arah pembicaraan Jeongguk. Dia diam, mendengarkan Jeongguk dengan tenang—menunggu walaupun mungkin dia tidak paham sama sekali. Jika dia tidak menyukai prospek menjadi Penglingsir menggantikan kakaknya, dia tidak menunjukkannya.

“Kau tahu,” mulai Jeongguk perlahan. “Ajung seharusnya bukan Penglingsir Puri. Ajung punya kakak, paman kita. Namanya Wak Anom. Tapi sudah meninggal jauh sebelum kau lahir.” Dia menyusun katanya perlahan; sepatah demi patah, mencoba menyusun isi kepalanya sendiri.

Yugyeom menunggu, menatap kakaknya dan tidak bertanya sama sekali. Memberikan ruang untuk Jeongguk menjelaskan segalanya sebelum bertanya, seperti anak baik. Jeongguk menatapnya, merasa sangat asing dengan adiknya sendiri dan tidak bisa melupakan suara Wak Anom yang ditirukan dengan sempurna oleh ahli tenung mereka beberapa pekan lalu. Masih kerap memberikannya mimpi buruk.

“Dia meninggal karena HIV/AIDS dan tidak menikah karena tidak ingin menularkan penyakitnya kepada siapa pun.” Jeongguk menelan dengan sulit, memejamkan mata ketika teringat aroma kamar Wak Anom dan tubuh kurusnya yang terbaring di ranjang—berjuang melawan penyakit yang tidak memiliki obatnya sama sekali.

Jeongguk bernapas dari mulutnya, merasa mencium aroma pesing dan obat di kamar pamannya lagi sekarang. Dia memjamkan mata, berusaha mengenyahkan ingatan masa kecilnya dan bagaimana ayahnya menyentakkan tangan kecilnya dengan keras—mencengkeramnya karena menjerit, menolak memasuki kamar Wak Anom. Sekelebat wajah bergerak di pikirannya; ingatan yang menggeliat bangun.

Jeongguk merasa dia melihat wajah Wak Anom-nya yang tersenyum letih di balik kulitnya yang hitam dan keriput. Bagaimana wajahnya ketika dia sehat? Apakah dia setampan ayah mereka? Memiliki ketampanan khas pria paruh baya yang memesona seperti ayah mereka? Atau jauh lebih tampan? Jeongguk pertama kali melihatnya sudah sebagai seonggok tulang dan kulit yang menyedihkan—dimakan penyakitnya sendiri.

Tidak benar-benar memiliki ingatan tentang pamannya dalam kondisi sehat.

Jeongguk membuka matanya, tersentak oleh ingatan itu. Teringat kata-kata ayahnya 'dia selalu menyayangimu' dan bergidik. Menatap Yugyeom yang balas menatapnya, Jeongguk menghela napas.

Jiwa di dalam tubuh Yugyeom lahir kembali hanya untuk menyayangi Jeongguk; melewati dua kali kehidupan untuk menyayangi Jeongguk. Untuk dekat dengannya, untuk menjadi bagian hidupnya. Jika ingin memikirkannya, tidak ada yang mencintai Jeongguk sebesar pamannya. Bahkan tidak orang tuanya.

Tidak bisa ditahan, ketika kepalanya bergulir. Memikirkan bagaimana hidupnya jika pamannya tidak memiliki penyakit ganas yang menyerang sistem kekebalan tubuhnya. Bagaimana jika dia secara ajaib, sembuh dan kembali sehat. Berisi dan tampan. Dalam bayangannya, Jeongguk melihat dirinya sendiri tumbuh bersama pamannya. Disayangi, dilindungi. Diterima semua orang. Ayahnya pasti akan menyayanginya, kehidupannya akan mudah seperti Yugyeom. Jeongguk pasti memiliki kehidupan sempurna karena tidak ada yang mengabaikannya.

Dia memiliki keluarga yang sempurna. Memiliki sosok ayah yang bisa dijadikannya panutan, tidak akan kesulitan mendefinisikan dirinya sendiri dan tidak dianggap tiada.

Mungkin tidak akan pernah ada Yugyeom di hidupnya.

“Wiktu tidak tahu bagaimana wajahnya sebelum sakit, Biang juga tidak. Dia sudah sakit begitu lama hingga ingatan tentangnya di kepala semua orang adalah ketika dia sakit.” Dia menatap Yugyeom, mencoba melihat diri pamannya di sana—mencoba memisahkan dua kehidupan yang dijalani jiwa di dalamnya.

Karena Jeongguk diam, Yugyeom berbisik. “Lalu hubungannya dengan Ogik?” Tanyanya perlahan.

Jeongguk menghela napas. “Wiktu tidak tahu bahwa ternyata Wak Anom sangat menyayangi Wiktu sepanjang hidupnya. Selalu ingin mengenal Wiktu dan berteman dengan Wiktu.” Dia menatap adiknya, sejenak merasa bersalah karena telah menepis usaha pria paruh baya yang sakit parah untuk sekadar berteman dengannya.

“Tapi Wiktu tidak memberikannya kesempatan karena Wiktu takut.” Jeongguk menatap petak cahaya itu lagi, mencoba mencari kata-kata untuk menjelaskan perasaannya sendiri. “Seharusnya Wiktu memberikannya kesempatan.” Dia menerawang, berharap bisa memberi tahu dirinya di masa lalu bahwa mereka bisa menghadapi bau kamar itu—memberikan setidaknya setitik kebahagiaan untuk paman mereka sebelum meninggal.

Namun nasi telah menjadi bubur. Tidak ada yang bisa Jeongguk lakukan lagi sekarang selain menyayangi Yugyeom, memastikan dia memberi adiknya masa kecil yang akan selalu diingatnya. Memastikannya tumbuh menjadi lelaki yang baik dan terhormat. Dan tekadnya itu malah adalah sebuah penebusan segala kesalahannya ketika kecil; kesempatan kedua yang tidak dia sadari sama sekali. Kesempatan kedua untuknya dan untuk pamannya, membangun ikatan yang tidak Jeongguk dapatkan dari ayahnya.

“Dan tahukah kau,” Jeongguk menatap Yugyeom yang mengerutkan alisnya. Tidak memahami arah pembicaraan Jeongguk sama sekali. “Wak Anom sangat menyayangi Wiktu hingga dia kembali bereinkarnasi, ingin mengulang kehidupannya dan menyelesaikan urusannya di dunia ini.”

Yugyeom menatap kakaknya, alisnya berkerut semakin dalam namun dia tidak mengatakan apa pun. Dia duduk bersila dengan kaus tipis dan celana pendek, sudah siap tidur namun Jeongguk menahannya untuk bicara. Menjauhkannya dari Jimin yang bersikeras mengaplikasikan begitu banyak produk perawatan wajah di wajah adiknya yang pucat dan halus. Sejauh ini dia sudah membentuk alis tebal Yugyeom dan mengajaknya menggunakan face mask. Tuhan tahu apa yang akan dilakukan Jimin nantinya.

Dia dan Yugyeom akan tidur di dipan Taehyung malam ini. Jeongguk dan Taehyung di kasur yang digelar di bawah bukan hanya karena Taehyung belakangan ini tidak bisa tidur tanpa Jeongguk—mulai terbiasa dengan dengkur lembut Jeongguk, namun juga karena mereka menyayangi keduanya dan secara instingtif memberikan tempat ternyaman untuk keduanya.

“Dan?” Bisik Yugyeom, menunggu kakaknya melanjutkan dengan kebingungan nyata di wajahnya dan Jeongguk menghela napas.

“Dan,” dia menenangkan dirinya sendiri; berpikir apakah Yugyeom layak mengetahui ini? Bahwa dia layak menjadi Penglingsir karena itu merupakan haknya sejak di kehidupan lalunya. Dia menatap adiknya.

Jeongguk sudah melakukan segala yang terbaik. Dia sudah mengajari Yugyeom segala yang diketahuinya, membesarkan adiknya menjadi pria lembut yang bertanggung jawab serta tidak berpikiran picik. Dia terbuka pada perbedaan, tidak menilai kehidupan orang dan bersikap sopan. Yugyeom akan menjadi Penglingsir yang sempurna, ditambah lagi bahwa jiwa di dalamnya memang adalah Penglingsir Puri.

“Kau adalah reinkarnasinya.” Dia tersenyum pada adiknya. “Wak Anom, calon Penglingsir Puri yang sebenarnya.”


“Kau yakin mereka baik-baik saja?”

Taehyung mengangguk, berbaring di kasur yang akan digunakannya dengan Jeongguk malam ini seraya menatap pintu kamarnya yang terkuak kecil, memberikannya akses melihat sisi tubuh Jeongguk yang duduk di teras bersama adiknya.

Jimin sedang berbaring di kasurnya, menggunakan masker di wajahnya dengan bandeu sutera di keningnya. Dia selalu beraroma harum feminim, aroma yang membuat Taehyung tenang karena begitu lembut. Dia mengenakan jubah tidurnya yang lembut, sedang menikmati waktu berkualitasnya. Itulah mengapa ayah Taehyung membenci kehadiran Jimin di Puri.

“Lelaki tidak seharusnya bersikap seperti perempuan. Seperti banci saja.” Begitu kecamnya dan Jimin, terlalu sakit hati untuk datang kembali ke rumahnya akibat itu.

Sekarang, dia bebas melakukannya. Membubuhkan wewangian di setiap sudut kamar Taehyung dengan ceria dan Taehyung senang melihatnya. Jimin selalu lembut dan menenangkan, hanya karena standar normalnya tidak sama dengan orang lain, dia selalu mendapat kecaman karenanya. Namun Taehyung tidak akan melakukannya, dia suka Jimin sebagaimana dia sekarang. Lembut, manis, penyayang, dan cerewet.

“Apa yang mereka bicarakan?” Tanyanya, menyuap sepotong Pocky ke dalam mulutnya—lapisan masker di wajahnya mulai mengeras dan pecah di beberapa tempat karena dia tertawa.

“Sesuatu tentang paman mereka.” Taehyung berbaring terlentang, menatap langit-langit kamarnya; berharap kekasihnya baik-baik saja setelah pembicaraan itu.

Taehyung mendengar cerita tentang bagaimana ayah Jeongguk tidak berusaha menghubunginya setelah dia kabur dari rumah dan memeluk Jeongguk ketika dia menangis tersedu-sedu—menyadari bahwa dia memang tidak diinginkan di rumah itu setelah mereka tahu bahwa Yugyeom adalah reinkarnasi dari anggota Puri kesayangan mereka. Taehyung memeluknya malam itu, mengusap bahunya dan memastikan dia baik-baik saja.

Wak Anom benar, Jeongguk memang sebaiknya pergi dari sana dan berbahagia. Bahkan di saat terakhir sebelum dia melepas kastanya dan pergi, setelah dia mengkonfrontasi ayahnya mengenai ketidakadilannya, mereka tidak juga menyikapi Jeongguk secara serius. Bukti bahwa sebenarnya mereka tidak merasa bersalah telah memperlakukan Jeongguk secara tidak adil dan terang-terangan.

Taehyung mengingatkan Jeongguk agar tidak membalaskan sakit hatinya pada Yugyeom karena itu sangat tidak adil untuk Yugyeom. Dia mungkin adalah reinkarnasi Wak Anom, namun sekarang dia adalah Yugyeom—jiwa itu memiliki raga baru, identitas baru, ingatan baru, dan kehidupan baru. Segala ingatannya tentang kehidupan lamanya sudah dihapuskan sebelum dia lahir.

“Aku sangat menyayangi Yugyeom.” Isak Jeongguk dalam pelukannya dan Taehyung mendesah—berpikir bagaimana jika dirinya yang berada di posisi Jeongguk.

Ketika semua orang memunggunginya, Taehyung memiliki Lakshmi yang selalu berada di sisinya. Menemaninya bertumbuh, menyayanginya, persis sebagaimana posisi Jeongguk di hidup Yugyeom. Dan Taehyung tidak dapat membayangkan bagaimana jika Lakshmi ternyata adalah alasan mengapa semua orang membencinya. Memberikan jarak di antara keduanya, perasaan terkhianati dan jengkel pada saudaranya sendiri.

Taehyung senang, setidaknya dia masih cukup stabil untuk menghibur Jeongguk. Mendesah, dia mendadak merindukan Mirah. Teringat bantuan luar biasanya untuk hubungan mereka selama ini; satu pukulan yang sempat Taehyung anggap sebagai serangan, ternyata adalah sebuah bantuan jangka panjang.

Dia menghela napas, menutup matanya dengan lengan dan merasa bersalah karena sempat membenci Mirah—bertanya-tanya apakah gadis itu baik-baik saja di Australia? Tahukah dia bahwa sekarang Taehyung dan Jeongguk sedang jungkir balik memperjuangkan bahagia yang sedikit remahnya diberikan oleh Mirah?

“Kenapa?”

Taehyung membuka matanya, menemukan Jimin menumpukan dagunya di tepian dipan dan menatapnya sambil menarik masker peel-off-nya dengan jemari. Taehyung menghela napas dan menggeleng perlahan, menatap langit-langit.

Devy tidak lagi mengganggunya; keluarganya sudah dipukul mundur oleh Puri dan diganjar hukuman sosial dengan dikucilkan. Bobroknya sudah dibicarakan oleh semua orang sekarang termasuk bagaimana dia memeras ayah Taehyung dan memanipulasi kehidupannya. Taehyung sejenak merasa cemas pada Devy; dia masih terlalu muda, sanggupkah dia menanggung semua rasa malu itu?

Namun teringat kembali bahwa Taehyung sudah memiliki hidup yang menyedihkan, tidak perlu repot-repot memikirkan bagaimana orang lain menjalani kehidupannya. Kabar terakhir yang didengarnya, mereka akan pindah provinsi. Menjauh dari semua orang yang mengenal mereka. Taehyung berharap tidak ada lagi keluarga mana pun yang terjerat oleh mereka.

“Aku teringat Mirah.” Kata Taehyung kemudian perlahan. “Bagaimana keadaannya sekarang, ya? Dia memberikan banyak bantuan untukku dan Jeongguk.”

Jimin mengerjap, menerawang sambil melepaskan maskernya. “Kenapa kalian tidak menghubunginya saja?”

Taehyung menggeleng. “Dia sedang menyembuhkan diri, sebaiknya aku dan Jeongguk tidak mengganggu prosesnya. Dia berhak mengambil waktu sebanyak mungkin untuk menyembuhkan diri sebelum menerima kami kembali sebagai teman.”

Jimin masih menerawang, sekarang mengusap-usap wajahnya yang lembut dan memijit jerawat kering di pipinya. “Benar juga.” Katanya lalu melempar bekas maskernya ke tong sampah di sudut—meleset dan jatuh ke lantai.

Taehyung mendelik padanya dan Jimin nyengir sebelum berguling ke kasur yang berderit. “Patah hati memang penyakit paling mengerikan.” Gumam Jimin setuju dan Taehyung tersenyum kecil—teringat patah hati pertama dan terakhir Jimin, berakhir membuatnya ketakutan pada komitmen sepanjang hidupnya.

Pun jika Jeongguk meninggalkannya saat ini, Taehyung akan berakhir seperti Jimin. Karena Jeongguk meremukkan hatinya hanya karena dia menangis. Taehyung takkan bisa membayangkan sehancur apa hatinya jika kekasihnya memutuskan untuk melangkah pergi darinya.

Dia menatap pintu, menatap punggung Jeongguk yang bicara dengan Yugyeom. Merasakan perasaan hangat, familiar dan aman yang diberikan Jeongguk padanya. Dia pernah ketakutan, merasa terjebak, tersesat, dan kebingungan. Namun saat dia melihat Jeongguk, menggenggam tangan kekasihnya—Taehyung tahu dia berada di rumah.

Jeongguk akan memastikan semuanya baik-baik saja untuk Taehyung. Menatapnya, memeluknya, dan menyebut namanya—melihatnya tersenyum pada Taehyung, menyuntikkan semangat ke dalam dirinya. Ketika hidup terasa melelahkan, Jeongguk adalah alasannya untuk bertahan hidup.

Jeongguk selalu menjaganya tetap waras dan dia berharap, dia memiliki peran sama besarnya di kehidupan Jeongguk. Berharap dia bisa memberikan Jeongguk perasaan aman luar biasa yang sama, berharap dia bisa meyakinkan Jeongguk bahwa dia bisa diandalkan.

*