Gourmet Meal 631
ps. unedited again, sorry :(
Ini kali pertama bagi Taehyung untuk bersembahyang di Pura Lempuyang Luhur.
Jeongguk mengemudikan mobilnya melewati jalan kecil yang sedikit rusak menanjak naik. Mereka memilih jalur mendaki dari Gamongan, pura pertama yang akan mereka datangi adalah Pura Ayu yang belakangan ini terkenal di jagat maya karena candi masuknya yang megah. Taehyung yang sangat konservatif mengenai hal ini, senang dengan peraturan baru bahwa hanya pemedek yang akan berdoa yang diizinkan naik karena wisatawan yang berfoto di candi masuk Pura hanya akan menghambat jalur keluar-masuk pemedek. Lagi pula, pura adalah tempat berdoa bukan berwisata. Taehyung selalu risih melihat wisatawan datang khususnya ke pura-pura sakral semacam Lempuyang untuk sekadar berfoto-foto. Mengapa tidak pergi ke pantai saja? Kenapa menginvasi pura sakral?
Tapi tidak ada yang menanyakan pendapat Taehyung, maka dia diam. Dia membawa sokasi yang terisi dua pejati yang akan dihaturkan di Pura Ayu dan Luhur nantinya. Sudah mengenakan pakaian ternyaman dengan celana pendek di balik kain mereka, sandal gunung—Jeongguk meminjam sandal Taehyung karena sepatu-sandalnya tidak akan kuat jika diajak mendaki di jalur yang ekstrim. Selama perjalanan, mereka akan berhenti untuk bersembahyang di enam pura termasuk Luhur di ketinggian 1,000 MDPL.
Hari itu relatif sepi karena tidak ada hari raya. Jeongguk memarkir mobilnya di tempat parkir sebelum menurunkan dua sokasi mereka. Ibu Taehyung yang membuatkannya kemarin, menatanya dengan cantik di dalam wadah anyaman dan membekali mereka dengan tiga lusin canang cantik yang membuatnya dibantu Jeongguk.
Taehyung sering kali geli melihat kekasihnya duduk di teras bersama ibunya, dengan telaten mengerjakan canang—menata tiap jenis bunga di atas wadah janur yang berbentuk seperti teratai dan mengobrol dengan ibunya sementara Taehyung mengerjakan tugas lainnya. Mereka masih beradaptasi dengan ketiadaan Lakshmi. Ibu Taehyung sudah bertanya mengenai pekerjaan Taehyung dan dia menjelaskan bahwa dirinya serta Jeongguk akan dipindah kerjakan ke properti baru. Sekarang sedang mendapat benefit libur—alasan aneh, tapi ibunya percaya begitu saja.
“Memangnya Turah tidak pulang ke Puri?” Ibunya berbisik ketika dia menggoreng ikan untuk makan malam mereka sementara Taehyung mengaduk nasi yang baru matang di dalam penanak beras agar bagian dasarnya tidak mudah basi dan berwarna kekuningan.
Taehyung melirik kekasihnya yang sedang menyapu halaman. “Tidak, Ibuk.” Katanya sejenak terdiam sebelum menambahkan. “Keluarganya tidak menerimanya kembali.”
Ibu Taehyung terkesirap kecil dan menyentuh dadanya, nampak sangat terkejut karena mendengarnya. “Maksudnya, dia diusir?” Bisiknya, merendahkan suaranya dengan mata terbelalak.
Taehyung menggeleng, menutup penanak beras di teras dapur dan mencuci sendok kayu yang digunakannya sementara aroma gurih ikan menguar memenuhi dapur mereka. Dia berpindah ke bak cuci piring dan mulai menyabuni piring bekas sarapan mereka.
“Dia sendiri yang keluar. Jadi sementara dia tinggal bersama kita sampai mendapatkan kepastian mengenai properti yang akan ditempatinya.” Taehyung menunduk, menatap tangannya yang bekerja dengan perabotan dan menolak menatap ibunya.
Bagaimana caranya menjelaskan jika dia akan pergi dari rumah bersama Jeongguk?
“Oh, begitu.” Ibunya mengangguk dan perlahan membalik ikan di dalam penggorengan yang mendesis marah karena sisa air di dalam daging ikan. “Lalu Tugung sendiri, apakah tempat bekerja nanti bisa ditempuh dari rumah? Tidak menyewa kamar, 'kan?” Tanyanya tanpa melepaskan tatapan dari minyak di hadapannya.
Taehyung menarik napas. “Tidak, Ibuk.” Sahutnya, merasakan sengatan rasa nyeri di dadanya karena berbohong. “Tugung berangkat dari rumah.” Dia menyalakan air, membilas piring yang dicucinya dengan cekatan—berusaha membiarkan topik obrolan itu melarut bersama air.
Ibunya nampak lega—bahkan tidak berusaha menyembunyikannya sama sekali. “Astungkara,” sahutnya tenang saat mematikan kompor dan mengangkat ikan dari minyak panas. “Ibuk sudah takut akan ditinggalkan sendiri di rumah.”
Taehyung diam sejenak sebelum melanjutkan. “Ibuk, bagaimana jika Tugung membeli rumah dan kita keluar dari Puri?” Tanyanya dalam satu tarikan napas, tidak mengizinkan dirinya sendiri untuk berhenti dan berpikir.
Ibunya berhenti bekerja dan menoleh ke anak sulungnya, nampak kebingungan. “Kenapa? Ini, 'kan, rumah Tugung?”
Taehyung mengernyit, tidak menyukai konsep itu. Dia tidak pernah menganggap tempat ini rumah—baik dia maupun Lakshmi karena ini adalah neraka. Di mana mereka dicambuki, dikatai, dan dihukum hanya karena bernapas terlalu keras. Agak bingung dengan pola pikir ibunya yang masih menganggap tempat penyiksaan ini sebagai rumahnya dan bagaimana dia bisa sangat mencintai ayah mereka yang sakit itu.
“Tugung tidak mau berada di sini lagi.” Katanya meletakkan piring di rak. “Semua orang membenci kita, Ibuk, tidakkah Ibuk bisa melihatnya? Hanya tinggal menunggu waktu hingga mereka mengusir kita. Tugung rasa mereka bertahan mengizinkan kita di sini karena tidak sudi membiayai Ngaben Ajung.”
Namun ibunya menggeleng tegas dan mengatakan, “Hush, tidak boleh begitu. Mereka saudara Tugung, tidak boleh saling bermusuhan.”
Dan Taehyung tidak yakin apakah kenaifan ibunya adalah anugerah atau kutukan. Tapi dia diam, tidak ingin berdebat dengan ibunya dan merasa mulai putus asa mengenai nasib ibunya ketika dia berangkat ke Bintan untuk mencapai bahagianya. Ibunya tidak ingin meninggalkan Puri, menganggap tempat ini rumahnya tidak peduli seberapa kasar mereka yang dianggapnya 'keluarga' memperlakukannya.
“Kita akan menemukan cara.” Jeongguk memeluknya dan mengecup puncak kepalanya ketika mereka hendak tidur.
Jimin nyatanya tidak bisa tinggal terlalu lama karena cuti yang diberikan termasuk penerbangan kembali ke Qatar, bandara basis bagi perusahaan penerbangan tempatnya bekerja. Maka dia berangkat dua hari setelah kedatangannya dengan jengkel. Mengomel sepanjang perjalanan menuju bandara karena belum ingin meninggalkan sahabatnya.
“Kau harus mengabariku begitu tiba di Bintan, oke?!” Ancamnya saat mengecup pipi Taehyung lalu mengernyit jengkel. “Dan cukur jenggotmu, demi Tuhan!” Dia mendelik pada Taehyung yang terkekeh sebelum melakukan hal yang sama pada Jeongguk dan Yugyeom.
“Jaga sahabatku atau kukeluarkan isi ball sack-mu dengan tangan kosong.” Katanya ceria, mengecup kedua pipi Jeongguk lalu melangkah ke gerbang Keberangkatan Internasional seraya melambai ceria.
Yugyeom jadi sedikit lebih pendiam setelah pembicaraannya dengan Jeongguk, secara ajaib menjadi dua kali lebih lengket pada kakaknya. Dia menempel di sisi Jeongguk, menolak bicara dengan semua orang dan Taehyung sejenak cemas pada keadaannya. Namun menurut Jeongguk, dia hanya sedang memproses pengetahuan barunya.
“Aku memberi tahunya bahwa tidak peduli seberapa seringnya dia berpikir tentang betapa tidak layaknya dia menjadi Penglingsir, dia harus ingat bahwa dia reinkarnasi calon Penglingsir yang sebenarnya.” Jeongguk tersenyum lemah dan memijat pelipisnya. “Itu membuat percaya dirinya naik.”
Yugyeom menangis malam itu ketika mereka membeberkan rencana mereka berempat di kamar Taehyung. Tidak ingin dipisahkan dari kakaknya dan mulai menyadari bahwa rencana kakaknya nyata saat semuanya mendekat. Jeongguk memeluknya ketika Taehyung menjelaskan mereka akan berangkat sehari setelah acara Ngeroras ayahnya selesai. Mereka diam setelahnya, menunggu Yugyeom mengatur emosinya sendiri dan memilih untuk menunda pembicaraan hingga Yugyeom pulang agar tidak menyakitinya.
“Toh, kakaknya memang akan pergi.” Jimin mendesah setelah anak itu tertidur di pelukan kakaknya.
Jeongguk menghela napas, mengusap rambut dari kening adiknya. “Dia akan baik-baik saja.” Gumamnya. “Semua orang akan membantunya.”
“Banyak yang terjadi.” Kata Jeongguk di masa sekarang saat mereka duduk berdampingan di halaman Pura Ayu untuk bersembahyang setelah Taehyung menghaturkan pejati pertama mereka.
Taehyung mengangguk, membungkuk untuk bersila di sisi Jeongguk yang memberikannya canang dan dupa untuk berdoa bersama. Suasana pura menenangkan, hanya ada satu keluarga yang berdoa bersama mereka. Ada anjing-anjing jinak yang berkeliaran, berbaring di dekat balai dengan lidah dijulurkan—menyundul pemedek dengan manja kapan saja mereka berdiri terlalu dekat, berharap diberikan sedikit makanan.
“Kau siap?” Tanya Jeongguk dan Taehyung mengangguk. Mereka berdua membenahi posisi duduk mereka sebelum Taehyung dengan suara beratnya yang tenang memimpin persembahyangan mereka.
“Asana.”
Ada sesuatu yang magis yang dirasakan Taehyung hari itu tiap kali mereka berhenti untuk bersembahyang. Mendaki bersama Jeongguk, mengobrol di dalam jalan sempit licin yang dipayungi rerimbunan pepohonan membuatnya merasa senang dan damai. Hanya terdengar kicauan burung, suara binatang hutan, dan cuitan serangga sepanjang perjalanan mereka. Karena kondisi pura yang berada di atas bukit Lempuyang, suasana menjadi dingin dan berkabut. Pepohonan di sekitar mereka basah oleh kabut yang mencair.
Bebungaan tropis mengedip pada mereka dari sela-sela pepohonan yang berat oleh tanaman rambat yang menumpang di setiap rantingnya. Taehyung menarik napas, merasakan udara segar yang bersih berdesing menuju paru-parunya yang ceria. Seraya berjalan, mereka mengobrol hal ringan; tentang anjing yang akan mereka adopsi, furnitur yang akan mereka beli, serta posisi yang baru saja dilamar Jeongguk di ANMON Resort. Posisinya CDP dan Jeongguk cemas mereka akan langsung menolaknya tanpa mempertimbangkan berkasnya karena posisi Jeongguk sebelumnya adalah excutive di resor kelas dunia seperti Aman Group.
“Jangan berkecil hati.” Taehyung memetik sekuntum marigold liar yang tumbuh di dekatnya lalu memberikannya pada Jeongguk yang tersenyum, menyelipkan bunga itu di saku kemeja safari katun putihnya. “Kita bisa berharap dan mencoba. Siapa tahu mereka mengontakmu, bertanya apakah kau benar-benar seputus asa itu menginginkan posisi yang berada jauh dari posisi terakhirmu. Seperti yang dilakukan Banyan padaku.”
Jeongguk tertawa lirih. “Semoga saja.” Dia mendesah dan Taehyung tersenyum. Dia menepuk bahu Jeongguk hangat seraya menyusuri jalan setapak menuju Luhur yang semakin dingin dan berkabut.
Taehyung meraih tangan Jeongguk, menyelipkan jemarinya ke sana dan meremasnya lembut. Menyemangati kekasihnya. Dia sudah memperlihatkan rumah baru mereka dan Jeongguk menyukainya—nampak terpana karena desainnya yang meskipun mungil namun sangat menarik dan manis.
“Kata Chef Verdio rumah ini hanya memadai untuk akomodasi secukupnya satu kamar, kamar mandi dan dapur kecil. Jadi masih banyak pekerjaan yang kita harus lakukan agar rumah ini nyaman.” Katanya saat mereka bersila di halaman Pura Puncak Bisbis setelah bersembahyang—beristirahat sejenak.
Jeongguk mengangguk, menatap video rumah mereka yang diberikan Verdio. Menyadari betapa sempit ruang mereka di dalam rumah itu dengan kerut tidak suka di wajahnya. “Kamarmu di Puri lebih luas dari ini.” Gerutunya dan Taehyung tergelak.
“Di mana pun akan terasa nyaman jika bersamamu, tenang saja. Lagi pula, pikirkan positifnya. Kita memiliki rumah.” Taehyung menerima kembali ponselnya dari Jeongguk. “Tidakkah itu terdengar keren untukmu? Kita memiliki rumah di usia tiga puluh.”
Jeongguk tersenyum. “Yah,” dia membenahi udeng-nya, membuat beberapa wija di keningnya jatuh. “Jika kau mengatakannya dengan cara itu, terdengar keren.” Dia kemudian menarik napas. “Mari menabung lebih giat lagi untuk menyelesaikan rumahnya sehingga kita bisa membeli lebih banyak anjing.”
Taehyung terkekeh. “Itu dia, Jagoanku.” Dia meremas bahu Jeongguk lalu mengajaknya berdiri—melanjutkan perjalanan sedikit lagi menuju Luhur. Mereka hanya tinggal bersembahyang di Pura Pasar Agung lalu melanjutkan perjalanan landai ke Puncak Luhur.
“Anjing jenis apa yang akan kita adopsi?” Tanya Jeongguk saat mereka melanjutkan perjalanan mereka menuju Pura Pasar Agung—mereka hanya berdua sepanjang perjalanan, hanya ditemani pepohonan karena tidak banyak pemedek hari itu dan Taehyung senang. Berarti mereka bisa berdoa dengan lebih khusyuk.
“Bernesse.” Taehyung mendesah panjang. “Mereka besar, lembut, dan menggemaskan. Kurasa juga kuat di cuaca kering Lagoi.” Dia menoleh ke Jeongguk yang terkekeh. “Atau Golden? Bisa diajak lari di pantai jika kita bosan?”
Jeongguk menatapnya seraya melangkah. “Bisakah kaubayangkan sekarang bahagia kita berada begitu dekat? Sedikit lagi teraih?” Dia meremas tangan Taehyung dalam genggamannya dengan hangat.
Taehyung tersenyum. “Sedikit lagi, kita selesaikan Ngaben Ajung lalu pergi dari sini.” Dia balas meremas tangan Jeongguk.
“Masalah Ibuk bagaimana?” Tanya Jeongguk dan walaupun lelah, Taehyung menggeleng. “Entahlah.” Sahutnya, putus asa.
“Aku tidak yakin jika harus meninggalkannya sendiri tapi juga tidak ingin membawanya ke rumah kita. Ibuk tidak mau meninggalkan Puri. Haruskah kubiarkan saja?” Taehyung menatap pepohonan di depan mereka, kabut turun mulai membuat jalanan putih dan dingin menggigit.
Jeongguk mengerjap, sejenak berpikir. “Apakah aman jika kita biarkan Ibuk sendiri di sana? Apakah anggota Puri berkenan tinggal kembali di sana?”
Taehyung menghela napas. Mulai merasa jengkel karena ganjalan-ganjalan kecil dalam prosesnya menuju bahagia. Kenapa ibunya menolak untuk pergi? Apa yang membuatnya begitu lengket dengan tempat di mana dia diinjak-injak dan tidak memiliki harga diri?
“Aku akan mencoba membujuk Ibuk lagi.” Katanya kemudian dengan nada lelah dan Jeongguk menangkapnya—dia membiarkan topik itu lenyap.
“Sebentar.” Katanya lalu melepaskan tangan Taehyung dan berlari ke pinggir jalan, mendeka ke jurang bukit yang membuat Taehyung terkesirap.
“Kau gila, ya?!” Serunya, bergegas menyusul Jeongguk yang menyingkap kainnya, memamerkan betisnya sebelum mengetes ranting di sekitarnya—mencoba mencari yang terkuat untuk digenggam. “Apa yang kaulakukan!?” Seru Taehyung, mendekat ke kekasihnya.
“Diam di sana,” kekasihnya terkekeh—nampak ceria dan segar, senyuman tulus pertamanya setelah berminggu-minggu mereka didera stres berkepanjangan mengenai kepindahan mereka.
Taehyung terkadang merasa begitu putus asa dia berharap ketika dia membuka mata keesokan paginya, mereka sudah berada di rumah baru mereka di Lagoi dan melupakan semua kerepotan di Bali. Karena semua ganjalan, sekecil apa pun itu terasa begitu berat dan menjengkelkan—dua kali lebih menjengkelkan karena mereka begitu dekat dengan kebahagiaan sekarang.
“Aku akan memetikkanmu stroberi liar.” Jeongguk menggenggam ranting besar di sisinya dengan kuat, membelitkan ujungnya di lengan bawahnya yang kencang sebelum menjulurkan tubuh atasnya turun.
“Jeongguk!” Seru Taehyung tertahan ketika ranting berkeretak keras merespons beban tubuh Jeongguk—pohon malang itu melengkung, menahan Jeongguk yang menjulurkan lengannya ke bawah, entah mencoba meraih apa. “Lupakan benda bodoh itu, kau bisa jatuh!”
Taehyung menggenggam sokasi di tangannya, tidak yakin apakah dia harus melempar benda itu ke tanah dan menyambar pinggang Jeongguk agar dia tidak jatuh. Persis sebelum dia memutuskan, terdengar suara patah keras yang membuat jantungnya mencelos. Ranting yang digenggam Jeongguk terbukti tidak sanggup menahan beban tubuhnya dan memutuskan untuk mengalah—patah menjadi dua dan Jeongguk oleng.
“JEONGGUK!” Teriaknya di tengah hutan, melempar sokasi-nya yang terisi banten lungsuran sehabis berdoa di Pura Ayu tadi dan mengulurkan tangan secara instingtif ke arah Jeongguk.
Kekasihnya terkesirap keras dan dengan lincah melompat menjauhi tebing, nyaris terlepeset di tanah sebelum terhuyung mundur bersamaan dengan ranting yang berkeresak keras mendarat di jurang, meluncur turun. Taehyung berhasil menyambar bagian belakang kausnya dan menyentakkannya mundur dari sana. Keduanya menatap horor ranting yang mendarat di jurang, jauh di bawah mereka. Jika Jeongguk terlambat beberapa detik saja, mungkin tubuhnya juga di sana bersama ranting malang itu.
Jantung Taehyung terasa berhenti berdetak. Untuk sedetik penuh, dia berpikir dia mungkin akan kehilangan Jeongguk untuk selamanya dan tidak lagi memiliki alasan untuk hidup. Dia tidak akan bisa bertahan hidup tanpa kedua lengan Jeongguk di sekitarnya. Dia menatap kekasihnya, murka. Ingin mematahkan semua tulangnya, mengulitinya, dan merebusnya menjadi sup karena telah begitu menyebalkan.
“Kau!” Raung Taehyung, ingin menonjok wajah Jeongguk yang sedang nyengir padanya. “Apa, sih, masalahmu?!” Dia membuka mulutnya, hendak meneriakinya saat Jeongguk mengulurkan tangan—di atas telapak tangannya ada dua buah beri liar yang berwarna merah menyala lengkap dengan bunga putihnya yang tercabut.
“Stroberi liar.” Jeongguk tersenyum ceria, napasnya terengah. “Aku dan Yugyeom selalu berebut ini jika kami ke Lempuyang. Kupetikkan semua untukmu.”
Taehyung menatapnya tidak percaya sebelum melayangkan tangannya dan memukul kepala Jeongguk hingga kekasihnya berteriak kaget tertahan.
“Wigung!” Keluhnya namun berhenti ketika menatap wajah kekasihnya yang murka di hadapannya.
Taehyung ingin memakan kepala Jeongguk. “Kau mempertaruhkan hidupmu, hanya untuk stroberi bodoh!?” Raungnya, suaranya memantul di tengan hutan dan membuat beberapa burung berterbangan dengan panik. “Kau sudah gila, ya?!”
“Tapi...,” Jeongguk mengerjap, masih cukup beradab untuk nampak malu dan mengusap sisi kepalanya yang dipukul Taehyung. “Ini manis sekali, percayalah.” Gumamnya.
“TIDAK PEDULI!”
Lempuyang Luhur adalah Pura yang indah dan menyejukkan. Perjalanan panjang mereka terbayarkan dengan pemandangan yang indah walaupun kabut mengaburkan segalanya.
Ada banyak pohon pudak wangi yang berbunga cantik di pinggir pembatasnya. Di pintu masuk, mereka disambut patung Ganesha yang diberi banyak sekali canang dan garland, dupa-dupa baru mengeluarkan asap—menunjukkan bahwa sejak tadi sudah banyak pemedek yang tangkil. Puranya relatif tua, atapnya dipenuhi tanaman rambat yang tumbuh bersama lumut tebal akibat dinginnya di sekitar mereka. Beberapa orang yang bertugas menjaga pura mengenakan hoodie tebal, meringkuk di sudut sambil merokok dan mengobrol dengan seekor anjing hitam yang terkantuk-kantuk di kakinya.
Cuaca begitu dingin hingga Taehyung bergidik dalam pakaiannya. Jeongguk membantunya menyiapkan pejati mereka, menyalakan dupa, dan menghaturkannya ke pura. Ada empat orang anak muda yang bersama mereka, rombongan yang terkekeh-kekeh ceria sambil mengobrol. Suasana pura menenangkan dan beraroma lembut dupa. Persembahyangan dilakukan secara mandiri sebelum pemangku yang bertugas di Luhur kemudian membantu mereka untuk memberi tirta. Taehyung lagi yang memimpin persembahyangan mereka sebagai yang tertua.
Dia akhirnya memakan beri liar yang dipetik Jeongguk untuknya. Rasanya manis dan segar, mengejutkan untuk ukuran buah sekecil itu namun tentu saja tidak layak untuk semua pengorbanan Jeongguk memetiknya. Dia mencubit perut Jeongguk hingga kekasihnya memohonnya berhenti karena dia begitu jengkel. Tidak terbayangkan bagaimana jika Jeongguk sungguh terjatuh ke jurang.
Setelah bersembahyang, mereka memutuskan untuk berhenti di jabaan pura untuk makan. Di dalam pejati yang dibuatkan ibu Taehyung, ada enam buah ketupat, ayam bakar, dan sambal yang sengaja dibekalinya untuk mereka makan. Maka mereka menatanya di sana, ditemani dua anjing yang datang untuk meminta makan.
Jeongguk mencuci tangannya dengan air mineral kemasan, mulai menyuwir ayam dari tulangnya dan mengaduknya dengan sambal yang mereka bawa sebagai lauk makan sementara Taehyung membelah ketupat dengan pisau lipat yang dibawanya.
“Aku selalu suka makan seperti ini,” Jeongguk berkata di sela makan mereka.
Taehyung melempar potong demi potong tulang ke para anjing yang bersemangat menerimanya, menyalak ceria sambil berlarian gembira mendapatkan makanan. Menilik dari tubuh mereka yang lumayan berisi, Taehyung pastilah bukan satu-satunya orang yang melakukan ini. “Kenapa?” Tanyanya.
“Rasanya lebih nikmat setelah kita lelah mendaki dan bersembahyang.” Katanya, menyuap potongan ketupat dengan daging ayam dingin yang mulai keras karena terpapar udara.
Taehyung tersenyum, melempar tulang dada ayam ke arah anjing yang menyalak melompat menangkapnya. Dia terhibur, tidak sabar memiliki anjingnya sendiri. “Memang begitu.” Sahutnya setuju.
Ada banyak hal yang ingin Taehyung lakukan bersama Jeongguk sekarang setelah bahagia sedikit lagi milik mereka. Membayangkan makan bersama Jeongguk, tidur bersamanya—menghabiskan sepanjang waktu sepanjang hari dengannya, tidak ada yang bisa mengganggu mereka lagi terasa begitu mendebarkan.
Taehyung tidak sabar lagi—berharap tiada sandungan apa pun lagi setelah ini. Bahagia mereka sudah terlalu mahal hingga nyaris tidak lagi masuk akal.
Glosarium:
Pemedek: umat yang bersembahyang ke pura.
Tangkil: datang untuk berdoa/bersembahyang.
Pejati: sesaji lengkap.
Astungkara: puji syukur Hindu.
Sokasi: semacam besek untuk membawa sesaji, terbuat dari anyaman.
Banten lungsuran: sesaji yg sudah dihaturkan.