Gourmet Meal 642
cw // morally ambiguous .
Taehyung duduk di halaman Merajan bersama ibu dan kakaknya serta Wisnu dan Jeongguk.
Di depan mereka sekarang ada pemangku yang sedang memimpin upacara ngelinggihang jiwa ayah Taehyung yang sudah disucikan. Upacara sudah selesai kemarin selepas petang dan mereka memutuskan untuk beristirat lalu menyelesaikan semuanya besok pagi. Lakshmi datang pukul tujuh pagi, membawa sesaji sederhana yang akan digunakan untuk melinggihang hari itu.
Taehyung melirik kekasihnya yang duduk di sudut Merajan bersama Wisnu, menjauh dari keluarga inti dan mengobrol dengan suara rendah. Semalam setelah menyelesaikan semua upacara yang syukurnya bisa dipersingkat, Taehyung memutuskan dia akan membicarakan semuanya malam ini dengan ibunya. Segala urusannya di Puri sudah selesai, dia juga sudah tidak lagi menyandang kasta Ksatria yang dibencinya dan sudah saatnya mereka kabur.
Taehyung tidak mau lagi mengambil risiko karena dia bertemu bapak yang dimaksud Jeongguk petang tadi ketika mengunci mobilnya dan memasang cover mobilnya. Lelaki itu tidak bicara, dia hanya melewati gerbang Puri dan menoleh. Dia mengenakan kaus lusuh, dengan kain yang digunakan asal-asalan—simpulnya terikat di bagian depan perutnya yang cekung. Bahunya agak bungkuk, tulang belikatnya menonjol dan berbogol-bogol, geliginya kuning karena mengunyah pinang dan sirih—hal yang membuat Taehyung langsung mengenalinya adalah matanya. Mata kanannya putih, ada selaput yang menutupi bola matanya.
Terlepas dari penampilannya, dia tersenyum—mengangguk ramah ketika mata mereka bertemu namun lelaki paruh baya itu tidak membalas senyumannya. Alih-alih, dia memandang dalam pada Taehyung tepat di mata, tidak mengatakan apa pun dan berlalu. Meninggalkan Taehyung berdiri di sana dengan alis berkerut, gelisah dan tegang. Tahu bahwa waktu mereka menipis, mereka tidak bisa bertahan di tempat ini lagi.
“Kita harus segera pergi.” Katanya ketika tiba di kamar, nyaris panik. “Sesegera mungkin.” Tambahnya tegas, bergidik ketika teringat tatapan pria paruh baya itu dan tidak mau membicarakannya dengan Jeongguk sama sekali.
Maka malam itu, alih-alih beristirahat, keduanya mengepak pakaian. Taehyung tidak akan membawa semua pakaiannya. Dia meninggalkan semua pakaian adatnya di rumah—tidak lagi membutuhkannya di tempat baru nanti. Benda-benda setimental ditinggalkan, mereka hanya membawa pakaian praktis yang biasa mereka gunakan termasuk seragam chef cadangan mereka. Tengah malam, ketika semua orang lelap, mereka memasukkan semua tas dan koper mereka ke bagasi belakang mobil—mengikatnya kencang agar tidak terguling dalam perjalanan dan menyisakan hanya beberapa lembar pakaian untuk di rumah serta pakaian untuk perjalanan.
Mereka siap kabur kapan saja, sekarang.
“Malam ini aku akan bicara dengan Ibuk mengenai kondisinya di sini.” Kata Taehyung setelah mereka bersembahyang bersama dan Taehyung meletakkan 'ayahnya' di sanggah rong tiga sebagai simbol melinggihang—mengembalikannya kepada leluhur dalam bentuk paling suci.
Jeongguk menatapnya, sedang memilah wija yang berbentuk utuh di telapak tangannya untuk ditelan. Hal kekanakan Jeongguk yang disadari Taehyung belakangan ini, dia suka memilah wija—mencari beras yang berbentuk utuh untuk digunakan di kening, di antara tulang selangka, dan belakang kedua telinganya. Dia meletakkan tiga biji beras di lidahnya lalu menelannya sebelum menatap Taehyung.
“Kita akan meninggalkannya di Puri?” Tanyanya dengan suara rendah sementara ibu Taehyung sedang mengobrol dengan pemangku dan Lakshmi membereskan sisa sesaji yang akan mereka makan.
Taehyung menggertakkan giginya. Teringat kata-kata Lakshmi, jika tidak ada yang bisa dilakukan selama ibu mereka bersikeras bertahan di Puri. Taehyung bisa berusaha, tapi jika dia tidak berkenan maka Taehyung sebaiknya menyerah saja.
“Aku akan mencoba sekali lagi malam ini, memintanya untuk pulang ke rumah adiknya sebelum kita berangkat.” Dia menatap Jeongguk persis di matanya dan ingin menangis—dia begitu mendambakan kebebasan mereka. “Jika kali ini jawabannya tetap sama, maka malam ini kita berangkat tanpanya.”
Jeongguk tertegun. Dia menatap Taehyung lekat, matanya mencari di wajah Taehyung—entah apa yang dicarinya di mata Taehyung. Mungkin keraguan? Mungkin kebingungan? Maka sebaiknya Jeongguk menyukai kekecewaan karena Taehyung sudah tidak sanggup lagi dijepit diantara kebahagiaannya dan kebahagiaan orang tuanya. Sudah berpuluh-puluh tahun lamanya Taehyung mengorbankan kebahagiaannya untuk kepentingan orang tuanya, sekarang semuanya cukup.
Taehyung muak.
“Kau yakin?” Tanyanya, lebih terdengar seolah menanyakan akal sehat Taehyung.
Maka dia mengangguk tegas. “Yakin.” Lalu menambahkan dengan senyuman tipis di bibirnya. “Kita akan menginap semalam di hotel, mampir ke Ubud sehari untuk melakukan sesuatu.”
Alis Jeongguk naik sebelah. “Sesuatu....?”
Taehyung nyengir. “Kita lihat saja besok.” Dia menepuk lengan atas Jeongguk sebelum berbalik dan meluncur ke ibunya untuk mengantar pemangku pulang.
Upacara Ngaben hingga Ngeroras ayahnya ternyata tidak terlalu lama, sangat terbantu dengan kakek Wisnu yang bersedia menyederhanakan dan menyingkat semua prosesinya untuk Taehyung. Mungkin itulah upacara Ngaben Penglingsir Puri paling hening, sepi, dan murah dalam sejarah Puri mereka karena ketidakpedulian semua keluarga Puri yang nampaknya sudah menganggap Taehyung sebagai orang asing sama sekali.
Masyarakat yang bertanya kini mulai bosan, tidak ada yang tahu upacara itu. Taehyung memastikan semuanya tetutup dan pribadi. Dia bersyukur dengan ketidakpedulian semua orang pada keluarganya, membuat langkahnya mudah dan ringan. Tidak ada yang ikut campur, tidak ada yang mengatur atau mendesaknya lagi. Taehyung puas, selangkah lagi maka dia akan berbahagia.
“Nggih, nggih. Suksma banget niki.” Taehyung menakupkan tangannya di depan dada, tersenyum hangat pada pemangku yang pamit pulang menaiki sepeda motornya.
“Nggih, mewali, Atu Agung. Ngiring, ngiring, pamit dumun tiang.” Dia mengangguk lalu mengoper gigi motor bebeknya sebelum meluncur pergi. Mari, saya pamit pulang dulu.
Taehyung menatap jalanan yang mulai ramai menjelang makan siang. Matahari tidak terik, namun tidak juga mendung. Cuaca yang nyaman untuk beraktivitas. Dia menghela napas dan memijat pelipisnya—tanggung jawab terakhirnya selesai sudah. Dia masih merasa tidak percaya bahwa dia sudah terbebas dari beban terbesarnya selama ini, dia bisa saja kabur sekarang kapan saja itu. Namun dia masih memiliki ibunya—perempuan yang disayanginya.
Dia berbalik, memasuki Puri dan tersenyum kecil mendengar suara kakaknya di dapur bersama Jeongguk. Dia merindukan suara Lakshmi di rumah; memberi tahunya apa yang harus dilakukan, memintanya sembahyang, menunggunya pulang jika Taehyung harus lembur...
Taehyung tersenyum. Sekarang dia memiliki Jeongguk yang akan melakukan segala hal yang dilakukan Lakshmi untuknya. Dia menoleh, menemukan ibunya sedang duduk di kursi teras kamarnya—menatap kosong. Taehyung berhenti sejenak, menoleh ke dapur lalu kembali ke ibunya; berpikir haruskah dia menghampiri ibunya atau kakaknya? Merasakan bahagianya menyusut ketika dia memikirkan dia harus menghadapi ibunya alih-alih menyaksikan kakaknya dan kekasihnya berkutat di dapur.
Maka dia menghela napas.
Taehyung akan bersikap egois. Dia membelok ke dapur, memunggungi ibunya yang sedang melamun di kursi—berharap dia sedang memikirkan potensi untuk pindah ke rumah adiknya karena Puri tidak lagi menerima mereka sekarang setelah urusan Ngaben ayahnya selesai.
Menaiki undakan ke dapur, Taehyung langsung disambut aroma ayam yang digoreng ulang dan serai yang diranjang halus oleh tangan Jeongguk yang ahli. Dia memegang blakas dengan sangat ahli, merajang bumbu dengan cepat tanpa benar-benar memerhatikan tangannya. Lakshmi sedang tertawa sambil menyendok potongan ayam di dalam penggorengan—aromanya lezat sekali, Taehyung senang.
“Kanggeang, Bli Tugus.” Taehyung menatap kakak iparnya yang sedang menyiapkan piring makan. “Malah dijadikan pembantu.”
Wisnu tergelak. “Tidak masalah, kami sudah terlalu moderen untuk memikirkan itu.” Dia meletakkan piring di teras dapur dekat dengan rice cooker. “Ibuk di mana?”
Taehyung mengedikkan dagunya sejenak ke kamar ibu dan ayahnya. “Sedang di teras.” Katanya lalu menangkap tatapan mata Jeongguk.
Dia tahu dia harus segera bicara dengan ibunya namun dia tidak ingin melakukannya. Hatinya berat sekali melakukan hal yang tidak diinginkannya sekarang setelah bahagianya terasa begitu dekat; Taehyung ingin mengabaikan ibunya, membiarkannya melakukan apa saja yang diinginkannya sementara Taehyung juga melakukan apa yang diinginkannya. Sudah tidak terlalu ingin memikirkan ibunya, meladeni keinginannya yang keras kepala dan kenaifannya tentang anggota Puri.
Taehyung menarik napas dan malah membantu Lakshmi mensuwir-suwir daging ayam sebelum diaduk bersama sambel matah yang dibuat Jeongguk. Dia memfokuskan isi kepalanya ke gerakan tangannya ketika Jeongguk menuang rajangan cabai, bawang merah, serai, dan sedikit jahe ke dalam suwiran ayam dan Taehyung mengaduknya sebelum mengangkat tangannya, memberi ruang bagi Lakshmi menuang minyak panas ke dalamnya. Menggunakan sendok, dia mengaduknya lalu mengajak semuanya makan.
“Bagaimana persiapan kalian?” Tanya Lakshmi berbisik ketika mereka makan bersama.
Taehyung menatap makanannya sebelum mengangguk. “Semua barang sudah di bagasi mobil, kami siap berangkat kapan saja. Berkas-berkas penting juga sudah di tas Jeongguk: KTP dan SIM sudah ada di dompetku.” Dia mengambil sepotong ayam dan sambel, menyuapnya dengan nasi menggunakan tangan.
Lakshmi duduk di sisinya, menumpukan piring di lututnya seraya mengunyah perlahan. Jeongguk dan Wisnu duduk dekat ibu mereka, sedang mengobrol namun ibu Taehyung menatap Jeongguk—ekspresinya tidak terjelaskan. Dia makan bersama mereka, berubah sangat pendiam hari ini. Taehyung pikir mungkin karena duka kehilangan suaminya yang tidak terlalu disukai banyak orang.
“Bagaimana dengan Ibuk?” Tanya Lakshmi perlahan.
Taehyung menghela napas berat, membenci ini. “Aku akan membicarakannya dengan Ibuk malam ini. Memaksanya pulang ke rumah adiknya. Aku sudah menelepon Bik Ani, katanya dia akan menerima Ibuk. Aku akan mengirimkan uang untuk mereka tiap bulan.”
Lakshmi menatapnya, Taehyung menghindari tatapannya—memindahkan isi piring ke mulutnya dengan seksama. Makanannya mulai terasa getir sekarang ketika dia memikirkan keharusannya berbicara dengan ibunya ketika seluruh dirinya menjerit menginginkannya pergi saja; meninggalkan ibunya sesuai keinginannya. Lelah bertanggung jawab atas emosi orang lain.
“Kau akan mengganti nomormu?” Tanya Lakshmi.
Taehyung mengangguk. “Detik aku keluar dari rumah ini, aku akan memusnahkan nomor lamaku.” Katanya, mengikuti saran Jimin untuk memutus ikatannya dengan rumah—mengganti nomornya, mengisi ponselnya dengan nomor-nomor baru.
“Kau akan menghubungi Mbok Gek?”
Taehyung menghela napas, senyuman kecil terbit di bibirnya dan dia menoleh ke Lakshmi. Dia meletakkan piringnya di pangkuan lalu menggunakan tangannya yang bersih untuk mengetuk kening Lakshmi lembut. “Tentu saja.” Katanya parau, merasakan kesedihan bercokol di pangkal tenggorokkannya.
“Hanya jika Mbok Gek berjanji tidak akan memberikan nomorku pada siapa-siapa apa pun yang terjadi.” Katanya dan Lakshmi mengangguk.
Taehyung bisa memercayai kakaknya. Satu dari sekian orang yang akan dipertahankan dalam kehidupannya. Dia memeluk kakaknya erat dan hangat ketika dia berpamitan pulang selepas sore, keduanya tahu mungkin itulah kali terakhir mereka bisa berpelukan sebelum dunia mereka jungkir balik—mengejar kebahagiaan masing-masing.
“Kami akan berkunjung.” Bisik Wisnu pasti ketika menyalami Taehyung dan memeluknya setengah badan, menepuk punggungnya hangat. Dia tahu rencana Taehyung dan sejauh ini, tidak tahu orientasi seksual Taehyung tapi dari tatapannya sepertinya dia mendapatkan satu-dua klu mengenai itu.
Dan Taehyung menghargai sikapnya yang berpura-pura bodoh.
“Terima kasih, Bli.” Sahut Taehyung sebelum melepaskannya.
Lakshmi tidak melepaskan tatapannya dari adiknya ketika mobil perlahan meluncur keluar dari Puri, bergabung dengan jalanan. Dia melambai, menahan air mata sebelum menarik dirinya masuk ke dalam mobil. Taehyung masih berdiri di sana, tangannya setengah terangkat setelah melambai ke kakaknya.
Setelah ini, dia tidak akan terlalu sering bertemu kakaknya. Dia menghabiskan sepanjang hidupnya bersama Lakshmi, menempel padanya seperti lintah. Sekarang dia tidak akan bertemu Lakshmi, tidak bisa memeluk kakaknya, menangis di pelukannya ketika dia patah hati karena Jeongguk....
Dia sendirian.
“Ayo, masuk. Kita bersiap.”
Atau mungkin tidak.
Taehyung tersenyum ketika telapak tangan Jeongguk yang panas menyentuh bagian punggung bawahnya. Dia tidak sendirian. Dia bersama Jeongguk yang akan berusaha membahagiakannya apa pun yang terjadi. Dia menoleh, menemukan Jeongguk tersenyum padanya.
“Aku punya satu hal lagi untuk diselesaikan.” Katanya, mendadak merasa yakin ibunya akan menuruti kemauannya kali ini. Akan menjelaskan bahwa dia dipindahkan bekerja ke pulau lain dan berharap ibunya mau bekerja sama agar Taehyung tetap bisa menjaganya.
Jeongguk mengangguk. “Aku menunggu di kamar, akan membereskan semuanya.” Dia melangkah di sisi Taehyung menuju Puri. “Jika Ibuk setuju untuk pulang ke rumah adiknya, kita akan berangkat pagi-pagi dan menurunkannya di rumah.
“Jika tidak,” Jeongguk berhenti di undakan teratas dan menatap Taehyung. “Maka kita berangkat malam ini.”
Taehyung menarik napas dan mengangguk. Mereka membutuhkan ultimantum ini; lingkungan mereka sudah tidak lagi ramah pada mereka sekarang. Mereka harus segera pergi selama tidak ada yang belum melakukan apa pun pada mereka, sebelum Puri menggeliat karena Taehyung yakin mereka akan mengusir Taehyung detik ayah Taehyung selesai diupacarai.
Mereka berpisah. Jeongguk beranjak ke kamar Taehyung untuk mandi dan bersiap sementara Taehyung melangkah ke kamar ibunya yang pintunya masih terbuka dengan lampu menyala. Dia belum tidur, kebetulan. Taehyung menaiki undakan, melepas sandalnya di undakan terakhir lalu melangkah di lantai yang dingin ke pintu masuk.
“Ibuk?” Panggilnya lembut, melongok ke dalam kamar yang beraroma khas orang tua dengan minyak angin dan bedak.
Ibunya menoleh, sedang melipat pakaian kotornya di atas ranjang yang digunakannya dengan ayahnya. “Tugung.” Sahutnya tersenyum lembut, matanya berkilat namun dengan emosi yang tidak dipahami Taehyung.
“Tugung masuk, nggih?” Ujar Taehyung lalu melangkah ke dalam kamar, teringat bagaimana jika dia dipanggil ke kamar orang tuanya itu hanya berarti dia melakukan kesalahan.
Kamar itu seperti yang selalu Taehyung ingat. Ayahnya menyimpan semua alat upacara dari perak di sana, di ruang belakang. Ada ranjang dan televisi di sana; sempat membuat dia dan kakaknya iri karena kamar mereka tidak memiliki televisi. Namun bahkan ketika mereka sudah memiliki penghasilan sendiri, ayah mereka tidak mengizinkan mereka memiliki televisi di kamar mereka.
“Tidak boleh begadang.” Begitu alasannya—konyol untuk anak mereka yang sudah berusia nyaris empat puluh.
“Ibuk lelah?” Tanyanya ketika duduk di ranjang yang berderit, di sisi ibunya. Taehyung meraih tangannya dan memijatnya lembut—tidak yakin bagaimana harus memulai pembicaraan itu.
“Tidak terlalu.” Sahut ibunya parau, tersenyum lemah dan menatap tangannya yang sedang dipijat ibunya. “Tugung?” Panggilnya.
“Nggih, Ibuk?”
“Tugung apa tidak berniat menikah?” Tanyanya dan Taehyung seketika membeku, jantungnya mencelos. Napasnya berhenti. Dia tahu pertanyaan semacam ini akan selalu datang, namun tidak sekarang. “Agar ada yang mengurus keperluan Tugung di rumah, menemani Ibuk juga di Puri.” Lanjut ibunya perlahan dengan nada mendamba yang mengirimkan tikaman rasa bersalah di dadanya.
“Tugung sudah akan empat puluh,” ibunya mendongak menatap Taehyung yang bungkam, tidak yakin bagaimana menanggapi permintaan ibunya yang ini. “Jangan terlalu lama menunda lagi.”
Taehyung menghela napas, meremas tangan ibunya. “Ibuk,” katanya. “Bagaimana jika Ibuk tinggal bersama Bik Ani mulai sekarang? Tugung akan berangkat ke Sumatra, bekerja.” Mulainya perlahan dan tidak menatap ibunya saat mengatakannya.
“Sumatra?” Ulang ibunya, terdengar sakit hati—seolah baru saja dikhianati dengan begitu keji oleh Taehyung. “Tugung kemarin bilang akan bekerja di Bali? Berangkat dari Puri?”
Taehyung menggertakkan giginya, menahan diri mendengar tuduhan keras dalam nada suara ibunya. Kenapa mereka selalu menyalahkan Taehyung ketika dia melakukan apa yang diinginkannya? Selalu membuatnya merasa bersalah karena melakukan apa yang dirasanya benar untuk dirinya sendiri?
“Ada perubahan, Ibuk. Jadi Tugung akan bekerja di Sumatra,” dan dia bergegas menambahkan ketika ibunya membuka mulut untuk mendebatnya. “Dan Tugung tidak bisa menolaknya. Ini dari pusat, Ibuk.”
Ibunya terenyak, nampak sangat menderita dan tidak terima atas informasi baru itu. Mereka sejenak bersidiam, tidak ada yang bicara sementara suara binatang malam mulai terbit dan sengol beberapa meter dari Puri mereka mulai bangun—suara-suara obrolan, penggorengan yang dikeluarkan, aroma makanan. Lakshmi sering membeli lauk makan di sana jika malas memasak.
Taehyung menunduk, menatap tangan ibunya dan memijatnya lembut. “Ibuk tidak bisa memercayai orang Puri sekarang setelah Ajung meninggal. Mereka tidak menyukai kita.” Gumamnya, kehilangan semua kepercayaan dirinya tadi setelah satu serangan kekecewaan dari ibunya. “Mereka akan mengusir kita sebentar lagi, setelah semua urusan Ajung selesai. Tugung yakin. Mereka tidak pernah menyu—”
“Tugung?”
Taehyung berhenti meracau, dia mendongak menatap ibunya dan menyadari perubahan emosinya. Wajahnya berkerut, dipelintir emosi yang Taehyung sama sekali tidak kenali; kecewa, sedih, kaget, kebingungan, resah....
Sesuatu bergerak di dalam dirinya. Mendengungkan alarm keras yang membuat Taehyung sejenak kebingungan. Dia merasakan kegelisahan dan ketakutan yang merayap dari tulang ekornya ke permukaan punggungnya; seperti ribuan laba-laba kecil yang ditumpahkan ke punggungnya. Dia merasa dingin, ketakutan dan kebingungan oleh perasaan takut itu.
“Ya, Ibuk?” Bisiknya.
Ekspresi ibunya berat oleh kekecewaan dan rasa takut, begitu kental dan pekat hingga Taehyung bisa merasakan perasaan itu pahit di pangkal lidahnya ketika dia menarik napas dan mengatakan, “Tugung gay?”
Glosarium:
Pemangku: pemimpin upacara adat skala kecil.
Sanggah rong tiga: salah satu bentuk pura/pelinggih.
Polls Reveal:
Bell: Ibuk tahu mereka pacaran. (Winner) Muted bell: Ibuk gak tau.