Gourmet Meal 608
tw // horror , supranatural , moral ambiguity .
Taehyung menunggu Jeongguk dengan sedikit cemas.
Semalam ketika mereka tersambung di telepon Jeongguk terdengar gelisah dan ketakutan. Taehyung tidak yakin seberapa 'nyata' mimpi Jeongguk semalam namun mendengar ceritanya tentang betapa takutnya dia pada pamannya itu, Taehyung yakin mimpi sesederhana itu berhasil mengguncangkan mentalnya.
Lakshmi sudah menyiapkan bawaan mereka untuk pergi ke ahli tenung yang akan menjadi media meluasang jiwa ayah mereka untuk mencari tahu apakah masih ada hutang sekala atau niskala yang mungkin harus keluarga selesaikan demi memudahkan perjalanan jiwanya pulang. Dia dan ibu mereka juga akan ikut bersama Taehyung serta Jeongguk hari ini. Namun akan keluar setelah sesi ayah mereka selesai untuk memberi privasi bagi Jeongguk ketika Taehyung menceritakan keinginan Jeongguk.
Taehyung menatap ponselnya, sudah empat puluh menit sejak Jeongguk memberi tahu bahwa dia akan berangkat ke Klungkung. Dia biasanya memakan waktu 50-55 menit karena berkendara cukup cepat di jalan maka seharusnya Jeongguk sudah dekat. Taehyung membenahi udeng di kepalanya, merasa sedikit cemas tentang Jeongguk. Seharusnya dia mendesak kekasihnya tadi untuk menjemputnya ke Karangasem saja karena Taehyung tidak yakin dengan kondisinya setelah semalam.
Dia bangkit, membenahi kain di kakinya sebelum menyelipkan ponsel ke saku depan denim yang dikenakannya lalu melangkah keluar kamar menemukan kakaknya sedang mengisi bokor dengan gula, beras, canang dan sejumlah uang sesari sebagai bayaran atas bantuan ahli tenung mereka. Taehyung menuruni undakan, merasa jauh lebih rileks di rumahnya sendiri apalagi sejak Tuniang-nya memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di bagian lain Puri sehingga bagian rumah ini hanya untuk mereka bertiga.
Bernapas di rumah tidak pernah terasa selega ini selama tiga puluh tujuh tahun Taehyung hidup.
Dia menghampiri Lakshmi yang mengenakan kebaya brokat cantik di kulitnya, nampak luar biasa bersinar setelah resmi bertunangan dengan Wisnu. Dia menggelung rambut panjangnya, menyematkan setangkai anggrek bulan putih besar di sana dan membentuk poni tipis di keningnya.
“Semua sudah siap?” Tanya Taehyung, sekali lagi melirik jam di ponselnya—mengecek apakah Jeongguk mengiriminya pesan.
“Sudah Tugung, tinggal menunggu Turah saja. Ibu masih di kamar, bersiap.” Lakshmi menutupi bagian atas bokor perak sepuhan mereka dengan jejaring yang dibuat dari rajutan dan menambahkan tutup bokor untuk menahannya sebelum mengusap keringat di atas bibirnya dengan punggung tangan.
Dia menoleh ke arah pintu masuk rumah mereka juga sebelum menatap adiknya. “Turah bagaimana?” Tanyanya.
Taehyung merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dan mengerutkan alis. Jeongguk masih belum mengiriminya pesan. “Tidak ada kabar.” Katanya, sejenak terserang rasa panik—takut terjadi sesuatu pada kekasihnya dalam perjalanan karena ada proses pembangunan pura yang lumayan besar di Bugbug.
Dia menekan tombol 'Panggil' di atas ruang obrolannya dengan Jeongguk dan menunggu nada panggil berbunyi seraya menatap jalan masuk Puri mereka—berharap kekasihnya muncul dari sana karena perasaan gelisah di hatinya terasa semakin pekat dan membuatnya tidak nyaman. Jeongguk selalu berkendara dengan tenang dan terampil, Taehyung yang lebih tidak stabil di balik kemudi. Namun ada banyak hal yang bisa terjadi di perjalanan, 'kan?
Nada dering berbunyi dan terus berbunyi sementara Taehyung menatap lurus pintu masuk Puri dengan Lakshmi yang cemas berdiri di sisinya, nampak sama gelisahnya—menyerap energi negatif adiknya. Taehyung baru saja akan mematikan sambungan ketika mendadak teleponnya diangkat dan dia menghela napas tajam.
“Wigung?” Sapa suara Jeongguk dari seberang sana dan Taehyung menghela napas lega bersama Lakshmi yang nampak rileks. “Aku sudah dekat, maaf tadi ada kemacetan di Sang Hyang Ambu. Ada alat berat di sana jadi satu ruas jalan ditutup.”
“Ya,” sahut Taehyung lega—mendadak merasa ingin duduk karena lemas oleh perasaan lega. Kekasihnya baik-baik saja. “Ya, tidak masalah.” Katanya.
Jeongguk datang beberapa saat kemudian, menaiki undakan dengan kemeja satin polos berwarna cokelat tanah yang menggantung di tubuhnya. Dia mengepit udeng di bawah lengannya dan bergegas menggunakannya ketika tiba di halaman utama Puri. Taehyung menyambutnya, meraih udeng-nya untuk membantu Jeongguk mengenakannya—merapikan sampul ikatan udeng lembaran Jeongguk yang sedikit melonggar. Jeongguk menatapnya, kantung mata nampak di bawah matanya dan dia lebih pucat dari biasanya—namun senyumannya tetap meneduhkan.
“Aku terlambat, ya?” Tanyanya parau dan Taehyung mengerutkan alis mendengar suaranya. “Maaf.” Dia mengusap kepala Taehyung sejenak dan menurunkan tangannya persis ketika pintu kamar ibunya terbuka.
“Swastyastu, Atu Ngurah.” Sapanya ramah dan Jeongguk langsung menoleh, tersenyum ramah pada ibu Taehyung.
“Swastyastu, Ibuk.” Balasnya, bergegas menghampiri ibu Taehyung dan membantunya menuruni undakan dengan kain yang membalut kakinya dengan cantik. “Maaf tiang terlambat, ada kemacetan di jalan.”
Ibu Taehyung tergelak lembut. “Tidak apa-apa, tidak ada yang dihukum.” Sahutnya dengan tangan menggenggam lengan bawah Jeongguk yang kuat saat menuruni tangga yang lumayan tinggi.
Ibu Taehyung belakangan ini nampak meredup sejak ayah mereka meninggal. Rambut keperakan di atas keningnya semakin banyak, tubuhnya yang semula berisi kini nampak layu dan semakin kurus. Sinar di wajahnya, yang membuat kecantikan eksotisnya menyala kini juga semakin redup. Taehyung tidak menyadari seberapa besar ibunya mencintai ayahnya hingga ayahnya meninggal karena kematiannya menghisap kehidupan dari tubuh ibunya.
Taehyung menghela napas, memutuskan untuk meninggalkan ibunya di Puri tidak terasa benar sama sekali. Namun seberapa banyak kerusakan yang akan dibuatnya jika memisahkan ibunya dari satu-satunya tempat yang mengikatnya dengan cintanya? Dia mengulurkan tangan, merangkul bahu ibunya dari sisi kiri bersama Jeongguk dan menghirup aroma tubuhnya.
“Kenapa ini?” Tanya ibunya geli menepuk bahu Taehyung. “Kenapa semua menempel dengan Ibu?”
Taehyung mengecup pelipis ibunya, merasakan keriput kulit ibunya di bibirnya. “Jeongguk seperti akan merebut Ibu dari Tugung.” Katanya bergurau dan Jeongguk tergelak bersama ibunya.
Mereka berangkat menggunakan mobil Jeongguk, lebih mudah untuk ibu Taehyung dengan Taehyung yang mengemudi karena Jeongguk nampak kelelahan. Lakshmi duduk di sisi ibunya, memangku bokor yang lumayan berat. Mobil itu harum dan bersih, Taehyung menyadari semua isinya sudah dikeluarkan dengan sedikit perasaan sedih di hatinya.
Mobil ini menandai kali pertama Taehyung menyadari bahwa dia mencintai Jeongguk—perasaan yang tidak dipahaminya sama sekali, perasaan asing yang membuatnya bertanya-tanya dan kebingungan. Di mobil ini, beberapa tahun lalu, dia duduk dalam gelap menunggu Jeongguk dan menghirup aroma tubuh Jeongguk yang menempel permanen di permukaan semua kursinya. Sekarang mobil ini sudah menjadi milik Yugyeom, surat-surat balik namanya sudah selesai dan ditebus. BPKB dan STNK-nya semua atas nama Yugyeom—Jeongguk akan membantu mengirimkan uang samsat jika Yugyeom belum memiliki pekerjaan yang memadai atau dia bisa membicarakannya dengan ayah mereka setelah Jeongguk pergi.
Taehyung mengusap roda kemudi dengan perasaan nostalgia yang menyesakkan. Dia melirik Jeongguk yang menyandarkan tubuh di kursi penumpang dan memejamkan mata—nampak kelelahan. Dia melirik Lakshmi dari spion tengah dan menyadari kakaknya juga sedang menatapnya dengan ekspresi bertanya.
Taehyung melirik Jeongguk dan Lakshmi mengangguk. Mereka kemudian jatuh dalam keheningan selama perjalanan ke ahli tenung. Di sana sudah ramai ketika mereka tiba dan Lakshmi ditemani Jeongguk bergegas masuk untuk mengecek nomor antrian mereka sementara Taehyung menemani ibunya setelah memarkir mobil. Banyak orang di sana karena dua bulan lagi ada hari baik untuk Ngaben, maka mereka datang untuk meluasang keluarga mereka yang meninggal sebelum menyucikan jiwanya.
Dia memasuki halaman itu, mengangguk pada beberapa orang yang mengenalinya dan menyalami mereka berbasa-basi mengenai urusan meluasang ayahnya serta menyikapi ucapan turut berduka mereka. Ekor matanya menemukan Jeongguk dan Lakshmi berdiri di sudut, sudah mendapatkan nomor mereka. Taehyung sudah menghubungi mereka melalui telepon kemarin dan diminta datang sebelum pukul sepuluh pagi karena antrian banyak. Ahli tenung ini lumayan terkenal di Klungkung sehingga banyak tamu yang mendatanginya.
“Bagaimana?” Tanya Taehyung, menyeret kursi plastik yang kosong untuk ibunya duduk. “Kita akan dipanggil jam berapa?”
Lakshmi menyeka keringat di atas bibirnya, hal yang biasa terjadi ketika dia gelisah dan cemas. “Satu jam lagi jika tidak lama.” Katanya dan Jeongguk mengangguk, celingukan mencarikan kursi kosong untuk Lakshmi yang menitipkan bokor beratnya di pangkuan ibunya karena dia lelah membawanya di kepala.
Jeongguk melangkah ke sudut rumah, menemukan kursi kosong dan menariknya untuk Lakshmi yang berterima kasih seraya duduk di sisi ibunya, kembali memangku bokor-nya. Taehyung berdiri di sisi Jeongguk, sedikit menjauh dari ibu dan kakaknya.
“Kau baik?” Tanyanya berbisik dan Jeongguk mengangguk, mengusap wajahnya.
“Hanya kurang tidur,” keluhnya lalu menguap tertahan. “Jika kita pulang lebih awal, aku ingin tidur sebentar di kamarmu.”
Taehyung mengangguk. “Aku akan memasak sesuatu untukmu sebelum tidur.” Dia mengusap tangan Jeongguk sekali—ingin memeluknya dan menenangkannya.
Jeongguk mengangguk. “Aku sudah menambahkan sesari dengan uangku karena kita akan meminta dua sesi peluasang.” Katanya pada Taehyung yang menatapnya, sedikit resah pada penampilan kekasihnya.
“Ajung tidak bertanya?” Tanyanya.
Jeongguk mengangguk. “Kukatakan aku akan menemanimu meluasang Ajung dan dia mengizinkanku. Dia semakin hari semakin membuatku tidak nyaman karena sangat...,” dia mengerutkan alisnya. “Pengertian. Maksudku, selalu bertanya aku akan ke mana, jam berapa aku pulang, makan di rumah atau tidak; hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ditanyakannya padaku.”
Taehyung menatapnya. Dia tidak mengenal Wak Anom ini, namun dari reaksi keluarga mereka atas almarhum, dia pastilah seseorang yang sangat disayangi. “Apakah kau tahu apa yang menyebabkan penyakit itu? Maksudku....” Dia berhenti, tidak berani menyuarakan pikirannya.
“Entahlah.” Sahut Jeongguk, mengerjap. Dia memijat pelipisnya, nampak kelelahan. “Ketika aku mulai bisa mengingat, Wak Anom sudah terbaring sakit sepanjang waktu dengan kondisi penyakit yang parah. Menurut Biang, Wak Anom tertular dari penggunaan jarum suntik yang tidak higienis. Tapi Biang tidak menceritakan lebih banyak karena ketika mereka menikah, Wak Anom sudah sakit tapi belum parah.”
“Penyakitnya mulai semakin parah setelah aku berusia tujuh tahun,” Jeongguk mengerutkan alisnya. “Tidak banyak yang kuingat, tapi Puri selalu muram dan sedih. Seperti merahasiakan penyakit itu, merahasiakan Wak Anom. Kau tahu bagaimana masyarakat Indonesia menyikapi penderita HIV/AIDS padahal penyakit itu hanya bisa menular lewat seks dan penggunaan jarum suntik.”
Taehyung mengerutkan wajahnya, tidak terlalu nyaman mendengarkan cerita Jeongguk. Dia menderita penyakit tanpa obat begitu lama hingga semua orang mengingatnya dalam keadaan lemah dan sakit. Tidak heran jika Jeongguk yang masih kecil ketakutan pada kondisinya—tidak memahami apa pun sama sekali, bertemu kakak ayahnya dalam keadaan sakit parah terisolasi sendirian dari dunia di kamarnya.
Dia menepuk bahu kekasihnya, meremasnya lembut. “Kita akan mengetahui jawabannya sekarang.” Katanya menyemangati. “Kenapa dia memutuskan datang menegur ayahmu.”
Aroma menyan membuat Jeongguk sedikit pening. Ruangan ahli tenung itu tidak gelap, malah sangat terbuka. Dia duduk di balai sekaa pat di halaman Merajan-nya yang dipenuhi aroma dupa pekat dan bebungaan—bertelanjang dada dengan kain hitam-putih membalutnya hingga ke pinggang.
Lakshmi meletakkan bawaan mereka di dekatnya, diterima oleh istrinya yang adalah asistennya untuk diterima isinya. Ibu Taehyung dan Lakshmi duduk di depan, berjejer bersama Taehyung sementara Jeongguk duduk di belakang, agak jauh—tidak ingin menginterupsi prosesi sakral itu.
Ahli tenung merapalkan mantra, memejamkan mata seraya bibirnya bergerak perlahan dan Jeongguk mengamatinya dengan penasaran—ini kali pertama dia ikut bersama ke dalam prosesi meluasang seseorang dan penasaran bagaimana caranya. Dia menyalakan dupa, mengucapkan banyak mantra dan menanyakan Taehyung siapa nama ayahnya sebelum menyelipkan nama itu dalam mantranya.
Lalu mendadak dia berhenti merapalkan mantra dan bertanya parau dalam bahasa Bali halus. “Apakah niki Tjok Krshna?” Lalu dia diam dan suaranya berubah.
“Tugung.”
Jeongguk bergidik, suara itu adalah suara ayah Taehyung—persis sekali. Melempar Jeongguk kembali ke malam ketika dia terperangkap di bawah kasur Taehyung dengan kancing jins menekan perutnya. Suara berat, penuh otoritas dan dominasi—Jeongguk melirik Taehyung yang bahunya seketika menegang mendengarnya. Luar biasa bagaimana ahli tenung bisa menyediakan ruang untuk jiwa itu memasukinya—mengambil alih pita suaranya.
Tubuh ahli tenung itu sedikit bergoyang, pandangannya tidak lurus dan suaranya bergemuruh—seperti sedang berkumur-kumur namun suara itu adalah suara ayah Taehyung.
“Ajung,” bisik Taehyung—terdengar ketakutan dan Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Ajung, Tugung datang bersama Ibuk dan Mbok Gek.”
“Ya.” Sahut suara itu dan Jeongguk menonton dari kejauhan dengan gelisah. “Rumah bagaimana?” Nada bosan dan mencela itu, persis sekali dengan ayah Taehyung namun wajah ahli tenung yang lebih ramah sama sekali tidak cocok dengan nada suaranya sekarang.
Taehyung mengerjap. “Rumah baik-baik, Ajung. Astungkara.” Katanya perlahan, melirik kakaknya yang sama tidak nyamannya dengan Taehyung ketika harus mendengarkan suara ayahnya kembali.
“Tugung sudah makan?” Tanya ayahnya lagi, tubuh ahli tenung itu bergerak—bergoyang perlahan. Mungkin sedang berusaha mempertahankan dua jiwa di dalamnya—tidak ada cukup ruang di dalam sana untuk keduanya.
“Sudah, Ajung.” Sahut Taehyung kemudian menghela napas. “Mbok Gek menemukan uang di lemari Pesimpenan, ada banyak. Itu uang napi Ajung?”
Sejenak ekspresi ahli tenung itu berubah, seolah sedang berpikir. “Uang?” Ulangnya linglung dalam suara ayah Taehyung. Lalu dia mengerjap dan mengangguk perlahan. “Uang Gus Adnyana. Kembalikan.”
Taehyung menghembuskan napas. “Sudah, Ajung. Sudah Tugung kembalikan.” Dia mengangguk. “Jung Alit juga tidak setuju tentang pernikahan dengan Dayu, jadi dibatalkan sekalian.”
“Hmm....” Katanya, panjang dan lama—ahli tenung bergerak, matanya mengerjap. Bola matanya bergerak sejenak, mencari-cari. “Ya, jangan.” Tambahnya kemudian. “Tidak perlu. Menikah. Tidak.” Dia menggeleng lalu mengerjap kembali.
Taehyung mengangguk. “Nggih, Ajung.” Katanya lalu melirik kakaknya. “Ajung, niki Tugung akan melaksanakan Ngaben untuk Ajung, nggih. Jadi, Tugung ingin tahu; apakah ada hutang atau sesangi yang harus Tugung bayarkan untuk Ajung sebelum Ngaben?”
“Hmm...“
Jeongguk menahan napas, tidak menyukai bagaimana suara ayah Taehyung terdengar dari tenggorokan ahli tenung. Dia membenci aroma menyan di dalam sana, aroma bebungaan, sedikit arak yang digunakan untuk sembahyang. Jeongguk pusing sekali, dia bersandar di saka balai perabotan ahli tenung dan memejamkan mata—tidak yakin apakah sakit di kepalanya karena aroma menyan atau kurang tidur atau bahkan suara ayah Taehyung.
“Hutang Gus Adnyana, Svari.”
Ibu Taehyung tersentak kecil lalu bergegas mengangguk. “Nggih, Ajung.” Sahutnya, menangkupkan tangan di dadanya. “Sudah dibayarkan Tugung kemarin. Ajung wenten hutang lain?”
Ahli tenung itu menggeleng perlahan. “Hutang Gus Adnyana.” Ulangnya lagi, seperti boneka rusak. “Uang tidak Ajung gunakan, semua di lemari. Tidak mau.“
“Nggih, Ajung.” Sahut ibu Taehyung mengangguk, sedikit membungkuk—menunjukkan pengabdiannya pada ayah Taehyung. “Sudah, nika sudah diurus Tugung hari itu juga.”
Ahli tenung mengangguk perlahan lalu menoleh ke Lakshmi yang menahan napas. “Menikah?” Tanyanya.
Lakshmi merona dan mengangguk. “Tugung mengizinkan tiang menikah, Ajung. Jadi kemarin keluarga Gus Wisnu datang untuk nyedek.” Dia melirik tubuh ahli tenung itu lalu mengulurkan tangannya perlahan—membiarkan beliau melihat cincinnya.
“Siapa yang menerima?” Tanyanya parau.
“Tugung, Ajung.” Sahut Taehyung lalu menambahkan. “Dibantu Ajung Gung Jeongguk.”
“Sira nika?” Siapa itu? Tanya ayahnya, alis ahli tenung itu mengerut dalam-dalam—menunjukkan ketidaksukaannya karena Taehyung menyebutkan nama yang tidak dikenalnya.
“Teman kerja Tugung, Ajung. Ajung-nya kenal dengan Tugung, belum sempat ke Puri bertemu Ajung. Dari Puri Karangasem.” Jelas Taehyung menoleh ke Jeongguk yang bergegas bangkit dan menghampiri mereka. “Niki orangnya bersama kami.”
Mata ahli tenung yang sedikit merah itu menatap Jeongguk persis di matanya dan dia menahan napas. Ini kali pertamanya betatapan langsung dengan ayah Taehyung melalui tubuh yang bukan miliknya—tatapan itu menusuk persis ke jantungnya, memberikan efek seolah Jeongguk sudah sangat mengecewakannya sepanjang kehidupan ini. Efek yang hanya bisa diciptakan oleh ayah Taehyung—dan yang membingungkan adalah apakah sifat itu muncul sebagai mekanisme pertahanan diri setelah selama bertahun-tahun diinjak secara emosional oleh ayah Devy atau memang itulah sifat aslinya?
“Swastyastu, Ajung.” Katanya. “Tiang Jeongguk.”
Ahli tenung itu menatapnya lalu mengangguk perlahan. “Nggih, swastyastu.” Katanya. “Salam untuk Ajung, suksma sudah membantu keluarga tiang.”
Jeongguk mengerjap, sejenak kaget namun bergegas mengontrol ekspresinya dan mengangguk. “Oh, nggih, Ajung. Nggih, suksma mewali.” Dia menakupkan tangannya di dada dan membungkuk perlahan.
Sisa sesi hanya diisi ayah Taehyung untuk bertanya persiapan pernikahan Lakshmi, nampak tidak terlalu keberatan tentang anak sulungnya menikah mendahului Taehyung. Mereka mengobrol, mulai semakin rileks sebelum ayah Taehyung mendadak menangis—suaranya begitu menyayat hati, nyaris seperti bukan suara manusia ketika dia meminta maaf pada Taehyung dan Lakshmi tentang masa kecil mereka. Tentang semuanya. Menceritakan kisah bagaimana ayah Devy membulinya sejak remaja, pukulan pertamanya, uang pertama yang dipinjamnya untuk bermain judi. Tidak ada yang bertanya tentang itu, ayah Taehyung mendadak meledak dengan ingatannya sendiri.
Ahli tenung terisak-isak, tersengal oleh ledakan emosi itu seraya bicara dengan parau dan tersedak oleh isakannya sendiri. Tersedu-sedu hingga anak sulung lelakinya harus menyangganya agar tidak terjatuh ke belakang tempatnya duduk. Dia menangis dan terus menangis, tersedu-sedu memohon maaf dari anak-anaknya.
“Jika Ajung tidak dimaafkan, Ajung tidak bisa melangkah.” Isaknya, mengeluarkan suara-suara mengerang panjang yang membuat Jeongguk memejamkan mata dan menggertakkan giginya—suara itu bukan suara manusia, terdengar dari dalam tenggorokan ahli tenung, sangat menderita.
Taehyung dan Lakshmi gugup, ketakutan sementara ibu mereka menangis. Keduanya bertukar pandangan, sama sekali tidak yakin apakah mereka harus memaafkan ayah mereka atau tidak. Lakshmi sudah jelas mengatakan dia tidak akan memaafkan tindakan ayahnya sama sekali karena telah memberikan masa kecil yang sama sekali tidak menyenangkan untuk mereka—terlalu traumatis. Namun sekarang mereka dihadapkan di posisi ini: memaafkan atau ayah mereka tidak bisa meninggal dalam damai.
Jeongguk menatap kedua saudara itu, sangat terganggu oleh suara erang ahli tenung itu. Apakah itu suara derita ayah Taehyung?
“Dimaafkan saja,” tegur istri ahli tenung itu. “Nanti jalan Ajung dipersulit. Apakah kalian tega melakukannya pada ayah kalian?”
Jeongguk mengerutkan alisnya, tidak menyukai nada suara istri ahli tenung itu yang mencela kedua saudara di hadapannya yang mengambil waktu untuk berpikir apakah mereka bisa memaafkan ayah mereka. Salah adalah salah, siapa pun dia. Dia tidak berhak mencela waktu yang digunakan keduanya untuk mencerna semuanya.
Ayah mereka tega melakukan semuanya pada mereka, memberikan masa kecil yang traumatis—dibawa hingga mereka mati dalam bentuk depresi dan penyakit mental yang tidak akan lenyap atau sembuh.
Jeongguk meremas bahu Lakshmi yang gemetar—dia tahu Lakshmi tidak bisa memaafkan ayahnya sama sekali. Tidak sudi mungkin karena telah melakukan segalanya pada Lakshmi. “Kau hanya perlu mengucapkannya.” Bisik Jeongguk di bawah napasnya. “Lepaskan sakitnya.”
Lakshmi bernapas berat, sudah sangat dekat dengan tangis dan Jeongguk tidak menyukainya. Kedua saudara ini sudah cukup menderita, mereka tidak perlu dihadapkan pada hal semacam ini lagi sebagai hukuman—dipaksa memaafkan ayah mereka.
“Nggih, Ajung.” Sela suara Taehyung, tegas dan dingin. “Kami memaafkan Ajung.” Dan Jeongguk menoleh, melihat betapa keras dan berjaraknya ekspresi Taehyung—dia tidak terlalu merasakannya, hanya mengatakannya untuk menyelesaikan semuanya.
Pun jika mereka hendak memaafkan ayah mereka, butuh bertahun-tahun untuk melakukannya. Tidak bisa dilakukan dalam keadaan ditekan seperti ini—seolah mengancam mereka dengan kematian untuk memberikan apa yang dibutuhkan ayah mereka. Jeongguk menatap Taehyung yang menahan dagunya tinggi dengan ibunya terisak dalam pelukannya—Lakshmi menangis dalam rangkulan Jeongguk, entah karena mendengar erangan ayahnya atau karena dia tidak bisa memaafkannya.
Namun kalimat Taehyung, yang walaupun di telinga Jeongguk tidak terdengar terlalu tulus, berhasil membuat erang dan isak dari ahli tenung itu berhenti. Tubuhnya lemah, anak lelakinya membantu ahli tenung itu menegakkan tubuh dan membenahi duduknya—dia nampak kebingungan, mungkin karena satu jiwa meninggalkan tubuhnya.
Jeongguk bertatapan dengan Taehyung, menyadari air mata yang menggenang di matanya dan mengangguk perlahan. “Kau sudah melakukan hal yang benar.” Bibirnya bergerak, berharap Taehyung bisa membaca gerak bibirnya.
Bibir bawah Taehyung gemetar. Jeongguk tahu kedua saudara itu tidak bisa memaafkan ayahnya—belum atau tidak. Kejadian tadi hanya menambahkan luka baru di hati mereka dan Jeongguk membencinya. Dia ingin memeluk kekasihnya, menemaninya menangis namun mereka dihalangi norma masyarakat.
“Kau melakukan yang benar, kau sangat berani.” Bibirnya bergerak, menatap Taehyung yang pandangannya mengabur oleh air mata.
“Aku bangga padamu.”
Glosarium:
Bokor: pinggan besar berbentuk cekung dengan pinggiran lebar—biasanya terbuat dari kayu, perak dan anyaman. Bentuknya seperti baskom berat. Silakan di google <3
Sesari: uang yang diselipkan di atas persembahan masyarakat Hindu Bali.
Sekala dan niskala: duniawi dan non-duniawi
Sekaa empat: balai dengan empat tiang khas Bali.
Saka: tiang penyangga balai
Sesangi: nazar
Bahasa Bali:
Napi: apa
Nika: itu
Niki: ini
Sira: siapa
Wenten: ada