eclairedelange

i write.

tw // horror , supranatural , moral ambiguity .


Taehyung menunggu Jeongguk dengan sedikit cemas.

Semalam ketika mereka tersambung di telepon Jeongguk terdengar gelisah dan ketakutan. Taehyung tidak yakin seberapa 'nyata' mimpi Jeongguk semalam namun mendengar ceritanya tentang betapa takutnya dia pada pamannya itu, Taehyung yakin mimpi sesederhana itu berhasil mengguncangkan mentalnya.

Lakshmi sudah menyiapkan bawaan mereka untuk pergi ke ahli tenung yang akan menjadi media meluasang jiwa ayah mereka untuk mencari tahu apakah masih ada hutang sekala atau niskala yang mungkin harus keluarga selesaikan demi memudahkan perjalanan jiwanya pulang. Dia dan ibu mereka juga akan ikut bersama Taehyung serta Jeongguk hari ini. Namun akan keluar setelah sesi ayah mereka selesai untuk memberi privasi bagi Jeongguk ketika Taehyung menceritakan keinginan Jeongguk.

Taehyung menatap ponselnya, sudah empat puluh menit sejak Jeongguk memberi tahu bahwa dia akan berangkat ke Klungkung. Dia biasanya memakan waktu 50-55 menit karena berkendara cukup cepat di jalan maka seharusnya Jeongguk sudah dekat. Taehyung membenahi udeng di kepalanya, merasa sedikit cemas tentang Jeongguk. Seharusnya dia mendesak kekasihnya tadi untuk menjemputnya ke Karangasem saja karena Taehyung tidak yakin dengan kondisinya setelah semalam.

Dia bangkit, membenahi kain di kakinya sebelum menyelipkan ponsel ke saku depan denim yang dikenakannya lalu melangkah keluar kamar menemukan kakaknya sedang mengisi bokor dengan gula, beras, canang dan sejumlah uang sesari sebagai bayaran atas bantuan ahli tenung mereka. Taehyung menuruni undakan, merasa jauh lebih rileks di rumahnya sendiri apalagi sejak Tuniang-nya memutuskan untuk tinggal bersama pamannya di bagian lain Puri sehingga bagian rumah ini hanya untuk mereka bertiga.

Bernapas di rumah tidak pernah terasa selega ini selama tiga puluh tujuh tahun Taehyung hidup.

Dia menghampiri Lakshmi yang mengenakan kebaya brokat cantik di kulitnya, nampak luar biasa bersinar setelah resmi bertunangan dengan Wisnu. Dia menggelung rambut panjangnya, menyematkan setangkai anggrek bulan putih besar di sana dan membentuk poni tipis di keningnya.

“Semua sudah siap?” Tanya Taehyung, sekali lagi melirik jam di ponselnya—mengecek apakah Jeongguk mengiriminya pesan.

“Sudah Tugung, tinggal menunggu Turah saja. Ibu masih di kamar, bersiap.” Lakshmi menutupi bagian atas bokor perak sepuhan mereka dengan jejaring yang dibuat dari rajutan dan menambahkan tutup bokor untuk menahannya sebelum mengusap keringat di atas bibirnya dengan punggung tangan.

Dia menoleh ke arah pintu masuk rumah mereka juga sebelum menatap adiknya. “Turah bagaimana?” Tanyanya.

Taehyung merogoh sakunya, mengeluarkan ponselnya dan mengerutkan alis. Jeongguk masih belum mengiriminya pesan. “Tidak ada kabar.” Katanya, sejenak terserang rasa panik—takut terjadi sesuatu pada kekasihnya dalam perjalanan karena ada proses pembangunan pura yang lumayan besar di Bugbug.

Dia menekan tombol 'Panggil' di atas ruang obrolannya dengan Jeongguk dan menunggu nada panggil berbunyi seraya menatap jalan masuk Puri mereka—berharap kekasihnya muncul dari sana karena perasaan gelisah di hatinya terasa semakin pekat dan membuatnya tidak nyaman. Jeongguk selalu berkendara dengan tenang dan terampil, Taehyung yang lebih tidak stabil di balik kemudi. Namun ada banyak hal yang bisa terjadi di perjalanan, 'kan?

Nada dering berbunyi dan terus berbunyi sementara Taehyung menatap lurus pintu masuk Puri dengan Lakshmi yang cemas berdiri di sisinya, nampak sama gelisahnya—menyerap energi negatif adiknya. Taehyung baru saja akan mematikan sambungan ketika mendadak teleponnya diangkat dan dia menghela napas tajam.

Wigung?” Sapa suara Jeongguk dari seberang sana dan Taehyung menghela napas lega bersama Lakshmi yang nampak rileks. “Aku sudah dekat, maaf tadi ada kemacetan di Sang Hyang Ambu. Ada alat berat di sana jadi satu ruas jalan ditutup.”

“Ya,” sahut Taehyung lega—mendadak merasa ingin duduk karena lemas oleh perasaan lega. Kekasihnya baik-baik saja. “Ya, tidak masalah.” Katanya.

Jeongguk datang beberapa saat kemudian, menaiki undakan dengan kemeja satin polos berwarna cokelat tanah yang menggantung di tubuhnya. Dia mengepit udeng di bawah lengannya dan bergegas menggunakannya ketika tiba di halaman utama Puri. Taehyung menyambutnya, meraih udeng-nya untuk membantu Jeongguk mengenakannya—merapikan sampul ikatan udeng lembaran Jeongguk yang sedikit melonggar. Jeongguk menatapnya, kantung mata nampak di bawah matanya dan dia lebih pucat dari biasanya—namun senyumannya tetap meneduhkan.

“Aku terlambat, ya?” Tanyanya parau dan Taehyung mengerutkan alis mendengar suaranya. “Maaf.” Dia mengusap kepala Taehyung sejenak dan menurunkan tangannya persis ketika pintu kamar ibunya terbuka.

“Swastyastu, Atu Ngurah.” Sapanya ramah dan Jeongguk langsung menoleh, tersenyum ramah pada ibu Taehyung.

“Swastyastu, Ibuk.” Balasnya, bergegas menghampiri ibu Taehyung dan membantunya menuruni undakan dengan kain yang membalut kakinya dengan cantik. “Maaf tiang terlambat, ada kemacetan di jalan.”

Ibu Taehyung tergelak lembut. “Tidak apa-apa, tidak ada yang dihukum.” Sahutnya dengan tangan menggenggam lengan bawah Jeongguk yang kuat saat menuruni tangga yang lumayan tinggi.

Ibu Taehyung belakangan ini nampak meredup sejak ayah mereka meninggal. Rambut keperakan di atas keningnya semakin banyak, tubuhnya yang semula berisi kini nampak layu dan semakin kurus. Sinar di wajahnya, yang membuat kecantikan eksotisnya menyala kini juga semakin redup. Taehyung tidak menyadari seberapa besar ibunya mencintai ayahnya hingga ayahnya meninggal karena kematiannya menghisap kehidupan dari tubuh ibunya.

Taehyung menghela napas, memutuskan untuk meninggalkan ibunya di Puri tidak terasa benar sama sekali. Namun seberapa banyak kerusakan yang akan dibuatnya jika memisahkan ibunya dari satu-satunya tempat yang mengikatnya dengan cintanya? Dia mengulurkan tangan, merangkul bahu ibunya dari sisi kiri bersama Jeongguk dan menghirup aroma tubuhnya.

“Kenapa ini?” Tanya ibunya geli menepuk bahu Taehyung. “Kenapa semua menempel dengan Ibu?”

Taehyung mengecup pelipis ibunya, merasakan keriput kulit ibunya di bibirnya. “Jeongguk seperti akan merebut Ibu dari Tugung.” Katanya bergurau dan Jeongguk tergelak bersama ibunya.

Mereka berangkat menggunakan mobil Jeongguk, lebih mudah untuk ibu Taehyung dengan Taehyung yang mengemudi karena Jeongguk nampak kelelahan. Lakshmi duduk di sisi ibunya, memangku bokor yang lumayan berat. Mobil itu harum dan bersih, Taehyung menyadari semua isinya sudah dikeluarkan dengan sedikit perasaan sedih di hatinya.

Mobil ini menandai kali pertama Taehyung menyadari bahwa dia mencintai Jeongguk—perasaan yang tidak dipahaminya sama sekali, perasaan asing yang membuatnya bertanya-tanya dan kebingungan. Di mobil ini, beberapa tahun lalu, dia duduk dalam gelap menunggu Jeongguk dan menghirup aroma tubuh Jeongguk yang menempel permanen di permukaan semua kursinya. Sekarang mobil ini sudah menjadi milik Yugyeom, surat-surat balik namanya sudah selesai dan ditebus. BPKB dan STNK-nya semua atas nama Yugyeom—Jeongguk akan membantu mengirimkan uang samsat jika Yugyeom belum memiliki pekerjaan yang memadai atau dia bisa membicarakannya dengan ayah mereka setelah Jeongguk pergi.

Taehyung mengusap roda kemudi dengan perasaan nostalgia yang menyesakkan. Dia melirik Jeongguk yang menyandarkan tubuh di kursi penumpang dan memejamkan mata—nampak kelelahan. Dia melirik Lakshmi dari spion tengah dan menyadari kakaknya juga sedang menatapnya dengan ekspresi bertanya.

Taehyung melirik Jeongguk dan Lakshmi mengangguk. Mereka kemudian jatuh dalam keheningan selama perjalanan ke ahli tenung. Di sana sudah ramai ketika mereka tiba dan Lakshmi ditemani Jeongguk bergegas masuk untuk mengecek nomor antrian mereka sementara Taehyung menemani ibunya setelah memarkir mobil. Banyak orang di sana karena dua bulan lagi ada hari baik untuk Ngaben, maka mereka datang untuk meluasang keluarga mereka yang meninggal sebelum menyucikan jiwanya.

Dia memasuki halaman itu, mengangguk pada beberapa orang yang mengenalinya dan menyalami mereka berbasa-basi mengenai urusan meluasang ayahnya serta menyikapi ucapan turut berduka mereka. Ekor matanya menemukan Jeongguk dan Lakshmi berdiri di sudut, sudah mendapatkan nomor mereka. Taehyung sudah menghubungi mereka melalui telepon kemarin dan diminta datang sebelum pukul sepuluh pagi karena antrian banyak. Ahli tenung ini lumayan terkenal di Klungkung sehingga banyak tamu yang mendatanginya.

“Bagaimana?” Tanya Taehyung, menyeret kursi plastik yang kosong untuk ibunya duduk. “Kita akan dipanggil jam berapa?”

Lakshmi menyeka keringat di atas bibirnya, hal yang biasa terjadi ketika dia gelisah dan cemas. “Satu jam lagi jika tidak lama.” Katanya dan Jeongguk mengangguk, celingukan mencarikan kursi kosong untuk Lakshmi yang menitipkan bokor beratnya di pangkuan ibunya karena dia lelah membawanya di kepala.

Jeongguk melangkah ke sudut rumah, menemukan kursi kosong dan menariknya untuk Lakshmi yang berterima kasih seraya duduk di sisi ibunya, kembali memangku bokor-nya. Taehyung berdiri di sisi Jeongguk, sedikit menjauh dari ibu dan kakaknya.

“Kau baik?” Tanyanya berbisik dan Jeongguk mengangguk, mengusap wajahnya.

“Hanya kurang tidur,” keluhnya lalu menguap tertahan. “Jika kita pulang lebih awal, aku ingin tidur sebentar di kamarmu.”

Taehyung mengangguk. “Aku akan memasak sesuatu untukmu sebelum tidur.” Dia mengusap tangan Jeongguk sekali—ingin memeluknya dan menenangkannya.

Jeongguk mengangguk. “Aku sudah menambahkan sesari dengan uangku karena kita akan meminta dua sesi peluasang.” Katanya pada Taehyung yang menatapnya, sedikit resah pada penampilan kekasihnya.

“Ajung tidak bertanya?” Tanyanya.

Jeongguk mengangguk. “Kukatakan aku akan menemanimu meluasang Ajung dan dia mengizinkanku. Dia semakin hari semakin membuatku tidak nyaman karena sangat...,” dia mengerutkan alisnya. “Pengertian. Maksudku, selalu bertanya aku akan ke mana, jam berapa aku pulang, makan di rumah atau tidak; hal-hal yang sebelumnya tidak pernah ditanyakannya padaku.”

Taehyung menatapnya. Dia tidak mengenal Wak Anom ini, namun dari reaksi keluarga mereka atas almarhum, dia pastilah seseorang yang sangat disayangi. “Apakah kau tahu apa yang menyebabkan penyakit itu? Maksudku....” Dia berhenti, tidak berani menyuarakan pikirannya.

“Entahlah.” Sahut Jeongguk, mengerjap. Dia memijat pelipisnya, nampak kelelahan. “Ketika aku mulai bisa mengingat, Wak Anom sudah terbaring sakit sepanjang waktu dengan kondisi penyakit yang parah. Menurut Biang, Wak Anom tertular dari penggunaan jarum suntik yang tidak higienis. Tapi Biang tidak menceritakan lebih banyak karena ketika mereka menikah, Wak Anom sudah sakit tapi belum parah.”

“Penyakitnya mulai semakin parah setelah aku berusia tujuh tahun,” Jeongguk mengerutkan alisnya. “Tidak banyak yang kuingat, tapi Puri selalu muram dan sedih. Seperti merahasiakan penyakit itu, merahasiakan Wak Anom. Kau tahu bagaimana masyarakat Indonesia menyikapi penderita HIV/AIDS padahal penyakit itu hanya bisa menular lewat seks dan penggunaan jarum suntik.”

Taehyung mengerutkan wajahnya, tidak terlalu nyaman mendengarkan cerita Jeongguk. Dia menderita penyakit tanpa obat begitu lama hingga semua orang mengingatnya dalam keadaan lemah dan sakit. Tidak heran jika Jeongguk yang masih kecil ketakutan pada kondisinya—tidak memahami apa pun sama sekali, bertemu kakak ayahnya dalam keadaan sakit parah terisolasi sendirian dari dunia di kamarnya.

Dia menepuk bahu kekasihnya, meremasnya lembut. “Kita akan mengetahui jawabannya sekarang.” Katanya menyemangati. “Kenapa dia memutuskan datang menegur ayahmu.”


Aroma menyan membuat Jeongguk sedikit pening. Ruangan ahli tenung itu tidak gelap, malah sangat terbuka. Dia duduk di balai sekaa pat di halaman Merajan-nya yang dipenuhi aroma dupa pekat dan bebungaan—bertelanjang dada dengan kain hitam-putih membalutnya hingga ke pinggang.

Lakshmi meletakkan bawaan mereka di dekatnya, diterima oleh istrinya yang adalah asistennya untuk diterima isinya. Ibu Taehyung dan Lakshmi duduk di depan, berjejer bersama Taehyung sementara Jeongguk duduk di belakang, agak jauh—tidak ingin menginterupsi prosesi sakral itu.

Ahli tenung merapalkan mantra, memejamkan mata seraya bibirnya bergerak perlahan dan Jeongguk mengamatinya dengan penasaran—ini kali pertama dia ikut bersama ke dalam prosesi meluasang seseorang dan penasaran bagaimana caranya. Dia menyalakan dupa, mengucapkan banyak mantra dan menanyakan Taehyung siapa nama ayahnya sebelum menyelipkan nama itu dalam mantranya.

Lalu mendadak dia berhenti merapalkan mantra dan bertanya parau dalam bahasa Bali halus. “Apakah niki Tjok Krshna?” Lalu dia diam dan suaranya berubah.

Tugung.”

Jeongguk bergidik, suara itu adalah suara ayah Taehyung—persis sekali. Melempar Jeongguk kembali ke malam ketika dia terperangkap di bawah kasur Taehyung dengan kancing jins menekan perutnya. Suara berat, penuh otoritas dan dominasi—Jeongguk melirik Taehyung yang bahunya seketika menegang mendengarnya. Luar biasa bagaimana ahli tenung bisa menyediakan ruang untuk jiwa itu memasukinya—mengambil alih pita suaranya.

Tubuh ahli tenung itu sedikit bergoyang, pandangannya tidak lurus dan suaranya bergemuruh—seperti sedang berkumur-kumur namun suara itu adalah suara ayah Taehyung.

“Ajung,” bisik Taehyung—terdengar ketakutan dan Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Ajung, Tugung datang bersama Ibuk dan Mbok Gek.”

Ya.” Sahut suara itu dan Jeongguk menonton dari kejauhan dengan gelisah. “Rumah bagaimana?” Nada bosan dan mencela itu, persis sekali dengan ayah Taehyung namun wajah ahli tenung yang lebih ramah sama sekali tidak cocok dengan nada suaranya sekarang.

Taehyung mengerjap. “Rumah baik-baik, Ajung. Astungkara.” Katanya perlahan, melirik kakaknya yang sama tidak nyamannya dengan Taehyung ketika harus mendengarkan suara ayahnya kembali.

Tugung sudah makan?” Tanya ayahnya lagi, tubuh ahli tenung itu bergerak—bergoyang perlahan. Mungkin sedang berusaha mempertahankan dua jiwa di dalamnya—tidak ada cukup ruang di dalam sana untuk keduanya.

“Sudah, Ajung.” Sahut Taehyung kemudian menghela napas. “Mbok Gek menemukan uang di lemari Pesimpenan, ada banyak. Itu uang napi Ajung?”

Sejenak ekspresi ahli tenung itu berubah, seolah sedang berpikir. “Uang?” Ulangnya linglung dalam suara ayah Taehyung. Lalu dia mengerjap dan mengangguk perlahan. “Uang Gus Adnyana. Kembalikan.”

Taehyung menghembuskan napas. “Sudah, Ajung. Sudah Tugung kembalikan.” Dia mengangguk. “Jung Alit juga tidak setuju tentang pernikahan dengan Dayu, jadi dibatalkan sekalian.”

Hmm....” Katanya, panjang dan lama—ahli tenung bergerak, matanya mengerjap. Bola matanya bergerak sejenak, mencari-cari. “Ya, jangan.” Tambahnya kemudian. “Tidak perlu. Menikah. Tidak.” Dia menggeleng lalu mengerjap kembali.

Taehyung mengangguk. “Nggih, Ajung.” Katanya lalu melirik kakaknya. “Ajung, niki Tugung akan melaksanakan Ngaben untuk Ajung, nggih. Jadi, Tugung ingin tahu; apakah ada hutang atau sesangi yang harus Tugung bayarkan untuk Ajung sebelum Ngaben?”

Hmm...

Jeongguk menahan napas, tidak menyukai bagaimana suara ayah Taehyung terdengar dari tenggorokan ahli tenung. Dia membenci aroma menyan di dalam sana, aroma bebungaan, sedikit arak yang digunakan untuk sembahyang. Jeongguk pusing sekali, dia bersandar di saka balai perabotan ahli tenung dan memejamkan mata—tidak yakin apakah sakit di kepalanya karena aroma menyan atau kurang tidur atau bahkan suara ayah Taehyung.

Hutang Gus Adnyana, Svari.”

Ibu Taehyung tersentak kecil lalu bergegas mengangguk. “Nggih, Ajung.” Sahutnya, menangkupkan tangan di dadanya. “Sudah dibayarkan Tugung kemarin. Ajung wenten hutang lain?”

Ahli tenung itu menggeleng perlahan. “Hutang Gus Adnyana.” Ulangnya lagi, seperti boneka rusak. “Uang tidak Ajung gunakan, semua di lemari. Tidak mau.

Nggih, Ajung.” Sahut ibu Taehyung mengangguk, sedikit membungkuk—menunjukkan pengabdiannya pada ayah Taehyung. “Sudah, nika sudah diurus Tugung hari itu juga.”

Ahli tenung mengangguk perlahan lalu menoleh ke Lakshmi yang menahan napas. “Menikah?” Tanyanya.

Lakshmi merona dan mengangguk. “Tugung mengizinkan tiang menikah, Ajung. Jadi kemarin keluarga Gus Wisnu datang untuk nyedek.” Dia melirik tubuh ahli tenung itu lalu mengulurkan tangannya perlahan—membiarkan beliau melihat cincinnya.

Siapa yang menerima?” Tanyanya parau.

“Tugung, Ajung.” Sahut Taehyung lalu menambahkan. “Dibantu Ajung Gung Jeongguk.”

Sira nika?” Siapa itu? Tanya ayahnya, alis ahli tenung itu mengerut dalam-dalam—menunjukkan ketidaksukaannya karena Taehyung menyebutkan nama yang tidak dikenalnya.

“Teman kerja Tugung, Ajung. Ajung-nya kenal dengan Tugung, belum sempat ke Puri bertemu Ajung. Dari Puri Karangasem.” Jelas Taehyung menoleh ke Jeongguk yang bergegas bangkit dan menghampiri mereka. “Niki orangnya bersama kami.”

Mata ahli tenung yang sedikit merah itu menatap Jeongguk persis di matanya dan dia menahan napas. Ini kali pertamanya betatapan langsung dengan ayah Taehyung melalui tubuh yang bukan miliknya—tatapan itu menusuk persis ke jantungnya, memberikan efek seolah Jeongguk sudah sangat mengecewakannya sepanjang kehidupan ini. Efek yang hanya bisa diciptakan oleh ayah Taehyung—dan yang membingungkan adalah apakah sifat itu muncul sebagai mekanisme pertahanan diri setelah selama bertahun-tahun diinjak secara emosional oleh ayah Devy atau memang itulah sifat aslinya?

“Swastyastu, Ajung.” Katanya. “Tiang Jeongguk.”

Ahli tenung itu menatapnya lalu mengangguk perlahan. “Nggih, swastyastu.” Katanya. “Salam untuk Ajung, suksma sudah membantu keluarga tiang.”

Jeongguk mengerjap, sejenak kaget namun bergegas mengontrol ekspresinya dan mengangguk. “Oh, nggih, Ajung. Nggih, suksma mewali.” Dia menakupkan tangannya di dada dan membungkuk perlahan.

Sisa sesi hanya diisi ayah Taehyung untuk bertanya persiapan pernikahan Lakshmi, nampak tidak terlalu keberatan tentang anak sulungnya menikah mendahului Taehyung. Mereka mengobrol, mulai semakin rileks sebelum ayah Taehyung mendadak menangis—suaranya begitu menyayat hati, nyaris seperti bukan suara manusia ketika dia meminta maaf pada Taehyung dan Lakshmi tentang masa kecil mereka. Tentang semuanya. Menceritakan kisah bagaimana ayah Devy membulinya sejak remaja, pukulan pertamanya, uang pertama yang dipinjamnya untuk bermain judi. Tidak ada yang bertanya tentang itu, ayah Taehyung mendadak meledak dengan ingatannya sendiri.

Ahli tenung terisak-isak, tersengal oleh ledakan emosi itu seraya bicara dengan parau dan tersedak oleh isakannya sendiri. Tersedu-sedu hingga anak sulung lelakinya harus menyangganya agar tidak terjatuh ke belakang tempatnya duduk. Dia menangis dan terus menangis, tersedu-sedu memohon maaf dari anak-anaknya.

Jika Ajung tidak dimaafkan, Ajung tidak bisa melangkah.” Isaknya, mengeluarkan suara-suara mengerang panjang yang membuat Jeongguk memejamkan mata dan menggertakkan giginya—suara itu bukan suara manusia, terdengar dari dalam tenggorokan ahli tenung, sangat menderita.

Taehyung dan Lakshmi gugup, ketakutan sementara ibu mereka menangis. Keduanya bertukar pandangan, sama sekali tidak yakin apakah mereka harus memaafkan ayah mereka atau tidak. Lakshmi sudah jelas mengatakan dia tidak akan memaafkan tindakan ayahnya sama sekali karena telah memberikan masa kecil yang sama sekali tidak menyenangkan untuk mereka—terlalu traumatis. Namun sekarang mereka dihadapkan di posisi ini: memaafkan atau ayah mereka tidak bisa meninggal dalam damai.

Jeongguk menatap kedua saudara itu, sangat terganggu oleh suara erang ahli tenung itu. Apakah itu suara derita ayah Taehyung?

“Dimaafkan saja,” tegur istri ahli tenung itu. “Nanti jalan Ajung dipersulit. Apakah kalian tega melakukannya pada ayah kalian?”

Jeongguk mengerutkan alisnya, tidak menyukai nada suara istri ahli tenung itu yang mencela kedua saudara di hadapannya yang mengambil waktu untuk berpikir apakah mereka bisa memaafkan ayah mereka. Salah adalah salah, siapa pun dia. Dia tidak berhak mencela waktu yang digunakan keduanya untuk mencerna semuanya.

Ayah mereka tega melakukan semuanya pada mereka, memberikan masa kecil yang traumatis—dibawa hingga mereka mati dalam bentuk depresi dan penyakit mental yang tidak akan lenyap atau sembuh.

Jeongguk meremas bahu Lakshmi yang gemetar—dia tahu Lakshmi tidak bisa memaafkan ayahnya sama sekali. Tidak sudi mungkin karena telah melakukan segalanya pada Lakshmi. “Kau hanya perlu mengucapkannya.” Bisik Jeongguk di bawah napasnya. “Lepaskan sakitnya.”

Lakshmi bernapas berat, sudah sangat dekat dengan tangis dan Jeongguk tidak menyukainya. Kedua saudara ini sudah cukup menderita, mereka tidak perlu dihadapkan pada hal semacam ini lagi sebagai hukuman—dipaksa memaafkan ayah mereka.

Nggih, Ajung.” Sela suara Taehyung, tegas dan dingin. “Kami memaafkan Ajung.” Dan Jeongguk menoleh, melihat betapa keras dan berjaraknya ekspresi Taehyung—dia tidak terlalu merasakannya, hanya mengatakannya untuk menyelesaikan semuanya.

Pun jika mereka hendak memaafkan ayah mereka, butuh bertahun-tahun untuk melakukannya. Tidak bisa dilakukan dalam keadaan ditekan seperti ini—seolah mengancam mereka dengan kematian untuk memberikan apa yang dibutuhkan ayah mereka. Jeongguk menatap Taehyung yang menahan dagunya tinggi dengan ibunya terisak dalam pelukannya—Lakshmi menangis dalam rangkulan Jeongguk, entah karena mendengar erangan ayahnya atau karena dia tidak bisa memaafkannya.

Namun kalimat Taehyung, yang walaupun di telinga Jeongguk tidak terdengar terlalu tulus, berhasil membuat erang dan isak dari ahli tenung itu berhenti. Tubuhnya lemah, anak lelakinya membantu ahli tenung itu menegakkan tubuh dan membenahi duduknya—dia nampak kebingungan, mungkin karena satu jiwa meninggalkan tubuhnya.

Jeongguk bertatapan dengan Taehyung, menyadari air mata yang menggenang di matanya dan mengangguk perlahan. “Kau sudah melakukan hal yang benar.” Bibirnya bergerak, berharap Taehyung bisa membaca gerak bibirnya.

Bibir bawah Taehyung gemetar. Jeongguk tahu kedua saudara itu tidak bisa memaafkan ayahnya—belum atau tidak. Kejadian tadi hanya menambahkan luka baru di hati mereka dan Jeongguk membencinya. Dia ingin memeluk kekasihnya, menemaninya menangis namun mereka dihalangi norma masyarakat.

“Kau melakukan yang benar, kau sangat berani.” Bibirnya bergerak, menatap Taehyung yang pandangannya mengabur oleh air mata.

“Aku bangga padamu.”


Glosarium:

  • Bokor: pinggan besar berbentuk cekung dengan pinggiran lebar—biasanya terbuat dari kayu, perak dan anyaman. Bentuknya seperti baskom berat. Silakan di google <3

  • Sesari: uang yang diselipkan di atas persembahan masyarakat Hindu Bali.

  • Sekala dan niskala: duniawi dan non-duniawi

  • Sekaa empat: balai dengan empat tiang khas Bali.

  • Saka: tiang penyangga balai

  • Sesangi: nazar

Bahasa Bali:

  • Napi: apa

  • Nika: itu

  • Niki: ini

  • Sira: siapa

  • Wenten: ada

cw // agak horror .


Jeongguk mendorong pintu dari arah garasi dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menggenggam ponsel di telinganya—menelepon Taehyung yang ditinggalkannya tadi setelah menginap dua malam di Puri-nya.

Kau sudah di rumah?” Tanya Taehyung di seberang sana, mereka tersambung dalam panggilan sepanjang perjalanan Jeongguk pulang—terkadang tidak mengobrol sama sekali atau menyanyikan lagu yang kebetulan di putar di stasiun radio yang Jeongguk dengarkan bersama.

“Baru saja tiba,” sahut Jeongguk menutup gerbang kecil di belakangnya yang berdentang keras ketika dia menguncinya sebelum mendongak dan menemukan ibunya sedang menyangga nampan di atas tangannya, terisi penuh canang dan dupa yang semerbak.

Mendadak teringat sikap ayahnya yang berubah drastis. Jeongguk menoleh ke garasi, menyadari mobil ayahnya tidak ada dan menatap ibunya yang sedang berdoa dengan kain melilit kakinya. Haruskah dia menanyakan pada ibunya masalah 'mimpi' yang dikatakan ayahnya selama ini? Jeongguk hanya tidak yakin seberapa kuat mimpi itu memengaruhi ayahnya hingga dia mendadak jadi begitu hangat padanya?

“Wigung,” katanya ke ponsel. “Aku akan bicara dengan Biang sebentar, ya? Akan kutelepon kembali nanti.” Katanya.

Hm?” Sahut Taehyung dari seberang sana. “Kau ingin membicarakan apa memangnya dengan Biang?”

Jeongguk berlari kecil ke kamarnya, melempar tasnya ke kursi di teras; ingin bergegas menemui ibunya mumpung ayahnya tidak berada di rumah. “Tentang Ajung dan mimpinya, aku yakin Biang tahu tentang mimpinya. Karena entahlah, aku sama sekali tidak yakin hal sesepele mimpi bisa membuat Ajung berubah drastis.”

Sejenak hening dari seberang sana sebelum Taehyung menghela napas, Jeongguk mendengarnya mengangguk. “Baiklah, kabari aku bagaimana hasilnya, oke?” Bisiknya dan Jeongguk mengangguk.

Dia berpamitan pada Taehyung dan menyelipkan ponselnya ke saku celananya sebelum bergegas menghampiri ibunya yang sedang berdoa di Merajan rumahnya dengan sisa canang di nampannya. Merajan mereka besar, jauh lebih besar dari milik Taehyung dan Yugyeom selalu mengeluh tiap kali dia mendapat giliran berdoa keliling karena mereka juga harus bersembahyang ke Sanggah Tua di belakang sana, di dekat rumah Niang mereka. Sejak Yugyeom kuliah dan Jeongguk bekerja, ibu mereka tidak lagi meminta mereka berdoa—dia yang melakukannya sendiri.

“Biang,” sapa Jeongguk menaiki tangga Merajan terakhir. Setiap pura terisi dupa yang semerbak dengan sebuah canang besar di setiap pintunya—menyebarkan aroma lembut dan segar yang menyenangkan.

Jeongguk sering ke Merajan, selalu bersembahyang sebelum berangkat bekerja untuk menenangkan diri. Dia hanya akan berangkat dengan bunga di telinga dan bija di kening serta lehernya setelah bersembahyang, rambut sedikit basah oleh tirta dengan pakaian beraroma dupa. Ibunya selalu mengajarinya dan Yugyeom untuk selalu berdoa sebelum berangkat bekerja atau sekolah. Rumput halaman Merajan mereka dipangkas rapi, selalu dicabuti jika ada yang tumbuh melewati. Beberapa rumput yang tangguh tumbuh di sela-sela beton yang keras atau di sela-sela bagian pelinggih yang sudah menua. Suasananya selalu menenangkan, Jeongguk menyukai perasaan aman dan nyaman tiap kali memasuki Merajan.

Ibunya menoleh dan tersenyum pada Jeongguk sebelum kembali fokus pada kegiatannya. Jeongguk sejenak menunggu hingga ibunya selesai menghaturkan sesaji sebelum perempuan paruh baya itu menuruni undakan kecil. “Gung Wah sudah pulang? Sudah makan?” Tanya ibunya, menyisihkan canang di atas nampan—membenahi posisinya.

Jeongguk mengangguk, “Sudah, Biang.” Katanya, sejenak ragu sebelum melanjutkan. “Biang sibuk? Gung ingin membicarakan sesuatu, bisa?”

Ibunya berhenti di tengah halaman Merajan, menatap anak sulungnya dengan lekat. Ibunya memiliki garis wajah India yang eksotis walaupun dia sama sekali bukan keturunan India. Ada noda merah di keningnya, permanen karena dia selalu menggunakan sindoor, bubuk vermilion merah di keningnya semenjak dia menikah. Rambutnya yang lurus panjang dan tebal, digelung di atas tengkuknya dan dia beraroma persis masa kecil Jeongguk hingga reaksi pertamanya adalah ingin memeluk ibunya, menghirup aroma itu dalam-dalam.

“Bicara apa?” Tanya ibunya, nampak kebingungan karena putra sulungnya praktis sudah berhenti membutuhkan apa pun darinya sejak dia menginjak usia dua puluh lima tahun. Mendengar anaknya membutuhkan sesuatu membuatnya bingung.

Jeongguk mengusap tengkuknya, sejenak bingung bagaimana mengatakannya. “Tentang Ajung.” Katanya menatap ibunya yang mengerjap. “Sebentar saja jika Biang tidak keberatan?”

Ibunya menatap Jeongguk sejenak lalu mengangguk. “Baiklah, tapi Biang selesaikan ini dulu.” Katanya, menunduk ke nampannya yang penuh. “Sudah makan?” Tanyanya ulang dan Jeongguk mengulum senyumannya.

Jeongguk mengangguk setengah geli. “Sudah, Biang. Tapi nanti pasti makan lagi jika lapar.” Sahutnya lalu keluar dari Merajan agar ibunya bisa fokus berdoa di Merajan.

Jeongguk menuruni undakan, melangkah ke teras rumah utama dan duduk di lantai, bersila menatap ibunya yang menyelesaikan doanya sebelum meninggalkan nampan terisi bunga dan tirta untuk digunakan semua anggota Puri bersembahyang. Dia kemudian melangkah ke arah Jeongguk seraya menyematkan sekuntum cempaka di rambutnya—ketika dia tiba di sisi Jeongguk, aroma tubuhnya begitu semerbak seperti bebungaan dan dupa. Dia duduk di sisi Jeongguk, menatap anaknya; masih mengenakan pakaian berdoanya.

“Apa yang ingin Gung bicarakan dengan Biang?” Tanyanya kemudian.

Jeongguk menatap ibunya, sejenak rikuh sebelum melanjutkan. “Ajung mendadak berubah,” katanya lirih, meliriknya untuk menilai reaksinya namun ibunya menatapnya tenang; menunggu. “Bukannya aku tidak menyukainya, hanya terasa... aneh dan tidak nyaman. Aku terbiasa pada perlakuannya yang—” Jeongguk berhasil menahan lidahnya sebelum mengatakan 'tidak adil' dan bergegas menggantinya, “Yang biasanya.” Ralatnya.

“Jadi ketika Ajung mendadak sangat... perhatian padaku, aku bingung.” Dia menatap ibunya yang balas menatapnya. “Ajung mengatakan sesuatu tentang mimpi, tapi sejujurnya aku tidak percaya. Maksudku, memang hal sesederhana mimpi bisa mengubah seseorang seketika?” Dia menatap ibunya yang mendengarkan dengan tenang.

Jeongguk jarang bercerita pada orang tuanya tentang masalah-masalahnya, dia lebih suka bertemu Yugyeom dan membicarakannya dengan adiknya. Jauh lebih solutif, setidaknya adiknya tidak menilai ceritanya dengan kejam. Tidak juga menasihatinya karena Jeongguk terkadang hanya ingin didengarkan.

Ibunya menghela napas, “Memang bukan mimpi biasa.” Katanya dan Jeongguk menoleh, menunggu ibunya melanjutkan. “Ajung terbangun berkeringat dingin ketika itu lalu seharian demam karenanya. Gung belum di rumah, seingat Biang bekerja sampai malam.”

Jeongguk mengangguk, masa-masa ketika dia mencari pelarian agar tidak memikirkan Taehyung yang mendadak menjaga jarak darinya dan tidak membalas pesan-pesannya. Dan ingat hari pertama ayahnya mengiriminya pesan, dia sedang di Puri Taehyung—menemani kekasihnya yang syok karena ayahnya meninggal. Dia juga memang tidak terlalu memedulikan kedua orang tuanya sejak beranjak dewasa dan mandiri dengan uangnya sendiri—Jeongguk menyadari ini mungkin salah, namun dia juga tidak bisa bertahan dengan orang tua yang tidak menghargai keberadaannya.

“Di mimpinya, Ajung didatangi Wak Anom,” kata ibunya dan Jeongguk mengerutkan alis. Kakak ayahnya itu meninggal lama sekali, sebelum Yugyeom lahir. Tidak menikah karena terlalu sakit dan mengizinkan adiknya menikah duluan; itulah mengapa ayah Jeongguk naik sebagai Penglingsir dan Jeongguk meneruskannya. Jiwanya juga sudah disucikan, sudah jarang sekali mampir di mimpi Jeongguk setelah upacara penyuciannya selesai.

Maka dia heran, apa yang membuatnya mendadak datang?

“Wak Anom hanya mengatakan dia kecewa pada Ajung dan akan membawa Gung.” Tambah ibunya dan Jeongguk mengerjap. Dalam Hindu, terdapat kepercayaan bahwa jika seseorang yang sudah meninggal mendatangi mimpi lalu mengajak pergi, maka sebaiknya tidak mengikutinya karena itu berarti kematian. “Kata Ajung, Wak Anom terlihat marah sekali pada Ajung di mimpi itu. Ruangannya bersinar putih terang dan Ajung langsung demam setelahnya.”

Jeongguk terenyak. Dia tidak pernah terlalu dekat dengan Wak Anom, karena jarak usia ayahnya dan kakaknya lumayan jauh. Jeongguk lupa sakit apa yang dideritanya namun dia ingat perasaan takut ketika harus mendekat ke rumah kakak ayahnya saat kecil. Dia benci pergi ke sana karena merasa kecil dan ketakutan. Maka dia terkejut ketika kakak ayahnya yang 'menyadari' bahwa Jeongguk akan kabur dari Puri, bukan adik ayahnya yang lebih dekat dengan Jeongguk.

“Saat Ajung terbangun, dia langsung menanyakanmu. Panik sekali. Tapi ketika Biang mengintip ke kamarmu, lampunya mati. Jadi Biang bilang kau tidak di Puri.” Ibunya menatap Jeongguk dan sejenak, bulu kuduknya meremang—teringat perasaan takutnya ketika harus menghadapi kakak ayahnya yang sakit. Jeongguk ingat kepanikan tiap kali mereka melarikan kakak ayahnya ke rumah sakit; kelelahan, keputusasaan....

Dan kesedihan pekat ketika kakak ayahnya meninggal. Jeongguk ingat mereka cuntaka nyaris dua bulan lamanya karena tidak ada seorang pun yang siap melangkah dari kenangan kakak ayahnya. Lama sekali Puri terasa gelap dan mencekam, aura kesedihan membuat Jeongguk kecil merasa tercekik.

“Ajung kemudian menangis ketika Biang bilang kau tidak di kamar, 'Gung Wah pergi??' begitu katanya; berulang-ulang seperti orang panik dan kebingungan.” Ibunya menatap Jeongguk yang mengerutkan alis dan bergidik. “Setelah tenang, barulah Biang berani menanyakan apa yang terjadi dan Ajung ketakutan sekali pada ekspresi Wak Anom ketika mengatakan dia kecewa pada ayahmu.”

Jeongguk menatap ibunya. “Jika sepenting itu, kenapa Biang tidak memberi tahuku secepatnya?”

Ibunya menghela napas, “Kau tahu ayahmu,” katanya menatap Jeongguk. “Dia tidak mau nampak lemah di depanmu, dia hanya mau mengirimimu pesan agar kau pulang. Tidak mengizinkan Biang memberi tahumu mengenai demamnya—yang ajaibnya, sembuh persis setelah Gung mengatakan akan pulang.”

Jeongguk berhenti sejenak, sebelum berbisik. Menanyakan pertanyaan yang dipikirkannya sejak kecil namun tidak pernah berani ditanyakannya pada keluarganya selama ini. “Biang?”

“Ya?”

“Wak Anom,” katanya perlahan—merasakan ketidaknyamanan ketika menyebut nama itu di bibirnya; terasa asing dan pahit. “Meninggal karena apa?”

Ibunya menatap Jeongguk, menghela napas dalam-dalam dan mengatakan. “HIV/AIDS.”

Jeongguk terenyak, teringat bagaimana segala peralatan makan kakak ayahnya dibedakan. Kamarnya dikhususkan sendiri, bagaimana orang Puri menjaga jarak darinya dan bagaimana dia 'dirahasiakan'—cukup menakuti Jeongguk kecil hingga otaknya memilih untuk memukul mundur ingatan tentang kakak ayahnya. Dia menghela napas berat, memikirkan ulang ingatan-ingatan masa kecilnya tentang Wak Anom yang nyaris tidak pernah bicara padanya.

Hal terakhir yang dikatakan ibunya pada Jeongguk sebelum dia pamit untuk mandi adalah, “Ajung sangat takut kehilanganmu. Entah apa yang Gung mungkin pikirkan tentang Ajung selama ini tapi dia sayang padamu.”

Jeongguk ingin berteriak marah mendengarnya.

Bagaimana mungkin seseorang bisa menyayangi anaknya namun juga bersikap sangat abusive padanya? Ayahnya tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya sama sekali dan secara terang-terangan memanjakan Yugyeom bahkan Taehyung di depan Jeongguk sendiri; bersikap lebih memprioritaskan orang lain. Omong kosong jika ibunya berharap Jeongguk akan menelan kalimat 'ayahmu sayang padamu' mentah-mentah. Jeongguk tidak percaya dan tidak akan pernah mempercayainya—semua sakit hati dan luka masa kecilnya tidak akan sembuh seketika hanya karena 'ayahmu sayang padamu'.

Lalu mengapa dia bersikap bajingan sepanjang waktu pada Jeongguk?

Namun dia hanya mengangguk lalu beranjak ke kamarnya; tidak ingin mengatakan hal-hal yang akan disesalinya nanti pada ibunya. Dia melempar ponselnya ke kasur dan duduk di sana, merasa asing dan dingin di kamarnya sendiri setelah menghabiskan dua hari penuh bersama Taehyung dan kakaknya yang berbahagia. Dia merasa lebih akrab dengan Puri Taehyung daripada rumahnya sendiri.

Jeongguk menyugar rambutnya yang kusut setelah perjalanan dan menguncirnya, berdiri dan menghadap ke cermin untuk menatap dirinya sendiri. Memikirkan mimpi ayahnya yang ternyata membuatnya demam. Jeongguk tidak heran karena jika dia bermimpi didatangi kakak ayahnya dia mungkin juga akan demam.

Ada sesuatu tentang kakak ayahnya yang selalu membuatnya tidak nyaman sejak kecil. Takut, khususnya dan tidak ingin mendekat padanya sama sekali. Lalu mengapa kakak ayahnya yang mendatangi ayahnya untuk mengatakan bahwa dia kecewa dan akan 'membawa' Jeongguk ketika dia bahkan tidak terlalu akrab dengannya?

Resah, Jeongguk menekan tombol speed dial dua yang langsung tersambung pada Taehyung. Membutuhkan kekasihnya untuk menyokongnya karena dia merasa limbung oleh pengetahuan baru itu.

Hai, maaf aku baru saja mandi. Bagaimana dengan Biang?” Tanyanya ketika mengangkat teleponnya, lalu membersit keras ke handuknya dan Jeongguk mendesah; merindukan saat ketika dia memeluk Taehyung lalu menciumi lehernya yang lembab setelah mandi.

Mereka memang harus tinggal bersama karena rindu ini tidak lagi mengenal sopan santun. Jeongguk terus merasa merindukan Taehyung bahkan ketika kekasihnya terlelap di sisinya—rasanya menyesakkan sekali.

Dia berbaring, menceritakan obrolannya dengan ibunya perlahan. Juga menambahkan bagaimana kalimat 'ayahmu menyayangimu' sama sekali tidak menyelesaikan masalah apa pun—tidak menyembuhkan traumanya, tidak menyembuhkan rasa ketidakberhargaan dirinya. Taehyung tergelak getir mendengarnya, setuju pada pola pikir Jeongguk. Lucu bagaimana orang tua berpikir mereka bisa mendapatkan maaf dari anaknya tanpa mengucapkan kata 'maaf', menggantinya dengan tindakan-tindakan yang menunjukkan kasih sayang berharap anaknya memaafkannya.

Tidak. Jeongguk butuh kata 'maaf', bukan tindakan. Butuh mereka mengakui bahwa tindakan mereka salah, mengklaim kesalahan mereka sebelum meminta maaf pada Jeongguk.

Tapi, apakah kau dekat dengan Wak Anom ini? Itukah mengapa dia yang mengatakan kekecewaannya?”

Jeongguk menggeleng, mengerutkan alis dengan tidak nyaman saat harus mengingat masa kecilnya. Dia bahkan tidak yakin apakah dia ingat wajah kakak ayahnya karena dia menghabiskan waktunya di kamar terbaring sakit dan Jeongguk selalu menangis keras jika diajak masuk ke kamarnya yang beraroma pesing, minyak angin, dan sakit. Sudah berapa lama dia meninggal? Jeongguk juga tidak yakin.

“Tidak, sama sekali.” Kata Jeongguk, membaringkan dirinya di ranjang menatap langit-langit kamarnya.

Sebaiknya kau mandi dan mencuci rambutmu, lalu letakkan canang di plangkiran kamarmu.” Kata Taehyung kemudian, terdengar khawatir. “Berdoalah malam ini, kita tidak tahu apa arti 'membawamu' yang sebenarnya di mimpi itu.”

Kegelisahan terbit di dasar perut Jeongguk, membuatnya tidak nyaman ketika dia berdiri hendak bersiap-siap mandi dengan telepon tersambung ke Taehyung—terlalu merindukannya untuk sekadar mematikan sambungan untuk mandi. Jeongguk membasuh tubuhnya dengan alis berkerut sementara di ponselnya yang disandarkan di rak sikat gigi, Taehyung bernyanyi lirih menunggunya mandi. Menuruti kehendak kekasihnya, dia mencuci rambutnya—menggosoknya keras-keras seolah ingin mengenyahkan ingatannya tentang kakak ayahnya dari otaknya.

Dia melangkah keluar dari kamar mandi dan mengambil sebuah canang dari kulkas di dapur lalu berdoa di kamarnya—berharap kata 'membawa' di mimpi ayahnya bukan berarti kematian.

Jeongguk bergidik ketika dia bangkit setelah berdoa, mendoakan kakak ayahnya yang sudah tenang dan mendadak angin yang berdesir di luar kamarnya terasa begitu mengerikan. Dia menoleh ke jendela yang terbuka, halaman gelap karena petang sudah menjelang; hanya ada cahaya dari lampu teras kamarnya dan lampu di sudut rumah. Biasa saja, Jeongguk suka duduk di teras untuk menikmati udara malam dan menunggu Yugyeom lapar untuk membuat mie instan bersama.

Namun malam ini, entah mengapa suasana Puri terasa jauh lebih mencekam. Jeongguk bangkit dan mengunci jendelanya, juga mengunci pintunya; mendadak terserang perasaan takut dan paranoid setelah mendengar cerita ibunya. Bersyukur malam ini Yugyeom ada di Puri Timur di seberang jalan bersama nenek mereka sehingga Jeongguk tidak harus keluar kamar dan pergi ke dapur.

“Aku takut,” katanya pada Taehyung—mendadak merasa seolah ada yang mengawasinya. Ketakutan dan ketidaktahuannya mengenai kakak ayahnya yang dirasakannya ketika kecil kembali merayap naik ketika mendengar mimpi ayahnya.

Aku akan menemanimu hingga lelap, tenang saja. Sudah berdoa?” Tanya kekasihnya dari seberang sana, Jeongguk mendengarnya mengunyah—sedang makan ikan goreng dan sambal kecombrang kesukaannya.

Jeongguk mengangguk, menyelimuti kakinya—mendadak ketakutan. “Sudah.” Katanya.

Tenanglah, tidak apa-apa.” Bisik Taehyung sayang dan Jeongguk menghela napas, melirik pintu kamar yang terkunci.

Jeongguk menyadari bahwa tentu saja mimpi itu berhasil membuat ayahnya mendadak berubah. Karena jika mengingat kedukaan berat Puri ketika dia meninggal dan tangis Jeongguk ketika diajak menjenguknya, Jeongguk pun akan ketakutan jika dia muncul di mimpinya malam ini.


Glosarium:

  • Tirta: air suci Hindu

  • Canang: sarana berdoa dengan bebungaan sebagai isinya, dibuat dari janur.

  • Pelinggih: pura di Merajan, bentuknya berbeda-beda sesuai dewa yang beristana di sana.

  • Plangkiran: pura kecil yang dipasang di kamar.


    ps. akutu SUMPAH lupa sama atas2nya gormet krna kepanjangan terus kesela aku rest, jadi tolong koreksi kalo ada kesalahan detail ya! it'd be much appreciated! thank you!!! xx

ps. HAPPY 600 CHAPTERS! * inhales deeply *


Taehyung tidak akan pernah melupakan hari ini seumur hidupnya.

Karena pagi tadi, sebelum keluarga Wisnu datang untuk melamar kakaknya, ayah Jeongguk datang bersama anaknya dan menemani Taehyung. Dia juga membawa istrinya serta Yugyeom, mengenakan kain dan kemeja yang senada. Keluarga Jeongguk datang secara personal di hari lamaran kakaknya yang bahkan tidak terlalu istimewa dan itu membuat Taehyung nyaris berlutut karena rasa aman.

Mereka berdua ingin melaksanakan upacara sesederhana mungkin karena keadaan Puri sedang berduka setelah kematian ayah Taehyung. Maka mereka hanya mengundang ketua desa adat dan kepala lingkungan. Dari Puri Taehyung, dia yang berdiri sendiri sebagai ayah Lakshmi yang menerima keluarga Wisnu dan Taehyung tidak terlalu menyukainya.

Mungkin inilah kekurangan pola didik ayahnya; terlalu menekan Taehyung, meragukannya sepanjang hidup hingga ketika dia harus membuat keputusan dia sama sekali tidak terlalu memahami apa yang dilakukannya. Berdiri sendiri, menjadi kepala keluarga tanpa persiapan memukul mentalnya dan dia mendapati dirinya terjaga setiap malam ketika Jeongguk tidak berbaring di sisinya dengan isi kepala berpacu kuat—membuatnya mengerang. Taehyung ketakutan tapi tidak memiliki pilihan lain.

Namun ketika dia melihat ayah Jeongguk memasuki Puri, menatapnya ramah dan akra—nyaris menyayanginya, Taehyung menghela napas. Sarafnya yang menegang mengerikan belakangan ini mendadak rileks, mungkin karena ayah Jeongguk nampak seperti anaknya—dua kali lebih dewasa dan tenang, memberikannya rasa aman dan nyaman dua kali lebih kuat juga.

Dia bahkan menyalami Taehyung dan memeluknya, menepuk bahunya hangat. “Maaf, Ajung tidak tahu mengenai ayahmu.” Katanya hangat pada Taehyung yang terpana, tidak yakin bagaimana harus menyikapi ayah Jeongguk. Namun dia bersyukur, memiliki sosok ayah—walaupun bukan ayahnya, membuatnya merasa lebih baik. “Gung Wah tidak menceritakan sama sekali bahwa itu ayahmu, dia hanya menyebut temannya.” Ayah Jeongguk mendelik pada anaknya. “Dan Ajung seharusnya tahu Gung Wah tidak punya teman lain selain dirimu.”

Taehyung bersyukur, Jeongguk pasti sudah mengatakan sesuatu sehingga ayah Jeongguk tidak bertanya sedikit pun tentang ketidakhadiran keluarga Puri sama sekali di acara hari itu. Taehyung sudah mengundang mereka, menyampaikan bahwa mereka akan menerima lamaran Wisnu pada pamannya namun mereka tidak meresponsnya sama sekali.

Maka Taehyung menyadari bahwa ini adalah urusannya sendirian.

Mata Taehyung beralih dari ayah Jeongguk ke anak sulungnya yang tersenyum setelah ayahnya berlalu. Ayahnya pergi menyalami ibu Taehyung yang menyambutnya ramah di Bale Gede. Persiapan lamaran sudah dilakukan, mereka siap menyambut keluarga Wisnu. Taehyung berdiri di sana dengan Jeongguk dan Yugyeom yang menempel ke kakaknya—nyaris lebih tinggi dari Jeongguk padahal dia baru dua puluh tiga tahun.

“Ajung bersikeras ingin menemaniku.” Katanya, berbisik saat membantu pekerjaan di rumah Taehyung untuk menyambut keluarga Wisnu. “Jadi aku terpaksa membawanya.”

Taehyung menggeleng, lega. “Tidak apa-apa,” dia kemudian mengulurkan tangan dan mengusap kepala Yugyeom yang nyengir lebar padanya. “Halo, Anak Ganteng.” Sapanya parau dan tersenyum.

“Wigung kelihatan makin tua,” gumam Yugyeom lalu meringis ketika Jeongguk meliriknya tajam.

Taehyung tergelak, mengusap wajahnya dan membenahi udeng-nya. Dia merasa semakin tua belakangan ini—tengkuknya kencang dan mudah lelah. “Begitulah jika hidup memutuskan untuk menghajarmu tanpa ampun.” Dia menatap Jeongguk yang tersenyum menyemangati.

Dia menghela napas. “Terima kasih.” Bisiknya, tidak menyadari betapa dia membutuhkan sosok ayah hingga ayah Jeongguk duduk di sisinya menjadi wali kakaknya karena tidak ada seorang pun anggota Puri yang muncul.

“Tidak masalah,” Jeongguk menatapnya, intens sekali hingga Taehyung sejenak merona—ingin menumpukan keningnya di bahu Jeongguk, bersandar di sana karena dia lelah sekali berdiri di atas kakinya sendiri di tengah kekacauan ini.

Uang ayah mereka sudah diperiksakan ke bank, mereka pergi ke bank daerah milik pemerintah dan berhasil menyelamatkan setidaknya 250 juta dari seluruh totalnya karena sisa uangnya rusak. Pihak bank berjanji akan mencoba mengeceknya ke Bank Indonesia apakah masih bisa diselamatkan karena nomor serinya belum rusak dan akan menginformasikan kepada Taehyung secepatnya.

“Dua ratus lima puluh sudah sangat banyak.” Katanya ketika bersandar di mobilnya kakinya dinaikkan ke dasbor sementara Jeongguk mengemudi kembali ke Puri—dia kelelahan belakangan ini, sulit memfokuskan perhatiannya dan berakhir pusing karena terlalu memaksakan diri.

“Sangat.” Sahut Jeongguk setuju, selama ini sebisa mungkin tidak meninggalkan sisinya. Dia menghabikan waktu di Puri, menemani Taehyung yang sering bermimpi buruk jika tidur sendirian dan sudah sangat akrab dengan ibu Taehyung yang menganggap Jeongguk putranya sendiri. Dia meremas tangan Taehyung hangat.

Jika saja tidak ada Jeongguk di hidupnya, bisakah Taehyung tetap waras setelah mengalami semua kejadian beruntun ini? Jeongguk selalu menemaninya, memastikannya tetap waras selama ini. Memasakkan makanan yang cukup lembut untuk diterima lambung Taehyung yang stres, membantunya mandi, menemaninya hingga lelap dan menyambutnya ketika membuka mata.

Jeongguk adalah segalanya untuk Taehyung—lenyapkan Jeongguk dari kehidupan ini maka Taehyung akan kehilangan arah.

Keluarga Wisnu tiba tepat waktu dan Taehyung menahan napas ketika melihat betapa bersinarnya kakak dan calon suami kakaknya hari itu. Akhirnya, penantian mereka selama ini terbayarkan lunas dan Taehyung tidak lagi sudi membiarkan apa pun menghentikan pernikahan mereka. Wisnu dan keluarganya sudah membuktikan betapa seriusnya mereka menerima kakak Taehyung dengan menunggu selama bertahun-tahun—tidak menyimpan dendam karena kali pertama mereka mencoba melamar Lakshmi, ayah Taehyung mengusir mereka.

Taehyung senang, sangat senang ketika kakaknya yang merona bahagia menatap kekasihnya yang tersenyum superior. Mereka layak mendapatkan bahagia mereka setelah selama ini mengalah dan bersabar. Cincin Lakshmi adalah cincin paling megah yang pernah Taehyung lihat dengan permata safir biru alami sepuluh karat, berkilauan di jarinya yang kurus.

Kakaknya layak mendapatkan perhiasan, kakaknya layak mendapatkan segalanya.

Dia dan Jeongguk juga membelikan Lakshmi kalung yang sama dengan Mirah, dengan permata safir sesuai cincinnya setelah bertanya pada Wisnu jenis permata yang digunakannya untuk cincin pernikahan kakaknya. Mereka tidak lagi peduli pada peraturan adat apa pun tentang cincin menikah, Wisnu membelikan cincin paling menakjubkan untuk kakaknya—bersinar di jemarinya yang kurus dan kasar setelah bertahun-tahun bekerja, perhiasan pertama yang dimilikinya.

Ibu mereka memberi Lakshmi sepasang giwang cantik yang berkilauan dan bunga emas asli yang berat, menyempurnakan kakaknya yang selama ini polos tanpa perhiasan. Kilau emas nampak cantik di kulitnya yang sewarna zaitun seperti Taehyung dan bahagia yang bersinar di wajahnya ketika dia memeluk Taehyung.

Dada Jeongguk terasa penuh bahagia menyaksikan keluarga kecil itu bergembira setelahnya, makan bersama keluarga Wisnu yang ternyata amat, sangat terbuka pada Lakshmi. Ibu Wisnu menyayanginya seperti anak sendiri, menatap gadis itu sayang dan Jeongguk lega melihatnya. Adik Wisnu, Penglingsir Griya mereka yang sudah menikah dengan Ida Ayu dari Griya Gianyar dan memiliki satu anak perempuan, duduk di dekat kakaknya bersama istrinya—nampak sama bahagianya. Lakshmi dan adik iparnya sangat akrab, dia memangku keponakan pertamanya seraya mengobrol dengan istri adik calon suaminya dengan akrab.

Penundaan pernikahan mereka mengizinkan adik Wisnu untuk menikah mendahului kakaknya dan bahkan memiliki anak pertamanya. Namun itu sama sekali tidak membuat Wisnu merasa tersaingi atau gerah, dia tetap menunggu Lakshmi dengan sabar. Tidak ada sindiran tentang usia Lakshmi dari pihak keluarga Wisnu dan Jeongguk menyadari bahwa Taehyung melepaskan kakaknya kepada keluarga yang benar.

Ayah Jeongguk juga membantu jalannya acara, membimbing Taehyung yang menerimanya dengan penuh syukur caranya menerima lamaran seseorang mewakili ayahnya. Bahkan bergurau dia akan membantu Taehyung melamar nanti jika dibutuhkan, yang disambut Taehyung dengan melirik Jeongguk geli dan Jeongguk tergelak tanpa suara. Lakshmi menggigit bibir bawahnya, menahan senyuman usilnya karena itu.

Jeongguk pribadi masih tidak menyangka perubahan drastis ayahnya belakangan ini namun dia yakin mimpi yang dialami ayahnya pastila sangat mengejutkan hingga dia mendadak berubah. Dia menghela napas, duduk di sudut Bale menyaksikan kekasihnya menemani kakaknya yang sesak oleh bahagia.

Lakshmi nampak sangat menakjubkan dengan kebaya hijau zaitun, riasan wajah dan rambut yang disanggul cantik dengan bunga emas. Gugup namun juga bahagia, menatap calon suaminya dengan mata berbinar seperti rusa betina yang akhirnya menemukan rumah dan bahagianya. Jeongguk dan Lakshmi sudah berbaikan, hari di mana dia membawa uang ayah Taehyung ke kamar.

Jeongguk meminta maaf juga atas kata-katanya yang tidak menyenangkan pada Lakshmi, mereka berpelukan dan Jeongguk menghela napas—merasakan pelukan kakak Taehyung yang sangat berbeda dengan pelukan siapa pun yang pernah diterimanya dalam hidup. Pelukan seorang perempuan yang hangat dan harum. Mereka kemudian menghabiskan malam melakukan panggilan video dengan Jimin yang mengomel karena tidak bisa mendapatkan cuti.

Musim liburan sialan!” Kutuknya dan ketiganya tertawa.

Mereka berpisah ketika kokok ayam pertama terdengar, Taehyung langsung bergelung di pelukannya seperti anak kucing ketika Lakshmi menutup pintu kamarnya dan Jeongguk memeluknya erat—mengecup puncak kepalanya dan menunggu kekasihnya lelap sebelum menyusulnya.

Jeongguk mendesah, menatap makanannya dan mulai makan kembali. Dia dan Taehyung yang memasak, memutuskan untuk mengasah keterampilan mereka. Kebetulan sekali Jeongguk adalah tukang olah terbaik di keluarganya, maka mempersiapkan makanan untuk dua keluarga bukanlah hal yang sulit. Mereka memasak lawar kuwir, lawar belimbing, lawar nangka, sate babi, ares dan pesan lawar. Memang sebenarnya lebih murah jika mereka membeli saja semuanya, namun Jeongguk merasa dia ingin melemaskan tubuhnya sedikit dengan memasak.

Memasak dengan Taehyung adalah pengalaman yang menakjubkan—dia cepat, sigap, dan sangat telaten dengan semua perlatannya. Rajangan bumbunya luar biasa halus dan kecepatannya menggunakan blakas membuat Jeongguk sejenak ngeri jika saja dia tidak ingat bahwa kekasihnya adalah seorang juru masak senior. Mereka duduk di teras kamar Taehyung berdua, menyiapkan bumbu dan merajang bahan sebelum memasaknya sehari sebelumnya untuk dihangatkan ibu Taehyung paginya sambil menanak nasi.

Semua tamu menikmati makanan mereka, mengobrol ditemani makanan lezat yang dimasak oleh adik mempelai perempuan. Acara akan dilanjutkan keesokan harinya, Mepamit dan pernikahan secara adat di Griya dipimpin langsung oleh kakek Wisnu sebagai Pedanda Gede. Resepsi akan dilaksanakan belakangan, Taehyung memohon pada Wisnu untuk segera membawa kakaknya pergi dari rumah mereka dan calon suami kakaknya setuju.

“Lelah?”

Jeongguk mendongak, menemukan Taehyung duduk di sisinya membawa dua gelas kopi hitam. “Tidak terlalu.” Dia menyendok makanannya di atas alas kertas minyak yang diletakkan di ingka, mangkuk anyaman rotan. “Kenapa kau di sini alih-alih menemani kakakmu?” Tanyanya.

Taehyung menyesap kopinya perlahan, mengeluarkan suara menyeruput keras dan desahan panjang—satu-satunya cara menikmati kopi tubruk terbaik. “Ayahmu sangat membantuku hari ini.” Katanya menatap ayah Jeongguk yang sedang mengobrol dengan Wisnu dan adiknya.

“Dia banyak berubah.” Sahut Jeongguk setuju, meraih sate terakhir di piringnya dan menariknya lepas dari tusuknya. Menelannya, dia melanjutkan. “Aku tidak yakin bagaimana harus menyikapinya.”

“Bahagia saja, bagaimana?” Taehyung menoleh dan tersenyum, nampak bahagia namun mengantuk di saat yang bersamaan. “Dinikmati saja alih-alih mencemaskan segalanya?”

Jeongguk menyingkirkan bekas makanannya dan membalas senyuman Taehyung. “Baiklah jika begitu.” Dia menggunakan sisa air mineralnya untuk mencuci tangan lalu menyingkap sedikit kainnya untuk mengelap tangan di betisnya* sebelum kembali merapikannya. “Sejauh ini Ajung belum memperkenalkan perempuan mana pun dan aku lega.”

Taehyung mengangguk, menatap kopinya dan sejenak mereka bersisian dalam diam sebelum Taehyung berbisik. “Bisakah kau percaya bahwa kita akhirnya bahagia? Tidak akan ada siapa pun lagi yang akan berusaha merusaknya?” Dia menoleh ke Jeongguk yang tersenyum.

“Bisakah kau sunggh-sungguh memercayainya bahwa aku akhirnya mengeluarkan kakakku dari neraka ini dan sebentar lagi akan pergi bersamamu?”

Jeongguk menyesap kopinya dan menoleh pada Taehyung yang tersenyum. “Kau bahagia?” Tanyanya lembut.

“Oh,” Taehyung tergelak, sejenak stres yang menggelayut di wajahnya—membuat keriput-keriput baru muncul, lenyap dan dia nampak bebas serta sesuai umurnya. Jeongguk senang melihatnya tertawa, satu beban berat baru saja diangkat dari bahunya.

Lamaran kakaknya memberi efek luar biasa untuk Taehyung. Persis setelah mereka menyematkan cincin, bahunya merosot secara drastis dan ekspresinya berubah ringan. Dia baru saja melepaskan satu beban dari bahunya dan Jeongguk ingin sekali memeluknya dan mengecupnya, membisikkan betapa dia sangat bangga pada Taehyung—namun dia bisa menunggu nanti.

Jeongguk sudah meminta izin pada ayahnya akan tinggal di Puri Taehyung setelah ini, membantunya membereskan rumah dan mengurus untuk Ngaben ayahnya. Dan secara ajaib, ayahnya sekarang tidak lagi melarang Jeongguk pergi ke mana pun dia mau dan secara personal malah meminta anaknya menemani Taehyung.

“Pasti berat untuk Taehyung.” Katanya serius dan Jeongguk berpandangan dengan Yugyeom yang berhenti mengunyah makanannya dengan kaget karena ayahnya.

“Ajung salah makan?” Bisiknya pada kakaknya yang menggeleng—sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada ayahnya.

Namun dia lega.

“Aku sangat bahagia hingga kupikir aku bisa meledak karenanya.” Taehyung di hadapannya mendesah panjang, mengembalikan Jeongguk ke masa sekarang.

Jeongguk menghela napas dalam-dalam, senyuman kecil bermain di bibirnya menatap Taehyung yang merona tipis menatap kakaknya yang bahagia. Dia senang kekasihnya bisa menikmati hidupnya sejenak—rileks untuk sementara. Mereka hanya tinggal menyelesaikan urusan Ngaben ayah Taehyung dan bebas setelahnya.

Jeongguk tidak sabar lagi.

“Aku tidak sabar lagi,” bisiknya dan Taehyung menyerigai.


Glosarium:

  • Tukang olah: di Hindu, ada orang-orang khusus yang 'dianugerahi' kemampuan untuk mengolah makanan tradisional Bali, lawar. Kayak kalo bukan dia yang masak, rasanya beda. Makanan yang dimasak dia pasti rasanya autentik banget kayak “oh ini si A pasti yang masak” gitu hahaha dan biasanya lelaki, tapi gak jarang juga perempuan. (bayangin keduanya bersila di bale, ngebat—astaga....)

  • Lawar: taulah yaaa apaa hahaha lawar kuwir itu lawar dengan cincangan daging sejenis enthok. Lawar belimbing itu pake daun belimbing bintang (enak pait-pait buat netralisir rasa berlemak daging), lawar nangka itu pake cincangan nangka.

  • Ares (bukan dewa perang yunani): sayur dari batang pisang muda yang dimasak dengan santan dan bumbu Bali (baca: penyebab mencret tapi enak) dengan isian ayam atau babi <3

  • Pesan (pe di kata pena): lawar yang dibungkus daun pisang lalu dikukus. Semacam pepes.

  • Ngelap tangan di betis: AHHAHAHAHA ini tuh kek lucu-lucuan aja karena kalo abis makan bareng biasanya susah dapet lap tangan dan kalo dilap di kain jorok jadi kata orang HAHAHAHAH kalo abis makan b2 tuh tangannya dilap di betis nanti disayang mertua HAHAHAHAHAHAH plis ini guyonan lokal di tempatku aja peace <3 tp emang gitu sih kek susah nyari lap yaudah lap di betis aja qiqiqiqi corona can't relate bgt gasi (?)

ps. ehe


Taehyung menatap kekasihnya yang sedang mengunyah makanan dengan kalem, mengenakan kemeja denim yang tiga kancing teratasnya dibuka dan rambutnya disisir naik dengan rapi—ekspresinya tenang dan meneduhkan.

Tadi dia membicarakan tentang ayahnya, melemparkan gurauan tentang melepas kasta di meja makan saat sarapan dan jawaban ayahnya; “Memangnya kenapa?” dan jawaban Jeongguk, “Hanya mendadak tidak terlalu menginginkan posisi itu, ingin bekerja ke luar negeri dan mengeksplor banyak hal.”

Ayahnya tidak menjawab lagi setelahnya, nampak menunduk dalam ke makanannya sepanjang sisa sarapan sementara Jeongguk dan Yugyeom bertukar pandangan di seberang meja makan dengan tegang. Jeongguk juga mendadak mendapat perlakuan yang lebih sopan dari kedua orang tuanya; apa pun mimpi ayah Jeongguk, itu pasti berefek sangat luar biasa padanya karena dia mendadak 'melihat' Jeongguk seperti dia melakukannya pada Taehyung.

“Aku tidak tahu apakah aku harus bersikap senang atau tidak tentang ini,” katanya saat mengemudi Hard Top Taehyung ke Alila untuk membereskan barang-barangnya, berpamitan dan mengembalikan seragamnya.

Taehyung menatap jalan raya Manggis saat mendengarnya; walaupun kekasihnya sudah mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang rencana mereka, Taehyung masih tetap merasa cemas. Apakah perubahan sikap itu akan membuat Jeongguk semakin sulit melepaskan keluarganya? Sudah jelas bahwa tujuan dari ayah Jeongguk melakukannya adalah agar anaknya tidak pergi sementara rencana mereka sudah sangat matang.

Jimin sudah mengirimkan uang, jumlahnya sangat besar hingga Taehyung tidak yakin apakah dia bisa mengembalikannya namun Jimin mengibaskan tangannya. “Tidak masalah, tidak dikembalikan juga tidak apa-apa. Aku hidup sendirian, tidak butuh terlalu banyak uang, kok. Tapi kau sedang butuh banyak.” Katanya via telepon, sedang berbaring di hotel transit penerbangannya.

Maka Taehyung menerimanya.

“Tapi aku berpikir,” lanjut Jeongguk ketika mereka meluncur di depan makam desa adat Manggis, sudah dekat dengan Alila. “Mungkin aku bisa membicarakannya dengan Ajung. Siapa tahu dia bisa menerima keputusanku.”

“Alasan apa yang akan kau gunakan?” Tanya Taehyung kemudian, menoleh ke kekasihnya yang memindahkan persneling seraya menginjak gas sedikit lebih dalam.

“Bekerja ke luar negeri, mungkin?” Kekasihnya mengedikkan bahu ringan dan Taehyung meremas jemarinya sendiri; tidak ada jaminan ayah Jeongguk akan menerima alasan itu. Bahkan, bagaimana mungkin dia menerima alasan 'bekerja ke luar negeri' untuk melepaskan kastanya?

Sebelum dia sempat mengutarakan keberatannya, Jeongguk melanjutkan. “Akan kukatakan bahwa aku mungkin akan sangat fokus pada karirku, tidak menikah karena aku ingin,” dia membentuk tanda kutip dengan tangannya yang bebas, “'Menikahi karirku' dan sebaiknya Yugyeom saja yang melakukannya.”

Taehyung mengerutkan alisnya, menatap Jeongguk skeptis. “Entahlah,” katanya meringis. “Jika aku adalah ayahmu—yang syukurnya bukan, aku tidak akan mempercayai alasanmu sama sekali.” Dia mengedikkan bahu. “Menikahi karirmu.” Ulangnya, geli dan Jeongguk tergelak rendah.

“Dicoba saja.” Katanya memasang sein untuk membelok ke Alila. “Kita tidak akan tahu sebelum mencoba, 'kan?” Jeongguk melemparkan senyuman lebar yang membuat kecemasan Taehyung sejenak mereda.

Tidak banyak barang yang harus dibawa Taehyung namun dia merasa sedih ketika mengunci lokernya untuk terakhir kalinya. Dia bekerja di Alila begitu lama, semua orang di sini—termasuk karyawan senior merupakan teman baiknya. Hidup Taehyung dihabiskan di tempat ini; meniti karirnya sejak dia magang, lalu masuk sebagai commis terus memanjat naik hingga mengisi posisi head chef karena loyalitasnya pada Alila.

Dia tidak perlu bekerja karena kontraknya berakhir kemarin dan dia tidak bisa bekerja, maka dia dianggap bekerja namun tidak mendapatkan bayaran service charge. Taehyung tidak masalah tentang itu. Dia sejenak diam di depan lokernya, menatap tulisan 'CHEF TAEHYUNG' yang menempel di pintu loker dengan sedih—teringat loker pertamanya di hotel itu sebelum mendapatkan loker Executive ini. Dengan jemarinya, dia mengusap pintu lokernya; ini saatnya dia mengakhiri perjalanannya di sini.

HRD memberi tahunya mengenai royalti yang akan diterima Taehyung selama resep-resepnya masih digunakan oleh Alila Regional karena penjualannya yang masih terus meningkat. Dia menandatangani kontrak royalti, mendapatkan uang lumayan setiap bulannya—sekian persen dari penjualan regional dan mengembalikan semua atribut Alila-nya. Cukup untuk hidup mereka berdua jika berhemat

“Semoga beruntung di tempat baru, Chef.” HR Manager-nya mengulurkan tangan dan Taehyung menjabatnya erat. “Semoga beruntung dengan apa saja yang akan Chef lakukan ke depannya.”

“Terima kasih.” Katanya sengau, merasa kesedihan melankolis merebak di dadanya karena dia akan meninggalkan suakanya—tempat nyamannya berdinamika dengan semua orang selama ini.

Dia terkenal sebagai department head paling galak; tidak ada yang sudi berurusan dengannya lama-lama. Namun ketika dia muncul di dapur untuk berpamitan, commis dan semua CDP-DCDP-nya menangis. Bahkan Hoseok. Taehyung tergelak rendah, pertama kalinya tertawa di dapur setelah sekian tahun bekerja di sini dan memeluk sous chef-nya.

“Saya hanya mengundurkan diri, bukan dimakamkan.” Guraunya dan beberapa commis tertawa sambil terisak. “Saya mungkin mampir kapan-kapan, jadi tolong jaga dapur; jangan sampai rata dengan tanah, oke?”

Taehyung merasa berat ketika melangkah keluar dari pintu karyawan, menenteng tas yang terisi barang-barang lokernya termasuk safety shoes-nya. Dia menoleh sekali lagi, menatap pintu baja yang mengayun tertutup dan menghela napas. Petualangannya di sini, berakhir—petualangan yang dipikirnya akan mencapai akhir di sini. Bkerja hingga pensiun di sini. Ternyata, dia akan menyongsong petualangan baru.

Kali ini dengan kekasihnya.

Dia merasa lebih baik ketika melihat Jeongguk di kursi pengemudi, menunggunya. Tidak mudah bagi mereka berdua. Taehyung tahu perjuangan Jeongguk hingga menggenggam posisi Executive di Amankila, sama seperti perjuangannya di Alila. Mereka mengorbankan hal yang masing-masing amat berharga dan besar dalam hidup mereka, maka sebaiknya mereka bergandengan tangan untuk berjuang lagi.

“Ayo kencan.” Katanya saat selesai memasang sabuk pengaman dan meremas tangan Jeongguk yang menatapnya sayang. “Aku sedih sekali, aku tidak bohong.” Keluhnya, menatap pantai privat Alila di kejauhan.

“Aku juga.” Jeongguk mengangguk. “Tapi, kita tidak bisa menyembuhkan diri di tempat yang sama di mana kita dilukai, 'kan?”

Taehyung menghela napas. Perasaan takut memulai, takut beradaptasi dan takut terasing membuatnya lumpuh sejenak dan dia meremas tangan Jeongguk lebih erat lagi. “Benar.” Bisiknya ketika hangat genggaman Jeongguk membuatnya merasa lebih baik.

Dia akan baik-baik selama Jeongguk bersamanya.

Mereka kemudian makan di Uma Cucina, Ubud. Jeongguk ingin makanan Italia dan bersikeras membayar makanan mereka karena tahu Taehyung secara finansial tidak terlalu baik.

Keduanya duduk di meja yang terbuka, cuaca tidak terlalu panas hari itu. Nyaman untuk menikmati makanan di ruang terbuka, membiarkan sinar matahari yang membias menghangatkan kulit mereka. Taehyung duduk di hadapan Jeongguk yang terlihat kalem—cukup kalem walaupun kondisi mereka sekarang tidak memiliki pekerjaan.

“Anggap saja cuti panjang.” Jeongguk tersenyum lembut, menghiburnya. “Lagi pula, kita berdua mengundurkan diri secara terhormat—mendapatkan surat rekomendasi yang baik dari masing-masing tempat kita bekerja. Mencari pekerjaan tidak sesulit itu. Aku tidak keberatan bekerja di level di bawah Executive.”

Taehyung menatapnya dan tersenyum. Jika Jeongguk sangat optimis dengan kehidupan mereka kedepannya maka tidak ada alasan untuk Taehyung merasa cemas berlebihan. Dia akan menyongsong bahagia mereka; tinggal di tempat yang sama sekali asing tanpa satu pun manusia yang mengenal mereka. Memelihara anjing, berjalan-jalan di pantai, tidur serta terbangun dengan Jeongguk di sisinya, bercinta kapan pun mereka ingin....

“Aku juga.” Sahutnya, merasakan getar optimis di suaranya. Tidak keberatan bekerja di bawah levelnya sekarang; mereka memulai hidup mereka bersama, tidak ada ruang untuk memilih-milih sekarang.

Bintan punya banyak resor, mereka bisa mendapatkan setidaknya senior sous chef jika bukan Executive—yang terpenting memiliki pemasukan setiap bulannya karena uang tabungan Jeongguk pasti akan habis suatu hari nanti jika mereka tidak bekerja. Jeongguk tersenyum.

Mereka kemudian membicarakan mengenai pernikahan Lakshmi. Taehyung sudah menghubungi Wisnu, memintanya mempersiapkan upacara setelah cuntaka mereka berakhir. Menikah saja sesuai agama, resepsinya bisa dilaksanakan belakangan—Taehyung tidak mau mengambil risiko lagi dengan kondisi mereka seperti telur di ujung tanduk.

“Benar,” Jeongguk menyesap air mineralnya saat Taehyung selesai bicara. “Kita sebaiknya bergegas mengevakuasi semua orang saat kau masih diberi wewenang. Tidak tahu apa yang mungkin mereka lakukan di masa depan.” Dia meraih sepotong piza, menu lain yang dipesannya karena masih lapar.

“Wisnu setuju dan orang tuanya juga siap untuk melamar begitu cuntaka selesai.” Taehyung meneguk bir baru yang dipesannya barusan, menatap halaman restoran yang mereka datangi.

Sudah berapa lama dia tidak melihat sinar matahari dan langit biru terbuka di hari bekerja? Jika ini hari normal, dia pasti tengah meneriaki anak buahnya di dapur untuk mempersiapkan menu makan siang dan malam. Terjebak dalam ruangan penuh aluminium dan hembusan hawa panas; berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Sekarang dia merasakan betapa melelahkannya kehidupan lamanya dan merileks di tempat duduknya.

Anggap saja ini cuti panjang.

“Aku akan menginap malam ini,” kata Jeongguk kemudian dan Taehyung menoleh dari kegiatannya mengamati pepohonan—menikmati angin yang berdesir, mengamati bagaimana mereka bergerak, untuk hidup di detik ini.

Taehyung mengangguk. “Silakan saja, pintu Puri selalu terbuka untukmu. Tidak perlu mengkhawatirkan siapa pun.” Taehyung mengedikkan bahu, meraih sepotong ham di piring Jeongguk lalu menyuapnya. “Niang sekarang tinggal di rumah Jung Alit. Jadi satu natah itu milikku. Katanya bermimpi buruk didatangi ayahku karena belum diupacarai.” Dia mencibir, memangnya dia peduli?

Malah dia senang memiliki rumah itu untuk dirinya sendiri. Karena dia bisa menyelundupkan Jeongguk ke sana. Ibunya sudah mengenal Jeongguk, menganggap dia dan putranya bersahabat sangat akrab, mengizinkan Jeongguk menginap kapan saja dia ingin. Masih cukup berduka karena kematian suaminya; sulit makan dan tidur, jadi Lakshmi menemaninya di kamar. Tidak terlalu memerhatikan anaknya yang mengunci pintu di malam hari bersama 'sahabat'-nya.

Jeongguk berdeham dan Taehyung mendongak, alisnya berkerut. “Kenapa?” Tanyanya, mengerjap.

Rona merah muda samar menghampar di wajah Jeongguk dan dia menggaruk sisi lehernya—menatap ke arah lain dengan sangat menggemaskan ketika berbisik. “Wigung,” dia menjilat bibirnya, menggigiti bibir bawahnya sebelum melirik Taehyung dari balik bulu matanya yang lentik.

“Wigung ingin... bercinta malam ini?” Tanyanya lalu bergegas menambahkan—nyaris panik. “Maksudku, jika kau lelah, maka lupakan saja. Aku tidak berniat bersikap tidak sensitif; kau mungkin lelah karena mengurus segala macam hal belakangan ini, masih terpukul karena masalah ayahmu dan sebagainya. Aku hanya mengungkapkan apa yang kuinginkan. Kau tahu karena...,”

Jeongguk praktis meracau dan Taehyung mendapati, dia sangat menggemaskan ketika kikuk. Jeongguk jarang meminta bercinta, Taehyung-lah yang lebih banyak menyetir hubungan mereka. Maka ketika kekasihnya menyinggung hal itu, Taehyung baru menyadari bahwa sudah lama sekali sejak mereka terakhir bercinta.

Maka Taehyung menjulurkan kakinya di bawah meja, sengaja menyenggol kaki Jeongguk di depannya—membuatnya nampak senatural mungkin ketika menatap kekasihnya.

“Tentu saja.” Bisiknya sedikit parau. “Sudah lama sejak kita terakhir bercinta, 'kan?”

Dan rona di wajah Jeongguk setelahnya membuat hati Taehyung terasa ingin meledak; kekasihnya yang sangat menggemaskan. Dia tidak sabar tinggal bersama dengannya, memamerkan hubungan mereka ke semua orang tanpa beban—walaupun harganya mahal sekali, namun tidak masalah.


Taehyung mengerang, menjambak lembut rambut Jeongguk ketika kekasihnya menendang pintu kamarnya menutup dan menguncinya seraya menciumi lehernya dengan rakus—nyaris tidak berhenti untuk bernapas.

“Oh, fuck!” Geram Jeongguk di lehernya, tangannya menangkup pantat Taehyung dan meremasnya, menyelipkan tangannya yang kurus ke dalam tepian celana Taehyung lalu meremasnya.

Oooh!” Taehyung melempar kepalanya ke belakang, terkesiap kecil ketika Jeongguk dengan tidak sabar melepaskan kancing depan pakaiannya.

Mereka tiba lumayan terlambat, memutuskan untuk mampir ke Bali Safari dalam perjalanan pulang secara impulsif. Mereka menikmati paket berkeliling dengan jip dan berinteraksi dengan binatang di sana—seperti karyawisata anak-anak, namun Taehyung menikmati wajah Jeongguk yang senang. Mereka menikmati waktu beristirahat mereka dengan baik sebelum kembali berjuang beberapa bulan lagi.

Dia menyadari ketika Jeongguk ditemani pawang singa, melemparkan daging ke predator itu, bahwa sejenak berhenti dan bernapas tidak ada salahnya. Taehyung sudah terus berlari selama ini, mengejar sesuatu yang tidak dia pahami, menghindari sesuatu yang tidak dilihatnya; maka sejenak beristirahat tidak ada salahnya.

Dan ketika tiba di rumah, ibunya sudah beristirahat ditemani Lakshmi. Rumah sunyi karena hanya ada ibu dan kakaknya selain dirinya di sana. Maka Jeongguk langsung menciumnya detik kaki Taehyung menginjak bagian dalam kamarnya. Rasanya seperti ledakan adrenalin yang membuat Taehyung pusing—dia mengerang mabuk saat Jeongguk melemparnya ke ranjang yang berderit dan memanjat ke atasnya.

Tangannya membuka kancing kemeja Taehyung yang beraroma matahari dan Taehyung mengulurkan tangan, membuka kemeja Jeongguk dengan tatapan terpaut. Kesintingan hidup mereka belakangan ini telah berakhir dan layak dirayakan dengan seks yang panjang serta lama.

“Aku mencintaimu.” Gumam Jeongguk parau dengan kemeja yang terbuka berkibar di sisi tubuhnya—tangan Taehyung menyentuh dadanya, merasakan hangat tubuh dan mendengarkan Jeongguk mendesis oleh sentuhannya.

Taehyung menatapnya, menggunakan ibu jari dan telunjuknya, dia memilin puncak dada Jeongguk yang mengeras hingga kekasihnya melenguh tertahan dan merunduk—memangut bibirnya seraya menyelipkan lututnya ke selangkangan Taehyung yang mengeras. Taehyung mendesah panjang, mengangkat pinggulnya dan mengusapkannya ke selangkangan Jeongguk yang mengumpat keras. Dia ternyata sangat merindukan sentuhan Jeongguk—amat, sangat merindukannya.

Mereka memiliki Puri untuk mereka berdua, sudah tidak ada ayah Taehyung yang mungkin memergoki mereka sekarang. Mereka sudah setengah bebas dan Taehyung tidak sabar untuk bebas berteriak ketika mereka bercinta di rumah mereka nanti—memberi tahu dunia betapa nikmatnya Jeongguk terasa di tubuhnya.

“Kau akan membayar untuk ini.” Geram Jeongguk, menegakkan tubuh dan membuka kemejanya lalu memisahkan kait celana jinsnya—membiarkannya menggantung rendah di pinggulnya, membiarkan Taehyung mengamati garis rambut samar di bawah pusarnya yang turun bersembunyi di balik pakaian dalamnya.

“Bersiaplah, Sayang.” Dia merunduk, menjulurkan lidah dan menjilat leher Taehyung yang merengek. “Aku tidak akan berbaik hati hari ini.”

*

tw // mention of murder plan , moral ambiguous .


ps. aku jelasin kematian di sini, jadi kalo ada yg gak nyaman bisa skip ato pelan2 ya bacanya. alur maju-mundur <3 psss. ini fiksi ya anak-anak, jangan ditelan mentah2. udah gede yu bisa yu (?)


Taehyung menatap kakaknya yang duduk di hadapannya dengan botol racun berada di hadapan mereka—jemari Taehyung memainkan benang tridatu yang melingkar di leher botol tanpa benar-benar menyadarinya.

Teringat hari ketika mereka merencanakannya, seperti dua orang penyihir yang penuh dendam—tidak lagi paham cara apa yang harus mereka gunakan untuk kabur dari rumah yang tidak lagi terasa rumah. Lakshmi yang terisak memohon maaf mengenai lamaran yang dirahasiakannya dari Taehyung; meminta maaf karena sempat begitu egois memikirkan dirinya sendiri dan Taehyung memaafkannya. Lalu mereka merencanakan pembunuhan ayah mereka tanpa perasaan berat atau bersalah, terjebak perasaan ingin melepaskan diri yang tidak lagi masuk akal—tidak tertahankan.

Taehyung juga menceritakan semua tentang keluarga Devy; semua berita busuk yang mereka sebar tentang keluarga mereka, kelicikan ayah Devy serta jerat yang mengikat leher ayah mereka selama ini hingga sangat terobsesi menjadikan Taehyung Penglingsir. Itulah mengapa berita tentang mereka, khususnya Lakshmi—sasaran paling empuk Puri mereka, mereda ketika Taehyung bersikap baik pada Devy. Semakin reda ketika pernikahan mereka mendekat.

Ayah Devy yang selama ingin mengatur apinya—membesarkan dan meredupkannya kapan saja dia ingin.

Lakshmi pucat, rona lenyap dari wajahnya—bahkan bibirnya ketika Taehyung selesai menceritakan segala yang diketahuinya tentang keluarga Devy. Tidak sulit, dia hanya perlu mencari seseorang yang cukup tua untuk mengenal mereka berdua sejak kecil dan Taehyung mendapatkan segalanya dari kakek Hendra. Maka ketika Jeongguk mendengar sesuatu dari Hendra ketika menjemput dokumen mereka, Taehyung tahu dia tahu.

“Dia... melakukannya?” Bisik Lakshmi lirih, gemetar dan Taehyung meraih tangannya—merasakan betapa dingin telapaknya lalu meremasnya hangat. Kakaknya yang selama ini menjadi keset untuk keluarga mereka; terinjak-injak, mendapat perlakuan paling tidak adil, dipandang sebelah mata, dikucilkan.

Taehyung ingin mengorbankan apa saja demi memberikan sedikit saja kehormatan untuk Lakshmi—sedikit saja agar dia diperlakukan selayaknya manusia.

Lakshmi juga menunjukkan percakapannya dengan Jeongguk, meminta maaf pada Taehyung karena bersikap berlebihan dan Taehyung menggeleng. Menyadari bahwa Jeongguk sepertinya sedang tertekan dan marah, mengatakan hal-hal yang tidak terlalu dipikirkannya. Lakshmi benar, Taehyung tidak akan meninggalkan Lakshmi apa pun yang terjadi—tidak peduli bagaimana kakaknya menyikapi itu. Mereka semua tertekan, Taehyung rasa sikap mereka semua sangat manusiawi karena Taehyung juga menjadi sangat agresif pada Jeongguk di masa-masa itu. Lakshmi menyadari bahwa dia keliru, sudah cukup untuk Taehyung.

Mereka hanya punya satu sama lain, Taehyung tidak ingin pergi dari Puri dalam keadaan mendendam pada kakaknya.

Mbok Gek minta maaf karena sempat ingin meninggalkan Tugung sendirian, karena Mbok Gek tahu Tugung dan Turah akan kabur dan Mbok Gek panik. Bagaimana dengan Mbok Gek? Apa Tugung sudah tidak memikirkan Mbok Gek lagi?”

Taehyung menatap kakaknya—lucu bagaimana dia memikirkan hal yang sama persis di hari dia melihat kakaknya mengenakan kebaya senada dengan ibunya di saat lamaran kemarin. Mereka hidup bersama, perbedaan usia yang hanya satu setengah tahun membuat keduanya dekat sekali—nyaris seperti kembar dan Taehyung bisa merasakan emosi kakaknya, begitu pula sebaliknya. Maka ketika dia berpikir Lakshmi mungkin mengkhianatinya, dia tidak dapat menelannya dengan benar.

Ternyata mereka hanya tengah saling ketakutan, saling merasa terkhianati. Tidak sengaja memproyeksikan ketakutan itu menjadisikap defensif yang agresif. Maka mereka berbaikan dan menyusun rencana untuk membunuh ayah mereka sendiri—dibahanbakari kemuakan dengan kehidupan mereka, jalan pintas untuk kabur.

Namun sekarang, ketika ayah mereka meninggal; mereka bersyukur mereka belum sempat melakukannya.

Taehyung di masa sekarang mendorong botol itu. “Akan Tugung buang,” katanya parau dan Lakshmi mengangguk. Ibu mereka sudah lama tidur dan Jeongguk sudah pulang ke Puri-nya, hanya ada mereka di sana.

“Botolnya dibakar saja agar tidak ada yang menemukan.” Sahut Lakshmi, berbisik—mereka bersila di atas kasur Taehyung setelah menenangkan diri karena kedatangan Devy.

Mereka keluar kamar Taehyung, pergi ke sudut rumah. Suasana rumah hening, masih sedikit mencekam setelah kematian dan pemakaman—membuat angin yang berdesir terasa lebih dingin. Mereka melangkah di rumah mereka sendiri, ketakutan karena sempat merencanakan pembunuhan dan sedang membawa barang buktinya. Mereka membelinya di Karangasem, seorang balian di Perasi.

Taehyung sendiri yang pergi ke sana, merahasiakannya dari Jeongguk sama sekali karena dia takut pada apa yang kekasihnya mungkin pikirkan tentangnya. Menjaga jarak dari Jeongguk karena takut Jeongguk mungkin mengetahuinya. Dia juga tidak ingin melibatkan kekasihnya dalam urusan keluarganya: berpikir dengan tegas bahwa ini urusannya. Dia akan menyelesaikan ini, berharap setelah ayahnya meninggal dia dan Lakshmi akan terbebas. Lakshmi akhirnya bisa menikah dan Taehyung bisa melepaskan posisi pewaris yang tidak diinginkannya.

Namun malam itu, ketika ayahnya mendadak kumat, Taehyung merasa kehidupan surut dari tubuhnya—disedot habis. Mendadak begtu takut ayahnya meninggal dan dia harus menghadapi Puri yang membencinya: hal yang tidak terpikirkan ketika dia merencanakan pembunuhan ayahnya. Dia mengemudi ke Sanglah dengan Lakshmi di sisinya, pucat pasi. Memikirkan racun yang telah mereka beli sehari sebelumnya.

Jika mereka menggunakannya, maka mereka pasti menghabiskan sisa hidup mereka dihantui rasa bersalah.

Dendam itu mati seperti lampu—begitu saja ketika Taehyung mendengar ibunya menjerit memanggil namanya, memintanya membawa ayahnya ke Sanglah. Kepanikan malam itu membuat Taehyung mati rasa—dia bergerak, tidak benar-benar menyadari ke mana dia bergerak. Otaknya terpaku ke racun yang disembunyikannya di lemari dan merasa malu, berdosa karena telah berpikir untuk membunuh ayahnya.

Syukurlah Jeongguk, walaupun sempat terpukul dan kecewa pada tindakan Taehyung, kemudian memeluknya dan memaafkannya—bersumpah dia sangat bersyukur Taehyung tidak jadi menggunakan racunnya. Dia memeluk Taehyung begitu erat hingga sesak, menggumamkan kata 'Bodoh, Bodoh!' gemetar oleh tangis pada Taehyung yang terisak—masih merasa terpukul karena dia begitu dekat dengan rasa bersalah sepanjang sisa hidupnya, merusak bahagia yang mereka rencanakan.

“Jangan pernahmerahasiakan apa pun lagi dariku.” Bisik Jeongguk kemudian, masih memeluk Taehyung dengan begitu erat. “Kita tim, kita harus saling menolong. Jangan pernah memunggungiku lagi setelah ini, oke?”

Taehyung mengangguk dan Jeongguk menciumnya—memangut bibirnya kuat hingga berdarah. Hukuman atas sikap kekanakannya dan rasa syukur karena Taehyung akhirnya tidak memiliki keberanian untuk melakukannya.

Lakshmi dan Taehyung sekarang berdiri di sudut gelap rumah mereka, lampu sudut rumah nyaris tidak menyinari mereka namun sinar bulan cembung yang temaram sudah cukup. Keduanya saling menatap sebelum Taehyung membuka tutup botol itu. Mengapa mereka bisa berpikir sehina dan sejahat itu?

Mata keduanya terpancang ke botol itu ketika Taehyung perlahan menunggingkannya, menyaksikan cairan itu meluruh ke mulut botol dan meluncur ke tanah. Suaraya gemericik lembut ketika menghantam tanah sebelum perlahan menyerap ke dalam—menyiksakan noda gelap yang melebar. Kedua saudara itu menatap cairan bening tanpa aroma itu larut ke tanah di tengah heningnya malam; membuang segala kekhilafan mereka bersama air yang larut, berharap suatu hari nanti mereka bisa melepaskan rasa bersalah karena sempat merencanakan pembunuhan atas orang tua mereka sendiri.

“Jika...,” bisik Lakshmi saat Taehyung menyalakan pematik, membakar botol itu di tanah. Keduanya berjongkok di sana, menyaksikan nyala api perlahan melahap plastik basah itu—mendesis marah tiap kali menguapkan sisa air yang menghalanginya. “Jika saja Ajung tidak dibuli, jika saja dia tidak... mengenal ayah Devy, mungkinkah hidup kita tetap begini?”

Taehyung diam, menatap api yang bergolak di depannya seraya memainkan pematik di tangannya yang mengenakan cincinnya bersama Jeongguk. Memikirkan kemungkinan mustahil karena itu terjadi jauh sebelum mereka dilahirkan. Botol itu meleleh, plastik panas menetes ke tanah—tetes api yang menempel di sana sejenak mendesis sebelum perlahan padam.

“Entahlah, Mbok Gek.” Bisik Taehyung lirih, matanya menatap lekat botol yang setengah terbakar dengan tetesan plastik panas meleleh ke tanah. Karena dia sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi jika kehidupan mereka berbeda dan tidak ingin memikirkannya—hanya akan membuat Taehyung semakin tidak ingin menatap masa depannya sendiri.

Mereka berjongkok di sana, menatap api dalam diam—seperti ketika mereka kecil, dihukum oleh ayah mereka. Dimasukkan ke kamar mandi, disiram air dan dikunci dari luar tanpa makanan. Mereka akan bermain berdua dalam diam, dengan kondisi menggigil kedinginan—berusaha membuat tubuh mereka hangat. Tidak boleh menangis karena jika mereka menangis, ayah mereka akan semakin murka. Lakshmi akan mengajak Taehyung bermain suit, duduk di lantai kamar mandi yang dingin berusaha mengabaikan pakaian mereka yang basah dan perut mereka yang lapar.

Pernah juga malam ketika mereka dihukum tidak boleh makan, mereka mengendap ke dapur mencuri sepiring nasi dan sepotong ikan tongkol goreng untuk makan diam-diam. Lakshmi menyisihkan lebih banyak nasi dan lauk untuk Taehyung ketika mereka berjongkok di bawah meja makan dapur, terburu-buru makan hingga Taehyung tersedak dan terbatuk keras. Mereka langsung membeku, melirik pintu masuk dengan ketakutan. Namun tidak ada yang terjadi, maka mereka makan dengan cepat sebelum berlari kembali ke kamar dalam gelap—akhirnya bisa tidur nyenyak setelah perut mereka terisi.

Bagaimana jika hidup mereka berbeda?

Ayah mereka keluar dari Puri, mereka hidup di rumah mereka sendiri—tidak ada tanggung jawab berat di bahu Taehyung, tidak ada yang peduli Lakshmi seorang Astra, ayahnya tidak ditekan orang sinting....

Taehyung menggertakkan giginya, menggelengkan kepala—mengenyahkan isi kepalanya. Dia tidak mau memikirkannya, dia lebih memilih fokus pada keadaannya saat ini alih-alih memikirkan 'apa yang terjadi jika....'

“Setelah cuntaka, Mbok Gek akan langsung dilamar Wisnu.” Katanya sementara api meredup dan angin dingin berdesir, sejenak membuat Lakshmi bergidik dan merapatkan pashmina di bahunya. “Selama Tugung masih Penglingsir, maka Tugung akan mengeluarkan Mbok Gek secepatnya.”

Taehyung masih menatap api saat melanjutkan, “Tugung akan kabur secepatnya, begitu Ngeroras Ajung selesai. Jika boleh, menikahlah secara adat dulu dengan Wisnu—pergi dari sini secepatnya.” Dia menatap kakaknya yang mengerjap, nampak pucat seperti bulan purnama. “Kita tidak punya banyak waktu, kita tidak tahu hingga kapan mereka berbelas kasih pada kita di Puri ini jika sejak awal mereka menganggap kita hama.”

Lakshmi merapatkan pashmina-nya, bergidik ketika menatap api yang mulai meredup—berusaha keras mencari sisa plastik untuk dilahap dan mempertahankan kobarannya. “Ibu bagaimana?” Tanyanya berbisik.

Taehyung menghela napas. “Ibu tidak mau pergi dari sini.”

Lakshmi meringis. “Lalu siapa yang menjaga Ibu?”

Taehyung mengedikkan bahu, resah. “Aku sempat meminta Ibu pulang ke rumah Ninik, tapi dia tidak mau.” Taehyung menatap noda gelap di tanah sisa air dan plastik yang meleleh.

“Kita tinggalkan Ibu?” Bisik Lakshmi perlahan.

Taehyung menghela napas. “Ibu sendiri yang ingin tinggal di sini, padahal tahu bagaimana semua orang membenci kita. Buatnya, inilah harga dirinya. Dia tidak mau melepaskan hidup ini maka....,” dia melirik Lakshmi; dia sudah berusaha, tapi jika orang yang ingin ditolongnya tidak ingin dibantu untuk apa dia berusaha terus?

Mereka kembali diam. Malam berdesir lirih, membelai kulit Taehyung yang terbuka. Langit cerah perlahan berubah kebiruan seraya menyongsong dini hari. Namun suasana masih mencekam dan hening, tidak ada satu kendaraan pun yang lewat di depan rumah mereka. Kedua saudara itu tetap berjongkok di sana walaupun api mereka telah lama redup dan mati, mengabaikan dingin yang semakin menggigit dan suasana yang semakin mencekam dihantui sisa kematian ayah mereka.

Setelah ini, hidup mereka akan berubah. Lakshmi akan menikahi lelaki yang menghormatinya sepenuh hati, dia akan berbahagia di sana menilik bagaimana keluarga Wisnu selalu menerimanya dengan tangan terbuka. Sementara Taehyung akan menyambut bahagianya sendiri bersama Jeongguk.

“Apakah Tugung akan pulang ke Bali lagi suatu hari nanti?” Tanya Lakshmi lirih. Seekor ayam berkokok di kejauhan, menandai bahwa pagi mungkin akan menjelang sebentar lagi.

Taehyung menggeleng. Dia tentu tidak akan kembali ke tempat di mana dia dilukai, dia tidak akan bisa menyembuhkan diri. “Tidak.” Katanya tegas, Jeongguk pun pasti berpikiran sama tentang ini. “Kami tidak akan kembali.”

Lakshmi menunduk. “Begitu.” Bisiknya.

Dia menoleh ke kakaknya, mengulurkan tangan dan merangkulnya—Lakshmi bersandar di bahunya, memejamkan mata saat Taehyung mengusap rambutnya sayang. “Hiduplah dengan bahagia,” bisiknya di rambut Lakshmi. “Lupakan hidup Mbok Gek di rumah ini, anggap tidak ada yang pernah terjadi. Berbahagialah hingga tidak ada ruang untuk rasa sedih merayap kembali.”

“Kita berdua berhak bahagia setelah semua ini.”

Taehyung merasakan Lakshmi tersenyum di pelukannya. “Setuju.” Bisiknya lirih. Dia mengulurkan lengannya, memeluk Taehyung sayang. “Mbok Gek akan sangat merindukan Tugung. Sangat merindukan Tugung setelah ini.” Suaranya parau, terdengar seolah sedang berusaha menelan gumpalan pahit di tenggorokannya.

“Tapi setidaknya, Mbok Gek senang karena Tugung sedang bersama satu-satunya orang yang Tugung inginkan. Seseorang yang akan menjaga dan membuat Tugung bahagia, maka Mbok Gek tidak akan khawatir lagi.”

Taehyung tersenyum, merasakan panas menjalar di ulu hatinya—naik mencekik lehernya dan membuat matanya panas oleh air mata. Mereka sebentar lagi akan berpisah; menyongsong bahagia masing-masing yang selama ini mati-matian mereka perjuangkan, bahkan sempat berpikir tidak akan pernah ada bahagia untuk mereka.

Jika ingin picik, kematian ayah mereka membuat ikatan kencang di dada mereka melonggar dan lepas. Segala hal terbongkar, semuanya terselesaikan hingga mereka bisa melangkah keluar Puri dengan lebih ringan. Kakaknya bisa menikah, Taehyung tidak perlu menikahi gadis yang dibencinya dan tidak ada yang bisa mengontrol mereka lagi sekarang.

“Maka Mbok Gek juga harus berbahagia.” Bisik Taehyung lembut dan Lakshmi tergelak sebelum terisak lirih dalam pelukannya. “Karena Tugung pasti sedang berbahagia ketika Mbok Gek berbahagia.”

Haruskah Taehyung bersyukur atas kematian ayahnya....?

Dia memeluk kakaknya yang masih terisak lembut. Ini perpisahan, mereka menyadarinya. Setelah berpuluh-puluh tahun bersama, berbagi sakit, tangis, dan tawa sekarang mereka akan hidup terpisah bersama orang yang akan menjaga dan membahagiakan mereka. Menjauh dari masa lalu yang mencekik mereka selama ini.

Taehyung mendongak, menatap bulan yang semakin redup karena matahari mulai kembali naik. Memikirkan betapa surealnya kebahagiaan yang sedang melangkah ke arah mereka sekarang, berharap tidak ada sandungan apa pun lagi di jalan mereka karena cukup tiga puluh delapan tahun ini mereka berdua menderita dan menatap bahagia yang tergantung di hadapan mereka; dekat namun tak teraih.

Mereka berdua akan menyongsong masa depan, merengkuh bahagia yang selama ini direnggut dari tangan mereka oleh orang tua mereka sendiri. Dan Taehyung tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi, dia bersumpah.

*

tw // mention of murder plan , moral ambiguous .


ps. aku jelasin kematian di sini, jadi kalo ada yg gak nyaman bisa skip ato pelan2 ya bacanya. alur maju-mundur <3 psss. ini fiksi ya anak-anak, jangan ditelan mentah2. udah gede yu bisa yu (?)


Taehyung menatap kakaknya yang duduk di hadapannya dengan botol racun berada di hadapan mereka—jemari Taehyung memainkan benang tridatu yang melingkar di leher botol tanpa benar-benar menyadarinya.

Teringat hari ketika mereka merencanakannya, seperti dua orang penyihir yang penuh dendam—tidak lagi paham cara apa yang harus mereka gunakan untuk kabur dari rumah yang tidak lagi terasa rumah. Lakshmi yang terisak memohon maaf mengenai lamaran yang dirahasiakannya dari Taehyung; meminta maaf karena sempat begitu egois memikirkan dirinya sendiri dan Taehyung memaafkannya. Mereka merencanakan pembunuhan ayah mereka tanpa perasaan berat atau bersalah, terjebak perasaan ingin melepaskan diri yang tidak lagi masuk akal—tidak tertahankan.

Taehyung juga menceritakan semua tentang keluarga Devy; semua berita busuk yang mereka sebar tentang keluarga mereka, kelicikan ayah Devy serta jerat yang mengikat leher ayah mereka selama ini hingga sangat terobsesi menjadikan Taehyung Penglingsir. Itulah mengapa berita tentang mereka, khususnya Lakshmi—sasaran paling empuk Puri mereka, mereda ketika Taehyung bersikap baik pada Devy. Semakin reda ketika pernikahan mereka mendekat.

Ayah Devy yang selama ingin mengatur apinya—membesarkan dan meredupkannya kapan saja dia ingin.

Lakshmi pucat, rona lenyap dari wajahnya—bahkan bibirnya ketika Taehyung selesai menceritakan segala yang diketahuinya tentang keluarga Devy. Tidak sulit, dia hanya perlu mencari seseorang yang cukup tua untuk mengenal mereka berdua sejak kecil dan Taehyung mendapatkan segalanya dari kakek Hendra.

“Dia... melakukannya?” Bisik Lakshmi lirih, gemetar dan Taehyung meraih tangannya—merasakan betapa dingin telapaknya lalu meremasnya hangat. Kakaknya yang selama ini menjadi keset untuk keluarga mereka; terinjak-injak, mendapat perlakuan paling tidak adil, dipandang sebelah mata, dikucilkan.

Taehyung ingin mengorbankan apa saja demi memberikan sedikit saja kehormatan untuk Lakshmi—sedikit saja agar dia diperlakukan selayaknya manusia.

Lakshmi juga menunjukkan percakapannya dengan Jeongguk, meminta maaf pada Taehyung karena bersikap berlebihan dan Taehyung menggeleng. Menyadari bahwa Jeongguk sepertinya sedang tertekan dan marah, mengatakan hal-hal yang tidak terlalu dipikirkannya. Lakshmi benar, Taehyung tidak akan meninggalkan Lakshmi apa pun yang terjadi—tidak peduli bagaimana kakaknya menyikapi itu.

Mbok Gek minta maaf karena sempat ingin meninggalkanmu sendirian, karena Mbok Gek tahu Tugung dan Turah akan kabur jadi Mbok Gek panik. Bagaimana dengan Mbok Gek? Apa Tugung sudah tidak memikirkan Mbok Gek lagi?”

Taehyung menatap kakaknya—lucu bagaimana dia memikirkan hal yang sama persis di hari dia melihat kakaknya mengenakan kebaya senada dengan ibunya di saat lamaran kemarin. Mereka hidup bersama, perbedaan usia yang hanya satu setengah tahun membuat keduanya dekat sekali—nyaris seperti kembar dan Taehyung bisa merasakan emosi kakaknya, begitu pula sebaliknya. Maka ketika dia berpikir Lakshmi mungkin mengkhianatinya, dia tidak dapat menelannya dengan benar.

Ternyata mereka hanya tengah saling ketakutan, saling merasa terkhianati. Maka mereka berbaikan dan menyusun rencana untuk membunuh ayah mereka sendiri—dibahanbakari kemuakan dengan kehidupan mereka, jalan pintas untuk kabur.

Namun sekarang, ketika ayah mereka meninggal; mereka bersyukur mereka belum sempat melakukannya.

Taehyung di masa sekarang mendorong botol itu. “Akan Tugung buang,” katanya parau dan Lakshmi mengangguk. Ibu mereka sudah lama tidur dan Jeongguk sudah pulang ke Puri-nya, hanya ada mereka di sana.

“Botolnya dibakar saja agar tidak ada yang menemukan.” Sahut Lakshmi, berbisik—mereka bersila di atas kasur Taehyung setelah menenangkan diri karena kedatangan Devy.

Mereka keluar kamar Taehyung, pergi ke sudut rumah. Suasana rumah hening, masih sedikit mencekam setelah kematian dan pemakaman—membuat angin yang berdesir terasa lebih dingin. Mereka melangkah di rumah mereka sendiri, ketakutan karena sempat merencanakan pembunuhan dan sedang membawa barang buktinya. Mereka membelinya di Karangasem, seorang balian di Perasi. Taehyung sendiri yang pergi ke sana, merahasiakannya dari Jeongguk sama sekali karena dia takut pada apa yang kekasihnya mungkin pikirkan tentangnya.

Menjaga jarak dari Jeongguk karena takut Jeongguk mungkin mengetahuinya. Dia juga tidak ingin melibatkan kekasihnya dalam urusan keluarganya: berpikir dengan tegas bahwa ini urusannya. Dia akan menyelesaikan ini, berharap setelah ayahnya meninggal dia dan Lakshmi akan terbebas. Lakshmi akhirnya bisa menikah dan Taehyung bisa melepaskan posisi pewaris yang tidak diinginkannya.

Namun malam itu, ketika ayahnya mendadak kumat, Taehyung merasa kehidupan surut dari tubuhnya—disedot habis. Dia mengemudi ke Sanglah dengan Lakshmi di sisinya, pucat pasi. Memikirkan racun yang telah mereka beli sehari sebelumnya. Jika mereka menggunakannya, maka merekalah yang bersalah.

Dendam itu mati seperti lampu—begitu saja ketika Taehyung mendengar ibunya menjerit memanggil namanya, memintanya membawa ayahnya ke Sanglah. Kepanikan malam itu membuat Taehyung mati rasa—dia bergerak, tidak benar-benar menyadari ke mana dia bergerak. Otaknya terpaku ke racun yang disembunyikannya di lemari dan merasa malu, berdosa karena telah berpikir untuk membunuh ayahnya.

Mereka berdiri di sudut gelap rumah mereka, lampu sudut rumah nyaris tidak menyinari mereka namun sinar bulan cembung yang temaram sudah cukup. Keduanya saling menatap sebelum Taehyung membuka tutup botol itu. Mengapa mereka bisa berpikir sehina dan sejahat itu?

Mata keduanya terpancang ke botol itu ketika Taehyung perlahan menunggingkannya, menyaksikan cairan itu meluruh ke mulut botol dan meluncur ke tanah. Suaraya gemericik lembut ketika menghantam tanah sebelum perlahan menyerap ke dalam—menyiksakan noda gelap yang melebar. Kedua saudara itu menatap cairan bening tanpa aroma itu larut ke tanah di tengah heningnya malam; membuang segala kekhilafan mereka bersama air yang larut, berharap suatu hari nanti mereka bisa melepaskan rasa bersalah karena sempat merencanakan pembunuhan atas orang tua mereka sendiri.

“Jika...,” bisik Lakshmi saat Taehyung menyalakan pematik, membakar botol itu di tanah. Keduanya berjongkok di sana, menyaksikan nyala api perlahan melahap plastik basah itu—mendesis marah tiap kali menguapkan sisa air yang menghalanginya. “Jika saja Ajung tidak dibuli, jika saja dia tidak... mengenal ayah Devy, mungkinkah hidup kita tetap begini?”

Taehyung diam, menatap api yang bergolak di depannya seraya memainkan pematik di tangannya yang mengenakan cincinnya bersama Jeongguk. Memikirkan kemungkinan mustahil karena itu terjadi jauh sebelum mereka dilahirkan. Botol itu meleleh, plastik panas menetes ke tanah—tetes api yang menempel di sana sejenak mendesis sebelum perlahan padam.

“Entahlah, Mbok Gek.” Bisik Taehyung lirih, matanya menatap lekat botol yang setengah terbakar dengan tetesan plastik panas meleleh ke tanah. Karena dia sungguh tidak tahu apa yang akan terjadi jika kehidupan mereka berbeda dan tidak ingin memikirkannya—hanya akan membuat Taehyung semakin tidak ingin menatap masa depannya sendiri.

Mereka berjongkok di sana, menatap api dalam diam—seperti ketika mereka kecil, dihukum oleh ayah mereka. Dimasukkan ke kamar mandi, disiram air dan dikunci dari luar tanpa makanan. Mereka akan bermain berdua dalam diam, dengan kondisi menggigil kedinginan—berusaha membuat tubuh mereka hangat. Tidak boleh menangis karena jika mereka menangis, ayah mereka akan semakin murka. Lakshmi akan mengajak Taehyung bermain suit, duduk di lantai kamar mandi yang dingin berusaha mengabaikan pakaian mereka yang basah dan perut mereka yang lapar.

Pernah juga malam ketika mereka dihukum tidak boleh makan, mereka mengendap ke dapur mencuri sepiring nasi dan sepotong ikan tongkol goreng untuk makan diam-diam. Lakshmi menyisihkan lebih banyak nasi dan lauk untuk Taehyung ketika mereka berjongkok di bawah meja makan dapur, terburu-buru makan hingga Taehyung tersedak dan terbatuk keras. Mereka langsung membeku, melirik pintu masuk dengan ketakutan. Namun tidak ada yang terjadi, maka mereka makan dengan cepat sebelum berlari kembali ke kamar dalam gelap—akhirnya bisa tidur nyenyak setelah perut mereka terisi.

Bagaimana jika hidup mereka berbeda?

Ayah mereka keluar dari Puri, mereka hidup di rumah mereka sendiri—tidak ada tanggung jawab berat di bahu Taehyung, tidak ada yang peduli Lakshmi seorang Astra, ayahnya tidak ditekan orang sinting....

Taehyung menggertakkan giginya, menggelengkan kepala—mengenyahkan isi kepalanya. Dia tidak mau memikirkannya, dia lebih memilih fokus pada keadaannya saat ini alih-alih memikirkan 'apa yang terjadi jika....'

“Setelah cuntaka, Mbok Gek akan langsung dilamar Wisnu.” Katanya sementara api meredup dan angin dingin berdesir, sejenak membuat Lakshmi bergidik dan merapatkan pashmina di bahunya. “Selama Tugung masih Penglingsir, maka Tugung akan mengeluarkan Mbok Gek secepatnya.”

Taehyung masih menatap api saat melanjutkan, “Tugung akan kabur secepatnya, begitu Ngeroras Ajung selesai. Jika boleh, menikahlah secara adat dulu dengan Wisnu—pergi dari sini secepatnya.” Dia menatap kakaknya yang mengerjap, nampak pucat seperti bulan purnama. “Kita tidak punya banyak waktu, kita tidak tahu hingga kapan mereka berbelas kasih pada kita di Puri ini jika sejak awal mereka menganggap kita hama.”

Lakshmi merapatkan pashmina-nya, bergidik ketika menatap api yang mulai meredup—berusaha keras mencari sisa plastik untuk dilahap dan mempertahankan kobarannya. “Ibu bagaimana?” Tanyanya berbisik.

Taehyung menghela napas. “Ibu tidak mau pergi dari sini.”

Lakshmi meringis. “Lalu siapa yang menjaga Ibu?”

Taehyung mengedikkan bahu, resah. “Aku sempat meminta Ibu pulang ke rumah Ninik, tapi dia tidak mau.” Taehyung menatap noda gelap di tanah sisa air dan plastik yang meleleh.

“Kita tinggalkan Ibu?” Bisik Lakshmi perlahan.

Taehyung menghela napas. “Ibu sendiri yang ingin tinggal di sini, padahal tahu bagaimana semua orang membenci kita. Buatnya, inilah harga dirinya. Dia tidak mau melepaskan hidup ini maka....,” dia melirik Lakshmi; dia sudah berusaha, tapi jika orang yang ingin ditolongnya tidak ingin dibantu untuk apa dia berusaha terus?

Mereka kembali diam. Malam berdesir lirih, membelai kulit Taehyung yang terbuka. Langit cerah perlahan berubah kebiruan seraya menyongsong dini hari. Namun suasana masih mencekam dan hening, tidak ada satu kendaraan pun yang lewat di depan rumah mereka. Kedua saudara itu tetap berjongkok di sana walaupun api mereka telah lama redup dan mati, mengabaikan dingin yang semakin menggigit dan suasana yang semakin mencekam dihantui sisa kematian ayah mereka.

Setelah ini, hidup mereka akan berubah. Lakshmi akan menikahi lelaki yang menghormatinya sepenuh hati, dia akan berbahagia di sana menilik bagaimana keluarga Wisnu selalu menerimanya dengan tangan terbuka. Sementara Taehyung akan menyambut bahagianya sendiri bersama Jeongguk.

“Apakah Tugung akan pulang ke Bali lagi suatu hari nanti?” Tanya Lakshmi lirih. Seekor ayam berkokok di kejauhan, menandai bahwa pagi mungkin akan menjelang sebentar lagi.

Taehyung menggeleng. Dia tentu tidak akan kembali ke tempat di mana dia dilukai, dia tidak akan bisa menyembuhkan diri. “Tidak.” Katanya tegas, Jeongguk pun pasti berpikiran sama tentang ini. “Kami tidak akan kembali.”

Lakshmi menunduk. “Begitu.” Bisiknya.

Dia menoleh ke kakaknya, mengulurkan tangan dan merangkulnya—Lakshmi bersandar di bahunya, memejamkan mata saat Taehyung mengusap rambutnya sayang. “Hiduplah dengan bahagia,” bisiknya di rambut Lakshmi. “Lupakan hidup Mbok Gek di rumah ini, anggap tidak ada yang pernah terjadi. Berbahagialah hingga tidak ada ruang untuk rasa sedih merayap kembali.”

“Kita berdua berhak bahagia setelah semua ini.”

Taehyung merasakan Lakshmi tersenyum di pelukannya. “Setuju.” Bisiknya lirih. Dia mengulurkan lengannya, memeluk Taehyung sayang. “Mbok Gek akan sangat merindukan Tugung. Sangat merindukan Tugung setelah ini.” Suaranya parau, terdengar seolah sedang berusaha menelan gumpalan pahit di tenggorokannya.

“Tapi setidaknya, Mbok Gek senang karena Tugung sedang bersama satu-satunya orang yang Tugung inginkan. Seseorang yang akan menjaga dan membuat Tugung bahagia, maka Mbok Gek tidak akan khawatir lagi.”

Taehyung tersenyum, merasakan panas menjalar di ulu hatinya—naik mencekik lehernya dan membuat matanya panas oleh air mata. Mereka sebentar lagi akan berpisah; menyongsong bahagia masing-masing yang selama ini mati-matian mereka perjuangkan, bahkan sempat berpikir tidak akan pernah ada bahagia untuk mereka.

Jika ingin picik, kematian ayah mereka membuat ikatan kencang di dada mereka melonggar dan lepas. Segala hal terbongkar, semuanya terselesaikan hingga mereka bisa melangkah keluar Puri dengan lebih ringan. Kakaknya bisa menikah, Taehyung tidak perlu menikahi gadis yang dibencinya dan tidak ada yang bisa mengontrol mereka lagi sekarang.

“Maka Mbok Gek juga harus berbahagia.” Bisik Taehyung lembut dan Lakshmi tergelak sebelum terisak lirih dalam pelukannya. “Karena Tugung pasti sedang berbahagia ketika Mbok Gek berbahagia.”

Haruskah Taehyung bersyukur atas kematian ayahnya....?

Dia memeluk kakaknya yang masih terisak lembut. Ini perpisahan, mereka menyadarinya. Setelah berpuluh-puluh tahun bersama, berbagi sakit, tangis, dan tawa sekarang mereka akan hidup terpisah bersama orang yang akan menjaga dan membahagiakan mereka. Menjauh dari masa lalu yang mencekik mereka selama ini.

Taehyung mendongak, menatap bulan yang semakin redup karena matahari mulai kembali naik. Memikirkan betapa surealnya kebahagiaan yang sedang melangkah ke arah mereka sekarang, berharap tidak ada sandungan apa pun lagi di jalan mereka karena cukup tiga puluh delapan tahun ini mereka berdua menderita dan menatap bahagia yang tergantung di hadapan mereka; dekat namun tak teraih.

Mereka berdua akan menyongsong masa depan, merengkuh bahagia yang selama ini direnggut dari tangan mereka oleh orang tua mereka sendiri. Dan Taehyung tidak akan pernah menoleh ke belakang lagi, dia bersumpah.

*

note. tae kelas 5, jk kelas 7.


Taehyung belum pernah membolos dari sekolah selama ini karena dia tidak tahu apa asyiknya pergi dari sekolah di mana dia bisa menjangkau kantin yang dekat dan bermain dengan teman-temannya.

Namun setiap kali ada temannya yang menyombong tentang membolos untuk pergi ke rental Playstation, Taehyung iri. Dia duduk di bangkunya, menatap teman-teman lelakinya yang membolos kemarin menceritakan keseruan mereka bermain di luar sementara Taehyung terjebak di kelas mengerjakan perkalian yang membosankan. Memangnya di dunia nyata nanti Taehyung butuh memikirkan enam kali tujuh berapa? Ayahnya saja menggunakan kalkulator sepanjang waktu.

Taehyung memberengut, mereka terlihat seolah baru saja memenangkan mendali emas dan begitu bangga—seru kata mereka, memacu adrenalin.

Dan Taehyung suka adrenalin!

Maka hari itu, ketika tiba di sekolah, Taehyung melakukan hal yang sangat diinginkannya itu. Membolos sekolah. Tidak jauh kok dia hanya akan pergi ke gerai makanan cepat saji yang berada beberapa meter dari sekolahnya. Taehyung membawa semua uang simpanannya untuk rencananya hari ini—tiga belas ribu rupiah dan merasa paling kaya sedunia. Dia bergegas pergi menjauh dari gerbang sekolah persis setelah ibunya berlalu setelah mengantarnya. Teman-teman sekolahnya tidak memerhatikannya—pun jika mereka memerhatikan, Taehyung tidak perduli.

Dia bergegas kabur, dalam balutan seragam merah putih menuju gerai makanan yang diinginkannya dengan tas di punggungnya. Lalu lintas di sisinya lumayan ramai karena jam berangkat bekerja dan sekolah, tapi Taehyung pintar—dia tahu dia harus berjalan di trotoar dan syukurlah dia tidak perlu menyeberang. Dia tersenyum lebar, menyadari teman-temannya benar karena dia merasakan jantungnya bertalu-talu dengan kuat di balik rusuknya—dia bersemangat sekali. Dia membolos sekolah!

Taehyung membolos sekolah!

Dia mengangkat kepalanya, mendengus senang membayangkan bagaimana teman-temannya besok akan berseru kagum mendengar ceritanya karena tidak seperti mereka yang membolos untuk main Playstation, pergi ke warnet atau bermain di empang, Taehyung pergi ke gerai makanan cepat saji.

Taehyung keren dan punya banyak uang!

Taehyung menepuk saku depan seragamnya, merasakan segepok uang lembaran dua ribu rupiah yang digulungnya—hasil mengumpulkan uang jajannya selama ini karena ibunya selalu membekalinya cukup makanan. Dia melangkah masuk ke dalam parkiran gedung raksasa itu, sejenak takut dan ingin kembali. Ini pertama kalinya dia pergi membeli sesuatu tanpa ibunya, tapi dia sudah sering pergi ke sana dengan ibunya dan dia hafal bagaimana caranya.

Sangat mudah. Dia hanya perlu melangkah ke konter, mengatakan kepada kakak baik di belakang komputer besar apa yang diinginkannya (es krim!!) lalu membayarnya. Dan mereka kemudian akan memberikan Taehyung es krimnya untuk dimakan! Taehyung mengangguk, tersenyum lebar—dia suka es krim.

Dia menaiki undakan, jantungnya berdebar dan di dalam sana ramai. Ada banyak orang dewasa yang menunduk di balik laptop dengan earphone di telinga mereka. Nampak keren sekali karena mereka tidak perlu minta izin Mama untuk pergi ke mana pun mereka mau, boleh makan mie instan dua kali sehari, dan bebas ingin tidur jam berapa pun seperti kakak Taehyung, Seokjin.

Taehyung tidak sabar untuk segera dewasa dan bisa makan mie instan dua kali sehari. Dia juga bisa tidur malam seperti kakaknya, tidak dipaksa tidur siang atau mandi. Kakaknya bebas ingin makan, mandi, dan tidur jam berapa; orang dewasa itu keren.

Tapi sekarang dia sedang menjadi orang dewasa. Dia memasuki gerai makanan cepat saji terisi banyak orang dewasa—sendirian. Hidungnya mengembang bangga saat mengangkat dagunya, melangkah ke depan. Dia tidak perlu minta izin pada ibunya menu apa yang diinginkannya. Taehyung mendorong pintu kaca berat di depannya dan nyaris terjepit ketika pintu mengayun tertutup karena lengan kurusnya tidak menahannya terbuka dengan kuat lalu bergegas memasuki ruangan yang dingin sekali.

Sejenak, dia bergidik sebelum menatap konter yang ramai dengan orang-orang dewasa yang sibuk memesan dengan teman-temannya. Tidak ada anak-anak yang ditemani orang tua saat itu dan Taehyung merasa bangga. Dia bergabung dengan antrian—tidak ada yang bertanya padanya dan Taehyung menggenggam kantung depan seragamnya dengan erat, memastikan uangnya berada di sana.

Menatap sekitar dengan resah, Taehyung melihat seorang yang dikenalnya. Mengenakan seragam putih biru dengan satu garis di lengan kirinya. Taehyung meringis, itu Kak Jeongguk. Semua orang mengenalnya. Dia baru lulus kemarin dan nakal sekali—tentu saja dia membolos sekolah. Taehyung ingat saat dia pertama berpapasan dengan kakak kelasnya itu di depan kelasnya, Jeongguk kelas enam dan Taehyung kelas empat. Dia tidak menoleh ke Taehyung, tertawa dengan teman-temannya yang keren—suka duduk di depan kelas lalu lari ketika guru datang.

Taehyung tidak suka padanya—takut, lebih tepatnya. Karena dia berisik, suka mencari masalah, dan bergaya petantang-petenteng. Dia juga sering membelikan teman-temannya makanan. Terkenal ke seluruh sekolah sebagai anak nakal dan sebagai anak baik, Taehyung menjauhinya.

Taehyung mengernyit, apakah ini berarti dia juga nakal seperti Kak Jeongguk karena dia juga membolos? Dia kemudian memberengut; tapi dia, 'kan, hanya melakukan ini sekali. Tidak akan melakukannya lagi besok atau besoknya!

Mengangguk tegas—senang pada pola pikirnya, dia mengalihkan pandangan dari kakak kelasnya itu—walaupun penasaran apa yang sedang dimainkannya di PSP-nya. Bolehkah Taehyung mencoba memainkannya?

Dia menggeleng tegas, “Jangan dekat-dekat anak nakal, Tae!” Katanya pada dirinya sendiri. Dia hanya akan menghabiskan es krimnya lalu kembali ke sekolah untuk membagikan kisahnya hari ini.

Hanya ada tiga orang di depan Taehyung sekarang, mereka memesan banyak makanan dan mengeluarkan lembaran uang seratus ribu dari dompet mereka. Taehyung menatapnya terpana—bagaimana rasanya memiliki uang sebanyak itu? Taehyung pasti bisa membeli semua cokelat yang diinginkannya, membeli mainan di warung depan rumah dan membeli bey-blade.

Oh. Tapi dia juga punya uang hari ini.

Taehyung mengeluarkan uang dari sakunya, menghitungnya perlahan, memastikan uang recehnya tidak menggelinding jatuh. Dia punya enam lembar dua ribu rupiah dan dua buah uang koin lima ratusan perak. Cukup untuk es krim, dia tersenyum lebar.

Akhirnya orang di hadapannya menyingkir dan dia berdiri di depan komputer raksasa itu. Sedikit mendongak untuk menatap ke balik layar, ke kakak kasir baik yang tersenyum padanya.

“Halo, Adik!” Sapanya ramah setelah meletakkan nampan baru kosong di sisinya untuk pesanan Taehyung. “Ingin membeli apa?”

Taehyung langsung menyebutkannya. “McFlurry Oreo!” Dia mengangkat tangannya dan menunjukkan jempolnya. “Satu!” Tambahnya—jantungnya berdebar keras sekarang, oleh adrenalin karena dia akhirnya melakukan sesuatu yang ibunya selalu lakukan untuknya.

Taehyung merasa dewasa dan sangat keren sekarang, berdiri sendiri di depan kasir dan memesan makanannya. Dia meletakkan uangnya di kasir saat kakak di depannya memasukkan sesuatu ke komputer lalu mengangkat wajahnya.

“Empat belas ribu, ya, Dik.” Katanya ramah.

Jantung Taehyung mencelos. Dia hanya punya tiga belas ribu! Dalam kepanikan, dia merogoh sakunya—berharap menemukan uang yang tertinggal di sakunya. Dia ingin menangis, memanggil ibunya. Kapok karena membolos sekolah, makanan di kantin tidak ada yang seharga empat belas ribu. Taehyung membersit, wajahnya pucat karena takut saat tangannya merogoh dan tidak menemukan sepeser uang pun sementara senyuman kakak kasir di depannya terasa semakin menyeramkan.

Apakah jika dia tidak membayar mereka akan mencubit Taehyung? Apakah dia akan dilaporkan ke ibunya? Bagaimana jika dia dihukum tidak mendapatkan uang jajan setelah ini?

Taehyung takut.

Semua keberaniannya yang tadi membuncah karena akhirnya melakukan kegiatan seperti orang dewasa, lenyap sudah. Dia gemetar, matanya panas karena tidak menemukan uang sepeser pun tersisa di bajunya.

“Uangnya kurang seribu Adik,” kakak di depannya tersenyum simpati. “Adik ada seribu rupiah lagi untuk es krimnya?” Tanyanya menggenggam seluruh harta Taehyung di tangannya—tiga belas ribu rupiah, termasuk dua uang koin lima ratus rupiahnya.

Taehyung menggeleng, menggigit bibir bawahnya—matanya buram oleh air mata. Dia berdiri di sana, kaki dan tangannya dingin karena ketakutan ingin menangis memanggil ibunya karena uangnya kurang. Mulai berpikir dia tidak akan sok-sokan membolos lagi setelah ini dan sudah akan meledak dalam tangis saat seseorang menghampirinya dan mengeluarkan selembar dua ribuan lalu meletakkannya di kasir.

“Ini, Mbak, kurangnya.” Kata suara itu dan Taehyung menoleh, menemukan Jeongguk berdiri di sisinya—tidak menoleh ke arahnya.

Taehyung mengerjap, air mata menetes dari sudut matanya—meluncur di atas pipinya dan menyisakan jejak panas sedikit lengket sebelum lepas di garis dagunya. Sekarang tidak yakin apakah dia menangis karena takut uangnya kurang atau karena Jeongguk, kakak kelas paling menyeramkan, berdiri di sisinya. Dia menyekanya, membersit keras sekali saat kakak kasir memproses pesanannya. Dia menunduk, tidak berani menatap Jeongguk dan mengatakan terima kasih.

“Ini struknya, ya, Adik. Ditunggu pesanannya.” Katanya ramah, mendorong nampan Taehyung menjauh dan mempersilakan pelanggan setelahnya memesan.

“Ayo.” Kata Jeongguk, menariknya dari depan kasir. “Tunggu makananmu di sini.” Tambahnya sementara Taehyunng masih gemetar—syok karena uangnya kurang dan tidak tahu apa yang mungkin terjadi jika Jeongguk tidak membantunya.

Kakak kelasnya berdiri di depannya, nampak percaya diri dan persis orang dewasa ketika menatapnya dengan alis berkerut. “Kau anak SD sebelah, 'kan?” Tanyanya heran. “Kenapa tidak di sekolah?” Tegurnya dan Taehyung memberengut: memangnya dia siapa berani-beraninya memberi tahu Taehyung apa yang harus dilakukannya?

Taehyung mengerjap. “Kakak juga tidak.” Balasnya, berbisik lalu bergegas menunduk, tidak berani menatap Jeongguk. Dia menatap kakinya dan kaki Jeongguk, mengamati sepatu Jeongguk yang memiliki garis putih di bagian solnya. Tidak seperti sepatu Taehyung yang hitam membosankan.

“Kau masih SD.”

“Kakak masih SMP.”

Jeongguk mengerutkan alisnya. “Kau tengil, ya?” Katanya kemudian dan Taehyung mendongak, menatapnya sebal—enak saja, Taehyung anak pintar! Kebetulan saja dia sial membolos dan uangnya kurang untuk membeli es krim.

Dia membuka mulut hendak membalas kalimat Jeongguk namun kasir tadi memberikan pesanannya dengan ceria. “Adik, ini es krimnya!” Dia tersenyum lebar dan Taehyung bergegas mengambil es krimnya—sedikit berjinjit dan menggenggam cup-nya dengan dua tangannya.

Jeongguk menatapnya.

Taehyung balas menatapnya.

Mereka saling menatap lama di sisi kasir; satu anak SD dan satu anak SMP dengan satu es krim yang mulai mencair di tangan Taehyung, di tengah gerai makanan cepat saji yang lumayan ramai ketika seharusnya mereka berada di sekolah.

Taehyung mengerjap, sedikit merona ketika memberanikan dirinya membuka mulut. Kepalang basah, berenang saja sekalian. “Aku boleh pinjam PSP tidak, Kak?”

Jeongguk menatapnya, matanya berkedip-kedip beberapa kali saat memproses kalimat Taehyung sebelum nyengir. “Boleh, ayo!” Katanya.

“Terima kasih uangnya, ya, Kak, besok kuganti.”

“Tidak perlu, hanya dua ribu kok.”

“Kuganti!”

“Baiklah, baiklah jangan mengomel!”

“Kakak pulang naik apa?”

“Naik ojek....”


ps. aku pengen nulis tapi capek sama gormet so here we go hahaha good night! x

tw // humiliation , anger .


Jeongguk memarkir mobil Taehyung di depan Puri dan melihat dua Rubicon terparkir di seberang jalan, sangat mencolok. Dia menyadari mantan atasannya sudah tiba di Puri, syukurlah urusan di Griya cepat.

Karena Puri menyerahkan segalanya pada Taehyung, maka dia memutuskan untuk Ngaben sesuai dengan anjuran Griya di mana jika sudah melaksanakan mekingsan di geni, lembu dan bade tidak lagi diperlukan. Taehyung akan menghemat biaya, lagi pula orang Puri tidak akan peduli. Konsekuensinya hanya orang akan berpikir Taehyung tidak menghormati ayahnya, namun peduli setan toh sebentar lagi dia akan pergi dari Puri itu dan menyerahkan posisi kepala keluarga pada yang sebenarnya. Hal terpenting saat ini adalah memberikan upacara yang layak bagi ayahnya.

Hari yang diberikan Griya ada dua bulan lagi dan Taehyung berpikir setelah cuntaka selama dua belas hari—mungkin memberikan jeda lagi selama 12 hari, dia akan meminta Wisnu melamar kakaknya. Secepat mungkin menjauhkan Lakshmi dari Puri yang sama sekali tidak menyukai mereka, Taehyung kepala keluarga mereka sekarang dan dia berhak meminta kakaknya menikah.

“Oh, Felix.” Kata Taehyung di sisinya, meraih udeng yang tadi dilepaskannya di dasbor dan mengenakannya kembali. “Aku tidak tahu dia akan datang.”

Jeongguk menatap kekasihnya yang sejak tadi terdengar linglung dan kebingungan. Dia hanya duduk di lokasi persembahyangan mereka tadi, di Pantai Goa Lawah menatap lepas ke lautan dengan wadah abu ayahnya di pangkuannya diapit Lakshmi dan ibunya. Matanya kosong dan dia melamun, membuat Jeongguk cemas sepanjang hari. Dia membawa tas Taehyung, dompet dan ponselnya ada bersama Jeongguk. Dia ingin Taehyung fokus pada kegiatannya dan tidak terganggu hal-hal remeh di ponselnya.

Mengenal Taehyung selama bertahun-tahun, Jeongguk paham ada sesuatu yang mengganggunya. Ada yang sedang dipikirkannya, namun dia tidak ingin mendesak Taehyung untuk memberi tahunya—mungkin hanya masalah Ngaben. Tadi mereka sudah membicarakan biaya banten untuk upacara ayah Taehyung dari prosesi Atma Wedana hingga Ngelinggihang. Mereka sudah mendapat perkiraan kasarnya termasuk sesari dan Taehyung terlihat semakin tua setelah mendengarnya.

Jeongguk ingin sekali memindahkan setengah beban di bahunya ke bahu Jeongguk, ingin memindahkan setengah sakit di kepalanya ke kepala Jeongguk; apa saja agar Taehyung bisa terlihat lebih nyaman di dalam tubuhnya sendiri. Bahu Taehyung merosot di balik kemeja gelap yang digunakannya, tulang selangkanya entah bagaimana nampak jauh lebih menonjol dengan kesedihan bergelayut di bahunya.

“Aku bisa membantumu masalah uang,” katanya sebelum mereka menaiki mobil untuk kembali ke Puri. Dia mengatakannya perlahan, tidak ingin menyinggung Taehyung karena masalah sesensitif uang.

Taehyung menggeleng dan bibirnya membentuk garis putih tipis sehingga Jeongguk mundur, tidak lagi membicarakan masalah itu hingga mereka tiba di Puri.

“Ya, tadi di grup UFF dan bersikeras datang ke Puri bersama Arsa, Gustra, dan Wulan.” Jelasnya menarik rem tangan dan bergegas turun mengikuti Taehyung yang memasang udeng-nya, merapikan rambutnya.

“Oh,” sahut Taehyung mengangguk, membenahi kain dan saput-nya sebelum bergegas memasuki Puri-nya yang mulai sepi karena acara mereka sudah selesai—hanya ada beberapa orang yang masih membantu mereka untuk menyambut tamu yang melayat.

Jeongguk tidak melihat orang Puri lainnya, mereka hanya ikut persembahyangan di Goa Lawah lalu setelahnya pulang. Seperti tamu, seolah itu bukan keluarga mereka yang dimakamkan. Tapi Jeongguk tidak lagi terkejut—konflik antarindividu di rumah sudah sering terjadi hingga di titik Jeongguk tidak lagi paham apa yang mereka perebutkan.

Puri beraroma tajam dupa dan aroma khas upacara adat—bunga, keringat, kopi, teh, rokok, dupa, sesaji.... Jeongguk sudah sangat familiar dengan aroma ini, nyaris nyaman dengan aromanya. Suasana agak berantakan dengan empat orang ibu berjongkok di dekat tandan air, mencuci berkeranjang-keranjang gelas bekas kopi dan teh sambil mengobrol sementara di dalam dapur ada yang masih menyeduh bernampan-nampan minuman.

Mereka menaiki undakan dan langsung melihat Felix—tidak sulit menemukannya karena dia praktis lebih tinggi dari semua orang. Dia duduk di Bale Gede, bersama Arsa dan teman-teman UFF-nya. Taehyung langsung menghampiri mereka dan Jeongguk mengekornya seraya menyimpan kunci mobil di tas selempang kecilnya.

“Nah, ini dia.” Kata Arsa yang duduk di bagian dalam dengan Kinan di sisinya; mengenakan setelan adat yang membuat Jeongguk sejenak tersenyum kecil. Mereka sudah menjadi orang Bali ternyata karena kemeja hitam, udeng, kain yang menempel di tubuh mereka nampak sangat cocok.

Kinan, seperti biasa nampak licin dan cerdas. Mengenakan kacamata bergagang kecilnya dan membawa handbag pria dari kulit, kemejanya dikancing rapi, udeng-nya rapi, mengenakan kain songket yang terlihat mahal—menekankan kontras pada penampilan Arsa yang tiga kancing teratas kemejanya terbuka, kainnya sedikit berantakan, dan ujung udeng-nya bengkok. Songket dan saput mereka kembar, Jeongguk menyadari. Kinan tersenyum pada Jeongguk, nampak selalu tenang dan terstruktur hingga Jeongguk iri.

Wulan dan Gustra duduk di dekat Kinan, menyalami Taehyung pertama dan mengungkapkan turut berduka cita mereka dengan tulus. Wulan mengenakan kebaya abu gelap, bersimpuh dengan tas tangan di pangkuannya di sisi Gustra yang juga mengenakan kemeja gelap. Jeongguk merasa seperti sudah berabad-abad sejak mereka menggelar acara food bazaar itu—sejak hidup terasa teratur dan tenang tanpa gejolak.

Sekarang semuanya jungkir balik, terjun bebas dan Jeongguk tidak yakin apakah dia mengenakan parasut untuk mendarat.

Felix duduk di dekat mereka, kemeja gelapnya membalut tubuhnya yang bidang dengan apik—memamerkan tempat yang tepat. Ada kacamata gelap digantungkan di kerah bajunya yang dua kancing teratasnya terbuka. Dia juga mengenakan kain yang sama dengan kekasihnya, Christian yang baru kali kedua dilihat Jeongguk selain masa UFF mereka.

“Tjok.” Felix menyalami sahabatnya hangat dan menepuk bahunya ketika Taehyung bergabung dengan mereka. “Kau sudah kenal tunanganku, Christian.”

Lelaki di sisi Felix mengulurkan tangan, tersenyum ramah dan menjabat tangan Taehyung. Rambut ikalnya mengintip dari bawah udeng-nya dan dia terlihat asing dalam pakaian adat Bali, mungkin karena wajahnya yang sedikit Chinese. “Turut berduka cita, Tjok.” Katanya tulus sebelum tersenyum pada Jeongguk dan menyalaminya juga.

Hal yang membuat Jeongguk terkesima adalah bagaimana Felix menyatakan bahwa lelaki di sisinya adalah tunangannya dengan suara normal—tidak peduli bagaimana pikiran orang di sekitar tentang mereka. Dia tidak menurunkan wajahnya sama sekali, tidak takut atau risih. Jeongguk menginginkan kepercayaan diri itu. Atau apakah jika dia bukan lelaki berkasta, dia memiliki percaya diri yang sama untuk mengakui Taehyung adalah kekasihnya?

Kedua chef seniornya mengumumkan bahwa mereka berdua pasangan dengan sangat gamblang: kain kembar, kemeja kembar, udeng senada, duduk bersebelahan. Hal yang sangat membuat Jeongguk iri, dia menahan diri agar tidak melirik Taehyung—tahu kekasihnya sedang sangat tertekan.

“Terima kasih.” Taehyung bersila di hadapan mereka sementara seorang perempuan yang membantu datang membawakan senampan kopi dan segelas teh untuk Wulan dengan piring terisi kue basah.

Jeongguk bergegas membantunya menurunkan kopi untuk teman-temannya, menyajikannya di hadapan setiap orang. Felix menerimanya seraya menggumamkan terima kasih, meletakkan gelas untuk Christian dulu sebelum dirinya.

“Gung, untuk Kinan tidak perlu.” Sela Arsa tepat saat Jeongguk menurunkan gelas keempat. “Dia cukup air putih saja, lambungnya tidak cocok dengan kafein.” Tambahnya dan Kinan di sisinya mengernyit—nampak membenci fakta itu namun tidak ada yang bisa dilakukannya.

“Oh, baiklah, Chef.” Jeongguk mengangguk dan meletakkan kembali kopi di atas nampan.

“Teh bagaimana, Turah?” Tanya gadis itu berbisik. “Tiang ambilkan.”

Jeongguk menggeleng. “Tidak perlu, air putih saja sudah ada air kemasan.” Katanya melirik air kemasan yang diletakkan di atas piring yang tersaji di hadapan tamu mereka. “Terima kasih.” Dia tersenyum dan gadis itu mengangguk, bergegas kembali ke dapur karena dia dibutuhkan.

“Jadi kapan Ngaben-nya?” Tanya Felix saat Jeongguk duduk di sisi Taehyung yang menyesap kopinya—nampak berkerut kelelahan.

“Dua bulan lagi.” Sahut Taehyung parau, nampak sedikit lebih baik setelah minum kopi. “Jika semuanya lancar, acara akan langsung diselesaikan hari itu juga dari Atma Wedana hingga Ngelinggihang. Tidak perlu membuang-buang waktu.”

“Kau mau makan sesuatu? Kau belum sarapan,” bisik Jeongguk ketika Taehyung kembali meneguk kopinya.

Felix mendengarnya, “Benar.” Katanya, “Makanlah sesuatu kami bisa menunggu.”

Taehyung menggeleng, “Tidak apa-apa, aku masih kenyang.”

“Itulah yang Kinan katakan bertahun-tahun lalu sebelum kemudian terbaring di ranjang rumah sakit karena tukak lambung.” Sahut Arsa kalem dan walaupun dia terdengar menyebalkan, Jeongguk senang dia melakukannya. “Begitulah.” Tambah Kinan, menyesap air kemasannya dengan khidmat.

Taehyung akhirnya setuju, pamit pergi ke Pewaregan untuk makan sebelum kembali menemani mereka. Menyisakan Jeongguk yang menemani mereka mengobrol sambil menanti—dia sudah sarapan dan membeli roti di Goa Lawah tadi, lumayan kenyang.

“Bagaimana tentang rencana kalian?” Tanya Felix rendah sementara Gustra dan Wulan mengobrol dengan Kinan, Christian pindah ke sisi Kinan untuk bercengkerama dengan ketiganya dan Arsa mendekat ke Felix.

Jeongguk menghela napas, menggeleng. “Kacau,” dia mengedikkan bahunya. “Hanya itu yang bisa kukatakan. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini.”

Felix menatapnya dan Jeongguk berusaha keras tidak membalasnya—teringat hari-hari ketika dia masih begitu muda, masuk ke dapur Amankila sebagai junior sous chef yang menatap Felix sebagai role model-nya. Dibimbing, ditemani, hingga diberikan jabatan yang diinginkannya ketika senior sous chef mereka mendadak mengundurkan diri lalu Jeongguk otomatis dipromosikan mengisi posisi itu.

“Rencana apa?” Sela Arsa, terdengar bingung dan Felix hanya menatapnya sebal sebelum kembali menatap Jeongguk. “Aku hanya bertanya, Bung, kau tidak perlu senewen begitu.” Gerutu Arsa. “Tapi jika kalian butuh bantuan,” tambahnya menatap Jeongguk lekat.

“Bantuan apa saja,” ulangnya dengan penekanan dengan mata menatap Jeongguk lekat—memberi tahu maksudnya tanpa mengatakannya dan Jeongguk menghela napas. “Katakan saja padaku atau Felix, kami akan membantu kalian. Apa saja, apa saja. Surprise me.”

Jeongguk tersenyum lemah, mengangguk—mungkin sangat membutuhkan bantuan mereka tetapi tidak yakin bagaimana mengatakannya. Taehyung belum membicarakan tentang itu sama sekali padanya dan Jeongguk tidak yakin bagaimana harus bersikap. Dia akan mengingatnya saja untuk saat ini, menghargai itikad baik rekannya.

“Pasti, Chef.” Katanya.

Lalu terdengar suara riuh dari kejauhan, suara terkesiap keras beberapa orang bersamaan dan mereka semua seketika menoleh ke arah suara. Jeongguk seketika mengumpat keras ketika melihat Devy berada di depan Taehyung yang baru keluar dari dapur. Taehyung sedang tidak baik-baik saja, Jeongguk tidak yakin seberapa stabil kondisinya dan setan kecil itu memutuskan untuk datang sekarang.

“Permisi sebentar, Chef.” Katanya tegang lalu bergegas merangkak turun dari Bale Gede dan mengenakan sandalnya, nyaris terjerembab karena terburu-buru dan mendengar Kinan terkesiap keras dari belakangnya namun Jeongguk tidak berhenti untuk menoleh.

Dia sudah mengatakan pada Devy untuk menjauh dari mereka, kenapa gadis itu tidak memahaminya?? Tidakkah dia melihat bagaimana Taehyung adalah monster yang siap melahapnya begitu dia menggenggam Devy di tangannya? Mengapa dia harus menjadi layaknya pahlawan yang melemparkan diri ke dalam mulut monster demi membahagiakan orang tuanya? Memangnya dia tinggal di belahan dunia abad berapa?

Jeongguk bergegas berlari ke arah sana, untuk menahan Taehyung dan mendengar suara langkah kaki menyusulnya sementara beberapa tamu menoleh tertarik—mendekat. Dia cukup dekat untuk mendengar teriakan Devy yang nampaknya juga tidak dalam kondisi stabil, memohon pada Taehyung.

Tangisannya memilukan dan Jeongguk benci melihat perempuan menangis. Gadis itu sedang menggenggam tangan Taehyung, memohonnya. “Wigung, Wigung, diholas.” Rengeknya dan Jeongguk sejenak berpikir, apakah gadis ini sehat?

“Devy.” Geram Taehyung dan Jeongguk bisa melihat tubuhnya gemetar menahan amarah. Jeongguk bergegas menghampirinya dan menyentuh bahunya, merasakan getarannya di telapak tangannya. “Pulang.”

Devy menggeleng histeris, dia mengenakan pakaian adat di tubuhnya—pandangannya liar. “Ajik, Ajik.” Tangisnya. “Jika aku tidak menikahimu, Ajik tidak akan tenang. Ajik tidak bisa mati dengan damai!”

Jeongguk benci sekali orang tua yang menggunakan kematian mereka untuk memanipulasi anak. Level tertinggi dari manipulasi cinta dan kasih sayang anak demi keuntungan mereka sendiri. Jeongguk jijik karena dia sering mendengar ancaman itu digunakan ketika dia kecil. Dia kemudian menghampiri Devy, berusaha melepaskan tangannya yang mencengkeram Taehyung dengan erat—kukunya membentuk bulan sabit merah muda di kulit Taehyung.

“Dayu,” bujuknya merasa kepalanya berdenyut—kenapa dia harus datang sekarang? Kurangkah segala kelelahan dan beban yang ditanggung Taehyung hingga dia harus mendapatkan tambahan semacam ini? “Dayu, pulanglah.” Dia berusaha mendorong Devy menjauh dari Taehyung namun gadis itu terus meraung di telinganya—meneriakkan bahwa dia harus menikahi Taehyung, tidak terima pada pembatalan pernikahan mereka, Taehyung harus menikahinya.

“Tidak, tidak, TIDAK!” Raung gadis itu di telinga Jeongguk yang berdenging. “Ajik bilang aku harus menikahi Wigung, tidak. Tidak harus, harus!” Dia terisak dan sialnya, memutuskan untuk mengubah taktiknya dari memohon ke mengancam.

“Kau tidak bisa membatalkannya begitu saja!” Teriaknya marah dan gemetar, jemarinya mengayun menunjuk wajah Taehyung. “Aku bisa menghancurkanmu, aku bisa membuat kakak Astra-mu itu menderita!”

Jeongguk takut dia sedang berhalusinasi karena patah hati. Memikirkan cerita Hendra bagaimana hidupnya adalah ilusi yang diciptakan ayahnya membuatnya pedih—Devy sebaiknya pulang dan menjauh dari Taehyung sekarang. Mana orang tua Devy? Mengapa mereka membiarkan anaknya berkeliaran?

“Dayu, kau sedang tidak baik.” Bujuk Jeongguk, mendorong gadis itu dengan lembut namun tegas untuk mundur. “Kita bicara besok, ya? Tolong.” Mohonnya sementara suara tangisannya membuat kepala Jeongguk berdenyut—berharap dia tidak banyak bicara.

“Kau berpikir kau hebat!” Raung Devy, menggeliat dari genggaman Jeongguk yang berhasil menyeretnya mundur dibantu beberapa bapak. “Kau itu tidak layak menjadi pewaris! Kau bisa karena ayahmu yang melakukannya! Ibumu Sudra, kakakmu Astra! Tidak ada yang—!”

“Kau juga Astra!”

Jeongguk dan semua orang terkesiap keras mendengar raungan itu. Dia menoleh, menurunkan tangannya dari Devy yang seketika membeku di genggamannya. Taehyung berdiri di tempatnya, napasnya berat dan kuat—gemetar menahan amarah dengan wajah merah padam. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut.

“Bohong!” Raung Devy begitu keras hingga telinga Jeongguk berdenging. “KAU BOHONG! Kakakmu yang Astra! Semua orang tahu dia kaum BUANGAN!” Teriaknya, berusaha melepaskan diri dari Jeongguk.

Mata Taehyung tidak menatap siapa pun kecuali Devy yang berteriak di pelukan Jeongguk. Meneriakkan makian pada Lakshmi yang membeku di pintu dapur—dipermalukan di rumahnya sendiri, di depan semua tamu, di hari pemakaman ayahnya. Rahang Taehyung mengeras dan tangannya mengejang.

Sialan! Pikir Jeongguk panik, hendak berbalik untuk melindungi Devy dari pukulan yang dilayangkan Taehyung. Suara seruan kaget semua orang dan teriakan ibu-ibu yang meminta seseorang menghentikan Taehyung memenuhi udara di sekitar mereka—kepanikan dan teror. Ada yang menyerukan nama Tuhan dan beberapa bapak berseru meminta seseorang menghentikan Taehyung. Dia menyambar Devy yang berteriak kaget, menariknya ke belakang tubuhnya dan memejamkan mata—siap menerima pukulan Taehyung di wajahnya.

“TJOK!”

Dan pukulan itu tidak pernah mengenai Jeongguk karena saat dia membuka mata, Felix sedang mengunci kedua lengan Taehyung di balik punggungnya. Taehyung nampak seperti binatang liar sekarang—udeng-nya terlepas dari kepalanya, membuat rambutnya membentuk tirai di wajahnya yang merah padam. Napasnya liar dan tatapan matanya penuh dendam menatap Devy yang berada di belakang Jeongguk—terisak keras.

“Jangan melindungi Setan Sialan itu!” Raung Taehyung murka, berusaha melepaskan diri dari Felix yang menggerung mengeratkan kunciannya pada lengan Taehyung—syukurlah tubuhnya lebih besar dan tinggi dari Taehyung. “Kau dengar aku?! Kau itu ASTRA!” Serunya.

“Wigung!” Seru Jeongguk memperingatkan—Taehyung akan menyesali ini nanti, dia tahu. Namun kekasihnya tidak berhenti.

“Ayahmu yang berengsek itu!” Taehyung meludahkan kalimatnya dengan racun yang mendesis—membuat semua orang menahan napas; rahasia kelam keluarga Devy menyeruak dan Jeongguk tidak tahu bahwa kekasihnya tahu segalanya. “Membayangkan kehidupan yang penuh kehormatan padahal pada nyatanya dia diusir dari rumahnya sendiri karena menghamili kekasihnya! Dia membohongi kalian semua! Kau itu Astra! Jangan berpikir terlalu tinggi tentang dirimu sendiri!”

“Keluarga kalian selama ini menyebarkan segala berita tidak benar tentang kakakku! Membuat keluarga kami menderita selama bertahun-tahun karena ayahmu yang sakit jiwa! Kau dengar aku!? Kau bukan Brahmana, kau itu ASTRA!

“Dan jika kau berpikir kakakku hina hanya karena dia seorang Astra, maka kau pun begitu!”

“Wigung!” Raung Jeongguk, dia tidak perlu melakukan hal semacam itu pada Devy. Tidak perlu membalas api dengan api. Devy sama sekali tidak tahu tentang segalanya—bahkan identitas aslinya dan Taehyung sama sekali tidak perlu mempermalukannya dengan mengumumkan identitasnya di depan semua orang.

Devy di belakang Jeongguk mendadak berhenti menangis, tubuhnya tegang dan gemetar. Jeongguk menoleh, melihat darah surut dari wajahnya nyaris dengan dramatis—membuat wajahnya sepucat tembok ketika matanya yang merah dan liar bertemu dengan Jeongguk yang wajahnya mengernyit. Memahami betapa malunya Devy sekarang. Dia korban manipulasi, persis dirinya dan Taehyung. Dia baru dua puluh dua tahun, seberapa kuat mentalnya?

“Pulanglah.” Bisik Jeongguk, mengangguk pada Devy yang gemetar—syok mendengar semua fakta yang diteriakkan Taehyung di wajahnya. “Pulang, oke?”

“Jangan membelanya, Gung!” Raung Taehyung dari balik tubuhnya. “Dia harus tahu segala tentang hidupnya yang dirancang oleh ayahnya yang sakit jiwa! Dia itu Astra!”

“TAEHYUNG!” Jeongguk membentaknya, berputar untuk menatap Taehyung yang berjengit kaget oleh suara Jeongguk yang keras dan tegas. Itu pertama kalinya Jeongguk membentak Taehyung selama mereka bersama—dan Jeongguk tidak menyukainya sama sekali.

Tetapi jika Taehyung terus melakukannya, maka Jeongguk tidak punya pilihan lain.

Now, easy, Boy.” Suara Arsa terdengar dari sisi Jeongguk, mengulurkan tangan dan meremas bahunya. “Tenanglah, tenang.” Katanya dan Jeongguk menggertakkan rahangnya—merasa bersalah karena kelepasan menaikkan suaranya.

“Oh,” kata Taehyung—nampak sangat terluka. “Kau membelanya, ya, sekarang?” Tanyanya dengan suara lirih, terlihat seperti baru saja ditonjok tepat di ulu hatinya. “Setelah semua hal yang keluarganya lakukan pada ke—!”

Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Dia baru dua puluh dua tahun, demi Tuhan!” Serunya pada Taehyung yang sekali lagi tersentak oleh nada suaranya. “Kau tidak perlu meladeninya dengan cara yang sama kekanakannya! Kau tahu kau seharusnya marah pada ayahnya!”

“Sudah, sudah.” Arsa mendorong Jeongguk menjauh sementara seorang ibu meraih Devy yang gemetar dan menjauhkannya dari sana seraya menghiburnya. “Kau hanya akan menyesali ini nanti.” Arsa berbisik saat merangkulnya mundur, meremas bahunya. “Tarik napas.”

Jeongguk gemetar, menarik napas dengan mulutnya sambil memijat pelipisnya—tidak akan bisa mengenyahkan bayangan wajah Taehyung yang terluka selamanya. Dia menghentakkan kakinya di tanah, menggeram berusaha menenangkan kepalanya yang berdenyut. Di belakangnya, Taehyung juga dijauhkan darinya, Devy dibawa pulang dan Lakshmi ditenangkan.

Suasana begitu kacau dan Jeongguk bisa mendengar bisik-bisik semua orang mengenai Devy dan keluarganya. Jeongguk tahu mereka layak mendapatkan karma atas tindakan mereka, namun Taehyung tidak perlu melakukannya pada anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Mengumumkan seluruh masalah keluarga mereka di depan tamu layatan. Jeongguk tahu Devy tidak tahu apa pun tentang hubungan tidak sehat ayahnya dan ayah Taehyung dari ekspresinya. Dan sekarang, teriakan Taehyung akan memberikannya trauma.

Sebenci apa pun Jeongguk pada seseorang, trauma adalah hal yang terlalu mahal untuk dijadikan pembalasan dendam.

“Kau oke?” Arsa di sisinya bertanya dan Kinan dengan parfumnya yang lembut berada di sekitarnya, mengeluarkan roll on dari handbag-nya. “Mau minum? Taehyung tidak akan marah padamu, percayalah. Dia hanya kalut.”

Jeongguk menghela napas dalam-dalam. Kinan mengangsurkan sedotan minuman ke arahnya dan Jeongguk menerimanya—melepas sedotannya, Jeongguk menggunakan kuku jempol kanannya untuk membuka lapisan plastik kemasan air mineral hingga airnya melompat keluar. Dia merobek plastik itu lalu meneguk isinya dari lubang rusak yang dibuatnya.

It's pretty fucked up,” bisik Kinan, mungkin ke pasangannya tapi Jeongguk medengarnya dan merasakan Arsa mengangguk sekilas.

It is, pikir Jeongguk getir. Dia kemudian berbalik, mencari Taehyung yang sedang ditenangkan Christian dan Felix. Dia nampak gemetar, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya—bahunya terguncang. Lakshmi ada di dekatnya, wajahnya pucat pasi dipeluk oleh ibunya yang menangis.

Kacau.

“Hei,” Arsa menahannya ketika dia hendak menghampiri Taehyung. “Kau yakin kau sudah baik-baik saja?” Tanyanya dengan telapak tangan di dada Jeongguk. “Kau yakin kau tidak akan mengatakan apa pun yang mungkin akan kausesali? Cukup tenang untuk bicara seperti manusia?”

Jeongguk menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan amarahnya sebelum mengangguk. “Ya,” katanya parau dan Arsa sejenak menatapnya sebelum melepaskan tangannya dari Jeongguk yang bergegas melenting ke arah Taehyung.

Jeongguk berlutut di hadapan Taehyung dan menggenggam lututnya. “Maafkan aku. Tolong,” gumamnya. “Maaf.” Dia menumpukan keningnya di lutut Taehyung. “Maaf. Maaf.”

“Kau melakukan hal yang benar,” kata Christian di sisinya—terdengar lembut dan mengusap bahunya. “Anak itu terlalu muda untuk mendengarkan segalanya.” Dia mengusap bahu Jeongguk. “Dan Taehyung terlalu marah untuk mendengarkan. Kalian hanya kalut.”

Suasana rumah Taehyung berubah setelahnya, tidak ada yang berani bicara dengan suara keras selain isakan ibu Taehyung yang anak-anaknya dipermalukan di depan semua orang. Mungkin baru mendengar segalanya juga sekarang—di hari suaminya dimakamkan.


Glosarium:

  • Atma Wedana / Ngulapin Atma: prosesi memanggil kembali arwah/atma dari almarhum yang telah dihanyutkan ke laut.

  • Banten: sesaji

  • Sesari: uang yang diselipkan di sesaji sebagai persembahan serta 'pembayaran' untuk Pedanda.

  • Songket: kain tenun asli Karangasem yang harganya mahal hehe

  • Saput: bagian terluar jarik lelaki dalam pakaian adat Bali. Dikenakan di atas jarik.

  • Pewaregan: dapur utama dalam upacara, tempat membuat kopi dan sebagainya.

tw // frustration , financial problems , suicidal thoughts , mention of murder plan , self-blaming . cw // penjelasan tentang upacara kematian, just in case ada yg gak nyaman <3


Taehyung duduk di atas ranjangnya, mendengarkan jarum jam yang berdetak perlahan dan suara napas teratur Jeongguk di sisinya.

Sudah mulai pagi, dia bisa mendengar kakaknya mulai menyapu halaman dan ayam jantan berkokok di kejauhan. Hidup tetap berjalan ternyata, tidak berhenti atau berjungkir balik. Dan Taehyung, sialnya, masih hidup. Dia menatap jendelanya yang tertutup, mendengar para bapak yang semalam terjaga sekarang sedang menguap dan mengobrol rendah, menahan kantuk. Kekasihnya lelap di kaki ranjang dengan setengah kakinya menggantung di tepian kasur, nampak lelah dengan rambut kusut di atas bantalnya—mendengkur lembut. Dari posisi kaki Taehyung di atas pangkuannya, Taehyung menyadari Jeongguk memijat kakinya semalaman.

Sebelum Jeongguk kembali, Taehyung sudah terlelap dan sepertinya dia menghabiskan ranjangnya sehingga Jeongguk akhirnya berbaring di hilir dengan posisi yang sama sekali tidak nyaman. Dia menarik kakinya dari genggaman Jeongguk dengan lembut sebelum turun dan meraih kedua kaki Jeongguk yang tergantung di pinggir ranjang. Kekasihnya mengerang kecil, parau dan Taehyung berhenti, namun dia tidak terbangun. Maka Taehyung memindahkan kakinya ke ranjang sehingga dia berbaring lurus lalu membenahi posisi bantal kepalanya.

Taehyung menarik napas dalam-dalam, menatap Jeongguk yang seketika kembali lelap seraya berusaha menenangkan jantungnya dan perasaannya yang kacau. Dia memijat kulit kepalanya, berusaha mengenyahkan denyut mengerikan di bawah tengkoraknya ketika menyadari keadaan mereka sekarang.

Ayah mereka meninggal.

Hari yang selalu membuatnya bermimpi buruk dan gelisah akhirnya tiba dan Taehyung sama sekali tidak siap.

Taehyung memejamkan mata. Mendudukkan dirinya di dekat kepala Jeongguk, menumpukan sikunya di lututnya dan membenamkan kepalanya ke dalam kedua telapak tangannya. Dia bernapas dari mulutnya; memikirkan segala kekacauan yang terjadi dalam satu hari.

Jeongguk sudah tidak lagi bekerja dan hari ini adalah hari terakhir Taehyung bekerja—dia seharusnya membereskan barang-barangnya hari ini dengan HRD. Dia belum menghubungi hotel tapi semalam dia sudah bertemu Mingyu yang datang setelah bekerja—mendapat informasi dari Jeongguk dan sudah menyampaikan ke manajemen. Mereka seharusnya berangkat ke bandara malam ini lalu memulai kehidupan baru di tempat asing.

Namun tidak. Ayahnya meninggal dan keluarga Puri mendesak Taehyung membiayai segalanya sendirian.

Dia punya tabungan, motornya juga baru saja terjual dengan harga yang masuk akal namun semua uang itu seharusnya digunakannya untuk memulai hidup baru dengan Jeongguk—menggelontorkannya demi rumah baru mereka sebelum salah satu dari mereka memiliki pekerjaan. Taehyung bahkan berpikir dia tidak keberatan bekerja di level di bawah Executive, dia hanya ingin memiliki gaji tetap lagi untuk kehidupan mereka.

Namun sekarang semua uangnya harus dialokasikan ke upacara ayahnya yang tidak menyedot biaya sedikit. Belum lagi hutang ayahnya yang menyentuh angka ratusan juta. Taehyung sudah membicarakan ini dengan Lakshmi dan setuju mereka akan membayarnya berdua karena Puri menolak turun tangan membantu mereka. Taehyung tercekik sekarang, oleh biaya tidak terduga yang membuatnya terkesiap keras. Biaya rumah sakit ayahnya, syukurnya ditanggung sepenuhnya oleh asuransi dan ada lumayan uang yang bisa dicairkan ibu mereka setelah ini. Namun Taehyung tidak ingin mengambilnya: ibunya membutuhkan uang itu.

Kepalanya berdenyut. Memikirkan bagaimana mengalokasikan dana termasuk menyisihkan untuk masa depan mereka. Dia melirik Jeongguk yang mendengkur lirih; sejak kapan kulit pucatnya menggelap di bawah matanya? Sejak kapan dia nampak sangat kelelahan? Jeongguk nampak lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu dan Taehyung menyadari hidup ini membuat mereka berdua tertekan.

Hidup mereka jungkir balik, meluncur bebas ke jurang curam—semua rencana yang mereka susun berantakan. Dan Taehyung tidak berani mengatakannya pada Jeongguk tentang uang mereka. Dia menggertakkan rahangnya dan memijat kepalanya—mengurutnya kuat-kuat hingga jemarinya perih namun sakit kepalanya tidak juga lenyap.

Dia paham bahwa Puri tidak menyukai keluarganya, khususnya ayahnya karena memaksakan kehendaknya dengan sangat bebal dan menyebalkan. Taehyung selalu dihantui ketakutan jika hari ayahnya meninggal tiba: dia bisa saja 37 tahun namun mentalnya tidak pernah siap menghadapi kebencian seluruh Puri untuknya. Namun Taehyung tidak menyangka bahwa kebencian itu hingga ke titik di mana mereka tidak mau membantu prosesi Ngaben ayahnya sama sekali—khususnya secara finansial.

Semalam ketika mereka berdiskusi, Taehyung sudah menyerahkan posisi Penglingsir kepada pamannya—yang berhak menerima posisi itu sebelum ayahnya merebutnya. Namun lelaki paruh baya itu seketika menolaknya, menghibahkan semua tanggung jawab pada Taehyung.

“Jika Jung Alit mempermasalahkan biaya Ngaben, Tugung siap menanggung semuanya. Tugung hanya ingin melepaskan posisi Penglingsir.” Katanya tegas, walaupun kepalanya berdenyut memikirkan uang yang seharusnya digunakannya untuk membangun hidup baru dengan Jeongguk.

Namun pamannya menggeleng tegas, didukung beberapa saudara jauh ayahnya. “Itu urusanmu. Kami tidak ikut campur.”

Dan Taehyung kalah telak dalam diskusi itu, sendirian dari posisi yang dibenci seluruh keluarganya. Dia duduk di sudut balai, bersila dengan seluruh keluarganya setidaknya satu meter jauhnya seolah Taehyung menularkan penyakit mematikan. Memojokkannya. Taehyung Kecil di kepalanya menggigil ketakutan, ingin berlari dan bersembunyi di balik punggung ayahnya lagi—apa saja agar dia tidak harus menghadapi keluarganya sendiri.

“Sekarang selesaikan urusanmu dengan Gus Adnyana.” Tambah pamannya dan Taehyung menghela napas, mengangguk—dia memang harus melakukan ini seraya menghibur diri bahwa dia akan segera lepas dari tempat ini. Dia harus bersabar sedikit lagi.

Taehyung menghela napas berat dan mengangkat wajahnya. Matanya terpaku ke sebotol air di meja bekerjanya—diikat dengan benang tridatu dengan liontin dari uang kepeng. Racun yang dibelinya bersama Lakshmi untuk ayah mereka—kegilaan yang sekarang disesalinya. Airnya berwarna jernih, jauh lebih jernih dari air mineral dan nampak nyaris seperti arak. Mereka sudah akan mengganti botolnya dan memberikannya kepada ayah mereka—begitu dekat.

Kematian adalah hal yang sangat berbeda jika dipikirkan dalam keadaan nyaman dan hangat.

Dia menoleh ke Jeongguk yang masih lelap. Haruskah mereka yang meneguknya...? Sekali lagi, kabur dari segala permasalahan yang terasa semakin dan semakin mencekik mereka. Merindukan hari di mana segalanya sesederhana apakah Taehyung mencintai Jeongguk atau tidak.

Dia mengulurkan tangan, menyentuh wajah Jeongguk yang terlelap dengan mulut terkuak kecil. Jemarinya menyentuh hidung Jeongguk tanpa benar-benar menyentuhnya—menarik garis lembut ke pangkalnya lalu di atas alisnya yang tebal. Jika mereka mati, akankah hidup lebih mudah?

Tangannya bergerak di wajah Jeongguk, merasakan suhu tubuhnya yang hangat dan aromanya yang sangat akrab dengan keseluruhan sistem pernapasan Taehyung. Dia merangkak ke sisinya, menyelipkan dirinya ke dalam pelukan Jeongguk—putus asa menginginkan rasa aman dan nyaman. Jeongguk terkesiap kecil ketika Taehyung menyusup ke pelukannya dan dia bisa mendengar kekasihnya terbangun.

“Hai,” sapanya parau dan menguap kecil sebelum mengecup kepala Taehyung yang berada dalam pelukannya. Dia mengeluarkan suara menghela napas berat, mengantuk dan kelelahan. “Hai, Sayang.” Katanya lagi.

Taehyung membelitkan lengannya di pinggang Jeongguk, menyusupkan kepalanya di bawah dagu Jeongguk dengan kaki membelit kakinya—menggigil menginginkan rasa aman, ingin menghindari rasa cemas yang menjalar dari punggungnya dan membuat tengkuknya tegang. Dia menghirup aroma leher Jeongguk, berusaha menyerapnya sebanyak mungkin—menenangkan dirinya, seperti pecandu.

Jeongguk terkantuk-kantuk, mengusap punggungnya hangat dan perlahan—napasnya berat saat dia berusaha terjaga, melawan kantuknya. Taehyung memejamkan matanya, ingin kembali mengantuk namun otaknya berputar cepat di dalam tengkoraknya; menyengatnya dengan begitu banyak hal untuk dicemaskan. Taehyung memejamkan matanya kuat-kuat, ingin menghalau isi kepalanya sendiri.

Dan Jeongguk menyadari tubuhnya menegang. Dia meremas bahu Taehyung hangat—suhu tubuhnya menyengat kulit Taehyung. “Hei, kenapa?” Bisiknya parau, mulutnya beraroma sisa kopi yang tercampur asam lambung. “Kau tegang sekali.” Bisiknya lalu memijat leher Taehyung lembut.

Taehyung memejamkan matanya, tidak berani mengungkapkan bagaimana uangnya terkuras habis secara mendadak untuk upacara Ngaben ayahnya. Dia akan terpaksa bergantung pada Jeongguk sekarang. Tidak berani mengungkapkan betapa lemahnya dia sekarang, terekspos dan kebingungan. Dia ingin selalu nampak kuat di hadapan Jeongguk—bagaimana pun dia lebih tua dari Jeongguk.

Dia takut mengatakan bagaimana rencana mereka hancur dan sekarang Taehyung terancam jatuh miskin karena sudah keluar dari pekerjaannya, ditambah membiayai upacara ayahnya sendirian. Dia masih punya satu kali gaji, berharap uang itu setidaknya bisa diam di rekeningnya tidak digunakan untuk kebutuhan Ngaben. Dia belum mengecek tabungannya dan Lakshmi juga bersikeras membantunya membayar segalanya.

“Sayang?” Bisik Jeongguk lirih, sekarang terdengar cemas. “Ada apa? Kau sakit?”

Taehyung menggeleng, setidaknya bukan fisiknya yang sakit tapi otaknya. Jeongguk membelai punggungnya lagi, hangat dan mendekapnya—pelukannya terasa menenangkan. Taehyung ingin terus berada dalam pelukannya dan menghindari dunia.

“Kau bisa cerita padaku jika kau mau,” bisik Jeongguk lagi, mengecup puncak kepalanya. “Kita harus bekerja sama sekarang.”

Taehyung menggertakkan giginya—rasa bersalah menyengatnya ketika memikirkan bagaimana Jeongguk sekarang. Dia harus bertahan tanpa pekerjaan karena hidup Taehyung mendadak berubah. Taehyung tidak menyalahkan ayahnya karena meninggal, tidak. Dia hanya merasa bersalah karena... entahlah, dia merasa sangat bersalah atas kondisi Jeongguk sekarang.

Belum lagi dia tahu bagaimana perjuangan juru masak muda itu mendaki hingga ke posisi Executive dan sekarang semuanya lenyap begitu saja. Taehyung merasa sangat bertanggung jawab atas kekacauan mereka karena masalah ini darinya. Taehyung bergumul dengan isi kepalanya sendiri, berusaha mengalahkan rasa cemas dan tidak nyamannya hingga kepalanya berdenyut mengerikan.

Jeongguk menghela napas, “Sayang,” bisiknya di rambut Taehyung. “Semua ini bukan kesalahanmu.”

Taehyung membeku, jantungnya mencelos dan kepalanya seketika berdenyut jauh lebih mengerikan—mengirimkan rasa terharu aneh yang menyengat matanya.

Semua ini bukan kesalahanmu.

“Aku yang memilih untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku, kau tidak pernah memaksaku. Kita sepakat melakukannya.” Jeongguk menggumam, napasnya hangat di kulit kepala Taehyung. “Kau tidak pernah memaksaku melakukan apa pun, aku yang melakukannya sendiri.”

Taehyung bernapas melalui mulutnya, merasakan hatinya nyeri—begitu nyeri hingga dia harus menekannya ke tubuh Jeongguk. Merasakan ledakan rasa lega luar biasa di hatinya ketika mendengar Jeongguk mengatakannya: semua ini bukan kesalahan Taehyung.

Kalimat sederhana itu mengangkat rasa bersalah Taehyung nyaris lima puluh persen, menyuntikkan rasa lega dan optimis ke dalam tubuhnya yang seketika bergidik. Hatinya nyeri karena terbelah oleh rasa memaafkan dirinya yang baru dan rasa bersalah lamanya—kebingungan. Dia memeluk Jeongguk semakin erat, merasakan sayang dan cintanya untuk Jeongguk membanjiri dadanya membuatnya hangat.

“Tenanglah, ya?” Bisik Jeongguk lembut, mengecup pelipisnya. “Semua ini bukan salahmu. Bukan salah siapa-siapa. Terkadang sesuatu terjadi karena memang harus terjadi—tidak perlu mencari siapa yang salah, kita jalani saja bersama.”

Taehyung menghela napas keras, berusaha menelan isakan tangisnya. Bersyukur memiliki Jeongguk dalam pelukannya sekarang ketika hidupnya jungkir balik dibenci oleh seluruh orang yang dilabeli hidup sebagai keluarganya. Dia menggenggam erat Jeongguk, tidak sudi melepaskannya—tidak peduli bagaimana hidup berusaha memisahkan mereka.

“Ayo, mandi dan bersiap. Kita memiliki hari yang panjang sekarang.” Bisik Jeongguk, menguap tertahan dan meregangkan tubuhnya dengan lembut. “Lalu aku akan menemanimu ke Griya, meminta hari baik lalu memesan bade dan lembu jika dibutuhkan. Aku akan menemanimu seharian, kau tidak perlu menghadapinya sendiri.”

Kau tidak perlu menghadapinya sendiri.

Taehyung menghela napas dalam-dalam dan mengangkat wajahnya. Di luar sana, Puri mulai bangkit—Jeongguk benar, mereka harus bersiap. Pagi ini mereka akan ke Pantai Goa Lawah untuk menghanyutkan abu ayah Taehyung sebelum kemudian Taehyung harus mengurus segala perlengkapan Ngaben-nya. Jeongguk menyelipkan jemarinya ke jemari Taehyung, meremasnya hangat.

“Kau tidak sendirian, kau memilikiku. Jangan lupa itu.” Dia mengecup hidung Taehyung, mengusap kepalanya dengan tangannya yang bebas. “Kau punya dua bahu tambahan untuk memikul bebanmu, dua tangan tambahan untuk membantumu, dan satu kepala tambahan untuk berpikir—manfaatkanlah aku.”

Taehyung menatapnya lalu mencondongkan wajahnya, mencium Jeongguk di bibirnya. Rasanya sepat, aroma napas baru bangun mereka mungkin bukan aroma terbaik saat ini namun ini Jeongguk. Dia sudah melihat Taehyung dalam keadaan jauh lebih buruk daripada napas yang bau.

Jeongguk tergelak lembut lalu membalas ciumannya, melumat bibirnya lembut seraya mengusap lengan atasnya hangat—membelainya dengan pemujaan yang luar biasa, membuat Taehyung merasa sangat utuh. Ciumannya lembut, mendayu-dayu dan hangat; persis seperti Jeongguk.

“Ada aku bersamamu.” Bisiknya ketika menarik wajahnya dari Taehyung, yang masih memejamkan mata—gemetar karena kehangatan Jeongguk lenyap. “Kau tidak sendirian.”

Mungkin, pikir Taehyung ketika menatap Jeongguk dalam pelukannya. Kekasihnya tersenyum, menyeka rambutnya ke balik telinganya—menyisirnya dengan jemari.

“Ayo bersiap, hari ini panjang.” Dia mengecup kening Taehyung.

Mungkin Taehyung bisa membicarakan masalah uang mereka nanti, setelah ini.


Glosarium:

  • Penglingsir: pewaris Puri/kepala keluarga Puri.

  • Jung: panggilan untuk saudara ayah yang lebih muda, diikuti nama.

  • Tridatu: benang tiga warna Hindu, melambangkan tiga dewa besar Hindu; Brahma (putih sbg pencipta), Wisnu (merah sbg pemelihara) dan Siwa (hitam sbg pelebur).

  • Uang kepeng: uang berlubang, sarana upacara Hindu.

  • Bade: rangka menara yang akan digunakan sebagai wadah peti layon/peti jenazah menuju lokasi upacara yang terbuat dari kayu dan bambu yang dihias dengan motif warna-warni dari kertas yang diukir.

  • Lembu: (putih, hitam, atau merah) adalah wadah untuk peti layon pada saat dilaksanakannya upacara pembakaran.

  • Tambahan: Jika posisinya sudah dibakar mekingsan di geni dan dihanyutkan ke laut, nanti akan diadakan upacara untuk memanggil arwahnya ke dalam wadah kerucut dihias dengan pakaian almarhum semasa hidup. Lalu akan dibuatkan semacam boneka dari kayu cendana dan kelapa, pakaian tadi dikenakan ke boneka itu sebagai simbol tubuhnya untuk diupacari sesuai upacara Ngaben (dimandikan, dibakar). Dan diproses ke Ngeroras di hari yang sama. Dalam prosesi ini, jika jenazah sudah dibakar (mekingsan di geni) tidak membutuhkan bade atau lembu lagi. Biasanya keturunan Puri akan diupacarai dengan bade dan lembu sebagai penghormatan, namun karena kondisinya ayah Wigung meninggal mendadak dan hari baiknya jauh, maka diputuskan jenazahnya dikremasi karena menyimpan jenazah terlalu lama tidak baik.

ps. nanti aku crosscheck sama bapakku lagi qiqiqi kita lihat di prosesinya nanti ato aku skip aja untuk menghindari miskomunikasi <3 pss. kalo kepo sama Ngaben Puri, silakan cek di Youtube Ngaben Puri Ubud, kurang lebih begitu. Bade, menara yang digunakan utk wadah peti itu tingginya menyesuaikan dg posisi almarhum di masyarakat—semakin tinggi posisinya, semakin tinggi bade-nya.

tw // anxiety , frustration , desperation .

cw // death, just in case ada yg gak nyaman dg penggambaran kematian di sini. please suit yourself <3

ps. ada kabar gembira somewhere in the middle <3


Hubungan mereka terjun bebas.

Jeongguk menghela napas berat dan memijat kepalanya. Hari di mana mereka seharusnya bersiap untuk kabur, penentuan hidup mereka—menandai kebebasan mereka dari segala belenggu yang selama bertahun-tahun mencekik, harus pupus. Dia menatap kosong surel pemberitahuan dari aplikasi yang digunakannya membeli tiket tentang biaya refund atas tiket mereka di dalam mobilnya.

Ada rasa bersalah di hati Jeongguk karena membentak Taehyung ketika dia sama sekali tidak tahu apa yang kekasihnya tengah lakukan. Jeongguk harus belajar mengontrol emosinya lagi setelah ini. Dia langsung bergegas menghubungi Taehyung setelah menerima pesan tentang ayahnya dan Taehyung terdengar tegang serta gelisah.

Semalam ring di jantungnya bermasalah dan kami melarikannya ke rumah sakit,” jelas Taehyung terdengar jauh sementara di belakangnya terdengar suara obrolan rendah yang riuh. “Aku meninggalkannya bekerja setelah mendapatkan kamar di bangsal khusus jantung. Maaf aku tidak menghubungimu sama sekali karena aku benar-benar lupa pada segalanya. Lalu Wisnu menghubungiku bahwa kondisinya mendadak memburuk lalu meninggal ketika aku dan Wisnu dalam perjalanan ke Sanglah.”

Jeongguk terenyak di ruangannya—hatinya mendadak kosong dan ngilu. Dia memang membenci ayahnya, Taehyung pun sama bencinya pada ayahnya namun membayangkan kematiannya membuat Jeongguk ngeri. Dia tidak bisa. Lalu meringis teringat bagaimana pagi tadi ayahnya mengatakan sesuatu seperti:

“Bawalah bekal untuk bekerja.” dan “Pukul berapa kau pulang? Bisakah kau pulang sebelum makan malam?” padahal sebelumnya dia tidak pernah peduli pukul berapa Jeongguk di rumah.

Perasaannya tidak enak karenanya, membuatnya nyaris merasa bersalah karena akan melepaskan kehidupan yang diberikan ayahnya. Ayahnya entah bagaimana bersikap lembut dan ramah pada Jeongguk setelah bertahun-tahun menggerusnya. Jeongguk menghela napas, dia akan berangkat ke Puri Taehyung sekarang karena kekasihnya terdengar gemetar di telepon tadi.

Jenazah ayahnya langsung dikremasikan di krematorium karena dewasa ayu untuk Ngaben belum ada maka mereka memutuskan untuk mekingsan di geni hingga mendapatkan hari baik. Jeongguk hendak menyusul ke Sanglah namun Taehyung melarangnya. Dia akan pulang malam ini membawa abu ayahnya untuk menghanyutkannya ke laut besok.

Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Jeongguk sampaikan ke Taehyung termasuk: bagaimana sekarang? Namun dia menahannya, tidak ingin membebani kekasihnya sama sekali untuk saat ini. Dia menunggu di Amankila, sudah membereskan semua barangnya dan mengembalikan name tag-nya karena ini hari terakhirnya bekerja. Dia menunggu Taehyung pulang di dalam mobilnya.

Perpisahannya dengan semua rekan timnya terasa menyesakkan. Jeongguk bekerja di Amankila sudah begitu lama, memimpikan posisi head chef-nya sepanjang hidup: teringat bagaimana Felix membimbingnya, memberikan posisi itu untuknya kemudian. Semua timnya adalah keluarga, Namjoon bahkan menangis melepaskannya. GM mereka mendoakan perjalanannya kedepannya, semua CDP dan DCDP-nya memeluk Jeongguk. Suasana begitu emosional dan Jeongguk sejenak ingin membatalkan pengunduran dirinya karenanya.

Jeongguk merasa yakin melepaskan jabatan ini karena Taehyung akan bertahan bersamanya. Namun sekarang setelah ayah Taehyung meninggal, Jeongguk mendadak menyesali keputusannya mengundurkan diri. Secercah hatinya ingin kembali ke dapur, ingin kembali memimpin tim dan melupakan segala rencana mereka. Jeongguk mendadak ingin kembali ke zona nyamannya: melanjutkan kehidupan lamanya dan melupakan tentang kabur. Dia merasa buntu dan kebingungan.

Apa yang akan mereka lakukan sekarang?

Apakah Taehyung akan tetap menikah? Taehyung akan mewarisi Puri sekarang sehingga tidak akan bisa meninggalkannya?

Apakah mereka... terlambat?

Jeongguk menumpukan keningnya di atas roda kemudi, bernapas melalui mulutnya dengan mata terpejam. Alasan utama mengapa mereka buru-buru meninggalkan Puri mereka adalah agar tidak ada salah satu dari mereka yang terjebak bertanggung jawab atas Puri mereka. Harus segera sebelum salah satu dari ayah mereka meninggal dan sekarang....

Ponselnya berdenting.

Jeongguk mengulurkan tangan, meraih ponselnya tanpa menoleh dan menekan tombol utamanya. Dia melirik, menemukan pesan Taehyung bahwa dia sudah dekat ke rumah. Maka Jeongguk menegakkan tubuhnya, menghela napas panjang dan menurunkan rem tangannya. Menyalakan mesin, dia kemudian memutar mobilnya dan meluncur keluar. Menatap halaman parkir resor mewah itu untuk terakhir kalinya, merasa sesak oleh kesedihan—dia akan meninggalkan tempat ini selamanya.

“Sampai ketemu lagi suatu hari nanti, Chef! Sehat selalu!”

Sengatan aneh terasa di hatinya ketika dia melambai pada Security yang berjaga di pos pertama. Dia adalah bagian dari Amankila selama ini dan sekarang dia harus melepaskannya—pergi dari tempat yang membuatnya nyaman, pergi ke tempat baru yang belum dikenalnya sama sekali. Perasaan terasing berat menggelayuti hatinya sekarang saat dia melaju menjauhi Amankila—apakah perasaan ini akan semakin berat ketika nantinya dia berkendara menjauhi rumahya? Tempatnya tumbuh besar bersama Yugyeom?

Genggamannya di roda kemudi mengencang—dia tidak bisa berubah pikiran sekarang. Mereka sudah setengah jalan menuju kebahagiaan mereka tanpa seorang pun mencekoki mereka tentang kasta dan tanggung jawab—yang sejujurnya sama sekali tidak mereka inginkan. Mungkin setelah bertemu Taehyung dia akan kembali yakin.

Jeongguk berkendara ke Puri Taehyung yang lumayan ramai. Beberapa orang mengenakan pakaian adat madya memenuhi halamannya. Jeongguk memarkir mobilnya, mengunci mobilnya dan menutup spionnya sebelum menyandang tasnya untuk memasuki Puri—sejenak merasa rikuh karena mengenakan celana jins. Dia hendak menelepon Taehyung namun matanya menangkap seseorang.

”'Turah, swastyastu.”

Lakshmi.

Dia nampak tegang dan linglung hingga alis Jeongguk berkerut. Nampak lebih kurus dari terakhir kali Jeongguk melihatnya, kantung matanya tebal sekali; dia terlihat kelelahan. Jeongguk mengangguk dan bergegas menghampirinya. Di bale dangin sedang ramai, ibu Taehyung berada di sana sedang menemani beberapa tamu dan keluarga Taehyung. Beberapa ibu bekerja di dalam dapur mereka, membuat bernampan-nampan teh dan kopi untuk disajikan ke tamu yang datang melayat.

Aroma dupa dan bunga tercium bersama duka yang dingin—membuat pangkal hidung Jeongguk perih. Dia menebarkan pandangannya dengan cepat, mencari Taehyung yang jangkung, berkulit sewarna zaitun dan rambut setengah gondrong di kerumunan. Tidak sulit biasanya menemukan Taehyung, namun sekarang karena tegang dan gelisah, dia tidak berhasil menemukannya. Jeongguk menatap bale dangin yang ramai—menyadari abu dan sisa belulang ayah Taehyung disemayamkan di sana hingga cukup terang untuk dihanyutkan ke laut. Suasana duka terasa pekat hingga Jeongguk tidak nyaman berdiri di sana, sebaiknya dia bergegas menemui Taehyung.

Mbok Gek,” sapanya menyentuh bahu gadis itu dan merasakan betapa tegangnya dia. “Turut berduka cita.” Katanya tulus namun mengerutkan alis ketika Lakshmi berjengit oleh kalimatnya.

Nggih, suksma, Turah.” Bisiknya, matanya liar ketika melirik ke sekitarnya—ketakutan. “Tugung sedang di Bale Gede bersama sepupu-sepupu Ajung membicarakan....,” dia mengernyit dan Jeongguk memahami apa yang mereka bicarakan.

Jeongguk mengencangkan rahangnya. Persis setelah ayah Taehyung meninggal, mereka sungguh tidak membuang-buang waktu. Sejenak memikirkan bagaimana nasib Taehyung ke depannya. Tidak sekali Taehyung menggumamkan tentang betapa dia takut pada hari di mana ayahnya meninggal. Keluarga Puri menentang mereka semua, ayah Taehyung menjadi pewaris hanya karena dia memaksakan kehendaknya—mereka pasti sudah siap menjegal keluarga mereka di hari ayah Taehyung meninggal dan Taehyung belum siap menghadapi mereka.

Dia ingin memeluk Taehyung, ingin mengusap tubuhnya sayang karena begitu banyak luka yang ditanggungnya selama ini dan mereka tidak bertemu begitu lama Jeongguk takut dia melupakan wajah Taehyung.

“Ya, tidak apa-apa.” Jeongguk mengusap bahu Lakshmi sekali lagi dan menyadari Devy berada di sana.

Rahangnya seketika mengencang ketika menyadari kehadiran Devy dan keluarganya. Mereka duduk di depan kamar ayah Taehyung dengan beberapa tamu lain, ayah Devy berwajah keras dan tak terbaca—menatap lurus sementara Devy nampak berduka di sisinya. Jeongguk menyadari betapa jengkel kemungkinan ayah Devy saat ini karena seluruh rencana yang disusunnya sejak dahulu hancur karena kematian ayah Taehyung—persis sehari sebelum anaknya menikah.

“Tentang hutang Ajung,” bisik Jeongguk kemudian pada Lakshmi yang terkesiap kecil, mendongak menatapnya dengan mata berkilat kaget. “Apakah sudah dibicarakan Taehyung?”

“Turah..., tahu?” Bisiknya pecah dan gemetar.

Jeongguk mengangguk. “Tidak penting saya tahu dari siapa,” tambahnya sebelum Lakshmi membuka suara. “Tapi yang penting adalah hutang itu lunas. Jangan biarkan dia menggunakan jumlah itu untuk mengendalikan kalian seperti seekor anjing.”

Lakshmi gemetar dalam pelukannya dan Jeongguk sejenak gelisah—kenapa gadis ini? Dia mendongak, berusaha menemukan sosok tinggi berisi Wisnu di kerumunan agar bisa menenangkan kekasihnya. Dia tidak menemukan siapa pun saat Lakshmi berbisik.

“Tugung akan menyelesaikannya setelah selesai di Bale Gede.” Lakshmi mengangguk dan menatap Jeongguk.

Jeongguk menghembuskan napas lega, setidaknya mereka bisa menyelesaikan satu masalah yang bisa melepaskan jeratan di leher Taehyung. “Jika saya boleh tahu, berapa nominalnya?”

Lakshmi menggeleng perlahan. “Tugung yang tahu semuanya, Turah. Termasuk kenapa kami bisa berhutang padahal tidak ada hal yang mungkin Ajung butuhkan dan tidak kami berikan.” Lakshmi menggigil pelan dalam balutan kemejanya.

Jeongguk mengangkat wajahnya, menatap semua orang di halaman rumah Taehyung dan membuka mulut hendak menghibur kakak Taehyung ketika dia menemukan kekasihnya. Dia mengenakan kemeja longgar di tubuhnya, tiga kancing teratasnya terbuka—memamerkan tulang selangkanya yang menakjubkan. Wajahnya keras, rambutnya rapi di dalam udeng-nya; dia melangkah tegas dan panjang dari Bale Gede menuju keluarga Devy. Kain bergemerisik di kakinya dan Jeongguk sejenak lupa, betapa angkuh dan indahnya dia.

Taehyung tidak menoleh pada siapa pun ketika dia melangkah ke depan kamar orang tuanya, menemui ayah Devy. Dia melepas sandalnya di undakan lalu merangkak naik dan bersila di depan ayah Devy. Jeongguk ingin menghampirinya, menemaninya menghadapi orang sinting itu namun dia juga menyadari bahwa selain Lakshmi—tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Dan dia tidak mengenakan pakaian adat.

“Turah ingin berganti kain di kamar Tugung?” Tanya Lakshmi kemudian perlahan dan Jeongguk mengangguk—lebih nyaman berkeliaran dengan pakaian yang benar.

Maka Lakshmi mengantarnya ke kamar Taehyung, Jeongguk melempar tasnya ke ranjang dan bergegas melepas celana jinsnya. Dia merogoh ke dalam, mengeluarkan kain dari dalam sana dan mengenakannya—membentuk simpul di bagian depan denga asal-asalan sebelum menyambar pintu lemari Taehyung, mencari udeng karena dia tidak membawanya. Dia hanya menemukan udeng lembaran di sana maka dengan sedikit kesal, dia membawanya ke kasur. Jeongguk menghamparkannya, melipatnya menjadi segitiga lalu menggulung sisi panjangnya hingga membentuk segitiga panjang sebelum menempelkannya di kening. Bercermin, dia membentuk udeng-nya dengan cekatan sebelum melilit sisa kain di keningnya dan menyimpulkannya di tengah.

Dia keluar dengan kemeja, kain yang membalut kakinya hingga betis, beberapa senti di atas pergelangan kakinya dan udeng yang memerangkap rambutnya. Lakshmi menunggunya di undakan lalu mengantarnya ke tempat Taehyung.

“Saya tinggal, ya, Turah?” Bisiknya dan Jeongguk mengangguk sebelum melepas sandalnya, meraih ujung kainnya dan menaiki undakan.

Dia menyelipkan dirinya di sisi Taehyung persis ketika ayah Devy selesai bicara dan Taehyung mengerjap, menoleh kaget dan mendapati itu Jeongguk—dia menghembuskan napas lega.

“Dayu.” Sapa Jeongguk, berusaha ramah pada gadis di hadapannya dan Devy balas mengangguk—tersenyum tulus. Membuat Jeongguk penasaran seberapa banyak dari rencana sinting ayahnya yang diketahui Devy? Lalu menoleh ke ayah dan ibunya, dia mengangguk ramah pada keduanya.

“Sudah lama, Gung?” Tanya Taehyung, nada suaranya tegang dan Jeongguk ingin sekali memeluknya—membiarkannya melumer dalam kedua lengan Jeongguk, membiarkan kelelahannya larut sebelum beristirahat.

“Baru saja tiba.” Katanya, meniru nada suara Taehyung lalu menatap ayah Devy. Dia memperkenalkan diri dengan menyebut nama keluarganya. Menyadari bahwa dalam masyarakat Hindu, lebih mudah membawa nama keluarganya—memberikannya sebuah rasa hormat instan yang kadang dibutuhkannya.

Ayah Devy langsung menatapnya dengan lebih hormat, persis seperti yang dibutuhkannya. “Oh, nggih. Swastyastu., Gung.” Katanya.

Taehyung kemudian menyetir kembali pembicaraan dengan bahasa Bali halusnya. “Jadi, seperti yang kita semua ketahui sekarang, ayah saya baru saja meninggal dan pernikahan tidak bisa dilanjutkan karena masa cuntaka. Besok saya juga akan langsung melaksanakan upacara nganyut untuk atma Ajung.” Katanya tenang dengan Jeongguk bersila di sisi kanannya.

Ayah Devy sejenak melirik Jeongguk, nampak tidak terlalu nyaman dengan keberadaan orang asing dari Puri besar Karangasem di dalam pembicaraan mereka. Namun dia mengangguk dan menjawab, “Tidak masalah, kita bisa menundanya.”

Rahang Taehyung mengencang. “Saya akan membayar hutang Ajung.” Katanya tenang walaupun Jeongguk bisa melihat tangannya gemetar menahan amarah. “Jadi kita batalkan pernikahannya karena semua keluarga besar Puri tidak setuju.”

Devy terkesiap kecil dan Jeongguk meliriknya, dia nampak pucat pasi di tempatnya mendengar bagaimana Taehyung membatalkan pernikahan mereka dengan amat ringan. Ayahnya nampak berusaha keras agar tidak berteriak ketika seseorang menghampiri mereka dan duduk di kiri Taehyung. Kehadirannya membuat ayah Devy menegakkan duduknya dan sedikit memucat. Jeongguk menyadari bahwa selain ayah Taehyung, dia tidak memiliki kekuatan pada orang lain di Puri ini.

“Memangnya berapa hutang Krshna padamu?” Tanya orang itu dalam bahasa Bali, tanpa basa-basi. Dia nampak lebih tua dari ayah Taehyung dan Jeongguk berpikir, dia pastilah pewaris yang seharusnya mengisi tempat ayah Taehyung dan Taehyung. “Taehyung akan membayarnya sekarang.”

Taehyung mengangguk, mengeluarkan ponselnya. “Tinggal sebutkan saja nominal dan nomor rekeningnya.” Dia membuka M-Banking-nya, siap menyelesaikan masalah itu yang mirisnya hanya membutuhkan beberapa sentuhan layar ponsel.

Ayah Devy menggertakkan rahangnya, terdesak karena tidak lagi bisa mengendalikan Puri itu melalui ayah Taehyung. “Saya akan kirimkan detailnya.” Katanya singkat, nampak mulai kalah dan dipukul mundur.

“Tentu saja.” Kata paman Taehyung masih dalam bahasa Bali halus yang terdengar kasar. “Saya akan menunggu detailnya, tidak sabar untuk segera membereskan masalah yang sudah berlarut-larut ini.” Dia menatap langsung ke ayah Devy—dua kali lebih besar dan dominan.

“Dan kami juga secara tegas menentang pernikahan Taehyung dan Devy. Hanya Krshna yang setuju pada pernikahan itu, semua orang di Puri ini menolaknya. Bahkan Taehyung sendiri.” Dia menatap lurus ke ayah Devy yang rahangnya mengencang. “Karena jika Taehyung akan menjadi pewaris, dia harus menikahi perempuan dari kasta Ksatria. Tidak seperti ayahnya.”

Jeongguk menghela napas; apakah normal berbicara buruk tentang seseorang di hari kematiannya dengan abunya bahkan masih berada di halaman yang sama dengannya? Isi Puri Taehyung tidak ada bedanya ternyata.

Mereka akhirnya pamit setelah dipermalukan oleh paman Taehyung yang sekarang nampak puas setelah berhasil mengusir keluarga Devy. Dia kemudian menatap Taehyung dengan raut tidak suka yang membuat Jeongguk menahan napas.

“Kau harus belajar melakukan itu sendiri. Kau tidak bisa terus menerus diselamatkan orang lain.” Kecamnya pedas lalu berlalu dari sana, meninggalkan Taehyung bersila di atas karpet dan memejamkan matanya—nampak tertekan.

Jeongguk menepuk bahunya lalu meremasnya. “Sedikit lagi.” Bisiknya lembut. “Aku akan menginap di sini, menemanimu.”

Taehyung menghela napas berat, memijat pelipisnya. “Trims, Gung.” Balasnya parau dan kelelahan, dia nampak dua kali lebih tua sekarang dengan semua stres dan lelah menggelayut di tiap kerutan di wajahnya.

Jeongguk menunggu di bale gede bersama para bapak hingga semua tamu pulang. Taehyung menemani ibunya di bale dangin, menangis tersedu-sedu ditemani beberapa orang ibu-ibu. Ada lima bapak-bapak yang akan terjaga malam ini, menemani jenazah hingga besok pagi yang sudah duduk di bale gede. Semua mendesaknya beristirahat, Lakshmi sudah lebih dahulu beristirahat—benar-benar teler karena lelah dan duka. Ibu Taehyung akhirnya berkenan berdiri dan meninggalkan jenazah suaminya untuk beristirahat, hari esok mereka akan panjang.

Taehyung berterima kasih pada semuanya, mengantar ibunya ke tempat tidur sebelum berpamitan ke kamarnya sendiri. Dia terseok-seok, berpamitan dan berterima kasih pada para bapak yang bersedia terjaga dan menuju kamarnya.. Jeongguk berdiri, menemaninya masuk ke kamar setelah berpamitan pada para bapak dan mengunci pintunya. Dia tadi memperkenalkan diri sebagai teman akrab Taehyung dan akan menemani Taehyung berduka.

“Kasihan anak itu, Turah.” Kata seorang bapak, merendahkan suaranya. “Dia sejak kecil tertekan sekali. Mungkin sekarang sangat sedih ditinggalkan ayahnya.” Dia menatap Taehyung yang duduk di sisi ibunya—tatapan matanya kosong. “Sebaiknya ditemani saja, Turah, agar tidak melakukan hal yang tidak-tidak.”

Jeongguk mengangguk, setuju. Taehyung nampak sangat kacau.

Taehyung gemetar, melepas udeng-nya dan menjatuhkannya ke lantai. Jeongguk menghampirinya dan mengulurkan tangan.

“Sssh, sshh.” Bisiknya lembut lalu meraih Taehyung ke dalam pelukannya. Kekasihnya seketika melumer, menyandarkan tubuh sepenuhnya pada Jeongguk dan menangis kelelahan. “Semua sudah selesai.”

Taehyung beraroma seperti dingin malam, dupa, keringat, dan duka—menyakiti hidung Jeongguk namun dia mengecup puncak kepala Taehyung, menghirup aromanya karena dia sangat merindukan Taehyung. Dia membelai punggung Taehyung dengan telapak tangannya, menunggu Taehyung yang tengah terisak.

“Kau baik-baik saja, kau aman.” Bisik Jeongguk di kepalanya, merasakan tangan Taehyung dikaitkan di balik punggungnya—memeluknya erat. “Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi sekarang.”

Kekasihnya mengerang panjang, melolong rendah dan gemetar hingga bulu kuduk Jeongguk meremang. Dia mengeratkan pelukannya, gemetar hebat dalam pelukan Jeongguk hingga pemuda itu terpaksa membimbingnya—setengah menyeretnya ke ranjang untuk mendudukkannya. Taehyung membenamkan wajahnya di dada Jeongguk, air matanya merembes hingga menembus pakaian Jeongguk—menyengat kulitnya.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Bisik Jeongguk berulang-ulang, menenangkannya—berusaha menenangkan Taehyung yang setengah histeris dan Jeongguk tidak paham apa masalahnya. “Ini semua bukan salahmu.”

Taehyung berdeguk. “Wiktu,” katanya menggigil. “Wiktu, Wiktu.”

Jeongguk membuka mulut, hendak menjawab panggilan itu dengan lembut dan menghiburnya. Namun Taehyung melanjutkan dengan lirih, suaranya pecah. Dia tidak yakin apakah dia mendengarnya dengan benar ketika dia terenyak oleh sisa kalimat Taehyung. Jantungnya sejenak terasa berhenti berdetak ketika otaknya memproses segalanya.

Ketakutan Lakshmi, wajahnya yang nampak lelah, sulitnya Taehyung dihubungi, bagaimana Lakshmi berjengit ketika Jeongguk mengungkapkan turut berdukanya....

“I have my own way,” kata Taehyung tiap kali Jeongguk bertanya.

Inikah caranya....?

“Aku hampir memberi Ajung cetik, Wiktu. Aku hampir membunuhnya.”

Dan di luar sana, para bapak sedang tertawa rendah.


Glosarium:

  • Menkingsan di geni: prosesi membakar jenazah tanpa prosesi Ngaben/pembakaran mayat Hindu karena alasan personal termasuk ketiadaan biaya atau hari baik (dewasa ayu). Dalam upacara kematian Hindu, seraya menunggu hari baik, jenazah bisa dikuburkan atau dibakar dulu sebelum nanti diberikan upacara Ngaben. Tidak ada batas waktu hingga kapan.

  • Pakaian Adat Madya: terdiri atas pakaian atas rapi (kemeja, kaus, polo shirt) yang dipadankan dengan kain/jarik, selendang (untuk perempuan) dan udeng (untuk lelaki). Biasanya digunakan untuk acara tidak resmi atau acara mendadak.

  • Bale Dangin: balai di rumah adat model lama Hindu yang digunakan khusus untuk menyimpan jenazah untuk pelayat.

  • Bale Gede: balai lain yang biasanya difungsikan untuk berdiskusi.

  • Udeng lembaran: dalam pakaian adat Hindu ada dua jenis udeng. Udeng Jadi yang sudah siap dikenakan, sudah dibentuk simpul dan dijahit sehingga praktis digunakan seperti topi. Namun udeng lembaran bentuknya segi empat sama sisi dan harus diikat sendiri oleh pengguna. Hasil akhir udeng lembaran jauh lebih megah dan klasik daripada udeng jadi. (Hindu Bali fellas, bayangin wiktu bikin udeng lembaran fak seksi!)

  • Cuntaka: masa berduka, tidak boleh melakukan persembahyangan atau upacara lain karena dianggap 'kotor'. Menstruasi pada perempuan juga dianggap cuntaka.

  • Nganyut: upacara melepas abu dan sisa belulang setelah dibakar ke laut. Nantinya ketika akan Ngaben, atma/jiwa almarhum akan dipanggil untuk diupacarai, disucikan dan diistanakan dalam upacara Ngeroras. Jiwa akan bisa dilahirkan kembali hanya jika telah disucikan dan diistanakan atau 'dikembalikan' ke leluhur, pulang ke surga.

  • Para bapak yang menemani jenazah: aku kurang yakin namanya apa tapi memang ada yang menemani jenazah malamnya dan aku juga kurang yakin tujuannya apa. Maaf kamus berjalanku (re: bapak) udah tidur xixixi

  • Cetik: racun Bali, semacam santet.


    POLL REVEAL:

Susu: Ajung meninggal karena sakit. Kopi: Ajung meninggal diracun Taehyung.

Winner: SUSU


Thank you! ire, x