Gourmet Meal 604

cw // agak horror .


Jeongguk mendorong pintu dari arah garasi dengan satu tangan sementara tangannya yang lain menggenggam ponsel di telinganya—menelepon Taehyung yang ditinggalkannya tadi setelah menginap dua malam di Puri-nya.

Kau sudah di rumah?” Tanya Taehyung di seberang sana, mereka tersambung dalam panggilan sepanjang perjalanan Jeongguk pulang—terkadang tidak mengobrol sama sekali atau menyanyikan lagu yang kebetulan di putar di stasiun radio yang Jeongguk dengarkan bersama.

“Baru saja tiba,” sahut Jeongguk menutup gerbang kecil di belakangnya yang berdentang keras ketika dia menguncinya sebelum mendongak dan menemukan ibunya sedang menyangga nampan di atas tangannya, terisi penuh canang dan dupa yang semerbak.

Mendadak teringat sikap ayahnya yang berubah drastis. Jeongguk menoleh ke garasi, menyadari mobil ayahnya tidak ada dan menatap ibunya yang sedang berdoa dengan kain melilit kakinya. Haruskah dia menanyakan pada ibunya masalah 'mimpi' yang dikatakan ayahnya selama ini? Jeongguk hanya tidak yakin seberapa kuat mimpi itu memengaruhi ayahnya hingga dia mendadak jadi begitu hangat padanya?

“Wigung,” katanya ke ponsel. “Aku akan bicara dengan Biang sebentar, ya? Akan kutelepon kembali nanti.” Katanya.

Hm?” Sahut Taehyung dari seberang sana. “Kau ingin membicarakan apa memangnya dengan Biang?”

Jeongguk berlari kecil ke kamarnya, melempar tasnya ke kursi di teras; ingin bergegas menemui ibunya mumpung ayahnya tidak berada di rumah. “Tentang Ajung dan mimpinya, aku yakin Biang tahu tentang mimpinya. Karena entahlah, aku sama sekali tidak yakin hal sesepele mimpi bisa membuat Ajung berubah drastis.”

Sejenak hening dari seberang sana sebelum Taehyung menghela napas, Jeongguk mendengarnya mengangguk. “Baiklah, kabari aku bagaimana hasilnya, oke?” Bisiknya dan Jeongguk mengangguk.

Dia berpamitan pada Taehyung dan menyelipkan ponselnya ke saku celananya sebelum bergegas menghampiri ibunya yang sedang berdoa di Merajan rumahnya dengan sisa canang di nampannya. Merajan mereka besar, jauh lebih besar dari milik Taehyung dan Yugyeom selalu mengeluh tiap kali dia mendapat giliran berdoa keliling karena mereka juga harus bersembahyang ke Sanggah Tua di belakang sana, di dekat rumah Niang mereka. Sejak Yugyeom kuliah dan Jeongguk bekerja, ibu mereka tidak lagi meminta mereka berdoa—dia yang melakukannya sendiri.

“Biang,” sapa Jeongguk menaiki tangga Merajan terakhir. Setiap pura terisi dupa yang semerbak dengan sebuah canang besar di setiap pintunya—menyebarkan aroma lembut dan segar yang menyenangkan.

Jeongguk sering ke Merajan, selalu bersembahyang sebelum berangkat bekerja untuk menenangkan diri. Dia hanya akan berangkat dengan bunga di telinga dan bija di kening serta lehernya setelah bersembahyang, rambut sedikit basah oleh tirta dengan pakaian beraroma dupa. Ibunya selalu mengajarinya dan Yugyeom untuk selalu berdoa sebelum berangkat bekerja atau sekolah. Rumput halaman Merajan mereka dipangkas rapi, selalu dicabuti jika ada yang tumbuh melewati. Beberapa rumput yang tangguh tumbuh di sela-sela beton yang keras atau di sela-sela bagian pelinggih yang sudah menua. Suasananya selalu menenangkan, Jeongguk menyukai perasaan aman dan nyaman tiap kali memasuki Merajan.

Ibunya menoleh dan tersenyum pada Jeongguk sebelum kembali fokus pada kegiatannya. Jeongguk sejenak menunggu hingga ibunya selesai menghaturkan sesaji sebelum perempuan paruh baya itu menuruni undakan kecil. “Gung Wah sudah pulang? Sudah makan?” Tanya ibunya, menyisihkan canang di atas nampan—membenahi posisinya.

Jeongguk mengangguk, “Sudah, Biang.” Katanya, sejenak ragu sebelum melanjutkan. “Biang sibuk? Gung ingin membicarakan sesuatu, bisa?”

Ibunya berhenti di tengah halaman Merajan, menatap anak sulungnya dengan lekat. Ibunya memiliki garis wajah India yang eksotis walaupun dia sama sekali bukan keturunan India. Ada noda merah di keningnya, permanen karena dia selalu menggunakan sindoor, bubuk vermilion merah di keningnya semenjak dia menikah. Rambutnya yang lurus panjang dan tebal, digelung di atas tengkuknya dan dia beraroma persis masa kecil Jeongguk hingga reaksi pertamanya adalah ingin memeluk ibunya, menghirup aroma itu dalam-dalam.

“Bicara apa?” Tanya ibunya, nampak kebingungan karena putra sulungnya praktis sudah berhenti membutuhkan apa pun darinya sejak dia menginjak usia dua puluh lima tahun. Mendengar anaknya membutuhkan sesuatu membuatnya bingung.

Jeongguk mengusap tengkuknya, sejenak bingung bagaimana mengatakannya. “Tentang Ajung.” Katanya menatap ibunya yang mengerjap. “Sebentar saja jika Biang tidak keberatan?”

Ibunya menatap Jeongguk sejenak lalu mengangguk. “Baiklah, tapi Biang selesaikan ini dulu.” Katanya, menunduk ke nampannya yang penuh. “Sudah makan?” Tanyanya ulang dan Jeongguk mengulum senyumannya.

Jeongguk mengangguk setengah geli. “Sudah, Biang. Tapi nanti pasti makan lagi jika lapar.” Sahutnya lalu keluar dari Merajan agar ibunya bisa fokus berdoa di Merajan.

Jeongguk menuruni undakan, melangkah ke teras rumah utama dan duduk di lantai, bersila menatap ibunya yang menyelesaikan doanya sebelum meninggalkan nampan terisi bunga dan tirta untuk digunakan semua anggota Puri bersembahyang. Dia kemudian melangkah ke arah Jeongguk seraya menyematkan sekuntum cempaka di rambutnya—ketika dia tiba di sisi Jeongguk, aroma tubuhnya begitu semerbak seperti bebungaan dan dupa. Dia duduk di sisi Jeongguk, menatap anaknya; masih mengenakan pakaian berdoanya.

“Apa yang ingin Gung bicarakan dengan Biang?” Tanyanya kemudian.

Jeongguk menatap ibunya, sejenak rikuh sebelum melanjutkan. “Ajung mendadak berubah,” katanya lirih, meliriknya untuk menilai reaksinya namun ibunya menatapnya tenang; menunggu. “Bukannya aku tidak menyukainya, hanya terasa... aneh dan tidak nyaman. Aku terbiasa pada perlakuannya yang—” Jeongguk berhasil menahan lidahnya sebelum mengatakan 'tidak adil' dan bergegas menggantinya, “Yang biasanya.” Ralatnya.

“Jadi ketika Ajung mendadak sangat... perhatian padaku, aku bingung.” Dia menatap ibunya yang balas menatapnya. “Ajung mengatakan sesuatu tentang mimpi, tapi sejujurnya aku tidak percaya. Maksudku, memang hal sesederhana mimpi bisa mengubah seseorang seketika?” Dia menatap ibunya yang mendengarkan dengan tenang.

Jeongguk jarang bercerita pada orang tuanya tentang masalah-masalahnya, dia lebih suka bertemu Yugyeom dan membicarakannya dengan adiknya. Jauh lebih solutif, setidaknya adiknya tidak menilai ceritanya dengan kejam. Tidak juga menasihatinya karena Jeongguk terkadang hanya ingin didengarkan.

Ibunya menghela napas, “Memang bukan mimpi biasa.” Katanya dan Jeongguk menoleh, menunggu ibunya melanjutkan. “Ajung terbangun berkeringat dingin ketika itu lalu seharian demam karenanya. Gung belum di rumah, seingat Biang bekerja sampai malam.”

Jeongguk mengangguk, masa-masa ketika dia mencari pelarian agar tidak memikirkan Taehyung yang mendadak menjaga jarak darinya dan tidak membalas pesan-pesannya. Dan ingat hari pertama ayahnya mengiriminya pesan, dia sedang di Puri Taehyung—menemani kekasihnya yang syok karena ayahnya meninggal. Dia juga memang tidak terlalu memedulikan kedua orang tuanya sejak beranjak dewasa dan mandiri dengan uangnya sendiri—Jeongguk menyadari ini mungkin salah, namun dia juga tidak bisa bertahan dengan orang tua yang tidak menghargai keberadaannya.

“Di mimpinya, Ajung didatangi Wak Anom,” kata ibunya dan Jeongguk mengerutkan alis. Kakak ayahnya itu meninggal lama sekali, sebelum Yugyeom lahir. Tidak menikah karena terlalu sakit dan mengizinkan adiknya menikah duluan; itulah mengapa ayah Jeongguk naik sebagai Penglingsir dan Jeongguk meneruskannya. Jiwanya juga sudah disucikan, sudah jarang sekali mampir di mimpi Jeongguk setelah upacara penyuciannya selesai.

Maka dia heran, apa yang membuatnya mendadak datang?

“Wak Anom hanya mengatakan dia kecewa pada Ajung dan akan membawa Gung.” Tambah ibunya dan Jeongguk mengerjap. Dalam Hindu, terdapat kepercayaan bahwa jika seseorang yang sudah meninggal mendatangi mimpi lalu mengajak pergi, maka sebaiknya tidak mengikutinya karena itu berarti kematian. “Kata Ajung, Wak Anom terlihat marah sekali pada Ajung di mimpi itu. Ruangannya bersinar putih terang dan Ajung langsung demam setelahnya.”

Jeongguk terenyak. Dia tidak pernah terlalu dekat dengan Wak Anom, karena jarak usia ayahnya dan kakaknya lumayan jauh. Jeongguk lupa sakit apa yang dideritanya namun dia ingat perasaan takut ketika harus mendekat ke rumah kakak ayahnya saat kecil. Dia benci pergi ke sana karena merasa kecil dan ketakutan. Maka dia terkejut ketika kakak ayahnya yang 'menyadari' bahwa Jeongguk akan kabur dari Puri, bukan adik ayahnya yang lebih dekat dengan Jeongguk.

“Saat Ajung terbangun, dia langsung menanyakanmu. Panik sekali. Tapi ketika Biang mengintip ke kamarmu, lampunya mati. Jadi Biang bilang kau tidak di Puri.” Ibunya menatap Jeongguk dan sejenak, bulu kuduknya meremang—teringat perasaan takutnya ketika harus menghadapi kakak ayahnya yang sakit. Jeongguk ingat kepanikan tiap kali mereka melarikan kakak ayahnya ke rumah sakit; kelelahan, keputusasaan....

Dan kesedihan pekat ketika kakak ayahnya meninggal. Jeongguk ingat mereka cuntaka nyaris dua bulan lamanya karena tidak ada seorang pun yang siap melangkah dari kenangan kakak ayahnya. Lama sekali Puri terasa gelap dan mencekam, aura kesedihan membuat Jeongguk kecil merasa tercekik.

“Ajung kemudian menangis ketika Biang bilang kau tidak di kamar, 'Gung Wah pergi??' begitu katanya; berulang-ulang seperti orang panik dan kebingungan.” Ibunya menatap Jeongguk yang mengerutkan alis dan bergidik. “Setelah tenang, barulah Biang berani menanyakan apa yang terjadi dan Ajung ketakutan sekali pada ekspresi Wak Anom ketika mengatakan dia kecewa pada ayahmu.”

Jeongguk menatap ibunya. “Jika sepenting itu, kenapa Biang tidak memberi tahuku secepatnya?”

Ibunya menghela napas, “Kau tahu ayahmu,” katanya menatap Jeongguk. “Dia tidak mau nampak lemah di depanmu, dia hanya mau mengirimimu pesan agar kau pulang. Tidak mengizinkan Biang memberi tahumu mengenai demamnya—yang ajaibnya, sembuh persis setelah Gung mengatakan akan pulang.”

Jeongguk berhenti sejenak, sebelum berbisik. Menanyakan pertanyaan yang dipikirkannya sejak kecil namun tidak pernah berani ditanyakannya pada keluarganya selama ini. “Biang?”

“Ya?”

“Wak Anom,” katanya perlahan—merasakan ketidaknyamanan ketika menyebut nama itu di bibirnya; terasa asing dan pahit. “Meninggal karena apa?”

Ibunya menatap Jeongguk, menghela napas dalam-dalam dan mengatakan. “HIV/AIDS.”

Jeongguk terenyak, teringat bagaimana segala peralatan makan kakak ayahnya dibedakan. Kamarnya dikhususkan sendiri, bagaimana orang Puri menjaga jarak darinya dan bagaimana dia 'dirahasiakan'—cukup menakuti Jeongguk kecil hingga otaknya memilih untuk memukul mundur ingatan tentang kakak ayahnya. Dia menghela napas berat, memikirkan ulang ingatan-ingatan masa kecilnya tentang Wak Anom yang nyaris tidak pernah bicara padanya.

Hal terakhir yang dikatakan ibunya pada Jeongguk sebelum dia pamit untuk mandi adalah, “Ajung sangat takut kehilanganmu. Entah apa yang Gung mungkin pikirkan tentang Ajung selama ini tapi dia sayang padamu.”

Jeongguk ingin berteriak marah mendengarnya.

Bagaimana mungkin seseorang bisa menyayangi anaknya namun juga bersikap sangat abusive padanya? Ayahnya tidak pernah menunjukkan rasa sayangnya sama sekali dan secara terang-terangan memanjakan Yugyeom bahkan Taehyung di depan Jeongguk sendiri; bersikap lebih memprioritaskan orang lain. Omong kosong jika ibunya berharap Jeongguk akan menelan kalimat 'ayahmu sayang padamu' mentah-mentah. Jeongguk tidak percaya dan tidak akan pernah mempercayainya—semua sakit hati dan luka masa kecilnya tidak akan sembuh seketika hanya karena 'ayahmu sayang padamu'.

Lalu mengapa dia bersikap bajingan sepanjang waktu pada Jeongguk?

Namun dia hanya mengangguk lalu beranjak ke kamarnya; tidak ingin mengatakan hal-hal yang akan disesalinya nanti pada ibunya. Dia melempar ponselnya ke kasur dan duduk di sana, merasa asing dan dingin di kamarnya sendiri setelah menghabiskan dua hari penuh bersama Taehyung dan kakaknya yang berbahagia. Dia merasa lebih akrab dengan Puri Taehyung daripada rumahnya sendiri.

Jeongguk menyugar rambutnya yang kusut setelah perjalanan dan menguncirnya, berdiri dan menghadap ke cermin untuk menatap dirinya sendiri. Memikirkan mimpi ayahnya yang ternyata membuatnya demam. Jeongguk tidak heran karena jika dia bermimpi didatangi kakak ayahnya dia mungkin juga akan demam.

Ada sesuatu tentang kakak ayahnya yang selalu membuatnya tidak nyaman sejak kecil. Takut, khususnya dan tidak ingin mendekat padanya sama sekali. Lalu mengapa kakak ayahnya yang mendatangi ayahnya untuk mengatakan bahwa dia kecewa dan akan 'membawa' Jeongguk ketika dia bahkan tidak terlalu akrab dengannya?

Resah, Jeongguk menekan tombol speed dial dua yang langsung tersambung pada Taehyung. Membutuhkan kekasihnya untuk menyokongnya karena dia merasa limbung oleh pengetahuan baru itu.

Hai, maaf aku baru saja mandi. Bagaimana dengan Biang?” Tanyanya ketika mengangkat teleponnya, lalu membersit keras ke handuknya dan Jeongguk mendesah; merindukan saat ketika dia memeluk Taehyung lalu menciumi lehernya yang lembab setelah mandi.

Mereka memang harus tinggal bersama karena rindu ini tidak lagi mengenal sopan santun. Jeongguk terus merasa merindukan Taehyung bahkan ketika kekasihnya terlelap di sisinya—rasanya menyesakkan sekali.

Dia berbaring, menceritakan obrolannya dengan ibunya perlahan. Juga menambahkan bagaimana kalimat 'ayahmu menyayangimu' sama sekali tidak menyelesaikan masalah apa pun—tidak menyembuhkan traumanya, tidak menyembuhkan rasa ketidakberhargaan dirinya. Taehyung tergelak getir mendengarnya, setuju pada pola pikir Jeongguk. Lucu bagaimana orang tua berpikir mereka bisa mendapatkan maaf dari anaknya tanpa mengucapkan kata 'maaf', menggantinya dengan tindakan-tindakan yang menunjukkan kasih sayang berharap anaknya memaafkannya.

Tidak. Jeongguk butuh kata 'maaf', bukan tindakan. Butuh mereka mengakui bahwa tindakan mereka salah, mengklaim kesalahan mereka sebelum meminta maaf pada Jeongguk.

Tapi, apakah kau dekat dengan Wak Anom ini? Itukah mengapa dia yang mengatakan kekecewaannya?”

Jeongguk menggeleng, mengerutkan alis dengan tidak nyaman saat harus mengingat masa kecilnya. Dia bahkan tidak yakin apakah dia ingat wajah kakak ayahnya karena dia menghabiskan waktunya di kamar terbaring sakit dan Jeongguk selalu menangis keras jika diajak masuk ke kamarnya yang beraroma pesing, minyak angin, dan sakit. Sudah berapa lama dia meninggal? Jeongguk juga tidak yakin.

“Tidak, sama sekali.” Kata Jeongguk, membaringkan dirinya di ranjang menatap langit-langit kamarnya.

Sebaiknya kau mandi dan mencuci rambutmu, lalu letakkan canang di plangkiran kamarmu.” Kata Taehyung kemudian, terdengar khawatir. “Berdoalah malam ini, kita tidak tahu apa arti 'membawamu' yang sebenarnya di mimpi itu.”

Kegelisahan terbit di dasar perut Jeongguk, membuatnya tidak nyaman ketika dia berdiri hendak bersiap-siap mandi dengan telepon tersambung ke Taehyung—terlalu merindukannya untuk sekadar mematikan sambungan untuk mandi. Jeongguk membasuh tubuhnya dengan alis berkerut sementara di ponselnya yang disandarkan di rak sikat gigi, Taehyung bernyanyi lirih menunggunya mandi. Menuruti kehendak kekasihnya, dia mencuci rambutnya—menggosoknya keras-keras seolah ingin mengenyahkan ingatannya tentang kakak ayahnya dari otaknya.

Dia melangkah keluar dari kamar mandi dan mengambil sebuah canang dari kulkas di dapur lalu berdoa di kamarnya—berharap kata 'membawa' di mimpi ayahnya bukan berarti kematian.

Jeongguk bergidik ketika dia bangkit setelah berdoa, mendoakan kakak ayahnya yang sudah tenang dan mendadak angin yang berdesir di luar kamarnya terasa begitu mengerikan. Dia menoleh ke jendela yang terbuka, halaman gelap karena petang sudah menjelang; hanya ada cahaya dari lampu teras kamarnya dan lampu di sudut rumah. Biasa saja, Jeongguk suka duduk di teras untuk menikmati udara malam dan menunggu Yugyeom lapar untuk membuat mie instan bersama.

Namun malam ini, entah mengapa suasana Puri terasa jauh lebih mencekam. Jeongguk bangkit dan mengunci jendelanya, juga mengunci pintunya; mendadak terserang perasaan takut dan paranoid setelah mendengar cerita ibunya. Bersyukur malam ini Yugyeom ada di Puri Timur di seberang jalan bersama nenek mereka sehingga Jeongguk tidak harus keluar kamar dan pergi ke dapur.

“Aku takut,” katanya pada Taehyung—mendadak merasa seolah ada yang mengawasinya. Ketakutan dan ketidaktahuannya mengenai kakak ayahnya yang dirasakannya ketika kecil kembali merayap naik ketika mendengar mimpi ayahnya.

Aku akan menemanimu hingga lelap, tenang saja. Sudah berdoa?” Tanya kekasihnya dari seberang sana, Jeongguk mendengarnya mengunyah—sedang makan ikan goreng dan sambal kecombrang kesukaannya.

Jeongguk mengangguk, menyelimuti kakinya—mendadak ketakutan. “Sudah.” Katanya.

Tenanglah, tidak apa-apa.” Bisik Taehyung sayang dan Jeongguk menghela napas, melirik pintu kamar yang terkunci.

Jeongguk menyadari bahwa tentu saja mimpi itu berhasil membuat ayahnya mendadak berubah. Karena jika mengingat kedukaan berat Puri ketika dia meninggal dan tangis Jeongguk ketika diajak menjenguknya, Jeongguk pun akan ketakutan jika dia muncul di mimpinya malam ini.


Glosarium: