Gourmet Meal 584
tw // humiliation , anger .
Jeongguk memarkir mobil Taehyung di depan Puri dan melihat dua Rubicon terparkir di seberang jalan, sangat mencolok. Dia menyadari mantan atasannya sudah tiba di Puri, syukurlah urusan di Griya cepat.
Karena Puri menyerahkan segalanya pada Taehyung, maka dia memutuskan untuk Ngaben sesuai dengan anjuran Griya di mana jika sudah melaksanakan mekingsan di geni, lembu dan bade tidak lagi diperlukan. Taehyung akan menghemat biaya, lagi pula orang Puri tidak akan peduli. Konsekuensinya hanya orang akan berpikir Taehyung tidak menghormati ayahnya, namun peduli setan toh sebentar lagi dia akan pergi dari Puri itu dan menyerahkan posisi kepala keluarga pada yang sebenarnya. Hal terpenting saat ini adalah memberikan upacara yang layak bagi ayahnya.
Hari yang diberikan Griya ada dua bulan lagi dan Taehyung berpikir setelah cuntaka selama dua belas hari—mungkin memberikan jeda lagi selama 12 hari, dia akan meminta Wisnu melamar kakaknya. Secepat mungkin menjauhkan Lakshmi dari Puri yang sama sekali tidak menyukai mereka, Taehyung kepala keluarga mereka sekarang dan dia berhak meminta kakaknya menikah.
“Oh, Felix.” Kata Taehyung di sisinya, meraih udeng yang tadi dilepaskannya di dasbor dan mengenakannya kembali. “Aku tidak tahu dia akan datang.”
Jeongguk menatap kekasihnya yang sejak tadi terdengar linglung dan kebingungan. Dia hanya duduk di lokasi persembahyangan mereka tadi, di Pantai Goa Lawah menatap lepas ke lautan dengan wadah abu ayahnya di pangkuannya diapit Lakshmi dan ibunya. Matanya kosong dan dia melamun, membuat Jeongguk cemas sepanjang hari. Dia membawa tas Taehyung, dompet dan ponselnya ada bersama Jeongguk. Dia ingin Taehyung fokus pada kegiatannya dan tidak terganggu hal-hal remeh di ponselnya.
Mengenal Taehyung selama bertahun-tahun, Jeongguk paham ada sesuatu yang mengganggunya. Ada yang sedang dipikirkannya, namun dia tidak ingin mendesak Taehyung untuk memberi tahunya—mungkin hanya masalah Ngaben. Tadi mereka sudah membicarakan biaya banten untuk upacara ayah Taehyung dari prosesi Atma Wedana hingga Ngelinggihang. Mereka sudah mendapat perkiraan kasarnya termasuk sesari dan Taehyung terlihat semakin tua setelah mendengarnya.
Jeongguk ingin sekali memindahkan setengah beban di bahunya ke bahu Jeongguk, ingin memindahkan setengah sakit di kepalanya ke kepala Jeongguk; apa saja agar Taehyung bisa terlihat lebih nyaman di dalam tubuhnya sendiri. Bahu Taehyung merosot di balik kemeja gelap yang digunakannya, tulang selangkanya entah bagaimana nampak jauh lebih menonjol dengan kesedihan bergelayut di bahunya.
“Aku bisa membantumu masalah uang,” katanya sebelum mereka menaiki mobil untuk kembali ke Puri. Dia mengatakannya perlahan, tidak ingin menyinggung Taehyung karena masalah sesensitif uang.
Taehyung menggeleng dan bibirnya membentuk garis putih tipis sehingga Jeongguk mundur, tidak lagi membicarakan masalah itu hingga mereka tiba di Puri.
“Ya, tadi di grup UFF dan bersikeras datang ke Puri bersama Arsa, Gustra, dan Wulan.” Jelasnya menarik rem tangan dan bergegas turun mengikuti Taehyung yang memasang udeng-nya, merapikan rambutnya.
“Oh,” sahut Taehyung mengangguk, membenahi kain dan saput-nya sebelum bergegas memasuki Puri-nya yang mulai sepi karena acara mereka sudah selesai—hanya ada beberapa orang yang masih membantu mereka untuk menyambut tamu yang melayat.
Jeongguk tidak melihat orang Puri lainnya, mereka hanya ikut persembahyangan di Goa Lawah lalu setelahnya pulang. Seperti tamu, seolah itu bukan keluarga mereka yang dimakamkan. Tapi Jeongguk tidak lagi terkejut—konflik antarindividu di rumah sudah sering terjadi hingga di titik Jeongguk tidak lagi paham apa yang mereka perebutkan.
Puri beraroma tajam dupa dan aroma khas upacara adat—bunga, keringat, kopi, teh, rokok, dupa, sesaji.... Jeongguk sudah sangat familiar dengan aroma ini, nyaris nyaman dengan aromanya. Suasana agak berantakan dengan empat orang ibu berjongkok di dekat tandan air, mencuci berkeranjang-keranjang gelas bekas kopi dan teh sambil mengobrol sementara di dalam dapur ada yang masih menyeduh bernampan-nampan minuman.
Mereka menaiki undakan dan langsung melihat Felix—tidak sulit menemukannya karena dia praktis lebih tinggi dari semua orang. Dia duduk di Bale Gede, bersama Arsa dan teman-teman UFF-nya. Taehyung langsung menghampiri mereka dan Jeongguk mengekornya seraya menyimpan kunci mobil di tas selempang kecilnya.
“Nah, ini dia.” Kata Arsa yang duduk di bagian dalam dengan Kinan di sisinya; mengenakan setelan adat yang membuat Jeongguk sejenak tersenyum kecil. Mereka sudah menjadi orang Bali ternyata karena kemeja hitam, udeng, kain yang menempel di tubuh mereka nampak sangat cocok.
Kinan, seperti biasa nampak licin dan cerdas. Mengenakan kacamata bergagang kecilnya dan membawa handbag pria dari kulit, kemejanya dikancing rapi, udeng-nya rapi, mengenakan kain songket yang terlihat mahal—menekankan kontras pada penampilan Arsa yang tiga kancing teratas kemejanya terbuka, kainnya sedikit berantakan, dan ujung udeng-nya bengkok. Songket dan saput mereka kembar, Jeongguk menyadari. Kinan tersenyum pada Jeongguk, nampak selalu tenang dan terstruktur hingga Jeongguk iri.
Wulan dan Gustra duduk di dekat Kinan, menyalami Taehyung pertama dan mengungkapkan turut berduka cita mereka dengan tulus. Wulan mengenakan kebaya abu gelap, bersimpuh dengan tas tangan di pangkuannya di sisi Gustra yang juga mengenakan kemeja gelap. Jeongguk merasa seperti sudah berabad-abad sejak mereka menggelar acara food bazaar itu—sejak hidup terasa teratur dan tenang tanpa gejolak.
Sekarang semuanya jungkir balik, terjun bebas dan Jeongguk tidak yakin apakah dia mengenakan parasut untuk mendarat.
Felix duduk di dekat mereka, kemeja gelapnya membalut tubuhnya yang bidang dengan apik—memamerkan tempat yang tepat. Ada kacamata gelap digantungkan di kerah bajunya yang dua kancing teratasnya terbuka. Dia juga mengenakan kain yang sama dengan kekasihnya, Christian yang baru kali kedua dilihat Jeongguk selain masa UFF mereka.
“Tjok.” Felix menyalami sahabatnya hangat dan menepuk bahunya ketika Taehyung bergabung dengan mereka. “Kau sudah kenal tunanganku, Christian.”
Lelaki di sisi Felix mengulurkan tangan, tersenyum ramah dan menjabat tangan Taehyung. Rambut ikalnya mengintip dari bawah udeng-nya dan dia terlihat asing dalam pakaian adat Bali, mungkin karena wajahnya yang sedikit Chinese. “Turut berduka cita, Tjok.” Katanya tulus sebelum tersenyum pada Jeongguk dan menyalaminya juga.
Hal yang membuat Jeongguk terkesima adalah bagaimana Felix menyatakan bahwa lelaki di sisinya adalah tunangannya dengan suara normal—tidak peduli bagaimana pikiran orang di sekitar tentang mereka. Dia tidak menurunkan wajahnya sama sekali, tidak takut atau risih. Jeongguk menginginkan kepercayaan diri itu. Atau apakah jika dia bukan lelaki berkasta, dia memiliki percaya diri yang sama untuk mengakui Taehyung adalah kekasihnya?
Kedua chef seniornya mengumumkan bahwa mereka berdua pasangan dengan sangat gamblang: kain kembar, kemeja kembar, udeng senada, duduk bersebelahan. Hal yang sangat membuat Jeongguk iri, dia menahan diri agar tidak melirik Taehyung—tahu kekasihnya sedang sangat tertekan.
“Terima kasih.” Taehyung bersila di hadapan mereka sementara seorang perempuan yang membantu datang membawakan senampan kopi dan segelas teh untuk Wulan dengan piring terisi kue basah.
Jeongguk bergegas membantunya menurunkan kopi untuk teman-temannya, menyajikannya di hadapan setiap orang. Felix menerimanya seraya menggumamkan terima kasih, meletakkan gelas untuk Christian dulu sebelum dirinya.
“Gung, untuk Kinan tidak perlu.” Sela Arsa tepat saat Jeongguk menurunkan gelas keempat. “Dia cukup air putih saja, lambungnya tidak cocok dengan kafein.” Tambahnya dan Kinan di sisinya mengernyit—nampak membenci fakta itu namun tidak ada yang bisa dilakukannya.
“Oh, baiklah, Chef.” Jeongguk mengangguk dan meletakkan kembali kopi di atas nampan.
“Teh bagaimana, Turah?” Tanya gadis itu berbisik. “Tiang ambilkan.”
Jeongguk menggeleng. “Tidak perlu, air putih saja sudah ada air kemasan.” Katanya melirik air kemasan yang diletakkan di atas piring yang tersaji di hadapan tamu mereka. “Terima kasih.” Dia tersenyum dan gadis itu mengangguk, bergegas kembali ke dapur karena dia dibutuhkan.
“Jadi kapan Ngaben-nya?” Tanya Felix saat Jeongguk duduk di sisi Taehyung yang menyesap kopinya—nampak berkerut kelelahan.
“Dua bulan lagi.” Sahut Taehyung parau, nampak sedikit lebih baik setelah minum kopi. “Jika semuanya lancar, acara akan langsung diselesaikan hari itu juga dari Atma Wedana hingga Ngelinggihang. Tidak perlu membuang-buang waktu.”
“Kau mau makan sesuatu? Kau belum sarapan,” bisik Jeongguk ketika Taehyung kembali meneguk kopinya.
Felix mendengarnya, “Benar.” Katanya, “Makanlah sesuatu kami bisa menunggu.”
Taehyung menggeleng, “Tidak apa-apa, aku masih kenyang.”
“Itulah yang Kinan katakan bertahun-tahun lalu sebelum kemudian terbaring di ranjang rumah sakit karena tukak lambung.” Sahut Arsa kalem dan walaupun dia terdengar menyebalkan, Jeongguk senang dia melakukannya. “Begitulah.” Tambah Kinan, menyesap air kemasannya dengan khidmat.
Taehyung akhirnya setuju, pamit pergi ke Pewaregan untuk makan sebelum kembali menemani mereka. Menyisakan Jeongguk yang menemani mereka mengobrol sambil menanti—dia sudah sarapan dan membeli roti di Goa Lawah tadi, lumayan kenyang.
“Bagaimana tentang rencana kalian?” Tanya Felix rendah sementara Gustra dan Wulan mengobrol dengan Kinan, Christian pindah ke sisi Kinan untuk bercengkerama dengan ketiganya dan Arsa mendekat ke Felix.
Jeongguk menghela napas, menggeleng. “Kacau,” dia mengedikkan bahunya. “Hanya itu yang bisa kukatakan. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada yang bisa disalahkan dalam hal ini.”
Felix menatapnya dan Jeongguk berusaha keras tidak membalasnya—teringat hari-hari ketika dia masih begitu muda, masuk ke dapur Amankila sebagai junior sous chef yang menatap Felix sebagai role model-nya. Dibimbing, ditemani, hingga diberikan jabatan yang diinginkannya ketika senior sous chef mereka mendadak mengundurkan diri lalu Jeongguk otomatis dipromosikan mengisi posisi itu.
“Rencana apa?” Sela Arsa, terdengar bingung dan Felix hanya menatapnya sebal sebelum kembali menatap Jeongguk. “Aku hanya bertanya, Bung, kau tidak perlu senewen begitu.” Gerutu Arsa. “Tapi jika kalian butuh bantuan,” tambahnya menatap Jeongguk lekat.
“Bantuan apa saja,” ulangnya dengan penekanan dengan mata menatap Jeongguk lekat—memberi tahu maksudnya tanpa mengatakannya dan Jeongguk menghela napas. “Katakan saja padaku atau Felix, kami akan membantu kalian. Apa saja, apa saja. Surprise me.”
Jeongguk tersenyum lemah, mengangguk—mungkin sangat membutuhkan bantuan mereka tetapi tidak yakin bagaimana mengatakannya. Taehyung belum membicarakan tentang itu sama sekali padanya dan Jeongguk tidak yakin bagaimana harus bersikap. Dia akan mengingatnya saja untuk saat ini, menghargai itikad baik rekannya.
“Pasti, Chef.” Katanya.
Lalu terdengar suara riuh dari kejauhan, suara terkesiap keras beberapa orang bersamaan dan mereka semua seketika menoleh ke arah suara. Jeongguk seketika mengumpat keras ketika melihat Devy berada di depan Taehyung yang baru keluar dari dapur. Taehyung sedang tidak baik-baik saja, Jeongguk tidak yakin seberapa stabil kondisinya dan setan kecil itu memutuskan untuk datang sekarang.
“Permisi sebentar, Chef.” Katanya tegang lalu bergegas merangkak turun dari Bale Gede dan mengenakan sandalnya, nyaris terjerembab karena terburu-buru dan mendengar Kinan terkesiap keras dari belakangnya namun Jeongguk tidak berhenti untuk menoleh.
Dia sudah mengatakan pada Devy untuk menjauh dari mereka, kenapa gadis itu tidak memahaminya?? Tidakkah dia melihat bagaimana Taehyung adalah monster yang siap melahapnya begitu dia menggenggam Devy di tangannya? Mengapa dia harus menjadi layaknya pahlawan yang melemparkan diri ke dalam mulut monster demi membahagiakan orang tuanya? Memangnya dia tinggal di belahan dunia abad berapa?
Jeongguk bergegas berlari ke arah sana, untuk menahan Taehyung dan mendengar suara langkah kaki menyusulnya sementara beberapa tamu menoleh tertarik—mendekat. Dia cukup dekat untuk mendengar teriakan Devy yang nampaknya juga tidak dalam kondisi stabil, memohon pada Taehyung.
Tangisannya memilukan dan Jeongguk benci melihat perempuan menangis. Gadis itu sedang menggenggam tangan Taehyung, memohonnya. “Wigung, Wigung, diholas.” Rengeknya dan Jeongguk sejenak berpikir, apakah gadis ini sehat?
“Devy.” Geram Taehyung dan Jeongguk bisa melihat tubuhnya gemetar menahan amarah. Jeongguk bergegas menghampirinya dan menyentuh bahunya, merasakan getarannya di telapak tangannya. “Pulang.”
Devy menggeleng histeris, dia mengenakan pakaian adat di tubuhnya—pandangannya liar. “Ajik, Ajik.” Tangisnya. “Jika aku tidak menikahimu, Ajik tidak akan tenang. Ajik tidak bisa mati dengan damai!”
Jeongguk benci sekali orang tua yang menggunakan kematian mereka untuk memanipulasi anak. Level tertinggi dari manipulasi cinta dan kasih sayang anak demi keuntungan mereka sendiri. Jeongguk jijik karena dia sering mendengar ancaman itu digunakan ketika dia kecil. Dia kemudian menghampiri Devy, berusaha melepaskan tangannya yang mencengkeram Taehyung dengan erat—kukunya membentuk bulan sabit merah muda di kulit Taehyung.
“Dayu,” bujuknya merasa kepalanya berdenyut—kenapa dia harus datang sekarang? Kurangkah segala kelelahan dan beban yang ditanggung Taehyung hingga dia harus mendapatkan tambahan semacam ini? “Dayu, pulanglah.” Dia berusaha mendorong Devy menjauh dari Taehyung namun gadis itu terus meraung di telinganya—meneriakkan bahwa dia harus menikahi Taehyung, tidak terima pada pembatalan pernikahan mereka, Taehyung harus menikahinya.
“Tidak, tidak, TIDAK!” Raung gadis itu di telinga Jeongguk yang berdenging. “Ajik bilang aku harus menikahi Wigung, tidak. Tidak harus, harus!” Dia terisak dan sialnya, memutuskan untuk mengubah taktiknya dari memohon ke mengancam.
“Kau tidak bisa membatalkannya begitu saja!” Teriaknya marah dan gemetar, jemarinya mengayun menunjuk wajah Taehyung. “Aku bisa menghancurkanmu, aku bisa membuat kakak Astra-mu itu menderita!”
Jeongguk takut dia sedang berhalusinasi karena patah hati. Memikirkan cerita Hendra bagaimana hidupnya adalah ilusi yang diciptakan ayahnya membuatnya pedih—Devy sebaiknya pulang dan menjauh dari Taehyung sekarang. Mana orang tua Devy? Mengapa mereka membiarkan anaknya berkeliaran?
“Dayu, kau sedang tidak baik.” Bujuk Jeongguk, mendorong gadis itu dengan lembut namun tegas untuk mundur. “Kita bicara besok, ya? Tolong.” Mohonnya sementara suara tangisannya membuat kepala Jeongguk berdenyut—berharap dia tidak banyak bicara.
“Kau berpikir kau hebat!” Raung Devy, menggeliat dari genggaman Jeongguk yang berhasil menyeretnya mundur dibantu beberapa bapak. “Kau itu tidak layak menjadi pewaris! Kau bisa karena ayahmu yang melakukannya! Ibumu Sudra, kakakmu Astra! Tidak ada yang—!”
“Kau juga Astra!”
Jeongguk dan semua orang terkesiap keras mendengar raungan itu. Dia menoleh, menurunkan tangannya dari Devy yang seketika membeku di genggamannya. Taehyung berdiri di tempatnya, napasnya berat dan kuat—gemetar menahan amarah dengan wajah merah padam. Pembuluh darah di pelipisnya berdenyut.
“Bohong!” Raung Devy begitu keras hingga telinga Jeongguk berdenging. “KAU BOHONG! Kakakmu yang Astra! Semua orang tahu dia kaum BUANGAN!” Teriaknya, berusaha melepaskan diri dari Jeongguk.
Mata Taehyung tidak menatap siapa pun kecuali Devy yang berteriak di pelukan Jeongguk. Meneriakkan makian pada Lakshmi yang membeku di pintu dapur—dipermalukan di rumahnya sendiri, di depan semua tamu, di hari pemakaman ayahnya. Rahang Taehyung mengeras dan tangannya mengejang.
Sialan! Pikir Jeongguk panik, hendak berbalik untuk melindungi Devy dari pukulan yang dilayangkan Taehyung. Suara seruan kaget semua orang dan teriakan ibu-ibu yang meminta seseorang menghentikan Taehyung memenuhi udara di sekitar mereka—kepanikan dan teror. Ada yang menyerukan nama Tuhan dan beberapa bapak berseru meminta seseorang menghentikan Taehyung. Dia menyambar Devy yang berteriak kaget, menariknya ke belakang tubuhnya dan memejamkan mata—siap menerima pukulan Taehyung di wajahnya.
“TJOK!”
Dan pukulan itu tidak pernah mengenai Jeongguk karena saat dia membuka mata, Felix sedang mengunci kedua lengan Taehyung di balik punggungnya. Taehyung nampak seperti binatang liar sekarang—udeng-nya terlepas dari kepalanya, membuat rambutnya membentuk tirai di wajahnya yang merah padam. Napasnya liar dan tatapan matanya penuh dendam menatap Devy yang berada di belakang Jeongguk—terisak keras.
“Jangan melindungi Setan Sialan itu!” Raung Taehyung murka, berusaha melepaskan diri dari Felix yang menggerung mengeratkan kunciannya pada lengan Taehyung—syukurlah tubuhnya lebih besar dan tinggi dari Taehyung. “Kau dengar aku?! Kau itu ASTRA!” Serunya.
“Wigung!” Seru Jeongguk memperingatkan—Taehyung akan menyesali ini nanti, dia tahu. Namun kekasihnya tidak berhenti.
“Ayahmu yang berengsek itu!” Taehyung meludahkan kalimatnya dengan racun yang mendesis—membuat semua orang menahan napas; rahasia kelam keluarga Devy menyeruak dan Jeongguk tidak tahu bahwa kekasihnya tahu segalanya. “Membayangkan kehidupan yang penuh kehormatan padahal pada nyatanya dia diusir dari rumahnya sendiri karena menghamili kekasihnya! Dia membohongi kalian semua! Kau itu Astra! Jangan berpikir terlalu tinggi tentang dirimu sendiri!”
“Keluarga kalian selama ini menyebarkan segala berita tidak benar tentang kakakku! Membuat keluarga kami menderita selama bertahun-tahun karena ayahmu yang sakit jiwa! Kau dengar aku!? Kau bukan Brahmana, kau itu ASTRA!
“Dan jika kau berpikir kakakku hina hanya karena dia seorang Astra, maka kau pun begitu!”
“Wigung!” Raung Jeongguk, dia tidak perlu melakukan hal semacam itu pada Devy. Tidak perlu membalas api dengan api. Devy sama sekali tidak tahu tentang segalanya—bahkan identitas aslinya dan Taehyung sama sekali tidak perlu mempermalukannya dengan mengumumkan identitasnya di depan semua orang.
Devy di belakang Jeongguk mendadak berhenti menangis, tubuhnya tegang dan gemetar. Jeongguk menoleh, melihat darah surut dari wajahnya nyaris dengan dramatis—membuat wajahnya sepucat tembok ketika matanya yang merah dan liar bertemu dengan Jeongguk yang wajahnya mengernyit. Memahami betapa malunya Devy sekarang. Dia korban manipulasi, persis dirinya dan Taehyung. Dia baru dua puluh dua tahun, seberapa kuat mentalnya?
“Pulanglah.” Bisik Jeongguk, mengangguk pada Devy yang gemetar—syok mendengar semua fakta yang diteriakkan Taehyung di wajahnya. “Pulang, oke?”
“Jangan membelanya, Gung!” Raung Taehyung dari balik tubuhnya. “Dia harus tahu segala tentang hidupnya yang dirancang oleh ayahnya yang sakit jiwa! Dia itu Astra!”
“TAEHYUNG!” Jeongguk membentaknya, berputar untuk menatap Taehyung yang berjengit kaget oleh suara Jeongguk yang keras dan tegas. Itu pertama kalinya Jeongguk membentak Taehyung selama mereka bersama—dan Jeongguk tidak menyukainya sama sekali.
Tetapi jika Taehyung terus melakukannya, maka Jeongguk tidak punya pilihan lain.
“Now, easy, Boy.” Suara Arsa terdengar dari sisi Jeongguk, mengulurkan tangan dan meremas bahunya. “Tenanglah, tenang.” Katanya dan Jeongguk menggertakkan rahangnya—merasa bersalah karena kelepasan menaikkan suaranya.
“Oh,” kata Taehyung—nampak sangat terluka. “Kau membelanya, ya, sekarang?” Tanyanya dengan suara lirih, terlihat seperti baru saja ditonjok tepat di ulu hatinya. “Setelah semua hal yang keluarganya lakukan pada ke—!”
Jeongguk menggertakkan rahangnya. “Dia baru dua puluh dua tahun, demi Tuhan!” Serunya pada Taehyung yang sekali lagi tersentak oleh nada suaranya. “Kau tidak perlu meladeninya dengan cara yang sama kekanakannya! Kau tahu kau seharusnya marah pada ayahnya!”
“Sudah, sudah.” Arsa mendorong Jeongguk menjauh sementara seorang ibu meraih Devy yang gemetar dan menjauhkannya dari sana seraya menghiburnya. “Kau hanya akan menyesali ini nanti.” Arsa berbisik saat merangkulnya mundur, meremas bahunya. “Tarik napas.”
Jeongguk gemetar, menarik napas dengan mulutnya sambil memijat pelipisnya—tidak akan bisa mengenyahkan bayangan wajah Taehyung yang terluka selamanya. Dia menghentakkan kakinya di tanah, menggeram berusaha menenangkan kepalanya yang berdenyut. Di belakangnya, Taehyung juga dijauhkan darinya, Devy dibawa pulang dan Lakshmi ditenangkan.
Suasana begitu kacau dan Jeongguk bisa mendengar bisik-bisik semua orang mengenai Devy dan keluarganya. Jeongguk tahu mereka layak mendapatkan karma atas tindakan mereka, namun Taehyung tidak perlu melakukannya pada anak kecil yang tidak tahu apa-apa. Mengumumkan seluruh masalah keluarga mereka di depan tamu layatan. Jeongguk tahu Devy tidak tahu apa pun tentang hubungan tidak sehat ayahnya dan ayah Taehyung dari ekspresinya. Dan sekarang, teriakan Taehyung akan memberikannya trauma.
Sebenci apa pun Jeongguk pada seseorang, trauma adalah hal yang terlalu mahal untuk dijadikan pembalasan dendam.
“Kau oke?” Arsa di sisinya bertanya dan Kinan dengan parfumnya yang lembut berada di sekitarnya, mengeluarkan roll on dari handbag-nya. “Mau minum? Taehyung tidak akan marah padamu, percayalah. Dia hanya kalut.”
Jeongguk menghela napas dalam-dalam. Kinan mengangsurkan sedotan minuman ke arahnya dan Jeongguk menerimanya—melepas sedotannya, Jeongguk menggunakan kuku jempol kanannya untuk membuka lapisan plastik kemasan air mineral hingga airnya melompat keluar. Dia merobek plastik itu lalu meneguk isinya dari lubang rusak yang dibuatnya.
“It's pretty fucked up,” bisik Kinan, mungkin ke pasangannya tapi Jeongguk medengarnya dan merasakan Arsa mengangguk sekilas.
It is, pikir Jeongguk getir. Dia kemudian berbalik, mencari Taehyung yang sedang ditenangkan Christian dan Felix. Dia nampak gemetar, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya—bahunya terguncang. Lakshmi ada di dekatnya, wajahnya pucat pasi dipeluk oleh ibunya yang menangis.
Kacau.
“Hei,” Arsa menahannya ketika dia hendak menghampiri Taehyung. “Kau yakin kau sudah baik-baik saja?” Tanyanya dengan telapak tangan di dada Jeongguk. “Kau yakin kau tidak akan mengatakan apa pun yang mungkin akan kausesali? Cukup tenang untuk bicara seperti manusia?”
Jeongguk menarik napas dalam-dalam, berusaha mengendalikan amarahnya sebelum mengangguk. “Ya,” katanya parau dan Arsa sejenak menatapnya sebelum melepaskan tangannya dari Jeongguk yang bergegas melenting ke arah Taehyung.
Jeongguk berlutut di hadapan Taehyung dan menggenggam lututnya. “Maafkan aku. Tolong,” gumamnya. “Maaf.” Dia menumpukan keningnya di lutut Taehyung. “Maaf. Maaf.”
“Kau melakukan hal yang benar,” kata Christian di sisinya—terdengar lembut dan mengusap bahunya. “Anak itu terlalu muda untuk mendengarkan segalanya.” Dia mengusap bahu Jeongguk. “Dan Taehyung terlalu marah untuk mendengarkan. Kalian hanya kalut.”
Suasana rumah Taehyung berubah setelahnya, tidak ada yang berani bicara dengan suara keras selain isakan ibu Taehyung yang anak-anaknya dipermalukan di depan semua orang. Mungkin baru mendengar segalanya juga sekarang—di hari suaminya dimakamkan.
Glosarium:
Atma Wedana / Ngulapin Atma: prosesi memanggil kembali arwah/atma dari almarhum yang telah dihanyutkan ke laut.
Banten: sesaji
Sesari: uang yang diselipkan di sesaji sebagai persembahan serta 'pembayaran' untuk Pedanda.
Songket: kain tenun asli Karangasem yang harganya mahal hehe
Saput: bagian terluar jarik lelaki dalam pakaian adat Bali. Dikenakan di atas jarik.
Pewaregan: dapur utama dalam upacara, tempat membuat kopi dan sebagainya.