Gourmet Meal 594
ps. ehe
Taehyung menatap kekasihnya yang sedang mengunyah makanan dengan kalem, mengenakan kemeja denim yang tiga kancing teratasnya dibuka dan rambutnya disisir naik dengan rapi—ekspresinya tenang dan meneduhkan.
Tadi dia membicarakan tentang ayahnya, melemparkan gurauan tentang melepas kasta di meja makan saat sarapan dan jawaban ayahnya; “Memangnya kenapa?” dan jawaban Jeongguk, “Hanya mendadak tidak terlalu menginginkan posisi itu, ingin bekerja ke luar negeri dan mengeksplor banyak hal.”
Ayahnya tidak menjawab lagi setelahnya, nampak menunduk dalam ke makanannya sepanjang sisa sarapan sementara Jeongguk dan Yugyeom bertukar pandangan di seberang meja makan dengan tegang. Jeongguk juga mendadak mendapat perlakuan yang lebih sopan dari kedua orang tuanya; apa pun mimpi ayah Jeongguk, itu pasti berefek sangat luar biasa padanya karena dia mendadak 'melihat' Jeongguk seperti dia melakukannya pada Taehyung.
“Aku tidak tahu apakah aku harus bersikap senang atau tidak tentang ini,” katanya saat mengemudi Hard Top Taehyung ke Alila untuk membereskan barang-barangnya, berpamitan dan mengembalikan seragamnya.
Taehyung menatap jalan raya Manggis saat mendengarnya; walaupun kekasihnya sudah mengatakan bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan tentang rencana mereka, Taehyung masih tetap merasa cemas. Apakah perubahan sikap itu akan membuat Jeongguk semakin sulit melepaskan keluarganya? Sudah jelas bahwa tujuan dari ayah Jeongguk melakukannya adalah agar anaknya tidak pergi sementara rencana mereka sudah sangat matang.
Jimin sudah mengirimkan uang, jumlahnya sangat besar hingga Taehyung tidak yakin apakah dia bisa mengembalikannya namun Jimin mengibaskan tangannya. “Tidak masalah, tidak dikembalikan juga tidak apa-apa. Aku hidup sendirian, tidak butuh terlalu banyak uang, kok. Tapi kau sedang butuh banyak.” Katanya via telepon, sedang berbaring di hotel transit penerbangannya.
Maka Taehyung menerimanya.
“Tapi aku berpikir,” lanjut Jeongguk ketika mereka meluncur di depan makam desa adat Manggis, sudah dekat dengan Alila. “Mungkin aku bisa membicarakannya dengan Ajung. Siapa tahu dia bisa menerima keputusanku.”
“Alasan apa yang akan kau gunakan?” Tanya Taehyung kemudian, menoleh ke kekasihnya yang memindahkan persneling seraya menginjak gas sedikit lebih dalam.
“Bekerja ke luar negeri, mungkin?” Kekasihnya mengedikkan bahu ringan dan Taehyung meremas jemarinya sendiri; tidak ada jaminan ayah Jeongguk akan menerima alasan itu. Bahkan, bagaimana mungkin dia menerima alasan 'bekerja ke luar negeri' untuk melepaskan kastanya?
Sebelum dia sempat mengutarakan keberatannya, Jeongguk melanjutkan. “Akan kukatakan bahwa aku mungkin akan sangat fokus pada karirku, tidak menikah karena aku ingin,” dia membentuk tanda kutip dengan tangannya yang bebas, “'Menikahi karirku' dan sebaiknya Yugyeom saja yang melakukannya.”
Taehyung mengerutkan alisnya, menatap Jeongguk skeptis. “Entahlah,” katanya meringis. “Jika aku adalah ayahmu—yang syukurnya bukan, aku tidak akan mempercayai alasanmu sama sekali.” Dia mengedikkan bahu. “Menikahi karirmu.” Ulangnya, geli dan Jeongguk tergelak rendah.
“Dicoba saja.” Katanya memasang sein untuk membelok ke Alila. “Kita tidak akan tahu sebelum mencoba, 'kan?” Jeongguk melemparkan senyuman lebar yang membuat kecemasan Taehyung sejenak mereda.
Tidak banyak barang yang harus dibawa Taehyung namun dia merasa sedih ketika mengunci lokernya untuk terakhir kalinya. Dia bekerja di Alila begitu lama, semua orang di sini—termasuk karyawan senior merupakan teman baiknya. Hidup Taehyung dihabiskan di tempat ini; meniti karirnya sejak dia magang, lalu masuk sebagai commis terus memanjat naik hingga mengisi posisi head chef karena loyalitasnya pada Alila.
Dia tidak perlu bekerja karena kontraknya berakhir kemarin dan dia tidak bisa bekerja, maka dia dianggap bekerja namun tidak mendapatkan bayaran service charge. Taehyung tidak masalah tentang itu. Dia sejenak diam di depan lokernya, menatap tulisan 'CHEF TAEHYUNG' yang menempel di pintu loker dengan sedih—teringat loker pertamanya di hotel itu sebelum mendapatkan loker Executive ini. Dengan jemarinya, dia mengusap pintu lokernya; ini saatnya dia mengakhiri perjalanannya di sini.
HRD memberi tahunya mengenai royalti yang akan diterima Taehyung selama resep-resepnya masih digunakan oleh Alila Regional karena penjualannya yang masih terus meningkat. Dia menandatangani kontrak royalti, mendapatkan uang lumayan setiap bulannya—sekian persen dari penjualan regional dan mengembalikan semua atribut Alila-nya. Cukup untuk hidup mereka berdua jika berhemat
“Semoga beruntung di tempat baru, Chef.” HR Manager-nya mengulurkan tangan dan Taehyung menjabatnya erat. “Semoga beruntung dengan apa saja yang akan Chef lakukan ke depannya.”
“Terima kasih.” Katanya sengau, merasa kesedihan melankolis merebak di dadanya karena dia akan meninggalkan suakanya—tempat nyamannya berdinamika dengan semua orang selama ini.
Dia terkenal sebagai department head paling galak; tidak ada yang sudi berurusan dengannya lama-lama. Namun ketika dia muncul di dapur untuk berpamitan, commis dan semua CDP-DCDP-nya menangis. Bahkan Hoseok. Taehyung tergelak rendah, pertama kalinya tertawa di dapur setelah sekian tahun bekerja di sini dan memeluk sous chef-nya.
“Saya hanya mengundurkan diri, bukan dimakamkan.” Guraunya dan beberapa commis tertawa sambil terisak. “Saya mungkin mampir kapan-kapan, jadi tolong jaga dapur; jangan sampai rata dengan tanah, oke?”
Taehyung merasa berat ketika melangkah keluar dari pintu karyawan, menenteng tas yang terisi barang-barang lokernya termasuk safety shoes-nya. Dia menoleh sekali lagi, menatap pintu baja yang mengayun tertutup dan menghela napas. Petualangannya di sini, berakhir—petualangan yang dipikirnya akan mencapai akhir di sini. Bkerja hingga pensiun di sini. Ternyata, dia akan menyongsong petualangan baru.
Kali ini dengan kekasihnya.
Dia merasa lebih baik ketika melihat Jeongguk di kursi pengemudi, menunggunya. Tidak mudah bagi mereka berdua. Taehyung tahu perjuangan Jeongguk hingga menggenggam posisi Executive di Amankila, sama seperti perjuangannya di Alila. Mereka mengorbankan hal yang masing-masing amat berharga dan besar dalam hidup mereka, maka sebaiknya mereka bergandengan tangan untuk berjuang lagi.
“Ayo kencan.” Katanya saat selesai memasang sabuk pengaman dan meremas tangan Jeongguk yang menatapnya sayang. “Aku sedih sekali, aku tidak bohong.” Keluhnya, menatap pantai privat Alila di kejauhan.
“Aku juga.” Jeongguk mengangguk. “Tapi, kita tidak bisa menyembuhkan diri di tempat yang sama di mana kita dilukai, 'kan?”
Taehyung menghela napas. Perasaan takut memulai, takut beradaptasi dan takut terasing membuatnya lumpuh sejenak dan dia meremas tangan Jeongguk lebih erat lagi. “Benar.” Bisiknya ketika hangat genggaman Jeongguk membuatnya merasa lebih baik.
Dia akan baik-baik selama Jeongguk bersamanya.
Mereka kemudian makan di Uma Cucina, Ubud. Jeongguk ingin makanan Italia dan bersikeras membayar makanan mereka karena tahu Taehyung secara finansial tidak terlalu baik.
Keduanya duduk di meja yang terbuka, cuaca tidak terlalu panas hari itu. Nyaman untuk menikmati makanan di ruang terbuka, membiarkan sinar matahari yang membias menghangatkan kulit mereka. Taehyung duduk di hadapan Jeongguk yang terlihat kalem—cukup kalem walaupun kondisi mereka sekarang tidak memiliki pekerjaan.
“Anggap saja cuti panjang.” Jeongguk tersenyum lembut, menghiburnya. “Lagi pula, kita berdua mengundurkan diri secara terhormat—mendapatkan surat rekomendasi yang baik dari masing-masing tempat kita bekerja. Mencari pekerjaan tidak sesulit itu. Aku tidak keberatan bekerja di level di bawah Executive.”
Taehyung menatapnya dan tersenyum. Jika Jeongguk sangat optimis dengan kehidupan mereka kedepannya maka tidak ada alasan untuk Taehyung merasa cemas berlebihan. Dia akan menyongsong bahagia mereka; tinggal di tempat yang sama sekali asing tanpa satu pun manusia yang mengenal mereka. Memelihara anjing, berjalan-jalan di pantai, tidur serta terbangun dengan Jeongguk di sisinya, bercinta kapan pun mereka ingin....
“Aku juga.” Sahutnya, merasakan getar optimis di suaranya. Tidak keberatan bekerja di bawah levelnya sekarang; mereka memulai hidup mereka bersama, tidak ada ruang untuk memilih-milih sekarang.
Bintan punya banyak resor, mereka bisa mendapatkan setidaknya senior sous chef jika bukan Executive—yang terpenting memiliki pemasukan setiap bulannya karena uang tabungan Jeongguk pasti akan habis suatu hari nanti jika mereka tidak bekerja. Jeongguk tersenyum.
Mereka kemudian membicarakan mengenai pernikahan Lakshmi. Taehyung sudah menghubungi Wisnu, memintanya mempersiapkan upacara setelah cuntaka mereka berakhir. Menikah saja sesuai agama, resepsinya bisa dilaksanakan belakangan—Taehyung tidak mau mengambil risiko lagi dengan kondisi mereka seperti telur di ujung tanduk.
“Benar,” Jeongguk menyesap air mineralnya saat Taehyung selesai bicara. “Kita sebaiknya bergegas mengevakuasi semua orang saat kau masih diberi wewenang. Tidak tahu apa yang mungkin mereka lakukan di masa depan.” Dia meraih sepotong piza, menu lain yang dipesannya karena masih lapar.
“Wisnu setuju dan orang tuanya juga siap untuk melamar begitu cuntaka selesai.” Taehyung meneguk bir baru yang dipesannya barusan, menatap halaman restoran yang mereka datangi.
Sudah berapa lama dia tidak melihat sinar matahari dan langit biru terbuka di hari bekerja? Jika ini hari normal, dia pasti tengah meneriaki anak buahnya di dapur untuk mempersiapkan menu makan siang dan malam. Terjebak dalam ruangan penuh aluminium dan hembusan hawa panas; berangkat sebelum matahari terbit dan pulang setelah matahari terbenam. Sekarang dia merasakan betapa melelahkannya kehidupan lamanya dan merileks di tempat duduknya.
Anggap saja ini cuti panjang.
“Aku akan menginap malam ini,” kata Jeongguk kemudian dan Taehyung menoleh dari kegiatannya mengamati pepohonan—menikmati angin yang berdesir, mengamati bagaimana mereka bergerak, untuk hidup di detik ini.
Taehyung mengangguk. “Silakan saja, pintu Puri selalu terbuka untukmu. Tidak perlu mengkhawatirkan siapa pun.” Taehyung mengedikkan bahu, meraih sepotong ham di piring Jeongguk lalu menyuapnya. “Niang sekarang tinggal di rumah Jung Alit. Jadi satu natah itu milikku. Katanya bermimpi buruk didatangi ayahku karena belum diupacarai.” Dia mencibir, memangnya dia peduli?
Malah dia senang memiliki rumah itu untuk dirinya sendiri. Karena dia bisa menyelundupkan Jeongguk ke sana. Ibunya sudah mengenal Jeongguk, menganggap dia dan putranya bersahabat sangat akrab, mengizinkan Jeongguk menginap kapan saja dia ingin. Masih cukup berduka karena kematian suaminya; sulit makan dan tidur, jadi Lakshmi menemaninya di kamar. Tidak terlalu memerhatikan anaknya yang mengunci pintu di malam hari bersama 'sahabat'-nya.
Jeongguk berdeham dan Taehyung mendongak, alisnya berkerut. “Kenapa?” Tanyanya, mengerjap.
Rona merah muda samar menghampar di wajah Jeongguk dan dia menggaruk sisi lehernya—menatap ke arah lain dengan sangat menggemaskan ketika berbisik. “Wigung,” dia menjilat bibirnya, menggigiti bibir bawahnya sebelum melirik Taehyung dari balik bulu matanya yang lentik.
“Wigung ingin... bercinta malam ini?” Tanyanya lalu bergegas menambahkan—nyaris panik. “Maksudku, jika kau lelah, maka lupakan saja. Aku tidak berniat bersikap tidak sensitif; kau mungkin lelah karena mengurus segala macam hal belakangan ini, masih terpukul karena masalah ayahmu dan sebagainya. Aku hanya mengungkapkan apa yang kuinginkan. Kau tahu karena...,”
Jeongguk praktis meracau dan Taehyung mendapati, dia sangat menggemaskan ketika kikuk. Jeongguk jarang meminta bercinta, Taehyung-lah yang lebih banyak menyetir hubungan mereka. Maka ketika kekasihnya menyinggung hal itu, Taehyung baru menyadari bahwa sudah lama sekali sejak mereka terakhir bercinta.
Maka Taehyung menjulurkan kakinya di bawah meja, sengaja menyenggol kaki Jeongguk di depannya—membuatnya nampak senatural mungkin ketika menatap kekasihnya.
“Tentu saja.” Bisiknya sedikit parau. “Sudah lama sejak kita terakhir bercinta, 'kan?”
Dan rona di wajah Jeongguk setelahnya membuat hati Taehyung terasa ingin meledak; kekasihnya yang sangat menggemaskan. Dia tidak sabar tinggal bersama dengannya, memamerkan hubungan mereka ke semua orang tanpa beban—walaupun harganya mahal sekali, namun tidak masalah.
Taehyung mengerang, menjambak lembut rambut Jeongguk ketika kekasihnya menendang pintu kamarnya menutup dan menguncinya seraya menciumi lehernya dengan rakus—nyaris tidak berhenti untuk bernapas.
“Oh, fuck!” Geram Jeongguk di lehernya, tangannya menangkup pantat Taehyung dan meremasnya, menyelipkan tangannya yang kurus ke dalam tepian celana Taehyung lalu meremasnya.
“Oooh!” Taehyung melempar kepalanya ke belakang, terkesiap kecil ketika Jeongguk dengan tidak sabar melepaskan kancing depan pakaiannya.
Mereka tiba lumayan terlambat, memutuskan untuk mampir ke Bali Safari dalam perjalanan pulang secara impulsif. Mereka menikmati paket berkeliling dengan jip dan berinteraksi dengan binatang di sana—seperti karyawisata anak-anak, namun Taehyung menikmati wajah Jeongguk yang senang. Mereka menikmati waktu beristirahat mereka dengan baik sebelum kembali berjuang beberapa bulan lagi.
Dia menyadari ketika Jeongguk ditemani pawang singa, melemparkan daging ke predator itu, bahwa sejenak berhenti dan bernapas tidak ada salahnya. Taehyung sudah terus berlari selama ini, mengejar sesuatu yang tidak dia pahami, menghindari sesuatu yang tidak dilihatnya; maka sejenak beristirahat tidak ada salahnya.
Dan ketika tiba di rumah, ibunya sudah beristirahat ditemani Lakshmi. Rumah sunyi karena hanya ada ibu dan kakaknya selain dirinya di sana. Maka Jeongguk langsung menciumnya detik kaki Taehyung menginjak bagian dalam kamarnya. Rasanya seperti ledakan adrenalin yang membuat Taehyung pusing—dia mengerang mabuk saat Jeongguk melemparnya ke ranjang yang berderit dan memanjat ke atasnya.
Tangannya membuka kancing kemeja Taehyung yang beraroma matahari dan Taehyung mengulurkan tangan, membuka kemeja Jeongguk dengan tatapan terpaut. Kesintingan hidup mereka belakangan ini telah berakhir dan layak dirayakan dengan seks yang panjang serta lama.
“Aku mencintaimu.” Gumam Jeongguk parau dengan kemeja yang terbuka berkibar di sisi tubuhnya—tangan Taehyung menyentuh dadanya, merasakan hangat tubuh dan mendengarkan Jeongguk mendesis oleh sentuhannya.
Taehyung menatapnya, menggunakan ibu jari dan telunjuknya, dia memilin puncak dada Jeongguk yang mengeras hingga kekasihnya melenguh tertahan dan merunduk—memangut bibirnya seraya menyelipkan lututnya ke selangkangan Taehyung yang mengeras. Taehyung mendesah panjang, mengangkat pinggulnya dan mengusapkannya ke selangkangan Jeongguk yang mengumpat keras. Dia ternyata sangat merindukan sentuhan Jeongguk—amat, sangat merindukannya.
Mereka memiliki Puri untuk mereka berdua, sudah tidak ada ayah Taehyung yang mungkin memergoki mereka sekarang. Mereka sudah setengah bebas dan Taehyung tidak sabar untuk bebas berteriak ketika mereka bercinta di rumah mereka nanti—memberi tahu dunia betapa nikmatnya Jeongguk terasa di tubuhnya.
“Kau akan membayar untuk ini.” Geram Jeongguk, menegakkan tubuh dan membuka kemejanya lalu memisahkan kait celana jinsnya—membiarkannya menggantung rendah di pinggulnya, membiarkan Taehyung mengamati garis rambut samar di bawah pusarnya yang turun bersembunyi di balik pakaian dalamnya.
“Bersiaplah, Sayang.” Dia merunduk, menjulurkan lidah dan menjilat leher Taehyung yang merengek. “Aku tidak akan berbaik hati hari ini.”
*