Gourmet Meal 600

ps. HAPPY 600 CHAPTERS! * inhales deeply *


Taehyung tidak akan pernah melupakan hari ini seumur hidupnya.

Karena pagi tadi, sebelum keluarga Wisnu datang untuk melamar kakaknya, ayah Jeongguk datang bersama anaknya dan menemani Taehyung. Dia juga membawa istrinya serta Yugyeom, mengenakan kain dan kemeja yang senada. Keluarga Jeongguk datang secara personal di hari lamaran kakaknya yang bahkan tidak terlalu istimewa dan itu membuat Taehyung nyaris berlutut karena rasa aman.

Mereka berdua ingin melaksanakan upacara sesederhana mungkin karena keadaan Puri sedang berduka setelah kematian ayah Taehyung. Maka mereka hanya mengundang ketua desa adat dan kepala lingkungan. Dari Puri Taehyung, dia yang berdiri sendiri sebagai ayah Lakshmi yang menerima keluarga Wisnu dan Taehyung tidak terlalu menyukainya.

Mungkin inilah kekurangan pola didik ayahnya; terlalu menekan Taehyung, meragukannya sepanjang hidup hingga ketika dia harus membuat keputusan dia sama sekali tidak terlalu memahami apa yang dilakukannya. Berdiri sendiri, menjadi kepala keluarga tanpa persiapan memukul mentalnya dan dia mendapati dirinya terjaga setiap malam ketika Jeongguk tidak berbaring di sisinya dengan isi kepala berpacu kuat—membuatnya mengerang. Taehyung ketakutan tapi tidak memiliki pilihan lain.

Namun ketika dia melihat ayah Jeongguk memasuki Puri, menatapnya ramah dan akra—nyaris menyayanginya, Taehyung menghela napas. Sarafnya yang menegang mengerikan belakangan ini mendadak rileks, mungkin karena ayah Jeongguk nampak seperti anaknya—dua kali lebih dewasa dan tenang, memberikannya rasa aman dan nyaman dua kali lebih kuat juga.

Dia bahkan menyalami Taehyung dan memeluknya, menepuk bahunya hangat. “Maaf, Ajung tidak tahu mengenai ayahmu.” Katanya hangat pada Taehyung yang terpana, tidak yakin bagaimana harus menyikapi ayah Jeongguk. Namun dia bersyukur, memiliki sosok ayah—walaupun bukan ayahnya, membuatnya merasa lebih baik. “Gung Wah tidak menceritakan sama sekali bahwa itu ayahmu, dia hanya menyebut temannya.” Ayah Jeongguk mendelik pada anaknya. “Dan Ajung seharusnya tahu Gung Wah tidak punya teman lain selain dirimu.”

Taehyung bersyukur, Jeongguk pasti sudah mengatakan sesuatu sehingga ayah Jeongguk tidak bertanya sedikit pun tentang ketidakhadiran keluarga Puri sama sekali di acara hari itu. Taehyung sudah mengundang mereka, menyampaikan bahwa mereka akan menerima lamaran Wisnu pada pamannya namun mereka tidak meresponsnya sama sekali.

Maka Taehyung menyadari bahwa ini adalah urusannya sendirian.

Mata Taehyung beralih dari ayah Jeongguk ke anak sulungnya yang tersenyum setelah ayahnya berlalu. Ayahnya pergi menyalami ibu Taehyung yang menyambutnya ramah di Bale Gede. Persiapan lamaran sudah dilakukan, mereka siap menyambut keluarga Wisnu. Taehyung berdiri di sana dengan Jeongguk dan Yugyeom yang menempel ke kakaknya—nyaris lebih tinggi dari Jeongguk padahal dia baru dua puluh tiga tahun.

“Ajung bersikeras ingin menemaniku.” Katanya, berbisik saat membantu pekerjaan di rumah Taehyung untuk menyambut keluarga Wisnu. “Jadi aku terpaksa membawanya.”

Taehyung menggeleng, lega. “Tidak apa-apa,” dia kemudian mengulurkan tangan dan mengusap kepala Yugyeom yang nyengir lebar padanya. “Halo, Anak Ganteng.” Sapanya parau dan tersenyum.

“Wigung kelihatan makin tua,” gumam Yugyeom lalu meringis ketika Jeongguk meliriknya tajam.

Taehyung tergelak, mengusap wajahnya dan membenahi udeng-nya. Dia merasa semakin tua belakangan ini—tengkuknya kencang dan mudah lelah. “Begitulah jika hidup memutuskan untuk menghajarmu tanpa ampun.” Dia menatap Jeongguk yang tersenyum menyemangati.

Dia menghela napas. “Terima kasih.” Bisiknya, tidak menyadari betapa dia membutuhkan sosok ayah hingga ayah Jeongguk duduk di sisinya menjadi wali kakaknya karena tidak ada seorang pun anggota Puri yang muncul.

“Tidak masalah,” Jeongguk menatapnya, intens sekali hingga Taehyung sejenak merona—ingin menumpukan keningnya di bahu Jeongguk, bersandar di sana karena dia lelah sekali berdiri di atas kakinya sendiri di tengah kekacauan ini.

Uang ayah mereka sudah diperiksakan ke bank, mereka pergi ke bank daerah milik pemerintah dan berhasil menyelamatkan setidaknya 250 juta dari seluruh totalnya karena sisa uangnya rusak. Pihak bank berjanji akan mencoba mengeceknya ke Bank Indonesia apakah masih bisa diselamatkan karena nomor serinya belum rusak dan akan menginformasikan kepada Taehyung secepatnya.

“Dua ratus lima puluh sudah sangat banyak.” Katanya ketika bersandar di mobilnya kakinya dinaikkan ke dasbor sementara Jeongguk mengemudi kembali ke Puri—dia kelelahan belakangan ini, sulit memfokuskan perhatiannya dan berakhir pusing karena terlalu memaksakan diri.

“Sangat.” Sahut Jeongguk setuju, selama ini sebisa mungkin tidak meninggalkan sisinya. Dia menghabikan waktu di Puri, menemani Taehyung yang sering bermimpi buruk jika tidur sendirian dan sudah sangat akrab dengan ibu Taehyung yang menganggap Jeongguk putranya sendiri. Dia meremas tangan Taehyung hangat.

Jika saja tidak ada Jeongguk di hidupnya, bisakah Taehyung tetap waras setelah mengalami semua kejadian beruntun ini? Jeongguk selalu menemaninya, memastikannya tetap waras selama ini. Memasakkan makanan yang cukup lembut untuk diterima lambung Taehyung yang stres, membantunya mandi, menemaninya hingga lelap dan menyambutnya ketika membuka mata.

Jeongguk adalah segalanya untuk Taehyung—lenyapkan Jeongguk dari kehidupan ini maka Taehyung akan kehilangan arah.

Keluarga Wisnu tiba tepat waktu dan Taehyung menahan napas ketika melihat betapa bersinarnya kakak dan calon suami kakaknya hari itu. Akhirnya, penantian mereka selama ini terbayarkan lunas dan Taehyung tidak lagi sudi membiarkan apa pun menghentikan pernikahan mereka. Wisnu dan keluarganya sudah membuktikan betapa seriusnya mereka menerima kakak Taehyung dengan menunggu selama bertahun-tahun—tidak menyimpan dendam karena kali pertama mereka mencoba melamar Lakshmi, ayah Taehyung mengusir mereka.

Taehyung senang, sangat senang ketika kakaknya yang merona bahagia menatap kekasihnya yang tersenyum superior. Mereka layak mendapatkan bahagia mereka setelah selama ini mengalah dan bersabar. Cincin Lakshmi adalah cincin paling megah yang pernah Taehyung lihat dengan permata safir biru alami sepuluh karat, berkilauan di jarinya yang kurus.

Kakaknya layak mendapatkan perhiasan, kakaknya layak mendapatkan segalanya.

Dia dan Jeongguk juga membelikan Lakshmi kalung yang sama dengan Mirah, dengan permata safir sesuai cincinnya setelah bertanya pada Wisnu jenis permata yang digunakannya untuk cincin pernikahan kakaknya. Mereka tidak lagi peduli pada peraturan adat apa pun tentang cincin menikah, Wisnu membelikan cincin paling menakjubkan untuk kakaknya—bersinar di jemarinya yang kurus dan kasar setelah bertahun-tahun bekerja, perhiasan pertama yang dimilikinya.

Ibu mereka memberi Lakshmi sepasang giwang cantik yang berkilauan dan bunga emas asli yang berat, menyempurnakan kakaknya yang selama ini polos tanpa perhiasan. Kilau emas nampak cantik di kulitnya yang sewarna zaitun seperti Taehyung dan bahagia yang bersinar di wajahnya ketika dia memeluk Taehyung.

Dada Jeongguk terasa penuh bahagia menyaksikan keluarga kecil itu bergembira setelahnya, makan bersama keluarga Wisnu yang ternyata amat, sangat terbuka pada Lakshmi. Ibu Wisnu menyayanginya seperti anak sendiri, menatap gadis itu sayang dan Jeongguk lega melihatnya. Adik Wisnu, Penglingsir Griya mereka yang sudah menikah dengan Ida Ayu dari Griya Gianyar dan memiliki satu anak perempuan, duduk di dekat kakaknya bersama istrinya—nampak sama bahagianya. Lakshmi dan adik iparnya sangat akrab, dia memangku keponakan pertamanya seraya mengobrol dengan istri adik calon suaminya dengan akrab.

Penundaan pernikahan mereka mengizinkan adik Wisnu untuk menikah mendahului kakaknya dan bahkan memiliki anak pertamanya. Namun itu sama sekali tidak membuat Wisnu merasa tersaingi atau gerah, dia tetap menunggu Lakshmi dengan sabar. Tidak ada sindiran tentang usia Lakshmi dari pihak keluarga Wisnu dan Jeongguk menyadari bahwa Taehyung melepaskan kakaknya kepada keluarga yang benar.

Ayah Jeongguk juga membantu jalannya acara, membimbing Taehyung yang menerimanya dengan penuh syukur caranya menerima lamaran seseorang mewakili ayahnya. Bahkan bergurau dia akan membantu Taehyung melamar nanti jika dibutuhkan, yang disambut Taehyung dengan melirik Jeongguk geli dan Jeongguk tergelak tanpa suara. Lakshmi menggigit bibir bawahnya, menahan senyuman usilnya karena itu.

Jeongguk pribadi masih tidak menyangka perubahan drastis ayahnya belakangan ini namun dia yakin mimpi yang dialami ayahnya pastila sangat mengejutkan hingga dia mendadak berubah. Dia menghela napas, duduk di sudut Bale menyaksikan kekasihnya menemani kakaknya yang sesak oleh bahagia.

Lakshmi nampak sangat menakjubkan dengan kebaya hijau zaitun, riasan wajah dan rambut yang disanggul cantik dengan bunga emas. Gugup namun juga bahagia, menatap calon suaminya dengan mata berbinar seperti rusa betina yang akhirnya menemukan rumah dan bahagianya. Jeongguk dan Lakshmi sudah berbaikan, hari di mana dia membawa uang ayah Taehyung ke kamar.

Jeongguk meminta maaf juga atas kata-katanya yang tidak menyenangkan pada Lakshmi, mereka berpelukan dan Jeongguk menghela napas—merasakan pelukan kakak Taehyung yang sangat berbeda dengan pelukan siapa pun yang pernah diterimanya dalam hidup. Pelukan seorang perempuan yang hangat dan harum. Mereka kemudian menghabiskan malam melakukan panggilan video dengan Jimin yang mengomel karena tidak bisa mendapatkan cuti.

Musim liburan sialan!” Kutuknya dan ketiganya tertawa.

Mereka berpisah ketika kokok ayam pertama terdengar, Taehyung langsung bergelung di pelukannya seperti anak kucing ketika Lakshmi menutup pintu kamarnya dan Jeongguk memeluknya erat—mengecup puncak kepalanya dan menunggu kekasihnya lelap sebelum menyusulnya.

Jeongguk mendesah, menatap makanannya dan mulai makan kembali. Dia dan Taehyung yang memasak, memutuskan untuk mengasah keterampilan mereka. Kebetulan sekali Jeongguk adalah tukang olah terbaik di keluarganya, maka mempersiapkan makanan untuk dua keluarga bukanlah hal yang sulit. Mereka memasak lawar kuwir, lawar belimbing, lawar nangka, sate babi, ares dan pesan lawar. Memang sebenarnya lebih murah jika mereka membeli saja semuanya, namun Jeongguk merasa dia ingin melemaskan tubuhnya sedikit dengan memasak.

Memasak dengan Taehyung adalah pengalaman yang menakjubkan—dia cepat, sigap, dan sangat telaten dengan semua perlatannya. Rajangan bumbunya luar biasa halus dan kecepatannya menggunakan blakas membuat Jeongguk sejenak ngeri jika saja dia tidak ingat bahwa kekasihnya adalah seorang juru masak senior. Mereka duduk di teras kamar Taehyung berdua, menyiapkan bumbu dan merajang bahan sebelum memasaknya sehari sebelumnya untuk dihangatkan ibu Taehyung paginya sambil menanak nasi.

Semua tamu menikmati makanan mereka, mengobrol ditemani makanan lezat yang dimasak oleh adik mempelai perempuan. Acara akan dilanjutkan keesokan harinya, Mepamit dan pernikahan secara adat di Griya dipimpin langsung oleh kakek Wisnu sebagai Pedanda Gede. Resepsi akan dilaksanakan belakangan, Taehyung memohon pada Wisnu untuk segera membawa kakaknya pergi dari rumah mereka dan calon suami kakaknya setuju.

“Lelah?”

Jeongguk mendongak, menemukan Taehyung duduk di sisinya membawa dua gelas kopi hitam. “Tidak terlalu.” Dia menyendok makanannya di atas alas kertas minyak yang diletakkan di ingka, mangkuk anyaman rotan. “Kenapa kau di sini alih-alih menemani kakakmu?” Tanyanya.

Taehyung menyesap kopinya perlahan, mengeluarkan suara menyeruput keras dan desahan panjang—satu-satunya cara menikmati kopi tubruk terbaik. “Ayahmu sangat membantuku hari ini.” Katanya menatap ayah Jeongguk yang sedang mengobrol dengan Wisnu dan adiknya.

“Dia banyak berubah.” Sahut Jeongguk setuju, meraih sate terakhir di piringnya dan menariknya lepas dari tusuknya. Menelannya, dia melanjutkan. “Aku tidak yakin bagaimana harus menyikapinya.”

“Bahagia saja, bagaimana?” Taehyung menoleh dan tersenyum, nampak bahagia namun mengantuk di saat yang bersamaan. “Dinikmati saja alih-alih mencemaskan segalanya?”

Jeongguk menyingkirkan bekas makanannya dan membalas senyuman Taehyung. “Baiklah jika begitu.” Dia menggunakan sisa air mineralnya untuk mencuci tangan lalu menyingkap sedikit kainnya untuk mengelap tangan di betisnya* sebelum kembali merapikannya. “Sejauh ini Ajung belum memperkenalkan perempuan mana pun dan aku lega.”

Taehyung mengangguk, menatap kopinya dan sejenak mereka bersisian dalam diam sebelum Taehyung berbisik. “Bisakah kau percaya bahwa kita akhirnya bahagia? Tidak akan ada siapa pun lagi yang akan berusaha merusaknya?” Dia menoleh ke Jeongguk yang tersenyum.

“Bisakah kau sunggh-sungguh memercayainya bahwa aku akhirnya mengeluarkan kakakku dari neraka ini dan sebentar lagi akan pergi bersamamu?”

Jeongguk menyesap kopinya dan menoleh pada Taehyung yang tersenyum. “Kau bahagia?” Tanyanya lembut.

“Oh,” Taehyung tergelak, sejenak stres yang menggelayut di wajahnya—membuat keriput-keriput baru muncul, lenyap dan dia nampak bebas serta sesuai umurnya. Jeongguk senang melihatnya tertawa, satu beban berat baru saja diangkat dari bahunya.

Lamaran kakaknya memberi efek luar biasa untuk Taehyung. Persis setelah mereka menyematkan cincin, bahunya merosot secara drastis dan ekspresinya berubah ringan. Dia baru saja melepaskan satu beban dari bahunya dan Jeongguk ingin sekali memeluknya dan mengecupnya, membisikkan betapa dia sangat bangga pada Taehyung—namun dia bisa menunggu nanti.

Jeongguk sudah meminta izin pada ayahnya akan tinggal di Puri Taehyung setelah ini, membantunya membereskan rumah dan mengurus untuk Ngaben ayahnya. Dan secara ajaib, ayahnya sekarang tidak lagi melarang Jeongguk pergi ke mana pun dia mau dan secara personal malah meminta anaknya menemani Taehyung.

“Pasti berat untuk Taehyung.” Katanya serius dan Jeongguk berpandangan dengan Yugyeom yang berhenti mengunyah makanannya dengan kaget karena ayahnya.

“Ajung salah makan?” Bisiknya pada kakaknya yang menggeleng—sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada ayahnya.

Namun dia lega.

“Aku sangat bahagia hingga kupikir aku bisa meledak karenanya.” Taehyung di hadapannya mendesah panjang, mengembalikan Jeongguk ke masa sekarang.

Jeongguk menghela napas dalam-dalam, senyuman kecil bermain di bibirnya menatap Taehyung yang merona tipis menatap kakaknya yang bahagia. Dia senang kekasihnya bisa menikmati hidupnya sejenak—rileks untuk sementara. Mereka hanya tinggal menyelesaikan urusan Ngaben ayah Taehyung dan bebas setelahnya.

Jeongguk tidak sabar lagi.

“Aku tidak sabar lagi,” bisiknya dan Taehyung menyerigai.


Glosarium: