Kisah Es Krim dan Seribu Rupiah
note. tae kelas 5, jk kelas 7.
Taehyung belum pernah membolos dari sekolah selama ini karena dia tidak tahu apa asyiknya pergi dari sekolah di mana dia bisa menjangkau kantin yang dekat dan bermain dengan teman-temannya.
Namun setiap kali ada temannya yang menyombong tentang membolos untuk pergi ke rental Playstation, Taehyung iri. Dia duduk di bangkunya, menatap teman-teman lelakinya yang membolos kemarin menceritakan keseruan mereka bermain di luar sementara Taehyung terjebak di kelas mengerjakan perkalian yang membosankan. Memangnya di dunia nyata nanti Taehyung butuh memikirkan enam kali tujuh berapa? Ayahnya saja menggunakan kalkulator sepanjang waktu.
Taehyung memberengut, mereka terlihat seolah baru saja memenangkan mendali emas dan begitu bangga—seru kata mereka, memacu adrenalin.
Dan Taehyung suka adrenalin!
Maka hari itu, ketika tiba di sekolah, Taehyung melakukan hal yang sangat diinginkannya itu. Membolos sekolah. Tidak jauh kok dia hanya akan pergi ke gerai makanan cepat saji yang berada beberapa meter dari sekolahnya. Taehyung membawa semua uang simpanannya untuk rencananya hari ini—tiga belas ribu rupiah dan merasa paling kaya sedunia. Dia bergegas pergi menjauh dari gerbang sekolah persis setelah ibunya berlalu setelah mengantarnya. Teman-teman sekolahnya tidak memerhatikannya—pun jika mereka memerhatikan, Taehyung tidak perduli.
Dia bergegas kabur, dalam balutan seragam merah putih menuju gerai makanan yang diinginkannya dengan tas di punggungnya. Lalu lintas di sisinya lumayan ramai karena jam berangkat bekerja dan sekolah, tapi Taehyung pintar—dia tahu dia harus berjalan di trotoar dan syukurlah dia tidak perlu menyeberang. Dia tersenyum lebar, menyadari teman-temannya benar karena dia merasakan jantungnya bertalu-talu dengan kuat di balik rusuknya—dia bersemangat sekali. Dia membolos sekolah!
Taehyung membolos sekolah!
Dia mengangkat kepalanya, mendengus senang membayangkan bagaimana teman-temannya besok akan berseru kagum mendengar ceritanya karena tidak seperti mereka yang membolos untuk main Playstation, pergi ke warnet atau bermain di empang, Taehyung pergi ke gerai makanan cepat saji.
Taehyung keren dan punya banyak uang!
Taehyung menepuk saku depan seragamnya, merasakan segepok uang lembaran dua ribu rupiah yang digulungnya—hasil mengumpulkan uang jajannya selama ini karena ibunya selalu membekalinya cukup makanan. Dia melangkah masuk ke dalam parkiran gedung raksasa itu, sejenak takut dan ingin kembali. Ini pertama kalinya dia pergi membeli sesuatu tanpa ibunya, tapi dia sudah sering pergi ke sana dengan ibunya dan dia hafal bagaimana caranya.
Sangat mudah. Dia hanya perlu melangkah ke konter, mengatakan kepada kakak baik di belakang komputer besar apa yang diinginkannya (es krim!!) lalu membayarnya. Dan mereka kemudian akan memberikan Taehyung es krimnya untuk dimakan! Taehyung mengangguk, tersenyum lebar—dia suka es krim.
Dia menaiki undakan, jantungnya berdebar dan di dalam sana ramai. Ada banyak orang dewasa yang menunduk di balik laptop dengan earphone di telinga mereka. Nampak keren sekali karena mereka tidak perlu minta izin Mama untuk pergi ke mana pun mereka mau, boleh makan mie instan dua kali sehari, dan bebas ingin tidur jam berapa pun seperti kakak Taehyung, Seokjin.
Taehyung tidak sabar untuk segera dewasa dan bisa makan mie instan dua kali sehari. Dia juga bisa tidur malam seperti kakaknya, tidak dipaksa tidur siang atau mandi. Kakaknya bebas ingin makan, mandi, dan tidur jam berapa; orang dewasa itu keren.
Tapi sekarang dia sedang menjadi orang dewasa. Dia memasuki gerai makanan cepat saji terisi banyak orang dewasa—sendirian. Hidungnya mengembang bangga saat mengangkat dagunya, melangkah ke depan. Dia tidak perlu minta izin pada ibunya menu apa yang diinginkannya. Taehyung mendorong pintu kaca berat di depannya dan nyaris terjepit ketika pintu mengayun tertutup karena lengan kurusnya tidak menahannya terbuka dengan kuat lalu bergegas memasuki ruangan yang dingin sekali.
Sejenak, dia bergidik sebelum menatap konter yang ramai dengan orang-orang dewasa yang sibuk memesan dengan teman-temannya. Tidak ada anak-anak yang ditemani orang tua saat itu dan Taehyung merasa bangga. Dia bergabung dengan antrian—tidak ada yang bertanya padanya dan Taehyung menggenggam kantung depan seragamnya dengan erat, memastikan uangnya berada di sana.
Menatap sekitar dengan resah, Taehyung melihat seorang yang dikenalnya. Mengenakan seragam putih biru dengan satu garis di lengan kirinya. Taehyung meringis, itu Kak Jeongguk. Semua orang mengenalnya. Dia baru lulus kemarin dan nakal sekali—tentu saja dia membolos sekolah. Taehyung ingat saat dia pertama berpapasan dengan kakak kelasnya itu di depan kelasnya, Jeongguk kelas enam dan Taehyung kelas empat. Dia tidak menoleh ke Taehyung, tertawa dengan teman-temannya yang keren—suka duduk di depan kelas lalu lari ketika guru datang.
Taehyung tidak suka padanya—takut, lebih tepatnya. Karena dia berisik, suka mencari masalah, dan bergaya petantang-petenteng. Dia juga sering membelikan teman-temannya makanan. Terkenal ke seluruh sekolah sebagai anak nakal dan sebagai anak baik, Taehyung menjauhinya.
Taehyung mengernyit, apakah ini berarti dia juga nakal seperti Kak Jeongguk karena dia juga membolos? Dia kemudian memberengut; tapi dia, 'kan, hanya melakukan ini sekali. Tidak akan melakukannya lagi besok atau besoknya!
Mengangguk tegas—senang pada pola pikirnya, dia mengalihkan pandangan dari kakak kelasnya itu—walaupun penasaran apa yang sedang dimainkannya di PSP-nya. Bolehkah Taehyung mencoba memainkannya?
Dia menggeleng tegas, “Jangan dekat-dekat anak nakal, Tae!” Katanya pada dirinya sendiri. Dia hanya akan menghabiskan es krimnya lalu kembali ke sekolah untuk membagikan kisahnya hari ini.
Hanya ada tiga orang di depan Taehyung sekarang, mereka memesan banyak makanan dan mengeluarkan lembaran uang seratus ribu dari dompet mereka. Taehyung menatapnya terpana—bagaimana rasanya memiliki uang sebanyak itu? Taehyung pasti bisa membeli semua cokelat yang diinginkannya, membeli mainan di warung depan rumah dan membeli bey-blade.
Oh. Tapi dia juga punya uang hari ini.
Taehyung mengeluarkan uang dari sakunya, menghitungnya perlahan, memastikan uang recehnya tidak menggelinding jatuh. Dia punya enam lembar dua ribu rupiah dan dua buah uang koin lima ratusan perak. Cukup untuk es krim, dia tersenyum lebar.
Akhirnya orang di hadapannya menyingkir dan dia berdiri di depan komputer raksasa itu. Sedikit mendongak untuk menatap ke balik layar, ke kakak kasir baik yang tersenyum padanya.
“Halo, Adik!” Sapanya ramah setelah meletakkan nampan baru kosong di sisinya untuk pesanan Taehyung. “Ingin membeli apa?”
Taehyung langsung menyebutkannya. “McFlurry Oreo!” Dia mengangkat tangannya dan menunjukkan jempolnya. “Satu!” Tambahnya—jantungnya berdebar keras sekarang, oleh adrenalin karena dia akhirnya melakukan sesuatu yang ibunya selalu lakukan untuknya.
Taehyung merasa dewasa dan sangat keren sekarang, berdiri sendiri di depan kasir dan memesan makanannya. Dia meletakkan uangnya di kasir saat kakak di depannya memasukkan sesuatu ke komputer lalu mengangkat wajahnya.
“Empat belas ribu, ya, Dik.” Katanya ramah.
Jantung Taehyung mencelos. Dia hanya punya tiga belas ribu! Dalam kepanikan, dia merogoh sakunya—berharap menemukan uang yang tertinggal di sakunya. Dia ingin menangis, memanggil ibunya. Kapok karena membolos sekolah, makanan di kantin tidak ada yang seharga empat belas ribu. Taehyung membersit, wajahnya pucat karena takut saat tangannya merogoh dan tidak menemukan sepeser uang pun sementara senyuman kakak kasir di depannya terasa semakin menyeramkan.
Apakah jika dia tidak membayar mereka akan mencubit Taehyung? Apakah dia akan dilaporkan ke ibunya? Bagaimana jika dia dihukum tidak mendapatkan uang jajan setelah ini?
Taehyung takut.
Semua keberaniannya yang tadi membuncah karena akhirnya melakukan kegiatan seperti orang dewasa, lenyap sudah. Dia gemetar, matanya panas karena tidak menemukan uang sepeser pun tersisa di bajunya.
“Uangnya kurang seribu Adik,” kakak di depannya tersenyum simpati. “Adik ada seribu rupiah lagi untuk es krimnya?” Tanyanya menggenggam seluruh harta Taehyung di tangannya—tiga belas ribu rupiah, termasuk dua uang koin lima ratus rupiahnya.
Taehyung menggeleng, menggigit bibir bawahnya—matanya buram oleh air mata. Dia berdiri di sana, kaki dan tangannya dingin karena ketakutan ingin menangis memanggil ibunya karena uangnya kurang. Mulai berpikir dia tidak akan sok-sokan membolos lagi setelah ini dan sudah akan meledak dalam tangis saat seseorang menghampirinya dan mengeluarkan selembar dua ribuan lalu meletakkannya di kasir.
“Ini, Mbak, kurangnya.” Kata suara itu dan Taehyung menoleh, menemukan Jeongguk berdiri di sisinya—tidak menoleh ke arahnya.
Taehyung mengerjap, air mata menetes dari sudut matanya—meluncur di atas pipinya dan menyisakan jejak panas sedikit lengket sebelum lepas di garis dagunya. Sekarang tidak yakin apakah dia menangis karena takut uangnya kurang atau karena Jeongguk, kakak kelas paling menyeramkan, berdiri di sisinya. Dia menyekanya, membersit keras sekali saat kakak kasir memproses pesanannya. Dia menunduk, tidak berani menatap Jeongguk dan mengatakan terima kasih.
“Ini struknya, ya, Adik. Ditunggu pesanannya.” Katanya ramah, mendorong nampan Taehyung menjauh dan mempersilakan pelanggan setelahnya memesan.
“Ayo.” Kata Jeongguk, menariknya dari depan kasir. “Tunggu makananmu di sini.” Tambahnya sementara Taehyunng masih gemetar—syok karena uangnya kurang dan tidak tahu apa yang mungkin terjadi jika Jeongguk tidak membantunya.
Kakak kelasnya berdiri di depannya, nampak percaya diri dan persis orang dewasa ketika menatapnya dengan alis berkerut. “Kau anak SD sebelah, 'kan?” Tanyanya heran. “Kenapa tidak di sekolah?” Tegurnya dan Taehyung memberengut: memangnya dia siapa berani-beraninya memberi tahu Taehyung apa yang harus dilakukannya?
Taehyung mengerjap. “Kakak juga tidak.” Balasnya, berbisik lalu bergegas menunduk, tidak berani menatap Jeongguk. Dia menatap kakinya dan kaki Jeongguk, mengamati sepatu Jeongguk yang memiliki garis putih di bagian solnya. Tidak seperti sepatu Taehyung yang hitam membosankan.
“Kau masih SD.”
“Kakak masih SMP.”
Jeongguk mengerutkan alisnya. “Kau tengil, ya?” Katanya kemudian dan Taehyung mendongak, menatapnya sebal—enak saja, Taehyung anak pintar! Kebetulan saja dia sial membolos dan uangnya kurang untuk membeli es krim.
Dia membuka mulut hendak membalas kalimat Jeongguk namun kasir tadi memberikan pesanannya dengan ceria. “Adik, ini es krimnya!” Dia tersenyum lebar dan Taehyung bergegas mengambil es krimnya—sedikit berjinjit dan menggenggam cup-nya dengan dua tangannya.
Jeongguk menatapnya.
Taehyung balas menatapnya.
Mereka saling menatap lama di sisi kasir; satu anak SD dan satu anak SMP dengan satu es krim yang mulai mencair di tangan Taehyung, di tengah gerai makanan cepat saji yang lumayan ramai ketika seharusnya mereka berada di sekolah.
Taehyung mengerjap, sedikit merona ketika memberanikan dirinya membuka mulut. Kepalang basah, berenang saja sekalian. “Aku boleh pinjam PSP tidak, Kak?”
Jeongguk menatapnya, matanya berkedip-kedip beberapa kali saat memproses kalimat Taehyung sebelum nyengir. “Boleh, ayo!” Katanya.
“Terima kasih uangnya, ya, Kak, besok kuganti.”
“Tidak perlu, hanya dua ribu kok.”
“Kuganti!”
“Baiklah, baiklah jangan mengomel!”
“Kakak pulang naik apa?”
“Naik ojek....”
ps. aku pengen nulis tapi capek sama gormet so here we go hahaha good night! x