Gourmet Meal 574

tw // anxiety , frustration , desperation .

cw // death, just in case ada yg gak nyaman dg penggambaran kematian di sini. please suit yourself <3

ps. ada kabar gembira somewhere in the middle <3


Hubungan mereka terjun bebas.

Jeongguk menghela napas berat dan memijat kepalanya. Hari di mana mereka seharusnya bersiap untuk kabur, penentuan hidup mereka—menandai kebebasan mereka dari segala belenggu yang selama bertahun-tahun mencekik, harus pupus. Dia menatap kosong surel pemberitahuan dari aplikasi yang digunakannya membeli tiket tentang biaya refund atas tiket mereka di dalam mobilnya.

Ada rasa bersalah di hati Jeongguk karena membentak Taehyung ketika dia sama sekali tidak tahu apa yang kekasihnya tengah lakukan. Jeongguk harus belajar mengontrol emosinya lagi setelah ini. Dia langsung bergegas menghubungi Taehyung setelah menerima pesan tentang ayahnya dan Taehyung terdengar tegang serta gelisah.

Semalam ring di jantungnya bermasalah dan kami melarikannya ke rumah sakit,” jelas Taehyung terdengar jauh sementara di belakangnya terdengar suara obrolan rendah yang riuh. “Aku meninggalkannya bekerja setelah mendapatkan kamar di bangsal khusus jantung. Maaf aku tidak menghubungimu sama sekali karena aku benar-benar lupa pada segalanya. Lalu Wisnu menghubungiku bahwa kondisinya mendadak memburuk lalu meninggal ketika aku dan Wisnu dalam perjalanan ke Sanglah.”

Jeongguk terenyak di ruangannya—hatinya mendadak kosong dan ngilu. Dia memang membenci ayahnya, Taehyung pun sama bencinya pada ayahnya namun membayangkan kematiannya membuat Jeongguk ngeri. Dia tidak bisa. Lalu meringis teringat bagaimana pagi tadi ayahnya mengatakan sesuatu seperti:

“Bawalah bekal untuk bekerja.” dan “Pukul berapa kau pulang? Bisakah kau pulang sebelum makan malam?” padahal sebelumnya dia tidak pernah peduli pukul berapa Jeongguk di rumah.

Perasaannya tidak enak karenanya, membuatnya nyaris merasa bersalah karena akan melepaskan kehidupan yang diberikan ayahnya. Ayahnya entah bagaimana bersikap lembut dan ramah pada Jeongguk setelah bertahun-tahun menggerusnya. Jeongguk menghela napas, dia akan berangkat ke Puri Taehyung sekarang karena kekasihnya terdengar gemetar di telepon tadi.

Jenazah ayahnya langsung dikremasikan di krematorium karena dewasa ayu untuk Ngaben belum ada maka mereka memutuskan untuk mekingsan di geni hingga mendapatkan hari baik. Jeongguk hendak menyusul ke Sanglah namun Taehyung melarangnya. Dia akan pulang malam ini membawa abu ayahnya untuk menghanyutkannya ke laut besok.

Ada banyak sekali pertanyaan yang ingin Jeongguk sampaikan ke Taehyung termasuk: bagaimana sekarang? Namun dia menahannya, tidak ingin membebani kekasihnya sama sekali untuk saat ini. Dia menunggu di Amankila, sudah membereskan semua barangnya dan mengembalikan name tag-nya karena ini hari terakhirnya bekerja. Dia menunggu Taehyung pulang di dalam mobilnya.

Perpisahannya dengan semua rekan timnya terasa menyesakkan. Jeongguk bekerja di Amankila sudah begitu lama, memimpikan posisi head chef-nya sepanjang hidup: teringat bagaimana Felix membimbingnya, memberikan posisi itu untuknya kemudian. Semua timnya adalah keluarga, Namjoon bahkan menangis melepaskannya. GM mereka mendoakan perjalanannya kedepannya, semua CDP dan DCDP-nya memeluk Jeongguk. Suasana begitu emosional dan Jeongguk sejenak ingin membatalkan pengunduran dirinya karenanya.

Jeongguk merasa yakin melepaskan jabatan ini karena Taehyung akan bertahan bersamanya. Namun sekarang setelah ayah Taehyung meninggal, Jeongguk mendadak menyesali keputusannya mengundurkan diri. Secercah hatinya ingin kembali ke dapur, ingin kembali memimpin tim dan melupakan segala rencana mereka. Jeongguk mendadak ingin kembali ke zona nyamannya: melanjutkan kehidupan lamanya dan melupakan tentang kabur. Dia merasa buntu dan kebingungan.

Apa yang akan mereka lakukan sekarang?

Apakah Taehyung akan tetap menikah? Taehyung akan mewarisi Puri sekarang sehingga tidak akan bisa meninggalkannya?

Apakah mereka... terlambat?

Jeongguk menumpukan keningnya di atas roda kemudi, bernapas melalui mulutnya dengan mata terpejam. Alasan utama mengapa mereka buru-buru meninggalkan Puri mereka adalah agar tidak ada salah satu dari mereka yang terjebak bertanggung jawab atas Puri mereka. Harus segera sebelum salah satu dari ayah mereka meninggal dan sekarang....

Ponselnya berdenting.

Jeongguk mengulurkan tangan, meraih ponselnya tanpa menoleh dan menekan tombol utamanya. Dia melirik, menemukan pesan Taehyung bahwa dia sudah dekat ke rumah. Maka Jeongguk menegakkan tubuhnya, menghela napas panjang dan menurunkan rem tangannya. Menyalakan mesin, dia kemudian memutar mobilnya dan meluncur keluar. Menatap halaman parkir resor mewah itu untuk terakhir kalinya, merasa sesak oleh kesedihan—dia akan meninggalkan tempat ini selamanya.

“Sampai ketemu lagi suatu hari nanti, Chef! Sehat selalu!”

Sengatan aneh terasa di hatinya ketika dia melambai pada Security yang berjaga di pos pertama. Dia adalah bagian dari Amankila selama ini dan sekarang dia harus melepaskannya—pergi dari tempat yang membuatnya nyaman, pergi ke tempat baru yang belum dikenalnya sama sekali. Perasaan terasing berat menggelayuti hatinya sekarang saat dia melaju menjauhi Amankila—apakah perasaan ini akan semakin berat ketika nantinya dia berkendara menjauhi rumahya? Tempatnya tumbuh besar bersama Yugyeom?

Genggamannya di roda kemudi mengencang—dia tidak bisa berubah pikiran sekarang. Mereka sudah setengah jalan menuju kebahagiaan mereka tanpa seorang pun mencekoki mereka tentang kasta dan tanggung jawab—yang sejujurnya sama sekali tidak mereka inginkan. Mungkin setelah bertemu Taehyung dia akan kembali yakin.

Jeongguk berkendara ke Puri Taehyung yang lumayan ramai. Beberapa orang mengenakan pakaian adat madya memenuhi halamannya. Jeongguk memarkir mobilnya, mengunci mobilnya dan menutup spionnya sebelum menyandang tasnya untuk memasuki Puri—sejenak merasa rikuh karena mengenakan celana jins. Dia hendak menelepon Taehyung namun matanya menangkap seseorang.

”'Turah, swastyastu.”

Lakshmi.

Dia nampak tegang dan linglung hingga alis Jeongguk berkerut. Nampak lebih kurus dari terakhir kali Jeongguk melihatnya, kantung matanya tebal sekali; dia terlihat kelelahan. Jeongguk mengangguk dan bergegas menghampirinya. Di bale dangin sedang ramai, ibu Taehyung berada di sana sedang menemani beberapa tamu dan keluarga Taehyung. Beberapa ibu bekerja di dalam dapur mereka, membuat bernampan-nampan teh dan kopi untuk disajikan ke tamu yang datang melayat.

Aroma dupa dan bunga tercium bersama duka yang dingin—membuat pangkal hidung Jeongguk perih. Dia menebarkan pandangannya dengan cepat, mencari Taehyung yang jangkung, berkulit sewarna zaitun dan rambut setengah gondrong di kerumunan. Tidak sulit biasanya menemukan Taehyung, namun sekarang karena tegang dan gelisah, dia tidak berhasil menemukannya. Jeongguk menatap bale dangin yang ramai—menyadari abu dan sisa belulang ayah Taehyung disemayamkan di sana hingga cukup terang untuk dihanyutkan ke laut. Suasana duka terasa pekat hingga Jeongguk tidak nyaman berdiri di sana, sebaiknya dia bergegas menemui Taehyung.

Mbok Gek,” sapanya menyentuh bahu gadis itu dan merasakan betapa tegangnya dia. “Turut berduka cita.” Katanya tulus namun mengerutkan alis ketika Lakshmi berjengit oleh kalimatnya.

Nggih, suksma, Turah.” Bisiknya, matanya liar ketika melirik ke sekitarnya—ketakutan. “Tugung sedang di Bale Gede bersama sepupu-sepupu Ajung membicarakan....,” dia mengernyit dan Jeongguk memahami apa yang mereka bicarakan.

Jeongguk mengencangkan rahangnya. Persis setelah ayah Taehyung meninggal, mereka sungguh tidak membuang-buang waktu. Sejenak memikirkan bagaimana nasib Taehyung ke depannya. Tidak sekali Taehyung menggumamkan tentang betapa dia takut pada hari di mana ayahnya meninggal. Keluarga Puri menentang mereka semua, ayah Taehyung menjadi pewaris hanya karena dia memaksakan kehendaknya—mereka pasti sudah siap menjegal keluarga mereka di hari ayah Taehyung meninggal dan Taehyung belum siap menghadapi mereka.

Dia ingin memeluk Taehyung, ingin mengusap tubuhnya sayang karena begitu banyak luka yang ditanggungnya selama ini dan mereka tidak bertemu begitu lama Jeongguk takut dia melupakan wajah Taehyung.

“Ya, tidak apa-apa.” Jeongguk mengusap bahu Lakshmi sekali lagi dan menyadari Devy berada di sana.

Rahangnya seketika mengencang ketika menyadari kehadiran Devy dan keluarganya. Mereka duduk di depan kamar ayah Taehyung dengan beberapa tamu lain, ayah Devy berwajah keras dan tak terbaca—menatap lurus sementara Devy nampak berduka di sisinya. Jeongguk menyadari betapa jengkel kemungkinan ayah Devy saat ini karena seluruh rencana yang disusunnya sejak dahulu hancur karena kematian ayah Taehyung—persis sehari sebelum anaknya menikah.

“Tentang hutang Ajung,” bisik Jeongguk kemudian pada Lakshmi yang terkesiap kecil, mendongak menatapnya dengan mata berkilat kaget. “Apakah sudah dibicarakan Taehyung?”

“Turah..., tahu?” Bisiknya pecah dan gemetar.

Jeongguk mengangguk. “Tidak penting saya tahu dari siapa,” tambahnya sebelum Lakshmi membuka suara. “Tapi yang penting adalah hutang itu lunas. Jangan biarkan dia menggunakan jumlah itu untuk mengendalikan kalian seperti seekor anjing.”

Lakshmi gemetar dalam pelukannya dan Jeongguk sejenak gelisah—kenapa gadis ini? Dia mendongak, berusaha menemukan sosok tinggi berisi Wisnu di kerumunan agar bisa menenangkan kekasihnya. Dia tidak menemukan siapa pun saat Lakshmi berbisik.

“Tugung akan menyelesaikannya setelah selesai di Bale Gede.” Lakshmi mengangguk dan menatap Jeongguk.

Jeongguk menghembuskan napas lega, setidaknya mereka bisa menyelesaikan satu masalah yang bisa melepaskan jeratan di leher Taehyung. “Jika saya boleh tahu, berapa nominalnya?”

Lakshmi menggeleng perlahan. “Tugung yang tahu semuanya, Turah. Termasuk kenapa kami bisa berhutang padahal tidak ada hal yang mungkin Ajung butuhkan dan tidak kami berikan.” Lakshmi menggigil pelan dalam balutan kemejanya.

Jeongguk mengangkat wajahnya, menatap semua orang di halaman rumah Taehyung dan membuka mulut hendak menghibur kakak Taehyung ketika dia menemukan kekasihnya. Dia mengenakan kemeja longgar di tubuhnya, tiga kancing teratasnya terbuka—memamerkan tulang selangkanya yang menakjubkan. Wajahnya keras, rambutnya rapi di dalam udeng-nya; dia melangkah tegas dan panjang dari Bale Gede menuju keluarga Devy. Kain bergemerisik di kakinya dan Jeongguk sejenak lupa, betapa angkuh dan indahnya dia.

Taehyung tidak menoleh pada siapa pun ketika dia melangkah ke depan kamar orang tuanya, menemui ayah Devy. Dia melepas sandalnya di undakan lalu merangkak naik dan bersila di depan ayah Devy. Jeongguk ingin menghampirinya, menemaninya menghadapi orang sinting itu namun dia juga menyadari bahwa selain Lakshmi—tidak ada seorang pun yang mengenalnya. Dan dia tidak mengenakan pakaian adat.

“Turah ingin berganti kain di kamar Tugung?” Tanya Lakshmi kemudian perlahan dan Jeongguk mengangguk—lebih nyaman berkeliaran dengan pakaian yang benar.

Maka Lakshmi mengantarnya ke kamar Taehyung, Jeongguk melempar tasnya ke ranjang dan bergegas melepas celana jinsnya. Dia merogoh ke dalam, mengeluarkan kain dari dalam sana dan mengenakannya—membentuk simpul di bagian depan denga asal-asalan sebelum menyambar pintu lemari Taehyung, mencari udeng karena dia tidak membawanya. Dia hanya menemukan udeng lembaran di sana maka dengan sedikit kesal, dia membawanya ke kasur. Jeongguk menghamparkannya, melipatnya menjadi segitiga lalu menggulung sisi panjangnya hingga membentuk segitiga panjang sebelum menempelkannya di kening. Bercermin, dia membentuk udeng-nya dengan cekatan sebelum melilit sisa kain di keningnya dan menyimpulkannya di tengah.

Dia keluar dengan kemeja, kain yang membalut kakinya hingga betis, beberapa senti di atas pergelangan kakinya dan udeng yang memerangkap rambutnya. Lakshmi menunggunya di undakan lalu mengantarnya ke tempat Taehyung.

“Saya tinggal, ya, Turah?” Bisiknya dan Jeongguk mengangguk sebelum melepas sandalnya, meraih ujung kainnya dan menaiki undakan.

Dia menyelipkan dirinya di sisi Taehyung persis ketika ayah Devy selesai bicara dan Taehyung mengerjap, menoleh kaget dan mendapati itu Jeongguk—dia menghembuskan napas lega.

“Dayu.” Sapa Jeongguk, berusaha ramah pada gadis di hadapannya dan Devy balas mengangguk—tersenyum tulus. Membuat Jeongguk penasaran seberapa banyak dari rencana sinting ayahnya yang diketahui Devy? Lalu menoleh ke ayah dan ibunya, dia mengangguk ramah pada keduanya.

“Sudah lama, Gung?” Tanya Taehyung, nada suaranya tegang dan Jeongguk ingin sekali memeluknya—membiarkannya melumer dalam kedua lengan Jeongguk, membiarkan kelelahannya larut sebelum beristirahat.

“Baru saja tiba.” Katanya, meniru nada suara Taehyung lalu menatap ayah Devy. Dia memperkenalkan diri dengan menyebut nama keluarganya. Menyadari bahwa dalam masyarakat Hindu, lebih mudah membawa nama keluarganya—memberikannya sebuah rasa hormat instan yang kadang dibutuhkannya.

Ayah Devy langsung menatapnya dengan lebih hormat, persis seperti yang dibutuhkannya. “Oh, nggih. Swastyastu., Gung.” Katanya.

Taehyung kemudian menyetir kembali pembicaraan dengan bahasa Bali halusnya. “Jadi, seperti yang kita semua ketahui sekarang, ayah saya baru saja meninggal dan pernikahan tidak bisa dilanjutkan karena masa cuntaka. Besok saya juga akan langsung melaksanakan upacara nganyut untuk atma Ajung.” Katanya tenang dengan Jeongguk bersila di sisi kanannya.

Ayah Devy sejenak melirik Jeongguk, nampak tidak terlalu nyaman dengan keberadaan orang asing dari Puri besar Karangasem di dalam pembicaraan mereka. Namun dia mengangguk dan menjawab, “Tidak masalah, kita bisa menundanya.”

Rahang Taehyung mengencang. “Saya akan membayar hutang Ajung.” Katanya tenang walaupun Jeongguk bisa melihat tangannya gemetar menahan amarah. “Jadi kita batalkan pernikahannya karena semua keluarga besar Puri tidak setuju.”

Devy terkesiap kecil dan Jeongguk meliriknya, dia nampak pucat pasi di tempatnya mendengar bagaimana Taehyung membatalkan pernikahan mereka dengan amat ringan. Ayahnya nampak berusaha keras agar tidak berteriak ketika seseorang menghampiri mereka dan duduk di kiri Taehyung. Kehadirannya membuat ayah Devy menegakkan duduknya dan sedikit memucat. Jeongguk menyadari bahwa selain ayah Taehyung, dia tidak memiliki kekuatan pada orang lain di Puri ini.

“Memangnya berapa hutang Krshna padamu?” Tanya orang itu dalam bahasa Bali, tanpa basa-basi. Dia nampak lebih tua dari ayah Taehyung dan Jeongguk berpikir, dia pastilah pewaris yang seharusnya mengisi tempat ayah Taehyung dan Taehyung. “Taehyung akan membayarnya sekarang.”

Taehyung mengangguk, mengeluarkan ponselnya. “Tinggal sebutkan saja nominal dan nomor rekeningnya.” Dia membuka M-Banking-nya, siap menyelesaikan masalah itu yang mirisnya hanya membutuhkan beberapa sentuhan layar ponsel.

Ayah Devy menggertakkan rahangnya, terdesak karena tidak lagi bisa mengendalikan Puri itu melalui ayah Taehyung. “Saya akan kirimkan detailnya.” Katanya singkat, nampak mulai kalah dan dipukul mundur.

“Tentu saja.” Kata paman Taehyung masih dalam bahasa Bali halus yang terdengar kasar. “Saya akan menunggu detailnya, tidak sabar untuk segera membereskan masalah yang sudah berlarut-larut ini.” Dia menatap langsung ke ayah Devy—dua kali lebih besar dan dominan.

“Dan kami juga secara tegas menentang pernikahan Taehyung dan Devy. Hanya Krshna yang setuju pada pernikahan itu, semua orang di Puri ini menolaknya. Bahkan Taehyung sendiri.” Dia menatap lurus ke ayah Devy yang rahangnya mengencang. “Karena jika Taehyung akan menjadi pewaris, dia harus menikahi perempuan dari kasta Ksatria. Tidak seperti ayahnya.”

Jeongguk menghela napas; apakah normal berbicara buruk tentang seseorang di hari kematiannya dengan abunya bahkan masih berada di halaman yang sama dengannya? Isi Puri Taehyung tidak ada bedanya ternyata.

Mereka akhirnya pamit setelah dipermalukan oleh paman Taehyung yang sekarang nampak puas setelah berhasil mengusir keluarga Devy. Dia kemudian menatap Taehyung dengan raut tidak suka yang membuat Jeongguk menahan napas.

“Kau harus belajar melakukan itu sendiri. Kau tidak bisa terus menerus diselamatkan orang lain.” Kecamnya pedas lalu berlalu dari sana, meninggalkan Taehyung bersila di atas karpet dan memejamkan matanya—nampak tertekan.

Jeongguk menepuk bahunya lalu meremasnya. “Sedikit lagi.” Bisiknya lembut. “Aku akan menginap di sini, menemanimu.”

Taehyung menghela napas berat, memijat pelipisnya. “Trims, Gung.” Balasnya parau dan kelelahan, dia nampak dua kali lebih tua sekarang dengan semua stres dan lelah menggelayut di tiap kerutan di wajahnya.

Jeongguk menunggu di bale gede bersama para bapak hingga semua tamu pulang. Taehyung menemani ibunya di bale dangin, menangis tersedu-sedu ditemani beberapa orang ibu-ibu. Ada lima bapak-bapak yang akan terjaga malam ini, menemani jenazah hingga besok pagi yang sudah duduk di bale gede. Semua mendesaknya beristirahat, Lakshmi sudah lebih dahulu beristirahat—benar-benar teler karena lelah dan duka. Ibu Taehyung akhirnya berkenan berdiri dan meninggalkan jenazah suaminya untuk beristirahat, hari esok mereka akan panjang.

Taehyung berterima kasih pada semuanya, mengantar ibunya ke tempat tidur sebelum berpamitan ke kamarnya sendiri. Dia terseok-seok, berpamitan dan berterima kasih pada para bapak yang bersedia terjaga dan menuju kamarnya.. Jeongguk berdiri, menemaninya masuk ke kamar setelah berpamitan pada para bapak dan mengunci pintunya. Dia tadi memperkenalkan diri sebagai teman akrab Taehyung dan akan menemani Taehyung berduka.

“Kasihan anak itu, Turah.” Kata seorang bapak, merendahkan suaranya. “Dia sejak kecil tertekan sekali. Mungkin sekarang sangat sedih ditinggalkan ayahnya.” Dia menatap Taehyung yang duduk di sisi ibunya—tatapan matanya kosong. “Sebaiknya ditemani saja, Turah, agar tidak melakukan hal yang tidak-tidak.”

Jeongguk mengangguk, setuju. Taehyung nampak sangat kacau.

Taehyung gemetar, melepas udeng-nya dan menjatuhkannya ke lantai. Jeongguk menghampirinya dan mengulurkan tangan.

“Sssh, sshh.” Bisiknya lembut lalu meraih Taehyung ke dalam pelukannya. Kekasihnya seketika melumer, menyandarkan tubuh sepenuhnya pada Jeongguk dan menangis kelelahan. “Semua sudah selesai.”

Taehyung beraroma seperti dingin malam, dupa, keringat, dan duka—menyakiti hidung Jeongguk namun dia mengecup puncak kepala Taehyung, menghirup aromanya karena dia sangat merindukan Taehyung. Dia membelai punggung Taehyung dengan telapak tangannya, menunggu Taehyung yang tengah terisak.

“Kau baik-baik saja, kau aman.” Bisik Jeongguk di kepalanya, merasakan tangan Taehyung dikaitkan di balik punggungnya—memeluknya erat. “Tidak akan ada yang bisa menyakitimu lagi sekarang.”

Kekasihnya mengerang panjang, melolong rendah dan gemetar hingga bulu kuduk Jeongguk meremang. Dia mengeratkan pelukannya, gemetar hebat dalam pelukan Jeongguk hingga pemuda itu terpaksa membimbingnya—setengah menyeretnya ke ranjang untuk mendudukkannya. Taehyung membenamkan wajahnya di dada Jeongguk, air matanya merembes hingga menembus pakaian Jeongguk—menyengat kulitnya.

“Tidak apa-apa, tidak apa-apa.” Bisik Jeongguk berulang-ulang, menenangkannya—berusaha menenangkan Taehyung yang setengah histeris dan Jeongguk tidak paham apa masalahnya. “Ini semua bukan salahmu.”

Taehyung berdeguk. “Wiktu,” katanya menggigil. “Wiktu, Wiktu.”

Jeongguk membuka mulut, hendak menjawab panggilan itu dengan lembut dan menghiburnya. Namun Taehyung melanjutkan dengan lirih, suaranya pecah. Dia tidak yakin apakah dia mendengarnya dengan benar ketika dia terenyak oleh sisa kalimat Taehyung. Jantungnya sejenak terasa berhenti berdetak ketika otaknya memproses segalanya.

Ketakutan Lakshmi, wajahnya yang nampak lelah, sulitnya Taehyung dihubungi, bagaimana Lakshmi berjengit ketika Jeongguk mengungkapkan turut berdukanya....

“I have my own way,” kata Taehyung tiap kali Jeongguk bertanya.

Inikah caranya....?

“Aku hampir memberi Ajung cetik, Wiktu. Aku hampir membunuhnya.”

Dan di luar sana, para bapak sedang tertawa rendah.


Glosarium:

Susu: Ajung meninggal karena sakit. Kopi: Ajung meninggal diracun Taehyung.

Winner: SUSU


Thank you! ire, x